Anda di halaman 1dari 29

BAB III

HASIL PELAKSANAAN PKL

3.1. Unit Kerja PKL


PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk adalah Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) yang merupakan perusahaan informasi dan komunikasi serta penyedia
jasa dan jasa dan jaringan telekomunikasi terbesar di Indonesia. PT. Telkom
Indonesia dibantu oleh anak-anak perusahaannya yang tergabung dalam satu
kesatuan yang disebut Telkom Group, salah satunya adalah PT. Telkom Akses.
PT. Telkom Akses (PTTA) merupakan anak perusahaan PT. Telekomunikasi
Indonesia Tbk yang kepimilikan saham sepenuhnya dimiliki oleh PT. Telkom.
PTTA bergerak dalam bisnis penyediaan layanan konstruksi dan pengelolaan
infrastruktur jaringan. Sejak PT. Telkom Akses didirikan pada tanggal 12
Desember 2012, PTTA aktif dalam pekerjaan jasa konstruksi penggelaran jaringan
akses broadband. Selain itu, layanan lain yang diberikan adalah Network Terminal
Equipment (NTE), serta jasa Pengelolaan Operasi dan Pemeliharaan (Operation &
Maintenance) jaringan akses broadband.
Di dalam PT. Telkom Akses, terdapat divisi Corporate Customer Access
Network (CCAN). Divisi CCAN bertugas untuk memastikan layanan yang dipakai
oleh pelanggan yang berstatus Enterprise, Government, dan Business selalu bekerja
dengan kualitas prima.

3.1.1. Struktur Organisasi PKL


Praktik kerja lapangan di lakukan di PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk
secara keseluruhan, tepatnya di STO Sunter. Kebijakan saat ini menyatakan teknisi
merupakan pekerja dari anak-anak perusahaan PT. Telkom, seperti PT. Telkom
Akses dan PT. Bangtelindo. STO Sunter sendiri merupakan bagian divisi Home
Service yang merupakan bagian dari Witel Jakarta Utara. Witel Jakarta Utara
termasuk dari Telkom Regional II yang merupakan bagian divisi Consumer Service.
Gambar 3.1. menunjukan struktur perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Gambar 3.1. Struktur Perusahaan PT. Telkom Indonesia Tbk
Divisi yang ditempatkan saat praktik kerja lapangan adalah CCAN. CCAN
sebenarnya merupakan divisi tersendiri di Witel Jakarta Utara, tetapi teknisi-
teknisinya disebar ke semua STO yang ada di Jakarta Utara untuk memudahkan
pengerjaan perbaikan gangguan. Sub divisi yang ditempatkan adalah CCAN
Assurance. Teknisi-teknisi yang diperkerjakan di divisi CCAN merupakan teknisi-
teknisi PT. Telkom Akses. Gambar 3.2 menunjukkan struktur organisasi PT.
Telkom Akses.

Gambar 3.2. Struktur Organisasi PT. Telkom Akses


Di STO, divisi CCAN Assurance merupakan bagian dari divisi assurance
corporate service. Assurance Corporate Service bertanggung jawab untuk
menangani gangguan pada layanan yang dipakai oleh pelanggan yang berstatus
corporate. Divisi ini dipimpin oleh seorang site manager yang berada di Witel dan
dibawahi oleh Team Leader yang mengawasi para teknisi BGES (Business,
Government, Enterprise segment) di STO dan memberikan work order berupa tiket
gangguan kepada para teknisi BGES.

