Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS NASKAH KERETA KENCANA KARYA W.

S RENDRA
DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN STRUKTURAL
OLEH NUR AZIZ NPM 132121096

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karya sastra merupakan bagian dari ilmu seni dan bidang ilmu pengetahuan yang
membahas mengenai teks yang di dalamnya memuat prosa, puisi, dan drama. Puisi Secara
etimologis berasal dari bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat.
Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan,
menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni
sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak
dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980:10). Prosa adalah karangan naratif yang
bersifat imajinatif, masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan
hubungan-hubungan antar manusia. Drama adalah cerita atau tiruan perilaku manusia yang
dipentaskan. Munculnya pengerti-an tersebut jika ditinjau dari makna kata drama sudah
tepat. Kata drama berasal dari kata Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak,
bereaksi, dan sebagai-nya (Harymawan, 1988:1). Drama juga salah satu jenis karya sastra yang
mempunyai kelebihan dibandingkan dengan karya sastra jenis lain, yaitu unsur pementasan
yang mengungkapkan isi cerita secara langsung dan dipertontonkan di depan umum.
Salah satu bentuk karya sastra yang membutuhkan penanganan kompleks ialah drama.
Drama adalah bentuk karya sastra yang nantinya lebih ditekankan pada aksi atau gerakan.
Berbeda dengan bentuk karya sastra yang lain seperti puisi ataupun prosa yang dapat dinikmati
dengan cara membacanya saja, naskah drama belum dianggap selesai kalau belum dipentaskan.
Dikatakan membutuhkan penanganan yang kompleks disebabkan karena karya sastra berupa
drama tidak hanya menampilkan percakapan baik itu monolog maupun dialog. Lebih dari itu,
menampilkan bentuk karya sastra ini juga tidak lepas dari unsur-unsur lain yang membuat
pementasan bentuk karya sastra ini lebih menarik. Adapun karya sastra drama memerlukan
unsur-unsur lain seperti: seni musik, tata lampu, artistik, pentas, seni tari, olah vokal dan
sebagainya.
Pembahasan mengenai karya sastra tidak terlepas dari pembahasan tentang pengarangnya,
pengarang merupakan sosok paling penting lahirnya karya sastra dan bagian dari bapak
biologis suatu karya sastra, salah satu sosok sastrawan yang karyanya akan penulis kaji adalah
sastrawan kelahiran Solo, 7 November 1935 yaitu Willibrordus Surendra Broto Rendra atau
biasa di sebut W.S Rendra, sastrawan yang mempunyai gelar si burung merak.
W.S Rendra adalah sastrawan yang produktif, karyanya mulai dari naskah drama, prosa
maupun puisi. Karya naskah Drama W.S Rendra (Orang-orang di Tikungan Jalan (1954), Bip
Bop Rambaterata (Teater Mini Kata), SEKDA (1977), Selamatan Anak Cucu Sulaiman,
Mastodon dan Burung Kondor (1972), Hamlet (terjemahan karya William Shakespeare),
Macbeth (terjemahan karya William Shakespeare), Oedipus Sang Raja (terjemahan karya
Sophokles), Lisistrata (terjemahan), Odipus di Kolonus (terjemahan karya Sophokles),
Antigone (terjemahan karya Sophokles), Kasidah Barzanji, Perang Troya Tidak Akan Meletus
(terjemahan karya Jean Giraudoux) Panembahan Reso (1986), Kisah Perjuangan Suku Naga,
kerta kencana (terjemahan Eugene Ionesco - Les Chaises). Karya Puisi W.S Rendra (Balada
Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak), Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Blues
untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Jangan Takut Ibu, Mencari Bapak, Nyanyian Angsa,
Pamphleten van een Dichter, Perjuangan Suku Naga, Pesan Pencopet kepada Pacarnya, Potret
Pembangunan Dalam Puisi, Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan), Rick dari Corona,
Rumpun Alang-alang, Sajak Potret Keluarga, Sajak Rajawali
Sajak Seonggok Jagung, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, State ofEmergency,
Surat Cinta, Pranala luar).
Dari kesekian banyak karya W.S Rendra penulis tertarik dengan naskah drama Eugene
Ionesco yang berjudul Les Chaises dan di terjemahkan sekaligus di adaptasi oleh W.S Rendra
dengan judul kereta kencana, naskah ini bercerita tentang realita kehidupan yang menuntut
ketegaran dalam menjalani kehidupan. Penulis menganalisis naskah drama tersebut dengan
melalui pendekatan objektif struktural karena analsis dengan metode ini lebih mudah dan selain
itu juga untuk mengetahui lebih mendalam tentang unsur-unsur instrisik yang membangun
naskah drama tersebut dan yang menjadikannya sebagai karya sastra yang dipandang bagus
dan populer.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah di atas penulis Merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan drama?
2. Apakah yang dimaksud dengan pisau bedah struktural?
3. Bagaimana kajian naskah drama kereta kencana karya W.S Rendra berdasarkan pisau bedah
struktural?

C. Tujuan

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Pengertian drama
2. Pisau bedah struktural
3. Kajian naskah drama kereta kencana karya W.S Rendra menggunakan pisau bedah struktural.

D. Kegunaan
Ada pun kegunaan yang dapat diperoleh dari hasil analisis naskah drama kereta kencana
karya W.S Rendra ini adalah:
1. Sebagai bahan bacaan bagi peminant sastra;
2. Sebagai bahan yang memudahkan penikmat sastra untuk memahami unsur pembentuk karya
sastra; dan
3. Sebagai bahan pembelajaran.
BAB II
Pendekatan struktural dan unsur pembangun naskah drama kereta
kencana karya W.S Rendra

A. Hakikat Drama
Drama adalah proses lakon sebagai tokoh dalam peran, mencontoh, meniruh gerak
pembicaraan perseorangan, menggunakan secara nyata dari perangkat yang dibayangkan,
penggunaan pengalaman yang selalu serta pengetahuan, karakter dan situasi dalam suatu
lakuan, dialog, monolog, guna menghindarkan peristiwa dan rangkaian cerita cerita
tertentu Menurut Wood dan Attfield, 1996 (dalam Sariana, 2010:60).
Drama adalah suatu karangan dalam prosa atau puisi yang disajikan dalam dialog atau
pantomi, suatu cerita yang mengandung konflik atau kontras seorang tokoh, terutama sebagai
suatu cerita yang diperuntukkan buat dipentaskan di panggung dramatik Benhart (dalam
Taringan, 1984: 7).
Berdasarkan pendapat di atas, bisa disimpulkan, bahwa pengertian drama lebih mengacu
pada naskah lakon, yang melukiskan konflik manusia dalam bentuk dialog, yang
dipresentasikan melalui tontonan dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan
penonton atau dipentaskan.
Drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas,
disaksikan oleh orang banyak atau penonton dengan media: percakapan, gerak dan laku dengan
tata pentas atau dekor (layar, dst), didasarkan pada naskah tertulis dengan atau tanpa musik,
nyanyian, dan tarian.

