Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

“Melakukan Flebotomi dengan Penyulit Hemodialisa”


(Kelompok I)

ANALIS KESEHATAN

Disusun oleh:
1. Ratna Laila
2. Asep Toto Tarjo
3. Ernah Rahmawati
4. Sri Widiyati
5. Fitria Sukma
6. Gabrella Margareth Nuch
7. Irvan Maulana
8. Meidina Siti Hanifah
9. Sylvia Lestari
10. Katerina Naisanu

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Praktek pengeluaran darah (bloodletting) sudah sejak lama dikenal manusia dan

menjadi bagian dari pengobatan pasien. Teknik pengeluaran darah yang pertama

(tahun 100 SM) dilakukan oleh dokter-dokter dari Syria dengan menggunakan lintah.

Sebelum dikenal Hippocrates dengan sebutan ”Bapak Ilmu Kedokteran” (abad 5 SM),

seni pengambilan darah banyak mengalami perubahan. Demikian pula dengan

berbagai alat untuk keperluan pengambilan dan penampungan bahan darah. Lanset

untuk pengambilan darah digunakan pertama kali sebelum abad ke 5 SM dengan tetap

mengacu kepada lintah sebagai bentuk dasar. Dengan lanset ini seorang dokter

(practitioner) melubangi vena, kadang-kadang sampai beberapa lubang. Menjelang

akhir abad 19 barulah teknologi mengambil alih memproduksi “lintah artificial”. Kini

telah dikenal beragam alat pengambilan darah dan mudah diperoleh di pasaran.

Kebanyakan pengambilan specimen darah pasien saat ini masih dilaksanakan oleh

teknisi/analis laboratorium baik diruang laboratorium maupun diruang perawatan.

Hemodialisa didefenisikan sebagai bergeraknya air dan zat-zat beracun hasil

metabolisme dari dalam darah melewati membran semipermeable ke dalam cairan

dialisa. Hemodialisa dapat dilakukan di rumah atau di unit dialisa. Pasien yang

menderita penyakit akut atau mengalami komplikasi medis biasanya melakukan

dialisa di unit dialisa rumah sakit atau di unit perawatan intensif, sementara pasien

yang kondisi kesehatannya lebih stabil dapat melakukan dialisa sebagai pasien rawat

jalan di unit dialisa rumah sakit, di pusat dialisa non-rumah sakit atau di rumah.
B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan flebotomy?

2. Bagaimana melakukan flebotomi dengan penyulit hemodialisa?

C. Tujuan

Agar mahasiswa memahami tentang flebotomi dan bagaimana melakukan

flebotomi dengan penyulit hemodialisa.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Flebotomy

Flebotomi (bahasa inggris: phlebotomy) berasal dari kata Yunani phleb dan

tomia. Phleb berarti pembuluh darah vena dan tomia berarti mengiris/memotong

(“cutting”). Sedangkan Flebotomist adalah seorang tenaga medik yang telah mendapat

latihan untuk mengeluarkan dan menampung specimen darah dari pembuluh darah

vena, arteri atau kapiler. Teknik flebotomi merupakan suatu cara pengambilan darah

(sampling) untuk tujuan tes laboratorium atau bisa juga pengumpulan darah untuk

didonorkan.

B. Kompetensi seorang Flebotomist

Kompetensi minimal seorang flebotomi antara lain :

1. Flebotomis mampu berkomunikasi dengan pasien untuk menjelaskan tujuan

pengambilan darah, apa yang akan dilakukan dan bagaimana caranya,

menjelaskan tujuan dan cara persiapan pasien.

2. Mampu mengerjakan tugas-tugas administrasi

3. Harus mengerti dan mematuhi prosedur keselamatan pasien dan dirinya

4. Harus dapat menyiapkan bahan dan alat-alat yang akan digunakan serta

memilih antikoagulan yang tepat

5. Harus memahami prosedur dan tehnik flebotomi venipuncture dan

skinpuncture yang benar

6. Melakukan labelisasi pada tabung / wadah sampel secara benar

7. Mampu melakukan tranportasi sampel secara benar serta tepat waktu ke

laboratorium
8. Harus mampu menangani komplikasi akibat pelaksaan flebotomi secara benar

dan cepat. (Rikawati 2010)

C. Flebotomi dengan penyulit hemodialisa

Hemodialisis merupakan salah satu terapi pengganti ginjal buatan dengan tujuan

untuk mengeliminasi sisa-sisa produk metabolisme (protein) serta koreksi gangguan

keseimbangan cairan dan elektrolit antara kompartemen darah dan cairan dialisis

melalui selaput membran semipermiabel yang berperan sebagai ginjal buatan.

Komplikasi yang dapat muncul ketika individu melakukan hemodialisa antara

lain tekanan darah rendah, kram otot, mual, muntah, sakit kepala, sakit di dada, sakit

di punggung, gatal-gatal, demam, kedinginan, perdarahan, masuknya gelembung

udara ke dalam aliran darah, penurunan jumlah darah merah, penurunan kadar gula

dalam darah, gangguan ritme jantung dan otak, anemia, gangguan pada jumlah

kalsium dan fosfor dalam tulang, gangguan berbicara, konstraksi otot mendadak,

kejang, infeksi, gangguan gizi serta masalah psikososial.

Ada 3 prinsip dasar dalam hemodialisis yaitu :

1. Proses difusi merupakan proses berpindahnya suatu zat terlarut yang

disebabkan karena adanya perbedaan konsentrasi zat-zat terlarut dalam

darah dan dialisat.Perpindahan molekul terjadi dari zat yang

berkonsentrasi tinggi ke yang berkonsentrasi lebih rendah melalui suatu

membrane semi permeabel yang membatasi kompartemen darah dan

kompartemen dialisat.

