Anda di halaman 1dari 14

SINTESIS NANOPARTIKEL PERAK MENGGUNAKAN EKSTRAK

TUNIKATA Pyura sp SEBAGAI BIOREDUKTOR DAN


UJI POTENSINYA SEBAGAI ANTIBAKTERI

Bahrun,

Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin
Kampus Tamalanrea Makassar 90425

ABSTRAK

Sintesis nanopartikel perak berbasis green chemistry telah dilakukan dengan menggunakan bioreduktor ekstrak
air Pyura sp dan prekursor AgNO3 1 mM. Sintesis nanopartikel dilakukan pada pH 8 dengan perbandingan
komposisi ekstrak dan larutan AgNO3 adalah 1:40 dengan pengadukan selama 2 jam. Nanopartikel yang telah
disintesis dikarakterisasi dengan menggunakan instrument spektrofotometer UV-Vis, FT-IR, XRD dan PSA
serta diuji bioaktivitasnya terhadap bakteri Staphylococus aureus dan Echerichia coli. Karakterisasi dengan
spektrofotometer UV-Vis dilakukan untuk mengetahui pembentukan nanopartikel yang ditandai dengan
munculnya puncak absorbansi pada kisaran panjang gelombang 420-460 nm. Hasil difraktogram dengan
instrument XRD menunjukkan puncak difraksi pada (2ϴ) 37,81, 44,04, 64,40 dan 77,51 dengan indeks miller
masing-masing puncak difraksi adalah {111} {200} {220} dan {311}, struktur kristal FCC dengan ukuran
antara 46,22-52,57 nm. Perbandingan spektrum FT-IR ekstrak air Pyura sp dan nanopartikel perak
memperlihatkan adanya kontribusi gugus fungsi OH dalam mereduksi ion perak yang ditunjukkan oleh adanya
penurunan intensitas absorbansi pada daerah bilangan gelombang 3400 cm-1 setelah terbentuknya nanopartikel
perak dan diperkuat munculnya peak khas Ag-O pada daerah bilangan gelombang 542 cm-1. Distribusi ukuran
nanopartikel berdasarkan analisis PSA menunjukkan dominasi partikel berukuran antara 61-80 nm dengan
persentase 19% dan diameter partikel terkecil yang diperoleh adalah 1,2 nm. Hasil tersebut menunjukkan
potensi ekstrak air Pyura sp sebagai bioreduktor untuk sintesis nanopartikel. Nanopartikel perak dengan
konsentrasi 3,6 mg/mL memiliki zona hambat 12,7 mm terhadap E.coli dan 13,075 mm terhadap S. aureus

Kata kunci: green chemistry, FCC, PSA, bioreduktor, bioaktivitas, antibakteri, Pyura sp

1. PENDAHULUAN kelebihan dibandingkan material berukuran besar


Nanoteknologi adalah ilmu dan rekayasa (bulk). Material yang dihasilkan memiliki sifat
dalam penciptaan material, struktur fungsional, kimia dan fisika yang lebih unggul karena memiliki
maupun piranti dalam skala nanometer (Madhuri, sifat optik, termal dan listrik yang unik (Panigrahi
2012; Abdullah dan Khaerurijjal, 2009; Sharma dkk., 2004).
dkk., 2009). Nanoteknologi tidak hanya terbatas Beberapa tahun terakhir, nanoteknologi
pada partikel berukuran nano namun juga telah menarik perhatian yang besar bagi para
merupakan studi tentang manipulasi materi pada ilmuwan di seluruh dunia (Edhaya dan Prakash,
skala atom dan molekular (Horikoshi dan Serpone, 2013) dan saat ini merupakan bidang riset yang
2013; Mitta, 2016), serta bagaimana cara paling diminati (Zhang dkk., 2011). Nanoteknologi
memproduksi dan mengetahui kegunaan sifat baru mengalami perkembangan dengan cepat dan sangat
yang muncul dari material nano yang telah dibuat menjanjikan serta merupakan salah satu
(Abdullah dan Khaerurijjal, 2009). Nanoteknologi multidisiplin yang memiliki pengaruh yang cukup
merupakan bidang yang muncul dari luas seperti dalam bidang medis, pertanian dan
perkembangan material nanokomposit menjadi industri (Singh, 2016). Peran nanoteknologi begitu
rangkaian produk baru dan pengembangan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan
aplikasinya. Produk nanoteknologi memiliki dan teknologi untuk kesejahteraan kehidupan

