Anda di halaman 1dari 10

MODUL II

MATA KULIAH BIOLOGI DASAR

a. Identitas Mata Kuliah


Mata Kuliah : Biologi Dasar
SKS/Kode Mata Kuliah : 3/18Y02111103
Semester : I (Ganjil) atau II (Genap)
Program Studi : Biologi
MataKuliah Prasyarat : -
Tim Dosen : Drs. Ambeng, M.Si dan Tim Dosen Biologi

b. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) :


Setelah mengikuti mata kuliah Biologi Dasar, mahasiswa mampu menjelaskan konsep
dasar pada organisme, dan interaksi organisme dengan lingkungan serta evolusinya
sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat dijadikan dasar pengembangan di
departemennya masing-masing

c. Judul Pokok Bahasan


Unit Dasar Kehidupan.

d. Metode Pembelajaran
 Luring (Offline): Bentuk kuliah,Metode Ceramah dan diskusi interaktif
 Daring (Online): Tugas-tugas (LMS Modul 2)

e. Sub Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK):


Setelah mengikuti proses pembelajaran tentang Unit dasar kehidupan, Mahasiswa
mampu menjelaskan:Sel, perkembangan teori sel, struktur dasar sel dan fungsi, Sel
prokariotik dan Sel eukariotik.

f. Perilaku Awal/ Entry Behavior


1. Mahasiswa membuat rangkuman mengenai unit dasar kehidupan
2. Mahasiswa yang akan melakukan presentasi telah membuat materi dalam betuk
powerpoint

g. Dosen Pengampu Pokok Bahasan


Drs. Ambeng, M.Si

h. Urutan Pembahasan
Pembahasan secara berurutan akan meliputi:
 Sel
 Perkembangan Teori Sel
 Struktur Dasar Sel Dan Fungsi
 Sel Prokariotik

II-1
 Sel Eukariotik
i. Uraian Materi
 Sel
Sel adalah unit terkecil dari semua makhluk hidup, memiliki struktur dasar dan fungsi.
Sel memiliki organisasi molekuler yang rumit dengan sistem biokimiawi yang mampu
menyimpan informasi, mengubah informasi dalam bentuk sintesis molekul sel, menggunakan
sumber energi untuk aktivitas. Sel mampu bergerak dan menyeimbangkan perubahan
lingkungan yang berfluktuasi dengan mengubah reaksi biokimiawi internal. Sel mampu
memperbanyak diri dan meneruskan informasi herediternya. Semua aktivitas tersebut
terkemas dalam unit-unit struktural yang memiliki bentuk miniatur. Olehnya itu hampir
semua sel organisme memiliki dimensi yang mikroskopis, tidak nampak dengan mata
telanjang.

Pada beberapa kelompok organisme seperti bakteri dan protozoa, pengertian sel dan
individu dianggap sama. Setiap sel dari organisme tersebut berfungsi secara independen dan
mampu melakukan semua aktivitas kehidupan. Pada organisme yang lebih kompleks
sebagian besar aktivitas kehidupannya terbagi pada beberapa kelompok sel khusus. Setiap sel
dari organisme multiseluler juga memiliki kemampuan aktivitas yang independen.
Kebanyakan dari sel tersebut, apabila dipisahkan dan ditumbuhkan pada kondisi yang sesuai
maka akan dapat bertahan hidup dengan baik, termasuk mampu untuk tumbuh dan
berkembang biak.

 Perkembangan Teori Sel


Pada permulaan abad ke XVII Galileo Galilei menyusun dua lensa kaca di dalam sebuah
silinder yang digunakan untuk mengamati insekta. Peristiwa tersebut tercatat sebagai awal
mula observasi biologis menggunakan mikroskop. Dianggap pula bahwa studi dasar tentang
sel sebagai bagian dari kehidupan juga dimulai. Robert Hooke, seorang curator instrument
untuk Royal Society di Inggeris menggunakan mikroskop untuk mengamati irisan tipis gabus
dari jaringan pohon tua yang telah mati. Pada irisan tersebut diamati adanya ruang kosong
yang disebutnya cellula (bahasa Latin) yang berarti “bilik-bilik kecil”. Selanjutnya dari kata
tersebut lahirlah istilah “cell” yang ditetapkan untuk memberikan batasan biologisnya.
Pada tahun 1883, Robert Brown mempublikasikan penemuannya tentang struktur
mikroskopik dari organ reproduksi tumbuhan. Dijelaskan bahwa nukleus merupakan ciri
utama yang ada pada sel tumbuhan sebagai unit penting dari jaringan hidup tumbuhan. dan

