Anda di halaman 1dari 10

Praktikum Ke-2 Sosiologi Agribisnis

Tema :

Bacaan :

Kelompok 2
Anggota :
1. Ananta Yusfarizky (J3J818381)
2. M Faiz (J3J818
3. M Aulya H (J3J 818351)
4. Nela Tri Istianti (J3J818372)
5. Viola Ardiana Putri (J3J818393)
Pembimbing :

PROGRAM KEAHLIAN MANAJEMEN AGRIBISNIS


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019

RINGKASAN
Fenomena migrasi musiman memberikan indikasi bahwa pedesaan sektor pertanian
belum mampu berkontribusi sepenuhnya bagi pemecahan permasalahan
ketenagakerjaan dan kemiskinan. Sementara keberadaan industri kecil yang
berkembang dengan landaskan nilai budaya lokal perkembangannya sangat terhambat
faktor permodalan dan teknologi, selain sebagian tenggelam dan tergusur oleh tingginya
persaingan industri menengah besar yang menginvasi pedesaan. kondisi ini memberikan
peluang kepada wanita pedesaan untuk berkerja tambahan untuk keluarganya.
Kehadiran indsutri menengah besar ke pedesaan memberikan kontribusi terciptanya
pekerjaan di pedesaan disamping pekerjaan pertanian sangat bergantung musim.
Berbagai pola produksi industri yang berkembang salah satunya pola kemitraan,salah
satunya adalah sub contract dan putting out system, dimana pengusaha industri
menengah besar memberikan kesempatan kerja kepada pengrajin rumah tangga
menyelesaikan produk tertentu ditempat mereka. Hubungan ini memberikan
kelonggaran kepada industri menengah besar, untuk tetap memperoleh produksi tanpa
menanggung biaya penyediaan alat dan bengkel kerja dan industri menengah besar
terhindar dari resiko pembiayaan bagi tunjangan kesehatan,dan biaya sosial lainnya.

Istilah pekerja rumahan ( homeworkers) sebagai penamaan bagi pekerja upahan atau
borongan lepas dari penyelesaian suatu produk tertentu yang diberikan oleh industri
menengah besar, pada umumnya tanpa kontrak dan karena itu hak-haknya sebagai
pekerja kadang diabaikan seperti mereka harus menanggung apabila kesalahan produk
yang dihasilkan yang menyebabkan sangat rentan tentang phk,ketidakpastian tentang
upah dan keberlanjutan kerja, sangat berbeda dengan pekerja rumahan , bagi industri
kecil meskipun permasalahan kerja tidak berisiko .