2. Proses Osmosis yaitu berpindahnya air karena adanya perbedaan tekanan

osmotik (osmolalitas) darah dan dialisat.


3. Proses ultrafiltrasi yaitu berpindahnya zat pelarut (air) melalui

membrane semi permeable akibat perbedaan tekanan hidrostatik pada

kompartemen darah dan kompartemen dialisat.(Dewi RTK, 2014)

Prosedur pengambilan darah pada pasien hemodialisa :

1. Melakukan persiapan pasien flebotomi vena dan kapiler meliputi :

a. Persiapan pasien dalam pengambilan darah dikomunikasikan

sesuai dengan persyaratan yang dipersyaratkan.

b. Kesesuaian data pasien dicocokan dengan formulir permintaan

pemeriksaan.

c. Pasien ditempatkan pada posisi yang nyaman (ergonomis).

d. Ijin pengambilan darah dimintakan dari pasien yang

bersangkutan.

e. Rencana pengambilan sampel darah dan Risiko yang mungkin

terjadi dikomunikasikan kepada pasien.

f. Alat Pelindung Diri dipakai.

g. Peralatan dan bahan untuk pengambilan darah dipilih sesuai

dengan jenis pemeriksaan yang diminta.

2. Melakukan flebotomi dengan penyulit pasien hemodialisa :

a. Pasien dan/atau beserta pendamping pasien ditempatkan pada

kursi atau tempat tidur yang nyaman untuk proses pengambilan

darah.

b. Lokasi pengambilan darah dipilih dengan tepat.

c. Proses desinfeksi dilakukan sebelum melakukan pengambilan

darah.
d. Pemasangan torniquet dilakukan dengan benar.

e. Penusukan terhadap pembuluh darah dilakukan dengan tepat.

f. Diperoleh volume darah yang tepat sesuai dengan formulir

permintaan pemeriksaan.

g. Tourniquet dilepaskan.

h. Darah dimasukkan ke tabung yang telah disiapkan sesuai dengan

jenis pemeriksaan.

i. Homogenisasi sampel dilakukan sesuai dengan persyaratan.

j. Lokasi pasca pengambilan darah disterilisasi dengan kasa dan

perban.

k. Dalam waktu minimal 5 menit, lokasi pasca pengambilan darah

diobservasi terhadap kemungkinan terjadinya akibat yang tidak

diinginkan.

3. Melakukan pengolahan spesimen :

a. Tabung diberi label berisi catatan waktu dan tanggal

pengambilan, data rinci pasien dan informasi lain yang

dibutuhkan.

b. Sampel dikumpulkan pada suatu wadah sesuai jenis pemeriksaan

untuk diproses lebih lanjut.


Yang perlu diperhatikan saat pengambilan darah pada pasien hemodialisa

yaitu:

1. Pasien dialisa menjadi masalah tersendiri ketika akan diambil darahnya

akibat dari seringnya pengambilan darah untuk pemeriksaan dan

pelaksanaan dialisa yang menyebabkan vaskulitis (peradangan pembuluh

darah). Vaskulitis ini dapat menyebabkan perubahan pada dinding

pembuluh darah. Perubahan yang dapat terjadi pada dinding pembuluh darah

antara lain penebalan, penyempitan, pelemahan, dan munculnya bekas luka.

Perubahan tersebut dapat menghambat aliran darah, dan mengakibatkan

kerusakan pada organ dan jaringan tubuh.

2. Terbatasnya akses vena.

3. Jangan mengambil darah dari vena pada lengan yang terpasang kanul atau

fisful. Lebih baik mengambil darah dari lengan atau vena yang jauh dari

kanul atau fisul tersebut.

D. Kegagalan pengambilan darah

Faktor yang dapat menyebabkan antara lain :

1. Karena jarum kurang dalam

2. Jarum terlalu dalam/tembus, lubang jarum menempel didinding pembuluh

darah, vena kolap atau tabung tidak vakum. Vena kolaps dapat terjadi bila

menarik penghisap dengan cepat, menggunakan tabung yang terlalu besar

atau jarum terlalu kecil.


BAB III

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Flebotomi (bahasa inggris:phlebotomy) berasal dari kata Yunani phleb dan tomia.

Phleb berarti pembuluh darah vena dan tomia berarti mengiris/memotong(“cutting”).

Dulu dikenal istilah vena sectie (Bld), venesection atau veni section(Ing). Sedangkan

Flebotomist adalah seorang tenaga medic yang telah mendapat latihan untuk

mengeluarkan dan menampung specimen darah dari pembuluh darah vena, arteri atau

kapiler. Ada beberapa kompetensi yang harus dimiliki seorang flebotomist, dan

perilaku professional yang harus dipatuhi seorang flebotomist.

Darah dapat diperoleh melalui pengambilan darah vena, darah kapiler dan darah

arteri. Komplikasi yang dapat muncul ketika individu melakukan hemodialisa antara

lain tekanan darah rendah, kram otot, mual, muntah, sakit kepala, sakit di dada, sakit

di punggung, gatal-gatal, demam, kedinginan, perdarahan, masuknya gelembung

udara ke dalam aliran darah, penurunan jumlah darah merah, penurunan kadar gula

dalam darah, gangguan ritme jantung dan otak, anemia, gangguan pada jumlah

kalsium dan fosfor dalam tulang, gangguan berbicara, konstraksi otot mendadak,

kejang, infeksi, gangguan gizi serta masalah psikososial.


B. Saran

Agar tidak terjadi kesalahan pada saat pengambilan darah maka seorang

flebotomist harus memiliki kompetensi dan perilaku professional sehingga

dapat bekerja dengan baik dan benar agar memperoleh hasil yang akurat.