Anda di halaman 1dari 27

A.

KEPERAWATAN INTRA OPERATIF


Keperawatan intra operatif merupakan bagian dari tahapan keperawatan perioperatif. Akti
vitas yang dilakukan pada tahap ini adalah segala macam aktivtas yang dilakukan oleh perawat
di ruang operasi. Aktivitas di ruang operasi oleh perawat difokuskan pada pasien yang menjalani
prosedur pembedahan untuk perbaikan, koreksi atau menghilangkan masalah-masalah fisik yang
mengganggu pasien. Tentunya pada saat dilakukan pembedahan akan muncul permasalahan baik
fisiologis maupun psikologis pada diri pasien. Untuk itu keperawatan intra
operatif tidak hanya berfokus pada masalah fisiologis yang dihadapi oleh pasien selama operasi,
namun juga harus berfokus pada masalah psikologis yang dihadapi oleh pasien. Sehingga pada
akhirnya akan menghasilkan outcome berupa asuhan keperawatan yang terintegrasi.
B. Prinsip Tindakan Keperawatan Selama Pelaksanaan Operasi

a. Pengaturan Posisi

Posisi diberikan perawat akan mempengaruhi rasa nyaman pasien dan keadaan psikologis

pasien. Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan posisi pasien adalah :

1) Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.

2) Umur dan ukuran tubuh pasien.

3) Tipe anaesthesia yang digunakan.

4) Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis)

Prinsip-prinsip didalam pengaturan posisi pasien :

1) Atur posisi pasien dalam posisi yang nyaman.

2) Sedapat mungkin jaga privasi pasien, buka area yang akan dibedah dan kakinya ditutup dengan

duk.

3) Amankan pasien diatas meja operasi dengan lilitan sabuk yang baik yang biasanya dililitkan

diatas lutut. Saraf, otot dan tulang dilindungi untuk menjaga kerusakan saraf dan jaringan.
4) Jaga pernafasan dan sirkulasi vaskuler pasien tetap adekuat, untuk meyakinkan terjadinya

pertukaran udara.

5) Hindari tekanan pada dada atau bagain tubuh tertentu, karena tekanan dapat menyebabkan

perlambatan sirkulasi darah yang merupakan faktor predisposisi terjadinya thrombus.

6) Jangan ijinkan ekstremitas pasien terayun diluar meja operasi karena hal ini dapat melemahkan

sirkulasi dan menyebabkan terjadinya kerusakan otot.

7) Hindari penggunaan ikatan yang berlebihan pada otot pasien.

8) Yakinkan bahwa sirkulasi pasien tidak berhenti ditangan atau di lengan

b. Pengkajian Psikologis

1) menceritakan pada pasien apa yang sedang terjadi

2) menentukan status psikologis

3) memberikan peringatan akan stimuli nyeri

4) mengkomunikasikan status emosional pasien pada anggota tim kesehatan yang berkaitan.

C. Periode Intraoperasi

Tindakan Keperawatan selama fase intraoperasi berfokus pada kondisi emosiaonal dan

juga factor fisik, seperti keamanan, posisi tubuh, menjaga asepsis, dan mengontrol kondisi ruang

bedah. Pengkajian pra operasi membantu perawatmerencanakan intervensi selama fase ini.

Perawat tetap bertindak sebagai penjaga klien, mengantisipasi komplikasi yang mungkin terjadi.

Bila dokter bedah focus melakukan tindakan bedah, tim anastesi focus pada pernapasan dan

mempertahankan stabilitas fifiologis, perawat bertanggungjawab dengan semua aktivitas lain

yang berlangsung di ruang operasi.


D. Anggota Tim Pembedahan

Dokter bedah mengetuai tim pembedahan dan mengambil keputusan terkait prosedur

bedah tergantung prosedur bedah yang dilakukan, dokter bedah lain atau perawat terdaftar yang

menjalani pendidikan dan latihan tambahan dapat bertindak sebagai asisten pertama (Registered

Nurse First Assistant, RNFA). Dokter anestesi atau certified registered nurse anesthetist

(CRNA) memberikan anestesi, meredakan nyeri, dan membuat klien relaks dengan obat. Tim

anestesi mempertahankan jalan napas, memastikan perukaran gas yang adekuat, memonitor

sirkulasi dan respirasi, menghitung perkiraan kehilangan darah dan cairan, menginfus darah dan

cairan, memberikan obat untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik, dan memberi tahu

dokter bedah segera bila terjadi komplikasi. Perawat yang ada di ruang bedah adalah perawat

terdaftar ( registered nurse, RN) dan anggota inti dari tim pembedahan.

