Anda di halaman 1dari 37

DOKUMEN INTERNAL

PROFIL
UPT PUSKESMAS NGEBEL

PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO

DINAS KESEHATAN

KECAMATAN NGEBEL

UPT PUSKESMAS NGEBEL

TelagaNo.7 Telp.(0352)591023 Email :puskesmasngebelnew@gmail.com

NGEBEL
TAHUN 2017

2
PUSKESMAS RAWAT INAP – UGD 24 JAM

JL. TELAGA NO 7 KECAMATAN NGEBEL KABUPATEN PONOROGO

Email: puskesmasngebelnew@gmail.com

TELP.(0352)591023
4
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh...

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta,ala


sehingga Profil UPT Puskesmas Ngebel Tahun 2017 ini dapat diselesaikan setelah melewati
proses yang panjang dalam pengerjaannya. Profil ini disusun berdasarkan hasil kegiatan
pelayanan di dalam dan di luar gedung yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan untuk
menyusun perencanaan program ditahun mendatang.

Profil UPT Puskesmas Ngebel merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi
Kesehatan yang berisi gambaran tentang situasi kesehatan di wilayah kerja UPT Puskesmas
Ngebel yang disusun setahun sekali, memuat berbagai data dan informasi tentang kesehatan
juga data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan.

Pembuatan Profil Kesehatan dimaksudkan untuk menyediakan data dan informasi


kesehatan dari cakupan pelaksanaan program kesehatan secara lengkap, akurat dan ’up to
date’ sebagai sarana evaluasi terhadap pencapaian program kesehatan di wilayah kerja UPT
Puskesmas Ngebel Tahun 2017. Selain daripada itu profil kesehatan juga dapat digunakan
untuk acuan kegiatan monitoring, pengendalian dan sebagai dasar perencanaan, pengambilan
keputusan dalam pelaksanaan kegiatan program.

Dalam penyusunan profil ini tentu saja masih banyak kekurangan sehingga kami
sangat mengharapkan bimbingan dan masukkan dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur
dan Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo serta semua pihak guna penyempurnaan profil
Kesehatan di masa yang akan datang.

Akhir kata kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh staf UPT Puskesmas
Ngebel atas kerjasamanya semoga Profil UPT Puskesmas Ngebel ini dapat bermanfaat.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh...

Ponorogo, Desember 2017

Kepala UPT Puskesmas Ngebel

drg. YULITA BAYURIYANTI

1
Penata

NIP. 19820706 201001 2 002

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................ i

DAFTAR ISI............................................................................................................ ii

BAB I : PENDAHULUAN

A.................................................................LATAR BELAKANG
.................................................................................................1

B...........................................TUJUAN PENYUSUNAN PROFIL


.................................................................................................1

C....................................................SISTEMATIKA PENULISAN
.................................................................................................2

BAB II : GAMBARAN UMUM

A..............................................................................GEOGRAFI
.................................................................................................3

B...........................................................................DEMOGRAFI
.................................................................................................4

C.........................KEADAAN SOSIAL BUDAYA DAN EKONOMI


.................................................................................................4

D........................................................FASILITAS PENDIDIKAN
.................................................................................................5

2
E..................VISI, MISI, TUJUAN, STRATEGI DAN TATA NILAI
.................................................................................................5

F...............................................................................TATA NILAI
.................................................................................................6

G...............................................................BENTUK KEGIATAN
.................................................................................................6

BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN

A..........................................................................MORTALITAS
.................................................................................................8

B...........................................................................MORBIDITAS
.................................................................................................9

C...........................................................................STATUS GIZI
.................................................................................................9

BAB IV : UPAYA PROGRAM POKOK PUSKESMAS

A..................................................UPAYA KESEHATAN WAJIB


...............................................................................................10

B................................UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN


...............................................................................................10

C.................................................HASIL CAKUPAN PROGRAM


...............................................................................................10

BAB V : SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

A............................................................SARANA KESEHATAN
...............................................................................................25

B.......................................................JARINGAN PUSKESMAS
...............................................................................................25

BAB VI : MASALAH DAN HAMBATAN

A...............................................................................MASALAH
...............................................................................................28

B.............................................................................HAMBATAN
...............................................................................................30

BAB VII : KESIMPULAN DAN SARAN............................................................ 30

BAB VIII : PENUTUP........................................................................................ 31

3
4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah unit pelaksana teknik Dinas
Kesehatan Kabupaten/ Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan
Pembangunan kesehatan suatu atau sebagian wilayah kecamatan. Dan Puskesmas
sebagai unit organisasi fungsional dibidang kesehatan dasar yang berfungsi sebagai pusat
pembangunan kesehatan, membina peran serta masyarakat dan pelayanan kesehatan
dasar secara menyeluruh dan terpadu.Untuk mewujudkan pelaksanaan fungsi dan program
kegiatan puskesmas, maka telah dilengkapi dengan sistem menejemen seperti , Mini
lokakarya, SP2TP, Monitoring bulanan,laporan bulanan, laporan triwulan, laporan tahunan
dan hal yang menunjang pelaksaanannya.
Profil UPT Puskesmas Ngebel adalah gambaran situasi kesehatan di UPT
Puskesmas Ngebel yang diterbitkan setiap tahun sekali, Dalam Profil ini memuat berbagai
data tentang kesehatan, yang meliputi data derajat kesehatan, upaya kesehatan dan
sumber daya kesehatan. Profil kesehatan juga menyajikan data pendukung lain yang
berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, data sosial ekonomi, data
lingkungan dan data lainnya. Data dianalisis dengan analisis sederhana dan ditampilkan
dalam bentuk tabel dan grafik.
Penerbitan profil UPT Puskesmas Ngebel tahun 2017 ini adalah agar diperoleh
gambaran keadaan kesehatan di UPT Puskesmas Ngebel khususnya tahun 2017 dalam
bentuk narasi, tabel, dan gambar.
Profil UPT Puskesmas Ngebel tahun 2017 diharapkan dapat memberikan data yang
akurat, untuk mengambil keputusan berdasarkan fakta. Selain itu profil ini dapat digunakan
sebagai penyedia data dan informasi dalam rangka evaluasi perencanaan.

B. Tujuan Penyusunan Profil


1. Tujuan Umum
Tujuan dari penyusunan Profil UPT Puskesmas Ngebel ini adalah untuk
memperoleh dan menghadirkan informasi kesehatan serta faktor-faktor kesehatan
lainnya yang dapat dijadikan sebagai bahan penilaian tercapai atau tidaknya target
kegiatan, yang kelak dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan
langkah-langkah perencanaan selanjutnya

2. Tujuan Khusus
Diperolehnya data/informasi kesehatan di tingkat UPT Puskesmas Ngebel, yang
menyangkut data-data sebagai berikut :
a. data/informasi derajat kesehatan masyarakat
b. data/informasi perilaku masyarakat di bidang kesehatan
c. data/informasi kesehatan lingkungan
d. data/informasi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan

1
C. Sistematika Penulisan.
Adapun sistematika penulisan profil puskesmas Ngebel adalah sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan. Menyajikan latar belakang, tujuan disusunnya profil puskesmas
juga sistematika penulisan
BAB II : Gambaran Umum. Memuat tentang gambaran umum puskesmas Ngebel,
berupa letak geografis, data demografi, social budaya dan ekonomi
masyarakat Fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, VISI, MISI dan Tata Nilai
Puskesmas Ngebel
BAB III : Situasi Derajat Kesehatan. menyajikan tentang jumlah kematian ( Mortalitas )
Kesakitan ( Morbiditas ) dan Status Gizi Masyarakat di wilayah Puskesmas
Ngebel
BAB IV : Upaya Program Pokok Puskesmas. menyajikan tentang upaya kesehatan
wajib dan upaya kesehatan pengembangan dan hasil capaiannya di tahun 2016
BAB V : Situasi Sumber Daya kesehatan. Menyajikan tentang sarana, Ketenagaan
maupun pembiayaan yang ada di puskesmas Ngebel tahun 2016
BAB VI : Masalah dan Hambatan. berisi tentang segala masalah maupun hambatan
yang dihadapi oleh puskesmas Ngebel pada kurun waktu tahun 2016.
BAB VII : Penutup. Menyajikan tentang kesimpulan dari situasi kesehatan di Puskesmas
Ngebel tahun 2016 serta saran guna perbaikan kedepan.

