Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM SATUAN PROSES II

PEMBUATAN METIL ESTER

Dosen Pembimbing: Hillwatulisan,ST,M.T.

Disusun oleh : Kelompok 3

1. Enda Lia Elvina Nim 0611 3040 1012


2. Hilda Rosalina Nim 0611 3040 1014
3. Depi Oktari Nim 0611 3040 1009
4. Maretia Safitri Nim 0611 3040 1019
5. Riski Ariyani Nim 0611 3040 1022
6. Reny Yuni Pratiwi Nim 0611 3040 1023
7. Sopiah Diliantihardila Nim 0611 3040 1025

Kelas : 4 KIA

Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang

Tahun Ajaran 2013/2014


PEMBUATAN METIL ESTER

I. TUJUAN PERCOBAAN

Mahasiswa dapat memahami pembuatan Metil Ester

II. BAHAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN

Bahan yang digunakan :

 Minyak jelantah
 NaOH
 Indikator Phenolptalein
 Metanol
 Aquadest

Alat yang digunakan :

 corong pisah
 termometer
 gelas ukur
 gelas kimia
 hot plate
 pipet tetes
 pipet ukur
 buret
 piknometer
 erlenmeyer
 stpwatch
 stirrer
 viscometer ostwald
III. DASAR TEORI

