Anda di halaman 1dari 16

HALAMAN JUDUL

MAKALAH
PSIKOLOGI INDIVIDUAL SUATU PENDEKATAN
SECARA PSIKOLOGI SOSIAL
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KELOMPOK
MATA KULIAH : PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
DOSEN PENGAMPU : KHARIS, M.Pd

DI SUSUN OLEH :
ARIEF HIDAYAT 2117052
SYARIF MAULANA ISHAQ 2117054

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI S-1 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
STAINU TEMANGGUNG
TAHUN 2019

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas izin,
kekuatan, petunjuk, dan ridha-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul "Psikologi Individual Suatu Pendekatan Secara Psikologi Sosial".

Penyusun menyadari bahwa penyusun makalah ini dapat terselesaikan karena


adanya bantuan dari beberapa pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini izinkan saya
berterima kasih kepada:

1. Kharis, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Kepribadian.


2. Orang tua yang telah memberikan motivasi dan doa.
3. Rekan-rekan penyusun yang telah memberikan bantuan,baik berupa ide,waktu
maupun tenaga demi terselesainya makalah ini.

Semoga semua amal kebaikan dari pihak-pihak tersebut karena mendapat


keridhoan dari Allah SWT. Saya berharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat
bagi pembacanya dan bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.

Tiada gading yang retak, kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Kepada semua pihak,kritik dan saran
yang membangun selalu saya nantikan demi penyempurnaan pada penyusunan
selanjutnya.

Hormat Kami,

Kelompok 3

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 1
C. Tujuan Masalah .................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 2
A. Riwayat Hidup Alfred Adler .............................................................................. 2
B. Pengertian Individual Psychology...................................................................... 3
C. Pokok-Pokok Teori Adler .................................................................................. 4
D. Aplikasi Teori Adler .......................................................................................... 8
BAB III PENUTUP .................................................................................................... 12
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada akhir abad ke-19 terdapat arah pikiran yang dipengaruhi oleh sosiologi
dan antropologi yang sedang berkembang pesat pada saat itu. Menurut ilmu-ilmu
sosial ini manusia adalah terlebih-lebih hasil masyarakat di mana dia hidup,
manusia adalah terutama makhluk sosial daripada makhluk biologis. Sedikit demi
sedikit pandangan ini makin meresap ke dalam psikologi dan mendewasakan
psikologi, dan hal ini akhirnya mempengaruhi pula teori kepribadian. Salah satu
teori kepribadian yang memakai cara pendekatan psikologi sosial adalah Individual
Psychologie yang didirikan oleh Adler. Adler yang mula-mula berpandangan
psikoanalitis akhirnya meninggalkan cara pendekatan biologis itu dan memakai
cara pendekatan psikologi sosial. Dalam makalah ini kami akan menerangkan
tentang pokok-pokok teori kepribadian Alfred Adler dan aplikasinya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Alfred Adler ?
2. Apa pengertian psikologi individual?
3. Apa saja pokok-pokok teori Adler ?
4. Bagaimana aplikasi teori Adler?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui biografi Alfred Adler.
2. Untuk mengetahui pengertian psikologi individual.
3. Untuk mengetahui pokok-pokok teori Adler.
4. Untuk mengetahui aplikasi teori Adler.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Riwayat Hidup Alfred Adler

Alfred Adler lahir di Rudolfsheim, Wina pada tahun 1870. Alfred terlahir
dengan kondisi fisik yang lemah, sewaktu kecil Alfred sering sakit-sakitan
sehingga dia baru bisa berjalan pada usia 4 tahun. Ketika berumur 5 tahun dia nyaris
tewas akibat pneumonia[1]. Keadaan inilah yang menjadi motivasi utama Adler
untuk menjadi seorang dokter.[2] Dia menyelesaikan studinya dalam lapangan
kedokteran pada Universitas Wina pada tahun 1895[3]. Dari praktik umum
kedokteran, Adler selanjutnya beralih pada psikiatri, dan pada tahun 1907 dia
bergabung dengan kelompok diskusi Freud. Kemampuan menonjol yang ada pada
Adler menghantar dirinya menjadi ketua Masyarakat Psikoanalisis Wina (Vienesse
Analitic Society) dan ko-editor dari terbitan organisasi ini[4]. Namun dia segera
mengembangkan pendapatnya sendiri yang menyimpang dari pendapat Frued serta
lain-lain anggota persatuan itu, yang menyebabkan dia mengundurkan diri dari
jabatan sebagai presiden serta dari keanggotaannya dalam “Masyarakat
Psikoanalisis Wina”. Kemudian dia mendirikan aliran baru yang diberi nama
Individual Psychologie pada tahun 1911.

