Anda di halaman 1dari 176

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEM (DRPs) PADA


PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT
PENYERTA HIPERTENSI DI LANTAI 5 TERATAI RUMAH
SAKIT UMUM PUSAT (RSUP) FATMAWATI PERIODE
BULAN JANUARI-JUNI 2016

SKRIPSI

DHENNY ARMAN SIREGAR


1111102000012

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2018/1439 H
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEM (DRPs) PADA


PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT
PENYERTA HIPERTENSI DI LANTAI 5 TERATAI RUMAH
SAKIT UMUM PUSAT (RSUP) FATMAWATI PERIODE
BULAN JANUARI-JUNI 2016

SKRIPSI
Diajukan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana farmasi (S.Farm)

DHENNY ARMAN SIREGAR


1111102000012

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2018/1439 H

i
ii
iii
iv
ABSTRAK

Nama : Dhenny Arman Siregar


Program Studi : Farmasi
Judul : Identifikasi Drug Related Problem (Drps) Pada Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Penyerta Hipertensi
Di Lantai 5 Teratai Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP)
Fatmawati Periode Bulan Januari – Juni Tahun 2016
Diabetes Melitus biasa disebut dengan the silent killer karena penyakit ini dapat
mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan.
Hipertensi sering dikatakan sebagai pembunuh tidak tampak serta diam-diam atau
the silent and invisible killer karena umumnya tidak menunjukkan gejala
(asimptomatis) dan berpotensial letal. Menurut American Society of Hypertension
(ASH), Hipertensi adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala yang
mempengaruhi progresivitas masalah kardioavaskuler. Drug related problems
(DRPs) adalah peristiwa atau keadaan dimana terapi obat berpotensi
mempengaruhi outcome klinik yang diinginkan. Identifikasi DRPs penting untuk
meningkatkan efektivitas terapi khususnya pada penyakit yang membutuhkan
pengobatan sepanjang hidup seperti Hipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah
mengetahui seberapa banyak terjadinya DRP pada pasien rawat inap dengan
penyakit Diabetes Melitus tipe 2 yang disertai dengan penyakit Hipertensi di
RSUP Fatmawati, adapun kategori DRPs yang meliputi adalah interaksi obat dan
ketidaktepatan dosis. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang
menggunakan rancangan penelitian cross sectional (potong lintang), dengan
pengumpulan data secara restrospektif. Data yang digunakan adalah data rekam
medis pasien. Data yang diperoleh dikaji secara deskriptif berdasarkan literatur.
Sebanyak 30 rekam medis pasien digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kejadian DRPs pada kategori interaksi obat secara teori
berpotensial terjadi 220 kali (90 %). Interaksi mayor berpotensial terjadi sebanyak
16.36 % sementara interaksi moderat dan minor berpotensial terjadi sebanyak
70.90 % dan 12.72 %. Kemudian pada DRP kategori masalah dosis obat terjadi 18
kali dosis obat kurang dan 18 kali dosis obat lebih.

Kata kunci: Diabetes Melitus, Hipertensi, drug related problem

v
ABSTRACT

Name : Dhenny Arman Siregar


Program Study : Pharmacy
Title : Identification of Drug Related Problem (DRPs) in Diabetes Mellitus
Type 2 patients with Hypertension at 5th floor of Teratai in General
Hospital Center (RSUP) Fatmawati Period January – June 2016

Diabetes Mellitus is commonly referred as the slinets killer because the disease
may effect all organs of the body and cause a variety of complaints. Hypertension
is often called the silent and invisible killer because it commonly symptomsless
and potentially lethal. According to the American Society of Hypertension (ASH),
hypertension is a syndrome or collection symtoms that influences of
progressiveness a cardiovascular problem. Drug related problems (DRPs) are the
state where the medicine therapy is potential to affect the expected clinic outcome.
DRPs identification is prominent to improve the effectiveness therapy,
particularly to the illness which needs a long life medical treatment such as
hypertension. The aim and objectives of the present study is to determine how
many the DRP in hospitalized patients with hypertension accompanied with coronary
heart disease in Fatmawati Central General Hospital. The categories of DRPs that
included are drug interactions and dosing problem. This study was an observational
study used cross sectional study design, by collected data retrospectively. The data
used patient's medical records. The data obtained were examined descriptively
based on the literature 30 patient medical records were identified for this study.
The result of the study points that incidence of DRPs in the category of drug
interactions in theory was potentially 220 times (90%). Major potential drug
interaction accounted for 16.36 % of the total number of interactions while
moderate potential drugs interaction and minor potential drugs interaction were
70,90 % and 12.72 % respectively. In category of dosing problems, there were 18
cases of drugs dose too low and 18 cases of drug dose too high.

Keyword : Diabetes Mellitus, Hypertension, Drug Related Problem

vi
KATA PENGANTAR

Bismillahirarahmanirrahim
Alhamdulillah, segala puji syukur penulis haturkan ke hadirat Allah
Subhānahu wa ta’ālā atas limpahan nikmat iman, Islam, kesehatan, kekuatan
serta kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan
skripsi ini dengan baik. Iringan Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi
Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya, yang
telah memberikan keteladanan kepada seluruh umat, sehingga dapat membedakan
mana yang hak dan mana yang batil dan mampu melaksanakan risalah Islam yang
sesuai dengan agama yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, sebagai
agama yang rahmatan lil ‘ālamīn.
Skripsi dengan judul “Identifikasi Drug Related Problem (Drps) Pada
Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Penyerta Hipertensi Di Lantai 5
Teratai Rumah Sakit Umum Pusat (Rsup) Fatmawati Periode Bulan Januari-Juni
2016” ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk
mendapatkan gelar sarjana farmasi di Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selama proses penyusunan dan penulisan skripsi ini, penulis menyadari
begitu banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak yang telah
meluangkan waktunya dalam mendidik, membimbing, dan mendoakan yang
terbaik kepada penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Arief Sumantri, SKM., M.Kes selaku Dekan Fakultas Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Dr. Nurmeilis, M.Si., Apt selaku kepala Program Studi Farmasi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Dr. Dra Delina Hasan, M.Kes., Apt dan Ibu Dra. Alfina Rianti, M.Pharm., Apt
selaku pembimbing 1 dan 2 yang dengan sabar senantiasa meluangkan waktu
dan pikirannya untuk membimbing dan memberikan arahan selama proses
penyusunan skripsi.
4. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang dengan tulus ikhlas memberikan ilmunya kepada penulis.

vii
5. Segenap staff dan pegawai RSUP Fatmawati yang telah membantu penulis
selama proses penelitian.
6. Keluarga tercinta, Ayahanda Ahmad Dahruddin Siregar dan Ibunda
Nurdingin Hasibuan yang senantiasa memberikan dukungan, doa, semangat,
dan kasih sayang yang terus mengalir tanpa henti, Abang, kakak dan adik
serta seluruh keluarga besar yang telah memberikan dukungan serta doa pada
penulis.
7. Sahabat Miyadah, Nurul, Fifi, Okka, Meryza, Munee, Sausan, Philia, Rais,
Monic,Vernanda, Mufida, Puspita, Akas, Rifqi, Arsyad, Nicky, Ali, Ayu,
Titis, Mazay, Tari, Dini, Firda, Rika, Kiki, Nana, Dana, Wafa, yang tidak
pernah berhenti memberikan semangat, bantuan dan motivasi kepada penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Teman-teman Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang
telah memberikan dukungan dan kerjasamanya selama perkuliahan.
9. Seluruh pihak yang telah banyak membantu dan berpartisipasi dalam berbagai
hal hingga terselesaikannya penyusunan skripsi sehingga skripsi ini dapat
diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Semua itu karena keterbatasan kemampuan penulis. Oleh sebab
itu, penulis dengan segala kerendahan hati mengharap kritik dan saran dari
pembaca demi perbaikan skripsi ini. Penulis berharap semoga seluruh ilmu dan
pengalaman yang telah didapatkan selama menjalani perkuliahan dan penyusunan
skripsi ini dapat memberikan berkah dan manfaat khususnya bagi penulis serta
para pembaca umumnya.
Semoga Allah subhānahu wa ta’ālā senantiasa meridhai dan memberikan
petunjuk kepada seluruh hamba-Nya yang senantiasa berusaha dan melakukan
kebaikan kepada seluruh makhluk hidup di dunia ini.

Jakarta, 3 Juli 2018

Penulis

viii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah


Jakarta, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Dhenny Arman Siregar

NIM : 1111102000012

Program Studi : Farmasi

Fakultas : Ilmu Kesehatan

Jenis Karya : Skripsi

demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsi/karya ilmiah saya,


dengan judul :

Identifikasi Drug Related Problem (Drps) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe
2 Dengan Penyakit Penyerta Hipertensi Di Lantai 5 Teratai Rumah Sakit
Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Periode Bulan Januari – Juni Tahun 2016

untuk dipublikasikan atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital
Library Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
untuk kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta.

Demikian pernyataan persetujuan publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan
sebenarnya.

Dibuat di : Jakarta

Pada Tanggal : 3 Juli 2018

Yang menyatakan,

(Dhenny Arman Siregar)

ix
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................. ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. iii

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iv

ABSTRAK ....................................................................................................... v

ABSTRACT ..................................................................................................... vi

KATA PENGANTAR ..................................................................................... vii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ....................... ix

DAFTAR ISI .................................................................................................... x

DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiv

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1

1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1

1.2. Rumusan Masalah ....................................................................... 2

1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................ 3

1.3.1. Tujuan umum .................................................................... 3

1.3.2. Tujuan khusus.................................................................... 3

1.4. Manfaat Panelitian ...................................................................... 3

1.5. Ruang Lingkup Penelitian .......................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 5

2.1. Asuhan Kefarmasian ................................................................... 5

x
2.2. Drug Related Problem (DRPs) ................................................... 6

2.3. Diabetes Melitus ......................................................................... 9

2.3.1. Jenis – jenis Diabetes Melitus ........................................... 9

2.3.1.1. Diabetes Melitus tipe I ......................................... 9

2.3.1.2. Diabetes Melitus tipe 2 ......................................... 9

2.3.1.3. Diabetes Melitus Gestasional ............................... 10

2.3.2.Diagnosis Diabetes Melitus ............................................... 10

2.3.3.Penatalaksanaan Diabetes Melitus ..................................... 11

2.3.3.1.Terapi Non Farmakologi ....................................... 11

2.3.3.2.Terapi Farmakologi ............................................... 12

2.4. Hipertensi .................................................................................... 15

2.4.1.Jenis – jenis Hipertensi ...................................................... 15

2.4.1.1.Hipertensi Primer(Essensial) ................................. 15

2.4.1.2.Hipertensi Sekunder .............................................. 16

2.4.2.Klasifikasi Tekanan Darah................................................. 16

2.4.3.Pengelolaan Hipertensi ...................................................... 16

2.4.3.1.Terapi Non Farmakologi ....................................... 16

2.4.3.2.Terapi Farmakologi ............................................... 17

2.5.Komplikasi Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Hipertensi ............. 17

2.5.1.Penatalaksanaan Terapi pada Diabetes Melitus Tipe 2 dengan


Penyakit Penyerta Hipertensi ...................................................... 18

2.5.1.1.Terapi Non Farmakologi ....................................... 18

2.5.1.2.Terapi Farmakologi ............................................... 18

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ..... 23

3.1. Kerangka Konsep ........................................................................ 23

3.2. Definisi Operasional ................................................................... 24

xi
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN......................................................... 25

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................... 25

4.1.1.Lokasi Penelitian................................................................ 25

4.1.2.Waktu Penelitian ................................................................ 25

4.2. Desain Penelitian ........................................................................ 25

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian .................................................. 25

4.3.1. Populasi ............................................................................. 25

4.3.2. Sampel ............................................................................... 25

4.4. Kriteria inklusi dan eksklusi ....................................................... 26

4.4.1. Kriteria inklusi ................................................................... 26

4.4.2. Kriteria eksklusi ................................................................ 26

4.5. Prosedur Penelitian ..................................................................... 26

4.5.1. Persiapan ........................................................................... 26

4.5.2. Pelaksanaan Pengumpulan Data ........................................ 26

4.5.3. Pengolahan Data ................................................................ 26

4.5.4. Analisis Data ..................................................................... 27

BAB V Hasil dan Pembahasan ...................................................................... 28

5.1. Hasil ........................................................................................... 28

5.1.1. Karakteristik Pasien ........................................................... 28

5.1.2. Profil Penggunaan Obat..................................................... 30

5.1.3. Drug Related Problem ....................................................... 32

5.1.3.1 Interaksi Obat ........................................................ 32

5.1.3.2 Dosis yang Didapatkan Dibawah Dosis Terapi ..... 33

5.1.3.3 Dosis yang Didapatkan Diatas Dosis Terapi ......... 34

5.2. Pembahasan ................................................................................ 35

5.2.1. Karakteristik Pasien ........................................................... 35

xii
5.2.1.1 Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia ................. 35

5.2.1.2 Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin .. 35

5.2.1.3 Karaktersitik Pasien Berdasarkan Penyakit

Penyerta Lain ......................................................... 36

5.2.2. Profil Penggunaan Obat..................................................... 37

5.2.2.1 Penggunaan Obat AntiDiabetes Tunggal .............. 37

5.2.2.2 Penggunaan Obat AntiDiabetes Kombinasi .......... 37

5.2.2.3 Penggunaan Obat AntiHipertensi .......................... 38

5.2.3. Drug Related Problem ....................................................... 38

5.2.3.1 Interaksi Obat ....................................................... 38

5.2.3.1.1 Interaksi Obat Berdasarkan Tingkat

Keparahan ............................................. 39

5.2.3.2 Dosis Dibawah Dosis Terapi ................................. 45

5.2.3.3 Dosis Diatas Dosis Terapi ..................................... 46

5.3. Keterbatasan Penelitian............................................................... 46

5.3.1. Kendala .............................................................................. 46

5.3.2. Kelemahan ......................................................................... 47

5.3.3. Kekuatan ............................................................................ 47

BAB VI Kesimpulan ........................................................................................ 48

6.1. Kesimpulan ................................................................................. 48

6.2. Saran ........................................................................................... 48

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 49

Lampiran .......................................................................................................... 51

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kriteria Denegakan Diagnosis Diabetes Melitus .......................... 11


Tabel 2.2 Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC...................................... 16
Tabel 5.1 Karakteristik Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang Disertai dengan
Penyakit Penyerta Hipertensi ........................................................ 28
Tabel 5.2 Distribusi Penyakit Penyerta pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
yang Disertai dengan Penyakit Hipertensi .................................... 29
Tabel 5.3 Profil Penggunaan Obat pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang
Disertai dengan Penyakit Hipertensi ............................................. 30
Tabel 5.4 Penggunaan Obat AntiDiabetes yang paling Banyak Diberikan pada
Pasien ............................................................................................ 30
Tabel 5.5 Penggunaan Obat AntiHipertensi Paling Banyak Diberikan pada
Pasien ............................................................................................ 31
Tabel 5.6 Data Potensi Kejadian Interaksi Obat pada Pasien Diabetes Melitus
Type 2 yang Disertai dengan Hipertensi ....................................... 32
Tabel 5.7 Data Potensi Interaksi Obat pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang
Disertai dengan Penyaki Penyerta Hipertensi Berdasarkan Tingkat
Keparahan...................................................................................... 32
Tabel 5.8 Distribusi Jumlah DRP Dosis Dibawah Dosis Terapi ................... 33
Tabel 5.9 Distribusi Jumlah DRP Dosis Diatas Dosis Terapi. ...................... 34
Tabel 5.10 Interaksi Obat pada Tingkat Mayor .............................................. 40

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian dari RSUP Fatmawati ............................. 51

Lampiran 2. Data Pasien Keseluruhan .......................................................... 54

Lampiran 3. Data Interaksi Obat ................................................................... 87

Lampiran 4. Data Dosis Pasien ..................................................................... 135

xv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan
ketiadaan absolut insulin atau penurunan relatif insensitivitas sel terhadap insulin
(Corwin, 2009).
Diabetes Melitus disebut dengan the silent killer karena penyakit ini dapat
mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan.
Penyakit yang akan ditimbulkan antara lain gangguan penglihatan mata, katarak,
penyakit jantung, sakit ginjal, impotensi seksual, luka sulit sembuh, infeksi paru-
paru, gangguan pembuluh darah, stroke dan sebagainya. Tidak jarang penderita
Diabetes Melitus (DM) yang sudah parah menjalani amputasi anggota tubuh
karena terjadi pembusukan (Depkes,2005).
Pada umumnya, DM dikelompokkan menjadi 2, yaitu DM tipe 1 dan DM
tipe 2. Pada DM tipe 1, disebut Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM),
disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin oleh sel beta pankreas. DM tipe 2, juga
disebut Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM), disebabkan oleh
penurunan sensitivitas jaringan target terhadap insulin (Ozougwu et al, 2013). Hal
ini disebabkan banyaknya faktor resiko yang berkaitan dengan diabetes melitus
tipe 2 tersebut seperti obesitas, gaya hidup, dan pola makan yang buruk (Charles
dan Ivar, 2011).
Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana seseorang memiliki tekanan
darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg,
menggunakan obat-obatan antihipertensi atau telah dinyatakan sedikitnya dua kali
oleh dokter atau tenaga kesehatan profesional lainnya bahwa orang tersebut
memiliki tekanan darah tinggi (Roger et al, 2012).
Angka kejadian Hipertensi cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun di Indonesia. Menurut survei Riskesdas tahun 2007-2008, kejadian
prevalensi Hipertensi di Indonesia telah mencapai 31,7% dari total penduduk
dewasa (Syamsudin, 2011). Hipertensi dijumpai dua kali lebih banyak pada
penderita diabetes dibandingkan pada penderita tanpa diabetes (Waspadji, 2010).

1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


2

Munculnya hipertensi pada diabetes disebabkan hiperglikemia pada diabetes


melitus yang dapat meningkatkan angiostensin II sehingga dapat menyebabkan
hipertensi, dengan timbulnya hipertensi dapat menyebabkan komplikasi yang
lebih lanjut seperti jantung koroner, nefropati diabetes, dan retinopati diabetes
(Novitasari, dkk., 2011).
Drug related problems (DRPs) merupakan suatu peristiwa atau keadaan
dimana terapi obat berpotensi atau secara nyata dapat mempengaruhi hasil terapi
yang diinginkan (Bemt and Egberts, 2007; Pharmaceutical Care Network Europe
Foundation, 2010). Identifikasi DRPs pada pengobatan penting dalam rangka
mengurangi morbiditas, mortalitas dan biaya terapi obat (Ernst and Grizzle,
2001). Hal ini akan sangat membantu dalam meningkatkan efektivitas terapi obat
terutama pada penyakit-penyakit yang sifatnya kronis, progresif dan
membutuhkan pengobatan dengan jangka waktu yang lama.
Diabetes melitus tipe 2 merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai
di masyarakat dan memerlukan penanggulangan yang baik dan tepat. Pengobatan
diabetes tipe 2 sering mendapatkan banyak obat sehingga memperbesar
kemungkinan terjadinya drug related problems (DRPs). Tanpa penanganan yang
adekuat keduanya akan berakhir dengan komplikasi yang sama yaitu kematian
karena kardioserebrovaskular dan gagal ginjal (Waspadji, 2010). Dengan adanya
penyakit komplikasi seperti diatas dapat menimbulkan kejadian drug related
problems (DRPs), karena obat diabetes dapat memperburuk keadaan
hipertensinya atau obat hipertensi dapat meningkatkan kadar glukosa darah
pasien.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan
permasalahan penelitian yaitu pentingnya pemilihan obat terutama pada pasien
diabetes melitus tipe 2 dengan penyakit penyerta hipertensi untuk menghindari atau
menurunkan angka terjadinya drug related problems (DRPs) di lantai 5 teratai
Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati periode bulan
Januari – Juni tahun 2016.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


3

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan umum


Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui drug related problems
(DRPs) yang terjadi pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan penyakit
penyerta hipertensi di lantai 5 teratai Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum
Pusat (RSUP) Fatmawati periode bulan Januari – Juni tahun 2016.

1.3.2 Tujuan khusus


1. Untuk mengetahui adanya (DRPs) pada kategori interaksi obat terhadap
pasien diabetes melitus tipe 2 dengan penyakit penyerta hipertensi yang
dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati tahun 2016.
2. Untuk mengetahui adanya (DRPs) pada kategori dosis terlalu rendah
terhadap pasien diabetes melitus tipe 2 dengan penyakit penyerta hipertensi
yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati periode
tahun 2016.
3. Untuk mengetahui adanya (DRPs) pada kategori dosis terlalu tinggi
terhadap pasien diabetes melitus tipe 2 dengan penyakit penyerta hipertensi
yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati tahun
2016.

1.4. Manfaat Penelitian


1. Secara teoritis, penelitian ini akan menambah khasanah ilmu pengetahuan
tentang DRPs yang dapat memberikan manfaat kepada dokter dan apoteker
di RSUP Fatmawati.
2. Secara metodologi, penelitian ini dapat digunakan pada penelitian lainnya
untuk pengobatan penyakit lain dalam melihat DRPs.
3. Secara aplikatif, hasil penelitian ini hendaknya dapat diterapkan dan
menjadi masukan kebijakan RSUP Fatmawati serta sebagai informasi bagi
dokter dan apoteker dalam menetukan obat pada pengobatan penyakit
diabetes melitus tipe 2 yang disertai dengan penyakit penyerta hipertensi.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


4

1.5. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup penelitian dengan judul “Identifikasi Drug Related Problem
(DRPs) pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 dengan Penyakit Penyerta Hipertensi
di lantai 5 teratai Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati periode bulan
Januari – Juni tahun 2016” hanya mengacu pada kejadian Drug Related Problem
(DRPs) yaitu interaksi obat, dosis terlalu rendah dan dosis terlalu tinggi. Besar
sampel sebanyak 30 pasien dan desain penelitian ini adalah rancangan analisa
deskriptif yang bersifat retrospektif cross sectional dan lama penelitian ini selama
dua bulan dengan lokasi penelitian di RSUP Fatmawati.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Asuhan Kefarmasian


Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit perlu terus diupayakan termasuk
pelayanan farmasi di rumah sakit. Paradigma pelayanan farmasi yang sekarang
berkembang adalah pelayanan kefarmasian yang berazaskan pada konsep asuhan
kefarmasian (Anonim, 2004). Asuhan kefarmasian merupakan praktek yang mana
farmasis bertanggung jawab atas kebutuhan pasien berkenaan dengan obat dan
bertanggungjawab atas terapi obat yang disediakan untuk tujuan pencapaian hasil
terapi pasien yang positif (Cipolle, dkk., 1998).
Asuhan kefarmasian tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dari
dokter atau tenaga kesehatan lainnya tetapi untuk memenuhi kebutuhan dalam
sistem perawatan kesehatan yang semakin meningkat karena resep obat bagi
seorang pasien yang lebih kompleks, meningkatnya produk obat dan informasi
obat yang ada di pasar, meningkatnya kompleksitas terapi obat, dan tingkat
signifikan morbiditas yang berkaitan dengan obat dan mortalitas yang berkaitan
dengan pengunaan obat, dan biaya finansial dan manusia yang tinggi dari
kecelakaan obat (Cipolle, dkk., 1998).
Tujuan pelayanan farmasi rumah sakit adalah pelayanan farmasi yang
paripurna sehingga dapat : tepat pasien, tepat dosis, tepat cara pemakaian, tepat
kombinasi, tepat waktu dan tepat harga. Selain itu pasien juga diharapkan
mendapatkan pelayanan penyuluhan yang dianggap perlu oleh farmasis sehingga
pasien mendapatkan pengobatan yang efektif, efisien, aman, rasional bermutu dan
terjangkau (Anonim, 2004).
Dari uraian-uraian di atas dapat diketahui bahwa pelayanan farmasi sangat
diperlukan untuk menjangkau ruang perawatan penderita. Hal ini disebabkan
karena perkembangan masalah obat dan peresepan yang lebih kompleks, antara
lain:
a. Peresepan yang tidak/kurang rasional, diantaranya :
1) Peresepan boros
2) Peresepan salah

5 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


6

3) Peresepan berlebihan
4) Peresepan kurang
5) Peresepan majemuk
b. Peresepan dua atau lebih bersamaan yang tidak tepat
c. Cara pemakaian atau rute pemberian yang tidak tepat
d. Pemberian obat yang salah
e. Dosis pemberian yang kurang tepat
f. Kegagalan dalam menyesuaikan dosis obat karena perubahan pola
metabolisme dan ekskresi
g. Kegagalan dalam mengenali dini efek samping obat atau interaksi obat
h. Masalah ketidakpatuhan penderita terhadap aturan penggunaan obat (Hubeis,
2002)

2.2. Drug Related Problem (DRPs)


Drug Related Problems (DRPs) didefinisikan sebagai kejadian yang tidak
diinginkan yang dialami oleh pasien yang melibatkan terapi obat dan cenderung
mengganggu kesembuhan yang pasien inginkan. Drug Related Problems
mempunyai dua komponen utama :
a. Peristiwa yang tidak diharapkan atau resiko dari peristiwa yang dialami oleh
pasien. Kejadian ini dapat memberikan bentuk dari keluhan medis, gejala,
diagnosis, penyakit, ketidakmampuan, atau sindrom. Peristiwa tersebut dapat
disebabkan oleh kondisi psikologis, fisiologis, sosiokultural atau ekonomi.
b. Adanya gejala antara kejadian yang tidak diharapkan pasien dan terapi obat.
Keterkaitan ini dapat berupa konsekuensi dari terapi obat, saran yang berkaitan
dengan sebab dan efek atau kejadian yang memerlukan terapi obat untuk
resolusi dan pencegahannya.
Pada penelitian di Minnesota Pharmaceutical Care Project, kira-kira 10%
dari semua pasien mempunyai dua atau lebih Drug Related Problems pada awal
pemeriksaan oleh farmasis. Sekitar 5% dari pasien mempunyai lebih dari empat
Drug Related Problems yang memerlukan prioritasisasi dan pemecahan. Daftar
dari Drug Related Problems yang diprioritaskan berdasarkan resiko adalah
sebagai berikut:

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


7

1. Problem mana yang harus diselesaikan (atau dicegah) dengan segera dan mana
yang diselesaikan.
2. Problem mana yang akan diidentifikasi oleh farmasis sebagai perhatian
utamanya.
3. Problem mana yang dapat dipecahkan oleh terapis dan pasien secara langsung.
4. Problem mana yang memerlukan intervensi orang lain (mungkin anggota
keluarga, dokter, perawat, atau spesialis lainnya) (Cipolle, dkk., 1998)
Jenis-jenis Drug Related Problems (DRPs) dan penyebabnya menurut
Cipolle, dkk., (2004) disajikan sebagai berikut:
1. Membutuhkan terapi tambahan obat
a. Pasien mempunyai kondisi medis baru yang membutuhkan terapi awal pada
obat.
b. Pasien mempunyai penyakit kronik yang membutuhkan terapi obat
berkesinambungan.
c. Pasien mempunyai kondisi kesehatan yang membutuhkan farmakoterapi
kombinasi untuk mencapai efek sinergis atau potesiasi.
d. Pasien dalam keadaan risiko pengembangan kondisi kesehatan baru yang
dapat dicegah dengan penggunaan alat pencegah penyakit pada terapi obat
dan / atau tindakan pramedis.
2. Terapi obat yang tidak perlu
a. Pasien yang sedang mendapatkan pengobatan yang tidak tepat indikasi pada
waktu itu.
b. Pasien yang tidak sengaja maupun sengaja kemasukan sejumlah racun dari
obat atau kimia, sehingga menyebabkan rasa sakit pada waktu itu.
c. Pengobatan pada pasien pengkonsumsi obat, alkohol, dan rokok.
d. Kondisi kesehatan pasien lebih baik diobati dengan terapi tanpa obat.
e. Pasien yang mendapatkan beberapa obat untuk kondisi yang mana hanya
satu terapi obat yang terindikasi.
f. Pasien yang mendapatkan terapi obat untuk pengobatan yang tidak tepat
dihindarkan dari reaksi efek samping yang disebabkan dengan pengobatan
lainnya.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


8

3. Terapi obat salah


a. Pasien menerima obat yang paling tidak efektif untuk indikasi pengobatan.
b. Pasien menjadi sulit disembuhkan dengan terapi obat yang digunakan.
c. Bentuk sediaan obat tidak tepat.
4. Dosis terlalu rendah
a. Dosis yang digunakan terlalu rendah untuk memberikan respon kepada
pasien.
b. Konsentrasi obat dalam darah pasien dibawah batas teurapetik yang
diharapkan.
c. Jarak dan waktu pemberian obat terlalu jarang untuk menghasilkan respon
yang diinginkan.
5. Reaksi obat yang merugikan
a. Pasien memperoleh reaksi alergi dalam pengobatan.
b. Ketersediaan obat dapat menyebabkan interaksi dengan obat lain atau
makanan pasien.
c. Penggunaan obat menyebabkan terjadinya reaksi yang tidak dikehendaki
yang tidak terkait dengan dosis.
d. Penggunaan obat yang kontraindikasi.
6. Dosis terlalu tinggi
a. Dosis terlalu tinggi untuk pasien.
b. Pasien dengan konsentrasi obat dalam darah diatas batas teurapetik obat
yang diharapkan.
c. Obat, dosis, rute, perubahan formulasi yang tidak tepat untuk pasien.
d. Dosis dan frekuensi pemberian tidak tepat untuk pasien.
7. Kepatuhan
a. Pasien tidak menerima aturan pemakaian obat yang tepat (penulisan,
pengobatan, pemberian, pemakaian).
b. Pasien tidak patuh dengan aturan yang diberikan untuk pengobatan.
c. Pasien tidak mengambil obat yang diresepkan karena harganya mahal.
d. Pasien tidak mengambil beberapa obat-obat yang diresepkan karena kurang
mengerti.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


9

e. Pasien tidak mengambil beberapa obat yang diresepkan karena sudah


merasa sehat.

2.3. Diabetes Melitus


Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme
kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah
disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai
akibat insufisiensi fungsi insulin (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005).

2.3.1 Jenis – jenis diabetes Melitus


2.3.1.1 Diabetes Melitus tipe I
Diabetes ini merupakan diabetes yang jarang atau sedikit populasinya,
diperkirakan kurang dari 5-10% dari keseluruhan populasi penderita diabetes.
Diabetes tipe ini disebabkan kerusakan sel-sel β pulau Langerhans yang
disebabkan oleh reaksi otoimun. Pada pulau Langerhans kelenjar pankreas
terdapat beberapa tipe sel, yaitu sel β, sel α dan sel σ. Sel-sel β memproduksi
insulin, sel-sel α memproduksi glukagon, sedangkan sel-sel σ memproduksi
hormon somastatin. Namun demikian serangan autoimun secara selektif
menghancurkan sel-sel β.
Destruksi otoimun dari sel-sel β pulau Langerhans kelenjar pankreas
langsung mengakibatkan defesiensi sekresi insulin. Defesiensi insulin inilah yang
menyebabkan gangguan metabolisme yang menyertai DM Tipe 1. Selain
defesiensi insulin, fungsi sel-sel α kelenjar pankreas pada penderita DM tipe 1
juga menjadi tidak normal. Pada penderita DM tipe 1 ditemukan sekresi glukagon
yang berlebihan oleh sel-sel α pulau Langerhans. Secara normal, hiperglikemia
akan menurunkan sekresi glukagon, tapi hal ini tidak terjadi pada penderita DM
tipe 1, sekresi glukagon akan tetap tinggi walaupun dalam keadaan hiperglikemia,
hal ini memperparah kondisi hiperglikemia. Salah satu manifestasi dari keadaan
ini adalah cepatnya penderita DM tipe 1 mengalami ketoasidosis diabetik apabila
tidak mendapatkan terapi insulin.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


10

2.3.1.2 Diabetes Melitus tipe II


Diabetes Melitus tipe 2 merupakan tipe diabetes yang lebih umum, lebih
banyak penderitanya dibandingkan dengan DM tipe 1, terutama terjadi pada orang
dewasa tetapi kadang-kadang juga terjadi pada remaja. Penyebab dari DM tipe 2
karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon insulin secara
normal, keadaan ini disebut resietensi insulin.
Disamping resistensi insulin, pada penderita DM tipe 2 dapat juga timbul
gangguan gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang berlebihan.
Namun demikian, tidak terjadi pengrusakan sel-sel β langerhans secara autoimun
sebagaimana terjadi pada DM tipe 1. Dengan demikian defisiensi fungsi insulin
pada penderita DM tipe 2 hanya bersifat relatif, tidak absolut.
Obesitas yang pada umumnya menyebabkan gangguan pada kerja insulin,
merupakan faktor risiko yang biasa terjadi pada diabetes tipe ini, dan sebagian
besar pasien dengan diabetes tipe 2 bertubuh gemuk. Selain terjadi penurunan
kepekaan jaringan pada insulin, yang telah terbukti terjadi pada sebagian besar
dengan pasien diabetes tipe 2 terlepas pada berat badan, terjadi pula suatu
defisiensi jaringan terhadap insulin maupun kerusakan respon sel α terhadap
glukosa dapat lebih diperparah dengan meningkatya hiperglikemia, dan kedua
kerusakan tersebut dapat diperbaiki melalui manuver-manuver teurapetik yang
mengurangi hiperglikemia tersebut (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005).

2.3.1.3 Diabetes Melitus gestasional


Diabetes Melitus gestasional adalah keadaaan diabetes yang timbul selama
masa kehamilan, dan biasanya berlangsung hanya sementara. Keadaan ini terjadi
karena pembentukan hormon pada ibu hamil yang menyebabkan resistensi insulin
(Tandra, 2008).
2.3.2 Diagnosis diabetes Melitus
Diagnosis DM biasanya diikuti dengan adanya gejala poliuria, polidipsia,
polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.
Diagonosis DM dapat dipastikan apabila hasil pemeriksaan kadar glukosa darah
sewaktu ≥ 200 mg/dl dan hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa ≥ 126
mg/dl. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


11

Tabel 2.1. Kriteria penegakan diagnosis diabetes Melitus


Glukosa plasma Glukosa plasma 2 jam
puasa setelah makan
Normal <100 mg/dl <140 mg/dl
Diabetes ≤126 mg/dl ≥200 mg/dl

2.3.3 Penatalaksanaan Diabetes Melitus


Pada penatalaksanaan diabetes Melitus, langkah pertama yang harus
dilakukan adalah penatalaksanaan tanpa obat berupa pengaturan diet dan olah
raga. Apabila dalam langkah pertama ini tujuan penatalaksanaan belum tercapai,
dapat dikombinasi dengan langkah farmakologis berupa terapi insulin atau terapi
obat hipoglikemik oral, atau kombinasi keduanya (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes,
2005).
2.3.3.1 Terapi Non Farmakologi

1. Pengaturan diet
Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan
diabetes. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang
seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak. Tujuan pengobatan diet
pada diabetes adalah:
a. Mencapai dan kemudian mempertahankan kadar glukosa darah
mendekati kadar normal.
b. Mencapai dan mempertahankan lipid mendekati kadar yang optimal.
c. Mencegah komplikasi akut dan kronik.
d. Meningkatkan kualitas hidup.
Terapi nutrisi direkomendasikan untuk semua pasien diabetes Melitus,
yang terpenting dari semua terapi nutrisi adalah pencapian hasil metabolis
yang optimal dan pencegahan serta perawatan komplikasi. Untuk pasien
DM tipe 1, perhatian utamanya pada regulasi administrasi insulin dengan
diet seimbang untuk mencapai dan memelihara berat badan yang sehat.
Penurunan berat badan telah dibuktikan dapat mengurangi resistensi insulin
dan memperbaiki respon sel-sel β terhadap stimulus glukosa.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


12

2. Olah raga
Berolah secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula
darah tetap normal. Prinsipya, tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan
asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi
kesehatan.
Beberapa contoh olah raga yang disarankan, antara lain jalan atau lari
pagi, bersepeda, berenang, dan lain sebagainya. Olah raga akan
memperbanyak jumlah dan juga meningkatkan penggunaan glukosa (Ditjen
Bina Farmasi dan Alkes, 2005).

2.3.3.2 Terapi Farmakologi


1. Insulin
Insulin adalah hormon yang dihasilkan dari sel β pankreas dalam
merespon glukosa. Insulin merupakan polipeptida yang terdiri dari 51 asam
amino tersusun dalam 2 rantai, rantai A terdiri dari 21 asam amino dan
rantai B terdiri dari 30 asam amino. Insulin mempunyai peran yang sangat
penting dan luas dalam pengendalian metabolisme, efek kerja insulin adalah
membantu transport glukosa dari darah ke dalam sel.
Macam – macam sediaan insulin :
1. Insulin kerja singkat
Sediaan ini terdiri dari insulin tunggal biasa, mulai kerjanya baru
sesudah setengah jam (injeksi subkutan), contoh: Actrapid, Velosulin,
Humulin Regular.
2. Insulin kerja panjang (long-acting)
Sediaan insulin ini bekerja dengan cara mempersulit daya larutnya
di cairan jaringan dan menghambat resorpsinya dari tempat injeksi ke
dalam darah. Metoda yang digunakan adalah mencampurkan insulin
dengan protein atau seng atau mengubah bentuk fisiknya, contoh:
Monotard Human.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


13

3. Insulin kerja sedang (medium-acting)


Sediaan insulin ini jangka waktu efeknya dapat divariasikan dengan
mencampurkan beberapa bentuk insulin dengan lama kerja berlainan,
contoh: Mixtard 30 HM (Tjay dan Rahardja, 2002).
Secara keseluruhan sebanyak 20-25% pasien DM tipe 2 kemudian
akan memerlukan insulin untuk mengendalikan kadar glukosa darahnya.
Untuk pasien yang sudah tidak dapat dikendalikan kadar glukosa
darahnya dengan kombinasi metformin dan sulfonilurea, langkah
selanjutnya yang mungkin diberikan adalah insulin (Waspadji, 2010).
2. Obat Antidiabetik Oral
Obat-obat antidiabetik oral ditujukan untuk membantu penanganan
pasien diabetes Melitus tipe 2. Farmakoterapi antidiabetik oral dapat
dilakukan dengan menggunakan satu jenis obat atau kombinasi dari dua
jenis obat (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005).
a. Golongan Sulfonilurea
Golongan obat ini bekerja merangsang sekresi insulin dikelenjar
pankreas, oleh sebab itu hanya efektif apabila sel-sel β Langerhans
pankreas masih dapat berproduksi Penurunan kadar glukosa darah yang
terjadi setelah pemberian senyawa-senyawa sulfonilurea disebabkan oleh
perangsangan sekresi insulin oleh kelenjar pankreas. Obat golongan ini
merupakan pilihan untuk diabetes dewasa baru dengan berat badan
normal dan kurang serta tidak pernah mengalami ketoasidosis
sebelumnya (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005).

