Anda di halaman 1dari 15

BAB II PEMBAHASAN

1. Struktur Lempung dan Mineral Lepung

1.1 Pengertian Tanah Lempung


Lempung atau tanah liat adalah partikel mineral berkerangka dasar silikat yang
berdiameter kurang dari 4 mikrometer. Lempung mengandung leburan silika dan/atau
aluminium yang halus. Unsur-unsur ini, silikon, oksigen, dan aluminum adalah unsur
yang paling banyak menyusun kerak bumi. Lempung terbentuk dari proses pelapukan
batuan silika oleh asam karbonat dan sebagian dihasilkan dari aktivitas panas bumi.
Lempung membentuk gumpalan keras saat kering dan lengket apabila basah
terkena air. Sifat ini ditentukan oleh jenis mineral lempung yang mendominasinya.
Mineral lempung digolongkan berdasarkan susunan lapisan oksida silikon dan oksida
aluminium yang membentuk kristalnya. Golongan 1:1 memiliki lapisan satu oksida
silikon dan satu oksida aluminium, sementara golongan 2:1 memiliki dua lapis golongan
oksida silikon yang mengapit satu lapis oksida aluminium. Mineral lempung golongan
2:1 memiliki sifat elastis yang kuat, menyusut saat kering dan memuai saat basah.
Karena perilaku inilah beberapa jenis tanah dapat membentuk kerutan-kerutan atau
"pecah-pecah" bila kering (wikipedia.com)
Tanah lempung dan mineral lempung adalah tanah yang memiliki partikel-partikel
mineral tertentu yang “menghasilkan sifat-sifat plastis pada tanah bila dicampur dengna
air” (Grim, 1953). Partikel-partikel tanah berukuran yang lebih kecil dari 2 mikron (=2µ),
atau <5 mikron menurut sistem klasifikasi yang lain, disebut saja sebagai partikel
berukuran lempung daripada disebut lempung saja. Partikel-partikel dari mineral
lempung umumnya berukuran koloid (<1µ) dan ukuran 2µ merupakan batas atas (paling
besar) dari ukuran partikel mineral lempung. Untuk menentukan jenis lempung tidak
cukup hanya dilihat dari ukuran butirannya saja tetapi perlu diketahui mineral yang
terkandung didalamnya.

1.2 Sifat – Sifat Tanah Lempung


Sifat-sifat yang dimiliki tanah lempung (Hardiyatmo, 1999) adalah sebagai
berikut:
1. Ukuran butir halus, kurang dari 0,002 mm
2. Permeabilitas rendah
3. Kenaikan air kapiler tinggi
4. Bersifat sangat kohesif
5. Kadar kembang susut yang tinggi
6. Proses konsolidasi lambat.
Kebanyakan jenis tanah terdiri dari banyak campuran atau lebih dari satu macam
ukuran partikel. Tanah lempung belum tentu terdiri dari partikel lempung saja, akan
tetapi dapat bercampur butir-butiran ukuran lanau maupun pasir dan mungkin juga
terdapat campuran bahan organik.

1.3 Karakterisasi Fisik Tanah Lempung


Mineral lempung memiliki karakteristik yang sama. Beberapa sifat umum mineral
lempung antara lain :
1. Hidrasi
Partikel lempung hampir selalu terhidrasi, yaitu dikelilingi oleh lapisan-lapisan
molekul air yang disebut “air teradsorbsi” (adsorbsed water). Lapisan ini umumnya
mempunyai tebal dua molekul dan disebut lapisan difusi (diffuse layer), lapisan
difusi ganda atau lapisan ganda. Difusi “kation teradsorbsi” dari mineral lempung
meluas keluar dari permukaan lempung sampai ke lapisan air. Lapisan air ini dapat
hilang pada temperatur yang lebih tinggi dari 60 sampai 100 oC dan akan
mengurangi plastisitas alamiah dari tanah. Sebagian air ini juga dapat hilang cukup
dengan pengeringan udara saja. Apabila lapisan ganda mengalami dehidrasi pada
temperatur rendah, sifat plastisitasnya dapat dikembalikan lagi dengan
mencampurnya dengan air yang cukup dan dikeringkan selama 24 sampai 48 jam.
Apabila dehidrasi terjadi pada temperatur yang lebih tinggi, sifat plastisitasnya akan
turun atau berkurang untuk selamanya.

