Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PANGAN

PEMBUATAN TEH ROSELLA ( METODE EKSTRAKSI PADAT CAIR )

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Laboratorium Teknologi Pangan

Dosen Pembimbing : Ir. Nurcahyo


Tanggal Praktikum : Selasa, 16 April 2019
Tanggal Pengumpulan Laporan : Selasa, 23 April 2019

Oleh : Kelompok 4
Kelas : 2B / D3 – Teknik Kimia

Bella Nabila 171411037


Fanny Ainunisa 171411042
Ismail Hamzah 171411047
Oki Andri 171411056
Raden Sukmawati 171411057

PROGAM STUDI D3-TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanah Indonesia merupakan tanah yang kaya akan unsur hara. Hal ini membuat
tanah di Indonesia dilimpahi kekayaan fauna seperti tanaman obat, rempah – rempah,
tanaman hias dan jenis tanaman lainnya. Di Indonesia pengolahan hasil alam masih
menggunakan cara tradisional,sehingga masih menghasilkan racikan. Racikan
tradisional ini biasanya digunakan untuk penambah rasa dalam makanan (bumbu) dan
juga bisa dijadikan sebagai minuman, jamu dan obat.
Salah satu bahan pangan yang dapat dijadikan produk pangan fungsional ialah
bunga Rosella. Bagian yang paling bermanfaat adalah kelopaknya yang sudah dikeringkan
kelopaknya bisa dimanfaatkan untuk dibuat sirup, selai, manisan, jus, salad, dan salah
satunya sebagai the. Selain enak rasanya, aneka olahan rosella ini memiliki efek
farmakologis yang cukup lengkap. Kelompok bunga rosella yang berwarna merah tua,
tebal, dan berair. Semakin pekat warna merahnya, rasanya semakin asam dan tentu juga
khasiatnya semakin besar.
Menurut penelitian, anti oksidan yang terkandung dalam teh rosella lebih tinggi dari
pada kumis kucing yang sudah teruji secara klinis mampu meluruhkan batu ginjal. Melelui
penelitian pula didapati 51 % antosianin dan 24 % anti oksidan dalam larutan 300 ml air
yang diseduh dengan bunga rosella yang sudah dikeringkan. Antosianin dalam rosella dapat
menghambat dan mematikan sel kanker darah merah atau leukemia. Walau penelitian
tersebut baru uji praklinis di laboratorium, karena belum ada pembuktian secara ilmiah
mengenai efeknya secara langsung untuk manusia. Namun, secara tradisional sudah banyak
warga masyarakat yang memanfaatkan bunga rosella untuk menurunka darah tinggi. Jika
meminum seduhan bunga rosella secara teratur, maka kekakuan saraf dan ketegangan leher
akibat hipertensi lama-kelamaan akan menghilang.Tubuh menjadi bugar dan nyenyak tidur.
penggunaan bunga rosella untuk menurunkan tekanan darah tinggi telah diuji secara klinis
di Teheran, Iran.
Sebagai pemanfaatan kelopoak bunga Rosella dapat dinikmati sebagai minuman
baik hangat maupun dingin. Bunga Rosella biasa dinikmati sebagai teh. Untuk dijadikan
sebagai teh, Rosella diekstraksi terlebih dahulu. Untuk skala kecil teh Rosella bisa
diperoleh dengan mencampur bunga Rosella kering dengan menggunakan air panas.
Untuk skala yang lebih besar teh Rosella diperoleh melalui ekstraksi padat – cair.

1.2 Tujuan Praktikum


1. Mengetahui dan memahami metode pemisahan dengan cara ekstraksi padat-cair.
2. Mengetahui dan memahami penggunaan alat leaching dalam skala laboratorium.