B. Pisau bedah pendekatan struktural


Analisis naskah drama dengan mengunakan metode struktural adalah menganalisis unsur-
unsur ekstrinsik dan instrisik yang terdapat dalam naskah drama tersebut. Adapun unsur-unsur
instrisik dalam karya sastra drama yakni sebagai berikut.

1. Judul
Judul merupakan kontak pertama antara pengarang dengan pembaca. Oleh karena itu judul
harus menarik. Sebagai kepala karangan peran judul sangat penting. Judul karangan dapat
menunjukkan unsur-unsur tertentu dari karya sastra, antara lain:
a. dapat menunjukkan tokoh utama;
b. dapat menunjukkan alur waktu, hal ini terdapat pada cerita yang disusun secara kronologis;
c. dapat menunjukkan objek yang dikemukakan dalam suatu cerita;
d. dapat mengidentifikasi keadaan atau suasana cerita;
e. dapat mengandung beberapa pengertian, misalnya tempat dan suasana. (Jones dalam
Maslikatin, 2007:12).

2. Babak dan Adegan


Salah satu ciri yang membedakan naskah drama dengan novel adalah pembagian babak dan
adegan. Babak merupakan bagian dari naskah drama yang menerangkan semua peristiwa yang
terjadi di suatu tempat, pada urutan waktu tertentu, atau kesatuan peristiwa yang terjadi pada
suatu tempat dan pada suatu urutan waktu. Adegan ialah bagian dari babak yang batasnya
ditentukan oleh perubahan peristiwa yang disebabkan oleh datang dan perginya seorang atau
lebih tokoh. (Sumarjo & Saini KM dalam Maslikatin, 2007:42). Ada drama yang hanya terdiri
atas satu babak misalnya drama monolog, dan ada drama yang terdiri atas beberapa babak. Tiap
babak bisa dibagi menjadi datu adegan atau beberapa adegan.
3. Wawancang dan Kramagung
Wawancang dan Kramagung merupakan ciri yang membedakan naskah drama dari
genre sastra yang lain (novel, novelet, cerpen). Wawancang ialah ucapan atau dialog yang
dilakukan tokoh cerita, sedangkan kramagung ialah petunjuk teknis yang harus dilakukan
tokoh cerita secara lahiriah yang disebut stage direction. (Tambajong dalam
Maslikatin, 2007:41). Naskah drama terdiri dari deretan dialog-dialog yang
disebut wawancang. Wawancang biasanya dilengkapi dengan kramagung. Keberadaan
kramagung sangat membantu mengarahkan pemain pemula. Meskipun demikian naskah-
naskah drama yang ditulis oleh pengarang yang mempunyai kelompok teater seringkali minim
kramagungung.

4. Tema
Tema merupakan pokok pikiran dalam karya sastra. Tema merupakan gagasan pokok
atau subjek master yang dikemukakan oleh penyair (Waluyo, dalam Maslikatin. 2007:26).
Nurgiyantoro membagi tema menjadi dua yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor ialah
makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan umum karya sastra itu, adapun makna-
makna tambahan itulah yang disebut tema-tema minor. Esten menyatakan ada tiga cara
menentukan tema mayor, yaitu: (1) menentukan persoalan mana yang menonjol (2) persoalan
mana yang paling banyak menimbulkan konflik (3) persoalan mana yang membutuhkan waktu
penceritaan (Maslikatin, 2007:12).

