Anda di halaman 1dari 21

AKUNTANSI LINGKUNGAN DALAM FENOMENA PENCATATAN BISNIS

Oleh :
Padlah Riyadi, CA

AKUNTANSI LINGKUNGAN
Akuntansi lingkungan merupakan istilah yang berkaitan dengan kebijakan
memasukkan biaya lingkungan ke dalam praktik akuntansi perusahaan atau lembaga
pemerintah. Biaya lingkungan adalah dampak yang timbul dari sisi keuangan maupun non
keuangan. Biaya lingkungan harus dipikul sebagai akibat dari kegiatan yang memengaruhi
kualitas lingkungan. (Ikhsan, 2008).
Penggunaan konsep akuntansi lingkungan bagi perusahaan dapat mendorong
kemampuan untuk meminimalisasi persoalan – persoalan lingkungan yang dihadapinya.
Banyak perusahaan besar industry dan jasa yang kini menerapkan akuntansi lingkungan,
supaya dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian
kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya dan manfaat atau efek.
SEJARAH AKUNTANSI LINGKUNGAN
Lingkungan akuntansi mulai menerima perhatian selama krisis energi pada 1970-an.
Meskipun isu tersebut diberikan pertimbangan untuk sementara waktu, krisis energi berakhir
dan 1980-an diantar di era baru kemakmuran ekonomi. Praktek akuntansi lingkungan
memudar ke latar belakang sebelum standar untuk mengukur dampak ekonomi
dikembangkan. Perundang-undangan dan kesepakatan tentang bagaimana menghitung faktor
lingkungan dan faktor-faktor apa harus dihitung sulit didapat. Pada 1990-an, suatu kenaikan
besar dalam aktivitas perlindungan lingkungan membawa akuntansi lingkungan ke dalam
kesadaran konsumen dan bisnis. Secara bertahap beberapa standar akuntansi lingkungan
hidup yang dilaksanakan oleh organisasi akuntansi terkemuka seperti Dewan Standar
Akuntansi Keuangan dan Standar Akuntansi Komite Eksekutif American Institute of CPA.
1
ASPEK – ASPEK AKUNTANSI LINGKUNGAN
Aspek – aspek akuntansi lingkungan adalah sebagai berikut:
1. Pengakuan identifikasi pengaruh negatif aktivitas bisnis perusahaan terhadap
lingkungan dalam praktik akuntansikonvensional.
2. Identifikasi, mencari, dan memerikasa persoalan bidang akuntansi konvensionalyang
bertentangan dengan kriteria lingkungan serta memberikansolusi.
3. Melaksanakanlangkah–langkahproaktifdalammenyusuninisiatifuntukmemperbaiki
lingkungan pada praktik akuntansikonvesional.
4. Pengembangan format baru sistem akuntansi keuangan dan non keuangan serta sistem
pengendalian pendukung keputusan manajemen ramahlingkungan.
5. Identifikasi biaya – biaya dan pendapatan apabila perusahaan lebih peduli terhadap
lingkungan dari berbagai program perbaikanlingkungan.
6. Pengembangan format kerja, penilaian, serta pelaporan internal dan eksternal
perusahaan.

TUJUAN AKUNTANSI LINGKUNGAN


Tujuan akuntansi lingkungan (Pramanik, et.al., 2007) antara lain adalah untuk:
1. Mendorong pertanggungjawaban entitas dan meningkatkan transparansi
lingkungan.
2. Membantu entitas dalam menetapkan strategi untuk menanggapi isu lingkungan
hidup dalam konteks hubungan entitas dengan masyarakat dan terlebih dengan
kelompok-kelompok penggiat (activist) atau penekan (pressure group) terkait isu
lingkungan.
3. Memberikan citra yang lebih positif sehingga entitas dapat memperoleh dana dari
kelompok dan individu ’hijau’, seiring dengan tuntutan etis dari investor yang
semakinmeningkat.
4. Mendorong konsumen untuk membeli produk hijau dan dengan demikian
membuat entitas memiliki keunggulan pemasaran yang lebih kompetitif
dibandingkan entitas yang tidak melakukanpengungkapan.
5. Menunjukkan komitmen entitas terhadap usaha perbaikan lingkunganhidup.
6. Mencegah opini negatif publik mengingat perusahaan yang berusaha pada area
yang berisiko tidak ramah lingkungan pada umumnya akan menerima tentangan
darimasyarakat.
FUNGSI DAN PERAN AKUNTANSI LINGKUNGAN
Fungsi dan peran akuntansi lingkungan dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu fungsi internal dan
fungsi eksternal (Gunawan Wibisono, 2011) :
1. FungsiInternal
Fungsi internal merupakan fungsi yang berkaitan dengan pihak internal perusahaan
sendiri.Pihakinternaladalahpihakyangmenyelenggarakanusaha,sepertikonsumen dan
rumah tangga produksi maupun jasa lainnya. Adapun yang menjadi actor dan faktor
dominan pada fungsi ini adalah pimpinan perusahaan. Sebab pimpinan perusahaan
merupakan faktor yang bertanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan
maupun penentuan setiap kebijakan internal perusahaan. Fungsi internal
memungkinkan untuk mengatur biaya konservasi lingkungan dan menganalisis biaya
darikegiatan–kegiatankonservasilingkunganyangefektifdanefisiensertasesuai
dengan pengambilan keputusan. Dalam fungsi internal ini diharapkan akuntansi
lingkungan berfungsi sebagai alat manajemen bisnis yang dapat digunakan oleh
manajer ketika berhubungan dengan unit – unit bisnis.
2
2. FungsiEksternal
Fungsi eksternal merupakan fungsi yang berkaitan dengan aspek pelaporan keuangan.
Pada fungsi ini faktor penting yang perlu diperhatikan perusahaan adalah
pengungkapan hasil dari kegiatan konservasi lingkungan dalam bentuk data
akuntansi.Informasiyangdiungkapkanmerupakanhasilyangdiukursecarakuantitatif dari
kegiatan konservasi lingkungan. Termasuk di dalamnya adalah informasi tentang
sumber – sumber ekonomi suatu perusahaan, klaim terhadap sumber – sumber
tersebut dan pengaruh transaksi peristiwa dan kondisi yang mengubah sumber –
sumber ekonomi dan klaim terhadap sumbertersebut.
Fungsi eksternal member kewenangan bagi perusahaan untuk mempengaruhi
pengambilan keputusan stakeholders, seperti pelanggan, rekan bisnis, investor,
penduduk lokal maupun bagian administrasi. Oleh karena itu, perusahaan harus
memberikan informasi tentang bagaimana manajemen perusahaan
mempertanggungjawabkan pengelolaan kepada pemilik atas pemakaian sumber
ekonomi yang dipercayakan kepadanya.

PERTIMBANGAN AKUNTANSI LINGKUNGAN


Meskipunakuntansilingkunganmemilikibanyakmanfaatdanmerupakanideyangbaikdalam teori,
mungkin sulit untuk dimasukkan ke dalam praktek. Ketika melembagakan praktek akuntansi
lingkungan dan sosial, perlu untuk mengingat bahwa banyak biaya dihitung dalam akuntansi
lingkungan tidak berwujud dan sulit diukur. Perusahaan harus memastikan
menerapkanstandaryangsamadanmemberikannilaiyangsamakesumberdayadiseluruh
organisasi. Beberapa nilai bersifat subyektif dan berbeda dengan individu, sehingga dapat
menjadi sulit untuk datang ke sebuah konsensus tentang apa yang harus mengukur dan
bagaimana. akuntansi sosial juga dapat menantang, sebagai nilai-nilai sosialkadang-kadang
berubah dengancepat.

