Anda di halaman 1dari 17

TELAAH JURNAL

The Effect of Auditory Hallucinations Management Program on Quality


of Life For Schizophrenic Inpatients, Egypt

Pengaruh Program Manajemen Halusinasi Pendengaran pada Kualitas


Hidup Untuk Pasien Rawat Inap Skizofrenia, Mesir

STASE JIWA

Nama: Risdia Astrid


NIM: 1911102412021

Dosen Pembimbing:
Ns. Ni Wayan Wiwin., M.Kep

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR
2019
FORMAT TELAAH JURNAL

I. DESKRIPSI UMUM :
No Item

1 Judul Jurnal ;

The Effect of Auditory Hallucinations Management Program on Quality of


Life For Schizophrenic Inpatients, Egypt

Pengaruh Program Manajemen Halusinasi Pendengaran pada Kualitas


Hidup Untuk Pasien Rawat Inap Skizofrenia, Mesir

2 Penulis Jurnal ; Eman S. Abd ELhay, Mona A. El-Bilsha, Mohamed H. El-


Atroni

3 Nama Jurnal/dipublikasikan oleh ; IOSR Journal of Nursing and Health


Science (IOSR-JNHS e-ISSN: 2320–1959.p- ISSN: 2320–1940 Volume 6,
Issue 1 Ver. VII (Jan. - Feb. 2017), PP 01-11 www.iosrjournals.org

4 Penelaah/review Jurnal ; Risdia Astrid

5 Sistematika penulisan ; IMRAD (Introduction, Method, Result, And,


Discussions)

6 Referensi Daftar Pustaka ; Vancouver Style (Menggunakan bullet angka)

Terdapat 32 referensi, terdiri dari jurnal dan buku dengan rentang tahun
1996 -2015
II. DESKRIPSI CONTENT :

N Komponen Item Question to help " Telaah Jurnal"


o Jurnal
1 Pendahuluan 1. Apa Masalah Penelitian?

Halusinasi pendengaran banyak terjadi pada orang dengan


skizofrenia, walaupun dalam pengobatan dosis tinggi, sejumlah besar
pasien masih mengalami halusinasi pendengaran yang menyusahkan.
Lebih lanjut, pasien skizofrenia yang memiliki suara-suara sulit yang
persisten menggunakan teknik-teknik berbahaya sebagai cara untuk
mengelola halusinasi pendengara. Sehingga peneliti tertarik untuk
meneliti terapi selain obat yang dapat meningkatkan kualitas hidup
pasien dengan halusinasi pendengaran.
2. Seberapa besar masalah tersebut? (Prevalensi/insidensi masalah, ada
peningkatannya)

Diperkirakan 90% pasien dengan skizofrenia mengalami halusinasi.


Tujuh puluh lima persen pasien skizofrenia biasanya mengalami
halusinasi pendengaran. Halusinasi pendengaran banyak terjadi pada
orang dengan skizofrenia. Meskipun dosis obat yang tinggi, sejumlah
besar (25% -50%) dari pasien dengan skizofrenia masih mengalami
halusinasi pendengaran yang menyedihkan dan menjadi gejala yang
persisten. Abd Elhay (2008), menyatakan bahwa 77% dari pasien
skizofrenia yang diteliti bereaksi terhadap halusinasi pendengaran
dengan kemarahan, dan perasaan takut dan cemas terhadap suara-
suara tersebut. Selain itu, 91% dari pasien skizofrenia yang diteliti
menggunakan teknik berbahaya seperti "melukai diri sendiri" dan
"melakukan seperti yang dikatakan suara" sebagai cara untuk
mengelola halusinasi pendengaran.
3. Dampak masalah jika tidak diatasi?

