Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

KEPERAWATAN KOMUNITAS I

DISUSUN OLEH:

DELIANA MONIZ
FAUSTINA NAINOE
LIE YUSTI ANASTASIA
YOPA YOPISA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN
BANJARMASIN
2019
Konsep dasar kesehatan Masyarakat

1. Sejarah Kesehatan Masyarakat


Sejarah panjang perkembangan masyarakat tidak hanya dimulai pada
munculnya ilmu pengetahuan saja, tetapi sudah dimulai sebelum perkembangannya
ilmu pengetahuan modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah kesehatan masyarakat
tidak terlepas dari tokoh mitologi Yunani, yaitu Asclepius dan Hygeia. Berdasarkan
mitos Yunani, Asclepius adalah seorang dokter yang tampan dan pandai meskipun tidak
disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah ditempuhnya. Asclepius dapat
mengobati penyakit dan bahkan melakukan bedah berdasarkan prosedur-prosedur
tertentu (surgical procedure) dengan baik. Hygeia adalah asisten sekaligus istri
Asclepius. Hygeia juga melakukan upaya-upaya kesehatan dengan caranya sendiri.
Keduanya memiliki perbedaan dalam memberikan pengobatan pada masyarakat.
Perbedaan tersebut berupa cara pendekatan atau penanganan masalah kesehatan.
Perbedaan penanganan antara Asclepius dan Hyeia tersebut akhirnya
menimbulkan dua pendekatan masalah-masalah kesehatan pada masyarakat, yaitu
kelompok pertama dan kelompok kedua. Kelompok pertama cenderung menunggu
terjadinya penyakit atau setelah orang jatuh sakit, dikenal dengan pendekatan kuratif.
Kelompok tersebut terdiri atas: dokter, psikiater, dan praktisi-praktisi lain yang
melakukan perawatan atau pengobatan penyakit, baik fisik, psikologis, mental maupun
psikologis. Kelompok kedua cenderung melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit
(preventif) dan peningkatan kesehatan (promosi kesehatan) sebelum terjadinya
penyakit. Kelompok ini antara lain para petugas kesehatan masyarakat.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju,
seolah-olah timbul garis pemisah dalam masyarakat yang luas antara kedua
kelompok profesi tersebut, yakni pelayanan kesehatan kuratif (curative health care)
dan pelayanan preventif (preventive healt care) (Wahid Iqbal Mubarak & Nurul
Chayantin, 2009, p. 10).

2. Prinsip Keperawatan Komunitas


Menurut Quad Council of Public Health Nursing Organization, 2007, dalam
Stanhope & Lancaster (2016), ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam
keperawatan komunitas. Prinsip ini disebut juga sebagai Eight Principles of Public
Health Nursing, antara lain:
a. Klien adalah populasi/masyarakat,
b. Memberi beri manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas,
c. Proses yang digunakan, termasuk bekerja dengan mitra yang sama,
d. Pencegahan primer menjadi prioritas dalam aktivitas,
e. Strategi khusus yang berfokus pada kondisi lingkungan, sosial, dan ekonomi yang
sehat dalam komunitas,
f. Memberi manfaat sebesar-besarnya pada aktivitas penelitian masyarakat,
g. Penggunaan sumber daya masyarakat secara optimal,
h. Kolaborasi dengan profesi, organisasi, atau kesatuan lain, demi keefektifan program
peningkatan dan pemeliharaan kesehatan komunitas.
(Ratnawati, 2017, p. 13)

Menurut Mubarak dan Chayantin, 2009, pertimbangan prinsip dalam melaksanakan


keperawatan komunitas adalah sebagai berikut:

a. Kemanfaatan. Intervensi atau pelaksanaan yang dilakukan harus memberikan


manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya ada keseimbangan antara
manfaat dan kerugian.
b. Otonomi. Pelaksanaan keperawatan komunitas diberikan kebebasan untuk
melakukan atau memilih alternative terbaik yang disediakan untuk komunitas.
c. Keadilan. Perawat melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan kemampuan atau
kapasitas komunitas.
(Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayantin, 2009, p. 10)

