Anda di halaman 1dari 16

Konseptual Model Dalam Keperawatan Jiwa Termasuk Prevensi,

Primer, Sekunder Dan Tersier

Oleh:

Kelompok 2
Afif Indra Permana
Elsa Ofiana
Feby Artino Putri
Mela Ramadhona
M. Fadlah
Novi Wulandari
Pingky Anggraeny
Yesi Dwi Kartika

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PAYUNG NEGERI
PEKANBARU
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah swt, karena atas limpahan rahmat-Nya,
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan judul “Konseptual Model Dalam
Keperawatan Jiwa Termasuk Prevensi, Primer, Sekunder, Dan Tersier”. Tujuan penulisan
sebagai sumber bacaan yang dapat di gunakan untuk memperdalam pemahaman mengenai
materi ini. Makalah ini diselesaikan untuk memenuhi Keperawatan Jiwa I. Penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Penulis berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Pekanbaru, 18 Maret 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGATAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang ............................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
3. Tujuan ............................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Konseptual Model Dalam Keperawatan Prevensi
Primer, Sekunder Dan Tersier........................................................................ 3
B. Model Praktik Keperawatan Jiwa ..................................................................
C. Prevensi Primer, Sekunder, Dan Tersier ........................................................
D. Model Stres Adaptasi Dalam Keperawatan Jiwa:
1. Faktor Predisposisi ..................................................................................
2. Faktor Presipitasi.....................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................................
B. Saran ..............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Model konseptual keperawatan jiwa merupakan suatu kerangka rencangan terstruktur
untuk melakukan praktik pada setiap tenaga kesehatan mental. Hal ini merupakan upaya
yang dilakukan baik oleh tenaga kesehatan mental maupun perawat untuk menolong
seseorang dalam mempertahankan kesehatan jiwanya melalui mekanisme penyelesaian
masalah yang positif untuk mengatasi stresor atau cemas yang dialaminya.
Model konseptual merupakan rancangan terstruktur yang berisi konsep-konsep yang
saling terkait dan saling terorganisasi guna melihat hubungan dan pengaruh logis antar
konsep. Model konseptual juga memberikan keteraturan untuk berfikir, mengamati apa
yang dilihat dan memberikan arah riset untuk mengetahui sebuah pertanyaan untuk
menanyakan tentang kejadian serta menunjukkan suatu pemecahan masalah.
Model konseptual merupakan jiwa khususnya model komunikasi merupakan suatu
hubungan interaksi manusia sebagai proses interpersonal. Model komunikasi ini
memprediksi perilaku dalam hal pengetahuan tentang manfaat dan ancaman bagi
kesehatan dan jiwanya. Untuk memotivasi seseorang dalam pengambilan keputusan untuk
mempertahankan kesehatannya diperlukanlah sebuah komunikasi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang diatas rumusan masalahnya yaitu:
1. Apa konseptual model dalam keperawatan jiwa termasuk prevensi primer, sekunder dan
tersier?
2. Apa saja model praktik keperawatan jiwa?
3. Bagaimana prevensi primer, sekunder dan tersier?
4. Bagaimana model stress adaptasi dalam keperawatan jiwa?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami tantang konseptual model dalam keperawatan jiwa
termasuk prevensi primer, sekunder dan tersier.
2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui konseptual model dalam keperawatan jiwa termasuk prevensi
primer, sekunder dan tersier
2. Untuk mengetahui model praktik keperawatan jiwa
3. Untuk mengetahui prevensi primer, sekunder dan tersier
4. Untuk mengetahui model stress adaptasi dalam keperawatan jiwa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konseptual Model Dalam Keperawatan Jiwa Termasuk Prevensi Primer,
Sekunder Dan Tersier
Model konseptual didefinisikan sebagai sekumpulan dari abstrak relatif dan
konsep umum yang ditujukan fenomena dari minat sentral dari suatu disiplin, dalil-
dalil yang secara luas menggambarkan konsep tersebut, dan dalil-dalil yang
dinyatakan secara relatif dan hubungan umum antara dua atau lebih dari konsep.
