Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Salah satu isu penting dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah

peningkatan profesionalisme guru dalam pembelajaran. Permendiknas Nomor 16 Tahun

2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru mengamanatkan

bahwa kompetensi guru dikembangkan secara uuh dari empat kompetensi utama yaitu

kompetensi pedagogik, kompetensi professional, Kompetensi Sosial dan Kompetensi

Kepribadian.
Dalam kompetensi Profesional, guru dituntut untuk selalu mengembangkan

keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektf. Sebagai

tindakan nyata dalam meningkatkan keprofesionalan guru dapat dilakukan dengan : 1)

Melakukan refleksi terhadap kinerja sendiri secara terus menerus. 2) Memanfaatkan hasil

refleksi dalam rangka meningkatkan keprofesionalan. 3)Melakukan penelitian tindakan

kelas, dan 4) Mengikuti perkembangan jaman dengan belajar dari berbagai sumber

(Permendiknas Nomor : 16 Tahun 2007 : 21).


Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan

merupakan mata pelajaran yang dipeajari oleh siswa SMK bahkan perguruan tinggi.

Menurut Cornelus (dalam Alit : 2008:2) mengatakan bahwa ada banyak alasan tentang

perlunya siswa belajar Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan

Jaringan, yaitu melalui kegiatan penjelasan guru tentang aplikasi pengolah kata maka

pemberian tugas mengenali menu aplikasi pengolah kata diharapkan siswa terlibat secara

aktif dalam pembeljaran yang disertai dengan jobsheet yang telah diberikaan dan

menganalisis (questioning) serta mebuat kesimpulan mengenai aplikasi pengolah kata

sehingga siswa terbasa menemukan suatu konsep, teori aturan atau pemahaman mealui
contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya, saran mengembangkan kreatifitas

dan sarana untuk menigkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.


Mengingat begitu pentingnya pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik

Komputer dan Jaringan di sekolahseperti yng disebutkan diatas, diperlukan suatu metode

yang tepat dalam pembelejaran agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai sesuai dengan

yag diinginkan. Semestinya Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer

dan Jaringan merupakan salah satu pelajaran yang digemari oleh siswa terkait dengan

kegunannya.
Kenyataannya keluhan dan kekecewaan terhadap sikap dan hasil yang dicapai

siswa dalam pembelajaran Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan

Jaringan hingga kini masing sering diperbincangkan. Umunya siswa mengatakan

Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan merupakan

pelajaran yang sulit dan membosankan, tidak menarik dan bahkan penuh misteri. Ini

disebabkan karena mata pelajaran Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan

Jaringan dirasakan sukar, gersang dan tidak tampak kaitannya dengan kehidupan sehari-

hari (Mohamad Soleh dalam Alit, 2008:3). Kondisi ini juga sangat dirasakan di

lingkungan siswa SMK Negeri 1 Dompu. Pada umumnya siswa tidak senang belajar

Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan dengan berbagai

alasan, misalnya tidak akan melanjutkan ke perguruan tinggi, atau sika yang ditampilkan

siswa dalam pembelajaran Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan

Jaringan sekedar untuk mengikuti pelajaran agar memperoleh nilai semata-mata.


Setiap tahun jumlah siswa yang mendaftar di SMK Negeri 1 Dompu melampui

daya tampung. Tetapi siswa yang melamar di SMK Negeri 1 Dompu, bukanlah tergolong

siswa unggulan. Hal ini dapat dilihat dari perolehan Nilai Ujian Akhir Nasional (NUAN)

yang digunakan sebagai dasar Seleksi Penerimaan Siswa Baru relative rendah. Untuk

tahun pelajaran 2014-2015 nilai rata-rata NUAN yang diterima di SMK Negeri 1 Dompu

adalah 26,74 (sumber : data PSB SMK Negeri 1 Dompu tahun pelajaran 2014-2015).
Kondisi ini berpengaruh pada rendahnya semangat belajar siswa, munculnya kebiasaan

siswa pasif dalam pembelajaran, tidak kompetitif dalam pembelajaran dan

berkembangnya budaya malas belajar. Ha ini sangat berdampak pada rendahnya prestasi

belajar Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan siswa

kelas X-2 SMK Negeri 1 Dompu. Rendahnya prestasi belajar Pengelolaan Informasi

Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan siswa kelas X-2 SMK Negeri 1 Dompu

dapat dilihat dari perolehan nilai rata-rata yang dicapai pada ulangan harian pada pokok

bahasan sebelumnya yaitu pook bahasan Trigonometri hanya mencapai 67,85 dengan

ketuntasan 78,79 % (sumber: data hasil ulangan harian Pengelolaan Informasi Bidang

Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan semester 2 tahun pelajaran 2014-2015.