POTENSI AKUNTANSI LINGKUNGAN


Akuntansi lingkungan dan sosial memiliki potensi untuk meningkatkan kesadaran tentang
keprihatinan publik. Hal ini dapat membantu kita secara substansial mengurangi polusi,
melindungi habitat satwa liar dan menyelamatkan lahan pertanian dari pembangunan. Biaya
lingkungan dan sosial juga dapat membantu perusahaan untuk menetapkan harga produk dan
jasa pada tingkat yang memperhitungkan biaya yang sebenarnya. Ini berarti bahwa konsumen
harus membayar lebih untuk produk yang produksinya menghasilkan banyak polusi udara
atau yang memproduksi diperlukan pembangunan fasilitas pabrik pada lahan pertanian. Jika
harga ditetapkan dengan cara ini, akuntansi lingkungan mungkin bisa
membantumembuatprodukramahlingkunganmahallebihmahaluntukmembelidanproduk hijau
kurang begitu. Tujuannya adalah untuk membuat merusak lingkungan lebih mahal dan
dengan demikian kurang menguntungkan sambil meningkatkan kesadaran tentang dampak
lingkungan dan sosial dari produk yang kami produksi dankonsumsi.
Akuntansi lingkungan dapat diterapkan oleh perusahaan besar maupun perusahaankecil
hampir di setiap skala industri dalam sektor manufaktur dan jasa. Pada lingkup skala,
akuntansi lingkungan dapat diterapkan oleh perusahaan besar dan kecil di mana penerapan
yang dilakukan harus secara sistematis atau didasarkan pada kebutuhan dasar perusahaan.
Bentuk yang diambil harus mencerminkan tujuan-tujuan dan kebutuhan- kebutuhan dari
pengguna perusahaan. Bagaimanapun juga, pada setiap aspek bisnis, dukungan tim
manajemen puncak dan tim fungsional yang bersebrangan menjadi poin penting dalam
mencapai keberhasilan implementasi dari akuntansi lingkungandisebabkan:
a. Akuntansi lingkungan memerlukan suatu cara baru dalam memperhatikan biaya
3
lingkungan perusahaan, kinerja dan pengambilan keputusan. Komitmen manajemen
puncak mampu menetapkan nada positif dan penghitungan insentif bagi organisasi selama
mengadopsi akuntansilingkungan.
b. Perusahaan mungkin ingin memasang tim fungsional untuk menerapkan akuntansi
lingkungan, termasuk di dalamnya desain, ahli kimia, ahli mesin, manajer produksi,
operator, staf keuangan,manajer lingkungan, personel, dan para akuntan yang tidak
mempunyai pekerjaan bersama sebelumnya. Karena akuntansi lingkungan bukan hanya
suatu isu akuntansi, dan informasi penting untuk dibagi kepada seluruh anggota
kelompok, orang-orang butuh untuk berbicara dengan orang lainnya dalam
mengembangkan pandangan umum dan bahasa serta memuat pandangan lebihnyata.
Perusahaan dengan sistem manajemen lingkungan fungsional formal perlu
melembagakan akuntansi lingkungan karena akuntansi lingkungan merupakan suatu alat
logisuntukmendukungkeputusansistemini.Samahalnyadenganbeberapaalatmanajemen
perusahaan lainnya, penggabungan pendekatan manajemen bisnis yang ada sebelumnya
sangat sesuai dengan konsep akuntansi lingkungan bagi perusahaan, antara lainmeliputi:
1. Biaya Berdasarkan Kegiatan/Management BerdasarkanKegiatan
2. Total Manajemen Kualitas/Total KualitasLingkungan
3. Proses Bisnis Re-Engerineering/PenguranganBiaya
4. Model Kualitas Biaya/Model Kualitas LingkunganBiaya
5. Desain untuk Lingkungan/Desain SiklusHidup
Semuapendekatandiatassesuaiditerapkandalamakuntansilingkungandisebabkan
karenakemampuannyauntukmemperbaikiracangansertadapatmengintegrasikaninformasi
lingkungan ke dalam keputusan bisnis. Perusahaan-perusahaan yang ingin
mempertimbangkansecaraeksplisitpengadopsianakuntansilingkungansebagaibagiandari
sistem perusahaan dalam penggunaannya terlebih dahulu melakukan evaluasi pendekatan
sistem ini. Berbeda hanya dengan perusahaan kecil yang tidak mempunyai sistem manajemen
lingkungan formal, atau tidak menggunakan pendekatan-pendekatan seperti yang dijelaskan
di atas, akan tetapi perusahaan kecil juga dapat menerapkan akuntansi lingkungan dengan
sukses. Kunci utamanya terletak pada komitmen manajemen dan keterlibatan fungsional.
Oleh karena itu diperlukan tanggungjawab semua pihak yang ada padaperusahaan.
Denganadanyaakuntansilingkunganmakamenciptakanmasyarakatyanglebihkritis
terhadap lingkungan sekitar serta masyarakat dapat berperan langsung dalam pengawasan
perusahaan terhadap limbah yang dihasilkan. Pemerintah juga berperan akitf dalam
pengawasan lingkungan. Pengukuran kualitas terhadap environmental performance di
Indonesia dibuat dalam bentuk peringat oleh suatu lembaga lingkungan hidup yang disebut
PROPER. PROPER merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementrian
Lingkungan Hidup untuk membantu penataan perusahaan di bidang lingkungan. Terdapat
lima indikator warna sebagai peringkat kinerja perusahaan, diantaranya adalah emas, hijau,
biru, merah dan hitam. Berikut adalah masing – masing keterangan dari peringkat kinerja
perusahaan:
a. Emas adalah untuk perusahaan yang secara konsisten telah menunjukkan keunggulan
lingkungan dalam proses produksi atau jasa, melaksanakan bisnis yang beretika dan
bertanggung jawab terhadapmasyarakat.
b. Hijau adalah untuk perusahaan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih
dari yang dipersyaratkan dalam peraturan (beyond compliance) melalui pelaksanaan
sistem pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumber daya secara efisien dan
melakukan tanggung jawab sosial denganbaik.
c. Biru adalah untuk perusahaan yang telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan
yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan perundang –undangan
yangberlaku.
d. Merah adalah untuk perusahaan yang upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan
4
belum sesuai dengan persyaratan sebagaimana telah diatur dalam perundang –
undangan.
e. Hitam adalah untuk perusahaan yang sengaja melakukan perbuatan atau melakukan
kelalaian yang mengakibatkan pencemaran atau kerusakan lingkungan serta
pelanggaran terhadap peraturan perundang – undangan yang berlaku atau tidak
melaksanakan sanksiadministrasi.
Menurut Arja Sadjiarto (2011) isu lingkungan hidup bukan isu di tingkat nasional, namun
merupakan isu international. Investor dan kreditur internasional merupakan hal yang jamak
ketika perpindahan arus modal antar negara menjadi hal yang sangat wajar terjadi seiring
dengan adanya tren globalisasi. Perusahaan-perusahaan yang beroperasi di level global
dengan sendirinya menghadapi isu lingkungan hidup, mengingat perilaku organisasi dalam
perbaikan lingkungan hidup semakin menjadi sorotan.
IASB tidak membuat satu standar khusus mengenai akuntansi lingkungan. Beberapa
standar yang telah diterbitkan oleh IASB terkait dengan akuntansi lingkungan. Contohnya
adalahIFRIC3yangmembahasmengenai‘EmissionRights’.BerdasarkanIFRIC3,emission
rights(ataujugasebagaiemissionallowances)dicatatsebagaiasettidakberwujud(intangible
assets).IFRIC3tidaksempatdiadopsiolehIndonesiamengingatpadabulanJuni2005IFRIC
3sudahditarikkembali.DalamkonteksIndonesia,IkatanAkuntanIndonesia–melaluiDewan
Standar Akuntansi Keuangan – telah melakukan revisi Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) dengan mengadopsi International Accounting Standards (IAS). Standar
yang pada umumnya dipandang sebagai terkait dengan aktivitas lingkungan adalah PSAK
No. 1 mengenai penyajian laporan keuangan, PSAK No. 57 tentang provisi, liabilitas
kontinjensi dan aset kontinjensi, PSAK No. 25 tentang kebijakan akuntansi, perubahan
estimasi akuntansi dan kesalahan, PSAK dan No. 5 tentang segmen operasi. ExposureDraft
(ED) yang juga terkait dengan aktivitas lingkungan dan sedang dalam proses untukdisahkan
menjadi standar adalah ED PSAK No. 33 tentang akuntansi pertambangan umum dan ED
PSAK No. 64 tentang eksplorasi dan evaluasi sumber dayamineral.
PSAK No. 1 yang direvisi pada tahun 2009 diadopsi dari IAS 1: Presentation of Financial
Statement. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi
keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas atau organisasi yang bermanfaat bagi
sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan dalam pengambilan keputusan
ekonomi.Laporankeuanganyanglengkapterdiridari1)laporanposisikeuanganatauneraca,
2) laporan laba rugi komprehensif, 3) laporan perubahan ekuitas, 4) laporan arus kas, 5)
catatan atas laporan keuangan – yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi dan informasi
penjelasan, 6) laporan posisi keuangan komparatif yang disajikan jika entitas menerapkan
kebijakan yang berlaku retrospektif atau terjadi reklasifikasi pos-pos laporankeuangan.
Terpisahdarilaporankeuangan,entitasmenyampaikankajiankeuanganolehmanajemen yang
menjelaskan kinerja keuangan dan posisi keuangan serta kondisi ketidakpastian utama yang
dihadapi. Salah satu kajian yang bisa disampaikan adalah faktor yang memberikan pengaruh
utama dalam pencapaian kinerja keuangan seperti perubahan lingkungan tempat entitas
beroperasi. Entitas dapat pula menyajikan laporan mengenai lingkungan hidup khususnya
untuk industri yang sangat terkait erat dengan faktor lingkunganhidup.
PSAKNo.57yangdiadopsidariIAS37:Provisions,ContingentLiabilitiesandContingent
Assets menunjukkan contoh transaksi atau kejadian yang sangat erat kaitannnya dengan
aktivitas lingkungan. Misalnya suatu entitas yang bergerak dalam industri pertambangan
minyak di sebuah negara telah melakukan pencemaran lingkungan selama bertahun-tahun.
Negara tersebut sudah lama tidak memiliki regulasi mengenai pembersihan pencemaran
lingkungan, namun pada tahun akhir tahun ini akan diterbitkan regulasi tentang pembersihan
tersebut. Dalam hal ini,entitas harus mencatat adanya provisi sebesar estimasi terbaik biaya
pembersihan. Estimasi terbaik adalah jumlah kini dengan dampak nilai waktu uang yang
signifikan atau material. Hal yang sama akan dilakukan oleh entitas, jika, meskipun tidak ada
5
regulasi yang mengatur mengenai pembersihan pencemaran lingkungan, namun entitas
memiliki kebijakan pemeliharaan lingkungan hidup yang dipublikasikan luas dan entitas
dikenal memiliki reputasi untuk menghormati kebijakan yang dipublikasikan tersebut. Dalam
hal ini provisi yang diakui digolongkan sebagai kewajiban konstruktif. Kewajiban konstruktif
adalahkewajibanyangtimbuldaritindakanentitasyang1)bedasarkanpraktekbakudimasa lalu,
entitas memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa entitas akan menerima tanggung jawab
tertentu melalui publikasi atau pernyataan spesifik, dan 2) entitas menciptakan ekspektasi
kepada pihak lain bahwa entitas akan melaksanakan kewajibantersebut.
Provisi diakui hanya untuk kewajiban yang timbul dari peristiwa di tahun sebelumnya. Ini
terpisah dari aktivitas entitas di tahun-tahun berikutnya. Seperti contoh di atas, biaya yang
harus dikeluarkan untuk pembersihan atau pemulihan pencemaran lingkungan mengakibatkan
keluarnya sumber daya entitas untuk menyelesaikan kewajiban di masa lalu. Peristiwa masa
lali yang menimbulkan kewajiban di masa kini disebut sebagai peristiwa mengikat. Dalam
peristiwa mengikat, entitas tidak punya pilihan lain selain menyelesaikan kewajiban tersebut,
baik karena dipaksakan oleh hukum, atau merupakan kewajiban
konstruktif.Provisidibedakandarikewajibanlainkarenadalamprovisiterdapatketidakpastian
mengenai waktu dan jumlah yang dikeluarkan di masa depan untuk menyelesaikan provisi
tersebut.
Paragraf 10 dalam Exposure Draft PSAK No. 64, yang diadopsi dari IFRS 6 Exploration
for and Evaluation of Mineral Resources, memuat bahwa sesuai dengan PSAK 57, suatu
entitas mengakui setiap kewajiban untuk pemindahan dan restorasi yang terjadi selama
periode tertentu sebagai konsekuensi dari eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral.
PSAK No. 25 membahas mengenai kebijakan akuntansi, perubahan estimasi akuntansi
dankesalahan.PSAKinidiadopsidariIAS8:AccountingPolicies,ChangesinAccountingand
Errors. Sebagai akibat adanya ketidakpastian yang melekat dalam aktivitas bisnis, banyak pos
dalam laporan keuangan yang tidak dapat diukur dengan tepat, tetapi hanya dapat
diestimasi.Estimasiinitentunyamelibatkanpertimbanganberdasarkaninformasiterkiniyang
tersedia dan andal (reliable). Firoz dan Ansari (2010) memberikan contoh estimasi terkait
dengan biaya lingkungan antara lain adalah:
a. Provisi biaya pembersihan (cleanupcosts)
b. Provisi rehabilitasi di industripertambangan
c. Provisi klaim ataskontinjensi
d. Provisi biaya lingkungan seperti penanggulangan polusi udara, polusi suara, gas dan
limbahberbahaya.
e. Provisi pembelian peralatan untuk mengendalikanpolusi.

