Anda di halaman 1dari 27

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT Mei, 2019

KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN OBESITAS MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS TADULAKO ANGKATAN 2018 BERDASARKAN
INDEKS MASSA TUBUH DAN LINGKAR PINGGANG

Disusun Oleh :

DIANA (N 111 17 074)


LILIS PURNAMASARI (N 111 17 080)

PembimbingKlinik:

dr. Sumarni, Sp.GK, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Obesitas adalah salah satu masalah kesehatan di dunia dan seiring
meningkatnya taraf kesejahteraan masyarakat. Diperkirakan lebih dari
sepertiga penduduk dunia yang mengalami obesitas. Berdasarkan indeks
massa tubuh (IMT), untuk orang Asia dinyatakan obesitas bila IMT ≥25
kg/m2 .Hasil penelitian epidemiologi menunjukkan hubungan langsung
antara IMT ≥30 dengan resistensi insulin dan penyakit-penyakit metabolik
seperti diabetes, hipertensi dan penyakit jantung koroner. Obesitas
disebabkan oleh asupan makanan yang berlebihan dan kurangnya aktivitas
fisik. Perilaku makan yang tidak sehat berhubungan erat dengan timbulnya
masalah kesehatan di usia lanjut. (Fani Kusteviani,2015)
Jumlah remaja di Amerika yang mengalami obesitas semakin
meningkat, dari 16,9% pada periode tahun 2010-2012 menjadi 20,5%
selama 2011-2014. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
2013, prevalensi gemuk pada remaja (16-18 tahun) adalah 7,3% di mana
1,6% nya merupakan obesitas. Dibandingkan tahun 2007, prevalensi gemuk
naik dari 1,4% menjadi 7,3% di tahun 2013. Daerah khusus ibukota (DKI)
Jakarta merupakan provinsi dengan prevalensi gemuk tertinggi (4,2%)
dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia. (Kartika Suryaputra, 2012)
Kelompok mahasiswa merupakan kelompok remaja yang rentan
terhadap obesitas.Selain perubahan pola hidup, seperti duduk terlalu lama,
jarang berolahraga, merokok, mahasiswa juga cenderung memilih makanan
siap saji, tidak cukup mengonsumsi buah dan sayur. (Weni Kurdanti, dkk,
2015)
Status gizi merupakan suatu bentuk keadaan kondisi tubuh seseorang
yang bisa dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi
di dalam tubuh.Masalah pada status gizi adalah status gizi kurang dan
berlebih. Pada daerah perkotaan cenderung mengalami masalah status gizi
berlebih atau obesitas. Obesitas atau kegemukan mulai menjadi masalah
kesehatan di seluruh dunia, bahkan Organisasi Kesehatan Dunia atau World
Health Organization (WHO) menyatakan bahwa obesitas sudah merupakan
suatu epidemi global dan dinyatakan sebagai masalah kronis terbesar pada
orang dewasa. Menurut WHO, overweight dan obesitas merupakan faktor
resiko penyebab kematian nomor lima. Sedikitnya, 2,8 juta penduduk
meninggal per tahun akibat dari overweight dan obesitas. Angka obesitas
penduduk Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Data Riskesdas
tahun 2013 menunjukkan prevalensi berat badan lebih penduduk usia 18
tahun keatas secara nasional adalah 13,5% dan obesitas 15,4%. Berdasarkan
indeks massa tubuh dan jenis kelamin menyebutkan bahwa angka obesitas
pada laki-laki sebesar 19,7% dan pada perempuan sebesar 32,9%. Di
Provinsi sulawesi tengah berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun
2013 menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk usia 18 tahun keatas
sebesar 13,7% dan berat badan lebih sebesar 12,0%. (Weni Kurdanti, dkk,
2015)
Obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi
yang masuk dengan yang dibutuhkan oleh tubuh untuk berbagai fungsi
biologis seperti pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas dan
pemeliharaan kesehatan. Obesitas terjadi karena berbagai faktor penyebab
yang kompleks antara lain genetik, pola makan, aktivitas fisik dan faktor-
faktor sosial budaya.
Remaja adalah masa dimana rasa ingin tahu seseorang sangat tinggi,
sehingga selalu ingin mencoba sesuatu, yang juga dapat menyebabkan
asupan gizi yang buruk. Obesitas pada remaja penting untuk diperhatikan
karena remaja yang mengalami obesitas 75% berpeluang untuk obesitas pula
pada saat dewasa. Obesitas pada dewasa dapat dinilai dari pengukuran
antropometri dengan indikator seperti indeks massa tubuh, lingkar pinggang,
serta waist hip ratio. Indeks Massa Tubuh (IMT) dan waist hip ratio
merupakan indikator overweight dan obesitas yang direkomendasikan secara
internasional karena memiliki korelasi yang kuat dengan lemak tubuh.
(Weni Kurdanti, dkk, 2015)
Indeks massa tubuh tidak dapat berdiri sendiri sebagai indikator
obesitas yang dapat memicu penyakit degeneratif. Indeks massa tubuh
merupakan indikator umum status gizi seseorang yang dapat dikategorikan
pada underweight, normal, overweight dan obesitas, sedangkan waist hip
ratio serta lingkar pinggang merupakan indikator pengukuran distribusi
lemak di daerah pinggang dan panggul yang dapat memicu obesitas sentral
dan penyakit degeneratif. (A.A. Istri Mira Pramitya, 2013)
Kehidupan modern yang menjadi ciri kehidupan masyarakat Amerika
mempengaruhi gaya hidup generasi muda masyarakat kita, terutama di
daerah perkotaan. Gaya hidup ini tercermin dari perilkau makan dan
aktivitas fisik sehari-hari.Makanan yang dikonsumsi berupa makanan cepat
saji yang tinggi energi, kaya lemak, kaya karbohidrat dan gula serta rendah
serat.Kemajuan tekhnologi di kehidupan modern yang mengharuskan
masyarakat bergerak cepat dengan menggunakan tenaga mesin. Dampaknya
aktivitas didominasi oleh aktivitas ringan atau sangat ringan.
Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako merupakan salah satu
kampus yang terletak di daerahkota. Jadwal perkuliahan yang cukup padat,
mengakibatkan mahasiswa atau mahasiswinya memiliki kebiasaan untuk
mengkonsumsi makanan cepat saji atau fast food dengan pola makan yang
tidak seimbang. Ditambah lagi pengakuan dari beberapa mahasiswa atau
mahasiswi dalam wawancara yang peneliti lakukan kebanyakan dari mereka
kurang berolahraga dikarenakan kesibukan dan banyak hal.
Berdasarkan uraian di atas, mahasiswa atau mahasiswi Fakultas
Kedokteran Universitas Tadulako merupakan responden yang tergolong
remaja akhir yang berumur 17 – 21 tahun dan termasuk remaja yang rentan
akan terjadinya obesitas atau berat badan berlebih. Mengingat akan
bahayanya obesitas tersebut peneliti merasa perlu dilakukan penelitian ini
untuk mengetahui gambaran obesitas berdasarkan IMT dan lingkar pinggang
pada mahasiswa kedokteran angkatan 2018
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana gambaran obesitas berdasarkan IMT dan lingkar pinggang
pada mahasiswa kedokteran angkatan 2018?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Untuk mengetahui gambaran obesitas berdasarkan IMT dan lingkar
pinggang pada mahasiswa kedokteran angkatan 2018

