Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PENDIDIKAN INKLUSI
“Keberagaman Peserta Didik dengan Berbagai Latar Belakang”

KELOMPOK 5 :
1. HUSNI WULANDARI (17129142)
2. MEGA SRI DAMORA (17129354)
3. M. FAUZAN ALFARIZI (17129452)
4. NABILA MAHARANI (17129155)

Dosen Pembimbing :
SAFARUDDIN, S.Pd, M.Pd

17 BKT 09
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil’alamin, puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT,


karena dengan rahmat, taufik serta hidayah-Nya tugas kolektif yang berbentuk makalah
dengan judul “Keberagaman Peserta Didik dengan Berbagai Latar Belakang” ini dapat
terselesaikan dengan tepat waktu. Dan tidak lupa shalawat serta salam kita ucapkan
kepada nabi Muhammad SAW.

Makalah ini disusun sebagai bahan diskusi yang akan kami presentasikan dan
merupakan implementasi dari program belajar aktif oleh Bapak Safaruddin, S.Pd, M.Pd
selaku Dosen pengajar mata kuliah PENDIDIKAN
INKLUSI.

Semoga dengan tersusunnya makalah ini bisa menambah khazanah keilmuan


dalam mempelajari PENDIDIKAN INKLUSI dan memberikan manfaat bagi
pembacanya. Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari masih banyak
kesalahan dan kekurangan didalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun senantiasa kami harapkan demi penyempurnaan makalah berikutnya.

Bukittinggi, 19 September 2019

Kelompok 5

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………......................................2

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….....3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah………………………………………..……..................4


B. Rumusan Masalah…………………………………………..………...................4
C. Tujuan Penulisan……………………………………….……….........................4

BAB II ISI

A. Keberagaman Peserta Didik ……..……….....................................................5


B. Perbedaan yang ada pada Individu Peserta Didik…………………….………….6
C. Faktor Penyebab Perbedaan Individu Peserta Didik…………………………….12

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan…………..………………………………………….......................14
B. Saran……………………..………………………………….................…........14

DAFTAR PUSTAKA………………………….………………………………...............15

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada proses pembelajaran, guru tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi
pelajaran saja atau yang biasa disebut dengan transfer ilmu. Sebab, di dalam pembelajaran
atau pendidikan, ada aspek penilaian yang harus dilakukan guru terhadap siswanya yaitu
aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor. Oleh karena itu, demi terwujudnya tujuan
belajar dengan hasil yang optimal, guru perlu mengenal masing-masing siswa, dimana setiap
siswa merupakan makhluk yang unik, secara lebih dekat. Untuk dapat mengenal siswa lebih
dekat maka guru perlu mengetahui hal-hal apa saja yang membedakan siswa satu dengan
siswa yang lainnya. Untuk itu, guru sangat perlu untuk memahami materi mengenal individu
siswa supaya kelak ketika menjadi guru dapat dengan tepat menentukan materi, metode, dan
tehnik penyampaian materi yang sesuai dengan kondisi siswa yang beragam di kelas dengan
harapan tujuan belajar dapat terwujud dengan hasil yang optimal.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan keberagaman peserta didik?
2. Apa saja keberagaman yang ada pada peserta didik?
3. Apa faktor penyebab perbedaan individu peserta didik?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa itu keberagaman peserta didik.
2. Untuk memahami latar belakang keberagaman peserta didik.
3. Untuk mengetahui faktor penyebab perbedaan individu peserta didik.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Keberagaman Peserta Didik

Dalam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu (i)
semua diri manusia mempuyai unsur-unsur kesamaan didalam pola perkembangannya dan
(ii) di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia-secara
biologis dan sosial tiap-tiap individu mempunyai kecenderungana berbeda. Perbedaan-
perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif.
Sejauh mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau
kombinasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut.

Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini disebut
perbedaan individu atau perbedaan individual. Makna “perbedaan” dalam “perbedaan
individual” menurut Lindgreen (1980) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada
aspek fisik maupun psikologis. Gerry (1963) dalam buku perkembangan peserta didik karya
Sunarto dan B. Agung Hartono mengategorikan perbedaan individual seperti berikut:

1. Perbedaan fisik, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan,
dan kemampuan bertindak.
2. Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga, dan suku.
3. Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
4. Perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah.

