Anda di halaman 1dari 12

Tugas

Mata Kuliah Sejarah Timur Tengah

“Timur Tengah dalam Perang Dunia I”

Kelompok 2
1. Ardhiyanto Wisnu Groho
2. Ari Muslim Nur P
3. Bagus Antonio
4. Giovanironi Jeremy
5. Yudo Sedio Utomo
6. Zulkifli Pelana

Prodi : Pendidikan Sejarah (A) 2012

Fakultas Ilmu Sosial


Universitas Negeri Jakarta
1. Keterlibatan Timur Tengah dalam Perang Dunia I
Seperti yang sudah diketahui khalayak ramai, Perang Dunia I merupakan suatu peristiwa
skala besar yang melibatkan hampir seluruh dunia. Walaupun tak seganas dan se-universal
Perang Dunia II, namun perang ini cukup menimbulkan momok yang begitu besar pada
kehidupan manusia ke depannya. Tidak akan ada lagi penyelesaian secara “appeasement”
(kecuali nantinya tentang peristiwa Cekoslovakia dan Manchuria), karena dunia sudah mulai
memasuki era modern.
Mengapa Timur-Tengah bisa terseret dalam konflik yang tadinya hanya terbatas pada
negara-negara imperialis dan kolonialis kuno? Tak lain dan tak bukan karena wilayah ini sendiri
merupakan bagian dari koloni negara-negara tersebut.
Pertikaian utama terjadi antara Kekaisaran Rusia dan Turki Utsmani karena masalah
Pelabuhan Air Hangat (karena hampir semua pelabuhan Rusia membeku pada musim dingin) di
daerah Balkan, dan Kerajaan Inggris juga dengan Turki Utsmani mengenai masalah daerah
jajahan di Jazirah Arab. Namun, ternyata konflik di wilayah ini tak hanya seputar permasalahan
koloni. Rakyat Arab juga berusaha membebaskan diri dari belenggu penjajahan yang dilakukan
bangsa Turki. Inilah yang nantinya menginisiasikan pertikaian yang sangat berlarut-larut di
wilayah ini.
a. Masa Awal Perang (1914-1916)
Setelah terjadinya pemboman di hampir semua pelabuhannya di Laut Hitam, pada 2
November 1914, Rusia menyatakan perang dengan Turki Utsmani. Inggris menyerang Selat
Dardanella pada 3 November, dan anggota Sekutu yang lain menyatakan perang pada 5
November.
Pada masa awal perang, Sekutu (terutama Inggris), tidak banyak mengalami kesulitan dalam
menaklukkan beberapa posisi pasukan Turki. Beberapa kota yang jatuh antara lain Basra, Fao,
dan wilayah utara kota Baghdad.
Sementara itu, Menteri Peperangan Turki, Ismail Enver Pasha memulai serangan ke
berbagai posisi. Enver tidak mementingkan serangan Inggris di wilayah Mesopotamia (Irak) dan
lebih tertarik untuk membawa pasukannya untuk berduel dengan tentara Rusia yang tersebar di
sepanjang Pegunungan Kaukasus. Hal ini makin membuat tentara Inggris leluasa untuk
menyerang pasukan-pasukan Turki yang ada di gurun. Enver sendiri baru menyadari
kesalahannya ketika dia dan pasukannya terlibat dalam pertempuran di Sarikamish (Januari
1915).
Setelah menderita korban jiwa yang cukup besar dalam pertempuran di Sarikamish, Turki
menarik mundur sisa pasukannya untuk reorganisasi dan rekuperasi. Namun, masa istirahat ini
tak berjalan lama, lantaran Inggris sudah mempersiapkan serangan menuju Konstantinopel
melalui bombardemen dari jalur laut sepanjang Selat Dardanella.
Kesigapan pasukan Turki dalam membangun pertahanan, sukses membuat Inggris kalang
kabut di daerah Gallipoli. Hampir semua kapal penyapu ranjau milik Sekutu, tenggelam
dihantam oleh hujan peluru dari posisi Turki yang berada di atas tebing Gallipoli. Pertempuran
ini sendiri bisa dibandingkan dengan D-Day 1944, dalam hal strategi, skala pertempuran, dan
jumlah korban jiwa. Namun, di pertempuran ini Sekutu mengalami kekalahan yang berujung
pada evakuasi pasukan.
Sejarawan Phillip Haythornwaite menuliskan bahwa pertempuran ini merupakan bencana
bagi pihak Sekutu. Walau sukses dalam menghabisi sumber militer Turki, dan menarik perhatian
Turki dari wilayah Timur-Tengah, pihak Sekutu juga mengalami kehancuran sumber daya.1
Semenjak itu tidak ada perubahan berarti di medan tempur hingga tahun 1916.
b. Era 1916-1918 : Pemberontakan Arab, dan Akhir Perang
Dengan kesuksesan yang terjadi di wilayah Mesopotamia, pihak Inggris memulai
mengadakan kontak diplomatik dengan Sherif Hussein bin Ali, Penjaga Kota Mekkah. Semakin
jelasnya bukti bahwa Turki akan menyingkirkannya dan makin kerasnya pertikaian dengan Ibnu
Al-Saud, membuat Sherif Hussein memberikan tawaran pada pihak Inggris. Beliau menuliskan
keinginannya bergabung dengan Triple Entente (Sekutu), yang dikirimkan kepada Komisaris
Tinggi Henry MacMahon.2
Hussein, yang sebelumnya berada pada pihak Turki, setelah dijanjikan akan memiliki
seluruh wilayah Arab, akhirnya membelot pada pihak Sekutu. Aksi pertamanya adalah serangan
menuju Madinah, yang dipimpin kedua anaknya Emir Faisal dan Abdullah, namun Turki sukses
menggagalkan serangan ini.

