Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI KASUS

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA POST PARTUM SECTIO


CAESARIA DI RSUD BANYUMAS

Disusun oleh :

1. Afifah Khansa’ (P27226016100)


2. Arloy Arda P. (P27226016107)
3. Dina Setyorini (P27226016115)

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV FISIOTERAPI


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURAKARTA
KARANGANYAR
2019
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA POST PARTUM SECTIO
CAESARIA DI RSUD BANYUMAS

A. Pengertian Sectio Caesaria


Istilah Sectio Caesarea (SC) berasal dari bahasa latin yaitu Caedera yang
artinya memotong. SC didefinisikan sebagai kelahiran janin melalui abdominal
(laparatomi) yang memerlukan incisi pada uterus (histerotomi). SC merupakan
jalan keluar untuk penanganan persalinan dengan komplikasi, selain itu sebagai
tindakan alternatif persalinan tanpa indikasi medis karena dianggap lebih mudah
dan nyaman (Muhammad, 2016).

B. Anatomi Organ Reproduksi Wanita


1. Ovarium
Terdapat dua ovarium yang masing-masing terdapat pada sisi kanan dan
kiri rahim. Ovarium dilapisi mesovarium dan tergantung di belakang ligamen
latum. Bentuk seperti buah almon yang berukuran 2.5 cm – 5 cm. ovarium
ditunjang oleh mesovarium, ligamen ovarika dan ligamen infudibulopelvikum.
Ovarium berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang bertugas dalam menghasilkan
estrogen dan progresteron serta mengatur siklus haid.
2. Vagina
Vagina merupakan saluran yang menghubungkan vulva dengan rahim,
terletak diantara saluran kemih dan anus. Pada bagian pangkal vagina terdapat
mulut rahim. Bentuk dinding dalam vagina berlipat-lipat disebut rugae sedangkan
bagian tengah terdapat bagian yang lebih keras disebut columna rugarum.
Dinding vagina terdiri dari lapisan mukosa, lapisan otot, dan lapisan jaringan ikat.
Berbatasan dengan serviks membentuk ruangan lengkung, antara lain forniks
lateral kiri dan kanan, forniks anterior, dan forniks posterior. Suplai darah vagina
diperoleh dari arteria uterine, arteria vesikalis inferior, arteria hemoroidalis
mediana, dan arteria pudendus interna. Fungsi penting dari vagina ialah sebagai
(a) Saluran keluar untuk mengalirkan darah haid dan sekret lain dari rahim, (b)
alat untuk senggama, (c) jalan lahir pada waktu bersalin.
3. Uterus / Histera / Hister ( Rahim )
Merupakan organ otot berdinding tebal dan berongga (cavum). Bentuk,
besar, letak, dan susunan uterus berbeda – beda tergantung pada umur serta organ
sekitarnya dalam keadaan hamil. Terletak pada rongga panggul antara vesika
urinaria dengan colon sigmoid dan rectum. Uterus berfungsi sebagai tempat
implantasi ovum yang telah dibuahi, sebagai tempat perkembangan dan memberi
makan pada janin yang sedang berkembang. Bagian-bagian uterus terdiri dari
fundus uteri, corpus uteri, ishmus uteri dan serviks uteri. Bagian dinding uterus
secara historik terdiri dari 3 lapisan yaitu lapisan serosa (lapisan peritoneum),
lapisan otot (lapisan myometrium), lapisan mukosa (lapisan endometrium).
4. Tuba Fallopi
Adalah saluran telur yang keluar dari korpus rahim kanan dan kiri,
panjangnya 12±1 cm, diameter 3 – 8 mm. Bagian luarnya dilapisi oleh peritoneum
visceral yang merupakan bagian dari ligamentum latum. Bagian dalam dilapisi
oleh silia, yaitu rambut getar yang berfungsi untuk menyalurkan telur hasil
konsepsi.
Tuba fallopi terdiri dari empat bagian : (1) pars interstisialis (intramuralis); (2)
pars ismika, yang merupakan bagian tengah saluran telur yang sempit; (3) pars
ampularis, dimana biasanya pembuahan (konsepsi) terjadi; (4) infundibulum, yang
merupakan ujung saluran yang terbuka ke rongga perut. Di ujung infundibulum
terdapat rumbai – rumbai (fimbriae) yang berguna untuk menangkap sel telur
(ovum), yang kemudian akan disalurkan ke dalam tuba.