Sementara dalam PSAK No. 5 tentang Segmen Operasi, entitas perlu mengungkapkan
informasiuntukmemungkinkanpenggunalaporankeuanganmengevaluasisifatdandampak
keuanganatasaktivitasbisnisyangmelibatkanentitasdanlingkunganekonomitempatentitas
beroperasi. Adanya segmen operasi yang dilaporkan berdasarkan wilayah geografis atau
negara akan menampakkan adanya perbedaan lingkungan peraturan yang bisa saja terkait
dengan regulasi di bidang lingkungan hidup. Hal ini sinkron dengan informasi yang
disyaratkan oleh GRI yaitu informasi mengenai Negara atau wilayah yang memberikan (i)
kontribusipendapatanminimal5%daritotalpendapatan,(ii)kontribusibebanminimal5%dari
totalpendapatan.DalamPSAKNo5prosentaseyangdianggapsignifikanadalah10%.PSAK No. 5
ini diadopsi dari IFRS 8: Operating Segment.
Definisi mengenai lingkungan hidup dan biaya pengelolaan lingkungan hidup tercantum
dalam ED PSAK No. 33 tentang akuntansi pertambangan umum. Lingkungan hidup adalah
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk di
dalamnya manusia dan perilakunya, yang memengaruhi kelangsungan perikehidupan dan
kesejahteraan manusia, serta mahluk hidup lainnya. Biaya pengelolaan lingkungan hidup
6
diartikan khusus dalam konteks pertambangan sebagai biaya yang timbul atas usaha
mengurangi dan mengendalikan dampak negatif kegiatan pertambangan, dan biaya rutin
lainnya.
Adanya kegiatan penambangan pada suatu daerah tertentu akan menimbulkan dampak
terhadap lingkungan hidup di sekitar lokasi penambangan yaitu pencemaran lingkungan dan
perusakanlingkungan.Pencemaranlingkunganterjadikarenamasuknyaataudimasukannya
mahluk hidup, zat, energi, dan komponen lain ke dalam lingkungan dan/atau berubahnya
tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitaslingkungan
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat
berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Perusakan lingkungan merupakan tindakan yang
menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap perubahan sifat-sifat dan/atau
hayati lingkungan yang mengakibatkan lingkungan itu kurang berfungsi lagi dalam
menunjang pembangunan berkesinambungan. Untuk mengurangi dan mengendalikan
dampaknegatifkegiatanusahapenambangan,makaperludilakukanpengelolaanlingkungan hidup
yang meliputi upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan,
pengendalian, dan pengembangan lingkunganhidup.
Aktivitas pengelolaan lingkungan hidup dengan sendirinya akan menimbulkan provisi
pengelolaan lingkungan hidup, yang harus diakui jika 1) terdapat petunjuk yang kuat bahwa
telah timbul kewajiban pada tanggal pelaporan keuangan akibat kegiatan yang telah
dilakukan,dan2)terdapatdasaryangwajaruntukmenghitungjumlahkewajibanyangtimbul. Pada
tanggal pelaporan, jumlah provisi pengelolaan lingkungan hidup harus dievaluasi kembali
untuk menentukan apakah jumlahnya telahmemadai.
Definisi Umum Akuntansi Lingkungan Menurut AICPA (American Institute of Certified
Public Accounting) dalam buletinnya, Akuntansi didefinisikan sebagai berikut : Accounting
is the art of recording, classifying and summarizing in a significant manner and in the term of
money, transaction and event which are and part, at least of financial character and
interpreting the result there of (1998). Dimana akuntansi merupakan sebuah seni untuk
mencatat, mengklasifikan, dan menjumlahkan nilai dari transaksi yang sudah dilakukan oleh
perusahaansebagaibagiandaripertanggungjawabankeuanganyangdisajikandalambentuk
sistematis.MenurutKerangkaDasarPenyusunandanPenyajianLaporanKeuanganStandar
Akuntansi Keuangan (IAI, paragraf 12 2009) menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan
adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan
posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam
mengambil keputusan ekonomi. Sedangkan lingkungan hidup berdasarkan Undang-undang
Nomor32Tahun2009tentangPerlindungandanPengelolaanLingkunganHidupdalamPasal 1
angka 1 adalah : ...”kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup,
termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan
perikehidupandankesejahteraanmanusiadanmakhlukhiduplainnya”.Akuntansilingkungan atau
Environmental Accounting merupakan istilah yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya
lingkungan ke dalam praktek akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya
lingkungan adalah dampak (impact) baik moneter maupun non moneter yang harus dipikul
sebagaiakibatdarikegiatanyangmempengaruhikualitaslingkungan(Winarno,2008:76).10
Berdasarkan pendapat diatas bisa dijelaskan bahwa akuntansi lingkungan adalahaktivitasjasa
yang memiliki peranan untuk menyediakan informasi akuntansi yang dapat dipengaruhi oleh
respon perusahaan terhadap masalah yang mengancam tempat kelangsungan hidup manusia
dan mahkluk hidup lainnya dalam rangka mengukur posisi perusahaan dalam lingkungan,
mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan serta strategi untuk memperbaiki posisi
tersebut dalam mengubah sistem manajemen untuk menjaminperbaikan yang terus menerus
dan manajemen yangefektif.

Tujuan Penerapan Akuntansi Lingkungan


7
Tujuan akuntansi lingkungan adalah untuk meningkatkan jumlah informasi relevan yang
dibuatbagimerekayangmemerlukanataudapatmenggunakannya(Hadi,2012).Tujuanlain dari
pengungkapan akuntansi lingkungan berkaitan dengan kegiatan konservasi lingkungan oleh
perusahaan maupun organisasi lainnya yaitu mencakup kepentingan organisasi publik dan
perusahan-perusahaan publik yang bersifat lokal. Menurut Ikhsan (2008) tujuan dan maksud
dikembangkannya akuntansi lingkungan yaitu sebagai berikut:
a. Akuntansi lingkungan merupakan alat manajemen lingkungan, sebagai alat
manajemen lingkungan. Akuntansi lingkungan digunakan untuk menilai keefektifan
kegiatan konservasi lingkungan. Data akuntansi lingkungan juga digunakan untuk
menentukan biaya fasilitas pengelolaan lingkungan, biaya keseluruhan konservasi
lingkungandanjugainvestasiyangdiperlukanuntukkegiatanpengelolaanlingkungan.
b. Akuntansi lingkungan sebagai alat komunikasi dengan masyarakat, sebagai alat
komunikasi publik, akuntansi lingkungan digunakan untuk menyampaikan dampak
negatif lingkungan, kegiatan konservasi lingkungan dan hasilnya kepada publik.
Tanggapan dan pandangan masyarakat digunakan sebagai umpan balik untuk
mengubah pendekatan perusahaan dalam pelestarian atau pengelolaanlingkungan.
Pentingnya AkuntansiLingkungan
Biayalingkunganmerupakansalahsatubeberapatipebiayayangdikorbankansepertihalnya
perusahaan memberikan barang dan jasa kepada konsumen (pelanggannya). Kinerja
lingkungan merupakan salah satu dari beberapa ukuran penting tentang keberhasilan
perusahaan.Beberapaalasanmanajemenperlumemperhatikanbiayalingkungandankinerja
lingkungan menurut Sudarno (2008) antara lain:
1. Beberapa biaya lingkungan dapat dikurangi dan dieliminasi secara signifikan sebagai
hasil dari keputusan bisnis, mulai dari operasi perubahan pergudangan, ke investasi
dalam teknologi pemrosesan yang lebih hijau, meredesain proses /produk.
2. Biaya lingkungan (misalnya penghematan biaya lingkungan secara potensial) dapat
dikaburkan dalam akun biaya overhead atau bahkandiabaikan.
3. Beberapa perusahaan telah menemukan bahwa biaya lingkungan dapat di offset
dengan perolehan pendapatan melalui penjualan limbah, produk sampingan atau
cadangan polusi yang dipindahkan atau lisensi teknologi untukpenjumlahan.
4. Manajemen biaya lingkungan yang lebih baik dapat dihasilkan dengan
mengembangkan kinerja lingkungan dan memperoleh manfaat yang signifikan
terhadap kesehatan manusia seperti halnya dalam keberhasilanbisnis.
5. Dengan biaya lingkungan dan kinerja lingkungan, pemrosesan dan produk dapat
memperbaiki penetapan biaya produk dan penetapan harga yang lebih tepat dan dapat
membantu perusahaan dalam mendesain pemrosesan, produk dan jasa yang lebih
ramah lingkungan dimasadepan.
6. Keunggulankompetitifterhadappelanggandapatdihasilkandaripemrosesan,produk jasa
yang dapat dijelaskan dengan lingkungan yang lebih baik.
7. Akuntansi biaya dan kinerja lingkungan dapat mendukung pengembangan perusahaan
dan operasi sistem manajemen lingkungan secara menyeluruh. Sistem seperti itu perlu
segera diberlakukan untuk perusahaan yang ikut perjanjian perdagangan internasional
guna memenuhi standar konsensus internasional ISO 14001.