2. Aktivitas
Hasil pengujian index properties dapat digunakan untuk mengidentifikasi tanah
ekspansif. Hardiyatmo (2006) merujuk pada Skempton (1953) mendefinisikan
aktivitas tanah lempung sebagai perbandingan antara Indeks Plastisitas (IP)
dengan prosentase butiran yang lebih kecil dari 0,002 mm yang dinotasikan
dengan huruf C, disederhanakan dalam persamaan:

Nilai-nilai khas aktivitas dari persamaan diatas adalah sebagai berikut :


 Kaolinit 0,4 – 0,5
 Illit 0,5 – 1,0
 Montmorilonit 1,0 – 1,7
Indikator aktivitas yang praktis lebih baik adalah batas susut yaitu batas kadar air
sebelum terjadi perubahan volume. Aktivitas dalam kaitannya dengan perubahan
volume merupakan pertimbangan utama dalam mengevaluasi tanah yang akan
dipakai dalam pekerjaan tanah dan pondasi. Kapasitas penggantian beberapa
mineral lempung adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Kapasitas Penggantian Mineral Lempung

meq = milliekivalen
Sumber : Joseph E. Bowles, 1984
Dalam pemakaian praktis, aktivitas lempung dapat ditentukan dalam karakteristik
plastisitasnya yang berubah oleh substitusi ion-ion logam dari tingkat yang lebih
tinggi, seperti terlihat pada skala substitusi berikut :
Li < Na < NH4 < K < Mg < Rb < Ca < Co < Al
Sesuai dengan skala ini, Ca akan lebih mudah menggantikan Na atau Mg
daripada Mg atau Na menggantikan Ca. Selain itu, dari sudut pandang praktis,
makin tinggi kapasitas penggantian, makin banyak kation (dalam bentuk
pencampuran) yang dibutuhkan untuk dapat mengubah suatu aktivitas.
3. Flokulasi dan Dispersi
Mineral lempung hampir selalu menghasilkan larutan tanah – air yang bersifat
alkalin (Ph > 7) sebagai akibat dari muatan negatif netto pada satuan mineral.
Akibat adanya muatan ini, ion-ion H+ didalam air, gaya Van der Waals, dan partikel
berukuran kecil akan bersama-sama tertarik dan bersinggungan atau bertabrakan
di dalam larutan itu. Beberapa partikel yang tertarik akan membentuk “flok” (floc)
yang berorientasi secara acak atau struktur yang berukuran lebih besar yang akan
mengendap didalam larutan itu dengan cepatnya dan membentuk sedimen yang
sangat lepas. Di dalam laboratorium, contoh lempung seberat 50 atau 60 g akan
mengendap di dalam larutan 1000 ml dalam waktu 30 menit, kecuali apabila
formasi flok dapat dikontrol. Untuk menghindarkan flokulasi suatu larutan tanah –
air yang terdispersi dapat dinetralisasikan dengan menambahkan ion- ion H+ yang
dapat diperoleh dari bahan-bahan yang mengandung asam, misal sodium
heksametafosfat.
Lempung yang baru saja terflokulasi dapat dengan mudah didispersikan kembali
ke dalam larutan dengan menggoncangnya, yang menandakan bahwa tarikan antar
partikel ternyata jauh lebih kecil dari gaya goncangan. Tetapi apabila lempung
tersebut telah didiamkan selama beberapa waktu dispersi tidak dapat tercapai
dengan mudah, yang menunjukkan adanya gejala tiksotropik, di mana kekuatan
didapatkan dari lamanya waktu. Sebagai contoh, tiang pancang yang dipancang ke
dalam lempung lunak yang jenuh akan membentuk kembali struktur tanah di dalam
suatu zona di sekitar tiang tersebut. Kapasitas beban awal biasanya sangat rendah,
tetapi sesudah 30 hari atau lebih, beban desain akan dapat terbentuk akibat adanya
adhesi antara lempung dan tiang (R.F.Craig, Mekanika Tanah ).
4. Pengaruh Zat cair
Fase air yang berada di dalam struktur tanah lempung adalah air yang tidak
murni secara kimiawi. Pada pengujian di laboratorium untuk batas Atterberg, ASTM
menentukan bahwa air suling ditambahkan sesuai dengan keperluan. Pemakaian
air suling yang relatif bebas ion dapat membuat hasil yang cukup berbeda dari apa
yang didapatkan dari tanah di lapangan dengan air yang telah terkontaminasi. Air
yang berfungsi sebagai penentu sifat plastisitas dari lempung. Satu molekul air
memiliki muatan positif dan muatan negative pada ujung yang (dipolar). Fenomena
hanya terjadi pada air yang molekulnya dipolar dan tidak terjadi pada cairan yang
tidak dipolar seperti karbon tetrakolrida (CCl4) yang jika dicampur lempung tidak
akan terjadi apapun.
5. Sifat kembang susut (swelling potensial)
Plastisitas yang tinggi terjadi akibat adanya perubahan syistem tanah dengan air
yang mengakibatkan terganggunya keseimbangan gaya-gaya didalam struktur
tanah. Gaya tarik yang bekerja pada partikel yang berdekatan yang terdiri dari gaya
elektrostatis yang bergantung pada komposisi mineral, serta gaya van der Walls
yang bergantung pada jarak antar permukaan partikel. Partikel lempung pada
umumnya berbentuk pelat pipih dengan permukaan bermuatan likstik negatif dan
ujung-ujungnya bermuatan posistif. Muatan negatif ini diseimbangkan oleh kation
air tanah yang terikat pada permukaan pelat oleh suatu gaya listrik. Sistem gaya
internal kimia-listrik ini harus dalam keadaan seimbang antara gaya luar dan
hisapan matrik. Apabila susunan kimia air tanah berubah sebagai akibat adanya
perubahan komposisi maupun keluar masuknya air tanah, keseimbangan gaya–
gaya dan jarak antar partikel akan membentuk keseimbangna baru. Perubahan
jarak antar partikel ini disebut sebagai proses kembang susut.
Tanah-tanah yang banyak mengandung lempung mengalami perubahan volume
ketika kadar air berubah. Perubahan itulah yang membahayakan bagunan. Tingkat
pengembangan secara umum bergantung pada beberapa faktor yaitu:
1. Tipe dan jumlah mineral yang ada di dalam tanah.
2. Kadar air.
3. Susunan tanah.
4. Konsentrasi garam dalam air pori.
5. Sementasi.
6. Adanya bahan organik, dll.