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat kita peroleh bahwa perbedaan individual
adalah hal-hal yang berkaitan dengan “psikologi pribadi” yang menjelaskan perbedaan
psikologis maupun fisik antara orang-orang serta berbagai persamaannya.

Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa yang berbeda satu
sama lain. Siswa yang berada di dalam sebuah kelas, tidak terdapat seorangpun yang sama
kecmungkinan ada dua orang kelihatannya sama kalau anak tersebut kembar tetapi antara
keduanya tentu terdapat perbedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh guru tentang

5
siswanya adalah perbedaan fisiknya : seperti tinggi badan, bentuk badan, warna kulit, bentuk
muka, dan semacamnya.

Dari fisik, seorang guru cepat mengenal sisiwa di kelasnya satu persatu. apabila
ditelusuri secara cermat siswa yang satu dengan yang lain tentu setiap individu memiliki
sifat-sifat psikis yang berbeda-beda.

B. Perbedaan yang ada pada Individu Peserta Didik

Berikut adalah beberapa perbedaan pada individu:

1. Perbedaan Kognitif

Menurut Bloom, proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah


menghasilkan tiga pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai taxonomi Bloom,
yaitu kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif
merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Hasil belajar
dalam hal ini merupakan perpaduan antara pembawaan dengan pengaruh lingkungan.
Proses pembelajaran adalah upaya menciptakan lingkungan yang bernilai positif,
diatur dan direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang dimiliki oleh anak.

Tingkat kemampuan kognitif tergambar pada hasil belajar yang diukur dengan
tes hasil belajar. Tes hasil belajar menghasilkan kemampuan kognitif yang bervariasi,
sebab pada dasarnya setiap individu memiliki persepsi tentang hasil pengamatan
terhadap suatu objek yang berbeda-beda. Intelegensi (IQ) sangat mempengaruhi
kemampuan kognitif seseorang. Hasil – hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai
kemampuan kognitif berkolerasi positif dengan tingkat kecerdasan seseorang.

2. Perbedaan dalam Kecakapan Bahasa

Bahasa adalah salah satu kemampuan individu yang penting sekali dalam
kehidupannya. Kemampuam berbahasa merupakan kemampuan individu untuk
menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang
bermakna, logis, dan sistematis. Kemampuan berbahasa setiap individu berbeda.
6
Kemampuan ini sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan
termasuk faktor fisik (organ untuk bicara). Lancar atau tidaknya kemampuan
berbahasa seseorang bergantung pada kondisi lingkungan dan pembiasaannya dalam
berkomunikasi.

3. Perbedaan dalam Kecakapan Motorik

Kecakapan motorik atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan


untuk melakukan koordinasi kerja syaraf motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat
(otak) untuk melakukan kegiatan. Kegiatan ini terjadi karena kegiatan kerja syaraf
yang sistematis. Alat indra menerima rangsangan, rangsangan tersebut diteruskan
melalui syaraf sensoris ke syaraf pusat (otak) untuk diolah, dan hasilnya dibawa oleh
syaraf motorik untuk memberikan reaksi dlamm bentuk gerakan- gerakan atau
kegiatan. Dengan demikian ketepatan kerja jaringan syaraf akan menghasilkan suatu
bentuk kegiatanh yang tepat (sesuai antara rangsangan dan responnya). Kerja ini akan
menggambarkan tingkat kecakapan motorik.

Syaraf pusat (otak) yang melaksanakan fungsi sentral dalam proses berfikir
merupakan faktor penting dalam koordinasi kecakapan motorik. Ketidak tepatan
dalam pembentukan persepsi dan penyampaian perintah akan menyebabkan
kekeliruan respon atau kegiatan yang kurang sesuai dengan tujuan.

Bertambahnya umur seseorang mengindikasikan adanya kematangan. Hal ini


akan menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam berbagai hal, seperti kekuatan
untuk mempertahankan perhatian, koordinasi otot, kecepatan berpenampilan,
keajegan untuk mengontrol, dan resisten terhadap kelelahan. Sehingga semakin
bertambahnya usia seseorang akan menunjukkan kecakapan motorik yang makin
tinggi.

Dapat disimpulkan bahwa kemampuan motorik dipengaruhi oleh kematangan


fisik dan tingkat kemampuan berfikir. Karena kematangan fisik dan kemampuan
berfikir setiap individu berbeda sehingga kecakapan motorik setiap individu akan
berbeda pula.

