Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang berasal

dari iuran rakyat untuk pengeluaran negara. Iuran rakyat meliputi wajib

pajak orang pribadi maupun wajib pajak badan (perseroan). Jadi sebagai

warga negara yang baik harus ikut berpartisipasi dalam pertumbuhan dan

pelaksanaan pembangunan nasional guna untuk kemakmuran dan

kesejahteraan negara. Untuk mewujudkan pembangunan nasional tersebut,

tidak sedikit dana yang dikeluarkan oleh pemerintah sehingga ditalangi

melalui penerimaan pajak. Pajak mempunyai peran yang penting bagi suatu

negara. Contohnya Indonesia, pendapatan negara 70 persen diperoleh dari

sektor pajak, sedangkan sisanya berasal dari sumber lain yaitu penerimaan

bukan pajak dan hibah (Kemenkeu,2017). Sehingga pajak menjadi fokus

pemerintah dalam menjalankan program-program seperti melakukan

pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum lainnya tergantung pada

penerimaan negara yang didapat dari pajak.

Tabel 1.1
Target dan Realisasi Penerimaan Pajak di Indonesia

Target Realisasi
Tahun Penerimaan Penerimaan Persentase Penerimaan
Pajak Pajak Pajak
2013 1.148 triliun 1.077 triliun 93.8%
2014 1.246 triliun 1.146 triliun 92.0%
2015 1.489 triliun 1.240 triliun 83.3%
2016 1.539 triliun 1.284 triliun 83.5%
2017 1.472 triliun 1.343 triliun 91.2%
Sumber: Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2018
Dapat dilihat dari table 1.1 tersebut, menunjukkan bahwa

penerimaan pajak di Indonesia dari tahun 2013 sampai 2017 masih belum

mencapai target penerimaan pajak. Realisasi yang jauh dari target

penerimaan pajak karena kurangnya kesadaran wajib pajak untuk

membayarkan pajaknya. Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengatakan pemerintah akan lebih fokus

untuk menguatkan pelayanan perpajakan. Tanpa adanya pajak, suatu negara

bisa menjadi lumpuh. Karena tanpa adanya pajak pemerintah tidak bisa

memajukan kesejahteraan dan kemakmuran negara. Oleh karena itu,

pemerintah berusaha untuk meningkatkan target penerimaan pajak melalui

Direktorat Jendral Pajak (DJP).

Menurut Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA),

penghindaran pajak 80 persen dilakukan oleh badan usaha dan sisanya oleh

wajib pajak perorangan. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan

kepentingan antara pemerintah dengan wajib pajak badan menjadi salah satu

faktor penyebab target pajak belum bisa tercapai. Bagi perusahaan, pajak

menjadi beban karena menjadi pengurang pendapatan atau penghasilan

yang bisa mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan. Menurut Teguh

(2015) tujuan pengusaha adalah memperoleh laba yang tinggi untuk

kesejahteraan pemegang saham atau investor dengan memaksimalkan nilai

perusahaan. Sedangkan tujuan pemerintah adalah memperoleh penerimaan

pajak yang sebesar-besaranya agar penyelenggaraan target pemerintah

dapat dibiyai. Dengan perbedaan kepentingan ini, mendorong wajib pajak

badan untuk mengurangi jumlah pembayaran pajak secara legal (tax


avoidance) maupun secara illegal (tax evasion). Oleh karena itu, banyak

perusahaan yang tidak membayar pajak karena dapat menurunkan

keuntungan mereka sehingga melakukan penghindaran pajak (tax

avoidance).