1.3 Ruang Lingkup


1. Pada pembahasan ini terfokus pada cara pembuatan teh dari bunga rosella dengan
metode ekstraksi padat cair
2. Bahan yang digunakan adalah bunga rosella kering yang terdapat di daerah sekitar
bandung
3. Alat yang digunakan adalah continous solid-liquid extraction pilot plant
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Ekstraksi
2.1.1 Pengertian
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan
dengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau lebih
komponen dari suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven) sebagai
separating agen. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-
komponen dalam campuran
2.1.2 Ekstraksi Padat-Cair (Leaching)
Leaching ialah ekstraksi padat-cair dengan perantara suatu zat pelarut. Proses ini
dimaksudkan untuk mengeluarkan zat terlarut dari suatu padatan atau untuk memurnikan
padatan dari cairan yang membuat padatan terkontaminasi, seperti pigmen. Metode yang
digunakan untuk ekstraksi akan ditentukan oleh banyaknya zat yang larut, penyebarannya
dalam padatan, sifat padatan dan besarnya partikel. Jika zat terlarut menyebar merata di
dalam padatan, material yang dekat permukaan akan pertama kali larut terlebih dahulu.
Pelarut, kemudian akan menangkap bagian pada lapisan luar sebelum mencapai zat terlarut
selanjutnya, dan proses akan menjadi lebih sulit dan laju ekstraksi menjadi turun.
Ekstraksi Padat-Cair (Leaching) adalah proses pemisahan zat yang dapat melarut
(solut) dari suatu campurannya dengan padatan yang tidak dapat larut (inert) dengan
menggunakan pelarut cair (solvent). Proses ini dilakukan untuk mendapatkan bagian yang
mudah terlarut karena berharga ataupun untuk menghilangkan bagian yang kurang
berharga. Pelarut akan lebih mudah melarutkan solute yang ada pada permukaan padatan
sebelum mencapai solute selanjutnya.
2.1.3 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Laju Ekstraksi:
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil ukuran
partikel maka areal terbesar antara padatan terhadap cairan memungkinkan terjadi
kontak secara tepat. Semakin besar partikel, maka cairan yang akan mendifusi akan
memerlukan waktu yang relative lama.
2. Faktor pengaduk
Semakin cepat laju putaran pengaduk partikel akan semakin terdistribusi dalam
permukaan kontak akan lebih luas terhadap pelarut. Semakin lama waktu
pengadukan berarti difusi dapat berlangsung terus dan lama pengadukan harus
dibatasi pada harga optimum agar dapat optimum agar konsumsi energi tak terlalu
besar. Pengaruh faktor pengadukan ini hanya ada bila laju pelarutan memungkinkan.
3. Temperatur
Pada banyak kasus, kelarutan material akan diekstraksi akan meningkat dengan
temperatur dan akan menambah kecepatan ekstraksi.
4. Pelarut
Pemilihan pelarut yang baik adalah pelarut yang sesuai dengan viskositas yang
cukup rendah agar sirkulasinya bebas. Umumnya pelarut murni akan digunakan
meskipun dalam operasi ekstraksi konsentrasi dari solute akan meningkat dan
kecepatan reaksi akan melambat, karena gradien konsentrasi akan hilang dan cairan
akan semakin viskos pada umumnya (Coulson, 1955: 721). Dalam biologi dan
proses pembuatan makanan, banyak produk yang dipisahkan dari struktur alaminya
menggunakan ekstraksi cair-padat. Proses terpenting dalam pembuatan gula,
leaching dari umbi-umbian dengan produksi minyak tumbuhan, pelarut organic
seperti hexane, acetone, dan lainnya digunakan untuk mengekstrak minyak dari
kacang kedelai, biji bunga tumbuhan dan lain-lain. Dalam industri farmasi, banyak
produk obat-obatan diperoleh dari leaching akar tanaman, daun dan batang. Untuk
produksi kopi instan, kopi yang sudah dipanggang di leaching dengan air segar. Teh
dapat larut diproduksi dengan menggunakan pelarut air dan daun teh (Geankoplis,
1997: 724-725).
2.2 Sejarah Rosella
Rosella atau biasa disebut juga rosella, asam paya, asam kumbang dan asam susur atau
dalam bahasa ilmiah Hisbiscus sabdariffa, merupakan spesies bunga yang berasal dari benua
Afrika. Mulanya bunga yang juga cantik untuk dijadikan penghias halaman rumah itu diseduh
sebagai minuman hangat di musim dingin dan minuman dingin di musim panas.