5. Penokohan dan Perwatakan


Salah satu unsur penting dalam naskah drama adalah tokoh atau penokohan. Karena
tokoh yang harus menyampaikan misi pengarang di atas pentas. Penokohan dan fisical
describtion para tokoh dalam naskah drama seharusnya jelas. Sujiman menyatakan tokoh cerita
ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa dan perlakuan dalam berbagai peristiwa cerita.
Tokoh cerita bisa terdiri dari satu orang misalnya monolog, atau terdiri dari beberapa orang.
Berdasarkan tingkat kepentingan dalam cerita, tokoh bisa dibagi menjadi dua yaitu
tokoh utama dan tokoh bawahan. Tokoh utama ialah tokoh yang diutamakan penceritaannya
dalam karya sastra (drama). Ia adalah tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai
pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh bawahan ialah tokoh yang
keberadaannya mendukung tokoh utama.
Setiap tokoh dalam cerita (drama) pasti mempunyai karakter yang berbeda-beda.
Perbedaan ini yang nantinya menimbulkan konflik dan membuat cerita hidup serta dramatik.
Wellek (dalam Maslikatin, 2007:45) membagi tokoh menjadi dua yaitu watak bulat (round
character) dan watak datar (flat character). Round character atau watak bulat adalah watak
tokoh yang berubah-ubah dari awal kemunculannya sampai akhir cerita. Flat character atau
watak datar adalah watak tokoh yang dari awal kemunculannya sampai akhir cerita tidak
mengalami perubahan.
Berdasarkan fungsinya dalam drama, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi empat
macam, yaitu :
1. protagonis : peran utama (pahlawan) yang menjadi pusat cerita.
2. antagonis : peran lawan, sering juga menjadi musuh yang menyebabkan konflik.
3. tritagonis : peran penengah, bertugas mendamaikan atau menjadi perantara protagonis dan
antagonis.
4. peran pembanntu : peran yang secara tidak langsung terlibat dalam konflik, tetapi diperlukan
untuk menyelesaikan berita. (Harymawan, dalam Maslikatin. 2007:45).
6. Alur
Alur merupakan susunan cerita. Oemarjati menyatakan alur adalah struktur penyusunan
kejadian-kejadian dalam cerita yang disusun secara logis dan rangkaian kejadian itu saling
terjadi dalam hubungan kausalitas. Plot dibagi menjadi lima bagian, yaitu:
a. situation, pengarang menggambarkan suasana awal cerita. Pada tahapan ini belum ada
konflik, pengarang hanya memperkenalkan tokoh-tokohnya dan situasi.
b. generatin circumtanses (cerita mulai bergerak). Pada tahapan ini pengarang mulai
mengenakan konflik pada tokoh cerita.
c. rising action, cerita mmulai memuncak. Pada tahapan ini persoalan-persoalan mulai menuju
puncak.
d. climax (cerita mencapai puncak). Pada tahapan ini konflik yang dialami tokoh mencapai
puncak.
e. denouement atau penyelesaian. Pada tahap ini pengarang memberi penyelesaian dari
permasalahan-permasalahan yang ada. (Tasrif dalam Maslikatin, 2007:16)
Berdasarkan susunan peristiwa-peristiwa dalam cerita, alur dapat dibedakan menjadi
dua yaitu alur lurus dan alur sorot balik (flash back). Susunan alur lurus terjadi apabila
peristiwa-peristiwa dalam cerita disusun mulai dari situation, generatin circumtanses, rising
action, climax, denouement. Alur sorot balik (flash back) terjadi apabila susunan peristiwa
dalam cerita disusun terbalik mulai daridenouement, climax, rising action, generatin
circumtanses, situation.
Berdasarkan kualitas jalinan peristiwa-peristiwa dalam cerita terdapat alur erat dan alur
longgar. Alur erat terjadi apabila kualitas jalinan peristiwa-peristiwa dalam cerita sangat erat,
sehingga apabila salah satu bagian cerita dihilangkan keutuhan cerita akan terganggu. Alur
longgar terjadi apabila kualitas jalinan peristiwa-peristiwa dalam cerita tidak erat, terdapat
degresi, sehingga apabila degresi itu dilepaskan atau dihilangkan keutuhan cerita tidak
terganggu.
Berdasarkan kuantitas jalinan peristiwa dalam cerita terdapat dua macam alur, yaitu
alur tunggal dan alur ganda. Cerita beralur tunggal terjadi kalau dalam cerita itu hanya terdapat
satu bangunan alur. Alur ganda terjadi apabila dalam cerita itu terdapat dua jalinan cerita atau
lebih misalnya alur Mekar karena Memar karya Alex Tobing, Supernova karya Dewi Lestari.
Berdasarkan cara penyelesaian permasalahan dalam cerita terdapat dua macam alur yaitu
alur tertutup dan alur terbuka. Alur tertutup terjadi apabila penyelesaian (denoument) persoalan
diberikan oleh pengarang. Alur terbuka terjadi apabila penyelesaian persoalan dalam cerita
diserahkan kepada pembaca.

7. Konflik
Secara umum, konflik adalah pertentangan, percekcokan dan perselisihan. Wellek
(1989) menyatakan konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara
dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan. Tarigan (dalam
Maslikatin, 2007) membagi konflik menjadi dua yaitu konflik fisik atau konflik eksternal dan
konflik psikologis atau konflik internal.
Konflik fisik di bagi menjadi tiga yaitu : (1) konflik antara manusia dengan manusia (2)
konflik antara manusia dengan masyarakat (3) konflik antara manusia dengan alam. Konflik
batin dibagi menjadi dua yaitu : (1) konflik ide yang satu dengan ide yang lain (2) konflik
seseorang dengan kata hatinya.
8. Latar
Latar (Setting) adalah tempat terjjadinya peristiwa dalam cerita atau lingkungan yang
mengelilingi pelaku. Latar juga menunjukkan local colour atau warna lokal. Cerita yang
berlatar budaya Jawa aka menggunakan dialog logat Jawa dan tata rias maupun tata pakaian
yang menggambarkan orang Jawa. Ppenyajian latar yang berhasil dapat menciptakan warna
kedaerahan yang kuat sehingga dapat menghidupkan cerita. (Lubis dalam Maslikatin,
2007:17). Nugiyantoro menyatakan fungsi latar adalah (1) untuk menggambarkan situasi
(ruang dan waktu); (2) untuk proyeksi keadaan batin para tokoh cerita.
Berdasarkan fungsinya, latar dibedakan menjadi lima bagian yaitu:
a. tempat terjadinya peristiwa, baik tempat diluar atau di dalam rumah yang melingkupi tokoh;
b. lingkungan kehidupan, menyangkut lingkungan tempat, lingkungan pekerjaan;
c. sistem kehidupan, sesuai dengan lingkungan kehidupan tokoh;
d. alat-alat atau benda-benda kehidupan;
e. waktu terjadinya peristiwa, meliputi musim, iklim, bulan tahun, dan sebagainya. (Pradopo
dalam Maslikatin, 2007:17).

