Anda di halaman 1dari 7

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PENCEGAHAN PENYAKIT KUSTA

Topik : Pencegahan Penyakit Kusta

Sasaran : Komunitas

Hari/Tanggal : Selasa, 30 Juli 2019

Tempat : Rumah Pasien

Waktu / Jam : 20 Menit / 11.00 – Selesai.

Penyaji : Putri Ekawati, S.Kep

A. TUJUAN
1. TIU (Tujuan Intruksional Umum) :
Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan selama 20 menit, peserta mampu mengerti
tentang penyakit Kusta dan memahami cara pencegahan penyakit kusta.
2. TIK (Tujuan Intruksional Khusus)
a. Menjelaskan tentang penyakit Kusta
b. Menjelaskan penyebab Kusta
c. Menjelaskan tanda dan gejala Kusta
d. Menjelaskan tentang pencegahan Kusta

B. MEDIA
1. Leaflet

C. METODE
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
D. KEGIATAN PENYULUHAN

NO KEGIATAN WAKTU KEGIATAN SASARAN


1. 1.2. Pembukaan
3. 1. Memberi salam Menjawab salam
4. 2. Menjelaskan maksud dan tujuan 5 menit Memperhatikan

2. B. Penyampaian isi materi


1. Pengertian kusta Memperhatikan
2. Penyebab dari kusta. 10 menit Memperhatikan
3. Gejala dari kusta. Memperhatikan
4. Menjelaskan cara penularan Kusta. Memperhatikan
5. Menjelaskan gejala Kusta. Memperhatikan
6. Menjelaskan pencegahan Kusta. Memperhatikan

3. Penutup 5 menit
1. Memberikan lansia bertanya Bertanya
2. Memberikan timbal balik Memperhatikan
3. Memberikan pertanyaan secara Menjawab
lisan
4. Memberikan reinfocmen positif Reinfocmen
5. Mengucapkan salam penutup Menjawab salam

E. EVALUASI
1. Struktur : Pada saat penyuluhan Leaflet dan Power point telah disiapkan sebelum
penyampaian materi.
2. Proses : Penyuluhan berlangsung dengan baik, Peserta tertib dan sangat antusias
memperhatikan pada saat penyampaian materi, penyuluhan mulai pukul 10.30 WIB tepat.
3. Hasil : Peserta sudah mengerti tentang materi yang di sampaikan oleh moderator pada
saat melakukan evaluasi.
F. MATERI
1. Pengertian Kusta
Penyakit kusta adalah penyakit menular, menahun (lama) yang disebabkan oleh
kuman kusta (Mycobacterium leprae). Penyakit tersebut menyerang kulit, saraf tepi dan
dapat menyerang jaringan tubuh lainnya kecuali otak. Kusta bukan penyakit keturunan,
dan bukan disebabkan oleh kutukan, guna-guna, dosa atau makanan.
Penyakit kusta adalah penyakit infeksi yang kronik, dan penyebabnya ialah
Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai afinitas
pertama, lalu kulit dan ukosa traktus respiratirius bagian atas, kemudian dapat ke organ
lain kecuali susunan saraf pusat (Djuanda Adhi,2010).

2. Penyebab penyakit kusta


Dibandingkan M.tuberculosis, basil tahan asam Mycobacterium leprae tidak
memproduksi eksotoksin dan enzim litik. Selain itu, kuman ini merupakan satu-satunya
mikobakteria yang belum dibiakkan in vitro. Mikobakteria ini secara primer menyerang
system saraf tepi dan terutama pada tipe lepromatosa, secara sekunder dapat menyerang
seluruh organ tubuh lain seperti kulit, mukosa mulut, mukosa saluran nafas bagian atas,
system retikuloendotelial, mata, tulang dan testis. Reaksi imun penderita terhadap
M.Leprae berupa reaksi imun humoral terutama pada lepra bentuk lepromatosa. (Wim de
jong et al. 2013)
a. Kusta bentuk kering : tidak menular, kelainan kulit berupa bercak keputihan sebesar
uang logam atau lebih besar, sering timbul di pipi, punggung, pantat, paha atau
lengan. Bercak tampak kering, kulit kehilangan daya rasa sama sekali.
b. Kusta bentuk basah : bentuk menular karena kumannya banyak terdapat di selaput
lender hidung, kulit dan organ tubuh lainnya, dapat berupa bercak kemerahan, kecil-
kecil tersebar diseluruh badan atau berupa penebalan kulit yang luas sebagai infiltrate
yang tampak mengkilap dan berminyak, dapat berupa benjolan merah sebesar biji
jagung yang tersebar di badan, muka dan daun telinga. Disertai rontoknya alis,
menebalnya daun telinga.
c. Kusta tipe peralihan : merupakan peralihan antara kedua tipe utama. Pengobatan tipe
ini di masukkan kedalam jenis kusta basah.
3. Cara penularan penyakit Kusta
a. Penularan terjadi dari penderita kusta yang tidak diobati ke orang lain dengan kontak
lama melalui pernafasan.
b. Kontak langsung yang lama dan erat melalui kulit.
c. Tidak semua orang dapat tertular penyakit kusta, hanya sebagian kecil saja (sekitar
5%) yang tertular kusta.
d. Jadi dapat dikatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular yang sulit
menular.
e. Kemungkinan anggota keluarga dapat tertular kalau penderita tidak berobat oleh
karena itu seluruh anggota keluarga harus diperiksa.