E. Peran Perawat Perioperatif

Perawat bertindak secara independen dan juga sebagai anggota tim. Beberapa peran RN
yang umum dilakukan dibahas di bawah ini.
a. Perawat Sirkulator
Perawat jenis ini merupakan salah satu perawat perioperative yang utama. Perawat ini
memeriksa klien sebelum operasi, merencanakan tindakan keperawatan yang optimal selama
operasi, mengoordinasikan semua personel di ruang operasi, memonitor personel yang tidak
berlisensi dan memonitor cost compliance yang berhubungan dengan prosedur di ruang operasi.
Sirkulator tidak mengenakan pakaian steril dan dapat masuk keluar ruang operasi. Selain
merawat langsung klien, sirkulator memiliki aktivitas spesifik selama pembedahan yaitu :
1) Memastikan semua peralatan berfungsi dengan baik.
2) Menjamin alat yang dipakai steril dan juga penyediaan barang tersebut.
3) Mempersiapkan kulit.
4) Memonitor ruangan dan tim dari pelanggaran teknik steril.
5) Membantu tim anastesi dengan induksi dan monitoring fisiologis.
6) Mengurus spesimen.
7) Mengoordinasikan dengan departemen lain jika diperlukan, seperti patologi dan radiologi.
8) Mencatat perawatan yang diberikan.
9) Meminimalisasi percakapan dan kemacetan di ruang operasi.
b. Perawat Scrub
Seorang RN atau surgical technician (ST) dapat melakukan peran petugas scrub
(instrumen). Tugasnya adalah mempersiapkan semua peralatan yang diperlukan untuk prosedur,
semua peralatan yang dibutuhkan steril, mempertahankan kondisi steril pada area steril,
mengurus peralatan dan persediaannya selama operasi dan membersihkan bila operasi telah
selesai. Selama pembedahan petugas scrub harus menghitung secara akurat jumlah spons, jarum,
dan peralatan di area steril dan menghitung peralatan yang sama bersama dengan perawat
sirkulator sebelum dan setelah operasi.
c. Registered Nurse First Assistant (RFNA)
RFNA adalah perawat perioperatif berpengalaman yang telah menjalani pendidikan
khusus tambahan. RFNA bekerja dengan dokter bedah utama selama operasi. Perannya terpisah
dengan perawat scrub. Tugas RFNA mencakup pajanan terhadap area pembedahan,
menggunakan instrument untuk memegang dan memotong, retraksi dan menangani jaringan,
memberikan hemostasis dan menjahit. RFNA harus bekerja dengan dokter bedah dan bukan
praktisi independen.
d. Certified Registered Nurse Anesthetist (CRNA)
CRNA adalah perawat yang bertugas khusus memasukkan obat anestesi. Agar dapat
mengikuti program CRNA, seseorang harus memiliki gelar sarjana sains di bidang keperawatan
atau bidang lain yang sesuai ditambah 1-2 tahun pengalaman bekerja di ICU dan pelayanan akut.
Perawat ini bekerja di bawah arahan dokter anestesi.

