Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seluruh aktivitas didalam tubuh manusia diatur oleh sistem saraf. Dengan kata
lain, sistem saraf berperan dalam pengontrolan tubuh manusia. Denyut jantung,
pernafasan, pencernaan, dan urinaria dikontrol oleh sistem saraf. Sistem saraf juga
mengatur aliran darah, dan konsentrasi osmotik darah. Sistem koordinasi merupakan
suatu sistem yang mengatur kerja semua sistem organ agar dapat bekerja secara serasi.
Sistem koordinasi itu bekerja untuk menerima rangsangan, mengolahnya dan kemudian
meneruskannya untuk menaggapi rangsangan. Setiap rangsangan-rangsangan yang kita
terima melalui indera kita, akan diolah di otak. Kemudian otak akan meneruskan
rangsangan tersebut ke organ yang bersangkutan.
Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis yang utama. Pada dasarnya
epilepsi merupakan suatu penyakit Susunan Saraf Pusat (SSP) yang timbul akibat
adanya ketidak seimbangan polarisasi listrik di otak. Ketidak seimbangan polarisasi
listrik tersebut terjadi akibat adanya fokus-fokus iritatif pada neuron sehingga
menimbulkan letupan muatan listrik spontan yang berlebihan dari sebagian atau seluruh
daerah yang ada di dalam otak. Epilepsi sering dihubungkan dengan disabilitas fisik,
disabilitas mental, dan konsekuensi psikososial yang berat bagi penyandangnya
(pendidikan yang rendah, pengangguran yang tinggi, stigma sosial, rasa rendah diri,
kecenderungan tidak menikah bagi penyandangnya).
Sebagian besar kasus epilepsi dimulai pada masa anak-anak. Pada tahun 2000,
diperkirakan penyandang epilepsi di seluruh dunia berjumlah 50 juta orang, 37 juta
orang di antaranya adalah epilepsi primer, dan 80% tinggal di negara berkembang.
Laporan WHO (2001) memperkirakan bahwa rata-rata terdapat 8,2 orang penyandang
epilepsi aktif di antara 1000 orang penduduk, dengan angka insidensi 50 per 100.000
penduduk. Angka prevalensi dan insidensi diperkirakan lebih tinggi di negara-negara
berkembang.
Epilepsi dihubungkan dengan angka cedera yang tinggi, angka kematian yang tinggi,
stigma sosial yang buruk, ketakutan, kecemasan, gangguan kognitif, dan gangguan

1
psikiatrik. Pada penyandang usia anak-anak dan remaja, permasalahan yang terkait
dengan epilepsi menjadi lebih kompleks.
Penyandang epilepsi pada masa anak dan remaja dihadapkan pada masalah
keterbatasan interaksi sosial dan kesulitan dalam mengikuti pendidikan formal. Mereka
memiliki risiko lebih besar terhadap terjadinya kecelakaan dan kematian yang
berhubungan dengan epilepsi. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana dampak
epilepsi terhadap berbagai aspek kehidupan penyandangnya. Masalah yang muncul
adalah bagaimana hal tersebut bisa muncul, bagaimana manifestasinya dan bagaimana
penanganan yang dapat dilakukan untuk kasus ini masih memerlukan kajian yang lebih
mendalam.
Penanganan terhadap penyakit ini bukan saja menyangkut penanganan medikamentosa
dan perawatan belaka, namun yang lebih penting adalah bagaimana meminimalisasikan
dampak yang muncul akibat penyakit ini bagi penderita dan keluarga maupun merubah
stigma masyarakat tentang penderita epilepsi. Pemahaman epilepsi secara menyeluruh
sangat diperlukan oleh seorang perawat sehingga nantinya dapat ditegakkan asuhan
keperawatan yang tepat bagi klien dengan epilepsi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu disfungsi neurologis ?
2. Apa saja penyakit akibat disfungsi neurologis ?
3. Bagaimana asuhan keperawatan pada penderita epilepsi ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu disfungsi neurologis.
2. Untuk mengetahui apa saja penyakit akibat disfungsi neuroligis.
3. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada penderita epilepsi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Disfungsi Neurologi
Neurologi adalah sebuah spesialisasi di bidang kedokteran yang memiliki fokus
pada otak dan sistem saraf. Dokter yang memiliki spesialisasi pada diagnosis dan
pengobatan dari gangguan otak dan sistem saraf dikenal sebagai neurologis.
Gangguan neurologi sangat beragam bentuknya, banyak dari pasien yang
menderita gangguan memori dan tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara
normal. Penyakit-penyakit neurologi kebanyakan memiliki efek melemahkan
kehidupan pasien, sehingga memberikan pengobatan neurologis sangat penting bagi
kehidupan pasien.
Gangguan neurologis adalah gangguan pada sistem saraf . Kelainan struktural,
biokimia , atau kelistrikan di otak , sumsum tulang belakang, atau saraf lain dapat
menyebabkan berbagai gejala . Contoh gejala termasuk kelumpuhan , kelemahan otot ,
koordinasi yang buruk, kehilangan sensasi , kejang , kebingungan , nyeri dan tingkat
kesadaran yang berubah . Ada banyak gangguan neurologis yang diakui , beberapa
relatif umum, tetapi banyak yang jarang. Mereka dapat dinilai dengan pemeriksaan
neurologis , dan dipelajari dan diobati dalam spesialisasi neurologi dan neuropsikologi
klinis .
Penyebab spesifik masalah neurologis bervariasi, tetapi dapat mencakup
kelainan genetik , kelainan atau kelainan bawaan , infeksi , gaya hidup atau masalah
kesehatan lingkungan termasuk kekurangan gizi , dan cedera otak , cedera saraf tulang
belakang , cedera saraf , dan sensitivitas gluten (dengan atau tanpa kerusakan usus atau
pencernaan).
Banyak penyakit dan gangguan yang tercantum di atas memiliki perawatan
bedah saraf yang tersedia (misalnya Sindrom Tourette , penyakit Parkinson , tremor
esensial dan gangguan kompulsif obsesif ).
1. Delirium dan demensia seperti penyakit Alzheimer
2. Epilepsi
3. Pusing dan vertigo
4. Stupor dan koma