Lampiran – lampiran

2
BAB II
GAMBARAN UMUM

A. Geografi
Luas Wilayah kerja Puskesmas Ngebel adalah 5,951km2 dengan batas-batas adminsistrasi
sebagai berikut :

1. Sebelah Timur Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Madiun


2. Sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kecamatan Jenangan
3. Sebelah selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Pulung
4. Sebelah utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kediri

Wilayah kerja UPT Puskesmas Ngebel terdiri dari 8 desa Yaitu :


1. Desa Ngebel

2. Desa Ngrogung
3. Desa Wagir Lor

4. Desa Gondowido
5. Desa Talun

6. Desa Pupus
7. Desa Sahang

8. Desa Sempu
Keadaan Topografi di Wilayah Puskesmas Ngebel adalah dataran tinggi. Dengan mata
pencaharian penduduknya sebagian besar adalah bertani / bercocok tanam.
Gambar 2.1 Peta Wilayah Kerja UPT Puskesmas Ngebel

B. Demografi
3
UPT PuskesmasNgebelKabupaten Ponorogo memiliki cakupan layanan jumlah penduduk sekitar
22.273jiwa yang tersebar pada 8 (delapan) desa

No. DESA Laki-Laki Perempuan TOTAL

1. Ngebel 1557 1501 3058


2. Sempu 731 716 1447
3. Sahang 836 861 1697
4. Wagir Lor 1925 2152 4077
5. Gondowido 1338 1307 2645
6. Ngrogung 1463 1455 2918
7. Pupus 885 878 1763
8. Talun 2098 2037 4135
TOTTAL 10987 11286 22273

JENIS KELAMIN
NO NAMA PENDIDIKAN JUMLAH PRIA WANITA

1. S1 Dokter Umum 1 1
2. S1 Dokter Gigi 1 1
3. S1 Kesehatan 1 1
Masyarakat
4. S1 Sosial 2 2
4. S1 Nurse/Perawat 1 1
5. D3 Perawat 8 3 5
6. D3 Perawat Gigi 0 0 0
7. D4 Kebidanan 0
8. D3 Kebidanan 12 6
9. D3 Analis Kesehatan 0
10. D3 Gizi 0
11 D3 Kesehatan 1 1
Lingkungan
12. D3 Asisten Apoteker 1 1
13. SPK 0
14. SPRG 0
14. SMU dan SMP 3 5 2
JUMLAH 31 12 20

C. Keadaan Sosial Budaya dan Ekonomi


Penduduk wilayah kerja Puskesmas Ngebel berlatar belakang suku Jawa ( 100%) dan
mayoritas beragama islam.. Perilaku masyarakat Sangat dipengaruhi oleh adat istiadat
setempat, seperti persatuan yang diwujudkan dalam sikap kegotong royongan yang kokoh.
Ini terlihat pada acara-acara seperti selamatan, pernikahan dan masih banyak lagi acara-
acara lain yang sangat mencerminkan budaya atau adat istiadat setempat. Mata
pencaharian penduduk pada umumnya adalah petani kebun. Sarana transportasi yang
digunakan mayoritas penduduknya adalah sepeda bermotor.

4
D. Fasilitas Pendidikan
Tingkat pendidikan/Sumber Daya Manusia sangat berpengaruh terhadap kesehatan,
baik kesehatan secara personal maupun kesehatan lingkungan. Untuk menunjang sumber
daya manusia maka diperlukan sarana pendidikan sebagai sarana pengembangan sumber
daya manusia secara formal.
Berikut adalah tabel distribusi sarana pendidikan yang ada di wilayah kerja Puskesmas
Ngebel.
Gambar 2.2
DISTRIBUSI SARANA PENDIDIKAN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGEBEL
TAHUN 2017

NO DESA/KEL. TK SD/ MI SMP/MTs SMK/MA PT

1. Ngebel 3 3 1 1 0

2. Ngrogung 2 3 1 2 0
3. Wagir Lor 2 4 0 0 0
4. Sahang 2 1 0 0 0
5. Taluni 3 3 1 0 0
6. Pupus 2 2 0 0 0
7. Gondowido 1 1 1 0 0
8 Sempu 1 1 0 0 0
JUMLAH 16 18 4 1 0

Sebagai faktor predisposisi terhadap perubahan perilaku khususnya bagi pengetahuan


tentang kesehatan, maka diharapkan masyarakat yang berpendidikan tinggi memiliki kesadaran
yang tinggi pula dalam perilaku hidup sehat. Kondisi wilayah kerja puskesmas Ngebel pada
umumnya tingkat pendidikan masih rendah sehingga menjadi tantangan bagi petugas
kesehatan dalam penyampaian informasi-informasi ataupun inovasi-inovasi kesehatan.

E. VISI, MISI , TUJUAN, STRATEGI DAN TATA NILAI UPT PUSKESMAS NGEBEL
Untuk meningkatkan kinerja Puskesmas Ngebel, telah ditetaptapkan Visi dan Misi untuk
mendukung Rencana Strategis Depkes.
1. Visi
“Terwujudnya Kecamatan Ngebel Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat Dengan Pelayanan
Terjangkau Dan Berkeadilan”
2. Misi
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara paripurna, bermutu dan terjangkau
diseluruh masyarakat.

5
2. Meningkatkan profesionalisme SDM dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan
secara berkelanjutan.
3. Mengembangkan sarana mutu pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat
4. Meningkatkan pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan
sehingga masyarakat dapat mandiri.
5. Meningkatkan Manajemen Puskesmas yang efektif.
3. TUJUAN
1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian masyarakat Ngebel;
2. Perbaikan status gizi masyarakat Ngebel;
3. Meningkatkan kemandirian masyarakat untuk ber- PHBS sehingga tercipta
lingkungan yang sehat;
4. Meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan kesehatan secara berkelanjutan
dengan berorientasi pada kepuasan pelanggan;
5. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemanfaatan sumber daya puskesmas;
6. Meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk mewujudkan tertib
administrasi dan keuangan yang baik.

4. Strategi
a. Meningkatkan pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif) di Puskesmas induk
b. Meningkatkan pelayanan promotif dan preventif.
c. Memperkuat jaringan komunikasi dan koordinasi dengan stake holder
d. Memperkuat jaringan peran serta masyarakat di bidang kesehatan.

