Anda di halaman 1dari 10

BAB 1

PENDAHULUAN
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. JENIS- JENIS PEMERIKSAN HEMOSTASIS

1. PEMERIKSAAN FUNGSI VASKULAR

a. Pemeriksaan Rumple leede

Ketika terjadi perdarahan, maka pembuluh darah akan mengeluarkan zat-zat seperti
serotonin, epinefrin, dan 5-hidroksitriptamin sehingga terjadi vasokonstriksi yang menyebabkan
volume darah yang keluar dari tubuh menjadi lebih sedikit. Untuk menilai kemampuan vaskular pada
tubuh seseorang terhadap mekanisme tersebut, maka dapat dilakukan pemeriksaan rumple leede
dan masa perdarahan.

Pemeriksaan rumple leede merupakan pemeriksaan dimana pembuluh darah dibendung


menggunakan spignomanometer pada tekanan tertentu selama 10 menit. Apabila pembuluh vaskuler
tidak kuat menahan tekanan yang diberikan, maka darah akan keluar dari pembuluh darah dan
terlihat sebagai bercak merah pada permukaan kulit (petechia) .Tekanan darah pada saat
pembendungan merupakan nilai tengah antara tekanan darah sistole dengan diastole.

Pada pemeriksaan rumple leede hasil positif dapat diketahui jika pada lingkaran
berdiameter 5 cm, kira-kira 4 cm distal dari fossa cubiti terbentuk petechia (bercak merah) sebanyak
lebih dari 10 petechia. Hasil positif juga dapat disimpulkan apabila terdapat banyak petekie pada
bagian daerah distal sekitar pergelangan tangan. Hasil positif memperlihatkan bahwa kemampuan
vaskuler pasien tidak baik ketika terjadi tekanan pada pembuluh darah.

Hasil negatif dapat disimpulkan apabila tidak terdapat petechia pada lingkaran
berdiameter 5 cm, kira-kira4 cm distal dari fossa cubiti. Hal tersebut memperlihatkan bahwa
kemampuan vaskuler pasien tersebut baik, ketika terjadi tekanan pada pembuluh darah. Hasil
pemeriksaan rumple leede tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan vaskular, akan tetapi
dipengaruhi juga oleh jumlah dan fungsi trombosit. Pada pemeriksaan rumple leede, pembuluh
vaskuler ditekan pada tekanan tertentu menggunakan spigmomanometer, ketika pembuluh darah tidak
kuat menahan tekanan, maka darah akan keluar dari pembuluh darah dan terlihat sebagai bercak
merah. Hal tersebut dapat dihambat apabila pasien tersebut mempunyai trombosit dengan jumlah dan
fungsi yang normal/baik. Ketika darah akan keluar dari pembuluh darah, maka trombosit akan
membentuk sumbat trombosit, sehingga tidak terlihat petechia pada permukaan kulit pasien. Akan
tetapi ketika jumlah ataupun fungsi trombosit tidak berfungsi normal, maka akan lebih mudah
terbentuk petechia. Uji rumple leede dapat positif ketika dilakukan pada pasien dengan kondisi
trombositopenia, seperti pasien demam berdarah. Uji tidak boleh dilakukan apabila sebelum pelaksaan
pemeriksaan, pasien sudah mengalami pupura atau ekimosis. Apabila uji rumple leede dilakukan
setelah pemeriksaan masa perdarahan metode Ivy, maka wa ktu pembendungan dilakukan selama
lima menit.

b. Pemeriksaan Masa perdarahan

Selain pemeriksaan rumple leede, kemampuan vaskuler pada proses hemostasis dapat
dilakukan dengan menguji masa perdarahan. Pemeriksaan masa perdarahan dilakukan untuk
menentukan lamanya perdarahan ketika terjadi perlukaan pada pembuluh darah kapiler.Terdapat
dua metode pemeriksaan masa perdarahan, yaitu metode Duke dan Ivy. Metode duke, perlukaan
pembuluh darah kapiler dilakukan pada daerah cuping telinga, sedangkan metode Ivy, perlukaan
dilakukan pada bagian voler lengan. Seperti uji rumple leede, pemeriksaan masa perdarahan
dapat dilakukan untuk menilai kemampuan vaskuler pembuluh darah ketika terjadi perdarahan, akan
tetapi uji ini dipengaruhi juga oleh jumlah serta fungsi trombosit.