3.2. Uraian Praktik Kerja Lapangan


Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan pada PT. Telekomunikasi Indonesia
Tbk dilakukan selama 35 hari kerja, dimulai pada tanggal 22 Juli – 06 September
2019. Kegiatan yang dilakukan selama PKL antara lain, sebagai berikut:
1. Pada minggu pertama kegiatan PKL dilaksanakan pada divisi Assurance
dan Unspec. Kegiatan yang dilakukan pada divisi Assurance adalah
menangani gangguan pada layanan indiHome dengan cara mengganti
kabel drop core yang terhubung ke ONT pelanggan dari ODP. Kegiatan
yang dilakukan pada divisi Unspec adalah mengatasi redaman tinggi
pada beberapa ODP dengan mengganti connector yang menyambungkan
kabel distribusi dan kabel drop core serta dengan membersihkan port
untuk kabel drop core pada ONT pelanggan. Selain itu, pada minggu
pertama dilakukan pengenalan dan penjelasan pada perangkat-perangkat
FTTH seperti Optical Line Termination (OLT), dan Optical Distribution
Frame (ODF) yang merupakan komponen dari Fiber Termination
Management (FTM) yang ada di STO. Pada minggu ini juga dilakukan
pelatihan splicing pada dua core kabel drop core.
2. Pada minggu kedua kegiatan PKL dilaksanakan pada divisi Pasang Baru
(PSB). Kegiatan yang dilakukan adalah instalasi indiHome di dua rumah
pelanggan di daerah Sunter. Satu rumah hanya perlu diganti ONT nya
karena kecepatan internet pelanggan ditambahkan dan ONT yang sudah
terpasang sebelumnya sudah ketinggalan zaman dan pada rumah lainnya
dilakukan instalasi secara penuh. Pada minggu kedua juga dijelaskan
secara garis besar tentang divisi CCAN.
3. Pada minggu ketiga kegiatan PKL dilaksanakan pada divisi CCAN.
Kegiatan yang dilakukan adalah memasang ODP pribadi untuk sebuah
kantor cabang PT. Suzuki Indomobil Motor di daerah Sunter. Pada
minggu ini juga dijelaskan tentang SOP pengambilan perangkat dari
gudang STO dan perangkat-perangkat tambahan indiHome seperti
Power Line Communication Repeater Extender (PLC), WiFi Extender,
dan IP Camera CCTV. Pada minggu ini juga dijelaskan secara garis besar
tentang perancangan FTTH di suatu wilayah dan cara menggunakan tool
pemetaan letak ODC dan ODP yaitu SIIS, serta tool manajemen tiket
pasang baru dan gangguan yaitu K-Pro, NOSSA, dan Embassy.
4. Pada minggu keempat kegiatan PKL dilaksanakan pada divisi CCAN dan
di gedung Witel Jakarta Utara. Kegiatan yang dilakukan pada divisi
CCAN adalah memperbaiki layanan ASTINet pada PT. Toyusin
Collection Mas dengan menyambung kabel drop core dan mengganti
ONT di ruang server cabang PT. Astra Daihatsu Motor di daerah Sunter
serta dijelaskan tentang Optical Distribution Cabinet (ODC) dan melihat
langung perangkatnya. Kegiatan yang dilakukan di Witel adalah ikut
serta dalam kegiatan HackIdea dimana masing-masing Witel harus
menyumbangkan inovasi-inovasi baru untuk PT. Telkom Indonesia dan
ikut serta di kegiatan Pesta Rakyat dalam rangka merayakan HUT
Republik Indonesia yang ke 74. Pada minggu ini juga dilakukan
pelatihan splicing dengan menyambung kabel drop core dan patch cord,
serta dijelaskan tentang Manajemen core.
5. Pada minggu kelima kegiatan PKL dilaksanakan pada divisi Assurance
dan Unspec. Kegiatan yang dilakukan pada divisi Assurance adalah
memperbaiki sambungan telepon di rumah pelanggan yang masih
menggunakan kabel Tembaga. Kegiatan yang dilakukan pada divisi
Unspec adalah memperbaiki redaman tinggi di ODC. Pada minggu ini
juga dijelaskan tentang perangkat Multi-Service Optical Access Node
(MSOAN) yang ada di STO dan melihat langsung perangkatnya.
6. Pada minggu keenam kegiatan PKL dilaksanakan pada divisi CCAN.
Kegiatan yang dilakukan adalah memperbaiki layanan indiHome di
cabang DBS Bank di daerah Sunter dan memperbaiki sambungan telepon
di Cabin Hotel di daerah Sunter.
7. Pada minggu ketujuh kegiatan PKL dilaksanakan pada divisi CCAN dan
kegiatan yang dilakukan adalah mengganti port sambungan di FTM dari
ODC, standby di STO untuk menyusun laporan PKL dan perpisahan
dengan karyawan PT. Telkom Indonesia dan PT. Telkom Akses.