1
manusia (Huang dan Yang, 2006). Salah satu berbagai aplikasi teknologi di bidang lingkungan,
pengembangan produk nanoteknologi adalah energi, kesehatan, biomedis dan industri (Ahmad
nanopartikel (Wahyudi dkk., 2011). dkk., 2003; Sari dkk., 2016). Pendekatan metode
Nanopartikel adalah inovasi teknologi ramah lingkungan dalam sintesis nanopartikel
yang menarik dari penelitian yang berkaitan dalam memberikan perkembangan yang jauh lebih baik
bidang produksi dan modifikasi bentuk serta karena dilakukan pada tekanan dan suhu kamar,
ukuran partikel berskala nanometer (Lembang dkk., ekonomis, serta bebas dari penggunaan bahan
2014). Ciri khas dari nanopartikel adalah ukuran kimia beracun (Rajeshkumar dkk., 2012).
partikel pada skala nanometer, yaitu sekitar 1-100 Penerapan metode ramah lingkungan
nm. Material nanopartikel memiliki sifat-sifat atau dalam pembentukan naopartikel logam dilakukan
karakteristik fisik dan kimia yang baru, unik dan dengan bantuan bahan alam yang berasal dari
unggul dibandingkan dengan struktur yang lebih organisme (hewan, tumbuhan dan mikroorganisme)
besar (Canham dan Overton, 2000; Hosokawa dkk., baik darat maupun laut. Beberapa bahan yang
2007). Nanopartikel telah banyak dikaji untuk umum digunakan sebagai media sintesis
berbagai aplikasi teknologi dan dalam penelitian nanopartikel melalui pendekatan ramah lingkungan
ilmu material, kimia, fisika, biologi dan ilmu diantaranya adalah ekstrak tumbuhan, jamur, ragi,
lingkungan (Huang dan Yang, 2006). bakteri, virus dan alga. Organisme tersebut
Diantara beberapa jenis nanopartikel, diketahui mengandung metabolit sekunder yang
nanopartikel logam merupakan objek yang paling berperan dalam mereduksi ion logam seperti
banyak diteliti dan telah mengalami kemajuan yang terpenoid, fenolik, alkaloid, amina, amida, protein
signifikan karena kemudahannya untuk disintesis dan pigmen (Asmathunisha dan Kathiresan, 2013;
serta aplikasinya yang luas seperti di bidang medis, Keat dkk., 2015; Seabra dkk., 2013).
perangkat optik, sensor, antimikroba, pelabelan Diantara beberapa nanopartikel logam,
biologi, elektronik, pertanian, katalis, produk nanopartikel perak (NPAg) telah menarik perhatian
kecantikan, zat pelapis permukaan dan dapat para peneliti di bidang ilmu pengetahuan dan
menekan ekspresi protein yang terkait dengan teknologi karena memiliki potensi aplikasi biologis
produksi adenosin trifosfat (Elgorban dkk., 2016; yang luas (Aravinthan, 2015) serta dapat digunakan
Lembang dkk., 2014; Feldheim dan Foss, 2002). untuk pengembangan perangkat generasi nano baru
Umumnya nanopartikel logam dapat disintesis (Norouzi, 2016). Perak merupakan salah satu jenis
melalui beberapa metode yaitu metode fisika (top logam yang telah banyak diaplikasikan dalam
down) dan metode kimia (bottom up). Namun bidang medis, karena logam tersebut memiliki sifat
metode sintesis nanopartikel secara fisika dan anti bakteri dan jamur secara alamiah serta sifatnya
kimia memiliki beberapa kelemahan. Metode yang tidak toksik terhadap kulit manusia. Melalui
tersebut menggunakan energi yang tinggi, penerapan nanoteknologi, partikel perak dapat
menggunakan beberapa bahan kimia yang mahal diproduksi dengan ukuran nanometer sehingga
dan dianggap berbahaya. Oleh karena itu, para memiliki aktivitas yang lebih baik dibandingkan
peneliti di bidang sintesis nanopartikel telah beralih partikel perak dengan ukuran yang lebih besar
ke metode yang ramah lingkungan (green (Ristian dkk., 2013).
synthesis) karena aplikasi nanopartikel yang luas Sintesis nanopartikel perak melalui
salah satunya sebagai building block dalam pendekatan ramah lingkungan menggunakan

2
ekstrak hewan laut sebagai bioreduktor telah 2. METODE PENELITIAN
banyak dilakukan. Inbakandan dkk., (2012) telah 3.1 Alat Penelitian
berhasil mensintesis nanopartikel perak Alat yang digunakan dalam penelitian ini
berdiameter 15–34 nm dengan menggunakan antara lain statif, klem,
ekstrak air dari spons Acanthella sebagai alat-alat gelas yang biasa digunakan di
bioreduktor. Umayaparvathi dkk., (2013) Laboratorium, magnetic stirrer, pH meter, neraca
mensintesis nanopartikel perak berdiameter 10,5 analitik Ohaus AP-110, botol semprot,
nm dan memiliki aktivitas sebagai antibakteri spektrometer Fourier Transform Infra Red IR
dengan menggunakan bioreduktor ekstrak air dari Prestidge-21 Shimadzu, spektrofotometer UV-Vis
Saccostrea cucullata. Hamed dan Givianrad (2015) UV-2600 Shimadzu, Beckman Coulter Delsa Nano
mensintesis nanopartikel perak yang berdiameter C Particle Size Analysis, Beckman Centrifuge J2-
27-46 nm dengan menggunakan ekstrak air dari HS, Tomy MX-305 High Speed Refrigerated Micro
spons Haliclona sebagai bioreduktor. Centrifuge, Freeze Dry Alpha 1-2 LD Plus, jarum
Salah satu bahan yang berpotensi ose, autoklaf, inkubator, oven, mikropipet, spatula,
digunakan sebagai bioreduktor dalam sintesis sendok tanduk, jangka sorong, alat-alat gelas yang
nanopartikel perak adalah ekstrak air dari tunikata biasa digunakan di Laboratorium Mikrobiologi.
(Pyura sp). Tunikata termasuk sebagai salah satu
dari organisme invertebrata laut yang memiliki 3.2 Bahan Penelitian
kandungan kimia terbanyak yang diaplikasikan Bahan-bahan yang digunakan pada
sebagai bahan antimitotik, anti tumor, penelitian ini adalah tunikata
antiinflamasi, imunosupresan dan antikanker. Pyura sp yang diperoleh dari pulau Barrang
Beberapa metabolit sekunder yang telah berhasil Lompo, AgNO3, alkohol 70%, akuades, akuabides,
diisolasi dari spesies invertebtara golongan tunikata FeCl3, Pb(CH3COO)2, H2SO4, anhidrida asetat,
adalah peptida, alkaloid dan senyawa turunan CHCl3, HCl, reagen Dragendorff, reagen Mayer,
triptophan (Aiello dkk., 2003). strain bakteri uji Escherichia coli dan
Berdasarkan uraian di atas, sintesis Staphylococus aureus yang diperoleh dari
nanopartikel perak akan dilakukan dengan Laboratorium Mikrobiologi, cakram disk, plastik
menggunakan ekstrak air tunikata (Pyura sp) wrap, aluminium foil, tissue roll, kertas saring
sebagai bioreduktor serta, uji aktivitas antibakteri Whatman nomor 41, ampicilin dan nutrien agar.
dari nanopartikel perak hasil sintesis akan
dilakukan terhadap bakteri Staphylococus aureus 3.3 Waktu dan Tempat Penelitian
dan Echerichia coli. Parameter seperti pengaruh Penelitian ini dilakukan dari bulan Mei-
komposisi larutan dan pH serta karakterisasi Desember 2018, bertempat di Laboratorium Kimia
nanopartikel dengan menggunakan beberapa Organik, Laboratorium Kimia Fisika, Laboratorium
instrumen seperti spektrofotometer UV-Vis, PSA, Terpadu Departemen Kimia, Fakultas MIPA
XRD dan FTIR juga akan dipelajari dalan Universitas Hasanuddin, Science Building Fakultas
penelitian ini. MIPA Universitas Hasanuddin, Laboratorium
Pengolahan dan Pemanfaatan Hasil Hutan Fakultas
Kehutanan Universitas Hasanuddin dan Pusat
Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi (PPNN)