II-2
sebagai unit fundamental dari organisme hidup. Selanjunya pendapat tersebut menjadi bagian
dari teori sel.Teori sel masing-masing dikembangkan oleh Schwann dan Mathiass Schleiden
pada tahun 1830 (Postulat I & II), serta Rudolf Virchov pada tahun 1855 (Postulat III) yaitu:
I. Semua organisme hidup tersusun dari sel yang berinti.
II. Sel adalah unit fungsional terkecil dari kehidupan.
III. Sel berasal dari sel sebelumnya melalui proses pembelahan (omne cellula cellula)

 Struktur Dasar Sel dan Fungsi


Sel memiliki bentuk dan ukuran yang sangat bervariasi pada berbagai tumbuhan, hewan
dan mikroorganisme, namun memiliki ciri-ciri dasar yang serupa. Semua sel memiliki
membran plasma yang mengelilingi bagian dalam sel yang disebut sitoplasma.

2
3

Gambar 2.1. Bentuk dasar sel organisme. 1) Inti; 2) Sitoplasma; 3) Membran plasma

Bahan hereditasnya adalah DNA yang terkumpul dalam inti. Ketiga bagian tersebut (Gambar
2.1) adalah struktur dasar dari semua sel organisme, dengan batasan sebagai berikut:
(1) Membran plasma: membran luar sel, tersusun dari 2 lapis lemak dimana protein
melekat. Memisahkan bagian internal dari lingkungannya dan meneruskan serta mengontrol
keluar masuknya senyawa. Bertindak sebagai reseptor untuk informasi yang dapat
mempengaruhi sifat sel.
(2) Inti : bagian bermembran mengandung informasi herediter (DNA) dan molekul yang
berfungsi dalam pembacaaan, modifikasi dan pewarisannya.
(3) Sitoplasma: semua bagian yang tertutupi oleh membran plasma, kecuali inti.
Pengecualian pada sel bakteri dimana pada bagian ini terjadi reaksi metabolis. Tercakup pula
di dalamnya partikel dan filament yang terbenam dalam substansi yang semifluida. Terdapat
filamen dari skeleton sel yang memberi bentuk dan memungkinkan pergerakan sel. Semua
bahan hidup dari sel termasuk pula sitoplasma dan nucleus secara keseluruhan disebut
protoplasma.

II-3
 Sel Prokariotik
Sel prokariot memiliki ukuran yang tergolong kecil, umumnya berukuran tidak lebih
dari beberapa mikrometer. Membran plasma sel ini dikelilingi oleh lapisan luar yang kaku
disebut dinding sel, memiliki ketebalan 15-100 nm atau lebih. Dinding sel tersebut
kadang-kadang juga diselubungi kapsul yang berupa gel. Organisme yang memiliki
bentuk sel prokariot adalah bakteri (Gambar 2.2) dan Cyanophycea atau alga hijau biru
“Blue Green Algae” (BGA).

Gambar 2.2. Sel prokariot


A. Membran Plasma
Membran plasma pada prokariot memiliki berbagai fungsi penting yaitu:
a) Transport: mengontrol pergerakan senyawa larut dalam air yang akan masuk atau
keluar sitoplasma
b) Reseptor: membran plasma mengandung protein yang bertindak sebagai reseptor
melalui molekul spesifik dari lingkungan sekeliling, berpenetrasi menembus dinding sel.
c) Replikasi dan pembelahan: Membran plasma juga diduga berperan/terlibat dalam
replikasi dan pembelahan material inti.

B. Nukleoid
Nucleoid dari prokariot terbenam langsung dalam sitoplasma, tidak dikelilingi oleh
membran. Strukturnya tidak beraturan, tersusun atas benang-benang halus yang memiliki
ketebalan 3 - 5 nm. Apabila diisolasi, nucleoid bakteri nampak berupa satu molekul DNA
tunggal yang berbentuk sirkuler. Escherichia coli adalah contoh bakteri yang banyak

