Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Perubahan-perubahan yang terjadi bukan saja berhubungan dengan
lingkungan fisik, tetapi juga dengan budaya manusia. Hubungan erat antara
manusia dan lingkungan kehidupan fisiknya itulah yang melahirkan budaya
manusia. Budaya lahir karena kemampuan manusia mensiasati lingkungan
hidupnya agar tetap layak untuk ditinggali waktu demi waktu. Kebudayaan
dipandang sebagai manifestasi kehidupan setiap orang/kelompok orang yang
selalu mengubah alam. Kebudayaan merupakan usaha manusia, perjuangan
setiap orang atau kelompok dalam menentukan hari depannya. Kebudayaan
merupakan aktivitas yang dapat diarahkan dan direncanakan.
Dasar dan arah yang dituju dalam perencanaan kebudayaan adalah
manusia sendiri sehingga humanisasi menjadi kerangka dasar dalam strategi
kebudayaan. Pengertian Kearifan Lokal dilihat dari kamus Inggris Indonesia,
terdiri dari 2 kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti
setempat dan wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain maka
local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai-nilai,
pandangan-pandangan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh
kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.
Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius. Local genius ini
merupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quaritch Wales.
Haryati Soebadio mengatakan bahwa local genius adalah juga cultural
identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa
tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan
kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986:18-19). Sementara Moendardjito
(dalam Ayatrohaedi, 1986:40-41) mengatakan bahwa unsur budaya daerah
potensial sebagai local genius karena telah teruji kemampuannya untuk
bertahan sampai sekarang. Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari
beribu pulau, budaya, suku bangsa, bahasa, adat istiadat serta terdiri dari
beberapa agama. Teknologi makin berkembang sesuai dengan berubahan

1
zaman, teknologi membantu dalam perkembangan kearifan lokal agar kearifan
lokal yang ada tidak hilang karena tinggal oleh zaman.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu teknologi kearifan lokal?
2. Apa saja fungsi dari kearifan lokal?
3. Bagaimana bentuk-bentuk dri teknologi kearifan lokal?
4. Bagaimana perkembangan teknologi kearifan lokal?

C. Tujuan Penulisan
1. Agar pembaca mengetahui apa itu teknologi kearifan lokal.
2. Agar pembaca mengetahui dari kearifan lokal.
3. Agar pembaca mengetahui bentuk-bentuk dari teknologi kearifan lokal.
4. Agar pembaaca megetahui perkemangan dari teknologi kearifan lokal.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Teknologi Kearifan Lokal


1. Pengertian Teknologi Kearifan Lokal
Menurut Miarso (2007: 62) berpandangan teknologi adalah proses
yang meningkatkan nilai tambah, proses tersebut menggunakan atau
menghasilkan suatu produk, produk yang dihasilkan tidak terpisah dari
produk lain yang telah ada, dan karena itu menjadi bagian integral dari
suatu sistem. Seorang ahli sosiologi yang bernama Manuel Castells seperti
dikutip Capra (2004:107) mendefinisikan atau memberi pengertian
teknologi sebagai kumpulan alat,aturan dan prosedur yang merupakan
penerapan pengetahuan ilmiah terhadap suatu pekerjaan tertentu dalam
cara yang memungkinkan pengulangan. Berdasarkan para pendapat ahli
diatas maka dapat disimpulkan bahwa teknologi adalah sebuah alat yang
digunakan untuk membantu pekerjaan dan melakukan tugas-tugas untuk
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Kearifan Lokal dilihat dari kamus Inggris Indonesia, terdiri dari 2
kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat dan
wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain maka local wisdom
dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan,nilai-nilai,pandangan-pandangan
setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik,
yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal
adalah identitas atau kepribadian budaya sebuah bangsa yang
menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap, bahkan mengolah
kebudayaan yang berasal dari luar/bangsa lain menjadi watak dan
kemampuan sendiri Wibowo (2015:17).
Selanjutnya Istiawati (2016:5) berpandangan bahwa kearifan lokal
merupakan cara orang bersikap dan bertindak dalam menanggapi
perubahan dalam lingkungan fisik dan budaya. Suatu gagasan konseptual
yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus-
menerus dalam kesadaran masyarakat dari yang sifatnya berkaitan dengan

3
kehidupan yang sakral sampai dengan yang profan (bagian keseharian dari
hidup dan sifatnya biasa-biasa saja). Berdasarkan pendapat para ahli di
atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kearifan lokal merupakan gagasan
yang timbul dan berkembang secara terus-menerus di dalam sebuah
masyarakat berupa adat istiadat, tata aturan/norma, budaya, bahasa,
kepercayaan, dan kebiasaan sehari-hari.

