Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Kejang demam merupakan bentuk kejang yang sering dijumpai dan terjadi pada 2 - 5%
anak. Dalam 25 tahun terakhir ini diketahui bahwa kejang demam sebenarnya tidaklah
menakutkan. Kejang demam tidak berhubungan dengan adanya kerusakan otak dan hanya
sebagian kecil saja yang akan berkembang menjadi epilepsi.
Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League Againts Epilepsy
(Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993) adalah kejang yang disebabkan kenaikan
suhu tubuh lebih dari 38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit
akut pada anak berusia di atas1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.
Kejang demam diklasifikasikan sebagai kejang demam kompleks bila bersifat fokal,
berlangsung lama (>10 - 15 menit), atau multiple (> 1 kali serangan selama 24 jam demam).
Sebaliknya, kejang demam sederhana adalah kejang yang berlangsung satu kali, singkat, dan
bersifat umum. Anak dapat saja normal atau mempunyai kelainan neuorologis. Anak bisanya
berusia antara 6 bulan sampai 3 tahun, dan tersering pada usia 18 bulan. Bila kejang demam
berlangsung terus sampai usia anak diatas 6 tahun atau pernah mengalami kejang tanpa demam
baik tonik-klonik, absens, mioklonik ataupun atonik maka diklasifikasikan sebagai Generalized
epilepsy with seizures plus (GEFS+).
Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah (1) riwayat kejang demam dalam
keluarga; (2) usiakurang dari 18 bulan; (3) temperatur tubuh saat kejang. Makin rendah temperatur
tubuh saat kejang. Makin rendah temperatur saat kejang makin sering berulang; dan (4) lamanya
demam. Adapun faktor risiko terjadinya epilepsi di kemudian hari adalah (1) adanya gangguan
perkembangan neurologis; (2)kejang demam kompleks; (3) riwayat epilepsi dalam keluarga; dan
(4) lamanya demam.
Pada umumnya kejang demam akan berlangsung singkat, kurang dari 10 menit dan
berhenti sendiri. Pengobatan saat kejang adalah suntikan diazepam intravena atau diazepam per
rektal. Oleh karena demam merupakan faktor pencetus terjadinya kejang, maka pencegahan
kenaikan suhu tubuh adalah pendekatan yang utama. Pengobatan yang dianjurkan saat ini adalah
pemberian antipiretika dan diazepam oral (0,33mg / kg / dosis tiap 8 jam) atau diazepam rektal
pada saat demam. Pengobatan jangka panjang telah ditinggalkan. Akan tetapi pengobatan jangka

1
panjang dapat dipertimbangkan pada keadaan pasien dengan kelainan neurologis, kejang fokal,
kejang demam yang sering berulang atau tinggal jauh dari fasilitas kesehatan. Obat yang
digunakan adalah fenobarbital atau asam valproat, selama 1 tahun. Serangan kejang sangat
menakutkan orangtua pasien, oleh karenanya edukasi yang cukup dan dukungan emosi pada
orangtua sangatlah diperlukan. Orangtua sebaiknya mengenali pada suhu berpa anak biasanya
kejang, menyediakan termometer, obat penurun panas dan obat penghenti kejang (rektal) di rumah.
Tindakan pada saat anak kejang perlu dipahami oleh orangtua dan kerluarga. Anak harus dibawa
ke rumah sakit bila: kejang berlangsung lama, kejang fokal, kejang berulang, panas tinggi lebih
dari 39,5oC, jenis kejangnya lain dari biasanya, dan setelah kejang anak menjadi tidak sadar.

2
BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Data Pasien Ayah Ibu

Nama An. M I Tn S Ny. E

Umur 1 tahun 3 bulan 35tahun 32 tahun

Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Perempuan

Alamat Batok RT 003/002

Agama Islam Islam Islam

Pendidikan - SMA SMA

Pekerjaan - Karyawan swasta Ibu rumah tangga

Keterangan Hubungan orangtua dengan anak adalah anak kandung

Asuransi BPJS

No. RM 00.11.49.85

Tanggal masuk RS 29 April 2018

II. ANAMNESIS

Data anamnesis diperoleh secara alloanamnesis kepada ibu pasien (Ny. E, 40 tahun) pada
tanggal 29 April 2018 di IGD RSUD Balaraja pukul 22.00 WIB.