Sejak tahun 1935 Adler menetap di Amerika Serikat. Di sana dia


melanjutkan prakteknya sebagai ahli penyakit syaraf dan juga menjadi guru besar
dalam psikologi medis di Long Island College of Medicine. Dia meninggal di
Scotlandia pada tahun 1937, ketika sedang dalam perjalanan keliling untuk
memberikan ceramah-ceramah.

Seperti Psikoanalisis pengaruh Adler juga lekas meluas, walaupun tidal


seluas pengaruh Psikoanalisis terutama karena Adler dengan pengikut-pengikutnya

1
C. George Baeree, Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog
Dunia, penerjemah, Inyiak Ridwan Muzir, (Jakarta: PRISMASOPHI, 2010), h. 133
2
http://12070rzg.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false.html
3
Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, (Jakarta, PT. Raja Grafindo, 1983), h. 184
4
http://ebekunt.wordpress.com/2010/01/29/psikologi-individual-2/

2
mempraktekkan teorinya dalam lapangan pendidikan. Pendapat-pendapat Adler
tetap terpelihara dan bertambah luas berkat adanya “The American Society of
Individual Psychology” yang mempunyai majalah tersendiri, yaitu: The American
Journal of Individual Psychology. Sebagai penulis, Adler cukup produktif, salah
satu hasil karyanya yang oleh para ahli dianggap respresentatif ialah: Praxis und
Theorie der Individual Psychology.

B. Pengertian Individual Psychology

Psikologi individual dikembangkan oleh Alfred Adler dan pengikutnya


antara lain adalah Rudolph Drekurs, Martin Son Tesgard, dan Donal
Dinkmeyer. Aliran Psikologi Individual dikenal dengan nama Adlerian
Counseling. Adler mengatakan bahwa seorang tidaklah dikendalikan semata-mata
untuk memenuhi kesenangannya sendiri tetapi sebaliknya, seseorang dimotivasi
oleh rasa tanggung jawab sosial dan kebutuhan untuk berhasil. Adler benar-benar
berbicara tentang hubungan sosial, yang mana Individu sibuk mengejar realisasi
diri yang dapat mendukung dirinya untuk membuat dunia lebih baik dalam
menempatkan hidup. Inilah yang menjadi dasar pemikiran dari teori psikologi
individual. Perbedaan prinsip Adler deng Freud adalah sebagai berikut:

1 Freud memandang komponen kehidupan yang sehat adalah kemampuan


“mencintai dan berkarya”. Bagi Adler masalah hidup selalu bersifat sosial.
Fungsi hidup sehat bukan hanya mencintai dan berkarya, tetapi juga merasakan
kebersamaan dengan orang lain dan memperdulikan kesejahteraan mereka.
Manusia dimotivasi oleh dorongan sosial, bukan dorongan seksual. Cara orang
memuaskan kebutuhan seksual ditentukan oleh gaya hidupnya, bukan
sebaliknya dorongan seks yang mengatur tingkahlaku. Freud mementingkan
seks sedang Adler menekankan minat sosial.
2 Freud memandang kepribadian sebagai proses biologic-mekanistik, sedang
Adler termasuk pelopor ego kreatif.

3
3 Adler menekankan adanya keunikan pribadi. Setiap pribadi merupakan
konfigurasi unik dari motif-motif, sifat, minat, dan nilai-nilai; setiap perbuatan
dilakukan orang secara khas gaya hidup orang itu.
4 Adler memandang kesadaran sebagai pusat kepribadian, bukan ketidaksadaran.
5 Adler keras berpendapat bahwa semua kehidupan selalu bergerak.[5]

C. Pokok-Pokok Teori Adler

Teori Adler dapat dipahami lewat pengertian-pengertian pokok yang


dipergunakan untuk membahas kepribadian. Adapun pengertian-pengertian pokok
dalam teori Adler itu adalah seperti yang dikemukakan berikut ini.

1 Kesatuan (Unity) Kepribadian

Adler memilih nama Psikologi individual dengan harapan dapat


menekankan keyakinan bahwa setiap orang itu unik dan tidak dapat dipecah-
pecah. Menurut Adler tiap orang adalah suatu konfigurasi motif-motif, sifat-
sifat, serta nilai-nilai khas tiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang
membawakan corak khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.[6]

 Logat Organ (Organ Dialect)

Uniti kepribadian bukan hanya kesatuan aspek-aspek kejiwaan


tetapi meliputi keseluruhan organ tubuh. Contoh seorang remaja yang patuh
kepada orang tuanya, ngompol pada suatu malam. Itu adalah pesan bahwa
dia tidak ingin mengikuti keinginan orang tuanya. Adler menyimpulkan
bahwa organ tubuh dapat mengatakan secara lebih jelas disbanding dengan
kalimat yang diucapkan.