F. Tata Nilai Puskesmas Ngebel


Melayani dengan : Cepat,Efisien&Efektif,Ramah,Ikhlas,Adil

G. Bentuk Kegiatan
1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan (kuratif dan
rehabilitatif) di Puskesmas Induk
a. Pelayanan Umum
b. Pelayanan KIA - KB / Imunisasi
c. Pelayanan GIGI
d. Pelayanan UGD
e. Pelayanan Rawat Inap
f. Pelayanan Laboratorium
g. Pelayanan Farmasi
h. Pelayanan Ambulance
2. Mengoptimalkan bentuk pelayanan kesehatan sesuai dengan fasilitas dan
kemampuan yang tersedia seperti:
a. Mengoptimalkan pelayanan UGD 24 Jam

b. Mengoptimalkan peran SDM sesuai dengan tupoksi pelayanan yang ada


Melengkapi fasilitas penunjang pelayanan medis secara bertahap

c. Mengoptimalkan pelayanan : secara tepat waktu, standar mutu, efisien dan


dengan keramah tamahan

6
d. Mengoptimalkan pelayanan rujukan terutama rujukan horisontal (antar lini
pelayanan di puskesmas) dalam rangka mendorong optimaliasi pelayanan dengan
tetap mengoptimalkan pelayanan rujukan vertikal.

e. Mengoptimalkan koordinasi pada semua lini pelayanan puskesmas.


f. Meningkatkan pelayanan promotif dan preventif.

g. Mengoptimalkan petugas jaga layanan klinik sehat meliputi :


1). Konsultasi gizi
2). Konsultasi sanitasi
3). Konsultasi medis
4). Konsultasi KIA dan KB dll.
h. Mengoptimalkan peranan SDM sesuai dengan tupoksi pelayanan yang ada

i. Mengoptimalkan koordinasi lintas sektoral tingkat kecamatan , secara aktif


maupun pasif

j. Membangun komunikasi dengan aparat dan lembaga tingkat desa dalam rangka
memperoleh dukungan untuk implementasi program kesehatan di tingkat desa.

k. Membangun dan meningkatkan tingkat kepercayaan pelayanan puskesmas pada


masyarakat melalui tokoh masyarakat.

l. Memperkuat jaringan peran serta masyarakat di bidang kesehatan


m. Membangun komunikasi dan koordinasi dengan kader sebagai jaringan program
dan layanan kesehatan pada masyarakat.
n. Mengoptimalkan pembinaan petugas puskesmas ke posyandu

o. Mengoptimalkan peran petugas penanggunjawab wilayah desa


p. Mengoptimalkan kerja sama lintas program dalam memberdayakan masyarakat

q. Mengoptimalkan jaringan komunikasi dan koordinasi serta pelayanan kesehatan


pada institusi pendidikan

7
BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

A. Mortalitas
Gambaran perkembangan derajat kesehatan Masyarakat dapat dilihat dari kejadian
kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Disamping itu kejadian kematian dapat
digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan
program pembangunan kesehatan lain

1. AKB
kematian bayi di wilayah puskesmas Ngebel adalah 0,35 % atau 1 bayi 0,54% dari
186 persalinan yang terjadi tahun 2017.
2. AKABA
Tahun 2017 tidak terjadi kematian pada anak usia balita
3. AKI
Tahun 2016 dan 2017 tidak terjadi kematian ibu di wilayah Puskesmas Ngebel, hal ini
menandakan bahwa derajat kesehatan ibu hamil dan bersalin di wilayah puskesmas
Ngebel mengalami peningkatan.

Gambar 3.1
Grafik tern kematian Ibu di puskesmas Ngebel
Tahun 2013 s/d 2016

B.

8
C. Morbiditas
Disamping angka kematian, derajat kesehatan juga bisa dilihat dari angka kesakitan dalam
satu wilayah tertentu. Angka kesakitan yang dituangkan dalam profil kesehatan ini didapat
dari pengumpulan data dari ponkesdes / polindes juga dari hasil kunjungan rawat jalan di
puskesmas Ngebel.
1. Penyakit Menular
a. Penyakit menular yang disajikan diantaranya adalah TB Paru, HIV/ AIDS, Kusta
dan DiareTB Paru
1) Penyakit TB Paru masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat.
Berbagai upaya pemerintah dilakukan untuk pengendalian penyakit ini yaitu
dengan menemukan, mengobati dan menyembuhkan penderita TB paru dengan
stategi DOTS ( Directly Observed Treatmen Shortcourse ) tahun 2017 penderita
TB paru di Wilyah Puskesmas Ngebel sebanyak 8kasus.
2) HIV / AIDS
Penemuan Kasus HIV positif di wilayah puskesmas Ngebel dilakukan antara lain
lewat skrening pada ibu hamil ( ANC terpadu ) maupun terhadap semua pasien
dengan TBC.
Sedangkan untuk mengatasi stigma yang ada di masyarakat dilakukan
penyuluhan.
3) Kusta
Jumlah kasus Kusta di wilayah Puskesmas Ngebel Tahun 2016 Sebanyak 2
orang dan sudah selesai menjalani pengobatan
b. Penyakit Menular yang Dapat dicegah dengan Imunisasi ( PD3I )
PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas// ditekan dengan
pelaksanaan program imunisasi. Pada profil ini akan dibahas penyakit tetanus
neonatorum, campak, polio dan difteri
1) Tetanus Neonatorum
Dengan adanya program TT WUS dan Bias mulai tahun 2008 sampai sekarang
di wilayah puskesmas Ngebel tidak Ditemukan Kasus Tetanus Neonatorum
2) Campak
Tidak terjadi kasus campak di wilayah Puskesmas Ngebel
3) Difteri
Tidak terjadi kasus Difteri di wilayah Puskesmas Ngebel
4) Polio
Tidak terjadi Kasus Polio di wilayah Puskesmas Ngebel.
D. STATUS GIZI
Jumlah balita ditimbang pada tahun 2017 sebanyak 868anak. Terdiri dari 4 balita ( 0,5%)
dengan tatus gizi lebih, 801 balita (92,62 %) dengan status gizi normal , 60balita ( 6,91%)
dengan status gizi kurang dan 3 balita ( 0,34 %) dengan status gizi buruk. Kasus gizi buruk
di tahun 2017 adalah 3 kasus.

9
BAB IV
UPAYA PROGRAM POKOK PUSKESMAS

A. Upaya Kesehatan wajib puskesmas meliputi :


a. Kesehatan Ibu, Anak dan KB
b. Peningkatan Gizi
c. Promasi Kesehatan
d. Pemberantasan Penyakit Menular
e. Kesehatan Lingkungan
f. Pengobatan

B. Upaya Kesehatan Pengembangan Puskesrmas


Upaya kesehatan pengembangan puskesmas dilaksanakan sesuai dengan masalah
kesehatan masyarakat yang ada dan kemampun puskesmas. Upaya labratorium (medis dan
kesehatan masyarakat) dan Perkesmas, pencatatan dan pelaporan merupakan kegiatan
penunjang dari tiap upaya wajib atau pengembangan.

C. Hasil cakupan program


Untuk dapat melihat gambaran keadaan Puskesmas Ngebel ,maka puskesmas
memaparkan hasil cakupan upaya program kesehatan Puskesmas Ngebel mulai bulan
Januari sampai dengan Desember 2017 sebagai berikut :
1. Hasil Cakupan KIA
Kegiatan KIA terdiri dari kegiatan pokok dan integratif. Kegiatan integratif adalah
kegiatan program lain (misalnya kegiatan imunisasi merupakan kegiatan pokok
P2M) yang dilaksanakan pada program KIA karena sasaran penduduk program P2M (ibu
hamil dan anak-anak) juga menjadi sasaran program KIA. Ruang lingkup kegiatan:
a. Pemeriksaan Kesehatan Bumil (ANC).
Pemeriksaan kehamilan diukur berdasarkan jumlah pemeriksaan kehamilan ibu di
tempat pelayanan kesehatan. Untuk pertama ( kontak pertama ) disingkat dengan
K1 sedangkan yang lengkap K 4. Berdasarkan data tahun 2016 dari Program KIA
diperoleh K1 dengan persentase cakupan 70.6% dan K4 dengan persentase
cakupan 66.6%. Kondisi ini memberikan gambaran pencapaian masih di bawah
target yang harus dicapai yakni K1 98 %% dan K4 80%. Berikut adalah grafik
pencapaian Program KIA tahun 2016

Gambar 4.1

10
Grafik capaian program KIA tahun 2017

b. Mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak-anak balita, integrasi dengan


program gizi.
c. Memberikan nasihat tentang makanan, mencegah timbulnya masalah gizi karena
kekurangan protein dan kalori dan memperkenalkan jenis makanan tambahan
(vitamin dan garam beryodium). Integrasi program PKM (konseling) dan Gizi.
d. Memberikan pelayanan KB kepada pasangan usia subur. (Integrasi program KB).
e. Merujuk ibu-ibu atau anak-anak yang memerlukan pengobatan. Integrasi
program pengobatan.
f. Memberikan pertolongan persalinan dan bimbingan selama masa nifas. Integrasi
dengan program perawatan kesehatan masyarakat.

