Anda di halaman 1dari 58

PROSES PRODUKSI LNG

Prof. Dr. Ir. Slamet, MT

Departemen Teknik Kimia,


FTUI Depok
Oktober 2016
Pada kondisi bagaimana LNG disimpan ?

 LNG yang disimpan dalam kilang jumlahnya sangat besar di


dalam Tangki LNG.
 Contoh:
– Ukuran Tangki yang ada di Arun: 800.000 barrel
– Ukuran tangki di Bontang: 600.000, 800.000, dan 786.000
barrel
– Kapasitas tanker LNG rata-rata 786.000 barrel = 125.000
m3
 Untuk tangki yang besar (>1.670 barrel = 265.000 lt), tidak
dapat dirancang sebagai tangki bertekanan.
 Lebih praktis bila dirancang tangki dengan tekanan rendah
(mendekati atmosferik)
Pada kondisi bagaimana LNG disimpan ?

 Untuk tangki dengan


– V = 600.000 barrel (3.360.000 ft3)
– H = sekitar 125 ft
– Di = 185 ft
– PLNG = 1000 psi (agar suhu tidak terlalu rendah)
– S = 30 000 psi (tensile strength)
– maka tebal tangkinya adalah
 t> P.D/(2.S)
 t  (1000)(185)(12)/(2 x 30 000) = 37 in.
 Jadi tebal dari tangki minimum bila kita ingin menyimpan
LNG pada 1000 psi adalah 37 in (92.5 cm).
 Hal ini sangatlah tidak praktis.
Pada kondisi bagaimana LNG disimpan ?

 Bila tebal tangki yang tersedia adalah 12 in maka:


 D  2.S.t/P  (2)(30.000)(12)/1000  720 in  60 ft
 H = V/A = V/(3.14 x D2/4) = (3.360.000)/(3.14 x 602/4)
= 1.188 ft (392 m)
 Berarti tinggi tangki tersebut adalah 392 meter, dan ini juga
sangat tidak praktis (H/D = 20).
 Jadi menyimpan LNG pada tekanan tinggi (agar suhunya juga
tinggi) tidaklah praktis, terutama utk kapasitas besar.
 Solusi: LNG disimpan pada tekanan sedikit di atas tekanan
atm (sehingga suhunya kriogenik, sekitar – 160 oC).
LNG pada tekanan sekitar atm

 Banyak komponen–komponen lain (selain metana) yang terdapat pada gas


alam yang mempunyai titik beku di atas – 260 oF.
 Pada Gambar 1a & 1b (Reading for LNG Processing I) diperlihatkan
kelarutan beberapa komponen dalam metana sebagai fungsi suhu.
 Pada –260oF, kelarutan CO2 = 200 ppm.
 Untuk keperluan proses, CO2< 50 ppm sebelum gas alam tsb dicairkan.
 kelarutan C6+ < 1 % , C5- > 1 %, dan C4 = 20 %.
 Jadi keterbatasan kelarutan proses pembuatan LNG hanya untuk C5+,
sehingga LNG akan didominasi oleh C1, C2, C3 dan C4, dengan C5 paling
banyak 1 % dan C6+ < 0.1 %.
 Syarat heating value LNG berdasarkan kontrak  1107 BTU/scf
 C3 dan C4 lebih menguntungkan dijual sebagai LPG
  kandungan C3 dan C4 dalam LNG diusahakan seminimal mungkin tapi
masih memenuhi syarat heating value.
Kelarutan berbagai senyawa dalam gas alam
Kelarutan berbagai senyawa dalam gas alam
Hydrate

 Air selain dapat membeku menjadi es, juga dapat membentuk padatan
yang berupa hidrat dengan komponen hidrokarbon.
 Rumus umum molekul hidrat tersebut adalah (HC).8H2O, yang
merupakan senyawa kimia dengan panas pembentukan yang kecil.
 Gambar 4 sampai 7 (Bukacek, vol. 1) mengilustrasikan hasil percobaan
untuk menentukan batas kondisi dimana hidrat dapat terbentuk.
 Pada Gambar 4 dan 6 (Bukacek, vol. 1) terlihat untuk komponen C2,
C3, C4 dan CO2 membentuk hidrat pada suhu yang lebih rendah
dibandingkan C1 pada tekanan kurang dari 2000 psi.
 Gambar 5 dan 6 (Bukacek, vol. 1) memperlihatkan tekanan yang tinggi
juga akan menaikkan suhu pembentukan hidrat.
 Gambar ini juga memperlihatkan bahwa pada daerah tekanan dibawah
800 psi, hidrat tidak akan terbentuk pada gas alam yang mempunyai
berat molekul dibawah 29, selama suhunya lebih tinggi dari 65 oF.
LIQUEFIED NATURAL GAS
(LNG ?)