3
5. Cedera kepala
6. Stroke (CVA, serangan serebrovaskular )
7. Tumor sistem saraf (mis. Kanker )
8. Multiple sclerosis dan penyakit demielinasi lainnya
9. Infeksi otak atau sumsum tulang belakang (termasuk meningitis )
10. Penyakit prion (sejenis agen infeksi)
11. Sindrom nyeri regional kompleks (kondisi nyeri kronis)

B. Epilepsi

1. Pengertian
Epilepsi adalah suatu gangguan fungsional kronik dan banyak jenisnya dan
ditandai oleh serangan yang berulang (Price A. Sylvia, 2005).
Epilepsi adalah gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi tepat otak yang
di karakteristik oleh kejang berulang – ulang, keadaan ini dapat dihubungkan dengan
kehilangan kesadaran, gerakan berlebihan atau hilangnya tonus otot atau gerakan dan
gangguan berlaku, alam perasaan, sensasi, persepsi, sehingga epilepsi bukan suatu
penyakit tetapi gejala. (Brunner & Suddarth, 2001).
Epilepsi merupakan penyakit tertua di dunia (2000 th SM) (Petrus Tjahyadi
dikutif dari Harsono,Ed : 1996). Di Indonesia kasus epilepsi secara pasti tidak diketahui
karena tidak ada data epidemiologi, namum hingga saat ini diperkirakan ada 900.000
sampai 1.800.000 kasus (Petrus Tjahyadi dikutif dari Harsono,ED : 1996).Penyakit
epilepsi selain merupakan masalah kesehatan yang sangat rumit juga merupakan suatu
penyakit yang menimbulkan dampak / stigma sosial yang sangat berat bagi penderita
dan keluarganya. Adanya pemahaman yang salah tentang penyakit epilepsi yang
dipandang sebagai penyakit kutukan merupakan suatu hal yang menyebabkab sulitnya
mendeteksi jumlah kasus ini di masyarakat karena biasanya keluarga sering
menyembunyikan keluarganya yang menderita penyakit ini.
Penanganan terhadap penyakit ini bukan saja menyangkut penanganan
medikamentosa dan perawatan belaka, namun yang lebih penting adalah bagaimana
meminimalisasikan dampak yang muncul akibat penyakit ini bagi penderita dan
keluarga maupun merubah stigma masyarakat tentang penderita epilepsi.
Pada dasarnya epilepsi merupakan suatu penyakit Susunan Saraf Pusat (SSP)
yang timbul akibat adanya ketidak seimbangan polarisasi listrik di otak. Ketidak

4
seimbangan polarisasi listrik tersebut terjadi akibat adanya fokus-fokus iritatif pada
neuron sehingga menimbulkan letupan muatan listrik spontan yang berlebihan dari
sebagian atau seluruh daerah yang ada di dalam otak.
Masalah yang muncul adalah bagaimana hal tersebut bisa muncul, bagaimana
manifestasinya an bagaimana penanganan yang dapat dilakukan untuk kasus ini masih
memerlukan kajian yang lebih mendalam.

2. Etiologi
Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (idiopatik), sering
terjadi pada:

1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum

2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf

3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol

4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)

5. Tumor Otak

6. Kelainan pembuluh darah (Tarwoto, 2007).

Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab utama,


ialah epilepsi idopatik, remote simtomatik epilepsi (RSE), epilepsi simtomatik akut,
dan epilepsi pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan otak pada saat peri- atau
antenatal. Dalam klasifikasi tersebut ada dua jenis epilepsi menonjol, ialah epilepsi
idiopatik dan RSE. Dari kedua tersebut terdapat banyak etiologi dan sindrom yang
berbeda, masing-masing dengan prognosis yang baik dan yang buruk.