Keluhan Utama

Kejang ± 15 menit pukul 18.40 WIB (3 jam SMRS)

Keluhan Tambahan

Demam (+), diare (+), batuk (+)

3
Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien dibawa ke IGD RSUD Balaraja dengan keluhan kejang. Kejang terjadi dua kali.
Kejang pertama terjadi kurang lebih pukul 17.30 WIB. Durasi kurang lebih 5 menit, kejang kaku
seluruh tubuh, mata pasien mendelik keatas, mulut pasien tidak mengeluarkan busa. Setelah kejang
pasien menangis. Kejang kedua terjadi kurang lebih pukul 18.40 WIB. Kejang terjadi dalam durasi
yang lebih sebentar ± 2 menit. Kejang kaku seluruh tubuh, mata mendelik dan mulut tidak
mengeluarkan busa. Kejang tidak diawali adanya kaku atau kedut pada satu bagian tubuh. Pasien
langsung menangis setelah kejang.
Ibu pasien mengatakan pasien demam sejak siang tadi. Sebelum kejang ibu pasien belum
memberikan obat penurun panas. Ibu pasien juga mengatakan bahwa pasien mengalami diare sejak
1 minggu yang lalu, diare terjadi 3 kali setiap harinya. Diare cair + warna kuning kehijauan, ampas
+ lendir – darah -. Ibu pasien mengatakan pasien jadi lebih haus, lebih sering minum susu menjadi
lebih aktif. Tetapi napsu makan menurun. Mual - muntah -.Ibu pasien juga mengatakan pasien
menderita batuk sejak kemarin. Batuk berdahak tetapi dahak tidak keluar. Sesak -, nyeri dada -,
tubuh terlihat biru -, pilek +, lendir berwarna bening.

Riwayat Penyakit Dahulu


Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya mengalami keluhan seperti ini jika panas tinggi.
Tidak ada riwayat operasi, riwayat trauma, riwayat alergi obat maupun makanan tertentu. Riwayat
penyakit lain, seperti penyakit jantung, dan sebagainya disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Ibu pasien mengatakan bahwa kakak pasien ada yang mengalami keluhan yang serupa.
Kejang juga terjadi hanya saat kakak pasien demam. Riwayat alergi dalam keluarga disangkal.

Riwayat Lingkungan Rumah


Pasien tinggal bersama dengan ayah, ibu, dan 1 saudara kandungnya dirumah pribadi.
Rumah berada di kawasan yang padat penduduk.

4
Riwayat Sosial Ekonomi

Ayah bekerja sebagai karyawan swasta. Ayah pasien menanggung biaya 2 orang anak. Ibu
pasien adalah ibu rumah tangga.

Riwayat Kehamilan dan Prenatal


Ibu os berusia 30 tahun saat mengandung pasien. Ibu os rutin memeriksakan kehamilannya
secara teratur satu kali setiap bulan di bidan. Ibu mendapatkan suntikan TT 2x, dan rutin
mengonsumsi tablet yang diberikan oleh bidan. Riwayat tekanan darah tinggi, kencing manis,
perdarahan selama hamil, kejang, trauma maupun infeksi saat hamil disangkal.
Kesan: riwayat pemeliharaan prenatal baik.

Riwayat Kelahiran
Tempat kelahiran : Bidan Swasta di daerah Balaraja

Penolong persalinan : Bidan

Cara persalinan : Partus normal

Masa gestasi : G2P1A0 H 39-40 minggu

Keadaan bayi

 Berat badan lahir : 3000 gram


 Panjang badan lahir : 42 cm
 Lingkar kepala : 33 cm
 Lingkar perut : 20 cm
 Keadaan lahir : langsung menangis kuat, dan biru
 Kelainan bawaan : Tidak ada
 Air ketuban : Jernih
Kesan: neonatus cukup bulan, berat badan lahir normal, lahir secara partus normal.

Riwayat Keluarga Berencana

Ibu pasien mengaku saat ini menggunakan KB suntik 3 bulan.

5
Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Pertumbuhan:

Berat badan lahir 3000 gram. Panjang badan lahir 42 cm.

Berat badan sekarang 12 kg.

Perkembangan:

Psikomotor

 Senyum : 3 bulan
 Tengkurap : 6 bulan
 Duduk : 9 bulan
 Merangkak : 9 bulan
 Berdiri : 12 bulan
 Berjalan : 20 bulan
 Bicara : 20 bulan
Kesan: Riwayat pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai usia

Riwayat Makan dan Minum Anak

Ibu memberikan ASI sampai sekarang tetapi sudah dicampur dengan susu formula ASI
Eksklusif (+). Usia 6 bulan mulai diberikan makanan pendamping seperti bubur susu 3x
sehari. Ibu os mengatakan semenjak sakit pasien sulit makan, makan tidak banyak. Namun
nafsu minum susu meningkat.

Riwayat Imunisasi

VAKSIN DASAR (umur)


BCG 2 bulan - - -
DTP/ DT 2 bulan 3 bulan 4 bulan -
POLIO 2 bulan 3 bulan 4 bulan -
CAMPAK 9 bulan - -
HEPATITIS B 0 bulan 2 bulan 3 bulan 4 bulan
HiB 2 bulan 3 bulan 4 bulan

6
Kesan : Imunisasi dasar pasien lengkap sesuai umur.

III. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan dilakukan di bangsal anak RSUD Balaraja pada tanggal 11 Maret 2018
pukul 11.30 WIB.