3.3. Pembahasan Hasil PKL


Pembahasan ini akan membahas tentang penanganan gangguan layanan
ASTINet di PT. Toyusin Collection Mas. Karena PT. Toyusin Collection Mas
merupakan sebuah perusahaan, maka layanan yang dipakai bukanlah indiHome,
melainkan ASTINet, yang merupakan layanan akses internet melalui saluran
komunikasi tetap/dedicated dengan menggunakan Gateway Internet Default dan IP
address public milik PT. Telkom Indonesia.
Gambar 3.3 dan Gambar 3.4 menunjukkan tampak luar kantor PT. Toyusin
Collection Mas dan denah lokasi yang menunjukkan letak ONT di dalam kantor
dan tarikan kabel dari ODP ke ONT.
Kantor PT.
Toyusin
Collection
Mas

ODP yang
terhubung
ke ONT

Gambar 3.3. Tampak luar kantor PT. Toyusin Collection Mas


Gambar 3.2. Denah Lokasi
Gambar 3.4. menunjukkan ONT terletak di lantai 3 kantor dan kabel drop
core langsung dihubungkan dari ODP ke ONT tanpa dilewati roset terlebih dahulu.
ODP dan ONT dipisahkan oleh sebuah ruko yang merupakan sebuah kantor cabang
Bank Danamon, ODP terletak persis di perbatasan ruko cabang Bank Danamon
dengan ruko disebelahnya. Kabel drop core ditarik dari lantai 3 kantor dan
diturunkan kebawah lalu ditarik menuju ke ODP.
Konfigurasi jaringan FTTH dapat dilihat pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5. Konfigurasi jaringan FTTH


Pada Gambar 3.5, bagian yang dilingkari merupakan bagian yang dijadikan
tempat pengerjaan proses troubleshooting layanan ASTINet, yaitu pada ODP dan
ONT. Setelah mengetahui konfigurasi jaringan FTTH dapat dibuat flowchart
pelaksanaan proses troubleshooting layanan ASTINet, yang dapat dilihat pada
Gambar 3.6.
Gambar 3.6. Flowchart troubleshooting gangguan layanan ASTINet

3.4.1. Pembahasan Konfigurasi Jaringan FTTH


Sebelum memulai proses troubleshooting, perlu diketahui konfigurasi
jaringan FTTH PT. Toyusin Collection Mas. Gambar 3.7. menunjukkan konfigurasi
jaringan FTTH PT. Toyusin Collection Mas.

Gambar 3.7. Konfigurasi Jaringan FTTH PT. Toyusin Collection Mas


Konfigurasi jaringan FTTH dimulai dari OLT yang di dalamnya terdapat
Metro-E/Metro Ethernet. Metro Ethernet merupakan sebuah perangkat yang
bertindak sebagai penerima keluaran dari Network Area yang terletak di daerah
Mangga Besar. Metro Ethernet terletak di STO Sunter dan ditempatkan di suatu
ruangan khusus dengan temperatur rendah untuk mencegah terjadinya overheat di
perangkat. Gambar 3.8. menunjukkan bentuk dari Metro Ethernet.

Gambar 3.8. Metro Ethernet


Setelah itu keluaran dari Network Area dialirkan ke perangkat OLT. Di dalam
perangkat OLT ada GPON, di GPON terjadi proses uplink. Terdapat 3 jenis GPON,
yaitu ZTE. Huawei, dan FiberHome. Sambungan dari GPON menentukan merk
ONT yang dipakai pelanggan. PT. Toyusin Collection Mas menggunakan ONT
FiberHome, oleh karena itu sambungannya berasal dari GPON FiberHome.
Perangkat ini terletak di ruangan yang sama dengan Metro Ethernet. Gambar 3.9
menunjukkan tampak dari OLT yang berisikan GPON FiberHome.