Pemeriksaan masa perdarahan metode Duke, dilakukan penusukan pembuluh kapiler pada
anak daun telinga, setelah anak daun telinga tersebut diantisepsis menggunakan kapas alkohol 70%.
Ketika tetes darah keluar dari daerah tusukan, maka stopwatch dinyalakan. Tetes darah tersebut
diserap menggunakan kertas saring setiap 30 detik hingga luka tertutup (tidak terdapat darah pada
kertas saring). Pada metode ini, kondisi pasien normal jika luka pada pasien terhenti antara 1-3
menit.

Pemeriksaan masa perdarahan metode Ivy, dilakukan pembendungan pada lengan yang akan
diuji menggunakan spigmomanometer pada tekanan 40 mmHg. Setelah dilakukan pembendungan,
bagian voler lengan diantisepsis menggunakan alkohol 70% dan dibiarkan mengering. Setelah
alkohol mengering, dilakukan penusukan bagian voler lengan pasien. Ketika terlihat tetes darah
pertama pada daerah tusukan, makastopwatch dinyalakan. Tetes darah tersebut diserap menggunakan
kertas saring setiap 30 detik hingga luka tertutup (tidak terdapat darah pada kertas saring). Pada
metode ini, kondisi pasien normal jika luka pada pasien terhenti antara 1-6 menit. Pada metode Ivy,
tetes darah pertama harus memiliki diameter 5 mm. Ketika diameter tetes pertama < 5mm, maka
dikhawatirkan tusukan kurang dalam. Jika di ameter tetes pertama < 5mm, maka perlu dilakukan
penusukan ulang. Selain dari dimeter tusukan pertama, tusukan yang kurang dalam dapat diketahui
ketika masa perdarahan kurang dari satu menit. Apabila pada pemeriksaan masa perdarahan metode
Ivy didapat hasil lebih dari 10 menit, maka pemeriksaan perlu diulang. Hal tersebut dikarenakan
kekhawatiran tertusuknya pembuluh darah vena ketika penusukan bagian voler lengan pasien. Apabila
hasil uji ulang masih didapat masa perdarahan lebih dari 10 menit, maka dapat membuktikan
terdapatnya kelainan pada proses hemostasis.

2. PEMERIKSAAN FUNGSI SELULAR

Sesuai dengan pembahasan pada bab sebelumnya, trombosit merupakan bagian sel yang
berperan dalam proses pembekuan darah dengan melakukan proses adhesi, agregasi primer,
agregasi sekunder dan reaksi pelepasan. Apabila jumlah ataupun fungsi dari trombosit tidak normal,
maka proses pembekuan darah dapat terhambat dan masa perdarahan akan memanjang. Untuk
mengetahui hal tersebut, maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap jumlah serta fungsi dari
trombosit.

a. Pemeriksaan jumlah trombosit

Jumlah trombosit dapat diketahui dengan melakukan perhitungan sel trombosit, baik
menggunakan alat otomatisasi ataupun menggunakan metode manual. Perhitungan sel
trombosit pada alat otomatisas dapatmenggunakan berbagai macam metode, seperti
electrical impedance, flowcitometri dan flowresensi flowsitometri. Metode electrical impedance
disebut juga dengan Coulter principle. Alat otomatisasi dengan metode impedance, menghitung
sel berdasarkan ukuran sel. Pada metode electrical impedance sel dihitung berdasarkan ukuran
sel. Sel dalam darah akan melewati oriface/celah, dimana sel yang tersebut akan melewati
celah satu persatu dan mengganggu aliran listrik ketika melewati celah. Besar gangguan
aliran listrik sebanding dengan ukuran sel. Metode ini mempunyai kekurangan yaitu, apabila sel
trombosit yang melalui oriface (celah) lebih besar dari normal (giant trombosit), maka alat dapat
salah melakukan pembacaan, sel trombosit akan dihitung sebagai sel eritrosit atau lekosit.
Kesalahan pembacaan dapat juga terjadi ketika terdapat kelainan sel eritrosit seperti sel eritrosit
terfragmentasi. Pada kondisi tersebut, sel eritrosit terfragmentasi dapat terbaca sebagai sel
trombosit. Untuk menghindari kesalahankesalahan pembacaan, maka dapat dilihat flaging pada
alat otomatisasi tersebut.