A. Kesan Umum : Compos mentis, tampak sakit sedang


B. Tanda Vital
 Nadi : 130 x/menit, reguler, kuat, isi cukup.
 Laju nafas : 24 x/menit, reguler.
 Suhu : 38,1˚C
 Tekanan darah : Tidak dilakukan
C. Data Antropometri
 Berat badan : 12 kg
D. Status Generalis
 Kepala : normocephali
 Rambut : rambut warna hitam, tidak mudah dicabut.
 Wajah : tidak ada kelainan
 Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), oedem
palpebra (-/-), mata cekung (-/-),
 Hidung : bentuk simetris, septum deviasi (-), sekret (-/-), nafas cuping
hidung (-),
 Telinga : bentuk dan ukuran normal, discharge (-/-)
 Mulut : bibir kering (+), bibir sianosis (-), koplik spot (-)
 Tenggorok : faring hiperemis (+), tonsil T1-T1 hiperemis (-)
 Leher : Simetris, pembesaran KGB (-), Kaku Kuduk -
 Kulit : warna sawo matang, tidak ada kelainan.
 Thorax :
Paru
 Inspeksi : Pergerakan dinding toraks kiri-kanan simetris, retraksi (-),
 Palpasi : Tidak ada hemitoraks yang tertinggal.

7
 Perkusi : Sonor pada kedua hemitoraks.
 Auskultasi : Suara napas vesikuler (+/+), ronki(-/-), wheezing (-/-).
Jantung
 Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak.
 Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS IV midklavikula sinistra.
 Perkusi : Tidak dilakukan pemeriksaan
 Auskultasi : Bunyi jantung I dan II normal, reguler, murmur (-), gallop
(-).
 Abdomen
 Inspeksi : Cembung
 Auskultasi : Bising usus (+) 5x
 Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), distensi (+), turgor kulit kembali
cepat
 Perkusi : Timpani pada seluruh kuadran abdomen.
 Genitalia : jenis kelamin perempuan, tidak ada kelainan.
 Anorektal : tidak dilakukan pemeriksaan,
 Ekstremitas :
Superior Inferior

Akral Dingin -/- -/-

Akral Sianosis -/- -/-

CRT <2” <2”

Oedem -/- -/-

Tonus Otot Normotonus Normotonus

Trofi Otot Normotrofi Normotrofi

 Tanda Rangdang Meningeal:


 Kaku kuduk :-
 Brudzinski I-IV :-
 Laseq :-
 Klonus :-

8
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Laboratorium ( 23 Maret 2018)
JENIS PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN
Hemoglobin 12,2 g/dL 9.6 – 15.6
Hematokrit 35 % 31 - 41
Eritrosit 5.11 10^6 /μL 3.40 – 5.20
Leukosit 27.52 ^
10 3 /μL 5.50 – 17.50
Trombosit 303 10^3 /μL 150 – 450
Hitung Jenis
Basofil 0 % 70 - 180
Eosinofil 0 % 15 – 44
Batang 2 % 0.5 – 1.0
Segmen 84 % 0 – 45
Limfosit 9 % 0 – 45
Monosit 5 % 3,5 – 5,2
Rata-rata Eritrosit
MCV 69 fL 78 - 94
MCH 24 pg 23 - 31
MCHC 35 g/dL 32 - 36

9
DAFTAR MASALAH

1. Riwayat konvulsi
2. Febris
3. Diare cair akut
4. Dehidrasi ringan-sedang
5. Batuk berdahak
6. Leukositosis

DIAGNOSIS MASUK :

Kejang Demam Kompleks

DCA dengan dehidrasi ringan-sedang

ISPA

DIAGNOSIS BANDING:

Epilepsi

SARAN PEMERIKSAAN:

1. Pemeriksaan feces lengkap


2. Pemeriksaan elektrolit

TATALAKSANA FARMAKOLOGIS

1. Perawatan di Rawat Inap


2. IVFD Ringer Laktat 175cc/KgBB/24 jam  87,5cc/jam
3. Inj. Paracetamol 120 mg
4. Loading fenitoin 240 mg iv dilanjutkan 2 x 30 mg iv
5. Inj. Ranitidine 12 mg
6. Zinc 1 x 20mg po
7. Inj. Ceftriaxone 2 x 300 mg

PROGNOSIS
1. Quo ad vitam : ad bonam

10
2. Quo ad functionam : ad bonam
3. Qua ad sanationam : dubia ad bonam

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI (1)(5)

Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada anak
yang terjadi pada suhu badan yang tinggi yang disebabkan oleh kelainan ekstrakranial. Derajat
tinggi suhu yang dianggap cukup untuk diagnosa kejang demam adalah 38 derajat celcius di atas
suhu rektal atau lebih. Kejang terjadi akibat loncatan listrik abnormal dari sekelompok neuron otak
yang mendadak dan lebih dari biasanya, yang meluas ke neuronsekitarnya atau dari substansia
grasia ke substansia alba yang disebabkan oleh demam dari luar otak. Kejang demam sering juga
disebut kejang demam tonik-klonik, sangat seringdijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun.