Penghindaran pajak (tax avoidance) adalah suatu upaya yang

dilakukan oleh wajib pajak untuk mengurangi beban pajak terutang yang

dilakukan secara legal dengan mencari kelemahan dalam hukum pajak

sehingga tidak termasuk sebagai pelanggaran hukum. Namun berbeda

dengan pemerintah yang tidak menginginkan adanya praktik penghindaran

pajak karena bisa mengakibatkan turunya penerimaan negara. Tetapi

dengan adanya sistem self assessment yang ada di Indonesia membuat wajib

pajak seakan diberi peluang untuk melakukan kecurangan dengan

mengurangi jumlah pajak. Karena pada sistem ini wajib pajak yang

bertanggung jawab untuk menghitung, melaporkan dan membayar sendiri

jumlah pajaknya sesuai peraturan perpajakan. Teknik tax avoidance ini

menarik karena pada dasarnya tax avoidance ini diperbolehkan tetapi tidak

diperkenankan. Perusahaan menganggap penghindaran pajak (tax

avoidance) ini dapat memberikan keuntungan ekonomis kepada perusahaan

(Armstrong et al., 2015). Keputusan perusahaan untuk melakukan tax

avoidance harus melalui kebijakan dari pemimpin perusahaan (direktur

pajak dan konsultan pajak perusahaan) karena praktik ini memiliki risiko

yang tinggi yang dapat menurunkan citra atau reputasi perusahaan serta

denda yang harus dibayar perusahaan. Pemerintah Indonesia telah membuat

aturan untuk penghindaran pajak, salah satunya terkait transfer pricing,


transfer pricing ini mengatur tentang penerapan prinsip kewajaran dan

kelaziman usaha dalam transaksi antara wajib pajak dengan pihak yang

mempunyai hubungan istimewa (Perdirjen No. PER-32/PJ/2011).

Apabila suatu perusahaan melakukan pelanggaran pajak, seharusnya

yang akan dikenakan sanksi tidak hanya perusahaan saja tetapi pihak-pihak

yang terlibat di dalam pengambilan keputusan. Agar berkurangnya kasus

penghindaran pajak yang terencana dan ditutupi oleh jasa keuangan yaitu

auditor dari Kantor Akuntan Publik (KAP) yang bereputasi. Kesempatan

untuk melakukan penghindaran pajak yang lebih terbuka dilakukan oleh

perusahaan multinasional, dimana wajib pajak memanfaatkan perbedaan

sistem perpajakan antar negara supaya bisa mengalihkan keuntungan

perusahaannya ke negara lain yang tarif pajaknya lebih rendah dari negara

asal. Upaya penghindaran pajak ini dilakukan wajib pajak dengan

menyembunyikan penghasilan atau aset keuangannya di luar negeri.

Sehingga, Indonesia membuat kesepakat untuk menerapkan the Automatic

Exchange of Information (AEOI). Dengan penerapan sistem ini, wajib pajak

yang membuka rekening dinegara lain dapat dilacak secara langsung oleh

otoritas pajak dari negara asal.

Karena banyak wajib pajak yang merasa terbebani untuk membayar

pajak, maka wajib pajak berusaha untuk meringankan kewajiban mereka

dalam pembayaran pajak dengan cara meminimalkan jumlah pajak yang

harus dibayar (Dewi dan Sari 2015). Terdapat fenomena penghindaran pajak

yang dilakukan oleh IKEA. Perusahaan yang berasal dari Swedia ini

bergerak di bidang industri peralatan rumah tangga. IKEA diindikasi


melakukan penghindaran pajak hampir €1 miliar atau sekitar US$ 1,1 miliar.

selama tahun 2009 sampai 2014. IKEA memindahkan dana dari gerainya di

seluruh Eropa ke anak perusahaannya di Belanda, sehingga terbebas dari

dari pajak di Linhtenstein atau Lexembourg. Estimasi pajak yang dihindari

IKEA menyebabkan hilangnya pemasukan pajak di Jerman senilai 35 juga

euro atau US$ 39 juta, 24 juta euro atau US$ 26 juta di Prancis, dan 11,6

miliar euro atau US$ 13 juta di Inggris. Sejumlah negara seperti Swedia,

Spanyol dan Belgia diprediksi kehilangan pemasukan pajak dengan kisaran

7,5 juta euro hingga 10 juta euro (US$ 8,5 juta hingga US$ 11,2 juta).

(klinikpajak.co.id)

Aktivitas penghindaran pajak dapat dipengaruhi oleh beberapa

faktor diantaranya Kompensasi Eksekutif, Ukuran Perusahaan,

Kepemilikan Institusional, Proporsi Dewan Komisaris dan Audit Komite.

Kompensasi terhadap eksekutif merupakan hal yang menentukan

bagaimana umpan balik yang diberikan oleh eksekutif untuk keputusan

bisnis yang ada pada perusahaan pada masa yang akan datang. Armstrong

et.al (2015) mengatakan bahwa kompensasi yang diberikan kepada

eksektutif merupakan hal yang sangat penting dalam mekanisme Corporate

Governance karena dengan adanya kompensasi tersebut akan membuat para

eksekutif memiliki kepentingan tersendiri sehingga membuat mereka

cenderung untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat pada perusahaan

secara menyeluruh yang nantinya akan menjadi benefit untuk mereka

sendiri, sehingga dengan hal tersebut dapat menekan agency problem.