Fungsi setiap model konseptual adalah menyediakan suatu kerangka acuan yang
khusus yang dikatakan kepada anggota suatu disiplin bagaimana mengamati dan
menginterpretasikan fenomena dari minat disiplin (Potter and Perry, 2009)
Model konseptual mengacu pada ide-ide global mengenai individu, kelompok,
situasi atau kejadian tertentu yang berkaitan dengan disiplin yang spesifik. Teori-
teori yang terbentuk dari penggabungan konsep dan pernyataan yang berfokus lebih
khusus pada suatu kejadian dan fenomena dari suatu disiplin (Potter and Perry,
2009).
Salah satu model konseptual keperawatan yang dapat diaplikasikan oleh perawat
adalah model sistem Betty Neuman yang memberikan warisan baru tentang cara
pandang terhadap manusia sebagai makhluk holistik (memandang manusia secara
keseluruhan) meliputi aspek (variabel) fisiologis, psikologis, sosiokultural,
perkembangan dan spiritual yang berhubungan secara dinamis seiring dengan
adanya respon-respon sistem terhadap stressor baik dari lingkungan internal maupun
eksternal (Potter and Perry, 2009).
B. Model Praktik Keperawatan Jiwa
Keperawatan jiwa merupakan proses interpersonal yang berupaya untuk
meningkatkan dan mempertahankan fungsi yang terintegrasi. Keperawatan jiwa
merupakan bidang spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku
manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai
kiatnya (ANA).
Menurut Dorothy , Cecilia : keperawatan kesehatan jiwa merupakan “proses
dimana perawat membantu individu atau kelompok dalam mengembangkan konsep
diri yang positif , meningkatkan pola hubungan antar pribadi yang lebih harmonis
serta agar lebih berproduktif di masyarakat.”
Menurut WHO, kesehatan jiwa bukan hanya suatu keadaan tidak terjadi ganguan
jiwa, melainkan mengandung berbagai karakteristik yang bersifat positif yang
menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan
kedewasaan kepribadian yang bersangkutan. Menurut UU Kesehatan Jiwa No. 3
Tahun 1996, kesehatan jiwa merupakan kondisi yg memungkinkan perkembangan
fisik, intelektual, emosional secara optimal dari seseorang dan perkembangan ini
selaras dengan orang lain. Sedangkan menurut Yahoda, kesehatan jiwa adalah
keadaan yg dinamis yang mengandung pengertian positif, yang dapat dilihat dari
adanya kenormalan tingkah laku, keutuhan kepribadian, pengenalan yang benar dari
realitas dan bukan hanya merupakan keadaan tanpa adanya penyakit, gangguan jiwa
dan kelainan jiwa.
Model-model Praktek Keperawatan Jiwa:
1. Model Psikoanalisa
a. Konsep
Merupakan model yang pertama yang dikemukakan oleh Sigmun Freud yang
meyakini bahwa penyimpangan perilaku pada usia dewasa berhubungan pada
perkembangan pada anak. Setiap fase perkembangan mempunyai tugas
perkembangan yang harus di capai. Gejala yang nampak merupakan simbul dari
konflik.

b. Proses Terapi
1. Memakan waktu yang lama
2. Menggunakan tehnik asosiasi bebas dan analisa mimpi” menginterpretasikan
perilaku, mengguakan transferens untuk memperbaiki masa lalu
,mengidentifikasi area masalah.
c. Peran Pasien Dan Terapis
1. Pasien : mengungkapkan semua pikiran dan mimpi
2. Terapis : mengupayakan perkembangan transferens menginterpretasikan
pikiran dan mimpi pasien dalam kaitannya dengan konflik.