Peranan Akuntan dalam Masalah Lingkungan


Masalah lingkungan saat ini tidak lagi merupakan masalah yang hanya
diperhatikan oleh pakar lingkungan melainkan telah menjadi masalah ekonomi
(Sudarno, 2004). Secara tidak langsung, akuntan dan akuntansi lingkungan dapat
berperandalammembantumasalahpenangananlingkungan.Perananakuntandalam
membantumanajemenmengatasimasalahlingkunganmelaluilimatahap,yaitu(Gray 1993
dalam Akbar, 2011):
8
1. Sistemakuntansiyangadasaatinidapatdimodifikasiuntukmengidentifikasimasalah
lingkungandalamhubungannyadenganmasalahpengeluaransepertibiayakemasan, biaya
hukum, biaya sanitasi dan biaya lain-lain yang berkenaan dengan efek lingkungan.
2. Hal-hal yang negatif dari sistem akuntansi saat ini perlu diidentifikasikan, seperti
masalah penilaian investasi yang belum mempertimbangkan masalahlingkungan.
3. Sistemakuntansiperlumemandangjauhkedepandanlebihpekaterhadapmunculnya isu-
isu lingkungan yang selaluberkembang.
4. Pelaporan keuangan untuk pihak eksternal dalam proses berubah, seperti misalnya
berubah ukuran kerja perusahaan dimasyarakat.
5. Akuntansi yang baru dari sistem informasi memerlukan pengembangan seperti
pemikiran tentang kemungkinan adanya “eco balancesheet”.
Biaya Lingkungan
Biaya lingkungan dapat diartikan sebagai biaya yang muncul dalam usaha untuk
mencapai tujuan seperti pengurangan biaya lingkungan yang meningkatkan
pendapatan, meningkatkan kinerja lingkungan yang perlu dipertimbangkan saat ini
dan yang akan datang (Irawan, Lintasan Ekonomi: 2001). Biaya lingkungan juga
didefinisikan oleh Susenohaji (2003 dalam Roosje, 2006 dalam Hadi, 2012) sebagai
biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan berhubungan dengan kerusakan lingkungan
yang ditimbulkan dan perlindungan yang dilakukan. Sebelum informasi biaya
lingkungan dapat disediakan bagi manajemen, biaya-biaya lingkungan harus
didefinisikan. Ada berbagai macam kemungkinan, akan tetapi pendekatan yang
menarik adalah dengan mengadopsi definisi dengan model kualitas lingkungan total.
Dalam model kualitas lingkungan total, keadaan yang ideal adalah tidak ada
kerusakan lingkungan (sama dengan cacat nol pada manajemen kualitas total).
Kerusakan didefinisikan sebagai degradasi langsung dari lingkungan, seperti emisi
residubendapadat,cair,ataugaskedalamlingkungan(misalnyapencemaranairdan
pencemaran udara), atau degradasi tidak langsung seperti penggunaan bahan baku dan
energi yang tidak perlu (Hansen dan Mowen,2005).
Dengan demikian biaya lingkungan dapat disebut sebagai biaya kualitas
lingkungan total (Environmental Quality Cost). Sama halnya dengan biaya kualitas,
biaya lingkunganadalahbiaya-biayayangterjadikarenaadanyakualitasyangburuk.Maka,
biaya lingkungan berhubungan dengan kreasi, deteksi, perbaikan, dan pencegahan
degradasi lingkungan (Hansen dan Mowen,2005).