Bahan bakar nabati (BBN) - bioethanol dan biodiesel - merupakan dua kandidat kuat
pengganti bensin dan solar yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar mesin Otto dan
Diesel. Pemerintah Indonesia telah mencanangkan pengembangan dan implementasi dua
macam bahan bakar tersebut, bukan hanya untuk menanggulangi krisis energi yang mendera
bangsa namun juga sebagai salah satu solusi kebangkitan ekonomi masyarakat.
Saat ini pengembangan bahan bakar nabati untuk menggantikan bahan bakar fosil
terus dilakukan. Biofuel akan menggantikan premium, solar, maupun kerosin atau minyak
tanah. Pemerintah mentargetkan antara tahun 2009-2010 komposisi biofuel dan bahan bakar
fosil mencapai 15 persen berbanding 85 persen. Kebutuhan nasional untuk bahan bakar
nabati sedikitnya 18 miliar liter per tahun. Akan tetapi keterbatasan bahan baku menjadi
kendala utama karena harus berbagi dengan berbagai industri lain
Biodiesel adalah sebuah alternatif untuk bahan bakar diesel berbasis minyak bumi
yang terbuat dari sumber daya terbarukan seperti minyak nabati, lemak hewan, atau alga. Ia
memiliki sifat pembakaran yang sangat mirip dengan diesel petroleum, dan dapat
menggantikannya dalam menggunakan saat ini. Namun, yang paling sering digunakan
sebagai aditif untuk minyak diesel, meningkatkan pelumasan dinyatakan rendah bahan bakar
solar murni ultra rendah belerang. Ini adalah salah satu kandidat yang mungkin untuk
menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama dunia transportasi, karena
merupakan bahan bakar terbarukan yang dapat menggantikan solar pada mesin saat ini dan
dapat diangkut dan dijual dengan menggunakan infrastruktur sekarang ini. Semakin banyak
stasiun bahan bakar yang membuat biodiesel tersedia bagi konsumen, dan semakin banyak
armada transportasi yang besar menggunakan beberapa proporsi biodiesel dalam bahan bakar
mereka.
Biodiesel terdiri dari asam lemak rantai panjang dengan alkohol terpasang, sering
berasal dari minyak nabati. Hal ini dihasilkan melalui reaksi minyak nabati dengan alkohol
metil atau etil alkohol dengan adanya katalis. Lemak hewani adalah sumber potensial.
Umumnya katalis digunakan adalah kalium hidroksida (KOH) atau sodium hidroksida
(NaOH). Proses kimia yang disebut transesterifikasi yang menghasilkan biodiesel dan
gliserin. Kimia, biodiesel disebut ester metil jika alkohol yang digunakan adalah metanol.
Jika etanol yang digunakan, disebut ester etil.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan transesterifikasi :
1. Suhu
Kecepatan reaksi secara kuat dipengaruhi oleh temperatur reaksi pada ummnya reaksi ini
dapat dijalankan pada suhu mendekati titik didih metanol (65oC) pada tekanan atmosfer.
Kecepatan reksi akan meningkat sejalan dengan kenaikan temperatur semakin tinggi
temperatur berarti semakin banyak yang dapat digunakan oleh reaktan untuk mencapai energi
aktivasi.
2. Waktu reaksi
Semakin lama waktu reaksi maka semakin banyak produk yang dihasilkan karena ini akan
memberikan kesempatan rektan untuk bertumbukan satu sama lain. Namun setelah
kesetimbangan tercapai tambahan waktu reaksi tidak akan mempengaruhi reaksi. Penelitian
yang menggunakan lama reaksi 3 jam (Azis., 2005 )
3. Katalis
Katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi dengan menurunkan energi aktivasi reaksi
namun tidak menggeser letak kesetimbangan. Tanpa katalis rekasi transesterifikasi baru dapat
berjalan pada suhu sekitar 250°C. Penambahan katalis bertujuan untuk mempercepat reaksi
dan menurunkan kondisi operasi. Katalis yang dapat digunakan adalah katalis asam, katalis
basa ataupu penukar ion. Dengan katalis basa reaksi dapat berjalan pada suhu kamar
sedangkan katalis.
4. Pengadukan
Pada reaksi transesterifikasi reaktan-reaktan awalnya membentuk sistim cairan dua fasa.
Reaksi dikendalikan oleh difusi diantara diantara fase-fase yang berlangsung lambat. Seiring
dengan terbentuknya metil ester ia bertindak sebagai pelarut tunggal yang dipakai bersama
oleh reaktan-reaktan dan sistim dengan fase tunggalpun terbentuk. Dampak pengadukan ini
sangat signifikan selama reaksi. Setelah sistim tunggal terbentuk maka pengudukan menjadi
tidak lagi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap reaksi. Pengadukan dilakukan
dengan tujuan untuk mendapatkan campuran reaksi yang bagus. Pengadukan yang tepat akan
mengurangi hambatan antar massa. Pengadukan transesterifikasi 1500 rpm.
5. Perbandingan reaktan
Variabel penting lain yang mempengaruhi hasil ester adalah rasio molar antara alkohol dan
minyak nabati. Stoikiometri reaksi transesterifikasi memerlukan 1 mol minyak trigliserida
memerlukan 6 mol metanol menggunakan rasio molar alkohol-minyak = 1 : 6. Terlalu
banyak alkohol yang dipakai menyebabkan biodiesel mempnyai viskositas yang rendah
dibandingkan viskositas solar juga akan menurunkan titik nyala (flas point). Hal ini
disebabkan karena pengaruh sifat-sifat alkohol yang mudah terbakar. Perbandingan alkohol
minyak = 1 : 2,2 (etanol : minyak).