Hal lain yang juga diduga sebagai penyebab rendahnya prestasi belajar

Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan siswa kelas X

SMK Negeri 1 Dompu adalah kebiasan guru yang dominan mengajar menggunakan

metode ceramah, sehingga komunikasi yang terjadi hanya satu arah yaitu dari guru ke

siswa. Kebiasaan in muncul karena pada umumnya guru kurang yakin dengan

kemampuan yang dimiliki siswa untuk memecahkan permasalahan sendiri. Siswa kurang

diberikan kesempatan untuk merumuskan sendiri cara-cara pemecahan masalah yang

diajukan guru.
Apabila kondisi ini dibiarkan, akan menyebabkan rendahnya budaya belajar

seswa khususnya belajar Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan

Jaringan. Siswa akan menganggap pelajaran Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian

Teknik Komputer dan Jaringan merupakan pelajaran yang sulit dan tidak disukai. Lebih

jauh lagi akan berdampak oada rendahnya mutu lulusan, sehingga akan menjadi kendala

yang sangat signifikan dalam mengikuti ujian nasional (UN). Oleh karena itu perlu segera

dicarikan solusi sejak dini, agar permasalahn ini dapat diatasi. Guru harus berupaya

membangkitkan semangat belajar siswa untuk memecahkan sendiri permasalahannya,


serta menemukan upaya-upaya untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-

konsep Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.


Untuk mengatasi permasalahan diatas, pada penelitian ini akan

diimplementasikan etode pembelajaran Project Baset Learning. Dengan penerapan

metode pembelajaran Project Baset Learning, siswa akan diberikan kesempatan untuk

merumuskan sendiri langkah-langkah pemecahan masalah serta didorong untuk memuat

permasalahan sendiri yang serupa dengan permasalahan yang diajukan oleh guru untuk

diselesaikan sendiri. Hal itu dapat membangkitkan semangat belajar siswa,

menumbuhkan budaya inovasi siswa dalam pemecahan masalah serta menumbuhkan

budaya belajar di kalangan siswa, sehingga muara akhir yang ingin dicapai adalah

meningkatnya prestasi belajar Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer

dan Jaringan Siswa.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, dapata dirumuskan

permasalahan sebagai berikut :


Apakah Implementasi Metode Pembelajaran Project Baset Learning dapat meningkatkan

prestasi belajar Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan

dan ketentuan belajar siswa kelas X-2 SMK Negeri 1 Dompu semester 1 Tahun pelajaran

2014-2015?

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana

Implementasi metode pembelajaran Project Baset Learning dapat meningkatkan prestasi

belajar Pengelolaan Informasi Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan dan

ketuntasan belajar siswa kelas X-2 SMK Negeri 1 Dompu semester 1 Tahun pelajaran

2014-2015.

1.4 Manfaat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan untuk dapat memberikan manfaat kepada berbagai

pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan khusunya :


1.4.1 Bagi Siswa
a.) Meningkatkan inovasi siswa dalam pemecahan masalah Pengelolaan Informasi

Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan dan permasalahan dalah

kehidupan sehari-hari.
b.) Memberikan situasi baru dalam pembelajaran Pengelolaan Informasi Bidang

Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.


1.4.2 Bagi Guru
a.) Meningkatkan inovasi guru dalam pembeljaran
b.) Memperkaya wawasan guru tentang metode pembelajaran.
1.4.3 Bagi Sekolah
a.) Meningkatkan layanan sekolah dibidang pembelajaran di kelas
b.) Memotivasi guru untuk mengajar menggunakan multi metode
c.) Meningkatkan professional guru dalam mengelola kelas.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


Landasan teori merupakan pijakan berpikir teoritik untuk memperoleh jawaban

sementara yang selanjutnya akan diverifikasi melalui penelitian tindakan untuk

mendapatkan jawaban atas permasalahan yng diajukan. Berikut ini akan dikemukakan

beberapa landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.