Dipandang dari kemungkinan terjadinya bangkitan ulang pasca-awitan, definisi


neurologik dalam kaitannya dengan umur saat awitan mempunyai nilai prediksi
sebagai berikut:

Apabila pada saat lahir telah terjadi defisit neurologik maka dalam waktu 12 bulan
pertama seluruh kasus akan mengalami bangkitan ulang, Apabila defisit neurologik
terjadi pada saat pascalahir maka resiko terjadinya bangkitan ulang adalah 75% pada
12 bulan pertama dan 85% dalam 36 bulan pertama. Kecuali itu, bangkitan pertama
yang terjadi pada saat terkena gangguan otak akut akan mempunyai resiko 40%

5
dalam 12 bulan pertama dan 36 bulan pertama untuk terjadinya bangkitan ulang.
Secara keseluruhan resiko untuk terjadinya bangkitan ulang tidak konstan. Sebagian
besar kasus menunjukan bangkitan ulang dalam waktu 6 bulan pertama.

Tabel 01. Penyebab- penyebab kejang pada epilepsi

Bayi (0- 2 th) Hipoksia dan iskemia paranatal

Cedera lahir intrakranial

Infeksi akut

Gangguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia,


hipomagnesmia, defisiensi piridoksin)

Malformasi kongenital

Gangguan genetic

Anak (2- 12 th) Idiopatik

Infeksi akut

Trauma

Kejang demam

Remaja (12- 18 th) Idiopatik

Trauma

Gejala putus obat dan alcohol

Malformasi anteriovena

Dewasa Muda (18- 35 th) Trauma

Alkoholisme

6
Tumor otak

Dewasa lanjut (> 35) Tumor otak

Penyakit serebrovaskular

Gangguan metabolik (uremia, gagal hepatik, dll )

Alkoholisme

Perubahan bisa terjadi pada awal saat otak janin mulai berkembang, yakni pada
bulan pertama dan kedua kehamilan. Dapat pula diakibatkan adanya gangguan pada
ibu hamil muda seperti infeksi, demam tinggi, kurang gizi (malnutrisi) yang bisa
menimbulkan bekas berupa kerentanan untuk terjadinya kejang. Proses persalinan
yang sulit, persalinan kurang bulan atau telat bulan (serotinus) mengakibatkan otak
janin sempat mengalami kekurangan zat asam dan ini berpotensi menjadi ''embrio''
epilepsi. Bahkan bayi yang tidak segera menangis saat lahir atau adanya gangguan
pada otak seperti infeksi/radang otak dan selaput otak, cedera karena benturan
fisik/trauma serta adanya tumor otak atau kelainan pembuluh darah otak juga
memberikan kontribusi terjadinya epilepsi.

3. Deskripsi Penyakit
Epilepsi terjadi akibat adanya kerusakan membran pada sel glia otak. Sel glia
merupakan bagian dari sel otak yang multi fungsi. Salah satu fungsi penting dari sel
glia bila dikaitkan dengan penyakit epilepsi ini adalah fungsi sel glia sebagai pensuplai
nutrisi dan reservoar dari elektrolit seperti ion K, Ca dan Na. Ketidak seimbangan pada
sel ini akan menyebabkan permasalahan pada sel syaraf. Proses epileptogenik akan
terjadi bila ada pelepasan muatan paroksiman karena mekanisme intrinsik dari
membran neuron yang menjaga kestabilan ambang lepas muatan terganggu sehingga
bisa terjadi depolarisasi secara terus menerus yang selanjutnya menyebabkan timbulnya
letupan potensial aksi (paroksismal depolarisasi shif).
Penyebab dan proses secara jelas terjadinya epileptogenik hingga saat ini belum
begitu jelas. Namun sebagian besar dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti adanya
trauma kelahiran, infeksi, gangguan sirkulasi, gangguan metabolisme, tumor otak,
trauma kepala dan penyakit-penyakit saat kehamilan (epilepsi simtomatis). Namun
beberapa jenis epilepsi tidak diketahui dengan jelas penyebabnya dan diduga karena
faktor genetik (epilepsi idiopatik).

