Anda di halaman 1dari 18

Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020

Indah Rizfa Hannanah 1406533762

BAB 6
Sumber : Principles of Auditing , Rick Hayes
Audit Kontemporer , Theodorus M. Tuannakotta

6.2. Planning Objective and Procedures


Tujuan planning di dalam proses audit adalah untuk menentukan jumlah
dan tipe dari bukti serta review yang dibutuhkan untuk memberikan assurans
kepada auditor bahwa tidak terdapat kesalahan saji materil di dalam laporan
keuangan. Di dalam kata lain, tujuan dari planning adalah untuk menentukan
waktu dan lingkup dari proses audit untuk meyakinkan auditor bahwa tidak
terdapat kesalahan saji materil di dalam laporan keuangan.
Prosedur-prosedur yang terdapat di dalam proses planning yaitu:
1. Melakukan prosedur audit untuk memahami perusahaan dan lingkungannya,
termasuk kontrol internal perusahaan.

2. Menilai risiko dari kesalahan saji materil di dalam laporan keuangan.

3. Menentukan materilitas.

4. Menyiapkan planning memorandum dan program audit yang berisi respon


auditor terhadap risiko-risiko yang telah teridentifikasi.

6.3 Understanding the Entity and its Environment


Prosedur untuk mendapatkan pemahaman

ISA 315 menyediakan gambaran umum mengenai prosedur yang harus


dilakukan oleh auditor dalam rangka mendapatkan pemahaman yang cukup
untuk menilai risiko dan mempertimbangkan risiko tersebut di dalam
membuat perencanaan audit.
Prosedur penilaian risiko seharusnya, atau minimum, merupakan kombinasi
dari:
1. Pemeriksaan atas manajemen atau yang lainnya di dalam
perusahaan. Melakukan diskusi dengan manajemen klien mengenai
tujuan dan ekspektasi mereka, serta rencana yang dilakukan untuk
mencapai tujuan tersebut merupakan hal yang penting. Namun,
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

walaupun manajemen secara umum merupakan sumber informasi yang


paling efektif dan efisien, mendapatkan informasi dari pihak lainnya
juga akan bermanfaat untuk mengurangi potensi bias.

2. Prosedur analitis. Prosedur ini akan membantu auditor di dalam


mengidentifikasi transaksi atau posisi yang tidak biasa. Prosedur
analitis bisa saja melibatkan perbandingan dari perusahaan di dalam
industri.

3. Observasi dan inspeksi. Prosedur ini terdiri dari area yang luas,
dimulai dari observasi mengenai kegiatan utama perusahaan, membaca
laporan manajemen atau kontrol internal manual, hingga inspeksi
dokumen. Kunjungan dan tour bangunan perusahaan akan membantu
auditor untuk membangun pemahaman yang lebih baik mengenai
kegiatan bisnis dan operasi klien. Pengetahuan akan fasilitas fisik dan
tata letak perusahaan juga bisa membuat auditor menanyakan
pertanyaan-pertanyaan yang tepat selama tahap perencanaan, atau
mendapatkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan
selanjutnya di dalam proses audit. Mengetahui tata letak akan
membantu merencanakan berapa banyak staff audit yang dibutuhkan
untuk mengobservasi persediaan fisik.

- Sumber Informasi Lainnya

Untuk menambahkan prosedur di atas, auditor juga dapat


mempertimbangkan untuk mendapatkan informasi dari sumber
lainnya, seperti:
- Penasihat hukum perusahaan

- Sumber data eksternal yang tersedia (laporan analis, jurnal industri,


data statistik pemerintah, survey, teks, koran keuangan, dll).

Diskusi Tim Audit

ISA 315 mengharuskan diskusi tim mengenai kerentanan dari laporan


keuangan terhadap salah saji materil. Alasan penting dari keharusan ini
adalah pertimbangan bahwa anggota tim secara bersama-sama
memiliki akses yang lebih luas terhadap orang-orang di dalam
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

organisasi serta wawasan mereka. Mungkin saja akan terdapat


keseimbangan yang lebih baik di dalam wawasan tim jika perspektif
terhadap perusahaan tidak hanya terbatas pada level top management.