Kasus 1 pekerja rumahan.Pekerja batik. Ibu Indah Sucipto (45tahun) salah satu
pekerja / buruh batik . dia seorang janda dengan 2 anak , telah menjadi buruh sejak 12
tahun dan hanya tamatan sd karna alasan biaya dan banyaknya adik-adik yang harus
diasuh sementara bapaknya hanya seorang petani gurem dan ibunya buruh pekerja
rumahan produk batik.Selama menjadi buruh rumahan batik, bu indah tidak menetap 1
atau 2 pengusaha batik disolo, dalam mencari order ia juga mencari dari sejumlah
pengusaha batik baik langsung/ buruh rumahan lainnya. Kemampuan kerjanya sekitar 6
sampai 10 potong kain dalam sebulan dengan upah rata rata 75000/potong. Dengan
sebagian besar hidupnya untuk membatik maka ia relatif tidak berkesempatan mencari
tambahan dari pekerja lainnya.
Jika mendapat order, juga memperoleh bahan/obat pewarna batik dan alat lainnya.
Perjanjian tersebut juga termasuk mengambil bahan kain dan menyetorkan kain batik
jika hasilnya kurang memuaskan makan ibu indah harus mengganti dengan dikenakan
pemotongan upah. Suatu kondisi dimana buruh rumahan sangat lemah bargaining
positionnya dan tidak terlindung hak haknya.Suatu ketika disaat bu indah telah
menyelesaikan 10 potong kain batik, dengan rasa optimis dibenaknya , ia akan
mendapat upah sekitar 600ribu karena perkiraan yang ditolak sekitar 1 atau 2 kain, oleh
karna itu ia dapat menyisihkan untuk membayar utang rentenir. Ia berangkat ke solo
untuk memperoleh upah langsung dari juragan tetapi dari 10 potong yang dikerjakan ,3
potong dinilai salah dan 2 potong dikenakan sangsi potong upah sehingga hanya dibayar
sekitar 475 ribu saja, Kondisi tersebut sering dialami dan menyebabkan utangnya
meningkat dan tentu saja aktivitas sosialnya terbatas.
Suatu ketika , ada tawaran dari ibu Minah, ketua koperasi batik rakyat dikecamatan,
agar menjadi anggota koperasi. Pada awalnya ia menolak dikarenakan takut terjerat
hutang lagi. Namun setelah sekian lama dinasehati dan ia membutuhkan modal,
akhirnnya ibu indah masuk koperasi karena sebagian besar anggotanya juga wanita
pembatik dan persyaratannya sangat mudah. Setelah menjadi anggota koperasi iapun
merasakan manfaatnya yaitu pekerja rumahan ia juga dapat menawarkan produknya
setengah dipasar dan hutang terhadap rentenir sudah lunas.
Kasus 2, pengusaha kecil. Ibu Neneng (39tahun). Seorang pengrajin dodol nanas di
kecamatan jalan cagak-subang, berkeluarga, bersuamikan jajang ramadan (42tahun)
seorang petani nanas dengan pemilikan lahan cukup luas sekitar 1,85 hektar. Pendidikan
formal bu neneng , SMA tamat, sementara bapak jajang sendiri tamat dari SLTP.
Usaha industri kecil dodol yang dikelola bu neneng dimulai sejak tahun 1998 dan saat
ini telah menjadi pemasok relatif tetap disalah satu toko swalayan dikota subang dan
bandung, dengan omset sekitar 5,5juta/bulan, dengan pekerja 6 orang wanita berasal
dari rumah sekitar. Pada awalnya usaha dodol nanas ini merupakan upaya praktek dari
kunjungan pkk kecamatan jalan cagak, karena ia anggota pkk kegarut dan beberapa
pameran dibandung atas kerjasama dengan dinas perindustrian kabupaten
subang.Masalah utama pada awal produksi adalah permodalan karena lembaga
keuangan formal (bank pemerintah/swasta) sangat mempersyaratakan agunan meskipun
katanya industri kecil pertanian akan mendapat kemudahan peminjaman modal. Namun
kenyataannya ia tidak mendapat pinjaman dan menggunakan modal pinjaman saudara.
Pemasaran pun tidak mudah, awal awal ia titipkan diwarung warung pinggir jalan lintas
jalur jalan cagak subang, namun perputarannya sangat lambat, karna pembelinya tidak
pasti. Lalu ia hubungi beberapa swalayan di subang dan bandung, walaupun syaratnya
sangat berat karna produk harus diberi label swalayan tersebut, sistemnya konsinyasi
(penitipan, yang laku terjual yang dibayar, sisanya harus dikembalikan) dan harganya
rendah (karena swalayan mencari untung dari label dan tempat serta produk yang belum
memiliki nama pasar).Sebagai pengusaha kecil yang ingin maju,bu Neneng berusaha
meningkatkan kualitas dodolnya dari sejumlah buku maupun perbaikan dari produk
yang dibuat dan dari sejumlah pameran ia menemukan tanda tanda indikator produk
yang berkualitas dari yang disenangi konsumen. Selanjutnya, ia berusaha mencari
infomasi untuk memperoleh ijin produksi dan label di Departemen Perindustrian dan
departemen kesehatan, agar konsumen merasa aman dan lebih terjamin. Namun industri
kecil masih kalah dari indutri besardari harga dan promosi.
PERTANYAAN DAN JAWABAN