Di negeri asalnya, Afrika, rosela dijadikan selai atau jeli. Itu diperoleh dari serat yang
terkandung dalam kelopak rosela, sementara di Jamaika, dibuat salad buah yang dimakan
mentah. Adakalanya juga dimakan dengan kacang tumbuk atau direbus sebagai pengisi kue
sesudah dimasak dengan gula. Di Mesir, rosela diminum dingin pada musim panas dan
diminum panas saat musim dingin. Di Sudan, menjadi minuman keseharian dengan campuran
garam, merica, dan tetes tebu. Minuman itu juga menghilangkan efek mabuk dan mencegah
batuk.

Tanaman rosella mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi disamping mempunyai
senyawa-seyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai obat. Kandungan kimiawi rosella
merah (Hibiscus sabdariffa Linn ) dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Kimiwi dari Bunga Rosella (Duke,1998)

Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa bunga rosella merah juga mengandung
bebebrapa zat aktif yang baik untuk kesehatan seperti flavonoif, anthocyanim, gossypentine,
hibiscine, sabdaretine, protocatechuate acid, alfa amylase inhibitor, ACE inhibitor, dll (Duke,
1998).

Bukan hanya dijadikan sebagai minuman penghangat di musim dingin, rosela juga
dimanfaatkan untuk diet, penderita batuk, atau diabetes gunakan gula rendah kalori seperti
gula jagung. Selain itu, bubuk biji bunga rosela juga dapat dijadikan campuran minuman kopi.
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


 Alat yang digunakan :
1. Unit ekstraksi padat-cair
2. Termometer
 Bahan yang digunakan :
1. Bunga rosella kering
2. Pelarut air

3.2 Rangkaian Alat

Gambar 1: skema rangkaian alat ekstraksi padat cair


Gambar 2: rangkaian alat ekstraksi padat cair

3.3 Prosedur Kerja


3.3.1 Persiapan Alat dan Bahan
a) Siapkan sampel yang akan diuji (daun rosella) dengan berat sesuai instruksi
pembimbing.
b) Siapkan alat unit ekstraksi padat-cair meliputi :
- Pastikan valve pada V1, V2, V3 sudah tertutup
- Sambungan lisrik pada alat dan pompa tersambung ke sumber listrik
- Penampungan solvent pada tangki D2 terisi penuh air kran.
- Atur setting-an alat ekstraksi sesuai instruksi pembimbing.
3.3.2 Prosedur kerja
a) Nyalakan pompa G1 pada controller untuk mengalirkan air kran (solvent)
b) Nyalakan Pemanas E2 untuk memanaskan aliran solvent
c) Masukkan sampel yang akan diuji ke hopper (D1)
d) Hitung laju alir solvent dengan melihat perubahan ketnggian pada tangki D2
e) Hitung laju alir ekstrak pada tangki D3
f) Matikan pompa G1 jika proses ekstraksi telah selesai
g) Matikan pemanas E2, dan dilanjut dengan mematikan unit ekstraksi pada
controller
BAB IV
DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan

NO. PENGAMATAN KETERANGAN

Alat leaching yang


digunakan berupa
conveyor dengan
kecepatan rendah yang
dialirkan dengan air
1.
dingin, dengan laju
yang yang rendah.
Rosella yang dimasukan
harus menyebar di
dalam conveyor.

Pada tangka terdapat


hasil dari ekstraksi
bunga rosella kering.
Kepekatan yang didapat
sesuai, tetapi tidak
2.
sejernih teh rosella pada
umumnya, karena
masih terdapat banyak
endapan pada hasil
tersebut.
Dilakukan penyaringan
pada hasil ekstraksi,
karena masih terdapat
3. endapan didalamnya,
agar mendapatkan
kualitas teh rosella yang
baik.

