Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “ Makalah Komputer dan Jaringan Dasar ”.
Makalah ini berisikan tentang Sistem Komputer atau yang lebih khususnya membahas Sistem
Komputer dan Jaringan Dasar Untuk Peningkatan Pembelajaran , faktor-faktor yang
mempengaruhi, serta identifikasi dan contoh menghindarinya.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Sistem
Komputer Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari Sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu Saya harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, Saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala
usaha kita. Amin.

Medan, Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................ i


DAFTAR ISI ............................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1. Latar Belakang ............................................................................................................. 1
2. Rumusan Masalah ........................................................................................................ 1
3. Tujuan .......................................................................................................................... 1

BAB II : PEMBAHASAN ......................................................................................... 2


1. Pengertian Sistem Bilangan ......................................................................................... 2
2. Dasar dari Komputer, Sistem Bilangan, dan Gerbang logika....................................... 2

BAB III : PENUTUP ................................................................................................. 18


A. Kesimpulan ................................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari komunikasi. Komunikasi merupakan hal
yang sangat penting dalam suatu kehidupan manusia karena dengan komunikasi seseorang bisa
saling berinteraksi satu sama lain. Komunikasi bisa dilakukan secara langsung dengan tatap
muka dan juga bisa lewat jarak jauh. Untuk melaksanakan komunikasi jarak jauh tersebut
dibutuhkan alat yang bisa menghubungkan kita dengan orang lain yang jaraknya cukup jauh.
Komunikasi awalnya bergantung pada transportasi jalan antar kota, antar provinsi/negara bahkan
kemudian antar negara/benua. Kemudian komunikasi dapat terjadi jarak jauh melalui telegraf
(1844), telepon (1867), gelombang radio elektromagnetik (1889), radio komersial (1906),
televisi broadcast (1931), kemudian melalui televisi, dunia jadi lebih kecil karena orang dapat
mengetahui dan mendapatkan informasi tentang yang terjadi di bagian lain dunia ini.
Dalam telekomunikasi, informasi disampaikan melalui sinyal. Sinyal ada dua macam, sinyal
digital dan sinyal analog. Sinyal digital yaitu sinyal yang diwakili oleh angka 0 dan 1. Sedangkan
sinyal analog yaitu sinyal yang terus menerus dengan variasi kekuatan dan kualitas misalnya
suara, cahaya, suhu yang dapat berubah-ubah kualitasnya. Data analog dikirimkan dalam bentuk
yang berkelanjutan, sinyal elektrik berkelanjutan dalam bentuk gelombang. Televisi, telepon dan
radio adalah teknologi telekomunikasi yang menggunakan sinyal analog, sedang komputer
menggunakan sinyal digital untuk transfer informasi.
Namun saat ini sinyal digital juga digunakan untuk suara, gambar dan gabungan keduanya. Di
sisi lain, komputer yang awalnya dimanfaatkan sebagai mesin penghitung dan pengolah data,
digunakan sebagai alat komunikasi sejak adanya jaringan komputer.
2. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan pembahasan maka kami menyusun rumusan masalahnya, sebagai berikut:
1. Apa itu sistem bilangan?
2. Bagaimana konversi sistem bilangan?
3. Bagaimana bentuk tabel bilangan?
3. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui apa yang dinamakan sistem bilangan.
2. Mengetahui konversi sistem bilangan.
3. Mengetahui bentuk tabel bilangan.