Dampak yang terjadi jika masalah tidak diatasi ialah menurunya


kualitas hidup pasien zkizofrenia dengan halusinasi pendengaran,
seperti melukai diri sendiri dan melakukan seperti yang dikatakan
suara. Selain itu penggunaan obat-obatan jangka panjang juga akan
berpengaruh terhadap kehidupan pasien yang menggagu seperti,
seperti kenaikan berat badan, penurunan libido, dan kegelisahan.
4. Bagaimana kesenjangan yang terjadi ? Bandingkan antara masalah
yang ada/kenyataan dengan
harapan/target?
Kesen jangan tentang penanganan pasien dengan skhizofrenia halusinasi
pendengaran selama ini haya mengandalkan obat-obatan medis saja akan
tetapi masih sangat kurang untuk mengatasi masalah halusinasi
pendengaran yang dirasakan. Pasien dengan halusinasi pendengaran
selama ini melampiaskan perasaannya dengan marah-marah dan
melakukan tindkan berbahaya. Sehingga harapan peneliti manajemen
halusinasi pendengran ini dapat berpengaruh memperbaiki kualitas hidup
pasien halusinasi pendengaran.
4. Berdasarkan masalah penelian, apa tujuan dan hipotesis yang
ditetapkan oleh peneliti

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari program


manajemen halusinasi pendengaran pada kualitas hidup bagi pasien
rawat inap skizofrenia.
2 METHODE
1. 1. Desain penelitian apa yang digunakan?
Desain
Penelitian ini menggunakan design Quasi-experimental design atau
peneliti
eksperimen semu.
an

Untuk Desain Eksperimen :


a. Apakah menggunakan kelompok kontrol untuk menentukan efektifitas
suatu intervensi?

Iya, peneliti menggunakan kelompok kontrol sebanyak 50 pasien

b. Apakah peneliti melakukan random alokasi (randomisasi)?

Ya, peneiti melakukan randomisasi tetapi jenis random tidak


disebutkan
c. jika peneliti melakukan randomisasi, bagaimana prosedurnya, apakah
dilakukan randomisasi
sederhana, blok, stratifikasi? Siapa yang melakukan randomisasi?
Pengacakan sederhana dengan mengambil nama mereka dari kolam.
d. Jika ternyata pada data dasar (base line) terdapat perbedaan
karakteristik/variabel perancu pada kedua kelompok, apakah peneliti
melakukan pengendalian pada uji statistik dengan stratifikasi atau
uji multivariate?
Tidak dijelaskan adanya variabel perancu maupun data yang menunjukkan
perbedaan karakteristik
e. Apakah peneliti melakukan masking atau penyamaran dalam
memberikan perlakuan pada responden (responden tidak menyadari
apakah sedang mendapatkan intervensi yang di uji
cobakan?
Pasien mengetahui atau menyadari akan dilakukan uji coba, hal ini
diketahui melalui adanya persetujuan tertulis dan dibacakan bagi pasien
yang buta akan baca tulis sehingga penelitian ini sangat tranparan.
f. untuk menjamin kualitas pengukuran, apakah peneliti melakukan
blinding saat mengukur outcome? Blinding merupakan upaya agar
sampel atau peneliti tidak mengetahui kedalam kelompok mana
sampel dimasukkan (eksperimen atau kontrol ). Hal ini menunjukkan
upaya peneliti meningkatkan validitas informasi.

Peneliti tidak ada menjelaskan blinding saat mengukur outcome (tidak


menjelaskan setiap sampel masuk ke dalam kelompok eksperimen atau
kelompok kontrol)
2. Populasi 1. Siapa populasi target dan populasi terjangkau ?
dan
Pasien pasien skizofrenia yang dirawat di rumah Sakit El-Maamoura untuk
Sampel
Pengobatan Psikiatri, di Alexandria. Rumah sakit ini berafiliasi dengan
kementerian kesehatan.

2. Siapa sampel penelitian ? Apa kriteria inklusi dan ekslusi sampel ?

Sampel: pasien Skhizofrenia

Kriteria inklusi:

 Pasien yang memenuhi kriteria untuk skizofrenia dan mengakui


adanya halusinasi pendengaran.

 Dewasa berusia antara 18 hingga 55 tahun.

 Pasien dari kedua jenis kelamin.

 Pasien yang bersedia berpartisipasi dalam program manajemen


halusinasi pendengaran untuk mengelola halusinasi pendengaran
mereka.

Kriteria inklusi

 Pasien skizoafektif,

 Pasien yang menerima terapi electroconvulsive atau yang


mengonsumsi obat-obatan terlarang, dan

 Pasien yang tidak kooperatif atau dengan ucapan tidak koheren


dikeluarkan dari penelitian.

