Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERWATAN GAWAT DARURAT I

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN


KEGAWATDARURATAN DENGAN APENDIKSITIS

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK I :
PUTU CANDRA PRADNYASARI ( P07120216041 )
NI PUTU RIKA UMI KRISMONITA ( P07120216042 )
I KOMANG SUTHA JAYA ( P07120216043 )
DEWA AYU PUTRI WEDA DEWANTI ( P07120216044 )
KADEK MEISA RUSPITA DEWI ( P07120216045 )
NI LUH GD INTEN YULIANA DEWI ( P07120216046 )
LUH EKA DESRIANA PUTRI ( P07120216047 )
INDAH CANTIKA WAHADI ( P07120216048 )
NI PUTU AYU SUCITA DEWI ( P07120216049 )
NI PUTU INDAH PRASTIKA DEWI ( P07120216050 )
NI PUTU NATIYA GIYANTI ( P07120216051 )
FENDY ANUGRAH PRATAMA ( P07120216052 )
I GST AG GDE INDIRA PRASADHA ( P07120216053 )

TINGKAT 4.B SEMESTER VII D-IV KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
JURUSAN KEPERAWATAN
2019
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
KEGAWATDARURATAN PADA PASIEN DENGAN APENDIKSITIS

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada umbai cacing
(apendiks vermiformis). Infeksi ini mengakibatkan peradangan akut
sehingga memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi
lainnya yang umumnya berbahaya. (Wim de Jong et al.2005 dalam
Nurarif, Amin dan Hardhi Kusuma,2015).
Apendisitis umumnya disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen
apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, benda asing, fekalit, striktur
lantaran fibrosis, akibat adanya peradangan sebelumnya, atau adanya
neoplasma. Obstruksi tersebut mengakibatkan mucus yang diproduksi
mukosa mengalami sebuah bendungan. Semakin lama mucus tersebut
semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai sebuah
keterbatasan sehingga menyebabkan adanya tekanan intralumen. Tekanan
yang meningkat tersebut dapat menghambat aliran limfe yang
mengakibatkan adanya edema, diapedesis bakteri dan ulserasi mukosa. Di
saat ini inilah terjadi apendisitis akut fokal ya ng ditandai dengan adanya
nyeri epigastrium.
Apabila sekresi mucus terus berlanjut, maka tekanan dapat terus
meningkat. Hal tersebut dapat menyebabkan adanya obstruksi vena,
edema bertambah dan bakteri dapat menembus dinding. Peradangan yang
timbul meluas dan mengenaiperitoneum setempat sehingga menimbulkan
adanya rasa nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan
apendisitis supuratif akut.
Apabila selanjutnya aliran arteri terganggu dapat terjadi infark dinding
apendiks yang diikuti dengan adanya gangren. Stadium ini disebut dengan
apendisitis gangrenosa. Apabila dinding yang telah rapuh itu pecah, maka
dapat terjadi apendisitis perforasi.
Apabila seluruh proses di atas berjalan dengan lambat, omentum dan
usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks sehingga timbul
suatu massa local yang biasa disebut infiltrate apendikularis. Peradangan
apendiks tersebut akan menjadi abses atau menghilang. Pada anak – anak,
lantaran omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding
apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut didukung dengan daya tahan tubuh
yang masih kurang atau lemah dan memudahkan terjadinya perforasi.
Namun pada orang tua perforasi sangat mudah terjadi lantaran telah ada
gangguan pembuluh darah (Masjoer,2007).

2. Penyebab/faktor predisposisi
Apendiks merupakan organ yang belum diketahui fungsinya tetapi
menghasilkan lender 1-2 mL per hari yang normalnya dicurahkan ke
dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan lender
dimuara apendiks tampaknya berperan dalam pathogenesis apendiks.
(Nurarif, Amin dan Hardhi Kusuma,2015).
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik, tetapi ada
faktor predisposisi yaitu :
a. Faktor tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini
terjadi karena :
1). Hyperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab
terbanyak
2). Adanya fekolit dalam lumen appendiks
3). Adanya benda asing seperti biji –bijian
4). Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya
b. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E.Coli dan
Streptococcus
c. Laki - laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30
tahun. Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limfoid pada
masa tersebut.
d. Tergantung pada bentuk appendiks :
1). Appendiks yang terlalu panjang
2). Massa apendiktomi yang pendek
3). Penonjolan jaringan limfoid dalam lumen appendiks
4). Kelainan katup di pangkal appendiks
(Nuzulul, 2009)

