Anda di halaman 1dari 2

Menjaga Kelestarian Alam Itu Ibadah Lho...

Allah telah menciptakan alam beserta isinya dengan begitu indah. Diantaranya adalah keindahan alam
Indonesia tempat tinggal kita. Segala bentuk kekayaan alam juga disediakan Allah untuk dipergunakan oleh
manusia. Dengan banyaknya manfaat yg bisa diambil, maka sudah seharusnya manusia juga berkewajiban
menjaga kelestarian alam.

Namun dapat kita lihat saat ini khususnya di Indonesia, manusia seringkali melakukan hal-hal yang merusak
alam. Mulai dari banjir, kekeringan, sampai pembakaran hutan yang asapnya saat ini melanda saudara kita
di Sumatera dan Kalimantan.
Kerusakan itu sebenarnya akibat ulah manusia itu sendiri. Sebagaimana firman Allah “Telah tampak
kerusakan di darat dan di laut di sebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada
mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar-Ruum:
41)

Kerusakan alam tersebut juga mencerminkan bahwa pemanfaatan alam secara tidak adil (dzolim) dan tidak
seimbang dengan perawatan dan pelestariannya. Allah SWT berfirman, “Dan Allah telah meninggikan
langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan
tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS ar-Rahman [55]:
7-9).

Kesadaran untuk menjaga alam ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai bentuk. Nabi
SAW pernah menyatakan sebuah ungkapan rasa perhatian terhadap Gunung Uhud dengan sabda
"sesungguhnya ia (Uhud) mencintai kita, begitu pula sesungguhnya kita mencintainya". Selain itu,
Rasulullah SAW juga menganjurkan agar bercocok tanam dan menghijaukan kembali tanah-tanah mati.

Bila kita pelajari hadits Rasulullah SAW, akan didapati sejumlah riwayat yang memuat perintah menjaga
alam dan melarang perusakan lingkungan. Hadits itu, antara lain, pertama, agar berhemat menggunakan
air. Anjuran berhemat air ini antara lain terlihat dalam penggunaan air untuk ber suci dari hadas, baik kecil
mau pun besar. Rasulullah me minta agar tidak boros air saat wudhu, cukup satu mud (1,5 liter menurut
takaran Hijaz dan dua liter sesuai ukur an orang Irak). (HR Mutta faq’alaih). Sedangkan, mandi hendaknya
tak lebih dari lima mud atau 7,5 liter air.

Kedua, jangan mengotori dan merusak tempat umum atau alam yang dibutuhkan banyak orang, seperti air,
udara, dan tanah. La rangan ini sebagaimana tertuang di hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Kedua
riwayat itu me nya takan, Rasulullah meminta ber hati-hati terhadap dua kutukan (riwayat lainnya menyebut
tiga), yaitu membuang hajat di tengah jalan atau di tempat orang yang berteduh. Riwayat lain menyebut
tempat sumber air.
Ketiga, hendaknya tidak merusak tanaman dengan memotong dahannya tanpa manfaat dan atau menoreh
kulit batangnya. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang memotong pohon bidadara, maka Allah akan
membenamkan kepalanya dalam neraka.” (HR Abu Dawud). Pohon bidadara itu merupakan jenis
pepohonan besar dan rindang. Selain berguna sebagai penyerap air, bidadara juga bermanfaat untuk
berteduh. Dalam konteks kekinian, perusakan tanaman yang memiliki kriteria serupa bisa dianalogikan,
misalnya, dengan aktivitas perusakan hutan atau daerah resapan air. Misalnya, membangun vila atau tempat
tinggal di kawasan hijau dan resapan air.

Nah....dari tulisan di atas kita bisa mengetahui bahwa menjaga alam, mulai dari menghemat air, tidak
mengotori lingkungan dan menjaga kelestarian tanaman adalah bentuk pelaksanaan sunnah Rasulullah
SAW yang bernilai ibadah.