1
BAB II
SISTEM BILANGAN
1. Pengertian Sistem Bilangan
Sistem Bilangan atau Number System adalah Suatu cara untuk mewakili besaran dari
suatu item fisik. Sistem Bilangan menggunakan suatu bilangan dasar atau basis (base /
radix) yang tertentu. Dalam hubungannya dengan komputer, ada 4 Jenis Sistem
Bilangan yang dikenal yaitu : Desimal (Basis 10), Biner (Basis 2), Oktal (Basis 8)
dan Hexadesimal (Basis 16). )
2. Dasar dari Komputer, Sistem Bilangan, dan Gerbang logika
2.1. Data
Komputer yang dipakai saat ini adalah sebuah pemroses data. Fungsinya sangat
sederhana : Untuk memproses data, kemudian hasil prosesnya diselesaikan secara
elektronis didalam CPU (Central Processing Unit) dan komponen lainnya yang
menyusun sebuah komputer personal. Tampaknya sederhana, tetapi apa sebenarnya
data?, dan bagaimana data diproses secara elektronis didalam komputer personal?.
2.1.1. Analog
Suatu sinyal yang dikirimkan dari suatu pemancar (transmitter) ke penerima (receiver)
untuk berkomunikasi, adalah data. Data-data yang bisa dijumpai sehari-hari memiliki
banyak bentuk, antara lain: suara, huruf, angka, dan karakter lain (tulisan tangan atau
dicetak), foto, gambar, film dan lain sebagainya. Suatu sistem yang dapat memproses
nilai yang kontinyu berbanding terhadap waktu dinamakan sistem analog. Pada sistem
analog, nilainya biasa diwakili oleh tegangan, arus dan kecepatan. Berikut ini adalah
gambar grafik nilai tegangan analog terhadap waktu.

Gambar
2.1.

2
2.1.2. Digital
Sistem yang memproses nilai diskrit (langkah demi langkah) dinamakan digital. Pada
sistem digital untuk menunjukkan suatu nilai digunakan simbol yang dinamakan digit.
Sinyal pada gambar 2.1. diatas dapat “didigitalkan” dengan menggunakan ADC
(Analog to Digital Converter). ADC mengubah sinyal kontinyu menjadi sinyal diskrit
dengan menyamplingnya tiap detik (tiap satuan waktu). Perhatikan gambar 2.2. berikut:

Gambar 2.2.
Komputer adalah sebuah perangkat elektronik. Data yang dapat diolah adalah data yang
direpresentasikan oleh sinyal listrik. Sinyal yang digunakan bisa dianalogikan dengan
saklar listrik, yaitu tombol off (mati) atau on (hidup). Jika saklar pada kondisi off, maka
komputer membaca sebagai data 0, jika saklar dalam kondisi hidup, maka komputer
membaca sebagai angka 1. Perhatikan gambar 2.3. berikut :

Gambar 2.3.
Sebuah komputer personal terdiri dari saklar-saklar yang banyak jumlahnya
(menggunakan komponen elektronik berupa transistor). Jumlah dari transistor yang
digunakan bisa sampai jutaan, sehingga dapat memproses data dari jutaan angka 0 dan
1.
2.1.2.1. Bits
3
Setiap angka 0 dan 1 biasa disebut Bit. Bit adalah singkatan dari Binary Digit. Kata
Binary diambil dari nama Binary Number System (Sistem Bilangan Biner). Tabel 2.1.
berikut menunjukkan tentang bit :

0 1 bit
1 1 bit
0110 4 bit
10011101 8 bit
Tabel 2.1.
2.1.2.2. Sistem Bilangan Biner
Sistem bilangan biner disusun dari angka-angka, sama seperti sistem bilangan desimal
(sistem bilangan 10) yang sering digunakan saat ini. Tetapi untuk desimal
menggunakan angka 0 sampai 9, sistem bilangan biner hanya menggunakan angka 0
dan 1.
Berikut adalah tabel contoh sistem bilangan biner.