1) Sulfonilurea generasi pertama


Tolbutamid diabsorbsi dengan baik tetapi cepat dimetabolisme
dalam hati. Masa kerjanya relatif singkat, dengan waktu paruh
eliminasi 4-5 jam (Katzung, 2002). Dalam darah tolbutamid terikat
protein plasma. Di dalam hati obat ini diubah menjadi
karboksitolbutamid dan diekskresi melalui ginjal (Handoko dan
Suharto, 1995).
Asektoheksamid dalam tubuh cepat sekali mengalami
biotransformasi, masa paruh plasma 0,5-2 jam. Tetapi dalam tubuh

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


14

obat ini diubah menjadi 1-hidroksilheksamid yang ternyata lebih kuat


efek hipoglikemianya daripada asetoheksamid sendiri. Selain itu itu 1-
hidroksilheksamid juga memperlihatkan masa paruh yang lebih
panjang, kira-kira 4-5 jam (Handoko dan Suharto, 1995).
Klorpropamid cepat diserap oleh usus, 70-80% dimetabolisme
di dalam hati dan metabolitnya cepat diekskresi melalui ginjal. Dalam
darah terikat albumin, masa paruh kira-kira 36 jam sehingga efeknya
masih terlihat beberapa hari setelah pengobatan dihentikan (Handoko
dan Suharto, 1995).
Tolazamid diserap lebih lambat di usus daripada sulfonilurea
lainnya dan efeknya pada glukosa darah tidak segera tampak dalam
beberapa jam setelah pemberian. Waktu paruhnya sekitar 7 jam
(Katzung, 2002).

2) Sulfonilurea generasi kedua


Gliburid (glibenklamid) khasiat hipoglikemisnya yang kira-kira
100 kali lebih kuat daripada tolbutamida. Sering kali ampuh dimana
obat-obat lain tidak efektif lagi, risiko hipoglikemia juga lebih besar
dan sering terjadi. Pola kerjanya berlainan dengan sulfonilurea yang
lain yaitu dengan single-dose pagi hari mampu menstimulasi sekresi
insulin pada setiap pemasukan glukosa (selama makan) (Tjay dan
Rahardja, 2002). Obat ini dimetabolisme di hati, hanya 21% metabolit
diekresi melalui urin dan sisanya diekskresi melalui empedu dan
ginjal (Handoko dan Suharto, 1995).
Glipizid memiliki waktu paruh 2-4 jam, 90% glipizid
dimetabolisme dalam hati menjadi produk yang aktif dan 10%
diekskresikan tanpa perubahan melalui ginjal (Katzung, 2002).
Glimepiride dapat mencapai penurunan glukosa darah dengan
dosis paling rendah dari semua senyawa sulfonilurea. Dosis tunggal
besar 1 mg terbukti efektif dan dosis harian maksimal yang dianjurkan
adalah 8 mg. Glimepiride mempunya waktu paruh 5 jam dan
dimetabolisme secara lengkap oleh hati menjadi produk yang tidak
aktif (Katzung, 2002).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


15

b. Golongan Biguanida
Golongan ini yang tersedia adalah metformin, metformin
menurunkan glukosa darah melalui pengaruhnya terhadap kerja insulin
pada tingkat selular dan menurunkan produksi gula hati. Metformin juga
menekan nafsu makan hingga berat badan tidak meningkat, sehingga
layak diberikan pada penderita yang overweight (Ditjen Bina Farmasi
dan Alkes, 2005).

c. Golongan Tiazolidindion
Golongan obat baru ini memiliki kegiatan farmakologis yang luas
dan berupa penurunan kadar glukosa dan insulin dengan jalan
meningkatkan kepekaan bagi insulin dari otot, jaringan lemak dan hati,
sebagai efeknya penyerapan glukosa ke dalam jaringan lemak dan otot
meningkat. Tiazolidindion diharapkan dapat lebih tepat bekerja pada
sasaran kelainan yaitu resistensi insulin tanpa menyebabkan
hipoglikemia dan juga tidak menyebabkan kelelahan sel β pankreas.
Contoh: Pioglitazone, Troglitazon.

d. Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase


Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim
glukosidase alfa di dalam saluran cerna sehingga dapat menurunkan
hiperglikemia postprandrial. Obat ini bekerja di lumen usus dan tidak
menyebabkan hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar
insulin. Contoh: Acarbose (Tjay dan Rahardja, 2002).

2.4 Hipertensi
Hipertensi adalah keadaan dimana seseorang mengalami kenaikan tekanan
darah di atas normal atau kronis (dalam waktu yamg lama). Menurut WHO, tidak
bergantung pada usia, pada keadaan istirahat batas normal teratas untuk tekanan
sistolik 140 mmHg, sedangkan tekan diastolik 90 mmHg. Daerah batas yang
harus diamati bila sistolik 140-149 mmHg dan diastolik 90-94 mmHg (Anonim,
2008).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


16

2.4.1 Jenis – jenis Hipertensi


2.4.1.1 Hipertensi Primer (Essensial)

Hipertensi primer meliputi lebih kurang 90% dari seluruh pasien hipertensi
dan 10% lainnya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Oleh karena itu, upaya
penanganan hipertensi primer lebih mendapatkan prioritas. Peninggian tekanan
darah tidak jarang merupakan satu-satunya tanda pada hipertensi primer.
Bergantung pada tingginya tekanan darah gejala yang timbul dapat berbeda-beda,
kadang-kadang hipertensi primer berjalan tanpa gejala, dan baru timbul gejala
setelah terjadi komplikasi pada organ target seperti ginjal, mata, otak, dan jantung.

2.4.1.2 Hipertensi sekunder


Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder dari penyakit
komorbid atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah. Pada
kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau renovaskular
adalah penyebab sekunder yang paling sering. Obat-obat tertentu, baik secara
langsung atupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau memperberat
hipertensi dengan menaikkan tekanan darah (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes,
2006).
2.4.2 Klasifikasi Tekanan Darah
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC
7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal,
prehipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC


Klasifikasi TDS (mmHg) TDD (mmHg)
Tekanan Darah
Normal <120 <80
Prehipertensi 120 – 139 80 – 89
Hipertensi derajat 1 140 – 159 90 – 99
Hipertensi derajat 2 ≥160 ≥100
Keterangan : TDS = Tekanan Darah Sistolik
TDD = Tekanan Darah Diastolik

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


17

2.4.3 Pengelolaan Hipertensi


2.4.3.1 Terapi Non Farmakologi
Terapi ini dapat dilakukan dengan mengubah gaya hidup seseorang. Semua
pasien dan individu dengan riwayat keluarga hipertensi perlu dinasehati mengenai
gaya hidup, seperti menurunkan kegemukan, asupan garam (total, < 5 g/hari),
asupan lemak jenuh dan alkohol (pria < 21 unit dan perempuan < 14 unit per
minggu), banyak makan buah dan sayuran, tidak merokok dan berolah raga yang
teratur, semua ini terbukti dapat merendahkan tekanan darah dapat menurunkan
penggunaan obat-obat (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2006).

2.4.3.2 Terapi Farmakologi


Selain cara non farmakologi, penatalaksanaan utama hipertensi adalah obat.
Keputusan untuk memulai memberikan obat antihipertensi berdasarkan beberapa
faktor seperti derajat peninggian tekanan darah, terdapatnya kerusakan organ
target, dan terdapatnya manifestasi klinis penyakit kardiovaskular atau faktor
risiko lain.
Adapun obat-obat yang digunakan adalah: Diuretics, Angiostensin
Converting Enzyme Inhibitor (ACE Inhibitor), Angiostensin Reseptor Blocker
(ARB), Beta Blocker (BBs), Calcium Chanel Blocker (CCB) (Ditjen Bina Farmasi
dan Alkes, 2006).
2.5 Komplikasi Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Hipertensi
Secara umum diperkirakan hipertensi dijumpai dua kali lebih banyak pada
populasi diabetes dibanding non diabetes. Hipertensi diketahui mempercepat dan
memperberat penyulit-penyulit akibat diabetes seperti penyakit jantung koroner,
stroke, nefropati diabetik, retinopati diabetik, dan penyakit kardiovaskular akibat
diabetes, yang meningkat dua kali lipat bila disertai hipertensi. Hipertensi
merupakan faktor utama dari harapan hidup dan komplikasi pada pasien diabetes
dan menentukan evaluasi dari nefropati dan retinopati penderita diabetes
khususnya.
Adapun salah satu penyebab terjadinya hipertensi adalah resistensi
insulin/hiperinsulinemia. Kaitan hipertensi primer dengan resistensi insulin telah
diketahui sejak beberapa tahun silam, terutama pada pasien gemuk. Insulin

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


18

merupakan zat penekan karena meningkatkan kadar ketekolamin dan reabsorpsi


natrium (Saseen dan Carter, 2005).
Hubungan antara diabetes tipe 2 dan hipertensi lebih kompleks dan tidak
berkaitan dengan nefropati. Pada pasien diabetes tipe 2, hipertensi seringkali
bagian dari sindrom metabolik dari resistensi insulin. Hipertensi mungkin muncul
selama beberapa tahun pada pasien ini sebelum diabetes Melitus muncul.
Hiperinsulinemia memperbesar patogenesis hipertensi dengan menurunkan
ekskresi sodium pada ginjal, aktivitas stimulasi dan tanggapan jaringan pada
sistem saraf simpatetik, dan meningkatkan resistensi sekeliling vaskular melalui
hipertropi vaskular. Penatalakasanaan yang giat dari hipertensi (<130/80 mmHg)
mengurangi perkembangan komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular (Saseen
dan Carter, 2005).
2.5.1 Penatalaksanaan Terapi Pada Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit
Penyerta Hipertensi
2.5.1.1 Terapi Non Farmakologi
Tujuan pengobatan hipertensi pada diabetes adalah untuk mengurangi
morbiditas dan mortalitas akibat diabetes sendiri dan akibat hipertensinya. Dalam
penanganan diabetes dengan komplikasi hipertensi, diperlukan perhatian khusus
seperti nefropati, retinopati, gangguan serebrovaskular, obesitas, hiperinsulinemia,
hipokalemia, hiperkalemia, impotensi penyakit vaskuler perifer, neuropati
autonom, dan dislipidemia. Pengobatan non farmakologi berupa pengurangan
asupan garam, penurunan berat badan untuk pasien gemuk, dan berolah raga
(Saseen dan Carter, 2005).

2.5.1.2 Terapi Farmakologi


Penanggulangan farmakologi dilakukan secara individual dengan
memperhatikan berbagai aspek pasien. Oleh karena penyandang diabetes Melitus
mempunyai kelainan metabolik, hal ini harus diperhatikan dalam pemilihan obat.
Obat antihipertensi yang ideal untuk penyandang diabetes Melitus
sebaiknya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Efektif menurunkan tekanan darah.
2. Tidak mengganggu toleransi glukosa atau mengganggu respons terhadap hipo-
hiperglikemia.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


19

3. Tidak mempengaruhi fraksi lipid.


4. Tidak menyebabkan hipotensi postural, tidak mengurangi aliran darah tungkai,
tidak meningkatkan risiko impotensi.
5. Bersifat kardio-protektif dan reno-protektif (Saseen dan Carter, 2005).
Adapun obat yang digunakan untuk pasien hipertensi dengan diabetes
Melitus adalah sebagai berikut :
1. Angiostensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor
ACE Inhibitor bekerja dengan cara menghambat perubahan angiotensin
I menjadi angiotensin II. Golongan obat ini diindikasikan untuk hipertensi
pada diabetes tergantung insulin dengan nefropati, dan mungkin untuk semua
pasien diabetes (Anonim, 2000).
Keuntungan dari ACE Inhibitor pada diabetes adalah ACE Inhibitor
tidak mempunyai efek biokimia yang merugikan pada regulasi glukosa
seperti agen yang lainnya. Selain itu, pada pasien-pasien nephropathia
diabetica ACE Inhibitor merupakan obat pilihan yang lebih baik dibanding
dengan diuretik, karena ACE Inhibitor tidak menimbulkan gangguan pada
regulasi glukosa dan fungsi ginjal (Saseen dan Carter, 2005).
ACE inhibitor sangat dianjurkan dalam mengendalikan diabetes. Obat
ini merupakan pilihan utama untuk penyakit hipertensi dengan kondisi
diabetes. Rekomendasi ini berdasarkan fakta yang menunjukan penurunan
hipertensi yang berhubungan dengan komplikasi, termasuk penderita sakit
jantung, peningkatan penyakit ginjal, dan stroke. Terapi ACE inhibitor
mungkin merupakan bahan antihipertensif yang sangat penting bagi pasien
diabetes (Saseen dan Carter, 2005).
ACE inhibitor amat berguna untuk nefropati diabetik, dimana dilatasi
arteriol eferen memperlambat penurunan progresif fungsi ginjal dan dapat
mengurangi proteinuria juga dapat memperbaiki sensivitas insulin dan tanpa
efek pada lipid atau asam urat dalam serum (Saseen dan Carter, 2005).
Contoh obat-obat golongan ini yaitu Captropil, Lisinopril, Ramipril,
Enalapril, Tanapres (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2006).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


20

2. Angiostensin II Reseptor Blocker (ARB)


ARB menurunkan tekanan darah dengan menghambat secara langsung
reseptor angiostensin II yang sudah diketahui pada manusia: vasokonstrisi,
pelepasan aldosteron, aktivasi simpatetik, pelepasan hormon antidiuretik dan
konstriksi arteriol efferent dari glomelurus ( Ditjen Bina Farmasi dan Alkes,
2006).
ARB mempunyai kemiripan dengan ACE inhibitor yaitu merupakan
obat pilihan pertama dalam pengobatan hipertensi dengan diabetes. ARB
lebih disukai sebagai bahan pertama untuk mengontrol hipertensi dengan
diabetes. Secara farmakologis, ARB akan memberikan nepropoteksi pada
vasodilasi dalam efferent arteriol dari ginjal selain itu ARB juga
meningkatkan sensifitas insulin (Gray, dkk., 2006).
ARB digunakan untuk mengurangi progresi pada diabetik nefropati,
diabetes Melitus tipe 2 dengan protenuria dan kejadian penyakit ginjal. ARB
merupakan antihipertensi yang menunjukkan bukti pengurangan kerusakan
ginjal pada pasien diabetes Melitus tipe 2 dengan nefropati (Saseen dan
Carter, 2005). Contoh obat-obat golongan ini yaitu Valsartan, Losartan,
Irbesartan, Telmisartan, Olmesartan (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2006).

3. Diuretik
a. Diuretik Hemat Kalium
Diuretik hemat kalium bekerja pada hilir tubuli distal dan duktus
kolingentes daerah korteks dengan cara menghambat reabsorbsi natrium dan
sekresi kalium dengan jalan antagonisme kompetitif. Contoh diuretik hemat
kalium adalah spironolakton. Diuretik ini menyebabkan diuresis tanpa
menyebabkan kehilangan kalium dalam urin (Anonim, 2009).
Efek hiperglikemik yang ditimbulkan diuretik nampaknya ditunjukkan
dengan hilangnya kalium. Pasien dengan penurunan konsentrasi serum
potasium menunjukkan lebih mengganggu toleransi glukosa dan dengan
suplementasi potasium dapat mencegah terjadinya hiperglikemia.
Mempertahankan konsentrasi serum kalium normal pada pasien yang
dirawat dengan terapi diuretik merupakan hal yang penting (Saseen dan
Carter, 2005).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


21

b. Diuretik Thiazid
Diuretik Thiazid sangat bermanfaat pada para penderita diabetes, baik
dalam bentuk tunggal maupun gabungan. Perhatian utamanya adalah
kecenderungan menjadikan lebih buruk hiperglikemia, tetapi efek ini
cenderung menjadi kecil dan tidak memproduksi kejadian kardiovaskuler
lebih dibandingkan dengan kelas obat lainnya (Chobanian, dkk., 2004).
Selain itu, merubah diet atau dosis pengobatan diabetes dapat mengatur
hiperglikemia jika hal tersebut terjadi (Saseen dan Carter, 2005).
Diuretik Thiazid merupakan obat pilihan kedua dalam hipertensi pada
DM tipe I dengan nefropathi dan hipertensi pada DM tipe II tanpa
nefropathi. Thiazide Diuretics dalam dosis besar dapat menyebabkan
gangguan toleransi glukosa, memperburuk fraksi lipid, menyebabkan
hipokalemia, dan impotensi (Bakri, dkk., 2001). Contoh obat-obat golongan
Thiazide Diuretics adalah Khorthalidon, Hidrolorotiazid, Indapamid, dan
Metolazon (Saseen dan Carter, 2005).
4. Beta Blocker (β-blocker)
Beta blocker ditujukan untuk resiko kardiovaskular pada pasien
diabetes, dan bahan ini digunakan ketika dibutuhkan. Beta blocker telah
ditunjukan paling tidak pada satu studi menjadi sama efektif dengan ACE
inhibitor dalam hal perlindungan terhadap morbiditas dan mortalitas pasien
diabetes (Saseen dan Carter, 2005).
Obat ini dapat menghambat sekresi insulin dan menyebabkan
hiperglikemia, tetapi resiko rendah yang relatif dari efek ini biasanya lebih
banyak dalam penurunan pada hipertensi yang berkaitan dengan komplikasi.
Jika glukosa darah meningkat, dosis beta blocker dapat dikurangi atau dapat
dilakukan dengan terapi diabetes (Saseen dan Carter, 2005)
Beta blocker merupakan obat pilihan kedua dalam hipertensi pada DM
tipe I dengan nefropati dan hipertensi pada DM tipe II tanpa nefropati. Beta
blocker bersifat netral terhadap metabolisme glukosa dan lipid serta
mempunyai efek renoprotektif dan kardioprotektif. Efek samping dari obat
ini selain menghambat sekresi insulin, juga mengaburkan gejala-gejala
hipoglikemia serta memperberat gangguan aliran darah perifer yang biasa

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


22

terjadi pada penyandang diabetes. Selain itu obat ini dapat memperburuk
profil lipid. Efek samping ini dapat dikurangi dengan pemakaian Beta
Blocker kardioselektif (Bakri, dkk., 2001). Contoh obat-obat golongan ini
yaitu Betaxolol, Atenonol, Metoprolol, dan Bisoprolol (Saseen dan Carter,
2005).
Atenolol, betaxolol, bisoprolol, dan metoprolol adalah penyekat beta
yang kardioselektif, jadi lebih aman daripada penyekat beta yang
nonselektif pada penyakit arteri perifer dan diabetes yang karena alasan
khusus harus diberi penyekat beta. Tetapi kardioselektif adalah fenomena
yang tergantung dosis. Pada dosis yang lebih tinggi, penyekat beta yang
kardioselektif kehilagan selektifitas relatifnya untuk reseptor beta-1 dan
akan memblok reseptor beta-2 seefektif memblok reseptor beta-1 (Ditjen
Bina Farmasi dan Alkes, 2006).

5. CCB (Calcium Chanel Blocker)


CCB direkomendasikan sebagai pilihan untuk merawat hipertensi
pada pasien diabetes. CCB tidak mempengaruhi sensivitas insulin atau
metabolisme glukosa dan nampak menjadi obat antihipertensif yang ideal
untuk pasien diabetes dan hipertensi. Bagaimanapun bukti menunjukkan
penurunan kardiovaskular dengan CCB pada pasien diabetes tidak
meyakinkan sebagaimana antihipertensif yang lain (diuretic, beta blocker,
ACE inhibitor, dan ARB) (Sassen dan Carter, 2005).
CCB tidak berbahaya bagi penderita diabetes, meskipun demikian,
CCB dianggap sebagai bahan kedua setelah beta blocker, ACE inhibitor,
dan ARB. Target tekanan darah pada pasien diabetes adalah < 130/80
mmHg karena kebanyakan pasien diabetes membutuhkan tiga atau lebih
antihipertensif untuk mencapai tujuan ini, CCB merupakan bahan yang
berguna dalam populasi ini, khususnya bila dikombinasi dengan bahan lain
(Saseen dan Carter, 2005). Contoh obat-obat golongan ini yaitu Amlodipin,
Felodipin, Nifedipin, Diltiazem, dan Verapamil (Ditjen Bina Farmasi dan
Alkes, 2006).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Rekam medis pasien Diabetes


Melitus tipe 2 dengan penyakit Pasien yang
penyerta Hipertensi periode memenuhi kriteria
bulan Januari - Juni 2016 di inklusi dan eklusi
RSUP Fatmawati

Obat penyakit
Diabetes
Melitus tipe 2

Obat penyakit
Hipertensi

Obat lainnya

DRP

Interaksi obat Dosis terlalu rendah Dosis terlalu tinggi

Gambar 3.1. Kerangka Konsep

23 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


24

3.2 Definisi Operasional

a). Rekam Medis : catatan dan dokumen tentang indentitas, anamnesis,


pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang
diberikan kepada seorang penderita selama di rawat di rumah sakit, baik rawat
jalan maupun rawat inap.

b). DRPs : suatu kejadian yang tidak diharapkan dari pengalaman pasien akibat
terapi obat, sehingga secara aktual maupun potensial dapat mengganggu
keberhasilan penyembuhan yang diharapkan

c). Interaksi obat : situasi dimana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat, yaitu
meningkatkan atau menurunkan efeknya, atau menghasilkan efek baru yang
tidak diinginkan atau direncanakan.

d). Dosis terlalu rendah : keadaan dimana pasien diberikan obat dengan dosis
terlalu rendah untuk mencapai respon, jika jarak interval pemberian terlalu
jarang atau ketika interaksi obat dapat mengurangi bioavailabilitas obat.

e). Dosis terlalu tinggi : keadaan dimana pasien diberikan obat dengan dosis terlalu
tinggi, jika jarak interval pemberian obat terlalu pendek, jika durasi kerja obat
terlalu panjang, jika terjadi interaksi obat yang dapat menyebabkan reaksi
toksik, atau jika sediaan obat diadministrasikan terlalu cepat.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian


4.1.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Instalasi Rekam Medik dan Depo Farmasi RSUP
Fatmawati Jakarta Selatan.

4.1.2 Waktu Penelitian


Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada pada bulan November 2016
sampai Januari 2017. Analisa data dilaksanakan pada bulan Agustus 2017 hingga
Maret 2018

4.2 Desain Penelitian


Penelitian ini menggunakan desain cross sectional (potong lintang), yaitu
pengumpulan data variabel untuk mendapatkan gambaran kejadian DRP pada
pasien pada waktu tertentu, dengan rancangan analisis deskriptif. Pengumpulan
data dilakukan dengan metode retrospektif .
Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder, yaitu berupa
catatan rekam medis pasien diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi hipertensi di
RSUP Fatmawati Jakarta Selatan periode Januari sampai Juni tahun 2016.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian


4.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2
dengan penyakit penyerta hipertensi yang dirawat di RSUP Fatmawati Jakarta
Selatan pada periode Januari sampai Juni tahun 2016 dengan populasi sebanyak
150 pasien.
4.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian adalah populasi yang memenuhi kriteria inklusi
dan eksklusi. Sampel diambil secara purposive dari populasi yang ada. Besar
sampel sebanyak 30 sampel.

25 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


26

4.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


4.4.1 Kriteria inklusi
Pasien rawat inap yang diagnosis diabetes mellitus tipe 2 yang disertai
penyakit hipertensi berdasarkan hasil pemeriksaan dokter periode Januari - Juni
2016.
1. Pasien yang berusia di atas 25 tahun baik pria maupun wanita.
2. Pasien yang menerima obat lebih dari satu macam obat.
3. Pasien dengan rekam medis yang lengkap
4.4.2 Kriteria ekslusi
1. Rekam medis yang tidak lengkap, hilang, dan tidak jelas.
2. Pasien diabetes mellitus yang tidak disertai hipertensi.
3. Pasien wanita hamil.
4.5 Prosedur Penelitian
4.5.1 Persiapan
1. Pengurusan izin penelitian di RSUP Fatmawati.
2. Presentasi proposal di RSUP Fatmawati.
3. Presentasi proposal di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
4.5.2 Pelaksanaan Pengumpulan Data
1. Penelusuran data pasien Diabetes Melitus tipe 2 dengan penyakit
penyerta Hipertensi yang dirawat inap di RSUP Fatmawati Jakarta
Selatan periode bulan Januari 2016 sampai dengan bulan Juni 2016.
2. Pengambilan dan pencatatan data hasil rekam medis berupa nomor rekam
medis, identitas pasien (nama,umur jenis kelamin, dan penyakit
komplikasi), tanggal perawatan, tekanan darah, diagnosa, data
penggunaan obat (jenis obat, regimen dosis, dan lama penggunaan), hasil
laboratorium diruang instalasi rekam medis.

4.5.3 Pengolahan Data


1. Editing data
Peneliti melakukan penilaian terhadap data mentah, pemeriksaan
kembali kebenaran data yang diperoleh dan mengeluarkan data yang
tidak memenuhi kriteria penelitian.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


27

2. Coding Data
Peneliti melakukan coding terhadap data yang terpilih dari proses
seleksi untuk mempermudah analisis di program Microsoft Excel.
3. Entry Data
Peneliti memasukan data yang telah dilakukan proses coding ke dalam
program Microsoft Excel dalam bentuk tabel.
4. Cleaning data
Kegiatan pengecekan kembali sebelum dilakukan analisis lebih lanjut
untuk menghindari terjadinya ketidaklengkapan atau kesalahan data.
4.5.4 Analisis Data
Analisis data dilakukan menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan
akan dianalisis dengan analisa univariat. Analisa univariat dilakukan untuk
menganalisis setiap variabel (terikat maupun bebas) yang akan diteliti secara
deskriptif. Adapun pengolahan data dengan menggunakan analisis univariat ialah:
1. Karakteristik Pasien
a. Jenis Kelamin
b. Usia Pasien
c. Penyakit Komplikasi
2. Penggunaan antidiabetes dan obat antihipertensi tunggal.
3. Penggunaan antidiabetes dan obat antihipertensi kombinasi.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil
5.1.1 Karakteristik Pasien
Demografi pasien meliputi jenis kelamin, usia, dan jenis penyakit
penyerta. Identifikasi Drug Related Problems pada pasien digambarkan
secara deskriptif dalam bentuk persentase. Jumlah pasien Diabetes Melitus
type 2 yang disertai dengan penyakit hipertensi di instalasi rawat inap teratai
lantai 5 selatan Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati pada bulan Januari -
Juni 2016 terdapat 150 pasien dan didapat 30 pasien yang masuk kriteria
inklusi dalam penelitian ini. Untuk data karakteristik pasien yang menerima
terapi obat dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 5.1 Karakteristik Pasien Diabetes Melitus tipe 2 yang Disertai
dengan Penyakit Hipertensi di instalasi rawat inap Teratai lantai V
RSUP Fatmawati, 2016 (n=30)
Karekteristik Pasien Jumlah Presentase (%)
Berdasarkan Jenis Kelamin
Perempuan 17 56%
Laki-laki 13 44%
Berdasarkan Usia
Dewasa Awal (26 – 35 tahun) - -
Dewasa Akhir (36 – 45 tahun) 1 3%
Lansia Awal (46-55 tahun) 8 27%
Lansia Akhir (56 – 65 tahun) 11 37%
Manula (> 65 tahun) 10 33%

Dari tabel di atas, terlihat bahwa pasien Diabetes Melitus type 2 yang
disertai penyakit hipertensi didominasi oleh perempuan sebanyak 56%, dan
selebihnya laki-laki sebanyak 44%.
Tabel 5.1 diatas menunjukkan bahwa pasien Diabetes Melitus type 2 yang
disertai penyakit hipertensi yang paling banyak adalah kelompok lansia akhir
sebanyak 37%, kemudian manula yaitu 33%, lansia awal sebanyak 27%, dewasa
akhir sebanyak 3% sedangkan kelompok dewasa awal tidak mengalami. Untuk
data distribusi penyakit penyerta lain yang diderita pasien Diabetes Melitus type 2
yang disertai penyakit hipertensi dapat dilihat pada tabel 5.2 dibawah.

28 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


29

Tabel 5.2 Distribusi Penyakit Penyerta pada Pasien Diebetes Mellitus


Tipe 2 yang Disertai Penyakit Hipertensi di instalasi rawat inap Teratai
lantai V RSUP Fatmawati
Penyakit Penyerta Jumlah Presentase (%)
Hiponatremia 8 11%
Anemia 7 9%
Hipokalemia 5 7%
Chronic Kidney Disease 4 6%
Dislipidemia 4 6%
Infeksi Saluran Kemih 4 6%
Stroke 4 6%
Acute Kidney Injury 3 4%
Dispepsia 3 4%
Sepsis 3 4%
Hipoglikemia 2 3%
Hipoalbuminemia 2 3%
Gastritis 2 3%
Atrial Fibrallition 1 1%
Bisitopenia 1 1%
Ca gaster 1 1%
Community Acquired Pneumonia 1 1%
Coronary Artery Disease 1 1%
Coronery Artery Fistula 1 1%
Dengue fever 1 1%
Esofagitis 1 1%
Fraktur humerus 1 1%
Geriatrik 1 1%
Hematemesis melena 1 1%
Hipertrigliserida 1 1%
Hipokalsemia 1 1%
Hipomagnesemia 1 1%
Ketoasidosis Diabetikum 1 1%
Malnutrisi 1 1%
Retinopati 1 1%
Seizure 1 1%
Ulcus gaster 1 1%
Vertigo 1 1%

Dari tabel 5.2 terlihat bahwa Hiponatremia adalah penyakit penyerta


terbanyak yang diderita pasien Diabetes Melitus type 2 dan Hipertensi yaitu
sebanyak 11%, kemudian diikuti oleh Anemia sebanyak 9%, Hipokalemia
sebanyak 7%, lalu diikuti Chronic Kidney Disease, Dislipidemia, Infeksi Saluran
Kemih, Stroke, masing-masing 6%, dan selebihnya dibawah 5% yaitu Acute
Kidney Injury, Dispepsia, Sepsis, Hipoglikemia, Hipoalbuminemia, Gastritis,
Atrial Fibrallition, Bisitopenia, Ca gaster, Community Acquired Pneumonia,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


30

Coronary Artery Disease, Coronery Artery Fistula, Dengue fever, Esofagitis,


Fraktur humerus, Geriatrik, Hematemesis melena, Hipertrigliserida,
Hipokalsemia, Hipomagnesemia, Ketoasidosis Diabetikum, Malnutrisi,
Retinopati, Seizure, Ulcus gaster, Vertigo.
5.1.2 Profil Penggunaan Obat
Untuk profil penggunaan obat pasien Diabetes Melitus type 2 yang disertai
dengan hipertensi di instalasi rawat inap teratai lantai 5 selatan RSUP Fatmawati
dapat dilihat pada tabel dibawah.
Tabel 5.3 Profil Penggunaan Obat pada Pasien Diabetes Melitus tipe 2 yang
Disertai dengan Penyakit hipertensi di instalasi rawat inap Teratai lantai V
RSUP Fatmawati, 2016
Profil Penggunaan Obat Jumlah Presentase (%)
Obat Antidiabetes Kombinasi 13 43%
Obat Antidiabetes Tunggal 11 37%
Tidak Diberikan Obat Antidiabetes 6 20%
Obat Antihipertensi Tunggal 14 47%
Obat Antihipertensi Kombinasi 11 37%
Tidak Diberikan Obat Antihipertensi 5 16%

Berdasarkan tabel diatas, pada pasien Diabetes Melitus type 2 yang


disertai dengan hipertensi terlihat bahwa pasien yang mendapatkan antidiabetes
kombinasi sebanyak 43%, antidiabetes tunggal sebanyak 37%, dan selebihnya
tidak mendapatkan obat antidiabetes. Kemudian sebanyak 47% pasien Diabetes
Melitus type 2 yang disertai hipertensi diberikan obat antihipertensi golongan
tunggal, antihipertensi kombinasi sebanyak 37%, dan selebihnya tidak
mendapatkan obat antihipertensi.
Tabel 5.4 Penggunaan Obat Antidiabetes yang Paling Banyak
Diberikan pada Pasien
Profil Penggunaan Obat Frekuensi Presentase (%)
Obat Diabetes Tunggal
Metformin 5 62.5%
Lantus 2 25%
Actrapid 1 12.5%
Obat Diabetes Kombinasi
Novorapid + Lantus 1 12.5%
Humalog + Lantus 1 12.5%
Metformin + Glimepirid 1 12.5%
Metformin + Novorapid 1 12.5%

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


31

Gliquidone + Glucophage + Lantus 1 12.5%


Metformin + Glimepirid + Lantus 1 12.5%
Novomix + Novorapid + Metformin 1 12.5%
Metformin + Glimepirid + Lantus + Humalog 1 12.5%

Berdasarkan tabel diatas, untuk penggunaan obat diabetes tunggal yang


paling banyak diberikan pada pasien Diabetes Melitus type 2 yang disertai dengan
hipertensi adalah metformin sebanyak 5 pasien.
Untuk penggunaan obat diabetes kombinasi yang diberikan pada pasien
yaitu masing-masing sebanyak 1 pasien.
Tabel 5.5 Penggunaan Obat Antihipertensi yang Paling Banyak Diberikan
pada Pasien
Profil Penggunaan Obat Frekuensi Presentase (%)
Obat Hipertensi Tunggal
Amlodipine 8 57.14%
Captopril 2 14.28%
Adalat Oros (Nifedipine) 1 7.14%
Bisoprolol 1 7.14%
Lisinopril 1 7.14%
Ramipril 1 7.14%
Obat Hipertensi Kombinasi
Amlodipine + Captopril 2 18.18%
Amlodipine + Cardace (Ramipril) 2 18.18%
Amlodipine + Perdipine 1 9.09%
Amlodipine + Bisoprolol 1 9.09%
Adalat Oros (Nifedipine) + Captopril 1 9.09%
Micardis (Telmisartan) + Bisoprolol + Amlodipine 1 9.09%
Amlodipine + VBlock (cavedilol) + Candesartan + Ramipril 1 9.09%
Amlodipine + Ramipril + Hydrochlorothiazide + Bisoprolol 1 9.09%
Amlodipine + Candesartan + Captopril + Bisoprolol 1 9.09%

Berdasarkan tabel diatas, untuk penggunaan obat hipertensi tunggal yang


paling banyak diberikan pada pasien Diabetes Melitus type 2 yang disertai dengan
hipertensi adalah amlodipine yaitu sebanyak 8 pasien (57.14%).
Untuk penggunaan obat hipertensi kombinasi yang paling banyak
diberikan pada pasien adalah pada penggunaan amlodipin dengan captopril dan
amlodipine dengan cardace yaitu masing-masing sebanyak 2 pasien (18.18%).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


32

5.1.3 Drug Related Problems (DRPs)


5.1.3.1 Interaksi Obat
Berdasarkan kejadian Drug Related Problems kategori interaksi obat pada
pasien Diabetes Melitus type 2 yang disertai dengan hipertensi dapat dilihat pada
tabel dibawah.
Tabel 5.6 Data Potensi Kejadian Interaksi Obat pada Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 yang Disertai Dengan Hipertensi (n=30)
Kejadian Interaksi Obat Jumlah Presentase (%)
Mengalami Interaksi Obat 27 Pasien 90%
Tidak Mengalami Interaksi Obat 3 Pasien 10%

Dari data diatas dapat dilihat bahwa hasil DRP kategori interaksi obat pada
pada pasien Diabetes Melitus type 2 yang disertai dengan hipertensi, terdapat 27
pasien (90%) yang berpotensi mengalami interaksi obat. Berdasarkan tingkat
keparahan interaksi obat yang terjadi pada pasien Diabetes Melitus type 2 yang
disertai dengan hipertensi dapat dilihat pada tabel berikut.
Berdasarkan tingkat keparahan interaksi obat yang terjadi pada pasien
Diabetes Melitus type 2 yang disertai dengan hipertensi dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 5.7 Data Potensi Interaksi Obat pada Pasien Diabetes Melitus
Tipe 2 yang disertai dengan Penyakit Hipertensi Berdasarkan
Tingkat Keparahan
Potensi Interaksi Obat Berdasarkan
Tingkat Keparahan Jumlah Persentase (%)

Moderate 156 70.90%


Major 36 16.36%
Minor 28 12.72%
Total 220 90.00%

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa potensi interaksi obat berdasarkan
tingkat keparahannya paling tinggi yaitu moderate sebanyak 70,90%, disusul
tingkat major sebanyak 16,36%, kemudian minor sebanyak 12,72%.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


33

5.1.3.2 Dosis yang Didapatkan Dibawah Dosis Terapi


Berdasarkan kejadian DRPs kategori dosis dibawah dosis terapi pada
penggunaan obat pada pasien Diabetes Melitus type 2 yang disertai dengan
hipertensi dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.8 Distribusi Jumlah DRP Dosis Di Bawah Dosis Terapi (%)
No Golongan Terapi Nama Generik Rute Dosis yang Dosis Normal Frekuensi Presentase
Obat Digunakan (%)
1 Antiulserasi Lansoprazole IV 30mg - 1x 30 mg secara 3 16.66%
inj IV lambat
2x/hari
Lansoprazole IV 30mg - 1x 30 mg secara
inj IV lambat
2x/hari
Lansoprazole IV 1ampul -2x 30 mg secara
inj IV lambat
2x/hari
2 Obat SSP golongan Prohiper PO 1/2tab - 2x 20-30 mg/hari 2 11.11%
lain (Methylphenidate) diberikan
dalam 2-3
dosis terbagi
Prohiper PO 1/2-0-0 20-30 mg/hari
(Methylphenidate) diberikan
dalam 2-3
dosis terbagi
3 Antikonvulsan, Fenitoin PO 100mg - 1x 100mg - 3- 2 11.11%
antiepilepsi 4xsehari
Fenitoin PO 100mg - 2x 100mg - 3-
4xsehari
4 Antihipertensi Bisoprolol PO 1.25mg - 1x 5mg/hari 2 11.11%
Bisoprolol PO 1.25mg - 1x 5mg/hari
Vbloc (Carvedilol) PO 3,125mg - 1x 6.25mg/hari 1 5.56%
5 Vitamin, elektrolit KSR PO 600mg - 2x 1-2 tab 3x 1 5.56%
/hari
6 Antirefluks Sucralfat PO 1c - 3x 1gr-4x/hari 1 5.56%
7 Diuretic Mannitol IV 50cc - 4x 250 ml-1 L 1 5.56%
dalam 24 jam
8 Antihiperlipidemia Gemfibrozil PO 300mg - 1x 600mg 2x/hari 1 5.56%
9 Antidiabetik Glucophage PO 1 - 1x 500 mg 2- 1 5.56%
(Metformin) 3xsehari
10 Insufisiensi ginjal Ketosteril (Asam PO II - 3x 4-8 kapsul 1 5.56%
kronik Amino Esensial) 3x/hari
11 Suplemen, Natrium Bikarbonat PO 1-3x 1-5gr/hari 1 5.56%
elektrolit, antidote
12 Calcium Channel Amlodipine PO 2.5mg-1x 5-10mg 1 5.56%
Blocker
Total 18 100%