II-4
dipelajari secara rinci, memiliki nucleoid sirkuler yang mengandung DNA tunggal yang
panjangnya 1360 mikrometer, dengan diameter 2 - 4 nm dan BM 2,5 x 109. Bakteri lain
memiliki DNA yang panjangnya berkisar 250 mikrometer – 1500 mikrometer. Oleh karena
DNA memiliki panjang yang lebih besar dari tempat terkonsentrasinya maka DNA tersebut
berlipat-lipat. Lipatan DNA tersebut dinamakan belitan super (“supercoil”).
C. Dinding Sel
Sel bakteri dikelilingi oleh suatu dinding sel yang tebalnya 9 – 30 nm. Kerumitan dinding
selnya tergantung pada jenisnya. Dinding selnya mengandung mukopeptida yang menjadi
dasar pengelompokannya yaitu Bakteri Gram positif dan Bakteri Gram negatif. Prinsip
penggolongan berdasarkan pada tipe dinding sel ini ditemukan oleh Christian Gram (1880)
seorang bangsa Denmark.
D. Plasmid
Pada bakteri ditemukan adanya material herediter di luar kromosom (ekstrakromosomal)
yang disebut plasmid. Plasmid berupa molekul DNA beruntai ganda, sirkuler dan relatif
berukuran kecil, mengandung beberapa gen.
Plasmid dapat bereplikasi secara autonom, dan dapat disisipkan ke dalam kromosom sel
lain. Plasmid dapat dipindahkan dari satu sel ke sel lainnya secara alami maupun buatan
misalnya berturut-turut dalam proses rekombinasi alami dan rekayasa genetik.
Pada satu sel bakteri dapat ditemukan beberapa lusin plasmid dan jumlah tersebut relatif
tetap dari satu generasi ke generasi berikutnya.
E. Sitoplasma
Sitoplasma yang mengelilingi nucleoid dapat homogen atau granulair, mengandung:
a) Ribosom yang berukuran kecil (20 - 30 nm) dan berkelompok (polyribosom).
Ribosom bakteri mengandung lebih dari 50 macam protein. Merupakan tempat asam amino
dirakit untuk menjadi protein.
b) Mesosom merupakan invaginasi dari membran plasma yang berpenetrasi ke dalam
sitoplasma bakteri dan melekat pada nucleoid. Oleh beberapa ahli dianggap secara fungsional
sama dengan mitokondria. Beberapa ahli menyebutnya kondrioid yang berfungsi mengatur
pembelahan dan fotosintesis pada bakteri fotosintesis.
c) Vesicular dan vakuola serta senyawa yang merupakan hasil deposit, seperti lemak,
polisakarida, fosfat organic (polyphosphat) pula dapat dijumpai pada sitoplasma.
6. Flagella

II-5
Beberapa bakteri dapat bergerak cepat oleh adanya flagella yang keluar dari permukaan
sel. Flagella bakteri dibentuk dari molekul protein yang disebut flagelin. Kemampuan flagella
berotasi merupakan perbedaan yang mendasar dengan flagella pada organisme eukariot.
Kesederhanaan struktur sel prokariot nampak memperdayakan, karena kebanyakan
bakteri dan cyanobakteri mengandung system molekuler kompleks yang dapat menggunakan
berbagai senyawa sebagai sumber energi serta mampu mensintesa semua molekul organic
seperti H2O, CO2 dan sumber anorganik N, P, S. Pada kenyataannya prokariot adalah lebih
“versatile” dalam aktivitas biokimiawinya dibandingkan dengan tipe sel eukariot.

 Sel Eukariotik
Sel eukariot (Gambar 2.3) memiliki ukuran yang relatif lebih besar dan lebih kompleks
dibandingkan pada sel prokariot. Sistem membran dari sel eukariot membatasi nucleus dan
memisah-misahkan sitoplasma menjadi bagian-bagian yang disebut organel. Organel
merupakan suatu kantong bermembran. Bahan inti yang mengandung sebagian besar DNA
telah terkemas oleh membran sehingga disebut eukarion (inti sejati). Organisme yang
memiliki tipe sel ini termasuk semua tumbuhan dan hewan.

Gambar 2.3. Struktur sel Eukariot (Sel hewan)


A. Nukleus
Suatu organel yang berbentuk bulat atau oval berisi nukleoplasma. Nukleus memiliki dua
fungsi yaitu:
1. Membantu mengontrol perlewatan informasi yang terkandung dalam DNA.
2. Memisahkan DNA dari semua senyawa metabolisme dan alat-alat metabolisme di
dalam sitoplasma. Hal ini pula memudahkan pengemasan DNA bilamana akan berlangsung
pembelahan sel.