3
ITB Bandung. 1.4.5 Optimasi Komposisi Larutan
Optimasi komposisi larutan dilakukan
3.4 Prosedur Penelitian untuk mengetahui komposisi optimum
3.4.1 Preparasi Sampel pembentukan nanopartikel perak. Komposisi
Sampel tunikata Pyura sp dibersihkan larutan dibuat pada perbandingan 1:10, 1:20, 1:30,
dengan cara dibilas dengan menggunakan air asin 1:40 kemudian dikocok hingga terjadi perubahan
untuk mengeluarkan sisa berbagai biota laut yang warna dan kemudian dianalisis dengan
masih melekat, selanjutnya dibilas dengan spektrofotometer UV-Vis.
menggunakan air tawar dan ditiriskan. Setelah
dilakukan pencucian berulangkali, sampel 3.4.6 Sintesis Nanopartikel
kemudian dibilas dengan menggunakan alkohol Larutan AgNO3 1 mM sebanyak 50 mL
70% untuk mencegah kontaminasi jamur dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 125 mL
bakteri pada proses pengeringan. Selanjutnya kemudian dikocok dengan menggunakan magnetic
dikeringkan secara manual di tempat yang stirrer. Selanjutnya ditambahkan tetes demi tetes
ternaungi dari sinar matahari secara langsung ekstrak tunikata sebanyak 5 mL sambil dikocok
selama beberapa hari hingga diperoleh tunikata selama 2 jam hingga terjadi perubahan warna
yang cukup kering. Selanjutnya sampel di freeze menjadi kuning kecoklatan. Larutan nanopartikel
drying untuk memastikan jika sampel benar-benar perak yang didapatkan, disentrifuse pada kecepatan
tidak mengandung lagi air. Sampel yang telah 10000 rpm selama 30 menit pada suhu 4oC
kering kemudian dapat dihaluskan dengan sebanyak 2-3 kali, kemudian hasil sentrifuse
menggunakan mesin penggiling. disuspensikan dalam akuabides dan disentifuse
kembali pada 8000 rpm selama 15 menit.
3.4.2 Ekstraksi Sampel Nanopartikel perak yang telah murni dikeringkan
Sampel yang telah dikeringkan dan dalam freeze dried pada suhu 4oC untuk
dihaluskan dengan mesin penggiling ditimbang selanjutnya dikarakterisasi (Hamed dan Givianrad,
sebanyak 5 gram dan direbus dengan 100 mL 2015).
akuabides. Proses perebusan dilakukan hingga suhu 3.4.10 Uji Bioaktivitas Antibakteri
o
mencapai 70–90 C. Selanjutnya sampel Biakan bakteri pada media nutrien agar
didinginkan dan disaring dengan menggunakan miring diswab merata pada permukaan media
kertas Whatmann no. 41 untuk mendapatkan Muller Hinton Agar (MHA) yang terdapat pada
ekstrak tunikata Pyura sp. Ekstrak yang diperoleh cawan petri, kemudian dibiarkan selama 5 menit.
dapat disimpan di dalam freezer sebelum Nanopartikel perak sebanyak 7,2 mg dilarutkan
digunakan kembali. dengan 2 mL akuabides yang sudah steril.
1.4.4 Optimasi pH Selanjutnya kertas cakram yang kosong yang
Optimasi pH dilakukan pada rentang pH berbeda direndam dalam larutan nanopartikel,
7-13. Larutan AgNO3 1 mM sebanyak 40 mL ekstrak tunikata, AgNO3 dan amilum selama
dicampurkan dengan ekstrak air Pyura sp sebanyak 15 menit. Kemudian kertas cakram yang telah
1 mL kemudian pH larutan diatur dengan mengandung sampel diletakkan pada cawan petri
menambahkan larutan NaOH 0,1 M. Dianalisis steril selama 15 menit hingga tidak ada cairan yang
dengan spektrofotometer UV-Vis. menetes.