7
Jika terjadi suatu gangguan polarisasi listrik pada otak akan menyebabkan efek
terhadap aktivitas dari saraf secara spontan yang dimanifestasikan dengan adanya
gerakan-gerakan yang abnormal pada organ-organ tubuh penderita. Keadaan ini dapat
menyebabkan penurunan kontrol dan kesadaran sehingga dapat menimbulkan dampak
berupa kemungkinan trauma / cedera fisik bagi penderita yang sedang mengalami
serangan.
Berdasarkan hasil EEG dan gejala yang ditemukan, epilepsi dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yaitu : (Kariasa,Md, FIK UI, 1997)
1. Kejang umum :
Kejang yang menunjukkan sinkronisasi keterlibatan semua bagian otak pada
kedua hemisfer. Otak teraktivasi secara bersama tanpa awitan fokal,
sinkron, tanpa didahului oleh prodormal dan aura. Yangdigolongkan dalam
jenis ini adalah petit mall, grand mall, mioklonik dan atonik.
a. Petit mall : muncul setelah usia 4 tahun, pasien kehilangan kesadaran
sesaat seperti bengong tanpa disertai gerakan involunter yang aneh. Bila hal
ini berlangsung terus dapat berakibat buruk pada alur belajar terutama anak-
anak yang sedang belajar. Anak akan menjadi malu sehingga anak akan
mengalami gangguan dalam prestasi belajar.
b. Grand mall / kejang tonik-klonik : yakni adanya serangan kejang ekstensi
tonik-klonik bilateral ekstremitas. Kadang disertai dengan adanya
inkontinensia urine atau feces, menggigit lidah, mulut berbusa dan
kehilangan kesadaran yang mendadak yang diikuti gejala-gejala post iktal
seperti nyeri otot, lemah dan letih, bingung serta tidur dalam waktu
2. Kejang parsial
Kejang yang didahului dengan adanya awitan fokal yang melibatkan satu
bagian tertentu dari otak.
a. Kejang parsial sederhana : sering disebut epilepsi Jakson, dimana pada
kelompok ini akan terjadi kejang secara involunter yang bersifat unilateral
tanpa diikuti oleh adanya perburukan.
b. Kejang parsial kompleks : sering disebut dengan kejang lobus temporal,
psikomotor atau otomatisme yang fokalnya sering berpusat pada lobus
temporalis. Sering pada kejang parsial sering diikuti oleh gangguan
kesadaran semacam gangguan proses pikir. Gejala dapat berupa halusinasi,

8
mual dan berkeringat sebagai prodormal. Pasien yang sedang mengalami
serangan ini sering menunjukkan perilaku bersifat agitatif dan kombatif.
Bila dikaitkan dengan kelompok usia yang terpapar, epilepsi dapat
digolongkan menjadi beberapa jenis (Harsono.ED.1996) :
1) Kelompok Usia 0 – 6 bulan
a. Kelainan intra uterin, yang menyebabkan gangguan migrasi dan
diferensiasi sel neuron. Hal ini juga bisa dipengaruhi oleh infeksi intra
uterin.
b. Kelainan selama kehamilan misal asfeksia, dan perdarahan intra
uterin yang didahului oleh kelainan maternal seperti : hipotensi, eklamsia,
disproporsi sefalopelvik, kelainan plasenta, tali pusat menumbung atau
belitan tali pusat pada leher.
c. Kelainan kongenital seperti kromosom abnormal, radiasi obat
teratogenik, infeksi intra partum oleh toksoplasma, sitomegalo virus, rubela
dan treponema.
d. Gangguan metabolik seperti hipoglikemi, hipokalsemi, hiponatremia,
dan defisiensi piridoksin.
e. Infeksi Susunan Saraf Pusat seperti meningitis, ensefalitis, dan
hidrosefalus pasca infeksi.
2) Kelompok 6 bulan – 3 tahun

Selain oleh penyebab yang sama dari kelompok di atas pada umur
ini dapatjuga disebabkan oleh adanya kejang demam yang biasanya dimulai
pada umur 6 bulan. Faktor lain yang mempengaruhi adalah adanya cedera
kepala.

3) Kelompok anak-anak sampai remaja

Dapat disebabkan oleh Infeksi virus, bakteri, parasit dan abses otak yang
frekuensinya meningkat sampai 23%, setelah tindakan operasi.

4) Kelompok usia muda

Tersering karena cedera kepala, tumor otak dan infeksi.

5) Kelompok usia lanjut

9
Karena gangguan pembuluh darah otak, diikuti oleh trauma dan
degenerasi cerebral.

Jika terjadi serentetan serangan epilepsi jenis grand mall tanpa


diselingi dengan pemulihan status neurologi disebut dengan status
epileptikus. Yang dijadikan patokan adalah kejang secara klinis atau
pada EEG tampak adanya gambaran eksitasi abnormal selama 30 menit
atau lebih. Hal ini akan berbahaya jika diikuti oleh adanya hipoksia
jaringan otak, gagal pernafasan, hipertensi, peningkatan tekanan intra
kranial. Keadaan ini membutuhkan perawatan yang intensif. Penurunan
kesadaran dapat berakibat terjadinya ancaman berupa sumbatan jalan
nafas. Kejadian yang terjadi secara terus menerus dapat menimbulkan
dampak yang sangat buruk terhadap perkembangan psiko-sosial dari
klien maupun keluarganya, berupa rasa malu, harga diri yang rendah
serta penurunan terhadap gambaran diri. Hal ini akan menyebabkan efek
samping pada penurunan prestasi belajar terutama bagi penderita yang
masih dalam masa belajar.