2. Hasil Cakupan KB
Tujuan jangka panjang program KB adalah menurunkan angka kelahiran dan
meningkatkan kesehatan ibu sehingga dapat pula meningkatkan kesejahteraan anggota
keluarganya. Ruang lingkup kegiatan :
a. Mengadakan penyuluhan KB, baik di Puskesmas maupun di masyarakat (pada
saat kunjungan rumah, Posyandu, pertemuan dengan kelompok PKK, dan
sebagainya). Termasuk dalam kegiatan penyuluhan ini adalah konseling untuk PUS.
b. Penyediaan dan pemasangan alat-alat kontrasepsi, memberikan pelayanan
pengobatan efek samping KB.
Dari hasil pendataan yang dilakukan, menunjukkan bahwa Jumlah Pus tahun
2017 sebanyak 3310, Peserta KB padalah IUD 806 akseptor (31,5 %), akseptor yang
menggunakan suntikan 1.071akseptor (41.9 %) ,Implant 264 akseptor (10,3 %),
menggunakan Pil 164 akseptor (6,4 %), , MOW 158 akseptor ( 6,2%) Kondom 77
akseptor (3 %), dan yang paling sedikit adalah pemakai kontrasepsi MOP, yaitu 2
akseptor (0.1 %).

Gambar 4.2
Peserta KB aktif berdasarkan jenis alkon

11
Di Puskesmas Ngebel
Tahun 2016

3. Hasil Cakupan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)


Tujuan P2M adalah menemukan kasus penyakit menular sedini mungkin, dan
mengurangi berbagai faktor resiko lingkungan masyarakat yang memudahkan terjadinya
penyebaran penyakit menular di suatu wilayah, memberikan proteksi khusus kepada
kelompok masyarakat tertentu agar terhindar dari penularan penyakit.
Secara umum penyakit menular yang masih endemis di Indonesia adalah TBC,
kolera, thypus abdominalis, demam berdarah, malaria, frambusia, filariasis, poliomyelitis,
batuk rejan dan cacingan.
Lebih khusus untuk Puskesmas Ngebel, penyakit yang masih endemis adalah ;

a. Penyakit Menular bersumber pada binatang/ Zonosis Disease


1) Demam Berdarah Dengue ( Dengue fever )
Penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD ) merupakan penyakit memiliki
kasus yang rendah namun memiliki CFR yang tinggi. Lokasi yang paling sering
mewabah adalah daerah yang berpenduduk padat dengan sanitasi yang
buruk.Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang menular yang
sifatnya akut dan disebabkan oleh virus dengue, yang ditularkan melalui perantaraan
vector nyamuk Aedes Aegypti.angka CFR yang tinggi dari penyakit ini sehingga
dengan 1 penderita saja dinyatakan KLB. Sepanjang tahun 2016, jumlah kasus DBD
sebanyak 0 kasus di wilayah kerja Puskesmas Ngebel. Jumlah kasus DBD yang
meninggal di wilayah puskesmas Ngebel tidak ada

b. Penyakit Menular langsung ( Direct Communicable Disease )


1) Diare
Penyakit diare adalah penyakit yang disebabkan antara lain vibrio, “E.Choli”,
klostridia dan intoksikasi / keracunan makanan. Merupakan penyakit yang mudah
menular dan sering menimbulkan wabah penyakit terutama pada awal musim
penghujan. Lingkungan yang terkendali, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sangat
berpengaruh terhadap kesehatan seseorang.

12
Untuk tahun 2017, kasus diare yang ditangani sebanyak 69 kasus, namun
semuanya dapat diatasi dengan baik tanpa menimbulkan korban jiwa. Sedangkan
kasus diare pada balita yang ditangani sebanyak kasus

2) Kusta ( Lepra )
Penyakit Kusta adalah penyakit menular cronis dan disebabkan oleh kuman
kusta mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh
lainnya. Jumlah kasus penyakit kusta di wilayah kerja Puskesmas Ngebel selama
tahun 2016 sebanyak 2 kasus.

3) Tifoid
Penyakit Typhoid merupakan penyakit yang menyerang system pencernaan
manusia. Penyakit ini dapat ditularkan melalui air dengan lingkungan yang
tercemar. Oleh karena itu sering mewabah pada daerah yang sulit mendapatkan
air bersih untuk dikomsumsi masyarakat.
Berdasarkan data, bahwa jumlah penderita Tifoid di wilayah kerja Puskesmas
Ngebel tahun 2016 sebanyak 195 penderita.

4) ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut )


Infeksi Saluran Pernafasan Atas atau yang lebih dikenal dengan
ISPA lebih banyak mengenai kelompok usia muda yang rawan, khususnya Bayi
dan Anak Balita. Dalam program ISPA Penyakit ini digolongkan menjadi
tiga, Bukan Pneumonia, Pneumonia dan Pneumonia berat..
Penyakit ini ditimbulkan terutama perumahan yang tidak layak, polusi
udara sehingga memungkinkan penularan penyakit ini. Dan faktor resiko lainnya
seperti; Gizi kurang, Status Imunisasi yang tidak lengkap, Pemberian ASI
tidak/kurang Memadai, Riwayat penyakit cronis, dan Orang tua perokok.

5) . Tubercolusis (TB)
Penyakit Tuberkulosis disebabkan oleh kuman tuberculosis dengan gejala
khas. Pada umumnya diderita oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah dan
menyerang kelompok usia produktif 15 tahun keatas.
Penyakit memiliki daya tular yang tinggi dan untuk
mengetahuinya, dideteksi melalui pemeriksaan dahak di laboratorium terhadap
kuman BTA positif.
Indikator yang digunakan dalam Progam TB diantaranya ; Proporsi Suspek
yang diperiksa dahaknya, Angka konversi (Conversion Rate), Angka
Kesembuhan (Cure Rate) dan Angka Kesalahan Baca (Error Rate).
Fenomena yang terjadi pada penyakit TBC ini dikenal dengan
istilah IceBerg Phenomena , dimana jumlah penderita yang tidak terlaporkan
(muncul) lebih banyak dari pada yang terlaporkan, sehingga memerlukan
perhatian khusus dalam upaya penemuan kasus.