e. Manajer
Manajer ruang operasi memiliki pengalaman luas dan telah menjalani pendidikan khusus
di bidang manajemen. Manajer bisa saja merupakan RN, tetapi rumah sakit saat ini lebih
memilih sarjana keperawatan. Banyak rumah sakit besar mensyaratkan Master of Science in
Nursing (MSN) dengan focus pada manajemen perawatan akut.
f. Pendidik
Pendidik bertanggung jawab untuk mengurusi staf yang melanjutkan pendidikan,
orientasi staf baru dan bekerja dengan staf untuk belajar bagaimana menjadi instruktur untuk
mahasiswa. Edukator dapat berasal dari RN, tetapi biasanya perawat dengan gelar sarjana
keperawatan atau MSN yang berpengalaman sebagai perawat perioperatif lebih diutamakan.
Perawat ini juga dapat berperan sebagai perawat sirkulator atau perawat spesialis klinis di luar
tanggung jawab mereka sebagai edukator.
g. Manajer Kasus
Manajer kasus perioperatif mengoordinasikan perawatan bagi klien perioperatif. Posisi
ini mensyaratkan pengalaman luas, kemampuan berkomunikasi dan pengetahuan mengenai
periode total pembedahan mulai dari di rumah sebelum operasi sampai perawatan di rumah
setelah operasi.
h. Advanced Practice Nurse Clinical Nurse Specialist (Apn )
APN adalah RN dengan gelar dan keterampilan tahap lanjut. Perawat ini minimal
memiliki gelar Master di bidang keperawatan dan mendapat sertifikasi sebagai perawat spesialis
klinis atau Nurse Practitioner (NP). APN adalah ahli klinis yang memiliki spesialis bedah (
misalnya ortopedi, kardiovaskular). Peran mereka meliputi konsultasi, edukasi, perawatan klien
langsung, manajemen, menerjemahkan hasil penelitian ke dalam praktik klinis yang terbaik.
Seorang APN perioperatif tidak selalu berada di ruang operasi, tetapi dapat berinteraksi dengan
klien di klinik, rumah, rumah sakit, atau tempat lain sesuai kebutuhan
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NN.B INTRA OPERATIF LAPARASCOPY
APPENDIKTOMY DENGAN INDIKASI APPENDICSITIS
DIRUANG OPERASI

A. Pengertian
Appendisitis adalah Appendiks yang mengalami obstruksi dan rentan terhadap infeksi.
Appendisitis dapat terjadi pada setiap usia, perbandingan antara pria dan wanita mempunyai
kemungkinan yang sama untuk menderita penyakit ini. Namun penyakit ini paling sering
dijumpai pada dewasa muda antar umur 10-30 tahun (Smeltzer, 2002). Satu dari 15 orang pernah
menderita apendisitis dalam hidupnya. Insiden tertinggi terdapat pada laki-laki usia 10-14 tahun
dan wanita yang berusia 15-19 tahun. Laki-laki lebih banyak menderita apendisitis dari pada
wanita pada usia pubertas dan pada usia 25 tahun. Apendisitis jarang terjadi pada bayi dan anak-
anak dibawah 2 tahun (Smeltzer, 2002).
(Brunner & Suddarth, 1995 : 45 ).

Appendisitis mengacu pada radang appendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tidak
berfungsi terletak pada bagian inferior dari seikum ( Barbara Engram, 1998:215).
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang
paling sering (Mansjoer,2000).
Apendisitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi terletak
pada bagian inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah abstruksi
lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan
inflamasi (Wilson & Goldman, 1989). Appendiktomi adalah pembedahan untuk mengangkat
appendiks yang meradang (Smeltzer, 2002).

B. Etiologi
1. Faktor sumbatan
Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%) yang diikuti oleh
infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan lymphoid sub mukosa, 35%
karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh
parasit dan cacing. Obsrtruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada bermacam-
macam apendisitis akut diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus
sederhana, 65% pada kasus apendisitis akut ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus
apendisitis akut dengan rupture.

2. Faktor Bakteri
Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis akut. Adanya fekolith
dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan memperberat infeksi, karena
terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak
ditemukan adalah kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus, lacto-
bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus. Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi
adalah kuman anaerob sebesar 96% dan aerob<10%.

3. Kecenderungan familiar
Hal ini dihubungkan dengan tedapatnya malformasi yang herediter dari organ, apendiks yang
terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang mudah terjadi apendisitis. Hal
ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan dalam keluarga terutama dengan diet rendah
serat dapat memudahkan terjadinya fekolith dan mengakibatkan obstruksi lumen.

4. Faktor ras dan diet


Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan sehari-hari. Bangsa kulit putih yang
dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih tinggi dari Negara yang pola
makannya banyak serat. Namun saat sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah
merubah pola makan mereka ke pola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang
dulunya memiliki tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah serat, memiliki resiko
apendisitis yang lebih tinggi.

