Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENYULUHAN

MENGENAL PENYAKIT PPOK (PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK)

Disusun oleh kelompok 1 :


Teguh Gama Zarkasyi (016.01.3325)
Falqurriati Ainun (016.01.31)
Rahayu Oktapiana (016.01,33)
Kartini Ulfianti (016.01.33)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MATARAM


PRODI S1 KEPERAWATAN TAHUN 2018/2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Pokok Bahasan : PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)

Sasaran : Pasien yang menderita PPOK dan keluarga pasien

Hari / tanggal : Kamis, 25 September 2019

Waktu : 11:00 WIB

Tempat : Ruang Kelas STIKES Mataram

I. PENDAHULUAN

PPOK/COPD (CRONIC OBSTRUCTION PULMONARY DISEASE)


merupakan istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru yang
berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara
sebagai gambaran patofisiologi utamanya (Price, Sylvia Anderson : 2005)
PPOK merupakan masalah kesehatan utama di masyarakat yang menyebabkan
26.000 kematian/tahun di Inggris. Prevalesinya adalah ≥ 600.000. Angka ini lebih
tinggi di negara maju, daerah perkotaan, kelompok masyarakat menengah ke bawah,
dan pada manula (Davey,2002:181). The Asia Pacific CPOD Roundtable
Group memperkirakan jumlah penderita PPOK sedang berat di negara-negara Asia
Pasific mencapai 56,6 juta penderita dengan angka pravalensi 6,3 persen
(Kompas,2006). merupakan salah satu dari kelompok penyakit tidak menular yang
telah menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia, hal ini disebabkan oleh
meningkatnya usia harapan hidup dan semakin tingginya pajanan faktor resiko seperti
faktor pejamu yang di duga berhubungan dengan kejadian PPOK semakin banyaknya
jumlah perokok kususnya pada kelompok usia muda, serta pencemaran udara di dalam
ruangan maupun di luar ruangan dan di tempat kerja Data badan kesehatan dunia (
WHO ) menunjukkan bahwa pada tahun 1990 PPOK menempati urutan ke 6 sebagai
penyebab utama kematian di dunia sedangkan pada tahun 2002 telah menempati urutan
ke 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker (WHO,2002). Hasil survey penyakit
tidak menular oleh direktorat jenderal PPM dan Pl di 5 rumah sakit provinsi di
Indonesia (jawa barat, jawa tengah, jawa timur, lampung dan sumatra selatan) pada
tahun 2004 , menunjukkan PPOK menempati urutan pertama penyumbang angka
kesakitan (35%), diikuti asma brokial (33%), kanker paru (30%) dan lainya (2%)
(depkes RI2004). Oleh karena itu penyuluhan tentang Penyakit paru Obstruktif Kronik
ini akan sangat penting dilakukan sebagai bentuk pemberian pendidikan.

II. TUJUAN UMUM

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1 x 30 menit diharapkan keluarga


pasien dapat memahami tentang penyakit PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) .

III. TUJUAN KHUSUS

1. Keluarga dapat menyebutkan definisi, tanda dan gejala, penyebab, jenis penyakit serta
cara penanganan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
2. Keluarga dapat berperan dalam melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang
menderita PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik).

IV. MATERI

Terlampir

V. METODE

Ceramah dan tanya jawab.

VI. MEDIA

Poster

VII. PENGORGANISASIAN
Penyaji : Falqurriati Ainun
Moderator : Teguh Gama Zarkasyi
Observer : Kartini Ulfianti
Fasilitator : Rahyu Oktapiana

VIII. KEGIATAN PENYULUHAN

Proses Kegiatan Penyaji Kegiatan Peserta Waktu


1. Memberi salam 1. Menjawab salam
2. Pengenalan diri 2. Mendengarkan
Pembukaan 5 menit
3. Menjelaskan tujuan dari 3. Mendengarkan
penyuluhan
1. Mendengarkan 15 menit