13
Di Puskesmas Ngebel, pada tahun 2017 Angka temuan suspek sebanyak
144 orang dan 6 orang diantaranya BTA Positif.

c. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi


Ada tujuh penyakit infeksi pada anak-anak yang dapat menyebabkan kematian
atau cacad, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal.Ketujuh
penyakit tersebut
adalah Poliomyelitis (kelumpuhan), Measles ( Campak ), Difteri , Pertusis, Tetanus,
Tuberculosis (TBC), Hepatitis –B.di tahun 2015 ada penambahan yaitu infeksi otak
yang disebabkan oleh Kuman haemophilus Influenza.
1) .Poliomyelitis
Penyakit ini adalah merupakan suatu infeksi menular yang terutama
mengenai dan merusak sel-sel motorik dikurno anterior medulla spinalis dan inti
motorik batang otak sehingga menimbulkan kelumpuhandan atrofi otot.
Pada tanggal 21 April 2005 Indonesia mengalami importasi virus dari
Afrika Barat. Menteri Kesehatan melakukan upaya penanggulangan KLB
Poliomyelitis di Indonesia dengan :
a) Memutuskan mata rantai penularan polio (1) dengan
 Outbreak Response Immunizattion (ORI) :
 Mapping Up
b) Memutuskan mata Rantai Penularan (2) yaitu dengan PIN ( Pekan
Imunisasi Nasional)
2) Campak
Campak Ialah infeksi akut menular yang disebabkan oleh virus. Terutama
mengenai anak umur 6 bulan – 5 tahun.
3) Diftheri
Ialah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh
kumanCorynebacterium Diftheriae. Sangat mudah menular terutama mengenai
anak-anak umur 2 bulan – 5 tahun.
4) Pertusis
Adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh Bordetella Pertusis. Nama
lain penyakit ini adalah tussis quinta, whooping cough, batuk rejan, batuk seratus
hari.
5) Tetanus
Adalah penyakit toksemia akut yang disebabkan oleh Clostridium Tetaniyang
mengeluarkan eksotoksin. Seperti halnya penyakit Rabies, Penyakit tetanus juga
memiliki kasus yang jarang namun mempunyai CFR yang tinggi.
6) TBC
Tuberkulosis anak masih merupakan problema yang kompleks terutama di
Negara yang sedang berkembang. Morbiditas tuberculosis anak merupakan

14
parameter daripada berhasil atau tidaknya pemberantasan tuberculosis di suatu
daerah

d. Hasil Cakupan Peningkatan Gizi


Masalah gizi masih cukup rawan di beberapa wilayah Indonesia. Penyebab
langsung adalah komsumsi zat gizi kurang dan infeksi penyakit. Sedangkan
penyebab tidak langsung yaitu ketersediaan pangan ditingkat rumah tangga, asuhan
Ibu dan anak . Disisi lain yang menjadi penyebab utama yakni, kemiskinan ,
pendidikan, ketersediaan pangan. Puskesmas harus mengatasi masalah gizi,
khususnya pada kelompok ibu hamil dan balita.
Tujuan Upaya Peningkatan Gizi di Puskesmas yaitu meningkatkan status gizi
masyarakat melalui usaha pemantauan status gizi kelompok-kelompok masyarakat
yang mempunyai risiko tinggi (ibu hamil dan balita), pemberian makanan tambahan
(PMT) baik yang bersifat penyuluhan maupun pemulihan.
Ruang lingkup kegiatan program gizi:
1) Menimbang berat badan Balita untuk memantau pertumbuhan anak.
Dilakukan secara rutin setiap bulan, baik di Puskesmas maupun di Posyandu
2) Pemeriksaan BB pada ibu hamil secara rutin. Kunjungan ibu hamil ke
Puskesmas untuk ANC dilakukan minimal 4 kali sepanjang kehamilannya dan
screning status gizi lewat pengukuran lingkar lengan atas diawal kontak dengan
tenaga kesehatan.
3) Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita yang kurang
gizi. PMT penyuluhan (pemberian makanan tambahan) dilakukan melalui
demonstrasi pemilihan bahan makanan yang bergizi dan cara memasaknya.
4) Memberikan penyuluhan gizi kepada masyarakat. Kegiatan gizi
diintegrasikan ke dalam program KIA baik di gedung Puskesmas maupun di
Posyandu.
5) Pembagian vitamin A untuk Balita 2 x setahun.
6) Pemberian tablet FE kepada ibu hamil minimal 90 tablet selam masa
kehamilan Juga pada ibu nifas dan WUS

e. Target program perbaikan gizi telah ditetapkan meliputi,


1) Cakupan distribusi Vitamin A
1) Ibu Nifas
Target Cakupan Distribusi Vitamin A tahun 2017 pada Bufas adalah 96
%, sedangkan cakupan distribusi Vitamin A pada ibu nifas pada tahun 2016
adalah 69 %.
2) Balita
Cakupan pemberian Vitamin A kepada anak Balita di Puskesmas
Ngebel pada tahun 2017 adalah 100% Artinya cakupan pemberian Vit. A
sudah mencapai target 100 %.
2) Cakupan Tablet Fe

15
Target pemberian tablet Fe1 pada Bumil 90 %, sedangkan pencapaian
Puskesmas Ngebel Tahun 2017 adalah 66% . Artinya pencapaian pemberian
tablet Fe pada bumil belum mencapai target.
3) Komsumsi Garam Beryodium
Berdasarkan hasil pendataan dan pemantauan penggunaan garam
beryodium tahun 2017 yang dilakukan di 4 SD yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Ngebel menununjukkan bahwa dari 104 sample siswa yang
diperiksa , penggunaan garam beryodium yang sesuai standart adalah 78 siswa (
75% ) dalam kategori cukup, 17 siswa ( 16,34 ) siswa dalam kategori kurang dan
3 siswa ( 2, 88 % ) dalam kategori yodium yang dikonsumsinya
Akibat dari kekurangan Yodium akan menurunkan tingkat kecerdasan
anak, menciptakan generasi yang lemah.

f. Indikator status kesehatan juga diukur berdasarkan :


1) Status Gizi
Jumlah balita ditimbang pada tahun 2017 sebanyak 868anak. Terdiri dari 4 balita
( 0,5%) dengan tatus gizi lebih, 801 balita (92,62 %) dengan status gizi normal ,
60balita ( 6,91%) dengan status gizi kurang dan 3 balita ( 0,34 %) dengan status
gizi buruk. Kasus gizi buruk di tahun 2017 adalah 3 kasus.
2) Anemia
Salah satu penyebab kematian pada ibu melahirkan adalah anemia yang
disebabkan kekurangan zat besi (Fe). Dari data KIA diperoleh informasi bahwa
tahun 2017 tidak ada kematian ibu di wilayah puskesmas Ngebel.
Upaya penanggulangan tersebut dilakukan dengan pemberian tablet Fe
selama hamil sebanyak 90 tablet.

3) Bumil KEK dan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)


Bayi yang dilahirkan dibawah 2500 gram disebut dengan BBLR. Berbagai
faktor penyebab terjadinya BBLR, namun faktor utama adalah gizi ibu selama
hamil kurang (Bumil KEK). Pada masa kehamilan ibu perlu mendapat perhatian
khusus oleh karena dampak yang ditimbulkan bukan saja pada berat yang tidak
cukup, tetapi dengan bayi BBLR memiliki kemungkinan kecil untuk tumbuh
dengan baik, dan akan lebih mudah terserang penyakit.
Dalam rangka penanganan kasus Gizi Kurang khususnya Ibu Hamil
Puskesmas telah melakukan beberapa hal antara lain :
a) Memberikan penyuluhan baik secara perorangan maupun
kelompok pada puskesmas dan posyandu mengenai hal-hal yang akan
terjadi apabila kondisi gizi buruk tidak ditangani atau diatasi dengan tepat.
b) Mengadakan pemantauan melalui kunjungan rumah.
c) Mengadakan pengawasan akan kemungkinan-kemungkinan
terjadinya kasus-kasus penyakit sehubungan dengan kondisi kurang gizi
pada bayi / balita di tingkat puskesmas yaitu :