7
4. Perbedaan dalam Latar Belakang

Sekelompok individu dengan perbedaan latar belakang dan pengalaman dapat


memperlancar atau sebaliknya menghambat prestasi belajar mereka. Misalnya,
pengalaman-pengalaman belajar yang dimiliki anak dirumah mempengaruhi
prestasinya dalam situasi belajar yang disajikan di sekolah.

Latar belakang individu dapat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Faktor
dari dalam misalnya, kecerdasan, kemauan, bakat, minat, emosi, perhatian, kebiasaan
bekerja sama, dan kesehatan yang mendukung belajar. Anak-anak juga berbeda
diapandang dari segi latar belakang budaya dan etnis. Motivasi untuk belajar berbeda
antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Perbedaan latar belakang, yang
mliputi perbedaan sisio-ekonomi sosio cultural, amat penting artinya bagi
perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada
pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.

a. Perbedaan Latar Belakang Status Sosial Ekonomi

Status ekonomi adalah kelompok orang berdasarkan karakteristik


ekonomi, individual, dan pekerjaannya. Kelas sosial menunjukkan lebih dari
sekedar tingkat penghasilan dan pendidikan. Bersama kelas sosial terdapat
seperangkat perilaku, harapan, dan sikap yang ditemukan dimana-mana, yang
saling bersinggungan dengan dan dipengaruhi oleh faktor-faktor budaya lainnya.
Asal kelas sosial siswa mempunyai efek yang sangat besar terhadap sikap dan
perilaku di sekolah.

Perbedaan yang besar dalam faktor ekonomi yang sangat dirasakan oleh
individu yang berasal dari golongan ekonomi lemah, dikalangan mereka terutama
anak-anak tidak mustahil akan timbul kecemburuan sosial, perasaan rendah diri
dan tidak nyaman bergaul serta perasaan asing dan merasa ada jurang perbedaan
dari kelompok atau kalangan orang-orang kaya. Untuk menanggulangi masalah
ini memerlukan adanya bimbingan baik terhadap mereka yang datang dari
golongan tidak mampu atau sebaliknya.

8
b. Perbedaan Latar Belakang Budaya dan Etnis

Anak-anak juga berbeda diapandang dari segi latar belakang budaya dan
etnis. Perbedaan budaya merujuk pada norma, tradisi, perilaku, bahasa, dan
persepsi bersama tentang suatu kelompok. Latar belakang budaya masing-masing
anak dipengaruhi oleh suku bangsa, status sosial ekonomi, agama, bahasa
keluarga, jenis kelamin, dan identidtas serta pengalaman kelompk lain.

Motivasi untuk belajar berbeda antara budaya yang satu dengan budaya
yang lainnya, layaknya anak-anak tertarik dan menilai pencapaiannya dalam suatu
pendidikan.

c. Kecerdasan Emosional

Emotional Intelligence atau sering disebut Emotional Quotient (EQ)


adalah kecerdasan emosional yang mencakup kesadaran diri, pengendalian
dorongan hati, ketekunan, semangat atau motivasi diri, empati, dan kecakapan
sosial.

Menurut Goleman, emotional intelligence terdiri dari 4 area :

 Developing emotional, seperti : kemampuan untuk memisahkan perasaan dari


tindakan.

 Managing emotions, seperti : mampu untuk mengendalikan amarah.

 Reading emotions, seperti : memahami perspektif orang lain.

 Handing relationships, seperti : kemampuan untuk memecahkan problem


hubungan.

d. Perbedaan fisik

Dapat dibedakan dari tinggi dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran,
penglihatan, dan kemampuan bertindak.

9
5. Perbedaan dalam Bakat

Bakat adalah kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Bakat dapat juga
diartikan sebagai kemampuan dasar yang menentukan sejauh mana keberhasilan
seseorang untuk memperoleh keahlian atau pengetahuan tertentu bilamana seseorang
diberi latihan-latihan tertentu. Misalnya seseorang yang mempunyai bakat numerical
yang baik, bila diberi latihan-latihan akuntansi keuangan, akan mudah untuk
menguasai masalah akuntansi, begitu pula sebaliknya.

Bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau


ketrampilan yang relatif bisa bersifat umum (misalnya bakat intelektual umum) atau
khusus (bakat akademis khusus). Bakat khusus juga disebut juga talent. Anak yang
memiliki bakat istimewa sering kali memiliki tahap perkembangan yang tidak
serentak. Ia dapat hidup dalam berbagai usia perkembangan, misalnya: anak berusia
tiga tahun, kalau sedang bermain seperti anak seusianya, tetapi kalau membaca
seperti anak berusia 10 tahun, kalau mengerjakan matematika seperti anak usia 12
tahun, dan kalau berbicara seperti anak berusia lima tahun. Yang perlu dipahami
adalah bahwa anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga
sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak
jarang membuat guru di sekolah mengalami kesulitan, bahkan sering merasa
terganggu dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa
biasanya memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar
sekaligus. Perkembangan bakat dimiliki secara individual. Bakat akan berkembang
dengan baik jika mendapat rangsangan atau kesempatan dan pemupukan secara tepat.
Sebaliknya, bakat tidak dapat berkembang sama sekali manakala lingkungan tidak
memberikan kesempatan untuk berkembang.

6. Perbedaan dalam Kesiapan Belajar

Belajar adalah sebuah proses yang berkesinambungan dari sebuah pengalaman


yang akan membuat suatu individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu (kognitif),
dari tidak mau menjadi mau (afektif) dan dari tidak bisa menjadi bisa (psikomotorik),
misalnya seseorang anak yang belajar mengendarai sepeda akan terlebih dahulu diberi

10
pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut mencoba untuk mengendarai sepeda
hingga menjadi bisa.

Proses belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan


ialah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal itu
terdapat berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus. Seseorang
siswa yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan
mengalami kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini ialah
kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil
belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan
seseorang dapat belajar. Sedangkan Proses kematangan dan belajar akan sangat
menentukan kesiapan belajar pada seseorang, misalnya seseorang yang proses
kematangan dan belajarnya baik akan memiliki kesiapan belajar yang jauh lebih baik
dengan seseorang yang proses kematangan dan belajarnya buruk. Perbedaan kesiapan
individu tidak saja disebabkan oleh keragaman dalam rentang kematangan tetapi juga
oleh keragaman dalam latar belakang sebelumnya.

Kondisi fisik yang sehat dalam kaitanya dengan kesehatan dan penyesuaian
diri yang memuaskan terhadap pengalaman-pengalaman disertai dengan rasa ingin
tahu yang amat besar terhadap orang-orang dan benda-benda membantu
perkembangan berbahasa dan belajar yang diharapkan. Sikap apatis, pemalu dan
kurang percaya diri akibat dari kesehatan yang kurang baik, cacat tubuh dan latar
belakang yang miskin pengalaman, mempengaruhi perkembangan pemahaman dan
ekspresi diri.

7. Perbedaan Tingkat Pencapaian

Salah satu bentuk nyata untuk melihat perbedaan anak adalah dengan
memeriksa hasil pencapaian dalam tes matematika standar. Tingkat pencapaian anak
merupakan suatu fungsi yang menunjukkan nilai belajar anak. Murid dalam posisi
puncak di suatu kelompok biasanya mampu belajar matematika dengan cepat,
sementara murid dengan posisi terendah di dalam kelas biasanya merupakan pebelajar

11
yang lambat. Pada posisi tengah-tengah, sekitar 50 persen diantaranya memiliki
kemampuan yang merata dalam pencapaian matematika.

8. Perbedaaan Lingkungan Keluarga

Anak-anak berasal dari berbagai lingkungan keluarga. Anak dari keluarga


berada dengan pendidikan yang memadai biasanya datang ke sekolah dengan latar
belakang berbagai pengalaman lebih cenderung menjadi pebelajar yang cepat.
Sebaliknya, anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dan dengan latar
belakang orang tua tanpa pendidikan cenderung menjadi pebelajar yang lambat.

Lingkungan keluarga selalu memberikan pengaruh terhadap sikap anak dalam


menghargai matematika. Penelitian menujukkan adanya korelasi positif antara sikap
anak terhadap matemtika dengan sikap orang tua terhadap mata pelajaran ini.

C. Faktor Penyebab Perbedaan Individu Peserta Didik

Perbedaan yang dimiliki antar satu individu dan individu yang lain sangat
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor bawaan dan juga faktor lingkungan. Dibawah ini
penjelasan singkat pengaruh dari kedua faktor tersebut dalam membentuk karakteristik
seorang individu.