Continuing Client
Jika klien merupakan klien lanjutan, working papers tahun
sebelumnya di review dan kepercayaan dapat ditempatkan di observasi dari
tahun sebelumnya. Permanent audit file klien seringkali berisi informasi
mengenai sejarah perusahaan dan jejak rekam dari kebijakan akuntansi yang
paling penting di tahun-tahun sebelumnya. Namun, sebelum bergantung
kepada working papers yang sudah ada, auditor juga harus memastikan bahwa
tidak ada perubahan signifikan di dalam aspek-aspek relevan dari perusahaan
atau lingkungan klien.

Memahami Perusahaan dan Lingkungannya


ISA 315 membedakan aspek-aspek relevan berikut ini
di dalam memahami perusahaan dan lingkungannya:

1. Industri, regulasi, dan faktor eksternal lainnya, termasuk kerangka


pelaporan keuangan yang berlaku.

2. Sifat perusahaan, termasuk pemilihan dan aplikasi dari kebijakan


akuntansi perusahaan.

3. Pemilihan dan aplikasi dari kebijakan akuntansi perusahaan, termasuk


alasan mengenai perubahan kelayakan bisnis nya serta konsistensi dengan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.

4. Tujuan dan strategi, dan risiko bisnis terkait yang dapat menghasilkan
salah saji materil di dalam laporan keuangan.

5. Pengukuran dan review atas kinerja keuangan perusahaan.

1. Industri, Regulasi, dan Faktor Eksternal Lainnya

Pemahaman akan industri klien merupakan hal yang penting karena industri
mereka memiliki risiko spesifik yang dihasilkan dari sifat dari bisnis itu
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

sendiri, konvensi akuntansi, dan regulasi industri. Memahami risiko bawaan


yang dimiliki oleh semua perusahaan di dalam industri tertentu membantu
auditor mengidentifikasi risiko bawaan dari perusahaan individu.

2. Sifat dari Perusahaan


Aspek dari tahap pemahaman ini berhubungan dengan
kegiatan utama perusahaan, yaitu: kegiatan operasi, investasi,
financing/ownership, dan bagaimana manajemen memberlakukan dan
mengungkapkan kebijakan akuntansi nya. Entity Level
Business Model membantu auditor mengatur seluruh informasi yang
dikumpulkan mengenai industri, perusahaan, audit strategis, dan transaksi
pihak terkait. Model ini dapat disiapkan untuk menyediakan ringkasan gambar
mulai dari bisnis perusahaan hinga manajemen perusahaan, board of directors,
dll untuk memfasilitasi komunikasi di dalam engagement team.

3. Tujuan, Strategi, dan Risiko Bisnis Terkait Perusahaan

Auditor juga akan mempertimbangkan tujuan dan strategi perusahaan, dan


risiko bisnis terkait yang mempengaruhi laporan keuangan. Tujuan perusahaan
adalah rencana keseluruhan rencana bagi perusahaan. Strategi adalah
pendekatan operasional yang manajemen lakukan untuk mencapai tujuannya.
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

Kondisi signifikan, kejadian, dan keadaan atau aksi yang dapat mempengaruhi
kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuan nya dan mengimplementasikan
strateginya dapat menimbulkan risiko bisnis. Konsep dari risiko bisnis lebih
luas daripada konsep risiko salah saji materil di dalam laporan keuangan.
Namun, sebagian besar risiko bisnis memiliki konsekuensi finansial, dan akan
berakhir ke dalam laporan keuangan.
4. Kerangka Strategis
Interpretasi menarik dari tahap “Pemahaman dan Penilaian Risiko”
diambil di dalam kerangka berorientasi strategi (strategy-oriented framework),
yang mengandung tahapan sebagai berikut:
 Pemahaman terhadap keuntungan strategis klien.

 Pemahaman akan risiko yang mengancam tujuan bisnis klien.

 Pemahaman akan proses utama dan kompetensi terkait untuk mewujudkan


keuntungan strategis.

 Pengukuran dan benchmark kinerja proses.

 Mendokumentasikan pemahaman terhadap kemampuan klien untuk


menghasilkan nilai dan menghasilkan arus kas di masa depan dengan
menggunakan bisnis model klien, analisis proses, indikator kinerja utama,
dan profil risiko bisnis.

 Menggunakan kerangka keputusan berdasarkan pengetahuan bisnis secara


komprehensif untuk membangun ekspektasi mengenai pernyataan yang
terkandung di dalam laporan keuangan secara keseluruhan.

 Membandingkan hasil keuangan yang dilaporkan terhadap ekspektasi dan


membuat test audit tambahan untuk menunjukkan perbedaan (gaps)
diantara ekspektasi.