II-6
Nukleus dikelilingi oleh membran lipid bilayer dimana melekat pula berbagai protein.
Pada membran inti terdapat lubang yang menjadi tempat lalu lalang dan mengontrol
pertukaran senyawa spesifik antara nukleus dan sitoplasma.
Apabila sel eukariot yang mengalami pertumbuhan diamati di bawah mikroskop nampak
adanya dua atau lebih daerah yang tebal dengan bentuk yang tidak beraturan pada nukleus.
Setiap daerah tersebut merupakan sebuah nukleolus (jamak: nukleoli). Nukleoli merupakan
tempat protein dan subunit RNA dari ribosom dirakit. Subunit-subunit tersebut selanjutnya
meninggalkan nukleus masuk ke dalam sitoplasma dan menuju ke ribosom untuk melekat.
DNA eukariot menyerupai benang panjang dengan sejumlah protein yang berlekatan.
Beberapa protein tersebut merupakan enzim. Sebelum terjadi pembelahan sel, molekul DNA
memperbanyak diri dan menebal disebut kromosom. Dengan mikroskop cahaya area tersebut
akan nampak sebagai suatu struktur yang menebal. Kumpulan molekul DNA dalam keadaan
berkombinasi dengan protein kromosom histon dan non histon disebut kromatin. Inti eukariot
mengandung lebih banyak DNA dibanding pada nukleoid prokariot. Misalnya pada sel tubuh
manusia panjang totalnya adalah satu meter sedang pada amphibi (salamander) DNA dapat
mencapai 10 meter.
B. Retikulum Endoplasma Dan Ribosom
Organel ini berupa jalinan jala-jala halus (tubulus dan vesicular). Sifat-sifatnya bervariasi
tergantung pada kondisi fungsi dan fisiologis sel. RE berawal berada pada membran inti
selanjutnya menuju ke sitoplasma. RE dapat memiliki membran yang permukaannya kasar
atau halus oleh ada tidaknya ribosom yang melekat pada permukaannya. Pada sel-sel yang
mensintesa protein dalam jumlah yang besar maka permukaan RE dilapisi oleh ribosom
sedang pada sel-sel yang menghasilkan banyak lemak maka sebagian besar RE nya tidak
memiliki ribosom. RE halus berkembang baik pada sel-sel biji dan sel hewan yang
mensekresi hormon steroid. Demikian pula pada sel-sel hati RE menonaktifkan obat-obat
tertentu (drugs, psikotropika).
Ribosom merupakan tempat perakitan rantai polipeptida. Ribosom yang sedang
mensintesa protein akan terikat pada RE. Organel ini terdiri dari 2 sub unit yaitu sub unit
besar (50S) dan subunit kecil (30S). Pada sel-sel yang aktif mensintesa protein jumlah
ribosom dapat mencapai 25% dari berat kering sel.
C. Badan Golgi
Organel ini berupa sekumpulan kantong pipih yang dibatasi oleh membran. Terdapat
banyak pada sel-sel yang aktif terlibat dalam sekresi. Protein yang telah disintesis pada RE
dipindahkan ke organel ini, selanjutnya protein tersebut dapat ditambahkan karbohidrat. Oleh

II-7
karena itu organel ini merupakan tempat modifikasi protein dan lemak serta tempat perakitan
polisakarida. Selulosa yang disekresikan oleh tumbuhan dirakit pula pada organel ini.
D. Lisosom
Organel ini memiliki struktur yang agak bulat dibatasi oleh membran tunggal. Lisosom
dihasilkan oleh badan golgi yang memiliki protein. Merupakan tempat pengemasan berbagai
enzim hidrolisis seperti untuk memecah polisakarida, asam nukleat dan berbagai lemak.
Organel ini pula dapat mendegradasi sel-sel yang telah mati.
E. Mitokondria
Organel ini memiliki bentuk oval berukuran kurang dari 1 mikrometer. Sistem membran
ganda dari organel ini menyebabkan terbentuknya ruang. Memiliki 2 membran yaitu satu
berstruktur licin dan satu membran yang berlipat ke arah dalam sel membentuk ruang yang
disebut crista. Organel ini dapat membelah menjadi 2. Berfungsi sebagai pusat mesin sel
yaitu bahwa menjadi tempat aktivitas enzim untuk oksidasi dan pembentukan ATP, bahwa
mengubah energi makanan menjadi energi potensial dalam bentuk ATP untuk aktivitas sel.
Olehnya itu organel akan meningkat jumlahnya pada sel yang aktif cenderung menempati
bagian sel yang paling aktif pula misalnya pada sel saraf, sel otot dan sel sekretori.
F. Peroksisom
Organel ini berukuran 0.3 – 15 mikrometer yang dibatasi oleh membran tunggal. Berisi
enzim katalase yang mengkatalisa perombakan hidrogen peroksida (H2O2), produk yang
berpotensi bahaya pada metabolisme sel. Enzim ini juga berperan dalam perubahan lemak
menjadi karbohidrat dan dalam perubahan purin dalam sel. Pada sel hewan peroksisom
terdapat dalam sel hati dan ginjal. Pada tumbuhan organel ini disebut glikosisom, terdapat
dalam berbagai tipe sel yang sering mengandung bahan yang mengkristal. Banyak dijumpai
pada biji yang mengandung lemak seperti kacang-kacangan. Organel ini baik pada tanaman
maupun hewan diduga dihasilkan oleh retikulum endoplasmic.
Organel Khusus Tumbuhan
G. Plastida
Umumnya tumbuhan mengandung satu atau lebih plastida yang merupakan organel yang
khusus pada proses fotosintesis dan tempat penyimpanan. Dibedakan atas tiga yaitu :
a) Chloroplast ditemukan hanya pada tumbuhan dan ganggang tertentu. Organel ini
dibatasi oleh membran ganda yang berisi matriks fluida yang disebut stroma Bentuknya
seperti cakram atau oval berukuran 5 – 8 mikrometer dapat hijau, kuning kehijauan, coklat
keemasan. Warna yang dihasilkannya tergantung pada jenis dan kuantitas molekul pigmen
penyerap cahaya di dalam membrannya misalnya klorofil adalah pigmen hijau.