1.4 Identifikasi Tanah Lempung


1. Identifikasi minerallogi
Analisa Minerologi sangat berguna untuk mengidentifikasi potensi kembang
susut suatu tanah lempung. Identifikasi dilakukan dengan cara:
- Difraksi sinar X (X-Ray Diffraction).
- Difraksi sinar X (X-Ray Fluorescence)
- Analisi Kimia (Chemical Analysis)
- Mikroskop Elektron (Scanning Electron Microscope).
2. Cara tidak langsung (single index method)
Hasil uji sejumlah indeks dasar tanah dapat digunakan untuk evaluasi berpotensi
ekspansif atau tidak pada suatu contoh tanah. Uji indeks dasar adalah uji batas-
batas Atterberg, linear shrinkage test (uji susut linear), uji mengembang bebas.
Untuk melengkapi data dari contoh tanah yang digunakan dalam penelitian ini,
dilakukan beberapa pengujian pendahuluan. Pengujian tersebut meliputi uji sifat-
sifat fisis tanah. Menurut Chen (1975), cara-cara yang bisa digunakan untuk
mengidentifikasi tanah ekspansif dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
1. Identifikasi mineralogi
2. Cara tidak langsung (indeks tunggal)

1.5 Struktur Komposisi Mineral Lempung


Mineral lempung merupakan pelapukan akibat reaksi kimia yang menghasilkan
susunan kelompok partikel berukuran koloid dengan diameter butiran lebih kecil dari
0,002 mm. Menurut Holtz & Kovacs (1981) satuan struktur dasar dari mineral
lempung terdiri dari Silica Tetrahedron dan Alumina Oktahedron. Satuan-satuan dasar
tersebut bersatu membentuk struktur lembaran . Jenis-jenis mineral lempung
tergantung dari kombinasi susunan satuan struktur dasar atau tumpukan lembaran
serta macam ikatan antara masing-masing lembaran. Susunan pada kebanyakan tanah
lempung terdiri dari silika tetrahedra dan alumunium okthedra (Gambar 4). Silika
Tetrahedron pada dasarnya merupakan kombinasi dari satuan Silika Tetrahedron yang
terdiri dari satu atom silicon yang dikelilingi pada sudutnya oleh empat buah atom
Oksigen. Sedangkan Aluminium Oktahedron merupakan kombinasi dari satuan yang
terdiri dari satu atom Alumina yang dikelilingi oleh atom Hidroksil pada keenam sisinya.
Silika dan aluminium secara parsial dapat digantikan oleh elemen yang lain dalam
kesatuannya, keadaan ini dikenal sebagai substansi isomorf. Kombinasi dari susunan
kesatuan dalam bentuk susunan lempeng terbentuk oleh kombinasi tumpukan dari
susunan lempeng dasarnya dengan bentuk yang berbeda-beda.
Kaolinite merupakan mineral dari kelompok kaolin, terdiri dari susunan satu
lembaran silika tetrahedra dengan lembaran aluminium oktahedra, dengan satuan
susunan setebal 7,2 Å (Gambar 4-a). Kedua lembaran terikat bersama-sama,
sedemikian rupa sehingga ujung dari lembaran silika dan satu dari lepisan lembaran
oktahedra membentuk sebuah lapisan tunggal. Dalam kombinasi lembaran silika dan
aluminium, keduanya terikat oleh ikatan hidrogen (Gambar 4-b). Pada keadaan tertentu,