2. Model Interpersonal
a. Konsep
Model ini diperkenalkan oleh Hary Stack Sullivan. Sebagai tambahan Peplau
mengembangkan teori interpersonal keperawatan. Teori ini menyakini bahwa
perilaku berkembang dari hubungan interpersonal. Menurut Sulivan indivdu
memadang orang lain sesuai dengan apa yang ada pada dirinya , maksudnya
kemampuan dalam memahami diri sendiri dan orang lain yang menggunakan
dasar hubungan antar manusia yang mencakup proses intrepersonal perawat klien
dan masalh kecemasan yang terjadi akibat sakit.
Dalam proses interpersonal perawat klien memiliki 4 tahap :
1. Orientasi
Perawat klien melakukan kontrak awal untuk BHSP dan terjadi proses
pengumpulan data
2. Identivikasi
Perawat memfasilitasi ekspresi perasaan klien dan melaksanakan askep
3. Eksplorasi
Perawat memberi gambaran kondisi klien
4. Resolusi
Perawat memandirikan klien.
b. Proses terapi
1. Mengeksplorasi proses perkembangan
2. mengoreksi pengalaman interpersonal
3. reduksi
4. mengembangkan hubungan saling percaya

c. peran pasien dengan terapis


1. pasien : menceritakan ansietas dan perasaan
2. terapis : menjalin hubungan akrab dengan pasien dengan menggunakan empati
dan menggunakan hubungan sebagai suatu pengalaman interpersonal korektif.
C. Model Sosial
a. Konsep
Teori mengemukakan bahwa penyimpangan perilaku terjadi jika individu
putus hubungan dengan dirinya dan lingkungannya. Keasingan diri dan
lingkungan dapat terjadi karena hambatan pada diri individu. Individu merasa
putus asa ,sedih,sepi,kurang kesadaran diri yang mnecegah partisipasi dan
penghargaan pada hubungan dengan orang lain. Klien sudah kehilangan/tidak
mungkin menemukan nilai-nilai yang memberi arti pada eksistensinya.
b. Proses terapi
1. Rational emotive therapy
Konfrontasi digunakan untuk bertanggung jawabtrehadap perilakunya. Klien
didorong menerima dirinya sebagai mana adanya bukan karena apa yang
dilakukan.
2. Terapi logo
Terapi orientasi masa depan. Individu meneliti arti dari kehidupan , karena
tanpa arti berarti eksis. Tujuannya agara induvidu sadar akan tanggung
jawabnya.
3. Terapi realitas
Klien dibantu untuk menyadari target kehidupannya dan cara untuk
mencapainya. Klien didasarkan akan alternatif yang tersedia.
c. Peran pasien perawat
1. Pasien : bertanggung jawab terhadap perilakunya dan berperan serta dalam
suatu pengalaman berarti untuk mempelajari tentang dirinya yang sebenarnya
2. Terapis :
a. Membantu pasien untuk mengenali diri
b. Mengklarifikasi realita dari suatu situasi
b. Mengenali pasien tentangperasaan tulus
c. Memperluas kesadaran diri pasien
D. Prevensi Primer, Sekunder Dan Tersier
Prevensi secara etimologi berasal dari bahasa latin praevenire, yang
artinya“datang sebelum” atau “antisipasi “mempersiapkan diri sebelum terjadi
sesuatu” atau “mencegah untuk tidak terjadi sesuatu”. Dalam pengertian yang sangat
luas, prevensi dimaknakan sebagai upaya yang secara sengaja dilakukan untuk
mencegah terjadinya gangguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang atau
masyarakat.
Prevensi kesehatan mental didasarkan atas cara kerja usaha pencegahan kesehatan
masyarakat. Hanya saja, dalam kesehatan masyarakat. Dalam masyarakat, prevensi
mengandung arti untuk mengendalikan penyakit. Sementara dalam bidang psikiatri
dan kesehatan mental masyarakat, pengendalian penyakit hanyalah salah satu dari
berbagai target yang hendak dicapai. Prevensi mencakup pencegahan terhadap kondisi
yang lain. Seperti: tidak berfungsinya adaptasi (adaptive dysfunction), penyimpangan
sosial (social deviation), dan hendaya dalam perkembangan( developmental
impairment) (adler, 1978).