4
Selanjutnya kertas cakram yang telah
berisi sampel diletakkan pada permukaan MHA
ditekan sedikit hingga melekat. Setelah itu media
MHA diinkubasi pada suhu 37oC selama 2x24 jam. 4
4
Diameter hambat yang terbentuk di sekitar kertas
pH 7 pH 8 pH 9 pH 10 pH 11 pH 12 pH 13
3
diamati. Terbentuknya diameter hambat di sekitar 3

Abs.
kertas menunjukkan adanya aktivitas antibakteri 2
2
Escherichia coli dan Staphylococus aureus.
1

Diameter hambat yang terbentuk di sekitar kertas


1
diukur menggunakan jangka sorong (Mpila dkk., 200 300 400 500

2012).
200 300 400 500 600 700
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Wavelenght (nm)
4.1 Uji Fitokimia Ekstrak Air Pyura sp
Ekstrak Pyura sp diperoleh dengan
metode ekstraksi infundasi dengan menggunakan Pengaruh pH terhadap pembentukan
pelarut air pada suhu 80oC selama 20 menit. nanopartikel perak dengan bioreduktor ekstrak air
Ekstrak yang diperoleh selanjutnya dilakukan uji Pyura sp diamati pada rentang pH netral dan basa
fitokimia untuk mengetahui golongan senyawa yaitu pada pH 7-13. Perubahan warna yang
metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak teramati secara visual setelah pengadukan selama
air Pyura sp. Tabel 1 memberikan data hasil dua jam menunjukkan terbentuknya nanopartikel
pengamatan uji fitokimia ekstrak air Pyura sp. perak yang ditandai dengan perubahan warna
menjadi kecoklatan. Hasil sintesis koloid
Metabolit Sekunder Ekstrak Air Pyura sp nanopartikel perak pada berbagai pH diperlihatkan
pada Gambar 3.
Tanin +

Flavonoid +
Gambar tersebut menunjukkan bahwa

Saponin +++ dengan meningkatnya pH larutan memberikan


warna larutan yang semakin pekat. Semakin pekat
Steroid - warna yang dihasilkan menunjukkan semakin
banyak ion Ag+ yang mengalami reduksi menjadi
Terpenoid -
Ago (Haryani dkk., 2016). Dengan demikian
Alkaloid ++ perbedaan intensitas warna yang dihasilkan dapat
mengindikasikan perbandingan jumlah

Tabel 1. Hasil uji fitokimia ekstrak air Pyura sp nanopartikel perak yang terbentuk.
Selanjutnya pengamatan dengan

4.2 Biosintesis Nanopartikel Perak instrumen spektrofotometer UV-Vis dilakukan

4.2.1.1 Optimasi pH untuk mengkonfirmasi pembentukan nanopartikel


perak yaitu munculnya puncak absorbansi pada
kisaran panjang gelombang 420-460 nm. Hal ini

5
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Selanjutnya pengamatan pergeseran
Haryani, dkk. (2016) bahwa koloid nanopartikel panjang gelombang maksimum secara berkala
perak memiliki puncak absorbansi pada panjang dilakukan untuk memperkirakan stabilitas koloid
gelombang sekitar 405-500 nm. Gambar 4 nanopartikel perak. Kestabilan koloid nanopartikel
menunjukkan spektrum UV-Vis koloid perak diketahui dari terjadinya pergeseran panjang
nanopartikel perak dengan variasi pH. gelombang maksimum. Menurut Wahyudi dkk.
(2011) jika terjadi pergeseran panjang gelombang
5
maksimum ke panjang gelombang yang lebih besar
menunjukkan bahwa kestabilan koloid nanopartikel
4
perak masih rendah karena peristiwa aglomerasi

3
telah terjadi. Selain itu, pergeseran panjang
1:10 1:20 1:30 1:40 gelombang maksimum yang kecil dapat pula
Abs.

2 digunakan sebagai parameter kestabilan


nanopartikel (Apriandanu, dkk., 2013). Tabel 2
1
menunjukkan pergeseran panjang gelombang
maksimum nanopartikel perak terhadap fungsi
0
200 300 400 500 600 700 waktu.
Wavelenght (nm)