5. Faktor infeksi saluran pernapasan


Setelah mendapat penyakit saluran pernapasan akut terutama epidemi influenza dan pneumonitis,
jumlah kasus apendisitis ini meningkat. Namun, hati-hati karena penyakit infeksi saluran
pernapasan dapat menimbulkan seperti gejala permulaan apendisitis.
C. Patofisiologi
Menurut Mansjoer, 2000:
Apendiksitis biasa disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia
folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau
neoplasma. Feses yang terperangkap dalam lumen apendiks akan menyebabkan obstruksi dan
akan mengalami penyerapan air dan terbentuklah fekolit yang akhirnya sebagai kausa sumbatan.
Obstruksi yang terjadi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami
bendungan. Semakin lama mukus semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan
ulserasi mukus.
ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis.
Peradangan apendiks tersebut akan menyebabkan abses atau bahkan menghilang.
Tahapan Peradangan Apendisitis adalah
1. Apendisitis akuta (sederhana, tanpa perforasi)
2. Apendisitis akuta perforate (termasuk apendisitis gangrenosa, karena dinding apendiks
sebenarnya sudah terjadi mikroperforasi)
D. Manifestasi klinis
1. Menurut Betz, Cecily, 2000 :
1) Sakit, kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah
2) Anoreksia
3) Mual
4) Muntah,(tanda awal yang umum, kuramg umum pada anak yang lebih besar).
5) Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonotis.
6) Nyeri lepas.
7) Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali.
8) Konstipasi.
9) Diare.
10) Disuria.
11) Iritabilitas.
12) Gejala berkembang cepat, kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam setelah munculnya
gejala pertama.
E. Komplikasi
Menurut Hartman, dikutip dari Nelson, 1994 :
1) Perforasi.
2) Peritonitis.
3) Infeksi luka.
4) Abses intra abdomen.
5) Obstruksi intestinum.

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer, 2000 :
1. Sebelum operasi

o Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi


o Pemasangan kateter untuk control produksi urin.
o Rehidrasi
o Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena.
o Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk
membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi
tercapai.
o Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.
2. Operasi

o Apendiktomi.
o Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas,maka abdomen
dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika.
o Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV,massanya mungkin mengecil,atau
abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari.
Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu
sampai 3 bulan.
3. Pasca operasi

o Observasi TTV.
o Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung
dapat dicegah.
o Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.
o Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama pasien
dipuasakan.
o Bila tindakan operasilebih besar, misalnya pada perforasi, puasa dilanjutkan
sampai fungsi usus kembali normal.
o Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam.
Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan
lunak.
o Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur
selama 2×30 menit.
o Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar.
o Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

1. PENGKAJIAN
1.1 IDENTITAS
Nama Pasien : Nn. B
No. RM : 0193114
Tanggal lahir : 4 Desember 1998
Umur : 13 tahun
Agama : Islam
Alamat : Taman Duta Mas Blok B.4

1.2 RIWAYAT KEPERAWATAN


a) Keluhan Utama
Klien mengatakan nyeri dengan skala 4 di bagian abdomen kanan bagian bawah.

b) Riwayat kesehatan sekarang


klien datang ke RS. Awal Bros tanggal 09 Mei 2012 jam 21.40 WIB ( lihat distatus pasien ).
Klien mengatakan nyeri pada bagian abdomen bawah sebelah kanan.
Pada tanggal 10 Mei 2012 jam 04.00 WIB, klien mulai puasa. pada jam 10.20 WIB klien datang
ke ruang operasi. Pada jam 10.30 Wib dilakukan anastesi, operasi dilakukan pada jam 11.15
WIB dan operasi selasai pada jam 12.00 WIB. Pada jam 12.20 WIB klien di antar ke ruangan.

2. PEMERIKSAAN FISIK
Sebelum dilakukan operasi
a. Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Compos mentis
GCS E 4, M 5, V 6 = 15
Tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Suhu : 36.4oc
Nadi : 83 x/menit
Pernafasan : 21 x/menit

b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan dilakukan di RR
1. Kepala
a) Inspeksi
Rambut bewarna hitam panjang, rambut kelihatan bersih, tidak ada ketombe dan tidak ada kutu,
rambut tidak berminyak.
b) Palpasi
Tidak ada lesi dan edema, tekstur lembut.
2. Mata
a) Inspeksi
Posisi mata simetris, konjungtiva pucat, tidak ada secret, warna sclera putih, , tidak
menggunakan alat bantu kaca mata ataupun soft lensa
b) Palpasi
Edema tidak ada.
3. Hidung
a) Inspeksi
Bentuk simetris.
b) Palpasi
Tidak ada nodul atau masa .
4. Mulut dan Tenggorokan
a) Inspeksi
Warna bibir merah, bibir tidak kering, bibir tidak pecah.