 Gas Alam yang dicairkan pada tekanan ambient dengan suhu sekitar
–160oC (-260oF) dalam kondisi cair jenuh.
 Spesifikasi Produk :
- Nilai Bakar (HHV) : 1105-1165 Btu/scf
- Densitas : 435 KG/LT
- Komposisi (Badak) : C1  90%, C2 = 8%, C3 = 1,5%, iC4 & nC4 = 0,5%
 Tujuan Pencairan Gas Alam:
- Memudahkan Penyimpanan
- Memudahkan Transportasi
 Produk LNG menarik karena :
- Hasil Pembakaran Lebih Bersih (Clean Energy)
- Harga Bersaing dengan sumber energi yang lain.
TIPIKAL KARAKTERISTIK
GAS UMPAN & LNG (Badak)

KOMPOSISI GAS UMPAN (%mol) LNG (%mol)


N2 0,12 0,1
C1 84 91
CO2 5 0
C2 5 8
C3 3 1,3
iC4 0,7 0,1
nC4 0,8 0
C5+ 1,38 0
TIPIKAL KARAKTERISTIK
GAS UMPAN & LNG (lanjutan)

KOMPOSISI GAS UMPAN LNG


HHV, Btu/scf 1095 1107
H2S 2,2 0
Hg, g/ Nm3 0,05 0,001
Aromatik, ppm 0,2 0
H2O Sat. pada 86oC 0
Suhu, oC 30 -160
Tekanan, psi 675 25
Proses Pembuatan LNG di Badak
Typical Schematic Flow Diagram
(Badak LNG Plant)

13
Pemurnian Gas Alam
Penghilangan CO2 dan H2S
• Batasan maksimum : 50 ppm CO2 & nil H2S
• Tujuan: - menghindari pembekuan CO2 pd proses lebih lanjut
- menghindari masalah korosi, lingkungan, dan kese-
hatan karena H2S
• Seleksi proses  berdasarkan kandungan CO2 dlm gas umpan:
• Sistem Amine : CO2 < 10%
• Sistem Benfield : CO2 = 10-20%
• Sistem Pelarut fisika : CO2 = 10-50%
• Sistem Membran : CO2 > 50%
• Distilasi Kriogenik : CO2 > 50%
• Masih banyak faktor lain yg perlu dipertimbangkan dlm seleksi
proses gas sweetening.
Pemurnian Gas Alam
Penghilangan H2O
 Batasan maksimum : 0,5 ppm H2O
 Tujuan: - menghindari pembekuan H2O pd proses lebih lanjut
- menghindari masalah korosi,
- mencegah pembentukan hydrate
 Teknologi yg biasa dipakai  Adsorpsi, Absorpsi, Membrane
• Gas dehydration di LNG Plant dg teknologi ADSORPSI,
• Pemilihan adsorben: tgt pada batasan maksimum uap air
• Pada kilang LNG batasan tsb adalah 0,5 ppm
• Adsorben yg biasa dipakai di kilang: Molecular sieve (dpt
diregenerasi)
• Jenis adsorben lain: silika gel, alumina.
Pemurnian Gas Alam
Penghilangan Hg

 Batasan maksimum : 0,01 ppb (di LNG Badak)


 Tujuan: menghindari korosi merkuri thd bahan
aluminium pd main heat exchanger (MHE)
 Dilakukan dg cara adsorpsi ke dlm pori-pori
karbon aktif yg mengandung sulfur. Hg tsb
bereaksi dg S membentuk HgS (amalgam) yg tdk
dpt diregenerasi
 Penggantian adsorben  dilakukan setelah
adsorben jenuh. Contoh di PT. Badak kapasitas
adsorben tsb = 6 kg Karbon/kg Hg
Mercury Removal