5. Pengukuran dan Review terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan


Untuk menilai risiko dri salah saji materil di dalam laporan keuangan,
auditor harus memeriksa informasi internal yang digunakan oleh manajemen dan
evaluasi pihak eksternal terhadap perusahaan. Pengukuran internal memberikan
manajemen informasi mengenai progress di dalam pemenuhan tujuan perusahaan.
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

Prosedur analitis penting di dalam proses audit, dan dilakukan paling tidak
sekali di dalam audit (di hampir akhir masa audit). ISA 520 menyatakan bahwa
“Tujuan dari auditor adalah….untuk membuat dan melakukan prosedur analitis di
hampir akhir masa audit yang membantu auditor ketika membentuk kesimpulan
keseluruhan mengenai apakah laporan keuangan konsisten dengan pemahaman
auditor akan perusahaan.” Sebagian besar akuntan menyarankan prosedur analitis
juga dilakukan selama tahap I (Planning) dan tahap III (testing and evidence). Auditor
umumnya menggunakan prosedur analitis di tahap perencanaan (planning) untuk
membantu mereka di dalam memahami bisnis dan mengidentifikasi area yang
memiliki potensi risiko. Aplikasi dari prosedur analitis bisa jadi mengindikasikan
aspek dari bisnis yang kurang diperhatikan oleh auditor. Prosedur analitis di dalam
tahap perencanaan audit menggunakan informasi keuangan dan non-keuangan.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai bisnis dan
industri klien, auditor akan menghitung rasio-rasio umum dan membandingkan rasio
perusahaan dengan perusahaan lainnya di dalam industri. Ketika prosedur analitis
mengidentifikasi fluktuasi signifikan atau hubungan yang tidak konsisten dengan
informasi relevan atau deviasi dari jumlah yang diprediksi, auditor harus
meningkatkan prosedur untuk mendapatkan penjelasan yang memadai dan bukti nyata
yang sesuai.
6. Kontrol Internal
Auditor harus memiliki tingkat pemahaman akan kontrol internal perusahaan
yang memadai untuk mendapatkan pemahaman yang baik mengenai perusahaan.
Pemahaman kontrol internal yang baik dibutuhkan untuk memberikan penilaian yang
sesuai mengenai risiko salah saji materil di dalam laporan keuangan.

6.4. Audit Risk Model


Proses Penilaian Risiko

Sebelum risiko dapat dinilai, auditor harus membuat prosedur untuk


mendapatkan pemahaman mengenai sistem akuntansi dan kontrol internal. Prosedur
audit untuk mendapatkan pemahaman ini disebut sebagai ‘risk assessment
procedures’ karena beberapa hasilnya mungkin dapat digunakan oleh auditor sebagai
bukti audit untuk mendukung penilaian risiko salah saji materil laporan keuangan.
Bukti audit yang didapat juga dapat digunakan di dalam transaksi, saldo rekening,
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

pengungkapan, dan kontrol terhadap efektivitas operasi. Auditor memeriksa risiko


salah saji materil laporan keuangan pada level financial statement assertion untuk
kelas-kelas transaksi, saldo rekening, dan pengungkapan. Risiko yang timbul di dalam
level financial statement bersifat pervasive, yaitu memiliki potensi dampak dalam
jumlah yang besar di dalam item-item laporan keuangan.
Assessment Tasks

Untuk menilai risiko salah saji laporan keuangan, auditor harus melakukan
pekerjaan berikut ini:
1. Mengidentifikasi risiko dengan membangun pemahaman akan
perusahaan dan lingkungannya, termasuk kontrol relevan yang
berhubungan dengan risiko tersebut.

2. Menghubungkan risiko yang sudah teridentifikasi dengan apa yang


bisa menjadi kesalahan di dalam pernyataan manajemen mengenai
completeness, existence, valuation, occurrence, dan measurement of
transactions atau pernyataan mengenai hak, kewajiban, penyajian, dan
pengungkapan.

3. Menentukan apakah risiko memiliki tingkatan yang dapat


menghasilkan salah saji materil laporan keuangan.

4. Mempertimbangkan kemungkinan bahwa risiko akan menghasilkan


salah saji materil di dalam laporan keuangan.