partikel kaolinite mungkin lebih dari seratus tumpukan yang sukar dipisahkan. Karena
itu, mineral ini stabil dan air tidak dapat masuk di antara lempengannya untuk
menghasilkan pengembangan atau penyusutan pada sel satuannya.
*Tetrahedral/Lembaran Silika

*Oktahedral/Lembaran Alumina
Gambar 4. Mineral – Mineral Lempung

Gambar 4. (a) Diagram skematik struktur kaolinite (Lambe, 1953)


(b) Struktur Atom Kaolinite (Grim, 1959)
Halloysite, hampir sama dengan kaolinite, tetapi kesatuan yang berturutan lebih
acak ikatannya dan dapat dipisahkan oleh lapisan tunggal molekul air. Jika lapisan
tunggal air menghilang oleh karena proses penguapan, mineral ini akan berkelakuan
lain. Maka, sifat tanah berbutir halus yang mengandung halloysite akan berubah secara
tajam jika tanah dipanasi sampai menghilangkan lapisan tunggal molekul airnya. Sifat
khusus lainnya adalah bahwa bentuk partikelnya menyerupai silinder-silinder
memanjang, tidak seperti kaolinite yang berbentuk pelat-pelat.

Montmorillonite, disebut juga dengan smectit, adalah mineral yang dibentuk oleh
dua buah lembaran silika dan satu lembaran aluminium (gibbsite) (Gambar 5-a).
lembaran oktahedra terletak di antara dua lembaran silika dengan ujung tetrahedra
tercampur dengan hidroksil dari lembaran oktahedra untuk membentuk satu lapisan
tunggal (Gambar 5-b). Dalam lembaran oktahedra terdapat substitusi parsial aluminium
oleh magnesium. Karena adanya gaya ikatan van der Waals yang lemah di antara
ujung lembaran silica dan terdapat kekurangan muatan negatif dalam lembaran
oktahedra, air dan ion-ion yang berpindah-pindah dapat masuk dan memisahkan
lapisannya. Jadi, kristal montmorillonite sangat kecil, tapi pada waktu tertentu
mempunyai gaya tarik yang kuat terhadap air. Tanah-tanah yang mengandung
montmorillonite sangat mudah mengembang oleh tambahan kadar air, yang selanjutnya
tekanan pengembangannya dapat merusak struktur ringan dan perkerasan jalan raya.
Gambar 5 (a) Diagram skematik struktur montmorrilonite (Lambe, 1953)
(b) Struktur atom montmorrilonite (Grim, 1959)

Illite adalah bentuk mineral lempung yang terdiri dari mineral-mineral kelompok
illite. Bentuk susunan dasarnya terdiri dari sebuah lembaran aluminium oktahedra yang
terikat di antara dua lembaran silika tetrahedra. Dalam lembaran oktahedra, terdapat
substitusi parsial aluminium oleh magnesium dan besi, dan dalam lembaran tetrahedra
terdapat pula substitusi silikon oleh aluminium (Gambar 6). Lembaran-lembaran terikat
besama-sama oleh ikatan lemah ion-ion kalium yang terdapat di antara lembaran-
lembarannya. Ikatan-ikatan dengan ion kalium (K+) lebih lemah daripada ikatan
hidrogen yang mengikat satuan kristal kaolinite, tapi sangat lebih kuat daripada ikatan
ionik yang membentuk kristal montmorillonite. Susunan Illite tidak mengembang oleh
gerakan air di antara lembaran-lembarannya.