 Terdapat kondisi patologis sehingga mengganggu partisipasi.


3. bagaimana metode sampling yang digunakan untuk memilih sampel dari
populasi target ?

Metode samplingyang di jelaskan hanya klien mengambil sampel secar


acak sederhanadengan mengambil nama yang ada di klom dan menilai
sesuai dengan kriteria inklusi baik wanita atau pria.

4. berapa jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ? Metode atau


rumus apa yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel ?

jumlah sampel: ditentukan melalui tabel ukuran sampel

kelompok A (Intervensi): 50 pasien


kelompok B (kontrol): 50 pasien

3. 1. variabel apa saja yang diukur dalam penelitian ?


Pengukura
Variabel independent yaitu manejemen halusinasi pendengaran dan
n atau
variabel dependent yaitu kualitas hidup.
pengumpu
2. Metode apa yang digunakan untuk mengumpulkan data ?
lan data
Peneliti menggunakan metode kusioner untuk mengumpulkan data
penelitian yaitu menggunakan kusioner skala penilaian halusinasi dan
kuisioner SQLS-R4.
3. Alat ukur apa yang digunakan untuk mengumpulkan data ?

Alat (I): Karakteristik Skala Penilaian Halusinasi Auditori. Skala


awalnya dikembangkan oleh (Oulis et al, 2007). Skala mengukur berbagai
parameter halusinasi. Ini terdiri dari 18 item, yang masing-masing dinilai
dari satu hingga tiga; satu adalah keparahan terendah sedangkan tiga
menunjukkan keparahan tertinggi. Skor keparahan halusinasi berkisar
antara 18 hingga 54 [22].

Alat (II): Kualitas Skizofrenia Revisi Skala Hidup 4 (SQLS-R4). Skala


ini awalnya dikembangkan oleh (Wilkinson et al, 2000) dan versi modifikasi
dari skala skizofrenia kualitas hidup tersedia pada tesis yang diterbitkan
(Kuo et al, 2007). SQLS-R4 memiliki konsistensi internal yang baik,
keandalan tes-retest yang baik, dan validitas konvergen yang dapat
diterima. Skala ini mengukur kualitas hidup pasien skizofrenia.

4. bagaimana validitas dan realibilitas alat ukur/ instrumen yang


digunakan ? Apakah peneliti menguji validitas dan reliabilitas alat
ukur ? Jika dilakukan apa metode yang digunakan untuk
menguji validitas dan realibitas alat ukur dan bagaimana hasilnya ?
Alat I dan II diterjemahkan ke dalam bahasa Arab; dan diuji untuk validitas
konten oleh juri dari 5 ahli di bidang keperawatan psikiatri dan kesehatan
mental. Alat I dan alat II diuji reliabilitasnya menggunakan Alpha
Cronbach's (∞ = 93,3 dan 90,2) pada 20 pasien dengan skizofrenia
menggunakan metode tes-tes ulang dengan periode waktu dua minggu di
antara masing-masing dari mereka. Mereka dikeluarkan dari subjek
penelitian.
5. Siapa yang melakukan pengukuran atau pengumpulan data ? Apakah
dilakukan pelatihan khusus untuk observer atau yang melakukan
pengukuran ?
pengukuran dan pengumpulan data dilakukan oleh peneliti.

4. Analisis 1. Uji statistik apa yang digunakan untuk menguji hipotesis atau
Data menganalisis data ?

Uji statistik Pearson


2. untuk penelitian eksperimen apakah peneliti menggunakan metode
intention to treat atau on reatment analysis?
Seluruh sampel mengikuti penelitian sampai selesai
a. Intention To Treat adalah menganalisis semua sampel yang mengikuti
penelitian, baik yang drop out, loss of follow up atau berhenti sebelum
penelitian selesai. Sampel yang drop out dianggap hasil
intervensi yang gagal.
b. on treatment analysis hanya menganalisis sampel yang mengikuti
penelitian sampai selesai saja,
sedangkan sampel drop out dianggap tidak mengikuti penelitian dan tidak
diikutkan dalam analisis. Tidak ada dijelakan mengenai sampel yang
berhenti atau drop out.
3. Program atau Softhware statistik apa yang digunakan peneliti untuk
menganalisis data ?

