Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang

Tujuan Pembangunan Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan

kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang

optimal, yang ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku hidup sehat dan dalam lingkungan

yang sehat, memiliki kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata,

serta kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 2001).

Untuk mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan salah satunya dengan melaksanakan upaya

pelayanan kesehatan dasar di Rumah Sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata

dan terjangkau. Ini sesuai dengan misi Rumah Sakit yang antara lain yaitu memelihara dan meningkatkan

pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau. Rumah Sakit harus selalu berupaya untuk

menjaga agar cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan. Indikator keberhasilan misi

pelayanan kesehatan di Rumah Sakit adalah minimal mencakup seluruh indikator cakupan program pokok

Rumah Sakit dan kualitas layanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau, yang antara lain adalah

kegiatan pelayanan laboratorium di Rumah Sakit. (Trihono, 2002).

Kualitas pelayanan kesehatan khususnya di Rumah Sakit sangat dipengaruhi

oleh petugas kesehatan Rumah Sakit itu sendiri. Petugas kesehatan yang diharapkan

sekarang dan masa depan adalah dapat memberikan pelayanan kesehatan yang

bermutu yang memuaskan pemakai jasa pelayanan serta diselenggarakan sesuai

1
dengan standar dan etika pelayanan profesi. Di samping itu petugas kesehatan

Rumah Sakit khususnya petugas laboratorium selain dapat memberikan pelayanan yang

baik dan bermutu, dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya melayani pasien

dituntut untuk dapat melindungi diri dari bahaya-bahaya potensial resiko terpapar dan

terinfeksi (tertular) dari pasien dan dan tempat kerja (Depkes RI, 2000).

Untuk mendukung petugas kesehatan Rumah Sakit yang menjaga mutu dan

pelayanan yang berkualitas khususnya pelayanan di laboratorium Rumah Sakit

guna mempermudah petugas laboratorium Rumah Sakit tentang pemahaman dan cara

pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan-pemeriksaan baik sederhana maupun

canggih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Rumah Sakit saat ini, maka dari itu petugas

laboratorium memerlukan suatu pedoman atau petunjuk pemeriksaan laboratorium

Rumah Sakit yang disebut dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) laboratorium

atau standar kesehatan dan keselamatan kerja di Rumah Sakit (Depkes RI, 2001).

Standar Operasional Prosedur (SOP) laboratorium Rumah Sakit adalah suatu

pedoman tertulis, suatu patokan pencapaian tingkat, suatu pernyataan tertulis tentang

harapan yang yang spesifik atau sebagai model untuk ditiru yang dibakukan. Standar

Operasional Prosedur (SOP) meliputi peraturan-peraturan dalam mengaplikasi

proses-proses dan hasilnya sesuai dengan ketentuan yang diharapkan. Selain itu SOP

juga dapat memudahkan petugas laboratorium Rumah Sakit dalam melaksanakan

tugasnya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan bermutu

(Mulyana, dkk, 2003).

Standar Operasional Prosedur (SOP) laboratorium juga merupakan bagian

2
dan upaya pengendalian infeksi. Seperti yang dikemukakan Saifuddin, dkk (2002)

bahwa salah satu upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah dengan

memprioritaskan pengendalian infeksi. Petugas kesehatan yang bekerja di lingkungan

sarana pelayanan kesehatan antara lain adalah Rumah Sakit beresiko terhadap

penularan penyakit bila tidak mengindahkan petunjuk atau panduan kerja yang benar dalam pengendalian

infeksi. Untuk itu petugas kesehatan harus selalu waspada, memiliki kesadaran dan kepatuhan dalam

menerapkan Standar Operasional Prosedur kerja pengendalian infeksi. Hal ini sejalan dengan Kewaspadaan

Universal (KU) atau Universal Precautions yaitu suatu pedoman yang ditetapkan Centers for

Disease Control (CDC) pada tahun 1987 yang bertujuan mencegah penyebaran berbagai penyakit

yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya di lingkungan sarana pelayanan kesehatan.

Dalam pelaksanaan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP)

laboratorium Rumah Sakit terdapat beberapa kelemahan sehingga SOP belum

dilaksanakan sepenuhnya, hal ini mungkin disebabkan oleh faktor perilaku petugas

laboratorium meliputi pengetahuan dan sikap masih kurang. Di samping hal itu, tidak adanya

pengawasan dari pimpinan dan instansi terkait sehingga petugas laboratorium tidak patuh

dalam menerapkan Standar Operasional Prosedur, tidak adanya sanksi terhadap petugas

laboratorium yang tidak menerapkan Standar Operasinal Prosedur dan masih ada

petugas laboratorium yang belum mendapat pelatihan tentang pelaksanaan SOP

laboratorium dan upaya pengendalian infeksi.