B. Fungsi Kearifan Lokal


Menurut Sirtha (2003) sebagaimana dikutip oleh sartini (2004),
menjelaskan bahwa bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada dalam masyarakat
dapat berupa nilai, norma, kepercayaan,dan aturan-aturan khusus. Bentuk
yang bermacam-macam ini mengakibatkan fungsi kearifan lokal menjadi
bermacam-macam pula. Fungsi tersebut antara lain adalah :
1. Kearifan lokal berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya
alam.
2. Kearifan lokal berfungsi untuk mengembangkan sumber daya manusia.
3. Berfungsi sebagai pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
4. Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan.

C. Bentuk – bentuk Teknologi kearifan lokal


Bentuk-bentuk kearifan lokal adalah Kerukunan beragaman dalam wujud
praktik sosial yang dilandasi suatu kearifan dari budaya. Bentuk-bentuk
kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa budaya (nilai, norma, etika,
kepercayaan, adat istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus). Nilai-nilai
luhur terkait kearifan lokal meliputi Cinta kepada Tuhan, alam semester
beserta isinya, tanggung jawab, disiplin, dan mandiri, Jujur, Hormat dan
santun, Kasih sayang dan peduli, Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang
menyerah, Keadilan dan kepemimpinan, Baik dan rendah hati,Toleransi,cinta
damai, dan persatuan.
Hampir serupa dikemukakan oleh Wahyudi (2014: 13) kearifan lokal
merupakan tata aturan tak tertulis yang menjadi acuan masyarakat yang
meliputi seluruh aspek kehidupan, berupa Tata aturan yang menyangkut
hubungan antar sesama manusia, misalnya dalam interaksi sosial baik antar

4
individu maupun kelompok, yang berkaitan dengan hirarkhi dalam
kepemerintahan dan adat, aturan perkawinan antar klan, tata karma dalam
kehidupan sehari-hari. Tata aturan menyangkut hubungan manusia dengan
alam, binatang, tumbuh-tumbuhan yang lebih bertujuan pada upaya konservasi
alam.Tata aturan yang menyangkut hubungan manusia dengan yang gaib,
misalnya Tuhan dan roh-roh gaib. Kearifan lokal dapat berupa adat istiadat,
institusi, kata-kata bijak, pepatah (Jawa: parian, paribasan, bebasan dan
saloka).
Dalam masyarakat, kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam cerita
rakyat, nyayian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno
yang melekat dalam perilaku sehari-hari. Kearifan lokal ini akan mewujud
menjadi budaya tradisi, kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang
berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Selain itu bentuk kearifan lokal
dapat dikategorikan ke dalam dua aspek, yaitu kearifan lokal yang berwujud
nyata (tangible) dan yang tidak berwujud (intangible).
1. Berwujud Nyata (Tangible)
Bentuk kearifan lokal yang berwujud nyata meliputi beberapa aspek
berikut:
a. Tekstual
Beberapa jenis kearifan lokal seperti sistem nilai, tata cara,
ketentuan khusus yang dituangkan ke dalam bentuk catatan tertulis
seperti yang ditemui dalam kitab tradisional primbon, kalender dan
prasi (budaya tulis di atas lembaran daun lontar). Sebagai contoh,
prasi, secara fisik, terdiri atas bagian tulisan (naskah cerita) dan
gambar (gambar ilustrasi).
b. Bangunan/Arsitektural
Banyak bangunan-bangunan tradisional yang merupakan cerminan
dari bentuk kearifan lokal, seperti bangunan rumah rakyat di
Bengkulu. Bangunan rumah rakyat ini merupakan bangunan rumah
tinggal yang dibangun dan digunakan oleh sebagian besar masyarakat
dengan mengacu pada rumah ketua adat. Bangunan vernakular ini
mempunyai keunikan karena proses pembangunan yang mengikuti
para leluhur, baik dari segi pengetahuan maupun metodenya (Triyadi
dkk., 2010). Bangunan vernacular ini terlihat tidak sepenuhnya
didukung oleh prinsip dan teori bangunan yang memadai, namun
secara teori terbukti mempunyai potensi-potensi lokal karena dibangun
melalui proses trial & error, termasuk dalam menyikapi kondisi
lingkungannya.