16
 Pada tahap awal kami melakukan registrasi akan adanya kasus
gizi buruk yang terjadi disetiap desa pada Wilayah Puskesmas melalui
pendataan dan pemantauan status gizi pada anak
 Melakuakan penyuluhan baik secara perorangan maupun
kelompok yang dilaksanakan diposyandu, puskesmas maupun
kelompok masyarakat, dengan materi khusus mengenai pemenuhan
gizi pada anak melalui pemberian makanan seimbang serta
mengadakan demonstrasi makanan seimbang.
 Mengadakan pendampingan pada kasus gizi buruk anak balita
oleh TPG, Puskesmas yang bertujuan memberikan bimbingan
kepadaa keluarganya cara hidup dengan pola makan yang seimbang.
 Pengawasan akan kemungkinan-kemungkinan adanya kasus
penyakit sehubungan dengan kondisi gizi agar mendeteksi secara
cepat.
 Pemberian bantuan paket makanan pendamping kepada Anak
Gizi Buruk yang ada diwilayah kerja Puskesmas Ngebel
4) Kegiatan Hasil Kesehatan Lingkungan
Environment atau Lingkungan adalah situasi atau kondisi
diluar host danagent yang memudahkan interaksi antara keduanya. Faktor ini
juga dapat menjadi risiko timbulnya gangguan penyakit pada host karena
lingkungan memberikan peluang agent untuk berkembang (breeding).
Tujuan Upaya Kesehatan Lingkungan adalah menanggulangi dan
menghilangkan unsur-unsur fisik pada lingkungan sehingga faktor lingkungan
yang kurang sehat tidak menjadi faktor resiko timbulnya penyakit menular di
masyarakat.
Ruang lingkup kegiatan ;
a) Inspeksi Sarana Air Bersih

b) Pemeriksaan dan Pengawasan system pembuangan kotoran


manusia.

c) Inspeksi Sanitasi Rumah


d) Pemeriksaan dan Pengawasan Sarana pengolahan sampah yang
baik
e) Pemeriksaan dan Pengawasan Sarana Pembuangan Air Limbah

f) Pemeriksaan dan Pengawasan terhadap Tempat-Tempat Umum.


g) Melakukan pemberantasan jentik dan pengendalian vektor.

 Sarana Air Bersih


Air adalah benda berbentk cair dan sangat dibutuhkan oleh
manusia untuk minum, mandi dan mencuci serta berbagai kebutuhan
lainnyauntuk dapat bertahan hidup.

17
Air merupakan unsur yang sangat esensial bagi pemeliharaan
berbagai bentuk kehidupan semua mahluk termasuk manusia. Hampir
semua organisme hidup hanya dapat bertahan hidup dalam perioda yang
pendek tanpa air. Pemenuhan kebutuhan akan air haruslah memenuhi
dua syarat yaitu kuantitas dan kualitas.
Kuantitas air yang diperlukan untuk berbagai penggunaan oleh
masyarakat adalah berbeda-beda, tergantung pada tingkat sosial budaya,
suhu atau iklim, dan ketersediaanya yang ditentukan oleh berbagai faktor.
Syarat kualitas meliputi persyaratan fisik, kimiawi dan
bakteriologik. Pemakaian air yang tidak memenuhim baku kualitas air
tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan antara lain kesadaran,
estetika dan ekonomis diwilayah Puskesmas Ngebel semua wilayah
sudah memenuhi persyaratan air yang sehat

 Jamban keluarga
Jamban penting dalam kehidupan kita, seperti pentingnya
makan dan minum, karena kita setiap hari makan dan minum, maka
kitapun harus mengeluarkannya setiap hari. Untuk mengeluarkannya
harus mempunyai tempat khusus, tempat itulah yang disebut jamban.
Membuang tinja di sembarang tempat dapat menularkan
penyakit , seperti Diare, Disentri dan Kolera. Penyakit tersebut dapat
terjadi karena binatang/ serangga yang kontak dengan tinja yang di
buang ke sembarang tempat akan membawa kuman yang diperolehnya
dari kotoran tinja, kemudian serangga/ binatang tersebut hinggap pada
makanan kita, bila kita makan makanan tersebut, akan mendatangkan
penyakit seperti yang disebutkan di atas. Di wilayah puskesmas Ngebel
jumlah desa yang sudah ODF ada 3 Desa

 Sarana Pembuangan Air Limbah ( SPAL )


Menurut Anwar (2001) yang dimaksud degan air limbah atau air
kotor adalah air yang tidak bersih dan mengandung berbagai zat yang
bersifat membahayakan kehidupan manusia atau hewan dan lasimnya
muncul karena hasil perbuatan manusia dan industrialisasi.
Berdasarkan pengertian di atas maka secara umum dapat
dikatakan bahwa limbah cair adalah air bekas pakai yang dihasilkan
akibat aktivitas manusia baik yang berasal dari rumah tangga, pertanian,
perdagangan, dan industri maupun tempat-tempat umum lainnya yang
harus di buang yang dapat mebahayakan manusia atau kelestarian
lingkungan.
Untuk mencegah penyakit serta pencemaran akibat air limbah,
maka perlu dibuatkan Saluran Pembuangan Air Limbah dari rumah-
rumah/ sumber-sumber air limbah sebelum di lakukan pengolahan lebih

18
lanjut. Air limbah yang dibiarkan tergenang, akan menimbulkan
pencemaran tanah serta menjadi tempat berkembang biaknya bibit
penyakit.
Diwilayah puskesmas Ngebel , pembuangan limbah yang sudah
memenuhi syarat ada 65,8 % dari jumlah rumah yang ada.

 Sarana Pengolahan Sampah


Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua
tujuan:
 Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis
 Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak
membahayakan bagi lingkungan hidup.
 CARA-CARA PENGELOLAAN SAMPAH
o Daur-ulang

o Pengkomposan

o Pengurugan sampah

 MANFAAT PENGELOLAAN SAMPAH


o Penghematan sumber daya alam

o Penghematan energi

o Penghematan lahan TPA

o Lingkungan asri (bersih, sehat, nyaman)

 BENCANA SAMPAH YANG TIDAK DIKELOLA DENGAN


BAIK
o Longsor tumpukan sampah

o Sumber penyakit

o Pencemaran lingkungan

 Pemeriksaan dan Pengawasan TTU


Tempat-tempat umum merupakan lingkungan dimana banyak
dilakukan interaksi/ aktifitas oleh banyak orang, sehingga perlu dilakukan
pembinaan dan pengawasan untuk menjaga agar tempat-tempat umum
tersebut tetap terpelihara kebersihan lingkungannya. Lingkungan yang
tidak saniter akan memudahkan penularan penyakit yang membahayakan
keselamatan banyak orang.dari 10 TTU yang diperiksa di wilayah
puskesmas Ngebel ada 10 yang dikategorikan sehat atau 87,5%

 . Kegiatan Pengobatan
Program pengobatan di Puskesmas Ngebel merupakan bentuk
pelayanan kesehatan dasar yang bersifat kuratif. Masyarakat

19
cenderung memanfaatkan pelayanan Puskesmas hanya untuk
mendapat pelayanan pengobatan.
Ruang lingkup kegiatan :
 Menegakkan diagnosis, memberikan pengobatan untuk penderita
yang berobat jalan.dan rawat inap
Gambar 4.6
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN
DI PUSKESMAS NGEBEL
TAHUN 2017

NO BULAN JUMLAH KUNJUNGAN

1. JANUARI 477
2. FEBRUARI 450
3, MARET 473
4 APRIL 481
5 MEI 522
6 JUNI 407
7 JULI 580
8 AGUSTUS 693

9 SEPTEMBER 583
10 OKTOBER 722
11 NOVEMBER 765
12 DESEMBER 763
JUMLAH 6.916
Sumber: data kunjungan pengobatan

TABEL 4.7
JUMLAH PASIEN RAWAT INAP
DI PUSKESMAS NGEBEL
TAHUN 2017

Jumlah Kunjungan
NO BULAN

1 Januari 23
2 Februari 25
3 Maret 27
4 April 21
5 Mei 33
6 Juni 30
7 Juli 18
8 Agustus 29
9 September 32
10 Oktober 50
11 Nopember 44
12 Desember 31
JUMLAH 363