1.4 MANFAAT PENELITIAN


1. Meningkatkan kesadaran remaja akan pentingnya hidup sehat dan
mengatur pola makan
2. Sebagai sumber penelitian yang dapat dijadikan acuan untuk penelitian
sejenis di masa mendatang
3. Sebagai masukan untuk Fakultas Kedokteran
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obesitas
1. Epidemiologi obesitas
Obesitas telah menjadi epidemik global dengan tidak saja
meningkat di Negara maju namun juga di Negara berkembang,
termasuk Indonesia. Obesitas memberikan kontribusi sebesar 35%
terhadap morbiditas dan berkontribusi 15–20% terhadap mortalitas di
Negara maju. Obesitas tidak menyebabkan kematian secara langsung,
namun menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius. WHO
memperkirakan, di dunia ada sekitar 1,6 miliar orang dewasa berusia ≥
15 tahun kelebihan berat dan setidak-tidaknya sebanyak 400 juta orang
dewasa gemuk (obese) pada tahun 2005. Jumlah tersebut diperkirakan
akan meningkat menjadi 2,3 miliar orang dewasa yang mengalami
kelebihan berat dan lebih dari 700 juta orang dewasa akan gemuk
(obese) pada tahun 2015. (fani kutaeni, 2015)
Hasil Riset Kesehatan Dasar (2013) menunjukkan bahwa
prevalensi penduduk Indonesia mengalami obesitas sebesar 15,4%.
Prevalensi obesitas pada perempuan dewasa (>18 tahun) mengalami
peningkatan sebanyak 18,1% dari tahun 2007 (13,9%) menjadi 32,9%.
( Ira Maya Sofa, 2018)
2. Definisi obesitas
Obesitas merupakan suatu kelainan atau penyakit yang ditandai
oleh penimbunan jaringan lemak dalam tubuh secara berlebihan.
Obesitas terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara energi yang
masuk dengan energi yang keluar. Obesitas/overweight telah menjadi
pandemi global di seluruh dunia dan dinyatakan oleh World Health
Organization (WHO) sebagai masalah kesehatan kronis terbesar.
Obesitas merupakan suatu kelainan kompleks pengaturan nafsu
makan dan metabolisme energi yang dikendalikan oleh beberapa faktor
biologik spesifik. Faktor genetik diketahui sangat berpengaruh bagi
perkembangan penyakit ini. Secara fisiologis, obesitas didefinisikan
sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau
berlebihan dijaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan.
(Siti setiati ,2015)
3. Cara Penentuan Obesitas
Salah satu cara untuk mengukur distribusi lemak dalam tubuh
adalah dengan metode Antropometri, yaitu dengan mengukur Indeks
Massa Tubuh (IMT) untuk menentukan obesitas seluruh tubuh
(obesitas umum) dan obesitas sentral berdasarkan Lingkar
Pinggang/perut. (Eva Pasumbung. 2015)
Obesitas bukan hanya mengenai jumlah lemak yang ada di dalam
tubuh tetapi juga distribusi penyimpanan lemak. Kelebihan jumlah
lemak tubuh umumnya akan disimpan di jaringan adiposa di bagian
bawah kulit atau rongga perut. Laki-laki dan perempuan mempunyai
distribusi lemak tubuh yang berbeda-beda. Obesitas abdominal atau
android (tipe buah apel) lebih sering terjadi pada laki-laki karena
timbunan lemak pada bagian perut, sedangkan obesitas ginoid (tipe
buah pear) lebih sering terjadi pada perempuan karena lemak
tertimbun pada tubuh bagian bawah terutama pada daerah pinggul dan
paha. (fani kutaeni, 2015)
Kegemukan dan obesitas pada anak dapat dinilai dengan berbgai
metode atau teknik pemeriksaan. Salah satunya adalah pengukuran
Body Mass Index (BMI) atau sering juga disebut Indeks Massa Tubuh
(IMT). Pengukuran IMT dilakukan denga cara membagi nilai berat
badan (kg) dengan nilai kuadrat tinggi badan (m)2. IMT merupakan
metode yang paling mudah dan paling banyak digunakan diseluruh
dunia untuk menilai timbunan lemak yang berlebihan didalam tubuh
secara tidak langsung.
Tabel dibawah ini merupakan klasifikasi berat badan berlebihdan
obesitas pada orang dewasa berdasarkan IMT menurut Kriteria Asia
Pasifik