Peneliti menggunakan Paket Statistik untuk Ilmu Sosial (SPSS 17) dan
Windows Versi 8.0.

3 HASIL
PENELITIAN
1. Alur 1. bagaimana alur (flow) penelitian yang menggambarkan responden yang
penelitian mengikuti penelitian
dan data Penelitian ini melibatkan 3 fase :
base line  Fase I: Pemilihan subyek, memilih sampel secara acak sederhana dari
semua kamar yang tersedia baik laki-laki maupun perempuan.
Kemudian membagi kedalam dua kelompok kontrol dan intervensi
sebanyak masing-masing 50 orang, untuk kelompok intervensi dibagi
lagi menjadi 8 kelompok kecil lagi untuk lebih mudah mengajarkan
menejemen halusinasi pendengaran.
 Fase II : implementasi program manajemen halusinasi pendengaran
Fase ini diarahkan pada pelaksanaan program manajemen halusinasi
pendengaran untuk pasien skizofrenia yang memiliki halusinasi
pendengaran setelah meninjau literatur terkait (Buffum, et al 2014;
Buccheri et al., 2013; Trygstad et al., 2010; Chen et al., 2009; Buccheri
et al., 2009). Implementasi meliputi 10 sesi pelaksanaan menjemen
halusinasi pendengaran.
 Fase III : Pengumpulan data, Segera dan dua bulan setelah program
selesai, post test dilakukan untuk kelompok studi setelah melakukan
sepuluh sesi program manajemen halusinasi pendengaran melalui
penerapan alat studi pada setiap pasien pada basis individu.

2. Bagaimana karakteristik responden dan baseline data?

Telah dijelaskan pada kriteria inklusi dan eksklusi


3. Pada penelitian eksperimen apakah variabel perancu (counfounding
variabel) dalam data base line tersebar seimbang pada setiap kelompok?
jika tidak seimbang apa dilakukan peneliti untuk membuat penelitian bebas
dari pengaruh variabel perancu?
Tidak ada variabel perancu, data tersebar secara seimbang.
2. Hasil 1. Apa hasil utama dari penelitian? Jika peneliti melakukan uji hipotesis,
Peneliti apakah hipotesis penelitian terbukti atau tidak terbukti(bermakna atau
an tidak secara statistik)?apakah hasil penelitian juga bermakna secara
klinis?
Hasil:
Temuan ini mendokumentasikan bahwa program manajemen halusinasi
pendengaran mengarah pada peningkatan kualitas hidup pasien, itu
terbukti efektif dalam mengurangi tingkat keparahan halusinasi
pendengaran di pasien dengan skizofrenia.Ada korelasi positif yang
signifikan antara kualitas total skizofrenia hidup dan keparahan halusinasi
pendengaran. Implikasi untuk studi lebih lanjut diperlukan untuk
mengevaluasi efektivitas tindak lanjut jangka panjang dari program
manajemen gejala halusinasi pendengaran pada kualitas hidup skizofrenia
samgat disarankan, dengan nilai p = 0,008. Perbedaan skor SqoL
kelompok intervensi dan kontrol sebesar p=0,0001.

2. Untuk penelitian eksperimn dengan variabel dependen kategorik,


apakah peneliti menjelaskan tentang nilai kpentingan klinis dari hasil
penelitian seperti number need to treat(NNT), relative risk
reduction(RRR) atau absolute risk reduction (ARR)
- Tidak menjelasakn
4 Diskusi 1. Bagaimana interprestasi peneliti terhadap hasil penelitian? Apakah
(discuss) peneliti membuat interprestasi yang rasional dan ilmiah tentang hal-hal
yang ditemukan dalam penelitian berdasarkan teori terkini? Catatan :
meskipun hasil penelitian tidak sesuai dengan hipotesis, namun suatu
penelitian tetap berkualitas jika peneliti mampu menjelaskan rasional
secara ilmiah mengapa hipotesisnya tidak terbukti.