Business Risk, Audit Risk, and its Components

Risiko bisnis (business risk) dihasilkan dari kondisi signifikan, kejadian,


keadaan, atau aksi yang bisa mengganggu kemampuan perusahaan untuk
mencapai tujuan dan mengimplementasikan strategi nya.
Audit Risk
Risiko audit merupakan risiko dimana auditor memberikan opini audit yang
tidak sesuai ketika laporan keuangan disajikan salah secara materil. Risiko
audit merupakan pengukuran akan keandalan informasi yang digunakan oleh
sistem akuntansi. Semakin tinggi risiko audit, semakin banyak bukti yang
harus dikumpulkan agar auditor mendapatkan assurans yang cukup sebagai
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

dasar untuk menyatakan opini terhadap laporan keuangan. Risiko audit


memiliki tiga komponen:
1. Inherent Risk: kerentanan dari saldo transaksi atau kelas-kelas transaksi
terhadap salah saji yang bisa jadi materil, secara individu atau agregat dengan
salah saji di saldo atau kelas lainnya, dengan asumsi tidak ada kontrol internal
yang terkait.
2. Control Risk: risiko bahwa salah saji bisa terjadi di dalam saldo transaksi
atau kelas-kelas transaksi dan bisa menjadi materil-secara individu atau
agregat dengan salah saji di saldo atau kelas lainnya-tidak akan dicegah dan
dideteksi dan dikoreksi di dalam timely basis dengan sistem akuntansi dan
kontrol internal.
3. Detection Risk: risiko dimana prosedur substantive auditor tidak akan
mendeteksi salah saji yang terdapat di dalam saldo transaksi atau kelas
transaksi yang bisa jadi materil, secara individu atau agregat dengan salah saji
di dalam saldo atau kelas lainnya.
Significant Risk
Risiko signifikan merupakan risiko audit yang membutuhkan
pertimbangan audit spesial. Risiko signifikan secara umum berhubungan
dengan hal-hal judgemental dan transaksi non-rutin yang signifikan.
Judgement digunakan misalnya di dalam pengembangan estimasi akuntansi
atau nilai wajar yang signifikan. Transaksi non-rutin adalah transaksi yang
tidak biasa, bisa disebabkan karena ukuran atau alam, dan terjadi secara tidak
rutin. Transaksi non rutin yang signifikan bisa jadi disebabkan karena
intervensi manajemen di dalam menspesifikasi perlakuan akuntansi terhadap
transaksi, intervensi manual terhadap pengumpulan dan pemrosesan data,
perhitungan kompleks atau prinsip akuntansi, transaksi dimana terdapat
kesulitan untuk mengimplementasikan kontrol yang efektif, dan transaksi
pihak-pihak terkait yang signifikan. Risiko-risiko ini jarang terdapat di dalam
sistem kontrol rutin dan oleh karena itu membutuhkan pemahaman yang lebih
dalam untuk membantu auditor membangun pendekatan audit yang efektif.
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

 Apakah risiko termasuk signifikan?

Untuk menentukan apakah risiko termasuk signifikan atau tidak


tergantung kepada penilaian professional auditor. Di dalam menentukan
apakah suatu risiko termasuk signifikan, auditor mempertimbangkan:
- Apakah risiko merupakan risiko kejahatan (fraud)

- Kemungkinan terjadinya risiko

- Apakah risiko berhubungan dengan keadaan signifikan saat ini


mengenai ekonomi, akuntansi, atau pembangunan lainnya yang
membutuhkan perhatian spesifik.

- Kompleksitas dari transaksi yang dapat menimbulkan risiko

- Apakah risiko mengandung transaksi signifikan dengan pihak-


pihak terkait

- Tingkat subjektivitas di dalam pengukuran informasi keuangan


terkait risiko

6.5 Planning Materiality


Materialtas sebagaimana sudah dideskripsikan di IFAC, adalah informasi yang
bersifat material dimana penghilangannya atau kesalahan penulisannya dapat
mengakibatkan perubahan pada keputusan ekonomi yang akan diambil oleh
penggunanya berdasarkan laporan keuangan yang ada. Jadi menentukan apakah
sebuah laporan sudah mengikuti standar akuntansi yang ada, dalam hal materialitas,
merupakan tanggung jawab auditor. Materialitas adalah tingkat ketidaktepatan yang
masih dianggap diterima tergantung dari tujuan laporan keuangan yang ada.