20
Sumber: data pasien rawat inap

 Mengirim (merujuk) penderita ke pusat-pusat rujukan medis sesuai dengan


jenis penyakit yang tidak mampu ditangani oleh Puskesmas.

g. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat


Tujuan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat adalah untuk meningkatkan
kesadaran , melalui upaya promosi kesehatan sehingga masyarakat dengan sadar
mau mengubah perilakunya menjadi perilaku sehat.
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari tiap-tiap program puskesmas. Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan pada
setiap kesempatan oleh petugas , apakah di klinik, rumah dan kelompok-kelompok
masyarakat.
Di tingkat Puskesmas Ngebel, semua kegiatan penyuluhan kesehatan
dikoordinir oleh petugas Promkes.. Koordinator membantu para petugas puskesmas
dalam mengembangkan teknik dan materi penyuluhan.

h. Usaha Kesehatan Sekolah


Tujuan UKS adalah meningkatkan derajat kesehatan anak dan lingkungan
sekolah.
Ruang lingkup kegiatan :
1. Membina sarana keteladanan di sekolah, berupa sarana keteladanan gizi
berupa kantin dan sarana keteladanan kebersihan lingkungan.
2. Membina kebersihan perseorangan peserta didik.
3. Penjaringan kesehatan peserta didik kelas I
4. Pemeriksaan kesehatan periodic sekali setahun untuk kelas II sampai VI
berupa pemeriksaan kesehatan sederhana.
5. Immunisasi peserta didik kelas I sampai kelas III
6. Pengawasan terhadap keadaan air
7. Penanganan kasus anemia.
8. Pencatatan dan pelaporan

i. Perawatan Kesehatan Masyarakat


1) Tujuan :
a) Memberikan pelayanan perawatan secara menyeluruh (comprehensive
health care) kepada pasien dan keluarganya di rumah pasien.
b) Memberikan konseling kepada anggota keluarga untuk mengenali
kebutuhan kesehatannya sendiri dan cara-cara penanggulangannya
disesuaikan dengan batas-batas kemampuan mereka.

c) Menunjang program kesehatan lainnya dalam usaha pencegahan


penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan individu dan keluarganya.

2) Ruang lingkup kegiatan ;


21
Melaksanakan perawatan kesehatan perorangan, keluarga dan
kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Semua kegiatannya dilakukan di luar
gedung puskesmas yaitu di tingkat rumah tangga. Misalnya perawatan penyakit
kronis, peningkatan sanitasi lingkungan yang dilakukan di rumah-rumah
penduduk sasaran.

j. Kesehatan Gigi
Tujuan Usaha Kesehatan Gigi adalah untuk menghilangkan dan mengurangi
gangguan kesehatan gigi dan mempertinggi kesadaran kelompok-kelompok
masyarakat tentang pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi.
Ruang lingkup kegiatan ;
1) Melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan perawatan gigi secara rutin
untuk anak-anak sekolah dan ibu hamil.

2) Penyuluhan kesehatan gigi di sekolah


3) Pelayanan medik gigi dasar, meliputi ;

a) Pengobatan gigi pada penderita yang berobat maupun yang dirujuk


b) Merujuk kasus-kasus yang tidak dapat ditanggulangi ke sasaran yang
lebih mampu
c) Memberikan penyuluhan secara individu dan kelompok
d) Memelihara kebersihan (hygiene klinik)
e) Memelihara atau merawat peralatan atau obat-obatan
f) Pencatatan dan Pelaporan

22
BAB V
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

A. Sarana Kesehatan
Puskesmas Ngebel terbagi atas ruang rawat jalan dan ruang rawat inap dan ruang
persalinan, dengan luas bangunan kurang lebih 600 m² terdiri dari:
1. Ruang Pelayanan Umum
2. Ruang Pelayanan Gigi
3. Ruang Gizi dan Promkes
4. Ruang KIA/ KB dan Imunisasi
5. Ruang TB dan P2
6. Ruang Loket
7. Ruang Farmasi
8. Ruang Rawat Inap, dengan kapasitas 8 tempat tidur
9. Ruang UGD
10. Kamar mandi /Toilet 5 buah
11. Ruang Jaga Paramedis
12. Dapur
13. Ruang Persalinan
14. Ruang Tata Usaha
15. Ruang Kepala Puskesmas

B. Jaringan Puskesmas yang ada di Tingkat desa Meliputi :


1. 5 Unit Ponkesdes masing-masing :
a. Ponkesdes Sempu berlokasi di Desa Sempu.
b. Ponkesdes Sahang berlokasi di Desa Sahang
c. Ponkesdes Talun berlokasi di Desa Talun
d. Ponkesdes Pupus berlokasi di Desa Pupus
e. Ponkesdes Wagir Lor berlokasi di Desa Wagir Lor
2. Dua Unit Polindes
a. Polindes Keleng berlokasi di dusun Keleng desa Ngebel.
b. Polindes Ngresik berlokasi di dusun Ngresik desa Ngrogung
3. UKBM
a. 37 Posyandu Balita masing-masing :
b. 35 Posyandu Lansia
c. 8 Posbindu
4. Unit kendaraan roda empat sebagai Puskesmas Keliling sebanyak 2 buah
5. Unit Kendaraan roda 2 sebagai motor dinas sebnyak 3 buah

6. Tenaga Kesehatan
a. Tenaga Medis :
Dokter umum dengan jabatan fungsional sebagai dokter poli umum

23
b. Tenaga Bidan :
1) Tenaga Bidan Puskesmas dengan status Pegawai Negeri Sipil.
2) Tenaga bidan desa, 7 dengan status Pegawai Negeri Sipil dan 2 dengan
status bidan PTT.
c. 3.Tenaga Paramedis
1) Tenaga Perawat di Puskesmas , yang semuanya berstatus sebagai
Pegawai Negeri Sipil.
2) ‘5 orang tenaga perawat ponkesdes yang berstatus PTT.
d. 1 Tenaga Kesling dengan status Pegawai Negeri Sipil
e. 1 Petugas Farmasi dengan status Pegawai Negeri Sipil
f. Tenaga Administrasi
1) Tenaga Adminstrasi ,semuanya berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil.
2) 1 Tenaga Sopir dengan status Tenaga Kontrak
3) 2 Tenaga Cleaning Servis

Tabel 5.1
Kebutuhan Ketenagaan Di Puskesmas Perawatan Dibandingkan Dengan Jumlah
Ketersediaan Petugas Di Puskesmas Ngebel Tahun 2017
No Petugas Kebutuhan Ketersediaan
1 Dokter 2 1
2 Dokter gigi 1 1
3 Perawat 8 (induk) 3 (induk)
5 (Ponkesdes
4 Perawat gigi 0 0
5 Bidan 7 (induk) 2 (induk)
10(Polindes /
Ponkesdes)
6 TU 2 4
7 Nutrisionist 0 0
8 Kesehatan Lingkungan 1 1
9 Pomosi kesehatan 1 1

4) Kader Kesehatan
a) 185 Kader Kesehatan Posyandu Balita status aktif
b) 175 Kader posyandu lansia status aktif
c) 1 Kader TB status aktif
d) 8 Kader Posbindu aktif

7. Pembiayaan
a. Jaminan Kesehatan Pra bayar
Jumlah peserta BPJS di wilayah Puskesmas Ngebel sebanyak 11000 Jiwa,
termasuk di dalamnya adalah peserta BPJS bebas iur dan, peserta BPJS mandiri.
Sedangkan kepesertaan jamsostek belum bisa diketahui karena tidak ada data.