Sistem Sistem
Desimal Biner
0 0
1 1
2 10
3 11
4 100
5 101
6 110
7 111
Tabel 2.2.
Penjelasan lebih detail tentang bilangan biner dapat dibaca pada modul 2.2. tentang
Sistem Bilangan.
2.1.2.3. Bytes
Pengolahan data yang paling sering digunakan adalah pengolah kata (word processing),
yang akan digunakan sebagai contoh. Ketika melakukan suatu pengolahan kata,
komputer bekerja dengan keyboard. Ada 101 tombol yang mewakili karakter alphabet
4
A, B, C, dst. Selain itu juga akan ditemui karakter angka 0 sampai dengan 9, dan
karakter-karakter lain yang diperlukan, antara lain : ,.­;():_?!"#*%&.
Seluruh karakter yang ada pada keyboard harus didigitalkan. Karakter-karakter tersebut
diwakili oleh angka-angka 0 dan 1. Bit yang digunakan adalah 8 bit biner. 8 bit biner
dinamakan Byte.
8 bit = 1 bytes, sistem inilah yang digunakan. Jika menggunakan 8 bit biner, berapa
kombinasi angka yang dapat diwakili?.
Untuk sistem bilangan biner, banyaknya kombinasi dihitung dengan 2n ≤ m. n adalah
jumlah bit, m adalah kombinasi yang dapat diwakili.
Sehingga pada 8 bit biner, dapat mewakili 28 = 256 kombinasi maksimal.

Karakter Bit Byte Karakter Bit Byte


A 01000001 65 ¼ 10111100 188
B 01000010 66 . 00101110 46
C 01000011 67 : 00111010 58
a 01100001 97 $ 00100100 36
b 01100010 98 \ 01011100 92
Tabel 2.3.
Ketika mengetik kata “digital” simbol yang digunakan adalah 6 huruf, saat komputer
mengolahnya, 6 huruf tersebut didigitalkan menjadi 6 bytes, yang kemudian
“diletakkan” pada RAM komputer saat mengetik, dan akan “diletakkan” pada harddisk,
jika disimpan.
Tabel berikut menunjukkan perbandingan ukuran unit data
Unit Definisi Bytes Bits Contoh
Bit (b) Binary Digit, 0 dan 1 1 1 On/Off, buka/tutup
Byte (B) 8 bits 1 8 Kode ASCII
Kilobyte 1.024 bytes 1000 8000 Ukuran email biasa = 2 KB
(KB) 10 halaman dokumen= 10 KB
Megabyte 1.024 kilobytes 1 juta 8 juta Floppy disks = 1,44 MB
(MB) 1.048.576 bytes CDROM = 650 MB
Gigabyte 1.024 megabytes 1 milyar 8 milyar Hard drive = 40 GB
(GB) 1.073.741.824 bytes

5
Terrabyte 1.024 gigabytes 1 trilyun 8 trilyun Data yang dapat ditransmit
(TB) (secara teori) pada fiber optic
selama 1 detik.
Tabel 2.4.
Standard yang digunakan sebagai digitalisasi alphanumerik adalah ASCII.
2.1.2.4. ASCII
ASCII singkatan dari American Standard Code for Information Interchange. Standard
yang digunakan pada industri untuk mengkodekan huruf, angka, dan karakter-karakter
lain pada 256 kode (8 bit biner) yang bisa ditampung.
Tabel ASCII dibagi menjadi 3 seksi:
a. Kode sistem tak tercetak (Non Printable System Codes) antara 0 – 31.
b. ASCII lebih rendah (Lower ASCII), antara 32 – 137. Diambil dari kode sebelum
ASCII digunakan, yaitu sistem American ADP, sistem yang bekerja pada 7 bit
biner.
c. ASCII lebih tinggi (Higher ASCII), antara 128 – 255. Bagian ini dapat
diprogram, sehingga dapat mengubah-ubah karakter.
2.1.2.5. Program Code
Telah disebutkan diatas tentang data yang digunakan pada komputer. Tetapi begitu
banyak data yang ada pada komputer personal. Tipe data dasar dapat dikelompokkan
menjadi 2 :
a. Program Code, dimana data digunakan untuk menjalankan fungsi komputer.
b. Data User, seperti teks, gambar dan suara.
Suatu komputer harus memiliki instruksi-instruksi agar dapat berfungsi sebagaimana
fungsinya. Hal ini akan dijelaskan lebih detail pada modul 3. CPU didesain untuk
mengenali instruksi-instruksi ini, yang kemudian diproses bersama-sama data user.
Program Code adalah kumpulan instruksi-instruksi, dieksekusi satu persatu, ketika
program dijalankan. Saat meng-klik mouse, atau mengetikkan sesuatu pada keyboard,
instruksi-instruksi dikirimkan dari software (perangkat lunak) ke CPU.
2.1.2.6. Files
Program Code dan Data User disimpan sebagai file pada media penyimpanan. Tipe
file dapat dikenali dari ekstensi file tersebut. Berikut adalah contohnya :