3. Pohon masalah

Fekalit ; benda asing, neoplasma dll

Obstruksi lumen

Mucus terbendung

Gangguan Peningkatan tekanan intralumen


rasa  Peritonitis
Ujung saraf POLA NAFAS
 darah
nyamanSuplai aliran Perforasi
dan limfe menurun
NYERI AKUT
DEFISIT
terputus NUTRISI Anastesi
Mual Anoreksia
dan muntah TIDAK
Depresi EFEKTIF
Luka insisi
Kerusakan jaringan Operasi
Edema,
Penurunan Distensi
Peradangan pada
Menekan
diapedesis
peristaltic abdomen
apendik
gaster (ulserasi
bakteri,
usus
Abses APENDISITIS
mukus
Peradangan pdsistem
) Akumulasi
Reflex respirasi
secret
batuk
jaringan
4. Klasifikasi
a. Apendisitis akut
Apendisitis akut adalah radang pada jaringan apendiks. Apendisitis
akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan
diikuti oleh proses infeksi dari apendiks. Penyebab obstruksi dapat
berupa :
1) Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
2) Fekalit
3) Benda asing
4) Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang
diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin
meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan
intra mukosa juga semakin tinggi. Tekanan yang tinggi akan
menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga terjadi
peradangan supuratif yang menghasilkan pus / nanah pada dinding
apendiks. Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh
penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar secara
hematogen ke apendiks.
b. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan
menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema
pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke
dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa
menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan
mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat
eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal
seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler,
dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat
terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis
umum.
c. Apendisitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan
nyeri berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukan
apendiktomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan
ini terjadi bila serangn apendisitis akut pertama kali sembuh spontan.
Namun, apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena
terjadi fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya serangn lagi
sekitar 50 persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya dilakukan
apendektomi yang diperiksa secara patologik. Pada apendiktitis
rekurensi biasanya dilakukan apendektomi karena sering penderita
datang dalam serangan akut.
d. Apendisitis kronis
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi
semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu,
radang kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan
keluhan menghilang satelah apendektomi.
Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh
dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya
jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi
kronik. Insidens apendisitis kronik antara 1-5 persen.
e. Mukokel Apendiks
Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi
musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks, yang biasanya
berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan tertimbun
tanpa infeksi. Walaupun jarang,mukokel dapat disebabkan oleh suatu
kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas.
Penderita sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa tidak enak di
perut kanan bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio iliaka
kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda apendisitis
akut. Pengobatannya adalah apendiktomi.

f. Tumor Apendiks (Adenokarsinoma apendiks)


Penyakit ini jarang ditemukan, biasa ditemukan kebetulan sewaktu
apendektomi atas indikasi apendisitis akut. Karena bisa metastasis ke
limfonodi regional, dianjurkan hemikolektomi kanan yang akan
memberi harapan hidup yang jauh lebih baik dibandingkan hanya
apendiktomi.
g. Karsinoid apendiks
Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang
didiagnosa prabedah, tetapi ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan patologis atas spesimen apendiks dengan diagnose
prabedah apendisitis akut. Sindrom karsinoid berupa rangsangan
kemerahan (flushing) pada muka, sesak nafas karena spasme bronkus,
dan diare yang hanya ditemukan pada sekitar n6% kasus tumor
karsinoid perut. Sel tumor memproduksi serotonin yang menyebabkan
gejala tersebut.

5. Gejala klinis
a. Nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilicus
atau periumbilikus.
b. Mual
c. Muntah
d. Anoreksia
e. Nafsu makan menurun.
f. Nyeri di perut kanan bawah
g. Demam diatas 37,5°C
h. Biasanya terdapat konstipasi atau diare
(Nurarif, Amin dan Hardhi Kusuma,2015).

6. Pemeriksaan diagnostic/penunjang
a. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi : akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga
perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
2) Palpasi : di daerah perut kanan bawah bila ditekan akan terasa
nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg
sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendisitis akut.
3) Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat/ tungkai di
angkat tinggi - tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah
(psoas sign).
4) Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila
pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga.
5) Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla),
lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu.
6) Pada apendiks terletak pada retrosekal maka uji Psoas akan positif dan
tanda perangsangan peritoneum tidak begitu jelas, sedangkan bila
apendiks terletak di rongga pelvis maka obturator sign akan positif dan
tanda perangsangan peritoneum akan lebih menonjol.