Teh Rosella yang sudah


dilakukan pengemasan.
Tidak ada lagi endapan,
dan dari segi rasa sudah
4.
mencapai tingkat
masam yang pas seperti
rasa teh rosella pada
umumnya.
4.2 Pembahasan

Hasil yang didapat pada proses ekstraksi padat cair, yaitu teh rosella
yang memiliki warna coklat jernih, hal ini karena dilakukan proses
penyaringan. Dilakukannya proses penyaringan karena ektrak yang dihasilkan
memiliki endapan yang cukup banyak, hal ini disebabkan karena pada proses
pemasukan rosella kering, penggilingan tidak terjadi secara merata, didalam
alat masih terdapat sisa-sisa rosella yang sudah mengalami beberapa kali
penggilingan, yang menyebabkan saat masuk kedalam conveyor, bunga
rosella kering telah hancur atau bubuk yang menyebabkan terdapatnya
endapan pada hasil ekstraksi.

Tetapi setelah melakukan proses penyaringan untuk menghilangkan


endapan, hasil dari teh rosella tersebut memiliki warna yang bagus yaitu coklat
kemerahan dan jernih. Dari segi rasa memiliki rasa masam yang cukup,
sehingga dapat dikonsumsi. Tingkat kemasaman sebanding dengan
kepekatran warna ekstrak. Hal ini dikarenakan warna dapat dijadikan
parameter banyak sedikitnya ekstrak yang didapat dari rosella kering yang
terekstraksi.

Pada bagian residu, memiliki warna yang lebih pekat dibandingkan


dengan hasil ekstrak. Hal ini dikarenakan air yang keluar dari tangki residu
merendam lebih banyak bunga rosella sisa hasil ekstraksi. Selain memiliki
warna yang lebih pekat, residu memiliki rasa yang lebih masam .

Hal yang hasul diperhatikan agar proses ekstraksi berjalan dengan


optimum adalah, laju alir air, proses kontak padatan dengan air, dan tidak ada
sisa rosella kering yang menyangkut pada bagian penggilingan.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. tt. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Universitas Negeri Lampung. Bandar

Lampung.http://digilib.unila.ac.id/21234/14/BAB%20II.pdf [diakses pada 19 April 2019

pukul 17.10]

Fauzan, Pamilia, Rika.2017. PROSES EKSTRAKSI MINYAK BIJI ROSELLA. Vol 17. No 2,

April 2010. Diambil dari http://jtk.unsri.ac.id/index.php/jtk/article/viewFile/126/124

[diakses pada 19 April 2019 pukul 17.21]

Herrera-Arelano A., Flores-Romero S., Chavez-Soto MA., dan TortorielloJ., (2004), Effectiveness

and Tolerability of A Standardized Extract from Hibiscus sabdariffa in Patient with Mild to

Moderat Hypertention, A Controlled and Randomized Clinical Trial. [online],

www.nlm.nih.gov. [diakes pada 19 April 2019 pukul 18.05]

Kirdpon S., Nakorn S.N., Kirdpon W., (1994), Urinary Chemical Composition in Healthy

Volunteers after Consuming Roselle(Hibiscus sabdariffa Linn), [online] www.nlm.nih.gov

[diakses pada 19 April 2019 pukul 18.27]

Maryani dan Kristiana, (2005), Khasiat dan Manfaat Rosela, Jakrta: Agromedia Pustaka

McCabe Smith & Harriot. 1986. Unit Operations of Chemicals Engineering 4th Ed. McGraw Hill.

Sri Winarti, (2006), Minuman Kesehatan, Surabaya: Trubus Agri Sarana. www.indonetwork.co.id

[diakses pada 19 April 2019 pukul 19.21]


LAMPIRAN