2.1.1 Teori Perkembangan Fungsi Mental Vygotsky
Vygotsky berpendapat bahwa siswa membentuk pengetahuannya berdasarkan apa

yang diketahui siswa sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa sendiri, bukanlah

salinan (copy) dari apa yang mereka temukan dalam lingkungan. Dalam proses

pembentukan pengethuan, Vygotsky lebih menekankan pada pentingnya peranan

pembelajaran dan interaksi sosiaol pada perkembangan mengenali Menu dan

Pengetahuan lain (Howe & Jones dalam Widana I Wayan, 2008:25).


Konsep penting yang diberikan Vygotsky dalam pembelajaran adalah konsep

zone of proximal development (ZPD) dan scaffolding. Vygotsky yakin bahwa

pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum

dipelajari namun tugas-tugas itu berada dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-

tugas itu berada dalam zone of proximal development. ZPD adalah tingkat perkembangan
sedikit diatas tingkat perkembangan seseorang saat ini. Vygotsky lebih yakin bahwa

fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam kerjasama antar individu

sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap ke dalam individu sebelum fungsi

mental yang lebih tinggi terserap ke dalam individu tersebut (Slavin, 1995) konsep

scaffolding berarti memberikan kepada siswa sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap

awal pembelajaran kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan

kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah

ia dapat melakukannya (Slavin, 1995).


Ada dua impilkasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan (Howe & Jones dalam

Widana I Wayan, 2008:26). Pertama, adalah perlunya tatanan kelas dalam bentuk

pembelajaran kooporatif antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi di sekitar tugas-

tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang

efektif didalam masing-masing ZPD mereka. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam

pengajaran menekankan scaffoldin, dengan semakin lama siswa semakin bertanggung

jawab terhadapa pembelajaran sendii. Ringkasnya, menurut teori Vygotsk, siswa perlu

belajar dan bekerja secara berkelompok sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan

diperlukan banuan guru terhadap siswa dalam kegiatan pembelajaran.


2.1.2 Metode Pembelajaran Problem Posing
Project Based Learning
Project Based Learning merupakan sebuah model pembelajaran yang sudah banyak

dikembangkan di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Jika diterjemahkan

dalam bahasa Indonesia, Project Based Learning bermakna sebagai pembelajaran

berbasis proyek. Defines secara lebih komprehensif tentang Project Based Learning

menurut The George Lucas Educational Fundation (2005) adalah sebagai berikut :
a. Project Based Learning is curriculum fueles and standards based. Project Based

Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang menghendaki adanya standa

isi dalam kurikulumnya. Melalui Project Based Learning proses inquiry dimulai

dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding questin) dan membimbing


peserta didik dalam sebuha proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai

subjek (materi) dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung

peserta didik dapat melihat berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang

dikajinya (The George Lucas Educational Fundation: 2005)


b. Project Based Learning asks a question or poses a problem that each student can

answer. Project Based Learning adalah model pembelajaran yang menuntut

pengajar dan atau peserta didik mengembangkan pertanyaan penuntun (a guiding

question). Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar

yang berbeda, maka Project Based Learning memberikan kesempatan kepada para

peserta didik untu menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara

yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Hal

ini memungkinkan setiap peserta didik pada akhirnya mampu menjawab

pertanyaan penuntun (The George Lucas Educational Fundation: 2005).


c. Project-based learning asks students to investagate issues and topics addressing

real world problems while integrating subjects across the curriculum. Project

Based Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang menuntut peserta didik

membuat “jembatan” yang menghubungkan antar berbagai subjek materi. Melalui

jalan ini, peserta didik dapat melihat pengetahuan secara holistic. Lebih daripada

itu, Project Based Learning merupakan investigasi mendalam tentang sebuah

topic dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik (The

George Lucas Educational Fundation: 2005).