Gambar 3.9. OLT dengan GPON FiberHome


Dari OLT, keluaran dari Network Area dialirkan ke ODF yang merupakan
bagian dari fiber termination management (FTM) mengunakan kabel-kabel patch
cord yang dibundel yang disebut bundle cord. Gambar 3.10 menunjukkan tampak
dari bundle cord.

Gambar 3.10. Kabel Bundle Cord


ODF terletak di ruangan yang terpisah dari Metro Ethernet dan OLT yang
disebut ruangan FTM, letaknya tidak berjauhan dari ruangan Metro Ethernet dan
OLT. Gambar 3.11 menunjukkan tampak dari ODF.

Gambar 3.11. Optical Distribution Frame


Di dalam FTM terdapat 3 jenis ODF, Equipment Terminal (ET), Equipment
Access (EA), dan Optical Access (OA). ODF ET berfungsi menerima sambungan
langsung dari Metro Ethernet dan konfigurasi ini biasanya digunakan untuk
pelanggan berskala besar seperti Base Transceiver Station (BTS). Sementara untuk
pelanggan yang berskala lebih kecil menggunakan konfigurasi dimana sambungan
dari Metro Ethernet dilewati OLT terlebih dahulu. Setelah dari OLT, sambungkan
diterima oleh ODF EA dan dipecah menggunakan passive splitter 1:4 yang
terpasang di bagian belakang ODF EA. Sambungan yang berupa bundle cord yang
dihubungkan dari ODF EA ke ODF OA ditempatkan di fiber duct. Gambar 3.12
menunjukkan tampak dari fiber duct.

Gambar 3.12. Fiber Duct


Keluaran passive splitter 1:4 diteruskan ke ODF OA untuk diteruskan ke
ODC dan/atau manhole melalui ruangan bawah tanah yang disebut chamber.
Sambungan dari ODF OA berupa kabel feeder. Gambar 3.13. menunjukkan tampak
dari ruangan chamber.

Gambar 3.13. Ruang Chamber


ODP yang tersambung ke ONT milik PT. Toyusin Collection Mas merupakan
ODP-STR-GCL/118. GCL pada nama ODP menandakan bahwa ODP tersebut
langsung dicatu dari FTM dan tidak terhubung ke ODC. GCL merupakan singkatan
dari “GPON Catu Langsung”. ODP terhubung ke FTM melalui manhole yang
didalamnya terdapat closure yang merupakan tempat terminasi kabel feeder dan
distribusi sekaligus tempat penyebaran core kabel distribusi ke ODP. Gambar 3.14
menunjukan tampak dari manhole.
Gambar 3.14. Manhole
ODP GCL merupakan ODP-ODP pertama yang dibangun dan merupakan
hasil migrasi dari tembaga ke fiber optic dan di daerah tersebut tidak diperlukan
untuk dibangun ODC karena jumlah ODP GCL sangat sedikit. Tetapi perbaikan
gangguan akan lebih sulit dilakukan tanpa adanya ODC. Untuk saat ini, sebagian
besar ODP GCL telah dihubungkan ke ODC.
Dari manhole, core kabel distribusi dihubungkan ke ODP. Untuk ODP-STR-
GCL/118, core distribusi yang digunakan adalah core 118. Core distribusi dipecah
oleh passive splitter 1:8 yang terpasang di ODP. Gambar 3.15 menunjukkan tampak
dari ODP-STR-GCL/118.

Gambar 3.15. ODP-STR-GCL/118


Keluaran passive splitter 1:8 diterminasikan dengan kabel drop core untuk
disambungkan ke ONT pelanggan. Kabel drop core di kantor PT. Toyusin
Collection Mas langsung dihubungkan ke ONT tanpa diterminasi di roset terlebih
dahulu. ONT yang digunakan PT. Toyusin Collection Mas adalah FiberHome
AN5506-04-F1. Gambar 3.16 menunjukkan tampak dari ONT FiberHome
AN5506-04-F1 yang digunakan oleh PT. Toyusin Collection Mas.