IV. PROSEDUR KERJA

a. Pembuatan Metil Ester

 Menimbang 1 gram NaOH yang telah dihaluskan dan melarutkanya dengan


metanol p.a, mengaduknya dengan stirrer hingga semua NaOH larut semua.
Menaruhnya di dalam gelas kimia 250 ml.
 Memanaskan 200 ml minyak jelantah di atas hotplate dan mengaduknya
menggunakan stirrer kira-kira 750-1500 rpm hingga mencapai suhu 45-550C.
 Menambahkan larutan natrium metoksida yang telah dibuat pada langkah 1
kedalam minyak jelantah yang telah dipanaskan dan mempertahankan suhu
pengadukanya pada 550C. Melakukan penambahan larutanh ini sedikit demi
sedikit. Menghitung waktu pengadukan hingga 45 menit, setelah semua
natriummetoksida bercampur semua.
 Memindahkan metil ester kedalam corong pisah dan mendiamkanya hingga
terbentuk lapisan selama kurangn lebih 10 menit, lalu mengeluarkan lapisan
bawahnya.
 Memasukkan metil ester kedalam gelas kimia dan melakukan pemurnian
dengan memanaskan aquadest sebanyak 50% volume metil ester hingga suhu
600C, menuangkan metil ester kedalam aquadest dan mengaduknya perlahan
selama 10 menit.
 Memindahkan metil esterdan aquadest kedalam corong pisah dan
membiarkanya sampai terbentuk dua lapisan, kemudian lapisan bawahnnya
dikeluarkan.
 Menghiung volume metil ester yang diperoleh.

b. Prosedur analisa pengujian densitas

 Menimbang piknometer yang telah di bersihkan dalam keadaan belum ada isi
sebagai a gram
 Mengisi piknometer dengan sampel dan menimbangnya sebagai b gram
 Membersihkan piknometer yg telah digunakan dengan sabun dan alkohol
 Menghitung besar densitas yang diperoleh.

c. Pengujian viscositas

 Membersihkan gelas ukur 250 mL dan mengeringkanya dengan tissue.


 Memasukkan sampel keadalam geals ukur tersebut sampai ¾ volume gelas
ukur, lalu memasukkan viscometer ostwald kedalam gelas ukur berisi sampel
 Secara otomasis membaca viskositas yang tertera dalam alat tersebut.

d. Pengujian asam lemak bebas (ALB)

 Menimbang 2- 5 gram metil ester, menambahkan larutan metanol 95%


sebanyak 50 ml dan 3 tetes indikator pp.
 Melaukakan titrasi menggunakan larutan NaOH 0.1 N sampai berwana
merah muda.
 Mencatat banyaknya volume NaOH yang terpakai.
Keterangan :
M = Berat molekul asam lemak (gr/mol)
T = Normalitas NaOH
m = Berat molekul asam lemak
Y = Volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi (mL)

e. Pembuatan Larutan

 NaOH 0.1 N 500 mL (sebanyak 2 gram NaOH dilarutkan dalam 500ml


aquadest)
 Metanol 95 % netral (memasukkan metanol (95% sebannyak yang
diperlukan kedalam erlenmeyer, menambhkan 3 tetes indikator PP lalu titrasi
dengan NaOH 0.1 N sampai terbentuk warna merah muda)
 Indikator pp (melarurkan 0.5 gram fenolftalein dalam 100 ml etanol).
V. DATA PENGAMATAN
5.1 Data pengamatan pembuatan Metil Ester

No Perlakuan Pengamatan
1 1 gr NaOH + 41 ml Metanol - NaoH dicampurkan dengan
metanol, larutan menjadi
homogen.

2 20 ml minyak dipanaskan - Sebeleum diaduk larutan tidak


dengan suhu 500C + Natrium tercampur
Metoksida - Setelah diaduk larutan menjadi
homogen

3 Memasukkan larutan kedalam - Warna larutan kuning telur


corong pemisah - Terbentuk 2 lapisan
- Lapisan bawah dibuang
4 Lapisan atas + 105 ml aquades - Terbentuk 2 lapisan
yang telah dipanaskan dengan - Warna larutan menjadi kuning
suhu 600C bening
- Volume yang didapat 210 ml

5.2 Analisa

Nama Densitas Viskositas Asam Lemak Bebas


(ρ) (µ) Ml NaOH Kadar
Sampel 7,845 112 4.6 5,67x10-4
VI. PERHITUNGAN

a. Densitas

(a gram) piknometer kosong : 61,2 gram


(b gram) piknometer + sampel : 147,5 gram
(c gram) piknomter + aquades : 158,5 gram