24
b. Anggaran kesehatan
Alokasi anggaran kesehatan di puskesmas Ngebel tahun 2017 bersumber dari dana
APBN dan APBD. Dana APBD sejumlah Rp. 914.729.826 berasal dari retribusi,
kapitasi dan non kapitasi. Sedangkan dana APBN senilai Rp. 335.637.850
digunakan untuk kegiatan BOK.
Alokasi anggaran digunakan untuk belanja langsung, belanja tidak langsung,
pembangunan fisik, pengadaan sarana dan pra sarana serta kegiatan program yang
mendukung upaya pencapaian derajat kesehatan masyarakat.

25
BAB VI
MASALAH DAN HAMBATAN

A. MASALAH
1. Jumlah tenaga yang ada di Puskesmas Ngebel yang sangat kurang sehingga
banyak petugas yang harus merangkap beberapa program sekaligus sehingga
kinerjanya kurang maksimal
2. Pencatatan Sejalan dengan perkembangan teknologi masa kini, sistem
pencatatan semua unit kegiatan masing program harusnya suda dilakukan dengan
sistem koputerisasi, namum dalam pengoperasiannya dibutuhkan latihan untuk bisa
melakukan pencatatan dengan baik, hal inilah yang menjadi kendala di
PuksemasNgebel bahwa tidak semua penanggung jawab program mampu
mengoperasikan komputer dengan baik, sehingga pencatan masi dilakukan secara
manual.
3. Pelaporan : pelaksanaan pelaporan masih sangat bersifat rutinitas ( tergantung
permintaan data sesuai format ) sehingga petugas tidak dapat mengoreksi hasil
kerjanya, sama halnya dengan pencatatan seperti diatas perlu juga adanya pelaporan
dengan komputerisasi untuk menjaga dan memberikan kualitas dan faliditas dari
perlaporan.
4. Hasil : Hasil kegiatan setiap program, baik di dalam gedung maupun di luar
gedung seharusnya di catat sebagai bahan pembuatan laporan yang kemudian akan
dilakukan sebagai bahan evaluasi, namun tidak jarang kegiatan yang dilakukan tidak di
dokumentasikan dalam bentuk catatan, sehingga pada saat dilakukan pemeriksaan,
petugas tidak bisa memberikan penjelasan yang disertai bukti pencatatan. pencatatan
dan pelaporan program pada tiap-tiap unit sangat bervariasi bahkan banyak terjadi
penurunan sehigga hal-hal ini perlu dievaluasi secara seksama factor penyebabnya.
5. Pembinaan dan Pelatihan staf : Perlu adanya peningkatan pembinaan staf
puskesmas baik dalam bentuk bimbingan maupun dalam bentuk pelatihan pada semua
program. Walaupun sudah ada pelatihan yang dilaksanakan oleh dinas kesehatan
kabupaten dan dinas kesehatan Propinsi, tapi tidak semua program sehingga hanya
beberapa staf yang dapat mengikuti pelaksanaannya.
6. Peralatan Medis : peralatan dan perlengkapan medis untuk ukuran puskesmas
kurang lengkap dan banyak diantaranya yang tidak berfungsi dengan baik sehingga
tidak semua pelayanan dapat dilakukan.
7. Sarana sanitasi Puskesmas : sarana sanitasi puskesmas seperti Saluran
Pembuangan air limbah dan pembuangan limbah medis yang kurang baik. Untuk limbah
medis biasanya dikumpulkan jadi satu dan setelah beberapa bulan dikirim ke RSUD
untuk dimusnahkan sehingga memakan biaya yang mahal

26
B. HAMBATAN
1. Lintas Sektor : kerja sama lintas sector belum terpadu dengan sempurnah antara
instansi terkait seperti Pertanian, Depag, Diknas, serta PKK sehingga kegiatan belum
berjalan sebagai mana yang diharapkan. Selain institusi terkait yang dimaksud di atas,
kerjasama dengan pemerintah setempat juga perlu lebih di tingkatkan untuk mendukung
setiap program kesehatan di lapangan.
2. Data Penduduk : Pencatatan jumlah penduduk menurut golongan umur baik
ditingkat kecamatan maupun ditingkat desa tidak sesuai dengan data yang ada di
Puskesmas, hal ini disebabkan oleh karena kerjasama dalam melakukan validasi data
sasaran setiap tahun antara data Puskesmas dengan pemerintah setempat belum
berjalan dengan baik.

27
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A.
KESIMPULAN
1. Pada tahun 2017 Puskesmas Ngebel telah melaksanakan 6 program pokok
(Basic Six Program) ditambah 6 program pengembangan
2. Pengukuran pencapaian hasil kegiatan untuk beberapa program seperti KIA,
GIZI, Imunisasi, telah dapat dievaluasi karena adanya target yang telah ditetapkan oleh
Dinas kesehatan tetapi untuk program-program lainnya yang belum punya target agak
sulit dievaluasi sehingga pelaksanaan evaluasi hanya dengan menggunakan
perbandingan hasil kegiatan tahun lalu untuk mengukur keberhasilan program tersebut.
3. Dalam pelaksanaan evaluasi laporan tahunan, digunakan taget dengan mengacu
pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) agar lebih mudah dalam meningkatkan hasil
kerja program tersebut, walaupun beberapa program dapat diukur melalui stratifikasi.
Perlu adanya motivasi atau pembinaan bagi setiap petugas program dalam
bentuk pelatihan baik dipuskesmas maupun di Dinas Kesehatan pada masing-masing
penanggung jawab program.
a. Untuk pelaksanaan pencatatan dan pelaporan sekiranya dilakukan pelatihan
komputer untuk penanggungjawab tiap-tiap program dalam rangka pencapaian
faliditas data.
b. peningkatan supervisi dan bimbinngan dari setiap seksi dari dinas
kesehatan dalam upaya peningkatan kualitas dan cakupan program.
c. Perlu adanya Umpan balik serta tanggapan dari tingkat dinas atas laporan rutin
yang dibuat puskesmas baik laporan bulanan dan triwulan juga teguran tertulis bila
terjadi kesalahan dan kekeliruan dalam pencatatan serta pelaporan, sehingga
petugas dapat memperbaiki dalam rangka peningkatan program selanjutnya.
d. Penambahan petugas tehnisi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap
program yang ada sehingga tidak terjadi banyaknya tugas rangkap.
e. Dalam pelaksanaan program-program baru perlu dibentuk Tim agar dapat
memantau dan mengevaluasi kemajuan pelaksanaan program tersebut.
f. Diharapakan kepada pemerintah setempat ( Camat dan kepala desa ) serta
institusi lintas sektor untuk senantisa mendukung dan menjalin kerjasama yang baik
dalam melaksanakan program kesehatan di masyarakat.

28
BAB VIII
PENUTUP

Evaluasi bidang kesehatan dengan menilai derajat kesehatan dari beberapa


aspek diantaranya angka kematian, angka kesakitan dan status gizi. Aspek ini dipengaruhi oleh
upaya kesehatan yang dilakukan melalui upaya peningkatan, pemerataan pelayanan
kesehatan
Sedangkan upaya kesehatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sumber daya
manusia, sumber daya sarana dan prasarana dan sumber dana.
Di era Desentralisasi, data dan Informasi kesehatan sangat penting artinya baik dalam
menunjang perencanaan kesehatan maupun sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan. Untuk menjawab kepentingan diatas, maka profil ini disusun setiap tahunnya yang
memberikan gambaran tentang kondisi kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Ngebel dalam
bentuk persentase pencapaian Upaya Program Puskesmas. Profil ini disajikan dalam bentuk
teks, table, gambar ( grafik ) untuk mempermudah menganalisis masalah kesehatan.
Progam kesehatan diera Desentralisasi terjadi beberapa perubahan terutama dalam
hal perencanaan kesehatan yang semakin dibutuhkan. Sementara dalam hal pendanaan
kondisinya masih jauh dari anggaran yang layak untuk bidang kesehatan.
Demikian hasil sajian kami, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

29