Tabel 2. Pergeseran panjang gelombang


Gambar 4. Spektrum UV-Vis koloid nanopartikel
5 nanopartikel perak sebagai fungsi waktu
perak pada berbagai pH
Koloid nanopartikel perak yang disintesis
4
pada pH 8 diketahui memiliki pergeseran panjang
Berdasarkan spektrum tersebut diketahui
gelombang maksimum yang tidak terlalu besar
bahwa nilai absorbansi terendah ditunjukkan3 oleh
setelah 5 hari masa inkubasi hingga hari ke 9.
koloid nanopartikel perak yang disintesis pada pH
2 Dengan demikian kondisi ini dianggap sebagai pH
7 dan terus mengalami peningkatan dengan
optimum pembentukan nanopartikel perak dengan
meningkatnya pH larutan. Sehingga dapat 1dibuat
bioreduktor ekstrak air Pyura sp. Hasil penelitian
suatu hubungan bahwa peningkatan pH larutan
yang tidak jauh berbeda telah dilaporkan (Vanaja
berbanding lurus dengan absorbansi nanopartikel
0
200 300 400 500 600 700
dkk., 2013: Thamer dan Almashhedy, 2014)
perak yang dihasilkan. Hal ini disebabkan oleh
dimana pH optimum pembentukan nanopartikel
kehadiran ion hidroksida yang dapat meningkatkan
perak adalah 8,2.
kapasitas reduksi biomolekul yang bertindak
sebagai agen pereduksi untuk melakukan reaksi
4.2.1.2 Optimasi Komposisi
reduksi ion logam. (Phanjom dan Ahmed, 2017).
Parameter lain yang juga memiliki
Dengan demikian semakin tinggi pH larutan maka
pengaruh yang cukup signifikan dalam sintesis
semakin banyak pula koloid nanopartikel perak
nanopartikel adalah komposisi bioreduktor dan
yang terbentuk. Alqadi dkk., (2014) menjelaskan
larutan logam yang digunakan. Optimasi komposisi
bahwa peningkatan pH larutan juga dapat
dilakukan dengan menggunakan beberapa variasi
menghasilkan nanopartikel dengan ukuran yang
komposisi yaitu 1:10, 1:20, 1:30 dan 1:40 yang
lebih kecil dan bentuk yang lebih spheric.
dikondisikan pada pH optimum yaitu pH 8. Koloid

6
nanopartikel perak dengan variasi komposisi Gambar 6. Spektrum UV-Vis koloid nanopartikel
diperlihatkan pada Gambar 5. perak pada berbagai
komposisi

Berdasarkan karakterisasi secara visual, Hasil pengamatan spektrum UV-Vis koloid


koloid yang dihasilkan telah membentuk nanopartikel perak pada berbagai komposisi
nanopartikel perak yang ditandai dengan perubahan menunjukkan peningkatan puncak absorbansi
warna larutan menjadi kecoklatan. Koloid yang dengan meningkatnya komposisi larutan AgNO3.
terbentuk memberikan warna kecoklatan dengan Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya ion
intensitas yang semakin pekat seiring dengan Ag+ yang tereduksi membentuk Ago.
meningkatnya komposisi AgNO3. Intensitas warna Analisis spektrum UV-Vis koloid
larutan yang semakin pekat menunjukkan adanya nanopartikel perak dengan variasi komposisi
korelasi dengan jumlah nanopartikel yang dilakukan secara berkala untuk mengetahui
terbentuk (La Tapa dkk., 2016). Data yang kestabilan nanopartikel perak. Tabel berikut ini
diperoleh dengan analisis spektrofotometer UV-Vis menyajikan data pengamatan pergeseran panjang
menunjukkan kesesuain dengan fakta tersebut. gelombang maksimum koloid nanopartikel perak
Sekaligus mengkonfirmasi pembentukan dengan variasi komposisi berdasarkan fungsi
nanopartikel perak yang ditandai dengan waktu.
munculnya puncak absorbansi pada daerah SPR
nanopartikel perak yaitu antara 400-500 nm. Tabel 3. Pengamatan pergeseran panjang
Gambar 6 adalah hasil pengamatan spektrum UV- gelombang maksimum koloid
Vis koloid nanopartikel perak dengan variasi nanopartikel perak dengan variasi
komposisi. komposisi

Berdasarkan tabel pengamatan pergeseran


gelombang maksimum terhadap fungsi waktu
diketahui bahwa koloid nanopartikel perak degan
komposisi 1:40 memberikan pergeseran panjang
gelombang maksimum yang tidak terlalu besar
pada pengamatan hari ke-3 hingga hari ke-10.
Dengan demikian komposisi ini dianggap sebagai
komposisi optimum pembentukan nanopartikel
perak dengan bioreduktor ekstrak air Pyura sp.
4.3 Sintesis Nanopartikel
Sintesis nanopartikel perak dengan
bioreduktor ekstrak air Pyura sp dilakukan pada pH
8 dengan perbandingan ekstrak dan larutan AgNO3
1 mM adalah 1:40. Indikasi terbentuknya
nanopartikel perak teramati dengan perubahan
warna larutan menjadi kuning kecoklatan.

7
Perbandingan warna larutan AgNO3 dan ekstrak air menunjukkan reaksi reduksi ion Ag+ yang
Pyura sp dengan koloid nanopartikel perak dapat melibatkan senyawa golongan flavonoid.
dilihat pada gambar 7.

Ag+
H
O H Ag
O
OH
O
H
HO O
HO O

OH
OH
OH O
OH O

Ag
Ag+ O
O
O
O
H
Gambar 7. Ekstrak air Pyura sp (a), larutan HO O
HO O
Gambar 8. Mekanisme reaksi Reduksi Ag+ oleh
AgNO3 1 mM (b) dan koloid
senyawa
OH flavonoid OH
nanopartikel perak (c) OH O
OH O