Tahap-Tahap Perlakuan Alokasi Biaya Lingkungan


Sebelum mengalokasikan pembiayaan untuk pengelolaan dampak lingkungan
seperti pengelolaan limbah, pencemaran lingkungan, pencemaran udara, pencemaran suara
dan efek sosial lainnya, perusahaan perlu merencanakan tahap pencatatan
pembiayaantersebut.Tahap-tahapinidilakukanagardalampengalokasiananggaranyang telah
direncanakan untuk satu periode akuntansi dapat diterapkan dengan efektif dan efisien.
Pencatatan pembiayaan untuk mengelola sampah-sampah yang dikeluarkan dari
hasil sisa produksi suatu usaha dialokasikan dalam tahap-tahap tertentu yang masing-
masing tahap memerlukan biaya yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tahap-tahap
pencatatan itu dapat dilakukan sebelum periode akuntansi berjalan sesuai dengan proses
produksi yang dilakukan perusahaan tersebut (Munn dalam Haryanto dalam Hadi,2012).
Pencatatan untuk mengelola segala macam yang berkaitan dengan limbah sebuah
perusahaan didahului dengan perencanaan yang akan dikelompokkan dalam pos-pos
tertentu sehingga dapat diketahui kebutuhan riil setiap tahunnya.
Pengelompokkan dalam tahap analisis lingkungan sebagaimana yang ditentukan
dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) tahun 2009 antara lain sebagai
berikut:
9
1. IdentifikasiPertamakaliperusahaanakanmenentukanbiayauntukpengelolaanbiaya
penanggulangan eksternality yang mungkin terjadi dalam kegiatan operasional
usahanya adalah dengan mengidentifikasi dampak negatif tersebut. Sebagai contoh
misalkan sebuah Rumah Sakit yang diperkirakan akan menghasilkan limbah
berbahaya sehingga memerlukan penanganan khusus untuk hal tersebut
mengidentifikasi limbah yang mungkin ditimbulkan antara lain : limbah padat, cair,
maupun radioaktif yang berasal dari kegiatan instalasi rumah sakit atau kegiatan
karyawan maupun pasien (Sudigyo dalam Hariyanto dalam Hadi, 2012). Dalam
akuntansi lingkungan pada umumnya menggunakan kata-kata seperti penuh (full),
total(total),dansiklushidup(lifecycle).Istilahtersebutlebihcenderungmenggunakan
pendekatan tradisional dimana lingkup biaya melebihi biaya-biaya lingkungan.
Menurut Susenohaji dalam Amalia (2011) menyebutkan bahwa biaya lingkungan
sebagai berikut:
- Biaya pemeliharaan dan penggantian dampak akibat limbah dan gasbuangan
- Biaya pencegahan dan pengelolaanlingkungan
- Biaya pembelian bahan bukan hasilproduksi
- Biaya pengoahan untukproduk
- Penghematan biayalingkungan
Setiap biaya-biaya lingkungan yang ada, diklasifikan oleh perusahaan secara
berbeda. Jadi setiap perusahaan masih memiliki pandangan berbeda dari penentuan
biaya akuntansi lingkungan. Hal ini dikarenakan akan lebih memudahkan manajemen
untuk lebih fokus dalam menentukan keputusan.
2. PengakuanApabilasudahdiidentifikasiselanjutnyadiakuisebagaiakunataurekening
biaya pada saat penerimaan manfaat dari sejumlah nilai yang telah dikeluarkanuntuk
pembiayaan lingkungan tersebut. Menurut Anne dalam Artikel the Greening
Accounting (dalam Winarno, 2008) mengemukakan pandangannya bahwa
pengalokasian pembiayaan untuk biaya pengelolaan lingkungan dialokasikan pada
awal periode akuntansi untuk digunakan selama satu periode akuntansi tersebut.
Misalnya saja Perusahaan XYZ memiliki emisi limbah yang memerlukan pengelolaan
dan pembiayaan yang material, pada saat dilakukan penganalisaan danestimasi
biaya maka jumlah seluruh biaya yang akan dikeluarkan dalam satu tahun periode
akuntansi tersebut dikategorikan kedalam akun atau rekening biaya lingkungan
dibayar dimuka pada biaya lingkungan. Nilai biaya yang dibayar dimuka selama satu
tahun tersebut akan dikredit setiap bulan untuk pengalokasian secara kontinyu yang
dipergunakanuntukpembiayaanmasing-masingunituntukrekeningbiayalingkungan
tersebut (Jain, R.K dalam Winarno,2008).
Nilai atau jumlah biaya yang dipersiapkan pada periode tertentu akan berkurang
sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan setiap unit biaya yang memerlukannya (Whaley
dalam Akbar, 2011). Singkatnya, biaya yang digunakan oleh perusahaan setiap
bulannya untuk mengelola limbah perusahaan dengan cara mengambil dari biaya yang
sudah dicadangkan (dianggarkan) sebelumnya yakni melalui pembiayaan dibayar
dimuka.
3. Pengukuran Menurut Suwardjono pengukuran (measurement) adalah penentuan
angkaatausatuanpengukurterhadapsuatuobjekuntukmenunjukkanmaknatertentu dari
objek tersebut. Pada umumnya, perusahaan mengukur biaya-biaya yang dikeluarkan
oleh perusahaan untuk pengelolaan lingkungan dengan menggunakan satuan moneter
yang sudah ditetapkan sebelumnya dan sebesar yang dikeluarkan.
Sehinggaakandiperolehjumlahdannilaiyangtepatsesuaikebutuhanriilperusahaan setiap
periode. Dalam hal ini, pengukuran dilakukan untuk menentukan kebutuhan
pengalokasian pembiayaan tersebut sesuai dengan kondisi perusahaan yang
bersangkutan masing-masing perusahaan memiliki standar pengukuran yang berbeda-
10
beda karena dalam SAK dan teori-teori masih belum ada yang mengatur
khusustentangpengukuranbiayalingkungan.Dalammelakukanpengukuranterdapat
beberapa kendala yang harus diperhatikan oleh perusahaan, menurut Hendriksen
(1999) kendalanya adalah sebagai berikut:
a. Ketidakpastian, hal ini timbul dari dua sumber utama yaitu : pertama informasi
akuntansiumumnyaberhubungandengankesatuanyangdiharapkanakantetap hidup
pada masa depan karena alokasi sering dilakukan antara periode masa lalu
dengan periode di masa yang akan datan. Masa asumsi harus dibuat mengenai
logika alokasi ini berdasarkan alokasi masa depan. Kedua, pengukuran
akuntansi sering diasumsikan menggambarkan ungkapan kekayaan dalam nilai
uang yang dapat diketahui secara pasti. Jadi pegukuran manapun yang
didasarkan pada estimasi hanya bersifat sementarasaja.
b. Obyektivitasdanverifibilitas,agarpengukurandapatse-terandalmungkindalam
menyajikan informasi yang relevan untuk peramalan dan pengambilan
keputusanolehparainvestordanolehparapemakailaporankeuanganyanglain, maka
para akuntan harus menetapkan atribut apa yang sedang diukur dan kemudian
memilih prosedur pengukuran yang dapat menjelaskan atribut itu secara akurat.
c. Bebas dari bias, istilah ini telah digunakan untuk mengartikan bahwa informasi
yang disajikan bersifat netral dan wajar. Jadi berdasarkan standar netralitas ini
“bebas dari bias” merupakan kemampuan pengukuran untuk memberikan
deskripsi yang akurat atas atribut yang sedangditeliti.
d. Keterbatasan unit moneter, walaupun data akuntansi tidak dibatasi dalam unit
moneter, naun laporan akuntansi secara tradisional mencakup yang utamanya
laporan keuangan. Dan dalam banyak kasus, unit moneter merupakan unit
pengukuran yang paling baik, khususnya bila penggabungan diinginkan atau
diperlukan. Akan tetapi, unit moneter mempunyai keterbatasan sebagai metode
pengkomunikasian informasi. Batasan atau kendala yang paling serius adalah
disebabkan oleh fakta bahwa nilai unit moneter tidak stabil dengan berjalannya
waktu.
e. Konservatisme, kendala umum, yaitu ketidakpastian telah berfungsi sebagai
dasar konsep akuntansi tradisional, yaitu konservatisme. Sebagaimana
umumnya dinyataan konsep konservatisme bukanlah postulan akuntansi, juga
bukankendala.Tetapisecaraoperasional,konsepituberfungsisebagaikendala dalam
penyajian data yang sebaliknya mungkin terandal dan relevan. Istilah
konservatisme digunakan untuk mengartikan bahwa para akuntan harus
melaporkan niai yang terendah dari beberapa nilai yang mungkin untuk aktiva
danpendapatansertanilaiyangtertinggidaribeberapanilaiyangmungkinuntuk
kewajiban danbeban.
4. Penyajian Penyajian menetapkan tentang cara-cara melaporkan elemen atau pos
dalamseperangkatlaporankeuanganagarelemenataupostersebutcukupinformatif,
standar akuntansi biasanya memuat ketentuan tentang apakah suatu informasi objek
harus disajikan secara terpisah dari laporan utama, apakah suatu informasi harus
disajikan digabung dengan akun laporan keuangan yang lain, apakah suatu posperlu
dirinci, atau apakah suatu informasi cukup disajikan dalam bentuk catatan kaki
(Suwardjono, 2005). Perusahaan dapat meyajikan kepedulian lingkungan dalam
laporan keuangan guna membantu menciptakan kesan positif terhadap perusahaan
dimata pemodal, pemerintah, dan masyarakat. Model komprehensif yang
dapatdijadikansebagaialternatif modelpelaporankeuanganlingkungansecaragarisbesar
dapat dikategorikan dalam 4 (empat) macam model, antara lain (Haryono,2003):
a. Model Normatif Model ini berawal dari premis bahwa perusahaan akan
membayar segalanya. Model normatif mengakui dan mencatat biaya-biaya
11
lingkungan secara keseluruhan yakni dalam lingkup satu ruang rekening secara
umum bersama rekening lain yang serumpun. Biayabiaya serumpun tersebut
disisipkan dalam sub-sub unit rekening biaya tertentu dalam laporan
keuangannya.
b. Model Hijau Model hijau menetapkan biaya dan manfaat tertentu atas
lingkungan bersih. Selama suatu perusahaan menggunakan sumber daya,
perusahaan tersebut harus mengeluarkan biaya sebesar konsumsi atas biaya
sumber daya. Proses tersebut memaksa perusahaan 19 menginternalisasikan
biaya pemakaian sumber daya meskipun mekanisme pengakuan dan
pengungkapan belum memadai dan kemudian melaporkan biaya tersebut
dalam laporan keuangan yang terpisah dari laporan keuangan induk untuk
memberikan penjelasan mengenai pembiayaan lingkungan diperusahaannya.
c. Model Intensif Lingkungan Model pelaporan ini mengharuskan adanya
pelaksanaan kapitalisasi atas biaya perlindungan dan reklamasi lingkungan.
Pengeluaran akan disajikan sebagai investasi atas lingkungan sedangkan aktiva
terkait lingkungan tidak didepresiasi dengan sehingga dalam laporan
keuanganselainpembiayaanyangdiungkapkansecaraterpisah,jugamemuat
mengenai catatan-catatan aktiva tetap yang berhubungan dengan lingkungan
yang dianggap sebagai inverstasi untuklingkungan.
d. ModelAsetNasionalModelasetnasionalmengubahsudutpandangakuntansi dari
tingkat perusahaan (skala mikro) ke tingkat nasional (skala makro), sehingga
dimungkinkan untuk meningkatkan tekanan terhadap akuntansi untuk
persediaan dan arus sumber daya alam. Dalam model ini dapat ditekankan
bahwa selain memperdulikan lingkungan dalampengungkapannya secara
akuntansi, perusahaan juga memiliki kewajiban untuk menginterpretasikan
pembiayaan lingkungan tersebut sebagai aset nasional yang dipandang sebagai
tanggung jawab secara nasional. Variasi alternatif
modeldalamperbedaanmateriyangdiungkapantaraperusahaansatudengan
perusahaanyangmenganutmodellainnyalebihbanyakdisebabkanolehfaktor
tingkat kompleksitas dan tingkat kebutuhan masingmasing operasional usaha.
Perusahaan dapat memilih alternatif model varian dalam menentukan sikap
dan bentuk tanggungjawab sosialnya sesuai dengan 20 proporsional masing
masing, namun secara substansial bahwa pertanggungjawaban lingkungan
tetap menjadi pertimbangan utama setiapperusahaan.
e. Pengungkapan Pengungkapan (disclosure) memilik arti tidak menutupi atau
tidak menyembunyikan. Apabila dikaitkan dengan data, pengungkapan
diartikan sebagai memberikan data yang bermanfaat karena apabila tidak
bermanfaat, tujuan dari pengungkapan tidak akan tercapai (Ikhsan, 2008).
Akuntansi lingkungan menuntut adanya alokasi pos khusus dalam pencatatan
rekeningpadalaporankeuanganyangdibuatolehperusahaansehinggadalam
pelaporan akuntansi keuangan akan muncul bahwa pertangggungjawaban
sosial yang dilakukan oleh perusahaan tidak sebataas pada retorika namun
telah sesuai dengan praktis pengelolaan sisa hasil operasional perusahaan.
Biaya yang dicatat dalam jurnal penjelas dapat diartikan bahwa biaya yang
sebelumnya dicatat dalam pos gabungan seperti biaya umum atau overhead
perlu untuk dibuatkan pos khusus yang memuat daftar alokasi biaya khusus
untuk pengelolaan eksternalitiy sebagai sisa hasil operasional usaha (Munn
dalam Akbar, 2011). Kemungkinan untuk memuat seluruh biaya yang telah
dikeluarkan dalam pos khusus menjadi sebuah neraca khusus tetap ada, namun
meski demikian minimal dalam sebuah laporan keuangan adanya rekening
khusus yang dapat menjelaskan alokasi biaya lingkungan tersebut menjadi satu
12
kesatuan pos rekening yang utuh dan secara rinci pengeluaran biaya tersebut
sejak awal perencanaan proses akuntansi lingkungan sampai pada saat
penyajian pemakaian biaya tersebut (Purnomo, 2000 dalam Winarno, 2007).
Mengacu pada PSAK 33 tentang Akuntansi Pertambangan Umum yang juga
mengatur tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH), makahal-
hal21yangwajibdiungkapkandalamcatatanataslaporankeuangan adalah sebagai
berikut:
1. Kebijakan akuntansi sehubungan dengan : - Perlakuan
akuntansi atas pembebanan biaya limbah - Metodepenyusutan
prasarana pengelolaanlimbah
2. Kegiatan PLH yang telah dan yang sedangberjalan
A. Pengertian limbah
Berdasarkan PPNo. 18/1999 Jo.PP 85/1999 Limbah didefinisikan sebagai
sisa/buangan dari suatu usaha dan atau kegiatan manusia. Hampir semua kegiatan manusia
akan menghasilkan limbah. Limbah tersebut sering kali dibuang ke lingkungan, sementara
jumlah limbah yang dihasilkan terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan
kemajuan teknologi serta perekonomian. Ketika mencapai jumlah atau konsentrasi
tertentu,limbah yang dibuang kelingkungan dapat menimbulkan dampak negatif bagi
lingkungan.