 Granular Activated Carbon (GAC) is effective at physically adsorbing trace components


from gas streams due to its high population of micropores; however, the capacity is low.
By impregnating the granular activated carbon with a compound that will chemically
react with the mercury, capacity can be enhanced.
 It is imperative that not only must the mercury be removed to non-detectable levels but
that it is adsorbed in a form which will not elute from the activated carbon bed under
fluctuating conditions.
 In order to obtain long bed life and high removal efficiencies, an activated carbon is
required with a pore structure that can accept substantial amounts of suitable impregnant
while allowing access of the process gas to the complex pore structure.
 Sulphur impregnated activated carbon was specifically designed for this service.
Under normal operating conditions, a properly designed activated carbon bed will
remove mercury for many years.
UNIT FRAKSIONASI
1. PEMISAHAN METANA (C1)
- DILAKUKAN DI SCRUB COLUMN.
- TUJUAN : MENGHASILKAN SEBAGIAN BESAR C1 SEBAGAI UMPAN
PROSES PENCAIRAN, SHG PRODUK LNG SESUAI SPESIFIKASI.
2. PEMISAHAN ETANA (C2)
- DILAKUKAN DI DE-ETHANIZER
- TUJUAN : MENGHASILKAN C2 SBG MAKE-UP MCR REFRIGERANT
3. PEMISAHAN PROPANA (C3)
- DILAKUKAN DI DE-PROPANIZER
- TUJUAN : MENGHASILKAN PROPANA UNTUK MAKE UP PROPANE
REFRIGERANT DAN PRODUK SAMPING LPG.
4. PEMISAHAN BUTANA (C4)
- DILAKUKAN DI DE-BUTANIZER
- TUJUAN : MENGHASILKAN BUTANA UTK REFLUX SCRUB COLUMN
DAN PRODUK SAMPING LPG.
UNIT REFRIJERASI
TEKNOLOGI YG DIPAKAI DLM PENYEDIAAN REFRIJERASI DI
KILANG LNG BADAK ADALAH
SISTEM KOMBINASI :
- REFRIJERAN PROPANA
- MULTI COMPONENT REFRIGERANT (MCR)
1. SISTEM REFRIJERASI PROPANA 3 LEVEL : HIGH , MEDIUM &
LOW PRESSURE PROPANE, YG DILAKUKAN DLM SUATU SISTEM
REFRIJERASI TERPADU. REFRIJERASI INI DIGUNAKAN UTK
MENDINGINKAN GAS UMPAN SEBELUM MASUK KE SISTEM
REFRIJERASI MCR. KANDUNGAN PROPANA YG DIGUNAKAN
ADALAH > 99%.
2. SISTEM REFRIJERASI MCR : 2 TAHAP KOMPRESI YG
BERTUJUAN UTK MENDINGINKAN GAS UMPAN HASIL
PENDINGINAN REFRIJERASI PROPANA & UTK MENGHASILKAN
PRODUK LNG DI UNIT PENCAIRAN.
TIPIKAL KOMPOSISI REFRIJERASI MCR (MOLE%) ADALAH :
- NITROGEN : 3% - ETANA : 50%
- METANA : 45% - PROPANA : 2%
DIAGRAM ALIR UNIT REFRIJERASI
PROPANA (BADAK)
DIAGRAM ALIR SEDERHANA
UNIT REFRIJERASI PROPANA

ACCUMULATOR

V1 V2 V3

CONDENSOR E1
L4
COMPRESSOR DESUPER-
Q1
HEATER
E2
L1
Q2
L2 E3

Q3

EVAPORATORS 1,2 and 3


REFRIGERATION SYSTEMS

 Several basic processes of gas


refrigeration system are:
1. Compression refrigeration
2. Absorption refrigeration
3. Expansion across a turbine
4. Expansion across a valve

 Compression refrigeration with


PROPANE refrigerant will be discussed
herein.
Basic Concept
Qc

3 2
2 3
Comp Condenser

JT-valve
Qr
1 4

Evaporator
4 1
Mass and energy Balance
(Evaporator)

V, HV F=L+V
FH F+Q=VH V +LHL

L, HL =VH V + (F – V) H L
Q E
F (H F – H L) + Q = V (H V – H L)