6
Contoh nama file
Program Code Start.exe, win.com, help.dll, vmm32.vxd
Data User Letter.doc, house.bmp, index.htm
Tabel 2.5.
Tabel 2.5. diatas menunjukkan tentang penamaan suatu file. Ekstensi suatu file
menentukan bagaimana PC menanganinya.
2.2. Sistem Bilangan
2.2.1. Desimal
Sebelum mempelajari tentang bilangan biner, ada baiknya mengetahui tentang sistem
bilangan yang umum dipakai, yaitu desimal (bilangan basis 10). Perhatikan tabel 1.6.
berikut:

BaseExponent 102 = 100


101 = 10
100 = 1
Jumlah simbol (radiks) 10
Simbol 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Tabel 2.6.

Untuk menghitung suatu basis bilangan, harus dimulai dari nilai yang terkecil (yang
paling kanan). Pada basis 10, maka kalikan nilai paling kanan dengan 10 0 ditambah
dengan nilai dikirinya yang dikalikan dengan 101, dst. Untuk bilangan dibelaang koma,
gunakan faktor pengali 10-1, 10-2, dst.

Contoh :
1243 = (1 X 103) + (2 X 102) + (4 X 101) + (3 X 100)
= 1000 + 200 + 40 + 3
752,91 = (7 X 102) + (5 X 101) + (2 X 100) + (9 X 10-1) + (1 X 10-2)
= 700 + 50 + 2 + 0,9 + 0,01

7
2.2.2. Biner
Untuk bilangan biner (bilangan basis 2), perhatikan tabel 2.7. berikut :

BaseExponent 25 = 32 22 = 4
24 = 16 21 = 2
23 = 8 20 = 1
Jumlah simbol 2
(radiks)
Simbol 0, 1
Tabel 2.7.
Untuk bilangan biner, kalikan bilangan paling kanan terus ke kiri dengan 20, 21, 22,
dst.
Contoh :
101102 = (1 X 24) + (0 X 23) + (1 X 22) + (1 X 21) + (0 X 20)
= (16 + 0 + 4 + 2 +0) = 22
Dari contoh diatas, menunjukkan bahwa bilangan biner 10110 sama dengan bilangan
desimal 22.
Dari dua sistem bilangan diatas, dapat dibuat rumus umum untuk mendapatkan nilai
desimal dari radiks bilangan tertentu :
(N)r = [(d0 x r0) + (d1 x r1) + (d2 x r2) + … + (dn x rn)]10
dimana; N = Nilai
r = Radiks
d0, d1, d2 = digit dari yang terkecil (paling kanan) untuk d0
Untuk mengkonversi bilangan desimal kebiner ada dua cara, perhatikan contoh
berikut :
Cara I :
16810 kurangkan dengan pangkat terbesar dari 2 yang mendekati 16810 yaitu 128 (27).
a. 128 (27) lebih kecil dari 168, maka bilangan paling kiri adalah 1. 168 – 128 =
40.
b. 64 (26) lebih besar dari 40, maka bilangan kedua adalah 0.
c. 32 (25) lebih kecil dari 40, maka bilangan ketiga adalah 1. 40 – 32 = 8.
d. 16 (24) lebih besar dari 8, maka bilangan keempat adalah 0.