5
Alwisol, Psikologi Kepribadian, (Malang: UMM Press, 2009), h. 64
6
Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, h. 185

4
 Kesadaran dan Tak Sadar

Menurut Adler, tingkahlaku tak sadar adalah bagian tujuan final


yang belum diformulasi dan difahami secara jelas. Fikiran sadar adalah apa
saja yang difahami dan diterima individu dapat membantu perjuangan
menjadi sukses. Apa saja yang dianggap tidak membantu akan ditekan ke
tak sadar adler memakai ilusi mahkota pohon dan akar, keduanya
berkembang kearah yang berbeda untuk mencapai tujuan kehidupan yang
sama.

2 Perjuangan menjadi sukses atau superior

Adler yakin bahwa individu memulai hidup dengan kelemahan fisik


yang mengaktifkan perasaan inferior, perasaan yang menggerakkan orang
untuk berjuang menjadi superiorita atau untuk sukses. Individu yang secara
psikologis kurang sehat berjuang untuk menjadi pribadi yang superior, dan
individu yang secara psikologis sehat termotivasi untuk mensukseskan umat
manusia. Pada teori finalnya, Adler membatasi perjuangan menjadi superior
sebagai milik orang neorotik yang berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih
superior dibanding orang lain dan mengenalkan istilah ”perjuangan menjadi
sukses” untuk orang yang sehat yang berjuang mencapai kesempurnaan bagi
semua orang- perjuangan yang dimotivasi oleh minat sosial yang sudah
berkembang. Perjuangan bisa jadi mempunyai motivasi yang berbeda, tetapi
semuanya diarahkan menuju tujuan final (final goal).

 Tujuang Final yang Semu (Fictional Final Goal)

Merut Sdler, tingkahlaku ditentukan oleh persepsi harapan yang


mungkin dicapai di masa dating, bukan oleh apa yang sudah dikerjakan di
masa lalu. Konsep Adler ini dipengaruhi oleh Filsafat “as if” yakni;
bahwa manusia hidup dengan berbagai macam fikiran dan cita-cita yang
semata-mata bersifat fiktif, tidak ada dalam kenyataan. Misalnya
pernyataan “semua manusia diciptakan sama”jelas tidak benar, namun
dapat membimbing tingjkah laku orang untuk berjuang membuat

5
pernyataan itu menjadi “benar”. Dalam dinamika kepribadian keyakinan
fiktif semacam itu memungkinkan manusia dapat menghadapi realitas
dengan lebih baik.[7]

Adler menemukan gagasan bahwa manusia lebih di dorong oleh


harapan-harapannya terhadap masa depan daripada pengalaman-pengalaman
masa lampaunya. Meskipun Adler mangakui bahwa masa lalu adalah penting,
namun ia mengganggap bahwa yang terpenting adalah masa depan. Yang
terpenting bukan apa yang telah individu lakukan, melainkan apa yang akan
individu lakukan dengan diri kreatifnya itu pada saat tertentu. Dikatakannya,
tujuan akhir manusia akan dapat menerangkan perilaku manusia itu sendiri.
Misalkan, seorang mahasiswa yang akan masuk perguruan tinggi bukanlah
didukung oleh prestasinya ketika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah,
melainkan tujuannya mencapai gelar tersebut. Usaha mengikuti setiap tingkat
pendidikan adalah bentuk tujuan semunya, sebab kedua hal tidak menunjukkan
sesuatu yang nyata, melainkan hanya perangkat semu yang menyajikan tujuan
yang lebih besar dari tujuan-tujuan yang lebih jauh pada masa datang.

3 Pengamatan Subyektif (Subjective Perceptions)

Tujuan final yang fiktif bersifat subyektif, artinya orang


menetapkan tujuan-tujuan untuk diperjuangkan berdasarkan interpretasinya
tentang fakta, bukan berdasarkan fakta itu sendiri. Kepribadian manusia
dibangun bukan oleh realita, tetapi oleh keyakinan subyektif orang itu
mengenai masa depannya. Manusia secara sadar mengalami perasaan inferior
dan termotivasi untuk mengonpensasi inferioritas yang dirasakannya
menyakitkan ini.[8] Adler berpendapat, bahwa rasa rendah diri itu bukanlah
suatu pertanda ketidaknormalan, melainkan justru merupakan pendorong bagi
segala perbaikan dalam kehidupan manusia. Tentu saja dapat juga rasa rendah
diri itu berlebih-lebih sehingga manifestasinya juga tidak normal, misalnya

7
Alwisol, Psikologi Kepribadian, h. 65
8
Daniel Cervone dkk., Kepribadian: Teori dan Penelitian, terj. Aliya Tusyani dkk., (Jakarta:
Salemba Humanika, 2011), h. 168.