9. Tipe Drama
Tipe drama ialah sifat yang dominan dalam drama. Tipe drama ada empat macam, antara lain:
tragedi, komedi, melodrama, farce (Tarigan dalam Maslikatin, 2007:47). Boulton merinci tipe
drama lebih lengkap lagi menjadi 17 macam. Adapun penjelasan ke-17 tipe drama tersebut
yakni.
1) Tragedi adalah drama yang penuh dengan kesedihan, penderitaan, dan minimal seorang
tokoh mati. Penggarapan drama tipe ini bersifat serius, permasalahan yang diangkat juga serius.
Tipe tragedi menonjolkan unsur intrik, pembunuhan, kesengsaraan, suasana suram, kesakitan
dsb. Drama tipe ini mudah dikenali (terutama di Indonesia) karena kebanyakan drama
Indonesia menampilkan kesedihan dan kesengsaraan atau ketidakadilan.
2) Melodrama berisi kejadian-kejadian yang menyedihkan namun berakhir dengan
kegembiraan. Boulton menyatakan tipe drama ini sebagai drama tragedi yang miskin.
Permasalahan yang diangkat bisa serius tetapi penggrapannya tidak serius. Kesedihan
ditampilkan secara berlebihan begitu pula kegembiraanya juga ditampilkan secara berlebihan.
Drama-drama tradisional (ludruk, lenong) biasanya bertipe melodrama.
3) Heroic play atau drama kepahlawanan ialah drama yang menceritakan perjuangan para
pahlawan untuk meraih kemerdekaan. Perjuangan dalam drama modern tidak dibatasi pada
peperangan, tetapi bisa dalam arti luas, misalnya perjuangan para buruh dalam drama Marsinah
Nyanyian dari dalam Kubur.
4) Drama Problema (problem play) ialah drama yang menceritakan problema yang ada di
masyarakat, baik problem sosial maupun moral.
5) Drama komedi ialah drama yang bertujuan membuat orang tertawa. Permasalahan yang
diangkat dalam drama tragedi adalah permasalahan serius demikian juga penggarapannya,
tetapi sifatnya serius.
6) Comedy of errors atau drama kekeliruan/kesalahan ialah komedi yang kelucuannya
memanfaatkan kesalahan-kesalahannya yang dilakukan oleh tokoh-tokohnya.
7) Comedy of manners ialah drama komedi yang kelucuannya disebabkan tingkah aneh para
tokohnya.
8) Sentimental comedy ialah drama komedi yang menampilkan adegan-adegan yang membuat
penonton bersimpatik dan dapat meneteskan air mata bukan karena sedih namun karena senang
yang berlebihan.
9) Comedy of character or humor ialah komedi yang serius. kelucuannya bukan karena
kekonyolannya, tetapi karena karakter tokoh-tokohnya.
10) Farce (lawak) ialah drama yang hanya bertujuan memnuat orang tertawa terpingkal-
pingkal tanpa pendalaman tema maupun watak. Lawak biasanya menghalalkan segala cara
untuk menciptakan kelucuan.
11) Drama of ideas ialah drama yang mengungkapkan ide-ide yang penuh komplikasi dari
tokoh-tokohnya. Banyak drama Indonesia yang bertipe drama idea. Biasanya muncul
bersamaan dengan drama bertipe problema, atau drama bertipe tragedi.
12) Dedaktic play atau drama propaganda ialah drama yang memberi pengajaran pada
penontonnya. Drama ini berisi doktrin atau ajaran-ajaran agama, poltik, sosial. Drama-drama
pesanan atau perayaan-perayaan, baik perayaan hari besar agama maupun perayaan hari besar
kenegaraan biasanya bertipe drama propaganda.
13) History play atau drama sejarah berisi peristiwa sejarah yang sesuai dengan kurun waktu,
tempat-tempat, tokoh, dan peristiwa-peristiwa sejarah. Meskipun sifatnya imajinatif, unsur
ketepatan waktu, tempat dan peristiwa dalam drama sejarah harus diperhatikan pada drama tipe
ini.
14) Drama tragi-komedi ialah drama pencampuran antara tragedi dan komedi, bisa berawal
kesedihan dan berakhir kegembiraan atau sebaliknya. Mengadopsi drama tragedi dan drama
komedi. Sifat drama tragi-komedi pun juga sama dengan drama tragedi dan drama komedi
yaitu mengangkat permasalah yang serius dan penggarapannya juga serius.
15) Symbolic play atau drama simbolik ialah drama yang menampilkan tokoh-tokoh atau
peristiwa-peristiwa simbolik. Drama simbolik biasanya untuk menyamarkan sesuatu atau
menyembunyikannya dari pemerintah.
16) Drama tari ialah drama yang berupa tari atau sendratari. Di Indonesia banyak drama sendra
tari, yang biasanya menceritakan kisah-kisah Mahabarata dan Ramayana beserta variasi-
variasinya.
17) Pantomime ialah drama yang menampilkan gerak-gerak berwatak.

10. Teknik Dialog


Dialog merupakan bagian yang sangat penting dalam naskah drama karena naskah
drama merupakan deretan-deretan dialog. Dialog merupakan bagian dari naskah drama yang
berupa percakapan antara satu tokoh dengan yang lain (Sumardjo dalam Maslikatin, 2007:45).
Dialog juga sering disebut wawan kata. Sudjiman menyatakan dialog juga mencerminkan
pikiran para tokoh cerita, sehingga dapat mengungkapkan watak para tokoh cerita. Boulton
membagi teknik dialog menjadi dua bagian, yaitu:
a. the technique of dialogue individuals : teknik dialog sendiri (monolog);
b. the technique of dialogue conversation : teknik percakapan, dialog antara tokoh satu dengan
tokoh yang lain.
Selain dua teknik tersebut, dalam drama naskah maupun drama pentas kadang-kadang terdapat
prolog dan epilog. Prolog berarti pembukaan, kata atau peristiwa pendahuluan yang diucapkan
oleh pemeran utama. Epilog berarti bagian penutup pada karya sastra, yang fungsinya
menyampaikan intisari atau menafsirkan maksud karya sastra itu oleh pemeran utama. (KBBI
dalam Maslikatin, 2007:46).
11. Gaya bahasa
Tarigan (1985:5) Mengemukakan “gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan
untuk meningkatkan efek pembicaraan dengan jalan memperbandingkan sesuatu
benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum”.
Macam-macam majas secara umum:
a. Majas perbandingan
Kiasan kata-kata yang menyatakan perbandingan untuk memperoleh kesan dan juga
respon terhadap pendengar atau pembaca. Menilai atau pandangan tentang
bagaimana membuat perbandingan, Majas Perbandingan dibagi menjadi:
b. Asosiasi atau perumpamaan
Asosiasi pembicaraan atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada
dasarnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Ini kiasan ditandai dengan
penggunaan kata-kata seperti, seperti, bagaikan, dan sejenisnya.
c. Metafora
Metafora adalah kiasan yang mengungkapkan ekspresi langsung dalam bentuk
perbandingan analogis. Penggunaan kata atau kelompok kata bukan arti sebenarnya.
d. Personifikasi
Personifikasi adalah kiasan yang membandingkan benda mati tampaknya memiliki
sebagai sifat manusia.
e. Alegori
Alegori yang diumumkan, melalui kiasan atau penggambaran. Alegori kiasan yang
membandingkan terkait satu sama lain dalam suatu kesatuan yang utuh.

f. Simbolik
Simbolis adalah kiasan yang menggambarkan sesuatu dengan menggunakan benda-
benda, hewan, atau tumbuhan sebagai simbol atau lambang.
g. Metonymy
adalah kiasan yang menggunakan fitur atau label dari suatu objek untuk
menggantikan obyek tersebut.Pengungkapan penggunaan nama untuk benda-benda
lain ke dalam merek, karakteristik, atau atribut.
h. Hiperbola adalah sosok tokoh pidato dalam bentuk pernyataan berlebihan
fakta dengan tujuan memberi kesan mendalam atau meminta perhatian.

