Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit yang berkaitan

dengan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Penderita DM sering

mengalami komplikasi pada pembuluh darah berupa makroangiopati,

mikroangiopati, neuropati, penurunan daya tahan tubuh sehingga

memudahkan terjadinya infeksi, inflamasi, iskemia dan kematian sel akibat

hiperglikemia. Mekanisme terjadinya kematian sel pada penderita DM

melalui peningkatan glukosa intraseluler maupun ekstraseluer (Kariadi,

2009).

Penderita diabetes mempunyai resiko 15% terjadi ulkus pada kaki

diabetik pada masa hidupnya dan risiko terjadinya kekambuhan dalam 5

tahun sebesar 70%. Penderita diabetes meningkat setiap tahunnya, di

Indonesia dilaporkan sebanyak 8,4 juta jiwa pada tahun 2001, meningkat

menjadi 14 juta pada tahun 2006 dan diperkirakan menjadi sekitar 21,3 juta

jiwa pada tahun 2020. Indonesia menduduki peringkat ke-empat dengan

jumlah diabetes terbanyak setelah India (31,7 juta jiwa), China (20,8 juta

jiwa) dan amerika serikat (17,7 juta jiwa). Hasil survey Departemen

Kesehatan tahn 2010, angka kejadian dan komplikasi DM cukup tersebar

sehingga dikatakan sebagai masalah nasional yang harus mendapat

perhatian karena komplikasinya sangat mengganggu kualitas penderita.

Angka kematian ulkus pada penyandang diabetes militus berkisar antara 17-

1
2

32%, sedangkan laju amputasi dapat dihindarkan dengan perawatan luka

yang baik, lebih dari satu juta amputasi dilakukan pada penyandang diabetes

khususnya diakibatkan oleh ulkus gangren di seluruh dunia (Depkes, 2010).

Sedangkan data awal yang dilakukan di Puskesmas Kokop pada bulan

Februari 2018 diperoleh data penderita DM sebanyak 22 orang.

Seseorang yang menderita luka akan merasa adanya ketidaksempurnaan

yang pada akhirnya akan menimbulkan gangguan fisik dan emosional. Ini

berarti seseorang yang mempunyai luka akan mengalami gangguan

kesehatan yang berdampak pada kualitas kehidupanya. Ada beberapa

domain kualitas hidup yang akan terganggu apabila seseorang mengalami

luka. Salah satunya adalah gangguan aktivitas sehari-hari sehingga tidak

mampu bekerja yang akhirnya dapat berdampak pada masalah finansial.

Respon emosionalpun terganggu karena adanya luka seperti bau, nyeri dan

harapan hidup. Selain itu, interaksi sosial dapat terganggu kareana adanya

kelemahan fisik, merasa luka kotor, dan bau. Semua hal tersebut dapat

mempengaruhi rasa nyaman, baik fisik, psikis, maupun sosial.

Upaya yang dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih berat

diperlukan intervensi keperawatan luka yang efektif dan efisien. Perawatan

luka konvensional yang selama ini dilakukan cukup menghabiskan banyak

biaya dan waktu yang lama bagi penderita DM, sehingga dibutuhkan jenis

perawatan luka terbaru yg lebih efisien seperti metode balutan luka modern.

(Utomo, 2015).
3

Pada awalnya para ahli berpendapat bahwa penyembuhan luka sangat

baik bila luka dibiarkan tetap kering. Para ahli berfikir bahwa infeksi bakteri

apabila seluruh cairan keluar terserap oleh pembalutnya. Akibatnya

sebagian besar luka dibalut oleh kapas pada kondisi kering. Perawat dituntut

untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait

dengan proses perawatan luka yang dimulai dari pengkajian yang

komperhensif, perencanaan intervensi yang tepat, implementasi, evaluasi

hasil yang diperlukan selama perawatan serta dokumentasi hasil yang

sistematis. Isu lain yang harus dipahami oleh perawat adalah berkaitan

dengan cost effectiveness, yaitu pemilihan produk yang tepat harus

berdasarkan pertimbangan biaya (cost), kenyamanan (comfort) dan

keamanan (safety) (Nurrahmani, 2012).

Penggunaan dan pemilihan produk-produk perawatan luka yang kurang

sesuai akan menyebabkan proses inflamasi yang memanjang dan kurang

suplai oksigen ditempat luka. Hal-hal tersebut akan memperpanjang waktu

penyembuhan luka. Luka yang lama sembuh disertai dengan penurunan

daya tahan tubuh pasien membuat luka semakin rentan untuk terpanjan

mikroorganisme yang menyebabkan infeksi. Munculnya infeksi akan

memperpanjang lama hari rawat. Hari rawat yang lebih lama akan

meningkatkan risiko pasien terkena komplikasi penyakit lain (Nurrahmani,

2012).

Teknik perawatan luka DM telah berkembang pesat, yaitu teknik

konvensional dan modern. Teknik konvensional menggunakan kasa,

antibiotik, dan antiseptik, sedangkan teknik modern menggunakan balutan


4

sintetik seperti balutan alginate, balutan foam, balutan hidropolimer, balutan

hidrofiber, balutan hidrokoloid, balutan transparan film, dan balutan

absorben. Dampak teknik perawatan luka konvensional akan mempengaruhi

proses regenerasi jaringan sebagai akibat dari prosedur membuka balutan,

membersihkan luka, tindakan debridement dan jenis balutan yang diberikan

sehingga menimbulkan respon nyeri, sedangkan dampak perawatan luka

modern akan menyebabkan luka lebih lembab sehingga penyembuhan luka

lebih cepat.

B. Perumusan Masalah

Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

mengenai“ bagaimana gambaran penyembuhan luka ganggren dengan

menggunakan balutan modern di Puskesmas Kokop?”.

C. Tujuan penelitian

Mengetahui gambaran penyembuhan luka ganggren dengan

menggunakan balutan modern di Puskesmas Kokop.

D. Manfaat penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat menjadi tambahan pengalaman, memperluas

wawasan pengetahuan teori dan praktik keperawatan medical bedah

dalam bidang perawatan luka serta riset keperawatan khususnya

mengenai efektifitas perawatan luka secara modern dengan lama hari

rawat pada luka diabetik.


5

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat memberikan gambaran pada perawat tentang

penyembuhan luka ganggren dengan menggunakan balutan modern dan

dapt menerapkannya di instansi kesehatan.