Dan fenomena di atas, penulis ingin melakukan penelitian dengan judul;

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Petugas Laboratorium terhadap Kepatuhan

Menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di BP RSUD dr. Slamet Garut tahun

3
2010

1. 2. Perumusan Masalah

Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan Bagaimanakah

hubungan pengetahuan dan sikap petugas laboratorium terhadap kepatuhan

menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di BP RSUD dr. Slamet Garut

tahun 2010?

1.3. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap petugas laboratorium terhadap

kepatuhan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di BP RSUD dr. Slamet Garut

tahun 2010.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Memberi masukan bagi pengambil keputusan tentang pengetahuan dan sikap

petugas laboratorium terhadap kepatuhan menerapkan Standar Operasional

Prosedur (SOP), sebagai bahan pertimbangan dalam membina dan

mengembangkan manajemen pelayanan kesehatan khususnya di BP RSUD dr.

Slamet Garut

1.4.2 Sebagai masukan pada petugas laboratorium Rumah Sakit untuk meningkatkan

kesadaran dan kepatuhan dalam menerapkan Standar Operasional Prosedur

4
(SOP) di Rumah Sakit.

1.4.3. Untuk menambah pengetahuan penulis dan dapat dimanfaatkan sebagi

referensi ilmiah untuk pengembangan ilmu khususnya tentang keselamatan

dan kesehatan kerja (K3) petugas kesehatan Rumah Sakit

1.4.4.Bagi peneliti lain sebagai bahan perbandingan dalam melakukan penelitian

yang terkait dengan hubungan pengetahuan dan sikap petugas laboratorium

terhadap menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di BP RSUD dr. Slamet

Garut.

5
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Tinjauan Pustaka

2.1.1.Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dan tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan

pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebahagian besar pengetahuan manusia diperoleh

melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam

membentuk tindakan seseorang. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman din sendiri atau

pengalaman orang lain. Kegiatan, aktivitas dan kepatuhan seseorang ditentukan oleh pengetahuan. Sebelum

seseorang berperilaku barn atau kegiatan dan aktivitas is hams tahu terlebih dahulu atau seseorang hams

memiliki pengetahuan terlebih dahulu. Penerimaan perilaku bam ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran

dan sikap positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila

perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan, kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo,

2007).

Pengetahuan sebagai terjemahan dan kata knowledge dalam taksonomi Bloom (1908) seperti yang

dikutip oleh Sudjana (2006) menjelaskan bahwa pengetahuan sebagai suatu ingatan dan hafalan

terhadap materi yang dipelajari seperti mmus, batasan, definisi, pasal dalam undang-undang dan

sebagainya memang perlu dihafal dan diingat agar dapat dikuasai sebagai pengetahuan.

6
2.1.1.1. Tingkat Pengetahuan di dalam Domain Kognitif

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu

Tahu (know), Memahami (comprehension), Aplikasi (aplication), Analisys, Sintesis

(synthesis), Evaluasi (evaluation). (Notoatmojo, 2007)

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau dengan

angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dan subjek penelitian

atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dapat

disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas.

2.1.2.Sikap

Sikap adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang. Suatu

kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau

situasi yang dihadapi. Sikap merupakan suatu perbuatan atau tingkah laku sebagai

reaksi (respons) terhadap sesuatu rangsangan atau stimulus, yang disertai dengan

pendirian dan perasaan orang itu. Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda

terhadap suatu perangsang. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang ada pada

individu masing-masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman,

pengetahuan, intensitas perasaan dan juga situasi lingkungan. Demikian pula sikap

pada din seseorang terhadap sesuatu perangsang yang sama mungkin juga tidak

selalu sama. Bagaimana sikap kita terhadap berbagai hal di dalam hidup kita, adalah

termasuk ke dalam kepribadian kita. Di dalam kehidupan manusia, sikap selalu

mengalami perubahan dan perkembangan (Purwanto, 2003).


7
Menurut Bogardus, et al (1931) dikutip oleh Azwar (1995) menyatakan

bahwa sikap merupakan suatu kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan

cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksud merupakan

kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu

dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respons.