BAB III
HASIL ANALISIS NASKAH DRAMA KERETA KENCANA KARYA
W.S RENDRA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN
STRUKTURAL
A. Sinopsis
Drama ini menceritakan tentang dua orang tua telah berusia dua abad menunggu sebuah
kereta kencana. Kereta kencana dengan sepuluh ekor kuda, satu warna. Lama ditunggu, kereta
itu tal juga tiba. Sementara suara- suara yang mengatakan mereka akan segera dijemput terus
saja berkumandang. Membuat mereka merasa semakin dekat dengan kematian. Dua orang yang
kesepian ini tidak mempunyai anak, dua orang yang memiliki kejayaan masa lalu namun
dimasa tuanya hanya bisa berkhayal agar kematian yang segera menjemput mereka berdua
dapat menjadi suatu yang bermakna. Drama ini menjadi sangat menarik dikarenakan penulisan
yang mengambil latar belakang keadaan masa tua yang tidak kunjung habis. Selalu dilalui
dengan monotone namun terlihat dimana penulis menyampaikan isi yang sesungguhnya tetang
kehidupan yang menjadi lebih terkesan membosankan. Dua orang tua ini tidak terlihat
mengeluh dalam menunggu kereta yang tak kunjung menjemputnya. Hari – hari dilalui dengan
duduk disebuah kursi goyang. Si Nenek bercanda mesra dengan Kakek. Tak jarang mereka
membahas kembali masa lalu yang terlewat sudah. Kakek selalu bercumbu rayu, terkadang
merayu sedikit, dan selalau diakhiri dengan kebosanan. Bilamana sudah bosan, mereka kembali
bernostalgia, sesekali melihat kejendela, apakah sudah datang kereta yang mereka tunggu. Dua
orang tua itu tak beda halnya seperti bermain main. Mereka saling membangun pendirian,
menghibur masing-masing, bercanda tertawa, bersenda guarau, sampai pertengkaran tak jarang
menghiasi kesepian mereka. Setelah berlalu, mereka hanyalah terdiam terpaku menunggu.
Kebosanan semakin menjadi, mereka kembali berfikir tentang kehidupan kedepannya. Melihat
jendela kembali, dan tak datang pula. Percakapan yang hanya melibatkan dua orang ini sangat
tidak membosankan, diakarenakan bahasa dari drama ini sangatlah indah dan berbagi kiasan
bahasa yang bervariasi. Puncak dari drama ini, tak kala mereka benar – benar jenuh. Lalu saling
mencerca satu sama lain. Pertengkaran semakin menjadi. Ditengah suasana malam yang
mencekam. Mereka saling menyalahkan dan beradu argument, selalu terkekang dalam ruangan
dan jendela merepat mempercepat ataukah memperlambat waktu kematian mereka. Sungguh
kesepian dan kebosannan yang selalu mengiasi drama ini. Pertengkaran berakhir ketika Kakek
mendapat serang jantung, lalu sekejap tergelatak di kursi goyangnya yang telah tua seperti
umurnya. Sontak Nenek sangat terpukul, lalu melakukan berbagai cara agar Kakek dapat
tersadar kembali. Nenek pun berdiaolog snediri, meminang dan bernostalgia kisah cintanya
dengan Kakek. Sesekali Nenek melihat jendela, kereta kencana belum juga tiba. Ditengah
dialog Nenek, tiba – tiba Kakek tersdar, dan kembali bercengkarama dengan Nenek, Kakek
merayu mesra Nenek, persis ketika Kakek melamar Nenek. Mereka kembali bercanda,
bermimpi, bernostalgia. Tak jarang Kakek menuturkan mimpinya ketika kedarannya tak
terkendali. Dia membayangkan sebuah kereta kenca menghampiri kediaman mereka yang
sederhana, hayalah kursi tua pemanis ruangan tersebut, perabotan rumah yang lain sudah using,
dan tak dapat dipergunakan lagi.
B. Unsur intrinsik
Setiap karya sastra pasti terbentuk dari unsur-unsur pembangun karya nya, baik yang di dalam
maupun yang diluar karya sastra itu sendiri.

1. Judul
Judul naskah drama “kereta kencana” merupakan sebuah majas untuk menunjukan
penjemputan terhadap kematian. Judul naskah drama “kereta kencana” mengidentifikasi
keadaan atau suasana cerita. Hal ini sesuai dengan fungsi dari kereta kencana itu sendiri yaitu
sebagi sarana transportasi yang biasa di gunakan oleh kaum bangsawan yang berada di lingkup
kerajaan.

2. Wawancang dan Kramagung


( EMPAT KETUKAN, SETELAH ITU NENEK MASUK DENGAN LILIN MENYALA.
DUHAI GUGUPNYA)
NENEK : Henry, engkaukah itu ?
Henry….. ah…. dari mana engkau sayang ?
( NENEK BERJALAN DENGAN LILIN MENYALA, IA DUDUK DI KURSI BAGUS
TANPA SANDARAN, DAN MEMBISU )
NENEK : (MELETAKKAN LILIN KE MEJA ) Henry, dari mana engkau ? Kenapa
diam saja ? saya mencarimu, ada apa dengan
Dari data tersebut, dapat kita tentukan wawancang dan kramagungnya. Kramagung pada
kutipan di atas tertulis huruf kapital. Ada penandaan khusus pada suatu kramagung yang
diletakan antara buka kurung dengan tutup kurung. Untuk wawancang atau dialog
tokoh dituliskan dengan nama tokoh yang ditebalkan dan diberi titik dua. Kemudian
dilanjutkan dengan isi dialog dari tokoh yang bersangkutan.