Terjadinya perubahan warna koloid pada 4.4 Karakterisasi Nanopartikel


Karakterisasi nanopartikel perak
pembentukan nanopartikel perak disebabkan oleh
dilakukan dengan menggunakan beberapa
reaksi oksidasi reduksi antara biomolekul dalam
instrument yaitu spektrofotometer UV-Vis, FT-IR,
ekstrak air Pyura sp dengan ion Ag+. Uji fitokimia
XRD dan PSA. Padatan nanopartikel perak untuk
ekstrak air Pyura sp menunjukkan kandungan
karakterisasi dengan FT-IR dan XRD diperoleh
metabolit sekunder golongan flavonoid yang
melalui proses sentrifugasi. Proses sentrifugasi
mungkin berperan dalam proses reduksi tersebut.
dilakukan pada kecepatan 10000 rpm selama 30
Nanopartikel perak terbentuk karena adanya
menit. Padatan yang didapatkan disuspensikan
transfer elektron dari biomolekul dalam ekstrak
kembali dengan akuabides dan disentrifuse kembali
menuju ion logam. Muatan negatif dari pelepasan
pada kecepatan 8000 rpm selama 15 menit. Padatan
ion H+ pada biomolekul akan diadsorbsi oleh
kemudian dikeringkan dengan menggunakan
permukaan nanopartikel perak sehingga antar
metode pengeringan beku.
nanopartikel perak akan saling bertolakan karena
4.4.1 Karakterisasi dengan Spektrofotometer
adanya muatan negatif di sekeliling permukaannya.
UV-Vis
Ketika berada dalam bentuk ionnya, Ag+ akan
Terbentuknya nanopartikel perak tidak
saling tolak-menolak karena pengaruh muatan
hanya ditandai dengan perubahan warna larutan.
sejenis, namun setelah direduksi menjadi Ago maka
Parameter lainnya yang juga dapat mengkonfirmasi
muatan atom Ag menjadi netral sehingga
terbentuknya nanopartikel perak dapat dilihat dari
memungkinkan antar atom Ag akan saling
spektrum UV-Vis pada Gambar 9
mendekat dan berinteraksi satu sama lain melalui
ikatan antar logam membentuk suatu cluster yang
berukuran nano (Armah, 2014). Gambar 8

8
Intensitas warna koloid semakin pekat seiring
dengan bertambahnya waktu inkubasi. Secara
kualitatif adanya perubahan warna dapat
mengindikasikan semakin banyaknya nanopartikel
perak yang terbentuk. Semakin banyak jumlah
nanopartikel perak yang dihasilkan ditunjukan oleh
semakin pekat warna kuning kecoklatan yang
Gambar 9. Spektrum Uv-Vis larutan AgNO3 1 terbentuk.
mM, ekstrak air Pyura sp dan Analisis spektrum UV-Vis koloid
nanopartikel perak nanopartikel perak secara berkala memperlihatkan
bagaimana pengaruh waktu inkubasi terhadap
Pengamatan dengan spektrofotometer UV-Vis pertumbuhan nanopartikel perak secara kuantitatif.
merupakan karakterisasi awal pembentukan Nilai absorbansi menunjukkan kecenderungan
nanopartikel perak secara instrumentasi. jumlah nanopartikel yang dihasilkan. Kenaikan
Berdasarkan Gambar 9, larutan AgNO3 1 mM dan nilai absorbansi dari waktu ke waktu dapat
ekstrak air Pyura sp memperlihatkan puncak menunjukkan kecepatan reaksi pembentukan
absorbansi masing-masing pada panjang nanopartikel perak.
gelombang 216 dan 305,50 nm. Puncak absorbansi Gambar 11 adalah grafik hubungan antara
pada panjang gelombang 422,5 nm teramati setelah perubahan absorbansi koloid nanopartikel perak
pencampuran keduanya. Munculnya puncak terhadap fungsi waktu.
absorbansi pada kisaran panjang gelombang
400-500 nm menandakan nanopartikel perak telah
terbentuk. Data absorbansi dan panjang gelombang
dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Serapan UV-Vis pembentukan
nanopartikel perak

Selanjutnya monitoring pertumbuhan nanopartikel


perak dilakukan untuk mengetahui pengaruh waktu
inkubasi terhadap pertumbuhan nanopartikel perak.
Pertumbuhan nanopartikel perak dapat diamati Gambar 11. Perubahan absorbansi terhadap fungsi
secara visual melalui perubahan intensitas warna waktu
koloid dari waktu ke waktu. Gambar 10
menunjukkan perubahan intensitas warna koloid Absorbansi koloid nanpartikel perak mengalami
nanopartikel perak peningkatan seiring dengan bertambahnya waktu
inkubasi. Pertumbuhan nanaopartikel perak
teramati cukup signfikan dari hari ke-1 hingga hari
Gambar 10. Koloid nanopartikel perak a. ke-12. Pergeseran absorbansi yang tidak terlalu
2 jam b. 1 hari c. 9 hari besar (hampir konstan) pada hari ke 12 hingga hari

9
ke 15 menunjukkan bahwa reaksi pembentukan 1795-2000 cm-1 serta serapan dengan intensitas
nanopartikel telah selesai (Purnomo dkk., 2017). sedang pada bilangan gelombang 808 dan 696 cm-1
mengindikasikan senyawa aromatik tersubstitusi
4.4.2 Karakterisasi dengan FT-IR meta.
Analisis dengan FT-IR dilakukan untuk Secara umum profil spektrum FT-IR yang
membandingkan gugus fungsi yang terdapat dalam diberikan pada ekstrak air Pyura sp dan
ekstrak air Pyura sp dengan nanopartikel perak. nanopartikel perak tidak jauh berbeda. Namun
Selain itu dapat pula digunakan untuk mengetahui terjadi penurunan intensitas serapan pada daerah
gugus fungsi yang terlibat dalam mereduksi ion gugus fungsi hidroksil. Perubahan intensitas
Ag+ menjadi Ago. Berikut ini adalah perbandingan serapan dapat memberikan petunjuk gugus fungsi
profil spektrum FT-IR ekstrak air Pyura sp dengan yang berperan dalam pembentukan nanopartikel
nanopartikel perak. perak. Munculnya serapan pada bilangan
(a)
gelombang 572 dan 542 cm-1 pada spektrum FT-IR
2310

nanopartikel perak merupakan vibrasi ikatan Ag-O,


2852

1514
1419

hal ini memperkuat dugaan bahwa pembentukan


808
1047
2922

1228
1454

nanopartikel perak melibatkan interaksi gugus


1076

696
1261

599

hidroksi.
T (%)