Gambar Alat Reproduksi Wanita Dalam (Genetalia feminina interna)


C. Etiologi
Menurut Yaeni (2013), indikasi dilakukannya SC terbagi menjadi 2 yaitu
indikasi mutlak dan indikasi relatif. (1) Indikasi mutlak dilakukannya SC terbagi
menjadi 2 yaitu indikasi dari ibu dan dari janin. Indikasi mutlak SC dari ibu
adalah ruptur uteri imnien, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini, panggul
sempit absolut, kurang kuatnya stimulasi, adanya tumor jalan lahir, stenosis
serviks dan plasenta previa. Sedangkan indikasi dilakukannya SC dari janin
adalah fetal distress, berat janin lebih 4.000 gram, prolapsus plasenta,
perkembangan janin yang lambat dan mencegah hipoksia pada janin akibat
preeklamsia. (2) Indikasi relatif dilakukannya SC antara riwayat SC sebelumnya,
presentasi bokong, distosia fetal distress dan preeklamsi berat.
Kontraindikasi dilakukannya SC antara lain janin mati, syok, anemia berat,
kelainan kongenital berat, infeksi progenik pada dinding abdomen dan minimnya
fasilitas untuk melakukan operasi SC (Yaeni, 2013).

D. Patofisiologi
Terdapat beberapa indikasi dilakukannya persalinan SC. Dalam proses
operasi SC dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan pasien
mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas.
Selain itu, efek anestesi dapat menimbulkan relaksasi otot dan menyebabkan
konstipasi. Dalam proses pembedahan atau operasi akan dilakukan incisi pada
dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan,
pembuluh darah dan saraf-saraf di sekitar daerah incisi. Hal tersebut akan
merangsang histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri.
Setelah proses pembedahan selesai, daerah incisi akan ditutup dan menimbulkan
luka post SC yang dapat menimbulkan masalah risiko infeksi apabila tidak
dirawat dengan baik (Astuti, 2015).
E. Jenis-jenis Sectio Caesaria
1. Sectio caesaria transperitonealis profunda
Merupakan jenis SC yang paling banyak dilakukan. Incisi pada SC
transperitonealis profunda berbentuk garis horizontal. Incisi dilakukan pada
segmen bawah rahim secara melintang selebar 10 cm dengan ujung kanan dan kiri
sedikit melengkung ke atas untuk menghindari terbukanya cabang-cabang
pembuluh darah (Ekasari, 2012). Pada SC transperitonealis profunda jarang
terdapat resiko terjadinya ruptur uteri pada persalinan berikutnya. Dan
penyembuhan lebih baik dan perlekatan yang terjadi lebih sedikit dibandingkan
dengan SC classic.
2. Sectio caesaria classic atau Sectio caesaria corporal
Incisi pada SC klasik membentuk garis vertical dengan sayatan pada
korpus uteri sepanjang 10 – 12 cm (Ekasari, 2012). Pada SC klasik, risiko
terjadinya infeksi lebih mudah menyebar antara intra abdominal dibandingkan
dengan SC transperitonealis profunda. Dan umumnya, jahitan pada SC klasik
berjumlah 3 lapis.
3. Sectio caesaria ekstra peritoneal
SC ekstra peritoneal merupakan SC yang dilakukan tanpa membuka