Alat otomatisasi metode flowcitometri menghitung sel menggunakan sinar laser. Setiap
sel dalam darah sampel akan melewati celah yang disinari oleh sinar laser. Sinar laser tersebut
akan diserap oleh sel dan sinar yang berpendar akan dideteksi oleh alat dari beberapa sudut.
Pada alat ini dapat diketahui diameter serta morfologi sel lekosit (granula dan kompleksitas),
oleh karena itu alat ini dapat menghitung jenis sel lekosit 5 jenis.

Penghitungan jumlah trombosit, selain menggunakan alat otomatisasi, dapat juga


dilakukan secara manual. Perhitungan secara menual dilakukan dengan mengencerkan darah
sampel menggunakan larutan tertentu. Pelarut yang digunakan antara lain, amonium oxalat
dan Rees Ecker. Setelah dilakukan pengenceran, sel trombosit akan dihitung menggunakan bilik
hitung Improved Neubauer dengan luas lapang pandang 1mm2 Jumlah sel trombosit setiap
mikroliter darah dihitung berdasarkan volume pengenceran dan volume lapang pandang
perhitungan sel. Pada penggunaan larutan amonium oxalat, sel lain selain trombosit akan lisis,
sedangkan pada penggunaan larutan Rees ecker sel yang tidak dilisiskan adalah sel trombosit
dan sel eritrosit. Perhitungan jumlah sel trombosit secara manual, selain dihitung secara
langsung menggunakan pelarut tertentu, dapat juga dilakukan dengan menggunakan metode
tidak langsung, yaitu menghitung sel trombosit pada SAD (sediaan apus darah). Pada metode
tersebut, sel trombosit dihitung terhadap 1000 sel eritrosit. Metode tersebut, dikatakan
sebagai metode manual tak langsung, karena untuk menentukan jumlah sel trombosit/μL
darah, selain menghitung sel darah pada SAD per 1000 sel eritrosit, TLM juga harus menghitung
jumlah eritrosit /μL darah.

Pada proses hemostasis, trombosit berfungsi untuk membentuk sumbat trombosit, agar
perdarahan dapat terhenti. Untuk mengetahui fungsi trombosit, dapat dilakukan pemeriksaan
agregasi trombosit. Pemeriksaan agregasi trombosit dapat dilakukan menggunakan alat
aggregometer. Selain untuk menilai fungsi trombosit, pemeriksaan agregasi trombosit dapat
digunakan untuk membantu diagnosa hyperkoagulasi yang dapat menyebabkan trombosis
akibat terbentuknya trombus.

3. PEMERIKSAAN FUNGSI BIOKIMIA

Pada proses hemostasis, selain vaskuler dan sel trombosit, faktor pembekuan darah juga
berperan penting proses pembentukkan benang fibrin. Faktor pembekuan darah antara lain :

Tabel 1. Faktor pembekuan darah

I Fibrinogen

II Protrombin

III Jaringan tromboplastin

IV Kalsium
V Faktor labil, proakselerin

VI -VII Faktor stabil, prokonvertin

VIII Globulin antihemolifilik (AHG), faktor A antihemofilik

IX Faktor Chrismas, komponen tromboplastin plasma (PTC)