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


34

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa untuk kategori DRPs pada dosis
dibawah dosis terapi, paling banyak pada penggunaan lansoprazol sebanyak 3
pasien (25%).
5.1.3.3 Dosis yang Didapatkan Diatas Dosis Terapi
Berdasarkan kejadian DRPs kategori dosis diatas dosis terapi pada
penggunaan obat antidiabetes pada pasien penderita Diabetes Melitus type 2 yang
disertai dengan hipertensi dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.9 Distribusi Jumlah DRP Dosis Di Atas Dosis Terapi (%)
No Golongan Terapi Nama Generik Rute Dosis yang Dosis Normal Frekuensi Presentase
Obat Digunakan (%)
1 Antiulserasi Omeprazole IV 40mg - 2x 40 mg 1x/hari 7 38.89%
Omeprazole IV 40mg - 2x 40 mg 1x/hari
Omeprazole IV 40mg - 2x 40 mg 1x/hari
Omeprazole IV 40mg - 2x 40 mg 1x/hari
Omeprazole IV 40mg - 2x 40 mg 1x/hari
Omeprazole IV 1amp - 2x 40 mg 1x/hari
Omeprazole IV 1gr - 2x 40 mg 1x/hari
2 Vasodilator perifer Citicolin IV 1000mg - 2x Max 1000mg/hari 3 16.67%
dan activator cerebral

Citicolin IV 500mg - 3x Max 1000mg/hari


Citicolin IV 500mg - 3x Max 1000mg/hari
3 Vitamin Asam Folat PO 3tab-1x 0.5-1mg/hari 3 16.67%
Asam Folat PO 3tab-1x 0.5-1mg/hari
Asam Folat PO 3tab-1x 0.5-1mg/hari
4 Diuretic Lasix IV 5mg/jam 20-40mg/hari 1 5.56%
(Furosemide)
5 Antibiotic Meropenem IV 1gr – 3x 500mg/8jam 1 5.56%
Ciprofloxasin PO 400mg -2x 250-500mg/hari 1 5.56%
6 Antikoagulasi Kalnex (Asam IV 500mg – 2x 2-10ampul (10- 1 5.56%
Traneksamat) 50mL)/hari
7 Obat kumur Minosep Diku 4x 2x sehari 1 5.56%
(Chlorhexidine mur
Gluconate)
Total 18 100%

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa untuk kategori DRPs dosis diatas
dosis terapi, paling banyak pada penggunan citicolin jalur intravena sebanyak
7kali (38.89%).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


35

5.2 Pembahasan
5.2.1 Karakter Pasien
5.2.1.1 Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia
Didapat sampel sebanyak 30 pasien yang masuk kriteria inklusi dari total
populasi sebanyak 150 pasien. Hal ini dikarenakan banyak data yang tidak masuk
kriteria inklusi seperti umur pasien yang dibawah 25tahun, data rekam medis
yang tidak lengkap, tekanan darah harian yang tidak dipantau, hasil lab yang tidak
lengkap, tidak terdapat data umur, dan berat badan pasien.
Terlihat pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa penderita Diabetes Melitus
type 2 yang disertai dengan Hipertensi terbanyak adalah pasien pada rentang usia
56-65 tahun, yaitu sebanyak 11pasien. Hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Prima Ayu Oktavia pada tahun 2014 yang menunjukkan prevalensi
paling banyak pada usia 51-60 sebanyak 28.6%, lalu diikuti pada usia 61-70
sebanyak 25.4%. Peningkatan risiko diabetes seiring dengan berjalannya umur,
khususnya pada usia lebih dari 40tahun yang disebabkan karena pada usia tersebut
mulai terjadi peningkatan intoleransi glukosa. Adanya proses penuaan
menyebabkan berkurangnya kemampuan sel β pancreas dalam memproduksi
insulin (Sunjaya, 2009). Selain itu pada individu yang berusia lebih tua terdapat
penurunan aktivitas mitokondria di sel-sel otot sebsar 35%. Hal ini berhubungan
dengan peningkatan kadar lemak di oto sebesar 30% dan memicu terjadinya
resistensi insulin.
5.2.1.2 Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin
Dari tabel 5.1 diatas dapat dilihat bahwa pasien penderita Diabetes Melitus
type 2 yang disertai hipertensi lebih banyak pada perempuan yaitu sebanyak 17
pasien (56%) dan sisanya pada laki-laki sebanyak 13 pasien (44%). Hal ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Riskesdas pada tahun 2013 yang
menunjukkan prevalensi penderita Diabetes Melitus lebih besar pada wanita
(7.70%) dibandingkan pria (5.60%).
Diabetes Melitus merupakan salah saatu penyakit dengan angka kejadian
tertinggi di Indonesia dan tingginya angka tersebut menjadikan Indonesia
peringkat keempat jumlah DM terbanyak di dunia setelah India, China, dan
Amerika Serikat (Suyono, 2006). Tingginya kejadian DM type 2 pada perempuan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


36

dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko, seperti obesitas, kurang aktivitas/latihan


fisik, usia, dan riwayat DM saat hamil.
5.2.1.3 Karakteristik Pasien Berdasarkan Penyakit Penyerta Lain
Dari data tabel 5.2 menunjukkan bahwa penyakit penyerta lain yang
diderita oleh pasien Diabetes Melitus type 2 yang disertai dengan hipertensi paling
banyak adalah hyponatremia yaitu sebanyak 11%, diikuti oleh anemia yaitu
sebanyak 9%, lalu hypokalemia 7%, lalu diikuti oleh oleh dislipidemia, CKD,
stroke, ISK yaitu sebanyak 6%, dan untuk penyakit yang lainnya dibawah 5%.
Hiponatremia adalah sebuah gangguan elektrolit (gangguan pada garam
dalam darah) dimana konsentrasi natrium dalam plasma lebih rendah dari normal,
khusunya dibawah 135meq/L. Sebagian besar kasus hyponatremia terjadi dalam
hasil orang dewasa dari jumlah berlebih atau efek dari hormon penahan air yang
dikenal dengn nama hormone antidiuretik. Hiponatremia paling sering merupakan
komplikasi dari penyakit medis lain yang dimana banyak cairan kaya natrium
yang hilang (misalnya karena diare atau muntah), atau kelebihan air yang
terakumulasi dalam tubuh pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang dapat
dieksresikan.
Anemia didefinisakan sebagai penurunan kadar hemoglobin dalam darah
dan merupakan suatu kondisi dimana jumlah sel darah yang mempunyai kapasitas
membawa oksigen tidak dapat mencukupi kebutuhan fisiologis tubuh. Seseorang
bisa dikatakan anemia berdasrkan kriteria world health organization (WHO) jika
terjadi penurunan kadar hemoglobin dibawah normal. Penurunan kadar
hemoglobin dibawah normal yaitu ketika kadar hemoglobin dibawah <120 g/L
atau <12.0 g/dL. Pada dasarnya anemia disebabkan karena gangguan
pembentukan, kehilangan darah (pendarahan), dan proses penghancuran yang
terlalu cepat. Anemia merupakan salah satu bagian dari komplikasi kronis yang
terjadi jika DM tidak dikelola dengan baik. Kontrol glikemik yang buruk
menyebabkan terjadinya neuropati otonom sehingga mengganggu produksi
eritropoiten dan pelepasannya karena sebagian mekanisme tersebut diatur oleh
sistem saraf otonom, selain itu juga terjadi kerusakan arsitektur ginjal karena
hiperglikemia kronis dan akibat terbentuknya advanced glycation end product
(AGEs), yang akhirnya dapat meneyebabkan terjadinhya anemia pada pasien DM.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


37

5.2.2. Profil Penggunaan Obat


5.2.2.1. Penggunaan Obat Antidiabetes Tunggal
Pemakaian obat antidiabetes tunggal telah banyak diberikan kepada
pasien, baik secara oral maupun injeksi. Pemakaian obat antidiabetes tunggal yang
paling banyak digunakan adalah golongan Biguanida yaitu Metformin sebanyak 8
pasien (57.14%).
Untuk pemberian antidiabetes oral berupa Metformin pada proses awal
terapi telah sesuai dengan apa yang diterbitkan PERKENI, dimana Metformin
merupakan antidiabetes oral pilihan utama (Soegondo,2002). Karena Metformin
mampu mengendalikan kondisi glikemia menjadi normal dan menurunkan efek
toksik glukosa pada pancreas sehingga dapat memperbaiki fungsi sel β (Sterne,
2007). Metformin bermanfaat terhadap sistem kardiovaskular dan mempunyai
risiko yang kecil terhadap kejadian hipoglikemia. Hasil penelitian yang dilakukan
oleh Praditya (2006), dimana penggunaan ADO tunggal terbanyak adalah
Metformin (47%).
Penggunaan antidiabetes tunggal terbesar setelah golongan Biguanida
adalah lantus. Lantus (insulin glargine rekombinan) adalah insulin manusia
dengan komposisi kimia yang sedikit dimodifikasi. Perubahan kimia memberikan
Insulin glargine dengan onset lambat tindakan (70 menit) dan durasi yang lebih
lama tindakan (24 jam) dibandingkan insulin manusia biasa. Kegiatannya tidak
memuncak. Lantus adalah insulin long-acting yang digunakan untuk mengobati
orang dewasa dengan diabetes tipe 2 dan orang dewasa serta anak-anak (6 tahun
dan lebih tua) dengan diabetes tipe 1 untuk kontrol gula darah tinggi.
5.2.2.2. Penggunaan Obat Antidiabetes Kombinasi
Kombinasi obat antidiabetes digunakan pada saat penggunaan obat
antidiabetes tunggal belum mencapai target glikemik yang diinginkan.
Berdasarkan penggunaan obat antidiabetes kombinasi pada pasien Diabetes
Melitus type 2 yang disertai dengan hipertensi diatas, didapatkan kombinasi yang
berbeda-beda pada tiap masing-masing pasien. Namun dari hasil pengolahan data
tidak ditemukan pemberian obat antidiabetes kombinasi yang terbanyak, karena
masing-masing pasien menggunakan obat antidiabetes kombinasi yang berbeda-
beda dan dengan jumlah.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


38

5.2.2.3. Penggunaan Obat Antihipertensi


Pemakaian obat antihipertensi tunggal telah banyak diberikan kepada
pasien, baik secara oral maupun injeksi. Pemakaian obat antihipertensi tunggal
yang paling banyak digunakan adalah Amlodipin. Menurut Pedoman Tatalaksana
Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular, antagonis kalsium digunakan sebagai
obat tambahan setelah optimalisasi dosis β blocker bila terjadi tekanan darah tetap
tinggi, angina yang persisten atau adanya kontraindikasi absolute pemberian dari
β blocker. Antagonis kalsium bekerja mengurangi kebutuhan oksigen miokard
dengan menurunkan resistensi vaskuler perifer dan menurunkan tekanan darah.
Selain itu antagonis kalsium juga akan meningkatkan suplai oksigen miokard
dengan efek vasodilatasi koroner (Soenarta et al, 2015).
Penggunaan antihipertensi terbesar setelah amlodipine adalah captopril.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gumi V.C. dkk di Bali pada
tahun 2013 yang menunjukkan penggunaan obat paling banyak adalah captopril,
dimana captopril umumnya dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik
sebesar 15-25 % dari tekanan darah awal (V.C Gumi et al, 2013).

5.2.3. Drug Related Problem (DRPs)


5.2.3.1. Interaksi Obat
Interaksi obat terjadi jika efek suatu obat (index drug) berubah akibat
adanya (precipitant drug), makanan, atau minuman. Interaksi obat dapat
menghasilkan efek yang memang dikehendaki (desirable drug interaction), atau
efek yang tidak dikehendaki (undesirable/ adverse drug interactions) yang
lazimnya menyebabkan efek samping obat dan/atau toksisitas karena
meningkatnya kadar obat di dalam plasma,atau sebaliknya menurunkan kadar obat
dalam plasma yang menyebabkan hasil terapi menjadi tidak optimal. Sejumlah
besar obat baru yang dilepas di pasaran setiap tahunnya menyebabkan interaksi
baru antar obat akan semakin sering muncul terjadi (Gitawati 2008).
Interaksi obat dapat terjadi saat pemberiaan dua obat secara bersamaan, baik
antidiabetes dengan antihipertensi, antidiabetes dengan obat lain, atau
antihipertensi dengan obat lain. Interaksi obat yang mungkin timbul dapat dilihat
pada referensi yang lebih detail, misalnya Medscape, Stockley’s Drug

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


39

Interactions, lexicomp dan drugs.com. Interaksi antar sesama obat antidiabetes


dan interaksi obat antidiabetes dengan obat lain dapat mempengaruhi efek kerja
dari obat antidiabetes tersebut dan akan mempengaruhi kadar glukosa darah. Hal
ini dapat menyebabkan kadar glukosa darah yang menurun secara drastic
(hipoglikemia) atau dapat menyebabkan keadaan kadar glukosa drah yang
melebihi batas normal (hiperglikemia) (gula darah sewaktu >200mg/dl). Hasil
analisis dapat dilihat pada lampiran.
5.2.3.1.1. Interaksi Obat Berdasarkan Tingkat Keparahan
Dalam interaksi obat, hal lain yang harus diperhatikan adalah tingkat
signifikansi dari interaksi obat yang berkaitan dengan besarnya efek yang akan
terjadi pada pasien. Tingkat signifikansi interaksi obat ini terbagi menjadi tiga,
yaitu minor, moderat dan major. Tingkat signifikansi major merupakan interaksi
yang harus dihindari karena bersifat membahayakan, dapat mengancam jiwa dan
dapat menyebabkan kerusakan permanen. Tingkat signifikansi moderat
merupakan interaksi yang dihindari, jika digunakan memerlukan pemantauan
yang cukup ketat dari tim medis. Interaksi ini dapat menyebabkan memburuknya
status klinis pasien, sehingga diperlukan pengobatan tambahan, rawat inap, atau
memperpanjang masa inap di rumah sakit. Tingkat signifikansi minor merupakan
interaksi yang tidak begitu bermasalah, dapat diatasi dengan baik. Menghindari
resiko atau meminimalkan resiko interaksi dengan tetap dilakukannya pemantauan
status pasien (Samiyah, 2017).
Berdasarkan identifikasi interaksi obat secara literatur, didapatkan seluruh
pasien Diabetes Melitus type 2 yang disertai dengan hipertensi mengalami
interaksi obat. Berdasarkan hasil penelitian, tingkat keparahan interaksi obat yang
paling banyak terjadi adalah pada tingkat moderat, yaitu sebanyak 156 kejadian
(70,90 %). Interaksi obat pada tingkat moderat adalah interaksi obat yang cukup
bermakna signifikan secara klinis, lebih baik dihindari menggunakan kombinasi
kecuali jika dalan keadaan khusus atau manfaatnya lebih besar dibanding potensi
resikonya. Namun pada penelitian ini, interaksi obat pada tingkat moderat tidak
dapat diamati secara keseluruhan apakah terjadi interaksi yang berdampak pada
terapi dikarenakan design penelitian yang bersifat retrospektif.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


40

Selanjutnya interaksi obat terbanyak kedua adalah pada tingkat keparahan


mayor, yaitu sebanyak 36 kejadian (16,36 %). Jenis obat yang mengalami
interaksi mayor dapat dilihat pada tabel 5.12 dibawah.
Tabel 5.10 Interaksi Obat pada Tingkat Mayor
No Obat Pertama Obat Kedua Interaksi Obat Efek Interaksi
1 Fenitoin Amlodipine amlodipin dapat ↑ efek monitor untuk toksisitas fenitoin jika amlodipine
fenitoin dan fenitoin dimulai / dosis meningkat, atau efek fenitoin
dapat ↓ efek menurun jika amlodipine dihentikan / dosis
amlodipine menurun. monitor untuk mengurangi efek terapi
amlodipine dengan penggunaan bersamaan
fenitoin. pelabelan nifedipin merekomendasikan
menghindari penggunaan bersamaan dengan
fenitoin, dan pelabelan kanadian nimodipine
kontraindikasi penggunaan bersamaan dari fenitoin
2 Simvastatin Amlodipine amlodipine dapat ↑ hindari penggunaan amlodipine bersamaan dengan
kadar simvastatin simvastatin bila memungkinkan. jika digunakan
dalam darah dan ↑ efek bersama, hindari dosis simvastatin lebih dari 20mg
samping / hari, dan pantau secara ketat untuk tanda-tanda
toksisitas inhibitor HMG-CoA reduktase (misalnya.
Myositis, rhabdomyolysis)
3 Amlodipine Simvastatin amlodipine dapat ↑ hindari penggunaan amlodipine bersamaan dengan
kadar simvastatin simvastatin bila memungkinkan. jika digunakan
dalam darah dan ↑efek bersama, hindari dosis simvastatin lebih dari 20mg
samping / hari, dan pantau secara ketat untuk tanda-tanda
toksisitas inhibitor HMG-CoA reduktase (misalnya.
Myositis, rhabdomyolysis)
4 Allopurinol Calcium Carbonate calcium carbonat dapat berikan calcium carbonat setidaknya 3 jam sebelum
↓ penyerapan pemberian allopurinol untuk mengurangi risiko
allopurinol potensial dari interaksi ini
5 Allopurinol Ramipril ramipril dapat ↑ jika allopurinol harus digunakan pada pasien yang
potensi reaksi alergi menggunakan ramipril, pantau reaksi
atau hipersensitivitas hipersensitivitas setelah inisiasi terapi allopurinol
terhadap allopurinol minimal selama 5 minggu
6 Domperidone Metoclopramide dapat saling ↑ efek penggunaan bersamaan harus dihindari bila
QTc-Prolonging memungkinkan. Penggunaan bersama diharapkan
secara substansial meningkatkan resiko untuk
toksisitas yang serius, termasuk pengembangan
torsades de pointes(TdP) atau takiaritmia ventrikel
yang signifikan lainnya. pasien dengan faktor
resiko yang hadir (misalnya. usia yang lebih tua,
jenis kelamin perempuan, bardikardia,
hipokalemia, hipomagnesemia, penyakit jantung,
dan konsetrasi obat yang lebih tinggi), akan
memiliki resiko yang lebih tinggi untuk toksisitas
yang berpotensi mengancam nyawa ini.
penggunaan kombinasi semacam itu harus disertai
dengan pemantauan ketat untuk bukti perpanjangan
QT atau perubahan lain dari ritme jantung
7 Lasix Sucralfat sucralfat dapat ↓ efek hindari pemberian oral lasix dan sucralfat secara
lasix, dapat merusak bersamaan. Pemberian terpisah paling tidak 2 jam.
penyerapan Lasix Tidak berlaku untuk lasix yang diberikan secara
parenteral
8 Ramipril Candesartan candesartan dapat penggunaan bersamaan secara khusus tidak
↑efek toxic Ramipril dianjurkan dan merupakan kontraindikasi pada

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


41

pasien dengan nefropati diabetik. Jika kombinasi


seperti itu harus digunakan, monitor pasien lebih
dekat untuk respon yang lebih besar dari yang
diperkirakan pada kombinasi, termasuk
pemantauan tekanan darah, fungsi ginjal, dan
konsentrasi kalium
9 Amlodipine Simvastatin amlodipine dapat ↑ hindari penggunaan amlodipine bersamaan dengan
kadar simvastatin simvastatin bila memungkinkan. jika digunakan
dalam darah dan ↑efek bersama, hindari dosis simvastatin lebih dari 20mg
samping / hari, dan pantau secara ketat untuk tanda-tanda
toksisitas inhibitor HMG-CoA reduktase (misalnya.
Myositis, rhabdomyolysis)
10 Haloperidol Ondansetron dapat saling ↑ efek penggunaan bersamaan harus dihindari bila
QTc-Prolonging memungkinkan. Penggunaan bersama diharapkan
secara substansial meningkatkan resiko untuk
toksisitas yang serius, termasuk pengembangan
torsades de pointes(TdP) atau takiaritmia ventrikel
yang signifikan lainnya. pasien dengan faktor
resiko yang hadir (misalnya. usia yang lebih tua,
jenis kelamin perempuan, bardikardia,
hipokalemia, hipomagnesemia, penyakit jantung,
dan konsetrasi obat yang lebih tinggi), akan
memiliki resiko yang lebih tinggi untuk toksisitas
yang berpotensi mengancam nyawa ini.
penggunaan kombinasi semacam itu harus disertai
dengan pemantauan ketat untuk bukti perpanjangan
QT atau perubahan lain dari ritme jantung
11 Haloperidol Metoclopramide metoclopromide dapat hindari penggunaan metoclopramide dalam
↑ efek toksik kombinasi dengan obat lain yang terkait dengan
haloperidol pengembangan reaksi ekstrapiramidal (misalnya.
Tardive dyskinesia) dan sindrom neuroleptik ganas
12 Ascardia Asam Mefenamat asam mefenamat dapat pantau peningkatan resiko perdarahan selama
↑ efek negatif/toksik, ↓ penggunaan asam mefenamat dan ascardia secara
efek kardioprotektif bersamaan. Ibuprofen, dan mungkin NSAID
ascardia, ascardia nonselektif lainnya, dapat mengurangi efek
dapat ↓ konsentrasi kardioprotektif ascardia. Tampak bijaksana untuk
serum asam menghindari penggunaan iburpofen secara rutin
mefenamat, dan dans ering pada pasien yang menerima ascardia
kombinasi dapat ↑ untuk kardioprotektifnya. analgesik alternatif
resiko perdarahan (misalnya. acetaminophen) mungkin pilihan yang
lebih aman. pasien mungkin memerlukan konseling
tentang waktu pemberian ibuporfen dan ascardia
yang tepat. ibuprofen harus diberikan 30-120menit
setelah ascardia segera dikeluarkan, 2-4jam setelah
ascardia rilis diperpanjang, atau setidaknya 8jam
sebelum ascardia
13 Pradaxa Ascardia ascardia dapat ↑ efek pertimbangkan dengan seksama resiko dan manfaat
negatif/toksik pradaxa, yang diperkirakan dari kombinasi ini. tingkatkan
↑ resiko perdarahan pemantauan untuk melihat perdarahan jika
dabigatran (pradaxa) digunakan dalam kombinasi
dengan obat antiplatelet apa pun. Monografi
produk kanada untuk dabigatran (pradaxa) secara
khusus merekomendasikan untuk menghindari
penggunaan bersama dari prasugrel atau ticagrelor,
dan itu juga merekomendasikan bahwa aspirin
(ascardia) dosis rendah (100mg/hari) dapat
dipertimbangkan jika diperlukan tetapi penggunaan
antiplatelet tidak dianjurkan untuk pencegahan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


42

stroke pada pasien dengan atrial fibralasi


14 Pradaxa Asam Mefenamat asam mefenamat dapat resiko komprehensif untuk penilaian manfaat harus
↑ efek negatif/toksik dilakukan untuk semua pasien sebelum penggunaan
pradaxa, ↑ resiko bersamaan dari obat pradaxa dan asam mefenamat.
perdarahan Resiko kemungkinan bervariasi sesuai dengan
dosis dan durasi penggunaan yang diperkirakan.
Jika digabungkan awasi pasien lebih dekat untuk
tanda-tanda dan gejala perdarahan dengan
penggunaan bersamaan, dan konseling pasien
tentang peningkatan resiko perdarahan untuk
segera melaporkan tanda-tanda atau gejala
kemungkinan perdarahan
16 Pradaxa Simvastatin simvastatin dapat ↑ pertimbangkan alternatif HMG-CoA reductase
efek antikoagulan inhibitor (statin) pada pasien yang memakai
pradaxa dabigatran (pradaxa) yang memerlukan terapi
statin. Jika digunakan bersama, pantau pasien
secara dekat untuk tanda dan gejala perdarahan
17 Simarc Clopidogrel clopidogrel dapat ↑ tingkatkan pemantauan ketekunan untuk tanda dan
efek antikoagulan gejala perdarahan jika obat ini digunakan secara
simarc bersamaan
18 Ciprofloxasin Ondansetron dapat saling ↑ efek penggunaan bersamaan harus dihindari bila
QTc-Prolonging memungkinkan. Penggunaan bersama diharapkan
secara substansial meningkatkan resiko untuk
toksisitas yang serius, termasuk pengembangan
torsades de pointes(TdP) atau takiaritmia ventrikel
yang signifikan lainnya. pasien dengan faktor
resiko yang hadir (misalnya. usia yang lebih tua,
jenis kelamin perempuan, bardikardia,
hipokalemia, hipomagnesemia, penyakit jantung,
dan konsetrasi obat yang lebih tinggi), akan
memiliki resiko yang lebih tinggi untuk toksisitas
yang berpotensi mengancam nyawa ini.
penggunaan kombinasi semacam itu harus disertai
dengan pemantauan ketat untuk bukti perpanjangan
QT atau perubahan lain dari ritme jantung
19 Ciprofloxasin Ulsafat ulsafat dapat ↓ interaksi dapat diminimalkan dengan pemberian
konsentrasi serum ciprofloxasin oral sitidaknya 2jam sebelum atau
ciprofloxasin 6jam sebelum dosis ulsafat. Pemisahan yang lebih
besar dari kedua obat tampaknya akan mengurangi
resiko untuk interaksi yang signifikan lebih jauh.
Jika harus diberikan lebih dekat bersama daripada
yang diinginkan, pantau untuk penurunan efek
terapeutik dari ciprofloxasin oral
Domperidone Ondansetron dapat saling ↑ efek penggunaan bersamaan harus dihindari bila
QTc-Prolonging memungkinkan. Penggunaan bersama diharapkan
secara substansial meningkatkan resiko untuk
toksisitas yang serius, termasuk pengembangan
torsades de pointes(TdP) atau takiaritmia ventrikel
yang signifikan lainnya. pasien dengan faktor
resiko yang hadir (misalnya. usia yang lebih tua,
jenis kelamin perempuan, bardikardia,
hipokalemia, hipomagnesemia, penyakit jantung,
dan konsetrasi obat yang lebih tinggi), akan
memiliki resiko yang lebih tinggi untuk toksisitas
yang berpotensi mengancam nyawa ini.
penggunaan kombinasi semacam itu harus disertai
dengan pemantauan ketat untuk bukti perpanjangan
QT atau perubahan lain dari ritme jantung

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


43

20 Bisoprolol Fenitoin fenitoin dapat ↑ pertimbangkan alternatif untuk salah satu obat
metabolisme berinteraksi untuk menghindari kegagalan
bisoprolol sehingga terapeutik subtrat. Beberapa kombinasi secara
dapat ↑ resiko khusus dikontraindikasikan oleh produsen.
kegagalan terapi Penyesuaian dosis yang disarankan juga ditawarkan
oleh beberapa produsen. harap tinjau sisipan paket
yang berlaku. pantau efek penurunan substrat CYP
jika inducer CYP dimulai/dosis meningkat, dan
peningkatan efek jika inducer CYP
dihentikan/dosis menurun
21 Ultracet Alprazolam alprazolam dapat ↑ hindari penggunaan bersama analgesik opioid dan
efek ultracet bezodiazepin atau depresan SSP lainnya bila
memungkinkan. Obat-obat ini hanya boleh
dikombinasikan jika pilihan pengobatan alternatif
tidak memadai. Jika digabungkan, batasi dosis dan
durasi setiap obat hingga seminimal mungkin
sambil mencapai efek klinis yang diinginkan.
peringatkan pasien dan pengasuh tentang resiko
pernapasan/sedasi yang diperlambat atau sulit.
22 Ultracet Esilgan esilgan dapat ↑ efek hindari penggunaan bersama analgesik opioid dan
ultracet bezodiazepin atau depresan SSP lainnya bila
memungkinkan. Obat-obat ini hanya boleh
dikombinasikan jika pilihan pengobatan alternatif
tidak memadai. Jika digabungkan, batasi dosis dan
durasi setiap obat hingga seminimal mungkin
sambil mencapai efek klinis yang diinginkan.
peringatkan pasien dan pengasuh tentang resiko
pernapasan/sedasi yang diperlambat atau sulit.
23 Amlodipine Rifampicin rifampicin dapat ↓ pertimbangkan terapi alternatif untuk obat
konsentrasi serum kontraindikasi ini pada pasien yang menerima
amlodipine rifampicin. Penghambat calcium channel blockers
(CCBs) kemungkinan akan berinteraksi dengan
turunan rifampicin hingga setidaknya beberapa
derajat. Jika menggunakan kombiasi ini, monitor
pasien secara dekat untuk tanda-tanda klinis efek
terapi CCB yang berkurang. peningkatan dosis
CCB atau terapi alterantif (non-CCB) mungkin
diperlukan
24 Haloperidol Fenitoin fenitoin dapat ↑ pertimbangkan alternatif untuk salah satu obat
metabolisme berinteraksi untuk menghindari kegagalan
haloperidol terapeutik subtrat. Beberapa kombinasi secara
khusus dikontraindikasikan oleh produsen.
Penyesuaian dosis yang disarankan juga ditawarkan
oleh beberapa produsen. harap tinjau sisipan paket
yang berlaku. pantau efek penurunan substrat CYP
jika inducer CYP dimulai/dosis meningkat, dan
peningkatan efek jika inducer CYP
dihentikan/dosis menurun
25 Haloperidol Rifampicin rifampicin dapat ↑ pertimbangkan alternatif untuk salah satu obat
metabolisme berinteraksi untuk menghindari kegagalan
haloperidol terapeutik subtrat. Beberapa kombinasi secara
khusus dikontraindikasikan oleh produsen.
Penyesuaian dosis yang disarankan juga ditawarkan
oleh beberapa produsen. harap tinjau sisipan palket
yang berlaku. pantau efek penurunan substrat CYP
jika inducer CYP dimulai/dosis meningkat, dan
peningkatan efek jika inducer CYP
dihentikan/dosis menurun

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


44

26 Insulin Pioglitazon pioglitazon dapat ↑ jika insulin dikombinasikan dengan pioglitazon,


efek toksik insulin pengurangan dosis insulin harus dipertimbangkan
untuk mengurangi resiko hipoglikemia. Pantau
pasien untuk retensi cairan dan tanda/gejala gagal
jantung dengan kombinasi ini
27 Levemir Pioglitazon pioglitazon dapat ↑ jika levemir dikombinasikan dengan pioglitazon,
efek toksik levemir pengurangan dosis levemir harus dipertimbangkan
untuk mengurangi resiko hipoglikemia. Pantau
pasien untuk retensi cairan dan tanda/gejala gagal
jantung dengan kombinasi ini
28 Novorapid Pioglitazon pioglitazon dapat ↑ jika novorapid dikombinasikan dengan pioglitazon,
efek toksik novorapid pengurangan dosis novorapid harus
dipertimbangkan untuk mengurangi resiko
hipoglikemia. Pantau pasien untuk retensi cairan
dan tanda/gejala gagal jantung dengan kombinasi
ini
29 Fenitoin Rifampicin rifampicin dapat ↓ jika memungkinkan, cari alternatif ini. jika obat-
konsentrasi serum obat ini digunakan bersama-sama, pantau secara
fenitoin ketat untuk penurunan konsentrasi/efek jika
rifampicin dimulai/dosis meningkat, atau
peningkatan konsentrasi/efek jika rifampicin
dihentikan/dosis menurun
30 Ceremax Fenitoin fenitoin dapat ↓ hindari penggunaan bersamaan dari ceremax dan
konsentrasi serum fenitoin
ceremax
31 Nimotop Fenitoin fenitoin dapat ↓ hindari penggunaan bersamaan dari nimotop dan
konsentrasi serum fenitoin
nimotop
32 Bisoprolol Fenitoin fenitoin dapat ↑ pertimbangkan alternatif untuk salah satu obat
metabolisme berinteraksi untuk menghindari kegagalan
bisoprolol terapeutik subtrat. Beberapa kombinasi secara
khusus dikontraindikasikan oleh produsen.
Penyesuaian dosis yang disarankan juga ditawarkan
oleh beberapa produsen. harap tinjau sisipan paket
yang berlaku. pantau efek penurunan substrat CYP
jika inducer CYP dimulai/dosis meningkat, dan
peningkatan efek jika inducer CYP
dihentikan/dosis menurun
33 Diazepam Fenitoin fenitoin dapat ↑ pertimbangkan alternatif untuk salah satu obat
metabolisme diazepam berinteraksi untuk menghindari kegagalan
terapeutik subtrat. Beberapa kombinasi secara
khusus dikontraindikasikan oleh produsen.
Penyesuaian dosis yang disarankan juga ditawarkan
oleh beberapa produsen. harap tinjau sisipan paket
yang berlaku. pantau efek penurunan substrat CYP
jika inducer CYP dimulai/dosis meningkat, dan
peningkatan efek jika inducer CYP
dihentikan/dosis menurun
34 Largactil Ondansetron dapat saling ↑ efek penggunaan bersamaan harus dihindari bila
QTc-Prolonging memungkinkan. Penggunaan bersama diharapkan
secara substansial meningkatkan resiko untuk
toksisitas yang serius, termasuk pengembangan
torsades de pointes(TdP) atau takiaritmia ventrikel
yang signifikan lainnya. pasien dengan faktor
resiko yang hadir (misalnya. usia yang lebih tua,
jenis kelamin perempuan, bardikardia,
hipokalemia, hipomagnesemia, penyakit jantung,
dan konsetrasi obat yang lebih tinggi), akan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


45

memiliki resiko yang lebih tinggi untuk toksisitas


yang berpotensi mengancam nyawa ini.
penggunaan kombinasi semacam itu harus disertai
dengan pemantauan ketat untuk bukti perpanjangan
QT atau perubahan lain dari ritme jantung
35 Tramadol Largactil largactil dapat ↑ efek hindari penggunaan bersama analgesik opioid dan
depresan SSP tramadol bezodiazepin atau depresan SSP lainnya bila
memungkinkan. Obat-obat ini hanya boleh
dikombinasikan jika pilihan pengobatan alternatif
tidak memadai. Jika digabungkan, batasi dosis dan
durasi setiap obat hingga seminimal mungkin
sambil mencapai efek klinis yang diinginkan.
peringatkan pasien dan pengasuh tentang resiko
pernapasan/sedasi yang diperlambat atau sulit
36 Tramadol Frego frego dapat ↑ efek hindari penggunaan bersama analgesik opioid dan
depresan SSP tramadol bezodiazepin atau depresan SSP lainnya bila
memungkinkan. Obat-obat ini hanya boleh
dikombinasikan jika pilihan pengobatan alternatif
tidak memadai. Jika digabungkan, batasi dosis dan
durasi setiap obat hingga seminimal mungkin
sambil mencapai efek klinis yang diinginkan.
peringatkan pasien dan pengasuh tentang resiko
pernapasan/sedasi yang diperlambat atau sulit

Interaksi obat yang terjadi pada pasien secara umum dapat dibedakan ke
dalam 2 kategori yaitu interaksi obat potensial dan interaksi obat aktual. Interaksi
obat potensial merupakan interaksi obat yang diprediksikan dapat terjadi pada
pasien yang mendapatkan terapi obat. Prediksi pada interaksi ini dapat dilihat
pada literatur. Interaksi obat potensial ini dapat menjadi prediktor akan terjadinya
interaksi obat aktual. Interaksi obat aktual adalah interaksi obat yang terjadi pada
pasien dan ditandai dengan munculnya gejala yang terjadi pada pasien akibat
interaksi yang terjadi.
5.2.3.2 Dosis Dibawah Dosis Terapi
Dosis kurang adalah dosis yang terlalu kecil yaitu dibawah 20% dari yang
seharusnya diberikan pada pasien atau yang frekuensi pemberiannya kurang
berdasarkan dosis standar. Kejadian DRPs akibat dosis yang tidak adekuat atau
efektif merupakan masalah kesehatan yang serius dan dapat menambah biaya
terapi bagi pasien. Sebaik apapun diagnosis dan penilaian yang dilakukan hal itu
tidak akan ada artinya apabila pasien tidak menerima dosis yang tepat sesuai
dengan kebutuhannya. Secara garis besar, suatu regimen obat dianggap sesuai
dengan indikasinya, tidak mengalami efek samping akibat obat, akan tetapi tidak
memperoleh manfaat terapi yang diinginkan (Masitoh, 2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


46

Data dosis pasien dibandingkan dengan beberapa literature seperti ISO dan
MIMS Indonesia. Penilaian evaluasi DRPs dosis dibawah dosis terapi pada pasien
didasarkan pada dosis regimen yang diberikan lalu dibandingkan dengan yang
terdapat di dalam literatur.
Dari hasil analisa deskriptif pada dosis dibawah dosis terapi pada pasien
yang didasarkan pada dosis regimen yang diberikan, terdapat 18 kali kejadian
dosis obat yang diberikan pada pasien tidak sesuai dengan yang terdapat dalam
literature. Diantaranya adalah penggunaan lansoprazole sebanyak 3 kali, diikuti
dengan fenitoin, bisoprolol, dan prohiper yang masing-masing sebanyak 2 kali.
5.2.3.3 Dosis Diatas Dosis Terapi
Pemberian obat dengan dosis diatas dosis terapi dapat meningkatkan
resiko toksisitas. Dosis berlebih dalam penelitian ini adalah obat yang diterima
pasien melebihi dosis pemakaian normal. Batasan dosis yang dianggap dosis
berlebih adalah dosis yang diberikan 20% lebih tinggi dari dosis standar
(Masitoh, 2009). Data dosis pasien dibandingkan dengan beberapa literatur seperti
ISO dan MIMS Indonesia. Penilaian evaluasi DRPs dosis diatas dosis terapi pada
pasien didasarkan pada dosis regimen yang diberikan lalu dibandingkan dengan
yang terdapat di dalam literatur.
Dari hasil analisa deskriptif pada dosis regimen yang diberikan, ditemukan
18 kejadian dosis diatas dosis terapi, dan seluruhnnya diberikan di atas 20 % dari
dosis yang seharusnya. Diantaranya yang paling banyak adalah pada penggunaan
omeprazol secara intravena.

5.3 Keterbatasan Penelitian


5.3.1 Kendala
1. Pengambilan data dan jumlah sampel
Pada proses pengambilan data ada beberapa data pasien yang kurang
lengkap, khususnya data berat badan pasien, sehingga tidak dapat diambil data
pasien dan menyebabkan sampel menjadi terbatas sesuai kriteria inklusi dan
eklusi.
Untuk beberapa dosis pemberian obat tidak diberikan berapa kekuatan obat
yang digunakan, sehingga mengurangi pengukuran DRPs pada sampel.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


47

5.3.2 Kelemahan
1. Penelitian retrospektif
Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif, cara ini mempunyai
kelemahan karena waktu kejadian sudah berlalu, sehingga tidak dapat dilakukan
pertanyaan secara langsung pada pasien, terutama untuk meneliti potensi interaksi
obat.
5.3.3 Kekuatan
1. Penelitian ini sebelumnya belum pernah dilakukan di RSUP Fatmawati
dan di UIN Syarif Hidaya tullah Jakarta. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi
referensi dan gambaran Drug Related Problems kategori penyesuaian dosis dan
interaksi obat pada pasien rawat inap yang menderita Diabetes Melitus type 2
yang disertai dengan Hipertensi. Data yang diambil sesuai kriteria inklusi dan
ekslusi.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB VI
KESIMPULAN

6.1 Kesimpulan
1. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada 90% pasien dari subjek penelitian
berpotensi terjadi Drug Related Problems (DRPs) pada kategori interaksi obat
sebanyak 220 kali.
2. Untuk Drug Related Problems (DRPs) dosis dibawah terjadi pada 12 golongan
terapi, yang terbanyak diantaranya adalah Lansoprazole yaitu hampir 18%.
3. Untuk Drug Related Problems (DRPs) dosis diatas terjadi sebanyak 7
golongan terapi, yang terbanyak diantaranya adalah omeprazol intravena yaitu
hampir 39%.