Indeks massa tubuh (IMT) adalah ukuran yang menyatakan


komposisi tubuh, perimbangan antara berat badan dengan tinggi badan.
IMT digunakan untuk mengukur kegemukan, sebagai dampak dari
perubahan pola hidup,kebiasaan mengkonsumsi makanan siap saji
yang tinggi lemak dan protein, serta rendah karbohidrat. IMT tidak
dapat membedakan otot dengan lemak, selain itu pula tidak
memberikan distribusi lemak di dalam tubuh yang merupakan factor
penentu utama risiko gangguan metabolisme yang dikaitkan dengan
kelebihan berat badan. Pola penyebaran lemak tubuh tersebut dapat
ditentukan oleh rasio lingkar pinggang dan pinggul atau mengukur
lingkar pinggang. Pinggang diukur pada titik yang tersempit,
sedangkan pinggul diukur pada titik yang terlebar,lalu ukuran
pinggang dibagi dengan ukuran pinggul (A.A. Istri Mira Pramitya,
2013)
Rasio Lingkar Perut (LPe) dan Lingkar Panggul (LPa) merupakan
cara sederhana untuk membedakan obesitas bagian bawah tubuh
(panggul) dan bagian atas tubuh (pinggang dan perut). Jika rasio antara
lingkar pinggang dan lingkar panggul untuk perempuan diatas 0.85 dan
untuk laki-laki diatas 0.95 maka berkaitan dengan obesitas
sentral/apple-shaped obesity dan memiliki faktor resiko stroke, DM,
dan penyakit jantung koroner. Sebaliknya jika rasio lingkar pinggang
dan lingkar panggul untuk perempuan dibawah 0,85 dan untuk laki-
laki dibawah 0,95 maka disebut obesitas perifer/pear-shapedobesity
(WHO, 2008).

Teknik pengukuran lingkar pinggang menurut Riskesdas (2013)