Nama pemeriksaan Tanda dan gejala


Rovsing’s sign Positif jika dilakukan palpasi dengan
tekanan pada kuadran kiri bawah dan
timbul nyeri pada sisi kanan.
Psoas sign atau Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian
Obraztsova’s sign dilakukan ekstensi dari panggul kanan.
Positif jika timbul nyeri pada kanan bawah.
Obturator sign Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan
dilakukan rotasi internal pada panggul.
Positif jika timbul nyeri pada hipogastrium
atau vagina.
Dunphy’s sign Pertambahan nyeri pada tertis kanan bawah
dengan batuk
Ten Horn sign Nyeri yang timbul saat dilakukan traksi
lembut pada korda spermatic kanan
Kocher (Kosher)’s sign Nyeri pada awalnya pada daerah
epigastrium atau sekitar pusat, kemudian
berpindah ke kuadran kanan bawah.
Sitkovskiy Nyeri yang semakin bertambah pada perut
(Rosenstein)’s sign kuadran kanan bawah saat pasien
dibaringkan pada sisi kiri
Aure-Rozanova’s sign Bertambahnya nyeri dengan jari pada petit
triangle kanan (akan positif Shchetkin-
Bloomberg’s sign)
Blumberg sign Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi
pada kuadran kanan bawah kemudian
dilepaskan tiba-tiba

b. Pemeriksaan Laboratorium
Kenaikan dari sel darah putih (leukopsit) hingga sekitar 10.000-
18.000/mm3. Jika terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka
kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi (pecah).
c. Pemeriksaan radiologi
1) Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang
membantu).
2) Ultrasonografi (USG), CT Scan.
3) Rontgen foto abdomen, USG abdomen dan apendikogram (pada
kasus kronik).
(Nurarif, Amin dan Hardhi Kusuma,2015).

7. Penatalaksanaan medis
a. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang
tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian
antibiotic. Pemberian antibiotic berguna untuk mencegah infeksi. Pada
penderita appendicitis perforasi, sebelum operasi dilakukan
penggantian cairan dan elektrolit serta pemberian antibiotic sistemik.
b. Operasi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan appendicitis maka
tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks
(apendiktomi). Penundaan apendiktomi dengan pemberian antibiotic
dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Teknik laparatomi,
appendiktomi laparatomi sudah terbukti menghasilkan nyeri
pascaoperasi yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat dan angka
kejadian infeksi luka yang lebih rendah. Akan tetapi terdapat
peningkatan kejadian abses intraabdomen dan pemanjangan waktu
operasi. Laparatomi ini dikerjakan untuk diagnose dan terapi pada
pasien dengan akut abdomen. Pada abses appendiks dilakukan
drainage (pengeluaran nanah).
c. Pencegahan tersier
Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya
komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intraabdomen.
Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraperitonium. Bila
diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam
fisiologis atau antibiotic. Pasca appendektomi diperlukan perawatan
intensif dan pemberian antibiotic dengan lama terapi disesuaikan
dengan besar infeksi intraabdomen.

8. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi akibat keterlambatan penanganan
apendisitis. Faktor keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga
medis. Faktor penderita meliputi pengetahuan dan biaya sedangkan tenaga
medis meliputi kesalahan diagnose, terlambat merujuk ke rumah sakit, dan
terlambat melakukan penanggulangan.
Anak - anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis, omentum
lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya
perforasi, sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh darah.
Adapun jenis komplikasi diantaranya :
a. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa
lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula -
mula berupa flegmon dan berkembangan menjadi rongga yang
mengandung pus. Hal ini terjadi bila apendisitis ganggren atau
mikroperforasi ditutupi omentum.
b. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri
menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang timbul dalam 12jam
pertama sejak awal sakit, tetapi insiden ini meningkat tajam sesudah
24jam. Perforasi terjadi 70% pada kasus dengan gambaran klinis yang
timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,5°C, tampak
toksin, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama
polymorphonuclear(PMN). Perforasi baik berupa perforasi bebas
maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
c. Peritonitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, yang merupakan komplikasi
berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila
infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan
timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltic berkurang sampai
timbul ileus paralitik, usus merengang, dan hilangnya cairan elektrolit
mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria.
Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri
abdomen, demam dan leukositosis.

B. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Kasus Apendiksitis


1. Pengkajian Primer
a. Airway (Jalan Nafas)
Airway diatasi terlebih dahulu, selalu ingat bahwa cedera bisa lebih
dari satu are tubuh, dan apapun yang ditemukan, harus
memprioritaskan airway dan breathing terlebih dahulu. Jaw thrust atau
chin lift dapat dilakukan atau dapat juga dipakai naso-pharingeal
airway pada pasien yang masih sadar. Bila pasien tidak sadar dan tidak
ada gag reflex dapat dipakai guedel. Kontrol jalan nafas pasien dengan
airway terganggu karena faktor mekanik, atau ada gangguan ventilasi
akibat gangguan ventilasi akibat gangguan kesadaran, dicapai dengan
intubasi endotracheal, baik oral maupun nasal
b. Breathing (Pernafasan)
Kaji pernafasan, apakah ventilasi adekuat atau tidak. Berikan oksigen
bila pasien tampak kesulitan untuk bernafas atau terjadi pernafasan
yang dangkal dan cepat (takipnue). Pemberian oksigen nasal : pada
fase nyeri hebat skala nyeri 3 (0-4), pemberian oksigen nasal 3 L/menit
dapat meningkatkan intake oksigen sehingga akan menurunkan nyeri.
c. Circulation
sirkulasi dengan TTV, bila terjadi mual muntah yang berlebihan
sehingga intake cairan kurang, maka penuhi cairan dengan
pemasangan infus.