II-8
b) Chromoplast menyimpan pigmen merah atau coklat yang memberi warna pada
mahkota bunga, buah dan akar tertentu (wortel).
c) Amiloplast tidak berwarna terdapat pada bagian tanaman yang kurang mendapat
cahaya, kadang berfungsi sebagai tempat menyimpan butir amilum seperti pada batang, umbi
dan biji.

Gambar 2.4. Struktur Sel Eukariot (Sel Tumbuhan)

H. Vakuola Sentral
Pada tumbuhan yang telah dewasa selnya kadang-kadang memiliki vakuola sentral.
Organel ini menempati hampir 50-90% bagian dalam sel, organel dapat menyimpan asam
amino, gula ion dan senyawa toksik. Organel ini dapat menyebabkan meningkatnya ukuran
sel dan peningkatan absorpsi mineral.
I. Sentriol
Organel ini berupa silinder kecil yang tersusun dari sembilan mikrotubula. Sel hewan dan
mikroorganisme tertentu serta tumbuhan tingkat rendah memiliki dua sentriol pada
sitoplasma dekat inti sel. Sesaat sebelum sel membelah terlebih dahulu sentriol membelah.
Sentriol berperan utama pada sel yang bersilia dan berflagel.
J. Sitoskeleton
Sitoskeleton merupakan rangka sel yang memberi bentuk sel. Dibentuk dari sistem serabut
dan benang – benang tipis yang saling berhubungan membentang dari nucleus ke seluruh

II-9
membran plasma. Disusun atas mikrotubul, mikrofilamen dan filamen intermediat yang
merupakan subunit protein. Penyusun tersebut bersifat transient, kadang menghilang dan
muncul selama kehidupan sel. Sebelum sel membelah beberapa serat membentuk suatu
struktur “spindle” yang melekat pada kromosom dan menyebabkannya bergerak. Filamen
sitoskeleton yang bersifat permanen dapat ditemukan pada sel otot yang menjadi dasar
kontraksi, juga pada flagella serta cilia. Flagela merupakan struktur mikrotubul pada sel
berbentuk panjang.
j. Penutup
Fasilitator merangkum materi kuliah ini dengan memberikan esensi dari materi
bahasan dan keterhubungannya dengan materi bahasan sebelumnya dan berikutnya
k. Tugas

Fasilitator memberikan Tugas kepada peserta kuliah untuk membaca materi bahan
ajar/referensi dan membuat rangkuman tentang Unit Dasar Kehidupan meliputi: Sel,
Perkembangan Teori Sel, Struktur Dasar Sel Dan Fungsi, Sel Prokariotik, Sel Eukariotik.
.
Umpan Balik
Mahasiswa dapat mengajukan hal tentang kondisi yang dialami dan diharapkannya
untuk memahami materi bahasan terkait.
l. Referensi
Campbell, N., A., Jane, B., R., Michael, L., C., Steve, A., W., Peter V., M., Robert, B., J.,
2008, Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1, Penerbit erlangga.

II-10