2.1.2.1. Komponen Pokok Sikap

Menurut Allport (1954) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007) bahwa sikap

itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu:

1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Ketika komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total

attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan dan

emosi memegang peranan penting. Pengetahuan akan membawa seseorang akan berpikir dan berusaha

supaya dirinya dan keluarga terhindar dan penyakit. Dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut

bekerja sehingga seseorang berniat untuk mencegah terjadinya penyakit, misalnya dengan melakukan

immunisasi, kebersihan perorangan dan kebersihan lingkungan.

2.1.2.2. Tingkatan Sikap

Menurut Sudjana (2006) ada beberapa jenis kategori atau tingkatan sikap. Kategorinya dimulai

8
dari tingkat dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks, yaitu :

a. Reciving/attending (menerima) kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulus) yang

datang dari luar. Dalam tingkatan ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus,

kontrol dan seleksi gejala rangsangan dan luar.

b. Responding (merespon) atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang

terhadap stimulus yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi perasaan,

kepuasan dalam menjawab stimulus dan luar yang datang kepada dirinya.

c. Valuing (penilaian) berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau

stimulus tadi. Dalam penilaian (evaluasi) ini termasuk di dalamnya kesediaan

menerima nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan

terhadap nilai tersebut.

d. Organisasi, yakni pengembangan dan nilai ke dalam suatu sistem organisasi,

termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai yang

telah dimilikinya. Yang termasuk ke dalam organisasi ialah konsep tentang nilai,

organisasi sistem nilai, dll.

e. Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah

dimiliki seseorang, yang dipengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Ke

dalam ini termasuk keseluruhan nilai dan karakteristiknya.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat

ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek (Notoatmodjo, 2007).

9
2.1.2.3 Praktek atau Tindakan

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behaviour). Untuk

mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu

kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Di samping, juga diperlukan faktor

dukungan (support) dari pihak lain.

2.1.3. Standar Operasional Prosedur (SOP)

2.1.3.1. Pengertian SOP

Menurut Mulyana dick (2003) memberikan pengertian standar operasional prosedur (SOP)

adalah suatu standar/pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan menggerakkan suatu

kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.

Dan selanjutnya menurut Depkes RI (1995) Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah suatu

protap yang merupakan tata atau tahapan yang hams dilalui dalam suatu proses kerja tertentu, yang dapat

diterima oleh seorang yang berwenang atau yang bertanggung jawab untuk mempertahankan tingkat

penampilan atau kondisi tertentu sehingga sesuatu kegiatan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien.

2.1.3.2. Tujuan SOP

1. Agar petugas menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas atau tim dalam organisasi

atau unit.

2. Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi

10
3. Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas terkait.

4. Melindungi organisasi dan staf dari malpraktek atau kesalahan administrasi lainnya. .

5. Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan inefisiensi.

2.1.3.3. Fungsi SOP

1. Memperlancar tugas petugas atau tim.

2. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.

3. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak.

4. Mengarahkan petugas untuk sama-sama disiplin dalam bekerja.

5. Sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas rutin.

2.1.3.4. Prinsip-pinsip SOP

1. Harus ada pada setiap kegiatan pelayanan.

2. Bisa berubah sesuai dengan perubahan standar profesi atau perkembangan

iptek serta peraturan yang berlaku.

3. Memuat segala indikasi dan syarat-syarat yang hams dipenuhi pada setiap

upaya.

4. Harus didokumentasikan.

2.1.3.5. Standar Pelayanan Laboratorium di Rumah Sakit

2.1.3.5.1.Pengertian

Memuat pedoman tentang pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja

11
di laboratorium secara baik dan benar sesuai pedoman demi terciptanya

kesehatan dan keselamatan petugas maupun lingkungan kerja.

2.1.3.5.2.Prosedur

a. Pakailah jas laboratorium selama berada dalam ruang pemeriksaan atau di ruang

laboratorium. Tinggalkan jas laboratorium di ruang laboratorium setelah

selesai bekerja.

b. Cuci tangan sebelum pemeriksaan

c. Menggunakan alat pelindung diri (masker, sarong tangan, kaca mata dan

sepatu tertutup).

d. Semua specimen hams dianggap infeksius (sumber penular), oleh karena itu hams ditangani

dengan sangat hati-hati.

e. Semua bahan kimia harus dianggap berbahaya, oleh karena itu hams ditangani dengan

hati-hati.

f. Tidak makan, minum dan merokok di dalam laboratorium.

g. Tidak menyentuh mulut dan mata pada saat sedang bekerja.

h. Tidak diperbolehkan menyimpan makanan di dalam lemari pendingin yang digunakan untuk

menyimpan bahan-bahan klinik atau riset.

i. Tidak diperbolehkan melakukan pengisapan pipet melalui mulut gunakan peralatan mekanik

(seperti penghisap karet) atau pipet otomatis.