INSIDEN

Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4
tahun. Hampir 3% dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang demam.

11
Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-laki daripada perempuan. Hal tersebut
disebabkan karena pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-
laki.

Berdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari lab SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr.
Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden kejang demam. Pada tahun 1999
ditemukan pasien kejang demam sebanyak 83 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0%).
Pada tahun 2000 ditemukan pasien kejang demam 132 orang dan tidak didapatkan angka kematian
(0 %). Dari data di atas menunjukkan adanya peningkatan insiden kejadian sebesar 37% .Jumlah
penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2 – 4% dari jumlah penduduk di AS, Amerika
Selatan, dan Eropa Barat.

Namun di Asia dilaporkan penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20% di antara jumlah
penderita mengalami kejang demam kompleks yang harus ditangani secara lebih teliti. Bila dilihat
jenis kelamin penderita, kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak laki-laki. (1)

ETIOLOGI

Etiologi dan pathogenesis kejang demam sampai saat ini belum diketahui, akan tetapi umur
anak, tinggi dan cepatnya suhu meningkat mempengaruhi terjadinya kejang. Faktor hereditas juga
mempunyai peran yaitu 8-22% anak yang mengalami kejang demammempunyai orang tua dengan
riwayat kejang demam pada masa kecilnya. (1)(9)

Semua jenis infeksi bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan demam dapat
menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam adalah
infeksi saluran pernafasan atas terutama tonsillitis dan faringitis, otitis mediaakut (cairan telinga
yang tidak segera dibersihkan akan merembes ke saraf di kepala pada otak akan menyebabkan
kejang demam), gastroenteritis akut, exantema subitum dan infeksi saluran kemih. Selain itu,
imunisasi DPT (pertusis) dan campak (morbili) juga dapat menyebabkan kejang demam.

PATOFISIOLOGI (2)(4)

Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan
air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan
luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapatdilalui dengan mudah oleh ion

12
kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion
klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah,
sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebalikya.Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion
di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial
membran dari neuron. Untuk menjagakeseimbangan potensial membran diperlukan energi dan
bantuan enzim Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel.

Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :

 Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular


 Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran listrik dari
sekitarnya
 Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan

Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal
10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai
65 % dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Oleh karena itu
kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu
yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan
listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun
ke membran sel sekitarnya dengan bantuan“neurotransmitter” dan terjadi kejang. Kejang demam
yang berlangsung lama (lebih dari 15menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan
oksigen dan energi untuk kontraksiotot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia,
asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung
yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot
dan mengakibatkan metabolisme otak meningkat.

KLASIFIKASI KEJANG DEMAM

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI 2004), membagi kejang demam menjadi dua
(8)
:

1. Kejang demam sederhana (harus memenuhi semua kriteria berikut)

13
 Berlangsung singkat
 Umumnya serangan berhenti sendiri dalam waktu < 15 menit
 Bangkitan kejang tonik, tonik-klonik tanpa gerakan fokal
 Tidak berulang dalam waktu 24 jam
2. .Kejang demam kompleks (hanya dengan salah satu kriteria berikut)
 Kejang berlangsung lama, lebih dari 15 menit
 Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului dengan kejang
parsial
 Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam, anak sadar kembali di antara
bangkitan kejang

Menurut Livingstone (1970), membagi kejang demam menjadi dua : (5)

1. Kejang demam sederhana


 Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
 Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit
 Kejang bersifat umum, frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak > 4 kali
 Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
 Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
 Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan
2. Epilepsi yang diprovokasi demam
 Kejang lama dan bersifat lokal
 Umur lebih dari 6 tahun
 Frekuensi serangan lebih dari 4 kali /tahun
 EEG setelah tidak demam abnormal

Menurut sub bagian syaraf anak FK-UI membagi tiga jenis kejang demam, yaitu :

1. Kejang demam kompleks


 Umur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun
 Kejang berlangsung lebih dari 15 menit