Penelitian terdahulu terkait ukuran perusahaan merupakan suatu

nilai yang dapat membagi perusahaan ke dalam kategori besar atau kecil

dengan berbagai macam cara, salah satunya berdasarkan total asset. Ukuran

Perusahaan dapat menunjukkan kestabilan dan mengukur kemampuan

perusahaan dalam aktivitas ekonominya. Penelitian terdahulu yang telah

dilakukan oleh Fitria (2018), menunjukkan ukuran perusahaan berpengaruh

terhadap tax avoidance. Hal ini karena semakin besar perusahaan maka

semakin banyak asset pada perusahaan. Sedangkan penelitian menurut Putri

dan Putra (2017), ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan.

Apabila ukuran perusahaan semakin besar maka cash effective tax rate

perusahaan akan semakin besar sehingga diperkirakan praktik

penghindarannya rendah.

Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham yang

dimiliki institusi atau lembaga lain, diukur dengan presentase yang dihitung

pada akhir tahun. Pihak institusi seperti perusahaan asuransi, bank,

perusahaan investasi, dan kepemilikan institusi lainnya. Kepemilikan

institusional mampu mengendalikan manajemen agar kinerjanya lebih

optimal melalaui proses monitoring. Proses monitoring ini dapat

mengurangi tindakan manajemen yang mementingkan kepentingan sendiri

dan dapat menjamin kemakmuran pemegang saham. Penelitian yang

dilakukan oleh Cahyano, Andini dan Raharjo (2016), menyebutkan bahwa

kepemilikan institusional berpengaruh terhadap tax avoidance (CETR),

menurut Nurhidayah dan Herlina (2017) kepemilikan institusional tidak

berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak. Sedangkan menurut


Mulyani, Wijayanti dan Masitoh (2018), kepemilikan institusional

berpengaruh positif dan signifikan terhadap tax avoidance. Hal ini karena

semakin tinggi kepemilikan saham, maka semakin baik dalam melakukan

tax avoidance.

Penelitian yang dilakukan oleh Vivi dan Winnie (2016),

menggunakan pengukuran proporsi dewan komisaris independen berusaha

menemukan pengaruh corporate governance terhadap tax avoidance. Vivi

dan Winnie (2016) menemukan keberadaan dewan komisaris perusahaan

memiliki pengaruh negatif terhadap tax avoidance perusahaan. Hal ini

karena keberadaan dewan komisaris independen efektif dalam usaha

mencegah tindakan penghindaran pajak dan juga dewan komisaris memiliki

keahlian keuangan serta independensi yang baik. Hasil penelitian ini

bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan Jati (2014),

Gusti Ayu dan Maria M (2015), Ni Koming dan Putu Ery (2017), yang

mengatakan bahwa keberadaan dewan komisaris independen dalam suatu

perusahaan hanya semata-mata untuk memenuhi regulasi yang diterapkan.

Selain Kompensasi Eksekutif, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan

Institusional dan Proporsi Dewan Komisaris, faktor yang terkait mengenai

penghindaran pajak yaitu Audit Komite. Penelitian yag dilakukan oleh

Gusti Ayu, Maria M (2015)& Ajeng Wijayanti, Anita Wijayanti, Yuli

Chomsatu(2016) menggunakan pengukuran jumlah anggota komite audit

berusaha menemukan pengaruh komite audit terhadap tax avoidance. Gusti

Ayu,Maria M (2015)& Ajeng Wijayanti, Anita Wijayanti, Yuli

Chomsatu(2016) menemukan komite audit tidak memiliki pengaruh


terhadap tax avoidance. Hal ini disebabkan bahwa kinerja komite audit tidak

berjalan dengan baik meskipun jumlah komite audit pada perusahaan sudah

sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh BEI, yaitu komite audit paling

sedikit berjumlah 3 orang.

I Gusti Ayu & Ketut Alit (2014) bertentangan dengan penelitian

Gusti Ayu,Maria M (2015)& Ajeng Wijayanti, Anita Wijayanti,Yuli

Chomsatu(2016). I Gusti Ayu & Ketut Alit (2014) menemukan bahwa

perusahaan akan lebih bertanggung jawab dan terbuka dalam menyajikan

laporan keuangan karena komite audit akan memonitor segala kegiatan yang

berlangsung didalam perusahaan.