12
j. Tidak membuka sentrifuge sewaktu masih berputar.

k. Menutup ujung tabung penggumpal darah dengan kertas atau kain, atau jauhkan dari muka

sewaktu membuka.

l. Bersihkan semua peralatan bekas pakai dengan desinfektans lamtan klorin 0,5 % dengan

cara merendam selama 20-30 menit.

m. Bersihkan pennukaan tempat bekerja atau meja kerja setiap kali selesai bekerja dengan

menggunakan lamtan klorin 0,5 %.

n. Pakai sarong tangan rumah tangga sewaktu membersihkan alat-alat laboratorium dari

bahan gelas.

o. Gunakan tempat antitembus dan antibocor untuk menempatkan bahan-bahan yang tajam.

p. Letakkan bahan-bahan limbah infeksi di dalam kantong plastik atau wadah

dengan penutup yang tepat.

q. Cuci tangan dengan sabun dan beri desinfektan setiap kali selesai bekerja.

2.1.4. Infeksi yang didapat di Laboratorium

2.1.4.1. Pengertian Infeksi yang Didapat di Laboratorium

Infeksi yang didapat di laboratorium adalah infeksi nosokomial akibat

kegiatan staf laboratorium tanpa memperkirakan bagaimana kejadiannya.

13
2.1.4.2. Jenis Paparan Akibat Infeksi yang didapat di Laboratorium

Infeksi organisme pathogen dapat terjadi melalui beberapa cara. Yang paling

sering adalah:

1. Inhalasi. Pada saat melakukan pencampuran, penggilingan atau penghalusan

bahan-bahan infeksius atau pada saat membakar kawat loop pemindah dapat

membentuk percikan halus yang dapat terhirup oleh petugas yang tidak

menggunakan pelindung.

2. Tertelan

Para petugas laboratorium dapat terpapar melalui:

a. Gerakan yang tidak disadari dan tangan ke mulut.

b. Memasukkan bahan-bahan yang telah terkontaminasi (pensil) atau jari

tangan ke mulut.

c. Makan, minum atau merokok di dalam laboratorium atau tidak

melakukan upaya kebersihan tangan yang betul (tidak mencuci tangan

atau tidak menggunakan penggosok tangan dengan bahan dasar alkohol sebelum dan sesudah

makan).

d. Menggunakan pipet (13% angka kejadian infeksi yang didapat di

laboratorium terjadi karena melakukan pipet melalui mulut).

3. Luka akibat tusukan. Cedera akibat kecelakaan dengan benda-benda tajam (jarum, pisau bedah dan
14
bahan-bahan pecah belah yang telah terkontaminasi) merupakan penyebab utama infeksi yang

didapat di laboratorium.

4. Kontaminasi pada kulit dan selaput lendir. Cipratan dan percikan dari cairan yang

terkontaminasi pada kulit, selaput lendir mulut, rongga hidung dan konjungtiva mata dan

gerakan tangan ke muka dapat mengakibatkan terjadinya transmisi organisme pathogen

(Tietjen, 2004).

2.1.4.3. Pengambilan Darah (Flebotomi)

Centers for Disease Control (CDC) menyatakan bahwa flebotomi merupakan prosedur

yang beresiko paling tinggi, karena jarum paling sering digunakan adalah ukuran besar (8-22 gauge) dan

jumlah darah tertinggal di dalam jarum sesudah pemakaian.

Pada laporan 1999 (EPINet), 21% dari 1.993 perlukaan tajam yang dilaporkan di Amerika

Serikat berhubungan dengan flebotomi. Lebih dari 80% perlukaan jarum terjadi sewaktu mengambil

darah vena, menggunakan jarum vakum, jarum sekali pakai dan jarum butterfly. Pada flebotomi yakinkan

bahwa: pakai sarung tangan, cari bantuan bila pasien tidak bekerjasama dan untuk menangani anak-anak

(Tietjen, 2004).