Terdapat tiga macam prevensi, yaitu: prevensi primer, prevensi sekunder, prevensi
tersier.
1. Prevensi Primer
Usaha yang lebih progresif lagi dalam usaha pencegahan kesehatan mental
adalah dengan mencegah terjadinya suatu gangguan dalam masyarakat. Jadi
kesehatan mental masyarakat diproteksi sehingga tidak terjadi suatu gangguan. Hal
demikian ini akan lebih baik jika dibandingkan dengan melakukan penanganan
setelah terjadi. Prevensi jenis ini desebut sebagai prevensi primer.
Prevensi primer merupakan aktivitas yang didesain untuk mengurangi insidensi
gangguan atau kemugkinan terjadi insiden dalam resiko. Tujuan prevennsi primer
ada dua macam:
a. Mengurangi resiko terjadinya gangguan mental
b. Menunda atau mneghindari munculnya gangguan mental.
Menurut cowen (shaw,1984) secara prinsipil prevensi primer dibatasi sebagai
berikut:
1. Prevensi harus lebih berorientasi pada kelompok masyarakat daripada secara
individual, meskipun untuk beberapa aktivitas dapat merupakan kontak individual
2. Prevensi harus suatu kualitas dari fakta-fakta sebelumnya, yaitu ditargetkan pada
kelompok yang belum mengalami gangguan.
3. Prevensi primer harus disengaja, yang bersandar pada dasar-dasar pengetahuan
yyang mendalam yang termanifestasi ke dalam program-program yang ditentukan
untuk meningkatkan kesehatan psikologisnya atau mencegah perilaku
maladaptive.
Terdapat dua cara yang digunakan untuk melakukan program prevensi ini,
yaitu memodifikasi lingkungan dan memperkuat kapasitas individu atau
masyarakat dalam menangani situasi.
2. Prevensi Sekunder
Gangguan mental yang dialami masyarakat sedapat mungkin secepatnya
dicegah, dengan jalan mengurangi durasi suatu gangguan. Jika suatu gangguan
misalnya berlangsung dalam durasi satu bulan, maka sebaliknya dicegah dan
diupayakan diperpendek durasi gangguan itu. Pencegahan ini disebut dengan
prevensi sekunder. Prevensi sekunder berarti upaya pencegahan yang dilakukan
untuk mengurangi durasi kasus gangguan mental. Gangguan mental yang di alami
ini baik karena kegagalan dalam usaha pencegahan primer maupun tanpa adanya
usaha pencegahan primer sebelumnya. Sesuai dengan sekunder ini, maka saran
pokoknya adalah penduduk atau sekelompok populasi yang sudah menderita suatu
gangguan mental. Dengan memperpendek durasi suatu gangguan mental yang ada di
masyarakat, maka dapat membantu mengurangi angka prevalensi gangguan mental
dimasyarakat.
3. Prevensi Tersier
Orang yang mengalami gangguan, apalagi gangguan itu sampai pada
terganggunya kemampuan fungsional seseorang, maka diperlukan prevensi untuk:
a. Mempertahankan kemampuan yang masih tersisa
b. Mencegah agar gangguannya tidak terus berlangsung, dan
c. Dia segera pulih dan berfungsi sebagaimana mestinya. Prevensi jenis ini yang
disebut sebagai prevensi tersier
Sasaran dalam prevensi tersier ini adalah kelompok masyarakat yang mengalami
gangguan yang bersifat jangka panjang atau orang yang telah mengalami gangguan
mental yang akut dan berakibat penurunan kapasitasnya dalam kaitannya dengan
kerja, hubungan social, maupun personalnya.
Prevensi tersier memiliki pengertian yang sama dengan rehabilitasi. Namun
penekanan kedua hal ini berbeda. Menurut caplan (1963), rehabilitasi lebih bersifat
individual dan mengacu pada pelayanan medis. Sementara prevensi tersier lebih
menekankan pada aspek komunitas, sasarannya adalah masyarakat dan mencakup
perencanaan masyarakat logistic. Tentunya dalam prevensi tersier merupakan
intervensi yang anti-hospitalisasi.