6.2 Saran
1. Perlu adanya monitoring dan evaluasi terapi pada pasien Diabetes melitus tipe
2 dengan penyakit penyerta Hipertensi mengingat 90% pasien penelitian terjadi
interaksi obat.
2. Perlu adanya kerjasama dan kolaborasi yang tepat antara dokter, apoteker, dan
tenaga kesehatan lainnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian
dan pengobatan pada pasien, sehingga didapatkan terapi yang tepat, efektif,
dan aman.

48 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


DAFTAR PUSTAKA

Adriansyah. (2010). Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Ketidakpatuhan


Pasien Penderita Hipertensi Pada Pasien Rawat Jalan di RSU H. Adam Malik
Medan. Skripsi Sarjana pada Fakultas Farmasi USU Medan
Al Homsi MF, Lukic ML.1992. An update on the pathogenesis of Diabetes Mellitus,
Department of Pathology and Medical Microbiology (Immunology Unit) Faculty
of Medicine and Health Sciences. UAE University, Al Ain, United Arab Emirates
Anonim. (2016). MIMS Petunjuk Konsultasi Edisi 16 Tahun 2016/2017. Bhuana Ilmu
Populer
Anonim, 2000, Pharmaceutical Compounding-Nonsteril Preparations, USP Cahpter
795 cit. Allen , L.V., 2008, vol 13, No. 4, Secundum Artem, USA
Anonim. (2008). DOI: Data Obat di Indonesia Edisi 11 Tahun 2008. OMNI
International Hospital
Anonim. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Anonim. (2013). Stastical Fact Sheet: High Blood Pressure. Amerika: American Heart
Association, Inc
Anonim, 2006. PCNE classification for Drug Related Problems. Pharmaceutical Care
Network Europe Foundation, V 6.2
Anonim. 2008. Hipertensi. http://www.rsbk-batam.com.co.id. Diakses 26 Juni 2016
Aram V. Chobanian, M.D. 2004. The Seventh Report of the Joint National Committee
on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. U .
S . Department Of Health And Human Services, NIH Publication
Bemt and Egberts.2007.Pharmaceutical Care Network Europe Foundation, 2010
Bemt, V. D. and Egberts. 2007. Drug-Related Problems: Definitions and Classification.
EJHP
Charles, J., dan Ivar, F. 2011. Relationship Polychlorinated Byphenyls With Diabetes
Tipe 2 and Hipertesion. Environmental Monitoring of The Journal
Cipolle, R.J, Strand, L.M., Morley, P.C. 2004. Pharmaceutical Care Practice the
Clinician’s Guide. Second Edition, 73-119, McGraw-Hill, New York
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Ditjen Bina Farmasi dan Alkes. 2005. Pharmaceutical Care untuk penyakit Diabetes
Mellitus. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Ditjen Bina Farmasi dan Alkes. 2006. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit
Hipertensi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

49 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


50

Dipiro,JT.2009. Pharmacoterapy Handbook 7th edition.Mc Graw Hill.New York.


Gray, H.H., Dawkins, K.D., Simpson, A., dan Morgan, J.M. 2006. Lecture Notes On
Cardiology. Edisi 4. Jakarta: Erlangga.
Handoko, T., dan Suharto, B. 1995. Insulin, Glukagon dan Antidiabetik Oral, Dalam:
Farmakologi dan Terapi. Editor: Sulistia G. Ganiswara, Setabudy Rianto, Frans
D. Suyatna, Purwantyastuti, dan Nafrialdi. Edisi 4. Jakarta: Gaya Baru
International Diabetes Federation. IDF Diabetes Atlas 5th edition. 2012
International Diabetes Federation. IDF Diabetes Atlas 7th edition. 2015
Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik. Buku 2. Edisi 8. Jakarta: Salemba
Medika.
Ozougwu JC, Obimba KC, Belonwu CD, Unakalamba CB. 2013. The pathogenesis and
pathophysiology of type 1 and type 2 diabetes mellitus.
Report of a WHO.1999.Consultation Part 1: Diagnosis and Classification of Diabetes
Mellitus World Health Organization Department of Noncommunicable Disease
Surveillance Geneva-WHO/NCD/NCS/99.2.1999
Roger, V.L. et al., 2012. Heart disease and stroke Statistics. American Heart
Association
Sassen, J.J., dan Carter, B.L. 2005. Hypertension. Pharmacotherapy: A
Phatophysiologic Approach. Editor: Joseph Dipiro, Robert Talbert, Gary Yee,
Gary Matzke, Barbara Wells, dan Michael Posey. Edisi 8. New York: Appleton
and Lange.
Syamsudin. 2011. Buku Ajar Farmakoterapi Kardiovaskular Dan Renal. Jakarta:
Penerbit Salemba Medika
Tandra, H. 2008. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang- DIABETES.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Tjay, T.H., Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan Efek-
Efek Sampingnya. Edisi VI. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo.
Waspadji S. 2005. Diabetes Mellitus : Mekanisme dasar dan pengelolaannya yang
rasional. Jakarta :. Penerbit FKUI
World Health Organization. Diabetes Mellitus: Report of a WHO Study Group. Geneva:
WHO, 1985. Technical Report Series 727

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Lampiran 1. Surat Ijin penelitian dari RSUP Fatmawati

51 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


52

Uin Syarif Hidayatullah Jakarta


Lampiran 2. Data Pasien Keseluruhan

NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
1 1400 NUR BAETI p/u 22- hipokalemia nyeri Domperido domperidone antiemetik 10mg - po tgl 22-12- tgl 1-1-2016 : tgl 1-1-
555 : 12- berat, dada ne 3x 2015 sd 7- 130/80, 2016 :
50th 2015 hiponatremia atipikal 1-2016 140/80, 184,318,
/ bb sd 5- , amlodipin amlodipin antihipertens 5gr - 1x po tgl 21-12- 130/80, tgl 2- tgl 2-1 :
: 55 1- hipomagnese i 2015 sd 1 : 120/80, 188,151,21
/t: 2016 mia, 23-12- 140/90, tgl 3- 5,183, tgl
150 hipocalsemia 2015 1 :140/80, tgl 3-1 :
, dm tipe 2, amlodipin amlodipin antihipertens 10mg - po tgl 23-12- 4-1 : 110/60, 132,175,19
hipertensi i 1x 2015 sd 7- 140/90, tgl 5- 1, tgl 4-1 :
grade 1, cap, 1-2016 1 : 110/70, 133,190,27
aspar k kalium L- suplementasi 1tab - po tgl 24-12- 140/80, tgl 6- 5, tgl 5-1 :
aspartate kalium 3x 2015 sd 2- 1 : 130/80, 162,236,26
1-2016 150/90, tgl 7- 9, tgl 6-1 :
sulfat ferrous sulphate anemia 1tab - po tgl 26-12- 1 : 100/80 144, tgl 7-1
ferrous defenisi besi 3x 2015 sd 7- : 122
1-2016
Ksr kcl pencegahan 2tab - po tgl 23-12-
dan 3x 2015 sd
pengobatan 26-12-
hipokalemia 2015
Ksr kcl pencegahan 600mg - po tgl 30-12-
dan 3x 2015 sd 7-
pengobatan 1-2016
hipokalemia
novorapid insulin aspart antidiabetik 500cc sc tgl 23-12-
injeksi 2015
novorapid insulin aspart antidiabetik 6unit - sc tgl 30-12-
injeksi 3x 2015
novorapid insulin aspart antidiabetik 8unit - sc tgl 4 -1-
injeksi 3x 2016
lantus insulin glargine antidiabetik 6unit - sc tgl 30-12-
injeksi 1x 2015 sd 2-
1-2016
lantus insulin glargine antidiabetik 8unit - sc tgl 4-1-
injeksi 1x 2016 sd 7-
1-2016
lantus insulin glargine antidiabetik 10unit - sc tgl 7-1-
injeksi 1x 2016
53 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
54

cefotaxime cefotaxime antibiotik 1gr - 3x iv tgl 22-12-


injeksi, 2015 sd 7-
antibakteri 1-2016
ca glukonas kalsium glukonas terapi 1gr - 2x iv tgl 24-12-
hipokalemia 2015 sd 7-
dan 1-2016
hiperkalemia
(elektrolit)
MgSo4 5cc iv tgl 24-12-
40% 2015 sd
25-12-
2015
MgSo4 10cc iv tgl 25-12-
40% 2015 sd
26-12-
2015
nacl 3% 500cc/2 iv tgl 22-12-
4jam 2015
nacl 0,9% + 500cc/1 iv tgl 22-12-
kcl 25meq 2jam 2015 sd
31-12-
2015
nacl 0,9% 500cc/8j iv tgl 1-1-
am 2016
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
2 1401 NURWINA p/ 27- dm tipe 2, lemas antasida syr Aluminium Penetralisir 1cth - po tgl 11-1- tgl 9-1-2016 : tgl 6-1-
377 ZAINUDIN 58 12- dyspesia, dan Hidroksida dan Asam 3x 2016 sd 130/77 , 2016 : 96,
th / 2015 hipertensi, riwayat Magnesium Lambung 13-1-2016 100/60 tgl 10 : 157, 193.
bb : sd kejang Hidroksida 120/70 tgl 11 : tgl 8 : 138.
53 / 13- omeprazole omeprazole obat 20mg - iv tgl 29-12- 120/80 tgl 12 : tgl 13 :
t: 01- lambung 2x 2015 sd 140/80 tgl 13 : 167.
160 2016 11-1-2016 90/60
cm amlodipin amlodipin antihipertens 10mg - po tgl 11-1-
i 1x 2016
Ksr kcl pencegahan 600mg - po tgl 25-12-
dan 2x 2015 sd
pengobatan 13-1-2016
hipokalemia
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
55

simvastatin simvastatin antikolestero 20mg - po tgl 29-12-


l 1x 2015 sd
12-1-2016
Domperido domperidone antiemetik 10mg - po tgl 28-12-
ne 3x 2015 sd
12-1-2016
minosep minosep gargle obat kumur 4x po tgl 27-12-
2015 sd
13-1-2016
fenitoin phenytoin antikonvulsa 100mg - po tgl 5-1-
n, 3x 2016 sd
antiepilepsi 13-1-2016
fenitoin phenytoin antikonvulsa 100mg - iv tgl 28-12-
n, 1x 2015 sd
antiepilepsi 29-1-2015
humalog insulin lispro antidiabetik 6ui - 3x sc tgl 29-12-
injeksi 2015 sd
13-1-2016
lantus insulin glargine antidiabetik 12u - 1x sc tgl 30-12-
injeksi 2015 sd
31-12-
2015
captopril captopril antihipertens 12mg - tgl 5-1-
i 3x 2016 sd
12-1-2016
ascardia aspirin antiplatelet 80mg - po tgl 30-12-
1x 2015 sd
11-1-2016
insulin insulin reguler antidiabetik 1cc/jam iv tgl 27-12-
2015 sd
28-12-
2015
Na cl 0,9 500cc/8j iv tgl 27-12-
am 2015 sd
11-1-2016
ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 28-12-
golongan 2015 sd
sefalosporin 11-1-2016
NO NO NAMA usia TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


56

RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU TD GD


AT AN NAAN
3 1402 MASLIATY p/u 2-1- Ca gaster st lemak Domperido domperidone antiemetik 10mg - po tgl 2 - 8 tgl 2-1-2016 : tgl 1-1 :
822 M. SOLEH : 58 2016 IV dengan member ne 3x 100/60, tgl 3- 142,
/ bb sd 9- meta hepar, at sukralfat sucralfat obat saluran 1gr - 4x po tgl 2 - 9 1 : 100/70,
: 53 1- hematemesis cerna 120/70, tgl 4-
/t: 2016 melena ec Ca lainnya 1 : 110/70 ,
160 gaster, vit k vitamin k antikoagulan 1ampul iv tgl 1 - 9 100/70, tgl 5-
cm anemia, , vitamin - 3x 1 : 100/60,
malnutrisi, transamin as. Tranexamat hemostatik 500mg - iv tgl 1 - 9 130/80, tgl 6-
hipertensi 3x 1 : 120/80,
terkontrol, omeprazole omeprazole obat 40mg - iv tgl 5 - 9 120/80, tgl 7-
dm tipe 2 lambung 2x 1 : 120/80, tgl
combiflex Asam Amino ( perawatan 1000 - iv tgl 4 - 9 8-1 : 100/60,
peri Alanine, Arginine Gula darah 1x 130/70, tgl 9-
Glutamate, rendah, 1 : 130/80
Aspartic Acid, Dehidrasi,
Calcium Chloride Skizofrenia,
Dihydrate, Mempertaha
Glucose nkan kisaran
Monohydrate, osmolalitas,
Glutamic Acid, Depresi,
Glycine Detoksifikas
Soja/Glycine, i hati dan
Histidine kondisi
Hydrochloride, lainnya.
Isoleucine,
Leucine, Lysine
Hydrochloride
and Magnesium
Acetate
Tetrahydrate)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


57

ringer Calcium Chloride perawatan 500 - 2x iv tgl 4 -9


fundin Dihydrate, Kadar
Magnesium natrium
Chloride yang rendah,
Hexahydrate, Tetani
Malic Acid, hypocalcemi
Potassium c, Jumlah
Chloride, Sodium rendah
Acetate magnesium
Trihydrate and dalam darah,
Sodium Chloride. Xerostomia,
Kekurangan
kalium,
Ketidakseim
bangan
elektrolit
dan kondisi
lainnya.
ringer ringer laktat Tetani 1000cc - iv tgl 1 - 4
laktat hypocalcemi 1x
c,
Kekurangan
kalium,
Ketidakseim
bangan
elektrolit,
Kadar
natrium
yang rendah,
Kadar
kalium
rendah,
Kadar
magnesium
yang rendah,
Tingkat
kalsium
yang rendah,
Darah dan
kehilangan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


58

cairan,
Aritmia,
Hipertensi

ringer ringer laktat Tetani 5000cc/ iv tgl 1 - 4


laktat hypocalcemi 6jam
c,
Kekurangan
kalium,
Ketidakseim
bangan
elektrolit,
Kadar
natrium
yang rendah,
Kadar
kalium
rendah,
Kadar
magnesium
yang rendah,
Tingkat
kalsium
yang rendah,
Darah dan
kehilangan
cairan,
Aritmia,
Hipertensi
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
4 1411 SUDJATMI p/u 9-2- ulcus gaster, lemas, enzyplex Amylase, obat 1tab - po tgl 10 - 16 tgl 9 - 2 - tgl 9 - 2 -
941 : 76 2016 gastritis bab Calcium lambung 3x 2016 : 150/80, 2016 : 120

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


59

/ bb sd antrium, dm hitam, Pantothenate, tgl 10 :


: 16-2- tipe 2, mencret Desoxycholic 160/90,
58k 2016 hipertensi, Acid, 100/70, tgl 11
g/t dislipidemia Dimethylpolysilo : 120/80,
: xane, Lipase, 120/70, tgl 12
150 Niacinamide, : 120/80,
Protease, Vitamin 120/80, tgl 13
B1, Vitamin B12, : 130/80,
Vitamin B2 and 130/70, tgl 14
Vitamin B6 : 130/80,
mucosta rebamipide gastritis 100mg - po tgl 10 - 16 140/80, tgl 15
ulcer,ulkus 3x : 130/70,
peptikus 120/80, tgl 16
amlodipin amlodipin antihipertens 5mg - po tgl 10 - 16 : 140/80
i 1x
simvastatin simvastatin antikolestero 10mg - po tgl 10 - 15
l 1x
omeprazole omeprazole obat 40mg - iv tgl 9 - 10
lambung 2x
farmadol paracetamol/aceta analgesik 1000mg iv tgl 11 - 14
minophen (Non-opioid)
transamin as. Tranexamat hemostatik 500mg - iv tgl 9 - 10
3x
omeprazole omeprazole obat 40mg - iv tgl 11 - 16
lambung 1x
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
5 1305 AGUS p/u 19-2- ckd st V sesak vit b12 vitamin B12 vitamin, 1tab - po tgl 20-2 sd tgl 20-2 : tgl 19-2 :
259 MISWATI : 53 2016 overload, dm mineral 3x 7-3 160/97, 150/ 173, tgl 20-
/ bb sd 7- tipe 2, asam folat asam folat vitamin 3tab - po tgl 21-2 sd 98, tgl 21-2 : 2 : 174,
: 50 3- anemia, 1x 7-3 150/90, 146, 165,
/t: 2016 hiponatremia caco3 calsium carbonat antacid, 1caps - po tgl 21-2 sd 160/85, tgl tgl 21-2 :
150 , cad, antidot, 2x 7-3 22-2 : 140/80, 109, 157,
dislipidemia, calcium salt, 140/80, tgl 126, tgl 22-
hipertensi electrolyte 23-2 : 130/70, 2 : 160,
supplement 160/90, tgl 173, tgl 25-
oral 24-2 : 130/80, 2 : 165,
bicnat natrium urine 1caps - po tgl 21-2 sd 151/83, tgl 154, tgl 26-
bicarbonat alkalinizatio 3x 7-3 25-2 : 130/80, 2 : 202,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
60

n, antasida 110/70, tgl 187, 180,


26-2 : 165/86, tgl 29-2 :
amlodipin amlodipin antihipertens 10mg - po tgl 21-2 sd
tgl 27-2 : 97, 115, tgl
i 1x 7-3
171/87, 3-3 : 164,
ascardia aspirin antiplatelet 80mg - po tgl 23-2 sd
159/80, tgl 151, 197,
1x 7-3
28-2 : 150/80, tgl 5-3 :
mertigo betahistine Meniere 1tab - po tgl 4-3 sd - 150/80, tgl 176, 198,
mesylate disease, 3x 7-3 29-2 : 150/80, tgl 7-3 :
Vascular 120/70, tgl 1- 219, 107,
headaches 3 : 150/90, 165
allopurinol allopurinol obat 200mg - po tgl 25-2 sd 148/79, tgl 2-
hiperurisemi 1x 7-3 3 : 180/94, tgl
a & gout 3-3 :114/88,
simvastatin simvastatin antikolestero 20mg - po tgl 25-2 sd 150/70, tgl 4-
l 1x 7-3 3 : 157/94, tgl
sukralfat sucralfat obat saluran 1c - 3x po tgl 26-2 sd 5-3 : 163/85,
cerna 7-3 140/80, tgl 6-
lainnya 3 : 168/80,
metoclopra metoclopramide antiemetik, 1tab - po tgl 29-2 sd 120/70, tgl 7-
mide prokinetik 3x 7-3 3 : 140/80
v bloc carvedilol antihipertens 3,125mg po tgl 1-3 sd
i - 1x 7-3
isdn isosorbite dinitrat antianginal 10mg - po tgl 3-3 sd -
3x 7-3
paracetamo paracetamol analgesik, 2tab - po tgl 3-3 sd -
l antipiretik 3x 7-3
candesartan candesartan antihipertens 8mg - po tgl 4-3 sd -
i 2x 7-3
ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 20-2 sd
golongan 7-3
sefalosporin
omeprazole omeprazole obat 40mg - iv tgl 1-3 sd
lambung 2x 7-3
lantus insulin glargine antidiabetik 12ui - sc tgl 19-2 sd
injeksi 1x 7-3
nephrosteril 250mg - iv tgl 19-2 sd
1x 7-3
ketosteril asam keto esensial insufisiensi II - 3x po tgl 20-2 sd
ginjal kronis 4-3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


61

lansoprazol lansoprazole antiulserasi 30mg - iv tgl 24-2 sd


1x 2-3
domperidon domperidone antiemetik 1 - 3x sc tgl 24-2 sd
e 29-2
lasix furosemid antidiuretik 40mg - iv tgl 19-2
1x
lasix furosemid antidiuretik 5mg/ja iv tgl 19-2 sd
m 29-2
na cl 0,9 500cc/2 iv tgl 19-2 sd
4jam tgl 27-2
ramipril ramipril antihipertens 2,5mg - po tgl 19-2 sd
i 1x tgl 27-2
ranitidin ranitidin antiulserasi 1ampul iv tgl 24-2
extra
tramadol tramadol analgesik extra iv tgl 28-2
opioid 1amp
new diatab attapulgite antidiare 2tab po tgl 20-2 sd
22-2
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
6 1403 ANIH p/u 6-1- hipoglikemia penurun domperidon domperidone antiemetik 10mg - po tgl 6 - 8 tgl 6-1 : tgl 5-1 :
562 AMSARI : 64 2016 , dm tipe 2, an e 3x 180/120, tgl 52,tgl 6-1 :
/ bb sd 9- acute on ckd, kesadara ksr kcl pencegahan 60mg - po tgl 6 - 9 7-1 : 150/90, 124, 143,
: 42 1- hipokalemia, n, batuk dan 3x 160/90, tgl 8- 143, tgl 7-1
/t: 2016 dispepsia, pengobatan 1 : 130/90, : 230, 193,
150 hipertensi hipokalemia 150/80, tgl 9- tgl 8-1 :
grade 2 amlodipin amlodipin antihipertens 10mg - po tgl 6 - 9 1 : 154/87 180
i 1x
fluimucil fluimucil antiasma, 200mg - po tgl 8
infeksi 3x
saluran
pernapasan
lansoprazol lansoprazole antiulserasi 30mg - iv tgl 6 - 9
1x
ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 6
golongan
sefalosporin
d10% dextrose antidiabetik /8jam iv tgl 5-6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


62

injeksi
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
7 1418 DETRIS l/u 2-3- sepsis dd, penurun fenitoin phenytoin antikonvulsa 100mg - po tgl 2 - 9 tgl 4 : 153/96, tgl 2 : 519,
119 SAPUTRA : 47 2016 cvd stroke, an n, 2x 217/121, 472, 366,
sd 9- sepsis ec kesadara antiepilepsi 176/103, tgl 5 414, 203,
3- community n, amlodipin amlodipin antihipertens 10mg - po tgl 2 - 9 : 183/113, 177, tgl 3 :
2016 acquired kejang i 1x 167/96, 180, 202,
pneumoniae insulin drip antidiabetik iv tgl 4 - 6 175/108, tgl 7 218, 138,
dengan injeksi : 155/94, 135, 180,
retensi perdipine nicardipine HCL antihipertens iv tgl 4 - 9 194/93, 304, 203,
sputum , drip i 143/78, tgl 8 : tgl 4 : 203,
ketoacidosis ventolin+bi salbutamol antiasma /8jam - inhal tgl 4 - 9 165/102, 254, 297,
dm pada dm solvon 3x asi 155/79 176, tgl 5 :
tipe 2 dalam insulin insulin reguler antidiabetik 3unit/ja iv tgl 2 226, 216,
regulasi injeksi m - 1x 215, 165,
insulin, omeprazole omeprazole obat 40mg iv tgl 2 - 6 269, tgl 6 :
hipertensi on lambung 311, 165,
pedipine citicoline citicoline Vasodilator 500mg - iv tgl 7 - 9 235, 287,
dengan perifer dan 2x 274, 169,
riwayat HT Aktivator tgl 7 : 244,
emergency, cerebral 251, 257,
riwayat meropenem meropenem beta-lactam 1gram - iv tgl 3- 9 tgl 8 : 309,
kejang 3x 339, 367
dexametaso dexametason corticosteroi 5mg iv tgl 3 - 9
n d hormones extra
premix /12jam iv
NaCl 0,9%
+ kcl 25
meq
ivfd nacl 2000cc - iv tgl 2
0,9% 1x
ivfd nacl /12jam iv tgl 2
0,9% + kcl
12,5meq
d10% dextrose antidiabetik 500ml/2 iv tgl 3 - 4
injeksi 4jam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


63

nacl 0,9% 500ml/1 iv tgl 3 - 9


2jam
nacl /8jam iv tgl 3 - 4
0,9%+kcl
12,5meq
valsartan valsartan angiotensin 80mg - po tgl 8 - 9
II antagonist 1x
novorapid insulin aspart antidiabetik 8iu -3x sc tgl 7 - 8
injeksi
lantus insulin glargine antidiabetik 6iu - 1x sc tgl 7 - 8
injeksi
novorapid insulin aspart antidiabetik 10iu - sc tgl 8
injeksi 3x
lantus insulin glargine antidiabetik 8iu - 1x sc tgl 8
injeksi
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
8 1404 SALMAH p/u 8-1- chronic hipoglik valsartan valsartan angiotensin 80mg - po tgl 8 - 14 tgl 13 -1-2016 tgl 8-1 :
222 : 48 2016 kidney emia II antagonist 1x : 120/80, tgl 53, tgl 9-1
/t: sd disease, dm amlodipin amlodipin antihipertens 5mg - po tgl 8 - 12 10-1 : 110/80, : 74, 58,
160 14-1- tipe 2, i 1x 140/70, tgl 103, 92,
2016 anemia asam folat asam folat vitamin 3tab - po tgl 8 - 14 11-1 : 130/90, 198, 97,
normositik 1x 136/86, tgl 71, 81, tgl
normokrom, bicnat natrium urine 1tab - po tgl 8 - 14 12-1 : 120/80, 10-1 : 74,
hipertensi stg bicarbonat alkalinizatio 3x 170/90, tgl 136, 151,
2, n, antasida 13-1 : 160/80, 161, tgl
hipoalbumin caco3 calsium carbonat antacid, 1tab - po tgl 8 - 14 tgl 14-1 :
emia, antidot, 3x 170/90
dislipidemia, calcium salt,
electrolyte
supplement
oral
vit b12 vitamin B12 vitamin, 1tab - po tgl 8 - 14
mineral 3x
fujimin pujimin vitamin 1tab - po tgl 8 - 14
3x
azitromicin azitromicin antibakteri 500mg - po tgl 9 - 13
1x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


64

fluimucil acetylcysteine mucolitic 200mg - po tgl 9 - 13


agent 3x
furosemide furosemid antidiuretik 40mg - po tgl 11
1x
furosemide furosemid antidiuretik 40mg - iv tgl 8 - 11
2x
ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 9 - 13
golongan
sefalosporin
d10% dextrose antidiabetik 500cc/1 iv tgl 9 - 11
injeksi 2jam
nacl 500cc/1 iv tgl 11
2jam
amlodipin amlodipin antihipertens 10mg - po tgl 13 - 14
i 1x
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
9 9173 SUKACA l /u 11-3- hipoglikemia penurun lisinofril lisinopril antihipertens 5mg - po tgl 12 -22 tgl 12 : tgl 11-3 :
11 : 2016 pada dm tipe an i 1x 147/74, 26, 74, 72,
82th sd 2, hipertensi kesadara ondansetro ondansetron antiemetik 4mg - iv tgl 12 - 18 142/60, tgl 13 45, 63, 47,
/ bb 22-3- grade 2, n, n 3x : 135/72, 71, 100, tgl
: 2016 anemia hipoglik cefotaxime cefotaxime antibakteri 1gram - iv tgl 14 - 22 115/71, tgl 14 12-3 : 130,
70k normositik emia 3x : 130/76, 206, 149,
g/t normokrom, pada dm ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 14 131/71, tgl 15 107, 159,
: hiponatremia tipe 2 golongan : 120/70, tgl 13-3 :
168 e.c intake sefalosporin 100/70, tgl 16 135, 108,
sulit, d10% dextrose antidiabetik 500cc/8j iv tgl 12 - 16 : 120/80, tgl 106, tgl 14-
hipokalemia injeksi am 17 : 120/80, 3 : 139,
e.c intake nacl 0,9% /8jam iv tgl 15 - 18 123/72, tgl 18 140, 367,
sulit, ulkus : 130/70, 141, tgl 14-
dm cruris nacl 0,9% 500cc/2 iv tgl 18 - 21 111/66, tgl 19 3 : 114,
dextra 4jam : 120/80, 105, tgl 16-
120/80, 3 : 140,
120/60, tgl 20 117, tgl 17-
: 128/67, 3 : 87, 87,
130/80, tgl 21 tgl 18-3 :
: 127/73, 141, tgl 19-
124/77, tgl 22 3 : 120, tgl
: 138/79 20-3 : 120,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
65

106, 146,
tgl 21-3 :
126, 159,
111, tgl 22-
3 : 145

NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
10 1007 PARNI p/u 20-4- dm tipe 2 muntah valsartan valsartan angiotensin 80mg - po tgl 22- 27 tgl 20-4 : tgl 18-4 :
464 SATIMAN : 2016 dengan - II antagonist 1x 150/90, 363, 209,
48th sd komplikasi muntah alprazolam alprazolam antiansietas 0,5mg - po tgl 22-27 130/70, 196, 198,
/ bb 27-4- KAD, 0-0-1 160/100, tgl tgl 20-4 :
: 2016 hipertensi, lantus insulin glargine antidiabetik 10unit - sc tgl 23 - 25 21-4 : 137/76, 127, tgl 21-
55k hipertrigliser injeksi 1x tgl 22-4 : 4 : 258,
g/t idemia, AKI, lantus insulin glargine antidiabetik 12unit - sc tgl 25 150/90, 187, 94, tgl
: dispepsia injeksi 1x 140/80, tgl 22-4 : 175,
155 ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 18 - 27 23-4 : 120/80, 125, 157,
golongan tgl 24-4 : tgl 23-4 :
sefalosporin 120/80, 63, 164,
omeprazole omeprazole obat 40mg - iv tgl 18 - 27 120/80, tgl 253, tgl 24-
lambung 1x 25-4 : 110/60, 4 : 260,
ondansetro ondansetron antiemetik 4mg - iv tgl 18 - 27 110/70, tgl 208, 260,
n 3x 26-4 : 130/80, tgl 25-4 :
clinimix amino acids, parenteral 1000 - iv tgl 22-25 130/80, tgl 286, 224,
glucose, nutritional 1x 27-4 : 110/80 213, tgl 26-
electrolyte products 4 : 203,
nacl 0,9 % 500cc - iv tgl 18 - 23 104
2x
ranitidin ranitidin antiulserasi 1ampul iv tgl 18
extra
ondansetro ondansetron antiemetik 4mg - iv tgl 18 - 20
n 2x
insulin insulin reguler antidiabetik 2unit/24 iv tgl 18 - 20
injeksi jam
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
11 1417 H. p/u 19-3- dm tipe 2, kejang- fenitoin phenytoin antikonvulsa 300mg po tgl 18 tgl 19 : tgl 18 :

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


66

069 NURHASA : 2016 hipertensi, kejang n, loading 149/93, tgl 20 408, 277,
N SATIM 57th sd ISK, antiepilepsi : 163/94, 175, 39,
/ bb 28- hipokalemia fenitoin phenytoin antikonvulsa 100mg - po tgl 18 - 28 159/90, 105, 87,
: 60 2016 n, 3x 146/89, tgl 21 58, 85, tgl
/t: antiepilepsi : 147/105, 19 : 69, 94,
160 adalat oros nifedipin GTS antihipertens 30mg - po tgl 18 - 28 140/80, 65, 115,
i & angina 1x 145/85, 141, 146,
clopidogrel clopidogrel antikoagulan 75mg - po tgl 18 - 28 142/102, tgl 155, tgl 20
, antiplatelet, 1x 23 : 142/109, : 220, 200,
& tgl 24 : 324, 400,
fibrinolitik 120/80, tgl 21 :
(trombolitik) 130/80, tgl 25 466, 416,
citicoline citicoline Vasodilator 500mg - iv tgl 18 - 23 : 140/90, 376, 319,
perifer dan 2x 130/80, tgl 26 tgl 23 :
Aktivator : 150/80, 321, 274,
cerebral 120/80, tgl 27 259, tgl 24
nacl 0,9 % 500ml/1 iv tgl 18 - 23 : 120/80, : 384, tgl
+ kcl 2jam 130/80, tgl 28 25 : 170,
25meq : 150/90 tgl 27 : 136
nacl 0,9% 2000cc loadi tgl 18
ng
d40% dextrose antidiabetik 3flash iv tgl 18
injeksi
d10% dextrose antidiabetik 500cc/8j iv tgl 18
injeksi am
nacl 3% /24jam iv tgl 20
novorapid insulin aspart antidiabetik 8unit - iv tgl 23 - 28
injeksi 3x
nacl 0,9% 500cc - iv tgl 23 - 28
2x
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
12 2999 ASNGARI l/u 20-4- stroke ec penurun amlodipin amlodipin antihipertens 5mg - po tgl 21 - 28 tgl 21 : tgl 23 :
19 : 57 2016 perdarahan an i 1x 170/80, 206, 197,
/ bb sd intra kesadara asam asam mefenamat Anti 500mg - po tgl 21 - 29 170/80, tgl 22 109, tgl 24
: 60 29-4- serebral, n 5jam mefenamat Inflamasi 3x : 170/80, : 146, 413,
/t: 2016 hipertensi, sebelum Non Steroid 175/95, tgl 25 :
160 dm tipe 2 masuk captopril captopril antihipertens 12,5mg extra tgl 21 - 29 188/99, tgl 24 110, 173,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


67

rumah i : 160/90, tgl 244, tgl 27


sakit 25 : 130/90, : 75, 111,
candesartan candesartan antiemetik 8mg - po tgl 22 - 29
tgl 26 : 67, tgl 29 :
1x
180/80, 123, 230
(malam)
100/70, tgl 27
haloperidol haloperidol antipsikotik 1/2tab - po tgl 25 - 29
: 180/100,
2x
120/80,
citicoline citicoline Vasodilator 500mg - iv tgl 21 - 26 180/100, tgl
perifer dan 2x 28 : 170/90,
Aktivator tgl 29 : 180/90
cerebral
ranitidin ranitidin antiulserasi 1ampul iv tgl 21 - 28
- 2x
manitol mannitol diuretik 125cc - iv tgl 21 - 23
4x
manitol mannitol diuretik 75cc - iv tgl 25 - 26
4x
metoclopra metoclopramide antiemetik, 1ampul iv tgl 21 – 26
mide prokinetik - 3x
manitol mannitol diuretik 100cc - iv tgl 23 – 25
4x
humalog insulin lispro antidiabetik 10ui - sc tgl 22 – 29
injeksi 3x
lantus insulin glargine antidiabetik 10 - 1x sc tgl 22 – 28
injeksi (malam)
(malam)
nacl 0,9% 500cc/1 iv tgl 21 – 29
2jam
manitol mannitol diuretik 50cc - iv tgl 26- 27
4x
omeprazole omeprazole obat 1amp - iv tgl 28
lambung 1x
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
13 1446 ROGAYAH p/u 6-7- cvd s1, cvd s1, clopidogrel clopidogrel antikoagulan 75mg - po tgl 5-16 tgl 6 : 120/70, tgl 6 : 72,
400 PURBADI : 2016 hipertensi, hiperten , antiplatelet, 1x 140/80, 71, 145,
SANTOSO 61th sd dm tipe 2, si grade & 150/90, tgl 7 : 125, 119,
16-7- anemia, 1 fibrinolitik 150/90, tgl 7 : 148,
2016 hipalbumeni (trombolitik) 170/90, tgl 8 : 125, 114,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
68

mia ascardia aspirin antiplatelet 80mg - po tgl 5-16 160/100, 254, 247,
1x 180/100, tgl 9 tgl 8 : 196,
amlodipin amlodipin antihipertens 10mg - po tgl 5-16 : 140/80, 212, 227,
i 1x 170/94, tgl 10 tgl 9 : 107,
cardace ramipril antihipertens 5mg - po tgl 5-16 : 100/70, 182, 220,
i 2x 140/70, tgl 11 tgl 10 :
ksr kcl pencegahan 1tab - po tgl 8-16 : 130/80, 148, 200,
dan 2x 140/90, tgl 12 233, tgl 11
pengobatan : 150/80, tgl : 148, 219,
hipokalemia 13 : 140/90, 159, tgl 12
gemfibrozil gemfibrozil antihiperlipi 300mg - po tgl 8-16 169/93, tgl 14 : 140, 122,
e demia 1x : 150/90, tgl 13 :
ambroxol ambroxol antibronkiek 1c - 3x po tgl 10-16 120/80, 118, 252,
syr tis, 150/90, tgl 15 tgl 14 :
antiemfisme : 120/80, 139, 218,
(obat batuk) 130/80 132, tgl 15
gliquidone gliquidone antidiabetik 30mg - po tgl 14-16 : 158
2x (pagi
dan
sore)
citicoline citicoline Vasodilator 1000mg iv tgl 5-16
perifer dan - 2x
Aktivator
cerebral
nacl 0,9% 500/12ja iv tgl 12-16
m
d 10% dextrose antidiabetik 500 - 3x iv tgl 10
injeksi
nacl+kcl /12jam iv tgl 5-14
25meq
d10% dextrose antidiabetik /8jam iv tgl 5-7
injeksi
d40% 25ml iv tgl 5
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
14 1440 BACHTIAR l/u 2-6- gastritis hemator sukralfat sucralfat obat saluran 1c - 3x po tgl 2 - 16 tgl 2 : tgl 3 : 183,
100 SJAMSUDI : 2016 erosif, ax cerna (30meni 160/100, tgl 3 165, tgl 4 :
N 76th sd esofagitis melatoni lainnya t a.c) : 150/90, tgl 4 167, 102,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


69

/ bb 16-6- grade A, dm n, BAB gliquidone gliquidone antidiabetik 1 - 1x po tgl 2 - 14 : 140/90, tgl 5 tgl 7 : 116,
: 2016 tipe 2, hitam : 140/80, 112, tgl 8 :
glucophage metformin antidiabetik 1 - 1x po tgl 2 - 16
76k anemia, 140/90, tgl 6 : 100, tgl 10
g/t AKI, ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 2 - 16 120/80, : 108, 108,
: hipertensi, golongan 120/80, tgl 7 : tgl 11 :
168 sefalosporin 120/80, 117, tgl 12
cm lansoprazol lansoprazole antiulserasi 1ampul iv tgl 2 - 16 160/80, tgl 8 : : 145, 146,
- 2x 130/80, 183, tgl 14
vit k vitamin k antikoagulan 1ampul iv tgl 2 - 10 160/100, tgl 9 : 99, 157,
, vitamin - 3x : 120/80, 142, tgl 15
transamin asam traneksamat antifibrinolit 1ampul iv tgl 2 - 10 150/100, tgl : 114, 115
ik - 3x 10 : 120/80,
lantus insulin glargine antidiabetik 16unit - sc tgl 2 - 12 tgl 11 :
injeksi 1x 130/80,
nacl 0,9% 500cc - iv tgl 2 - 16 110/80,
2x 160/90, tgl 12
amlodipin amlodipin antihipertens 5mg - po tgl 8 - 14 : 110/70,
i 1x 144/75, tgl 13
bisoprolol bisoprolol antihipertens 2,5mg - po tgl 8 - 16 : 120/80,
i 1x 120/90, tgl 14
cetirizine cetirizine antialergi 1tab - po tgl 9 - 16 : 110/78,
1x 110/80, tgl 15
amlodipin amlodipin antihipertens 1mg -1x po tgl 14 - 16 : 130/80,
i 120/85,
120/80
lactulax lactulax antidiare 1c - 1x po tgl 14 - 16
microlax microlax antidiare 1 - 1x recta tgl 9
supp l
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
15 1424 SAODAH p/ 26-3- stroke, lemah betaserc betahistine antivertigo 8mg - po tgl 28-3 sd tgl 27-3 : tgl 30-3 :
794 44th 2016 hipertensi, anggota dihydrochloride 3x 5-4 150/90, 186, 159,
/ bb sd 5- dm tipe 2, gerak amlodipin amlodipin antihipertens 5mg - po tgl 30-3 sd 170/80, tgl 234, tgl 31-
: 4- dislipid, i 1x 5-4 28-3 : 3 : 126,
75k 2016 sequele valsartan valsartan angiotensin 80mg - po tgl 30-3 sd 160/100, 159, 234,
g/t stroke II antagonist 1x 5-4 150/90, tgl tgl 1-4 :
: atorvastatin atorvastatin antikolestero 20mg - po tgl 30-3 sd 29-3 : 160/90, 184, 226,
155 l 1x 4-4 187/99, tgl 161, tgl 2-4
cm (malam) 30-3 : 180/90, : 172, 185,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