Gambar 3.16. ONT FiberHome AN5506-04-F1


Gambar 3.17 menunjukkan jalur FTTH PT. Toyusin Collection Mas dari
OLT sampai ke ONT, jalur dilihat dari tool SIIS (Sales IndiHome Information
System).

Manhole
Kabel
Drop Core
Kabel Feeder
Kabel
STO; OLT & Distribusi
ODF (Metro-
E, GPON, ODP
FTM) ONT

Gambar 3.17. Jalur FTTH PT. Toyusin Collection Mas

3.4.2. Penerimaan Tiket oleh Teknisi


Tiket gangguan diterima oleh teknisi melalui sebuah pesan di aplikasi
telegram yang dikirim oleh team leader divisi CCAN. Tiket gangguan berawal dari
pelanggan yang melapor ke call centre dan laporannya diinput ke NOSSA. Dari
NOSSA, tiket disebarkan oleh team leader ke para teknisi.
Tiket gangguan berisikan informasi pelanggan berupa nama perusahaan,
alamat perusahaan, contact person, jenis layanan, dan gangguan yang dirasakan
pelanggan. Gambar 3.18 menunjukan tiket gangguan layanan ASTINet di PT.
Toyusin Collection Mas.

Gambar 3.18. Tiket gangguan pelanggan PT. Toyusin Collection Mas


3.4.3. Menyiapkan Alat
Sebelum melakukan proses troubleshooting, alat-alat yang diperlukan saat
pengerjaan harus dipersiapkan terlebih dahulu. Alat-alat yang digunakan adalah
sebagai berikut:
1. Optical Power Meter (OPM)
Optical Power Meter (OPM) adalah sebuah alat ukur untuk mengukur
daya dan redaman dari sebuah kabel fiber optic.

Gambar 3.19. Optical Power Meter


2. Visual Fault Locator
Visual Fault Locator adalah sebuah senter laser yang berfungsi untuk
menentukan putus tidaknya suatu kabel fiber optic. Cara kerjanya adalah
dengan menyenteri ujung suatu kabel, jika kabel tidak putus maka laser
akan terlihat di ujung lainnya.

Gambar 3.20. Visual Fault Locator

3. Fiber Stripper
Fiber Stripper merupakan alat pemotong/penyingkir cladding pada core
fiber optic.

Gambar 3.21. Fiber Stripper


4. Fusion Splicer
Fusion Splicer adalah sebuah perangkat penyambung core fiber optic
setelah cladding telah disingkirkan dari core. Perangkat ini juga dapat
memanaskan protector sleeve setelah dipasang pada dua core yang telah
disambung agar protector sleevenya melekat.

Gambar 3.22. Fusion Splicer

5. Fiber Cleaver
Fiber Cleaver adalah sebuah perangkat pemotong core fiber optic agar
ujungnya menjadi rapih dan rata.

Gambar 3.23. Fiber Cleaver


6. Protector Sleeve
Protector Sleeve adalah pelindung/pelapis hasil sambungan untuk
mencegah putusnya dua core yang telah tersambung.