X Faktor Stuart, Faktor Prower

XI Plasma tromboplastin antecedent, Faktor Antihemofilik C

XII Faktor Hageman, Faktor kontak

XIII Faktor penstabil fibrin, Fibrinase

High Molucular Weight Kininogen (HMWK), Faktor Fitzgerald

Prekalikrein, faktor Fletcher

Pembentukaan benang fibrin dapat distimulus oleh jalur intrinsik ataupun jalur ekstrinsik.
Jalur Intrinsik meliputi fase kontak dan pembentukkan kompleks aktivator F.X. Adanya kontak antara
F.XII dengan permukaan asing seperti serat kolagen akan mengaktivasi F.XII menjadi FXIIa. Dengan
adanya kofaktor HMWK, F.XIIa akan mengubah prekalikrein menjadi kalikrein. F.XIIa akan mengubah F.
XI menjadi XIa. F.XIa dengan bantuan ion kalsium akan mengubah F.IX menjadi F.IXa. Reaksi terakhir
jalur ekstinsik adalah interaksi non enzimatik antara F.IXa, PF.3, F.VIII dan ion kalsium membentuk
kompleks yang mengaktifkan F.X. Jalur ekstrinsik terdiri dari reaksi tunggal dimana F.VII akan
diaktifkan menjadi F.VIIa de ngan adanya ion kalsium dan tromboplastin jaringan yang dikeluarkan
oleh pembuluh darah yang luka. Selanjutnya F.VIIa akan mengaktifkan F.X menjadi F.Xa. Jalur bersama
meliputi pembentukkan protrombin converting complex (protrombinase), aktivasi protrombin dan
pembentukkan fibrin. Reaksi pertama pada jalur bersama adalah perubahan F.X menjadi F.Xa. FXa
bersama F.V, PF.3, dan ion kalsium membentuk protrombin converting complex yang akan mengubah
protrombin menjadi trombin. Trombin selanjutnya akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin.
a. Pemeriksaan kelainan jalur intrinsik
Koagulasi jalur intrinsik melibatkan aktivasi faktor kontak prekalikrein, HMWK,
faktor XII dan XI. Faktor-faktor ini berinteraksi pada permukaan untuk mengaktifkan
faktor IX menjadi IXa. Faktor IXa bereaksi dengan faktor VIII, PF3, dan kalsium
untuk mengaktifkan faktor X menjadi Xa. Bersama faktor V, faktor Xa mengaktifkan
protrombin (faktor II) menjadi trombin, yang selanjutnya mengubah fibrinogen
menjadi fibrin. Pemeriksaan kelainan jalur intrinsik dilakukan untuk mengetahui
apakah terdapat kelainan pada faktor-faktor pembekuan darah pada jalur ini, seperti
faktor XII, IX, X, VIII, V, II, I. Jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain
pemeriksaan aPTT (activated Partial Tromboplastin Time).
b. Pemeriksaan Kelaianan Jalur Ekstrinsik

Koagulasi jalur ekstrinsik distimulus oleh masuknya tromboplastin jaringan


ke dalam sirkulasi darah. Tromboplastin jaringan berasal dari phospolipoprotein dan
membran organel dari sel-sel jaringan yang terganggu. Faktor VII akan mengikat
fosfolipid pada membran seldan jaringan membentuk faktor VIIa, yang merupakan
enzim kuat yang mampu mengaktifkan faktor X menjadi Xa bersama dengan ion
kalsium terionisasi. Pemeriksaan kelainan jalur ekstrinsik dilakukan untuk
mengetahui apakah terdapat kelainan pada faktor-faktor pembekuan darah pada
jalur ini. Jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan PT
(Protrombin Time).
B. PROSEDUR PEMERIKSAAN HEMOSTASIS

1. Pemeriksaan Rumple Leed

a. Prinsip pemeriksaan rumple leed

Dilakukan pembendungan pada pembuluh darah vena, sehingga tekanan darah dalam
pembuluh kapiler meningkat. Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah
keluar dan merembes ke dalam jaringan sekitarnya sehingga nampak sebagai bercak merah kecil
pada permukaan kulit, yang disebut dengan Petechia

b. Tujuan pemeriksaan rumple leed

Pemeriksaan Rumple leed dilakukan untuk menguji ketahanan dinding pembuluh darah
kapiler. Hasil pemeriksaan ini dipengaruhi juga oleh jumlah dan fungsi trombosit. Kondisi
trombositopenia dapat menyebabkan hasil rumple leed positif. Pada pasien yang telah
memiliki purpura secara spontan, percobaan ini tidak perlu dilakukan

c. Alat pemeriksaan rumple leed

Pada pemeriksaan rumple leed disiapkan alat-alat sebagai berikut: Spygmomanometer,


Timer/jam, Penggaris, dan Ballpoint. Sebelum digunakan, alat-alat tersebut harus dipastikan
bekerja dengan baik.

d. Prosedur pemeriksaan rumple leed


 Alat disiapkan
 Tekanan darah pasien diperiksa terlebih dahulu untuk menentukan tekanan
sfigmomanometer selama uji rumple leed.
 Sfigmomanometer dipasang di lengan atas dan dipompa hingga nilai tengah hasil
penambahan tekanan sistolik dan diastolik (misalkan tekanan sistolik 80 mmHg dan
Diastolik 120 mmHg, maka tekanan sfigmomanometer selama uji rumple leed adalah
100 mmHg ; ((80 + 120) : 2)
 Tekanan ditahan selama 10 menit (jika uji dilakukan pada lengan yang sama setelah tes
masa perdarahan metode Ivy, maka tekanan ditahan selama 5 menit).
 Ikatan spygmomanometer dilepaskan setelah masa pembendungan selesai, lengan
yang dibendung dibiarkan hingga kondisi lengan statis (warna lengan serupa dengan
lengan yang tidak dibendung).
 Adanya Petechia (bercak merah) dihitung pada lingkaran dengan diameter 5 cm, kirakira
4 cm distal dari fossa cubiti.
e. Interpretasi hasil pemeriksaan rumple leed