4. Patofisiologi
Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus
merupakan pusat pengirim pesan (impuls motorik). Otak ialah rangkaian berjuta-juta
neuron. Pada hakekatnya tugas neuron ialah menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik
saraf yang berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps. Dalam sinaps terdapat
zat yang dinamakan neurotransmiter. Asetilkolin dan norepinerprine ialah
neurotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni GABA (gama-amino-butiric-acid)
bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas listrik sarafi dalam sinaps. Bangkitan
epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik di otak yang dinamakan fokus
epileptogen. Dari fokus ini aktivitas listrik akan menyebar melalui sinaps dan dendrit
ke neron-neron di sekitarnya dan demikian seterusnya sehingga seluruh belahan
hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadaan
demikian akan terlihat kejang yang mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar ke
bagian tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran.
Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat merangsang
substansia retikularis dan inti pada talamus yang selanjutnya akan menyebarkan

10
impuls-impuls ke belahan otak yang lain dan dengan demikian akan terlihat manifestasi
kejang umum yang disertai penurunan kesadaran.
Selain itu, epilepsi juga disebabkan oleh instabilitas membran sel saraf,
sehingga sel lebih mudah mengalami pengaktifan. Hal ini terjadi karena adanya influx
natrium ke intraseluler. Jika natrium yang seharusnya banyak di luar membrane sel itu
masuk ke dalam membran sel sehingga menyebabkan ketidakseimbangan ion yang
mengubah keseimbangan asam-basa atau elektrolit, yang mengganggu homeostatis
kimiawi neuron sehingga terjadi kelainan depolarisasi neuron. Gangguan
keseimbangan ini menyebabkan peningkatan berlebihan neurotransmitter aksitatorik
atau deplesi neurotransmitter inhibitorik.
Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksismal yang berlebihan dari sebuah
fokus kejang atau dari jaringan normal yang terganggu akibat suatu keadaan patologik.
Aktivitas kejang sebagian bergantung pada lokasi muatan yang berlebihan tersebut.
Lesi di otak tengah, talamus, dan korteks serebrum kemungkinan besar bersifat
apileptogenik, sedangkan lesi di serebrum dan batang otak umumnya tidak memicu
kejang. Di tingkat membran sel, sel fokus kejang memperlihatkan beberapa fenomena
biokimiawi, termasuk yang

1. Instabilitas membran sel saraf, sehingga sel lebih mudah mengalami pengaktifan.

2. Neuron-neuron hipersensitif dengan ambang untuk melepaskan muatan menurun


dan apabila terpicu akan melepaskan muatan menurun secara berlebihan.

3. Kelainan polarisasi (polarisasi berlebihan, hipopolarisasi, atau selang waktu


dalam repolarisasi) yang disebabkan oleh kelebihan asetilkolin atau defisiensi
asam gama-aminobutirat (GABA).

4. Ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam-basa atau


elektrolit, yang mengganggu homeostatis kimiawi neuron sehingga terjadi
kelainan depolarisasi neuron. Gangguan keseimbangan ini menyebabkan
peningkatan berlebihan neurotransmitter aksitatorik atau deplesi
neurotransmitter inhibitorik.

Perubahan-perubahan metabolik yang terjadi selama dan segera setelah kejang


sebagian disebabkan oleh meningkatkannya kebutuhan energi akibat
hiperaktivitas neuron. Selama kejang, kebutuhan metabolik secara drastis
meningkat, lepas muatan listrik sel-sel saraf motorik dapat meningkat menjadi

11
1000 per detik. Aliran darah otak meningkat, demikian juga respirasi dan glikolisis
jaringan. Asetilkolin muncul di cairan serebrospinalis (CSS) selama dan setelah
kejang. Asam glutamat mungkin mengalami deplesi (proses berkurangnya cairan
atau darah dalam tubuh terutama karena pendarahan; kondisi yang diakibatkan
oleh kehilangan cairan tubuh berlebihan) selama aktivitas kejang.

Secara umum, tidak dijumpai kelainan yang nyata pada autopsi. Bukti
histopatologik menunjang hipotesis bahwa lesi lebih bersifat neurokimiawi bukan
struktural. Belum ada faktor patologik yang secara konsisten ditemukan. Kelainan
fokal pada metabolisme kalium dan asetilkolin dijumpai di antara kejang. Fokus
kejang tampaknya sangat peka terhadap asetikolin, suatu neurotransmitter
fasilitatorik, fokus-fokus tersebut lambat mengikat dan menyingkirkan asetilkolin.