Gambar 3.24. Protector Sleeve

3.4.4. Melakukan Troubleshooting


Dalam melakukan proses troubleshooting ada prosedur yang harus diikuti
untuk meminimalisir kemungkinan gagalnya proses troubleshooting. Berikut
prosedur yang harus diikuti:
1. Mengukur Redaman pada sisi ONT
Langkah pertama yang dilakukan adalah mengukur redaman di kabel
drop core yang terhubung ke ONT pelanggan menggunakan Optical Power
Meter. ONT yang dipakai pelanggan adalah FiberHome AN5506-04-F1.
Redaman memiliki pengaruh terhadap kualitas sinyal yang diterima oleh
ONT, oleh karena itu PT. Telkom Indonesia telah menetapkan standar
maksimal redaman di pelanggan, yaitu -25 dBm. Alasan mengapa PT.
Telkom Indonesia menetapkan standar maksimal -25 dBm adalah setelah
dilakukan penelitian dan perhitungan, layanan beroperasi dengan kualitas
prima dengan redaman -25 dBm.
Sebenarnya layanan masih dapat bekerja sampai dengan redaman -28
dBm dan pada awal digunakannya FTTH, standar redaman di pelanggan
yang digunakan adalah -28 dBm, tetapi dengan redaman sebesar itu layanan
tidak akan mampu beroperasi dengan kualitas prima dan customer
experience jadi tidak ideal. Jika redaman berada diatas -28 dBm, tandanya
kabel drop core mengalami kerusakan.

Panjang Gelombang
1310 nm
Daya dalam dBm
(Redaman)
Daya
dalam nW

Gambar 3.25. Hasil pengukuran redaman pada sisi ONT


Gambar 3.25 menunjukkan redaman di kabel drop core yang terhubung
ke ONT. Hasil pengukuran yang diterima adalah -50,00 dBm. Redaman
dinyatakan unspec karena jauh dari standar yang telah ditetapkan. Panjang
gelombang yang dipakai di OPM adalah 1310 nm, hal ini dikarenakan jenis
fiber optic yang digunakan adalah singlemode, jadi panjang gelombang
yang dapat digunakan adalah 1310 nm, 1490 nm, dan 1550 nm dan
pengukuran redaman akan akurat hasilnya jika panjang gelombang 1310 nm
yang digunakan.
Lampu
Indikator
LOS

Gambar 3.26. Keadaan ONT sebelum gangguan teratasi


Gambar 3.26. menunjukkan keadaan ONT sebelum gangguan teratasi.
Lampu indikator LOS menyala menandakan adanya gangguan karena
redaman pada sisi ONT tidak normal. Tabel 3.1 menguraikan penjelasan
dari indikator ONT sebelum gangguan teratasi.
Tabel 3.1. Indikator ONT FiberHome AN5506-04-F1

Deskripsi Keadaan Penjelasan


Power Hijau, tidak berkedip ONT dalam keadaan menyala
ONT belum beroperasi dengan
PON Mati
normal
LOS Merah, tidak berkedip Redaman pada ONT tidak normal
Tidak ada pertukaran data melalui
Internet Mati
koneksi internet
Jaringan lokal nirkabel beroperasi
Wi-Fi Hijau, tidak berkedip
dengan normal
WPS Mati Mode WPS dalam keadaan mati
Tidak ada yang terhubung ke port
USB Mati
USB
Tidak ada yang terhubung ke port
LAN4 Mati
LAN4
Tidak ada yang terhubung ke port
LAN3 Mati
LAN3
Tidak ada yang terhubung ke port
LAN2 Mati
LAN2
Ada yang terhubung ke port LAN1,
LAN1 Hijau, berkedip tidak ada pertukaran data melalui
ethernet
VOIP Mati VOIP tidak beroperasi
Layanan telepon terhubung, tidak
Phone1 Mati
dapat beroperasi
Tidak ada telpon yang terhubung ke
Phone2 Mati
port Phone2

2. Mencari Letak Asal Gangguan


Setelah mengukur redaman pada sisi ONT, letak asal gangguan harus
dilacak agar proses perbaikan gangguan dapat dilakukan.
Gambar 3.27. Penyenteran kabel drop core
Gambar 3.27 menunjukkan proses penyenteran kabel drop core
menggunakan visual fault locator untuk mengetahui dimana kabel drop core
tersambung di ODP-STR-GCL/118. Gambar 3.28 menunjukkan tampak
dari ODP-STR-GCL/118.