3. Babak dan Adegan


( WAKTU LAYAR DIBUKA PANGGUNG GELAP DAN SUNYI, KEMUDIAN
TERDENGAR SUARA)
………………… Wahai, Wahai……………….. Dengarlah engkau dua orang tua yang selalu
bergandengan, dan bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya.
Wahai, wahai dengarlah !Aku memanggilmu. Datanglah berdua bagai dua ekor burung dara.
Akan kukirimkan kereta kencana untuk menyambut engkau berdua. Bila bulan telah luput dari
mata angin, musim gugur menampari pepohonan dan daun-daun yang rebah berpusingan.
Wahai, wahai !
Di tengah malam di hari ini akan kukirimkan kereta kencanaa untuk menyambut engkau
berdua. Kereta kencana, 10 kuda 1 warna.
(KEDUANYA RUBUH, LONCENG BERDENTANGAN DUA BELAS KALI. LAMPU
PADAM DAN SELESAILAH SANDIWARA INI ).
Naskah drama kereta kencana terdiri dari dari satu babak karna mulai dari layar pertunjukan di
buka sampai di tutup kembali peristiwa yang berlangsung hanya terjadi dalam satu malam.

4. Tema
a) Tema mayor
Tema mayor dalam naskah drama kereta kencana adalah tentang ketegaran dalam
menghadapi kematian dan tetap setia terhadap pasangan hidup, ini terbukti dari dialog antara
nenek dan kakek.
(KAKEK LALU MENUTUP PINTU, LALU PERGI KE KURSI GOYANG, NENEK KE
KURSI PIANO)
NENEK : Apakah kau takut ?
KAKEK : Tidak, aku berdebar-debar.
NENEK : Perpisahan badan bukan berarti perpisahan jiwa.
KAKEK : Kita berdua tak akan dipisahkan.
NENEK : Henry, aku mencintaimu.
KAKEK : Kita adalah dua tangkai mawar yang saling berbelitan, akupun
mencintaimu.
NENEK : Ingkatkah kau pohon landen di kebun rumah orang tuaku.
KAKEK : Pohon lenden itu manisku ?Adalah kipas raksasa yang mengagumkan.
NENEK : Kita berdua suka membaca buku di situ, waktu itu kau sedang gila belajar
kesusastraan, kau ucapkan padaku sebuah sajak John Concord yang bernama Huesca.
KAKEK : Dan kau lalu mengucapkan sajak Van Ostajen yang bernama Malopee.
NENEK : Maukah kau mengucapkan Huesca sekali lagi untuk saya?
KAKEK : Maukah kau mengucapkan Malopee sekali lagi untuk saya ?
(NENEK BERDIRI MEMULAI, KAKEK MENYAMBUNG DENGA HUESCA)
NENEK : Terima kasih manisku.
(BUNYI KERETA)
NENEK : Dengarlah.
KAKEK : Kereta.
NENEK : Kereta kencana.
(TIBA-TIBA KEDUANYA MEMEGANG JANTUNGNYA DENGAN KESAKITAN,
KAKEK MAJU DUA LANGKAH )
KAKEK : Putri Zeba, inilah teh dari Timur. (MAJU DUA LANGKAH)
NENEK : Inilah kue Cherio untuk putra Perancis.
(KEDUANYA RUBUH, LONCENG BERDENTANGAN DUA BELAS KALI. LAMPU
PADAM DAN SELESAILAH SANDIWARA INI ).
Dialog di atas bercerita tentang kekhawatiran akan perpisahan yang sebentar lagi akan mereka
rasakan namun ketegaran dan keyakinan yang kuat membawa mereka pada keselarasan yang
hebat hingga mereka berucap perpisahan badan bukan berarti perpisahan jiwa, dan mereka
ibarat dua tangkai mawar yang saling terbelit.

b) Tema minor
Tema minor dalam naskah drama kereta kencana yaitu Kegembiraan di tengah kegentingan
menghadapi kematian. Hal tersebut dapat di ketahui melalui dialog berikut :
NENEK : Jangan, jangan sayang. Apakah kau akan bertingkah nakal lagi Henry ?
Ah, kau terlalu banyak aku manjakan manis.
KAKEK : Aku tidak bertingkah, aku tidak berbuat apa-apa, hidupku sudah kosong.
NENEK : Jiwa dan akal lebih luas dari kejemuan. Kebudayaan kita harus menag
dari kejemuan. Senyumlah sayang, senyum disaat seperti ini adalah kebudayaan.
KAKEK : Aku tidak mau tersenyum.
NENEK : Menyanyi ?
KAKEK : Tidak !
NENEK : Baiklah engkau seorang badut. (LAKUNYA SEPERTI BERKATA
KEPADA ANAK KECIL)
Dialog diatas bercerita tentang nenek dan kakek yang berusaha menghibur diri menghadapi
kematian dengan bermain peran, bermain layang-layang, hingga menjadi seorang putri raja dan
prajurit.
5. Penokohan dan Perwatakan
tokoh cerita ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa dan perlakuan dalam
berbagai peristiwa cerita. Tokoh cerita bisa terdiri dari satu orang misalnya monolog, atau
terdiri dari beberapa orang. Tokoh utama dalam naskah drama kereta kencana adalah kakek
dan nenek
i. Kakek
- Manja -> Nenek : “Ah, kau terlalu banyak aku manjakan, manis.”
- Rewel -> Nenek : “Kenapa kau buka jendela itu... Kau nanti masuk angin.”
- Gampang mengeluh -> Kakek : “Aku sudah kosong” “Hidupku hampa dan sia-sia.”
- Cepat bosan -> Kakek : “Ah, aku sudah bosan bayinya nangis terus.”
- Meratapi nasib -> Kakek : (Tiba-tiba dengan lemas duduk di lantai).”Aku bukan jenderal. Aku
hanyalah proffesor yang dilupakan, aku sampah dibuang.”
- Senang bersandiwara -> Kakek : “Aku senang menjadi badut.”
j. Nenek
- Perhatian -> Nenek : “Kau nanti masuk angin.”
- Bijak -> Nenek : “Senyum disaat seperti ini adalah kebudayaan.”
- Tegar -> Nenek : “Kita bisa mengisi kehidupan ini.”

6. Konflik
konflik adalah pertentangan, percekcokan dan perselisihan. konflik juga merupakan sesuatu
yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan
menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan.

a. Konflik fisik
Konflik manusia dengan manusia (nenek dan kakek)

NENEK : Saya mendengarkan suara.


KAKEK : Saya juga.
NENEK : Kau juga ? Suara apa ?
KAKEK : Suara yang dulu lagi. Aku mendengar suara yang dulu lagi.
NENEK : Aku juga mendengarnya.