2.1.5. Alat Pelindung Diri

Alat pelindung diri (APD), telah digunakan bertahun-tahun lamanya untuk melindungi pasien

dan mikroorganisme yang terdapat pada petugas yang bekerja pada suatu tempat perawatan kesehatan

Akhir-akhir ini dengan timbulnya AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), HBV

15
(Hepatitis B Virus), HCV(Hepatitis C Virus) dan munculnya kembali tuberculosis di banyak

negara, penggunaan APD menjadi sangat penting untuk melindungi petugas (Tietjen, 2004).

2.1.5.1. Jenis Alat Pelindung Diri yang Dipakai di Laboratorium

Alat Pelindung Diri (APD) meliputi sarung tangan, masker, pelindung mata, gaun, kap, apron

dan alas kaki. Alat Pelindung Din yang sangat efektif terbuat dan kain yang diolah atau bahan sintetis

yang dapat menahan air, darah dan cairan lain untuk menembusnya (Tietjen, 2004).

a. Sarung tangan

Alat ini merupakan pembatas fisik terpenting untuk mencegah penyebaran infeksi, tetapi hams

diganti setiap kontak dengan satu pasien ke pasien lainnya untuk mencegah kontaminasi

silang. Sarung tangan hares dipakai kalau menangani darah, duh tubuh, sekresi dan ekskresi

(kecuali keringat).

Petugas kesehatan menggunakan sarung tangan untuk tiga alasan, yaitu:

1) Mengurangi resiko petugas kesehatan terkena infeksi dari pasien.

2) Mencegah penularan flora kulit petugas kepada pasien.

3) Mengurangi kontaminasi tangan petugas kesehatan dengan mikro organisme yang

dapat berpindah dari satu pasien ke pasien lain.

b. Masker

Masker dipakai untuk menahan cipratan yang keluar dari sewaktu petugas

kesehatan atau petugas bedah bicara, batuk, bersin dan juga mencegah

cipratan darah atau cairan tubuh yang terkontaminasi masuk ke dalam


16
hidung atau mulut petugas kesehatan.

c. Pelindung mata

Pelindung mata melindungi petugas kesehatan dari cipratan darah atau cairan

tubuh lainnya yang terkontaminasi dengan pelindung mata.

d. Gaun penutup

Pemakaian utama dari gaun penutup adalah untuk melindungi pakaian

petugas pelayanan kesehatan. Gaun penutup diperlukan sewaktu melakukan

tindakan, bila baju tidak ingin kotor.

e. Kap (penutup rambut)


Dipakai untuk menutup rambut dan kepala, tujuan utamanya adalah

melindungi pemakainya dari semprotan dan cipratan darah dan cairan tubuh

lainnya.

f. Apron

Apron dibuat dari karet atau plastik sebagai suatu pembatas air di bagian

depan dari tubuh petugas kesehatan. Apron hams dipakai kalau sedang

membersihkan atau melakukan tindakan dimana darah atau cairan tubuh

diantisipasi akan tumpah.

g. Alas kaki

Alas kaki dipakai untuk melindungi kaki dari perlukaan oleh benda tajam atau dari cairan

yang jatuh atau menetes ke kaki. Sepatu bot dan karet atau kulit lebih melindungi, tapi hams

selalu bersih dan bebas dan kontaminasi darah atau cairan tubuh lainnya

17
2.2.Kerangka Konsep

- Pengetahuan
- Sikap
Kepatuhan menerapkan
Standar Operasional
Prosedur (SOP)
Karakteristik : Laboratorium
- Umur Rumah sakit
- Jenis kelamin
- Pendidikan
- Masa kerja

2.3. Kerangka pemikiran

Kualitas pelayanan kesehatan khususnya di Rumah Sakit sangat dipengaruhi

oleh petugas kesehatan Rumah Sakit itu sendiri. Petugas kesehatan yang diharapkan

sekarang dan masa depan adalah dapat memberikan pelayanan kesehatan yang

bermutu yang memuaskan pemakai jasa pelayanan serta diselenggarakan sesuai

dengan standar dan etika pelayanan profesi. Di samping itu petugas kesehatan

Rumah Sakit khususnya petugas laboratorium selain dapat memberikan pelayanan yang

baik dan bermutu, dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya melayani pasien

dituntut untuk dapat melindungi diri dari bahaya-bahaya potensial resiko terpapar dan

terinfeksi (tertular) dari pasien dan dan tempat kerja.

