Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PEMBAHASAN

A. USAHA DI LUAR NEGERI


Apabila kantor cabang berada di luar negeri maka masalah khusus yang dihadapi menjadi
semakin komplek. Di samping ketiga masalah khusus yang telah dibicarakan terdahulu masih terdapat
tambahan satu jenis masalah khusus lagi, yaitu yang berkenaan dengan penjabaran laporan keuangan
kantor cabang dari yang semula disajikan di dalam mata uang asing (dilihat dari kantor pusat) ke dalam
mata uang domestik yang digunakan oleh kantor pusat.

B. AKUNTANSI UNTUK TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING


Perusahaan sering melakukan transaksi usaha dengan pihak asing yang bergerak dalam bidang
ekspor-impor. Apabila transaksi usaha dengan pihak asing tersebut dinyatakan dalam mata uang
domestik maka akuntansinya tidak berbeda dengan akuntansi terhadap transaksi usaha yang dilakukan
dengan pihak yang berada di dalam negeri. Keadaan menjadi lain apabila transaksi usaha tersebut
dinyatakan dalam mata uang asing. Transaksi seperti ini dicatat berdasarkan nilai uang domestik. Jadi
transaksi usaha yang dinyatakan dalam mata uang asing tersebut akan dijabarkan kedalam mata uang
domestik. Selanjutnya aktiva, pendapatan atau biaya yang terpengaruh transaksi tersebut akan dicatat
berdasarkan nilai mata uang domesti (rupiah). Jadi untuk transaksi yang dinyatakan di dalam mata uang
asing yang diterima atau dibayar secara tunai maka masalah akuntansinya sudah habis.
Keadaan akan menjadi lain apabila transaksi tersebut menimbulkan utang atu piutang yang
dinyatakan didalam mata uang asing. Akuntansi terhadap transaksi yang dinyatakan di dalam mata uang
asing yang menimbulkan uang atu piutang dalam mata uang asing tersebut dibagi menjadi 3 tahap,
yaitu:
1. Pada tanggal transaksi
Pada tanggal transaksi ini aktiva, utang, pendapatan atu biaya akan dicatat berdasar kurs pada
tanggal transaksi.
2. Pada tanggal neraca
Apabila kurs mengalami perubahan maka nilai piutang atau utang yang dinyatakan dalam mata uang
asing tersebut nilainya di dalm mata uang domestik akan mengalami perubahan. Perubahan tertsebut
harus diakui sebagai laba/ rugi, yaitu:
 Nilai piutang berubah diakui sebagai laba
 Nilai piutang berkurang diakui sebagai rugi
 Nilai utang bertambah diakui sebagai rugi
 Nilai utang berkurang diakui sebagai laba
3. Pada tanggal jatuh tempo atau pelunasan
Apabila perusahaan mempunyai piutang yang dinyatakan dalam mata uang asing maka pada tanggal
jatuh tempo perusahaan akan menerima pelunasan yang dinyatakan dalam mata uang asing. Kas yang
diterima tersebut harus dicatat berdasarkan kurs pada saat itu. Selisih antara kas yang dinyatakan di
dalam mata uang domestik dengan nilai buku piutang yang dilunasi akan di akui sebagai laba atau rugi,
yaitu:
 Pelunasan lebih daripada nilai buku menimbulkan selisih laba. Hal ini terjadi apabila kurs mata uang
asing tersebut mengalami peningkatan.
 Pelunasan lebih kecil daripada nilai buku menimbulkan selisih rugi. Hal ini terjadi apabila kurs mata
uang asing tersebut mengalami penurunan. Demikian pula apabila perusahaan mempunyai utang
yang dinyatakan dalam mata uang asing maka pada tanggal jatuh tempo perusahaan harus
membeli mata uang asing sebesar utang. Apabila kas yang dikeluarkan untuk membeli mata uang
asing tersebut berbeda dengan nilai buku utang maka selisihnya akan diakui sebagai laba atau rugi,
yaitu:
o Kas yang dikeluarkan untuk membeli mata uang asing melibihi nilai buku utang amaka akan
menimbulkan selisih rugi. Hal ini terjadi apabila kurs mata uang asing tersebut mengalami
peningkatan.
o Kas yang dikeluarkan untuk membeli mata uang asing lebih kecil daripada nilai buku utang maka
akan menimbulkan selisih laba. Hal ini terjadi apabila kurs mata uang asing tersebut mengalami
penurunan

C. Masalah Nilai Kurs mata Uang


Nilai Kurs atau Rate of Exchange menyatakan hubungan nilai di antara satu kesatuan mata uang
asing dan kesatuan mata uang dalam negeri. Beberapa macam kurs yang dikenal di dalam dunia
perdagangan :
- Mint par rates of exchange
Nilai kurs yang didasarkan langsung atas nilai relatif emas murni yang terdapat di dalam satu
kesatuan mata uang tertentu.
- Free market rate of exchange
nilai kurs yang didasarkan atas hukum permintaan dan penawaran yang berlaku.
- Official rate of exchange
Nilai kurs yang ditetapkan oleh pemerintah. Nilai kurs yang menyatakan nilai tukar mata uang asing
dan mata uang dalam negeri dapat dinyatakan secara langsung atau tidak langsung.