Peneliti menejelaskan pengaruh menejemen halusinasi pendengaran ini


dengan sangat lengkap dan terinci, dimana menejemen halusinasi
pendengaran ini memiliki efek menguntungkan dari program manajemen
halusinasi pendengaran pada kualitas hidup, halusinasi pendengaran
(yaitu Ketika karakteristik klinis halusinasi pendengaran meningkat,
kualitas hidup skizofrenia juga meningkat). Pemberian pengetahuan
tentang halusinasi pendengaran merupakan latar belakang penting bagi
pasien untuk meninjau pengalaman gejala mereka. Ditemukan bahwa
pasien skizofrenia mengalami halusinasi pendengaran dan mereka
memiliki cara untuk mengelola gejala sendiri. Program manajemen
halusinasi pendengaran mempromosikan kemampuan pasien untuk
mengatur suara secara adaptif. Para pasien juga belajar tentang suara
mereka, dampak suara itu pada kehidupan dan gaya hidup mereka. Selain
itu diskusi kelompok membantu pasien dalam mengevaluasi dan membuat
keputusan untuk strategi yang tepat bagi mereka.

2. Bagaimana peneliti membandingkan hasil penelitiannya dengan


penelitian-penelitian terdahulu
serta teori yang ada saat ini untuk menunjukkan adanya relevansi?

Penelitian terdahulu dengan hasil penelitian yang dilakukan saat ini meliki
kesamaan atau relevansi sehingga penelitian ini sangat kuat.
3. Bagaimana peneliti menjelaskan makna dan relevansi hasil
penelitiannya dengan perkembangan ilmu keperawatan/kesehatan serta
terhadap pemecahan masalah?

Terapi menejemen halusinasi pendengaran ini bisa menjadi terapi


komplomenter yang dapa diberikan kepada semua pasien skhizofrenia
dengan halusinasi pendengaran, misalnya dapat membantu pasien
mengenali suara haluinainya, mengontrol perilaku saat halusinasinya
datang, dapt berbagi cerita saat halusinasinya datang, dan dapat
mengenal pengalamannya dimasa lalu sehingga meningkatkan kualitas
hidup pasien.
5. Bagaiman nilai kepentingan (importancy)hasil penelitian?

Nilai kepentingan dari hasil penelitian adalah terapi menejemn


halusinasi pendengaran ini sangat penting dan bermanfaat bagi
penderita skhizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Tidak hanya
berdampak padakualitas hidup yang mningkat menejemn halusinasi
pendengaran ini dapat mengurangi tingkat keparahan halusinasi yang
dirasakannya. Terapi ini sangat mudah dilakukan, dan tidak
memerlukan modal yang besar.
5. Bagaimana applicability hasil penelitian menurut peneliti?apakah hasil
penelitian dapat diterapkan pada tatanan praktik keperawatan ditinjau dari
aspek fasilitas,pembiayaan, sumber daya manusia, dan aspek legal?

Hasil penelitian ini dapat diterapkan disemua pelayanan kesehatn jiwa


diseluruh daerah Indonesia, mengingat cara yang muda, biaya murah
dan tanpa efek samping yang berkepanjangan..
6. Apakah mungkin penelitian ini direplukasi pada setting praktik klinik
lainnya?

Iya memungkinkan, akan tetapi dengan kententuan klinik memiliki SOP


yang telah ditetapkan sebagai bahan rujukan untuk terapi. Dalam
penelitian ini, peneliti mengungkapkan bahwa intervensi halusinasi
pendengaran ini terbukti efektif untuk menurunkan tingkat keparahan
halusinasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien skizofrenia.
7. Apakah peneliti menjelaskan kekuatan dan kelemahan penelitian?
Apakah kelemahan ini tidak menurunkan validitas hasil penelitian?

Penelitian ini adalah langkah pertama dari pengembangan program


manajemen halusinasi pendengaran. Itu pengurangan karakteristik dan
keparahan halusinasi pendengaran yang ditemukan dalam penelitian ini
mungkin hasil dari perawatan medis juga, yang telah diterima pasien
secara terus menerus. Efek-efek yang mungkin tidak terjadi diperhitungkan
hasil penelitian ini.

by Ns. Enok Sureskiarti.,M.Kep


DAFTAR PUSTAKA

1). NIMH, 2011), National Institute of Mental Health (NIMH, 2011). Schizophrenia. Retrieved May
20, 2011, from http://www.nimh.nih.gov/health/publications/schizophrenia/complete-
indx.shtml Nilsson, L.-L.,

[2]. Bagul, A. C. (2012). “ effect of coping strategies on chronic drug resistant auditory
hallucination in schizophrenia : a cross over study”. The Indian Journal of Occupational
Therapy, 44 (1), 20–29.