18
2.4. Hipotesis

2.4.1. Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap petugas laboratorium

terhadap kepatuhan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di BP RSUD

dr. Slamet

1.4.2. Ha : Ada Hubungan antara pengetahuan dan sikap petugas laboratorium terhadap
kepatuhan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di Puskesmas Kota
Pekanbaru.

2.5. Definisi Operasional


No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Hasil Ukur Skala
Ukur Ukur
1. Pengetahuan Segala sesuatu yang Kuisioner Kuisioner 0= tidak Ordinal
diketahui oleh petugas tahu
laboratorium tentang 1= tahu
pedoman pelaksanaan
kesehatan dan keselamatan
kerja di laboratorium untuk
terciptanya kesehatan dan
keselamatan petugas
maupun lingkungan kerja di
laboratorium Rumah sakit.

2. Sikap Reaksi atau respon petugas Kuisioner Kuisioner 0=positif Ordinal


laboratorium mengenai (skor >
standar operasional prosedur median)
(SOP) laboratorium Rumah
sakit 1= negatif
(skor <
median)

19
3. Petugas Petugas kesehatan Rumah Kuisioner Kuisioner 0=Bukan Ordinal
Rumah Sakit sakit yang bekerja di 1= ya
laboratorium Rumah sakit

4. Kepatuhan Patuh dalam mengerjakan Wawancara Kuisioner 0=tidak Ordinal


sesuatu yang menjadi tugas patuh
dan kewajibannya di
laboratirium Rumah sakit 1=patuh

5. Standar Suatu standar atau pedoman Observasi Observasi 0=tidak Ordinal


Operasional yang menjadi acuan dalam dilaksana
Prosedur memberikan pelayanan kan
(SOP) kesehatan di laboratorium
rumah sakit 1=dilaksana
Kan

6. Umur adalah Usia petugas laboratorium Wawancara Kuisioner 1= < 30 thn Ordinal
usia petugas yang dihitung dalam tahun 2= > 30 thn
laboratorium sejak kelahiran sampai
dengan tahun pada waktu
penelitian

7. Pendidikan Tingkat pendidikan formal Kuisioner Kuisioner 1= SMAK Ordinal


terakhir yang pernah 2= D3
ditempuh oleh petugas Analis
laboratorium 3= S1
kesehata
n

8. Masa Kerja Lamanya kerja petugas Kuisioner Kuisioner 1= < 5 th Ordinal


laboratorium sejak mulai 2= 5-10 th
bekerja di rumah sakit 3= > 10 th
sampai saat penelitian
dilakukan

20
BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1.Jenis dan desain penelitian

3.1.1.Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian observational yang bersifat deskriptif Analitik

dengan metode cross sectional study. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif.

Pendekatan kuantitatif digunakan bertujuan untuk mengetahui korelasi antara variabel bebas yaitu

pengetahuan dan sikap petugas laboratorium dengan variabel terikat yaitu kepatuhan menerapkan

standar operasional prosedur (SOP) di BP RSUD dr. Slamet Garut.

3.1.2. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian penjelasan (Explanary research) yaitu penelitian yang

menjelaskan hubungan antara variabel serta penelitian ini menggunakan metode survei dengan

menggunakan pendekatan secara cross sectional yaitu dilakukan pada waktu yang sama.

3.2. Populasi dan sampel

3.2.1. Populasi

Seluruh petugas laboratorium BP RSUD dr. Slamet Garut, berjumlah 16 orang.

21
3.2.2.Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi (total sampling) yaitu

berjumlah 16 orang petugas laboratorium BP RSUD dr. Slamet Garut.

3.3. Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di BP RSUD dr. Slamet Garut selama 1 bulan.

3.4. Cara Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data

sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara, observasi dengan menggunakan

kuesioner-kuesioner yang dipersiapkan, sedangkan data sekunder yang diperoleh dan

dikumpulkan dari Laboratorium BP RSUD dr. Slamet Garut, yang berkaitan

dengan masalah penelitian.

3.5. Rencana Pengolahan dan Analisis Data

3.5.1. Pengolahan Data

3.5.1.1.Editing (Memeriksa data)

Editing adalah memeriksa data yang telah dikumpulkan berupa hasil

22
pemeriksaan glukosa urin dari 50 sampel urin penderita diabetes melitus rawat

jalan di laboratorium BP RSUD dr. Slamet Garut.