B. Pengertian Baku Mutu Lingkungan


UU RI No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungn hidup mendefinisikan Baku
Mutu Lingkungan sebagai ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau
komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaanya
dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. Dengan kata lain,baku
mutu lingkungan adalah ambang batas/batas maksimum suatu zat atau komponen yang
diperbolehkan berada dilingkungan agar tidak menimbulkan dampak negatif.

C. Pengelompokan Limbah
1. Pengelompokan berdasarkan jenis senyawa
 Limbah Organik
Limbah organik merupakan limbah yang memiliki unsur hidrokarbon
(hidrogen dan karbon) yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Contoh: Jasad
Makhluk hidup, sisa makanan, kertas, kotoran hewan. Limbah organik yang mudah
membusuk dapat dimanfaatkan kembali dengan cara dijadikan kompos. Kompos
dapat dimanfatkan sebagai pupuk/penyubur tanaman. Pembuatan kompos dari
limbah organik dapat menjadi salah satu solusi untuk menangani limbah organik.
 Limbah Anorganik
Limbah anorganik merupakan limbah yang tidak memiliki unsur hidrokarbon
(hidrogen dan karbon) dan sulit diuraikan oleh mikroorganisme. Contoh: plastik,
karet, besi, kaleng bekas, pecahan kaca. Limbah anorganik tidak dapat dibiarkan
begitu saja karena sulit diuraikan secara alami oleh mikroorganisme, untuk itu
limbah anorganik dapat didaur ulang menjadi produk-produk yang dapat digunakan
kembali oleh manusia, seperti kaleng almunium didaur ulang menjadi kaleng
almunium kembali atau kertas bekas didaur ulang menjadi kertas siap pakai lagi.
Salah satu cara agar pemanfaatan limbah dapat dilakukan dengan efektif dan efisien
adalah dengan memilah limbah tersebut saat dibuang.
2. Pengelompokan berdasarkan wujud
 Limbah Berwujud Cair
Limbah cair adalah segala jenis limbah yang berwujud cairan, berupa air beserta
bahan-bahan buangan lain yang tercampur (tersuspensi) maupun terlarut dalam air.
13
Limbah cair dapat diklasifikasikan dalam 4 kelompok, yaitu:
1) Limbah cair domestik (domestic wastewater), yaitu limbah cair hasil buangan
darri perumahan (rumah tangga), bangunan, perdagangan, perkantoran, dan
sarana jenis. Contoh : Air detergen sisa cucian, air sabun, dan air tinja.
2) Limbah cair industri (Industrial wastewater), yaitu limbah cair hasil buangan
industri. Contoh: air sisa cucian daging, buah, atau sayur dari industri pengolahan
makanan dan dari sisa pewarnaan kain/bahan dari industri tekstil.
3) Rembesan dan luapan (infiltration and inflow), yaitu limbah cair yang berasal
dari berbagai sumber yang memasukisaluran pembuangan limbah cair melalui
rembesan kedalam tanah atau melalui luapan dari permukan.
Contoh: halaman, Air buangan dri talng atap, pendingin ruangan (AC), halaman, bangunan
perdagangan industri, serta pertanian atau perkebunan.
4) Air Hujan (storm water), yaitu limbah cair yang berasal dari aliran air hujan
diatas permukaan tanah. Aliran air hujan dipermukaan tanah dapat melewati dan
membawa partikel-partikel buangan padat atau cair sehingga dapat disebut
limbah cair.
 Limbah Berwujud Padat
Limbah padat merupakan salah satu limbah yang paling banyak terdapat
dilingkungan Biasanya limbah padat disebut sampah. Limbah padat di klasifikasikan
menjadi 6 kelompok :
1) Sampah organik mudah busuk (garbage), yaitu limbah padat semi basah, berupa
bahan-bahan organik yang mudah membusuk atau terurai mikroorganisme.
Contoh : sisa dapur, sisa makanan, sampah sayuran, kulit buah-buahan.
2) Sampah anorganik dn organik tak membusuk (Rubbish), yaitu limbah padat
anorganik atau organik cukup kering yang sulit terurai oleh mikroorganisme,
sehingga sulit membusuk.
Contoh: Selulosa, kertas, plastik, kaca, logam.
3) Sampah Abu (ashes), yaitu limbah padat yang berupa abu, biasanya hasil
pembakaran. Sampah ini mudah terbawa angin karena ringan dan tidak mudah
membusuk.
4) Sampah bangkai binatang (dead animal), yaitu semua limbah yang berupa
bangkai binatang, seperti tikus, ikan dan binatang ternak yang mati.
5) Sampah sapuan (street sweeping), yaitu limbah padat hasil sapuan jalanan yang
berisi berbagai sampah yang tersebar di jalanan, sperti dedaunan, kertas dan
plastik.
6) Sampah Industri (Industrial waste), yaitu semua limbah padat yang bersal
daribuangan industri. Komposisi sampah ini tergantung dari jenis industrinya.
 Limbah Berwujud Gas
Limbah gas biasanya dibuang keudara. Di udar,terkandung unsur-unsur kimia
seperti O2,N2,NO2,Co2,H2, dan lain-lain. Penambahan gas keudara yang melampaui
kandungan udara alami akan menurunkan kualitas udara. Limbah gas yang dibuang
keudara biasanya mengandung partikel-partikel bahan padatan atau cairan yang
berukuran sangat kecil dan ringan sehingga tersuspensi dengan gas-gas tersebut.
Bahan padatan dan cairan tersebut disebut sebagai materi partikulat.
 Limbah Suara
Yaitu, Limbah yang berupa gelombang bunyi yang merambat diudara.
Limbah suara dapat dihasilkan dari mesin kendaraan, mesin-mesin pabrik, peralatan
elektronikdan sumber-sumber yang lainnya.
3. Pengelompokan berdasarkan sumber
 Limbah Domestik
Adalah limbah yang berasal dari kegiatan pemukiman penduduk (rumah
14
tangga) dan kegiatan usaha seperti pasar, restoran, dan gedung perkantoran. Contoh :
sisa makanan, kertas, kaleng, plastik, air sabun, detergen, tinja.
 Limbah Industri
Adalah limbah buangan hasil industri,jenis limbah yang di haasilkan
tergantung pada jenis industry. Contoh: Limbah organik cair atau padat akan banyak
dihasilkan oleh industri pengolahan makanan, sedangkan limbah anorganik seperti
logam berat dihasilkan oleh industri tekstil, Industri yang melakukan proses
pembakaran menghasilkan limbah gas.
 Limbah Pertanian
Adalah limbah yang beraasal dari limbah pertanian, limbah ini biasanya berupa
senyawa-senyawa anorganik dari bahan kimia yang digunakan untuk kegiatan
pertanian. Contoh: Pupuk, pestisida, sisa-sisa tumbuhan.
 Limbah Pertambangan
Adalah limbah yang berasal dari kegi kegiatan pertambangan. Kandungan limbah
ini terutama berupa material tambang. Contoh: Logam atau batuan.

4. Berdasarkan karakteristiknya
1. Limbah cair
2. Limbah padat
3. Limbah gas dan partikel
4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
(1) Limbah cair
Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan air dalam
sistem prosesnya. Di samping itu ada pula bahan baku mengandung air sehingga dalam
proses pengolahannya air harus dibuang. Air terikut dalam proses pengolahan kemudian
dibuang misalnya ketika dipergunakan untuk pencuci suatu bahan sebelum diproses lanjut.
Air ditambah bahan kimia tertentu kemudian diproses dan setelah itu dibuang. Semua jenis
perlakuan ini mengakibatkan buangan air.
Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah
cair yang berbahaya bagi lingkungan. Bagi industri-industri besar, seperti industri pulp dan
kertas, teknologi pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai,
namun tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. Namun demikian, mengingat penting
dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan, penting bagi sektor
industri kehutanan untuk memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair.
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian
lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri
yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi
teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat
yang bersangkutan.
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah
dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah
dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:
1. pengolahan secara fisika
2. pengolahan secara kimia
3. pengolahan secara biologi
Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat
diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.
Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP 82 thn
2001). Jenis-jenis limbah cair dapat digolongkan berdasarkan pada :
a.Sifat Fisika dan Sifat Agregat . Keasaman sebagai salah satu contoh sifat limbah dapat
diukur dengan menggunakan metoda Titrimetrik
15
b. Parameter Logam, contohnya Arsenik (As) dengan metoda SSA
c. Anorganik non Metalik contohnya Amonia (NH3-N) dengan metoda Biru Indofenol
d. Organik Agregat contohnya Biological Oxygen Demand (BOD)
e. Mikroorganisme contohnya E Coli dengan metoda MPN
f. Sifat Khusus contohnya Asam Borat (H3 BO3) dengan metoda Titrimetrik
g. Air Laut contohnya Tembaga (Cu) dengan metoda SPR-IDA-SSA

(2) Limbah padat


Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik pada
umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan,
perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum. Jenis-jenis limbah padat:
kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur,
dll
Limbah padat adalah hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, bubur yang
berasal dari sisa proses pengolahan. Limbah ini dapat dikategorikan menjadi dua bagian,
yaitu limbah padat yaitu dapat didaur ulang, seperti plastik, tekstil, potongan logam dan
kedua limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis. Bagi limbah padat yang tidak punya
nilai ekonomis dapat ditangani dengan berbagai cara antara lain ditimbun pada suatu tempat,
diolah kembali kemudian dibuang dan dibakar.