Praktikum 2.1
Bacaan : Wanita Pekerja Rumahan di Industri Sub Contract dan Pengusaha
Wanita di Industri kecil Pedesaan
Pertanyaan : Berdasarkan bacaan dan teori sosiologi jawablah pertanyaan
berikut ini.
1. Jelaskan apakah fenomena sosial tersebut diatas dapta dikaji oleh ilmu
penegetahuan sosiologi agribisnis?
Jawaban :
Ya,karena fenomena sosial itu dapat dikaji dengan ilmu pengetahuan sosiologi
agribisnis karena kasus tersebut bersifat rasional atau dapat diterima oleh nalar
dan bersifat umum. Juga penelitian sosiologi agribisnis itu merupakan ilmu yang
mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas pertanian dalam konteks
bisnis, sistem nilai, etika pertanian dan industri, interaksi sosial dan lain-lain.

2. Jelaskan bahawa dalam masyarakat agribisnis-agroindustri, terdapat pola kerja


sama dan/konflik dalam hubungan kerja !

Jawaban :
Pola kerjasama
- Kasus no 1 pekerjaan rumahan
Ibu Indah melakukan kerjasama dengan banyak pengusaha batik, agar jika
salah satu pekerjaan ibu Indah kosong beliau masih memiliki pekerjaan dari
pengusaha batik lainnya.

- Kasus no 2 pengusaha kecil


Ibu Neneng melakukan kerjasama dengan swalayan dan warung warung
kecil untuk memasarkan produknya.
Konflik
- Kasus 1 pekerja rumahan
Dalam proses penjualan batik memiliki konflik antara si pekerja dengan
pihak perusahaan, dimana apabila membuat kesalahan kecil apapun akan
berdampak pada pemotongan upah dari 20-30%. Daan para pengusaha
cenderung lebih berkuasa dan tidak memiliki toleransi.

- Kasus 2 pengusaha kecil


Konflik yang terjadi yaitu pengusaha nanas cenderung sulit mendapatkan
suntikan dana yang mempengaruhi produksi usaha.

3. Berdasarkan bacaan dan pemahaman anda, a.rumuskan apa yang dimaksud


dengan pekerja rumahan dan b.mengapa pekerja jenis ini dinilai mengutungkan
industri menengah-besar?

Jawaban:
a. Pekerjaan rumahan adalah seorang tenaga kerja yang memproduksi barang
atau jasa yang dikerjaan dilingkungan rumah untuk memperoleh pendapatan
ataupun upah.
b. Karena industri menengah besar pada umumnya tidak melakukan kontrak
(perjanjian) tertulis dan artinya pekerja tidak dapat memperoleh hak-haknya
sebagai pekerja, sementara tuntutan terhadap hasil kerja tetap sama, baik
berupa terget waktu, kualitas, maupun kuantitas seperti pekerja formal
pabrik (industri) selain mereka harus menanggung resiko atas kesalahan
produk yang dihasilkannya. Industri menengah besar mudah melakukan
PHK dan pekerja menerima ketidakpastian besar upah dan kelanjutan kerja.

4. A.apa permasalahan yang dialami wanita pekerja rumahan dan wanita


pengusaha kecil
B. apakah permasalahan tersebut merupakan dampak dari kebijakan
pembangunan industri yang “bias kota “ dan “bias desa”.