1
Phillip Haythornwaite. Gallipoli 1915: Frontal Assault on Turkey (Campaign Series #8) (Westport: Preager
Publisher, 2004), hal. 90
2
David Murphy, The Arab Revolt 1916-1918 (London: Osprey, 2008), hal.8
Inggris dan Perancis kemudian mulai memasukkan beberapa perwira intelijen untuk
membantu pergerakan para pemberontak. Yang paling terkenal di antara mereka adalah Kapten
Thomas Edward Lawrence, atau yang biasa dikenal dengan nama “Lawrence of Arabia”.
Walaupun bukan satu-satunya perwira yang ditugaskan untuk merancang gerak militer kaum
pemberontak, Kapten Lawrence memiliki peran yang cukup luar biasa dibanding rekan-
rekannya. Setelah mendapat kepercayaan dari Hussein dan keluarganya, Lawrence menjadi otak
di balik serangkaian operasi militer yang dilakukan kaum pemberontak.
Lawrence lah yang mengatur serangan menuju Aqaba, di teluk Arab. Dengan takluknya
Aqaba, maka praktis komunikasi antara pasukan Turki yang berada di Barat dan Timur terputus.
Lawrence kembali mengatur sebuah ekspedisi baru, yakni Ekspedisi Sinai. Para pasukan
pemberontak, sukses merebut gurun Sinai dari pasukan Turki, dan secara efektif menggagalkan
usaha Turki untuk merebut Terusan Suez.
Kemudian Hussein ingin kembali menyerang Madinah. Namun, Lawrence menolak ide
tersebut, dan justru lebih menyarankan untuk melakukan serangan pada rel-rel kereta milik Turki
Utsmani yang membentang dari selatan Jazirah Arab hingga Palestina. Hal ini kembali membuat
posisi pasukan Turki tercerai-berai, lantaran harus menjaga rel kereta yang cukup vital bagi
suplai pasukan.
Lalu pada akhir 1917, Komandan Ekspedisi Mesir, Jenderal Edmund Allenby, melakukan
serangan untuk menguasai Yerusalem sebelum Natal. Operasi tersebut sukses, dan walaupun
tidak memiliki cukup kepentingan dalam perang, operasi ini menjadi awal mula berdirinya
Negara Israel. Serangan kemudian dilanjutkan menuju Damaskus, di mana pasukan Kavaleri
Ringan Australia sukses menduduki kota dan menerima penyerahan dari Gubernur Damaskus
pada tanggal 30 September 1918. Emir Faisal, T.E Lawrence (sekarang berpangkat kolonel),
Auda Abu Tayi, dan seluruh kontingen Arab memasuki kota pada 1 Oktober 1918.
Akhirnya pada 30 Oktober 1918, pihak Sekutu dan Turki Utsmani mengadakan gencatan
senjata di Mudros, sebuah kota di pulau Lennos, yang berada di antara pasukan kedua belah
pihak. Dan pada 13 November 1918, Perancis secara formal menduduki ibukota Turki di
Istanbul. Pendudukan ini kemudian disahkan dengan Perjanjian Sevres. Namun, perjanjian ini
justru menyulut rasa nasionalisme bangsa Turki yang berujung pada Perang Kemerdekaan Turki.
Inggris yang sudah kewalahan akibat Perang Dunia memutuskan berkompromi dengan pejuang
Nasionalis Turki. Kompromi ini pun mengeluarkan hasil berupa Perjanjian Lausanne.
Sementara di lain pihak, kondisi di Palestina makin memanas lantaran adanya aktivasi
Persetujuan Sykes-Picot dan Deklarasi Balfour. Namun, Sherif Hussein sukses mengklaim posisi
sebagai Raja Arab yang meliputi Suriah, Palestina, Transjordan, dan Libanon. Walaupun
nantinya kerajaan ini hanya akan bertahan hingga 1920. Ibnu Al-Saud, rival dari Sherif Hussein
melakukan serangan pada bekas tanah Hussein yang ada di Jazirah Arab ketika mengetahui
bahwa wilayah tersebut sudah tak ada yang menjaga. Ibnu Al-Saud menamai tanah baru itu
sebagai Arab Saudi.