 HF - HL  Q
F, HF V=F  + (1)
 HV - HL  HV - HL

V, HV
Joule-Thompson valve = J-T valve
DH = 0 F ( H F - H L ) (2)
L, HL F H F = V’ H V + L’ H L
V '=
Q E
L’, V’
HV - H L
F = V’ + L’
Q
V =V' + (3)
F, HF HV - H L
Mass and energy Balance
(Overall)

Qc

2  Comp. : H2 – H1 = -WS
Condenser 3
 Cond. : H3 – H2 = QC
Comp
 J-T valve: H4 – H3 = 0
JT-valve  Evap. : H1 – H4 = QR
Qr Total : 0 = QC+QR -WS
1 4

Evaporator
Mass and energy Balance
(3-Stage Evaporators)

 L4 = V1 + V2 + V3 (1)
 L4 = L1 + V1 (2) ACCUMULATOR

 L1 = V2 + L2 (3) V1 V2 V3

 L2 = V3 (4)
 L4 HL4 + Q1 = V1 HV1 + L1 HL1 (5) COMPRESSOR
CONDENSER
E1
L4
DESUPER-
 L1 HL1 + Q2 = V2 HV2 + L2 HL2 (6) HEATER
Q1
E2
L1
 L2 HL2 + Q3 = V3 HV3 (7) Q2
E3
L2
Q3
Bila tekanan pada akumulator dan evaporator diketahui, maka jika refrigerant-
nya adalah propana murni, semua entalphi dan temperatur dalam evaporator
akan diketahui.
Jika beban refrigerasi juga diketahui (Q1, Q2, Q3), semua aliran cairan dan
uap dapat dihitung.
Mass and energy Balance
(3-Stage Evaporators)

Q3
L2 = V3 = ACCUMULATOR

H v3 - H L 2 V1 V2 V3

Q2 + L2 ( H L1 - H L 2 )
V2 =
H v 2 - H L1
CONDENSER E1
COMPRESSOR L4
DESUPER-
Q1
HEATER E2

Q + L1 ( H L 4 - H L1 ) L1
V1 = 1
Q2
E3

H v1 - H 4
L2
Q3
EVAPORATORS 1,2 and 3
Antoinne Equation:

Enthalpy: HV = 18.453 + 0.48763T - 0.00023817 T 2


H L = -142.588 + (0.1471)T + (0.0004599)T 2
Persamaan HV, HL, P dan T

1. R.F Bukacek: hal. B7

2. PH Diagram : perhatikan kondisi “Reference” yang


digunakan, setiap literatur dpt berbeda
3-Stage Propane Refrigeration
m
T
QD/C = 65.09 MBtu/j 270.76 100 psi 53 psi 16.5 psi
514.88 R 476.95 R 420.78 R
ACCUMU
206.38 Btu/lb 196.85 Btu/lb 181.47 Btu/lb
LATOR
DESUPER- CONDENSER V1 608566 lb/j V2 691560 lb/j V3 740903 lb/j
HEATER 190 psi
560.38 R 560.38 R
216.92 Btu/lb 84.26 Btu/lb
L4 2041030 lb/j
E1
4.6E+04 lbmol/j
190 psi 55.07 Btu/lb
908 R Q1 32.5 1432464 lb/j
248.81 Btu/lb MBtu/j E2
L1
COMPRESSOR 32.19 Btu/lb
INPUT Q2 81.1 740903 lb/j
Q1 (Mbtu/j) =32.5 P1 (psi) = 100 MBtu/j E3
Q2 (Mbtu/j) =81.1 P2 (psi) = 53 L2
-Wc = 111.65 MBtu/j Q3 (Mbtu/j) =110.6 P3 (psi) = 16.5
4.39E+04 hp Q3 110.6
HASIL MBtu/j
Laju Propana (lb/j) = 2041030
-Wc + Q1 +Q2 + Q3 =335.85 MBtu/j
QD + QC 335.85
= MBtu/j
35
Double 3-Stage Evaporators
V7 -27 0F