Gambar 6. Diagram skematik struktur illite (Lambe, 1953)


Air biasanya tidak banyak mempengaruhi kelakuan tanah nonkohesif. Sebagai
contoh, kuat geser tanah pasir mendekati sama pada kondisi kering maupun jenuh air.
Tetapi, jika air berada pada lapisan pasir yang tidak padat, beban dinamis seperti
gempa bumi dan getaran lainnya sangat mempengaruhi kuat gesernya. Sebaliknya,
tanah butiran halus khususnya tanah lempung akan banyak dipengaruhi oleh air.
Karena pada tanah berbutir halus, luas permukaan spesifik menjadi lebih besar, variasi
kadar air akan mempengaruhi plastisitas tanahnya. Distribusi ukuran butiran jarang-
jarang sebagai faktor yang mempengaruhi kelakuan tanah butiran halus. Batas-batas
Atterberg digunakan untuk keperluan identifikasi tanah ini.
2. Eksplorasi Tanah dan Pengambilan Contoh

2.1. PERENCANAAN DAN MANAJEMEN EKSPLORASI

Pekerjaan eksplorasi dengan tujuan untuk mendapatkan data mengenai


endapan (bentuk, penyebaran, letak, posisi, kadar/kualitas, jumlah endapan, serta
kondisi-kondisi geologi) harus dilakukan sebelum rencana penambangan dibuat,
karena industri pertambangan mempunyai ciri umum :
 mempunyai resiko tinggi,
 memerlukan modal yang besar,
 teknologi yang tidak sederhana,
 serta memerlukan pengelolaan yang baik.

Faktor-faktor penyebabnya antara lain :


 adanya ketidakpastian mengenai pengetahuan cadangan bahan tambangnya, baik
mengenai jumlah kadar atau kualitas, bentuk, serta letak dan posisi endapan,
 kondisi-kondisi geologi (sifat batuan, struktur, dan air tanah) endapan dan daerah
sekitarnya.
Suatu industri pertambangan merupakan urutan-urutan kegiatan yang
berkesinambungan, mulai dari tahapan prospeksi, eksplorasi, evaluasi, sampai dengan
pemasaran
 Manajemen Eksplorasi
Secara umum, suatu manajemen kegiatan eksplorasi telah meliputi beberapa hal
berikut, antara lain :
 Jenis kegiatan
 Operasi lapangan
 Layanan pendukung
 Layanan teknis, logistik, dan administrasi
 Koordinasi, komunikasi, dan pengawasan
 Analis dan integrasi data hasil eksplorasi
 Pengambilan keputusan.

Teori manajemen dapat diterapkan dalam kegiatan eksplorasi. Secara umum, dalam
suatu program penentuan yang mengarah ke eksplorasi harus dimulai dengan hipotesa
pekerjaan, yang merupakan rencana ulang pemilihan fakta-fakta dari beberapa
observasi dan intepretasi dengan spekulasi dari pengeluaran.

Syarat untuk perumusan hipotesa dari suatu penemuan (dalam hal ini endapan
bahan galian) adalah sebagai berikut :
 pengetahuan staff (pekerja) yang baik tentang keadaan/kontrol geologi suatu
endapan
 mempunyai wawasan dan imajinasi
 mempunyai bakat intuisi
 mempunyai keberanian
 mempunyai keyakinan tentang penilaian hipotesa
 kemampuan untuk berdiri sendiri.

Secara umum, proses manajemen meliputi :


 Perencanaan
 Pengorganisasian
 Kepemimpinan
 Pengendalian
Yang membentuk suatu fungsi manajemen dan ini berlaku secara general, dan dapat
diaplikasikan dalam proses manajemen eksplorasi.