5. Fathway

KERUSAKAN JARINGAN

JARINGAN OTAK RUSAK / GANGGUAN METABOLISME

PENURUNAN FUNGSI RESERVOIR SEL GLIA

ION KALIUM TIDAK MENDAPATKAN TEMPAT

YANG TEPAT SAAT PEMBENTUKAN IMPULS

ION K TERKUMPUL PADA KRISIS MUATAN

DINDING NEURON LISTRIK

12

AKTIVITAS SARAF SPONTAN TAK TERKONTROL

6. Pemeriksaan Diagnostik

1. CT Scan dan Magnetik resonance imaging (MRI) untuk mendeteksi lesi pada
otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan degeneratif
serebral. Epilepsi simtomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang
tampak jelas pada CT scan atau magnetic resonance imaging (MRI) maupun
kerusakan otak yang tak jelas tetapi dilatarbelakangi oleh masalah antenatal
atau perinatal dengan defisit neurologik yang jelas.

2. (EEG) untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan

3. Kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.

 mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah

 menilai fungsi hati dan ginjal

 menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat menunjukkan


adanya infeksi).

 Pungsi lumbal utnuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi otak

7. Pengkajian
Pengkajian dilakukan secara komprehensif dengan berbagai metode pengkajian
seperti anamnesa, observasi, pengukuran, dokumentasi dan pemeriksaan fisik.
Metode pengkajian yang digunakan untuk mengoptimalkan hasil yang diperoleh
meliputi beberapa cara diantaranya head to toe, teknik persistem, maupun
berdasarkan atas kebutuhan dasar manusia.
1. Identitas klien dan penanggungjawab
Pengkajian yang dilakukan meliputi identitas klien dan
penanggungjawabnya.
2. Keluhan Utama
Untuk keluhan utama, pasien atau keluarga biasanya ketempat pelayanan
kesehatan karena klien yang mengalami penurunan kesadaran secara tiba-

13
tiba disertai mulut berbuih. Kadang-kadang klien / keluarga mengeluh
anaknya prestasinya tidak baik dan sering tidak mencatat. Klien atau
keluarga mengeluh anaknya atau anggota keluarganya sering berhenti
mendadak bila diajak bicara.
3. Riwayat Penyakit
Fokus pengkajian yang dilakukan adalah pada riwayat kesehatan dan
pemeriksaan fisik. Ini dapat dimengerti karena riwayat kesehatan terutama
berhubungan dengan kejang sangat membantu dalam menentukan
diagnosa. Riwayat ini akan dirunjang dengan keadaan fisik klien saat ini.
Pemeriksaan neurologi terutama berkaitan dengan serangan kejang harus
lengkap karena temuan-temuan fokal sangat membantu dalam menentukan
asal dari aktivitas kejang. Pada riwayat perlu dikaji faktor pencetus yang
dapat diidentifikasikan hingga saat ini adalah : demam, cedera kepala,
stroke, gangguan tidur, penggunaan obat, kelemahan fisik, hiperventilasi,
dan stress emosional.
Deskripsispesifik dari kejang harus mencakup beberapa data penting
meliputi :

 Awitan yakni serangan itu mendadak atau didahului oleh prodormal


dan fase aura.

 Durasi kejang berapa lama dan berapa kali frekuensinya.

 Aktivitas motorik mencakup apakah ekstrimitas yang terkena sesisi


atau bilateral, dimana mulainya dan bagaimana kemajuannya.

 Status kesadaran dan nilai kesadarannya. Apakah klien dapat


dibangunkan selama atau setelah serangan ?

 Distrakbilitas, apakah klien dapat memberi respon terhadap


lingkungan. Hal ini sangat penting untuk membedakan apakah yang
terjadi pada klien benar epilepsi atau hanya reaksi .

 Keadaan gigi. Apakah pada saat serangan gigi klien tertutup rapat
atau terbuka.

 Aktivitas tubuh seperti inkontinensia, muntah, salivasi dan


perdarahan dari mulut.

14
 Masalah yang dialami setelah serangan paralisis, kelemahan, baal
atau semutan, disfagia, disfasia cedera komplikasi, periode post iktal
atau lupa terhadap semua pristiwa yang baru saja terjadi.

 Faktor pencetus seperti stress emosional dan fisik.

4. Data Bio-psiko-sosial-spiritual
Data yang sudah dikaji sebelumnya dengan menggunakan berbagai
metode yang valid selanjutnya dikelompokkan secara umum menjadi data
subyektif dan obyektif.

 Data Subyektif : adanya keluhan tentang faktor pencetus,


prodormal(pusing, lemas, ngantuk, halusinasi dll). Merasakan
adanya seperti tersambar petir (fase aural), mengeluh adanya
gangguan proses pikir, waham, badan nyeri, letih dan bingung. Klien
merasa malu, tidak berguna, rendah diri dan takut.