(3) Limbah gas dan partikel


Polusi udara adalah tercemarnya udara oleh berberapa partikulat zat (limbah) yang
mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon
(asap kabut fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.Udara adalah media pencemar untuk
limbah gas. Limbah gas atau asap yang diproduksi pabrik keluar bersamaan dengan udara.
Secara alamiah udara mengandung unsur kimia seperti O2, N2, NO2, CO2, H2 dan
Jain-lain. Penambahan gas ke dalam udara melampaui kandungan alami akibat kegiatan
manusia akan menurunkan kualitas udara.
Zat pencemar melalui udara diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu partikel dan gas.
Partikel adalah butiran halus dan masih mungkin terlihat dengan mata telanjang seperti uap
air, debu, asap, kabut dan fume-Sedangkan pencemaran berbentuk gas tanya aapat dirasakan
melalui penciuman (untuk gas tertentu) ataupun akibat langsung. Gas-gas ini antara lain
SO2, NOx, CO, CO2, hidrokarbon dan lain-lain.
(4) Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Menurut PP RI No. 18/1999 tentang pengolahan limbah bahan berbahaya dan
beracun adalah sisa suatu kegiatan yang mengandung bahan berrbahaya dan beracun, yang
karena sifat dan atau konsentrasinya, baik secara langsung maupun tak langsung merusak
lingkungan hidup, kesehatan maupun manusia.
Limbah B3 dapat diklasifikasikan sebagai zat bahan yang mengandung satu atau lebih
senyawa:
 Mudah meledak (explosive)
 Pengoksidasi (oxidizing)
 Amat sangat mudah terbakar (extremely flammable)
 Sangat mudah terbakar (highly flammable)
 Mudah terbakar (flammable)
 Amat sangat beracun (extremely toxic)
 Sangat beracun (highly toxic)
 Beracun (moderately toxic)
 Berbahaya (harmful)
 Korosif (corrosive)
 Bersifat mengiritasi (irritant)
16
 Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)
 Karsinogenik/dapat menyebabkan kanker (carcinogenic)
 Teratogenik/dapat menyebabkan kecacatan janin (teratogenic)
 Mutagenik/dapat menyebabkan mutasi (mutagenic)
Zat atau bahan tersebut diatas diklasifikasikan sebagai limbah B3 karena memenuhi
satau atau lebih karakteristik limbah B3 berikut:
 Limbah mudah meledak, yaitu limbah yang pada suhu dan tekanan standar (250 C, 760
mmHg) dapat meledak dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan
tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan sekitarnya.
 Limbah mudah terbakar, yaitu limbah yang mempunyai salah atu sifat berikut:
 Limbah berupa cairan yang mengandung alkohol yang mengandung alkohol kurang dari
24% volume dan atau pada titik nyala tidak lebih dari 400C (1400F) akan menyala apabila
terjadi kontak dengan api, percikan api, atau sumber nyala lain pada tekanan udara 760
mmHg.
 Limbah bukan berupa cairan, yang pada temperatur dan tekanan standar (250C, 760mmHg)
dapat mudah menyebabkan kebakaran melalui gesekan, penyerapan uap air, atau perubahan
kimia secara spontan dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus
menerus.
 Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar.
 Merupakan limbah pengoksidasi.
 Limbah yang bersifat reaktif, yaitu limbah yang mempunyai salah satu sifat berikut:
 Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa
peledakan.
 Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air.
 Limbah yang apabila bercsmpur dengan air berpotensi menimbulkan ledakan, menghasilkan
gas, uap, atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan
lingkungan.
 Merupakan limbah sianida, sulfida, atau amonia yang pada kondisi pH antara 2 dan 12,5
dapat menghasilkan gas, uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi
kesehatan manusia dan lingkungan.
 Limbah yang mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar (250C,
760mmHg).
 Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah
organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.
Berbagai produk yang dapat menjadi limbah B3, yaitu:
 Produk Automotif, contoh: bahan bakar, oli kendaraan, aki, dan pembersih kendaraan.
 Produk untuk pemeliharaan rumah, contoh: cat, pewarna, pengencer cat.
 Pestisida, contoh: insektisida, racun tikus dan kamper.
 Pembersih rumah, contoh: pembersih lantai, pemutih, pengkilap oven
 Produk lainnya, contoh: baterai, kosmetik, dan pemoles sepatu.
Selain itu, limbah hasil industri menjadi salah satu persoalan serius di era industrialisasi.
Oleh karena itu, regulasi tentang industrialisasi ramah lingkungan menjadi isu penting. Alasan
yang mendasari sebab limbah tidak hanya dari proses produksi tapi juga kelangsungan hidup.
Oleh karena itu, pengolahan limbah harus dilakukan sedari dini ketika proses produksi terjadi.
Artinya, pengolahan limbah harus dilakukan dari hulu sampai hilir karena jika ini tidak
dilakukan maka ancaman terhadap pencemaran akan berakibat fatal. Urgensi penanganan dan
pengelolaan limbah hasil industri bahwa hasil produksi menimbulkan limbah yang rentan
terhadap lingkungan, baik berupa limbah cair, padat atau bentuk limbah lainnya. Oleh karena
itu, edukasi kepada pelaku usaha industri kecil terkait problem penanganan dan pengelolaan
limbah hasil usaha sangat penting. Persoalan mendasar penanganan dan pengelolaan limbah
yaitu tentang minimnya pengetahuan pelaku usaha, utamanya dari kelompok industri kecil. Hal
17
ini kemudian menjadi pembenar tentang rendahnya kesadaran dari pelaku usaha industri kecil
terhadap manajemen penanganan dan pengelolaan limbah. Persoalan lainnya yang terkait yaitu
tidak adanya titik temu antara mereka yang dapat memanfaatkan limbah dengan industri yang
menghasilkan limbah. Padahal secara ekonomi sebenarnya semua limbah dapat diolah untuk
memberikan manfaat sehingga memberikan nilai dan keuntungan ekonomi, yaitu tidak saja bagi
pelaku industri, tetapi juga pihakpihak yang berkepentingan terhadap limbah tersebut. Dari
beragam persoalan limbah dan relevansinya dengan pemanfaatan limbah, salah satunya isunya
yaitu penanganan dan pengelolaan limbah. Limbah cair yang dihasilkan dari industri kecil tahu
di berbagai daerah potensial untuk dikembangkan menjadi energi alternatif untuk pemenuhan
kebutuhan kegiatan rumah tangga dan lainnya.
Industrialisasi merupakan alternatif pilihan model pembangunan yang menjadi wajib
dilakukan oleh berbagai negara untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Terkait hal ini, di satu
sisi industrialisasi memberikan percepatan terhadap pertumbuhan, meski di sisi lain dampak dari
industrialisasi tetap harus diwaspadai. Fakta dari dampak tersebut salah satunya yaitu
keberadaan limbah hasil industri. Oleh karena itu, ini justru menimbulkan tuntutan terhadap
proses produksi yang ramah lingkungan. Bahkan proses perkembangan ini kemudian
menimbulkan revolusi hijau termasuk salah satunya yaitu munculnya tuntutan terhadap produk
hijau yaitu produk yang tidak hanya ramah lingkungan tapi juga bisa di daur ulang (Simpson,
2010). Persoalan limbah industrialisasi juga menjadi persoalan di kasus industri kecil. Hal ini
mengacu persoalan unit pengolah yang tidak ada karena berbagai pertimbangan, misal
ketersediaan lahan, biaya mahal dan kesadaran pelaku usaha industri kecil yang masih rendah
(Khalil dan Khan, 2009). Oleh karena itu, isu kajian tentang penanganan dan pengelolaan
limbah hasil industri, termasuk pada kasus di sentra industri kecil tahu di Kartasura menjadi
sangat menarik. Realita ini terutama mengacu nilai penting terkait manajemen lingkungan dan
komitmen terhadap penciptaan produk hijau yang ramah lingkungan karena bisa di daur ulang.
Sinergi antara industrialisasi dan manajemen lingkungan pada dasarnya terkait dua aspek
penting, pertama: minimalisasi sumber penghasil limbah. Hal ini mengacu prinsip produk yang
sekecil mungkin menghasilkan limbah. Artinya, hal ini tergantung jenis produk yang dihasilkan
dan proses untuk menciptakan produk itu sendiri. Oleh karena itu, setiap produk memiliki
karakteristik proses produksi tersendiri yang berbeda dengan produk lainnya dan ini secara tidak
langsung berpengaruh terhadap jenis limbah yang dihasilkan dan kualitas limbah. Relevan
dengan hal ini maka sistem otomatisasi dalam proses produksi diharapkan bisa mereduksi
sumber penghasil limbah. Selain itu, modernisasi alat-alat produksi juga bisa menjadi acuan
terhadap minimalisasi sumber penghasil limbah. Oleh karena itu, proses ini dikenal dengan zero
waste yang saat ini semakin berkembang dalam bentuk lean production di mayoritas industri.
Kedua: optimalisasi pemanfaatan limbah hasil industri. Jika mereduksi sumber penghasil limbah
tidak bisa dilakukan karena tergantung kepada jenis produk dan jenis proses produksinya maka
harapan terakhir dari industrialisasi adalah bagaimana upaya untuk melakukan optimalisasi
limbah yang dihasilkan. Proses ini terkait dengan proses pengolahan limbah selama proses
produksi sehingga hasil akhir dari pengolahan limbah adalah limbah yang minimalis. Selain itu,
proses pengolahan limbah juga berorientasi kepada pemanfaatan limbah yang bernilai sosial
ekonomi. Langkah ini dapat dilakukan sendiri dan atau bisa melibatkan unit usaha lain sehingga
memberikan keuntungan bagi industri dan juga pengolah limbah serta lingkungan, termasuk
juga masyarakat sebagai konsumen dari proses produksi yang dihasilkan.
Meski industri berskala kecil tapi kontribusi terhadap ekonomi domestik dan penyerapan
kerja cukup besar. Oleh karena itu, pemanfaatan limbanya perlu dioptimalkan.. Persoalan utama
proses produksi adalah limbah yang dihasilkan. Oleh karena itu tuntutan saat ini adalah zero
waste atau proses produksi minim limbah. Hal ini dapat dilakukan dilakukan dengan memulai
tahapan sumber produksi yang minim menghasilkan limbah. Artinya, bahan baku yang baik
berpengaruh pada hasil dengan limbah minim dan proses produksi yang baik juga berpengaruh
terhadap hasil akhir dan minimalisasi limbah. Terkait ini, penanganan limbah pada dasarnya
18
dimulai dari ketersediaan bahan baku dan juga proses produksi serta yang terakhir adalah
penanganan limbah yang dihasilkan. Komponen Pengolahan Limbah Hasil Produksi Beberapa
aspek yang harus diperhatikan terkait urgensi pengolahan limbah hasil produksi di sentra
industry yaitu :
1. Reduce
Prinsip reduce adalah meminimalisasi limbah, terutama hasil akhir proses produksi. Meski
demikian, bukan tidak mungkin tahap ini juga dapat dilakukan sedari awal yaitu bahan
baku dan proses produksi. Hal ini menunjukan semua proses produksi pada dasarnya
mampu diupayakan untuk menghasilkan limbah seminimal mungkin. Tahapan ini
biasanya dilakukan dengan sistem filterisasi sehingga semakin tinggi dari tingkatan
filterisasi maka secara otomatis limbah yang dihasilkan semakin berkurang, begitu juga
sebaliknya. Persoalan riil tahapan reduce yaitu minimnya etos pengusaha terhadap hal ini.
Selain itu, harapan terhadap optimalisasi kapasitas produksi juga terkadang memicu
sentimen negatif terhadap niat untuk mereduksi limbah hasil produksi. Oleh karena itu,
kesadaran untuk mencapai tahapan ini adalah sangat penting. Faktor yang mendukung hal
ini adalah minimnya permodalan dan keterbatasan lahan, termasuk juga minimnya ruang
gerak dari proses produksi yang dimiliki industri di berbagai daerah.

