Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis atau TB paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis, yakni kuman aerob yang dapat hidup terutama diparu atau diberbagai organ tubuh
lainnya.TB paru dapat menyebar ke setiap bagian tubuh, termasuk meningen, ginjal, tulang dan
nodus limfe dan lainnya (Smeltzer&Bare, 2015). Beberapa negara berkembang di dunia, 10
sampai 15% dari morbiditas atau kesakitan berbagai penyakit anak dibawah umur 6 tahun adalah
penyakit TB paru. Saat ini TB paru merupakan penyakit yang menjadi perhatian global, dengan
berbagaiupaya pengendalian yang dilakukan insidens dan kematian akibat TB paru telah
menurun, namun TB paru diperkirakan masih menyerang 9,6 juta orang dan menyebabkan 1,2
juta kematian pada tahun 2014 (WHO, 2015).

Sejak tahun 1993, WHO menyatakan bahwa TB merupakan kedaruratan global bagi
kemanusiaan.Walaupun strategi DOTS telah terbukti sangat efektif untuk pengendalian TB,
tetapi beban penyakit TB di masyarakat masih sangat tinggi. Dengan berbagai kemajuan yang
dicapai sejak tahun 2003, diperkirakan masih terdapat sekitar 9,5 juta kasus baru TB, dan sekitar
0,5 juta orang meninggal akibat TB diseluruh dunia (WHO, 2009).
Microbacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, menurut
WHO sekitar 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang setiap per tahun
(WHO, 1993). Dinegara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang
sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara
berkembang. Hasil survey kesehatan rumah tangga tahun 1990 menunjukan bahwa tuberkulosis
merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran
pernafasan pada semua golongan usia dan nomor 1 dari golongan infeksi.

1
1.2 Tujuan
a. Tujuan umum
Untuk menerapkan dan memahami proses asuhan keperawatan pada pasien tuberculosis paru.
b. Tujuan khusus
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui apa itu tuberculosis paru
2. Agar mahasiswa mampu mengetahui tentang etiologi penyakit TB paru
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang patofisiologi TB paru
4. Agar mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian,diagnose,intervensi,implementasi
dan dokumentasi dengan masalah TB paru.

1.3 Manfaat
Menambah pengetahuan dan informasi tentang asuhan keperawatan dengan masalah
tuberkulosis paru selain itu dapat menjadi salah satu caradalam mengaplikasikan ilmu yang
di peroleh di dalam perkuliahan.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Tuberkulosis


Menurut Tabrani (2010,h.157) Tuberkulosis paru adalah penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis, yakni kuman aerobyang dapat hidup terutama di paru atau di
berbagai korban tubuh yanglainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen yang tinggi.
Kuman inijuga mempunyai kandungan lemak yang tinggi pada membran selnyasehingga
menyebabkan bakteri ini menjadi tahan terhadap asam danpertumbuhan dari kumannya
berlangsung dengan lambat.Bakteri ini tidaktahan terhadap ultraviolet, karena itu penularannya
terutama terjadi pada malam hari. Sedangkan menurut Alsagaff & Abdul Mukty (2010,h.73)
Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikobakterium
Tuberkulosis. Tuberculosis paru merupakan salah satu penyakit saluran pernapasan bagian
bawah.
Di Indonesia, penyakit ini merupakan penyakit infeksi terpenting setelah eradikasi
penyakit malaria. Sebagian besar basil Mikobakterium tuberculosis masuk ke dalam jaringan
paru melalui airborne infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus
primer dari Ghon. tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
mycobacterium tuberkulosa. penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobacterium
tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah.

2.2. Etiologi
Menurut Wim de Jong et al 2005 (dikutip dalam Nurarif & Hardhi Kusuma,
2015.h.210).Penyebab tuberculosis adalah Mycobacteriumtuberculosis.Basil ini tidak berspora
sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan, sinar matahari, dan sinar ultraviolet.Ada dua
macam mikobakteria tuberculosis yaitu tipe human dan tipe bovin. Basil tipe bovin berada dalam
susu sapi yang menderita mastitis tuberculosis usus. Basil tipe human bias berada di bercak
ludah (droplet) di udara yang berasal dari penderita TBC terbuka dan orang yang rentan
terinfeksi TBC ini bila menghirup bercak ini.Perjalanan TBC setelah infeksi melalui udara.