Dalam eksplorasi, penerapan manajemen menurut tingkatan pelakunya antara lain :


 Manajer Lapangan
meliputi manajemen kerja teknis individu
meliputi manajemen kerja teknis lapangan
meliputi manajemen eksternal dengan lingkungan/kantor setempat
 Senior Eksplorasi
Konsentrasi dalam manajemen kerja secara teknis dan konsentrasi pada perumusan
tujuan penemuan
 Manajer Eksplorasi
Merupakan gabungan manajemen yang kompleks, meliputi : manajemen kerja
individu, manajemen organisasi, reposiasi-reposiasi, serta perumusan proyek-proyek
baru, kerjasama, atau rencana penelitian di lahan yang baru.

 Pengertian Eksplorasi Mineral


Dalam bidang pertambangan sering dijumpai istilah eksplorasi mineral dan mineral.
Eksplorasi mineral secara umum ialah proses dinamis konversi sumberdaya mineral
yang-tak-diketahui menjadi cadangan. Rangkaian proses konversi lebih lanjut berakhir
sampai cadangan itu menjadi komoditi sumberdaya mineral, yaitu barang yang dapat
diperdagangkan.
Mineral menurut definisi ilmu mineralogi ialah bahan anorganik yang terbentuk
secara alami, mempunyai struktur atom dan komposisi kimia serta sifat-sifat tertentu.
Mineral dalam kaitannya dengan kegiatan eksplorasi mencakup bahan yang lebih luas
yaitu bahan anorganik (mineral) maupun organik (hidrokarbon) yang terbentuk oleh
proses geologi di dalam kerak bumi.
Kegiatan eksplorasi menurut U.U No. 11 tahun 1967 berupa penyelidikan geologi
pertambangan, yang berarti suatu penerapan ilmu geologi terhadap operasi
penambangan. Dasar suatu operasi penambangan ialah kepastian geologis dan
ekonomis tentang adanya suatu kuantitas (tonnase atau volume) bahan galian, yang
disebut sebagai cadangan.

Kepastian dari segi ilmu geologi itu antara lain berkenaan dengan :
 keanekaragaman mineral yang ada dalam bahan galian,
 perubahan kandungan mineral bijih akibat struktur atau lingkungan geologi,
 kemungkinan geologisnya adanya sejumlah cadangan lain di tempat sekitar letakan
yang sudah diketahui.

Sedangkan kepastian ekonomis, yang datanya berdampak terhadap ongkos


penambangan, ditentukan antara lain oleh dimensi-dimensi letakan bahan galian
dipermukaan maupun bawah-permukaan, variasi kuantitas terhadap kualitas,
keanekaragaman sifat teknis batuan dan sifat aliran air-tanah, serta daya dukung
batuan terhadap limbah.
Komoditi sumberdaya alam umumnya dan khususnya komoditi sumberdaya mineral,
merupakan barang nyata yang dapat memenuhi segera permintaan pasar dan dapat
diukur dengan nilai uang. Sedangkan cadangan bijih atau mineral belum merupakan
barang nyata, meskipun informasi cadangan dalam prakteknya dapat diperdagangkan,
dan tidak termasuk komoditi sumberdaya mineral. Sesudah sumberdaya mineral
diambil dari kedudukan alaminya, maka ia menjadi komoditi sumberdaya mineral.
Contoh komoditi sumberdaya mineral misalnya ialah logam aluminium, batubara bersih
yang telah ditambang.
Dalam pelaksanaannya, eksplorasi seperti disebut dalam U.U tahun 1967
didahului oleh adanya suatu kegiatan yang disebut sebagai Penyelidikan Umum.
Penyelidikan umum ini disebutkan sebagai penyelidikan secara geologi umum atau
geofisika, di daratan, perairan, dan dari udara, segala sesuatu dengan maksud untuk
membuat peta geologi umum atau menetapkan tanda-tanda adanya bahan galian pada
umumnya. Adanya letakan bahan galian yang ditetapkan pada penyelidikan umum lebih
lanjut diteliti secara seksama pada tahap eksplorasi.
Istilah penyelidikan umum dalam U.U tahun 1967 sama artinya dengan
Prospeksi Mineral. Prospek dalam bidang pertambangan berarti sesuatu yang
memberi harapan yang dapat bermanfaat bagi manusia. Secara fisik prospek ini
umumnya merupakan sebagian dari letakan bahan galian, misalnya mineralisasi yang
muncul dipermukaan bumi atau yang terdapat di bawah permukaan pada batas daerah
yang sedang ditambang. Keseluruhan bagian dari letakan bahan galian belum diketahui
dengan pasti karena belum diselidiki dengan lebih teliti. Itu sebabnya pada suatu
prospek masih harus dilakukan penyelidikan lagi dan ini berlangsung pada tahap
eksplorasi.
Eksplorasi mineral itu tidak hanya berupa kegiatan sesudah penyelidikan umum
itu secara positif menemukan tanda-tanda adanya letakan bahan galian, tetapi
pengertian eksplorasi itu merujuk kepada seluruh urutan golongan besar pekerjaan
yang terdiri dari :
 peninjauan (reconnaissance atau prospeksi atau penyelidikan umum) dengan tujuan
mencari prospek;
 penilaian ekonomis prospek yang telah diketemukan, dan
 tugas-tugas menetapkan bijih tambahan di suatu tambang.