2. Gerakan Zionisme
Gerakan Zionisme sedunia digagas oleh Dr. Theodore Herzl (1896), seorang Yahudi
Hongaria di Paris. Menurut Herzl, satu-satunya obat mujarab untuk menanggulangi anti-
semitisme adalah dengan menciptakan suatu tanah air bagi bangsa Yahudi.
Zionisme bisa dikatakan sebuah paham yang sukses mencapai tujuannya pada abad ke-20.
Berawal dari rumusan sederhana terhadap kondisi nyata fenomena anti-semitisme yang
menyebar di Eropa. Ideologi ini disusun secara jelas: membentuk sebuah negara Yahudi.
Penindasan di Eropa ini dianggap para pendukung Politik Zionisme hanya bisa diselesaikan
dengan mendirikan sebuah negara khusus untuk kaum Yahudi.3
Keinginan yang kuat akan pendirian sebuah negara Yahudi membuahkan kongres Zionis
pertama di Bassel, Swiss pada tahun 1897. Kongres ini menghasilkan pencapaian pemilihan
tempat atau daerah yang akan dijadikan negara tersebut. Hasil kongres ini adalah memilih
Palestina sebagai daerah pendirian negara Yahudi, di mana pada saat itu Palestina masih berada
di bawah Kekhalifahan Turki Utsmani. Pemilihan Palestina ini tidak lepas dari latar belakang
historis bangsa Yahudi di tanah Palestina.
Pemilihan Palestina pada Kongres Zionis langsung mendapat respon negatif dari pemimpin
Turki Utsmani, Sultan Abdul Hamid II. Sultan Utsmani dengan tegas tidak menyetujui gagasan
yang dihasilkan dalam Kongres Zionis, hal ini mengindikasikan para kaum Zionis melakukan
segala tindakan untuk menggulingkan kekuasaan Sultan Abdul Hamid II untuk melancarkan
rencana mereka di Palestina.