14
 Kejang bersifat fokal/ multipel
 Didapatkan kelainan neurologis
 EEG abnormal
 Frekuensi kejang lebih dari 3 kali/ tahun
 Temperatur kurang dari 39℃
2. Kejang demam sederhana
 Kejadiannya antara umur 6 bulan sampai dengan 5 tahun
 Serangan kejang kurang dari 15 menit atau singkat
 Kejang bersifat umum (tonik/klonik)
 Tidak didapatkan kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang
 Frekuensi kejang kurang dari 3 kali /tahun
 Temperatur lebih dari 39℃
3. Kejang demam berulang
 Kejang demam timbul pada lebih dari satu episode demam

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:

1. Usia <15 bulan saat kejang demam pertama


2. Riwayat kejang demam dalam keluarga
3. Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif
normal
4. Riwayat demam yang sering
5. Kejang pertama adalah kejang demam kompleks

Perbedaan kejang demam dengan epilepsi yaitu pada epilepsi, tidak disertai demam.
Epilepsi terjadi karena adanya gangguan keseimbangan kimiawi sel-sel otak yang mencetuskan
muatan listrik berlebihan di otak secara tiba-tiba. Penderita epilepsi adalah seseorang yang
mempunyai bawaan ambang rangsang rendah terhadap cetusan tersebut.Cetusan bisa di beberapa
bagian otak dan gejalanya beraneka ragam. Serangan epilepsi sering terjadi pada saat ia mengalami
stres, jiwanya tertekan, sangat capai, atau adakalanya karena terkena sinar lampu yang tajam.

MANIFESTASI KLINIS (1)(2)(5)

15
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan
suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, otitis
media akuta, bronkitis, furunkulosis dan lain-lain. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam
pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-
klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Namun anak akan
terbangun dan sadar kembali setelah beberapa detik atau menit tanpa adanya kelainan neurologik.

Gejala yang timbul saat anak mengalami kejang demam antara lain: anak mengalami
demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba), kejang
tonik-klonik atau grand mal, pingsan yang berlangsung selama 30detik - 5menit (hampir selalu
terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam). Kejang dapat dimulai dengan kontraksi
yang tiba-tiba pada otot kedua sisi tubuh anak. Kontraksi pada umumnya terjadi pada otot wajah,
badan, tangan dan kaki. Anak dapat menangis atau merintih akibat kekuatan kontaksi otot. Anak
akan jatuh apabila dalam keadaan berdiri.

Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsungselama
10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya
berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau rahangnya terkatup rapat,
inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya),gangguan pernafasan,
apneu (henti nafas), dan kulitnya kebiruan.Saat kejang, anak akan mengalami berbagai macam
gejala seperti :

1. Anak hilang kesadaran


2. Tangan dan kaki kaku atau tersentak-sentak
3. Sulit bernapas
4. Busa di mulut
5. Wajah dan kulit menjadi pucat atau kebiruan
6. Mata berputar-putar, sehingga hanya putih mata yang terlihat.

DIAGNOSIS (4)(9)(10)

Diagnosis kejang demam hanya dapat ditegakkan dengan menyingkirkan penyakit-


penyakit lain yang dapat menyebabkan kejang, di antaranya: infeksi susunan saraf pusat,
perubahan akut pada keseimbangan homeostasis, air dan elektrolit dan adanya lesi structural pada

16
system saraf, misalnya epilepsi. Diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaanlaboratorium dan pemeriksaan penunjang yang menyeluruh untuk menegakkan
diagnosis ini.

• Anamnesis
– waktu terjadi kejang, durasi, frekuensi, interval antara 2 serangan kejang
– sifat kejang (fokal atau umum)
– Bentuk kejang (tonik, klonik, tonik-klonik)
– Kesadaran sebelum dan sesudah kejang (menyingkirkan diagnosismeningoensefalitis)
– Riwayat demam ( sejak kapan, timbul mendadak atau perlahan, menetap atau naik turun)
– Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA, OMA, GE)
– Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai demamatau
epilepsi)
– Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi)
– Riwayat keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
– Trauma kepala

• Pemeriksaan fisik
– Tanda vital terutama suhu
– Manifestasi kejang yang terjadi, misal: pada kejang multifokal yang berpindah- pindah atau
kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur otak.
– Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi, henti nafas,
kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif, dan terdapatnya
kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.
– Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan
yangdisebabkan oleh trauma. Ubun –ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan
adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan
subarakhnoid atau subdural. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun, perlu dicari
luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan karena
kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.
– Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yangmungkin
disertai gangguan perkembangan kortex serebri.