2. Survei Sekunder pada Pasien Apendisitis


a. Kaji nyeri
Perhatikan sifat, progrsivitas dan lokasi nyeri. Biasanya, nyeri yang
berlahan-lahan karakteristik untuk peradangan. Nyeri pada apendisitis
adalah termasuk nyeri primer atau nyeri viseral dimana nyeri yang
berasal dari organ itu sendiri artinya dapat terlokalisir. Nyerinya seperti
kram dan gas, nyeri ini makin intens kemudian berkurang.
b. Kaji adanya vomitus, anoreksia, nausea.
c. Kaji adanya diare, karena biasanya diare menyertai apendisitis.
d. Kaji adanya demam (pada pasien peradangan intra abdomen).
e. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
a) Tidak ditemukan gambaran spesifik.
b) KembungKembung sering terlihat pada komplikasi perforasi.
c) PenonjolanPenonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada
masaa atau abses periapendikuler.
d) TampakTampak perut kanan bawah tertinggal pada pernafasan.
2. Palpasi
a) Nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai nyeri
tekan lepas.
b) Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum
parietale.
3. Perkusi
a) Pekak hati menghilang jika terjadi perforasi usus.
4. Auskultasi
a) Biasanya normal
b) Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis
generalisata akibat apendisitis perforata.
5. Rectal Toucher
a) Tonus musculus sfingter ani baik
b) Ampula kolaps
c) Nyeri tekan pada daerah jam 9 dan 12
d) Terdapat massa yang menekan rectum (jika ada abses).
6. Uji Psoas
Dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi
panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha
kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang menepel di m. poas
mayor, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri.
7. Uji Obturator
Digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak
dengan m. obturator internus yang merupakan dinding panggul
kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi
terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendisitis pelvika.
Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan
yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks.

3. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agens pencedera fisiologis (inflamasi
atau peradangan pada apendiks).
4. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi


1. Nyeri Akut berhubungan Setelah diberikan asuhan Manajemen Nyeri
dengan agen pencedera keperawatan selama …. x …. Jam,
Observasi
fisiologis diharapkan nyeri dapat teratasi
dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas,
Tingkat Nyeri
intensitas nyeri
2. Identifikasi skala nyeri
1. Keluhan nyeri menurun
3. Identifikasi respons nyeri non
2. Pasien tidak meringis
3. Pasien tidak gelisah verbal
4. Pasien tidak mengalami 4. Identifikasi faktor yang
kesulitan tidur memperberat dan memperingan
5. Frekuensi nadi membaik (60-
nyeri
100x/menit) 5. Identifikasi pengetahuan dan
6. Pola napas membaik
keyakinan tentang nyeri
7. Tekanan darah membaik
6. Identifikasi pengaruh nyeri
terhadap kualitas hidup
Terapeutik

1. Berikan teknik nonfarmakologi


untuk mengurangi rasa nyeri
2. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri
3. Fasilitasi istirahat dan tidur
4. Pertimbangkan jenis dan sumber
nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi

1. Jelaskan penyebab, periode, dan


pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan monitor nyeri secara
mandiri
4. Anjurkan menggunakan analgetik
secara tepat
5. Ajarkan teknik nn farmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi

1. Kolaborasi pemberian analgetik,


jika perlu
5. Implementasi Keperawatan
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang diterapkan
6. Evaluasi Keperawatan
Menurut Poer. (2012), proses evaluasi dibagi menjadi 2 tahap yaitu
a. Evaluasi formatif (Merefleksikan observasi perawat dan analisis terhadap klien terhadap respon langsung pada intervensi
keperawatan )
b. Evaluasi Sumatif (Merefleksikan rekapitulasi dan synopsis analisis mengenal status kesehatan klien terhadap waktu)
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer,A. 2007. Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta :Media Aesculapius FKUI.


Nurarif, Amin Huda dan Hardi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis Nanda Nic-Noc Edisi Revisi Jilid 1.
Yogyakarta:MediAction.
Nuzulul.2009.Askep Appendicitis.Universitas Airlangga
url:http://nuzulul.fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35840-Kep
%20PencernaanAskep%20Apendisitis.html diakses pada 17 September
2019 pukul 13.00 WITA
PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. PPNI: Jakarta.
PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Dewan Pengurus Pusat
PPNI: Jakarta Selatan.
PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Denifisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan. Dewan Pengurus Pusat PPNI: Jakarta Selatan.
Wijaya, Andra Saferi dan Yessie Mariza Putri. 2013. Keperawatan Medikal Bedah
I. Yogyakarta: Nuha Medika.