6
timbul kompleks rendah diri atau kopleks untuk superior. Tetapi dalam keadaan
normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong ke arah kemajuan atau
kesempurnaan (superior). Bagi Adler tujuan manusia bukanlah mendapatkan
kenikmatan, akan tetapi mencapai kesempurnaan.[9]

4 Minat Sosial (Social Interest)

Interest social adalah sikap keterkaitan diri dengan kemanusiaan secara


umum, serta empati kepada setiap anggota orang per-orang. Wujudnya adalah
kerjasama dengan orang lain untuk memajukan sosial alih-alih untuk
kepentingan pribadi. Menurud Adler, interes social adalah bagian dari hakekat
manusia dan dalam besaran yang berbeda muncul pada tingkahlaku setiap
orang. Interest sosiallah yang membuat orang mampu berjuang mengejar
superioritas dengan cara yang sehat dan tidak tersesat ke salah suai. Semua
kegagalan neuritik, psiotik, kriminal, pemabuk, bunuh diri adalah kegagalan
karena mereka kurang memiliki minat sosial.

5 Gaya hidup (Style of Life)

Dengan konsep gaya hidup ini, Adler menjelaskan keunikan manusia.


Setiap orang memiliki tujuan, merasa inferior, berjuang menjadi superior, dan
dapat mewarnai atau tidak mewarnai usaha superiornya dengan minat sosial.
Namun setiap orang melakukannya dengan gaya hidup yang berbeda-beda.
Gaya hidup adalah cara yang unik dari setiap orang dalam berjuang mencapai
tujuan khusus yang telah ditentukan orang itu dalam kehidupan tertentu dimana
dia berada.[10] Jumlah gaya hidup sebanyak jumlah orang didunia. Misalnya,
seseorang mungkin berusaha menjadi superior dalam kekuatan dan kemampuan
fisik, dan orang lain mungkin berusaha berprestasi secara intelektual.

9
Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, h. 188
10
Alwisol, Psikologi Kepribadian, h. 73

7
6 Diri yang Kreatif

Diri yang kreatif adalah faktor yang sangat penting dalam kepribadian
individu, sebab hal ini dipandang sebagai penggerak utama, sebab pertama bagi
semua tingkah laku. Dengan prinsip ini Adler ingin menjelaskan bahwa
manusia adalah seniman bagi dirinya. Ia adalah yang menafsirkan
kehidupannya. Individu menciptakan struktur pembawaan, menafsirkan kesan
yang diterima dari lingkungan kehidupannya, mencari pengalaman yang baru
untuk memenuhi keinginan untuk superior, dan meramu semua itu sehingga
tercipta diri yang berbeda dari orang lain, yang mempunyai gaya hidup sendiri,
namun diri kreatif ini adalah tahapan di luar gaya hidup. Diri kreatif membuat
sesuatu yang baru yang berbeda dari sebelumnya, yakni kepribadian yang baru.
Individu mencipta dirinya.

D. Aplikasi Teori Adler


1 Keadaan Keluarga

Dengan berfokus pada struktur sosial dan observasi yang tajam (baik
terhadap masa kecilnya sendiri maupun masa kecil orang lain), Adler menjadi
yakin akan pentingnya urutan kelahiran dalam menentukan karakteristik
kepribadian.[11] Dalam terapi Adler hamper selalu menanyai kliennya
mengenai keadaan keluarga, yakni; urutan kelahiran, jenis kelamin dan usia
saudara-saudara sekandung.[12]

11
Howard S. Friedman dkk, Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern, terj. Fransiska
Dian Ikarini dkk., (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 140
12
Alwisol, Psikologi Kepribadian, h. 79