5. Telinga
a) Inspeksi
Bentuk telinga simetris, tidak adanya serumen, tidak ada edema, tidak adanya lesi, kondisi
bersih.
6. Wajah dan Leher
a) Inspeksi
Wajah berbentuk simetris, tidak ada lesi maupun edema, tidak ada benjolan pada leher,
b) Palpasi
Tidak ada pembengkakan pada leher dan vena jugularis.
7. Dada
a) Inspeksi
Pernafasan teratur,ekspansi dadasimetris, tidak ada lesi, payudara simetris dan kelihatan simetris.
b) Palpasi
Tidak ada pembekakan pada payudara.
8. Abdomen
a) Inspeksi
Bentuk simetris, adanya bekas luka operasi pada bagian pusat, abdomen bawah sebelah kiri dan
sebelah kanan
10. Ekstremitas
a) Inspeksi
Jumlah jari-jari tangan dan kaki sama, tidak ada fraktur, lesi tidak ada, tidak ada odema dan
tidak ada pembekakan.

3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Tanggal : 09 mei 2012
Jam : 19.27 WIB
Hasil :
Jenis pemeriksaan Nilai hasil Nilai normal
Hemoglobin 9,8 g/dl 11-15
LED 30 mm /1 jam <20mm/1 jam
Lekosit 8,390/ul 5000 - 11.000
Hitung jenis
Basofil 0,2% 0-1
Eosinofil 0,4 % 1-3
Batang -
Segmen 63,7 % 50-70
Limfosit 25,7 % 20-40
Monosit 10,0 % 2-10
Hematokrit pcv 30,5 vol % 37-43
Trombosit 399,000 /ul 150.000-500.000
Eritrosit 4,33 juta/ul 4-5
Nilai eritrosit (MCV,
MCH, MCHC)
Ver (MCV) 70,4 fl 82-92
Her (MCH) 22,6 pg 27-31
Kher (MCHC) 32,0 g/dl 32-36
Hemostasis

Masa perdarahan (D) 2’ /dt 1-3 menit


Masa pembekuan 7’/dt 5-11 menit
Imunologi
HBS AG Non reaktif <= 1: non reaktif
(0,147) >1 : reaktif

Hasil USG tanggal 8 Mei 2012


Hepar :
Bentuk dan ukuran baik, permukaan licin, ekhstruktur parenkhim homogen, system
billerintrahepatik tak melebar

Kandung empedu :
Bentuk dan ukuran baik, tak tampak batu, dinding tak menebal

Lien :
Bentuk dan ukuran baik, ekhstruktur parenkhim homogen,

Pankreas :
Bentuk dan ukuran baik, tak tampak lesi fokal
Ginjal kanan
Bentuk dan ukuran baik, diferensiasi kortek medulla jelas tak tampak pelebaran pelviokalises,
tak tampak lesi

Ginjal kiri
Bentuk dan ukuran baik, diferensiasi kortek medulla jelas tak tampak pelebaran pelviokalises,
tak tampak lesi

Uterus :
Bentuk dan ukuran baik, tak tampak lesi fokal

Area Mc. Burney :


Tampak target sign ukuran 0,7 cm,non kompresibel, non peristaltic

Buli buli
Bentuk dan ukuran baik,tak tampak batu, dinding tak menebal

Kesan :
Appendisitis
Tak tampak kelainan organ lain pada USG abdomen saat ini

4. Operasi Sekarang
a. Pre op ( jam 10.20 WIB)
Dx pre op : Appendisitis
Jenis operasi : Pro laparaskopi appendektomi
Pasien sampai d OK : Jam 10.20 WIB
Mulai anastesi : Jam 10.30 WIB
Jenis anastesi : General
Operasi di mulai : 11.15 WIB
Operasi selesai : 12.00 WIB
Pindah ke ruangan : 12.20 WIB
b. Intraoperatif
Pada jam 11.15 WIB dilakukan operasi dengan menggunakan laparaskopi, operasi dilakukan
pada bagian pusat, abdomen Left Lower Quadran (LLQ) dan Right Lower Quadran (RLQ).
Operasi dilakukan selama 45 menit dengan posisi telentang.