70

ascardia aspirin antiplatelet 80mg - po tgl 30-3 sd 150/80, tgl 141, tgl 3-4
1x 5-4 31-3 :
metformin metformin antidiabetes 500mg - po tgl 30-3 sd 160/100,
1-0-1 5-4 160/100, tgl
paracetamo paracetamol analgesik, 500mg - po tgl 30-3 sd 1-4 : 150/100,
l antipiretik 3x 5-4 140/90, tgl 2-
cilostazol cilostazol antiplatelet 100mg - po tgl 30-3 sd 4 : 150/80,
1x 5-4 160/90, tgl 3-
citicoline citicoline Vasodilator 500mg - po tgl 1-4 sd 4 : 150/90,
perifer dan 2x 5-4 150/100, tgl
Aktivator 4-4 : 140/80,
cerebral 134/75, tgl 5-
citicoline citicoline Vasodilator 500mg - iv tgl 26-3 sd 4 : 140/80
perifer dan 2x 1-4
Aktivator
cerebral
ranitidin ranitidin antiulserasi 1ampul iv tgl 26-3 sd
- 2x 1-4
na cl 0,9 500/12ja iv tgl 26-3 sd
m 1-4
cardace ramipril antihipertens 2,5 mg - po tgl 28 – 30
i 1x
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
16 1437 SALIMIN l/ 15-5- cvd s1 tidak ascardia aspirin antiplatelet 320mg - po tgl 15-18 tgl 15 : tgl 14 : 284
097 ABD 64th 2016 batang otak, sadar 1x 122/89,
HAMID / bb sd sepsis forneuro forneuro vitamin 1tab - po tgl 15-20 101/67, tgl 16
: 20-5- pneumonia, 1x : 124/80,
70k 2016 fraktur simvastatin simvastatin antikolestero 20mg - po tgl 15-20 141/88,
g/t humarius, l 1x 141/87, tgl 17
: hipertensi, pradaxa dabigatran anti 75mg - po tgl 18-20 : 122/75,
170 dm tipe 2, pembekuan 1x 117/68, tgl 18
cm isk darah, : 121/75,
antiplatelet 155/100,
& 153/80, tgl 19
fibrinolytics : 134/90,
fujimin pujimin vitamin 3x1 po tgl 19 137/86,
116/71
asam asam mefenamat Anti 500mg - po tgl 19 - 20
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
71

mefenamat Inflamasi 2x
Non Steroid
citicoline citicoline Vasodilator 500mg - iv tgl 15-20
perifer dan 2x
Aktivator
cerebral
meropenem meropenem beta-lactam 1gr - 3x iv tgl 16-20
paracetamo paracetamol analgesik, 4x1 po tgl 16-17
l antipiretik
paracetamo paracetamol analgesik, 1gr - 3x iv tgl 16-20
l antipiretik
nebulizer antiasma 3x/hari inhal tgl 16-19
vetolin : asi
bisolvon :
NaCl
keterolac ketorolac Anti 30mg - iv tgl 15-19
Inflamasi 3x
Non Steroid
manitol mannitol diuretik 125iu 4x iv tgl 16
manitol mannitol diuretik 100iu - iv tgl 18
4x
manitol mannitol diuretik 75iu - iv tgl 20
4x
nacl 0,9% 500cc - iv tgl 15-20
2x
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
17 1460 DEDEH BT p/ 11-9- hipertensi, lemas clopidogrel clopidogrel antikoagulan 75mg - po tgl 11 - 19 tgl 11-9 : tgl 11-9 :
395 SANIN 55th 2016 dm tipe 2, seluruh , antiplatelet, 1x 147/90, 230, tgl 13-
/ bb sd cvd, caf, af badan & 147/90, 9 : 196,
: 23-9- fibrinolitik 148/99, 205, 208,
55k 2016 (trombolitik) 142/89, 203, 207,
g/t atorvastatin atorvastatin antikolestero 20mg - po tgl 11 - 22 139/85, tgl 23-9 :
: l 1x 155/95, 261,
150 furosemid furosemid antidiuretik 40mg - po tgl 13 - 23 153/89,
cm 1x 141/93,
spironolact spironolactone antidislipide 25mg - po tgl 13 - 23 134/89,
one mia 1x 142/85,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
72

digoxin digoxin obat jantung 0.125 - po tgl 13 - 23 125/81,


1x 116/81,
simarc warfarin antikoagulan 4mg - po tgl 13 - 22 132/89,
1x 138/88,
ramipril ramipril antihipertens 10mg - po tgl 13 - 23 121/73,
i 1x 130/72,
metformin metformin antidiabetes 500 - 1x po tgl 21 - 23 130/80,
126/76,
citicoline citicoline Vasodilator 500mg - iv tgl 11 - 23 155/94,
perifer dan 3x 159/104,
Aktivator 123/77,
cerebral 140/89,
piracetam piracetam neurotropik 12gr - iv tgl 14 - 15 143/83,
1x 132/83, tgl
piracetam piracetam neurotropik 3gr -4x iv tgl 14 - 23 12-9 : 149/95,
asering 500ml - iv tgl 11 - 23 149/95,
2x 150/80,
vit c vitamin c vitamin 1mg -1x po tgl 11 - 15 159/88,
140/90,
148/90,
140/85,
140/90,
133/90,
149/90, tgl 13
-9 : 150/90,
155/90,
156/87,
150/97,
136/95,
129/80,
141/94,
130/89,
135/88,
143/84,
143/83,
140/87,
140/87,
145/80,
140/80,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


73

140/93,
135/90,
145/80,
143/85,
140/80,
125/85,
149/92, tgl
14-9 : 138/98,
140/90,
138/90,
146/90,
125/84,
130/80,
127/76,
127/76,
131/82,
138/81,
134/84,
132/84,
136/77,
135/79,
128/83,
119/77,
130/80,
124/77,
103/62,
127/81,
132/82,
116/80,
137/77, tgl
16-9 : 110/70,
110/80, tgl
17-9 : 120/90,
130/90, tgl
18-9 : 130/90,
140/80, tgl
19-9 : 140/80,
110/80,
120/80, tgl
20-9 : 120/80,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


74

120/80,
110/90, tgl
21-9 : 130/90,
110/70, tgl
22-9 : 110/70,
110/90
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
18 1448 YANTO l/ 18-7- ckd, Lemas ketosteril asam keto esensial insufisiensi II - 3x po tgl 17 - 22 tgl 18-7 : tgl 17-7 :
164 74th 2016 hiponatremia ginjal kronis 150/80, 109, tgl 19-
/ bb sd , dm ttipe 2, b12 vitamin b12 vitamin, 1 - 3x po tgl 17 – 22 140/70, tgl 7 : 99, 158
: 22-7- hipertensi, mineral 19-7 : 160/90,
50k 2016 anemia caco3 calsium carbonat antacid, 1 - 3x po tgl 17 – 22 tgl 20-7 :
g/t antidot, 160/90,
: calcium salt, 163/99, tgl
160 electrolyte 21-7 : 150/90,
cm supplement 150/90, tgl
oral 22-7 : 120/80,
bicnat natrium urine 1 - 3x po tgl 17 - 22 110/80
bicarbonat alkalinizatio
n, antasida
asam folat asam folat vitamin 3tab - po tgl 17 - 22
1x
valsartan valsartan angiotensin 80 - 1x po tgl 21 -22
II antagonist
omeprazole omeprazole obat 40mg - iv tgl 17 - 22
lambung 2x
ondansetro ondansetron antiemetik 4mg - iv tgl 17 - 22
n 3x
venofer on venofer antianemia 100mg - iv tgl 22
hd 1x
na cl 0,9 500cc/2 iv tgl 17 - 18
4jam
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
19 5267 ADIDJAN l/ 23-4- sea in diare, new diatab attapulgite antidiare II - 3x po tgl 23 - 28 tgl 23-4 : tgl 23-4 :
14 PANUT 74th 2016 geriatric, mual, 150/80, tgl 180
b complex vitamin b vitamin 1 - 3x po tgl 23 – 28
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
75

/ bb sd28- hyponatremi lemas, complex 24-4 : 145/85,


: 4- a, dm tipe 2, demam, 120/70, tgl
Paracetamo paracetamol analgesik, 1 - 3x po tgl 23 – 28
56k 2016 hipertensi 25-4 : 140/60,
l antipiretik
g/t 142/62, tgl
micardis telmisartan antihipertens 80mg - po tgl 23 – 28
: 26-4 :
i 1x
175 150/70,100/70
cm bisoprolol bisoprolol antihipertens 5mg - po tgl 23 – 28 , tgl 27-4 :
i 1x 150/60,
metformin metformin antidiabetes 500mg - po tgl 23 – 28 169/68, tgl
3x 28-4 : 140/70
ranitidin ranitidin antiulserasi 1 - 2x po tgl 23 – 28
simvastatin simvastatin antikolestero 10mg - po tgl 23 – 28
l 1x
miniaspi asam asetil antiagregasi 80mg - po tgl 23 – 25
salisilat (asetosal) platelet 1x
ulsafat sucralfat antirefluks 1c - 3x po tgl 25 – 28
amlodipin amlodipin antihipertens 5gr - 1x po tgl 27 – 28
i
ciprofloxaci ciprofloxacin antibiotik 400mg - iv tgl 23 – 28
n 2x
omeprazole omeprazole obat 40mg - iv tgl 23 – 28
lambung 2x
ondansetro ondansetron antiemetik 4mg - iv tgl 25 – 28
n 3x
iufd rl 500/8ja iv tgl 23 – 28
m
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
20 1436 SUNADI l/ 14-5- dengeu demam Paracetamo paracetamol analgesik, 500mg - po tgl 14-20 tgl 14-5 : tgl 13-5 :
771 SUKAR 65th 2016 fever, dm l antipiretik 3x 90/80, tgl 15- 264, tgl 1-7
/ bb sd tipe 2, amlodipin amlodipin antihipertens 5mg - po tgl 18-20 5 : 138/100, : 99, 102,
: 20-5- hipertensi, i 1x 130/80, tgl
60k 2016 AKI, new diatab attapulgite antidiare 2tab po tgl 15 16-5 : 100/60,
g/t hiponatremia (bila 110/70, tgl
: , peningkatan mencret 17-5 : 130/70,
160 transaminase ) 140/70, tgl
cm asam asam mefenamat Anti 500mg po tgl 19-20 18-5 : 150/80,
mefenamat Inflamasi 130/80, tgl

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


76

Non Steroid 19-5 : 140/90,


120/80, tgl
omeprazole omeprazole obat 40mg - iv tgl 14-20
20-5 : 130/80
lambung 2x
omeprazole omeprazole obat 1amp - iv tgl 18
lambung 2x
ondansetro ondansetron antiemetik 4mg - iv tgl 18-20
n 3x
rl 500ml iv tgl 19-20
domperidon domperidone antiemetik 1tab - po tgl 14-18
e 3x
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
21 1516 BURHANU l/ 11-4- dm tipe 2 demam, Paracetamo paracetamol analgesik, 500mg po tgl 11 -17 tgl 12-4 :
5 DIN 53th 2016 terkontrol pusing l antipiretik tiap 110/70,
BUJANG / bb sd diet, 4jam 130/90, tgl
: 70 17-4- hipertensi metformin metformin antidiabetes 1000mg po tgl 11 -17 13-4 : 146/82,
/t: 2016 terkontrol - 1x 120/80, tgl
170 captopril captopril antihipertens 6,25mg po tgl 11 -17 14-4 : 150/80,
i -2x 140/90, tgl
simvastatin simvastatin antikolestero 20mg - po tgl 11 -17 15-4 :
l 1x 160/100,
omeprazole omeprazole obat 40mg - iv tgl 11 -17 160/100, tgl
lambung 1x 16-4 : 160/80,
rl 500cc - iv tgl 11 -17 150/90, tgl
4x 17-4 : 140/80
gelofusin 500cc - iv tgl 14 - 17
2x
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
22 1448 ITA p/ / 22-7- dm tipe 2, UAP platogrix clopidogrel Antikoagula 75mg - po tgl 22-25 tgl 22-7 : tgl 23-7 :
962 FARIDA 67 2016 hipertensi, (unstabl n, 1x 140/80, tgl 141, tgl 24-
th / sd e angina Antiplatelet, 23-7 : 140/80, 7 : 199, tgl
bb : 25-7- pectoris & 110/70, tgl 25-7 : 168,
62k 2017 ) Fibrinolitik 24-7 : 120/80, 268
g/t (Trombolitik 120/80, tgl
: ) 25-7 : 120/80,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


77

150 atorvastatin atorvastatin antikolestero 20mg - po tgl 22-25 131/70


cm l 1x
amlodipin amlodipin antihipertens 5mg - po tgl 22-25
i 3x
metformin metformin antidiabetes 1 tab - po tgl 22-25
2x
glimepirid glimepirid antidiabetik 2mg - po tgl 23-25
1x
asam asam mefenamat Anti 1x1 po tgl 23-25
mefenamat Inflamasi
Non Steroid
Paracetamo paracetamol analgesik, 650 po tgl 24-25
l antipiretik extra
trizedon mr trimetazidine antianginal 1 - 2x po tgl 24-25
hydrochloride
lantus insulin glargine antidiabetik 12unit - sc tgl 22-25
injeksi 1x
isdn isosorbide anti-anginal 5mg - po tgl 22-24
dinitrate drugs 3x
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
23 1452 KITEM p/ 10-8- hipertensi penurun laxadyne laxadine Konstipasi II s - 2x po tgl 10 - 22 tgl 10-8 : tgl 9-8 :
658 66th 2016 grade II, dm an syr (utk bilas 156/94, 209, tgl 11-
/ bb sd tipe 2, keadara usus sblm & 182/97, tgl 8 : 251,
: 65 23-8- hypokalemia n sejak ssdh op), 11-8 : 160/90, 312, tgl 17-
/t: 2016 , seizure 3 jam bilas usus 160/90, 8:
150 atraer sebelum sblm 170/99, tgl 321,232,21
masuk pemeriksaan 12-8 : 161/94, 2, tgl 18-8
rumah radiologi. 134/77, : 232, tgl
sakit Paracetamo paracetamol analgesik, 500mg - po tgl 10 - 23 150/89, tgl 20-8 : 216,
l antipiretik 3x 13-8 : 178/92, 270, 197,
amlodipin amlodipin antihipertens 10mg - po tgl 10 - 23 143/79, tgl 22-8 :
i 1x 139/84, tgl 173, 215
prohiper metilfenidat obat SSP 1/2tab - po tgl 10 - 23 14-8 : 182/81,
hidroklorida golongan 2x 170/96,
lain 171/89, tgl
ramipril ramipril antihipertens 10mg - po tgl 11 - 23 15-8 : 163/90,
i 1x 142/78,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


78

fenitoin phenytoin antikonvulsa 100mg - po tgl 12 - 23 180/85, tgl


n, 3x 16-8 : 170/90,
antiepilepsi 165/85,
asam folat asam folat vitamin 1tab - po tgl 12- 23 170/90, tgl
2x 17-8 : 180/98,
aspar k kalium L- suplementasi 1tab - po tgl 12 - 23 130/90,
aspartate kalium 1x 130/90, tgl
metformin metformin antidiabetes 500mg - po tgl 15 - 23 18-8 : 140/90,
3x 160/80, tgl
ksr kcl pencegahan 1 - 1x po tgl 17 - 18 19-8 : 130/90,
dan 150/90,
pengobatan 150/80, tgl
hipokalemia 20-8 :
manitol mannitol diuretik 75cc - iv tgl 10 - 22 140/100,
4x 120/80, tgl
citicoline citicoline Vasodilator 500mg - iv tgl 10 - 15 21-8 : 130/80,
perifer dan 2x 120/80, tgl
Aktivator 22-8 : 140/80,
cerebral 130/80, tgl
vit c vitamin c vitamin 1/2amp iv tgl 10 - 18 23-8 : 120/80
- 2x
vit k vitamin k antikoagulan 1amp - iv tgl 10 - 16
, vitamin 1x
kalnex asam tarneksamat antikoagulas 500mg - iv tgl 10 - 16
i 2x
ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 12 - 22
golongan
sefalosporin
na cl 0,9 500cc iv tgl 9 - 22
/12jam
kcl 50mEq iv tgl 15 - 16
/12jam
hct hidroklorotiazida antihipertens 25mg - po tgl 18 - 19
i 1x
bisoprolol bisoprolol antihipertens 1,25mg po tgl 18 - 19
i - 1x
glimepirid glimepirid antidiabetik 1mg - po tgl 22 - 23
1x
piracetam piracetam neurotropik 3gr - 4x iv tgl 16 - 22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


79

NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
24 4737 SURIPTO l/ 17- dm tipe 2 , Lemas ascardia aspirin antiplatelet 80mg - po tgl 17 - 23 tgl 17-11 : tgl 17-11 :
22 67th 11- retinopati, 1x 110/70, tgl 132, tgl 18-
/ 2016 hipertensi, Paracetamo paracetamol analgesik, 500mg - po tgl 17 - 23 18-11 : 11 : 116,
sd infrontrensia l antipiretik 3x 140/90, 113, 180,
23- urine, isk, bisoprolol bisoprolol antihipertens 2,5 - 1x po tgl 19 - 23 110/70, tgl tgl 19-11 :
11- parfensiom i 19-11 : 114, 126,
2016 syndrome simvastatin simvastatin antikolestero 10mg - po tgl 19 - 23 130/70, tgl 108, tgl 21-
l 1x 20-11 : 11 : 122,
levazide levodopa antiparkinso 1tab - po tgl 21 - 23 130/80, 153, 153,
n 2x 133/86, tgl tgl 23-11 :
asam folat asam folat vitamin 1tab - po tgl 21 - 23 21-11 : 136, 104,
2x 130/70, 179
heximer hexymer antiparkinso 1tab - po tgl 21 - 23 140/80, tgl
n 2x 22-11 :
brainact citicoline Vasodilator 500 - 3x po tgl 21 - 23 150/70,
oral perifer dan 151/90, tgl
Aktivator 23-11 :
cerebral 140/90
metformin metformin antidiabetes 500mg - po tgl 23
2x
valsartan valsartan angiotensin 80 - 1x po tgl 23
II antagonist
ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 17 - 23
golongan
sefalosporin
novorapid insulin aspart antidiabetik 4unit - iv tgl 17 - 23
injeksi 3x
rl ringer laktat 1500/24 iv tgl 17 - 23
jam
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
25 1437 MAIMUNA p/ 14-5- CUD s2, demam simvastatin simvastatin antikolestero 20mg - po tgl 14 - 22 tgl 14-5 : tgl 14-5 :
033 H 57th 2016 hipertensi, l 1x 150/90, 163
MUHARAL / bb sd dm tipe 2, captopril captopril antihipertens 12,5mg po tgl 14 - 23 160/100, tgl
: 50 23-5- isk i - 3x 15-5 : 140/90,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


80

/t: 2016 ascardia aspirin antiplatelet 80mg - po tgl 14 - 23 140/80, tgl


155 1x 16-5 : 100/70,
Paracetamo paracetamol analgesik, 500mg - po tgl 15 - 23 140/90, tgl
l antipiretik 4x 17-5 : 139/90,
alprazolam alprazolam antiansietas 0,5mg - po tgl 15 - 20 tgl 18-5 :
1x 140/90,
ultracet tramadol analgetik 1tab - po tgl 16 - 23 170/100, tgl
HCl,paracetamol 1x 19-5 : 130/90,
Co- co-trimoxazole antibiotik 2x1 po tgl 17 - 22 tgl 20-5 :
trimoxazole 130/80,
ambroxol ambroxol obat batuk 1 - 3x po tgl 16 - 23 130/80, tgl
dan pilek 21-5 : 155/89,
aciclovir acyclovir antivirus 500mg po tgl 20 - 22 tgl 22-5 :
0-1-0 160/80,120/80
arcalion sulbutiamine vitamin 2-0-0 po tgl 20 - 23 ,120/80

prohiper metilfenidat obat SSP 1/2-0-0 po tgl 20 - 23


hidroklorida golongan
lain
esilgan estazolam hiponatik 1mg - po tgl 20 - 21
dan sedative 1x
inhalasi ( inhal tgl 16 - 23
bisolvon : asi
berotec 1 :
1)
citicoline citicoline Vasodilator 500mg - iv tgl 14 - 20
perifer dan 2x
Aktivator
cerebral
ranitidin ranitidin antiulserasi 1amp - iv tgl 14 - 23
2x
ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 15 - 22
golongan
sefalosporin
manitol mannitol diuretik 50cc - iv tgl 18 - 19
4x
na cl 0,9 /12jam iv tgl 14 - 23
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
81

AT AN NAAN
26 613532 TJUK p/ 30-8- bisitopenia, nyeri sukralfat sucralfat obat saluran 1c - 3x po tgl 29-8 sd tgl 30-8 : tgl 29-8 :
SUNARTI 63th 2016 korutiopesi, perut , cerna 9-9 140/80, 194, tgl 2-9
/ bb sd 9- hipercoagula pusing , lainnya 160/80, tgl : 108, tgl
: 60 9- ble state, dm demam amlodipin amlodipin antihipertens 10 mg - po tgl 31-8 sd 31-8 : 130/80, 3-9 : 121,
/t: 2016 tipe 2, low i 1x 9-9 130/80, 124, tgl 4-9
158 back pain, valsartan valsartan angiotensin 160 mg po tgl 31-8 sd 130/70, tgl 1- : 120, tgl
sisa akar / II antagonist - 1x 9-9 9 : 130/70, 5-9 : 100,
radix, lactulax lactulax antidiare 15ml - po tgl 31-8 sd 140/80, 93,
dementra, 3x 9-9 140/80, tgl 2-
hipertensi diazepam diazepam ansiolitik cps po tgl 2-7 sd 9 : 140/80,
campura 8-9 130/70,
n - 2x 130/80, tgl 3-
epsonal eperisone HCL antispasmodi cps po tgl 2-7 sd 9 : 120/ 70,
k campura 8-9 110/60,
n - 2x 120/70, tgl 4-
Paracetamo paracetamol analgesik, cps po tgl 2-7 sd 9 : 110/70,
l antipiretik campura 8-9 130/90,
n - 2x 110/70, tgl 5-
metformin metformin antidiabetes 500mg - po tgl 3-9 sd 9 : 110/60,
2x 9-9 140/90,
newdiatab attapulgite antidiare 2tab / po tgl 8 130/80, tgl 6-
diare 9 : 100/60,
cefotaxim cefotaxime antibakteri 1gr - 3x iv tgl 5-9 sd 100/60,
8-9 100/70, tgl 7-
9 : 120/80,
clobazam clobazam ansiolitik 1caps - po tgl 29-8 sd
110/80,
3x 2-9
120/80, tgl 8-
curcuma curcuma suplemen 1tab - po tgl 31-8
9 : 120/70,
3x
120/80,
omeprazole omeprazole obat 1gr - 2x iv tgl 29-8 sd 120/80, tgl 9-
lambung 31-8 9 : 120/70,
na cl 0,9 120/80
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
27 6135 SUYONO l/u 28 dm tipe 2, kejang amlodipin amlodipin antihipertens 5 mg po tgl 28-7 sd tgl 28-7 : tgl 28-7 :
32 SUPENO : juli hipertensi diatas i 8-8 130/97, 815, 511,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


82

49th 2016 3x sejak clopidogrel clopidogrel antikoagulan 75 mg - po tgl 28-7 sd 155/102, tgl tgl 29 -7 :
/ bb sd 8 1 hari , antiplatelet, 1x 8-8 29-8 : 145/96, 340, 244,
: 70 agust SMrs & 151/90, 176, 327,
/t: us fibrinolitik 167/86, tgl tgl 29 - 7 :
172 2016 (trombolitik) 30-7 : 143/78, 263, 246,
asam folat asam folat vitamin 1tab - po tgl 29-7 sd 130/95,127/84 192, tgl 30-
2x 8-8 , tgl 31-7 : 7 : 374,
etambutol ethambutol anti 1000 - po tgl 31-7 sd 120/78, 142, 134,
tuberkulosis 1x (ada 6-8 120/78, tgl 31-7 :
di 125/76, 93, 159,
pasien) 115/76, tgl 1- 141, tgl 1-8
rifampicin rifampin anti 1x ( ada po tgl 31-7 sd 8 : 124/81, tgl : 73, 195,
tuberkulosis di 6-8 2-8 : 141/97, 188, tgl 2-8
pasien) 140/80, : 216, 259,
inh isoniazid antituberkul 1x ( ada po tgl 31-7 sd 120/90, tgl 3- tgl 3-8 :
osisi di 6-8 8 : 140/90, 232, 244,
pasien) 130/80, tgl 4- tgl 5-8 :
pioglitazon pioglitazone antidiabetes 30mg - po tgl 2-8 sd 8 : 130/90, 215, 259,
1x 9-8 110/80, tgl 5- 342, tgl 7-8
haloperidol haloperidol antipsikotik 0,5mg po tgl 5-8 sd 8 : 130/80, : 127, 169,
2x 8-8 130/81, tgl 6- 185
novorapid insulin aspart antidiabetik 8unit - sc tgl 28-7 sd 8 : 130/90, tgl
injeksi 3x 8-8 7-8 : 120/80,
novorapid insulin aspart antidiabetik 6unit - sc tgl 5-8 sd 120/108, tgl
injeksi 3x 6-8 8-8 : 120/80,
tgl 9-8 :
insulin insulin reguler antidiabetik 1unit - iv tgl 28-7
130/80
injeksi 1x
insulin insulin reguler antidiabetik 5unit/ja iv tgl 28-7
injeksi m
insulin insulin reguler antidiabetik 1unit/ja iv tgl 28-7
injeksi m
levemir levemir (insulin antidiabetes 8ui - 1x sc tgl 6-8 sd
detemir) 7-8
fenitoin phenytoin antikonvulsa 100mg - iv tgl 28-7 sd
n, 3x 3-8
antiepilepsi
citicoline citicoline Vasodilator 500mg - iv tgl 28-7 sd
perifer dan 3x 3-8
Aktivator

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


83

cerebral
ivfd nacl 1500ml iv tgl 28-7
0,9% - LD
ivfd nacl 500ml/6 iv tgl 28-7 sd
0,9% jam 1-8
na cl 0,9 500 ml - iv tgl 1-8 - 3-
2x 8
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
28 1444 NURATI P /u 22-6- subarachonoi SAH, amlodipin amlodipin antihipertens 10mg - po tgl 21-6 sd tgl 22-6: tgl 21-6 :
284 : 2016 d OS i 1x 7-7 160/85, 358, 88, tgl
57th sd 7- hemorrhage, pejalan candesartan candesartan antihipertens 32mg - po tgl 21-6 sd 159/80, tgl 22-6 :
7201 traumatic kaki i 1x 6-7 23-6: 171/92, 367tgl 23-6
6 brain injurg, tertabra manitol mannitol diuretik 125cc - iv tgl 21-6 sd 172/95, : 156, 195,
hipantremia k motor 4x 3-7 155/82, tgl tgl 24-6 :
berat, dm 6jam manitol mannitol diuretik 100cc - iv tgl 3-7 sd 24-6 : 179/93, 238, 260,
tipe 2 gula SMRS 4x 7-7 168/91, 182, 276,
darah tidak ranitidin ranitidin antiulserasi 50mg - iv tgl 21-6 sd 186/116, tgl tgl 25-6:
terkontrol, 3x 7-7 25-6: 165/95, 280, 221,
hipertensi fenitoin phenytoin antikonvulsa 100mg - iv tgl 21-6 sd 197/116, 262, 269,
n, 3x 27-6 181/100, tgl tgl 26-6:
antiepilepsi 26-6: 267, 147,
fenitoin phenytoin antikonvulsa 100mg - po tgl 1-7 sd 191/114, 273, tgl 27-
n, 3x 7-7 166/87, tgl 6: 216,
antiepilepsi 27-6: 219, 264,
ceftriaxon ceftriaxone antibiotik 2gr - 1x iv tgl 21-6 sd 190/100, 323, tgl 28-
golongan 7-7 180/90, 6: 176,
sefalosporin 172/91, tgl 279, 369,
actrapid insulin human antidiabetes kelipata iv tgl 21-6 sd 28-6: 266, tgl 29-
n 4unit 1-7 159/100, 6: 193,
155/80, 258, 315,
ceremax nimodipine Profilaksis 2cc/jam iv tgl 21-6 sd
160/86, tgl 241, tgl 30-
dan 30-6
pengobatan 29-6: 144/90, 6: 184,
defisit 144/96, tgl 233, 243,
30-6: 140/90, 196, tgl 1-
neurologik
150/90, 7: 206, tgl
iskemik
karena 130/80, tgl 1- 2-7: 322,
vasospasme 7: 140/80, 182, 255,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


84

serebral 150/90, tgl 2- tgl 3-7:


setelah 7: 140/80, 277, 315,
perdarahan 130/70, tgl 3- 135, tgl 4-
subarakhnoi 7: 130/80, 7: 127,
d (SAH) 140/85, 165, tgl 6-
na cl 0,9 % /8jam iv tgl 21-6 sd 150/80, 7: 173,
+ 3N 30-6 150/90, tgl 4- 248, tgl 7-
na cl 0,9 % 500cc/2 iv tgl 3-7 sd 7: 150/80, 7: 330
4jam 7-7 150/80, tgl 5-
nimotop nimodipine Profilaksis 2tab - po tgl 27-6 sd 7: 150/90,
dan 4x 7-7 160/80, tgl 6-
pengobatan 7: 160/90,
defisit 160/100,
neurologik 180/100, tgl
iskemik 7-7: 180/100,
karena 170/90
vasospasme
serebral
setelah
perdarahan
subarakhnoi
d (SAH)
captopril captopril antihipertens 25mg - po tgl 28-6 sd
i 2x 7-7
diazepam diazepam ansiolitik 5mg - po tgl 28-6 sd
2x 3-7
ivfd rl ringer laktat 500cc/8j iv tgl 3-7 sd
am 7-7
bisoprolol bisoprolol antihipertens 5mg - po tgl 26-6 sd
i 1x 7-7
Paracetamo paracetamol analgesik, 1gr iv tgl 2-7 sd
l antipiretik extra 3-7
nacl caps capsul - po tgl 7-7
3x
NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
29 4888 DJULIANT L /u 25-6- vertigo, dm sakit metformin metformin antidiabetes 500mg - po tgl 27 -6 sd tgl 25-6 : tgl 25-6 :
38 O : 2016 tipe 2, cud sI kepala 3x 1-7 140/90, tgl 413,442,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


85

SONTODIH 73th sd 1- (recurrent), glimepirid glimepirid antidiabetik 2mg - po tgl 27-6 sd 26-6 : 219, tgl 26-
ARDJO 7- hiponatremia 1x ( 1-7 140/80,150/80 6 : 137,
2016 , hipertensi 30menit , 140/80, tgl 192, 380,
sebelum 27-6 : 160/80, 209, tgl 27-
makan 130/80, tgl 6 : 140,
pagi) 28-6 : 140/80, 340, 387,
lantus insulin glargine antidiabetik 14unit - sc tgl 27-6 sd 160/80, tgl tgl 28-6 :
injeksi 1x 30-6 29-6 : 100/80, 218, 159,
valsartan valsartan angiotensin 80mg - po tgl 29-6 sd 160/80, tgl 182, tgl 1-7
II antagonist 1x 1-7 30-6 : 140/80, : 109, 241
na cl 0,9 500 - 3x iv tgl 25-6 sd 130/80
30-6
nacl 0,9 500/8ja iv tgl 29-6 sd
m 30-6
betahistin betahistine antivertigo 24mg - po tgl 24-6 sd
dihydrochloride 3x 1-7
frego flunarizine antivertigo 5mg - po tgl 27-6 sd
2x 1-7
ascardia aspirin antiplatelet 80mg - po tgl 28-6 sd
1x 1-7
microlax microlax antidiare extra recta tgl 27-6
supp l
humalog insulin lispro antidiabetik 15ui - sc tgl 25-6 sd
injeksi 2x 27-6
ranitidin ranitidin antiulserasi 1amp - iv tgl 24-6 sd
2x 27-6
ondansetro ondansetron antiemetik 4mg - iv tgl 24-6 sd
n extra 1-7
citicoline citicoline Vasodilator 500mg - po tgl 1-7
perifer dan 2x
Aktivator
cerebral
tramadol tramadol analgesik 50mg - iv tgl 30-6 sd
opioid 2x/drip 1-7
dalam
nacl
100cc
largactil chlorpromazine antipsikotik 25mg - po tgl 26-6
extra

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


86

NO NO NAMA P/W TGL DIAGNOSA KELUH OBAT YG NAMA KETERAN DOSIS RUT WAKTU HASIL LAB
RM RAW AN DIGUNAK GENERIK GAN E PENGGU
TD GD
AT AN NAAN
30 7281 RM l/u 15-7- dm tipe 2, lemas novomix insulin aspart antidiabetes 2x (22- sc tgl 15 - 22 tgl 16-7-2016 tgl 16-7 :
70 SADEWO : 2016 twnsion biphasic 0-24) : 130/80, 240, 263,
DRS 76th sd typeheadche, novomix insulin aspart antidiabetes 2x (20- sc tgl 18 - 19 130/80, tgl 17 :
22-7- hipertensi, biphasic 0-20) 150/80, tgl 178, tgl 18
2016 chronisc novorapid insulin aspart antidiabetik 1x (0- sc tgl 20 - 21 17-7 : 160/80, : 86, tgl 19
venous injeksi 15-0) 165/84, : 226, 189,
insuffianci metformin metformin antidiabetes 500mg - po tgl 21 170/85, tgl 260, tgl 20
1x 18-7 : 168/84, : 103, 236,
(malam) 175/85, 447, tgl 21
valsartan valsartan angiotensin 160 - 1x po tgl 18 - 21 180/113, tgl : 234, 276,
II antagonist 19-7 : 160/85, 296, tgl 22
adalat oros nifedipin GTS antihipertens 30mg - po tgl 19 - 21 148/73, : 156, 200
i & angina 1x 162/91, tgl 20
Paracetamo paracetamol analgesik, 500mg - po tgl 20 - 21 : 127/77,
l antipiretik 1x cps 144/80,
campura 169/90, tgl
n 21-7 : 141/84,
diazepam diazepam ansiolitik 1mg - po tgl 20 - 21 127/78,
1x cps 157/81, tgl
campura 22-7 : 127/67,
n 137/70
captopril captopril antihipertens 12,5 - po tgl 17 - 18
i 1x extra
na cl 0,9 /16jam iv tgl 16 - 18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Lampiran 3. Interaksi Obat

PASIEN NAMA INTERAKSI OBAT KETERANG TINGKAT MANAJEMEN


OBAT obat 1 obat 2 AN KEPARA
HAN
1 domperidone amlodipine ksr ksr dapat ↓ Moderate Monitor untuk mengurangi efek terapeutik dari
efek terapeutik amlodipin jika ksr dimulai / dosis meningkat, atau
amlodipine peningkatan efek jika ksr dihentikan / dosis
menurun
amlodipine amlodipine ca glukonas ca glukonas Moderate Monitor untuk mengurangi efek terapeutik dari
dapat ↓ efek amlodipin jika ksr dimulai / dosis meningkat, atau
terapeutik peningkatan efek jika ksr dihentikan / dosis
amlodipine menurun
aspar k novorapid lantus lantus dapat ↑ Moderate Meskipun penggunaan bersamaan dari dua atau
efek lebih obat yang dapat menyebabkan hipoglikemia
hipoglikemik (baik sebagai niat terapeutik atau sebagai efek
novorapid buruk) sering tepat secara klinis, penggunaan
Kombinasi semacam itu sering secara substansial
meningkatkan risiko hipoglikemia. pantau pasien
secara dekat untuk efek hipoglikemik tambahan jika
dua atau lebih dari obat ini digabungkan
sulfat ferrous
ksr
novorapid
lantus
cefotaxime
ca glukonas
2 antasida fenitoin amlodipin amlodipin Major monitor untuk toksisitas fenitoin jika amlodipine
dapat ↑ efek dimulai / dosis meningkat, atau efek fenitoin
fenitoin dan menurun jika amlodipine dihentikan / dosis
fenitoin dapat menurun. monitor untuk mengurangi efek terapi
↓ efek amlodipine dengan penggunaan bersamaan
amlodipine phenytoin. pelabelan nifedipin merekomendasikan
menghindari penggunaan bersamaan dengan

87 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


88

fenitoin, dan pelabelan kanadian nimodipine


kontraindikasi penggunaan bersamaan dari fenitoin

omeprazole simvastatin amlodipin amlodipine Major hindari penggunaan amlodipine bersamaan dengan
dapat ↑ kadar simvastatin bila memungkinkan. jika digunakan
simvastatin bersama, hindari dosis simvastatin lebih dari 20mg /
dalam darah hari, dan pantau secara ketat untuk tanda-tanda
dan ↑ efek toksisitas inhibitor HMG-CoA reduktase (misalnya.
samping Myositis, rhabdomyolysis)
amlodipine simvastatin fenitoin fenitoin dapat Moderate pertimbangkan untuk menghindari penggunaan
↓ efek fenitoin dan simvastatin secara bersamaan. pantau
simvastatin untuk mengurangi efek terapi simvastatin jika
fenitoin dimulai/dosis naik, atau peningkatan efek
(kemungkinan toksisitas) jika fenitoin
dihentikan/dosis menurun. beras ragi merah
mengandung lovastatin (mungkin 2.4mg per 600mg
beras ragi) dan beberapa senyawa asam mevinic
lainnya
ksr amlodipine antasida antasida dapat Moderate monitor untuk efek terapi yang menurun dari
↓ efek terapi amlodipine jika antasida dimulai/dosis meningkat,
amlodipine atau peningkatan efek jika antasida dihentikan/dosis
menurun
simvastatin captopril antasida antasida dapat Moderate monitor untuk mengurangi efek captopril jika
↓ efek diberikan dengan antasida
captopril
domperidone captopril Aspirin aspirin dapat ↑ Moderate pantau untuk mengurangi efek terapeutik dari
efek captopril, jika dikombinasikan dengan salisilat.
nefrotoksik Selain itu, pantau untuk gagal ginjal akut ketika
captopril dan obat-obat ini digabungkan
dapat ↓ efek