5
c. Benda Cagar Budaya/Tradisional (Karya Seni)
Banyak benda-benda cagar budaya yang merupakan salah satu
bentuk kearifan lokal, contohnya, keris. Keris merupakan salah satu
bentuk warisan budaya yang sangat penting. Meskipun pada saat ini
keris sedang menghadapi berbagai dilemma dalam pengembangan
serta dalam menyumbangkan kebaikan-kebaikan yang terkandung di
dalamnya kepada nilai-nilai kemanusiaan di muka Bumi ini, organisasi
bidang pendidikan dan kebudayaan atau UNESCO Badan Perserikatan
Bangsa Bangsa, mengukuhkan keris Indonesia sebagai karya agung
warisan kebudayaan milik seluruh bangsa di dunia. Setidaknya sejak
abad ke-9, sebagai sebuah dimensi budaya, Keris tidak hanya
berfungsi sebagai alat beladiri, namun sering kali merupakan media
ekspresi berkesenian dalam hal konsep, bentuk, dekorasi hingga makna
yang terkandung dalam aspek seni dan tradisi teknologi
arkeometalurgi. Keris memiliki fungsi sebagai seni simbol jika dilihat
dari aspek seni dan merupakan perlambang dari pesan sang empu
penciptanya.
Ilustrasi lainnya adalah batik, sebagai salah satu kerajinan yang
memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya
Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Terdapat berbagai macam
motif batik yang setiap motif tersebut mempunyai makna tersendiri.
Sentuhan seni budaya yang terlukiskan pada batik tersebut bukan
hanya lukisan gambar semata, namun memiliki makna dari leluhur
terdahulu, seperti pencerminan agama (Hindu atau Budha), nilai-nilai
sosial dan budaya yang melekat pada kehidupan masyarakat.
2. Tidak Berwujud (Intangible)
Selain bentuk kearifan lokal yang berwujud, ada juga bentuk kearifan
lokal yang tidak berwujud seperti petuah yang disampaikan secara verbal
dan turun temurun yang dapat berupa nyanyian dan kidung yang
mengandung nilai-nilai ajaran tradisional. Melalui petuah atau bentuk
kearifan lokal yang tidak berwujud lainnya, nilai sosial disampaikan secara
oral/verbal dari generasi ke generasi.

D. Perkembangan Teknologi Kearifan Lokal


Teknologi kearifan lokal merupakan penggabungan teknologi dengan
kearifan lokal masyarakat setempat. Biasanya dimanfaatkan untuk menangani
masalah lingkungan setempat (banjir, kerusakan lingkungan dll). Teknologi
kearifan lokal terbagi atas:
 Local genius: juga disebut cultural identity adalah identitas atau
kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu
menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan
sendiri.

6
 Local wisdom (kearifan lokal/setempat): dapat dipahami sebagai gagasan-
gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai
baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.
 Social system atau sistem sosial: adalah salah satu wujud budaya, yaitu
dalam bentuk tata perilaku manusia yang terjadi akibat manusia
mempunyai gagasan sistem nilai budaya) tertentu