Materiality Level
Perencanaan Materialitas adalah konsep yang digunakan untuk mendesain
audit sehingga auditor dapat memperoleh keyakinan yang memadai bahwa kesalahan
dengan ukuran atau sifat yang relevan dapat diidentifikasi. Dan ada biaya tambahan
bagi auditor yang mengaudit item yang memiliki materialitas yang rendah, semakin
rendah materialitasnya maka biaya akan semakin mahal. Karena jika ukuran
kesalahan yang harus ditemukan ukurannya kecil, maka auditor memerlukan lebih
banyak waktu.
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

Size of the Item


Pengaplikasian yang paling umum tentang hal materialitas adalah menyangkut
ukuran item dipertimbangkan. Item dengan jumlah nominal yang besar dan
dihilangkan biasanya bersifat material. Ukuran harus dipertimbangkan secara relatif,
misalnya, sebagai persentase dari dasar yang relevan (Laba bersih, total aset,
penjualan, dll) daripada jumlah absolut.

Nature of the Item


Sifat dari sebuah item adalah karateristik kualitatif. Bisa saja sebuah item
memiliki tingkat materialitas yang signifikan biarpun secara jumlah nominal biasanya
tidak dianggap material. Seperti penyuapan dari klien, sekecil apapun jumlahnya tetap
saja hal ini adalah hal yang sensitive dan dapat memiliki efek akan laporan keuangan
pengguna. Dalam membuat penilaian akan tingkat materialitas sebuah item, auditor
harus mempertimbangkan aspek berikut,
 Legalitas, sensitivitas, normalitas, dan potensial dari transaksi
 Identitas dari berbagai pihak yang terlibat,
 Rekening dan catatan pengungkapan yang terpengaruh.

Circumstances of Occurrence
Materialitas dari sebuah error akan tergantung dari keadaan kejadiannya. Ada 2 jenis
situasi yang relevan,
 Proses pengambilan keputusan dari pengguna laporan keuangan tersebut.
 Konteks dari informasi akuntansi di mana item tersebut terjadi.

Auditor harus memiliki pengetahuan akan pengguna dari laporan keuangan dan
proses pembuatan keputusannya para pengguna tersebut. Contohnya jika jika
pengguna utama laporan keuangan adalah kreditur, auditor dapat menetapkan ambang
batas rendah materialitas untuk barang-barang pada laporan keuangan yang
mempengaruhi
likuiditas
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

Reliability, Precision and Amount of Evidence


Menurut ISA 320, auditor harus mempertimbangkan hubungan antara materialitas
dengan resiko auditnya ketika melakukan audit. Karena dalam statistic sampling, ada
fixed relationship antara,
 Reliabilitas atau keandalan sebuah pernyataan atau assertion berdasarkan
sampling. (Dalam audit itu ditentukan oleh resiko audit).
 Ketepatan pernyataan ini (Dalam audit itu ditentukan oleh materialitas.)
 Jumlah bukti yang harus dikumpulkan untuk membuat pernyataan ini.

Perubahan salah satu dari tiga item tersebut memiliki implikasi untuk (salah satu)
kedua lainnya.

Example : Three Assumptions in the Same Circumstance


Sebuah contoh kehidupan nyata mungkin menggambarkan hubungan antara
keandalan, ketepatan, dan jumlah bukti. Misalkan Anda diminta untuk membuat
pernyataan tentang rata-rata penghasilan kena pajak dari orang yang sedang
berbelanja di Kurfurstendamm di Berlin yang lalu dipilih secara acak. Dan juga
dianggap bahwa pengumpulan informasi mengenai penghasilan kena pajak orang-
orang ini akan menjadi mahal. Maka perhatikan tiga situasi berikut,
1. Anda diminta untuk membuat pernyataan (dan untuk mempertaruhkan uang
anda dalam jumlah besar akan kebenaran pernyataan anda) bahwa rata-rata
penghasilan kena pajak tahunan sepuluh orang akan berada di antara
300,000,000. Meskipun tingkat kehandalan yang tinggi yang diminta, anda
mungkin akan melakukan pekerjaan investigasi yang minimal karena Anda
diizinkan untuk membuat pernyataan yang tidak spesifik (tingkat toleransinya
tinggi).
2. Anda diminta untuk membuat lagi pernyataan, namun anda hanya harus
mempertaruhkan 1 dollar, bahwa rata-rata tahunan penghasilan kena pajak ini
acak sepuluh orang akan berada di antara 0 dan 70,000. Walaupun tingkat
presisi yang diminta tinggi, anda mungkin juga akan melakukan investigasi
yang minimal karena tingkat keandalan yang diminta rendah. (1 dollar)
3. Gabungan dari keduanya, anda diminta untuk membuat pernyataan bahwa
rata-rata penghasilan kena pajak sepuluh orang ini akan berada di antara 0-
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

70,000, namun anda juga harus mempertaruhkan uang dalam jumlah besar.
Maka anda akan melakukan investigasi yang intensif dan menyeluruh.