yaitu sebagai berikut :
a) Responden diminta dengan cara yang santun untuk membuka
pakaian bagian atas atau menyingkapkan pakaian bagian atas
dan raba tulang rusuk terakhir responden untuk menetapkan
titik pengukuran.
b) Tetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah.
c) Tetapkan titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul.
d) Tetapkan titik tengah di antara diantara titik tulang rusuk
terakhir titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul dan
tandai titik tengah tersebut dengan alat tulis. Minta responden
untuk berdiri tegak dan bernafas dengan normal (ekspirasi
normal).
e) Lakukan pengukuran lingkar perut dimulai/diambil dari titik
tengah kemudian secara sejajar horizontal melingkari pinggang
dan perut kembali menuju titik tengah diawal pengukuran.
f) Apabila responden mempunyai perut yang gendut
kebawah,pengukuran mengambil bagian yang paling buncit
lalu berakhirpada titik tengah tersebut lagi.
g) Pita pengukur tidak boleh melipat dan ukur lingkar pinggang
mendekati angka 0,1 cm.
Teknik pengukuran lingkar panggul menurut Riskesdas (2013)
yaitu sebagai berikut :
a) Responden diminta berdiri tegap dengan kedua kaki dan
berat merata pada setiap kaki.
b) Palpasi dan tetapkan daerah trochanter mayor pada tulang
paha.
c) Posisikan pita ukur pada lingkar maksimum dari bokong,
untuk wanita biasanya di tingkat pangkal paha, sedangkan
untuk pria biasanya sekitar 2-4 cm bawah pusar.
d) Lingkarkan pita ukur tanpa melakukan penekanan.
e) Ukur lingkar pinggulmendekati angka 0,1cm.
5. Penyebab dan faktor resiko obesitas
Meningkatnya kejadian obesitas merupakan akibat dari
kemajuan di bidang ekonomi, sosial dan teknologi. Pendapatan yang
tinggi mengubah pola makan dan gaya hidup terutama di perkotaan.
Bahan makanan tersedia berlimpah dengan harga yang relatif murah.
Makanan dengan tinggi lemak dan kalori banyak tersedia sebagai
makanan cepat saji di perkotaan. Kemajuan teknologi memberikan
kemudahan dan penggunaan alat-alat elektronik telah menjadi gaya
hidup sehari-hari sehingga aktivitas fisik yang dilakukan berkurang.
Selain faktor perilaku dan lingkungan, terdapat faktor genetik yang
juga ikut berperan terhadap terjadinya obesitas. (fani kutaeni, 2015)
a. Genetik
Obesitas jelas menurun dalam keluarga. Namun peran
genetikyang pasti untuk menimbulkan obesitas masih sulit
ditentukan, karena anggota keluarga umumnya memiliki
kebiasaan makan dan pola aktivitas fisik yang sama. Akan tetapi,
bukti terkini menunjukkan bahwa 20-25% kasus obesitas dapat
disebabkan faktor genetic.
Gen dapat berperan dalam obesitas dengan menyebabkan
kelainan satu atau lebih jaras yang mengatur pusat makan dan
pengeluaran energi serta penyimpanan lemak. Penyebab
monogenic (gen tunggal) dari obesitas adalah mutasi MCR-
4,yaitu penyebab monogenic tersering untuk obesitas yang
ditemukan sejauh ini, defisiensi leptin kongenital, yang
diakibatkan mutasi gen, yang sangat jarang dijumpai dan mutasi
reseptor leptin, yang juga jarang ditemui. Semua bentuk penyebab
monogenik tersebut hanya terjadi pada sejumlah kecil persentase
dari seluruh kasus obesitas. Banyak variasi gen sepertinya
berinterakasi dengan faktor lingkungan untuk mempengaruhi
jumlah dan distribusi lemak (Guyton,2007)
b. Aktivitas fisik
Gaya hidup tidak aktif dapat dikatakan sebagai penyebab
utama obesitas. Hal ini didasari oleh aktivitas fisik dan latihan
fisik yang teratur dapat meningkatkan massa otot dan mengurangi
massa lemak tubuh, sedangkan aktivitas fisik yang tidak adekuat
dapat menyebabkan pengurangan massa otot dan peningkatan
adipositas. Oleh karena itu pada orang obesitas, peningkatan
aktivitas fisik dipercaya dapat meningkatkan pengeluaran energy
melebihi asupan makanan, yang berimbas penurunan berat badan
(Guyton, 2007).
Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap
pengendalian berat tubuh. Pengeluaran energi tergantung daridua
faktor: 1) tingkat aktivitas dan olahraga secara umum; 2) angka
metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhka nuntuk
mempertahankan fungsi minimal tubuh. Dari kedua factor
tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga
dari pengeluaran energi orang normal. Meski aktivitas fisik hanya
mempengaruhi sepertiga pengeluaran energi seseorang dengan
berat normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat
badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting.Pada
saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka
semakin banyak kalori yang hilang. Kalori secara tidak langsung
mempengaruhi sistem metabolisme basal. Orang yang duduk
bekerja seharian akan mengalami penurunn metabolism basal
tubuhnya. Kekurangan aktifitas gerak akan menyebabkan suatu
siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olahraga menjadi
sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olahraga
secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolisme
basal tubuh orang tersebut. Jadi olahraga sangat penting dalam
penurunan berat badan tidak saja karena dapat membakar kalori,
melainkan juga karena dapat membantu mengatur berfungsinya
metabolisme normal (Guyton, 2007).
c. Perilaku makan
Faktor lain penyebab obesitas adalah perilaku makan yang
tidak baik. Perilaku makan yang tidak baik disebabkan oleh
beberapa sebab, diantaranya adalah karena lingkungan dan sosial.
Hal ini terbukti dengan meningkatnya prevalensi obesitas di
Negara maju. Sebab lain yang menyebabkan perilaku makan tidak
baik adalah psikologis, dimana perilaku makan agaknya dijadikan
sebagai sarana penyaluran stress. Perilaku makan yang tidak baik