Jam 11.15 WIB


TTV
TD : 90/70 mmHg
R : 23 x / menit
N : 89 x / menit
Saturasi : 95 %

Jam 11.30 WIB


TTV
TD : 100/77 mmHg
R : 22 x / menit
N : 85 x / menit
Saturasi : 98 %

Jam 11.45 WIB


TTV
TD : 98/60 mmHg
R : 20 x / menit
N : 88 x / menit
Saturasi : 99 %

Jam 12.00 WIB


TTV
TD : 100/88 mmHg
R : 21 x / menit
N : 83 x / menit
Saturasi : 95 %

Operasi selesai : jam 12.00 WIB


Lama operasi : 45 menit

c. Post bedah
Di recovery room :
TTV :
TD : 100/88 mmHg
N : 89 x / menit
R : 21 x / menit
Saturasi : 98 %
Pasien kembali ke ruangan : jam 12.20 WIB

5. PENATALAKSANAAN MEDIS / KOLABORASI


Tanggal Jenis Jumlah
09 mei 2012 Sedacum ( 10.30 WIB) 5 mg ( 1amp)
Anestesi general Fentanyl ( 10.30 WIB ) 1 amp
Recofol ( 10.30 WIB ) 1 amp
reculax( 10.30 WIB ) 1 amp
keterrogen ( 10.30 WIB ) 60 mg
farmadol( 11.00 WIB ) 1000 mg
Infus asering 500 ml ( 2 pack )

DATA FOKUS
No Data Etiologi Masalah
1 Ds : - Pemajanan tubuh dan Resiko perubahan
Do : jaringan internal suhu tubuh
- Terpasang pendingin terhadap lingkungan :hipotermi
ruangan AC ↓
- Pemajan tubuh dan jaringan Paparan suhu yang
interval terhadap lingkungan dingin
di dalam ruang operasi ↓
- Pengaruh obat-obatan Resiko perubahan suhu
anastesi tubuh
2 Ds : - Proses pembedahan Resiko infeksi
Do :
- Dilakukanya prosedur Luka pada daerah
abdomen
pembedahan laparaskopi
pada area abdomen/prosedur
Masuknya organism
invasive kedalam jaringan tubuh
- Terpajan lingkungan
diruang operasi Mikroorganisme
berkembang dalam
jaringan tubuh

Resiko infeksi

3 Ds : - Prosedur pembedahan Resiko perubahan


Do : ↓
pola nafas tidak
- Penggunaan obat – Penggunaan obat –
obatan anastesi obatan anastesi efektif
Sedacum ( 10.30 WIB ) ↓
Resiko perubahan pola
Fentanyl ( 10.30 WIB )
nafas
Recofol ( 10.30 WIB )
reculax( 10.30 WIB )
keterrogen ( 10.30 WIB)
farmadol( 11.00 WIB)
Jam 11.15 WIB
R : 23 x / menit

Jam 11.30 WIB


R : 22 x / menit

Jam 11.45 WIB


R : 20 x / menit

Jam 12.00 WIB


R : 21 x / menit

4. DS : - Proses pembedahan Resiko cedera


DO : ↓
- Terdapat instrument Penggunaan instrument
bedah dekat dangan klien bedah
- Posisi klien yang ↓
terlentang dengan kepala di Pengaruh obat anastesi
hiperekstensi saat di operasi ↓
- Penggunaan obat Resiko cedera
anastesi
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL


KRITERIA
HASIL
1. Resiko Setelah dilakukan Intervensi mandiri Intervensi mandiri
perubahan suhu tindakan 1. Catat TTV pre 1. Digunakan sebagai dasar
tubuh : keperawatan operatif untuk memantau suhu intra
hipotermi bd diharapkan tidak operasi. Elevasi suhu pra
penggunaan terjadi perubahan operasi adalah indikasi dari
obat anastesi suhu tubuh,. proses penyakit, misalnya
dan pemajanan Dengan kriteria appendicitis
lingkungan hasil :
operasi. - Suhu tubuh dalam 2. Dapat membantu dalam
batas normal mempertahankan/menstabilk
` an suhu tubuh pasien
2. Pantau suhu
lingkungan diruang 3. Kehilangan panas dapat
operasi terjadi waktu kulit(misalnya
tungkai, lengan kepala)
dipajankan pada lingkungan
yang dingin
3. Sediakan selimut
penghangat
4. Penghangatan/pendinginan
yang terus menerus yang
melembabkan inhalasi
anastesi digunakan untuk
mempertahankan
kelembapan dan
keseimbangan suhu tubuh
4. Pantau TTV melalui
fase intra operatif