8
e. 8 (23) lebih kecil/sama dengan 8, maka bil. kelima adalah 1. 8 – 8 = 0.
f. Karena sisa 0, maka seluruh bit dikanan bil. kelima adalah 0.
16810 = 101010002.

Cara II :
168 / 2 = 84 sisa 0
84 / 2 = 42 sisa 0
42 / 2 = 21 sisa 0
21 / 2 = 10 sisa 1
10 / 2 = 5 sisa 0
5/2=2 sisa 1
2/2=1 sisa 0
1/2=0 sisa 1
Bit biner terbesar dimulai dari bawah, sehingga 16810 = 101010002

2.2.3. Heksadesimal
Bilangan heksadesimal biasa disebut bilangan basis 16, artinya ada 16 simbol yang
mewakili bilangan ini. Tabel 1.8. berikut menunjukkan konversi bilangan heksadesimal
:
Desimal Biner Heksadesimal
0 0000 0
1 0001 1
2 0010 2
3 0011 3
4 0100 4
5 0101 5
6 0110 6
7 0111 7
8 1000 8
9 1001 9
10 1010 A
11 1011 B
12 1100 C
9
13 1101 D
14 1110 E
15 1111 F
Tabel 2.8.
Untuk konversi bilangan biner ke heksadesimal, perhatikan contoh berikut :
101101010100100102 = 0001 0110 1010 1001 0010
=16A92
Jadi bil. biner 10110101010010010 sama dengan bil. heksadesimal 16A92.
Penulisan bilangan heksadesimal biasa juga ditambahkan dengan karakter “0x”
didepannya. Nilai 254316 sama nilainya dengan 0x2543.

2.2.4. Oktal
Bilangan oktal disebut bilangan basis 8, artinya ada 8 simbol yang mewakili bilangan
ini. Tabel 1.9. berikut menunjukkan konversi bilangan oktal :
Desimal Biner Oktal
0 000 0
1 001 1
2 010 2
3 011 3
4 100 4
5 101 5
6 110 6
7 111 7
Tabel 2.9.
Untuk konversi bilangan biner ke oktal, perhatikan contoh berikut :
101101010100100102 = 010 110 101 010 010 010
= 2 6 5 2 2 28
Jadi bil. biner 10110101010010010 sama dengan bil. oktal 265222.
Untuk konversi dari oktal ke heksadesimal, ubah terlebih dahulu bilangan oktal yang
akan dikonversi menjadi biner. Hal ini berlaku juga untuk konversi dari heksadesimal
ke oktal. Perhatikan contoh berikut :
7258 = 111 010 1012
= 0001 1101 0101
10
= 1 D 516
FE16 = 1111 11102
= 011 111 110
= 3 7 68

2.3. Sandi Biner


2.3.1 Sandi 8421 BCD (Binary Coded Decimal)
Sandi 8421 BCD adalah sandi yang mengkonversi bilangan desimal langsung ke
bilangan binernya, sehingga jumlah sandi BCD adalah 10, sesuai dengan jumlah simbol
pada desimal. Perhatikan tabel 2.10. berikut :
Desimal 8 4 2 1
0 0 0 0 0
1 0 0 0 1
2 0 0 1 0
3 0 0 1 1
4 0 1 0 0
5 0 1 0 1
6 0 1 1 0
7 0 1 1 1
8 1 0 0 0
9 1 0 0 1
Tabel 2.10.
Contoh :
19710 sandi BCD-nya adalah : 0001 1001 0111
2.3.2. Sandi 2421
Sandi 2421 hampir sama dengan sandi 8421, terutama untuk bilangan desimal 0 sampai
dengan 4. Tetapi sandi berikutnya merupakan pencerminan yang diinversi. Perhatikan
tabel 2.11. berikut :
Desimal 2 4 2 1
0 0 0 0 0
1 0 0 0 1
2 0 0 1 0