pada masa kanak-kanak sehingga terjadi kelebihan nutrisi juga
memiliki kontribusi dalam obesitas, hal ini didasarkan karena
kecepatan pembentukan sel-sel lemak yang baru terutama
meningkat pada tahun-tahun pertama kehidupan, dan makin besar
kecepatan penyimpanan lemak, makin besar pula jumlah sel
lemak. Oleh karena itu, obesitas pada kanak-kanak cenderung
mengakibatkan obesitas pada dewasanya nanti (Guyton, 2007).
d. Neurogenik
Telah dibuktikan bahwa lesi dinukleus ventromedial
hipotalamus dapat menyebabkan seekor binatang makan secara
berlebihan dan menjadi obesitas. Orang dengan tumor hipofisis
yang menginvasi hipotalamus seringkali mengalami obesitasyang
progresif. Hal ini memperlihatkan bahwa,obesitas pada manusia
juga dapat timbul akibat kerusakan pada hipotalamus. Dua bagian
hipotalamus yang mempengaruhi penyerapan makan yaitu
hipotalamus lateral (HL) yang menggerakkan nafsu makan (awal
atau pusat makan) dan hipotalamus ventromedial (HVM) yang
bertugas menintangi nafsu makan (pemberhentian atau pusat
kenyang). Dan hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL
rusak/hancur maka individu menolak untuk makan atau minum,
dan akan mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum
(diberi infus). Sedangkan bila kerusakan terjadi pada bagian
HVM, maka seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan.
Dibuktikan bahwa lesi pada hipotalamus bagian ventromedial
dapat menyebabkan seekor binatang makan secara berlebihan dan
obesitas, serta terjadi perubahan yang nyata pada neurotransmiter
di hipotalamus berupa peningkatan oreksigenik seperti NPY dan
penurunan pembentukan zat anoreksigenik seperti leptin dan α-
MSH pada hewan obesitas yang dibatasi makannya (Guyton,
2007) .
e. Hormonal
Dari segi hormonal terdapat leptin, insulin, kortisol, dan
peptide usus. Leptin adalah sitokin yang menyerupai polipeptida
yang dihasilkan oleh adiposit yang bekerja melalui aktivasi
reseptor hipotalamus. Injeksi leptin akan mengakibatkan
penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Insulin adalah
anabolic hormon, insulin diketahui berhubungan langsung dalam
penyimpanan dan penggunaan energi pada sel adiposa. Kortisol
adalah glukokortikoid yang bekerja dalam mobilisasi asam lemak
yang tersimpan pada trigliserida, hepatic glukoneogenesis, dan
proteolisis (Wilbornet al, 2005).
Dampak penyakit lain Faktor terakhir penyebab obesitas
adalah karena dampak/sindroma dari penyakit lain. Penyakit-
penyakit yang dapat menyebabkan obesitas adalah
hypogonadism, Cushingsyndrome, hypothyroidism, insulinoma,
craniophryngioma dan gangguan lain pada hipotalamus. Beberapa
anggapan menyatakan bahwa berat badan seseorang diregulasi
baik oleh endokrin dan komponenen neural. Berdasarkan
anggapan itu maka sedikit saja kekacauan pada regulasi ini akan
mempunyaiefek pada berat badan
6. Dampak obesitas
Obesitas memiliki efek samping yang besar pada kesehatan.
Obesitas berhubungan dengan meningkatnya mortalitas, hal ini karena
meningkatnya 50 sampai 100% resiko kematian dari semua penyebab
dibandingkan dengan orang yang normal berat badannya, dan terutama
oleh sebab kardiovaskular. Berikut beberapa efek patologis dari
obesitas adalah resistensi insulin dan diabetes melitustipe 2, gangguan
pada sistem reproduksi, penyakit kardiovaskular, penyakit pulmoner,
Gallstones (batu empedu), penyakit tulang, sendi dan kulit (Guyton,
2007)
7. Pencegahan obesitas
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer dilakukan menggunakan dua strategi
pendekatan yaitu strategi pendekatan populasi untuk
mempromosikan cara hidup sehat pada semua anak dan remaja
beserta orang tuanya, serta strategi pendekatan pada kelompok
yang berisiko tinggi mengalami obesitas. Anak yang berisiko
mengalami obesitas adalah seorang anak yang salah satu atau
kedua orangtuanya menderita obesitas dan anak yang memiliki
kelebihan berat badan semenjak masa kanak-kanak. Usaha
pencegahan dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah, dan di Pusat Kesehatan Masyarakat. (Abdul Salam,2010)
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder merupakan upaya pencegahan dengan
menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan
memberikan pengobatan sejak awal. Deteksi dini obesitas dengan
cara melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan
sehingga diperoleh nilai IMT, melakukan penilaian secara visual
dan anamnesa yang dapat dilihat dari riwayat pola konsumsi
makan dan aktifitas fisik. Upaya yang dilakukan bagi anak
maupun remaja penderita obesitas diantaranya yaitu pengaturan
makanan dan melakukan aktivitas fisik. (Abdul Salam,2010 )
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier dilakukan dengan mencegah
komorbiditas yang dilakukan dengan menata laksana obesitas
pada anak dan remaja. Prinsip tata laksana obesitas pada anak
maupun remaja berbeda dengan orang dewasa karena faktor
tumbuh kembang pada anak dan remaja harus dipertimbangkan.
Tata laksana obesitas pada anak dan remaja dilakukan dengan
pengaturan diet, peningkatan aktivitas fisik, mengubah pola hidup
(modifikasi perilaku), dan terutama melibatkan keluarga dalam
proses terapi. Sulitnya mengatasi obesitas menyebabkan
kecenderungan untuk menggunakan jalan pintas, yaitu diet rendah
lemak dan kalori, diet golongan darah atau diet lainnya serta
berbagai macam obat. Penggunaan diet rendah kalori dan lemak
dapat menghambat tumbuh kembang anak maupun remaja,
sedangkan diet golongan darah ataupun diet lainnya tidak terbukti
bermanfaat untuk digunakan dalam tata laksana obesitas pada
anak dan remaja. (Abdul Salam,2010 )
3.2 Kerangka Teori