V6 -18 0F

V5 -65 0F

5 6 7
L45

V1 V1*

L5
E1
L4
V2 V2* V3 V3*

E1*
L4* QR1

L1 E2
QN2
E3
QR3

E2*
L1*
QR2 E3*
L2* QR3
Cond

Ev1

Ev2 Comp

Exp

Ev3
Multi Component Refrigerant (APCI)
LNG Badak

39
(SIMPLIFIED of APCI LNG Badak)

FUEL GAS
(Reject gas)

LNG

MAIN EXCHANGER

NATURAL GAS
E1 E2 E3

INTERCOOLER

E1 E2 E3
AFTER
COOLER EVAPORATORS
PHASE
SEPARATOR

STAGE 1 STAGE 2
COMPRESSORS
Fuel Gas
(Reject Gas) G
P-H Diagram GAS ALAM
4 3
F
LNG P
I
2
H
MAIN
2 1
EXCHANGER P1
P3 3

A
1
NATURAL
GAS E1 E2 E3

INTERCOOLER MR
V
AFTERCOOLER E P4
PHASE
B C
D E1 E2 E3 SEPARATO 4
R
EVAPORATO
RS MR
L
A H
H H
STAGE 1 STAGE 2 L V

COMPRESSO
RS
Fuel Gas
(Reject Gas) G
MRV
4 3 F D
E
F
LNG
I C B P-H
2
Diagr.
H G A
MAIN MRV
EXCHANGER

A
1
NATURAL
GAS E1 E2 E3

INTERCOOLER MRV MRL


AFTERCOOLER E H D
PHASE
E
B C SEPARATO
D E1 E2 E3

EVAPORATO
R P-H
C B
RS MRL Diagr.
A MRL
I A
STAGE 1 STAGE 2

COMPRESSO
RS
APCI Propane Precooled Mixed Refrigerant
Process
Beberapa Teknologi (LNG) lain

PRICO Technology
 The process is very simple,
efficient, reliable and cost-effective
mixed-refrigerant cycle.
 A mixed-refrigerant, composed of
N2 and C1-C5, is circulated in a
closed refrigerant loop.
 This loop contains a compressor
(1), a partial condenser (2), an
accumulator (3), a refrigerant HE
(4), a J-T valve (5), a refrigerant
suction drum (6), a centrifugal
pump (7), and fractionation unit (8)
to remove C2+.

PRICO mixed refrigerant loop (Hydrocarbon Processing, April 1998)


A B C
P-H Diagram
D

E
C P=300 psi B
F
T=175 F

P=80 psi
E D
P
P=20 psi A
F
T= -30 F

H
49

46
Beberapa Teknologi (LNG) lain

The ConocoPhillips Optimized Cascade Process


Beberapa Teknologi (LNG) lain

The Linde-Statoil Mixed Fluid Cascade Process


Expander Cycle

LNG

Expander cycle: proses


pencairan gas alam yang
paling sederhana, karena
hanya terdiri dari proses
kompresi dan ekspansi
aliran gas komponen
tunggal
Small Scale LNG

The Small Scale LNG concept is an effective


solution for making natural gas available to
energy users not currently connected to
pipeline networks.
Small Scale LNG - The Concept

 To serve industries, power plants and other energy


users that are not connected with gas pipelines.
 Small Scale LNG will provide a tailor-made logistics
solution
 Small Scale LNG is NOT the same as traditional large
scale LNG
Small Scale LNG - Key Benefits
References

1. K. Hartmann and K. Kaplick, Analysis and Synthesis of Chemical


Process Systems, Elsevier, Tokyo, 1990
2. CHEMCAD and CC-BATCH User’s Guide And Tutorial, Version 5.2,
Chemstations, Inc., Houston, Texas.
3. Hydrocarbon Processing (Journal), April 1998
4. R.F. Bukacek, Readings for LNG Processing I, GDC, Inc., Illinois,
1982
5. Kirk-Othmer, Encyclopedia of Chemical Technology, 4th ed., Vol. 13,
John Wiley & Sons, New York, 1995.
6. J.A. Moulijn, et al., Chemical Process Technology, John Wiley &
Sons, 2001.
57
STUDI KASUS

 Pembahasan rinci berbagai teknologi LNG


 Pemecahan masalah aktual di berbagai
LNG Plant
 LNG Plant design (Tangguh, Natuna, dll)
 Mini & Remote Area LNG Plant
 dll