3.5.1.2.Coding (memberi kode)

Data yang ada diberi kode untuk memudahkan pengolahan data.

3.5.1.3.Entry data

Data yang telah diberi kode selanjutnya dimasukkan ke program yang akan

digunakan dengan metode yang tepat.

3.5.1.4.Tabulating (menyusun data)

Tabulating yaitu proses penyusunan data ke dalam bentuk tabel.

3.5.1.5.Mendeskripsikan Data

Data yang telah diolah selanjutnya disajikan dengan menyusun data hasil

penelitian agar lebih mudah dipahami dan dimengerti yaitu dalam bentuk tulisan

dan tabel.

3.5.2. Analisis data

3.5.2.1. Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk mendapatkan data tentang distribusi

frekuensi dari masing-masing variabel, kemudian data ini disajikan dalam bentuk

tabel distribusi frekuensi.


23
Pada penelitian ini analisa data dengan statistik univariat akan digunakan

untuk menganalisa :

a. Pengetahuan Petugas Laboratorium tentang Standar Operasional Prosedur

(SOP).

b. Sikap Petugas Laboratorium Puskesmas dalam penerapan Standar

Operasional Prosedur(SOP).

c. Karakteristik responden (umur, pendidikan, jenis kelamin, lama bekerja).

3.5.2.2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat adalah analisis statistik yang dapat digunakan dalam mencari

hubungan antara pengetahuan dan sikap petugas laboratorium dengan penerapan

standar operational prosedur (SOP) di Puskesmas kota Pekanbaru. Analisa ini

mempunyai tujuan untuk mencari hubungan antar variabel. Untuk menganalisa data

yang telah dikumpulkan digunakan Uji Chi-Square test dengan bantuan SPSS pada

tingkat kepercayaan 95 % (x= 0,05). Bila p<0,05 maka ada hubungan yang signifikan

antara variabel petugas laboratorium dengan penerapan standar operational prosedur

(SOP) di Puskesmas kota Pekanbaru tahun 2008.

3.5.2.3. Analisis Multivariat

Analisis multivariat untuk melihat hubungan antara variabel independen dan

dependen dengan menggunakan uji regresi logistik yang didapatkan dari uji bivariat

dimana variabel yang mempunyai nilai p < 0,25 dapat dijadikan variabel yang

24
berpengaruh terhadap kepatuhan Standar Operasional Prosedur (SOP) laboratorium.

Dari uji multivariat ini akan diketahui variabel yang paling dominan pengaruhnya

terhadap kepatuhan Standar Operasional Prosedur (SOP). Analisis ini menggunakan

komputer dengan program SPSS for windows.

3.6. Rencana Penelitian

NO Kegiatan Penelitian Bulan Juni Bulan Juli

1 2 3 4 1 2 3 4

1 Penyusunan Proposal X X

2 Penyusunan Instrumen X

3 Uji Pendahuluan X X

4 Pengumpulan Data X X X

5 Pengolahan Data X X

6 Analisis Data X X

7 Penyusunan Laporan X X

25
DAFTAR PUSTAKA

Adiasmito, Wiko., 2007, Sistem kesehatan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Azwar

(2007). Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya, Edisi ke 2, Jakarta, Pustaka Pelajar

Arlinda (2004) Statistika Kesehatan. Medan : USU press.

Arikunto. (2002) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta PT. Rineka

Cipta.

Arikunto, S, 2003, Manajemen Penelitian, Edisi Revisi , Jakarta , PT. Rineka Cipta

Basuria (2008) Pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap kepatuhan minum

obat penderita kusta di Kabupaten Asahan Tahun 2007, Medan. Pustaka Ekspres

Departemen kesehatan RI., 2001, Paradigma Sehat. Jakarta : Depkes

___________, 2002, Panduan Nasional Penanggulangan Tuberculosis, Jakarta : P2M

Hidayat, Aziz, 2003, Riset Keperawatan dan Teknis Penulisan Ilmiah, Jakarta, Salemba

Medika

Jhon (2005) Kepatuhan dalam menerapkan SOP di Puskesmas Karo, Percetakan Kevin

Machfoedz, Ircham , Suryani, Eko., 2007, Pendidikan Kesehatan Bagian dari Promosi

Kesehatan, Yogyakarta: Fitramaya

Notoatmodjo, 2007, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta , PT. Rineka Cipta

Notoatmodjo, 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta, PT. Rineka Cipta

26