3. Teori dan Model-Model Konseptual dalam Keperawatan Komunitas


A. Berbagai Teori Keperawatan
1) Model konseptual dari Florence Nightingale’s (1859). Model ini menekankan
pada pengaruh lingkungan terhadap klien, model ini dikenal dengan istilah
environmental model.
2) Model konseptual diri Dorothea Orem (1971). Model ini dikenal dengan model
keperawatan mandiri (Self Care Deficit Theory Of Nursing)
3) Model konsep tual diri King’s (1971). Model ini dikenal dengan systems Model
of Nursing atau Healt Care System Model.
4) Model konseptual dari Sr. Callista Roy (1976). Model ini dikenal dengan istilah
Adaptation Model Of Nursing.
B. Model Konseptual Keperawatan yang Diterapkan dalam Keperawatan Komunitas
1) Model konseptual dari Florence Nigthingale’s (1859)
Florence Nightingale’s menekankan pengaruh lingkungan terhadap klien yang
dikenal dengan istilah environmental model. Model konsep Florence
Nightingale’s menempatkan lingkungan sebagai focus asuhan keperawatan.
Perawat komunitas berupaya memberikan bantuan asuhan berupa pemberian
udara yang bersih dan segar; penerangan (lampu) yang tepat; kenyamanan
lingkungan; mengatur kebersihan, keamanan dan keselamatan; serta pemberian
nutrisi (gizi) yang adekuat. Pelaksanaan asuhan keperawatan diupayakan secara
mandiri tanpa bergantung pada profesi lain. Kesehatan dilihat dari fungsi
interaksi antara keperawatan, manusia, dan lingkungan. Lingkungan yang kotor
sama dengan tidak baik untuk kesehatan, sedangkan lingkungan yang bersih
sama dengan mengurangi penyakit. Keperawatan berkontribusi secara langsung
atau tidak langsung untuk mempertahankan kesehatan manusia melalui
manajeman manusia-lingkungan
(Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayantin, 2009, p. 84).

2) Model keperawatan mandiri (self-care) Dorothea E. Orem (1971)


Definisi
Keperawatan mandiri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam
menjaga fungsi tubuh dan kehidupan yang harus dimilikinya. Menurut teori
Orem, keperawatan mandiri (self-care) adalah suatu pelaksanaan kegiatan yang
diprakarsai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan
guna mempertahankan kehidupan kesehatan kesejahteraan rakyat sesuai
keadaan, baik sehat maupun sakit.
Keyakinan dan Tata Nilai
Ada enam dalil yang mendasari keperawatan mandiri diantaranya adalah
sebagai berikut.
a. Keperawatan mandiri didasarkan pada tindakan di mana manusia mampu
melaksanakannya.
b. Keperawatan mandiri didasarkan pada kesengajaan dan pengambilan
keputusan sebagai pedoman tindakan.
c. Setiap orang menghendaki keperawatan mandiri dan sebagai kebutuhan
dasar manusia.
d. Orang dewasa mempunyai hak dan tanggung jawab untuk merawat diri
sendiri dan orang lain untuk memelihara kesehatan mereka agar hidup sehat.
e. Keperawatan mandiri adalah perubahan tingkah laku secara lambat dan terus
menerus didukung dari pengalaman social sebagai hubungan interpersonal.
f. Keperawatan mandiri akan meningkatkan harga diri seseorang, sehingga
memengaruhi konsep diri.
(Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayantin, 2009, p. 84)

Komponen Kebutuhan Dasar Keperawatan Mandiri (Self-care)


Orem mengemukakan beberapa kebutuhan dasar self-care bersifat umum pada
semua manusia yang dijadikan dasar untuk melakukan pengkajian dan menentukan
masalah atau diagnosis keperawatan. Kebutuhan dasar manusia tersebut adalah
sebagai berikut.
1) Pemeliharaan dengan cukup pengambilan udara.
2) Pemeliharaan dengan cukup pengambilan air.
3) Pemeliharaan dengan cukup pengambilan makanan.
4) Pemeliharaan proses eliminasi.
5) Pemeliharaan dengan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.
6) Pemeliharaan dengan keseimbangan antara kesendirian dengan interaksi social.
7) Pencegahan risiko pada kehidupan manusia dan keadaan sehat manusia.
8) Perkembangan dalam kelompok sosial sesuai dengan potensi, pengetahuan, dan
keinginan manusia.

(Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayantin, 2009)

Pandangan Orem terkait dengan paradigma keperawatan


a. Individu
Individu merupakan integrasi keseluruhan aspek, baik fisik, internal, psikologis,
dan social dengan berbagai variasi tingkat kemampuan keperawatan mandiri.
Self-care merupakan refleksi untuk mengkaji kebutuhan dan pilihan yang teliti
bagaimana untuk memenuhi kebutuhan. Individu dalam konsep keluarga
dipandang sebagai anggota keluarga yang harus dimandirikan untuk mencapai
kemandirian keluarga.
b. Keperawatan
Pelayanan terhadap manusia, proses interpersonal dan teknikal merupakan
tindakan khusus. Tindakan keperawatan untuk meningkatkan kemampuan
perawatan mandiri dan kemampuan keperawatan mandiri yang terapeutik.
Asuhan keperawatan mandiri dapat digunakan dalam praktik keperawatan
keluarga dengan sasaran sebagai berikut.
1) Menolong klien, dalam hal ini keluarga untuk keperawatan mandiri secara
terapeutik.
2) Menolong klien bergerak ke arah tindakan asuhan keperawatan mandiri.
3) Membantu anggota keluarga merawat anggota keluarganya yang mengalami
gangguan sehingga kompeten.

c. Fokus asuhan keperawatan


fokus asuhan keperawatan ditunjukan pada:
1) Aspek interpersonal, yaitu menghubungkan hubungan di dalam keluarga.
2) Aspek sosial, yaitu hubungan keluarga dengan masyarakat di sekitarnya.
3) Aspek procedural, melatih keterampilan dasar keluarga sehingga mampu
mengantisipasi perubahan yang terjadi.
4) Aspek teknis, mengajarkan keluarga teknik-teknik dasar yang mampu
dilakukan keluarga di rumah seperti bagaimana cara mengompres secara baik
dan benar.

(Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayantin, 2009)

d. Kategori bantuan dalam keperawatan mandiri (self-care)


Teori sistem keperawatan
Teori sistem keperawatan merupakan teori yang menguraikan secara jelas
bagaimana kebutuhan perawatan diri penderita terpenuhi oleh petugas
kesehatan (perawat) atau penderita sendiri berdasarkan kemampuannya
dalam melakukan perawatan mandiri. Dalam pendangan teori sistem ini
Orem memberikan identifikasi dalam system pelayanan keperawatan
mandiri menjadi tiga kategori bantuan, diantaranya adalah sebagai berikut.
a) Sistem bantuan secara maksiman/penuh (Wholly Compensatory System)
Bantuan yang diberikan oleh perawat kepada klien secara keseluruhan
(total care).
b) Sistem bantuan sebagian (Partially Compensatory System)
Bantuan yang diberikan oleh perawat kepada klien secara sebagian
(partial care).
c) Sistem suportif dan edukatif (Supportive Educative)
Dukungan Pendidikan dibutuhkan oleh klien yang memerlukan bantuan
untuk memperlajari agar mampu mempelajari agar mampu melakukan
asuhan keperawatan mandiri.
(Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayantin, 2009)

Model keperawatan menurut Orem ini tepat digunakan untuk


keperawatan keluarga. Tujuan akhir dari keperawatan keluarga adalah
kemandirian keluarga dalam melakukan upaya kesehatan yang terkait dengan
lima tugas kesehatan keluarga.
Berikut ini adalah lima tugas perkembangan keluarga:
1) Mengenal masalah.
2) Mengambil keputusan untuk mengatasi masalah.
3) Merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan.
4) Memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang kesehatan.
5) Menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan secara tepat.

(Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayantin, 2009, p. 86)

3). Model Sistem, Imogen M. King (1971)


Manusia merupakan individu reaktif yang dapat bereaksi terhadap situasi,
orang, dan objek tertentu. Sebagai makhluk yang berorientasi pada waktu,
manusia tidak terlepas dari objek kejadian masa lalu dan masa sekarang yang
akan berpengaruh terhadap masa depannya. Sedangkan sebagai makhluk sosial,
manusia hidup bersama orang lain dan berinteraksi satu sama lain. Berdasarkan
hal tersebut, maka manusi memiliki tiga kebutuhan dasar, yaitu : 1). Kebutuhan
akan informasi kesehatan; 2). Kebutuhan akan pencegahan penyakit; dan 3).
Kebutuhan anak perawatan ketika sakit.
Pandangan king tentang komunitas.
Komunitas merupakan suatu sistem yang terdiri atas subsistem keluarga dan
supra sistemnya adalah kehilangan informasi atau ketidaktahuan. Akibatnya
akan timbul masalah kesehatan atau ketidaktahuan memodifikasi lingkungan,
sehingga memerlukan intervensi keperawatan. Keluarga sebagai subsistem
komunitas merupakan sistem terbuka di mana terjadi hubungan timbal balik
antara keluarga dengan komunitas, yang sekaligus sebagai umpan balik. Sesuai
dengan model sistem untuk mengkaji masalah komunitas, maka di kaji keluarga
yang merupakan subsistem komunitas. Intervensi keperawatan dilakukan terkait
dua sasaran, yaitu keluarga dan komunitas. Dengan demikian, keluarga
merupakan unit pelayanan dasar di masyarakat atau yang komunitas.sistem
sosial yang lebih luas. Subsistem yang terdapat pada komunitas saling
berinteraksi, interelasi, dan interdepensi satu sama lain. Adanya gangguan atau
stresor pada salah satu subsistem akan memegaruhi komunitas. Misalnya,
adanya gangguan pada salah satu subsistem pendidikan akan menyebabkan
masyarakat
(Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayantin, 2009, p. 86)
4). Model Adaptasi, Sister Callista Roy ( 1976 )
Pengertian Model Adaptasi
Model adaptasi adalah bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatan
dengan cara mempertahankan perilaku adaptif dan mengubah perilaku
maladaptif. Individu atau manusia holistic adaptive system yang selalu
beradaptasi secara keseluruhan. Adanya pengertian ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa tujuan dari aplikasi model konseptual keperawatan
komunitas menurut Roy adalah untuk mempertahankan perilaku adaptif dan
merubah perilaku maladaptif pada komunitas. Upaya pelayanan keperawatan
yang dapat dilakukan adalah : untuk meningkatkan kesehatan dengan cara
mempertahankan perilaku adaptif dan intervensi keperawatan ditujukan untuk
menekan stresor dan meningkatkan mekanisme adaptasi.
(Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayantin, 2009, p. 86)
DAFTAR PUSTAKA

Ratnawati, E. (2017). Keperawatan Komunitas. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayantin. (2009). Ilmu kesehatan masyarakat: teori dan
aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.