peritoneum parietale sehingga tidak membuka cavum abdominis (Mochtar, 2011
dalam Sari, 2016). Incisi pada dinding dan fasia abdomen serta musculus rectus
dipisahkan secara tumpul. Vesika urinaria diretraksi ke bawah, lipatan peritoneum
dipotong kea rah kepala untuk memaparkan segmen bawah uterus. SC jenis ini
sudah jarang dilakukan karena sulit dalam melakukan pembedahannya
(Kurniawan, 2016).
4. Sectio caesaria hysterectomi
Hysterectomi dapat dilakukan setelah operasi SC dilakukan dengan
indikasi antara lain atonia uteri, placenta accerete, myoma uteri, infeksi intra uteri
yang berat (Mochtar, 1998 dalam Ekasari, 2012).
F. Prosedur Sectio caesaria transperitonealis profunda
Jenis incisi SC pada kasus ini adalah incisi transversal. Keuntungan dari
incisi transversal adalah jarang terjadi herniasi pasca bedah, kosmetik yang lebih
baik dan kenyamanan pasien pasca bedah lebih baik. Sedangkan kerugian dari
incisi transversal adalah daerah operasi yang lebih terbatas, teknik relative lebih
sulit dan pendarahan akibat pemisahan fascia dari lemak yang lebih banyak. Pada
incisi transversal terdapat 3 jenis incisi yaitu incisi pfannenstiel, incisi maylard
dan incisi cherney. Pada operasi SC banyak menggunakan incisi transversal jenis
pfannenstiel.
Incisi kulit transversal semilunar 2 cm suprasimfisis. Incisi diperdalam
sampai fascia rectus dan fascia rectus dibuka secara transversal dengan gunting
“mayo”. Tepi atas fascia rectus dijepit dengan “kocher” dan dipisahkan dari
m.rectus abdominalis dan m.piramidalis secara tumpul dan waspada terhadap
trauma pembuluh darah disekitar garis tengah. Kemudian, tepi bawah fascia rectus
dijepit dengan “kocher” dan dipisahkan dari m.pyramidalis secara tumpul sampai
mencapai simfisis pubis. M.rectus sinistra dan dextra dipisahkan ke arah lateral
sehingga fascia transversal dan peritoneum terpapar. Setelah itu, lapisan tersebut
dijepit dengan 2 buah klem dan diangkat. Kemudian dibuka ke arah cranial
dengan gunting “metzendaum”. Lapisan tersebut dibuka lebih lanjut ke caudal
secara tajam. Untuk pemaparan bidang operasi m.pyramidalis perlu dipisahkan di
garis tengah. Apabila pemaparan masih kurang optimal maka dapat dilakukan
incisi cherney.
Gambar incisi Sectio caesaria transperitonealis profunda

G. Komplikasi sectio caesaria


Komplikasi yang dapat terjadi setelah dilakukan operasi SC antara lain
infeksi puerpeural (nifas), pendarahan, emboli pulmonal, luka kandung kemih,
emboli paru, keluhan kandung kemih dan kemungkinan ruptur uteri spontan pada
kehamilan mendatang. Infeksi puerpeural terbagi menjadi 3 yaitu infeksi ringan
(terdapat kenaikan suhu selama beberapa hari), infeksi sedang (kenaikan suhu
lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung) dan infeksi berat
(sering terjadi karena sebelumnya terjadi infeksi intrapartal akibat ketuban pecah
dini yang terlalu lama).
LAPORAN STATUS KLINIS