2. Resiko infeksi Setelah dilakukan Intervensi mandiri Intervensi mandiri


b.d pemajanan tindakan 1. Lakukan cuci tangan
1. Mencegah kontaminasi
lingkungan dan keperawatan sebelum dan sesudah silang
prosedur invasif resiko infeksi melakukan tindakan
tidak
terjadi.. 2. Lakukan teknik
Dengan kriteria aseptic pada saaat
2. Kontaminasi dengan
hasil : membuka peralatan
lingkungan dan kontak
- Tidak ada tanda- operasi yang sudah
personal akan menyebabkan
tanda infeksi steril
daerah yang steril menjadi
tidak steril sehingga dapat
meningkatkan resiko infeksi

3. Penampungan cairan tubuh,


jaringan, dan sisa dalam
3. Buang sisa/bekas
kontak dengan luka/pasien
kassa yang
yang terinfeksi akan
terkontaminasi pada
mencegah penyebaran
tempat-tempat
tertentu didalam infeksi pada
ruang operasi lingkungan/pasien

3. Resiko Setelah dilakukan Intervensi mandiri Intervensi mandiri


perubahan pola tindakan 1. Observasi TTV, 1. Untuk meningkatkan
nafas tidak keperawatan terutana pernapasan pengawasan terhadap
efektif b.d resiko perubahan keefektifan pola nafas
pnggunaan obat pola nafas tidak
anastesi efektif tidak 2. Observasi frekuensi2. Dilakukan untuk
terjadi.. dan kedalaman memastikan keefektifan
Dengan kriteria pernafasan, pernafasan sehingga upaya
hasil : pemakaian otot memperbaikinya dapat
- Bebas dari sianosis bantu napas segea dilakukan
- Bebas dari tanda-
tanda hipoksia 3. Mencegah obstruksi jalan
- Pola nafas normal napas
3. Pertahankan jalan
napas dengan
memiringkan kepala,
hiperekstensi rahang.

Intervensi kolaborasi Intervensi kolaborasi


1. Berikan tambahan 1. Dilakukan untuk
oksigen bila meningkatkan dan
diperlukan memaksimalkan
pengambilan oksigen.

4. Resiko cedera Setelah dilakukan Intervensi mandiri Intervensi mandiri


b.d pemajanan tindakan 1. Lepaskan perhiasan1. Benda-benda yang terbuat
peralatan dan keperawatan pada praoperasi dari logam akan
instrument, resiko cedera berkonduksi dengan alat-alat
penggunaan tidak terjadi elektrik dan membahayakan
obat anastesi Dengan kriteria tubuh terhadap pemakaian
hasil : elektrokauter
- Tmengidentifikasi
faktor-faktor 2. Memastikan pasien dan
resiko cedera prosedur yang tepat
individu 2. Periksa identitas
klien, pastikan
secara verbal nama,
3. Meja di ruang operasi dan
dan nama dokter.
papan lengan sangat sempit
dan pasien ataupun lengan
3. Amankan pasien
dan kaki dapat terjatuh yang
dimaja operasi
akan menyebabkan
dengan sabuk
perlukaan
pengaman pada paha
sesuai indikasi

CATATAN KEPERAWATAN
TANGGAL JAM NO. IMPLEMENTASI & RESPON/HSIL NAMA
DX PERAWAT
10 Mei 11.15 1 1. Mencatat TTV pre operatif Hasmiah
2012 WIB Hasil : Hasil : suhu 36,4 oc, TD 110/70 mmHg, RR
20x/menit, nadi 88x/menit

2. Memantau suhu lingkungan diruang operasi


Hasil : suhu ruangan di ruang operasi 16oc ( 16-20oc)
3. menyediakan selimut penghangat pada saat-saat
darurat untuk anastesi
Hasil : selimut penghangat sudah tersediakan di RR