Gambar 3.28. ODP yang dihubungkan dengan ONT pelanggan


Sinar laser yang dipancarkan oleh visual fault locator tidak dapat
ditemukan di kabel manapun yang ada di ODP-STR-GCL/118. Maka dapat
dinyatakan titik asal gangguan berada di kabel drop core sehingga tidak
dilakukan pengukuran redaman pada sisi ODP. Setelah dilacak secara
manual kabel drop corenya, ditemukan bahwa kabel drop core putus. Titik
putusnya kabel drop core dapat dilihat pada Gambar 3.29.
Titik Putus
Kabel Drop
Core

Gambar 3.29. Titik putus kabel drop core

3. Melakukan proses Splicing


Setelah ditemukan titik asal gangguannya, diputuskan untuk
dilakukannya splicing untuk menyambung kembali kabel drop core yang
putus.

Gambar 3.30. Pelaksanaan proses splicing


Berikut adalah langkah-langkah proses splicing yang dilakukan:
1. Memasukan core kabel drop core ke dalam protector sleeve.
2. Menyingkirkan cladding yang menempel di core kabel drop core
menggunakan fiber stripper. Mata pisau yang dipakai adalah mata
pisau yang ketiga.
Gambar 3.31. Proses menyingkirkan cladding
3. Membersihkan core dengan tisu yang telah dibasahi alcohol.
4. Memotong core yang telah dibersihkan menggunakan fiber cleaver
supaya ujung core rapih dan rata. Core ditempatkan di slot yang paling
bawah dan batas cladding dan core ditempatkan di ujung pengukur.
Setelah itu, core yang telah ditempatkan di slot dikunci menggunakan
holder, pemotong digeser kedepan. Penutup di cleaver ditutup dan
pemotong didorong ke belakang.
Pemotong
dan
Pendorong

Penutup
Pengukur

Holder

Gambar 3.32. Proses pemotongan core dengan fiber cleaver


5. Menyiapkan dan menyalakan fusion splicer dengan menekan tombol
power.
6. Membuka fusion splicer dan memasukkan core ke dalam fusion
splicer. Core tidak boleh menyentuh dua elektroda yang
mengeluarkan arus listrik panas di dalam fusion splicer, core harus
ditempatkan mendekati dua elektroda. Core juga tidak boleh
menyentuh bagian lain dari fusion splicing untuk mencegah retaknya
core. Setelah core diletakkan dengan benar, core dikunci dengan
holder.
Elektroda

Holder
Penutup

Gambar 3.33. Meletakkan core di dalam fusion splicer


7. Lakukan langkah 2 – 6 kepada core lainnya.
8. Tutup penutup fusion splicer dan tekan tombol lingkaran ( ) untuk
memulai proses penyambungan. Tunggu sampai proses
penyambungan selesai
9. Buka penutup dan angkat core yang telah tersambung. Lihat nilai
redaman yang diperoleh, nilai redaman setelah sambungan yang dapat
diterima adalah 0,00 – 0,05 dB.

Gambar 3.34. Nilai redaman yang diperoleh setelah dilakukan proses


splicing
10. Tempatkan protector sleeve ke hasil sambungan dan masukkan ke
heater untuk dipanaskan sehingga protector sleeve melekat ke hasil
sambungan.
Penutup

Heater

Gambar 3.35. Memasukan core ke heater


11. Tutup penutup dan proses heating akan dimulai secara otomatis.
Tunggu sampai progress bar proses heating sudah terisi penuh dan
ada suara bel dari fusion splicer.

Gambar 3.36. Progress bar proses heating


12. Buka penutup dan angkat core yang telah dipanaskan.

Gambar 3.37. Core yang telah disambung kembali dan dibaluti


protector sleeve
Setelah proses splicing dilakukan, core yang telah disambung kembali
dibaluti lakban dan kabel dirapihkan kembali posisi awalnya.

3.3.4. Pengujian
Setelah proses troubleshooting dilakukan, pengujian harus dilakukan
untuk mengetahui apakah gangguan sudah teratasi atau tidak.
1. Mengukur Redaman pada sisi ONT
Langkah pertama pengujian adalah mengukur redaman pada sisi ONT.
Jika proses splicing dilakukan dengan baik dan benar, redaman akan turun
secara signifikan.