Nilai kurs dapat dinyatakan dengan dua cara, yaitu:


1. Nilai tukar langsung
Menyatakan nilai satu unit mata uang asing dalam persamaannya dengan nilai mata uang
dalamnegeri.
2. Nilai tukar tidak langsung
Menyatakan nilai kesatuan mata uang dalam negeri dalam persamaannya dengan mata uangasing

 Jual Beli dengan Pihak Luar Negeri


Dalam transaksi jual beli dengan luar negeri, harga beli atau harga jual barang-barang dapat
dinyatakan dalam mata uang asing atau mata uang dalam negeri. Namun dalam pembukuan terhadap
transaksi-transaksi tersebut tetap harus dinyatakan dengan satuan mata uang dalam negeri. Karena nilai
mata uang yang tidak menentu, menyebabkan adanya fluktuasi (naik-turun) nilai tukar dari suatu mata
uang terhadap mata uang lainnya, dapat menyebabkan salah satu pihak yang mengadakan transaksi
akan menderita rugi atau memperoleh laba dari perubahan kurs. Di dalam akuntansi, laba atau rugi
karena perubahan-perubahan kurs dicatat dalam rekening “Selisih (beda) kurs” yang terdapat 2 macam
rekening di dalamnya, yaitu :
- Laba selisih Kurs (Gain on currency exchange) : selisih yang menguntungkan
- Rugi Selisih Kurs (Loss on currency exchange) : selisih yang merugikan

 Masalah Penjabaran Nilai Mata Uang


Hampir semua kesatuan mata uang negara-negara besar di dunia sudah menggunakan sistem (mata
uang) desimal (decimal currency system), karena penjabarannya ke dalam mata uang tertentu relatif
lebih mudah.

 Penjabaran Rekening – Rekening yang Dinyatakan dalam Mata Uang Asing


Ketentuan-ketentuan umum untuk menjabarkan rekening-rekening mata uang asing ke dalam rupiah
ini di Indonesia telah diatur ke dalam Prinsip Akuntansi Indonesia.
Prinsip 1.3 dari Prinsip Akuntansi Indonesia menyatakan :
“Perkiraan anak-anak perusahaan atau bagian perusahaan yang melakukan kegiatan di luar negeri, harus
dijabarkan dalam rupiah dengan kurs pertukaran yang sesuai. Kurs pertukaran supaya dicantumkan
dalam laporan keuangan”