 Data Obyektif : adanya gerakan tonik, klonik, tonik-klonik, hilang


kesadaran sesaat, hilang kesadaran beberapa lama, bibir berbusa,
sering diam beberapa saat bila sedang diajak bicara, gerakan
ekstrimitas terkedut bilateral, pasien terjatuh, kontraksi involunter
unilateral, kejang biasanya mulai dari tempat yang sama setiap
serangan, agresif, pupil mengalami perubahan ukuran selama
serangan, inkontinensia, perdarahan dari mulut, penurunan respon
terhadap lingkungan, kejang terjadi beberapa detik hingga beberapa
menit. Gambaran EEG berupa gelombang spike, spike and slow
wave, poly spike and wave, 3 Hz spike and wave. MRI / CT SCAN
bisa tampak adanya massa di lobus otak.Perubahan yang bermakna
tidak spesifik pada tanda-tanda vital. Dapat terjadi perubahan tidak
spesifik pada hasil laboratorium (Glukosa darah, BUN, Elektrolit, Pa
O2, Pa CO2 termasuk hasil fungsi lumbal).

5. Rencana Asuhan Keperawatan


a. Diagnosa Keperawatan
Rencana Keperawatan diawali dengan penyusunan diagnosa
keperawatan. Diagnosa keperawatan yang biasa muncul pada
pasien yang mengalami epilepsi adalah

15
1. Potensial kecelakaan s.d. penurunan kesadaran, kelemahan fisik,
gerak otot tonik klonik.

2. Potensial terjadi sumbatan jalan nafas s.d. obstruksi tracheo


bronkhial, gangguan persepsi dan neuro muskuler.

3. Gangguan konsep diri s.d. stigma sosial, salah persepsi dari


lingkungan sosial.

4. Gangguan mekanisme koping s.d. terdiagnose epilepsi dan


keterikatan dengan obat.

5. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan pengobatannya s.d.


kurang terbuka, mis interpretasi dan kurang interpretasi.

b. Rencana Keperawatan

8. Diagnosa Tujuan Implementasi


Dx 1
Tujuan: Serangan dapat dikendalikan dan komplikasi dapat dihindari
Implementasi:
1. Cegah dan kendalikan kejang
2. Siapkan spatel lidah di dekat klien
3. Hindarkan klien sendirian
4. Usahakan agar tempat tidur klien serendah mungkin
5. Jangan pernah mengikat klien dengan Alasan apapun
6. Jangan memasukkan benda apapun kemulut klien saat terjadi serangan
7. Pasang gudel saat serangan berkurang
8. Miringkan klien pada salah satu sisi
9. Obserpasi adanya tanda-tanda status epileptikus
10. Upayakan agar klien mampu mengenali faktor pencetus dan tanda-tanda
serangan
11. Lakukan tindakan kolaborasi :
 Pemberian obat anti konvulsan

16
 Siapkan klien untuk EEG, pengambilan bahan lab elektrolit, cairan
cerebro spinal, darah lengkap, BUN, Creatinin, Glukosa darah, PO2 dan
PCO2.

12. Observasi fase-fase kejang


13. Analisa ambulasi klien

Dx. 2

Tujuan: Jalan nafas tetap paten

Implementasi

1. Anjurkan agar klien mengosongkan mulut jika fase aura dapat dikenali

2. Buat klien dalam posisi miring pada salah satu sisi untuk menghindari
adanya aspirasi

3. Mengupayakan jalan nafas tetap paten

4. Memberikan oksigen sesuai dengan indikasi

5. Lakukan penghisapan lendir dengan cara yang benar

6. Siapkan klien untuk pemasangan intubasi dan ambu bag.

7. Selalu ingatkan untuk menjaga kebersihan mulut Untuk mencegah aspirasi

Dx. 3 dan 4

Tujuan: Mampu menampilkan konsep diri yang positif

Implementasi:

1. Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan

2. Ajarkan klien dan keluarga untuk mengidentifikasi beberapa reaksi orang


terhadap pasien

3. Anjurkan dan ingatkan untuk mengidentifikasikan keberhasilan yang telah


diperoleh

4. Jangan terlalu melakukan proteksi terhadap klien

5. Bantulah klien untuk meluruskan kesan orang lain terhadap klien dan
kesan klien terhadap orang lain

17
6. Selalu bersikap tenang baik itu pasien, pemberi pelayanan atau keluarga
saat terjadi serangan kejang

7. Anjurkan untuk berkonsultasi dengan spesialis tertentu seperti psikolog

8. Diskusikan pentingnya untuk berusaha menerima keterbatasan yang ada.

9. Mampu menyesuaikan pola hidup sesuai dengan keadaan klien

Dx. 5

Tujuan: Mampu menjelaskan mengenai proses peny., prognosa, kemungkinan


komplikasi dan keterbatasan diri yang dimiliki dan melaksanakan program
pengobatan serta follow up secara tepat dan teratur.