[3]. Halter, M.J. (2014). Varcarolis’ foundation of psychiatric mental health nursing : a clinical
approach. (7th ed.). St. Louis, MO: Saunders/Elsevier.

[4]. Woodruff, P. W. R. (2004). Auditory hallucinations: insights and questions from neuro-
imaging. Cognitive Neuropsychiatry, 9,73–9210.1080/13546800344000165 [PubMed]
[Cross Ref]

[5]. HW So, S. & Wong, C.W. (2008). Experience and coping with auditory hallucinations in first-
episode psychosis : Relationship with stress coping, (5). Hong kong journal of
psychiatry , 5(18):115-21

[6]. Carter, D.M., Mackinnon, A. & Copolov, D.L. (1996). Patients’ strategies for coping with
auditory hallucinations. Journal of Nervous and Mental Disease, 184, 159–164

[7]. Abd Elhay, E. S. (2008). Self management of auditory hallucination among schizophrenic
inpatients. Published Master Thesis. Faculty of Nursing. Alexandria University- Egypt

[8]. American Psychiatric Association (APA). (1997). Diagnostic and statistical manual of mental
disorders. American Psychiatric Association (APA): Washington, DC: American
Psychiatric Association

[9]. Wilkinson, G., Hesdon, B., Wild, D., Cookson, R., Farina, C., Sharma, V., Fitzpatrick, R., &
Jenkinson, C., (2000). Self-report quality of life measure for people with schizophrenia:
the SQLS. British Journal of Psychiatry, 177, 42–46

[10]. Awad, AG, Voruganti, LNP. (2000). Intervention research in psychosis: issues related to the
assessment of quality of life. Schizophrenia Bull; 26: 557-64.

[11]. Badan Bâ. M. (2008). Auditory hallucinations and quality of life of psychotic patients.
Schizophrenia Research (2)102/1–3

[12]. Alshowkan, A., Curtis, J, White, Y. (2015). Factors Affecting the Quality of Life for People
with Schizophrenia in Saudi Arabia: A Qualitative Study. Journal of Psychiatry, 18: 295
doi: 10.4172/2378-5756.1000295
[13]. Tsai, Y. F., & Ku, Y. C. (2005). Self-care symptom management strategies for auditory
hallucinations among inpatients with schizophrenia at a veterans’ hospital in Taiwan.
Archives of Psychiatric Nursing, 19(4), 194–199.
http://doi.org/10.1016/j.apnu.2005.05.005

[14]. Kanungpairn, T., Sitthimongkol, Y., Wattanapailin, A., & Klainin, P. (2007). Effects of a
symptom management program on auditory hallucinations in Thai outpatients with a
diagnosis of schizophrenia: A pilot study. Nursing and Health Sciences, 9, 34–39.
http://doi.org/10.1111/j.1442-2018.2007.00302.x

[15]. Buffum, M. D., Buccheri, R. K., & Trygstad, L. N. (2014). Dissemination of 10-Session
Behavioral Management of Auditory Hallucinations Course in Mental Health Outpatient
Settings. Journal of Psychosocial nursing . 52, (4),15-23

[16]. Buccheri, R. K., Trygstad, L. N., Buffum, M. D., Birmingham, P., & Dowling, G. A. (2013).
Self-Management of Unpleasant Auditory Hallucinations A Tested Practice Model.
Journal of Psychosocial Nursing and Mental Health Services, 51(11), 26–34.
http://doi.org/10.3928/02793695-20130731-02

[17]. Trygstad, L., Buccheri, R., Dowling, G., Zind, R., White, K., Griffin, J. J. & Hebert, P. (2002).
Behavioral management of persistent auditory hallucinations in schizophrenia:
Outcomes from a 10-week course. Journal of the American Psychiatric Nurses
Association, 8(3), 84–91. http://doi.org/10.1067/mpn.2002.125223