11
3 0 0 1 1
4 0 1 0 0
5 1 0 1 1
6 1 1 0 0
7 1 1 0 1
8 1 1 1 0
9 1 1 1 1
Tabel 2.11.
Perhatikan sandi desimal 5. Sandi tersebut merupakan cermin dari sandi 4 desimal,
tetapi logikanya diinversi. Begitu pula pada sandi desimal 6 yang merupakan cermin
dari sandi desimal 3 yang diinversi, dst.
Contoh :
37810 sandi 2421-nya adalah : 0011 1101 1110
2.4. Boolean atau Logika Biner
Logika memberi batasan yang pasti dari suatu keadaan. Sehingga keadaan tersebut tidak
dapat berada dalam dua ketentuan sekaligus. Karena itu, dalam logika dikenal
aturan-aturan sebagai berikut :
- Suatu keadaan tidak dapat benar dan salah sekaligus.
- Masing-masing adalah hanya benar atau salah (salah satu).
- Suatu keadaan disebut BENAR bila TIDAK SALAH.
Dua keadaan itu dalam aljabar boole ditunjukkan dengan dua konstanta, yaitu logika
“1” dan logika “0”.
Misal :
Logika “1” Logika “0”
Benar Salah
Hidup Mati
Siang Malam
Contoh diatas dapat dituliskan :

Tidak Benar atau Benar = Salah


Tidak Hidup atau Hidup = Mati
Tidak Siang atau Siang = Malam
Tanda garis atas dipakai untuk menunjukkan pertentangan atau lawan dari keadaan itu.
12
Sehingga tanda garis tersebut merupakan pertentangan logika (Logical Inversion) yang
mempunyai fungsi untuk menyatakan “Tidak” (Not).
Ā = Tidak A atau Ā = NOT A
Himpunan adalah kumpulan dari elemen yang setidaknya memiliki sifat yang sama,
dan bisa memiliki kelompok yang terbatas atau tidak terbatas jumlahnya. Misalnya
himpunan mahasiswa politeknik. Himpunan tersebut tentu saja terdiri dari bermacam-
macam kelompok. Jika dapat diambil tiga kelompok :
- Kelompok yang berasal dari luar jawa : J.
- Kelompok yang sedang kuliah : K.
- Kelompok yang mengerjakan laporan akhir : L.
Sehingga seseorang setidaknya masuk dalam satu kelompok tersebut, bahkan dapat
terjadi masuk dalam dua kelompok sekaligus. Misalnya mahasiswa luar jawa yang
sedang mengerjakan laporan akhir, berarti masuk kelompok J dan L (J AND L). J AND
L dituliskan juga dengan J . L.
Gabungan antara mahasiswa luar jawa dan mahasiswa yang mengerjakan laporan akhir
memiliki pengertian : mahasiswa luar jawa atau mahasiswa mengerjakan laporan akhir,
J atau L (J OR L). J OR L dituliskan juga dengan J + L.
Logika Biner (gerbang Boolean) adalah rangkaian digital yang menerima satu atau lebih
masukan tegangan untuk memperoleh keluaran tertentu sesuai dengan aturan boole
yang berlaku.
Jika membicarakan komputer, maka perbedaan tegangan yang digunakan sebagai
on/off atau nilai biner 1/0. nilai 1 ekivalen dengan tegangan +5 volt dan nilai 0 ekivalen
dengan tegangan 0 volt. Perhatikan Gambar 2.4. yang menunjukkan lambang
gerbang-gerbang dasar NOT, AND dan OR. Sedangkan Tabel 2.14. menunjukkan tabel
kebenaran dari logika gerbang-gerbang dasar yang ada.