Pemberian materi,
meliputi :
a) Pengertian PPOK
b) Klasifikasi PPOK
c) Tanda dan gejala
PPOK
d) Cara penanganan
PPOK
e) Cara Pencegahan
kekambuhan dan
pencegahan
Penyajian terjadinya PPOK
f) Cara perawatan
PPOK
2. Pemberian kesempatan
kepada peserta untuk
bertanya.
3. Menjawab pertanyaan
2. Bertanya 5 menit
peserta
4. Menanyakan kembali
materi yang telah
3. Mendengarkan 5 menit
disampaikan kepada
peserta (3 soal )
4. Menjawab 10 menit

1. Pemberian kesimpulan 1. Mendengarkan


Penutup 2. Menutup 2. Mendengarkan 5 menit
3. Memberi salam 3. Menjawab salam

IX. EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
a. Kesiapan materi
b. Kesiapan SAP
c. Kesiapan media : leaflet
d. Peserta hadir ditempat penyuluhan
e. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Kelas STIKES Mataram
a. Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan.
b. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
c. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar
d. Suasana penyuluhan tertib dan peserta mengikuti penyuluhan sampai selesai.
2. Evaluasi Hasil
Keluarga pasien dapat:

a. Menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang pengertian PPOK (Penyakit Paru


Obstruktif Kronik)
b. Menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang penyebab PPOK (Penyakit Paru
Obstruktif Kronik)
c. Menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang tanda dan gejala dari PPOK
(Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
d. Menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang jenis PPOK (Penyakit Paru
Obstruktif Kronik)
e. Menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang penanganan pasien dengan
PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
f. Menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang pencegahan PPOK (Penyakit
Paru Obstruktif Kronik)

Lampiran
MATERI PENYULUHAN

1. Pengertian
PPOK adalah penyakit paru obstruktif kronik dengan karakteristik adanya hambatan
aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversibel atau reversibel parsial,
serta adanya respons inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang berbahaya (Gold,
2009).
PPOK/COPD (CRONIC OBSTRUCTION PULMONARY DISEASE) merupakan
istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan
ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi
utamanya (Price, Sylvia Anderson : 2005)
PPOK merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit
paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran
udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. Ketiga penyakit yang membentuk satu
kesatuan yang dikenal dengan COPDadalah : Bronchitis kronis, emfisema paru-paru (S
Meltzer, 2001)
P P O K adalah merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea saat
aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru (Bruner & Suddarth,
2002).
PPOK merupakan obstruksi saluran pernafasan yang progresif dan ireversibel,
terjadi bersamaan bronkitis kronik, emfisema atau kedua-duanya (Snider, 2003).
2. Klasifikasi
Penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit paru obstruksi kronik adalah sebagai
berikut:
1) Bronchitis Kronis
a. Definisi
Bronchitis Kronis merupakan gangguan klinis yang ditandai dengan pembentukan
mucus yang berlebihan dalam bronkus dan termanifestasikan dalam bentuk batuk
kronis dan pembentuk sputum selama 3 bulan dalam setahun, paling sedikit 2 tahun
berturut – turut (Bruner & Suddarth, 2002).
b. Etiologi
Terdapat 3 jenis penyebab bronchitis yaitu:
1) Infeksi : stafilokokus, sterptokokus, pneumokokus, haemophilus influenzae.
2) Alergi
3) Rangsang : missal asap pabrik, asap mobil, asap rokok dll
c. Manifestasi klinis
1) Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar, yang
mana akan meningkatkan produksi mukus.
2) Mukus lebih kental
3) Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan
mukus. Oleh karena itu, "mucocilliary defence" dari paru mengalami kerusakan
dan meningkatkan kecenderungan untuk terserang infeksi. Ketika infeksi timbul,
kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia sehingga produksi
mukus akan meningkat.
4) Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kali ketebalan
normal) dan mengganggu aliran udara. Mukus kental ini bersama-sama dengan
produksi mukus yang banyakakan menghambat beberapa aliran udara kecil dan
mempersempit saluran udara besar. Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi
hanya pada bronchus besar, tetapi biasanya seluruh saluran nafas akan terkena.
5) Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi jalan nafas,
terutama selama ekspirasi. Jalan nafas mengalami kollaps, dan udara
terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Obstruksi ini menyebabkan
penurunan ventilasi alveolar, hypoxia dan asidosis.
6) Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan ; ratio ventilasi perfusi abnormal
timbul, dimana terjadi penurunan PaO2. Kerusakan ventilasi dapat juga
meningkatkan nilai PaCO2.
7) Klien terlihat cyanosis. Sebagai kompensasi dari hipoxemia, maka terjadi
polisitemia (overproduksi eritrosit). Pada saat penyakit memberat, diproduksi
sejumlah sputum yang hitam, biasanya karena infeksi pulmonary.
8) Selama infeksi klien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV
dan FRC. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi, hypoxemia akan timbul
yang akhirnya menuju penyakit cor pulmonal dan CHF
2) Emfisema
a. Definisi
Perubahan anatomis parenkim paru yang ditandai pelebaran dinding alveolus,
duktus alveolaris dan destruksi dinding alveolar (Bruner & Suddarth, 2002).
b. Etiologi
1) Faktor tidak diketahui
2) Predisposisi genetic
3) Merokok
4) Polusi udara
c. Manifestasi klinis
1) Dispnea
2) Takipnea
3) Inspeksi : barrel chest, penggunaan otot bantu pernapasan
4) Perkusi : hiperresonan, penurunan fremitus pada seluruh bidang paru
5) Auskultasi bunyi napas : krekles, ronchi, perpanjangan ekspirasi
6) Hipoksemia
7) Hiperkapnia
8) Anoreksia
9) Penurunan BB
10) Kelemahan