d. Project Based Learning is a method that fosters abstract, intellectual tasks to

explore complex issues. Project Based Learning merupakan pendekatan

pembelajaran yang memperhatikan pemahaman. Peserta didik melakukan

eksplorasi, penilaian, interprestasi dan mensintesis informasi melalui cara yang

bermakna. (The George Lucas Educational Fundation : 2005)


Global SchoolNet (2000) melaporkan hasil penelitian The Auto Desk Foundation

tentang karakteristik Project Based Learning. Hasil penelitian tersebut

menyebutkan bahwa Project Based Learning adalah pendekatan pembelajaran

yang memiliki karakteristik sebagai berikut :


a. Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja
b. Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik.
c. Peserta didik mendesain proses untukmenentukan solusi atas permasalahan

atau tantangan yang diajukan


d. Peserta didik secara kolaboratif bertanggung jawab untuk mengakses dan

mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan.


e. Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu
f. Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atau aktivitas yang sudah

dijalankan

Gambar

g. Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif


h. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan

(Global SchoolNet, 2000)


Pembelajaran pendapat-pendapat tersebut, maka dapat dikatakan bahwa

pendekatan Project Based Learning dikembangkan berdasarkan faham filsafat

konstruktivisme dalam pembelejaran. Konstruktivisme mengembangkan atmosfer

pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk menyusun sendiri

pengetahuannya (Bell, 1995 : 28). Project Based Learning merupakan pendekatan

pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk

merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secara kolaboratif, dan pad

akhirnya menghasilkan produk kerja yang dapat dpresentasikan kepada orang lain.
Perbedaan situasi kelas konvensional dan kelas Project Based Learning

ditunjukan pada gambar 2


Kelas “Konvensional” Kelas “Project Based Leraning”

Gambar 2

Gambar 2 Perbandingan Kelas Konvensional” dan Project Based Learning


(Global SchoolNet, 2000).
Pada pendekatan Project Based Learning Pengajar berperan sebagai fasilitator

bagi peserta didik untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan penuntun.

Sedangkan pada kelas “konvensional” pengajar dianggap seseorang yang paling

menguasai materi dan karenanya semua informasi diberikan secara langsung

kepada peserta didik. Pada kelas Project Based Learning peserta didik dibiasakan

bekerja secara kolaboratif, penilaian dilakukan secara autentik, dan sumber belajar

bisa sangat berkembang. Hal ini berbeda dengan kelas “konvensional” yang

terbiasa dengan situasi kelas individual, penlaian lebih dominan pada aspek hasil

daripada proses, dan sumber belajar cenderung stagnan.


Langkah-langkah pembelajaran dalam Project Based Learning sebagaimana yang

dikembangkan oleh The George Lucas Educational Fundation (2005) terdiri dari :
a. Start With The Essential Question
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang

dapat member penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas.

Mengambil topic yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan

sebuah investigasi yang mendalam. Pengajar berusaha agar topic yang

diangkat relefan untuk para peserta didik (The George Lucas Educational

Fundation : 2005).
b. Design a Plan for The Project
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik.

Dengan demikian peserta didik diharapkan akan mearsa “memiliki” atas

proyek terbut. Perencanaan berisi tentang aturan mai, pemilihan aktivitas yang

dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara

mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan

bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek (The George

Lucas Educational Fundation : 2005).


c. Create a Schedule
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam

menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain :


Membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline

penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara

yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang

tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk

membuat penjelasan (asalan) tentang pemilihan suatu cara (The George Lucas

Educational Fundation : 2005).


d. Monitor The Students and The Progress of the Project
Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas

peserta didik selama menyelsaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara

memfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain pengajar

berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah

proses monitoring, dibuat sebuah rubric yang dapat merekam keseluruhan

aktivitas yang penting (The George Lucas Educational Fundation : 2005).


e. Assess the Outcome
Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian

standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik,

memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta

didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya

(The George Lucas Educational Fundation : 2005).


f. Evaluate the Experience
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi

terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi

dilakukan baik secara maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta

untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan

proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka

memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akirnya

ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan


yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran (The George Lucas

Educational Fundation : 2005).