655
1653

(b) 4.4.3 Karakterisasi dengan XRD


3414

Karakterisasi nanopartikel perak dengan


542
1238

696
2852

1456
2922

1384

1114
1039
2358

1543

menggunakan XRD dilakukan untuk mengetahui


1643
3417

karakteristik kristal nanopartikel perak yang telah


4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 disintesis. Gambar berikut ini merupakan profil
Wavenumber (cm-1)
difraktogram nanopartikel perak yang disintesis
Gambar 12. Spektrum FT-IR (a) ekstrak air Pyura dengan bioreduktor ekstrak air Pyura sp.
sp dan (b) nanopartikel perak
3500 (200)

Spektrum FT-IR ekstrak air Pyura sp 3000


(220)
menunjukkan serapan melebar dengan intensitas
2500 (311)
Intensity

yang kuat pada bilangan gelombang 3414 cm-1


2000
menunjukkan adanya vibrasi streching O-H yang
1500
berasal dari alkohol atau senyawa fenol. Hal ini
1000
diperkuat oleh serapan dengan intesitas kuat pada
500 (111)
bilangan gelombang 1228 dan 1230 cm-1 yang
merupakan vibrasi streching dari gugus C-O fenol
30 40 50 60 70 80
serta serapan pada bilangan gelombang 1653 dan 2 (deg)

1514 cm-1 yang menunjukkan adanya vibrasi ikatan


Gambar 13. Difraktogram nanopartikel
C=C cincin aromatik. Vibrasi ikatan C-O eter
perak dengan bioreduktor ekstrak air Pyura sp
tersubstitusi senyawa aromatik ditunjukkan pula
pada bilangan gelombang 1261 dan 1076 cm-1. Pola
overtune yang muncul pada bilangan gelombang

10
Hasil perbandingan profil difraktogram nanopartikel yang diperoleh berkisar antara
nanopartikel hasil sintesis dengan data 46,22-52,57 nm.
difraktogram standard yang dikeluarkan oleh Joint Tabel 7. Analisis ukuran kristal nanopartikel perak
Committee on Powder Diffraction Standards FWHM Ukuran Kri
(JCPDS, file No. 87–0720) (data No. 2ϴ(deg)
terlampir di d (Å)
(deg) (rad) (nm)
Lampiran 13) menunjukkan bahwa nanopartikel
yang dihasilkan masih mengandung
1. 37,8059 2,37772 0,18310 0,003194 50,00119
partikel-partikel pengotor.Adanya partikel
2. 44,0441 2,05433 0,17670 0,003082 52,87574
pengotor ditandai dengan munculnya peak pada
3.
profil difraktogram yang tidak sesuai dengan 64,4020
data 1,44551 0,19940 0,003478 51,33357

JCPDS. 4. 77,5116 1,23051 0,24030 0,004192 46,22134

Tabel 6. Analisis data difraksi nanopartikel secara


teoritik
4.4.4 Karakterisasi dengan PSA
Karakterisasi dengan Particle size
ϴ Sin2 ϴ Sin2 ϴ Sin2 ϴ M
Sin2 ϴ 𝐱𝟐 𝐱𝟑 Analyzer Hkl
(PSA) bertujuan untuk mengetahui
Sin2 ϴmin Sin2 ϴmin Sin2 ϴmin
ukuran distribusi ukuran nanopartikel dengan
menggunakan metode uji Dynamic light scattering.
,81 0,10 1,00 2,00 3,00 3 111
Gambar 14 merupakan histogram distribusi ukuran
,04 0,14 1,34 2,68 4,02 4 200 perak
nanopartikel

,40 0,28 2,71 5,41 8,12 8 220


20
,51 0,39 3,73 7,47 11,20 11 311
18

16
Intensitas Differensial (%)

Difraktogram nanopartikel perak menunjukkan 14


puncak pada sudut difraksi (2ϴ) yang memiliki
12
kesesuain terhadap data difraksi standard Ag yang
10
diterbitkan dalam data Joint Committee on Powder
In
Diffraction Standards (JCPDS, file No. 87–0720) 8
In
adalah 37,81, 44,04, 64,40 dan 77,51. Hasil analisis 6
secara teoritik terhadap masing-masing puncak
4
difraksi tersebut menunjukkan indeks Miller pada
2
masing-masing puncak difraksi adalah {111}
{200} {220} dan {311}. Berdasarkan Tabel 6 dapat 0
1-20

0
0
0
00
-120
-140
-160
-180
-200
-220
21-4
41-6
61-8

disimpulkan bahwa nanopartikel perak yang


81-1

-2

Gambar 14. Histogram distribusi ukuran


101
121
141
161
181
201
221

disintesis memiliki struktur FCC (Face Centered


nanopartikel perak berdasarkan
Cubic). Analisis ukuran kristal nanopartikel perak Diameter (nm)
intensitas
dengan menggunakan persamaan Debye-Scherer
Hasil analisis menunjukkan ukuran partikel yang
diperlihatkan pada tabel 7. Ukuran kristal
diperoleh berkisar antara 1,2 hingga 304,7 nm