Jawaban:
A.
- Pada kasus pertama,
1) Kemampuan memproduksi karena kendala waktu
2) Para pekerja rumahan tidak memiliki kuasa pada saat pengusaha mengatakan
kesalahan pada hasil jadi batik
3) pekerja rentan mengalami PHK
- Pada kasus kedua,
1) sulitnya meminjam modal pada bank, pemerintah, dan swasta
2) pemasaran dodol nanas yang masih terbatas
3) pesaingan harga yang tidak sehat sesama pengusaha dodol

B.
- Bias kota
iya, salah satu dampak dari bias kota merupakan berbagai sektor yang identik
dengan ekonomi pedesaan mengalami kemerosotan, karena pertumbuhan sektor
industri dan jasa lebih terfokus pada daerah perkotaan.
- Bias pria
Iya, salah satu dampaknya dilihat dari kesempatan kerja yang dapat dilakukan
oleh pria dan wanita. Wanita pada umumnya mendapatkan pekerjaan yang
hanya memberikan kontribusi relatif rendah kepada keluarga dibandingkan
dengan pria.
RINGKASAN
Masyarakat desa dalam perubahan (kasus jawa barat)

Menurut Clifford Geertz inovasi pertanian yang ditunjukan untuk meningkatkan produktivitas
Pertanian Tidak banyak berhasil dikarenakan gigihnya masyarakat pedesaan mempertahankan
sosiobudaya gotong royong dan tolong menolong. Para masyarakat eropa berlatar belakang
masyrakat kota membayangkan bahwa masyarakat desa yang telah menerima suatu inovasi
dan teknologi cenderung akan berubah menjadi individualistic

Kasus Sidajaya Subang. Desa Pertanian

Sebagian besar masyarakat di desa ini berprofesi sebagai petani dan buruh tani di perkebunan
tebu. Desa Sidajaya merupakan desa berlahan kering dan kesediaan airnya hanya ada pada
bulan oktober-april. Kondisi ini menyebabkan masyrakat tani hanya bisa bertani sekali setahun
karena petani tidak bisa mengendalikan curah hujan dan hama tanaman. Dan petani tidak
berupaya mengatasinya karena keterbatasan upaya dan modal.

Meskipun tidak jauh dari desa tersebut terletak perkebunan tebu milik negara. Maka pada saat
panen tebu dan padi tiba, terdapat beberapa kesulitan saat musim panen tebu dan padi tiba,
karena tidak adanya buruh laki-laki atau perempuan untuk memanen tebu karena semua
buruh sedang memanen padi.

Suatu terobosan yang dilakukan LSM mengalami kegagalan baik dalam tatanan perubahan
perilaku maupun peningkatan kesejahteraan ekonomi, dikarenakan ketidakmampuan
masyarakan untuk menyerap dan menyalurkan informasi dan teknologi baru yang diberikan.

Kasus Desa Sidang Sari di Tegal Wangi Cirebon. Desa Industri

Desa Sidang Sari merupakan desa yang strategis di bidang perkembangan industri dan ekspor.
Berdasarkan mata pencaharian penduduk desa kebanyakan bekerja di bidang pertanian yaitu
industri rotan. Aktivitas industri rotan ini akan terlihat di sepanjang jalanan desa. Juga terdapat
puluhan pengrajin anyaman desa. Kondisi ini lebih berkembang semenjak adanya sistem kerja
kemitraan industri pola sub contract, yaitu dimana industri menengah besar lokal dan industri
asing bekerja sama berorientasi ekspor membuka kerjasama dengan industri kecil atau rumah
tangga dalam menyelesaikan pesanan sebanyak ratusan ribu menggunakan peralatan modern
dan omset usaha ratusan juta rupiah.

Tampak nyata budaya industri dalam kehidupan keseharian di desa ini. Para buruh industri
kecil dan menengah juga bekerja dengan disiplin menurut shift kerja dan bekerja dengan
prosedur pabrik modern, upah dan tunjangan termasuk asuransi.

Sebagai contoh Pak Husein sebagai pengrajin rotan yang melakukan pekerjaannya bertindaj
sebagai pemimpin kerja, tenaga ahli dan juga bertindak sebagai pencari order. Selain itu
pekerjaannya juga di bantu oleh anak istrinya. Menurut Pak Husein Ada sejumlah pengrajin
rotan kecil-kecilan mengalami bangkrut karena ketidakjujuran.
Pertanyaan dan jawaban
Praktikum 2.2
Bacaan : Masyarakat Desa dalam Perubahan (Kasus Jawa Barat)
Pertanyaan : Berdasarkan bacaan dan teori sosiologi jawablah pertanyaan
berikut ini.
1. Berdasarkan bacaan diatas, jelaskan pada kasus mana merupakan gambaran
masyarakat kota( dengan ikatan organik ) dan pada kasus mana merupakan
gambaran masyarakat desa ( dengan ikatan mekanik ) jelaskan ciri-ciri nya !