(𝑐−𝑏)𝑔𝑟𝑎𝑚
V pikno = 𝜌 𝑎𝑖𝑟
(158,5−147,5)𝑔𝑟𝑎𝑚
= 1 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑙

= 11 ml
(𝑏−𝑎)𝑔𝑟𝑎𝑚
ρ pikno = 𝑉(𝑚𝑙)
(147−61,2)𝑔𝑟𝑎𝑚
= 100 𝑚𝑙

= 0,0863 gr/ml

b. Analisa Viskositas

- t = 2,30 detik
- Bola = nickel iron alloy
a. ρ = 8,1 gr/cm3
b. D = 0,5 mm
c. K = 7 mPa.s cm3/gs

µ = K (ρ1 – ρ2) . t
= 7 mPa.s cm3/gs (8,1 gr/cm3- 0,0863 gr/cm3) 2,30 detik
= 112 mPa.s (cp)

c. Kadar FFA

- Berat gelas kimia kosong = 89 gr


- Berat gelas kimia + isi = 92,5 gr
- Berat sampel = 3,5 gr
- Volume titran = 4,6 ml
- BM = 283,77 gr/mol
𝑀𝑥𝑉𝑥𝑇
Kadar FFA = 10.𝑚
3,5 𝑔𝑟 𝑥 4,6 𝑚𝑙 𝑥 0,1
= 10 𝑋 283,77 𝑔𝑟/𝑚𝑙

= 5,67x10-4
VII. ANALISA PERCOBAAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa metil ester
itu merupakan ester asam lemak yang dibuat melalui proses esterifikasi dari asam
lemak denga methanol. Pada percobaan ini bahan yang digunakan adalah minyak
jelantah karena memiiki asam lemak trigliserida.

Pembuatan metil ester dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu pencampuan dan
penggunaan secara langsung, mikroemulsi, pirolisis, dan transesterifikasi. Metode
yang digunakan pada percobaan kali ini adalah transesterifikasi.

Pada proses pembuatan terjadi reaksi organik dimana suatu senyawa ester
dirubah menjadi senyawa ester lain melalui pertukaran gugus alcohol dari ester
dengan gugus alkil dari senyawa alkohol lain

Pada saat larutan natrium metoksida dilarutkan kedalam minyak jelantah


terbentuk dua lapisan yaitu lapisan bawah bewarna putih dan lapisan atas bwarna
kuning. Pada saat pengadukan kecepatan yang digunakan 75-150 rpm. Karena apabila
kecepatannya lebih dari itu maka larutan akan mengemulsi sehingga metil ester tidak
terbentuk.

Kemudian setelah itu metil ester dimasukkan ke dalam corong pisah. Dan
terbentuk dua lapisan, untuk lapisan bawah dibuang sedangkan lapisan atas yang
mengandung metil ester dilakukan pemurnian dengan memanaskan aquades dan
kemudian mencampurkannya.

Setelah itu campuran yang telah terbentuk dua lapisan, dipisahkan kedalam
corong pisah, yang dimana senyawa metil ester (minyak) akan berada diatas karena
berat jeninsnya lebih rendah dari aquades. Setelah dipisahkan senyawa metil ester
disimpan dan dilakukan analisa kadar asam lemak, densitas, dan viskositas.

VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Senyawa metil ester dihasilkan dari mereaksikan asam lemak dengan
methanol
2. Metil ester yang didapat sebanyak 210 ml
3. Hasil analisa yang didapat
a. Densitas = 0,0863 gr/ml
b. Viskositas = 112 mPa.s (cp)
c. Kadar FFA = 5,67x10-4
DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet.2013.”Buku Penuntun Praktikum Satuan Proses” POLSRI : Palembang
GAMBAR ALAT

Bola Karet Pipet Tetes Gelas Kimia

Pipet Ukur Pipet Volum Erlenmeyer

Labu Ukur Kaca Arloji Spatula

Neraca Analitik Hot Plate


Viskomteter ostwald Piknometer