11
dengan diameter rata-rata partikel adalah 102,9 nm
dan nilai Polydispersity Index (PI) 0,257. Indeks
polidispersitas adalah parameter distribusi massa
molekul dalam suatu sampel yang merupakan rasio
perhitungan dari berat rata-rata molekul dengan
jumlah rata-rata berat molekul. Semakin mendekati
0 (nol) berarti distribusinya semakin baik dan
menunjukkan kestabilan fisik yang baik jika
disimpan cukup lama (Arfan, 2017).
Berdasarkan histogram distribusi ukuran,
diketahui bahwa partikel dengan kategori
nanopartikel memiliki persentase intensitas yang
dominan dengan kisaran 50,45%. Ukuran partikel
dengan range 61-80 nm memiliki intensitas yang
paling tinggi dengan persentase 19%. Hal ini
menunjukkan bahwa ekstrak air Pyura sp dapat Gambar 15. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap
digunakan untuk mensintesis nanopartikel perak. bakteri uji Escherichia coli
Data hasil analisis PSA dapat dilihat lebih rinci
pada Lampiran 14.
Hasil pengujian aktivitas antibakteri terhadap
4.5 Uji Antibakteri bakteri uji Escherichia coli yang diperlihatkan pada
Penentuan aktivitas antibakteri dilakukan Gambar 15 menunjukkan bahwa nanopartikel perak
dengan menggunakan metode paper disc diffusion memiliki aktivitas yang lebih baik jika
test atau uji difusi kertas cakram terhadapa bakteri dibandingkan dengan larutan AgNO3 maupun
uji Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. ekstrak Pyura sp. Data ini menunjukkan adanya
Aktivitas antibakteri ditentukan berdasarkan korelasi antara ukuran partikel dengan aktivitas
terbentuknya zona hambat disekitar kertas cakram. antibakteri logam perak. Hal tersebut sesuai dengan
Sifat aktivitas antibakteri ditentukan berdasarkan teori yang menjelaskan bahwa nanopartikel
diameter zona hambat. Suatu antibakteri/antibiotik berukuran kecil menyebabkan besarnya luas
dikatakan mempunyai aktivitas terhadap bakteri permukaan sehingga memiliki aktivitas yang besar
jika mempunyai kekuatan sebagai berikut: bila (Nagarajan, 2008).
memberikan nilai zona hambat dengan ukuran 6-10 Berdasarkan Muharni, dkk., (2017)
mm dikategorikan lemah, 11-20 mm dikategorikan aktivitas antibakteri nanopartikel perak termasuk
aktif, dan 21-30 mm atau lebih dikategorikan kategori aktif terhadap bakteri Escherichia coli.
sangat aktif (Muharni, dkk., 2017) Nanopartikel perak membentuk diameter zona
hambat sebesar 11,85 mm pada pengamatan 18 jam
25
waktu inkubasi. Aktivitas penghambatan masih
teramati pada waktu inkubasi 24 dan 48 jam namun
20 terjadi penurunan diameter zona hambat yaitu
ter Zona Hambat (mm)

masing-masing 11,8 dan 9,5 mm.


18 jam 24 jam 48 jam
15
12

10
Aktivitas antibakteri nanopartikel perak
juga ditunjukkan terhadap bakteri uji
Staphylococcus aureus. Nanopartikel perak dengan BAB V
konsentrasi 3,6 mg/mL memperlihatkan diameter KESIMPULAN DAN SARAN
zona hambat 12,525 mm pada masa inkubasi 18
jam dan mengalami peningkatan zona hambat pada 5.1 Kesimpulan
pengamtan 24 jam menjadi 12,875 mm. Namun Berdasarkan hasil penelitian ini dapat
pengamatan diameter zona hambat pada 48 jam disimpulkan bahwa ekstrak air Pyura sp mampu
masa inkubasi menunjukkan penurunan menjadi berperan sebagai bioreduktor dalam proses
11,425 mm. Hasil pengamatan tersebut biosintesis nanopartikel perak. Nanopartikel perak
menunjukkan bahwa nanopartikel perak termasuk yang dihasilkan memiliki struktur kristal FCC
kategori aktif terhadap bakteri Staphylococcus dengan diameter kristal berkisar antara 46,22-52,57
aureus. Berdasarkan Gambar 16, aktivitas nm. Diameter partikel berkisar antara 1,2 hingga
antibakteri nanopartikel perak masih lebih baik jika 304,7 nm dengan diameter rata-rata partikel adalah
dibandingkan dengan larutan AgNO3 maupun 102,9 nm. Aktivitas antibakteri terhadap bakteri
ekstrak air Pyura sp. Staphylococus aureus dan Echerichia coli
tergolong aktif dengan diameter zona hambat
25 12,525 mm dan 11,85 mm
Diameter Zona Hambat (mm)

20 5.2 Saran
18 jam 24 jam 48 jam Disarankan untuk melakukan penelitian

15 mengenai sintesis nanopartikel perak dengan


variasi waktu pengadukan dan variasi suhu serta

10 melakukan uji potensi lainnya seperti antidiabetes.

0
NPAg AgNO3 Ekstak Pyura sp Kontrol (-) Kontrol (+)

AgNO3

Gambar 16. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap


bakteri uji Staphylococcus aureus

13
14