genetika Pola aktivitas Pola makan

Obesitas

Dampak

kilinis

pencegahan

Keterangan :
: bagian yang tidak diteliti
: bagian yang diteliti

3.3 Kerangka Konsep

Faktor resiko :
- Oang tua
Obesitas
obesitas
- Kurang aktivitas
- Pola makan

IMT dan Lingkar pinggang

3.4 Variabel Penelitian


Variabel dalam penelitian ini adalah obesitas pada usia 17 sampai 21
tahun
3.5 Landasan Teori
Obesitas merupakan keadaan terjadinya peningkatan berat badan
akibat adanya penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Kecenderungan
terjadinya obesitas berkaitan dengan genetik, pola makan,
ketidakseimbangan aktifitas tubuh dan konsumsi makanan. Dampak
terjadinya obesitas adalah meningkatnya resiko penyakit degebberatif
diantaranya diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit kardiovaskuler.
( Syamsinar Wulandari. 2015)
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian adalah deskriptif dengan desain penelitian cross sectional
study. Variabel penelitian adalah indeks massa tubuh dan lingkar pinggang

3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian


1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran angktan 2018
Universitas Tadulako
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei.

3.3 Populasi Dan Sampel Penelitian


Populasi adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas
Tadulako angkatan 2018. Pengambilan sampel pada penelitian
menggunakan tekhnik total sampling.

3.4 Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan berupa data primer berupa hasil pengukuran
indeks massa tubuh dan lingkar pinggang.

3.5 Analisis Data


Data primer dianalisis dengan analisis univariat, kemudian dicatat secara
manual dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
3.6 INSTRUMEN PENELITIAN

No. INSTRUMEN FUNGSI RUJUKAN


INSTRUMEN

1. Timbangan untuk mengetahui WHO


injak berat badan

2. Stature meter Untuk mengetahui WHO


tinggi badan

3. Centimeter Untuk mengetahui WHO


lingkar pinggang

3.7 Definis Operasional

Variabel Definisi Operasional Kategori Alat ukur Skala

a. Berat badan normal < Table kriteria asia Ordinal


Obesitas Adalah orang yang
18,5 pasifik berdasarkan
mengalami kelebihan berat b. Kisaran normal 18,5 IMT (kg/m2)
sampai 22,9
badan
c. Beresiko > 23 sampai
24,9
d. Obes I 25 sampai 29,9
e. Obes II > 30

Karakteristik
Ciri-ciri khusus responden
Responden
mengenai Obesitas

1. Umur Lama waktu hidup


responden pada saat Usia 17 samapi 21 thn
penelitian

Nominal
Jenis kelamin pada saat a. Perempuan
2. Jenis kelamin b. Laki-laki
penelitian
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Lokasi Penelitian


Penelitian ini telah di lakukan di Fakultas Kedokteran universitas
Tadulako yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Mantikulore,
Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Respondens
Karakteristik Respondens Berdasarkan usia didapatkan karakteristik
responden sebagai berikut yaitu responden dengan usia 17 tahun sebanyak
10 (7,4%), 18 tahun sebanyak 54 (40%), 19 tahun sebanyak 59 (43,7%),
20 tahun sebanyak 10 (7,4%), 21 tahun sebanyak 2 (1.48%). Berdasarkan
jenis kelamin didapatkan responden laki-laki sebanyak 41 (30,37%) dan
perempuan sebanyak 94 (69,62%).

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi karakterisitik responden berdasarkan usia


No Usia jumlah %

1 17 tahun 10 7,4%

2 18 tahun 54 40%
3 19 tahun 59 43,7%
4 20 tahun 10 7,4%
5 21 tahun 2 1,48%
Total 135 100%
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi karakterisitik responden berdasarkan jenis
kelamin
No Jenis kelamin jumlah %

1 Laki-laki 41 30,37%

2 perempuan 94 69,62%
Total 135 100%

2. Distribusi Indeks Massa Tubuh


Hasil pengukuran indeks massa tubuh didapatkan data sebagai berikut
yaitu responden dengan indeks massa tubuh kurang sebanyak 28 (20,7%),
normal 64 (47,4%), overweight 11 (8,14%), obes I 27 (20%), obes II 5
(3,7).