Penelitian mengenai tax avoidance telah menjadi perhatian para

peneliti dalam beberapa tahun. Penelitian oleh Desai & Dharmapala

(2006), Minnick & Noga (2010), James & Igbeng (2013),

Fernandes,Martines & Nossa (2013), Armstrong et al. (2015). Namun

literature terdahulu menunjukkan adanya perbedaan pandangan terkait

faktor determinan tax avoidance. Ketidakkonsistenan tersebut cenderung

disebabkan oleh masuh lemahnya konsep dan pengukuran tax avoidance

serta tidak relevannya dalam praktek (Desan & Dharmapala, 2006).

Penelitian ini mereplikasi penelitian sebelumya oleh Annisa dan

Kurniasih (2012) serta penelitian oleh Sandy dan Lukviarman (2015). Dan

yang menjadi pembeda penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, yaitu

tahun pengambilan data penelitian, sampel, dan dipakainya ukuran

perusahaan sebagai variabel control. Dalam penelitian ini saya


menggunakan variabel dependen, yaitu tax avoidance dan variabel

independennya, yaitu corporate governance dengan proksi kompensasi

eksekutif, ukuran perusahaan, kepemilikan institusional, proporsi dewan

komisaris dan audit komite.serta variabel control yaitu ukuran perusahaan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah eksekutif kompensasi berpengaruh terhadap tax avoidance

pada perusahaan manufaktur subsektor consumer goods?

2. Apakah Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap tax avoidance pada

perusahaan manufaktur subsektor consumer goods?

3. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap tax

avoidance pada perusahaan manufaktur subsektor consumer goods?

4. Apakah proportion of BOC berpengaruh terhadap tax avoidance pada

perusahaan manufaktur subsektor consumer goods?

5. Apakah audit komite berpengaruh terhadap tax avoidance pada

perusahaan manufaktur subsektor consumer goods?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis pengaruh kompensasi eksekutifl terhadap tax

avoidance pada perusahaan manufaktur subsektor consumer goods.

2. Untuk menganalisis company size terhadap tax avoidance pada

perusahaan manufaktur subsektor consumer goods.


3. Untuk menganalisis institutional ownership terhadap tax avoidance

pada perusahaan manufaktur subsektor consumer goods.

4. Untuk menganalisis pengatuh proportion of BOC terhadap tax

avoidance pada perusahaan manufaktur subsektor consumer goods.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

5. Untuk menganalisis pengaruh audit komite terhadap tax avoidance

pada perusahaan manufaktur subsektor consumer goods.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah gambaran dan

tambahan informasi penulis terkait pengaruh executif compensation,

company size, institutional ownership, proportion of BOC, dan audit

komite terhadap tax avoidance sebagai sarana untuk berlatih

mengembangkan kemampuan pada bidang penelitian di bidang

akademik untuk penerapan teori yang telah diperoleh salama kuliah.

b. Bagi Pemerintah

Pemerintah khususnya otoritas pajak mampu mendeteksi dan

menanggulangi tindakan penghindaran pajak (tax avoidance) yang

dilakukan oleh wajib pajak dengan cara membuat peraturan

perpajakan yang lebih kompleks agar tindakan tersebut tidak

merugikan negara.

c. Bagi Manajemen Perusahaan

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan dan

masukan dalam menentukan arah kebijakan perusahaan agar tidak


terjerumus lingkar ambiguitas yang terdapat dalam peraturan

perpajakan antara kegiatan legal maupun ilegal dalam perencanaan

pajak.

d. Bagi Masyarakat

Memberikan penilaian dan pandangan mengenai perusahaan

kepada masyarakat agar dapat menambah informasi dan pemahaman

mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tindakan tax

avoidance.

1.5 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dala penelitian ini adalah :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang penelitian yaitu faktor-

faktor yang terkait dengan penghindaran pajak. executif

compensation, company size, institutional ownership, proportion of

BOC, dan audit komite yang diduga memiliki pengaruh terhadap tax

avoidance. Pada bab ini juga memuat rumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini menjelaskan landasan teoritis yang mendukung penelitian ini

serta penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan

juga berisi tentang kerangka pemikiran dan hipotesis penelitian.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang teknik pengumpulan data, populasi dan

sampling, model penelitian dan variabel yang digunakan.


BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini menjelaskan hasil penelitian dan menganalisis bagaimana

executif compensation, company size, institutional ownership,

proportion of BOC, dan audit komite terhadap tax avoidance.

BAB V PENUTUP

Bab ini memuat kesimpulan dari hasil penelitian yang telah

dilakukan dan saran-saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi

pihak-pihak yang berkepentingan dengan hasil penelitian.