17
– Ditemukannya korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis, infeksi sitomegalovirusdan
rubella. Tanda stasis vaskuler dengan pelebaran vena yang berkelok–kelok di retina terlihat
pada sindom hiperviskositas.
– Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural atau
kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.
– Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan bising
jantung, yang dapat membantu diagnosis iskemia otak.
– Pemeriksaan untuk menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA,OMA,
GE)
– Pemeriksaan refleks patologis
– Pemeriksaan tanda rangsang meningeal (menyingkirkan diagnosis meningoensefalitis)

• Pemeriksaan laboratorium
– Darah tepi lengkappenyebab demam
– Elektrolit, glukosa darahdiare, muntah, hal lain yang dapat mengganggu keseimbangan
elektrolit atau gula darah.
– Pemeriksaan fungsi hati dan ginjalgangguan metabolism
– Kadar TNF alfa, IL-1 alfa & IL-6 pada CSSmeningkat Ensefalitis akut /Ensefalopati.

• Pemeriksaan penunjang
– Lumbal Pungsi  curiga meningitis, umur kurang dari 12 bulan diharuskan dan umur di
antara 12-18 bulan dianjurkan.
– EEG  tidak dapat mengidentifikasi kelainan yang spesifik maupun memprediksi
terjadinya kejang yang berulang, tapi dapat dipertimbangkan pada KDK
– CT-scan atau MRI tidak dilakukan pada KDS yang terjadi pertama kali, akan tetapi dapat
dipertimbangkan untuk pasien yang mengalami KDK untuk menentukan kelainan
struktural berupa kompleks tunggal atau multipel

DIAGNOSA BANDING

Menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang, harus dipikirkan apakah
penyebab kejang itu di dalam atau diluar susunan saraf pusat. Kelainan di dalam otak biasanya

18
karena infeksi, misalnya meningitis, ensefalitis, abses otak, dan lain-lain. Oleh sebabitu perlu
waspada untuk menyingkirkan dahulu apakah ada kelainan organis di otak.

Menegakkan diagnosa meningitis tidak selalu mudah terutama pada bayi dan anak yang
masih muda. Pada kelompok ini gejala meningitis sering tidak khas dan gangguan neurologisnya
kurang nyata. Oleh karena itu agar tidak terjadi kekhilafan yang berakibat fatal harus dilakukan
pemeriksaan cairan serebrospinal yang umumnya diambil melalui pungsi lumbal.

Baru setelah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang demam
kompleks atau epilepsi yang dprovokasi oleh demam.

Tabel Diagnosa Banding

No Kriteria Banding Kejang Demam Epilepsi Meningitis


Ensefalitis
1 Demam Pencetusnya Tidak berkaitan Salah satu
demam dengan demam gejalanya
demam
2 Kelainan otak - + +
3 Kejang berulang + + +
4 Penurunan + - +
kesadaran

PENATALAKSANAAN (3)(4)(10)

Dalam penanggulangan kejang demam ada 6 faktor yang perlu dikerjakan, yaitu :

1. Mengatasi kejang secepat mungkin


2. Pengobatan penunjang
3. Memberikan pengobatan rumat
4. Mencari dan mengobati penyebab
5. Mencegah terjadinya kejang dengan cara anak jangan sampai panas
6. Pengobatan akut

19
I. Mengatasi kejang secepat mungkin

Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu datang, kejang sudah
berhenti.Apabila pasien datang dalam keadaan kejang, obat paling cepat untuk menghentikan
kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena dengan dosis 0,3-0,5 mm/kgBB perlahan-
lahan dengan kecepatan 1-2mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit. Obat yang praktis dan dapat
diberikan oleh orang tua di rumah atau yang sering digunakan di rumah sakit adalah diazepam
rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kgBB atau diazepam rektal 5mg untuk anak
dengan berat badan kurang dari 10 kg, dan 10 mg untuk berat badan lebih dari10 kg. atau diazepam
rektal dengan dosis 5 mg untuk anak di bawah usia 3 tahun atau 7,5 mg untuk anak diatas usia 3
tahun. Berikut adalah tabel dosis diazepam yang diberikan :

Terapi awal dengan diazepam

Usia Dosis IV (infus) Dosis per rektal


0.2mg/kg 0.5mg/kg
<1 tahun 1-2 mg 2.5-5 mg
1-5 tahun 3 mg 7.5 mg
5-10 tahun 5 mg 10 mg
>10 tahun 5-10 mg 10-15 mg

Jika kejang masih berlanjut :

1. Pemberian diazepam 0,2 mg/kgBB per infus diulangi. Jika belum terpasang selang infus,
0,5 mg/kg per rectal
2. Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan

Jika kejang masih berlanjut :

1. Pemberian fenobarbital 20-30 mg/kgBB per infus dalam 30 menit


2. Pemberian fenitoin 10-20mg/kgBB per infus dalam 30 menit dengan kecepatan
1mg/kgBB/menit atau kurang dari 50mg/menit.

20
Jika kejang masih berlanjut, diperlukan penanganan lebih lanjut di ruang perawatan intensif
dengan Thiopentone dan alat bantu pernapasan.Bila kejang telah berhenti, pemberian obat
selanjutnya tergantung dari jenis kejang demamsederhana atau kompleks dan faktor risikonya.