Berbagai teknologi yang berkembang saat ini pada dasarnya memiliki


potensi besar untuk merusak keseimbangan alam dan lingkungan. Berbagai
bentuk eksploitasi terhadap alam kini sudah merupakan hal yang dianggap
biasa. Begitu banyak elemen masyarakat hingga pemerintah mengadopsi
berbagai teknologi untuk mengekploitasi alam secara besar-besaran, tanpa
pernah memperhatikan aspek kearifan lokal yang berkembang di masyarakat.
Salah satu contoh adalah penggunaan teknologi penangkapan ikan di Kendari
yang tidak memperhatikan kearifan lokal masayarakat. Dampak yang
ditimbulkan adalah rusaknya sumberdaya air dan tersingkirkannya kearifan
lokal masyarakat Kendari. Sehingga pada akhirnya secara perlahan-lahan
kearifan-kearifan lokal tersebut memudar bahkan menghilang di tengah-
tengah kehidupan masyarakat. Selain itu juga berakibat kepada terjadinya
ketidakseimbangan lingkungan yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai
bencana alam. Masuknya berbagai teknologi tersebut menyingkirkan peran
kearifan lokal dalam mengelola sumberdaya alam dan lingkungan. Selain
perkembangan teknologi, tantangan-tantangan lain yang dihadapi kearifan
lokal-kearifan lokal masyarakat adalah pertambahan penduduk. Robert
Malthus dalam Suhartini menyatakan bahwa penduduk yang banyak
merupakan penyebab kemiskinan, hal ini terjadi karena laju pertumbuhan
penduduk yang mengikuti deret ukur tidak akan pernah terkejar oleh
pertambahan makanan dan pakaian. Sebagaimana kita tahu, Indonesia terletak
diantara dua samudra dan dua benua. Menjadikan negara tersebut memiliki
keanekaragaman suku dan budaya. Pembangunan di Indonesia sebenarnya
sudah meningkat setiap tahunnya, namun sayangnya belum merata di setiap
daerah. Salah satu penyelesaian yang mungkin dilakukan adalah,
pembangunan dengan mengutamakan kearifan lokaldan kearifan budaya lokal.

7
Namun tidak semua teknologi kearifan lokal yang telah di buat
mempunyai dampak positif ada juga yang berdampak negatif. Salah satunya
adalah alat tangkap ikan yaitu Cantrang. Alat ini awalnya sangat bermanfaat
karena alat tersebut dapat menghasilkan jumlah tangkapan ikan nelayan.

Cantrang merupakan alat tangkap ikan yang bersifat aktif dengan


menyentuh dasar perairan. Cantrang di operasikan dengan menebar tali
selambar secara melingkar kemudian, di lanjutkan dengan menurunkan jarring
cantrang kemudian kedua ujung tali selambardi pertemukan. Kemudian kedua
ujung tali ditarik kearah kapal sampai seluruh bagian jaring terangkat.
Cantrang membuat sapuan lintasan tali sangat luas. Ukuran cantrang dan tali
tergantung ukuran kapal. Pada kapal berukuran diatas 30 Gross Ton (GT)
yang di lengkapi dengan ruang penyimpanan berpendingin, dengan panjang
tali 6.000m. Dengan perhitungan sederhana jika keliling lingkaran 6.000m, di
peroleh luas daerah sapuan 289Ha. Penarikan menyebabkan pengadukan pada
bagian dasar perairan.

Selain itu Cantrang telah dimodifikasi oleh nelayan sehingga bukan hanya
ikan target saja yang terperangkap oleh Cantrang tapi juga ikan yang bukan
menjadi ikan target. Berdasarkan dampak yang telah di timbulkan Menteri Ibu
Susi Pudji Astuti Membuat sebuah aturan dalam PERMEN-KP Nomor 2 tahun
2015 tentang Larangan penggunaan alat penangkapan ikan Pukat Hela
(TRAWLS) dan Pukat Tarik (SEINE NETS) pada poin a. bahwa penggunaan
alat penangkapan ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di
wilayah pengelolaan Negara Republik Indonesia telah mengakibatkan
menurunya sumber daya ikan dan mengancam kelestarian lingkungan sumber
daya ikan, sehingga perlu di lakukan pelarangan penggunaan Pukat Hela
(Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets).