2. Reuse
Prinsip reuse adalah upaya pemanfaatan kembali limbah yang dihasilkan selama proses
produksi. Yang dimaksud pemanfaatan bisa dalam bentuk proses lanjutan atau pemanfaatan
untuk kegiatan di bidang yang lain, misalnya pakan ternak atau pemanfaatan lainnya. Terkait
hal ini inovasi dan eksplorasi terhadap pemanfaatan lain dari hasil proses produksi menjadi
sangat penting karena jumlah industri di Indonesia cukup banyak. Artinya, ini menjadi
peluang mencari potensi kemanfaatan dari melimpahnya limbah hasil produksi industri.
Persoalan reuse banyak disebabkan karena tidak adanya kepentingan yang bersinergi antara
limbah yang dihasilkan dengan tujuan pemanfaatan. Hal ini mengindikasikan pentingnya
mata rantai industri yang terbangun dari semua aspek, terutama hulu sampai hilir. Sinergi
industri dari hulu ke hilir memberikan peluang yang sangat besar terhadap pemanfaatan
semua limbah yang dihasilkan sehingga nilai potensi dari setiap limbah bisa diserap dan
dimanfaatkan bagi kepentingan industri lanjutan tanpa mengurangi kuantitas dan
kualitasnya. Oleh karena itu, semua industri seharusnya memikirkan pola seperti ini
sehingga persoalan limbah industri bisa direduksi dan secara tidak langsung model sinergi
ini mampu menciptakan zero waste di level industri apapun. Implikasi jangka panjang dari
model sinergi ini mampu menciptakan green production.
3. Recycle
Prinsip recycle adalah proses daur ulang dari limbah yang telah dihasilkan sehingga
bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain tanpa mengurangi produksi. Pemahaman recycle
tidak bisa lepas dari kepentingan untuk optimalisasi semua hasil akhir proses produksi, baik
itu berupa limbah padat, cair atau gas. Hal ini dapat dilakukan dengan proses kimia atau
non-kimia. Selain itu, proses recycle juga bisa dilakukan dengan cara alamiah, meski ini
membutuhkan waktu yang lebih lama terutama jika dibandingkan dengan cara yang
menggunakan proses percepatan. Selain itu, proses ini juga dimungkinkan dengan
pemanfaatan yang bersifat non-ekonomi.
Pemahaman daur ulang selama ini lebih menekankan aspek kepentingan ekonomi
semata, padahal persepsian daur ulang tidak hanya terfokus kepada kepentingan ekonomi tapi
juga kemanfaatan untuk aspek yang lebih luas. Oleh karena itu, pemanfaatan yang masih
mengacu mata rantai industri tahu tentu memberikan nilai positif, meski hal ini juga bisa
berkaitan dengan pemanfaatan di luar mata rantai industri tahu itu sendiri. Potensi daur ulang
semua limbah hasil industri pada dasarnya mampu memberikan peluang sehingga hal ini perlu
dikaji lebih lanjut.
19
Hasil indepth interview dan FGD menunjukan adanya sejumlah persoalan
pemanfaatan limbah hasil industri sehingga dapat diformulasikan titik temu antara
kepentingan pelaku usaha di sentra industri dan harapan minimalisasi limbah produksi sesuai
persepsian konsumen. Di satu sisi, sinergi antara harapan pengusaha industri dan konsumen
akan memberikan pengaruh positif kepada ekosistem dan lingkungan melalui produksi hijau
yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, munculnya kesadaran kolektif zero waste juga
berpengaruh bagi peningkatan produksi dan campur tangan pemerintah terhadap fluktuasi
harga bahan baku sehingga industri tidak terbebani harga bahan baku sebagai komponen
utama di industri. Oleh karena itu sinergi ini memberikan kemanfaatan semua pihak dan
implikasinya yaitu terjadinya peningkatan kesejahteraan pengusaha dan juga terpenuhinya
kebutuhan pangan konsumsi. Keberhasilan terkait hal ini akan menumbuhkan kesadaran
kolektif tentang pentingnya produksi hijau yang ramah lingkungan, tidak saja di industri
tahu yang bersifat home industry, tetapi juga bisa dikembangkan untuk semua kategori
industri. Komitmen terhadap tuntutan ini pada dasarnya juga mendukung kampanye global
tentang pentingnya zero waste untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di semua lini
produksi, mulai dari bahan baku sampai hasil akhir produksi. Hasil analisis menunjukan
pemanfaatan limbah industri mengacu kepada banyak aspek kepentingan, terutama yang
mengakomodasi kepentingan VOP – VOC dan kepentingan industrialisasi yang saat ini
menuntut ramah lingkungan dan produksi hijau. Oleh karena itu, model optimalisasi
pemanfaatan limbah hasil industri terlibat pada gambar berikut:

D. KEMASAN
Kemasan adalah pelindung dari suatu barang, baik barang biasa mau pun barang- barang hasil
produksi industri. Dalam dunia industri kemasan merupakan pemenuhan suatu kebutuhan akibat
adanya hubungan antara penghasil barang dengan masyarakat pembeli. Untuk keperluan ini
kemasan harus dapat menyandang beberapa fungsi yang harus dimilikinya seperti:
- tempat atau wadah dalam bentuk tertentu dan dapat melindungi barang dari kemungkinan
rusak, sejak keluar dari pabrik sampai ke tangan pembeli, bahkan masih dapat digunakan
sebagai wadah setelah isi barang habis terpakai, (dalam hal ini wadah tersebut masih
menyandang fungsiiklannya).
- Kemasan bukan hanya sebuah bungkus, tapi juga pelengkap rumah tangga; sebuah botol
kecap bagus dengan etiketnya yang menarik dapat menyemarakkan suasana tertentu di
meja makan atau lemari di dapur; sebuah tempat kertas lap “Klenex” yang didesain
20
menarik dapat memperindah kamar mandi dan botol parfum yang cantik memberikan
kekhasan meja berhias seoranggadis.

- mutu kemasan dapat menumbuhkan kepercayaan dan pelengkap citradiri dan


mempengaruhi calon pembeli untuk menjatuhkan pilihan terhadap barang yang
dikemasnya (bungkus rokok yangberwibawa).
- kemasan mempunyai kemudahan dalam pemakaiannya (buka, tutup, pegang, bawa) tanpa
mengurangi mutu ketahanannya dalam melindungibarang.
- rupa luar kemasan harus sesegera mungkin menimbulkan kesan yang benar tentang jenis
isi barang yang dikemas.
- perencanaan yang baik dalam hal ukuran dan bentuk, sehingga efisien dan tidak sulit
dalam hal pengepakan, pengiriman serta penempatan, demikian pula penyusunan dalam
lemaripajang.
- melalui bentuk dan tata rupa yang dimilikinya kemasan berfungsi sebagai alat pemasar
untuk mempertinggi daya jual barang. Dalam fungsi ini desain bentuk- kemasan harus
mendapat dukungan penuh dari unsur desain-grafisnya, sehingga bentuk kemasan selain
menarik harus dapat menyampaikan keterangan dan pesan- pesannyasendiri.
- Mengingat konsumen Indonesia yang sebagian besar masih terbatas kemampuan melek
hurufnya, maka sampai dengan pertengahan abad ini kita masih melihat bahasa gambar
sangat banyak dipergunakan di samping bahasa warna dan huruf. Hal ini, dibuktikan
dalam desain-desain merek-dagang, etiket kemasan, serta penggunaan warna untuk
memperkuat identitas produktersebut.

21