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


89

terapi captopril

minosep humalog Aspirin aspirin dapat ↑ Moderate pantau efek farmakologis yang berlebihan (mis.
efek hipoglikemia) pada pasien yang menerima aspirin
hipoglikemik dengan humalog. ini mungkin lebih menjadi
Humalog perhatian pada pasien yang menerima aspirin
dengan dosis 3gram atau lebih per hari
fenitoin humalog novorapid novorapid Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari dua atau
dapat ↑ efek lebih obat yang dapat menyebabkan hipoglikemia
hipoglikemik (baik sebagai terapi atau sebagai efek samping)
Humalog sering sesuai secara klinis, penggunaan kombinasi
tersebut sering secara substansial meningkatkan
risiko hipoglikemia. pantau pasien secara dekat
untuk efek hipoglikemik tambahan jika dua atau
lebih dari obat ini digabungkan
humalog humalog Lantus lantus dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari humalog dan
efek lantus yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
Humalog sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
lantus humalog insulin insulin dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari humalog dan
efek insulin yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
Humalog sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
captopril novorapid aspirin aspirin dapat ↑ Moderate pantau efek farmakologis yang berlebihan (mis.
efek hipoglikemia) pada pasien yang menerima aspirin
hipoglikemik dengan novorapid. ini mungkin lebih menjadi
novorapid perhatian pada pasien yang menerima aspirin
dengan dosis 3gram atau lebih per hari

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


90

ascardia novorapid lantus lantus dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari novorapid dan
efek lantus yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
novorapid sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
insulin novorapid insulin insulin dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari novorapid dan
efek insulin yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
novorapid sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
novorapid lantus aspirin aspirin dapat ↑ Moderate pantau efek farmakologis yang berlebihan (mis.
efek hipoglikemia) pada pasien yang menerima aspirin
hipoglikemik dengan lantus. ini mungkin lebih menjadi perhatian
lantus pada pasien yang menerima aspirin dengan dosis
3gram atau lebih per hari
cefotaxime lantus insulin insulin dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari lantus dan
efek insulin yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
lantus sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
insulin aspirin aspirin dapat ↑ Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan
resiko (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima
hipoglikemik aspirin dengan insulin. Ini mungkin lebih menjadi
insulin dan ↓ perhatian pada pasien yang menerima aspirin
gula darah dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
fenitoin omeprazole fenitoin dapat Moderate monitor untuk mengurangi efek terapi dari
↓ efek omeprazole serta untuk peningkatan efek fenitoin
omeprazole, (yang terakhir terutama dengan dosis omeprazol
omeprazole harian 40mg atau lebih besar) kapan saja obat ini
dapat ↑ efek digunakan dalam kombinasi. dosis omeprazole

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


91

fenitoin yang lebih rendah (yaitu 20mg / hari) dan inhibitor


proton lainnya (misalnya, lansoprazole,
rabeprazole, pantoprazole) mungkin kurang
mungkin untuk meningkatkan efek fenitoin
aspirin antasida antasida dapat Minor pantau untuk mengurangi efek terapi aspirin jika
↓ efek aspirin antasida dimulai/dosis meningkat, atau peningkatan
efek jika antasida dihentikan/dosis menurun.
Interaksi ini seharusnya tidak menjadi perhatian
pada pasien yang menerima dosis aspirin
humalog captopril captopril dapat Minor Tidak perlu tindakan. Pendidikan hipoglikemia
↑ efek reguler dan pemantauan (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan humalog) harus cukup untuk
lantus dan ↓ manajemen kemungkinan interaksi ini
gula darah
novorapid captopril captopril dapat Minor Tidak perlu tindakan. Pendidikan hipoglikemia
↑ efek reguler dan pemantauan (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan novorapid) harus cukup untuk
lantus dan ↓ manajemen kemungkinan interaksi ini
gula darah
lantus Captopril captopril dapat Minor Tidak perlu tindakan. Pendidikan hipoglikemia
↑ efek reguler dan pemantauan (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan lantus) harus cukup untuk manajemen
lantus dan ↓ kemungkinan interaksi ini
gula darah
insulin Captopril captopril dapat Minor Tidak perlu tindakan. Pendidikan hipoglikemia
↑ efek reguler dan pemantauan (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan insulin) harus cukup untuk manajemen
lantus dan ↓ kemungkinan interaksi ini
gula darah
fenitoin Antasida antasida dapat Minor tidak diperlukan tindakan untuk sebagian besar
↑ efek fenitoin pasien. pertimbangkan untuk memantau kadar efek
fenitoin dan/atau pengaturan obat-obatan ini secara
berlebihan pada pasien berisiko tinggi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


92

fenitoin Aspirin aspirin dapat ↑ Minor tidak perlu tindakan


efek fenitoin.
Namun,
sedikit atau
tidak ada
perubahan
dalam
konsentrasi
fenitoin yang
diharapkan
3 domperidone tidak terjadi
sukralfat interaksi obat
vitamin k
transamin
omeprazole
4 enzyplex amlodipine simvastatin amlodipine Major hindari penggunaan amlodipine bersamaan dengan
dapat ↑ kadar simvastatin bila memungkinkan. jika digunakan
simvastatin bersama, hindari dosis simvastatin lebih dari 20mg /
dalam darah hari, dan pantau secara ketat untuk tanda-tanda
dan ↑efek toksisitas inhibitor HMG-CoA reduktase (misalnya.
samping Myositis, rhabdomyolysis)
mucosta
amlodipine
simvastatin
omeprazole
farmadol
transamin
5 vitamin b12 allopurinol calcium calcium Major berikan calcium carbonat setidaknya 3 jam sebelum
carbonate carbonat dapat pemberian allopurinol untuk mengurangi risiko
↓ penyerapan potensial dari interaksi ini

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


93

allopurinol
asam folat allopurinol Ramipril ramipril dapat Major jika allopurinol harus digunakan pada pasien yang
↑ potensi menggunakan ramipril, pantau reaksi
reaksi alergi hipersensitivitas setelah inisiasi terapi allopurinol
atau minimal selama 5 minggu
hipersensitivit
as terhadap
allopurinol
caco3 domperidone metoclopram dapat saling ↑ Major penggunaan bersamaan harus dihindari bila
ide efek QTc- memungkinkan. Penggunaan bersama diharapkan
Prolonging secara substansial meningkatkan resiko untuk
toksisitas yang serius, termasuk pengembangan
torsades de pointes(TdP) atau takiaritmia ventrikel
yang signifikan lainnya. pasien dengan faktor resiko
yang hadir (misalnya. usia yang lebih tua, jenis
kelamin perempuan, bardikardia, hipokalemia,
hipomagnesemia, penyakit jantung, dan konsetrasi
obat yang lebih tinggi), akan memiliki resiko yang
lebih tinggi untuk toksisitas yang berpotensi
mengancam nyawa ini. penggunaan kombinasi
semacam itu harus disertai dengan pemantauan
ketat untuk bukti perpanjangan QT atau perubahan
lain dari ritme jantung
bicnat lasix sucralfat sucralfat dapat Major hindari pemberian oral lasix dan sucralfat secara
↓ efek lasix, bersamaan. Pemberian terpisah paling tidak 2 jam.
dapat merusak Tidak berlaku untuk lasix yang diberikan secara
penyerapan parenteral
lasix
amlodipine ramipril candesartan candesartan Major penggunaan bersamaan secara khusus tidak
dapat ↑efek dianjurkan dan merupakan kontraindikasi pada
toxic ramipril pasien dengan nefropati diabetik. Jika kombinasi
seperti itu harus digunakan, monitor pasien lebih
dekat untuk respon yang lebih besar dari yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


94

diperkirakan pada kombinasi, termasuk pemantauan


tekanan darah, fungsi ginjal, dan konsentrasi kalium
ascardia amlodipine simvastatin amlodipine Major hindari penggunaan amlodipine bersamaan dengan
dapat ↑ kadar simvastatin bila memungkinkan. jika digunakan
simvastatin bersama, hindari dosis simvastatin lebih dari 20mg /
dalam darah hari, dan pantau secara ketat untuk tanda-tanda
dan ↑efek toksisitas inhibitor HMG-CoA reduktase (misalnya.
samping Myositis, rhabdomyolysis)
mertigo allopurinol Lasix lasix dapat ↑ Moderate hindari terapi kombinasi. Ketika harus digunakan
efek toxic bersama, pantau pasien secara dekat untuk tanda-
allopurinol tanda dan gejala-gejala dari reaksi tipe
hipersensitivitas allopurinol (misalnya, demam,
ruam, eosinofilia) atau efek merugikan lainnya
allopurinol amlodipine calcium calcium Moderate pantau untuk mengurangi efek terapeutik dari
carbonate carbonat dapat amlodipin jika calcium carbonat dimulai/dosis
↓ efek meningkat, atau peningkatan efek jika calcium
terapeutik carbonat dihentikan/dosis menurun
amlodipine
simvastatin isdn amlodipin amlodipin Moderate meskipun penggunaan dari dua atau lebih obat yang
dapat ↑ efek dapat menurunkan tekanan darah(baik sebagai niat
hipotensi isdn terapeutik atau sebagai efek buruk) sering secara
klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
sering secara substansial meningkatkan hipotensi.
Pantau pasien secara dekat untuk efek hipotensi
aditif jika dua atau lebih dari obat ini digabungkan
sucralfat isdn Candesartan candesartan Moderate meskipun penggunaan dari dua atau lebih obat yang
dapat ↑efek dapat menurunkan tekanan darah(baik sebagai niat
hipotensi isdn terapeutik atau sebagai efek buruk) sering secara
klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
sering secara substansial meningkatkan hipotensi.
Pantau pasien secara dekat untuk efek hipotensi
aditif jika dua atau lebih dari obat ini digabungkan
metoclopram isdn Carvedilol carvedilol Moderate meskipun penggunaan dari dua atau lebih obat yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


95

ide dapat ↑efek dapat menurunkan tekanan darah(baik sebagai niat


hipotensi isdn terapeutik atau sebagai efek buruk) sering secara
klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
sering secara substansial meningkatkan hipotensi.
Pantau pasien secara dekat untuk efek hipotensi
aditif jika dua atau lebih dari obat ini digabungkan
v bloc isdn Lasix lasix dapat Moderate meskipun penggunaan dari dua atau lebih obat yang
↑efek dapat menurunkan tekanan darah(baik sebagai niat
hipotensi isdn terapeutik atau sebagai efek buruk) sering secara
klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
sering secara substansial meningkatkan hipotensi.
Pantau pasien secara dekat untuk efek hipotensi
aditif jika dua atau lebih dari obat ini digabungkan
isdn isdn Ramipril ramipril dapat Moderate meskipun penggunaan dari dua atau lebih obat yang
↑efek dapat menurunkan tekanan darah(baik sebagai niat
hipotensi isdn terapeutik atau sebagai efek buruk) sering secara
klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
sering secara substansial meningkatkan hipotensi.
Pantau pasien secara dekat untuk efek hipotensi
aditif jika dua atau lebih dari obat ini digabungkan
paracetamol lantus Aspirin aspirin dapat ↑ Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan
resiko (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima
hipoglikemik aspirin dengan lantus. Ini mungkin lebih menjadi
lantus dan ↓ perhatian pada pasien yang menerima aspirin
gula darah dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
candesartan lantus carvedilol carvedilol Moderate pantau peningkatan efek terapeutik lantus jika
dapat ↑ resiko carvedilol dimulai/dosis meningkat, atau efek
hipoglikemik menurun jika carvedilol di hentikan/dosis menurun.
lantus dan ↓
gula darah
ceftriaxon lantus Lasix lasix dapat ↓ Moderate monitor glukosa darah lebih sering ketika pasien
efek terapeutik yang diobati dengan lantus memulai terapi dengan
lantus lasix. Peningkatan dosis lantus, atau kebutuhan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


96

untuk obat tambahan, mungkin diperlukan


omeprazole lasix Aspirin aspirin dapat ↑ Moderate pantau pasien secara dekat untuk mengetahui tanda
efek Lasix dan gejala toksisitas ketika menggunakan lasix
bersama dengan aspirin dosis lebih tinggi. Juga
pantau lasix, karena aspirin (terutama pada dosis
yang lebih tinggi) dapat mengumpulkan respon
diuretic
lantus lasix tramadol tramadol dapat Moderate pasien harus dipantau untuk mengurangi efikasi
↑ efek toxic diuretik, retensi urin, dan gejala ortostasis bila
lasix, dan ↓ diterapi dengan tramadol dan lasix. Pertimbangkan
efek terapeutik peningkatan pemantauan klinis tekanan darah (baik
lasix duduk dan berdiri) pada pasien
lansoprazol metoclopramide tramadol tramadol dapat Moderate gunakan hati-hati dengan penggunaan tramadol
↑ efek toxic dengan metocopramide. Pantau pasien lebih dekat
metoclopramid untuk bukti toksisitas serotonin (misalnya.
e Perubahan status mental, ketidakstabilan otonom,
dan hiperaktivitas neuromuskular) atau sindrom
ganas neuroleptik (misalnya. hipertermia, kekakuan
otot, disfungsi otonom)
domperidone ranitidin carvedilol carvediol Moderate pantau untuk meningkatan efek substrat ranitidin
dapat ↑ efek jika carvedilol dimulai atau dosis carvedilol yang
rantidin digunakan bersamaan meningkat. Sebaliknya,
pantau untuk mengurangi efek toksisitas jika
carvedilol dihentikan atau jika dosis carvedilol yang
digunakan bersamaan menurun
lasix ramipril Aspirin aspirin dapat ↑ Moderate pantau untuk mengurangi efek terapeutik dari
efek ramipril jika dikombinasikan dengan aspirin. Selain
nefrotoksik itu, pantau untuk gagal ginjal akut ketika obat-obat
ramipril dan ini digabungkan
dapat ↓ efek
terapeutik
Ramipril

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


97

ramipril ramipril Lasix lasix dapat ↑ Moderate monitor untuk hipotensi gejala dan gagal ginjal jika
efek hipotensi ramipril dimulai pada pasien yang menerima
ramipril , dan furosemid. Koreksi deplesi volume oleh gangguan
↑ efek terapi diuretik atau pengurangan dosis diuretik
nefrotoksik sebelum inisiasi ramipril/peningkatan dosis
Ramipril dianjurkan. jika terapi diuretik tidak dapat dikurangi
(misalnya. pada pasien dengan gagal jantung),
memulai ramipril pada dosis yang sangat rendah
dan peningkatan dosis dengan sedikit peningkatan
dapat menimimalkan interaksi ini
ranitidin asprin calcium calcium Minor pantau untuk mengurangi efek terapeutik dari
carbonate carbonat dapat aspirin jika calcium carbonat dimulai/dosis
↓ konsentrasi meningkat, atau peningkatan efek jika calcium
serum aspirin carbonat dihentikan/dosis menurun. Interaksi ini
tidak boleh menjadi perhatian pada pasien yang
menerima dosis salisilat intemiten
tramadol lantus Ramipril ramipril dapat Minor Tidak perlu tindakan. Pendidikan hipoglikemia
↑ efek reguler dan pemantauan (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan lantus) harus cukup untuk manajemen
lantus dan ↓ kemungkinan interaksi ini
gula darah
new diatab paracetamol metoclopram metoclopramid Minor tidak perlu tindakan
ide e dapat ↑
konsentrasi
serum
paracetmol
paracetamol tramadol tramadol dapat Minor tidak perlu tindakan
↓ absorpsi
paracetamol
ranitidin calcium calcium Minor tidak perlu tindakan
carbonate carbonat dapat
↓ konsentrasi
serum

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


98

ranitidine
6 domperidone tidak terjadi
ksr interaksi obat
amlodipine
fluimucil
lansoprazol
ceftriaxon
7 fenitoin fenitoin amlodipin amlodipin Moderate pantau toksisitas fenitoin jika amlodipin
dapat ↑ dimulai/dosis meningkat, atau penurunan efek
konsentrasi fenitoin jika amlodipin dihentikan/dosis menurun.
serum fenitoin, Pantau untuk mengurangi efek terapeutik amlodipin
fenitoin dapat dengan penggunaan bersamaan fenitoin.
↓ konsentrasi
serum
amlodipin
amlodipine fenitoin perdipine perdipine Moderate pantau toksisitas fenitoin jika perdipine
dapat ↑ dimulai/dosis meningkat, atau penurunan efek
konsentrasi fenitoin jika perdipine dihentikan/dosis menurun.
serum fenitoin, Pantau untuk mengurangi efek terapeutik perdipine
fenitoin dapat dengan penggunaan bersamaan fenitoin.
↓ konsentrasi
serum
perdipine
insulin insulin Lantus lantus dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari insulin dan
efek lantus yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
insulin sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
perdipine insulin novorapid novorapid Moderate meskipun penggunaan bersama dari insulin dan
dapat ↑ efek novorapid yang menyebabkan hipoglikemia secara

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


99

hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu


insulin sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
omeprazole lantus novorapid lantus dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari lantus dan
efek novorapid yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
novorapid sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
citicolin fenitoin omeprazole omeprazol Moderate monitor untuk mengurangi efek terapi dari
dapat ↑ omeprazole serta untuk peningkatan efek fenitoin
konsentrasi (yang terakhir terutama dengan dosis omeprazol
serum fenitoin, harian 40mg atau lebih besar) kapan saja obat ini
fenitoin dapat digunakan dalam kombinasi. dosis omeprazole
↓ konsentrasi yang lebih rendah (yaitu 20mg / hari) dan inhibitor
serum proton lainnya (misalnya, lansoprazole,
omeprazole rabeprazole, pantoprazole) mungkin kurang
mungkin untuk meningkatkan efek fenitoin
meropenem valsartan Kcl kcl dapat ↑ Moderate pantau tanda dan gejala hiperkalemia selama
efek penggunaan bersamaan dari valsartan dan kcl
hiperkalemia
valsartan
dexametason
valsartan
novorapid
lantus
8 valsartan amlodipine caco3 caco3 dapat ↓ Moderate pantau untuk mengurangi efek terapeutik dari
efek terapeutik amlodipin jika caco3 dimulai/dosis meningkat, atau
amlodipine peningkatan efek jika caco3 dihentikan/dosis
menurun
amlodipine

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


100

asam folat
bicnat
caco3
vitamin b12
fujimin
azitromisin
fluimucil
furosemid
ceftriaxon
9 lisinofril tidak terjadi
interaksi obat
ondansetron
cefotaxime
ceftriaxon
10 valsartan insulin lantus lantus dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari insulin dan
efek lantus yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
insulin sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
alprazolam
lantus
ceftriaxon
omeprazole
ondansetron
ranitidin
insulin
11 fenitoin fenitoin adalat oros adalat oros Moderate pantau lebih dekat untuk melihat efek yang diubah

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


101

dapat ↑ dari kedua obat dianjurkan jika adalat oros dan


konsentrasi fenitoin harus digunakan bersama. Pasien harus
serum fenitoin, disarankan untuk memberi tahu dokter jika mereka
fenitoin dapat mengalami gejala toksisitas fenitoin (misalnya,
↓ konsentrasi mengantuk, gangguan penglihatan, perubahan
serum adalat status mental, kejang, mual, atau ataksia) atau
oros hilangnya efek CCB
adalat oros fenitoin novorapid novorapid Moderate pantau peningkatan efek terapeutik fenitoin jika
dapat ↑ resiko novorapid dimulai/dosis meningkat, atau efek
hipoglikemik menurun jika novorapid di hentikan/dosis menurun.
fenitoin dan ↓
gula darah
clopidogrel fenitoin clopidogrel clopidogrel Minor tidak perlu tindakan. Penyesuaian dosis mungkin
dapat ↑ diperlukan jika suatu interaksi dicurigai
konsentrasi
serum fenitoin,
fenitoin dapat
↓ konsentrasi
serum
clopidogrel
citicolin
novorapid
12 amlodipine haloperidol ondansetron dapat saling ↑ Major penggunaan bersamaan harus dihindari bila
efek QTc- memungkinkan. Penggunaan bersama diharapkan
Prolonging secara substansial meningkatkan resiko untuk
toksisitas yang serius, termasuk pengembangan
torsades de pointes(TdP) atau takiaritmia ventrikel
yang signifikan lainnya. pasien dengan faktor resiko
yang hadir (misalnya. usia yang lebih tua, jenis
kelamin perempuan, bardikardia, hipokalemia,
hipomagnesemia, penyakit jantung, dan konsetrasi
obat yang lebih tinggi), akan memiliki resiko yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


102

lebih tinggi untuk toksisitas yang berpotensi


mengancam nyawa ini. penggunaan kombinasi
semacam itu harus disertai dengan pemantauan
ketat untuk bukti perpanjangan QT atau perubahan
lain dari ritme jantung
asam haloperidol metoclopram metoclopromi Major hindari penggunaan metoclopramide dalam
mefenamat ide de dapat ↑ efek kombinasi dengan obat lain yang terkait dengan
toksik pengembangan reaksi ekstrapiramidal (misalnya.
haloperidol Tardive dyskinesia) dan sindrom neuroleptik ganas
captopril captopril asam asam Moderate Pantau penurunan efek terapeutik captopril bila
mefenamat mefenamat digunakan bersama dengan asam mefenamat. ini
dapat ↓ fungsi kemungkinan paling memprihatinkan dengan dosis
ginjal yang kronis dan/atau dosis yang lebih tinggi dari asam
signifikan, ↓ mefenamat. selain itu, terapi bersamaan dengan
efek asam mefenamat dan captopril meningkatkan resiko
antihipertensi disfungsi ginjal, terutam pasien juga menerima
diuretik
ondansetron captopril humalog captopril dapat Minor tidak ada tindakan yang diperlukan. Pendidikan dan
↑ efek pemantauan hipoglikemia regular (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan obat penurun glukosa darah) harus
humalog memadai untuk manajemen kemungkinan interaksi
haloperidol asam mefenamat amlodipin asma Minor tidak ada tindakan
mefenamat
dapat ↓ efek
antihipertensi
amlodipin
citicolin captopril lantus captopril dapat Minor tidak ada tindakan yang diperlukan. Pendidikan dan
↑ efek pemantauan hipoglikemia regular (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan obat penurun glukosa darah) harus
lantus memadai untuk manajemen kemungkinan interaksi
ranitidin
manitol

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


103

metoclopram
ide
humalog
13 clopidogrel ascardia cardace ascardia dapat Moderate pantau untuk mengurangi efek terapeutik dari
↑ efek cardace jika dikombinasikan dengan ascardia.
nefrotoksik Selain itu, pantau untuk gagal ginjal akut ketika
dan ↓ efek obat-obat ini digabungkan
terapeutik
cardace
ascardia ascardia gliquidone ascardia dapat Moderate
↑ efek
hipoglikemik
gliquidone
amlodipine cardace gliquidone cardace dapat Moderate
↑ efek
gliquidone
cardace ascardia clopidogrel clopidogrel Moderate meskipun terapi kombinasi kadang-kadang
dapat ↑ efek digunakan secara menguntungkan, peningkatan
negatif/toksik resiko perdarahan mungkin terjadi. Pantau
ascardia, ↑ peningkatan pada penurunan fungsi platelet
resiko (misalnya. Perdarahan, memar, dll.) selama
perdarahan penggunaan clopidogrel dan ascardia secara
bersamaan
ksr gemfibrozil gliquidone gemfobrozil Moderate
dapat ↑ efek
hipoglikemik
gliquidone
gemfibrozile cardace ksr ksr dapat ↑ Moderate pantau tanda dan gejala hiperkalemia selama
efek penggunaan bersamaan cardace dan ksr
hiperkalemia
Ramipril
ambroxol ksr gliquidone ksr dapat ↑ Minor
efek

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


104

hipoglikemik
gliquidone
gliquidone
citicolin
14 sucralfat metformin lantus lantus dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari lantus dan
efek metformin yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
metformin sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
gliquidone
glucophage
ceftriaxon
lansoprazol
vitamin k
transamin
lantus
amlodipine
bisoprolol
cetirizine
lactulax
microlax
15 betaserc cardace valsartan valsartan dapat Moderate penggunaan bersamaan secara khusus tidak
↑ efek toksik dianjurkan dan merupakan kontraindikasi pada
dan ↑ pasien dengan nefropati diabetik. Jika kombinasi
konsentrasi seperti itu harus digunakan, monitor pasien lebih
serum cadace dekat untuk respon yang lebih besar dari yang
diperkirakan pada kombinasi, termasuk pemantauan
tekanan darah, fungsi ginjal, dan konsentrasi kalium
amlodipine ascardia cilostazol cilostazol Moderate meskipun terapi kombinasi kadang-kadang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


105

dapat ↑ efek menguntungkan, peningkatan resiko perdarahan


negatif/toksik mungkin terjadi. Pantau peningkatan pada
ascardia penurunan fungsi platelet (misalnya. Perdarahan,
memar, dll.) selama penggunaan cilostazol dan
ascardia secara bersamaan
valsartan metformin ascardia ascradia dapat Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan
↑ efek (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima
hipoglikemik ascardia dengan metformin. Ini mungkin lebih
metformin menjadi perhatian pada pasien yang menerima
ascardia dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
atorvastatin metformin cardace cardace dapat Moderate pantau respon pasien terhadap metformin lebih
↑ efek ketat jika pasien menggunakan obat ini secara
negatif/toksik bersamaan, terutama jika pasien memiliki faktor
metformin resiko lain untuk hipoglikemia atau asidosis laktat.
Sejauh mana cardace berkontribusi pada
peningkatan resiko tidak jelas, tetapi pemabntauan
yang lebih dekat cenderung bijaksana bila
memungkinkan
ascardia cardace ascardia ascardia dapat Moderate pantau untuk mengurangi efek terapeutik dari
↑ efek cardace jika dikombinasikan dengan ascardia.
nefrotoksik Selain itu, pantau untuk gagal ginjal akut ketika
dan ↓ efek obat-obat ini digabungkan
terapeutik
cardace
metformin
paracetamol
cilostazol
citicolin
ranitidin
cardace
16 simvastatin ascardia asam asam Major pantau peningkatan resiko perdarahan selama
mefenamat mefenamat penggunaan asam mefenamat dan ascardia secara

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


106

dapat ↑ efek bersamaan. Ibuprofen, dan mungkin NSAID


negatif/toksik, nonselektif lainnya, dapat mengurangi efek
↓ efek kardioprotektif ascardia. Tampak bijaksana untuk
kardioprotektif menghindari penggunaan iburpofen secara rutin
ascardia, dans ering pada pasien yang menerima ascardia
ascardia dapat untuk kardioprotektifnya. analgesik alternatif
↓ konsentrasi (misalnya. acetaminophen) mungkin pilihan yang
serum asam lebih aman. pasien mungkin memerlukan konseling
mefenamat, tentang waktu pemberian ibuporfen dan ascardia
dan kombinasi yang tepat. ibuprofen harus diberikan 30-120menit
dapat ↑ resiko setelah ascardia segera dikeluarkan, 2-4jam setelah
perdarahan ascardia rilis diperpanjang, atau setidaknya 8jam
sebelum ascardia
pradaxa pradaxa ascardia ascardia dapat Major pertimbangkan dengan seksama resiko dan manfaat
↑ efek yang diperkirakan dari kombinasi ini. tingkatkan
negatif/toksik pemantauan untuk melihat perdarahan jika
pradaxa, ↑ dabigatran (pradaxa) digunakan dalam kombinasi
resiko dengan obat antiplatelet apa pun. Monografi produk
perdarahan kanada untuk dabigatran (pradaxa) secara khusus
merekomendasikan untuk menghindari penggunaan
bersama dari prasugrel atau ticagrelor, dan itu juga
merekomendasikan bahwa aspirin (ascardia) dosis
rendah (100mg/hari) dapat dipertimbangkan jika
diperlukan tetapi penggunaan antiplatelet tidak
dianjurkan untuk pencegahan stroke pada pasien
dengan atrial fibralasi
fujimin pradaxa asam asam Major resiko komprehensif untuk penilaian manfaat harus
mefenamat mefenamat dilakukan untuk semua pasien sebelum penggunaan
dapat ↑ efek bersamaan dari obat pradaxa dan asam mefenamat.
negatif/toksik Resiko kemungkinan bervariasi sesuai dengan dosis
pradaxa, ↑ dan durasi penggunaan yang diperkirakan. Jika
resiko digabungkan awasi pasien lebih dekat untuk tanda-
perdarahan tanda dan gejala perdarahan dengan penggunaan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


107

bersamaan, dan konseling pasien tentang


peningkatan resiko perdarahan untuk segera
melaporkan tanda-tanda atau gejala kemungkinan
perdarahan.
asam pradaxa simvastatin simvastatin Major pertimbangkan alternatif HMG-CoA reductase
mefenamat dapat ↑ efek inhibitor (statin) pada pasien yang memakai
antikoagulan dabigatran (pradaxa) yang memerlukan terapi
pradaxa statin. Jika digunakan bersama, pantau pasien
secara dekat untuk tanda dan gejala perdarahan
citicolin
meropenem
ascardia
paracetamol
17 clopidogrel simarc clopidogrel clopidogrel Major tingkatkan pemantauan ketekunan untuk tanda dan
dapat ↑ efek gejala perdarahan jika obat ini digunakan secara
antikoagulan bersamaan
simarc
atorvastatin clopidogrel piracetam dapat saling ↑ Moderate tingkatkan pemantauan ketekunan untuk tanda dan
efek gejala perdarahan jika obat dengan sifat antiplatelet
antiplatelet digunakan bersamaan
furosemid digoxin atorvastatin atorvastatin Moderate pantau dengan cermat tanda-tanda dan gejala
dapat ↑ toksisitas digoxin saat menambahkan atorvastatin
konsentrasi (terutama pada dosis yang lebih tinggi) untuk
serum digoxin pasien yang menerima digoxin
spironolacto digoxin furosemid furosemide Moderate pantau peningkatan toksisitas digoxin jika
ne dapat ↑ efek furosemid dimulai atau dosis ditingkatkan.
negatif/toksik Pemantauan serum kalium dan magnesium secara
digoxin hati-hati bersamaan dengan pemberian terapi
penggantian elektrolit untuk memperbaiki
hipokalemia atau hipomagnesemia dapat
mengurangi resiko toksisitas digoxin
digoxin digoxin spironolacton spironolactone Moderate pantau pasien secara dekat untuk tanda-tanda atau

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


108

e dapat ↑ efek gejala toksisitas digoxin saat menggunakan digoxin


negatif/toksik dan spironolactone dalam kombinasi. Pemantauan
digoxin tambahan konsentrasi digoxin juga dapat
dibenarkan, tetapi perhatikan bahwa spironolactone
dan metabolitnya dapat menggangu kinerja banyak
tes digoxin komersial, yang memepersulit
interprestasi pengukuran konsentrasi digoxin
simarc metformin furosemid furosemide Moderate monitor glukosa darah lebih sering ketika pasien
dapat ↓ efek yang diobati dengan metformin memulai terapi
terapeutik dengan furosemid. Peningkatan dosis metformin,
metformin atau kebutuhan untuk obat tambahan, mungkin
diperlukan
ramipril metformin ramipril ramipril dapat Moderate pantau respon pasien terhadap metformin lebih
↑ efek ketat jika pasien menggunakan obat ini secara
negatif/toksik bersamaan, terutama jika pasien memiliki faktor
ramipril resiko lain untuk hipoglikemia atau asidosis laktat.
Sejauh mana ramipril berkontribusi pada
peningkatan resiko tidak jelas, tetapi lebih
cenderung bijaksana bila memungkinkan
metformin ramipril furosemid furosemid Moderate monitor untuk hipotensi gejala dan gagal ginjal jika
dapat ↑ efek ramipril dimulai pada pasien yang menerima
hipotensi dan furosemid. Koreksi deplesi volume oleh gangguan
↑ nefrotoksik terapi diuretik atau pengurangan dosis diuretik
ramipril sebelum inisiasi ramipril/peningkatan dosis
dianjurkan. jika terapi diuretik tidak dapat dikurangi
(misalnya. pada pasien dengan gagal jantung),
memulai ramipril pada dosis yang sangat rendah
dan peningkatan dosis dengan sedikit peningkatan
dapat menimimalkan interaksi ini
citicolin ramipril spironolacton spironolactone Moderate obat ini sering, dan tepat demikian, digunakan
e dapat ↑ efek bersamaan dalam pengobatan CHF berat.
hyperkalemic Tampaknya bijaksana untuk memantau peningkatan
ramipril insiden hiperkalemia jika spironolactone dan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


109

ramipril digunakan secara bersamaan


piracetam spironolactone atorvastatin atorvastatin Moderate gunakan spironolactone dengan hati-hati pada
dapat ↑ efek pasien yang menerima atorvastatin, karena potensi
negatif/toksik teoritis untuk peningkatan yang disempurnakan
spironolactone dalam aktivitas steroid endogen
vitamin c simarc piracetam piracetam Moderate tingkatkan ketekunanan pemantauan untuk tanda
dapat ↑ efek dan gejala perdarahan jika obat ini digunakan
antikoagulan secara bersamaan
simarc
simarc vitamin c vitamin c Moderate pemantauan lebih sering untuk antikoagulan
dapat ↓ efek mungkin diperlukan pada saat memulai terapi
antikoagulan simarc dengan vitamin c bersamaan. Peningkatan
dan ↓ dosis simarc atau penghentian vitamin c dapat
konsentrasi menjadi pertimbangan berdasarkan status
serum simarc antikoagulasi pasien
clopidogrel atorvastatin atorvastatin Moderate tidak ada tindakan yang diperlukan
dapat ↓ efek
antiplatelet
clopidogrel
simarc spironolacton spironolactone Moderate tidak ada tindakan yang diperlukan
e dapat ↓ efek
antikoagulan
simarc
18 vitamin b12 venofer valsartan valsartan dapat Moderate meskipun penggunaan dari dua atau lebih obat yang
↑ efek dapat menurunkan tekanan darah (baik sebagai niat
hipotensi terapeutik atau sebagai efek buruk) sering secara
venofer klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
sering secara substansial meningkatkan hipotensi.
Pantau pasien secara dekat untuk efek hipotensi
aditif jika dua atau lebih dari obat ini digabungkan
caco3
bicnat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


110

asam folat
valsartan
omeprazole
ondansetron
venofer
19 new diatab ciprofloxasin Ondansetron dapat saling ↑ Major penggunaan bersamaan harus dihindari bila
efek QTc- memungkinkan. Penggunaan bersama diharapkan
Prolonging secara substansial meningkatkan resiko untuk
toksisitas yang serius, termasuk pengembangan
torsades de pointes(TdP) atau takiaritmia ventrikel
yang signifikan lainnya. pasien dengan faktor resiko
yang hadir (misalnya. usia yang lebih tua, jenis
kelamin perempuan, bardikardia, hipokalemia,
hipomagnesemia, penyakit jantung, dan konsetrasi
obat yang lebih tinggi), akan memiliki resiko yang
lebih tinggi untuk toksisitas yang berpotensi
mengancam nyawa ini. penggunaan kombinasi
semacam itu harus disertai dengan pemantauan
ketat untuk bukti perpanjangan QT atau perubahan
lain dari ritme jantung
b complex ciprofloxasin Ulsafat ulsafat dapat ↓ Major interaksi dapat diminimalkan dengan pemberian
konsentrasi ciprofloxasin oral sitidaknya 2jam sebelum atau
serum 6jam sebelum dosis ulsafat. Pemisahan yang lebih
ciprofloxasin besar dari kedua obat tampaknya akan mengurangi
resiko untuk interaksi yang signifikan lebih jauh.
Jika harus diberikan lebih dekat bersama daripada
yang diinginkan, pantau untuk penurunan efek
terapeutik dari ciprofloxasin oral
paracetamol ciprofloxasin Miniaspi minispi dapat Moderate untuk menimalkan potensi interaksi, pertimbangkan
↓ konsentrasi pemberian ciprofloxasin minimal 2jam, atau 6jam
serum setelah, miniaspi. Pantau penurunan kadar/efek
ciprofloxasin ciprofloxasin bila digunakan bersama dengan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


111

miniaspi. Paremeter pemantaun khusus untuk


pasien yang menerima aspirin buffered dan tidak
berlaku untuk untuk pasien yang menerima aspirin
biasa atau enterik
micardis metformin Miniaspi miniaspi dapat Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan
↑ efek (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima
hipoglikemik miniaspi dengan metformin. Ini mungkin lebih
metformin menjadi perhatian pada pasien yang menerima
miniaspi dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
bisoprolol metformin Ciprofloxasi ciprofloxasin Moderate pantau untuk efek hipoglikemia atau hiperglikemia
n dapat ↑ efek selama pemberian bersamaan dengan obat penurun
hipoglikemik darah dan antibiotik quinolon. Resiko hipoglikemia
dan muncul paling besar selama beberapa hari pertama
mengurangi terapi antibiotik, sedangkan resiko hiperglikemia
efek teraupetik lebih besar setelah beberapa hari terapi.
metformin
metformin metformin Ondansetron ondansetron Moderate pantau peningkatan efek metformin/toksisitas bila
dapat ↑ dikombinasikan dengan ondansetron
konsentrasi
serum
metformin
ranitidin ciprofloxasin Micardis micardis dapat Moderate tidak ada tindakan yang diperlukan. Jika micardis
↑ efek dan ciprofloxasin digunakan bersamaan pada pasien
aritmogenik dengan faktor resiko lain untuk cedera ginjal akut
ciprofloxasin, atau aritmia, pemantauan lebih sering dari fungsi
dan ginjal atau irama jantung mungkin tepat
ciprofloxasin
dapat ↑
nefrotoksik
micardis
simvastatin paracetamol Ondansetron ondansetron Minor tidak ada tindakan spesifik yang diperlukan, tetapi
dapat ↓ perlu diketahui bahwa paracetamol mungkin kurang
analgesik efektif pada pasien yang diobati dengan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