3. Tanda dan Gejala PPOK


Menurut Mansjoer (2008:480) tanda dan gejala pada penderita PPOK adalah:
 Batuk.
 Sputum putih atau mukoid, jika ada infeksi menjadi purulent atau mukopurulen.
 Sesak, sampai menggunakan otot-otot pernapasan tambahan untuk bernapas.
 Dada terasa berat
 Pernafasan lambat
 Nadi cepat
4. Cara Penanganan PPOK
a. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan
b. Obat-obatan
c. Terapi Oksigen
d. Pemasangan alat bantu napas
e. Nutrisi (Diit TKTP)
f. Perawatan di Rumah Sakit
5. Cara Pencegahan kekambuhan dan pencegahan terjadinya PPOK
a. Hindari merokok
b. Hindari konsumsi alkohol
c. Menghindari lingkungan yang polusi
d. Minum obat secara teratur
e. Pola hidup bersih dan sehat
6. Cara Perawatan
a. Minum yang cukup supaya tidak terjadi dehidrasi dan secret (dahak) encer
b. Pengeluaran sekresi bronkial dengan cara: postural drainage, clapping, vibrasi dan
latihan batuk efektif.
 Postural drainage
Pengeluaran sekret dengan prinsip gravitasi bumi
Caranya:
Posisikan klien sesuai bagian paru yang mengandung banyak sekret (untuk
membersihkan paru kanan maka klien miring kiri dan begitu jg sebaliknya), lanjutkan
dengan prosedur clapping dan vibrasi, lakukan 10-15 menit.
 Clapping dan vibrasi
Caranya:
Atur posisi klien, duduk atau miring. Menepuk punggung dengan kedua tangan masing-
masing sisi 30 kali tepukan, sampai ada rangsangan batuk. Vibrasi dilakukan dengan cara
melakukan getaran-getaran lembut disamping depan cekungan iga saat klien menarik
napas dalam.
 Batuk Efektif
Batuk efektif merupakan latihan batuk yang mengeluarkan sekret (Kusyati, 2006:263).
Caranya:
Anjurkan klien menarik napas dalam, tahan selama 3 detik dan batukkan. Sekret
ditampung dalam sputum pot
Postural drainase, clapping, vibrasi dan batuk efektif dilakukan secara berurutan sebagai
suatu paket manajemen pengeluaran sekret.

7. Komplikasi PPOK
· Korpulmonale
· Pneumotoraks spontan sekunder
· Infeksi paru
· Gagal napas.
DAFTAR PUSTAKA
Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika.
Kusyati, Eni. 2006. Keterampilan dan Prosedur Laboratorium Dasar. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Somantri, Irman. 2008. Keperawatan Medikal Bedah : Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan
Smeltzer & Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner Suddarth.
Volume 2 Ed 8. Jakarta EGC