4. Gejala penyakit Kusta


a. Makula hipopigmentasi / bercak putih pada kulit
b. Hiperpigmentasi / perubahan warna kulit ( hitam).
c. Eritematosa / bercak kemerahan pada kulit.
d. Gejala kerusakan saraf (sensorik, motoric, autonom)
e. Kerusakan jaringan (kulit, mukosa traktusrepiartosius atas, tulang-tulang jari dan
wajah).
f. Kulit kering dan alopesia.

5. Pencegahan penyakit Kusta


Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit yang dapat segera ditangani dan di
cegah. Nah berikut ini adalah rekomendasi untuk mencegah penularan kusta:
a. Segera melakukan pengobatan sejak dini secara rutin terhadap penderita kusta, agar
bakteri yang dibawa tidak dapat lagi menularkan pada orang lain.
b. Menghindari atau mengurangi kontak fisik dengan jangka waktu yang lama
c. Meningkatkan kebersihan diri dan kebersihan lingkungan
d. Meningkatkan atau menjaga daya tahan tubuh, dengan cara berolahraga dan
meningkatkan pemenuhan nutrisi.
e. Tidak bertukar pakaian dengan penderita, karena basil bakteri juga terdapat pada
kelenjar keringat
f. Memisahkan alat-alat makan dan kamar mandi penderita kusta
g. Untuk penderita kusta, usahakan tidak meludah sembarangan, karena basil bakteri
masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet
h. Isolasi pada penderita kusta yang belum mendapatkan pengobatan. Untuk penderita
yang sudah mendapatkan pengobatan tidak menularkan penyakitnya pada orang lain.
i. Melakukan vaksinasi BCG pada kontak serumah dengan penderita kusta.
j. Melakukan penyuluhan terhadap masyarakat mengenai mekanisme penularan kusta
dan informasi tentang ketersediaan obat-obatan yang efektif di puskesmas.

Untuk masyarakat umum, jangan sampai mengucilkan penderita kusta, memang pada
dasarnya penyakit kusta tersebut menular akan tetapi para penderita kusta juga memiliki
hak untuk masih tetap dapat hidup bermasyarakat. Pada intinya, penderita kusta yang
telah menjalani pengobatan, sedikit kemungkinan untuk dapat menularkan penyakitnya.

Para penderita kusta pada umumnya mereka mengalami penurunan kepercayaan diri
dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Sebaiknya masyarakat dapat
mendukung para penderita kusta untuk tetap memiliki keberanian dan kepercayaan diri
hidup secara normal. Salah satu wujud kepedulian suatu kelompok masyarakat terhadap
penderita kusta, maka didirikan suatu perkampungan khusus para penderita kusta.
Perkampungan tersebut berada di Kecamatan Nganget Kabupaten Tuban, yang
perkampungannya berada di tengah-tengah hutan. Mereka di sana mendapatkan
pengobatan dan dorongan sosial, sehingga termotivasi untuk dapat kembali hidup secara
normal.

6. Komplikasi
Neuropati dapat menginduksi terjadinya trauma, nekrosis, infeksi sekunder, amputasi
jari dan ekstremitas. Pengobatan kortikosteroid hanya 60% memperbaiki fungsi saraf.
Kontraktur dapat menyebabkan kekakuan, yang akibatnya dapat terjadi clawing hand and
feet. Terjadinya kelemahan dari hilangnya persarafan pada otot merupakan bukti
terjadinya deformitas. Luka dapat menyebabkan “Charcot’s joint” yang merupakan
penyebab utama terjadinya deformitas. Artritis/arthralgia dapat terjadi kira-kira 10% pada
pasien dengan kusta dan gejala persendian yang ada hubungannya dengan reaksi.
Komplikasi pada mata yaitu keratitis yang dapat terjadi karena berbagai faktor
termasuk karena mata yang kering, insensitifitas kornea dan lagophtalmus. Keratitis dan
lesi pada bilik anterior bola mata, umumnya terjadi iritis dan menyebabkan kebutaan.
Juga dapat terjadi ektropion dan entropion, menurut penelitian resiko kopmlikasi mata
terjadi pada pasien dengan tipe MB, setelah menyelasaikan MDT menjadi 5,6% dengan
komplikasi kerusakan mata sebanyak 3,9%.

7. Pengobatan
Jika hasil pemeriksaan adalah sakit kusta, maka penderita harus minum obat secara
teratur sesuai dengan petunjuk petugas kesehatan.
a. Obat untuk menyembuhkan penyakit kusta dikemas dalam blister yang disebut MDT
(Multi Drug Therapy = Pengobatan lebih dari 1 macam obat)
b. Kombinasi obat dalam blister MDT tergantung dari tipe kusta, tipe MB harus minum
obat lebih banyak dan waktu lebih lama :
Tipe MB : obat harus diminum sebanyak 12 blister
Tipe PB : obat harus diminum sebanyak 6 blister
c. Ada 4 macam blister MDT yaitu :
Blister untuk PB anak
Blister untuk PB dewasa
Blister untuk MB anak
Blister untuk MB dewasa
Dosis pertama harus diminum di puskesmas (di depan petugas), dan seterusnya obat
diminum sesuai petunjuk / arah panah yang ada di belakang blister.
DAFTAR PUSTAKA

Huda A.N, Kusuma H. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
NANDA.MediAction Publishing. Edisi Revisi Jilid 2. 2013.

Syafrudin, Damayani Diah.A, Delmaifanis. Himpunan Penyuluhan Kesehatan (Pada Remaja,


Keluarga, Lansia dan Masyarakat). Trans Info Media. 2011. Jakarta.