Jawaban :
Gambaran masyarakat kota yaitu kasus desa sindangsari di tegal wangi-cirebon,
des industri. Ciri-cirinya adalah kasus yaitu pekerjaanya terorganisir dengan
baik . ini sangat sesuai dengan kasus yanga ada di desa tersebut, sesuai dengan
kutipan “ jika buruh industri di industri besar dan menengah , secara disiplin
kerja menutut shift kerja dan bekerja dengan prosedur kerja pabrik modern, upah
dan tunjangan termasuk jaminan pembiayaan kecelakaan industri kecil/rumah
tangga dipelosok desa menunjukan kedisiplinan yang hampir sama “ ini
menunjukan bahwa industri yang dilakukan sesuai dengan gambaran masyarakat
kota.
Gambaran masyarakat desa yaitu kasus sidajaya-subang, desa pertanian . ciri-
cirinya yaitu sistem kerja yang tidak terorganissir seperti yang terdapat dalam
kutipan” sebagaimana dapat digambarkan , bahwa terdapat keulitan perkebunan
tebu setempat,jiak tiba musim panen padi apabila tidak terdapat suplay tenaga
kerja dari desa lainya “ ini membuktikan bahwa pemilihan pegawai desa ini
tidak erorganisir denga baik .

2. Jelaskan apa terdapat ciri-ciri masyarakat industri seperti yang digambaran oleh
prof.lukman soetrisno!

Jawaban :
Sasana kerja industri yang asangat mempertimbangkan pemanfaatan waktu dan
tenaga kerja seefesien mungkin juga merupakan irama kerja keshariaan.

3. Menurut kelompok anda, apa saja manfaat positif keberadaan industri dengan
pola sub contracting, bagi pemecahan permasalahan ekonomi dan
ketenagakerjaan pedesaan ,jelaskan !

Jawaban:
1. Dapat mempertimbangkan sosiobudaya gotong-royong,
Industri pola sub contact beroperasi pada industri menengah besar yang
berorientasi ekspor membuka kerja sama kemitraan dengan industri kecil/
rumah tangga dalam menyelesaikan pesanan.Indutri besar mempekerjakan
puluhan samapi ratusan buruh di pabrikdan bekerja sama dalam penyelesaian
komponen-komponen suatu produk.
2. Dapat mengurangi konflik antar sesama terutama dalam aktivitas ekonomi
Industri pola sub contract sesama disiplin kerja menurut shif sehingga
tidak banyak seorang/ kelompok tertentu saja yang dapat bekerja. Sehingga,
yang mendapat pekerjaan pun merata dengan begitu yang mendapat upah
pun merata. Industri sub contract merupakan industri kecil dan pelaku
industri kecil memiliki pemasukan untuk mensejahterakan masyarakat.
Kesimpulan

Masyarakat kota dan masyarakat desa memiliki pemikiran yang berbeda baik inovasi
maupun teknologi yang digunakannya. Masyarakat desa lebih mementingkan prinsip
gotong royong dan tolong-menolong untuk melakukan suatu pekerjaannya. Berbeda
dengan masyarakatkota, mereka sudah menggunakan teknologi untuk membantu
pekerjaan/usahanya.
DAFTAR PUSTAKA

Namaria. 2017. Hubungan kerja dan koordinasi. www.namaria1.blogspot.com. (diakses

6 febuari 2019)
Lingga S. 2014. Praktikum sosiologi agribisnis. Id.scribd.com. (diakses

6 febuari 2019)