Gambar 3.38. Hasil pengukuran redaman setelah gangguan teratasi


Gambar 3.38 menunjukkan hasil pengukuran redaman yang diperoleh
setelah proses splicing dilakukan, hasil yang diperoleh adalah -24,23 dBm.
Redaman dinyatakan spec karena belum melawati standar redaman yang
ditentukan. Lampu indikator LOS pada ONT juga sudah tidak menyala,
menandakan gangguan sudah teratasi dan redaman pada sisi ONT sudah
kembali normal.
Gambar 3.39. Keadaan ONT saat gangguan sudah teratasi
Gambar 3.39 menunjukkan keadaan ONT setelah gangguan teratasi.
Tabel 3.2 menguraikan penjelasan dari indikator ONT setelah gangguan
teratasi.
Tabel 3.2. Indikator ONT FiberHome AN5506-04-F1

Deskripsi Keadaan Penjelasan


Power Hijau, tidak berkedip ONT dalam keadaan menyala
PON Hijau, tidak berkedip ONT sudah beroperasi dengan
normal
LOS Mati Redaman pada ONT normal
Internet Hijau, Berkedip Ada pertukaran data melalui
koneksi internet
Wi-Fi Hijau, tidak berkedip Jaringan lokal nirkabel beroperasi
dengan normal
WPS Mati Mode WPS dalam keadaan mati
USB Mati Tidak ada yang terhubung ke port
USB
LAN4 Mati Tidak ada yang terhubung ke port
LAN4
LAN3 Mati Tidak ada yang terhubung ke port
LAN3
LAN2 Mati Tidak ada yang terhubung ke port
LAN2
LAN1 Hijau, berkedip Ada yang terhubung ke port LAN1,
ada pertukaran data melalui
ethernet
VOIP Hijau, tidak berkedip VOIP beroperasi dengan normal
Phone1 Hijau, tidak berkedip Layanan telepon terhubung dan
dapat beroperasi dengan normal
Phone2 Mati Tidak ada telpon yang terhubung ke
port Phone2

2. Melakukan Speed-test dan Browsing


Langkah selanjutnya adalah melakukan speed-test. Untuk speed-test
layanan ASTINet sebenarnya harus digunakan speed-test khusus Telkom
yang dapat diakses dengan mengetik IP 36.66.0.66, tetapi sebelum itu
komputer yang terhubung dengan internet harus di atur IPnya terlebih
dahulu agar dapat terhubung dengan IP 10.10.2.0/30 agar speedtest khusus
dapat diakses. Alasannya karena ASTINet tidak menggunakan IP dynamic
seperti IndiHome, melainkan IP static. Speed-test tetap bisa dilakukan
dengan layanan speed-test biasa seperti speedtest.net milik Ookla, speed-
test tetap bisa dilakukan tetapi tes upload tidak akan berjalan seperti yang
ditunjukkan Gambar 3.40. Gambar 3.40 menunjukkan hasil speed-test
menggunakan speedtest.net.

Gambar 3.40. Hasil speed-test


Pengujian selanjutnya adalah browsing internet untuk memastikan
internetnya sudah benar-benar kembali bekerja dengan normal. Gambar
3.41 menunjukkan halaman YouTube yang digunakan sebagai percobaan
browsing.

Gambar 3.41. Percobaan browsing di PC pelanggan


Dengan berhasil terbukanya YouTube, menandakan bahwa internet
sudah kembali bekerja dengan normal dan gangguan sudah teratasi.

3.3.5. Penutupan Tiket oleh Teknisi


Setelah pengujian dilakukan dan layanan sudah terbukti dapat beroperasi
dengan normal kembali, teknisi dapat menutup tiket gangguannya dengan
memberi penjelasan penyelesaian gangguan pada tiket gangguan yang
diterima dan mengirimkannya ke team leader. Gambar 3.42 menunjukkan
tiket gangguan yang sudah ditutup.

Gambar 3.42. Tiket Gangguan yang telah ditutup