Jadi untuk meningkatkan tingkat ketidaktepatan dan materialitas yang dapat


diterima di laporan laporan keuangan audit, toleransi ketidaktepatan akan
bergantung pada bisnis dari perusahaan yang diaudit dan profitabilitasnya. Dan
materialitas bergantung dari apakah informasi akan merubah opini pengguna atau
tidak.

Where to Set Materiality?


Standar Internasional tidak menepatkan pedoman jumlah spesifik dimana suatu
item dianggap material atau tidak. Dalam prakteknya setiap firma akuntan memiliki
seperangkat pedoman tersendiri dan rules of thumb yang berkaitan dengan basis
laporan keuangan, rules of thumb pada umumnya seperti,
 5% - 10% laba bersih sebelum pajak
 5% - 10% dari aktiva lancar.
 5% - 10% dari kewajiban lancer.
 0.5% - 2% dari total asset.
 0.5% - 2% dari total pendapatan.
 1% - 5% dari total ekuitas.

Dasar laporan keuangan yang sesuai untuk komputasi materialitas akan bervariasi
berdasarkan pada sifat bisnis klien
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

6.6 Summary
Auditor harus merencanakan pekerjaan audit sehingga audit akan dilakukan
secara efektif. Perencanaan artinya mengembangkan strategi umum dan pendekatan
rinci untuk expected nature, timing, dan extent dari auditnya.. Tujuan dari
perencanaan adalah untuk menentukan
jumlah dan jenis bukti dan review diperlukan untuk memberikan jaminan auditor agar
tidak ada salah saji material dari laporan keuangan yang ada. Prosedur perencanaan
adalah,
 Melaksanakan prosedur audit untuk memahami entitas dan lingkungannya,
termasuk
pengendalian internal entitas;
 Menilai resiko salah saji material dari laporan keuangan;
 Penentuan materialitas;
 Persiapan nota perencanaan dan program audit, yang berisi respon auditor
akan resiko yang teridentifikasi.

Dalam melaksanakan audit, auditor harus memiliki pemahaman yang cukup akan
entitas dan lingkungannya sehingga auditor dapat mengidentifikasi dan mengerti
peristiwa, transaksi, dan resiko yang ada karena keputusan auditor dapat memiliki
dampak yang signifikan atas pemeriksaan dan laporan audit. SA 315 menjelaskan
aspek-aspek relevan dalam pemaman entitas, yaitu
 Industri, regulasi, dan faktor exsternal lainnya.
 Sifat entitas, seperti pemilihan dan pengaplikasian kebijakan akuntansi.
 Tujuan, strategi, dan resiko yang terkait yang bersifat material.
 Pengukuran dan evaluasi dari kinerja keuangan entitas.
 Internal control.

Ada 2 jenis resiko yang menjadi perhatian utama bagi auditor, resiko bisnis dan resiko
audit. Resiko bisnis muncul akibat kondisi, peristiwa, keadaan, atau tindakan yang
bersifat signifikan dan dapat menghambat entitas dalam mencapai tujuan dan
strateginya. Dan resiko audit mempunyai 3 komponen yaitu,
1. Inherent risk, kerentanan tingkat materialitas dari item
2. Control risk, resiko bila kesalahan material yang terjadi tidak terdeteksi oleh
sistem.
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

3. Detection risk, resiko bila prosedur dari akuntan tidak bisa mengidentifikasi
kesalahan material.

BAB 8 : Materialitas
Sumber : Principles of Auditing , Rick Hayes
Audit Kontemporer , Theodorus M. Tuannakotta