Prevensi tersier ini diberikan pada kepada orang yang sakit dan terjadi
penurunan kemampuan ata fungsi social dan personalnya. Adalah terlalu mahal
biaya secara ekonomi, social dan personal jika penanganan kesehatan mental
dilakukan hanya dengan prevensi tersier ini. adalah lebih efisien jika dilakukan
sebelum penderita mengalami penurunan kemampuan itu. Karena itu ada alternative
yang lebih baik untuk melakukan pencagahan, yaitu dengan prevensi sekunder.
E. Model Stress Adaptasi Dalam Keperawatan Jiwa
1. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang menjadi sumber terjadinya stres
yang memengaruhi tipe dan sumber dari individu untuk menghadapi stres baik
yang biologis, psikososial, dan sosiokultural. Secara bersama-sama, faktor ini
akan memengaruhi seseorang dalam memberikan arti dan nilai terhadap stres
pengalaman stres yang dialaminya.
Adapun macam-macam faktor predisposisi meliputi hal sebagai berikut.
1. Biologi: latar belakang genetik, status nutrisi, kepekaan biologis, kesehatan
umum, dan terpapar racun.
2. Psikologis: kecerdasan, keterampilan verbal, moral, personal, pengalaman
masa lalu, konsep diri, motivasi, pertahanan psikologis, dan kontrol.
3. Sosiokultural: usia, gender, pendidikan, pendapatan, okupasi, posisi sosial,
latar belakang budaya, keyakinan, politik, pengalaman sosial, dan tingkatan
sosial.
2. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi adalah stimulus yang mengancam individu. Faktor
presipitasi memerlukan energi yang besar dalam menghadapi stres atau tekanan
hidup. Faktor presipitasi ini dapat bersifat biologis, psikologis, dan sosiokultural.
Waktu merupakan dimensi yang juga memengaruhi terjadinya stres, yaitu berapa
lama terpapar dan berapa frekuensi terjadinya stres. Adapun faktor presipitasi
yang sering terjadi adalah sebagai berikut.
1. Kejadian yang menekan (stressful)
Ada tiga cara mengategorikan kejadian yang menekan kehidupan, yaitu
aktivitas sosial, lingkungan sosial, dan keinginan sosial. Aktivitas sosial
meliputi keluarga, pekerjaan, pendidikan, sosial, kesehatan, keuangan, aspek
legal, dan krisis komunitas. Lingkungan sosial adalah kejadian yang dijelaskan
sebagai jalan masuk dan jalan keluar. Jalan masuk adalah seseorang yang baru
memasuki lingkungan sosial. Keinginan sosial adalah keinginan secara umum
seperti pernikahan.
2. Ketegangan hidup
Stres dapat meningkat karena kondisi kronis yang meliputi ketegangan
keluarga yang terus-menerus, ketidakpuasan kerja, dan kesendirian. Beberapa
ketegangan hidup yang umum terjadi adalah perselisihan yang dihubungkan
dengan hubungan perkawinan, perubahan orang tua yang dihubungkan dengan
remaja dan anak-anak, ketegangan yang dihubungkan dengan ekonomi
keluarga, serta overload yang dihubungkan dengan peran.
Penilaian terhadap Stresor:
Penilaian terhadap stresor meliputi penentuan arti dan pemahaman terhadap
pengaruh situasi yang penuh dengan stres bagi individu. Penilaian terhadap
stresor ini meliputi respons kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan respons
sosial. Penilaian adalah dihubungkan dengan evaluasi terhadap pentingnya
sustu kejadian yang berhubungan dengan kondisi sehat.