7. Alur
Alur merupakan susunan cerita atau struktur penyusunan kejadian-kejadian dalam
cerita yang disusun secara logis dan rangkaian kejadian itu saling terjalin dalam hubungan
kausalitas. Tasrif (dalam Maslikatin, 2007:16) membagi plot menjadi 5 yakni situation,
generating circumtanses, rising action, climax, denouenment. Adapun plot / alur dalam naskah
drama ini sebagai berikut.
1. Situation (bagian pengenalan suasana cerita)
Dalam naskah drama kereta kencana pengenalan suasana cerita dimulai sejak layar di
panggung terbuka lalu terdengar suara misterius dari arah luar. Dapat dibuktikan dari dialog
berikut :
( WAKTU LAYAR DIBUKA PANGGUNG GELAP DAN SUNYI, KEMUDIAN
TERDENGAR SUARA)
………………… Wahai, Wahai……………….. Dengarlah engkau dua orang tua yang selalu
bergandengan, dan bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya.
Wahai, wahai dengarlah !
Aku memanggilmu. Datanglah berdua bagai dua ekor burung dara. Akan kukirimkan kereta
kencana untuk menyambut engkau berdua. Bila bulan telah luput dari mata angin, musim gugur
menampari pepohonan dan daun-daun yang rebah berpusingan.
Wahai, wahai !
Di tengah malam di hari ini akan kukirimkan kereta kencanaa untuk menyambut engkau
berdua. Kereta kencana, 10 kuda 1 warna.
2. Generating circumtanses (cerita mulai bergerak)
Dalam hal ini para tokoh sudah mulai diperkenalkan kepada setiap konfliknya. Jadi untuk alur
cerita sudah mulai agak nampak dengan mengenalkan beberapa konfliknya kepada para
tokohnya.
Yang pertama:
Konflik di tujukan kepada nenek yang merasa heran akan suara misterius dan ia menyangka
suara misterius itu adalah kakek.
NENEK : (MELETAKKAN LILIN KE MEJA ) Henry, dari mana engkau ? Kenapa
diam saja ? saya mencarimu, ada apa dengan engkau ? Ayolah jangan diam saja ? Henry
apakah kau tadi yang bersuara keras ?
KAKEK : ( MENGGELENGKAN KEPALA BAGAI TERMENUNG )
Yang ke dua:
Konflik ini ditujukan kepada kakek yang ternyata kakekpun mendengar ssuara misterius itu
dan ada tambahan dari suara misterius itu berupa suara manusia.
KAKEK : Suara yang dulu lagi. Aku mendengar suara yang dulu lagi.
NENEK : Aku juga mendengarnya.
KAKEK : Suara yang berulang kali datang.
NENEK : Ya ! Suara yang dulu.

4. Climax (cerita mulai puncak)


Pada tahap ini konflik yang dialami tokoh mulai memuncak. Hal ini dapat diketahui dari data
berikut.
(KAKEK LALU MENUTUP PINTU, LALU PERGI KE KURSI GOYANG, NENEK KE
KURSI PIANO)
NENEK : Apakah kau takut ?
KAKEK : Tidak, aku berdebar-debar.
NENEK : Perpisahan badan bukan berarti perpisahan jiwa.
KAKEK : Kita berdua tak akan dipisahkan.
NENEK : Henry, aku mencintaimu.
KAKEK : Kita adalah dua tangkai mawar yang saling berbelitan, akupun
mencintaimu.
NENEK : Ingkatkah kau pohon landen di kebun rumah orang tuaku.
KAKEK : Pohon lenden itu manisku ?Adalah kipas raksasa yang mengagumkan.
NENEK : Kita berdua suka membaca buku di situ, waktu itu kau sedang gila belajar
kesusastraan, kau ucapkan padaku sebuah sajak John Concord yang bernama Huesca.
KAKEK : Dan kau lalu mengucapkan sajak Van Ostajen yang bernama Malopee.
NENEK : Maukah kau mengucapkan Huesca sekali lagi untuk saya?
KAKEK : Maukah kau mengucapkan Malopee sekali lagi untuk saya ?
(NENEK BERDIRI MEMULAI, KAKEK MENYAMBUNG DENGA HUESCA)
NENEK : Terima kasih manisku.
(BUNYI KERETA)
NENEK : Dengarlah.
KAKEK : Kereta.
NENEK : Kereta kencana.
5. Denouemnet (penyelesaian).
Pada tahap ini pengarang memberi penyelesaian dari permasalahan-permasalahan yang ada.
Hal ini dapat diketahui dari data berikut.
(TIBA-TIBA KEDUANYA MEMEGANG JANTUNGNYA DENGAN KESAKITAN,
KAKEK MAJU DUA LANGKAH )
KAKEK : Putri Zeba, inilah teh dari Timur. (MAJU DUA LANGKAH)
NENEK : Inilah kue Cherio untuk putra Perancis.
(KEDUANYA RUBUH, LONCENG BERDENTANGAN DUA BELAS KALI. LAMPU
PADAM DAN SELESAILAH SANDIWARA INI )

8. Latar
Latar (Setting) adalah tempat terjadinya peristiwa dalam cerita atau lingkungan yang
mengelilingi pelaku. Latar juga menunjukkan local colour atau warna lokal. Adapun latar
dalam naskah drama ini sebagai berikut.
1) Latar Tempat
a. di ruangan tempat bersantai di dalam rumah
( NENEK BERJALAN DENGAN LILIN MENYALA, IA DUDUK DI KURSI BAGUS
TANPA SANDARAN, DAN MEMBISU )
NENEK : (MELETAKKAN LILIN KE MEJA )
2) Latar Waktu
Latar waktu yang terdapat dalam naskah kereta kencana adalah malam hari.
KAKEK : Ya ! Malam ini kita akan mati bersama.
NENEK : Kenapa kau buka jendela itu ? Hawa di luar sangat dingin.
KAKEK : Malam musim gugur.
NENEK : Kau nanti masuk angin.
3) Latar Alat
Yang terdapat latar alat dalam naskah drama ini adalah alat rumah tangga yang sering kita
temui di rumahnya masing-masing seperti kursi, meja, jendela, lilin, lampu dll.
( NENEK BERJALAN DENGAN LILIN MENYALA, IA DUDUK DI KURSI BAGUS
TANPA SANDARAN, DAN MEMBISU )
NENEK : (MELETAKKAN LILIN KE MEJA ) Henry, dari mana engkau ? Kenapa
diam saja ? saya mencarimu, ada apa dengan
(KAKEK TETAP MEMBATU, NENEK LALU PERGI MENYALAKAN LAMPU. LAMPU
MENYALA HIJAU, NENEK TERKEJUT )
NENEK : Kenapa kau buka jendela itu ? Hawa di luar sangat dingin.