Dalam keadaan normal, jumlah Petechia di dalam lingkaran kurang dari atau sama
dengan 10. Hasil rumple leed dinyatakan positif jika dalam lingkaran terdapat > 10 petechia.
Apabila jauh pada bagian distal lengan terbentuk banyak petechia, maka hasil dilaporkan
positif.

f. Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan Rumple leed

Hasil pemeriksaan rumple leed dipengaruhi oleh kondisi klinis ataupun pengerjaan uji
mulai dari pra analitik hingga paska analitik. Kondisi klinis pasien dengan keadaan vaskular yang
kurang baik, jumlah trombosit serta fungsi trombosit yang kurang dari nilai normal akan
menyebabkan petchia mudah terbentuk. Hal tersebut dikarenakan ketika sfigmomanometer
dipasang pada tekanan tertentu, maka pembuluh darah akan mengalami tekanan lebih dari
kondisi normal. Apabila kondisi vaskular kurang baik, maka darah akan merembes keluar ke
jaringan akibat dari tekanan sfigmomanometer. Rembesan darah dapat dihindari apabila
jumlah dan fungsi trombosit baik, karena ketika akan terjadi rembesan, trombosit akan
membentuk sumbat trombosit, sehingga darah tidak keluar ke jaringan dan petechia tidak
terbentuk.

Pada proses uji rumple leed persiapan alat akan mempengaruhi, ketika tekanan
sfigmomanometer tidah stabil, maka tekanan dapat menurun ketika proses uji. Hal tersebut
dapat menyebabkan tekanan darah tidak sesuai dengan SOP, sehingga stimulus
pembentukkan petchia tidak sesuai SOP. Kondisi tersebut dapat menyebabkan hasil rumple leed
negatif palsu. Pada tahap analitik, penetapan daerah hitung petechia serta pengenalan ATLM
terhadap petechia sangat mempengaruhi hasil. Petechia tidak boleh dihitung pada daerah
lipatan siku (<4 cm distal dari fossa cubiti), karena pada bagian tersebut tekanan
sfigmomanometer lebih besar, sehingga akan lebih mudah terbentuk petchia. Perhitungan
petechia di sekitar lipat siku dapat menyebabkan interpretasi positif palsu. Pengenalan ATLM
terhadap petechia juga sangat mempengaruhi hasil, karena jika tidak mengetahui bentuk
petchia maka akan menyebabkan kesalahan interpretasi hasil. Ukuran lingkar daerah baca
juga harus ditentukan dengan tepat, jika kurang dari atau lebih dari 5 cm maka akan
menyebabkan kesalahan interpretasi hasil. Selain melihat daerah baca disekitar lingkaran,
ATLM juga harus melihat bagian voler lengan, jika banyak terdapat petechia, maka hasil uji
rumple leed positif. Kesalahan paska analitik terjadi ketika terjadi kesalahan penulisan hasil uji,
oleh karena itu penulisan hasil harus dilakukan dengan teliti sesuai dengan hasil uji.

2. Pemeriksaan Masa Pendarahan

a. Prinsip pemeriksaan masa perdarahan

Pemeriksaan masa perdarahan/bleeding time dapat dilakukan dengan metode Ivy dan
Duke. Metode Ivy dilakukan dengan membuat perlukaan pada bagian voler lengan sedangkan
metode Duke dilakukan membuat perlukaan pada bagian bawah cuping telinga. Metode yang
disarankan adalah metode Ivy, karena pada metode tersebut dilakukan pembendungan
lengan pada tekanan 40 mmHg, sehingga terdapat perlakuan yang standar pada pembuluh
darah kapiler yang dilukai. Metode Duke sebaiknya hanya dilakukan pada pasien bayi, karena
tidak mungkin dilakukan pembendungan pada lengan pasien. Prinsip pemeriksaan masa
perdarahan adalah perlukaan standar dilakukan pada pembuluh kapiler baik di permukaan
volar lengan ataupun bagian bawah cuping telinga. Lamanya perdarahan pada luka tersebut
diukur dan dilaporkan sebagai masa perdarahan.