Contoh kearifan lokal masyarakat Indonesia yang memiliki dampak


positif. Elly Burhainy Faizal mencontohkan beberapa kekayaan budaya,
kearifan lokal di Nusantara yang terkait dengan pemanfaatan alam yang pantas
digali lebih lanjut makna dan fungsinya serta kondisinya sekarang dan yang
akan datang. Kearifan lokal terdapat di beberapa daerah:

8
1. Papua, terdapat kepercayaan te aro neweak lako (alam adalah aku). Gunung
Erstberg dan Grasberg dipercaya sebagai kepala mama, tanah dianggap sebagai
bagian dari hidup manusia. Dengan demikian maka pemanfaatan sumber daya
alam secara hati-hati.
2. Serawai, Bengkulu, terdapat keyakinan celako kumali. Kelestarian lingkungan
terwujud dari kuatnya keyakinan ini yaitu tata nilai tabu dalam berladang dan
tradisi tanam tanjak.
3. Dayak Kenyah, Kalimantan Timur, terdapat tradisi tana‘ ulen. Kawasan hutan
dikuasai dan menjadi milik masyarakat adat. Pengelolaan tanah diatur dan
dilindungi oleh aturan adat.
4. Masyarakat Undau Mau, Kalimantan Barat. Masyarakat ini mengembangkan
kearifan lingkungan dalam pola penataan ruang pemukiman, dengan
mengklasifikasi hutan dan memanfaatkannya. Perladangan dilakukan dengan
rotasi dengan menetapkan masa bera, dan mereka mengenal tabu sehingga
penggunaan teknologi dibatasi pada teknologi pertanian sederhana dan ramah
lingkungan.
5. Masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, Kampung Dukuh Jawa Barat.
Mereka mengenal upacara tradisional, mitos, tabu, sehingga pemanfaatan
hutan hati-hati. Tidak diperbolehkan eksploitasi kecuali atas ijin sesepuh adat.
6. Bali dan Lombok, masyarakat mempunyai awig-awig.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Teknologi adalah sebuah alat yang digunakan untuk membantu


pekerjaan dan melakukan tugas-tugas untuk menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sedangkan kearifan lokal sendiri
adalah gagasan yang timbul dan berkembang secara terus-menerus di
dalam sebuah masyarakat berupa adat istiadat, tata aturan/norma, budaya,
bahasa, kepercayaan, dan kebiasaan sehari-hari. Jadi teknologi kearifan
lokal ini adalah sebuah alat yang digunakan untuk mempermudah
kehidupan manusia untuk mengembangkan gagasan yang ada dalam
sebuah masyarakat berupa adat istiadat, nilai-nalai, norma, budaya yang
sudah dilakukan dalam kebiasaan sehari-hari. Kearifan lokal disini
memiliki fungsi: untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam,
mengembangkan sumber daya manusia, pengembangan kebudayaan dan
ilmu pengetahuan, sebagai petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan.
Kerarifan lokal yang ada di negara Indonesia ini beragam karena hal
itu kearifan lokal juga memiliki bentuk-bentuk yang bereda-beda. Bentuk-
bentuk kearifan lokal tersebut adalah kerukunan beragaman dalam wujud
praktik sosial yang dilandasi suatu kearifan dari budaya. Bentuk-bentuk
kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa budaya (nilai, norma, etika,
kepercayaan, adat istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus).
Teknologi kearifan lokal merupakan penggabungan teknologi dengan
kearifan lokal masyarakat setempat. Berbagai teknologi yang berkembang
saat ini pada dasarnya memiliki potensi besar untuk merusak
keseimbangan alam dan lingkungan.
B. Saran
Agar mengetahui kearifan lokal yang ada di negara Indonesia ini
atau khususnya di suatu wilayah maka kita harus bisa memahami nilai-
nilai budaya yang baik yang ada di dalam wilayah tersebut.

10
DAFTAR PUSTAKA

Ayat, Rohaedi. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta:


Pustaka Jaya.

Capra, Fritjof. 2004. Titik Balik Peradaban-Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan


Kebudayaan. Jakarta: Bintang Pustaka

Istiawati, FN. 2016. Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal


Adat Ammatoa dan Menumbuhkan Karakter Konservasi. Cendikia, 10(1).
1-18.

Miarso, Yusufhadi. 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta:


Kencana.

Wahyudi, Agus. 2014. Pesona Kearifan Jawa. Yogyakarta: Dipta.

Wibowo, A dkk. 2015. Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Di Sekolah.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

11

Anda mungkin juga menyukai