4) Latar Lingkungan Kehidupan


Latar lingkungan kehidupan yang terdapat dalam naskah ini adalah lingkungan perkotaan hal
ini terbukti dengan berbagai peralatan yang modern, seperti kursi bagus, kursi piano dll.
( NENEK BERJALAN DENGAN LILIN MENYALA, IA DUDUK DI KURSI BAGUS
TANPA SANDARAN, DAN MEMBISU )
(KAKEK TETAP MEMBATU, NENEK LALU PERGI MENYALAKAN LAMPU.
LAMPU MENYALA HIJAU, NENEK TERKEJUT )
( KAKEK MENUTUP JENDELA, MENUJU KURSI PIANO, LALU DUDUK )

9. Teknik Dialog
Boulton (dalam Maslikatin, 2007:46) menjelaskan bahwa teknik dialog ada dua macam
yakni teknik dialog sendiri dan teknik percakapan. Adapun teknik dialog dalam naskah drama
ini sebagai berikut.
a. Teknik percakapan (conversation)
Teknik dialog naskah kereta kencana ini adalah teknik percakapan ini dimulai dari tirai
pertunjukan dibuka hingga di tutup. Seperti dalam dialog berikut.
NENEK : Saya mendengarkan suara.
KAKEK : Saya juga.
NENEK : Kau juga ? Suara apa ?
KAKEK : Suara yang dulu lagi. Aku mendengar suara yang dulu lagi.

10. Tipe Drama


Tipe drama menurut boulton terbagi menjadi 17 macam, adapun tipe drama dalam
naskah drama ini tergolong dalam tipe drama melodrama. Hal ini sesuai dengan tema inti yaitu
ketegaran dalm menghadapi kematian. Hal itu dapat kita ketahui dari data berikut.
(TIBA-TIBA KEDUANYA MEMEGANG JANTUNGNYA DENGAN KESAKITAN,
KAKEK MAJU DUA LANGKAH )
KAKEK : Putri Zeba, inilah teh dari Timur. (MAJU DUA LANGKAH)
NENEK : Inilah kue Cherio untuk putra Perancis.
(KEDUANYA RUBUH, LONCENG BERDENTANGAN DUA BELAS KALI. LAMPU
PADAM DAN SELESAILAH SANDIWARA INI ).

11. Gaya bahasa


Naskah drama kereta kencana karya W.S Rendra memiliki retorika yang dinilai sesuai
dengan konteks ceritanya yang berlatarkan sebuah keidupan lansia.

12. Amanat
Naskah drama kereta kencana karya W.S Rendra mengandung pesan moral yang
terdapat dalam ceritanya.
a) Ingatlah kematian akan datang pada diri manusia, siap atau tidak siap kematian pasti
menjemput.
b) Janganlah sulit untuk menerima kenyataan yang sebenarnya.
c) Kenyataan harus kita terima walaupun pahit dan menyakitkan.
d) Cinta kasih harus di jaga sampai nyawa yang memisahkan.
e) Janganlah menghayalkan sesuatu yang belum tentu dan tidak mungkin adany

C. Unsur Ekstrinsik

1. kepengarangan
Rendra, lahir 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah. Pernah kuliah di Jurusan
Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (tidak tamat),
kemudian memperdalam pengetahuan di American Academy Of Dramatical Arts, AS
(1964-67). Sepulang dari Amerika Serikat membentuk Bengkel Teater di Yogyakarta
dan sekaligus menjadi pimpinannya. Tahun 1954 ia mengikuti Seminar Sastra di
Universitas Harvard, AS, dan tahun 1971 dan 1979 mengikuti Festival Penyair
Internasional di Rotterdam, Belanda.
Dramanya, Orang-orang di Tikungan Jalan, memperoleh Hadiah Pertama
Sayembara Drama Bagian Kesenian Kementerian P dan K Yogyakarta tahun 1954.
Tahun 1956 cerpennya mendapat hadiah dari majalah Kisah. Tahun 1957
memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN untuk kumpulan sajaknya, Ballada
Orang-orang Tercinta(1957). Tahun 1968 sajak-sajaknya memperoleh hadiah dari
majalahHorison, Dan tahun 1976 mendapat Hadiah Pertama dari Yayasan Buku
Utama Departemen P dan K untuk bukunya, Tentang Bermain Drama (1976). Tahun
1970 Rendra menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI dan tahun 1975
memperoleh Hadiah Akademi Jakarta.
Karya-karyanya yang lain: Empat Kumpulan Sajak (1961, 1978), Ia Sudah
Bertualang (1963), Blue Untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972),
dan Potret Pembangungan dalam Puisi (1980). Sajak-sajaknya banyak
diterjemahkan ke bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Jepang, Rusia, dan lain-
lain. Di samping itu, Rendra juga banyak menerjemahkan drama ke bahasa Indonesia,
antara lain karya Sofokles: Oidipus Sang Raja (1976), Oidipus di Kolonus (1976),
dan Antigone (1976).

BAB IV

A. Simpulan
Naskah drama kereta kencana karya W.S Rendra ini menggambarkan moralitas dalam
menjalani kehidupan yaitu ketegaran dalam menghadapi takdir dan kesetian yang tulus
terhadap pasangan hidup. Watak tokoh yang terdapat dalam naskah ini jelas menggambarkan
realita di kehidupa sehari-hari dan amanat yang terdapat dalam naskah ini dapat memotivasi
pembaca untuk lebih menjaga ketenangan dalam mengghadapi suatu masalah.

B. Saran
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna, penulis menyadari masih banyak sekali
kekurangan baik dari penyajian, isi, maupun dalam teknik penulisannya. oleh sebab itu, penulis
sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini dan
semoga makalah ini bisa memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi
pembaca.