1. Faktor Bawaan

Faktor bawaan merupakan faktor-faktor biologis yang dimiliki oleh seorang


individ yang diturunkan melalui pewarisan genetik dari orangtua. Setiap gen
membawa potensi ciri bawaan fisik dan mental yang berbeda pada tiap individu
sesuai dengan gen yang didapat dari kedua orangtua.Meskipun rata-rata kita
memiliki 50% gen yang sama dengan saudara kita, kumpulan gen kita tetap khas
kecuali kita adalah kembar identik. Perbedaan gen ini merupakan suatu alasan
mengapa kita berbeda dengan orang lain, baik secara fidik, psikologis maupun
perilaku bahkan dengan saudara kita sendiri. Selebihnya dipengaruhi oleh
lingkungan, karena kita tak pernah berada dilingkungan yang sama persis.

12
2. Faktor Lingkungan

Lingkungan merujuk pada segala sesuatu yang berada di luar diri seorang
individu. Faktor lingkungan ini meliputi banyak hal, mulai dari status sosial ekonomi
orangtua, pola gizi, pola asuh, budaya, dan lain sebagainya.

Faktor lingkungan ini juga terbagi kedalam dua bagian yaitu.

a. Faktor lingkungan statis yang meliputi pada wilayah tempat tinggal seseorang
yang menentukan karakteristiknya seperti orang pedesaan, orang pesisir
pantai,keadaan tempat dan alam lebih banyak bersifat statis sedangkan
lingkungan sosial bersifat dinamis. Lingkungan statis membawa pengaruh
pada individu yang berbeda di lingkungan tersebut.
b. Faktor lingkungan dinamis, faktor ini merupakan faktor sosial yang akan terus
berkembang seiring waktu, dan mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis
seorang individu. Seperti status sosial, budaya yang berkembang.Hal-hal
semacam itu akan membuat perbedaan sifat di antara mereka.

3. Pengaruh Faktor Campuran

Dari uraian di atas, baik uraian pertama maupun uraian kedua (pengaruh
faktor lingkungan) dan pendidikan ternyata bahwa baik keturunan maupun faktor
lingkungan sangat berpengaruh terhadap individu yang bersangkutan.

13
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penulisan makalah ini dapat diambil kesimpulan bahwa seorang guru harus tahu
bagaimana mengatasi keberagaman peserta didiknya. Sebab, siswa yang berada di dalam
sebuah kelas, tidak terdapat seorangpun yang sama kecmungkinan ada dua orang
kelihatannya sama kalau anak tersebut kembar tetapi antara keduanya tentu terdapat
perbedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh guru tentang siswanya adalah
perbedaan fisiknya : seperti tinggi badan, bentuk badan, warna kulit, bentuk muka, dan
semacamnya.

Dari fisik, seorang guru cepat mengenal sisiwa di kelasnya satu persatu. apabila
ditelusuri secara cermat siswa yang satu dengan yang lain tentu setiap individu memiliki
sifat-sifat psikis yang berbeda-beda.

B. Saran

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya. Maka dari itu
kami butuh kritik dan saran serta dukungan dari dosen pembimbing dan pembaca. Walaupun
demikian penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan
serta bermanfaat bagi pembaca sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

14
DAFTAR PUSTAKA

Delphie, Bandi. 2006. Pembelajaran Anak Tunagrahita; SuatuPengantar dalam Pendidikan


Inklusi. Bandung: PT. RefikaAditama.

Direktorat Pendidikan Sekolah Luar Biasa (PSLB). 2007. PedomanUmum Penyelenggaraan


Pendidikan Inklusi. Jakarta: Direktorat Pendidikan Sekolah Luar Biasa (PSLB)

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen)

Kementrian Pendidikan Nasional(Kemendiknas)

Ishartiwi. 2010. Implementasi Pendidikan Inklusi Bagi AnakBerkebutuhan Khusus dalam Sistem
Persekolahan Nasional. Jurnal Pendidikan Khusus. Vol. 6 No. 1. Mei 2010, hlm. 1 – 9

Sutrisno. 2012. Signifikansi Pendidikan Inklusi dalam Mewujudkan Pendidikan untuk Semua.
Mukaddimah, Vol. 18, No. 1, 2012,hlm. 31 – 40.

15