1. Keterangan Umum Penderita


Nama : Ny. A.S.
Umur : 38 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Karang Pucung, Tambak
No. CM : 00887125
2. Data-data medis Rumah Sakit
- Diagnosis medis : Pasca Melahirkan Sectio Caesaria
- Catatan klinis
Medika mentosa : Aquabidest, Cefadroxil, Asam efenamat, SF.
Hasil lab :
 Hemoglobin 10.7 g/dL
 Golongan darah B
 Albumin 2.5 g/dL
 HBsAg Negatif
 Glukosa sewaktu 92 mg/dL
Hasil EKG : dalam batas normal
3. Segi Fisioterapi
a. Pemeriksaan Subyektif
1) Keluhan Utama dan Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan adanya nyeri pada perut bekas jahitan / incisi
(horizontal). Pasien datang ke rumah sakit tanggal 05 Agustus 2019
pukul 00.12 WIB dan melahirkan secara SC pada pagi harinya pukul
07.30 WIB (HPL tanggal 17 Agustus 2019) dengan usia kehamilan
sudah 38 minggu. Pasien memiliki riwayat melahirkan SC 2x pada
kehamilan sebelumnya sehingga kehamilan kali ini juga diprogram
oleh dokter untuk melahirkan secara SC. Pasien mengatakan nyeri
meningkat saat melakukan gerakan yang membuat otot perut
berkontraksi dan nyeri berkurang saat pasien tidur terlentang.
2) Riwayat Keluarga dan Status Keluarga
Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga dan didalam keluarganya
terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat melahirkan secara
SC.
3) Riwayat Penyakit Dahulu dan Penyerta
Status GPA : 5G, 4P, 1A
Kehamilan ini merupakan kehamilan yang ke-5 dengan 4 anak yang
lahir selamat dan riwayat abortus 1 kali pada kehamilan pertama.
Kelahiran anak pertama normal, dan anak ke-2 lahir secara SC karena
posisi janin sunsang sehingga kelahiran anak ke-3 dan ke-4 juga harus
dilahirkan secara SC. Pasien tidak memiliki penyakit penyerta seperti
DM dan hipertensi.
b. Pemeriksaan Obyektif
1) Pemeriksaan Tanda Vital
Tekanan darah : 100/70 mmHg
Nadi : 82 kali / menit
Pernapasan : 20 kali / menit
Berat badan : 63 kg
Tinggi badan : 158 cm
Temperatur : 37°C
2) Inspeksi / Observasi
- Statis
Keadaan umum pasien lemah, pasien masih bedrest, terpasang
infus, luka bekas operasi SC tertutup kasa.
- Dinamis
Pasien terlihat menahan kesakitan saat berubah posisi dari
telentang ke miring dan dari miring ke duduk.
3) Palpasi
Adanya nyeri tekan pada perut sekitar incisi. Adanya perbedaan suhu
pada daerah sekitar incisi dengan suhu bagian tubuh lain seperti
ekstremitas. Tonus otot teraba normal pada ekstremitas atas dan
ekstremitas bawah baik kanan dan kiri.
4) Joint Test
a) Pemeriksaan Gerak Dasar
- Gerak Aktif
Anggota Gerak Atas : pasien mampu melakukan gerakan
(1) fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi shoulder, (2) fleksi
dan ekstensi elbow dan (3) dorsofleksi dan palmarfleksi wrist
secara aktif dan full ROM tanpa nyeri pada daerah perut
sekitar incisi.
Anggota Gerak Bawah : pasien mampu melakukan gerakan
(1) fleksi, abduksi dan adduksi hip, (2) fleksi dan ekstensi
knee dan (3) dorsofleksi dan plantarfleksi ankle secara aktif
namun belum full ROM karena adanya nyeri pada daerah
perut sekitar incisi.
- Gerak Pasif
Pemeriksaan tidak dilakukan.
- Gerak Isometrik
Pemeriksaan tidak dilakukan.
b) Pemeriksaan Gerak Pasif Accessory
Pemeriksaan tidak dilakukan.
5) Muscle Test
- Kepala
Gerakan Nilai
Kanan Kiri
Fleksi 4
Ekstensi 4
Side fleksi 4 4
Rotasi 4 4

- Shoulder
Gerakan Nilai
Kanan Kiri
Fleksi 4 4
Ekstensi 4 4
Abduksi 4 4
Adduksi 4 4