II. Pengobatan penunjang

Pengobatan penunjang dapat dilakukan dengan memonitor jalan nafas, pernafasan,


sirkulasi dan memberikan pengobatan yang sesuai. Sebaiknya semua pakaian ketat dibuka, posisi
kepala dimiringkan untuk mencegah aspirasi lambung. Penting sekali mengusahakan jalan nafas
yang bebas agar oksigenasi terjamin, kalau perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi.Pengisapan
lendir dilakukan secara teratur dan pengobatan ditambah dengan pemberian oksigen. Cairan
intavena sebaiknya diberikan dan dimonitor sekiranya terdapat kelainan metabolik atau elektrolit.
Fungsi vital seperti kesadaran, suhu, tekanan darah, pernafasan dan fungsi jantung diawasi secara
ketat.

Pada demam, pembuluh darah besar akan mengalami vasodilatasi, manakala pembuluh
darah perifer akan mengalami vasokontrisksi. Kompres es dan alkohol tidak lagi digunakan karena
pembuluh darah perifer bisa mengalami vasokontriksi yang berlebihan sehinggamenyebabkan
proses penguapan panas dari tubuh pasien menjadi lebih terganggu. Kompres hangat juga tidak
digunakan karena walaupun bisa menyebabkan vasodilatasi pada pembuluh darah perifer, tetapi
sepanjang waktu anak dikompres, anak menjadi tidak selesa karena dirasakan tubuh menjadi
semakin panas, anak menjadi semakin rewel dan gelisah. Menurut penelitian, apabila suhu
penderita tinggi (hiperpireksi), diberikan kompres air biasa. Dengan ini, proses penguapan bisa
terjadi dan suhu tubuh akan menurun perlahan-lahan.

Bila penderita dalam keadaan kejang obat pilihan utama adalah diazepam yang
diberikansecara per rektal, disamping cara pemberian yang mudah, sederhana dan efektif telah
dibuktikan keampuhannya. Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua atau tenaga lain yang
mengetahui dosisnya. Dosis tergantung dari berat badan, yaitu berat badan kurang dari 10 kg
diberikan 5 mg dan berat badan lebih dari 10 kg rata-rata pemakaiannya 0,4-0,6 mg/kgBB.
Kemasan terdiri atas 5 mg dan 10 mg dalam rectiol. Bila kejang tidak berhenti dengan dosis
pertama, dapat diberikan lagi setelah 15 menit dengan dosis yang sama.

21
Untuk mencegah terjadinya udem otak diberikan kortikosteroid yaitu dengan dosis 20-
30mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Golongan glukokortikoid seperti deksametasondiberikan
0,5-1 ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik.

III. Pengobatan rumat

Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat dengan cara mengirim
penderita ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut. Pengobatan ini dibagiatas dua
bagian, yaitu:

•Profilaksis intermitten

Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari, penderita kejang demam diberikan
obat campuran anti konvulsan dan antipiretika yang harus diberikan kepada anak selama episode
demam. Antipiretik yang diberikan adalah paracetamol dengan dosis 10-15mg/kg/kali diberikan 4
kali sehari atau ibuprofen dengan dosis 5-10mg/kg/kali, 3-4 kali sehari. Antikonvulsan yang
ampuh dan banyak dipergunakan untuk mencegah terulangnya kejang demam ialah diazepam, baik
diberikan secara rectal dengan dosis 5 mg pada anak dengan berat di bawah 10kg dan 10 mg pada
anak dengan berat di atas 10kg, maupun oral dengan dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam. Profilaksis
intermitten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk menderita kejang demam
sedehana sangat kecil yaitu sampai sekitar umur 4 tahun. Fenobarbital, karbamazepin dan fenition
pada saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam.

•Profilaksis jangka panjang

Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis teurapetik yang
stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari.
Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialah:

1. Fenobarbital

Dosis 4-5 mg/kgBB/hari. Efek samping dari pemakaian fenobarbital jangka panjang ialah
perubahan sifat anak menjadi hiperaktif, perubahan siklus tidur dan kadang-kadang gangguan
kognitif atau fungsi luhur.

2. Sodium valproat / asam valproat

22
Dosisnya ialah 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Namun, obat ini harganya jauh
lebih mahal dibandingkan dengan fenobarbital dan gejala toksik berupa rasa mual, kerusakan
hepar, pankreatitis.

3. Fenitoin

Diberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkan gangguan sifat berupa
hiperaktif sebagai pengganti fenobarbital. Hasilnya tidak atau kurang memuaskan. Pemberian
antikonvulsan pada profilaksis jangka panjang ini dilanjutkan sekurang-kurangnya 3 tahun seperti
mengobati epilepsi. Menghentikan pemberian antikonvulsi kelak harus perlahan-lahan dengan
jalan mengurangi dosis selama 3 atau 6 bulan.