Heide Spruck Wrigley (1998) dalam sebuah risetnya menyimpulkan bahwa :

We all await research that can capture the many dimensions of learning that

project-based learning addresse : gaining meaning from reading authentic

materials; writing for an audience; communicating with others outside of te

classroom; working as part of a team, and givingvoice to one’s opinions and

ideas, using literacy toaffect change. In the meantime, we may have to take the

project-based learning on faith and see it as a promising approach that are

acts much of what we know about the way adults learn.


Penerapan Project Based Learning telah menunjukan bahwa pendekatan

tersebut sanggup membuat peserta didik mengalami proses pembelajaran yang

bermakna, yaitu pembelajaran yang dikembngkan berdasarkan faham

konstruktivisme. Peserta didik diberi kesempatan untuk menggali sendiri

informasi memalui membaca berbagai buku secara langsung., membuat

presentasi untuk orang lain., mengkomunikasikan kepada orang lain, bekerj

dalam kelompok, memberikan usul atau gagasannya untuk orang lain dan

berbagai aktivita lainnya. Usul atau gagasannya untuk orang lain dan berbagai

aktivitas lainnya. Semuanya menggambarkan tentang bagaiman semestinya

orang dewasa belajar agar lbih bermakna.


Diana Curtis (2005) menyatakan bahwa : “enthusiasm alone isn’t enough of a

justification to advocate project-based learning, but the results of that

enthusiasm argue in its favor.


Neumont Univesity (2006) melaporkan hail riset yang dilakukan oleh

National Training Laboratory tentang model pembelajaran yang melibatkan

mahasiswa untuk saling berperan aktif dalam proses pembelajaran sebagaiman

yang dikembangkan dalam Project Based Learning sebagai berikut : research


shows that we retain significantly more of what we learn bydoing or from

teaching others than we retain when we learn from lectures or fro reading

(Gambar 3).

Gambar 3 Rata-rata daya serap peserta didik


Itulah beberapa penelitian yang dilakukan oleh para praktii pendidikan yang

menggambarkan bagaimana pendekatan Project Based Learnig) dapat

digunakan sebagai alternative pemecahan masalah dalam rangka peningkatan

pendidikan.
2.1.3 Hakikat Prestasi Belajar Mengenali Menu dan Ketuntasan Belajar
Salah satu indicator keberhasilan dalam mengikuti pembeljaran adalah

mencapai prestasi yang tinggi. Bila seseorang mencapai prestasi yang baik maka

secara umum dia dikatakan telah sukses dalam pembelajaran. Kegiatan belajar

disekolah, menurut Biggs dan Telfer dalam (Budi Adnyana, 2004 : 45) dapat

dibedakan menjadi empat hal berkenaan dengan (a) belajar kognitif dan Psikometer

seperti pengetahuan, (b) belajar efektif seperti belajar tentang perasaan, nilai-nilai dan

emosi, (c) belajar yang berkenaan dengan isi ajaran yang ditentukan dalam silabus,

dan (d) belajar yang berkenaan dengan proses, seperti bagaimana suatu hal dapat

diperoleh. Keempat kegiatan belajar tersebut dapat digolongkan menjadi tujuan yang

akan dicapai dan ranah yang akan dikembangkan.


Woodworth dan Marquis (1962 : 58) mengemukakan bahwa prestasi belajar

merupakan kemampuan actual yang dapat ditukar secara langsung dengan tes. Bloom

(1971 : 7) mengungkapkan, prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku

yang meliputi ranah kognitif dan Psikomotior, efektif dan Psikomotor. Menurut

Bloom sebagaimana dikutip oleh Sudjana (1995), menguraikan bahwa ranah kogitif
dan Psikomotor terdiri dari : Pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan

evaluasi. Pengetahuan dan pemahaman merupakan ranah kognitif dan Psikomotor

tingkat rendah, sedangkan aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi merupakan ranah

kogitif dan Psikomotor tingkat tinggi.