Tabel 4.3Distribusi Frekuensi karakterisitik responden berdasarkan usia


No IMT jumlah %

1 Kurang 28 20,7%

2 Normal 64 47,4%
3 overweight 11 8,14%
4 Obes I 27 20 %
5 Obes II 5 3,7%
Total 135 100%

3. Distribusi Lingkar Pinggang


Hasil pengukuran lingkar pinggang didapatkan data sebagai berikut yaitu
responden dengan lingkar pinggang tidak obesitas perempuan sebanyak
89 (65,9%) dan obesitas central perempuan sebanyak 5 (3,7%), lingkar
pinggang tidak obesitas laki-laki sebanyak 37 (27,4%), obesitas central
laki-laki sebanyak 4 (2,96%)
Tabel 4.4Distribusi Frekuensi karakterisitik responden berdasarkan linkar
pinggang
No Jenis kelamin jumlah %
Lingkar pinggang
1 Laki-laki Normal 37 27,4%

2 Obesitas central 4 2,96%


3 perempuan Normal 89 65,9%
4 Obesitas central 5 3,7 %
Total 135 100%

C. Pembahasan
mahasiswa angkatan 2018 sebagian besar berada pada usia 19 tahun
yaitu sebanyak 59 orang (43,7%), Berdasarkan jenis kelamin responden
terbanyak adalah berjenis kelamin perempuan yaitu 94 orang (69,62%),
sedangkan laki-laki 41 orang (30,31). Penelitian ini sesuai dengan penelitian
Yulyius (2014) bahwa beradasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki
distribusi tertinggi yaitu sebesar 70% sedangkan laki-lakisebesar 30%. Hal ini
menunjukkan sebaran responden tidak merata antara laki-laki dan perempuan.
Distribusi Indeks Massa Tubuh menunjukkan bahwa Sebagian besar
mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas tadulako angkatan 2018
memiliki status gizi normal sebesar 47,4%, overweight 8,14% dan obes I
20% dan obes II 37% . Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Yulyius
(2014) bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi normal sebesar
47,4%.
Beberapa penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa kedokteran
yang menggunakan kategori indeks massa tubuh, diantaranya penelitian yang
dilakukan oleh Ubro (2014) didapatkan 86,7% mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado memiliki indeks massa tubuh
normal, 8% obesitas dan 5,3% underweight.
Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa di salah satu Fakultas
Kedokteran di Jakarta oleh Mulyadi (2013) berdasarkan IMT diperoleh
mayoritas subjek memiliki status gizi normal 78,7%, obesitas 17,3% dan
underweight 4%. Gaya hidup yang sehat akan mempertahankan status gizi
yang baik. Menurut Kusuma (2013), status gizi baik apabila tubuh
memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien serta di
imbangi dengan gaya hidup sehat sehingga memungkinkan pertumbuhan
fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja mencapai tingkat kesehatan
optimal. Dalam hal ini sebagian besar mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Tadulako telah memiliki status gizi yang baik.
Berdasarkan hasil penelitian masih terdapat masalah status gizi seperti
obesitas. Masalah gizi kurang disebabkan karena rendahnya konsumsi energi
dan protein dalam makanan sehari-hari. Terjadinya gizi kurang karena
konsumsi energi lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan yang
mengakibatkan sebagian cadangan energi tubuh dalam bentuk lemak akan
digunakan. Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran makanan yang
dikonsumsi dalam jangka waktu yang cukup lama. Pada masa remaja,
kebutuhan zat gizi yang tinggi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang cepat. Jika kebutuhan zat gizi
tersebut tidak terpenuhi maka akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan
dan perkembangan tubuh, bahkan dapat menyebabkan tubuh kekurangan gizi
dan mudah terkena penyakit.
Berdasarkan hasil penelitian juga didapatkan IMT normal dengan
lingkar pinggang tidak obesitas memiliki persentase tertinggi yaitu sebesar
93,3%, IMT obesitas dengan lingkar pinggang obesitas memiliki persentase
sebesar 6,66%,. Hal ini menunjukkan bahwa indeks massa tubuh sebanding
dengan lingkar pinggang. Sesuai dengan Hidayatulloh (2011) mengatakan
bahwa lingkar pinggang merupakan pengukuran distribusi lemak abdominal
yang mempunyai hubungan erat dengan indeks massa tubuh.
Distribusi Lingkar Pinggang menunjukkan bahwa berdasarkan
pengukuran lingkar pinggang responden yang termasuk kategori tidak
obesitas 93,3% dan yang kategori obesitas 6,66%. Penelitian ini sesuai
dengan Novianingsih (2012) berdasarkan lingkar pinggang bahwa responden
yang tidak obesitas memiliki frekuensi tertinggi yaitu sebesar 76,5% dan
kategori obesitas sebesar 23,5%.21 Penelitian ini juga sesuai dengan
Indrawaty (2007) berdasarkan lingkar pinggang bahwa responden yang tidak
obesitas sebesar 61,4% dan lingkar pinggang obesitas sebesar 38,6%.20
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan perempuan dengan lingkar pinggang
yang tidak obesitas memiliki persentase tertinggi sebesar 65,9%. Penelitian
ini sesuai dengan Indrawaty (2007) berdasarkan lingkar pinggang yang tidak
obesitas, responden perempuan memiliki persentase tertinggi yaitu sebesar
40%. Perempuan dengan lingkar pinggang obesitas memiliki persentase
sebesar 74,5%, sedangkan laki-laki dengan lingkar pinggang obesitas hanya
memiliki persentase sebesar 25,5%. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan
lebih cenderung mengalami obesitas berdasarkan lingkar pinggang. Lingkar
pinggang merupakan indikator untuk menentukan obesitas sentral yang
diperoleh melalui hasil pengukuran lingkar tengah antara crista iliaca dengan
costa XII.Obesitas sentral lebih sering terjadi pada perempuan dari pada laki-
laki, hal ini disebabkan karena cadangan lemak tubuh lebih banyak terdapat
pada perempuan.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Tadulako angkatan 2018 tentang profil status gizi
berdasarkan indeks masa tubuh dan lingkar pinggang maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Distribusi frekuensi status gizi berdasarkan indeks massa tubuh
mahasiswa angkatan 2018 Fakultas Kedokteran Universitas tadulako
berada paling banyak pada kategori normal yaitu sebesar 47,4% dan
obesitas sebesar 23,7%.
2. Distribusi status gizi berdasarkan lingkar pinggang mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Tadulako angkatan 2018 paling banyak pada
kategori tidak obesitas yaitu sebesar 93,3%, sedangkan mahasiswa dengan
kategori obeitas yaitu sebesar 6,66%.