112

paracetamol ondansetron
miniaspi simvastatin Ciprofloxasi ciprofloxasin Moderate tidak ada tindakan yang dipelukan
n dapat ↑ efek
myophatic (
rhabdomyolysi
s) dari
simvastatin
ulsafat b complex Miniaspi miniaspi dapat Minor tidak ada tindakan yang diperlukan
↓ konsentrasi
serum b
complex
ciprofloxasin
omeprazole
ondansetron
20 paracetamol domperidone Ondansetron dapat saling ↑ Major penggunaan bersamaan harus dihindari bila
efek QTc- memungkinkan. Penggunaan bersama diharapkan
Prolonging secara substansial meningkatkan resiko untuk
toksisitas yang serius, termasuk pengembangan
torsades de pointes(TdP) atau takiaritmia ventrikel
yang signifikan lainnya. pasien dengan faktor resiko
yang hadir (misalnya. usia yang lebih tua, jenis
kelamin perempuan, bardikardia, hipokalemia,
hipomagnesemia, penyakit jantung, dan konsetrasi
obat yang lebih tinggi), akan memiliki resiko yang
lebih tinggi untuk toksisitas yang berpotensi
mengancam nyawa ini. penggunaan kombinasi
semacam itu harus disertai dengan pemantauan
ketat untuk bukti perpanjangan QT atau perubahan
lain dari ritme jantung
amlodipine metformin Ondansetron ondansetron Moderate pantau peningkatan efek metformin/toksisitas bila
dapat ↑ dikombinasikan dengan ondansetron
konsentrasi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


113

serum
metformin
new diatab amlodipine Asam asam Minor tidak ada tindakan yang diperlukan
mefenamat mefenamat
dapat ↓ efek
hipertensi
amlodipine
asam paracetamol Ondansetron ondansetron Minor tidak ada tindakan spesifik yang diperlukan, tetapi
mefenamat dapat ↓ perlu diketahui bahwa paracetamol mungkin kurang
analgesik efektif pada pasien yang diobati dengan
paracetamol ondansetron
omeprazole
ondansetron
domperidone
metformin
21 paracetamol metformin Captopril captopril Moderate pantau respon pasien terhadap metformin lebih
dapat ↑ efek ketat jika pasien menggunakan obat ini secara
toksik bersamaan, terutama pasien memilik faktor resiko
metformin lain untuk hipoglikemia atau asidosis laktat. Sejauh
yaitu mana captopril berkontribusi pada peningkatan
hipoglikemik resiko tidak jelas, tetapi pemantaun yang lebih
dekat cenderung bijaksana bila memungkinkan
metformin
captopril
simvastatin
omeprazole
22 platogrix platogrix Amlodipine amlodipin Moderate pantau respon pasien terhadap platogrix secara
dapat ↓ efek dekat saat menggunakan platogrix dengan
terapi amlodipin. Baik signifikansi klinis dari interaksi ini
clopidogrel dan perbedaan resiko di antara individu CCB tidak
pasti

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


114

atorvastatin platogrix Asam dapat saling ↑ Moderate tingkatkan pemantauan ketekunan untuk tanda dan
mefenamat efek gejala perdarahan jika beberapa obat dengan sifat
antiplatelet antiplatelet digunakan bersamaan
amlodipine glimepirid Lantus lantus dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari glimepirid dan
efek lantus yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
glimepirid sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
metformin glimepirid Metformin metformin ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari glimepirid dan
efek metformin yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
glimepirid sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
glimepirid isdn Amlodipine amlodipin Moderate meskipun penggunaan dari dua atau lebih obat yang
dapat ↑ efek dapat menurunkan tekanan darah(baik sebagai niat
hipotensi isdn terapeutik atau sebagai efek buruk) sering secara
klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
sering secara substansial meningkatkan hipotensi.
Pantau pasien secara dekat untuk efek hipotensi
aditif jika dua atau lebih dari obat ini digabungkan
asam lantus Metformin metformin ↑ Moderate meskipun penggunaan bersama dari lantus dan
mefenamat efek metformin yang menyebabkan hipoglikemia secara
hipoglikemik klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
lantus sering secara substantif meningkatkan risiko
hipoglikemia. pantau pasien secara dekat untuk efek
hipoglikemik jika obat ini digabungkan
paracetamol amlodipine asam asam Minor tidak ada tindakan yang diperlukan
mefenamat mefenamat
dapat ↓ efek
hipertensi
amlodipine

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


115

trizedon mr platogrix Atorvastatin atorvastatin Moderate tidak ada tindakan yang diperlukan
dapat ↓ efek
antiplatelet
platogrix
lantus glimepirid asam asma Minor tidak ada tindakan yang diperlukan
mefenamat mefenamat
dapat ↑ dan ↓
efek
hipoglikemik
glimepirid
isdn
23 laxadyne bisoprolol Fenitoin fenitoin dapat Major pertimbangkan alternatif untuk salah satu obat
↑ metabolisme berinteraksi untuk menghindari kegagalan
bisoprolol terapeutik subtrat. Beberapa kombinasi secara
sehingga dapat khusus dikontraindikasikan oleh produsen.
↑ resiko Penyesuaian dosis yang disarankan juga ditawarkan
kegagalan oleh beberapa produsen. harap tinjau sisipan paket
terapi yang berlaku. pantau efek penurunan substrat CYP
jika inducer CYP dimulai/dosis meningkat, dan
peningkatan efek jika inducer CYP dihentikan/dosis
menurun
paracetamol fenitoin Amlodipine amlodipin Moderate pantau toksisitas fenitoin jika amlodipin
dapat ↑ serum dimulai/dosis meningkat, atau penurunan efek
konsentrasi fenitoin jika amlodipin dihentikan/dosis menurun.
fenitoin dan Pantau untuk mengurangi efek terapeutik amlodipin
fentoin dapat ↓ jika digunakan bersamaan dengan fenitoin.
serum
konsentrasi
amlodipin
amlodipine amlodipine Prohiper prohiper dapat Moderate ketika menggunakan prohiper pada pasien yang
↓ efek dirawat karena hipertensi, pantau respon tekanan
antihipertensi darah dengan seksama ketika memulai prohiper
amlodipine atau selama penyesuaian dosis

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


116

prohiper bisoprolol Prohiper prohiper dapat Moderate ketika menggunakan prohiper pada pasien yang
↓ efek dirawat karena hipertensi, pantau respon tekanan
antihipertensi darah dengan seksama ketika memulai prohiper
bisoprolol atau selama penyesuaian dosis
ramipril glimepirid Bisoprolol bisoprolol Moderate monitor kadar glukosa darah secara dekat karena
dapat ↑ resiko bisoprolol dapat menurunkan efektivitas obat-
hipoglikemik obatan jenis cardioselective beta-blocker (misalnya.
glimepirid Atenolol, metoprolol) mungkin lebih kecil
kemungkinannya untuk berinteraksi atau mungkin
kurang berpengaruh pada respon sulfonylurea.
perhatikan bahwa cardioselective berkurang pada
peningkatan dosis . anjurkan pasien bahwa
takikardia, sebagai tanda hipoglikemia, mungkin
tidak ada opthalmic beta-blocker terkait dengan
resiko yang lebih rendah daripada obat sistemik
fenitoin glimepirid Hct hct dapat ↓ Moderate monitor glukosa darah lebih sering ketika pasien
efek terapi yang diobati dengan glimepirid memulai terapi
glimepirid dengan hct. Peningkatan dosis glimepirid, atau
kebutuhan obat tambahan, mungkin diperlukan
asam folat glimepirid Metformin metformin Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari metformin
dapat ↑ efek dan glimepirid menyebabkan hipoglikemia sering
hipoglikemik tepat secara klinis, penggunaan kombinasi semacam
glimepirid itu sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
aspar k hct Prohiper prohiper dapat Moderate ketika menggunakan prohiper pada pasien yang
↓ efek dirawat karena hipertensi, pantau respon tekanan
antihipertensi darah dengan seksama ketika memulai prohiper
hct atau selama penyesuaian dosis
metformin metformin Hct hct dapat ↓ Moderate monitor glukosa darah lebih sering ketika pasien
efek terapi yang diobati dengan metformin memulai terapi
metformin dengan hct. Peningkatan dosis metformin, atau
kebutuhan obat tambahan, mungkin diperlukan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


117

ksr metformin Ramipril ramipril dapat Moderate pantau respon pasien terhadap metformin lebih
↑ efek toksik ketat jika pasien menggunakan obat ini secara
metformin bersamaan, terutama jika pasien memiliki faktor
yaitu resiko lain untuk hipoglikemia atau asidosis laktat.
hipoglikemik Sejauh mana ramipril berkontribusi pada
dan asidosis peningkatan resiko tidak jelas, tetapi pemantauan
laktat yang lebih dekat cenderung bijaksana bila
memungkinkan
manitol paracetamol Fenitoin fenitoin dapat Moderate pantau untuk paracetamol hepatoksisitas yang
↓ konsentrasi diinduksi jika dosis besar (penggunaan jangka
serum panjang) dari paracetamol digunakan pada pasien
paracetamol yang memakai fenitoin atau fosphenytoin. Efek
penurunan paracetamol dapat dilihat
citicolin fenitoin asam folat asam folat Moderate pantau untuk penurunan konsentrasi serum dan
dapat ↓ efektivitas fenitoin jika asam folat dimulai/dosis
konsentrasi meningkat. Demikian pula, pantau peningkatan
serum fenitoin konsentrasi fenitoin (dan kemungkinan toksisitas)
jika asam folat dihentikan/dosis menurun
vitamin c fenitoin Prohiper prohiper dapat Moderate pantau untuk penurunan konsentrasi serum dan
↑ konsentrasi efektivitas fenitoin jika prohiper dimulai/dosis
serum fenitoin meningkat. Demikian pula, pantau peningkatan
konsentrasi fenitoin (dan kemungkinan toksisitas)
jika asam prohiper dihentikan/dosis menurun
vitamin k ramipril Hct hct dapat ↓ Moderate monitor glukosa darah lebih sering ketika pasien
efek terapi yang diobati dengan ramipril memulai terapi
ramipril dengan hct. Peningkatan dosis ramipril, atau
kebutuhan obat tambahan, mungkin diperlukan
kalnex ramipril Prohiper prohiper dapat Moderate ketika menggunakan prohiper pada pasien yang
↓ efek dirawat karena hipertensi, pantau respon tekanan
antihipertensi darah dengan seksama ketika memulai prohiper
ramipril atau selama penyesuaian dosis
ceftriaxon ramipril Ksr ksr dapat ↑ Moderate pantau tanda dan gejala hiperkalemia selama
efek penggunaan bersamaan dari ramipril dan ksr

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


118

hiperkalemia
ramipril
hct ramipril Glimepiride ramipril dapat Minor tidak ada tindakan yang diperlukan. Pendidikan dan
↑ efek pemantauan hipoglikemia regular (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan obat penurun glukosa darah) harus
glimepirid memadai untuk manajemen kemungkinan interaksi
bisoprolol
glimepirid
piracetam
24 ascardia levazide Bisoprolol bisoprolol Moderate pasien yang berhati-hati tentang kemungkinan
dapat ↑ efek peningkatan resiko untuk hipotensi postural
hipotensi simptomatik ketika menggunakan levazide dalam
levazide kombinasi dengan obat lain yang dapat
menyebabkan penurunan tekanan darah. Anjurkan
pasien untuk berdiri perlahan dari posisi duduk atau
berbaring untuk meminimalkan resiko pusing atau
jatuh terkait dengan hipotensi ortostatik
paracetamol levazide Valsartan valsartan dapat Moderate pasien yang berhati-hati tentang kemungkinan
↑ efek peningkatan resiko untuk hipotensi postural
hipotensi simptomatik ketika menggunakan levazide dalam
levazide kombinasi dengan obat lain yang dapat
menyebabkan penurunan tekanan darah. Anjurkan
pasien untuk berdiri perlahan dari posisi duduk atau
berbaring untuk meminimalkan resiko pusing atau
jatuh terkait dengan hipotensi ortostatik
bisoprolol metformin Ascardia ascardia dapat Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan
↑ efek (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima
hipoglikemik ascardia dengan metformin. Ini mungkin lebih
metformin menjadi perhatian pada pasien yang menerima
ascardia dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
simvastatin novorapid Ascardia ascardia dapat Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan
↑ efek (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


119

hipoglikemik ascardia dengan novorapid. Ini mungkin lebih


novorapid menjadi perhatian pada pasien yang menerima
ascardia dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
levazide novorapid Bisoprolol bisoprolol Moderate pantau efek terapeutik novorapid jika bisoprolol
dapat ↑ efek dimulai/dosis meningkat, atau efek menurun jika
hipoglikemik bisoprolol dihentikan/dosis menurun. Cardiselective
novorapid beta-blocker mungkin lebih aman dari pada beta-
blocker non-selective
asam folat novorapid Metformin metformin Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari novorapid
dapat ↑ efek dan metformin menyebabkan hipoglikemia sering
hipoglikemik tepat secara klinis, penggunaan kombinasi semacam
novorapid itu sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
heximer
brainact
metformin
valsartan
ceftriaxon
novorapid
25 simvastatin ultracet Alprazolam alprazolam Major hindari penggunaan bersama analgesik opioid dan
dapat ↑ efek bezodiazepin atau depresan SSP lainnya bila
ultracet memungkinkan. Obat-obat ini hanya boleh
dikombinasikan jika pilihan pengobatan alternatif
tidak memadai. Jika digabungkan, batasi dosis dan
durasi setiap obat hingga seminimal mungkin
sambil mencapai efek klinis yang diinginkan.
peringatkan pasien dan pengasuh tentang resiko
pernapasan/sedasi yang diperlambat atau sulit.
captopril ultracet Esilgan esilgan dapat ↑ Major hindari penggunaan bersama analgesik opioid dan
efek ultracet bezodiazepin atau depresan SSP lainnya bila
memungkinkan. Obat-obat ini hanya boleh

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


120

dikombinasikan jika pilihan pengobatan alternatif


tidak memadai. Jika digabungkan, batasi dosis dan
durasi setiap obat hingga seminimal mungkin
sambil mencapai efek klinis yang diinginkan.
peringatkan pasien dan pengasuh tentang resiko
pernapasan/sedasi yang diperlambat atau sulit.
ascardia alprazolam Esilgan esilgan dapat ↑ Moderate penggunaan bersamaan dari dua atau lebih obat
efek toksik yang memiliki potensi untuk menekan fungsi CNS
alprazolam (baik sebagai niat terapeutik atau efek samping)
sering tepat secara klinis. Namun, penting untuk
mengenali bahwa resiko efek yang tidak diinginkan
dapat meningkat dengan penggunaan seperti itu.
pertimbangkan durasi penggunaan depresan SSP
dan setiap respon pasien (terutama toleransi
terhadap efek depresan SSP) ketika memilih obat
tambahan dan dosis. monitor untuk efek aditif
CNS-depresan setiap kali dua atau lebih depresan
SSP secara bersamaan digunakan. anjurkan pasien
untuk menghindari penggunaan depresan SSP lain
yang tidak terdaftar, terlarang, atau rekreasional
paracetamol captopril Ascardia ascardia dapat Moderate pantau untuk mengurangi efek terapeutik dari
↑ efek captopril, jika dikombinasikan dengan ascardia.
nefrotoksik Selain itu, pantau untuk gagal ginjal akut ketika
dan ↓ efek obat-obat ini digabungkan
terapeutik
captopril
alprazolam captopril Prohiper prohiper dapat Moderate ketika menggunakan prohiper pada pasien yang
↓ efek dirawat karena hipertensi, pantau respon tekanan
antihipertensi darah dengan seksama ketika memulai prohiper
captoril atau selama penyesuaian dosis
ultracet captopril cotrimoxazol cotrimoxazole Moderate pantau serum potasium secara dekat jika kombinasi
e dapat ↑ efek ini digunakan. Pertimbangkan menggunakan
hiperkalemia alternatif untuk cotrimoxazole bila mungkin,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


121

captopril terutama pada pasien dengan faktor resiko lain


untuk hiperkalemia (misalnya. Disfungsi ginjal,
usia yang lebih tua, penggunaan obat lain atau
suplemen yang dapat meningkatkan kalium,
penggunaan dosis tinggi cotrimoxazole
cotrimoxazol manitol Ultracet ultracet dapat Moderate pasien harus dipantau untuk mengurangi efikasi
e ↑ efek toksik diuretik, retensi urin, dan gejala ortostasis bila
manitol diterapi dengan tramadol dan lasix. Pertimbangkan
peningkatan pemantauan klinis tekanan darah (baik
duduk dan berdiri) pada pasien
ambroxol prohiper ranitidine ranitidine Moderate untuk pasien yang menggunakan kapsul extended-
dapat ↑ release prohiper dengan ranitidine, awasi secara
penyerapan ketat untuk tanda-tanda perubahan respon klinis
prohiper terhadap prohiper, khususnya respon yang
berlebihan segera setelah pemberian dan/atau
respon yang berkurang secara potensial dalam
waktu sebelum dosis selanjutnya
aciclovir cotrimoxazole Ascardia ascardia dapat Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan
↑ efek (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima
hipoglikemik ascardia dengan cotrimoxazole. Ini mungkin lebih
cotrimoxazole menjadi perhatian pada pasien yang menerima
ascardia dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
arcalion ultracet Prohiper prohiper dapat Moderate pantau tanda-tanda dan gejala serotonin
↑ efek toksik syndrome/toksisitas serotonin (misalnya. Perubahan
ultracet status mental, ketidakstabilan otonom,
hiperaktivitas neuromuskular) jika prohiper
dikombinasikan dengan modulator serotonin
prohiper paracetamol Ultracet ultracet dapat Minor tidak ada tindakan yang diperlukan
↓ penyerapan
paracetamol
esilgan
citicolin

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


122

ranitidin
ceftriaxon
manitol
26 sukralfat clobazam Diazepam diazepam Moderate penggunaan bersamaan dari dua atau lebih obat
dapat ↑ efek yang memiliki potensi untuk menekan fungsi CNS
toksik (baik sebagai niat atau efek samping) sering tepat
clobazam secara klinis. Namun, penting untuk mngenali
bahwa resiko efek yang tidak diinginkan dapat
meningkat dengan penggunaan seperti itu.
pertimbangkan durasi penggunaan depresan SSP
dan setiap respon pasien (terutama toleransi
terhadap efek depresan SSP) ketika memilih obat
tambahan dan dosis. monitor untuk efek aditif
CNS-depresan setiap kali dua atau lebih depresan
SSP secara bersamaan digunakan. anjurkan pasien
untuk menghindari penggunaan depresan SSP lain
yang tidak terdaftar, terlarang, atau rekreasional
amlodipine clobazam Epsonal epsonal dapat Moderate penggunaan bersamaan dari dua atau lebih obat
↑ efek toksik yang memiliki potensi untuk menekan fungsi CNS
clobazam (baik sebagai niat atau efek samping) sering tepat
secara klinis. Namun, penting untuk mngenali
bahwa resiko efek yang tidak diinginkan dapat
meningkat dengan penggunaan seperti itu.
pertimbangkan durasi penggunaan depresan SSP
dan setiap respon pasien (terutama toleransi
terhadap efek depresan SSP) ketika memilih obat
tambahan dan dosis. monitor untuk efek aditif
CNS-depresan setiap kali dua atau lebih depresan
SSP secara bersamaan digunakan. anjurkan pasien
untuk menghindari penggunaan depresan SSP lain
yang tidak terdaftar, terlarang, atau rekreasional
valsartan clobazam Omeprazole omeprazole Moderate pantau dengan seksama untuk melihat efek samping

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


123

dapat ↑ clobazam terkait dosis ketika digunakan dengan


konsentrasi omeprazole. Pengaturan dosis clobazam mungkin
serum dari diperlukan
metabolit aktif
clobazam
lactulax diazepam Epsonal epsonal dapat Moderate penggunaan bersamaan dari dua atau lebih obat
↑ efek toksik yang memiliki potensi untuk menekan fungsi CNS
diazepam (baik sebagai niat atau efek samping) sering tepat
secara klinis. Namun, penting untuk mngenali
bahwa resiko efek yang tidak diinginkan dapat
meningkat dengan penggunaan seperti itu.
pertimbangkan durasi penggunaan depresan SSP
dan setiap respon pasien (terutama toleransi
terhadap efek depresan SSP) ketika memilih obat
tambahan dan dosis. monitor untuk efek aditif
CNS-depresan setiap kali dua atau lebih depresan
SSP secara bersamaan digunakan. anjurkan pasien
untuk menghindari penggunaan depresan SSP lain
yang tidak terdaftar, terlarang, atau rekreasional
diazepam
epsonal
paracetamol
metformin
new diatab
cefotaxime
clobazam
curcuma
omeprazole
27 amlodipine amlodipine Rifampicin rifampicin Major pertimbangkan terapi alternatif untuk obat
dapat ↓ kontraindikasi ini pada pasien yang menerima
konsentrasi rifampicin. Penghambat calcium channel blockers

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


124

serum (CCBs) kemungkinan akan berinteraksi dengan


amlodipine turunan rifampicin hingga setidaknya beberapa
derajat. Jika menggunakan kombiasi ini, monitor
pasien secara dekat untuk tanda-tanda klinis efek
terapi CCB yang berkurang. peningkatan dosis
CCB atau terapi alterantif (non-CCB) mungkin
diperlukan
clopidogrel haloperidol Fenitoin fenitoin dapat Major pertimbangkan alternatif untuk salah satu obat
↑ metabolisme berinteraksi untuk menghindari kegagalan
haloperidol terapeutik subtrat. Beberapa kombinasi secara
khusus dikontraindikasikan oleh produsen.
Penyesuaian dosis yang disarankan juga ditawarkan
oleh beberapa produsen. harap tinjau sisipan paket
yang berlaku. pantau efek penurunan substrat CYP
jika inducer CYP dimulai/dosis meningkat, dan
peningkatan efek jika inducer CYP dihentikan/dosis
menurun
asam folat haloperidol Rifampicin rifampicin Major pertimbangkan alternatif untuk salah satu obat
dapat ↑ berinteraksi untuk menghindari kegagalan
metabolisme terapeutik subtrat. Beberapa kombinasi secara
haloperidol khusus dikontraindikasikan oleh produsen.
Penyesuaian dosis yang disarankan juga ditawarkan
oleh beberapa produsen. harap tinjau sisipan palket
yang berlaku. pantau efek penurunan substrat CYP
jika inducer CYP dimulai/dosis meningkat, dan
peningkatan efek jika inducer CYP dihentikan/dosis
menurun
etambutol insulin pioglitazon pioglitazon Major jika insulin dikombinasikan dengan pioglitazon,
dapat ↑ efek pengurangan dosis insulin harus dipertimbangkan
toksik insulin untuk mengurangi resiko hipoglikemia. Pantau
pasien untuk retensi cairan dan tanda/gejala gagal
jantung dengan kombinasi ini
rifampicin levemir Pioglitazone pioglitazon Major jika levemir dikombinasikan dengan pioglitazon,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


125

dapat ↑ efek pengurangan dosis levemir harus dipertimbangkan


toksik levemir untuk mengurangi resiko hipoglikemia. Pantau
pasien untuk retensi cairan dan tanda/gejala gagal
jantung dengan kombinasi ini
pioglitazon novorapid Pioglitazone pioglitazon Major jika novorapid dikombinasikan dengan pioglitazon,
dapat ↑ efek pengurangan dosis novorapid harus
toksik dipertimbangkan untuk mengurangi resiko
novorapid hipoglikemia. Pantau pasien untuk retensi cairan
dan tanda/gejala gagal jantung dengan kombinasi
ini
haloperidol fenitoin Amlodipine amlodipin Moderate pantau toksistas fenitoin jika amlodipin
dapat ↑ dimulai/dosis meningkat, atau penurunan efek
konsentrasi fenitoin jika amlodipin dihentikan/dosis menurun.
serum fenitoin, Pantau untuk mengurangi efek terapeutik amlodipin
fenitoin dapat dengan penggunaan bersamaan fenitoin. Pelabelan
↓ konsentrasi nifedipine merekomendasikan untuk menghindari
serum penggunaan bersamaan dengan fenitoin, dan
amlodipin nimodipine label kontraindikasi kanada
menggunakan fenitoin secara bersamaan
novorapid fenitoin Rifampicin rifampicin Major jika memungkinkan, cari alternatif ini. jika obat-
dapat ↓ obat ini digunakan bersama-sama, pantau secara
konsentrasi ketat untuk penurunan konsentrasi/efek jika
serum fenitoin rifampicin dimulai/dosis meningkat, atau
peningkatan konsentrasi/efek jika rifampicin
dihentikan/dosis menurun
levemir pioglitazon Rifampicin rifampicin Moderate pertimbangkan alternatif untuk penggunaan
dapat ↑ bersama rifampicin dengan obat pioglitazon. Pantau
metabolisme pasien yang menerima kombinasi ini untuk
pioglitazon mengurangi efek pioglitazon
fenitoin clopidogrel Amlodipine amlodipin Moderate pantau respon terhadap clopidogrel secara dekat
dapat ↓ efek saat menggunakan clopidogrel dengan amlodipin.
terapi Baik signifikansi klinis dari interaksi ini dan
clopidogrel perbedaan resiko di antara individu calcium channel

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


126

blockers tidak pasti


citicolin clopidogrel Rifampicin rifampicin Moderate pantau peningkatan efek clopidogrel dan toksisitas
dapat ↑ (misalnya. Perdarahan) jika clopidogrel
konsentrasi dikombinasikan dengan rifampicin
serum
clopidogrel
insulin insulin Levemir levemir dapat Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari insulin dan
↑ efek levemir menyebabkan hipoglikemia sering tepat
hipoglikemik secara klinis, penggunaan kombinasi semacam itu
insulin sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
insulin Novorapid novorapid Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari insulin dan
dapat ↑ efek novorapid menyebabkan hipoglikemia sering tepat
hipoglikemik secara klinis, penggunaan kombinasi semacam itu
insulin sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
levemir Novorapid novorapid Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari levemir dan
dapat ↑ efek novorapid menyebabkan hipoglikemia sering tepat
hipoglikemik secara klinis, penggunaan kombinasi semacam itu
levemir sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
fenitoin asam folat asam folat Moderate pantau untuk penurunan konsentrasi serum dan
dapat ↓ efektivitas fenitoin jika asam folat dimulai/dosis
konsentrasi meningkat. Demikian pula, pantau peningkatan
serum fenitoin konsentrasi fenitoin (dan kemungkinan toksisitas)
jika asam folat dihentikan/dosis menurun
pioglitazon Clopidogrel clopidogrel Moderate pantau pasien yang menerima pioglitazon selama
dapat ↓ pengobatan clopidogrel untuk melihat peningkatan
konsentrasi efek pioglitazon (misalnya. Penurunan glukosa
serum darah, edema atau hepatotoksisitas

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


127

pioglitazon
28 amlodipine ceremax Fenitoin fenitoin dapat Major hindari penggunaan bersamaan dari ceremax dan
↓ konsentrasi fenitoin
serum ceremax
candesartan nimotop Fenitoin fenitoin dapat Major hindari penggunaan bersamaan dari nimotop dan
↓ konsentrasi fenitoin
serum nimotop
manitol bisoprolol Fenitoin fenitoin dapat Major pertimbangkan alternatif untuk salah satu obat
↑ metabolisme berinteraksi untuk menghindari kegagalan
bisoprolol terapeutik subtrat. Beberapa kombinasi secara
khusus dikontraindikasikan oleh produsen.
Penyesuaian dosis yang disarankan juga ditawarkan
oleh beberapa produsen. harap tinjau sisipan paket
yang berlaku. pantau efek penurunan substrat CYP
jika inducer CYP dimulai/dosis meningkat, dan
peningkatan efek jika inducer CYP dihentikan/dosis
menurun
ranitidin captopril Candesartan candesartan Moderate penggunaan bersamaan secara khusus tidak
dapat ↑ efek dianjurkan dan merupakan kontraindikasi pada
toksik pasien dengan nefropati diabetik. Jika kombinasi
captopril seperti itu harus digunakan, monitor pasien lebih
dekat untuk respon yang lebih besar dari yang
diperkirakan pada kombinasi, termasuk pemantauan
tekanan darah, fungsi ginjal, dan konsentrasi kalium
fenitoin diazepam Fenitoin fenitoin dapat Major pertimbangkan alternatif untuk salah satu obat
↑ metabolisme berinteraksi untuk menghindari kegagalan
diazepam terapeutik subtrat. Beberapa kombinasi secara
khusus dikontraindikasikan oleh produsen.
Penyesuaian dosis yang disarankan juga ditawarkan
oleh beberapa produsen. harap tinjau sisipan paket
yang berlaku. pantau efek penurunan substrat CYP
jika inducer CYP dimulai/dosis meningkat, dan
peningkatan efek jika inducer CYP dihentikan/dosis

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


128

menurun
ceftriaxon fenitoin Amlodipine amlodipin Moderate pantau toksistas fenitoin jika amlodipin
dapat ↑ dimulai/dosis meningkat, atau penurunan efek
konsentrasi fenitoin jika amlodipin dihentikan/dosis menurun.
serum fenitoin, Pantau untuk mengurangi efek terapeutik amlodipin
fenitoin dapat dengan penggunaan bersamaan fenitoin. Pelabelan
↓ konsentrasi nifedipine merekomendasikan untuk menghindari
serum penggunaan bersamaan dengan fenitoin, dan
amlodipin nimodipine label kontraindikasi kanada
menggunakan fenitoin secara bersamaan
acrtapid actrapid Bisoprolol bisoprolol Moderate pantau peningkatan efek terapeutik actrapid jika
dapat ↑ efek bisoprolol dimulai/dosis meningkat, atau efek
hipoglikemik menurun jika bisoprolol bisoprolol dihentikan/dosis
actrapid menurun. Cardioselective beta-blocker mungkin
lebih aman daripada beta-bolcker non-selektif.
Catatan : cardioselective terkait dengan dosis, dan
setiap beta-blocker dapat menyebabkan masalah.
anjurkan pasien bahwa takikardia, sebagai tanda
hipoglikemia, mungkin tidak ada. resiko yang
terkait dengan beta-blocker opthalmic mungkin
kurang dari yang terkait dengan obat sistemik.
opthalmic beta-blocker tidak mungkin menjadi
perhatian
ceremax ceremax Amlodipine amlodipin Moderate pantau peningkatan efek ceremax pada pasien yang
dapat ↑ menerima amlodipin
konsentrasi
serum ceremax
nimotop nimotop Amlodipine amlodipin Moderate pantau peningkatan efek nimotop pada pasien yang
dapat ↑ menerima amlodipin
konsentrasi
serum nimotop
captopril paracetamol Fenitoin fenitoin dapat Moderate pantau untuk paracetamol hepatoksisitas yang
↓ konsentrasi diinduksi jika dosis besar (penggunaan jangka

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


129

serum panjang) dari paracetamol digunakan pada pasien


paracetamol yang memakai fenitoin atau fosphenytoin. Efek
penurunan paracetamol dapat dilihat
diazepam ranitidin Fenitoin fenitoin dapat moderate pantau untuk mengurangi efek ranitidin jika
↓ konsentrasi fenitoin dimulai atau jika dosis fenitoin yang
serum ranitidin digunakan bersamaan meningkat. Sebaliknya,
pantau untuk meningkatkan efek substrat/toksisitas
jika fenitoin dihentikan atau jika dosis fenitoin yang
digunakan bersamaan menurun. produsen yang
meresepkan informasi untuk obat tertentu dapat
berisi informasi tambahan mengenai kombinasi
obat spesifik yang menjadi perhatian
bisoprolol actrapid Captopril captopril dapat Minor tidak ada tindakan yang diperlukan. Pendidikan dan
↑ efek pemantauan hipoglikemia regular (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan obat penurun glukosa darah) harus
actrapid memadai untuk manajemen kemungkinan interaksi
paracetamol
29 metformin largactil ondansetron dapat saling ↑ Major penggunaan bersamaan harus dihindari bila
efek QTc- memungkinkan. Penggunaan bersama diharapkan
Prolonging secara substansial meningkatkan resiko untuk
toksisitas yang serius, termasuk pengembangan
torsades de pointes(TdP) atau takiaritmia ventrikel
yang signifikan lainnya. pasien dengan faktor resiko
yang hadir (misalnya. usia yang lebih tua, jenis
kelamin perempuan, bardikardia, hipokalemia,
hipomagnesemia, penyakit jantung, dan konsetrasi
obat yang lebih tinggi), akan memiliki resiko yang
lebih tinggi untuk toksisitas yang berpotensi
mengancam nyawa ini. penggunaan kombinasi
semacam itu harus disertai dengan pemantauan
ketat untuk bukti perpanjangan QT atau perubahan
lain dari ritme jantung
glimepirid tramadol Largactil largactil dapat Major hindari penggunaan bersama analgesik opioid dan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


130

↑ efek bezodiazepin atau depresan SSP lainnya bila


depresan SSP memungkinkan. Obat-obat ini hanya boleh
tramadol dikombinasikan jika pilihan pengobatan alternatif
tidak memadai. Jika digabungkan, batasi dosis dan
durasi setiap obat hingga seminimal mungkin
sambil mencapai efek klinis yang diinginkan.
peringatkan pasien dan pengasuh tentang resiko
pernapasan/sedasi yang diperlambat atau sulit.
lantus tramadol Frego frego dapat ↑ Major hindari penggunaan bersama analgesik opioid dan
efek depresan bezodiazepin atau depresan SSP lainnya bila
SSP tramadol memungkinkan. Obat-obat ini hanya boleh
dikombinasikan jika pilihan pengobatan alternatif
tidak memadai. Jika digabungkan, batasi dosis dan
durasi setiap obat hingga seminimal mungkin
sambil mencapai efek klinis yang diinginkan.
peringatkan pasien dan pengasuh tentang resiko
pernapasan/sedasi yang diperlambat atau sulit.
valsartan largactil Frego dapat saling ↑ Moderate penggunaan bersamaan dari dua atau lebih obat
efek yang memiliki potensi untuk menekan fungsi CNS
negatif/toksik (baik sebagai niat atau efek samping) sering tepat
secara klinis. Namun, penting untuk mngenali
bahwa resiko efek yang tidak diinginkan dapat
meningkat dengan penggunaan seperti itu.
pertimbangkan durasi penggunaan depresan SSP
dan setiap respon pasien (terutama toleransi
terhadap efek depresan SSP) ketika memilih obat
tambahan dan dosis. monitor untuk efek aditif
CNS-depresan setiap kali dua atau lebih depresan
SSP secara bersamaan digunakan. anjurkan pasien
untuk menghindari penggunaan depresan SSP lain
yang tidak terdaftar, terlarang, atau rekreasional
betahistin largactil Valsartan valsartan dapat Moderate meskipun penggunaan dari dua atau lebih obat yang
↑ efek dapat menurunkan tekanan darah (baik sebagai niat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


131

hipotensi terapeutik atau sebagai efek buruk) sering secara


largactil klinis sesuai, penggunaan kombinasi semacam itu
sering secara substansial meningkatkan hipotensi.
Pantau pasien secara dekat untuk efek hipotensi
aditif jika dua atau lebih dari obat ini digabungkan
frego glimepirid Ascardia ascardia dapat Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan
↑ efek (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima
hipoglikemik ascardia dengan glimepirid. Ini mungkin lebih
glimepirid menjadi perhatian pada pasien yang menerima
ascardia dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
ascardia glimepirid Humalog humalog dapat Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari glimepirid
↑ efek dan humalog menyebabkan hipoglikemia sering
hipoglikemik tepat secara klinis, penggunaan kombinasi semacam
glimepirid itu sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
microlax glimepirid Lantus lantus dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari glimepirid
efek dan lantus menyebabkan hipoglikemia sering tepat
hipoglikemik secara klinis, penggunaan kombinasi semacam itu
glimepirid sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
humalog glimepirid Metformin metformin Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari glimepirid
dapat ↑ efek dan metformin menyebabkan hipoglikemia sering
hipoglikemik tepat secara klinis, penggunaan kombinasi semacam
glimepirid itu sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
ranitidin glimepirid Ranitidine ranitidin dapat Moderate pantau untuk peningkatan efek terapeutik
↑ konsentrasi glimepirid jika ranitidin dimulai/dosis meningkat,
serum atau efek menurun jika ranitidin dihentikan/dosis
glimepirid menurun
ondansetron humalog Ascardia ascardia dapat Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


132

↑ efek (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima


hipoglikemik ascardia dengan humalog. Ini mungkin lebih
humalog menjadi perhatian pada pasien yang menerima
ascardia dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
citicolin humalog Lantus lantus dapat ↑ Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari humalog dan
efek lantus menyebabkan hipoglikemia sering tepat
hipoglikemik secara klinis, penggunaan kombinasi semacam itu
humalog sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
tramadol humalog Metformin metformin Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari humalog dan
dapat ↑ efek metformin menyebabkan hipoglikemia sering tepat
hipoglikemik secara klinis, penggunaan kombinasi semacam itu
humalog sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
largactil lantus Ascardia ascradia dapat Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan
↑ efek (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima
hipoglikemik ascardia dengan lantus. Ini mungkin lebih menjadi
lantus perhatian pada pasien yang menerima ascardia
dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
lantus Metformin metformin Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari lantus dan
dapat ↑ efek metformin menyebabkan hipoglikemia sering tepat
hipoglikemik secara klinis, penggunaan kombinasi semacam itu
lantus sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
metformin Ascardia ascradia dapat Moderate Pantau untuk efek farmakologis yang berlebihan
↑ efek (mis. hipoglikemia) pada pasien yang menerima
hipoglikemik ascardia dengan metformin. Ini mungkin lebih
metformin menjadi perhatian pada pasien yang menerima
ascardia dengan dosis 3 gram atau lebih per hari
ondansetron Metformin ondansetron Moderate pantau peningkatan efek metformin/toksisitas bila

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


133

dapat ↑ dikombinasikan dengan ondansetron


konsentrasi
serum
metformin
tramadol Ondansetron ondansetron Moderate pantau pasien secara dekat untuk mendapatkan
dapat ↓ efek bukti penurunan respon analgesik terhadap
analgesik tramadol dengan penggunaan bersamaan
tramadol ondansetron. Interaksi potensial ini kemungkinan
terkait dengan konsentrasi serum ondansetron,
berkurang secara signifikan
30 novomix captopril Valsartan vaslsartan Moderate penggunaan bersamaan secara khusus tidak
dapat ↑ efek dianjurkan dan merupakan kontraindikasi pada
toksik pasien dengan nefropati diabetik. Jika kombinasi
captopril seperti itu harus digunakan, monitor pasien lebih
dekat untuk respon yang lebih besar dari yang
diperkirakan pada kombinasi, termasuk pemantauan
tekanan darah, fungsi ginjal, dan konsentrasi kalium
novorapid metformin Captopril captopril dapat Moderate pantau respon pasien terhadap metformin lebih
↑ efek toksik ketat jika pasien menggunakan obat ini secara
metformin bersamaan, terutama jika pasien memiliki faktor
resiko lain untuk hipoglikemia atau asidosis laktat.
Sejauh mana captopril berkontribusi pada
peningkatan resiko tidak jelas, tetapi pemantauan
yang lebih dekat cenderung bijaksana bila
memungkinkan
metformin novomix Metformin metformin Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari novomix dan
dapat ↑ efek metformin menyebabkan hipoglikemia sering tepat
hipoglikemik secara klinis, penggunaan kombinasi semacam itu
novomix sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
valsartan novomix Novorapid novorapid Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari novomix dan
dapat ↑ efek novorapid menyebabkan hipoglikemia sering tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