Prestasi belajar adalah penguasan seseorang terhadap pengetahuan atau

keterampilan tertentu dalam suatu mata pelajaran, yang lazimnya diperoleh dari nilai

tes atau angka yang diberikan guru. Menurut Nasution (2001 : 439) prestasi belajar

dapat dilihat dari nili transkrip yaitu nilai raport, karena nilai raport merupakan

perumusan terakhir dari upaya yang dilakukan guru dalam pemberian hasil belajar

terhadap peserta didik.


Masrun dan Martinah (1973) mengemukakan bahwa prestasi belajar

merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan

pelajaran yang diajarkan. Menurut Suryabrata (1984), prestasi belajar adalah tingkat

kemampuan peserta didik menguasai materi pelajaran yang diajarkan kepadanya. Dari

kedua pendapat tersebut, prestasi belajar merupakan ukuran sejauh mana menguasai

bahan pelajaran yang telah diajarkan.


Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah

menggunakan acuan criteria, yakni menggunakan criteria tertentu dalam menentukan

kelulusan peserta didik. Criteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik

mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM harus

ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta

didik ang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keputusan pendidik

dalam menyatakan lulus/tuntas dan tidak lulus/tidak tuntas pembelajaran. Acuan

criteria tidak diubah secara serta merta karena hasil empiric penilaian (Panduan

Penetapan KKM, Dit.PASM, 2009 : 3)


KKM diterapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru

mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki
karakteristik yang hamper sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara

akademis menjadi pertibangan utama penetapan KKM. KKM menunjukkan persentasi

tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100

(seratus). Angka maksimal 100 merupakan criteria ketuntasan ideal.


KKM merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap

mata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin untuk

melampaui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan salah

satu tolok ukur kinerja satuan pendidikan dalam menyeleggarakan program

pendidikan. Satuan pendidikan dengan KKM yang tinggi dan dilaksanakan secara

bertanggung jawab dapat menjadi tolok ukur kualitas utu penidikan bagi masyarakat.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, yang dimaksud dengan prestasi belajar.

Mengenali menu dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan kognitif dan

Psikomotor siswa terhadap materi pelaran Mengenali Menu setelah mengalami proses

pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Prestasi yang dimaksud berupa nilai

dalam bentuk angka yang diperoleh setelah siswa mengikuti serangkaian tes.
Prestasi yag telah dicapai tersebut selanjutnya akan dibandingkan dengan nilai

KKM yang telah ditetapkan. Bagi peserta didik yang telah mencapai KKM

dinayatakan tuntas, sedangkan bagi peserta didik yang belum mencapai KKM

dinyatakan belum tuntas yang selanjutnya akan diberikan nilai remedial. Siswa yang

telah tuntas diberikan ateri pengayaan.


Ketuntasan belajar klasikal merupakan persentase siswa suatu kelas yang telah

tuntas (mencapai nilai KKM atau lebih) mengikuti pembelajaran. Semakin tinggi

presentase ketentuan belajar yang dapat dicapai, menunjukan semakin tinggi

kualitas/mutu pembeajaran yang telah dicapai. Presentase ketuntasan belajar ideal

adalah 100%. Satuan pendidikan hendaknya berusaha meningkatkan presentase

ketuntasan belajar siswa sehingga mendekati ketuntasan belajar ideal.


2.2 Hasil Penelitian Yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan yang akan dikemukakan berikut ini merupakan

landasan untuk mendapatkan kerangka berpikir secara empiric yaitu berupa hasil-hasil

penelitian yang relevan dengan penelitian ini.


Pada penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Usmanto di SMP Negeri 2

Paterukan Kabupaten Pemalang tahun 2007 mendapatkan hasil bahwa Implemntasi

Metode Project Based Learning pada pokok bahasa Mengenali Menu Wrta Tombol

Shorcut perangkat lunak pengolah kata dapat menigkatkan

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Setting dan Jadwal Penelitian


3.2. Subjek Penelitian
3.3. Objek Penelitian
3.4. Prosedur Penelitian
3.4.1 Refleksi Awal
3.4.2 Siklus 1
3.4.3 Siklus II
3.5. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
3.6. Teknik Analisis Data dan Kriteria Keberhasilan
3.7.