Materialitas adalah konsep audit yang mengukur seberapa besar dan


pentingnya suatu salah saji dalam laporan keuangan. Pembahasan mengenai
materialitas juga diatur dalam ISA 320. Dimana pada ISA 320 dibahas mengenai
definisi, strategi audit dan angka materialitas, penetapan besarnya angka materialitas,
revisi materialitas, penentuan revisi materialitas, serta dokumentasi materialitas.
Dalam menentukan materialitas, seorang auditor mengikuti beberapa proses terlebih
dahulu, beberapa alur proses penentuan materialitas adalah sebagai berikut :
1. Auditor mempelajari informasi – informasi yang berkaitan dengan laporan
keuangan yang akan diaudit. Pada tahap ini pula auditor mengidentifikasi
risiko salah saji yang mungkin terjadi pada laporan keuangan tersebut.
2. Auditor mengubah titik pandangnya kepada pengguna laporan keuangan
berakal sehat atau biasa disebut reasonable user yang biasanya menggunakan
laporan keuangan yntuk membuat bermacam – macam keputusan ekonomis
seperti menanam modal dalam dalam perusahaan tersebut. Namun tahapan
kedua ini hanya bersifat konseptual karena auditor tidak benar – benar
bertemu dengan investor. Auditor hanya membaca analisis yang dibuat para
analis pasar modal atau auditor hanya mempelajari reaksi pimpinan
perusahaan ketika terjadi hal – hal tidak terduga yang menyebabkan sanksi
hukum.
3. Penentuan besarnya materialitas. Dalam tahapan ini auditor menetapkan
materialitas dalam rangka mengukur salah saji tersebut apakah material atau
imaterial.Pengukuran tersebut ditentukan dengan menerapkan angka
materialitas yang akan ditetapkan dalam penetapan benchmark. Materialitas
bersifat kualitatif dan kuantitatif. Ketika salah saji sudah memengaruhi
putusan investor maka, salah saji tersebut bersifat material. Sedangkan saat
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

salah saji tersebut tidak memengaruhi putusan investor maka salah saji
tersebut tidak material. Terdapat pula ambang batas material .

Materialitas pada Dua Tingkat


Terdapat dua tingkat materialitas pada audit yaitu :
 Tingkat laporan keuangan secara menyeluruh
 Tingkat saldo akun, jenis transaksi, dan pengungkapan

4 Konsep Materialitas
1. Overall Materiality
Berdasar pada apa yang layaknya diharapkan berdampak terhadap keputusan
yang dibuat pengguna laporan keuangan.
2. Overall Performance Materiality
Performance materiality ditetapkan lebih rendah dari overall materiality.
Sehingga memungkinkan auditor menanggapi penilaian resiko tertentu dan
menurunkan ke tingkat rendah yang tepat .
3. Specific Materiality
Ditujukan untuk jenis transaksi, saldo akun atau pengungkapan tertentu
dimana jumlah salah penyajiannya akan lebih rendah dibandingkan overall
materiality.
4. Specific Performance Materiality
Diterapkan lebih rendah daripada specific materiality. Sehingga
memungkinkan auditor menanggapi penilaian resiko tertentu dan menurunkan
ke tingkat rendah yang tepat.

BAB 16 : Audit Berbasis Resiko


Sumber : Audit Kontemporer; Theodorus M. Tuanakotta
Risiko Audit adalah resiko memberikan opini audit yang tidak tepat atas
laporan keuangan yang disalah sajikan secara material. Beberapa konsep audit
berbasis resiko yang perlu dipahami antara lain :
 Reasonable Assurance atau Asurans yang Layak
Asurans yang layak dicapai ketika auditor memperolehbukti audit yang cukup
dan tepat untuk menekan resiko audit.
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