3
2.3. Patofisiologi
Port desentri kuman Mycobacterium tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran
pencernaan, dan luka terbuka pada kulit.Kebanyakan infeksi terjadi melalui udara, (air bone),
yaitu melalui inhalasi dropletyang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang terinfeksi.
Basil tuberkel yang mencapai alveolus dan diinhalasi biasanyaterdiri atas satu sampai tiga
gumpalan.Basil yang lebih besar cenderungbertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus,
sehingga tidakmenyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus, kuman akanmulai
mengakibatkan peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak memfagosit bakteri di tempat ini,
namun tidak membunuh organisme tersebut.
Sesudah hari pertama, maka leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan
mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia selular ini dapat sembuh
dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal atau proses dapat berjalan terus dan
bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah
bening menuju getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih
panjang dan sebagian bersatu, sehingga membentuk sel tuberkel epitoloit yang dikelilingi oleh
foist. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10-20 jam (Ardiansyah, 2012. h. 305).

2.4. Gambaran Klinis


Arif Mutaqqin (2012), menyatakan secara umum gejala klinik TB paru primer dengan TB
paru DO sama. Gejala klinik TB Paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala
respiratorik (atau gejala organ yang terlibat ) dan gejala sistematik.
1) Gejala respratorik
a) Batuk
Keluhan batuk, timbul paling awal dan merupakan gangguan yang paling sering
dikeluhkan.
b) Batuk darah
Keluhan batuk darah pada klien TB Paru selalu menjadi alasan utama klien untuk
meminta pertolongan kesehatan.
c) Sesak nafas
Keluhan ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-
hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothoraks, anemia, dan lain-lain.

4
d) Nyeri dada
Nyeri dada pada TB Paru termasuk nyeri pleuritik ringan.Gejala ini timbul apabila
sistem persarafan di pleura terkena TB.

2) Gejala sistematis
a) Demam
Keluhan yang sering dijumpai dan biasanya timbul pada sore ataau malam hari mirip
demam atau influenza, hilang timbul, dan semakin lama semakin panjang
serangannya, sedangkan masa bebas serangan semakin pendek.
b) Keluhan sistemis lain
Keluhan yang biasa timbul ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan,
dan malaise.Timbulnya keluhan biasanya bersifat gradual muncul dalam beberapa
minggu sampai bulan.Akan tetapi penampilan akut dengan batuk, panas, dan sesak
nafas.

2.5. Klasifikasi TB Paru


TB paru diklasifikasikan menurut (Wahid & Imam tahun 2013) yaitu :
a. Pembagian secara patologis
1) Tuberculosis primer (childhood tuberculosis)
2) Tuberculosis post primer (adult tuberculosis).
b. Pembagian secara aktivitas radiologis TB paru (koch pulmonum) aktif, non aktif dan
quiescent (bentuk aktif yang mulai menyembuh)
c. Pembagian secara radiologis (luas lesi)
1) Tuberkulosis minimal
Terdapat sebagian kecil infiltrat nonkavitas pada satu paru maupun kedua paru,
tetapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.
2) Moderately advanced tuberculosis
Ada kavitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm. Jumlah infiltrat bayangan halus
tidak lebih dari 1 bagian paru.Bila bayangan kasar tidak lebih dari sepertiga bagian
1 paru.

5
3) Far advanced tuberculosis
Terdapat infiltrat dan kavitas yang melebihi keadaan pada moderately advanced
tuberkulosis.
2.6. Komplikasi
Menurut Wahid&Imam (2013), dampak masalah yang sering terjadi pada TB paru
adalah:
1) Hemomtisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
2) Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
3) Bronki ektasis (peleburan bronkus setempat) dan fibrosism (pembentukan jaringan ikat
pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4) Pneumothorak (adanya udara dalam rongga pleura) spontan: kolaps spontan karena
kerusakan jaringan paru.
5) Penyebaran infeksi keorgan lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal, dan
sebagainya.
6) Insufisiensi kardiopulmonar (Chardio Pulmonary Insuffciency).

2.7. Gejala dan Cara Penularan TB Paru

Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk
dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas,
badan lemas, napsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat pada malam hari
tanpa kegiatan fisik, demam lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut dapat juga dijumpai
pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasi, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-
lain. Prevalensi TB paru di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke
UPK (Unit Pelayanan Kesehatan) dengan gejala tersebut, dianggap sebagai tersangka (suspek)
pasien TB paru dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskospis langsung (Depkes,
2008).

Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosa, menilai keberhasilan


pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk menegakkan diagnosa

6
dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari
kunjungan yang berurutan berupa sewaktu- pagi-sewaktu (S-P-S) (Depkes, 2008).

Tuberkulosis adalah penyakit menular, artinya orang yang tinggal serumah dengan
penderita atau kontak erat dengan penderita yang mempunyai risiko tinggi untuk tertular.
Sumber penularannya adalah pasien TB paru dengan BTA positipterutama pada waktu batuk
atau bersin, dimana pasien menyebarkan kuman ke udaradalam bentuk percikan dahak (droplet
nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak dan umumnya penularan
terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama (Depkes, 2008).