b. Tujuan pemeriksaan masa perdarahan

Pemeriksaan masa perdarahan / bleeding time dilakukan untuk menilai


kemampuan vaskular dan trombosit pada proses penghentian perdarahan

c. Alat pemeriksaan masa perdarahan

Pada pemeriksaan masa perdarahan / bleeding time disiapkan alat-alat sebagai


berikut: Spygmomanometer (untuk metode Ivy), autoklik, lancet, kapas alkohol, kertas saring
dan stopwatch. Sebelum penggunaan, harus dipastikan bahwa lancet dalam kondisi steril,
autoklik dan stopwatch berfungsi dengan baik.

d. Prosedur pemeriksaan masa perdarahan

1. Metode Duke

 Alat disiapkan.
 Bagian daun telinga diantisepsis menggunakan kapas alkohol 70% lalu
dibiarkan mengering.
 Pada bagian bawah telinga dilakukan penusukan menggunakan lanset
dengan kedalaman 2 mm.
 Stopwatch dijalankan ketika terlihat adanya tetesan darah dari daerah yang
dilukai.
 Tetes darah yang keluar diisap menggunakan kertas saring setiap 30 detik
(penghisapan tetesan darah dilakukan tidak dengan cara menekan kertas
saring ke daerah bagian perlukaan).
 Stopwatch dihentikan ketika darah tidah dapat dihisap lagi.
 Waktu pada stopwatch dicatat sebagai masa perdarahan pasien.

2. Metode Ivy

 Alat disiapkan.
 Bagian voler lengan bawah diantisepsis menggunakan kapas alkohol 70% lalu
dibiarkan mengering.
 Manset spygmomanometer dipasang di lengan atas dan dipompa hingga
tekanan 40 mmHg (tekanan dipertahankan selama pemeriksaan berlangsung).
 Tegangkan kulit bagian lengan bawah menggunakan tangan kiri, kira-kira 3
cm dibawah lipat siku lakukan penusukan menggunakan lanset dengan
kedalaman 3 mm.
 Stopwatch dijalankan ketika terlihat adanya tetesan darah dari daerah yang
dilukai.
 Tetes darah yang keluar diisap menggunakan kertas saring setiap 30 detik
(penghisapan tetesan darah dilakukan tidak dengan cara menekan kertas
saring ke daerah bagian perlukaan).
 Stopwatch dihentikan ketika darah tidah dapat dihisap lagi.
 Waktu pada stopwatch dicatat sebagai masa perdarahan pasien.

e. Interpretasi hasil pemeriksaan masa perdarahan

1. Metode Duke

Pada metode Duke, hasil dikatakan normal jika perdarahan terjadi selama 1-3
menit.

2. Metode Ivy

Pada metode Ivy, hasil dikatakan normal jika perdarahan terjadi selama1-6
menit
f. Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan masa perdarahan
Persiapan yang tidak sesuai pada tahap pra analitik, analitik dan paska analitik dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan masa perdarahan. Pada tahap pra analitik, persiapan alat
dan bahan perlu diperhatikan, fungsi autoklik yang baik, fungsi sfigmomanometer
pada metode Ivy harus dipastikan baik. Hal yang perlu diperhatikan pada tahap
analitik adalah pemilihan tempat penusukan. Tempat penusukan pada metode Ivy, harus
dipastikan bukan daerah tempat pembuluh darah vena, karena apabila pembuluh darah
vena yang tertusuk, maka masa perdarahan akan memanjang. Hasil pemeriksaan lebih
dari 10 menit perlu dilakukan pengujian ulang karena dikhawatirkan terjadi penusukan
pembuluh darah vena.
Apabila hasil uji ulang memang lebih dari 10 menit, maka memang masa perdarahan
pasien memanjang. Pada metode Ivy diameter tetes darah pertama harus minimal 5 mm.
Apabila tetes darah pertama kurang dari 5 mm, dikhawatirkan penusukan kurang
dalam, sehingga perlu dilakukan penusukan ulang. Penggunaan stopwatch tepat waktu
juga akan mempengaruhi hasil. Stopwatch harus dinyala tepat ketika tetes darah pertama
keluar dari daerah perlukaan, tetes darah harus diserap setiap 30 detik dan mematikan
stopwatch harus tepat ketika tetes darah sudah terhenti (tidak terdapat tetes darah
pada kertas saring. Kesalahan pada tahap paskaanalitik dapat terjadi ketika terjadi
kesalahan pelaporan hasil, seperti kesalahan pada penulisan satuan hasil.