Implementasi:

1. Menjelaskan kembali proses penyakit serta prognosanya.

2. Menjelaskan kembali tentang pentingnya obat serta mengobservasi efek


dari obat tersebut.

3. Buatkan petunjuk yang jelas dalam pemberian obat, dan selalu diingatkan
bahwa dosis terapeutik saat ini dapat berubah suatu saat.

4. Diskusikan efek samping dari obat.

5. Anjurkan agar klien membawa tanda khusus.

6. Jelaskan pentingnya follow up.

9) Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian akhir dari proses keperawatan. Evaluasi dilakukan
untuk mengetahui tingkat keberhasilan tindakan yang telah dilakukan.
Disamping itu evaluasi dapat dijadikan sebagai bahan pengkajian untuk proses
berikutnya.
Pada kasus epilepsi evaluasi dilakukan atas tindakan yang dilakukan sesuai
dengan diagnosa dan tujuan yang sudah ditetapkan.

1. Frekuensi dan faktor pencetus serangan dapat diidentifikasi, lingkungan


aman, klien tahu berperilaku untuk mencegah trauma jika muncul
serangan, keluarga tidak meninggalkan klien sendiri terutama saat faktor
pencetus paparannya meningkat.

18
2. Klien dapat mengambil posisi yang stabil, tidak menelan sesuatu, jika fase
aura mulai muncul, kebutuhan O2 klien dapat terpenuhi terutama pada saat
serangan.

3. Klien mampu menampakkan kesan diri yang positif, keluarga aktif


memberikan dukungan dukungan kepada klien.

4. Klien mampu menjelaskan tentang penyakit, penanganan, prognose, serta


waktu pengobatan. Klien mengerti dan mau melakukan follow up secara
teratur. Klien dapat menyesuaikan pola hidupnya sesuai dengan
keadaannya

19
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Epilepsi merupakan kumpulan gejala dan tanda – tanda klinis yang
muncul disebabkan gangguan fungsi otak secara intermiten yang terjadi akibat
lepas muatan listrik abnormal atau berlebihan dari neuron – neuron secara
paroksismal dengan berbagai macam etiologi. Dimana sekitar 70 % kasus
epilepsi tidak diketahui penyebabnya yang dikelompokkan sebagai epilepsi
simptomatik misalnya karena trauma kepala, infeksi, congenital, gangguan
peredaran darah otak. Bila salah satu orang tua epilepsi maka kemungkinan 4
% anaknya akan mengidap epilepsi sedangkan bila kedua orangtuanya epilepsi
maka kemungkinan anaknya epilepsi menjadi 20 % - 30 %.
Pengobatan yang diberikan apabila penyebabnya adalah tumor atau
infeksi maka keadaan tersebut harus diobati terlebih dahulu dimana jika
keadaan tersebut sudah teratasi maka kejangnya sendiri tidak memerlukan
pengobatan, jika penyebabnya tidak dapat disembuhkan maka diperlukan obat
anti kejang untuk mencegah terjadinya kejang lanjutan.
B. Saran
1. Bagi pasien Epilepsi
 Bagi penderita epilepsi obat anti kejang harus diminum secara teratur
berdasarkan resep dari dokter serta harus kontrol ke pelayanan
kesehatan secara teratur.
 Bagi keluarga penderita hendaknya dilatih untuk membantu penderita
jika terjadi serangan epilepsi dimana langkah penting adalah menjaga
agar penderita tidak terjatuh, melonggarkan pakaian dan memasang
bantal di bawah kepala penderita.

2. Bagi perawat

 Mampu mengenali tanda dan gejala dari penyakit epilepsi sehingga dapat
menentukan masalah keperawatan yang sesuai dengan keluhan pasien dan
menentukan rencana serta tindakan yang tepat pada pasien epilepsi.

20
DAFTAR PUSTAKA

Dongoes M. E. et all, 1989, Nursing Care Plans, Guidelines for Planning Patient Care,
Second Ed, F. A. Davis, Philadelpia.

Harsono (ED), 1996, Kapita Selekta Neurologi , Second Ed, Gajah Mada University
Press, Yogyakarta.

Hudac. M. C. R and Gallo B. M, 1997, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik


(Terjemahan), Edisi VI, EGC, Jakarta Indonesia.

Kariasa Made, 1997, Asuhan Keperawatan Klien Epilepsi, FIK-UI, Jakarta.

Luckman and Sorensen S, 1993, Medikal Surgical Nursing Psychology Approach,


Fourt Ed, Philadelpia London.

Price S. A and Wilson L. M, 1982, Pathofisiology, Clinical Concepts of Desease


Process, Second Ed, St Louis, New York.

21