 Inherent Limitations atau Kendala Bawaan


Terdiri dari beberapa kendala bawaan contohnya seperti kendala dalam sifat
pelaporan keuangan, kendala dalam sifat bukti audit yang tersedia, kendala
dalam sifat prosedur audit, dan kendala dalam pelaporan keuangan tepat
waktu.
 Audit Scope atau Lingkup Audit
Merupakan lingkup pekerjaan auditor dan opini yang diberikannya.
 Material Misstatements atau Salah Saji Material
Salah saji yang material merupakan salah saji yang dapat menyebabkan
perubahan keputusan ekonomis yang dibuat.
 Assertions atau Asersi
Merupakan pernyataan yang diberikan manajemen, secara eksplisit maupun
implisit yang merupakan bagian dari laporan keuangan.
Selain itu audit berbasis resiko memiliki dua unsur utama yaitu :
 Inherent Risk (Resiko Bawaan) dan Control Risk (Resiko Pengendalian)
 Detection Risk (Resiko Pendeteksian)
Penjelasan dari unsur utama Resiko audit sebagai berikut :
 Inherent Risk (Resiko Bawaan)
Merupakan kerentanan suatu asersi teradap salah saji yang mungkin material,
sendiri atau tergabung, tanpa memperhitungkan pengendalian terkait.
 Control Risk (Resiko Pengendalian)
Resiko dimana suatu salah saji bisa terjadi dalam suatu asersi dan bisa
material, sendiri atau tergabung dengan salah saji lainnya, tidak tercegah atau
terdeteksi dan terkoreksi pada waktunya pengendalian intern entitas.
 Detection Risk (Resiko Pendeteksian)
Resiko dimana prosedur yang dilaksanakan auditr untuk menekan resiko audit
ke tingkat rendah yangdapat diterima, tidak akan mendeteksi salah saji
yangbisa material, secara individu atau tergabung dengan salah saji lainnya.

Pelaksanaan Audit Berbasis Resiko


3 Langkah audit berbasis resiko :
1. Risk Assessment atau Penilaian Resiko
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

Pada tahapan ini dilaksanakan prosedur penilaian resiko untuk


mengidentifikasi dan menilai resiko salah saji yang material dalam
laporan keuangan. Pertanyaan utama pada tahapan ini yaitu : Peristiwa
apa yang jika terjadi , berpotensi mengakibatkan salah saji yang
material dalam laporan keuangan ? Tahapan ini juga dijelaskan pada
ISA 315.3
2. Risk Response atau Penanggapan Resiko
Pada tahapan ini dirancang dan dilaksanakan prosedur audit
selanjutnya yang menanggapi resiko salah saji yang telah diidentifikasi
dan dinilai pada tingkat laporan keuangan dan asersi. Pertanyaan
utama pada tahapan ini yaitu : Apakah peristiwa yang diidentifikasi
pada tahap sat, memang terjadi dan mengakibatkan salah saji yang
material dalamlaporan keuangan ? Tahapan ini juga dijelaskan pada
ISA 330.3
3. Reporting atau Pelaporan
Pada tahapan ini dilakukan perumusan pendapat erdasarkan bukti audit
yang ada serta memperoleh dan menerbitkan laporan yang tepat sesuai
dengan kesimpulan yang diambil. Pertanyaan utama pada tahapan ini
yaitu : Opini audit apa yang tepat yang harus diberikan pada laporan
keuangan ? Tahapan ini juga dijelaskan pada ISA 700.6

Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan dengan tujuan agar auditor dapat memahami sifat,
jadwal waktu dan luasnya prosedur audit yang dilaksanakan, hasil pelaksanaan
prosedur serta bukti audit yang diperoleh, dan hal – hal penting yang timbul selama
audit berlangsung, kesimpulan yang ditarik serta kearifan profesional yang
diterapkan.
Tetapi auditor tidak perlu mendokumentasikan :
 Hal kecil yang dipertimbangkan atau semluruh kearifan profesional yang
diterapkan dalam proses audit
 Kepatuhan terhadap hal – hal yang ditunjukkan dengan jelas pada dokumen
lain dalam file audit.
Andri Purnama 1306453962 Soraya Kamila Fithrie 1406534020
Indah Rizfa Hannanah 1406533762

Manfaat Audit Berbasis Resiko


Beberapa manfaat yang dihasilkan pada audit berbasis resiko diantaranya
adalah:
 Fleksibilitas Waktu
 Usaha tim audit terfokus pada area kunci
 Prosedur audit terfokus pada resiko
 Pemahaman atas pengendalian internal
 Komunikasi tepat waktu

ISA untuk Entitas Kecil


Audit pada entitas yang lebih kecil diatur dalam ISA 200. ISA 200 membahas
pertimbangan khusus untuk entitas yang lebih kecil, ciri kualitatif entitas yang lebih
kecil, entitas tidak terdaftar dan terdaftar, serta pemilik dan pengelola. Pada ISA 200
ini tidak membedakan pendekatan audit untuk entitas yang lebih kecil dnegan entitas
yang lebih besar. Kemudian menurut dokumen tanya jawab oleh staf IAASB
dinyatakan bahwa tujuan audit adalah sama untuk ukuran audit apapun. Namun,
prosedur audit khusus / spesifik bervariasi, tergantung ukuran entitas dan resiko yang
dinilai.