134

hipoglikemik secara klinis, penggunaan kombinasi semacam itu


novomix sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
adalat oros novorapid Metformin metformin Moderate meskipun penggunaan bersamaan dari novorapid
dapat ↑ efek dan metformin menyebabkan hipoglikemia sering
hipoglikemik tepat secara klinis, penggunaan kombinasi semacam
novorapid itu sering secara substansial meningkatkan resiko
hipoglikemia. Pantau pasien secara lebih dekat
untuk efek hipoglikemik jika obat ini digabungkan
paracetamol novomix Captopril captopril dapat Minor tidak ada tindakan yang diperlukan. Pendidikan dan
↑ efek pemantauan hipoglikemia regular (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan obat penurun glukosa darah) harus
novomix memadai untuk manajemen kemungkinan interaksi
diazepam novoradip Captopril captopril dapat Minor tidak ada tindakan yang diperlukan. Pendidikan dan
↑ efek pemantauan hipoglikemia regular (yang menyertai
hipoglikemik penggunaan obat penurun glukosa darah) harus
novorapid memadai untuk manajemen kemungkinan interaksi
captopril

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Lampiran 4. Data Dosis Pasien

No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien
1 domperidone Antiemetik 10mg-3x1 10mg,max 30mg/hari PO Tepat
(Antagonis
Dopamine)
amlodipine calcium-channel 10mg-2x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
aspar k Elektrolit 1x1 tab 1-3 tab 3x/hari PO Tepat
sulfat ferrous anemia defenisi besi 1tab - 3x1 profilaksis : 1tab 200mg/hari, PO Tepat
teraupetik : 1tab 200mg 2-3x/hari
Ksr Vitamin,elektrolit 1tab-3x1 1-2 tab 3x /hari PO Tepat
novorapid Antidiabetes 8unit - 3x1 0.15-0.2 unit/kg/hari SC Tepat
lantus Antidiabetes 8unit - 1x1 1x/hari secara injeksi SK, 2-100 SC Tepat
(Insulin) unit/hari
cefotaxime Antibiotik 1gr - 3x1 max 12g/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
ca glukonas Vitamin, elektrolit 1amp - 1x1 10ml IV Tepat
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
2 antasida Antiulserasi 1cth - 3x1 Dosis suspensi: 1-2 sdt 3-4x/hari PO Tepat
omeprazole antireflux agents 20mg - 2x1 20-40mg/hari PO Tepat
(PPI)
amlodipine calcium-channel 10mg - 2x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
Ksr Vitamin,elektrolit 1tab - 3x1 1-2 tab 3x /hari PO Tepat
simvastatin Agen dislipidemia 20mg - 1x1 10-20mg/hari PO Tepat
domperidone Antiemetik 10mg - 3x1 10mg,max 30mg/hari PO Tepat
(Antagonis
Dopamine)
minosep obat kumur 4x1 2x sehari dikumur Kelebihan

135 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


136

fenitoin antikonvulsan, 100mg - 3x1 100mg - 3-4xsehari PO Tepat


antiepilepsi
humalog Antidiabetes 6ui - 3x1 Diabetes mellitus tipe 2: dosis awal: SC Tepat
0.15 - 0.2 unit/kg/hari
lantus Antidiabetes 12u - 1x1 1x/hari secara injeksi SK, 2-100 SC Tepat
(Insulin) unit/hari
captopril Antihipertensi 12,5 - 1x1 6,25 mg/hari max 37,5mg PO Tepat
(ACE Inhibitor)
ascardia Antiplatelet 80mg - 1x1 NSTEMI: dosis awal 162-325 mg, PO Tepat
diikuti 75-100 mg/hari, STEMI:
dosis awal 162-325 mg, diikuti
dosis pemeliharaan 75-162 mg/hari
novorapid Antidiabetes 8iu - 3x1 0.15-0.2 unit/kg/hari SC Tepat
cefotaxime Antibiotik 1gr - 3x1 max 12g/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
3 domperidone Antiemetik 1tab - 3x1 10mg,max 30mg/hari PO Tepat
(Antagonis
Dopamine)
sucralfat obat saluran cerna 15cc - 4x1 1gr-4x/hari PO Tepat
lainnya
vitamin k Vitamin 3x1 10mg/hari 3-4x PO Tepat
transamin Haemostatik 500mg - 3x1 0,5-1g atau 10mg/kg 25-50mg/kg IV Tepat
omeprazole antireflux agents 20mg - 2x1 20-40mg/hari PO Tepat
(PPI)
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
4 enzyplex obat lambung 1tab - 3x1 3x1tab PO Tepat
mucosta gastritis ulcer,ulkus 100mg - 3x1 100mg - 3x PO Tepat
peptikus
amlodipine calcium-channel 10mg - 2x1 5-10mg PO Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


137

blocker (antagonis
kalsium
simvastatin Agen dislipidemia 20mg - 1x1 10-20mg/hari PO Tepat
omeprazole antireflux agents 1x1 20-40mg/hari IV Tepat
(PPI)
farmadol Analgesik (Non- 1x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari IV Tepat
opioid)
transamin Haemostatik 500mg - 3x1 0,5-1g atau 10mg/kg 25-50mg/kg IV Tepat
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
5 vitamin b12 Vitamin 1tab - 3x1 250mcg/hari PO Tepat
asam folat Vitamin 1tab - 3x1 5mg/hari PO Tepat
caco3 Mineral 3x1 max 16 tab/hari PO Tepat
bicnat suplemen 3x2 1-5gr/hari PO Tepat
elektrolit,antidote
amlodipine calcium-channel 10mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
ascardia Antiplatelet 80mg - 1x1 NSTEMI: dosis awal 162-325 mg, PO Tepat
diikuti 75-100 mg/hari, STEMI:
dosis awal 162-325 mg, diikuti
dosis pemeliharaan 75-162 mg/hari
mertigo Antibiotik 500mg - 1x1 500mg PO Tepat
(Macrolida)
allopurinol Sediaan 100mg - 3x1 100-300 mg/hari PO Tepat
Hiperurisemia dan
gout (Xantine
Oksidase Inhibitor)
simvastatin Agen dislipidemia 20mg - 1x1 10-20mg/hari PO Tepat
sucralfat Antirefluks 4x1 1gr-4x/hari PO Tepat
metoclopramide Antiemetik 1amp - 3x1 2mg/kg IV Tepat
v bloc Antihipertensi 3,125mg - 1x1 6.25mg/hari PO Kekurangan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


138

isdn Anti-anginal 5mg - 3x1 15-120mg/hari PO Tepat


(vasodilator)
paracetamol Analgesik (Non- 500mg – 3x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
candesartan Diuretik 1x1 4mg/hari PO Tepat
(Angiotensin II
Receptor blocker)
ceftriaxon Antibiotik 2gr - 1x1 1gr/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
omeprazole antireflux agents 40mg - 1x1 20-40mg/hari IV Tepat
(PPI)
lantus Antidiabetes 12ui - 1x1 1x/hari secara injeksi SK, 2-100 SC Tepat
(Insulin) unit/hari
lansoprazol Antiulserasi 30mg - 1x1 30 mg secara inj IV lambat 2x/hari IV Kekurangan
domperidone Antiemetik 10mg - 3x1 10mg,max 30mg/hari PO Tepat
(Antagonis
Dopamine)
lasix Diuretik (loop) 2c - 3x1 40mg IV Tepat
ramipril Antihipertensi 2,5mg - 1x1 2.5-5 mg /hari, max: 20 mg/hari PO Tepat
ranitidin antagonis histamine 2x1 50mg IV Kelebihan
tramadol Analgesik (Opioid) Amp - 3x1 50-100mg DRIP Tepat
new diatab Antidiare 2tab - 4x1 max 12 tab/hari PO Tepat
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
6 domperidone Antiemetik 10mg - 3x1 10mg,max 30mg/hari PO Tepat
(Antagonis
Dopamine)
ksr Vitamin,elektrolit 1tab - 3x1 1-2 tab 3x /hari PO Tepat
amlodipine calcium-channel 10mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
fluimucil Antidot (Mucolytic 3x1 200mg PO Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


139

agent)
lansoprazol Antiulserasi 30mg - 1x1 30 mg secara inj IV lambat 2x/hari IV Kekurangan
ceftriaxone Antibiotik 2gr - 1x1 1gr/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
7 fenitoin antikonvulsan, 100mg - 2x1 100mg - 3-4xsehari PO Kekurangan
antiepilepsi
amlodipine calcium-channel 5mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
perdipine drip Antihipertensi hipertensi darurat 0,5-6 iv
mcg/kg/menit,krisis hipertensi akut
2-10mcg/kg/menit
ventolin+bisolvon Antiasma Per 8jam Bisolvon nebulizer dewasa:1 ml, inhalasi Tepat
Ventolin nebulizer dewasa: 2.5-5
mg, max 40 mg
omeprazole antireflux agents 2x1 20-40mg/hari IV Tepat
(PPI)
citicolin vasodilator perifer 500mg - 2x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral
meropenem Antibiotik 500mg - 2x1 500mg/8jam IV Tepat
(Betalactam)
dexametason Antiemetik 5mg - 3x1 15-20mg/hari IV Tepat
(kortikosteroid)
valsartan Diuretik 80mg - 1x1 80mg PO Tepat
(Angiotensin II
Receptor blocker)
novorapid Antidiabetes 10iu - 3x1 0.15-0.2 unit/kg/hari SC Tepat
lantus Antidiabetes 6iu - 1x1 1x/hari secara injeksi SK, 2-100 SC Tepat
(Insulin) unit/hari

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


140

No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien
8 valsartan Diuretik 80mg - 1x1 80mg PO Tepat
(Angiotensin II
Receptor blocker)
amlodipine calcium-channel 5mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
asam folat Vitamin 1tab - 2x1 5mg/hari PO Tepat
bicnat suplemen 1tab - 3x1 1-5gr/hari PO Tepat
elektrolit,antidote
caco3 Mineral 1tab - 3x1 max 16 tab/hari PO Tepat
vitamin b12 Vitamin 1tab - 3x1 250mcg/hari PO Tepat
fujimin Vitamin 1tab - 3x1 3x1tab PO Tepat
azitromisin Antibiotik 500mg - 1x1 500mg PO Tepat
(Macrolida)
fluimucil Antidot (Mucolytic 3x1 200mg PO Tepat
agent)
furosemid Diuretik (loop) 1x1 40mg PO Tepat
ceftriaxon Antibiotik 2gr - 2x1 1gr/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
9 lisinofril Antihipertensi 5mg - 1x1 10mg/hari PO Tepat
(ACE Inhibitor)
ondansetron Antiemetik 8mg - 3x1 0,15mg/kg-16mg/dose IV Tepat
(Antagonis Reseptor
5HT)
cefotaxime Antibiotik 1gr - 3x1 max 12g/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
ceftriaxon Antibiotik 2gr - 2x1 1gr/hari IV Tepat
(Sefalosporin)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


141

No Obat golongan obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien
10 valsartan Diuretik 80mg - 1x1 80mg/hari PO Tepat
(Angiotensin II
Receptor blocker)
alprazolam Antiansietas 0,5mg - 1x1 250-500mcg PO Tepat
(benzodiazepin)
lantus Antidiabetes 10unit - 1x1 1x/hari secara injeksi SK, 2-100 SC Tepat
(Insulin) unit/hari
ceftriaxon Antibiotik 2gr - 1x1 1gr/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
omeprazole antireflux agents 40mg - 1x1 20-40mg/hari IV Tepat
(PPI)
ondansetron Antiemetik 8mg - 3x1 0,15mg/kg-16mg/dose IV Tepat
(Antagonis Reseptor
5HT)
clinimix parenteral 1000ml - 1x1 1000ml/hari disesuaikan dengan IV Tepat
nutritional products kebutuhan energi pasien

ranitidin antagonis histamin 1amp - 2x1 50mg IV Kelebihan


No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
11 fenitoin antikonvulsan, 300mg loading load 10-15mg/kg bb PO Kekurangan
antiepilepsi
adalat oros antihipertensi & 30mg - 1x1 10-30 mg 3 x/hari, max: 120-180 PO Tepat
angina mg/hari
clopidogrel Antikoagulan, 75mg - 1x1 75mg/hari PO Tepat
antiplatelet

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


142

citicolin vasodilator perifer 500mg - 2x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat


dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral
novorapid Antidiabetes 8unit - 3x1 0.15-0.2 unit/kg/hari IV Tepat
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
12 amlodipine calcium-channel 10mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
asam mefenamat Anti Inflamasi Non 500mg - 3x1 Dosis awal 500 mg, kemudian 250 PO Tepat
Steroid mg setiap 4 jam jika dibutuhkan,
maksimum diberikan selama 1
minggu
captopril Antihipertensi 12,5mg - 1x1 6,25 mg/hari max 37,5mg PO Tepat
(ACE Inhibitor)
ondansetron Antiemetik 8mg - 3x1 0,15mg/kg-16mg/dose IV Tepat
(Antagonis Reseptor
5HT)
haloperidol Antipsikotik 1/2tab - 2x1 0.5-2mg 2xsehari PO Tepat
citicolin vasodilator perifer 500mg - 2x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral
ranitidin Antacid, antiulser 1amp - 2x1 50mg IV Tepat
(Antagonis (25mg/ml)
Histamin H2)
manitol Diuretic 125cc - 4x1 250 ml-1 L dalam 24 jam IV Tepat
manitol Diuretic 100cc - 4x1 250 ml-1 L dalam 24 jam IV Tepat
manitol Diuretic 75cc - 4x1 250 ml-1 L dalam 24 jam IV Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


143

metoclopramide Antiemetik 1amp - 3x1 2mg/kg IV Tepat

humalog Antidiabetes 10ui - 3x1 Diabetes mellitus tipe 2: dosis awal: SC Tepat
0.15 - 0.2 unit/kg/hari
lantus Antidiabetes 12unit - 1x1 1x/hari secara injeksi SK, 2-100 SC Tepat
(Insulin) unit/hari
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
13 clopidogrel Antikoagulan, 75mg - 1x1 75mg/hari PO Tepat
antiplatelet
ascardia Antiplatelet 80mg - 1x1 NSTEMI: dosis awal 162-325 mg, PO Tepat
diikuti 75-100 mg/hari, STEMI:
dosis awal 162-325 mg, diikuti
dosis pemeliharaan 75-162 mg/hari

amlodipine calcium-channel 10mg - 1x1 5-10mg PO Tepat


blocker (antagonis
kalsium
cardace Antihipertensi 5mg - 2x1 2.5-5 mg/hari, max. 20 mg/hari PO Tepat
ksr Vitamin,elektrolit 1tab - 1x1 1-2 tab 3x /hari PO Tepat
gemfibrozile antihiperlipidemia, 300mg - 1x1 600mg PO Kekurangan
fibrat
ambroxol mukolitik, obat 15cc - 3x1 10 mL (2 sdt) 2-3 x/hr. PO Tepat
batuk
gliquidone Antidiabetes Oral 15mg - 2x1 15-45mg PO Tepat
citicolin vasodilator perifer 1000mg - 2x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


144

No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien
14 sucralfat Antirefluks 15cc - 4x1 1gr-4x/hari PO Tepat
gliquidone Antidiabetes Oral 15mg - 2x1 15-45mg PO Tepat
glucophage Antidiabetes 1x1 500 mg 2-3xsehari PO Kekurangan
ceftriaxon Antibiotik 2gr - 1x1 1gr/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
lansoprazol Antiulserasi 1ampul - 2x1 30 mg secara inj IV lambat 2x/hari IV Kekurangan
vitamin k Vitamin 1amp - 3x1 2,5-10mg/hari IV Kelebihan
transamin Hemostatik 1amp - 3x1 IV Tepat
lantus Antidiabetes 10unit - 1x1 1x/hari secara injeksi SK, 2-100 SC Tepat
(Insulin) unit/hari
amlodipine calcium-channel 5mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
bisoprolol Antihipertensi (Beta 2,5mg - 1x1 5mg/hari PO Tepat
Blocker)

cetirizine Antihistamin 1tab - 1x1 5-10mg/hari PO Tepat


(antialergi)
lactulax Antidiare 1c - 1x1 dosis awal : 15-45ml/hari, dosis PO Tepat
pemeliharaan : 10-25ml/hari
microlax Antidiare 1x1 1tube - 1x rectal Tepat

No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien
15 betaserc Antivertigo 2x1 8-16 mg 3x/hari PO Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


145

amlodipine calcium-channel 10mg - 1x1 5-10mg PO Tepat


blocker (antagonis
kalsium
valsartan Diuretik 80mg - 2x1 80mg PO Tepat
(Angiotensin II
Receptor blocker)
atorvastatin Antidislipidemia 20mg - 1x1 10-20mg/hari PO Tepat
ascardia Antiplatelet 80mg - 1x1 NSTEMI: dosis awal 162-325 mg, PO Tepat
diikuti 75-100 mg/hari, STEMI:
dosis awal 162-325 mg, diikuti
dosis pemeliharaan 75-162 mg/hari

metformin Antidiabetes 500mg - 1-0-1 500 mg 2x/hari, max: 2250 mg/hari PO Tepat
paracetamol Analgesik (Non- 500mg - 4x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
cilostazol Antiplatelet 100mg - 1x1 50-100mg/hari PO Tepat
citicolin vasodilator perifer 500mg - 2x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral
citicolin vasodilator perifer 500mg - 2x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 IV Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral
ranitidin antagonis histamin 1amp - 2x1 50mg IV Kelebihan
cardace Antihipertensi 2,5 mg - 1x1 2.5-5 mg/hari, max. 20 mg/hari PO Tepat
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


146

16 ascardia Antiplatelet 320mg - 1x1 NSTEMI: dosis awal 162-325 mg, PO Tepat
diikuti 75-100 mg/hari, STEMI:
dosis awal 162-325 mg, diikuti
dosis pemeliharaan 75-162 mg/hari

forneuro Vitamin 1x1 1 tab/hari PO Tepat


simvastatin Agen dislipidemia 20mg - 1x1 10-20mg/hari PO Tepat
pradaxa Anticoagulants 75mg - 1x1 75-150mg/hari PO Tepat
fujimin Vitamin 3x1 3x1kapsul/hari PO Tepat
asam mefenamat Anti Inflamasi Non 500mg - 2x1 Dosis awal 500 mg, kemudian 250 PO Tepat
Steroid mg setiap 4 jam jika dibutuhkan,
maksimum diberikan selama 1
minggu
citicolin vasodilator perifer 500mg - 2x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral
meropenem Antibiotik 500mg - 2x1 500mg/8jam IV Tepat
(Betalactam)
paracetamol Analgesik (Non- 500mg - 4x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
17 clopidogrel Antikoagulan, 75mg - 1x1 75mg/hari PO Tepat
antiplatelet
atorvastatin Antidislipidemia 20mg - 1x1 10-20mg/hari PO Tepat
furosemid Diuretik (loop) 20mg - 2x1 40mg IV Tepat
spironolactone Antidislipidemia 25mg - 1x1 25-50 mg/hari terbagi dalam 1-2 PO Tepat
dosis

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


147

digoxin obat jantung 0.125 - 1x1 Dosis awal: 0.75-1.5 mg, dosis PO Tepat
pemeliharaan 0.125-0.5 mg
simarc Antikoagulan 4mg - 1x1 5mg/hari PO Tepat
(Diuretik)
ramipril Antihipertensi 10mg - 1x1 2.5-5 mg /hari, max: 20 mg/hari Tepat
metformin Antidiabetes 500mg - 1x1 500 mg 2x/hari, max: 2250 mg/hari PO Tepat
citicolin vasodilator perifer 500mg - 3x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral
piracetam Neurotropik 12gr - 1x1 Kasus akut: 3-9 g/hari dalam 3-4 IV Tepat
dosis terbagi, kasus kronik: 1.2-4.8
g diberikan 2-3x/hari, kasus berat:
s/d 12 g/hari bila perlu

piracetam Neurotropik 3gr - 4x1 Kasus akut: 3-9 g/hari dalam 3-4 IV Tepat
dosis terbagi, kasus kronik: 1.2-4.8
g diberikan 2-3x/hari, kasus berat:
s/d 12 g/hari bila perlu

vitamin c Vitamin 200mg - 2x1 maximal 2000mg/hari IV Tepat


No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
18 ketosteril insufisiensi ginjal II - 3x1 4-8 kapsul 3x/hari PO Tepat
kronis
vitamin b12 Vitamin 3x1 250mcg/hari PO Tepat
caco3 Mineral 3x1 max 16 tab/hari PO Tepat
bicnat suplemen 10mg - 1x1 1-5gr/hari PO Kekurangan
elektrolit,antidote
asam folat Vitamin 15mg/158 - 1x1 5mg/hari PO Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


148

valsartan Diuretik 80mg - 1x1 80mg PO Tepat


(Angiotensin II
Receptor blocker)
omeprazole antireflux agents 40mg - 1x1 20-40mg/hari IV Tepat
(PPI)
venofer on hd Antianemia 100mg - 1x1 Hemodialisis : 0,5mg/kg setiap IV Tepat
minggu selama 12 minggu;
maksimal 100mg/dosis
Non-dialisis : 0,5mg/kg setiap
minggu selama 12 minggu;
maksimal 100mg/dosis

ondansetron Antiemetik 4mg - 3x1 0,15mg/kg - 16mg/dosis IV Tepat


(Antagonis Reseptor
5HT)

No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien
19 new diatab Antidiare 2tab - 4x1 max 12 tab/hari PO Tepat
b complex Antiemetik 1tab - 3x1 10mg,max 30mg/hari PO Tepat
(Antagonis
Dopamine)
paracetamol Analgesik (Non- 500mg - 3x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
micardis Antihipertensi 80mg - 1x1 Dosis awal : 40 mg/hari, biasanya PO Tepat
dosis dijaga pada rentang: 20-80
mg/hari
bisoprolol Antihipertensi (Beta 2,5mg - 1x1 5mg/hari PO Tepat
Blocker)
metformin Antidiabetes 500mg - 3x1 500 mg 2x/hari, max: 2250 mg/hari PO Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


149

ranitidin antagonis histamin 1amp - 2x1 50mg IV Kelebihan


simvastatin Agen dislipidemia 20mg - 1x1 10-20mg/hari PO Tepat
miniaspi Antikoagulan, 1tab - 1x1 80mg/hari PO Tepat
analgesik (non-
opioid)
ulsafat Antirefluks 1c - 4x1 1gr-4x/hari PO Tepat
ciprofloxasin Antibiotik 500mg - 1x1 250-500mg/hari PO Tepat
(kuionolon)
omeprazole antireflux agents 2x1 20-40mg/hari IV Tepat
(PPI)
ondansetron Antiemetik 2x1 0,15mg/kg-16mg/dose IV Tepat
(Antagonis Reseptor
5HT)

No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien
20 paracetamol Analgesik (Non- 500mg - 3x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
amlodipine calcium-channel 10mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
new diatab Antidiare 2tab - 4x1 max 12 tab/hari PO Tepat
asam mefenamat Anti Inflamasi Non 500mg - 1x1 Dosis awal 500 mg, kemudian 250 PO Tepat
Steroid mg setiap 4 jam jika dibutuhkan,
maksimum diberikan selama 1
minggu
omeprazole antireflux agents 2x1 20-40mg/hari IV Tepat
(PPI)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


150

ondansetron Antiemetik 2x1 0,15mg/kg-16mg/dose IV Tepat


(Antagonis Reseptor
5HT)
domperidone Antiemetik 10mg - 3x1 10mg,max 30mg/hari PO Tepat
(Antagonis
Dopamine)

No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien
21 paracetamol Analgesik (Non- 500mg - 4x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
metformin Antidiabetes 1000mg - 1x1 500 mg 2x/hari, max: 2250 mg/hari PO Tepat
captopril Antihipertensi 25mg - 2x1 6,25 mg/hari max 37,5mg PO Tepat
(ACE Inhibitor)
simvastatin Agen dislipidemia 20mg - 1x1 10-20mg/hari PO Tepat
omeprazole antireflux agents 20mg - 2x1 20-40mg/hari PO Tepat
(PPI)
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
22 platogrix Antikoagulan, 75mg - 1x1 75mg/hari PO Tepat
antiplatelet
atorvastatin Antidislipidemia 20mg - 1x1 10-20mg/hari PO Tepat
amlodipine calcium-channel 5mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
metformin Antidiabetes 1 tab - 2x1 500 mg 2x/hari, max: 2250 mg/hari PO Tepat
glimepirid Antidiabetic 2mg - 1x1 Awal: 1-2 mg maksimal 8mg/hari PO Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


151

asam mefenamat Anti Inflamasi Non 1x1 Dosis awal 500 mg, kemudian 250 PO Tepat
Steroid mg setiap 4 jam jika dibutuhkan,
maksimum diberikan selama 1
minggu
paracetamol Analgesik (Non- 500mg - 3x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
trizedon mr Antianginal 2x1 35 mg 2x/hari PO Tepat
lantus Antidiabetes 12u - 1x1 1x/hari secara injeksi SK, 2-100 SC Tepat
(Insulin) unit/hari
isdn Anti-anginal 5mg - 3x1 15-120mg/hari PO Tepat
(vasodilator)
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
23 laxadyne Laxative 1x1 (2 sdm) 1-2 sdm (15-30 mL) 1 x/hr PO Tepat
paracetamol Analgesik (Non- 500mg - 4x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
amlodipine calcium-channel 10mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
prohiper obat SSP golongan 1/2tab - 2x1 20-30 mg/hari diberikan dalam 2-3 PO Kekurangan
lain dosis terbagi
ramipril Antihipertensi 10mg - 1x1 2.5-5 mg /hari, max: 20 mg/hari PO Tepat
fenitoin antikonvulsan, 100mg - 3x1 100mg - 3-4xsehari PO Tepat
antiepilepsi
asam folat Vitamin 3tab - 1x1 5mg/hari PO Tepat
aspar k Elektrolit 1tab - 1x1 1-3 tab 3x/hari PO Tepat
metformin Antidiabetes 500mg - 3x1 500 mg 2x/hari, max: 2250 mg/hari PO Tepat
ksr Vitamin,elektrolit 1tab - 3x1 1-2 tab 3x /hari PO Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


152

manitol Diuretic 75cc - 4x1 250 ml-1 L dalam 24 jam IV Tepat


citicolin vasodilator perifer 500mg - 2x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral
vitamin c Vitamin 200mg - 2x1 maximal 2000mg/hari IV Tepat
vitamin k Vitamin 1amp - 3x1 2,5-10mg/hari IV Kelebihan
kalnex Antikoagulasi 500mg - 2x1 50 mg : 1 - 2 ampul/hari (5 - 10 mL) IV Kelebihan
dibagi dalam 1-2 dosis. Bila perlu 2
-10 ampul (10 - 50 mL) dengan cara
infus intravena.
100 mg : 2,5 - 5 mL/hari dibagi
dalam 1 - 2 dosis. Bila perlu 5 - 25
mL diberikan dengan cara infus
intravena.

ceftriaxon Antibiotik 2gr - 1x1 1gr/hari IV Tepat


(Sefalosporin)
hct Diuretik 25mg - 2x1 12,5-50mg/hari PO Tepat
bisoprolol Antihipertensi (Beta 2,5mg - 1x1 5mg/hari PO Tepat
Blocker)
glimepirid Antidiabetic 1mg - 1x1 Awal: 1-2 mg maksimal 8mg/hari PO Tepat
piracetam Neurotropik 3g - 4x1 Kasus akut: 3-9 g/hari dalam 3-4 IV Tepat
dosis terbagi, kasus kronik: 1.2-4.8
g diberikan 2-3x/hari, kasus berat:
s/d 12 g/hari bila perlu

No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


153

24 ascardia Antiplatelet 80mg - 1x1 NSTEMI: dosis awal 162-325 mg, PO Tepat
diikuti 75-100 mg/hari, STEMI:
dosis awal 162-325 mg, diikuti
dosis pemeliharaan 75-162 mg/hari

paracetamol Analgesik (Non- 500mg - 3x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
bisoprolol Antihipertensi (Beta 2,5mg - 1x1 5mg/hari PO Tepat
Blocker)
simvastatin Agen dislipidemia 10mg - 1x1 10-20mg/hari PO Tepat
levazide Antiparkinson 1tab - 2x1 70-100mg/hari; maksimal PO Tepat
200mg/hari
asam folat Vitamin 3tab - 1x1 5mg/hari PO Tepat
heximer Antiparkinson 1tab - 2x1 1-2mg/hari kemudian 3-5mg/hari, PO Tepat
bila perlu 6-10mg/hari atau 12-
15mg/hari di bagi 3-4dosis/hari
brainact Pheripheral 1tab - 2x1 500mg 2x/hari PO Tepat
Vasodilator
metformin Antidiabetes 500mg - 2x1 500 mg 2x/hari, max: 2250 mg/hari PO Tepat
valsartan Diuretik 80mg - 1x1 80mg PO Tepat
(Angiotensin II
Receptor blocker)
ceftriaxon Antibiotik 2gr - 1x1 1gr/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
novorapid Antidiabetes 4unit - 3x1 0.15-0.2 unit/kg/hari IV Tepat
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
25 simvastatin Agen dislipidemia 20mg - 2x1 10-20mg/hari PO Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


154

captopril Antihipertensi 25mg - 2x1 6,25 mg/hari max 37,5mg PO Tepat


(ACE Inhibitor)
ascardia Antiplatelet 80mg - 1x1 NSTEMI: dosis awal 162-325 mg, PO Tepat
diikuti 75-100 mg/hari, STEMI:
dosis awal 162-325 mg, diikuti
dosis pemeliharaan 75-162 mg/hari

paracetamol Analgesik (Non- 500mg - 3x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
alprazolam Antiansietas 0,25mg - 1x1 250-500mcg PO Tepat
(benzodiazepin)
ultracet Analgesik (Non- 3x1 max 8tab/hari PO Tepat
opioid+opioid)
Co-Trimoxazole Antibiotic 2x1 960mg - 2x/hari PO Tepat
ambroxol Obat Batuk 15cc - 3x1 10 mL (2 sdt) 2-3 x/hr. PO Tepat
aciclovir Antivirus 500mg 0-1-0 200mg - 400mg/hari maksimal PO Tepat
800mg/hari
arcalion Vitamin 2-0-0 1-3tab/hari PO Tepat
prohiper obat SSP golongan 1/2-0-0 20-30 mg/hari diberikan dalam 2-3 PO Kekurangan
lain dosis terbagi
esilgan hiponatik dan 1mg - 1x1 1-2mg sebelum tidur PO Tepat
sedative
citicolin vasodilator perifer 500mg - 2x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral
ranitidin antagonis histamin 1amp - 2x1 50mg IV kelebihan
ceftriaxon Antibiotik 2gr - 1x1 1gr/hari IV Tepat
(Sefalosporin)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


155

manitol Diuretic 50cc - 4x1 250 ml-1 L dalam 24 jam IV Tepat


No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
26 sukralfat Antirefluks 15cc - 4x1 1gr-4x/hari PO Tepat
amlodipine calcium-channel 10mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
valsartan Diuretik 80mg - 1x1 80mg PO Tepat
(Angiotensin II
Receptor blocker)
lactulax Antidiare 15ml - 3x1 dosis awal : 15-45ml/hari, dosis PO Tepat
pemeliharaan : 10-25ml/hari
diazepam Antikonvulsan, cps campuran 2x max 30mg/hari IV Tepat
ansiolitik
epsonal Antipasmodik cps campuran 2x 1tab 3x/hari PO Tepat
paracetamol Analgesik (Non- cps campuran 2x 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
metformin Antidiabetes 500mg - 2x1 500 mg 2x/hari, max: 2250 mg/hari PO Tepat
new diatab Antidiare 2tab - 4x1 max 12 tab/hari PO Tepat
cefotaxime Antibiotik 1gr - 3x1 max 12g/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
clobazam Ansiolitik 1caps - 3x1 (cps 20mg/hari PO Tepat
campuran)
curcuma Vitamin 1tab - 3x1 1-2tab 3x/hari PO Tepat
omeprazole antireflux agents 20mg - 2x1 20-40mg/hari PO Tepat
(PPI)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


156

No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien
27 amlodipine calcium-channel 10mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
clopidogrel Antikoagulan, 75mg - 1x1 75mg/hari PO Tepat
antiplatelet
asam folat Vitamin 1tab - 2x1 5mg/hari PO Tepat
etambutol Antituberkulosis 1000mg - 1x1 (ada 15-25 mg/kg/hari, dosis max: 1600 PO Tepat
di pasien) mg
rifampicin Antituberkulosis 1x1 ( ada di TB aktif =10 mg/kg/hari, max:600 PO Tepat
pasien) mg/hari, TB laten= 10 mg/kg/hari,
max:600 mg/hari selama 4 bulan
inh (isoniazid) Antituberkulosis 1x1 ( ada di TB laten: 300 mg/hari atau 900 mg PO Tepat
pasien) 2x/minggu selama 6-9 bulan pada
pasien yang tidak memiliki HIV. TB
aktif: 5 mg/kg/hari atau 300 mg/hari

pioglitazon Antidiabetes 30mg - 1x1 dosis awal 15 mg atau 30 mg PO Tepat


1x/hari, bila perlu : 45 mg 1x/hari
haloperidol Antipsikotik 0,5mg - 2x1 dosis awal : 1,5-3 mg 2-3x/hari atau PO Tepat
3-5 mg, 2-3x/haridosis
pemeliharaan efektif serendah
mungkin (sampai serendah 5-10
mg/hari)

novorapid Antidiabetes 8unit - 3x1 0.15-0.2 unit/kg/hari SC Tepat


levemir Antidiabetes 8ui - 1x1 Dosis SK bersifat individual (1- SC Tepat
2x/hari), dosis lazim: 0.2-1
unit/kg/hari

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


157

fenitoin antikonvulsan, 100mg - 3x1 100mg - 3-4xsehari PO Tepat


antiepilepsi
citicolin vasodilator perifer 500mg - 3x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral

No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan


Pasien
28 amlodipine calcium-channel 10mg - 1x1 5-10mg PO Tepat
blocker (antagonis
kalsium
candesartan Diuretik 16mg - 1x1 max 16mg/hari PO Tepat
(Angiotensin II
Receptor blocker)
manitol Diuretic 125cc - 4x1 250 ml-1 L dalam 24 jam IV Tepat
manitol Diuretic 100cc - 4x1 250 ml-1 L dalam 24 jam IV Tepat
ranitidin antagonis histamin 50mg - 2x1 50mg IV Tepat
fenitoin antikonvulsan, 100mg - 3x1 100mg - 3-4xsehari PO Tepat
antiepilepsi
ceftriaxon Antibiotik 2gr - 1x1 1gr/hari IV Tepat
(Sefalosporin)
actrapid Antidiabetes kelipatan 4unit 0.5 iu/kg/hari IV Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


158

ceremax Profilaksis dan 2cc per jam dosis awal : 1 mg/jam (sampai 500 IV Tepat
pengobatan defisit mg/jam, tingkatkan setelah 2 jam
neurologik iskemik menjadi 2 mg/jam
karena vasospasme
serebral setelah
perdarahan
subarakhnoid
(SAH)

nimotop Profilaksis dan 2tab - 4x1 oral 60 mg setiap 4 jam (dosis total PO Tepat
pengobatan defisit sehari 360)
neurologik iskemik
karena vasospasme
serebral setelah
perdarahan
subarakhnoid
(SAH)

captopril Antihipertensi 12,5mg - 2x1 6,25 mg/hari max 37,5mg PO Tepat


(ACE Inhibitor)
diazepam Antikonvulsan, 1x1 max 30mg/hari IV Tepat
ansiolitik
bisoprolol Antihipertensi (Beta 2,5mg - 1x1 5mg/hari PO Tepat
Blocker)
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
29 metformin Antidiabetes 500mg - 3x1 500 mg 2x/hari, max: 2250 mg/hari PO Tepat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


159

glimepirid Antidiabetic 2mg - 1x1 ( Awal: 1-2 mg maksimal 8mg/hari PO Tepat


30menit sebelum
makan pagi)
lantus Antidiabetes 16unit - 1x1 1x/hari secara injeksi SK, 2-100 SC Tepat
(Insulin) unit/hari
valsartan Diuretik 80mg - 1x1 80mg PO Tepat
(Angiotensin II
Receptor blocker)
betahistin Antivertigo 24mg - 3x1 24-48 mg/hari PO Tepat
frego Antivertigo 5mg - 2x1 10 mg diberikan pada malam hari PO Tepat
usia < 65 tahun dan 5 mg usia > 65
tahun
ascardia Antiplatelet 80mg - 1x1 NSTEMI: dosis awal 162-325 mg, PO Tepat
diikuti 75-100 mg/hari, STEMI:
dosis awal 162-325 mg, diikuti
dosis pemeliharaan 75-162 mg/hari

microlax Antidiare Extra 1tube - 1x rectal Tepat


humalog Antidiabetes 15ui - 3x1 Diabetes mellitus tipe 2: dosis awal: SC Tepat
0.15 - 0.2 unit/kg/hari
ranitidin antagonis histamin 1amp - 2x1 50mg IV Kelebihan
ondansetron Antiemetik 8mg - 3x1 0,15mg/kg-16mg/dose IV Tepat
(Antagonis Reseptor
5HT)
citicolin vasodilator perifer 500mg - 2x1 tablet/kaplet/bubuk 1000-2000 PO Tepat
dan aktivator mg/hari dalam dosis terbagi
serebral

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


160

tramadol analgesik opioid 50mg - 2x/drip 50 mg sebagai dosis tunggal, dapat IV Tepat
dalam nacl 100cc ditambahkan 50 mg sesudah selang
waktu 30-60 menit, max:400 gr/hari

largactil Antipsikotik 25mg - extra awal : 10-25 mg sehari 1-2 kali, PO Tepat
naikkan pada interval 4-7 hari
dengan 10-25 mg/hari
Bila perlu, dosis maksimum : 800
mg
No Obat Golongan Obat Dosis Digunakan Dosis Normal Rute Keterangan
Pasien
30 novomix Antidiabetes 2x (22-0-24) dosis awal 6u saat makan pagi dan SC Tepat
6u saat makan malam atau 1x/hari
dosis 12u saat makan malam
novorapid Antidiabetes 1x1 0.15-0.2 unit/kg/hari SC Tepat
metformin Antidiabetes 500mg - 1x1 500 mg 2x/hari, max: 2250 mg/hari PO Tepat
(malam)
valsartan Diuretik 80mg - 1x1 80mg PO Tepat
(Angiotensin II
Receptor blocker)
adalat oros antihipertensi & 30mg - 1x1 10-30 mg 3 x/hari, max: 120-180 PO Tepat
angina mg/hari
paracetamol Analgesik (Non- 500mg - 3x1 0,5-1g tiap 4-6 jam, max 4g/hari PO Tepat
opioid)
diazepam Antikonvulsan, 1x1 max 30mg/hari IV Tepat
ansiolitik
captopril Antihipertensi 25mg - 2x1 6,25 mg/hari max 37,5mg PO Tepat
(ACE Inhibitor)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta