Anda di halaman 1dari 100

Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah selesai mempelajari modul ini, anggota muda diharapkan memperoleh pembelajaran tentang
sirkumsisi, tujuan, indikasi dan kontraindikasi sirkumsisi
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah selesai mempelajari modul ini, peserta diharapkan :
1. Mengetahui pengertian sirkumsisi
2. Menguraikan tujuan indikasi sirkumsisi ditinjau dari berbagai aspek
3. Mengetahui dan membedakan kelainan-kelainan pada penis yang menjadi indikasi dan
kontraindikasi pada sirkumsisi.

Sirkumsisi adalah tindakan membuang sebagian preputium sehingga glans penis menjadi terbuka.
Sirkumsisi biasa juga disebut khitan yang berasal dari bahasa Arab “Khatana” yang artinya memotong.
Ada beberapa istilah yang dipakai dalam masyarakat tertentu berhubungan dengan khitanan :
a. Sunatan, yang berasal dari bahasa Arab “sunnah” yang berarti jalan hidup para Rasul dan Nabi
b. Thahir, yang artinya membersihkan karena dengan dipotongnya preputium maka penis gampang
dibersihkan
Sirkumsisi merupakan tindakan bedah minor paling banyak dilakukan di seluruh dunia, dikerjakan oleh
dokter, paramedik dan dukun sunat.

Tujuan indikasi sirkumsisi ditinjau dan berbagai aspek :


A. Aspek Agama
1. Sirkumisisi dianggap ciri keislaman seseorang dan dianggap syariat sehingga mempengaruhi
keabsahan memeluk agama Islam
2. Firman Allah dalam Surah An-Nisa’ : 125

Artinya :

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

“Dan siapakah diantara kamu yang lebih baik agamanya dan orang yang ikhlas menyerahkan
dirinya kepada Allah. Sedang diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim
yang lurus dan Allah mengambil Ibrahim. Menjadi kesayangannya”
3. Hadist Nabi
Sayyim bin Kutai, ayahnya pernah datang ke Rasulullah SAW dan berkata “saya masuk Islam”,
maka Rasulullah bersabda hilangkan rambut kekufuran (bercukur) dan harus berkhitan.
Riwayat Imam Baihaqi menegaskan dan Suyyidinah Ali : Sesungguhnya yang kuncup (Aqlab)
dalam Islam tidak ketinggalan melainkan harus berkhitan walaupun umurnya 80 tahun.
Dalam hadis lain menjelaskan :
‫اخخنتنتنن إهخبنراههيِمم نعنلخيِهه السسنلم نومهنو اخبمن نثنماَهنيِنن نسننةة هباَخلنقمدوهم‬
Artinya:
Ibrahim ‘alaihissalam telah berkhitan dengan qadum (nama sebuah alat pemotong) sedangkan
beliau berumur 80 tahun . ( HR. Al-Bukhary Muslim )
‫ت نمخخمت خوةناَ نولنخم نيِنر أننحدد نس خوأنهتخي‬
‫ا أنخن مولهخد م‬
‫ همخن نكنرانمهتخي نعنلىَّ ه‬: ‫صسلىَّ ا م نعلنخيِهه نو نسلسنم‬ ‫نعخن أننن ه‬
‫ نرمسمل ه‬:‫س خبهن نماَلهكِك نقاَنل‬
‫ا ن‬
Artinya:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam: "Diantara kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepadaku adalah, aku dilahirkan dalam
keadaan sudah dikhitan, karena itu tidak ada orang yang melihat aurat/kemaluanku".
(HR. al- Thabrani, Abu Nuaym, al Khatib dan ibn Asakir)
4. Sunnat
- Ayat dijadikan hujjah tidak relevan secara langsung
- Hadist yang dijadikan rujukan tidak kuat
- Khitan termasuk fitrah, yakni kembali kesucian pribadi, sesuai dengan hadist nabi
Muhammad yaitu :

‫ف الهخبهط نونتخقلهخيِمم النخظنفاَهر نونق ص‬


‫ص السشاَهر ه‬
‫ب‬ ‫س همنن اخلهفخطنرهة – اخل ه‬
‫خنتاَمن نوالهخسهتخحندامد نوننخت م‬ ‫س – أن خو نخخم د‬
‫اخلهفخطنرةم نخخم د‬

Artinya :
Fitrah itu ada lima macam yaitu mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencukur bulu
ketiak, memotong kumis dan berkhitan ( HR. Al-Bukhary & Muslim ).

5. Bila dikaitkan dengan shalat mengandung makna


- Bersih dari segala kotoran najis
- Momentum untuk memantapkan perhatian anak-anak terhadap pelaksanaan shalat secara
kontinu
6. Usia saat berkhitan
- Menurut ketentuan syara’ tidak jelas
- Rasulullah SAW mengkhitan cucunya saat neonates (hari 8)

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

- Umumnya umat muslim di Indonesia saat usia 7-15 tahun

B. Aspek budaya (adat istiadat)


7. Telah lama dikenal dalam sejarah
8. Bangsa Mesh kuno mengenal khitan sejak 1400 tahun SM
9. Awalnya bertujuan untuk :
1. Membedakan dengan golongan lain
2. Menjaga dirinya dari sihir
3. Darahnya dapat menyuburkan tanaman
4. Mempersiapkan hidupnya menjadi lebih dewasa

C. Aspek Medis
INDIKASI
1. Kosmetik
2. Mencegah ejakulasi dini
3. Preventif (pencegahan)
- Menjaga hygiene penis dari smegma dan sisa urine
- Mencegah terjadinya infeksi pada preputium
- Mencegah timbulnya karsinoma pada penis (termasuk ca.cervix)
4. Kuratif
Fimosis : keadaan dimana preputium tidak dapat ditarik
ke belakang (proksimal). Kadang-kadang lubang pada
ujung preputium hanya sebesar ujung jarum, sehingga
urin sulit keluar. Keadaan yang dpat menimbulkan fimosis
adalah : bawaan (congenital)  paling banyak,
peradangan Gbr 1. Fismosis

Parafimosis adalah keadaan dimana preputium tidak dapat


ditarik ke depan (distal). Pada keadaan ini, glans penis atau
batang penis dapat terjepit oleh preputium yang
membengkak, sebelum tindakan sirkumsisi sebaiknya dicoba
dahulu melakukan reduksi bila gagal baru dilakukan
sirkumsisi
Gbr 2. Parafimosis

Balanitis rekuren adalah peradangan pada selaput glans

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 3. Balanitis rekuren


Kondiloma akuminata adalah papilloma multiple yang
tumbuh pada kulit genitalia ekstrena. Faktor
predisposisinya adalah perawatan kebersihan genitalia
yang buruk. Penis yang bersih hanya terjamin bila
preputium terbuka. Smegma yang terbentuk di bawah
preputium diduga bersifat karsinogenik.

Gbr 4. Kondiloma akuminata

KONTRA INDIKASI
Hipospadia adalah keadaan dimana muara uretra (meatus urethrae externus) terletak pada
tempat yang abnormal. Hipospadia salah satu kelainan congenital dimana muara urethra yang
terletak di sebelah ventral penis dan di sebelah proksimal ujung penis.

Gbr 5. Klasifikasi Hipospadia

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 6. Hipospadia
Epispadia adalah keadaan dimana ostium uretra yang terletak di
bagian dorsal penis.

Gbr 7. Epispadia

Korda : Penis
bengkok, disebabkan
adanya jaringan
sikatrik.

Gbr 8. Korda

Megalouretra adalah keadaan dimana ostium Uretrae Eksterna membesar.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 9. Megalouretra

Webbed penis adalah penis yang terbungkus selaput. Kulit skrotum sampai ke ventrum penis.
Koreksi dengan memisahkan kulit skrotum dan
penis.

Gbr 10 Webbed Penis

Diathesis Hemoragic : Relatif (Gangguan pembekuan darah)

EVALUASI
1. Jelaskan pengertian sirkumsisi !
2. Tujuan indikasi sirkumsisi ditinjau beberapa aspek. Jelaskan !
3. Tuliskan dalil dan hadis Nabi tentang sirkumsisi !
4. Usia berapa baiknya dilakukan sirkumsisi?
5. Sebutkan tujuan sirkumsisi ditinjau dari segi budaya !
6. Sebutkan indikasi sirkumsisi dari segi medis !
7. Jelaskan perbedaan fimosis dan parafimosis !
8. Jelaskan kontraindikasi dilakukannya sirkumsisi !

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Tujuan Instruksional Umum :

Setelah mempelajari modul ini anggota muda diharapkan mampu mengetahui dan memahami
struktur antomi penis dan mekanisme ereksi secara umum.

Tujuan Instruksional Khusus :

Setelah mempelajari modul ini anggota muda diharapkan anggota muda mampu :

1. Mengetahui struktur bagian luar dan bagian dalam serta lapisan penis
2. Mengetahui vaskularisasi, innervasi penis.
3. Mengetahui jenis-jens mekanisme ereksi

ANATOMI PENIS

Penis merupakan salah satu organ genitalia masculina. Penis mulai dari arcus pubis menonjol
ke depan berbentuk bulat panjang. Bagian utama daripada penis adalah bagian erektil atau bagian
yang bisa mengecil atau melembek dan bisa membesar sampai keras. Bila dilihat dari penampang
horizontal, penis terdiri dari 3 rongga yakni 2 batang korpus kavernosum di kiri dan kanan atas,
sedangkan di tengah bawah disebut korpus spongiosum.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr. 1 Corpus Cavernosum dan Corpus Spongiosum Penis

Gbr. 2 Penis Potongan Melintang

Korpora kavernosa dibungkus oleh jaringan fibroelastis tunica albuginea sehingga merupakan
suatu kesatuan, tetapi disebelah proksimal terpisah menjadi dua sebagai krura penis. Setiap krus penis
dubungkus oleh otot ischio-kavernosus yang kemudian menempel pada rami osis ischii.

Korpus spongiosum membungkus urethra mulai dari diafragma urogenitalis dan disebelah
proksimal dilapisis oleh otot bulbo-kavernosus. Korpus spongiosum ini berakhir pada sebelah distal
sebagai glans penis.

Ketiga korpora itu dibungkus oleh fasia buck dan lebih superficial lagi oleh fasia colles atau
fasia dartos yang merupakan kelanjutan dari fasia scarpa.

Fasia Colles

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Fasia Buck

Gbr. 3 Lapisan Penis

Kulit penis tipis, warna gelap, tidak berambut. Kulit dapat di geser sepanjang corpus tetapi
melekat erat di collum penis. Lipatan kulit yang menutupi seluruh glans disebut preputium. Di
permukaan bawah glands, bagian median, terdapat lipatan kulit yang merupakan bagian preputium
disebut frenulum.

Gbr. 4 Penis Aspectus Anterior

Di dalam setiap korpus yang terbungkus oleh tunika albuginea terdapat jaringan erektil yaitu
berupa jaringan kavernus (berongga) seperti spon. Jaringan ini terdiri atas sinusoid atau rongga lakuna
yang dilapisi oleh endotelium dan otot polos muskulus kavernosus. Rongga lakuna ini dapat
menampung darah yang cukup banyak sehingga menyebabkan ketegangan batang penis.

Penis mendapatkan aliran darah dari arteri pudenda interna yang kemudian menjadi arteri
penis komunis. Selanjutnya arteri ini bercabang menjadi arteri kavernosa atau aretri sentralis, arteri
dorsalis penis dan arteri bulbo uretralis. Arteri penis komunis ini melewati kanal dari Alcock yang
berdekatan dengan os pubis dan mudah mengalami cedera jika terjadi fraktur pelvis. Arteri dorsalis
penis memvaskularisasi kulit, fasia san glans. Arteri sentralis memasuki rongga kavernosa kemudian
bercabang-cabang menjadi arteri helisinea, yang kemudian arteriole ini akan mengisikan darah ke
dalam sinusoid.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr. 5 Vaskularisasi Penis

Darah vena dari rongga sinusoid dialirkan melalui anyaman/ pleksus yang terletak di bawah
tunika albuginea. Anyaman/ pleksus ini bergabung membentuk venule emisaria dan kemudian
menembus tunika albuginea untuk mengalirkan darah ke vena dorsalis penis.

Rangsangan seksual menimbulkan peningkatan aktivitas saraf parasimpatis yang


mengakibatkan terjadinya dilatasi arteriole dan konstriksi venule sehingga inflow (aliran darah yang
menuju ke corpora) meningkat sedangkan outflow (aliran darah yang meninggalkan corpora) akan
menurun, hal ini menyebabkan peningkatan volume darah dan ketegangan pada corpora meningkat
sehingga penis menjadi ereksi (tegang)

Gambar 7 Vaskularisasi, Innervasi dan Mekanisme Ereksi

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Persarafan penis terdiri atas sistem saraf otonomik (simpatik dan parasimpatik) dan somatik
(sensorik dan motorik) yang berpusat di nukleus intermediolateral medulla spinalis pada segmen S 2-4
dan Th12 – L2.

N.dorsalis penis  persarafi kulit penis, glans penis, corpus spongiosum.

Ramus profundus N. perinealis  corpus spongiosum, urethra.

N. ilioinguinalis kulit pangkal penis.

N. cavernosus penis (otonom)  persarafi jaringan erektil

Dari neuron yang berpusat di korda spinalis, serabut-serabut saraf simpatik dan parasimpatik
membentuk nervus kavernosus yang memasuki corpora kavernosa dan korpus spongiosum. Saraf ini
memacu neurotransmitter untuk memulai proses ereksi serta mengakhirinya pada proses detumesensi.
Saraf somato-sensorik menerima rangsangan di sekitar genitalia dan saraf somato-motorik
menyebabkan kontraksi otot bulbokavernosus dan ischiokavernosus.

MEKANISME EREKSI
Ereksi penis melalui 3 jalur:

 Ereksi Psikogenik:
Mulai dari sentral melalui rangsangan visual auditorius, olfaktorius, fantasi imajinasi
akan menuju Medulla Spinalis cervikal 2-4 atau lumbal 2-4 dan N. Erigentes.

 Ereksi Refleksogenik
Melalui rangsangan pada organ genital yang dihantar N. Dorsalis Penis menuju
Medulla Spinalis sakral 2-4 dan N. Erigentes.

 Ereksi Noktural
Terjadi pagi hari akibat vesika urinaria yang penuh menimbulkan rangsangan sensorik
kemudian ke Medulla Spinalis Sakral 2-4 dan N. Erigentes. Pendapat lain mengatakan bahwa
pada pagi hari metabolisme bekerja lebih cepat sekitar 20% dan terjadi peningkatan hormone
testosterone, estrogen dan progesterone.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

EVALUASI
1. Gambarkan penis potongan melintang!!
2. Sebutkan vaskularisasi penis!!
3. Sebutkan jalur-jalur innervasi penis!!
4. Jelaskan mekanisme ereksi berdasarkan jalurnya!!

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah selesai mempelajari modul ini, anggota muda diharapkan memperoleh pembelajaran
tentang alat dan bahan yang digunakan pada tindakan sirkumsisi
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah selesai mempelajari modul ini, peserta diharapkan :
1. Menyebutkan nama alat dan bahan yang digunakan pada tindakan sirkumsisi beserta fungsinya
2. Mengetahui dan terampil menggunakan alat-alat yang digunakan pada tindakan sirkumsisi

Alat adalah benda yang digunakan untuk melakukan sesuatu.


Bahan adalah sesuatu yang diolah melalui proses produksi sehingga menjadi barang jadi.

ALAT
1. Needle holder (nald voeder)
Berfungsi untuk memegang jarum jahit. Jarum dipeggang pada sepertiga pangkal, kurang lebih1-2
mm dari ujung needle holder. Dengan memakai pincet di tangan kiri , dan needle holder tangan
kanan. Dengan cara memutar tangan kiri ke arah supinasi dan tangan kanan ke arah pronasi dan
cara sebaliknya jika ingin memutar jarum dari posisi backhand ke forehand. “Pergerakan ini
merupakan gerakan pergelangan tangan tanpa mengikutsertakan siku”

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 11. Needle holder

2. Jarum jahit (Nald heacting)


Atau biasa disebut suture needle, merupakan jarum bedah yang digunakan untuk tindakan
penjahitan.
Bagian-bagian hechting :
1. Point : Bagian yang tajam, untuk merobek
2. Body : Badan dari jarum
3. Eye :Bagian pangkal, tempat melekatnya benang

Gbr 12. Anatomi Hecting


 Menurut bentuk secara umum jarum hechting :
1. Bentuk lurus (straight)
2. Bentuk curve
3. Bentuk ½ curve
4. Bentuk ½ circle
5. Bentuk ¼ circle
6. Bentuk 3/8 circle
7. Bentuk 5/8 circle

Gbr 13. jenis-jenis hechting menurut bentuknya

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Menurut bentuknya, mata hechting dibagi atas :


1. Mata tertutup : (= closed eye), mata jarum yang digunakan secara manual.
2. Mata Prancis : (= French eye), mata jarum yang paling sering digunakan secara semi
manual
3. Mata atraumatik : (= swaged eye), mata jarum yang praktis, tersedia satu paket dengan
benangnya.

Gbr 14. Jenis hechting menurut matanya

 Menurut bentuknya, point hechting dibagi atas :


1. Taper point needles : merobek jaringan lunak
2. Tapercut point needles : merobek jaringan yang alot (keras)
3. Spatula needles : untuk bedah mata
4. Sabreloc needles : untuk bedah mata
5. Micro point needles : merobek jaringan yg alot & susah tembus
6. Reverse cutting needles : merobek jaringan yg alot & susah tembus

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

7. Blunt point needles : untuk jaringan yg mudah rusak bila dijahit


8. Conventional cutting needles : jarum yang konvensional
9. Presicion point needles : untuk bedah plastik dan kosmetik

Gbr 15. Bentuk Ujung Jarum Bedah dengan Penampangnya


Untuk menjahit kulit digunakan yang berpenampang segitiga agar lebih mudah mengiris
kulit (scharpe nald). Sedangkan untuk menjahit otot dipakai yang berpenampang bulat ( rounde
nald)
 Menurut ukuran jarum hechting dibagi atas :
B.000 s.d B.16
G.1 s.d G.16
Yang lazim digunakan adalah B.13-14 atau G.13-14
Prinsip ukurannya  makin besar nomor jarum, maka makin kecil jarum hechtingnya.

B G
Gbr 16. Jenis-jenis ukuran hechting
Teknik memegang jarum dengan Needle
Holder adalah pada 1/3 pangkal dari mata
jarum hechting.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 17. Teknik memegang jarum dengan Needle holder

3. Gunting
 Jenis gunting;
a. Kasar dan halus
b. Lurus dan bengkok
c. Kedua ujungnya tajam atau tumpul

Gbr 18. Gunting tajam tumpul

 Memegang gunting jari juga tidak boleh masuk lebih dari satu phalanx.

Gbr 19. Cara memegang gunting


 Pada saat memotong benang dengan memakai gunting kasar, gunting harus dimiringkan
sedemikian rupa sehingga dapat terlihat panjang benang yang ditinggal.
 Apabila menggunakan gunting yang bengkok, maka posisi harus sedemikian rupa sehingga
ujungnya harus tetap terlihat.
 3 gerakan gunting untuk diseksi
1. Gerakan menggunting

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

2. Gerakan membuka
3. Gerakan mendorong sambil mengunting
4. Pinset
 Pinset ada yang bergigi (pinset cirurgis) dan tidak bergigi (pinset anatomis) ,Penggunaanya
tergantung dari jenis jaringan yang akan dipegang dengan pinset bergigi sedangkan jaringan
tipis dan lunak seperti usus dengan pinset tanpa gigi.

Gbr 20. Pinset anatomis dan pinset sirurgis


 Pinset harus dipakai dengan prinsip memegang sumpit,dimana pinset itu harus merupakan
perpanjangan dari jari telunjuk dan ibu jari. Pinset merupakan suatu alat yang serbaguna dan
biasanya dipegang oleh tangan kiri

Gbr 21. Cara memegang pinset

 Selama melakukan pembedahan sebaiknya pinset tidak dilepas dan kemudian diambil kembali
tetapi biasakanlah”menyimpan” pinset di tangan kiri
dengan menjepitnya dengan menggunakkan jari
manis dan kelingking, sehingga ibu jari telunjuk dan
jari tengah bebas bekerja (lihat gambar).

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 22. Menyiman pinset di tangan


kiri
5. Klem arteri terdiri dari :
 Pean : Ada 2 jenis yaitu yang lurus dan bengkok, kegunaannya untuk hemostasis terutama
untuk jaringan tipis dan lunak

Gbr 23. Pean lurus


 Mosquito : Ada 2 jenis yaitu lurus dan bengkok. Penggunaannya untuk hemostasis terutama
untuk jaringan tipis dan lunak. Biasa hanya digunakan klem mosquito bengkok 1 buah.

Gbr 24. Mosquito lurus dan bengkok


 Cara membuka klem dengan tangan kanan dan tangan kiri :
KANAN
 Jari tidak boleh masuk lebih dari satu phalanx
 Gerakan pembuka merupakan
gerakan yang berlawanan dari ibujari
dan jari tengah

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 25. Membuka klem dengan tangan


kanan

KIRI
 Jari tidak dimasukan ke dalam lubang pegangan
 Gerakan pembuka merupakan gerakan yang berlawanan dari ibu jari dan jari manis

Gbr 26. Membuka klem dengan tangan kiri

6. Waskom kecil (tempat betadine)


Berfungsi sebagai wadah untuk menampung tempat betadine

Gbr 27. Waskom

7. Piring alat
Berfungsi untuk menyimpan alat-alat steril yang siap digunakan

Gbr 28. Nierbeken

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Dari penjelasan di atas, alat-alat yang digunakan yaitu : Needle holder (1 buah), hechting (1
buah), gunting tajam tumpul (1 buah), pinset anatomis (1 buah), pean lurus (2 buah), mosquito lurus (1
buah), mosquito bengkok (1 buah), tempat betadine (1 buah), dan piring alat (2 buah).

BAHAN
1. Benang
Benang merupakan salah satu instrument penting dalam pembedahan. Benang jahit terdari
berbagai macam struktur dan ukuran. Oleh sebab itu, pemilihan akan benang yang tepat sesuai
dengan jaringan dan luka sangat penting guna menunjang proses penyembuhan jaringan

Tujuan dari benang jahit yaitu untuk mempertahankan luka dalam posisi yang baik sampai
penyembuhan luka cukup stabil, maka diperlukan benang jahit yang tepat baik ukuran maupun
strukturnya.
 Pemilihan benang tergatung pada:
- Jenis material benang
- Absorpsi
- Ukuran benang
- Struktur
 Benang terbagi atas :
1. Penyerapannya
a. Benang yang dapat diserap ( absorbable), antara lain: catgut, asam poliglikolat (Dexon),
Polyglactin (Vicryl), Polydioxone (PDS), Polyglyconate (Maxon). Yang sering dipakai
Vicryl dan Catgut
b. Benang yang tidak dapat diserap ( Non-Absorbable) antara lain
sutra(silk),katun,Polyamide (Nylon), Polyester (Dacron), Polypropylene (Prolene). Yang
paling sering digunakan yaitu silk dan prolene.
2. Reaksi yang timbul terhadap materi yang digunakan untuk pembuatnya
a. Benang yang menimbulkan reaksi (besar),misalnya: catgut, silk dan benang-benang
multifilament
b. Benang yang menimbulkan reaksi minimal,misalnya: nilon dan benang-benang
monofilament

3. Filamen fisik
a. Benang monofilament merupakan benang yang disusun satu filament, misalnya
Prolene, monofil nilon, Polydioxanone (PDO)
b. Benang multifilament merupakan benang yang disusun atas beberapa filament,
misalnya silk,sutera

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Jenis benang yang dapat diserap (absorbable):


1. Catgut
Terbuat dari usus domba atau kucing. Catgut merupakan benda asing bagi tubuh
yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Plain catgut memiliki waktu aborb sekitar 7-
10 hari. Chromic catgut yang memiliki kandungan garam chromium memiliki waktu absorb
yang lebih lama 20-40 hari. Chromic catgut biasanya menyebabkan reaksi inflamasi yang
lebih besar dibandingkan plain catgut. Tidak terbukti bahwa catgut dapat menyebabkan
reaksi alergi. Catgut biasanya dipakai untuk mengikat pembuluh darah. Lapisan
subcutaneous dan untuk menutup scrotum dikulit dan perineu.
2. Benang sintesis
a. Multifilamen
 Asam poliglikolat (Dexon) merupakan benda sinesis yang mempunyai kekuatan
regangan sangat besar. Diserap habis dalam
60-90 hari. Efek reaksi jaringan yang
dihasilkan lebih kecil daripada catgut.
Digunakan untuk menjahit fasia otot, kapsul
organ, tendon, dan penutupan kulit secara
subkutikuler. Dexon

Gbr 29. benang multifilamen


tidak mengandung protein kolagen,antigen, dan zat pirogen sehingga menimbulkan
rekasi jaringan yang minimal. Karena bentuknya yang berpilin jangan digunakan
untuk menjahit dipermukaan kulit karena dapat menimbulkan infeksi akibat
pertumbuhan infeksi
 Asam poliglatik atau Vicryl adalah benang sintetik berpilin yang sifatya mirip
dengan Dexon. Benang ini memiliki kekuatan regangan sedikit di bawah Decon
dan dapat diserap habis dalam 60 hari pasca operasi. Hanya digunakan untuk
menjahit daerah – daerah tertutup dan merupaka kontraindikasi untuk jahitan
permukaan kulit. Vicryl biasanya berwarna ungu. Untuk menghasilkan kekuatan
yang memuaskan Vicryl dan Dexon disimpul minimal tiga kali. Vicryl dan Dexon
terutama digunakan untuk meligasi pembuluh darah,menautkan fasia, dan menjahit
kulit secara subkutikuler.
b. Monofilamen
Polidioxone (PDS) kekuatan regangannya bertahan sampai 4-6 minggu dan
diserap seluruhnya dalam 6 bulan. Karena monofilament, benang ini sangat baik untuk
menjahit daerah – daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Jenis benang yang tidak dapat diserap (non-absorbable):


 Sutra atau silk adalah serat protein yang dihasilkan larva ulat sutra yang dipilin menjadi
benang. Memiliki kekuatan regangan yang besar, mudah dipegang dan mudah di buat
simpul. Kelemahannya adalah kekuatan regangan yang besar,udah dipegang dan mudah
dibuat simpul. Kelemahannya adalah kekuatan regangan dapat Gbr 30. Benang
monofilament
menyusut pada jaringan yang berbeda – beda, umumnya timbul setelah 2 bulan pasca
operasi.
 Polyester ( Dacron) merupakan serat polyester, berupa benang piliha yang mempunyai
kekuatan regangan yang sangat besar. Sangat
dianjurkan untuk menutup fasia. Kerugiannya adalah
tidak digunakan pada jaringan yang terinfeksi atau
terkontaminasi karena bentuknya yang terpilin. Untuk
kekuatan yang maksimal polyester disimpul sebanyak
lima kali
 Polypropylene (Prolene) adalah material monofilament yang sangat halus sehingga tidak
banyak enimbulkan kerusakan jaringan dan reaki jaringan. Biasanya berwarna biru. Pada
beberapa merek prolen langsung tersambung dengan jarum berukuran diameter sama
sehingga tidak menimbulkan trauma yang berlebihan. Merupakan pilihan untuk enjahit
daerha yang terinfeksi atau terkontaminasi. Ukuran yang sagat kecil sering digunakan
untuk bedah mikro. Kelemahan benang ini adalah sulit isimpul dan seirng terlepas sendiri.
Oleh sebab itu, boasanya di simpul empat kali agar tiak mudah lepas.

Gbr 31. Plain catgut dan chromic catgut


2. Sarung tangan steril (handscoen)
Harus selalu dipakai pada saat melakukan tindakan kontak atau yang diperkirakan akan
menimbulkan kontak dengan darah, cairan tubuh, kulit yang tidak utuh, selaput lendir pasien dan

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

benda terkontaminasi. Digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi yang bisa berasal dari pasien
ke tenaga medis ataupun sebaliknya.

Gbr 32. Handscoen


3. Masker
Sebagai alat pelindung diri dan mencegah terjadinya infeksi silang.

Gbr 33. Masker

4. Doek steril
Berfungsi untuk mempersempit daerah operasi

Gbr 34. Doek steril


5. Kasa steril (Gaas)

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 35. Kasa steril ( gaas )


6. Plester
Berfungsi untuk memfiksasi balutan yang telah dipasang.

Gbr 36. Plester

7. Povidone iodine
Berfungsi sebagai antiseptik.

Gbr 37. Povidone iodine


8. Lidokain HCl 2%
Lidokain menghasilkan efek anatesi yang kuat, lebih cepat, lebih lama dan ekstensif dibandingkan
dengan Prokaina. Secara kimiawi Lidokain merupakan obat asilamida yang sangat berbeda dengan
Prokaina, karena itu Lidokain mempengaruhi kestabilan neuronal membrane dan mencegah
transmisi dari impuls-impuls saraf. Oleh karena itu mempunyai efek local anastetik. Lidokain
berfungsi sebagai anastetik local.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 38. Lidokain HCl 2%


9. NaCl 0,9 %

Gbr 39. NaCl 0,9 %


10. Spoit 3 cc

Gbr 40. Spoit


11. Bahan-Bahan DTT (disinfektan tingkat tinggi)

Gbr 41. Hibicet, klorin, alcohol 70%


12. Obat-obat :
 Antibiotik topical
Seperti Oxytetracyline 3%. Dioleskan pada luka jahitan.
 Antibiotik

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Pemberian antibiotik hanya bersifat pencegahan dan pada keadaan tertentu bersifat
penyembuhan. Antibiotik yang diberikan yang berspektrum luas seperti tetrasiklin, ampisilin,
amoxicillin, dan sebagainya.
Untuk dosis Amoxicillin :
- Dewasa dan anak-anak dengan berat badan > 20 kg : 250 mg – 500 mg tiap 8 jam.
- Anak-anak dengan berat badan < 20 kg : 20 mg – 40 mg/kg BB sehari dalam dosis bagi
tiap
8 jam
 Analgetik
Karena sirkumsisi merupakan daerah sensitif, maka pada sirkumsisi penderita akan merasakan
nyeri. Pemberian analgetik diberikan hari pertama dan kedua. Analgetik yang diberikan
analgetik non narkotik misalnya antalgin, asam mefenamat, asam asetilsalisilat.
Untuk dosis Asam mefenamat :
Dewasa dan anak-anak > 14 tahun :
Dosis awal : 500 mg, kemudian dianjurkan 250 mg tiap 6 jam sesuai dengan kebutuhan
 Anti inflamasi
Bila ada terjadi radang maka bisa diberikan obat anti inflamasi seperti serapeptase (Danzen),
pankreatin + proktase (Proctase), tripsin + kimotripsin (Chymomed) dan sebagainya.
 Roboransia
Dapat diberikan vitamin seperti vitamin B kompleks ditambah vitamin C untuk membantu
penyembuhan
Untuk dosis vitamin B kompleks :
Sehari 1 tablet atau sesuai dengan anjuran dokter
Untuk dosis vitamin C :
Anak-anak : sehari 3-4 kali 1-2 tablet
Dewasa : sehari 3 kali 2-3 tablet
 Anti tetanus
Anti tetanus yang biasa dipakai Purifed Tetanus Toksoid dengan dosis diberikan sebanyak 0,5-1
cc/ injeksi IM.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

EVALUASI
1. Jelaskan perbedaan alat dan bahan !
2. Sebutkan alat dan bahan yang digunakan pada saat sirkumsisi !
3. Sebutkan masing-masing fungsi alat dan bahan yang digunakan pada saat sirkumsisi !
4. Gambarkan bagian-bagian dari hechting !
5. Jelaskan pembagian hechting menurut matanya !
6. Sebutkan 3 gerakan gunting untuk diseksi !
7. Sebutkan perbedaan pinset anatomis dan sirurgis !
8. Jelaskan pembagian klem dan perbedaannya masing-masing !
9. Jelaskan cara membuka klem dengan menggunakan tangan kanan dan tangan kiri !
10. Jelaskan perbedaan chromic dan plain catgut !
11. Jelaskan perbedaan lidokain comp dan lidokain HCl !
12. Jelaskan penggunaan dosis pada lidokain HCl !
13. Sebutkan bahan-bahan DTT !
14. Jelaskan fungsi obat-obatan yang digunakan !

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan instruksional umum (TIU)


Setelah selesai mempelajari modul ini, anggota muda diharapkan memperoleh pembelajaran tentang
Kewaspadaan universal, Anti Septik, Sterilisasi, Dekontaminasi dan bagaimana penerapannya.

Tujuan instruksional khusus (TIK)


Setelah mempelajari modul ini, peserta pelatihan sirkumsisi angkatan XII TBM-110 FK UMI
diharapkan dapat :
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan sterilisasi, aseptik, antiseptik, disinfeksi, dekontaminasi
2. Mengetahui prosedur aseptik
3. Mengetahui bahan-bahan antiseptik
4. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kewaspadaan universal beserta prinsipnya
5. Mengetahui bagaimana cara disinfeksi pada tangan
6. Mengetahui indikasi cuci tangan serta mampu melakukan prosedur cuci tangan rutin
7. Mengetahui alat-alat pelindung diri yang digunakan dalam kegiatan sirkumsisi
8. Memahami alur pengelolaan alat kesehatan
9. Memahami prosedur pengelolaan alat kesehatan ( limbah, alat tajam dan sampah medis).

ASEPTIK DAN ANTI SEPTIK


Pengertian
a. Sterilisasi adalah usaha untuk membebaskan alat-alat, bahan-bahan dan kehidupan
mikroorganisme atau steril.
b. Aseptik adalah bebas dan bahan-bahan yang menyebabkan sepsis (infeksi).
c. Antiseptik adalah bahan-bahan yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan
mikroorganisme tanpa menghancurkan mikroorganisme tersebut
d. Desinfeksi adalah suatu proses untuk menghilangkan sebagian atau semua mikroorganisme
dan alat kesehatan kecuali endospora bakteri

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

e. Disinfektan tingkat tinggi (DTT) merupakan alternatif bila sterilisasi tidak tersedia atau tidak
mungkin dilaksanakan. DTT dapat membunuh semua mikroorganisme termasuk HIV dan
Hep.B namun tidak membunuh endospora dengan sempurna sehingga bila kasus gas gangren
dan tetanus banyak didapat maka semua peralatan harus disterilisasi.

PRINSIP ANTI SEPTIK


a. Mencegah infeksi (sepsis)
b. Mencegah bakteri masuk ke dalam tubuh/luka.
- Kulit
- Instrumen
- Benang
- Cairan
- Lapangan operasi
- Ruang operasi

PROSEDUR ASEPTIK
1. Ruang Operasi
a. Sedapat mungkin bebas dan kontaminasi bakteri
b. Ventilasi yang tepat dapat membersihkan bakteri dan udara dengan cepat.
c. Sumber kontaminasi terpenting adalah penderita dan sekunder adalah tim operasi.
d. Jangan terlalu banyak personil dalam ruang operasi
e. Bicara dengan seperlunya saja
2. Penderita
a. Infeksi yang timbul dari genrasi dikalsifikasikan sebagai kontaminasi bersih, kontaminasi
atau kotor terutama disebabkan oleh bakteri yang telah ada dalam lapangan operasi.
b. Penyiapan kulit penderita sebelum insisi merupakan salah satu metode terpenting untuk
mengurangi infeksi pada operasi bersih.
c. Antiseptik yang sering digunakan untuk kulit yang utuh adalah iodophors (bethadine).
3. Tim Operasi
a. Tim operasi harus mencuci dengan menggosok / menyikat tangan dengan bahan
antiseptik sebelum operasi.
b. Selama operasi harus memakai masker yang menutupi mulut dan hidung.

c. Memakai sarung tangan (hanscoen) yang memiliki fungsi:


i. melindungi penderita dan tangan operasi
ii. melindungi operator dan darah penderita yang mungkin terkontaminasi

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

d. Memakai jas operasi steril yang berfungsi sebagai barier untuk mencegah kontaminasi
mikroorganisme ke penderita
e. Memakai kain atau doek steril untuk membatasi dan mempertahankan lapangan steril
selama prosedur operasi
f. Instrumen dan peralatan operasi yang digunakan harus

BAHAN - BAHAN ANTI SEPTIK


a. Yodium : - Masih ampuh
- Membakar kulit
b. lodhophor : - yodium
- Bakterisida
c. Alkohol : - Banyak Digunakan Untuk Disinfeksi
- Sifat bakterisida kurang
d. Merkuri : - Cukup ampuh
- Mercijrochrom tidak efektif
- Senyawa mercuri organik Iebih efektif, misalnya:
Timerosal (mertheobate):
1. Non Toxic
2. Bakteriostatik Tidak Membunuh Spora
e. Larutan khorheksidin glukonat
(Hibiclens) : Heksametilen-BIS. Biguamid dalam isopropil. alkohol 40 % dan sabun
1. Bakterisida
2. Tidak mengiritasi akut
3. Sangat luas digunakan untuk cud tangan sebelum operasi
f. Larutan deterjen: Heksakloroflen

CARA DISINFEKSI KULIT DAERAH OPERASI


a. BAHAN
1. PODVIDINE IODINE 1 % – 2 MENIT
2. IODINE 1 % – 2 MENIT

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

3. ETANOL 70% – 2 MEN IT


b. CARA
1. Mulai dari tengah ke luar
2. Tidak boleh di ulang pada satu tempat dengan menggunakan kain kasa yang sama.

CARA DISINFEKSI PADA TANGAN


- Mencuci tangan
- Memakai sarung tangan (handschoen)
Cara:
a. Cuci selama 5-10 menit dengan menggunakan sikat dan sabun
b. Mulai dan telapak tangan, ujung jari-jari dan kuku, ventral ke dorsal sampai ke siku
c. Dibilas pada air yang mengalir
d. Lap dengan kain steril

Cara-cara sterilisasi antara lain :


 F.i.s.i.k
 Pemijaran /flamber
- Bakar diatas nyala api/spirtus
- Bahan bakar harus cukup untuk memebri nyala api minimum selama 5 menit.
- Mudah digunakan dan dalam keadaan darurat
- Untuk alat-alat yang tidak rusak dengan api seperti : Pingset, Gunting, atau pisau.
 Udara panas/kering
- Untuk alat-alat yang terbuat dan gelas/kaca atau jarum suntik
- Suhu 160o - 180°c selama 1-2 jam
 Dengan uap air panas
- Untuk alat dan bahan yang tidak tahan, panas sampai suhu 100°C
- Dikukus (pakai dandang)
- Autoclav atau arnold steam sterilizer

 Sterilisasi dengan uap air panas bertekanan


- Paling baik
- Mudah penetrasi panas ke dalam sel bakteri
- Biasanya untuk baju dan kain operasi instrumen dll.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

- Autoclav 120°C dengan tekanan 1-2 atm selama 15-20 menit

 Sterilisasi dengan air mendidih


- Untuk alat-alat yang tidak dengan panas seperti instrumen operasi
- Masak pada suhu 100°C selama lebih dan 15 MENIT
 Sterilisasi Dengan Penyinaran
- Dengan menggunakan cahaya gelombang pendek biasanya dengan sinar
ultra/sinar rontgen
 K.i.m.i.a
 Alkohol
- Biasanya Etanol 70-90%
- Merusak struktur lipid mikroorganisme
- Non Sporosidal
- Tidak cocok untuk sterilisasi alat
- lebih efektif bila dikombinasi dengan formaldehid 100 gr/dl dan klor 2 gr/dl.
 Glutoral Dehida
- Membunuh bakteri dan spora
- Kurang toxic di banding formaldehid
- untuk sterlisasi alat bedah lebih balk
- Tersedia dalam larutan konsentrasi 20 gr/dl (2%)
Efek samping iritasi, toksic mutagenik. hindari kontak dengan kulit, mata & saluran nafas
 Formaldehid
- untuk semua mikroorganisme
- efektif pada kelembaban 70 %
- tersedia dalam bentuk padat tablet dalam air (formalin)
- Gas formalindehid untuk sterilkan ruangan

KEWASPADAAN UNIVERSAL
Kewaspadaan universal adalah :
a. Upaya pencegahan infeksi yang telah mengalami perjalanan panjang, dimulai sejak dikenalnya
infeksi nosokomial yang terus menjadi ancaman bagi petugas kesehatan dan pasien.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

b. Petugas kesehatan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan pasien dan risiko
penularan penyakit infeksi
c. Setiap cairan tubuh pasien harus dianggap infeksus tanpa memandang status pasien.
Prinsip utama prosedur kewaspadaan universal adalah higene individu, higene ruangan dan
sterilisasi alat.
Adapun kegiatan pokok kewaspadaan universal:
1. Pakai APD unuk cegah kontak darah
2. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
3. Cuci tangan untuk cegah infeksi
4. Pengelolaan benda tajam untuk cegah luka
5. Pengelolaan limbah & sanitasi ruangan

Beberapa istilah berkaitan dengan pencegahan infeksi:


a. Mikroorganisme
 Bakteri
- Vegetatif ( Stafilokokus )
- Mikrobacteria ( TBC )
- Endospora (Tetanus) sulit dibunuh
 Virus (Hepatitis, HIV / AIDS)
 Jamur
 Parasit
b. Asepsis dan Teknik Asepsis
- Upaya cegah masuk mikroorganism
- Menurunkan, menghilangkan mikroorganisme (benda hidup,
benda mati)
c. Antisepsis
- Larutan kimia (antiseptik) :
Membunuh – menghambat mikroorganisme pada kulit dan jaringan tubuh

d. Dekontaminasi
- Mengurangi (tidak menghilangkan) mikroorganisme pada alat/bahan (termasuk alat dan
permukaan luas)

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

e. Mencuci dan Membilas


- Tindakan untuk menghilangkan semua kotoran/benda asing dari kulit atau instrumen
f. Desinfeksi
- Hilangkan sebagian besar mikroorganisme
g. Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT)
- Rebus, uap, kimia g menghilangkan semua mikroorganisme, kecuali endospora
h. Sterilisasi
- Membunuh semua mikroorganisme

Kegiatan Pokok Kewaspadaan Universal


- Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
- Pemakaian alat pelindung guna mencegah kontak dengan darah dan cairan tubuh
- Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
- Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
- Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan
Cuci Tangan
 Indikasi:
a. Sebelum melakukan tindakan:
- Memulai pekerjaan (baru datang)
- Saat akan memeriksa (kontak lansung dengan pasien),
- Akan memakai ST steril (disinfeksi tingkat tinggi DTT),
- Akan menggunakan alkes steril,
- Akan melakukan injeksi,
- Hendak pulang ke rumah
b. Sesudah melakukan tindakan
- Setelah memeriksa penderita
- Setelah menggunakan alkes & bahan lain yg terkontaminasi,
- Setelah menyentuh mukosa, darah, cairan tubuh lain
- Setelah buka sarung tangan
- Setelah dari WC
- Setelah bersin & batuk
 Macam-macam cuci tangan:

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

- Cuci tangan Higienik atau rutin : mengurangi kotoran dan flora yang ada ditangan dengan
menggunakan sabun dan deterjen
- Cuci tangan Aseptik : sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan antiseptik
- Cuci tangan Bedah (surgical handscrub) : sebelum melakukan tindakan bedah cara aseptik
dengan antiseptik dan sikat steril
 Sarana cuci tangan
- Air mengalir
- Sabun dan deterjen
- Larutan antiseptik
 Prosedur cuci tangan higienis/ rutin :
Persiapan
a. Sarana cuci tangan disiapkan di setiap ruang penderita dan tempat lain misalnya ruang
bedah, koridor.
b. Air bersih yang mengalir (dari kran, ceret atau sumber lain).
c. Sabun sebaiknya dalam bentuk sabun cair
d. Lap kertas atau kain yang kering
e. Kuku dijaga selalu pendek.
f. Cincin dan gelang perhiasan harus dilepas dari tangan.
Prosedur
a. Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir
b. Taruh sabun di bagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa secukupnya tanpa
percikan.
c. Gerakan cuci tangan terdiri dari gosokan kedua telapak tangan, gosokan telapak tangan
kanan diatas punggung tangan kiri dan sebaliknya, gosok kedua telapak tangan dengan jari
saling mengait, gosok kedua ibu jari dengan cara menggenggam dan memutar, gosok
pergelangan tangan
d. Proses Berlangsung selama 10 – 15 detik
e. Bilas kembali dengan air sampai bersih
f. Keringkan tangan dengan handuk atau kertas yang bersih atau tisu atau handuk
katun sekali pakai.
g. Matikan kran dengan kertas atau tisu.
h. Pada cuci tangan aseptik/bedah diikuti larangan menyentuh permukaan yang tidak steril.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Pedoman cuci tangan :


a. Bila gunakan sabun padat g potong kecil & simpan diwadah berlubang

b. Bila tidak ada air mengalir : Ember + Gayung (keran)


c. Pakai antiseptik yang tak perlu air(misal alkohol)
• 2 cc gliserin/propilen glikon/Sorbitol dalam 100 cc alkohol 60-90 %

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

• Cukup 3-5 cc untuk cuci tangan


• 2 menit kemudian dapat diulang (total 6-10 cc)
d. Keringkan (Handuk kering, tissue, pengering listrik)
- Air bekas dibuang ke pembuangan
 Alat Pelindung
- Sarung tangan
- Pelindung wajah/masker/kaca mata
- Penutup kepala
- Gaun pelindung (baju kerja/celemek)
- Sepatu pelindung (sturdy foot wear)

 Sarung tangan
- Harus selalu dipakai pada saat melakukan tindakan kontak atau yang diperkirakan akan
menimbulkan kontak dengan darah, cairan tubuh, kulit yang tidak utuh, selaput lendir
pasien dan benda terkontaminasi
- Digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi yang bisa berasal dari pasien ke tenaga
medis ataupun sebaliknya.
- Dikenal 3 jenis sarung tangan yaitu sarung tangan bersih, sarung tangan steril, sarung
tangan rumah tangga
Penggunaan sarung tangan
Sarung tangan bersih: - didisinfeksi tingkat tinggi (DTT)
- digunakan sebelum melakukan tindakan
rutin pada kulit dan jaringan mukosa
- dapat digunakan pada tindakan bedah
bila sarunq tanqan steril tidak ada
Sarung tangan steril: - sarung tangan yang telah melalui proses
serilisasi
- harus digunakan pada saat melakukan
tindakan bedah
Sarung tangan rumah tangga - terbuat dan latex atau vinil, tebal
- digunakan saat membersihkan alat
kesehatan, permukaan meja kerja dll
- dapat digunakan kembali setelah dicuci
bersih

25
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Pelindung wajah
- Masker & kaca mata
- Melindungi hidung, mulut, & mata dari percikan darah cairan tubuh
- Pelindung wajah sebaiknya tidak mengganggu pandangan
- Masker tanpa Kacamata digunakan pada pasien tbc terbuka tanpa luka kulit
- Masker digunakan 1 meter dari pasien
- Masker, Kacamata, pelindung wajah digunakan pada tindakan berisiko tinggi, terpajan
lama, bersihkan luka, ganti kateter, dekontaminasi alkes bekas pakai.
- Masker dikenakan sebelum APD & cuci tangan.
 Penutup kapla
- Mencegah jatuhnya mikroorganisme rambut/ kulit kepala
- Melindungi rambut & kepala petugas dari percikan bahan pasien,
- Pada pembedahan, ICU penutup kepala digunakan oleh petugas & pasien.
 Gaun/ baju pelindung
- Pakaian Kerja (Seragam, Gaun Bedah, Jas Lab, & Celemek) merupakan gaun pelindung
- Janis bahan, tembus dan tidak tembus cairan
- Tujuannya untuk melindungi dari percikan/ genangan drh & cairan tbh
- Ada steril & tdk steril
 Sepatu pelindung
- Khusus ruang bedah, lab, ICU, ruang isolasi, ruang jenazah, & petugas sanitasi
- Melindungi kaki petugas dari tumpahan darah
- Mencegah tusukan/ kejatuhan benda tajam/ alkes,
- Menutupi seluruh ujung & telapak kaki
- Mudah dicuci.
 Pengelolaan Alat Kesehatan
• Mencegah penyebaran infeksi melalui alkes  steril & siap pakai,
• Alat, bahan & obat  masuk jaringan  steril.
• Proses pengelolaan alat kesehatan melalui 4 tahap:
- Dekontaminasi
- Pencucian
- Sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT)
- Penyimpan
• Alat dlm pembungkus steril  simpan 1 minggu

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

• Alat tdk terbungkus  dalam tempat/ tromol steril


• Alat diolah dengan DTT  dalam wadah tertutup atau segera pakai.

Alur pengelolaan alat kesehatan

Tingkat risiko dan jenis penggunaan alat :


Tingkat risiko: Jenis penggunaan Cara pengelolaan:
alat :
Risiko tinggi Alat yang digunakar Sterilisasi alat
dengan menembus kulit Menggunakan alat steril
atau rongga tubuh sekali pakai
Risiko sedang Alat yang digunakan Sterilisasi atau disinfeksi
pada mukosa atau kulit tingkat tinggi perebusan/
yang tidak utuh kimiawi)
Risiko rendah AIat yang digunakan Cuci bersih
pada kulit utuh tanpa
menembus kulit

D EKONTAMINASI
- Menghilangkan mikroorganisme patogen dan kotoran dan suatu benda sehingga aman
untuk pengelolaan selanjutnya
- Bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat kesehatan atau permukaan
benda

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

- Dilakukan dengan menggunakan bahan disinfektan yaitu suatu larutan atau zat kimia yang
tidak digunakan untuk kulit dan jaringan mukosa
- Klorin 0,5% atau 0,05% adalah disinfektan yang paling sering digunakan dinegara
berkembang karena terjangkau dan mudah didapat.
- Pemilahan diluar tempat pemakai, alat kesehatan dipakai ulang & sekali pakai
Dekontaminasi Khusus
Jenis alat kesehatan Proses Dekontaminasi
1. jarum dan semprit: 1. - siapkan wadah kedap tusukan
-sebaiknya tidak dipakai ulang - isi dengan lart.klorin 0,5%
-insenerasi beserta wadahnya - isi semprit & jarum dengan
lar.klorin semprotkan, lakukan 3x
- rendam dim lart.klorin 10 mnt

2. sarung tangan: 2. - tampung dalam wadah berisi


- sekali pakai — buang dalam lart. Klorin 05% rendam 10 menit
wadah limbah medis sebelum dicuci
- pakai ulang—tampung - pisahkan dalam wadah berbeda
dalam wadah penampungan dengan alat tajam
utk proses dekontaminasi

3. Wadah tempat penyimpanan 3. isi dgn lart.klorin 05% 10 mnt, bilas & cuci
peralatan 4. gunakan sarung tangan RT &
4. permukaan meja yang tidal celemek, semprot lart.klorin
Berpori biarkan 10 mnt, lap dgn lap basah
bersih berulang kali sehingga
klorin terangkat

 Pencucian Alat
- Menghilangkan segala kotoran yang kasat mata dan benda atau permukaan benda
dengan sabun atau detenjen, air dan sikat
- Tanpa pencucian yang teliti maka proses disinfeksi atau sterilisasi selanjutnya tidak akan
efektif
- Kotoran yang tertinggal dapat mempengaruhi fungsinya atau mengakibatkan reaksi
pirogen bila masuk kedalam tubuh pasien

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

- Detergen digunakan dengan cara mencampurkan dengan air, dan tidak diperbolehkan
menggunakan sabun cuci biasa karena akan menimbulkan residu yang sulit dihilangkan
- Hindari penggunaan abu gosok karena akan menimbulkan goresan pada alat yang bisa
menjadi tempat bersembunyi mikroorganisme ataupun karat

DISINFEKSI DAN STERILISASI


- Risiko infeksi sarana kesehatan
- Pengelolaan alat sesuai risiko yaitu tinggi, sedang, rendah
- Alkes disterilkan pada resiko tinggi
 Disinfeksi
Disinfeksi adalah Suatu proses untuk menghilangkan sebagian atau semua mikroorg dari alat
kesehatan kecuali endospora bakteri.
- Disinfeksi dilakukan di sarana kesehatan yaitu cairan kimia, pasteurisasi, atau perebusan.
- Efikasinya dipengaruhi oleh
- proses sebelumnya yaitu pencucian, pengeringan, adanya zat organik, tingkat
pencemaran, jenis mikroorganisme pada alat kesehatan
- Sifat & bentuk alat antara lain bergerigi, berlubang, bentuk pipa, berengsel;
- Lamanya terpajan dengan disinfektan;
- Suhu & pH pada saat proses.
 Macam-macam disinfeksi
- Disinfektan kimiawi : alkohol. Klorin, formaldehide, glutardehide, hidrogen peroksida,
yodifora, asam parasetat, fenol, ikatan kuarterner.
- Cara lain : radiasi sinar UV, pasteurisasi, mesin pencuci.

 Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT)


 Rebus 20 menit atau pakai larutan
kimiawi rendam selama 20 menit
- Glutaraldehid ( Cidex ® )
- Formaldehid 8 %
- Klorin 0,1 %
 Bilas dengan air DTT
 Keringkan diudara
 Pakai segera / simpan 1 minggu

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Macam-macam sterilisasi
- Fisik dengan cara pemanasan atau radiasi, filtrasi
- Kimia dengan cara merendam (dalam glutaraldehid) dan menguapi dengan gas kimia
( gas etilin)

 Cara fisik
a. Pemanasan basah menggunakan uap panas bertekanan tinggi (otoklaf)
b. Paling efisien suhu 1210C selama 20-30 menit
c. Kalibrasi tiap 6 bulan
d. Pemanas kering menggunakan oven, membakar, sinar infra merah dengan suhu
1800C selama 2 jam
e. Radiasi menggunakan sinar gamma (mahal, industri besar)
f. Filtrasi digunakan untuk larutan tdk tahan panas yaitu serum, plasma, vaksin
 Cara kimiawi
o glutaraldehid
a. glutaraldehid 2% dengan cara merendam 8-10 jam kemudian dibilas air steril
b. Formaldehid 8% merupakan 24 jam (karsinogenik) tetapi tidak dianjurkan lagi
c. Keduanya dapat menyebabkan iritasi kulit,mata, sal, napas.
o gas etilin oksida (barang elektronik & kabel, alkes optik, alat mikroskop)
a. gas racun
b. Alat bersih, kering
c. Ventilasi baik

 Efektivitas tindakan dalam pemrosesan alat bekas pakain (menghilangkan/menon-


aktifkan mikroorganisme)
- Dekontaminasi : membunuh virus, rendam10’
- Pencucian (air) : cuci hingga bersihg50%
- Pencucian (detergen & pembilasan)g85%
- DTT : rebus, kukus atau kimiawi 20’g95% (tidak membunuh endospora)
- Sterilisasi: uap: 20-30 menit,106kPa,121oC, panas kering 60 menit, pada suhu 170 oC
efektif g100 %.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Pengelolaan Limbah
a. Sebelum dibawa ke insinerator semua jenis limbah ditampung dalam kantong kedap air
biasanya berwarna kuning, pisahkan tempat pembuangan benda tajam pada botol bekas.
b. Ikat rapat secara kuat dengan isi paling banyak 3/4, ideal 2/3 penuh
c. Pengumpulan limbah dari ruang perawatan harus lengkap dengan kantongnya tidak boleh
dituang pada gerobak pengangkut
d. Petugas yang menangani harus menggunakan sarung tangan tebal dan kedap air serta
sepatu
e. Tempat penampungan sementara harus berupa wadah yang mudah dijangkau petugas,
pasien dan pengunjung
f. Harus tertutup dan kedap air serta tidak mudah bocor agar terhindar dari jangkauan tikus,
serangga atau binatang lain
g. ‘Hanya bersifat sementara dan tidak boleh lebih dari 1 hari
h. Wadah sementara limbah tajam harus dicuci dengan disinfektan setiap hari
i. Pemusnahan yang dianjurkan adalah insenerasi atau bila tidak ada lakukan penguburan.

 Penyimpanan alat kesehatan


- Penyimpanan yang baik sama pentingnya dengan proses disinfeksi dan stenilisasi
- Cara penyimpanan tergantung apakah alat terbungkus atau tidak terbungkus
- Umur steril tergantung pada atau tidaknya terkontaminasi dan kondisi pada pembungkus itu
sendiri
- Alat tidak terbungkus harus segera digunakan setelah dikeluarkan, alat yang tersimpan
pada wadah steril dan tertutup paling lama 1 minggu
- Jangan menyimpan alat dalani larutan karena mikroorganisme dapat berkembang biak
pada larutan antiseptik atau disinfektan

 Pengelolaan benda tajam


- Penularan HIV/HBV/HCV bisa melalui tertusuk jarum suntik dan perlukaan alat tajam lain
namun hal ini dapat dicegah dengan penggunaan alat sekali pakai
- 17% tertusuk sebelum/ selama pemakaian,
- 70% sesudah pemakaian& sebelum pembuangan
- 13% sesudah pembuangan
- Kebanyakan akibat penyarungan jarum setelah penggunaanya

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

- Setiap petugas bertanggung jawab atas jarum & alat tajam yg digunakan sendiri
- Sediakan wadah limbah tajam setiap ruangan tindakan/ perawatan yang terjangkau
- Setiap petugas memakai sarung tangan tebal
- Benda tajam dr orang ke orang digunakan teknik tanpa sentuh serta pakai nampan/ alat
perantara
- Kecelakaan sering terjadi pd tindakan penyuntikan yaitu recapping
- Gunakan cara penutupan satu tangan
- Sangat tidak dianjurkan recapping , langsung buang tanpa sentuh bagian tajam.

 Kewaspadaan Khusus
Merupakan tambahan pada kewaspadaan universal, yang terdiri dari tiga jenis kewaspadaan:
- Kewaspadaan terhadap penularan melalui udara (airborne)
- Kewaspadaan terhadap penularan melalui percikan (droplet)
- Kewaspadaan terhadap penularan melalui kontak

 Kunci Keberhasilan Kewaspadaan Universal


- Prosedur Kewaspadaan Universal dianggap sebagai pendukung program K3
- Cuci tangan tidak dapat digantikan oleh pemakaian sarung tangan
- Air mengalir adalah sarana penting dalam proses cuci tangan
- Penggunaan lap bersih untuk satu kali pakai
- Penggunaan alat pelindung sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan
- Alat yang sudah steril harus tersimpan ditempat kering
- Perendaman berlebihan hanya akan merusak alat kesehatan
- Selalu lakukan sterilisasi jangan berhenti sampai DTT
- Air yang dididihkan bukan merupakan air steril
- Cuci tangan harus dilakukan sebelum dan sesudah menggunakan sarung tangan

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

EVALUASI
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sterilisasi, aseptik, antiseptik, disinfeksi, dekontaminasi?
2. Sebutkan prosedur aseptik?
3. Sebutkan bahan-bahan antiseptik?
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kewaspadaan universal beserta prinsipnya?
5. Bagaimana cara disinfeksi pada tangan?
6. Sebutkan indikasi cuci tangan dan prosedur cuci tangan rutin?
7. Sebutkan alat pelindung diri yang digunakan dalam kegiatan sirkumsisi?
8. Jelaskan alur pengelolaan alat kesehatan?
9. Jelaskan prosedur pengelolaan alat kesehatan ( limbah, alat tajam dan sampah medis) ?

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah selesai mempelajari modul ini, anggota muda diharapkan memperoleh pembelajaran tentang
anastesi lokal.
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah selesai mempelajari modul ini, peserta diharapkan :
1. Mengetahui pengertian anastetik lokal
2. Mengetahui dan membedakan jenis – jenis anastetik lokal
3. Mengetahui syarat2 pemilhan anestesi lokal yang baik
4. Menguraikan mekanisme kerja anastetik lokal
5. Mengetahui dan memahami farmakokinetik anastetik lokal
6. Mengetahui dan memahami efek samping dari penggunaan anastetik lokal
7. Mengetahui dan membedakan reaksi alergi dan intoksikasi
8. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan dari reaksi alergi dan intoksikasi
9. Mengetahui dan memahami teknik – teknik anastesi lokal

Anestetik Lokal adalah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade natrium channel pada
dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf, jika digunakan pada
saraf sentral atau perifer. Secara kimiawi merupakan zat kimia yang struktur kimianya terdiri atas 3
komponen :

1. Gugusan Aromatik; sifatnya lipofilik biasanya terdiri dari cincin aromatik ( benzene ring)
tak jenuh, misalnya PABA (para-amino-benzoic acid). Bagian ini sangat esensial untuk aktifitas
anestesi
2. Gugusan Amino; biasanya golongan amino tersier (dietil-amin), yang bersifat hidrofilik.
3. Rantai Intermediate
– Amide
– Ester

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Secara umum, anastetik yang di pakai secara lokal dibedakan atas 2 golongan berdasarkan rantai
intermediatenya:

1. Ester :
a. Sifatnya relatif tidak stabil.
b. Dimetabolisme dalam plasma oleh enzym pseudocholinesterase.
c. Masa kerja pendek.
d. Relatif tidak toksik.
e. Dapat bersifat alergen, karena strukturnya mirip PABA (para amino benzoic acid).
Contoh golongan ester yang biasa dipakai sebagai anastesi lokal:
o Kokain
o Benzokain (amerikain)
o Ametocain
o Procaine (Novocain)
o Chlorprocaine (Nesacaine).
o Tetracaine (Pontocaine)
2. Amide :
a. Sifatnya lebih stabil.
b. Dimetabolisme dalam hati
c. Masa kerja lebih panjang.
d. Tidak bersifat alergen.
Gbr. 1. Struktur Kimia Anastetik
Lokal
Contoh golongan amide yang sering digunakan :
o Lidocaine (Xylocaine,lignocaine).
o Mepivacaine (Carbocaine)
o Prilokain (citanest).
o Bupivacaine (Marcaine)
o Etidocain (duranest)
o Dibukain (nupercaine)
o Levobupivacaine.
o Ropivacaine (Naropin).

Obat baru pada dasarnya adalah obat lama dengan mengganti, mnegurangi atau menambah bagian
kepala, badan dan ekor.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Perlu dipertimbangkan bahwa dalam pemilihan anastetik lokal haruslah berdasarkan potensinya
(potency), mula kerja (onset time), lama kerja (duration of effect), toksisitasnya (toxicity), saraf yang
akan diblok (spesific nerve). Syarat-syarat anestetik lokal yang baik antara lain:

1. Tidak merangsang jaringan


2. Toksisitas sistemiknya kecil
3. Tidak merusak saraf secara permanen
4. Mula kerjanya cepat
5. Lama kerjanya lambat
6. Larut dan stabil dalam air serta stabil pada pemanasan (sterilisasi)

MEKANISME KERJA
Obat bekerja pada reseptor spesifik pada natrium channel, mencegah peningkatan permebilitas sel
saraf terhadap ion natrium dan kalium, sehingga terjadi depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tak
terjadi konduksi saraf. Mekanisme kerja anastesi lokal dapat disimak dari bagan dibawah ini:

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Farmakokinetik suatu anestetik lokal ditentukan oleh 3 hal :


1. Lipid/Water solubility ratio, yaitu kemampuan suatu anastetik lokal larut dalam
membran sel dari serabut saraf menentukan ONSET.
2. Protein Binding, yaitu kemampuan anastetik lokal untuk berikatan dengan reseptor/
protein menentukan DURATION OF ACTION.
3. pKa, menentukan keseimbangan antara bentuk kation dan basa. Makin rendah pKa
makin banyak basa, makin cepat onsetnya.

EFEK SAMPING ANASTETIK LOKAL


Dalam penggunaannya tidak jarang kita menemukan efek samping setelah injeksi anastetik lokal.
Keadaan ini berupa:

1. Intoksikasi (overdosis)
Berefek pada Cerebral dan Miokard. Efeknya dimulai dengan eksitasi dan diikuti depresi Central
Nervus System (CNS) dan Central Vascular System (CVS).
Gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dan bergantung pada:

 Dosis obat yg digunakan (dose)


 Tempat injeksi (site of injection)
 Obat yg digunakan (drug used)
 Kecepatan injeksi (speed of injection)
 Penambahan epinefrin (addition of epinephrine)
Gejala dari CNS yang dapat timbul berupa: Gejala CVS yang dapat timbul berupa:

 Numbness mouth &  Tachycardia.


tongue.
 Hypertension.
 Tinnitus.
 Visual disturbance.  Bradycardia.
 Apprehension.
 Tachypneu.  Hypotension.
 Twitching.
 Convulsions.  Cardiac arrest.
 Coma.
 Apneu.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Pada fase lanjut dapat intoksikasi dapat menyebabkan Cardiac and Respiratory Arrest dan berujung
pada kematian.
Jika telah timbul gejala klinis maka perlu dilakukan penatalaksanaan sebagai berikut:
1. Beri oksigen via mask.
2. Segera pasang infus (IV-line).
3. Jika terjadi konvulsi :
• Beri diazepam (5-10 mg IV).
• Jika belum berhasil, beri Pentotal 50-100 mg IV (increment 50 mg)
• Suksinilkolin pilihan akhir  intubasi.
4. Jika terjadi hipotensi / bradikardi.
• Beri ephedrin 5-10 mg IV.
• Dapat diikuti Atropin 0,5 mg IV.
5. Jika terjadi cardiac arrest.
• Beri adrenalin 0.5 – 1 mg IV.
• Lakukan resusitasi kardiopulmonal (RKP) & ventilation.
• Jika belum ada infus, lakukan intracardiac adrenalin (0,5 – 1 mg) ICS 2 – 3.
Tindakan ini dapat menyebabkan ventricle tachycardia atau ventricle fibrilation yang harus
segera ditangani dengan DC Cardioversion untuk mengembalikan irama jantung kembali
normal.

Pencegahan Intoksikasi Anastetik Lokal


Dalam penggunaan anastetik lokal secara bijak, perlu diperhatikan langkah – langkah pencegahan
dari terjadinya intoksikasi yang mengancam jiwa pasien sebagai berikut:
1. Gunakan dosis yang direkomendasikan sesuai dengan berat badan dan usia pasien.
2. Aspirasi berulang sebelum injeksi untuk memastikan anastesi yang diberikan tepat sasaran.
3. Tetap kontak verbal dgn pasien agar pasien merasa rileks dan kooperatif.
4. Kombinasi dengan adrenalin. Memiliki beberapa keuntungan :
• Kalau IV, segera HR > 30-45 (test dose).
• Absorpsi lambat.
• Masa kerja memanjang.
• Perdarahan kurang (infiltrasi).
5. Premedikasi dengan Diazepam atau Lorazepam secukupnya bertujuan untuk menenangkan
pasien dan mengurangi konvulsi (meningkatkan ambang konvulsi).

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

2. Alergis (allergen – antibody)

Reaksi alergi sangat jarang pada terjadi pada penggunaan anastetik lokal golongan Amide. Namun
sebaliknya pada golongan Ester insidensnya lebih sering. Gejala klinis yang dapat diamati pada
reaksi alergi setelah injeksi anastetik lokal berupa takikardia, hipertensi, keringat, pucat, ketakutan,
serta takipneu.
Penganangan pada reaksi alergi secara umum dilakukan posisi trendelenburg yaitu posisi kaki
dielevasi sehingga lebih tinggi axisnya dari jantung. Tindakan ini diharapkan mengoptimalkan
venous return ke jantung sebab dibutuhkan volume darah yang lebih untuk menyelamatkan organ
vital yang terganggu pada reaksi alergi. Langkah selanjutnya pemberian O2 kanul atau mask
membantu mengembalikan perfusi O2 ke perifer. (penanganan alergi/syok di bahas di modul suok
anafilaktik).
Langkah pencegahan dapat diterapkan pada pasien yang dicurugai potensial terjadi reaksi alergi
berupa Skin test. Skin test berfungsi untuk mendeteksi lebih dini reaksi alergi yang mungkin terjadi
setelah injeksi anastetik lokal. Namun pada keadaan tertentu skin test tidak dapat menjamin bahwa
penggunaan dosis sesuai berat badan dan usia tenyata masih dapat menyebabkan reaksi
anafilaksis. Pada pasien tertentu yang hipersensitif, hanya dengan skin test saja sudah dapat
menyebabkan reaksi anafilaksis. Jadi tetap diperlukan kewaspadaan dan bekal pengetahuan dan
keterampilan penanganan syok anafilaksis.

Beberapa anastetik lokal yang sering digunakan


1. Kokain; hanya dijumpai dalam bentuk topikal semprot 4% untuk mukosa jalan napas atas.
Lama kerja 2-30 menit.
2. Prokain (novokain); untuk infiltrasi: larutan 0,25-0,5%, blok saraf:1-2%. Dosis 15 mg/kgBB dan
lama kerja 30-60 menit.
3. Kloroprokain (nesakain); derivat prokain dengan masa kerja lebih pendek.
4. Lidocain (lignocaine, xylocaine, lidonest); konsentrasi efektif minimal 0,25%, infiltrasi, mula
kerja 10 menit, relaksasi otot cukup baik. Kerja sekitar 1-1,5 jam tergantung konsentrasi larutan.
Larutan standar 1 atau 1,5% untuk blok perifer. Paling sering digunakan pada sirkumsisi.
5. Bupivacain (marcain); konstrasi efektif minimal 0,125%. Mula kerja lebih lambat dibanding
lidokain, tetapi lama kerja sampai 8 jam.
6. EMLA (euthetic mixture of local anesthetic ); campuran emulsi minyak dalam air (krem) antara
lidokain dan prilokain masing-masing 2,5% atau masing-masing 5%. EMLA dioleskan pada kulit
intak 1-2 jam sebelum tindakan untuk mengurangi nyeri akibat kanulasi pada vena atau arteri
atau miringotomi pada anak, mencabut bulu halus atau buang tato. Tidak dianjurkan untuk
mukosa atau kulit terluka.
7. Ropivacain (naropin) dan levobupivacain; konsentrasi efektif minimal 0,25%.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Dosis LIDOCAIN HCL berdasarkan berat badan pasien

BB (kg) 3 – 5 cc Ampul
40

10 0,75 – 1,25 ¾ – 1¼
15 1,125 – 1,875 1 – 1¾
20 1,5 – 2,5 1½ – 2½
25 1,875 – 3,125 1¾ – 3
30 2,25 – 3,75 2¼ – 3¾
35 2,625 – 4,375 2½ – 4¼
40 3–5 3–5
45 3,375 – 5,625 3¼ – 5½
50 3,75 – 6,25 3¾ - 6¼

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

TEKNIK ANASTETIK
Teknik anastesi pada sirkumsisi dapat dilakukan dengan beberapa cara:
1. Field block infiltrasi anestetik lokal pada pangkal penis dan 2-4 cm dari pangkal penis
2. Blok N. Dorsalis penis
 Desinfeksi daerah suntikan
 Tarik ke arah bawah penis
 Tandai 2 tempat punksi yaitu 0,5 - 1 cm dari midline (jam 10:30 dan 13:30)
 Masukkan jarum sampai menembus Fascia Buck
 Lakukan aspirasi
 Masukan 0,5 cc anestetik local.

Gbr. 2 Teknik Blok N. Dorsalis penis


3. Anastesi Infiltrasi pada daerah ventral dekat frenulum preputii 0,5-1 cc (usahakan pada daerah
subkutis agar tidak terjadi hematom)

EVALUASI

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan anastesi lokal!


2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis anastesi lokal!
3. Sebutkan syarat yang baik dalam penggunaan anestesi lokal?
4. Jelaskan tentang mekanisme dan farmakokinetik dari anastesi lokal!
5. Jelaskan tentang komplikasi dari penggunaan anastetik lokal
6. Jelaskan perbedaan reaksi alergi dan intoksikasi
7. Bagaimana penanganan reaksi alergi?
8. Jelaskan tentang penatalaksanaan intoksikasi!
9. Sebutkan dan jelaskan teknik –teknik anastesi lokal!
10. Apa perbedaan dari anastesia dan analgesia?
11. Jelaskan tentang dosis pemberian Lidocain HCl!

Tujuan Instruksional Umum :

Setelah mempelajari modul ini anggota muda diharapkan mampu mengetahui dan
melakukan prosedur tetap dari tindakan sirkumsisi.

Tujuan Instruksional Khusus :

Setelah mempelajari modul ini anggota muda diharapkan mampu :

1. Melakukan berbagai teknik sirkumsisi dengan benar


2. 1
Mengetahui keuntungan serta kerugian dari masing-masing teknik sirkum
3. Melakukan berbagai macam teknik jahitan dalam pelaksanaan sirkumsisi
4. Melakukan tindakan sirkumsisi dengan tepat
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Teknik yang digunakan dalam s irkumsisi antara lain:

1. Dorsal Slit Circumcision (Dorsumsisi)


Teknik Dorsumsisi adalah teknik sirkumsisi dengan cara memotong preputium pada bagian dorsal
pada jam 12 sejajar sumbu panjang penis ke arah proksimal, kemudian dilakukan pemotongan
sirkuler kekiri dan kekanan sejajar sulcus coronarius glandis.

Gbr 1. Teknik Dorsumsisi

 Cara melakukannya:
-Preputium diregangkan dengan memasang 2 buah klem di preputium (posisi jam 11 dan 1)
dan 1 klem arah jam 6 (frenulum preputii)
-Mula-mula dorsumsisi pada arah jam 12 (antara arah jam 1 dan jam 11) sampai + 0,5 cm dari
bagian distal sulkus coronarius.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

-Kontrol perdarahan
-Kulit & mukosa diujung dorsumsisi dijahit (jahit kontrol).
-Kulit & mukosa dipotong melingkar ke ventral sampai frenulum penis dan mukosa tersisa + 1
cm di sulkus coronarius
-Kontrol perdarahan. Kulit dan mukosa dijahit satu-satu atau jelujur dengan cat gut 3/0
-Lakukan penjahitan frenulum – kulit dengan jahitan berbentuk angka 8.
-Perhatikan simetri penis  jangan terputar
-Sofratule  verband
 Keuntungan :
- Kelebihan kulit mukosa bisa diatur
- Resiko menyayat/memotong glands penis lebih kecil
- Mudah mengatur panjang pendek pemotongan mukopsa

- Tidak melukai glands dan frenulum (kemungkinannya lebih kecil)

- Pendarahan bisa cepat diatasi karena insisi dilakukan bertahap

- Baik untuk penderita fimosis/parafimosis.

- Baik untuk pemula.(tehnik yang paling aman)


 Kerugian :
- Pendarahan relative lebih banyak.
- Teknik sulit dan lebih rumit
- Insisi sering tidak rata, tidak simetris.
- Waktu lebih lama.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

2. Sleeve Type Circumcision

 Cara melakukannya:
- Penis diletakkan pada posisi normal
- Insisi kulit mengikuti corona glandis penis melingkar sampai frenulum

Gbr 2 Teknik Sleeve type circumcision


- Preputium ditarik kearah pangkal penis sampai mukosa sulkus coronarius terlihat
- Insisi mukosa di corona glandis +1-2 cm keliling
- Preputium dieksisi dari jaringan sub cutan
- Kontrol perdarahan, kulit dan mukosa dijahit satu-satu atau jelujur dengan cat gut 3/0

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

3. Guillotine Type Circumcision


Teknik Guillotine adalah teknik sirkumsisi dengan cara menjepit preputium secara melintang
pada sumbu panjang penis, kemudian memotongnya. Insisi dapat dilakukan di bagian proksimal
atau distal dari klem tersebut.

 Cara melakukannya:

Gbr. 3 (a) Teknik Guillotine Type Circumcision


- Preputium bagian ventral dan dorsal di titik tengah diklemp dan ditarik
- Preputium dijepit dengan klemp lurus dari dorsal ke ventral di ujung glans penis dengan
miring ke proksimal dibagian dorsal

Gbr. 3 (b) Teknik Guillotine Type Circumcision


- Preputium dibawah klemp dipotong dengan scalpel (pisau). Glands bisa dilindungi dengan
jari kita menekan glans
- Kontrol perdarahan. Mukosa dibuang sampai + 1 cm di corona glandis
- Kulit dan mukosa dijahit satu-satu atau jelujur dgn cat gut 3/0

 Keuntungan :
- Tekniknya relatif lebih sederhana
- Hasil insisi lebih rata
- Waktu pelaksanaan lebih cepat

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Kerugian :
- Pada operator yang tidak terbiasa, mukosa dapat berlebihan, sehingga memerlukan insisi
ulang
- Ukuran mkosa-kulit tidak dapat dipastikan
- Kemungkinan melukai glans penis dan insisi frenulum yang berlebihan lebih besat di
bandingkan teknik dorsumsisi
- Perdarahan biasanya lebih banyak

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

4. Sirkumsisi dengan Metode Klamp


a. Smart Klamp

 Cara melakukan :
- Mengukur besarnya penis dengan menggunakan Size-O-meter
- Prosedur steril dan drapping.
- Anastesi lokal dengan blok anastesi.
- Bebaskan dan bersihkan gland penis.
- Gambar daerah yang akan dipotong.
- Masukkan ujung tabung dalam preputium. (a)

- Pasang Smart Klamp pada daerah yang sudah digambar.


- Tekan jepit klamp sampai rapat.
- Potong preputium.
- Berikan salep antibiotik pada luka.

(b)

Gbr 4 (a) dan (b) Teknik Smart Klamp

 Keunggulan Smart Klamp


 Praktis
 Alat ini hanya terdiri dari 2 komponen terbuat dari bahan yang ringan dan kuat
sehingga persiapan sunatan sangat mudah.- Pemasangan alat sangat mudah,
tanpa perdarahan, tanpa jahitan dan tanpa perban.
 Perawatan setelah sunatan sangat mudah karena tidak memerlukan perawatan
khusus seperti metode lain. Dengan alat ini pasien dapat langsung beraktifitas
normal seperti bersekolah, bermain, bekerja bahkan berenang. Pada saat liburan
anak boleh berpergian keluar kota tanpa khawatir akan berdarah atau komplikasi
lain.
 Pelepasan alat ini sangat mudah bahkan bisa dilakukan sendiri oleh orang tua atau
pasien yang telah dewas
 Aman
 Prosedur pemasangan alat ini memberikan keamanan yang lebih baik sehingga
terhindar dari cedera atau trauma saat pemasangan.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Alat ini dibuat untuk sekali pemakaian (disposable) sehingga terhindar dari resiko
infeksi dan tertular penyakit seperti HIV/AIDS, hepatitis dsb. Metode ini tidak
memerlukan antibiotik selama perawatan.
 Alat ini sangat cocok digunakan untuk anak dengan kelainan seperti Hemofilia, Autis,
Hiperaktif, Retardasi Mental, bayi dengan Fimosis, Infeksi/ radang, dsb.
 Pada anak yang masih mengompol alat ini adalah pilihan terbaik bagi orang tua
karena dengan alat ini luka khitanan terhindar dari siraman air kencing.
 Cepat
 Waktu pemasangan sangat cepat (hanya sekitar 5 – 7 menit)
 Alat akan terpasang selama 5 hari untuk anak-anak dan 7 hari untuk dewasa.
 Selama penggunaan alat akan terasa singkat karena tanpa perawatan khusus.
 Waktu penyembuhan rata-rata lebih cepat dibandingkan metode lain yaitu 20 hari
sejak hari dikhitan.
 Nyaman
 Alat ini sangat ringan dan ergonomis sehingga serasa tidak habis disunat
 Tidak menimbulkan rasa nyeri
 Pilihan waktu sunatan tidak harus liburan atau cuti bekerja karena pasien dapat
langsung beraktifitas sehari setelah dikhitan. Khitanan pun dapat dilakukan pagi,
siang ataupun malam dengan hasil yang sama.
 Alat ini terdiri dari berbagai ukuran sehingga dapat digunakan untuk berbagai usia
mulai bayi, anak-anak sampai dewasa.
 Kosmetis
 Hasil khitanan akan lebih estetis, rapi dan simetris sehingga pasien akan merasa
lebih puas.

b. Metode Cincin (Tara Klamp)


Dr. T. Gurcharan Singh adalah penemu Tara klamp pada tahun 1990 berupa alat yang
terbuat dari plastik dan untuk sekali pakai. Di Indonesia Metode Cincin dicetuskan oleh oleh
dr. Sofin, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dan sudah
dipatenkan sejak tahun 2001.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 5 (a) Metode Cincin

Gbr 5 (b) Tara Klamp

Pada metode ini, ujung kulup dilebarkan, lalu ditahan agar tetap meregang dengan cara
memasang semacam cincin dari karet. Biasanya, ujung kulup akan menghitam dan terlepas dengan
sendirinya. Prosesnya cukup singkat sekitar 3-5 menit. Kelebihan metoda ini adalah: Mudah dan
aman dalam penggunaan, tidak memerlukan penjahitan dan perban,tidak mengganggu aktivitas
sehari-hari pasien,perdarahan minimal bahkan bisa tidak berdarah, tidak sakit setelah khitan, tanpa
perawatan pasca khitan dan langsung pakai celana dalam dan celana panjang.

5. Sirkumsisi dengan Metode Lonceng


Pada metode ini tidak dilakukan pemotongan kulup. Ujung penis hanya diikat erat sehingga
bentuknya mirip lonceng, akibatnya peredaran darahnya tersumbat yang mengakibatkan ujung
kulit ini tidak mendapatkan suplai darah, lalu menjadi nekrotik, mati dan nantinya terlepas
sendiri. Metode ini memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar dua minggu. Alatnya diproduksi di
beberapa negara Eropa, Amerika, dan Asia dengan nama Circumcision Cord Device.

Gbr 6 Metode Loncen


6. Sirkumsisi dengan Metode “Laser” Eloektrokautery
Metode ini sedang booming dan marak di masyarakat dan lebih dikenal dengan sebutan
“Khitan Laser”. Penamaan ini sesunnguhnya kurang tepat karena alat yang digunakan samasekali
tidak menggunakan Laser akan tetapi menggunakan “elemen” yang dipanaskan.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr 7 (a) Metode Elektrokautery

Alatnya berbentuk seperti pistol dengan dua buah lempeng kawat di ujungnya yang saling
berhubungan. Jika dialiri listrik, ujung logam akan panas dan memerah. Elemen yang memerah
tersebut digunakan untuk memotong kulup.

Gbr 7 (b) Solder

Khitan dengan solder panas ini kelebihannya adalah cepat, mudah menghentikan
perdarahan yang ringan serta cocok untuk anak dibawah usia 3 tahun dimana pembuluh darahnya
kecil. Kekurangannya adalah menimbulkan bau yang menyengat seperti “sate” serta dapat
menyebabkan luka bakar, metode ini membutuhkan energi listrik (PLN) sebagai sumber daya
dimana jika ada kebocoran (kerusakan) alat, dapat terjadi sengatan listrik yang berisiko bagi
pasien maupun operator.
Untuk proses penyembuhan, dibandingkan dengan cara konvensional itu sifatnya relatif
karena tergantung dari sterilisasi alat yang dipakai, proses pengerjaanya dan kebersihan individu
yang disunat.
7. Sirkumsisi dengan Metode Flashcutter
Metode ini merupakan pengembangan dari metode elektrokautery. Bedanya terletak pada
pisaunya yang terbuat dari logam yang lurus (kencang) dan tajam. Flashcutter langsung dapat

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

hidup (tanpa PLN) karena didalamnya sudah terdapat energi dari rechargeable battery buatan
Matshusita Jepang.

Gbr 8 Flashcutter

Flashcutter pertamakali diluncurkan di Indonesaia tahun 2006 oleh Uniceff Corporation.


Cara pemotongan pada khitan sama seperti mempergunakan pisau bedah (digesek, diiris). Dalam
hitungan detik preputium terpotong dengan sempurna, (tanpa pendarahan, dan dengan luka bakar
sangat minimal).

8. Sirkumsisi dengan Metode Laser CO2


Istilah yang lebih tepat untuk “Khitan Laser” yang sesungguhnya adalah dengan metode
ini. Fasilitas Laser CO2 sudah tersedia di Indonesia. Salah satunya, di Jakarta. Laser yang
digunakan adalah laser CO2 Suretouch dari Sharplan. Berikut tahapan sunat dengan laser
tersebut:

Gbr. 9 Laser CO2


Setelah disuntik kebal (anaestesi lokal), preputium ditarik, dan dijepit dengan klem. Laser
CO2 digunakan untuk memotong kulit yang berlebih.Setelah klem dilepas,kulit telah terpotong dan
tersambung dengan baik, tanpa setetes darahpun keluar. Walaupun demikian kulit harus tetap
dijahit supaya penyembuhan sempurna. Dalam waktu 10-15 menit, sunat selesai.
Cara sirkumsisi seperti ini cocok untuk anak pra-pubertal, kelebihannya operasi cepat,
perdarahan tidak ada/ sangat sedikit, penyembuhan cepat, rasa sakit setelah terapi minimal, aman

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

dan hasil secara estetik lebih baik.. dan prosedur ini cocok untuk sunat yang dilakukan pada umur
agak dewasa karena rasa sakit, yang ditimbulkan oleh sunat cara operasi untuk orang sudah cukup
berumur lebih parah daripada jika dilakukan pada usia muda dan lukanya pun agak lama
sembuhnya. Kelemahan dari cara laser adalah masalah harga yang relatif mahal dan hanya ada di
Rumah Sakit besar.

TEKNIK JAHITAN

1. Jahitan Frenulum
Khusus untuk penjahitan di daerah frenulum (jam 6) ada beberapa teknik yang berkaitan
dengan adanya arteri sehingga pada saat hekting dapat sekaligus meligasi arteri tersebut bila
sebelumnya belum diligasi.

Teknik yang digunakan adalah :


1. Teknik Dua Lingkaran
Keuntungan teknik ini adalah ligasi-hekting arteri dilakukan lebih dahulu (tidak
bersamaan dengan hekting kulit) sehingga setelah perdarahan diyakini teratasi benang yang
digunakan dapat langsung menjahit mukosa dan kulit tanpa dipotong. Ligasi-hekting di
frenulum ini sebaiknya dilakukan terakhir kali setelah semua perdarahan di daerah lain diligasi
(tetapi pengkleman tetap paling awal).
Tekniknya adalah :
1. Klem arteri frenulum. Dengan klem mosquito, yakinkan bahwa arteri benar-benar terjepit.
2. Lakukan ligasi-hekting di bagian bawah tengah klem.
3. Simpulkan dengan erat ke bagian depan (distal) minimal 2 kali.
4. Lingkarkan benang tadi kea rah belakang (proksimal) dan simpulkan dengan erat sambil
klem dibuka perlahan-lahan supaya ikatan tak menjadi longgar.
5. Cek kembali apakah perdarahan teratasi atau tidak (benang tadi jangan dulu digunting)
6. Jahitkan benang tersebut ke kulit di jam 6 seperti jahitan interrupted biasa, kemudian
benang digunting.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Gbr. 10 Jahitan Frenulum

2. Jahitan Matras

Gbr. 11 Jahitan Matras

Ligasi-hekting arteri dilakukan sekaligus dengan kulit. Kelemahannya adalah jika


perdarahan arteri masih ada terpaksa jahitan dengan kulit harus dibuka dan dicari lagi sumber
perdarahannya.
Tekniknya adalah :
1. Tusukkan jarum dari bagian kulit sedikit sebelah kanan rafe penis, terus ke dalam dan
keluar di sisa mukosa yang sejajar.
2. Tusukkan kembali jarum ke mukosa di sisi yang bersebrangan terhadap frenulum sampai
keluar kembali kulit di sisi yang sejajar dengan tusukan kedua.
3. Simpulkan dengan erat minimal tiga kali.

3. Teknik jahit angka 8


Ada dua variasi dari teknik ini, perbedaannya adalah pada tusukan jarum pertama
dan arah simpul. Namun pada prinsip dan manfaatnya tidak ada perbedaan.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Tekniknya adalah :

1. Tusukkan jarum pada sisa mukosa sedikit sebelah kiri frenulum, lalu masuk menyilang dan
keluar dari kulit di sisi yang bersebrangan (sebelah kanan rafe penis).
2. Tusukkan kembali jarum ke sisa mukosa sebelah kanan terus masuk dan menyilang
sampai keluar di kulit sisi bersebrangan (sebelah kiri).
3. Simpulkan dengan erat minimal 3 kali.

Variasi lain :

1. Tusukkan jarum pada kulit sedikit sebelah kiri rafe penis, lalu masuk menyilang dan keluar
di sisa mukosa disisi yang bersebrangan (sebelah kanan frenulum)
2. Tusukkan kembali jarum ke sisa mukosa sebelah kiri terus masku menyilang keluar di kulit
sisi bersebrangan (sebelah kanan rafe penis)
3. Simpulkan dengan erat minimal 3 kali.

2. Jahit Mukosa dan Kulit


Tujuan penjahitan adalah untuk mendekatkan daerah luka (aproksimasi) agar
penyembuhan lebih cepat. Penjahitan dilakukan antara bagian ujung sisa mukosa dan tepi kulit,
setelah benar-benar yakin tidak ada lagi pendarahan aktif.

Penjahitan ini dimulai dari bagian luar sisa mukosa mengarah ke pangkal penis untuk
menembus tepi kulit dari dalam. Perlu diingat bahwa arah penjahitan selalu menjauhi glans
penis untuk menghindari trauma pada glans.

Sebelum dilakukan penjahitan, pastikan tidak ada lagi perdarahan aktif. Lakukan
pengecekan dengan balut tekan yang dilingkarkan, kemudian buka dan perhatikan apakah masih
ada perdarahan.

Gbr. 12 Jahitan Mukosa dan Kulit

Sebelum dilakukan penjahitan ada yang memakai/melakukan tali kendali di jam 3, 9, dan
jam 12 dengan maksud supaya jahitan lebih rapih dan simetris. Tali kendali dibuat dengan

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

menyatukan mukosa dan kulit oleh benang sepanjang sekitar 6cm tanpa disimpulkan. Ujung
benang tadi diklem agar terfiksasi. Sesudah hekting selesai, tali kendali ini dapat digunting atau
diikat sebagai bagian dari hekting.Jahitan simpul bisa dilakukan pada jam 3 dan 9 atau jam 2,4, 8
dan 10. Tidak diianjurkan Mengikatnya terlalu erat.
Tidak dianjurkan menggunakan jahitan jelujur (Continuous Suture). Cara ini lebih sulit
terutama pada anak yang tidak kooperatif. Kerugiannya adalah jika terdapat penyulit perdarahan di
daerah tertentu bila jahitan dibuka, jahitan lainnya akan longgar dan lepas. Kerugian lain adalah
dapat menimbulkan penekanan terhadap daerah di bawah jahitan bila terjadi edema sehingga
penis seakan-akan tercekik. Keuntungan penjahitan ini seluruh lingkaran insisi terjahit sehingga
lebih rapih.
Bila telah dijahit semua maka lihat apakah ada bagian yang renggang yang memerlukan
jahitan.

PENYULIT DINI DALAM SIRKUMSISI DAN PENANGANANNYA


Adalah penyulit yang terjadi saat operasi khitan atau sirkumsisi berlangsung, atau beberapa saat
setelahnya. Dibawah ini adalah beberapa penyulit dini sirkumsisi yang dapat terjadi:
1. Hematom
Pecahnya pembuluh darah akibat penusukan jarum suntik saat anestesi dapat menimbulkan
hematom dimana bocoran darah tersebut mengumpul dan membentuk benjolan yang besarnya
bergantung dari banyaknya darah yang keluar dari pembuluh darah. Pada pembuluh darah
kecil biasanya hematom tidak membesar karena platelat plug sudah cukup untuk
menghentikannya. Maka hendaknya kita evaluasi hematom untuk beberapa saat, apakah terus
membesar atau tidak. Jika terus membesar kita harus berusaha mencari pembuluh darah yang
pecah untuk segera menanganinya dengan benang ( diikat) atau metode flashcutter dan yang
lainnya. Sedangkan bekuan darah yang terkumpul tadi segera kita bersihkan atau kita buang.
Namun tindakan diatas dapat diabaikan jika hematom tidak membesar.
2. Odema
Biasanya odema saat khitan diakibatkan cairan anestesi yang tidak terserap, cairan ini
terkumpul didalam jaringan ikat mukosa dan sub mukosa. Ini dapat mempersulit saat penjahitan
luka. Jika odem dirasa sangat mengganggu sabaiknya dibuang atau dikurangi. Meskipun jika
kita abaikan pada ahirnya cairan tersebut secara fisiologis akan terserap (di-absorbsi) dengan
sendirinya, namun membutuhkan waktu absorbsi yang berfariasi sampai mencapai 24 jam.
3. Gland Penis Tertusuk atau Tersayat

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Penyulit yang satu ini tentunya sangat erat kaitannya


dengan ketelitian, kecerobohan atau
profesionalisme pelakunya. Kejadian ini
umumnya terjadi pada metode sirkumsisi
konfensional, sejauh ini belum ditemukan pada
sirkumsisi metode laser, Flashcutter atau
sejenisnya. Jika ini terjadi pendarahan pada
gland penis umumnya sangat deras terutama saat ereksi. Tindakan pertolongan pertama
adalah menekan pendarahan dengan kasa berulang-ulang. Dalam kondisi tertentu dapat
diberikan adrenalin pada kasa tersebut (dikompres), namun harus diperhatikan denyut nadi
penderita, jika terjadi takikardi segera hentikan kompres. Dapat pula diberikan injeksi transtamin
atau karbazokhrom misalnya Adona.
4. Gland Penis Terbakar Elektrocauter.
Jika anda mahir mempergunakan Flashcutter, dapat mempergunakan fasilitas penghenti
pendarahan dengan cara melepas dengan cepat tekanan kasa dan sentuhkan dengan cepat
(jangan ditekan) ujung bipolar Flashcutter pada pembuluh darah yang tampak terpotong atau
bocor. Pemakaian inipun harus berhati-hati dan butuh pengalaman agar tidak menimbulkan
luka bakar. Jika luka sangat parah dan anda ragu untuk dapat menanganinya dengan baik,
segera dilarikan ke rumah sakit atu dokter ahli bedah.

5. Syok anafilaktik dan syok neurogenik


L ANGKAH-LANGKAH SIRKUMSISI :

1. Anamnesis dan pemeriksaan fisis  pastikan telah dilakukan sebelum naik ke meja operasi !!
2. Persiapkan alat dan bahan
3. Pakai masker kemudian cuci tangan
4. Pakai sarung tangan (pastikan ukurannya sesuai dengan ukuran tanganta……)
5. Ambil posisi di samping kanan pasien (jalin komunikasi dengan pasien!!!)
6. Disinfeksi lapangan operasi dengan betadin dari tengah keluar (sentrivugal)
7. Bersihkan bekas betadin dengan kasa
8. Pasang Doek steril
9. Lakukan anestesi lokal
10. Bebaskan glans penis setelah itu lakukan desinfeksi glans
11. Pastikan efek anestesi telah bekerja

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

12. Pasang klem arah jam 6, 11, dan 1


13. Gunting preputium arah jam 12 dan lakukan jahit kontrol
14. Periksa dan kontrol perdarahan
15. Kulit & mukosa dipotong melingkar ke ventral sampai frenulum penis dan mukosa tersisa + 1 cm
16. Periksa dan kontrol perdarahan
17. Jahit luka mukosa–kulit arah jam 9 dan 3 atau bagian lain yang dianggap perlu
18. Periksa dan kontrol perdarahan
19. Jahit frenulum  gunakan jahit 8 setelah itu gunting bagian yang tidak perlu
20. Periksa dan kontrol perdarahan
21. Bersihkan dengan NaCl 0,9%
22. Berikan salap antibiotik/ sufratule
23. Tutup luka dengan kasa steril
24. Rekatkan dengan plester (jangan terlalu ketat agar tidak sakit bila ereksi)
25. Bersihkan sekitar area operasi dengan alkohol
26. Berikan suntikan Tetanus Toxoid secara intramuscular 0,5 cc (1/3 lateral SIAS-Coccygeus daerah
gluteus atau vastus lateral) dan obat Antibiotik, Analgetik, Vitamin (sesuaikan dosis dengan berat
badan)
27. Berikan penjelasan kepada keluarga pasien tentang tata cara menjaga kebersihan bekas operasi.
28. Cuci alat lalu buka handscoen dan cuci tangan 
( Ucapkan “Alhamdulillah”……

EVALUASI

1. Tuliskan macam-macam teknik sirkumsisi


2. Jelaskan manfaat dan kerugian melakukan sirkumsisi dengan teknik dorsumsisi
3. Tuliskan perbedaan teknik dorsumsisi dengan smart klemp.
4. Tuliskan macam-macam jahitan yang digunakan dalam sirkumsisi.
5. Jelaskan penyulit-penyulit yang terjadi saat sirkumsisi beserta penanganannya.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan instruksional umum (TIU):


Peserta pelatihan sirkumsisi TBM 110 FK-UMI diharapkan mengetahui dan
mampu mengaplikasikan penanganan luka.

Tujuan instruksional khusus (TIK)


Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan:
1. Mengetahui dan memahami jenis-jenis luka serta penanganannya.
2. Mengetahui dan memahami fase-fase penyembuhan luka.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

3. Mengetahui komplikasi yang dapat terjadi.

A. DEFENISI LUKA
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh atau terjadinya gangguan
kontinuitas suatu jaringan, sehingga terjadi pemisahan jaringan yang semula normal.

B. ETIOLOGI LUKA
a. Trauma mekanis
 Trauma tumpul
 Trauma tajam
b. Trauma elektrik
 Trauma listrik
 Trauma petir
c. Trauma termis
 Trauma Panas
 Trauma dingin
d. Trauma kimia
 Trauma asama
 Trauma basa
C. JENIS-JENIS LUKA
Menurut bentuknya luka dibagi atas :
a. Luka tertutup (closed wound)
Luka tertutup yaitu dimana tidak terjadi
hubungan antara luka dengan dunia luar.
Contoh dari luka tertutup yaitu luka memar Gamabar 01 : luka memar
(vulnus contusum) dimana terjadi rusaknya pembuluh darah subkutan sehingga terjadi
hematom.
b. Luka terbuka (open wound)
Luka terbuka yaitu luka yang berhubungan langsung dengan dunia luar. Contohnya vulnus
excoriatum, vulnus scissum, vulnus ictum, vulnus laceratum, vulnus sclopectorum, vulnus
morsum.
Menurut penyebabnya, luka di bagi atas :
a. Luka tajam
Memiliki sifat luka yang licin, tidak ada jembatan jaringan dan tidak mempunyai jaringan
yang mati diantaranya. Contohnya :
 Luka lecet (vulnus excoriatum)
Merupakan luka yang paling ringan dan
paling mudah sembuh. Luka ini terjadi
karena adanya gesekan tubuh dengan
benda-benda rata, misalnya aspal, semen
atau tanah.
Gambar 02: luka lecet
 Luka sayat (vulnus scissum)

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Luka dengan tepi luka yang tajam dan licin.


Bila luka sejajar dengan garis lipatan kulit,
maka luka tidak terlalu terbuka. Bula luka
memotong pembuluh darah, maka darah
akan sukar berhenti karena sukar terbentuk
cincin trombosis (trombose ring).
Gambar 03: luka sayat

 Luka tusuk (vulnus ictum)


Luka ini disebabkan oleh benda runcing
memanjang. Dari luar luka tampak kecil,
tetapi didalam mungkin rusak berat.
Derajat bahaya tergantung atas
benda yang menusuknya (besarnya/kotornya)
dan daerah yang tertusuk. Gambar 04 : luka tusuk

b. Luka tumpul
Sifat tepi luka tidak rata banyak jembatan jaringan dan diantaranya terdapat jaringan yang
mati (nekrosis), contohnya :
 Luka robek (vulnus laceratum)
Biasanya disebabkan oleh benda tumpul, tepi
luka tidak rata, dan perdarahan sedikit karena
mudah terbentuk cincin trombosis akibat
pembuluh darah yang hancur dan memar.
Gambar 05: luka robek

Gambar 05 : luka robek


 Luka tembak (vulnus sclopectorum)
Luka ini terjadi karena tembakan. Tepi luka
dapat tidak teratur dan dapat pula dijumpai
benda asing (corpus alienum) dalam luka,
misalnya anak peluru.

Gambar 06: luka tembak


Gambar 06 : luka tembak
 Luka gigitan (vulnus morsum)
Luka yang disebabkan oleh gigitan binatang
atau manusia. Kemungkinan infeksi lebih besar.
Bentuk luka tergantung bentuk gigi penggigit.

Gambar 07 : luka gigitan


D. KLASIFIKASI LUKA

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Luka-luka operasi dibagi atas 4 kategori berdasarkan atas penilaian klinik terhadap
kontaminasi bakteri dan resiko terjadinya infeksi :
a. Luka bersih
 Luka bersih sembuh secara primer dan tidak memerlukan drainase.
 Tidak memerlukan manipulasi di cavum orofaring atau respiratorik, saluran cerna, atau
traktus urogenital.
b. Luka bersih yang terkontaminasi
 Appendektomi dan operasi vaginal termasuk dalam kategori ini.
 Luka bersih yang terkontaminasi akibat menyebarnya isi lumen ke dalam oergan
dalam.
 Luka ini umumnya melibatkan flora normal dalam tubuh.
 Manipulasi pada beberapa bagian dan cavum orofaring.
 Jika traktus respiratorius dan digestivus dimanipulasi, tidak akan ada penyebaranyang
berarti.
 Bila traktus urogenitalia dan bilier yang dimanipulasi tidak akan ditemukan kontaminasi
urin dan cairan empedu yang terinfeksi.
c. Luka terkontaminasi
 Luka trauma yang baru, seperti laserasi jaringan lunak, fraktur terbuka, dan luka
penetrasi.
 Operasi pada traktus gastrointestinal dapat menyebabkan penyebaran infeksi yang
luas.
 Operasi traktus urogenitalis dan bilier dapat menyebabkan kontaminasi urin dan
empedu.
 Operasi yang dilaksanakan tidak aseptik (seperti pada gawat darurat masase jantung
terbuka)
 Mikroorganisme berkembang biak secara cepat dalam waktu 6 jam pada luka yang
terkontaminasi.
d. Luka kotor dan infeksi
 Luka terkontaminasi dengan hebat.
 Secara klinik telah terinfeksi terlebih dahulu sebelum operasi.
 Luka yang termasuk disini adalah: perforasi viscera, abses, atau luka trauma yang lam
 disertai dengan jaringan yang rusak dan adanya benda asing yang tertahan.

E. PERBAIKAN LUKA
Beberapa faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka adalah :
a. Umur pasien
Kulit dan otot yang kehilangan tonus dan elastisitasnya dapat menyebabkan metabolisme
lambat dan sirkulasi terganggu.
b. Berat badan pasien
Kelebihan lemak pada daerah luka dapat menghambat penyembuhan luka. Hal ini
disebabkan karena lemak kurang mendapat suplai darah, sehingga jaringan mudah
mengalami trauma dan infeksi.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

c. Status nutrisi
 Protein  memperbaiki proliferasi, neoangiogenesis, sintesis kolagen & remodeling
 Karbohidrat  supali energi seluler
 Vit. A  sintesis kolagen & epitelisasi
 Vit. C  sintesis kolagen & meningkatkan resistensi terhadap infeksi
 Vit. K  sintesis protombin & faktor pembekuan darah
 Zat besi  sintesis kolagen, sintesis Hb, mencegah iskemik
 Vit. B-comp  Produksi energi, imunitas seluler, sintesis sel darah merah
 Zinc  Sintesis protein
d. Dehidrasi
Dehidrasi dapat menyebakan gangguan keseimbangan elektrolit yang dapat
mempengaruhi fungsi jantung, ginjal oksigenasi metabolisme seluler oleh darah dan fungsi
hormon.
e. Suplai darah tidak adekuat ke daerah luka
Luka akan sembuh dengan cepat pada daerah wajah, dan leher bila dibandingkan dengan
daerah ekstremitas.
f. Keadaan respon imun pasien
Pasien yang terinfeksi HIV, kemoterapi, pemakaian lama steroid dosis tinggi dapat
melemahkan respon imun.
g. Adanya penyakit kronik dan keganasan
Pasien dengan penyakit menahun, gangguan endokrin seperti diabetes, dapat
menghambat penembuhan luka.
h. Obat-obatan
Contoh Immunosupressif kortikosteroid, antikanker hormon, radiasi.

F. FASE PENYEMBUHAN LUKA


a. Fase 1 – respon inflamasi (1-5 hari)
 Terjadi eksudasi cairan plasma yang mengandung protein, sel-sel darah merah, fibrin
dan antibodi pada luka.
 Ekskoriasi terbentuk dipermukaan luka untuk menutupi cairan eksudat tadi dengan
tujuan mencegah invasi mikrobakteri.
 Inflamasi mengakibatkan migrasi lekosit ke daerah luka menyebabkan edema, nyeri
demam, dan kemerahan di sekitar luka.
 Lekosit memfagosit jaringan rusak, mikroorganisme, benda asing.
 Monosit dan sum-sum tulang bermigrasi ke arah luka dan berubah menjadi makrofag,
memfagosit sisa jaringan dan menghasilkan enzim proteolitik.
 Sel-sel basal dan pinggir luka pada kulit bermigrasi ke bekas insis untuk menutup
permukaan luka.
 Fibroblast yang berada di jaringan ikat yang lebih dalam mulai memperbaiki jaringan
nonepitel.
 Selama fase inflamasi akut, jaringan tidak memperoleh kekuatan daya regang, tetapi
tergantung pada bahan penutup yang mengikatnya.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

“Celsus, seorang penulis Romawi yang hidup di abad kesatu sebelum masehi,
memperkenalkan untuk pertama kalinya empat tanda cardinal proses inflamasi yang di kenal
sebagai rubor (kemerahan), tumor ( pembengkakan), calor (panas), dan dolor (nyeri). Tanda
klinis kelima dari inflamasi yang berupa penurunan fungsi atau function laesa, baru
diperkenalkan kemudian oleh Virchow.’’

b. Fase II - migrasi I proliferasi (5-14 hari)


 Beberapa buku menyatakan hingga minggu ke tiga
 Fibroblast beremigrasi kearah luka dan membentuk kollagen dan fibrin, fibronektin
(pengaruh enzim dan darah sel sekitar luka) sehingga fase ini disebut juga fase
fibroplasia.
 Fibroblast mengandung myofibroblast yang dapat berkontraksi dan menyebabkan
tarikan pada tepi luka.
 Hari ke 5, timbunan kolagen dengan cepat meningkatkan kekuatan daya regang luka.
 Protein plasma membantu aktivitas seluler untuk jaringan fibrous selama stadium
penyembuhan ini.
 Kolagen ditempatkan juga pada jaringan ikat yang rusak lainnya.
 Rekanalisasi limfatik, neovaskulanisasi, terbentuknya jaringan granulasi, dan
bertambahnya jumlah kapiler bertujuan untuk memelihara fibroblast. Beberapa dan
keadaan ini tampak pada stadium akhir penyembuhan.
 Pada fase ini serat dibentuk dan dihancurkan kembali untuk penyesuaian diri dengan
tegangan pada luka cenderung mengerut. Pada akhir fase ini kekuatan reagangan luka
mencapai hingga 25% kekuatan jaringan normal.

c. Fase III – maturasi/remodeling (hari ke 14 sampai dengan penyembuhan komplit)


 Tidak ada perbedaan yang jelas antara fase II dan fase III
 Penyembuhan mulai dengan cepat selama fase 11I kemudian berkurang secara
progresif.
 Kekuatan daya regang secara terus-menerus meningkat setelah 1 tahun postoperasi
 Kulit mendapatkan kembali daya regangnya sekitar 70% sampai 90%.
 Saluran cerna mendapatkan kembali 100% kekuatan daya regangnya hanya dalam
waktu 1 minggu.
 Kandungan kollagen tetap, tetapi kekuatan daya regangnya bertambah karena susunan
dan ‘cross-linked” serabut kollagen.
 Timbunan jaringan ikat fibrous mengakibatkan terbentuknya jaringan parut.
 Pada penyembuhan yang normal, kontraksi luka terbentuk selama beberapa minggu
atau berbulan-bulan.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Densitas, kollagen meningkat, susunan pembuluh darah berkurang, dan bertambahnya


jaringan parut yang lebih muda.

G. BENTUK-BENTUK PENYEMBUHAN LUKA


Penyembuhan luka yang terisi dengan jaringan granulasi dan kemudian ditutup
jaringan epitel dan disebut dengan penyembuhan sekunder (sanatio per secundam
intentionem). Penyembuhan luka dengan jaringan parut yang minimal biasanya dilakukan
dengan bantuan dari luar yakni penjahitan yang bertujuan untuk rnempertautkan ke dua tepi
luka. Penyembuhan semacam ini disebut penyembuhan per primam / primer (sanatio per
primem intentionem).
a. Penyembuhan luka secara intensi primer
Dimana terdapat sedikit jaringan yang hilang, seperti pada luka bersih yang dibuat
akibat tindakan bedah atau pada laerasi yanag tepinya dirapatkan oleh plester kulit, maka
penyembuhan terjadi secara intensi primer, yaitu dengan menyatukan kedua tepi luka
dengan berdekatan dan saling berhadapan.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Jaringan granulasi yang dihasilkan sangat sedikit. Dalam wktu 10-14 hari, reepitelisasi
secara normal sudah sempurna dan biasanya hanya menyisakan sedikit jarinan parut tipis
yang dengan cepat dapat memudar dari warna merah muda menjadi putih.
Meskipun demikian diperlukan waktu beberapa bulan bagi jaringan untuk memperoleh
kembali segala sesuatunya seperti kekuatan regangan semula.

b. Penyembuhan luka secara intensi sekunder


Pada luka-luka terbuka dimana terdapat kehilangan jaringan yang signifikan dikatakan
bahwa penyembuhan terjadi secara intensi sekunder, contohnya:
 Luka terbuka kronis pada dekubitus dan ulkus tungkai.
 Luka akibat operasi yang sengaja dibiarkan terbuka seperti abses yang baru dilakukan
drain atau sinus pilonidal yang dibiarkan terbuka.
Jaringan granulasi yang terdiri atas kapiler-kapiler darah baru yang disokong oleh
jaringan ikat, terbentuk di dasar luka dan sel-sel epitel melakukan migrasi ke pusat
permukaan luka dan dari pulau-pulau jaringan epitel yang berhubungan dengan folikel
rambut, kelenjar sebasea, dan kelenjar sudorifera. Daerah permukaan luka menjadi lebih
kecil akibat suatu proses yang disebut kontraksi dan jaringan ikat disusun kembali
sehingga membentuk jaringan yang bertambah kuat sejalan dengan bertambanya waktu.
Mulanya jaringan parut berwarna merah dan menonjol. Pada saatnya tonolan dan
warna merah itu akan berkurang dan akhirnya menghilang hingga meninggalkan jaringan parut
yang lunak dan lebih pucat dianding kulit sekitarnya. Variasi lainnya jaringan fibrosa pada
lapisan dermis dapat menjadi hipertrofi yang nyata, merah, dan menonjol.
Reaksi yang lebih kemerahan adalah pembentukan jaringan parut keloid. Pada parut
keloid jaringan tampak nyata menonjol, cenderung menyebar, mengikutsertakan kulit normal
disekitarnya, terasa panas, nyei tekan, dan gatal.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Parut keloid lebih banyak terjadi pada pasien-pasien berkulit hitam daripada berkulit
putih. Daerah-daerah tertentu ternyata mempunyai resiko lebih tinggi dalam menghasilkan
parut keloid dibanding daerah lainnya, terutama dalam menghasilkan daerah presternal dan
daerah deltoid serta jarinan parut vertikal pada leher.
a. Penyembuhan Persekumdum
 Kalau luka gagal sembuh dengan penyembuhan primer.
 Disebabkan oleh infeksi, trauma berat, kehilangan jaringan, atau pengelolaan jaringan tidak
tepat.
 Luka dibiarkan terbuka yang memungkinkan untuk sembuh mulai dan lapisan dalam
menuju ke permukaan.
 Jaringan granulasi yang mengandung myofibroblast berkontraksi menutup luka.
 Proses penyembuhan luka berlangsung lambat.
 Jaringan granulasi dan jaringan parut pada umumnya terbentuk (jadi jaringan granulasi
tersebut harus dingkat agar tidak mengganggu proses epitelisasi).
b. Penyembuhan Pertertium
 Seperti hanya dengan penutupan primer yang terlambat, penyembuhan pertertium terjadi
karena kedua permukaan jaringan granulasi tumbuh bersama-sama.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Merupakan cara penyembuhan yang aman untuk luka terkontaminasi : luka kotor, luka
trauma yang terinfeksi akibat hilangnya jaringan yang luas da tingginya resiko terjadinya
infeksi.
 Perlu dibersihkan jaringan yang rusak dan membiarkannya agar tetap terbuka.
 Biasanya penutupan luka dilakukan 5 hari setelah mengalami perlukaan.

H. PERAWATAN LUKA
Perawatan Luka bersih 3 hari sekali ganti verban sedangkan Luka kotor tiap hari 2 kali
ganti verban (luka berbau dan ada sekret).
a. Perawatan luka secara umum:
1. Pada setiap perlukaan perhatikan keadaan umum terlebih dulu. Apabila keadaan umum
buruk usahakan terlebih dulu perbaikan keadaan umum.Apabila perdarahan tampak
terus berlanjut dan merupakan penyebab dari keadaan umum yang buruk maka
perdarahan dan keadaan umum buruk diatasi secara bersama-sama.
2. Saat terjadinya perlukaan :
 Luka kurang dari 6 jam :
luka ini dianggap luka bersih (clean wound) . Luka seperti ini diharapkan akan
sembuh per-primam (dengan tindakan yang adekuat) dan dapat dilakukan
tindakan primer / penjahitan primer.
 Luka terkontaminasi: Yang termasuk luka terkontaminasi adalah :
 luka antara 6-12 jam
 luka kurang dari 6 jam akan tetapi kontaminasi yang terjadi adalah banyak.
 luka kurang dari 6 jam akan tetapi ditimbulkan karena daya / enersi yang
besar (misalnya luka tembak atau terjepit mesin).
Luka ini diragukan untuk dapat sembuh secara primer karena itu
diberikan tindakan ekspektatip (kompres zat antiseptika dan diberikan
antibiotika). Apabila pada hari ke-3-7 tidak timbul radang bila perlu dapat
dilakukan tindakan penjahitan ; penjahitan disini disebut jahitan primer
tertunda (delayed primary suture). Bila antara hari ke-3-7 timbul pus maka
luka dianggap luka terinfeksi.
 Luka terinfeksi :
setiap luka diatas 12 jam dianggap luka terinfeksi. Pada luka ini diberi kompres
dan antibiotika sambil menunggu hasil kultur dan resistensi test untuk
pemberianantibiotika yang sesuai.. Apabila kemudian proses radang sudah
tenang dan timbul jaringan granulasi sehat dapat dilakukan jahitan sekunder.
Perkecualian untuk penanganan ini:
 Luka lebih lama dari 6 jam tanpa tanda-tanda radang dan sudah diberi zat
antiseptika sebelumnya dapat dilakukan tindakan primer.
 Luka terkontaminas didaerah wajah tetap dilakukan penjahitan primer.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Luka kurang dari 6 jam didaerah perineum tetap dianggap luka


terkontam,inasi.
 Perlukaan lebih dari 6 jam tetap dapat dilakukan eksplorasi
3. Profilaksis tetanus :
Dapat diberikan dalam bentuk Toksoid,ATS atau imunoglobulin. ATS diberikan
1500U,Toksoid 1cc atau imunoglobulin 250U (pada orang dewasa).
4. Medikamentosa Sebaiknya diberikan antibiotika profilaksis.
5. Pembukaan jahitan :
Pada daerah wajah jahitan dibuka hari ke-4 untuk menghindari terjadinya "railroad
track" yang akan sangat sulit untuk dikoreksi. Apabila pada saat kontrol tampak
adanya pus, maka jahitan segera dibuka pada dimana tampak pernanahan.

b. Perawatan luka khusus:


1. Perlukaan pembuluh darah :
Apabila terdapat perlukaan pada pembuluh darah sebagai tindakan sementara dapat
dilakukan tindakan penekanan daerah luka atau penekanan pada nadi proksimal dari
luka.Sebagai tindakan definitip adalah ligasi atau repair dari perlukaan pembuluh
darah.
2. Perlukaan syaraf perifer :
Pada luka bersih, maka repair syaraf dapat dilakukan secara primer, pada luka
terkontaminasi atau terinfeksi dilakukan secara sekunder.

3. Perlukaan tendo :
Bila luka dijahit primer maka tendo juga diusahakan untuk dijahit secara primer.
Perkecualian adalah pada daerah "no mans land" pada tangan dimana dimana repair
dilakukan secara sekunder.
4. Perlukaan daerah toraks dan abdomen :
Harus selalu ditentukan apakah luka tembus atau tidak.
5. Perlukaan daerah wajah dan kepala :
Apabila terdapat luka pada daerah kepala maka rambut harus dicukur terlebih dahulu.
Alis tidak diperbolehkan untuk dicukur. Apabila terdapat perdarahan maka langsung
dilakukan penjahitan tanpa hemostasis kecuali bila terkena pembuluh darah sedang
atau besar. Perlukaan pada daerah pipi harus dipastikan bahwa tidak terdapat
kerusakan pada n.VII ataupun ductus Stenoni.
6. Perlukaan daerah leher :
Apabila luka dalam dan ada kemungkinan terkena organ penting (pembuluh darah dsb)
maka perlu eksplorasi.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Dressing/Pembalutan
Tujuan :
a. memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
b. absorbsi drainase
c. menekan dan imobilisasi luka
d. mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
e. mencegah luka dari kontaminasi bakteri
f. meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
g. memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien

Alat Dan Bahan Balutan Untuk Luka


 Bahan untuk Membersihkan Luka
a. Alkohol 70%
 Banyak digunakan untuk disinfeksi
 Sifat bakterisida kurang
 Tidak digunakan untuk sterilisasi

b. Klorheksin aquous
 Antiseptik yang ideal
 Toksisitas rendah
 efektif terhadap bakyeri gram (+) & gram (-)
 tidak efektif terhadap BTA, spora bakteri, jamur & virus
 Savlon, Hibiscrub

c. Povidone-iodine
 anti-mikroba paten yang digunakan secara luas
 efektif pada disinfeksi dan pembersihan dalam pre-pasca bedah

d. Hidrogen Peroksida (3%) (H2O2)


 membersihkan dan menghilangkan bau pada luka infeksi
 efek dalam waktu singkat selama oksigen dibebaskan
 berbahaya pada rongga tertutup (emboli gas)
 menyebabkan iritasi pada kulit

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Bahan untuk Menutup Luka : Verband dengan berbagai ukuran


 Bahan untuk mempertahankan balutan
a. Adhesive tapes
b. Bandages and binders

I. KOMPLIKASI PENYEMBUHAN
a. Infeksi
 Kunci pengobatan yang efektif adalah dengan cepat mengidentifikasi patogenesanya
 Kultur jaringan harus dianalisis dan diidentifikasi mikroorganismenya.
 Penggunaan antibiotik harus segera dimulai pada selulitis dan fascitis berdasarkan hasil
kultur.
b. Gangguan terhadap Luka
 Terutama pada orang tua dan lemah.
 Laki-laki lebih sering.
 Sering hari ke 5 - 12 postoperasi.

c. Dehisensi
 Luka terlipat dan terbuka (splitting open).
 Luka terbuka adalah pemisahan sebahagian atau seluruhnya lapisan jaringan setelah
penutupan.
 Terlipatnya jaringan dapat terjadi akibat: Banyaknya tekanan pada jaringan yang baru
dijahit.
d. Eviserasi
 Ditandai dengan menonjolnya usus melalui luka pada abdomen yang sebelumnya telah
ditutup.
 Akibat tingginya tekanan intra abdominal kembung, mual, dan batuk setelah
pembedahan akan meningkatkan tekanan pada luka.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

EVALUASI
1. Apa yang dimaksud dengan luka?
2. Sebutkan etiologi luka beserta contohnya.
3. Sebutkan jenis-jenis luka.
4. Jelaskan fase-fase penyembuhan luka.
5. Bagaimana cara penanganan dan perawatan luka.
6. Sebutkan faktor-faktor yang berperan dalam penyembuhan luka.
7. Sebutkan bahan-bahan yang dugunakan untuk perawatan luka.
8. Sebutkan komplikasi dari penyembuhan luka.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan Instruktional Umum (TIU)

Setelah selesai mempelajari modul ini, diharapkan anggota muda dapat memahami dan mampu
mengaplikasikan penanganan syok anafilaktik

Tujuan Instruksional Khusus ( TIK )

Setelah selesai mempelajari modul ini, peserta diharapkan :

1. Mengetahui pengertian syok dan mekanisme terjadinya


2. Mengetahui penyebab-penyebab dari syok anfilaktik itu sendiri
3. Mengetahui penatalaksanaan dari syok anafilaktik

D EFENISI
Suatu sindrome klinik yang mempunyai ciri-ciri berupa hipotensi, takikardi, kulit yang dingin, pucat
basah, sianosis perifer, hiperventilasi perubahan status mental dan penurunan pembentukan urine .

PATOFISIOLOGI
Kegagalan perfusi jaringan timbul bila terjadi ketidak-seimbangan antara kebutuhan dan suplai O2.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

KLASIFIKASI SYOK
1. Syok hipovolemik
2. Syok anafilaktik
3. Syok kardiogenik
4. Syok distributif  Syok septik
5. Syok obstruktif

SYOK ANAFILAKTIK
Merupakan suatu resiko pemberian obat, baik melalui suntikan atau cara lain Suatu sindrom klinik yang
terjadi akibat suatu reaksi alergis (reaksi imunologis) bersifat sistemik yg cepat mengenai beberapa
organ, meliputi :
• Respirasi
• Sirkulasi
• Pencernaan
• Kulit dan lain-lain
Syok anafilaktik menyebabkan terjadinya hipotensi
Jika sindrom tersebut menyebabkan syok disebut syok Anafilaksis, dimana bila tidak dikelola dgn cepat
dan tepat dapat  KEMATIAN
Tidak mempunyai predileksi; umur,ras,jenis kelamin dan Jarang terjadi pada bayi dan orang tua.
Anafilaktoid ( Non Immunologic Reaction)
• Merupakan reaksi anafilaksiis yg tdk disebabkan oleh reaksi imunologis
• Mekanisme belum diketahui dgn jelas
• Gejala sama dgn reaksi imunologis, tapi sedikit lebih ringan
• Lebih banyak ditemukan dibanding reaksi imunologis.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Prevalensinya : negara barat 0,4 kasus/juta/tahun


Insiden Syok Anafilaktik :
 Sangat jarang
 Secara epidemiologis di Amerika
 40 – 60% gigitan serangga
 20 – 40% kontras radiografi
 10 – 20% penisilin
 0.01% akibat penisilin - 9 % fatal
 Pengalaman pribadi 3 dalam 20 tahun

Penyebab Anafilaktik maupun Anafilaktoid :


a. Gigitan serangga, makanan, latex, dll
b. Antibiotik
c. penisilin, sefalosporin
d. Kontras radiografi
e. Anestetik lokal
f. NSAID
g. Opiate
h. Aspirin
i. Tubocurarin
j. Dextran
k. Mannitol
Gambaran Klinis suatu Reaksi Anafilaksis :
 Gangguan perfusi perifer:
 Raba telapak tangan
- Hangat, kering, merah : NORMAL
- Dingin, basah, pucat : SHOCK
 Tekan lepas ujung kuku/telapak tangan
- Merah kembali < 2 detik : NORMAL
- > 2 detik : SHOCK
- Bandingkan dengan tangan pemeriksa
 Nadi meningkat : raba nadi radialis
- Nadi < 100 : NORMAL
- Nadi > 100 : SHOCK
 Tekanan darah menurun
- Sistolik > 100 : NORMAL
- Sistolik < 100 : SHOCK

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Tekanan Nadi : > 20 mmHg→ hmmm….. artinya sistol dikurang diastole gak boleh
mencapai angka tersebut→SHOCK
 Kulit
 Urtikaria (paling sering)
 Udem muka, tangan dan kaki

 Gastrointestinal
 Mual & muntah
 Perut kram
 Diare
 Sirkulasi
 Tekanan darah ↓
 Bradikardi
 Syok
 Respirasi
 Gejala asma
 Udem laring
 Obstruksi napas atas gejala obstruksi napas merupakan pembunuh utama diikuti oleh
hipotensi yg hebat.
 Pengolaan Syok Anafilaktik secara umum bertujuan untuk :
 Mencegah efek mediator
 Menghambat sintesis dan pelepasan mediator
 Blokade reseptor
 Mengembalikan fungsi organ dan perubahan patofisiologik akibat efek mediator

PENANGANAN SYOK ANAFILAKTIK


1. Tinggikan kaki (Trendelenburg), alas yang keras

2. Bebaskan air way


a. Airway (membuka jalan napas). Jalan napas harus dijaga tetap bebas, tidak ada sumbatan

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

sama sekali. Untuk penderita yang tidak sadar, posisi kepala dan leher diatur agar lidah
tidak jatuh ke belakang menutupi jalan napas, yaitu dengan melakukan ekstensi kepala, tarik
mandibula ke depan, dan buka mulut.

b. Breathing support, segera memberikan bantuan napas buatan bila tidak ada tanda-tanda
bernapas, baik melalui mulut ke mulut atau mulut ke hidung. Pada syok anafilaktik yang
disertai udem laring, dapat mengakibatkan terjadinya obstruksi jalan napas total atau parsial.
Penderita yang mengalami sumbatan jalan napas parsial, selain ditolong dengan obat-
obatan, juga harus diberikan bantuan napas dan oksigen. Penderita dengan sumbatan jalan
napas total, harus segera ditolong dengan lebih aktif, melalui intubasi endotrakea,
krikotirotomi, atau trakeotomi.
c. Circulation support , yaitu bila tidak teraba nadi pada arteri besar (a. karotis, atau a.
femoralis), segera lakukan kompresi jantung luar.
3. Tentukan penyebab dan lokasi masuknya
4. Jika masuk lewat ekstremitas pasang turniket
5. Adrenalin 0,2 - 0,5 cc/ sub kutan .Untuk dosis anak : 0,01cc/kg BB
6. O2 masker 4-6 L/mnt
Infus RL/PZ :
Tensi tidak terukur  20 cc/ kg BB
Sistole < 100 mmHg  500 cc/ ½ jam
Sistole > 100 mmHg  500 cc/ 1 jam
7. Tensi titik atas < 100 mmHg  Adrenalin 1 : 1000 /cc diencerkan dgn P8 jadi 10 cc digunakan 2-
3 cc /IV pelan (anak :0,1 cc/kg BB). Dosis dapat diulang setelah 10 menit.
8. Bila gagal memasang infus , adrenalin 1 : 100  0,2- 0,5 cc / i.m. Setelah infus terpasang berikan
difenhidramin 60 – 80 mg i.v ( anak : 1 -2 mg /kg BB / i.v ). Maximal 200 mg / i. (anak : 8 mg/ kg
BB/ i.v )
9. Bila terdapat wheezing berikan aminofilin 1 amp ( 240mg) i.v pelan dalam 20 menit anak 4 - 6
mg/ kg BB).
10. Bila infus belum dapat terpasang , tensi tetap kurang atau tak terukur  segera ke ICU
11. Observasi vital sign ketat 6 jam berturut-turut, kemudian setiap 2 jam.
12. Sisa obat jangan dibuang.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

SYOK NEUROGENIK
Syok neurogenik, disebabkan kegagalan resistensi arteri sehingga darah tertimbun pada pembuluh
darah yang berdilatasi akibat perangsangan saraf atau psikis, bias berupa nyeri hebat, reaksi ketakutan
yang amat sangat maupun trauma spinal.
Syok neurogenik dapat dikenali tanda-tandanya atau gejalanya diantaranya: pucat, keringat dingin,
lemas, badan terasa melayang, mual, bahkan dalam tahap lanjut penderita dapat pingsan diikuti
hipotensi dan bradikardi. Selain yang diakibatkan anastesi spinal atau trauma spinal, syok neurogenik
dapat sembuh spontan, hal yang perlu dilakukan adalah dengan
meletakkan kepala penderita lebih rendah dari kaki. Jika penderita masih pingsan perlu dicari penyebab
yang lain.

PERDARAHAN PADA SIRKUMSISI


Pendarahan ini dapat terjadi beberapa saat setelah operasi selesai atau anak sudah berada dirumah
atau beberapa jam kemudian. Hal ini diakibatkan oleh ikatan/ ligasi yang lepas, akibat kurang
sempurnanya ikatan atau anak hiperaktiv. Dapat pula diakibatkan ketidaktelitian operator dalam mencari
dan menghentikan pendarahan.
Pendarahan banyak terjadi pada anastesi local yang mengandung adrenalin pada khitan metode
konfensional, karena pada saat efek vasokonstriktor bekerja pembuluh darah kecil berkontraksi
sehingga tidak tampak adanya pendarahan, namun setelah efeknya habis akan muncul pendarahan.
Faktor anemi dan gizi buruk juga ikut andil dalam kasus ini. Hal ini dapat diminimalisir jika dilakukan
dengan metode Flashcutter yang bekerja 2 fungsi dalam sekali tindakan, artinya Flashcutter atau laser
atau sejenisnya disamping melakukan pemotongan juga memberi efek pembuntuan pembuluh darah
terpotong sehingga sudah pasti resiko pendarahan lebih kecil.
KESIMPULAN
- Syok anafilaksis merupakan rekasi alergis yang cepat yang merupakan emergrncy life-threatening
- Reaksi anafilaksis dan anafilaktoid dapat member gejala yang sama walaupun mekanismenya
berbeda
- Tes kulit tidak memberi jaminan 100%, tapi penting untuk perlindungan hokum
- Pemberian antihistamin dan steroid pra-exposure dilaporkan sangat bermanfaat
- Drug of chice dari syok anafilaksis adalah adrenalin

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

- Keterampilan RKP dan ketersediaan Resusitation Kit + Emergency drugs mutlak pada tempat-tempat
dimana banyak dilakukan penyuntikan
- Pada pasien syok anafilaktik harus segera ditangani dan selalu di follow up
EVALUASI
1. Jelaskan perbedaan syok anafilaktik dan anafilaktoid !
2. Bagaimana mekanisme terjadinya syok. Jelaskan !
3. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi syok !
4. Apakah tanda-tanda syok !
5. Apakah penyebab terjadinya syok anafilaktik ?
6. Tuliskan algoritme management syok anafilaktik !
7. Apa yang diharapkan dengan dilakukannya posisi syok pada pasien ?
8. Drug of choice dari syok anafilaktik, dosis, serta mekanisme kerjanya !
9. Tanda-tanda resusitasi telah berhasil dilakukan !
10. Tuliskan derajat-derajat Hipovolemik !

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Setelah selesai mempelajari modul ini, anggota muda diharapkan memahami dan dapat menerapkan
manajemen sirkumsisi massal dengan baik.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Setelah selesai mempelajari modul ini, anggota muda diharapkan :

1. Mengetahui hal apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum kegiatan sirkumsisi massal .
2. Mengetahui hal apa saja yang dilakukan saat kegiatan sirkumsisi massal berlangsung.
3. Mengetahui hal apa saja yang dilakukan setelah kegiatan sirkumsisi massal.

MANAJEMEN SIRKUMSISI MASSAL


Manajemen sikrumsisi massal adalah segala usaha yang dilakukan untuk mengefisiensikan
tenga,waktu dan biaya serta meminimalisir komplikasi akibat tindakan yang dilakukan dalam
pelaksanaan sirkumsisi massal.

DEFENISI SIRKUMSISI MASSAL


Sirkumsisi massal adalah kegiatan sirkumsisi yang diikuti lebih dari sepuluh pasien sirkumsisi dan
memerlukan kerjamasama beberapa tim medis.
Agar maksud dan tujuan kita dalam melakukan kegiatan ini dapat tercapai Komponen Sirkumsisi
Massal kita bagi dalam 3 bagian penting, yaitu :
1. Pre-Kegiatan
2. Kegiatan
3. Post-Kegiatan

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

A. PRE-KEGIATAN
Persiapan yang terkoordinasi dengan baik sebelum kegiatan sirkumsisi massal, merupakan
salah satu hal yang sangat penting dilakukan, sebagai upaya untuk mencapai suatu kegiatan yang
sukses, dalam hal ini adalah Sirkumsisi massal.
Hal-hal yang perlu dipastikan kesiapan sebelum kegiatan diantaranya adalah jumlah pasien,
jumlah tenaga medis yang berperan serta dalam kegiatan, serta tempat kegiatan diadakannya
sirkumsisi massal. Setelah itu persiapakan alat dan bahan serta obat-obatan yang disesuaikan
dengan jumlah pasien.
Selain itu untuk menjamin hal-hal yang telah disepakati sebelumnya dapat berjalan dengan
lancar maka dipandang perlu untuk melakukan pertemuan rutin singkat dalam rangka
mengkoordinasikan segela sesuatu yang telah dipersiapkan.

Yang dipersiapkan pada Komponen Pre-Kegiatan sirkumsisi massal;


1. Jumlah pasien,
Hal ini tentunya harus telah diketahui jumlahnya, untuk kemudian dapat menentukan keperluan
untuk bagian berikutnya.
a. Sebelum kegiatan berlansung, jumlah pasien harus dipastikan jumlahnya dengan
tujuannya agar tenaga medis, alat, bahan serta obat-obatan dapat dipersiapkan
sesuai dengan kebutuhan.
b. Jumlah pasien paling lambat diketahui 3 hari sebelum kegiatan. Data pasien ini
mencakup, Umur dan atau berat badan untuk menentukan jumlah obat.
2. Tenaga medis
Yang dimaksud disini adalah orang-orang yang akan bertugas pada saat pelaksanaan
Sirkumsisi massal. Antara lain Dokter penanggung jawab sebaiknya yang telah mempunyai
STR/Izin Praktek, Operator, asisteren, kurir, administrasi dan bagian obat.
Tenaga Medis dalam pelaksanaan sirkumsisi massal selain Dokter, haruslah telah mengikuti
dan telah lulus pada pelatihan sikusmsisi.
Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan tenaga medis ;
a. Jumlah tenaga medis yang mengikuti kegiatan ditentukan berdasarkan jumlah pasien.
b. Koordinator tenaga medis harus memastikan adanya dokter penanggung jawab
kegiatan.
c. Kesiapan dari tenaga medis harus ditentukan 3 hari sebelum kegiatan.

3. Tempat kegiatan

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

Lokasi atau tempat dimana akan dilaksanakan kegiatan sirkumsisi massal ini adalah sangat
penting untuk dipersiapkan sebelum kegiatan berlangsung. Adapun hal-hal yang harus
dipersiapkan antara lain :
a. Kesiapan lokasi kegiatan harus dilihat langsung oleh Koordinator Lapangan yang telah
ditunjuk paling lambat 2 hari sebelum kegiatan untuk kemudian dipresentasikan pada
breefing tenaga medis. Jumlah meja yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan.
b. Tempat kegiatan atau lokasi haruslah yang representative,yaitu:
i. Luas
ii. Pencahayaan cukup
iii. Nyaman (ergonomis)
iv. Bersih
v. Aman
Skema :

Keterangan :
1. Tempat tunggu pengantar 6. Meja alat dan bahan
2. Registrasi/ Anamnesis-PemFis 7. Adrenalin
3. Meja obat dan Suntik TT Pintu masuk

4. Registrasi keluar Pintu keluar


5. Meja operasi

4. Sarana Pendukung

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 Perizinan, untuk dikoordinasikan dengan Pimpinan Fakultas dan instansi


terkait dalam hal ini PUSKESMAS setempat, dengan membuat surat permohonan
pelaksanaan kegitan I minggu sebelum kegiatan dengan tujuan agar Pihak
Fakultas/Pemerintah dalam hal ini Wakil Dekan III (Nasrudin SpoGMaN) dengan Dinas
Kesehatan setempat khususnya PUSKESMAS yang menjadi penanggun jawab segala
aktifitas dalam bidang kesehatan mengetahui dan memberikan izin untuk pelaksanaan
kegiatan tersebut.
 Menyiapkan1 buah kendaraan yang nantinya akan dipergunakan atau
berfungsi sebagai Ambulance.
5. Obat, Alat dan Bahan
Alat, bahan serta obat-obatan yang dipersiapkan disesuaikan dengan jumlah pasien.
Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan pada kegiatan dan pastikan telah disterilkan
sebelum digunakan saat kegiatan.
6. Breefing
Dilakukan sehari sebelum kegiatan yang dipimpin oleh Kor.Lap untuk menentukan pembagian
job serta hal-hal yang dianggap perlu.

B. KEGIATAN
Pada tahapan ini seharusnya seluruh persiapan pada pre-kegitan itu telah terpenuhi dan
terkoordinasikan dengan baik.
Selama kegiatan berlansung tim medis yang ikutserta dalam kegiatan harus mengetahui tugas
dan tanggung jawabnya masing-masing. Adapun komponen-komponen yang berperan penting
dalam kegiatan sirkumsisi massal yaitu koodinator umum, operator, asisteren,
kurir/omblo,sterilisasi, registrasi, serta farmakolog dan suntik tetanus toxoid.
a. KOORDINATOR UMUM
Koordinator umum kegiatan sirkumsisi bertanggung jawab mengawasi jalannya kegiatan serta
mendata nama pasien dan operator pada tiap-tiap meja, dan apabila terjadi kesalahan ataupun
maasalah selama kegiatan berlansung, koordinator umum berkewajiban melapor ke dokter
penanggung jawab kegiatan.
b. OPERATOR
Operator bertanggung jawab dalam melakukan sirkumsisi, setiap meja memiliki satu orang
operator yang berada dalam keadaan steril.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

c. ASISTEREN
Asisteren berfungsi sebagai pembatu operator dalam melakukan sirkumsisi, biasanya tiap
meja memiliki minimal 1 orang asisteren yang akan membantu operator, selama kegiatan
berlansung asisteren harus berada dalam keadaan steril.
d. KURIR
Kurir bertanggungjawab dalam menyediakan kebutuhan alat dan bahan tiap meja, membantu
operator dan asisteren saat dibutuhkan. Biasanya kurir bertugas berdasarkan meja tertentu.
e. STERILISASI ALAT
Minimal 2 orang dan bertugas dalam mensterilkan alat yang telah digunakan agar dapat
digunakan kembali. Diwajibkan menggunakan alat pelindung diri.
f. REGISTRASI/ ANAMNESIS DAN PEMFIS
Registrasi terdiri dari 2 - 3 orang, yang betugas mendata pasien sebelum dan sesudah
disirkum serta melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis yang terkait dengan kondisi
pasien.
g. SUNTIK TETANUS TOXOID/OBAT
Biasanya terdiri 2 - 4 orang,bertugas menyuntik pasien setelah disirkum dengan TT (Toxoid
Tetanus) dan memberikan obat pada setiap pasien yang telah disirkum.
h. JUMLAH MEJA
Jumlah meja saat kegiatan, terdiri dari :
- 1 meja registrasi
- 2 meja suntik TT dan obat
- Jumlah meja sirkumsisi disesuaikan dengan pasien, tenaga medis dan tempat kegiatan
i. ALAT DAN BAHAN DISETIAP MEJA
Alat dan bahan yang digunakan terdiri dari :
- 1 sirkumset
- catgut, kasa, antiseptik, spoit, lidokain, handscoen, plester, salep antibiotik, doek steril.
- Tempat Sampah Medis dan Non-medis
j. SHIFT TENAGA MEDIS
Demi kepentingan tenaga medis dan pasien maka perlu adanya pergantian tenaga medis
(operator / asisteren).
Adapun Mekanisme pergantian sebagai berikut:
 operator dan asisteren bergantian setelah 5 pasien

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

 setelah 5 pasien berikutnya operator dan asisteren diganti kurir oleh tenaga
medis lainnya.
k. KOORDINASI TENAGA MEDIS
- Setiap tenaga medis telah mengetahui perannya masing-masing dan bertanggung jawab
atas tugas-tugas tersebut.
- Bila ada kesulitan hendaknya dikonfirmasikan dengan dokter penanggung jawab
- Setiap tenaga medis harus saling menghormati dan menghargai
- Setiap tenaga medis harus menjaga nama baik institusi
l. PENGGANTIAN ALAT
Tiap satu set alat digunakan untuk 1 pasien yang selanjutnya disterilkan dan diganti dengan
satu set alat yang baru.

PERALATAN KEDARURATAN
Emergency Kit :
- Pastikan lokasinya di tempat yang mudah dijangkau.
Ambulance :
- Harus telah terparkir ditempatnya dalam posisi menuju kejalan
- Harus telah disiapkan rute evakuasi ke fasilitas yang lebih lengkap (Rumah Sakit) yang
terdekat dengan lokasi kegiatan.

C. POST KEGIATAN
Setelah kegiatan sirkumsisi massal telah selesai pastikan semua alat yang digunakan masih
lengkap, serta kumpulkan obat-obatan yang telah digunakan.

1. MENGUMPULKAN ALAT
Pengumpulan alat dan bahan dilakukan oleh operator/asisteren tiap meja dibantu oleh kurir
untuk selanjutnya diserahkan pada koordinator alat/obat. Pastikan alat yang digunakan masih
lengkap.
2. MENGUMPULKAN OBAT-OBATAN
Pengumpulan obat dilakukan oleh bagian obat yang dibantu oleh kurir. Pastukan semua obat
terkumpul.

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

3. EVALUASI
Dilakukan setelah semua kegiatan telah selesai, tujuan diadakannya adalah untuk
mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan, semua kesalahan yang terjadi saat kegiatan
dibahas bersama agar tidak terjadi bila diadakan kegiatan yang sama di kemudian hari. Selain
itu disini juga dibahas mengenai follow up pasien setelah disirkum. Hal-hal yang perlu
dievaluasi mulai dari pre-kegiatan, kegiatan sampai post-kegiatan.

FOLLOW UP PASIEN
Penggantian verban :
Pasien di ganti verbannya minimal 2 hari setelah kegiatan, sebaiknya dilakukan oleh Tim Medis
yang melaksanakan sirkumsisi, bila tidak di koordinasikan dengan PUSKESMAS setempat
(memberikan obat dan bahan).

EVALUASI
1. Sebutkan dan jelaskan komponen dari sirkumsisi massal !

1
Pelatihan Sirkumsisi TBM 110 FK UMI

2. Sebutkan dan jelaskan hal-hal apa saja yang harus disiapkan sebelum kegiatan sirkumsisi
berlansung !
3. Gambarkan skema kegiatan sirkumsisi massal (beri keterangan) !
4. Sebutkan dan jelaskan tugas dari masing-masing bagian saat kegiatan sirkumsisi berlansung !
5. Bagaimana mekansime pergantian tenaga medis saat kegiatan berlansung !
6. Bagaimana mekanisme penggatian alat yang digunakan saat kegiatan !
7. Apa tujuan diadakannya breefing sebelum kegiatan ?
8. Apa yang harus dilakukan setelah kegiatan sirkumsisi massal selesai ?