3
Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal (Jakarta: Gema
Insani, 2005), hal. 58-59
Kebijakan Sultan Abdul Hamid II terhadap gerakan Zionis tidak berjalan efektif, sebab
pemerintahannya telah dilumpuhkan dari dalam. Apalagi, setelah tahun 1908, kekuasaan di Turki
praktis berada di tangan Committe and Union Progress (CUP), organisasi yang dibentuk oleh
Gerakan Turki Muda (Young Turk Movement). CUP memiliki hubungan dekat dengan para
aktivis Zionis, dan tidak terlalu peduli dengan gerakan pemberontakan dan separatisme yang
dilakukan Zionis. Kebijakan Sultan sudah terlambat, dan akhirnya Sultan Abdul Hamid II sendiri
yang tersingkir.4
Sejak berakhirnya kekuasaan Sultan Abdul Hamid II pada tahun 1909, maka kekuatan
Utsmani semakin melemah dan turut memudahkan jalan untuk kejayaan proyek Zionis-Yahudi
di tanah Palestina. Kaum Zionis ini kemudian melakukan “lobi” kepada pihak Barat yang paling
berkuasa pada awal abad ke-20 yaitu Inggris, guna mendapatkan simpati terhadap pendirian
negara Yahudi di Palestina.5
Pada tahun 1914, menjelang Perang Dunia I ada kira-kira 604.000 jiwa penduduk Arab-
Palestina dan hanya ada 85.000 orang Yahudi di Palestina, suatu kenaikan kira-kira 30.000 orang
Yahudi dalam jangka waktu satu dasawarsa.6
Pada tahun 1914-1918 pecah Perang Dunia I. Dalam perang tersebut Daulah Usmaniyah
memihak Jerman. Memanfaatkan situasi yang ada, Chaim Weizmann pada tahun 1917 menulis
surat kepada Parlemen Inggris untuk meminta dukungan dan persetujuan Inggris atas Deklarasi
Balfour untuk membentuk sebuah negara Yahudi di Palestina. Dengan adanya deklarasi ini maka
semakin memperkuat dominasi Zionis di Palestina atas bantuan Inggris.7
Pada sisi lain, sikap Turki yang melepaskan Palestina bisa juga dilihat dari kondisi politik
riil ketika itu. Kekalahan Utsmani pada Perang Dunia I telah memaksanya untuk melepaskan
wilayah-wilayah yang didudukinya. Pada Desember 1917, Jerusalem ditaklukkan oleh pasukan
Sekutu di bawah pimpinan Lord Allenby. Bersama pasukan ini, masuk juga tiga legium Yahudi
yang beranggotakan ribuan sukarelawan Yahudi. Zionis mencatat bahwa penaklukan Jerusalem
oleh tentara Sekutu telah mengakhiri 400 tahun pemerintahan Utsmani di Palestina.8

4
ibid. hal. 59-78
5
Dr. Mohd Roslan Mohd Nor, Sejarah Kejatuhan Palestina dan Kewujudan Israel, hal. 38
6
Maulani Z.A, Zionisme: Gerakan Menaklukan Dunia (Jakarta: Daseta, 2002), hal. 24
7
ibid. hal. 30
8
Ellen Hirsch, The Facts about Israel (Jerusalem: Israeli Information Center, 1996), hal. 23
3. Korespondensi Mc. Mahon-Hussein
Ketika Kerajaan Turki Ottoman masih menguasai kerajaan Arab dan Palestina, Hussein Bin
Ali bekerja sama dengan Inggris untuk melakukan revolusi besar di Arab demi mengalahkan
Turki. Pada tahun 1915, terjadilah korespondensi antara Henry MacMahon dan Hussein bin Ali,
seorang raja Hejaz dan pemegang kunci kota suci Mekkah. Hussein bin Ali adalah keturunan
dari Bani Hashim/Hashemite bagian dari suku Quraisy yang pada zaman Nabi Muhammad
merupakan suku terbesar dan terkuat di Arab. Saat itu Hussein bin Ali meminta wilayah Arab
termasuk Palestina untuk jadi miliknya karena dia berambisi memperluas kerajaan Hejaz (kini
Saudi Arabia) hingga ke Syria, apalagi saat itu Faisal (penguasa Syria) masih anaknya sendiri.
Pada tahun yang sama, mereka melakukan korespondensi yang membahas tentang rencana
yang akan dilakukan Inggris terhadap wilayah Arab yang dulu dikuasai oleh Turki Ottoman.
Ternyata interpretasi Hussein bin Ali dan Henry MacMahon atas janji pemerintah Inggris
terhadap bangsa Arab itu berbeda. Hussein mengira bahwa Palestina adalah termasuk wilayah
yang akan diberikan Inggris kepada Arab. Tapi pemerintah Inggris menyangkal dan menyatakan
bahwa semua wilayah yang akan dikembalikan tidak termasuk Palestina.
Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa wilayah yang bukan murni Arab (cannot be said to
be purely Arab) tidak termasuk dalam perjanjian itu. Inggris menganggap bahwa Palestina bukan
murni Arab, walaupun saat itu mayoritas penduduk Palestina bangsa Arab. Hal ini membuat
Arab Palestina merasa dikhianati oleh Inggris. Di bawah ini adalah peta pembagian wilayah yang
dijanjikan Inggris pada Arab, garis hitam menunjukan batas wilayah yang dijanjikan untuk Arab
sementara adalah wilayah Palestina yang dikira Hussein Bin Ali termasuk yang akan diberikan
pada Arab.
Wilayah yang Dijanjikan Inggris untuk Arab
Sumber: sejarah.kompasiana.com