8
Ciri Kepribadian Menurut Urutan Kelahiran

Anak Sulung Anak Kedua Anak Bungsu Anak Tunggal


Situasi Dasar
Menerima Memiliki model Memiliki banyak Menerima
perhatian tidak atau perintis, model, menerima perhatian tidak
terpecah dari yakni kakaknya. banyak perhatian, terpecah dari
orang tua. walaupun orang tua
Harus berbagi berbagi, tidak
Turun tahta perhatian sejak berybah sejak Cenderung cukup
akibat kelahiran awal awal. dengan orang
adik, dan harus tuanya
berbagi perhatian Sering dimanja Sering dimanja
Dampak Positif
Bertanggung Motivasi tinggi. Sering Masak sosial
jawab, Memiliki interes mengungguli
melindungi dan social. semua
memperhatikan Lebih mudah saudaranya.
orang lain. menyesuaikan Ambisius yang
Organisator yang diri dibandingkan realistic.
baik kakaknya.
Kompetisi yang
sehat.
Dampak Negatif
Merasa tidak Pemberontak dan Merasa inferior Ingin menjadfi
aman, takut tiba- pengiri dengan siapa pusat perhatian,
tiba kehilangan permanan, saja, Takut bersaing
nasib baik. Cenderung Tergantung dengan orang
Pemarah, berusaha keepada orang lain,
pesimistik, mengalahkan lain, Merasa dirinya
konservatif, orang lain , benar dan setiap

9
perhatian pada Kompetitif Ambisi yang tantangan harus
aturan dan berlebihan tidak realistic disalahkan,
hukum. Mudah kecil hati, Gaya hidup Perasaan
Berjuang untuk Sukar berperan manja kejasama rendah,
diterima. sebagai pengikut, Gaya hidup
Tidak manja
kooperatif,m
senang
mengkritik orang
lain.

2 Ingatan Masa Kecil

Untuk memperoleh pemahaman terhadap kepribadian pasien, Adler


akan meminta mereka untuk mengungkapkan ingatan masa kecil mereka.
Walaupun Adler berpendapat bahwa ingatan yang diungkap kembali akan
memberikan petunjuk untuk memahami gaya hidup pasien, ia tidak
menganggap bahwa ingatan-ingatan ini mempunyai dampak kausal (sebab
akibat).[13] Adler yakin bahwa ingatan akan pengalaman masa kecil
sesungguhnya dibentuk oleh gaya hidup yang dijalani seseorang.

3 Mimpi

Walaupun Adler percaya bahwa ia bisa dengan mudah


menginterpretasikan mimpinya, ia menyatakan bahwa kebanyakan mimpi itu
bersifat menipu dan tidak mudah dipahami oleh si pemimpi. Semakin tidak
konsisten tujuan seseorang dengan realitas, semakin besar kemungkinan mimpi
orang tersebut digunakan untuk mengecoh diri. Mimpi membuka selubung
tentang gaya hidup seseorang, tetapi mimpi mengecoh si pemimpi dengan

13
Jess Feist dan Gregory J. Feist, Teori Kepribadian, terj. Handriatno, (Jakarta: Salemba
Humanika, 2010), h. 103

10
menyajikan sesuatu pencapain dan kekuasaan yang tidak realistis dan
berlebihan.[14]

4 Psikoterapi

Teori Adlerian memberikan dalil bahwa psikopatologi berasal


dari kurangnya keberanian, perasaan inferior yang berlebihan, dan minat sosial
yang kurang berkembang. Jadi, tujuan utama psikoterapi Adlerian adalah untuk
meningkatkan keberanian, memperkecil perasaan inferior, dan menumbuhkan
minat sosial.[15]

14
Jess Feist dan Gregory J. Feist, Teori Kepribadian, h. 104
15
Jess Feist dan Gregory J. Feist, Teori Kepribadian, h. 105

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Adler berpendapat bahwa manusia pertama-tama dimotivasi oleh dorongan-


dorongan sosial. Teori psikologi individual Adler ini, memang lebih banyak
berupaya menyadarkan manusia, bahwa ia merupakan mahluk yang berdaya dan
memiliki rasa sosial yang dalam, sehingga itu pulalah ia dapat “survive” dalam
menjalani hidup. Teori ini pula, memiliki kekuatan dalam hal memprediksi perilaku
manusia melalui tujuan semu atau akhir dari perilaku yang diperbuatnya, sebagai
tujuan akhir yang merupakan gambaran dari diri manusia tersebut.

12
DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press. 2009.

Baeree, C. George. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda


Bersama Psikolog Dunia. Terj. Inyiak Ridwan Muzir. Jakarta: PRISMASOPHI,
2010.

Cervone, Daniel dkk.. Kepribadian: Teori dan Penelitian. Terj. Aliya Tusyani
dkk., .Jakarta: Salemba Humanika, 2011.

Feist, Jess dan Feist, Gregory J.. Teori Kepribadian. Terj. Handriatno. Jakarta:
Salemba Humanika, 2010.

Friedman, Howard S. dkk.. Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern. Terj.
Fransiska Dian Ikarini dkk.. Jakarta: Erlangga, 2006.

http://12070rzg.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false.html

http://ebekunt.wordpress.com/2010/01/29/psikologi-individual-2/

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1983.

13