B. Saran

1. Diharapkan bagi mahasiswa yang mengalami obesitas atau berat badan


berlebih berdasarkan indeks massa tubuh, dan lingkar pinggang dapat
menurunkan berat badan dengan berolahraga teratur dan mengatur porsi
makanan.
2. Diharapkan bagi mahasiswa yang mengalami underweight dapat
mengkonsumsi makanan yang sehat dengan gizi seimbang agar tercapai
status gizi yang lebih baik.
3. Diperlukan penelitian lanjutan misalnya, profil status gizi mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako angkatan 2018 berdasarkan
indeks massa tubuh dan lingkar pinggang.
DAFTAR PUSTAKA

A.A. Istri Mira Pramitya dan Tience Debora Valentina. (2013) Hubungan
Regulasi Diri Dengan Status Gizi pada Remaja Akhir di Kota Denpasar.
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 1, No. 1, 43-53. Diaksaes pada tanggal 22
mei 2019

Abdul Salam. (2010). Faktor risiko kejadian obesitas pada remaja. Jurnal MKMI
Vol 6 no.3 Diakses pada tanggal 24 mei 2019

Eva Pasumbung dan Maria Magdalena Purba. (2015). Faktor risiko obesitas
berdasarkan Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Pinggang di sma katolik
palangkaraya. Jurnal vokasi kesehatan, Volume I Nomor 1. Diakses pada
tanggal 24 mei 2019

Fani Kusteviani. (2015). Faktor yang berhubungan dengan obesitas abdominal


pada usia produktif (15–64 tahun) di kota surabaya. Jurnal Berkala
Epidemiologi, Vol. 3, No. 1. Diaksaes pada tanggal 22 mei 2019

Guyton & Hall. (2007). Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 11. EGC : Jakarta

Ira Maya Sofa. (2018). Kejadian Obesitas, Obesitas Sentral, dan Kelebihan Lemak
Viseral pada Lansia Wanita. Program Studi S1 Gizi, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Airlangga

Kartika Suryaputra & Siti Rahayu Nadhiroh. (2012). Perbedaan pola makan dan
aktivitas fisik Antara remaja obesitas dengan non obesitas. Makara,
kesehatan, Vol. 16, No. 1. Diaksaes pada tanggal 22 mei 2019
Kurdanti, Weni dkk. ( 2015) Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas
pada remaja. Kurdanti, dkk: Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian
obesitas Volume 11 Nomor 04. Diaksaes pada tanggal 22 mei 2019

RISKESDAS. 2013. Riset kesehatan dasar. Badan penelitian dan pengembangan


kesehatan. Diakses pada tanggal 24 mei 2019

Siti setiati (Ed), dkk. (2015). Buku ajar ilmu penykit dalam jilid I edisi VI. EGC:
Jakarta

Wulandari, Syamsinar,. Hariati Lestari dan Andi Faizal Fachlevy. 2016. Faktor
yang berhubungan dengan kejadian obesitas pada remaja di sma negeri 4
kendari tahun 2016. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu
Oleo