 Rekening – Rekening Neraca


- Aktiva lancar (Current Assets)
Kas, piutang, dan aktiva lancar yang lain harus dijabarkan dengan nilai kurs yang berlaku pada
saat penyusunan neraca. Persediaan barang-barang harus mengikuti ketentuan umum (Standard Rule)
untuk memilih “harga pokok ata harga pasar mana yang lebih rendah (cost or market which – ever is
lower).
- Aktiva tetap
Harta tetap, investasi jangka panjang dan piutang jangka panjang harus dijabarkan dengan kurs
yang berlaku pada saat aktiva tersebut dibeli atau didirikan.
- Hutang lancar
Hutang-hutang dalam mata uang asing harus dijabarkan dengan kurs yang berlaku pada
tanggaldisusunnya neraca.
- Hutang jangka panjang
Hutang tidak lancar atau hutang-hutang jangka panjang dalam mata uang asing harus dijabarkan
dengan kurs yang berlaku pada saat hutang tersebut terjadi.
- Modal saham
Modal saham yang dinyatakan dalam mata uang asing harus dijabarkan dengan kurs pada saatsaham tersebut
dikeluarkan.
 Rekening – Rekening Rugi – Laba
- Pendapatan dan Biaya-biaya
Rekening-rekening pendapatan dan biaya yang dinyatakan dalam mata uang asing harus dijabarkan
dengan kurs rata-rata (average rate of exchange).
- Penyusutan aktiva tetap
Penyusutan atau depresiasi aktiva tetap harus disusun atas dasar nilai kurs yang berlaku pada saat
aktiva yang bersangkutan tersebut dibeli, terjadi, atau didirikan (dibangun).
Dalam pelaksanaan penjabaran saldo rekening-rekeningpembukuan Kantor Cabang di luar negeri perlu
diperhatikan hal-hal yang berikut:
a) Kurs yang digunakan untuk menjabarkan (translation rate)
b) Tanda-tanda tertentu yang digunakan oleh standar internasional
c) Pos atau rekening penyusunan dipisahkan tersendiri di dalam Laporan RugiLaba Cabang.
Berhubung dengan adanya ketentuan-ketentuan (pedoman) tersebut di atas, di dalam pelaksanaan
penjabaran saldo rekening-rekening pembukuan Kantor Cabang di luar negeri perlu diperhatikan hal-hal
berikut :
Kurs yang digunakan untuk menjabarkan untuk mempermudah penyusunannya, biasanya di muka atau
di belakang kurs yang dipakai untuk menjabarkan sesuatu pos diberi tanda-tanda tertentu, antara lain
berupa:
C (Current Rate ) = Nilai kurs pada akhir periode atau pada saat penyusunan laporan-laporan keuangan.
H (Historical Rate) = Nilai kurs pada saat transaksi-transaksi tertentu diselesaikan, misalnya kurs pada
saat aktiva tetap dibeli, diperoleh, atau dibangun.
R (Reciprocal Acount) = Menunjukkan nilai mata uang yang tertera di dalam rekening-rekening pada
buku-buku di kantor pusat.
A (Average Rate) = yaitu Kurs rata-rata yang sudah dihitung, misalnya kurs rata-rata bulanan, rata-rata
tertimbang, dan lain-lain.
Pos atau rekening penyusutan sebaiknya dipisahkan tersendiri di dalam Laporan Laba – Rugi Cabang.

D. Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan Kantor Pusat dan Kantor Cabang di Luar Negeri
Langkah-langkah di dalam penyusunan laporan keuangan gabungan antara Kantor Pusat dan Kantor
Cabang di luar negeri adalah sebagai berikut :
1. Atas dasar laporan keuangan individual dari cabang (berupa Neraca dan laporan laba-rugi), terlebih
dahulu harus diadakan penjabaran terhadap saldo rekening-rekening pembukuan kantor cabang
menjadi saldo-saldo yang dinyatakan dalam mata uang dalam negeri yang dipakai kantor pusat
(penjabaran mengikuti pedoman tersebut di muka).
2. Proses penjabaran terhadap saldo rekening pembukuan cabang, sebaiknya dimulai dengan
mengambil dari angka-angka yang terdapat pada neraca saldo yang dipakai sebagai dasar
penyusunan neraca lajur.
3. Apabila hasil penjabaran terhadap rekening saldo rekening pembukuan secara keseluruhan tidak
seimbang (antara jumlah debit dan kredit tidak sama), maka selisihnya ditampung dalam rekening
“Penyesuaian Kurs”. Saldo selisih penyesuain kurs tersebut nantinya akan diperhitungkan sebagai
laba atau rugi penyesuaian kurs.
4. Sesudah proses penjabaran terhadap saldo rekening pembukuan cabang selesai, kemudian
menyusun “daftar lajur gabungan” atau “working papers”.
5. Berdasar dari daftar lajur gabungan tersebut, baru disusun “Neraca dan Perhitungan Rugi – Laba
gabungan antara Kantor Pusat dan Kantor Cabang”.

- Penyusutan Aktiva Tetap


Dalam saldo rekening biaya penjualan dan biaya administrasi & umum, termasuk biayapenyusutan alat-
alat perlengkapan kantor dan gedung yang seharusnya dijabarkan tersendiri sesuaidengan kurs pada
saat terjadinya transaksi aktiva tetap itu didapat.

- Selisih Penyesuaian Kurs


Apabila selisih penyesuaian kurs menunjukkan saldo sebelah “Debit” berarti merugikan dana apabila
menunjukkan saldo sebelah “Kredit” berarti menguntungkan. Laba atau rugi karena selisihpenyesuaian
kurs dapat diperlakukan sebagai laba atau rugi untuk periode yang bersangkutan. Akantetapi ada
pendapat lain yang menyatakan bahwa laba atau rugi dalam penjabaran mata uang asingtersebut,
sebenarnya belum terjadi atau belum direalisasi, sehingga laba atau rugi tidak seharusnyadiperlakukan
sebagai laba atau rugi untuk periode yang berjalan. Akan tetapi laba atau rugi itu harusdiperlakukan
sebagai laba yang masih akan diterima atau sebaliknya sampai dengan jumlah itudisetor atau ditransfer
ke kantor pusat.

Anda mungkin juga menyukai