- Elbow & Wrist


Gerakan Nilai
Kanan Kiri
Fleksi elbow 4 4
Ekstensi elbow 4 4
Dorso fleksi wrist 4 4
Palmarfleksi wrist 4 4
Ulnar deviasi 4 4
Radial deviasi 4 4

- Hip
Gerakan Nilai
Kanan Kiri
Fleksi 3+ 3+
Ekstensi - -
Abduksi 3+ 3+
Adduksi 3+ 3+

- Knee
Gerakan Nilai
Kanan Kiri
Fleksi 4 4
Ekstensi 4 4

- Ankle
Gerakan Nilai
Kanan Kiri
Dorsofleksi 4 4
Plantarfleksi 4 4
Inversi 4 4
Eversi 4 4

6) Neurological Test
- Pemeriksaan reflex fisiologis
Reflex tendon Hasil
Kanan Kiri
Biceps
Triceps
Patella

7) Kemampuan Fungsional dan Lingkungan Aktivitas


- Kemampuan fungsional
a) Pasien sudah mulai mampu miring secara mandiri
b) Pasien mampu duduk namun dengan bantuan minimal
c) Pasien mampu makan dan minum secara mandiri
d) Pasien belum mampu berdiri dan berjalan secara mandiri
e) Pasien melakukan aktivitas toileting dengan bantuan
- Lingkungan aktivitas
a) Pasien masih berada di rumah sakit
b) Ruang rawat inap pasien jauh dari kamar mandi
8) Pemeriksaan Spesifik
- Pemeriksaan nyeri menggunakan Wong’s Baker Face Pain Scale

Nyeri diam Nyeri tekan Nyeri gerak

- Pemeriksaan Homan’s sign / DVT : Negatif


- Pemeriksaan kemampuan menggunakan modified index barthel
Aktivitas Nilai
Makan 2
Minum 0
Perawatan diri 0
Berpakaian 1
BAK 1
BAB 2
Penggunaan Toilet 1
Transfer 2
Mobilisasi 2
Naik turun tangga 0
TOTAL 11

Interpretasi nilai : 11 (Ketergantungan aktivitas sedang)


c. Underlying Proccess (Clinical Reasoning)

Riwayat melahirkan SC
pada 2 anak sebelumnya

Melahirkan anak ke-4


secara SC

Anestesi Incisi pada daerah perut

Timbul proses radang

Merangsang pengeluaran algogenic pain


(histamine dan prostaglandin)