4. Memantau TTV melalui fase intra operatif


Hasil :
TTV
TD : 90/70 mmHg
R : 23 x / menit
N : 89 x / menit
Saturasi : 95 %

11.20 2 1. Melakukan cuci tangansebelum dan sesudah Hasmiah


WIB
tindakan.
2. Melakukan teknik aseptic pada saaat membuka
peralatan operasi yang sudah steril.
Hasil : membuka kassa steril dengan menggunakan
teknik steril.
3. Membuang sisa/bekas kasa yang terkontaminasi
pada tempat-tempat tertentu didalam ruang operasi
Hasil : sisa-sisa kasa yang tekontaminasi dibuang
pada tempat sampah yang sudah disediakan

11.25 3 1. Mengobservasi TTV, terutana pernapasan


WIB
Hasil : pernafasan 23 x / menit Hasmiah
2. Mengobservasi frekuensi dan kedalaman pernafasan,
pemakaian otot bantu napas
Hasil : tidak mnggunakan otot bantu napas,
frekuensinya teratur.
3. Mempertahankan jalan napas dengan memiringkan
kepala, hiperekstensi rahang.
Hasil : kepala dimiringkan ke samping kanan dan
dilakukan hiperekstensi rahang di RR.

Intervensi kolaborasi
- Memberikan tambahan oksigen bila diperlukan
Hasil : telah diberikan oksigen melalui simple mask

11.25 4 Intervensi mandiri Hasmiah


WIB
1. Melepaskan perhiasan pada praoperasi
Hasil : melepaskan perhiasan yang dipakai klien
2. Memeriksa identitas klien, pastikan secara verbal
nama, dan nama dokter.
Hasil : nama Nn.B, doter yang melakukan
pembedahan Dr. M, dokter anastesi Dr. B
3. Mengamankan pasien dimaja operasi dengan sabuk
pengaman pada paha sesuai indikasi
Hasil : telah di pasangan sabuk pengaman pada
bagian paha dan kedua lengan

Catatan Perkembangan
Tanggal Jam No.Dx Perkembangan klien (SOAP) Nama Perawat
10 mei 12.00 WIB 1 S:- Hasmiah
2012 O:-
TTV
TD : 100/88 mmHg
N : 89 x / menit
R : 21 x / menit
Saturasi : 98 %
- Tubuh tidak menggigil
- Klien menggunakan selimut penghangat.
A:
resiko perubahan suhu : hipotermi tidak
terjadi
P:
Intervensi di lanjutkan di ruangan ursinia.

10 mei 12.00 WIB 2 S:- Hasmiah


2012 O:
TTV
TD : 100/88 mmHg
N : 89 x / menit
R : 21 x / menit
Saturasi : 98 %
- Tidak terdapat pus pada luka bekas
laparaskopi
- Balutan luka di bagian abdomen terlihat
kering
A:
Resiko infeksi tidak terjadi
P:
Intervensi di lanjutkan di ruangan ursinia

10 mei `12.10 3 S:- Hasmiah


2012 WIB O:-
Pola nafas
Jam 11.15 WIB
R : 23 x / menit

Jam 11.30 WIB


R : 22 x / menit

Jam 11.45 WIB


R : 20 x / menit

Jam 12.00 WIB


R : 21 x / menit
- tidak mnggunakan otot bantu napas,
frekuensinya teratur
A :
Resiko perubahan pola nafas tidak efektif
tidak terjadi
P :
Intervensi di lanjutkan di ruangan ursinia.
10 mei 12.20 WIB 4 S:- Hasmiah
2012 O:-
Pengaman bed sudah terpasang
A :
Resiko cedera tidak terjadi
P :
Intervensi di lanjutkan di ruangan ursinia.

DAFTAR PUSTAKA

Dongoes. Marilyn. E.dkk (1999). Rencana asuhan keperawatan pedoman untuk erencana
Pendokumentasian perawatan klien. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Mansjoer. A. Dkk. (2000). Kapita selekta kedokteran. Jilid 2. Edisi 3. Jakarta : Media
Aesculapius.
Markum. (1991). Ilmu kesehatan anak. Jakarta: FKUI.