Adanya ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara keberadaan sinar


matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam
keadaan yang gelap dan lembab. Daya penularan seorang pasien derajat kepositifan hasil
pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut. Faktor yang memungkinkan seseorang
terpajan kuman TB paru ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya
menghirup udara tersebut (Depkes, 2008).

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pengkajian
a. Data Pasien

Penyakit TB paru dapat menyerang manusia mulai dari usia anak sampai dewasa dengan
perbandingan yang hampir sama antara laki-laki dan perempuan. Penyakit ini biasanya banyak
ditemukan pada pasien yang tinggal didaerah dengan tingkat kepadatan tinggi sehingga
masuknya cahaya matahari kedalam rumah sangat minim. TB paru pada anak dapat terjadi pada
usia berapapun, namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. Anak-anak lebih sering
mengalami TB diluar paru-paru (extrapulmonary) disbanding TB paru dengan perbandingan
3:1. TB diluar paru-paru adalah TB berat yang terutama ditemukan pada usia<3 tahun. Angka
kejadia (pravelensi) TB paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah, kemudian meningkat setelah
usia remaja dimana TB paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai
lubang/kavitas pada paru-paru).

b. Riwayat Kesehatan
Keluhan yang sering muncul antara lain:
1) Demam
subfebris, febris (40-41oC) hilang timbul
2) Batuk
terjadi karena adanya iritasi pada bronkus batuk ini terjadi untuk
membuang/mengeluarkan produksi radang yang dimulai dari batuk kering sampai
dengan atuk purulent (menghasilkan sputum).
3) Sesak nafas
bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru-paru.
4) Keringat malam.
5) Nyeri dada
jarang ditemukan, nyeri akan timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga
menimbulkan pleuritis.

8
6) Malaise
ditemukan berupa anoreksia, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit
kepala, nyeri otot, keringat malam.
7) Sianosis, sesak nafas, kolaps

c. Riwayat Kesehatan Dahulu


1) Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh
2) Pernah berobat tetapi tidak sembuh
3) Pernah berobat tetapi tidak teratur
4) Riwayat kontak dengan penderita TB paru
5) Daya tahan tubuh yang menurun
6) Riwayat vaksinasi yang tidak teratur
d. Riwayat Kesehatan Keluarga

Biasanya pada keluarga pasien ditemukan ada yang menderita TB paru.Biasanya ada
keluarga yang menderita penyakit keturunan seperti Hipertensi, Diabetes Melitus, jantung
dan lainnya.

e. Riwayat Pengobatan Sebelumnya


1) Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya
2) Jenis, warna, dan dosis obat yang diminum.
3) Berapa lama pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya
4) Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir.
f. Faktor Pendukung:

1) Riwayat lingkungan.

2) Pola hidup: nutrisi, kebiasaan merokok, minum alkohol, pola istirahat dan tidur,
kebersihan diri.

3) Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit, pencegahan,


pengobatan dan perawatannya.

9
g. Pemeriksaan Fisik
1.Keadaan umum: biasanya sedang atau buruk
2.TD : Normal ( kadang rendah karena kurang istirahat)
3.Nadi : Pada umumnya nadi pasien meningkat
4.Pernafasan : biasanya nafas pasien meningkat (normal : 16-20x/i)
5.Suhu : Biasanya kenaikan suhu ringan pada malam hari.

h. Pola Kebiasaan Sehari-hari


1) Pola aktivitas dan istirahat
Subyektif: rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. Sesak (nafas pendek), sulit
tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari.
Obyektif: Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut;
infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40-41oC)
hilang timbul.
2) Pola Nutrisi
Subyektif: anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Obyektif: turgor kulit jelek, kulit kering/berisik, kehilangan lemak sub kutan.

3) Respirasi

Subyektif: batuk produktif, sakit dada.

Obyektif: mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid
kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi
ronkhi basah, kasar didaerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau
fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak nafas, pengembangan
pernafasan tidak simetris (effusi pleura), perkusi pekak dan penurunan
fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).

4) Rasa nyaman/nyeri

Subyektif: nyeri dada meningkat karena batuk berulang

10
Obyektif: berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa
timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.

3.2.Diagnosa keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan mokus dalam jumlah
berlebihan, eksudat dalam jalan alveoli, sekresi bertahan/sisasekresi
b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi, keletihan, keletihan otot
pernapasan
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar-kapiler.