Timbul nyeri

Imobilisasi dan intoleransi


aktivitas

Penurunan kemampuan
fungsional

Breathing exercise Senam nifas Mobilisasi dini

Penurunan nyeri

Peningkatan kemampuan
fungsional
d. Diagnosis Fisioterapi
1) Impairment
- Adanya nyeri pada daerah perut sekitar incisi
- Penurunan kekuatan otot perut
2) Functional Limitation
- Terjadi penurunan kemampuan fungsional
3) Disability / Participation Restriction
- Pasien mengalami keterbatasan melakukan aktivitas sosial karena
masih di rawat inap
e. Program Fisioterapi
1) Tujuan Jangka Panjang
Mengembalikan kemampuan fungsional pasien seoptimal mungkin
2) Tujuan Jangka Pendek
- Mencegah terjadinya DVT
- Mengurangi nyeri
- Meningkatkan kekuatan otot perut
- Melatih mobilisasi sedini mungkin
3) Teknologi Intervensi Fisioterapi
- Breathing Exercise
- Senam Nifas
- Mobilisasi dini
f. Rencana Evaluasi
- Pengukuran nyeri dengan wong baker fase pain scale
- Pengukuran kemampuan fungsional menggunakan modified index
barthel
g. Prognosis
- Quo ad vitam : baik
- Quo ad sanam : baik
- Quo ad cosmeticam : baik
- Quo ad functionam : baik
h. Pelaksanaan Terapi
- Breathing exercise
Posisi pasien berbaring telentang di bed kemudian pasien diminta
untuk mengambil napas panjang dari hidung pada saat mengangkat
lengan ke atas. Dilanjutkan dengan menghembuskan napas secara
perlahan sambil menurunkan lengan ke posisi semula. Latihan
diulangi sebanyak 10 repetisi.
- Senam nifas
1) Sebelum senam nifas, dilakukan pemeriksaan homan’s sign.
Apabila hasil pemeriksaan negatif, maka senam nifas indikasi
untuk dilakukan. Namun, jika hasil pemeriksaan positif, maka
senam nifas kontraindikasi untuk dilakukan.
2) Posisi pasien berbaring telentang di bed.
3) Pasien diminta untuk melakukan gerakan dorsofleksi,
plantarfleksi dan sirkumduksi ankle secara aktif sebanyak 10
repetisi. Dilakukan pada pergelangan kaki kanan dan kiri secara
bergantian.
4) Pasien diminta untuk melakukan gerakan fleksi dan ekstensi knee
secara aktif sebanyak 10 repetisi. Dilakukan pada lutut kanan dan
kiri secara bergantian.
5) Pasien diminta untuk melakukan gerakan fleksi, ekstensi, abduksi
dan adduksi hip secara aktif sebanyak 10 repetisi. Dilakukan pada
hip kanan dan kiri secara bergantian.
6) Pasien diminta untuk menyilangkan kaki kanan di atas kaki kiri
kemudian mengkontraksikan otot dasar panggul. Dilakukan
sebanyak 10 repetisi dan diulangi pada kaki yang lain.
7) Pasien diminta untuk mengkontraksikan otot perut dan dilakukan
sebanyak 10 repetisi.
8) Pasien diminta untuk meletakkan tangan di bahu. Kemudian
instruksikan untuk memutar lengan ke depan dan ke dalam
sebanyak 10 repetisi.
9) Pasien diminta untuk meletakkan tangan di bahu. Kemudian
instruksikan untuk memutar lengan ke belakang dan luar
sebanyak 10 repetisi.
10) Pasien diminta untuk menggerakan fleksi, ekstensi, sidefleksi
kanan dan kiri serta rotasi kanan dan kiri masing-masing gerakan
dilakukan sebanyak 10 repetisi.
- Mobilisasi dini
1) Latihan miring dari posisi telentang
2) Latihan duduk di tepi bed
3) Latihan berdiri dari posisi duduk
4) Latihan berjalan
i. Evaluasi dan Tinjak Lanjut
- Pengukuran nyeri dengan wong baker fase pain scale

Terapi 1 :
Nyeri diam Nyeri tekan Nyeri gerak

Terapi 2 :
Nyeri diam Nyeri tekan Nyeri gerak
- Evaluasi kemampuan fungsional menggunakan modified index
barthel
Aktivitas Nilai
T1 T2
Makan 2 2
Minum 0 1
Perawatan diri 0 1
Berpakaian 1 2
BAK 1 2
BAB 2 2
Penggunaan Toilet 1 2
Transfer 2 3
Mobilisasi 2 3
Naik turun tangga 0 1
TOTAL 11 19
Interpretasi nilai :
T1 : 11(ketergantungan aktivitas sedang)
T2 : 19 (ketergantungan aktivitas ringan)

j. Hasil Terapi Akhir


Pasien bernama Ny. A.S. berusia 38 tahun dengan diagnosis medis pasien
melahirkan SC telah dilakukan tindakan fisioterapi berupa breathing
exercise, senam nifas dan mobilisasi dini sebanyak 2 kali terapi (tanggal
6-7 Agustus 2019) dan kini pasien sudah mengalami perubahan yaitu
berupa penurunan nyeri dan terjadi peningkatan aktivitas fungsional.