Gambar 2.4.
Gerbang

13
NOT AND OR
A Ā A B X A B X
0 1 0 0 0 0 0 0
1 0 1 0 0 1 0 1
Nilai 0 1 0 0 1 1
1 1 1 1 1 1
Tabel 2.14.
Gerbang NOT membutuhkan minimal 1 masukan agar dapat berfungsi, sedangkan
gerbang lainnya membutuhkan minimal 2 masukan. Dari tabel 1.14. diatas dapat dilihat
bahwa gerbang AND hanya akan bernilai 1 pada keluarannya, jika semua masukannya
bernilai 1. Sedangkan gerbang OR akan bernilai 1 pada keluarannya, jika salah satu
atau semua masukannya bernilai 1. Salah satu contoh komponen penyusun komputer
yang menggunakan gerbang adalah memory.
Selain gerbang-gerbang dasar yang telah disebutkan, ada juga gerbang-gerbang
kombinasi yang merupakan campuran dari beberapa gerbang dasar. Diantaranya
adalah gerbang NAND, NOR, XOR, dan XNOR. Gambar 2.5. berikut menunjukkan
tentang lambang-lambang gerbang kombinasi yang ada. Sedangkan tabel 2.15.
menunjukkan Tabel kebenaran dari gerbang kombinasi tersebut.

Gambar 2.5.
Gerbang
NAND NOR XOR XNOR

14
A B F A B F A B F A B F
0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1
0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0
Nilai 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0
1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1
Tabel 2.15.
Gerbang NAND = NOT AND

F= A B
Gerbang NOR = NOT OR
F=A B
Gerbang XOR = A. B A. B
F=A B

Gerbang XNOR =

A. B A. B

F=A B
Selain gerbang dasar dan gerbang kombinasi diatas, terdapat satu lagi gerbang logika
yang berfungsi sebagai penyangga (Buffer). Gerbang Buffer tidak mengubah masukan
tetapi berfungsi untuk menguatkan sinyal masukan. Selain memperkuat sinyal
masukan, Buffer juga berfungsi untuk menambah waktu tunda (time delay). Gambar
2.6. menunjukkan lambang dari gerbang Buffer.

Gambar 2.6.

15
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Sistem bilangan biner atau sistem bilangan basis dua adalah sebuah sistem penulisan angka
dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1. Sistem bilangan biner modern ditemukan oleh
Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad ke-17. Sistem bilangan ini merupakan dasar dari semua
sistem bilangan berbasis digital. Dari sistem biner, kita dapat mengkonversinya ke sistem
bilangan Oktal atau Hexadesimal. Sistem ini juga dapat kita sebut dengan istilah bit, atau Binary
Digit. Pengelompokan biner dalam komputer selalu berjumlah 8, dengan istilah 1 Byte/bita.
Dalam istilah komputer, 1 Byte = 8 bit. Kode-kode rancang bangun komputer, seperti ASCII,
American Standard Code for Information Interchange menggunakan sistem peng-kode-an 1
Byte.
20=1
21=2
22=4
23=8
24=16
25=32
26=64
Dst
Perhitungan
Desimal Biner (8 bit )
0 0000 0000
1 0000 0001
2 0000 0010
3 0000 0011
4 0000 0100
5 0000 0101
6 0000 0110
7 0000 0111
8 0000 1000
9 0000 1001

16
10 0000 1010
11 0000 1011
12 0000 1100
13 0000 1101
14 0000 1110
15 0000 1111
16 0001 0000
Perhitungan dalam biner mirip dengan menghitung dalam sistem bilangan lain. Dimulai dengan
angka pertama, dan angka selanjutnya. Dalam sistem bilangan desimal, perhitungan
mnggunakan angka 0 hingga 9, sedangkan dalam biner hanya menggunakan angka 0 dan 1.
contoh: mengubah bilangan desimal menjadi biner desimal = 10. Berdasarkan referensi diatas
yang mendekati bilangan 10 adalah 8 (23), selanjutnya hasil pengurangan 10-8 = 2 (21). sehingga
dapat dijabarkan seperti berikut 10 = (1 x 23) + (0 x 22) + (1 x 21) + (0 x 20).

17
DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Jaringan_komputer/
http://teknik-informatika.com/jaringan-komputer/
http://rizma.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/06/16/3/
https://kauni07.files.wordpress.com/2009/03/modul_2_-_sistem_bil_sandi_biner_gerbang.pdf

18