1. Respons kognitif
Respons kognitif merupakan bagian kritis dari model ini. Faktor kognitif
memainkan peran sentral dalam adaptasi. Faktor kognitif mencatat
kejadian yang menekan, memilih pola koping yang digunakan, serta
emosional, fisiologis, perilaku, dan reaksi sosial seseorang. Penilaian
kognitif merupakan jembatan psikologis antara seseorang dengan
lingkungannya dalam menghadapi kerusakan dan potensial kerusakan.
Terdapat tiga tipe penilaian stresor primer dari stres yaitu kehilangan,
ancaman, dan tantangan.
2. Respons afektif
Respons afektif adalah membangun perasaan. Dalam penilaian terhadap
stresor respons afektif utama adalah reaksi tidak spesifik atau umumnya
merupakan reaksi kecemasan, yang hal ini diekpresikan dalam bentuk
emosi. Respons afektif meliputi sedih, takut, marah, menerima, tidak
percaya, antisipasi, atau kaget. Emosi juga menggambarkan tipe, durasi,
dan karakter yang berubah sebagai hasil dari suatu kejadian.
3. Respons fisiologis
Respons fisiologis merefleksikan interaksi beberapa neuroendokrin yang
meliputi hormon, prolaktin, hormon adrenokortikotropik (ACTH),
vasopresin, oksitosin, insulin, epineprin morepineprin, dan
neurotransmiter lain di otak. Respons fisiologis melawan atau menghindar
(the fight-or-fligh) menstimulasi divisi simpatik dari sistem saraf
autonomi dan meningkatkan aktivitas kelenjar adrenal. Sebagai tambahan,
stres dapat memengaruhi sistem imun dan memengaruhi kemampuan
seseorang untuk melawan penyakit.
4. Respons perilaku
Respons perilaku hasil dari respons emosional dan fisiologis.
5. Respons sosial
Respons ini didasarkan pada tiga aktivitas, yaitu mencari arti, atribut
sosial, dan perbandingan sosial.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesehatan Jiwa bukan hanya suatu keadaan tidak ganguan jiwa, melainkan
mengandung berbagai karakteristik yang adalah perawatan langsung, komunikasi
dan management, bersifat positif yang menggambarkan keselarasan dan
keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan kepribadian yang
bersangkutan. Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk
memandang situasi dan kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat di dalamnya.
Model konseptual keperawatan memperlihatkan petunjuk bagi organisasi dimana
perawat mendapatkan informasi agar mereka peka terhadap apa yang terjadi pada
suatu saat dengan apa yang terjadi pada suatu saat juga dan tahu apa yang harus
perawat kerjakan. Model konseptual keperawatan kesehatan jiwa terdiri dari 8 model
yang terdiri dariModel Psikoanalisa, Model Perilaku, Model Eksistensi, Model
Interpersonal, Model Medikal, Model Komunikasi, Model Keperawatan, dan Model
Sosial.
B. Saran
1. Mahasiswa
Makalah ini sangat bagus untuk dibaca sebagai pedoman kita dalam
memahami teori peplau mengenai konseptual model keperawatan jiwa
interpersonal, Sehingga kedepan nanti kita bisa berkerja dengan baik, dan
hubungan interpersonal yang kita lakukan baik. Sehingga kita bisa memberikan
keperawatan yang baik kepada pasien.
2. Perawat
Diharapkan lebih mengetahui dan memahami tentang berbagai macam
model keperawatan jiwa yang dapat diterapkan kepada pasien.
3. Pelayanan kesehatan
Diharapkan dapat melayani dan menangani klien yang mengalami
gangguan psikososial maupun gangguan jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
Ah. Yusuf, Rizky Fitryasari PK, Hanik Endang Nihayati. 2015. Buku Ajar Keperawatan
Kesehatan Jiwa. Penerbit Salemba Medika.
Christensen,P. J. dan Kenney, J.W. (2009), Proses keperawatan Aplikasi Model Konseptual,
Ed.4, Jakarta, EGC.
Purwaningsih,Wahyu, S.Kep. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Nuha Medika Press.
Jogjakarta.
Yosep Iyus. 2009. Keperawatan Jiwa. bandung: Refika aditama.

Anda mungkin juga menyukai