[18]. Linder, L. (2010). Analysis of the UCSF Symptom Management Theory: Implications for
Pediatric Oncology Nursing. Journal of Pediatric Oncology Nursing, 27(6), 316–324.
http://doi.org/10.1177/1043454210368532

[19]. Chen, W.-C., Chu, H., Lu, R.-B., Chou, Y.-H., Chen, C.-H., Chang, Y.-C., Chou, K.-R. (2009).
Efficacy of progressive muscle relaxation training in reducing anxiety in patients with
acute schizophrenia. Journal of Clinical Nursing, 18(15), 2187–2196.
http://doi.org/10.1111/j.1365-2702.2008.02773.x

[20]. Buccheri, R. K., Trygstad, L. N., Buffum, M. D., Lyttle, K., & Dowling, G. (2010).
Comprehensive evidence-based program teaching self-management of auditory
hallucinations on inpatient psychiatric units. Issues in Mental Health Nursing, 31(3),
223–231. http://doi.org/10.3109/01612840903288568

[21]. Dodd, M., Janson, S., Facione, N., Faucett, J., Froelicher, E. S., Humphreys, J., Taylor, D.
(2001). Advancing the science ofsymptom management. Journal of Advanced Nursing,
33(5), 668–676. http://doi.org/10.1046/j.1365-2648.2001.01697.x

[22]. Oulis P, Gournellis R, Konstantakopoulos G, Matsoukas T , Micalopoulou P. G, Soldatos C,&


Lykouras L .(2007). Clinical dimensions of auditory hallucinations in schizophrenic
disorders. Comprehensive psychiatry,48:337-342

[23]. Kuo, P.J, Chen-Sea, M.J, Lu, R.B.( 2007). Validation of the Chinese version of the
Schizophrenia Quality of Life Scale Revision 4 (SQLS-R4) in Taiwanese patients with
schizophrenia. Quality Life Research, 16:1533–8.

Daalman, K., Verkooijen, S., Derks, E. M., Aleman, A., & Sommer, I. E. C. (2012). The influence
of semantic top-down processing in auditory verbal hallucinations. Schizophrenia
Research, 139(1–3), 82–86. http://doi.org/10.1016/j.schres.2012.06.005

[25]. Yang, C.-Y., Lee, T.-H., Lo, S.-C., & Beckstead, J. W. (2015). The effects of auditory
hallucination symptom management programme for people with schizophrenia: a quasi-
experimental design. Journal of Advanced Nursing, 71(12), 2886–2897.
http://doi.org/10.1111/jan.12754

[26]. Mann S, Chong B (2004). The effect of symptoms coping program in reducing psychotic
symptoms and enhancing functions in Chinese with schizophrenia. American Journal of
Psychiatric Rehabilitation, 7: 69-82.

[27]. Singer, A. R., & Addington, D. E. (2009). The Application of Cognitive Therapy for Command
Hallucinations. Cognitive and Behavioral Practice, 16(1), 73–83.
http://doi.org/10.1016/j.cbpra.2008.03.003

[28]. Wkes, T., Parr, A.M., Landau, S. (1999). Group treatment of auditory hallucinations,
(8 );175:180-5.

[29]. Naber, D., Karow, A., & Lambert, M. (2002). Psychosocial outcomes in patients with
schizophrenia: Quality of life and reintegration. Current Opinion in Psychiatry, 15(1), 31–
36. http://doi.org/10.1097/00001504-200201000-00006

[30]. Mankiewicz, P. D., & Turner, C. (2014). Cognitive restructuring and graded behavioral
exposure for delusional appraisals of auditory hallucinations and co-morbid anxiety in
paranoid schizophrenia. Case Reports in Psychiatry,12, (4) 564.
http://doi.org/10.1155/2014/124564

[31]. Awad, A. G., & Voruganti, L. N. (2012). Measuring quality of life in patients with
schizophrenia: an update. Pharmacoeconomics,30(3), 183–195.
http://doi.org/10.2165/11594470-000000000-00000

[32]. El Sheshtawy, E. A. M. (2011). Coping with stress and quality of life in schizophrenic
patients. Asian Journal of Psychiatry, 4(1),51–4. http://doi.org/10.1016/j.ajp.2010.09.003