4. Persetujuan Sykes-Picot
Persetujuan Sykes-Picot merupakan salah satu dari beberapa bentuk persetujuan Inggris
dalam masa Perang Dunia I. Pada tahun 1915, di Kairo diadakan perundingan antara Sir Mark
Sykes, Komisaris Tinggi Inggris untuk urusan Timur Tengah, dan George Picot, Komisaris
Tinggi Perancis untuk urusan Timur Tengah, untuk membagi wilayah-wilayah bangsa Arab.
Pada 16 Mei 1916, tercapailah persetujuan antara kedua belah pihak, di mana persetujuan
tersebut terkenal dengan Sykes-Picot Agreement. Persetujuan Sykes-Picot ini adalah persetujuan
rahasia antara Inggris dengan Perancis dan Rusia.
Kesimpulan dari persetujuan ini antara lain:
 Rusia mendapat bagian provinsi Erzerum, Trabizond, Van dan Bitlis demikian juga
daerah-daerah sebelah utara Kurdistan sepanjang garis Mush, Sairt, Ibnu Omar dan
Imadija sampai perbatasan Iran.
 Perancis mendapat daerah pantai Suria, wilayah Adana, dan wilayah Kilikia, yang garis
perbatasannya sebelah selatan dimulai dari Aintab dan Mardin sampai perbatasan Rusia.
Sedangkan sebelah utara dimulai dari Ala-Dagh, Kaisarija, Ak-Dagh, Yildiz-Daghdan
Zara sampai ke Eginkarpt.
 Inggris mendapat bagian Mesopotamia Selatan dengan Baghdad, demikian juga
pelabuhan Helfa dan Akka di Palestina.
 Di daerah yang terletak di antara daerah Inggris dan daerah Perancis akan dibentuk
suatu negara federal atau negara Uni Tarus Arab. Daerah ini akan dibagi dalam dua
daerah pengaruh, yaitu daerah pengaruh Inggris dan daerah pengaruh Perancis.
 Alexandria dijadikan pelabuhan bebas.
 Palestina dijadikan daerah internasional.

5. Deklarasi Balfour
Deklarasi Balfour ialah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Inggris
Arthur James Balfour kepada Baron Rothschild (pemimpin komunitas Yahudi Inggris), untuk
dikirimkan ke Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia.
Surat itu menyatakan posisi yang disetujui dalam rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober
1917, bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis membuat ‘tanah air’ bagi
Yahudi di Palestina, dengan syarat bahwa tak ada hal-hal yang boleh dilakukan yang mungkin
merugikan hak-hak sipil dan keagamaan komunitas non-Yahudi yang ada di sana.
Saat itu, sebagian besar wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Turki
Utsmani, dan batas-batas yang akan menjadi Palestina telah dibuat sebagai bagian dari
Persetujuan Sykes-Picot (16 Mei 1916) antara Inggris dan Perancis. Sebagai balasan untuk
komitmen dalam deklarasi itu, komunitas Yahudi akan berusaha meyakinkan Amerika Serikat
untuk ikut dalam Perang Dunia I. Itu bukanlah alasan satu-satunya, karena sudah lama di Inggris
telah ada dukungan untuk gagasan mengenai ‘tanah air’ Yahudi.
Teks tersebut dipublikasikan dalam pers satu minggu kemudian (9 November 1917)9.
Deklarasi Balfour kemudian disatukan ke dalam Perjanjian Damai Sèvres dengan Khilafah Turki
Utsmani dan Mandat untuk Palestina. Dokumen aslinya disimpan di Perpustakaan Inggris.

9
Jonathan Schneer. The Balfour Declaration: The Origins of the Arab-Israeli Conflict. (Toronto: Random House,
2010), hal. 342
a. Isi Surat

Arthur James Balfour & Deklarasi Balfour


Sumber: en.wikipedia.org/wiki/File:Balfour_portrait_and_declaration.jpg

Berikut ini isi surat yang telah ditranslasikan:

Departemen Luar Negeri 2 November 1917

Lord Rothschild yang terhormat,


Saya sangat senang dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan
simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet.
“Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi, dan
akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas
dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan
keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis
yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya.”
Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis.
Salam,
Arthur James Balfour

b. Reaksi terhadap Deklarasi Balfour


 Penentangan Arab
Bangsa Arab menyatakan ketidaksetujuan pada parade yang menandai ulang tahun
pertama Deklarasi Balfour (November 1918). Asosiasi Muslim-Kristen memprotes
pembawaan “banner putih dan biru dengan dua segitiga terbalik di tengah” yang baru.
Kemudian bulan itu, pada ulang tahun pertama pendudukan Jaffa oleh Inggris, Asosiasi
Muslim-Kristen mengirimkan memorandum panjang dan petisi kepada gubernur militer
guna memprotes sekali lagi setiap pembentukan sebuah negara Yahudi. Pada November
1918, kelompok besar pejabat Arab Palestina dan perwakilan dari asosiasi politik menujukan
petisi kepada pemerintah Inggris di mana mereka mengecam deklarasi. Dokumen tersebut
menyatakan:
“... Kita selalu bersimpati mendalam dengan orang-orang Yahudi dianiaya dan
kemalangan mereka di negara lain ... namun ada perbedaan besar antara simpati tersebut
dan penerimaan bangsa seperti ... berkuasa atas kita dan membuang urusan kita.”10
 Reaksi Zionis
Chaim Weizmann dan Nahum Sokolow, para pemimpin Zionis utama yang berbasis di
London, telah meminta untuk rekonstitusi Palestina sebagai tanah air orang Yahudi.
 Opini Inggris
Opini publik dan pemerintah Inggris menjadi semakin kurang menguntungkan terhadap
komitmen yang telah dibuat untuk kebijakan Zionis. Pada Februari 1922, Winston Churchill
mentelegram Herbert Samuel meminta pemangkasan pengeluaran dan mencatat:
Di Gedung Parlemen tumbuh gerakan permusuhan menentang kebijakan Zionis di
Palestina, yang akan distimulasi oleh artikel Northcliffe terakhir. Saya tidak menganggap
lebih pentingnya gerakan ini, tapi itu bertambah sulit untuk memenuhi argumen bahwa
tidak adil meminta pembayar pajak Inggris yang sudah kewalahan dengan perpajakan
untuk memaksakan menanggung biaya pada kebijakan yang tidak populer tentang
Palestina.
 Reaksi Jerman dan Turki
Segera setelah publikasi deklarasi Jerman memasuki negosiasi dengan Turki untuk
mengajukan proposal tandingan. Sebuah Masyarakat Jerman-Yahudi dibentuk: Vereinigung
Jüdischer Organisationen Deutschlands zur Wahrung der der Juden Rechte des Ostens
(VJOD) dan pada Januari 1918, Penasihat Agung Turki, Talaat, mengeluarkan pernyataan
yang menjanjikan undang-undang di mana “semua keinginan yang dapat dibenarkan orang
Yahudi di Palestina akan dapat menemukan pemenuhannya.”11

10
Benny Morris, The Righteous Victims (Random House LLC, 2011), hal. 76
11
Lieut-General Sir George & Captain Cyril MacMunn Falls, Military Operations. Egypt and Palestine. From the
outbreak of war with Germany to June 1917 (London: HMSO, 1928), hal. 219-220
Daftar Pustaka

Ateek, Naim Stifan. 2009. Semata-Mata Keadilan. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia
Haythornwaite, Phillip. 2004. Gallipoli 1915: Frontal Assault on Turkey (Campaign Series #8).
Westport: Preager Publisher
Hirsch, Ellen. 1996. The Facts about Israel. Jerusalem: Israeli Information Center
Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-
Liberal. Jakarta: Gema Insani
MacMunn, Lieut-General Sir George. 1928. Military Operations. Egypt and Palestine. From the
outbreak of war with Germany to June 1917. London: HMSO
Morris, Benny. 2011. The Righteous Victims. Random House LLC
Murphy, David. 2008. The Arab Revolt 1916-1918. London: Osprey
Mohd Roslan bin Mohd Nor. Sejarah Kejatuhan Palestina dan Kewujudan Israel
Schneer, Jonathan. 2010. The Balfour Declaration: The Origins of the Arab-Israeli Conflict.
Toronto: Random House
Z.A, Maulani. 2002. Zionisme: Gerakan Menaklukan Dunia. Jakarta: Daseta
http://en.wikipedia.org/wiki/Balfour_Declaration, diakses 16-11-2013, pukul 20.00 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Balfour_1917, diakses 16-11-2013, pukul 19.40 WIB
http://sejarah.kompasiana.com/2012/11/23/konflik-palestina-ditinjau-dari-sejarah-ii-
505472.html, diakses 22-11-2013, pukul 21.30 WIB