3.3.Rencana keperawatan
Rencana keperawatan yang dapat diterapkan pada pasien dengan TB paru adalah sebagai
berikut:

DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC

Ketidakefektifan bersihan jalan kepatenan jalan nafas Manajemen jalan nafas


napas b/d mokus dalam jumlah dengan kriteria hasil : a) Bersihkan jalan nafas dengan
berlebihan, eksudat dalam jalan a) Frekuensi pernafasan tidak teknik chin lift atau jaw thrust
alveoli, sekresi bertahan/sisa ada deviasi dari kisaran sebagai mana mestinya
sekresi normal b) Posisikan pasien untuk
b) Irama pernafasan tidak ada memaksimalkan ventilasi
deviasi dari kisaran normal c) Identifikasi kebutuhan
c) Kemampuan untuk aktual/potensial pasien untuk
mengeluarkan secret tidak memasukkan alat membuka
ada deviasi dari kisaran jalan nafas
normal d) Lakukan fisioterapi dada
d) Suara nafas tambahan sebagai mana mestinya
tidak ada e) Buang secret dengan
e) Dispnea dengan aktifitas memotivasi pasien untuk
ringan tidak ada melakukan batuk atau menyedot

11
f) Penggunaan otot bantu lender
pernafasan tidak ada f) Instruksikan bagaimana agar
status pernafasan : bias melakukan batuk
ventilasi dengan kriteria efektif
hasil: g) Auskultasi suara nafas
a) Frekuensi pernafasan tidak h) Posisikan untuk meringankan
ada deviasi dari kisaran sesak nafas
normal Monitor pernafasan
b) Irama pernafasan tidak ada a) Monitor kecepatan, irama,
deviasi dari kisaran normal kedalaman dan kesulitan
c) Suara perkusi nafas tidak bernafas
ada deviasi dari kisaran b) Catat pergerakan dada, catat
normal ketidaksimetrisan, penggunaan
otot bantu pernafasan dan
retraksi otot
c) Monitor suara nafas tambahan

Ketidakefektifan pola nafas b/d ventilasi dengan kriteria Manajemen jalan nafas
hiperventilasi hasil : a) Bersihkan jalan nafas dengan
a) Frekuensi pernafasan tidak teknik chin lift atau jaw thrust
ada deviasi dari kisaran sebagai mana mestinya
normal b) Posisikan pasien untuk
b) Irama pernafasan tidak ada memaksimalkan ventilasi
deviasi dari kisaran normal c) Identifikasi kebutuhan
c) Suara perkusi nafas tidak aktual/potensial pasien untuk
ada deviasi dari kisaran memasukkan alat membuka
normal jalan nafas
d) Kapasitas vital tidak ada d) Lakukan fisioterapi
deviasi dari dari kisaran dada sebagai manamestinya
normal e) Buang secret dengan
memotivasi pasien untuk

12
melakukan batuk atau menyedot
lender.

Terapi oksigen
Gangguan pertukaran gas b/d pertukaran gas dengan
a) Pertahankan kepatenan jalan
perubahan membran alveolar- kriteria hasil :
nafas
kapiler a) Tekanan parsal oksigen di
b) Siapkan peralatan oksigen
darah arteri (PaO2) tidak ada
dan berikan melalui system
deviasi dari kisaran normal
humidifier
b) Tekanan parsial
c) Berikan oksigentambahan
karbondioksisa di darah arteri
seperti yangdiperintahkan
(PaCO2) tidak ada deviasi
d) Monitor aliran oksigen
dari kisaran normal
e) Monitor efektifitas terapi
c) Saturasi oksigen tidak ada
oksigen
deviasi dari kisaran normal
f) Amati tanda-tanda
d) Keseimbangan ventilasi
hipoventialsi induksi oksigen
dan perfusi tidak ada deviasi
g) Konsultasi dengan tenaga
dari kisaran normal
kesehatan lain mengenai
penggunaan oksigen tambahan
selama kegiatan dan atau tidur
h) Monitor tanda-tanda vital

13
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium
tuberkulosa. penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobacterium tuberkolusis yang
merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah. Penyebab tuberculosis adalah
Mycobacteriumtuberculosis. Basil ini tidak berspora sehingga mudah dibasmi dengan
pemanasan, sinar matahari, dan sinar ultraviolet.Basil tuberkel yang mencapai alveolus dan
diinhalasi biasanyaterdiri atas satu sampai tiga gumpalan.Basil yang lebih besar
cenderungbertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus, sehingga tidakmenyebabkan
penyakit.

4.2 Saran
Diharapkan bagi profesi keperawatan lebih memprioritaskan pencegahan penularan
dirumah sakit maupun di rumah karena penyakit tuberkulosis paru mudah menular pada siapa
saja dan kapan saja.

14
DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, Hood&Abdul Mukty. 2010. Dasar-Dasar IlmuPenyakit Paru. Surabaya:


AirlanggaUniversityPress.
Wijaya,Andra&YessiePutri.2013.Buku KMB1keperawatan Medikal Bedah (keperawatan
dewasa).Yogjakarta: NuhaMedika.

15