 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Tahapan Kegiatan Eksplorasi


a. Tujuan Eksplorasi

 Melokalisir suatu endapan bahan galian :


Eksplorasi pendahuluan/prospeksi
Eksplorasi detail
 Endapan/bijih yang dicari : Sulfida, timah, bauksit, nikel, emas/perak, minyak/gas
bumi, endapan golongan C, dll
 Sifat tanah dan batuan
Untuk penambangan
Untuk konstruksi
dll
b. Studi Kepustakaan

 Peta dasar sudah tersedia/belum


 Peta geologi/topografi (satelit, udara, darat)
 Analisis regional :
sejarah
struktur/tektonik
morfologi
 Laporan-laporan penyelidikan terdahulu
 Teori-teori dan metode-metode lapangan yang ada
 Geografi
kesampaian daerah (desa/kota terdekat, transportasi)
iklim/musim (cuaca, curah hujan/banjir)
sifat angin, keadaan laut, gelombang, dll
tumbuhan, binatang
komunikasi
 Sosial-budaya-adat
sifat penduduk
kebiasaan
pengetahuan/pendidikan
mata pencaharian, dll
 Hukum
pemilikan tanah
ganti rugi
perizinan
c. Pemilihan Metode

 Cara tidak langsung


geofisika
geokimia
 Cara langsung
pemetaan langsung
pemboran
 Gabungan cara langsung dan tak langsung

d. Pemilihan Alat
Tergantung pada:

 metode yang dipilih


 keadaan lapangan
 waktu
 alat yang tersedia
 biaya
 ketelitian yang diinginkan

e. Pemilihan Anggota Tim/Tenaga Ahli

 geologis
 geofisik
 exploration geologist
 geochemist
 operator alat
 dll
f. Rencana Biaya
g. Pemilihan waktu yang tepat
h. Penyiapan Peralatan/Perbekalan
peta dasar
alat surveying/ukur atau GPS (Global Positioning System)
alat kerja :
alat geofisika kompas
alat sampling meteran
palu kantong contoh
altimeter geochemical kit
alat bor dll
 alat tulis
 alat komunikasi
 keperluan sehari-hari (makan-tidur-mandi, dll.)
 obat-obatan/P3K
Setelah sampai di lapangan (lokasi), maka hal-hal yang harus diperhatikan (disiapkan)
adalah :

 membuat base camp


 mencek peralatan/perbekalan
 melakukan quick survey di daerah penyelidikan, untuk menentukan langkah-langkah
yang lebih lanjut
 melakukan evaluasi rencana dan perubahan-perubahan sesuai dengan keadaan
sebenarnya (bila perlu)
Di Indonesia sendiri nama-mana dinas atau divisi suatu organisasi perusahaan,
lembaga pemerintahan serta penelitian memakai istilah eksplorasi untuk kegiatannya
yang mencakup mulai dari mencari prospek sampai menentukan besarnya cadangan
mineral.
Sebaliknya ada beberapa negara, misalnya Perancis dan Uni Soviet (sebelum negara
ini bubar) yang menggunakan istilah eksplorasi untuk kegiatan mencari mineralisasi dan
prospeksi untuk kegiatan penilaian ekonomis suatu prospek (W.C. Peters, 1981).
Selanjutnya istilah eksplorasi mineral yang dipakai dalam buku ini berarti keseluruhan
urutan kegiatan mulai mencari letak mineralisasi sampai menentukan cadangan in-situ
hasil temuan mineralisasi. Selanjutnya istilah eksplorasi mineral yang dipakai dalam
buku ini berarti keseluruhan urutan kegiatan mulai dari mencari letak mineralisasi
sampai menentukan cadangan in-situnya.