IV. Mencari dan mengobati penyebab

Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun kompleks biasanya infeksi traktus
respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang tepat dan kuat perlu
untuk mengobati infeksi tersebut. Secara akademis pada anak dengan kejang demam yangdatang
untuk pertama kali sebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi lumbal. Hal ini perlu untuk
menyingkirkan faktor infeksi di dalam otak misalnya meningitis. Apabila menghadapi penderita
dengan kejang lama, pemeriksaan yang intensif perlu dilakukan, yaitu pemeriksaan pungsi lumbal,
darah lengkap, misalnya gula darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen, dan faal hati.

PROGNOSIS (8)(9)

1. Kematian

Dengan penanganan kejang yang cepat dan tepat, prognosa biasanya baik, tidak sampai
terjadi kematian. Dalam penelitian ditemukan angka kematian KDS 0,46 %s/d 0,74 %.

2. Terulangnya Kejang

Kemungkinan terjadinya ulangan kejang kurang lebih 25 s/d 50 % pada 6 bulan pertama
dari serangan pertama.

3. Epilepsi

23
Angka kejadian epilepsi ditemukan 2,9% dari KDS dan 97% dari kejang demam kompleks.
Resiko menjadi epilepsi yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita KDS tergantung
kepada faktor :

a. riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga


b. kelainan dalam perkembangan atau kelainan sebelum anak menderita KDS
c. kejang berlangsung lama atau kejang fokal.

Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor di atas, maka kemungkinan mengalami serangan
kejang tanpa demam adalah 13 %, dibanding bila hanya didapat satu atau tidak sama sekali faktor
di atas.

4. Hemiparesis

Biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari
setengah jam) baik kejang yang bersifat umum maupun kejang fokal. Kejang fokal yang terjadi
sesuai dengan kelumpuhannya. Mula-mula kelumpuhan bersifat flaccid, sesudah 2 minggu timbul
keadaan spastisitas. Diperkirakan + 0,2 % KDS mengalami hemiparese sesudah kejang lama.

5. Retardasi Mental

Ditemuan dari 431 penderita dengan KDS tidak mengalami kelainan IQ, sedang kejang
demam pada anak yang sebelumnya mengalami gangguan perkembangan atau kelainan neurologik
ditemukan IQ yang lebih rendah. Apabila kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang tanpa
demam, kemungkinan menjadi retardasi mental adalah 5x lebih besar.

24
BAB III

PENUTUP

Kejang demam adalah kejang yang terjadi saat demam (suhu rektal diatas 380c) tanpa
adanya infeksi SSP atau gangguan elektrolit akut, terjadi pada anak diatas umur 1 bulan, dan tidak
ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.

Klasifikasi dari kejang demam :

1. Kejang demam sederhana


2. Kejang demam kompleks.

Penatalaksanaan yang perlu dikerjakan yaitu :

1.Pengobatan fase akut


2.Mencari dan mengobati penyebab
3.Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam

Untuk prognosis kejang demam, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan kematian jika
ditanggulangi dengan tepat dan cepat. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap
normal pada pasien yang sebelumnya normal.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman dkk, (e.d Bahasa Indonesia), Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15, EGC,2000. Hal
2059-2067.
2. Rudolph AM. Febrile Seizures. Rudoplh Pediatrics. Edisi ke-20. Appleton danLange,
2002.
3. Pusponegoro. D. Hardiono dkk. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam.Ikatan Dokter
Anak Indonesia. Jakarta, 2006.
4. Mary Rudolf, Malcolm Levene. Pediatric and Child Health. Edisi ke-2.Blackwell
pulblishing, 2006. Hal 72-90.
5. Price, Sylvia, Anderson. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.EGC, Jakarta
2006.
6. Mardjono Mahar, dkk. Neurologi Klinis Dasar, PT. Dian Rakyat. Jakarta, 2006.
7. Pediatrica, Buku Saku Anak, edisi 1, Tosca Enterprise. UGM Jogjakarta, 2005.
8. Febrile Seizures Fact Sheets: National Institutes of Neurology and Stroke.
www.ninds.nih.gov/disorders/febrile_seizures/detail_febrile_seizures.htm. Diakses pada
tanggal 8 Mei 2018.
9. Febrile Seizures: Causes, Symptoms, Diagnosis and Treatment.
www.medicinet.com/febrileseizures/article.htm. Diakses pada tanggal 20 October 2018.
10. Seizures types. www.2betrhealth.com/SeizureTypes.html. Diakses pada tanggal 8 Mei
2018

26