Anda di halaman 1dari 207

MODUL DIKLAT

AUDIT OPERASIONAL
DIKLAT BERJENJANG SERTIFIKASI
PROFESSIONAL INTERNAL AUDITOR (PIA)

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan


Jl. RC Veteran Raya No. 555A
Pesanggrahan – Bintaro
Jakarta Selatan 12330
Tlp. (021) 7373680
Fax. (021) 7373681
e-mail: forum_ppak@yahoo.com
MODUL DIKLAT
AUDIT OPERASIONAL

BUKU 1 PENGERTIAN-PENGERTIAN DASAR

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan


Jl. RC Veteran Raya No. 555A
Pesanggrahan – Bintaro
Jakarta Selatan 12330
Tlp. (021) 7373680
Fax. (021) 7373681
e-mail: forum_ppak@yahoo.com
DAFTAR ISI
Halaman

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


BAB II PENGERTIAN AUDIT INTERN .............................................................. 2
BAB III TUJUAN AUDIT INTERN ....................................................................... 4
BAB IV RUANG LINGKUP AUDIT INTERN ........................................................ 8
BAB V FUNGSI, WEWENANG, DAN TANGGUNG JAWAB
SERTA KEBEBASAN AUDITOR INTERN ............................................ 10
BAB VI KEGIATAN AUDIT INTERN ................................................................. 12
BAB VII NORMA AUDIT .................................................................................... 13
BAB VIII TAHAP-TAHAP KEGIATAN AUDIT DAN PENYUSUNAN
LAPORAN HASIL AUDIT .................................................................... 18
BAB IX PENGENDALIAN MANAJEMEN ......................................................... 25
BAB X PROGRAM AUDIT ............................................................................... 27
BAB XI KERTAS KERJA AUDIT ...................................................................... 29
BAB XII PETUNJUK MEMBUAT PROGRAM AUDIT ....................................... 31
LATIHAN ............................................................................................................. 33
PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB I
PENDAHULUAN
Diklat Audit Operasional merupakan kelanjutan dari Diklat Dasar-dasar Audit. Apabila
dalam Dasar-dasar Audit dikemukakan hal-hal pokok yang perlu diketahui oleh setiap
auditor, maka dalam Audit Operasional akan dikemukakan materi yang lebih mendalam
yang berkaitan dengan penerapan audit terhadap berbagai jenis kegiatan yang ada di
dalam badan usaha.

Pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan dalam perusahaan beserta cara mengauditnya,


merupakan hal yang wajib dipahami oleh setiap auditor karena di dalam menjalankan
tugasnya auditor harus melakukan audit terhadap kegiatan-kegiatan tersebut. Mengingat
waktu diklat yang tersedia adalah relatif singkat, maka yang akan dibahas hanyalah
beberapa kegiatan yang biasanya ada dalam tiap badan usaha. Adapun
kegiatan-kegiatan lainnya dapat diaudit dengan menggunakan cara pendekatan yang
tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan dalam diklat ini.

Materi yang dikemukakan dalam diklat ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
 Pembahasan pokok-pokok penting mengenai dasar-dasar audit yang perlu dikuasai
sebelum memasuki uraian tentang Audit Operasional.
 Uraian tentang audit terhadap beberapa kegiatan utama yang biasanya ada pada
setiap badan usaha. Uraian tersebut pada umumnya mengikuti sistematika sebagai
berikut:
1. Gambaran umum tentang kegiatan.
2. Pengendalian manajemen yang perlu diperhatikan bagi kegiatan tersebut.
3. Audit kegiatan yang bersangkutan.

Bahan diklat ini terdiri atas beberapa buku. Buku I berisi ikhtisar mengenai pengetahuan
audit yang telah diberikan pada diklat Dasar-dasar Audit yang diperlukan untuk dapat
memahami uraian yang dibahas pada buku-buku berikutnya. Buku II sampai dengan
Buku VI masing-masing berisi uraian kegiatan utama yaitu kegiatan pembelian, produksi,
pemasaran, keuangan, dan akuntansi serta kegiatan kepegawaian berikut cara
melaksanakan auditnya.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 1


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 2


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB II
PENGERTIAN AUDIT INTERN
Institute of Internal Auditors (IIA) yaitu organisasi perhimpunan para auditor intern di
Amerika Serikat memberikan definisi audit intern pada tahun 1978 sebagai berikut:
“Internal audit is an independent appraisal function established within an organization to
examine and evaluate its activities as a service to the organization. The objective of
internal auditing is to assist members of the organization in the effective discharge of
their responsibilities. To this end, internal auditing furnishes them with analyses,
appraisals, recommendations, counsel, and information concerning the activities
reviewed. The audit objective includes promoting effective control at reasonable cost”.

Sehubungan dengan realita yang ada pada perkembangan aktivitas audit intern dalam
praktek, maka dirasa perlu untuk merubah definisi lama yang sudah tidak cocok lagi
dengan perkembangan yang ada. Pada tahun 1999 Board of Directors IIA merubah
definisi audit intern lama menjadi sebagai berikut: “internal auditing is an independent,
objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an
organization’s operations. Its help an organization accomplish its objectives by bringing a
sistematic, disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk
management, control, and governance processes”.

Terjemahan secara bebas dari definisi di atas adalah sebagai berikut: “audit intern
adalah aktivitas/kegiatan pengujian yang memberikan keandalan/jaminan yang
independen, obyektif dan aktivitas konsultasi yang dirancang untuk memberikan nilai
tambah dan melakukan perbaikan terhadap operasi organisasi. Aktivitas tersebut
membantu organisasi dalam mencapai tujuannya dengan pendekatan yang sistematis,
disiplin untuk mengevaluasi dan melakukan perbaikan keefektivan manajemen risiko,
pengendalian dan proses yang jujur, bersih dan baik”.

Kegiatan/aktivitas yang dimaksud dalam definisi di atas merupakan salah satu unsur dari
pengendalian intern/manajemen yang selengkapnya mempunyai unsur-unsur sebagai
berikut: organisasi, kebijaksanaan, prosedur, personalia, perencanaan, pencatatan,
pelaporan, dan audit intern. Namun dengan adanya COSO pada tahun 1992 maka unsur
pengendalian manajemen dirubah dari 8 unsur menjadi 5 unsur sebagai berikut:
lingkungan pengendalian, penaksiran risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan
komunikasi, dan pemantauan.

Dari definisi baru tersebut di atas jika dibandingkan dengan definisi lama dapat
dikemukakan beberapa perubahan penting yang merupakan paradigma baru dari audit
intern, beberapa perubahan penting tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Dihilangkannya kalimat “established within an organization” berarti dalam definisi


baru, pihak yang dapat melakukan audit intern tidak harus auditor intern tetapi
boleh juga dilakukan oleh auditor ekstern. Sebagian pihak tidak menyetujui
penyerahan audit intern kepada pihak luar dengan alasan antara lain:
a. Pihak intern lebih dapat memahami operasi organisasi dari pada pihak
ekstern.
b. Pihak intern mempunyai loyalitas yang lebih baik dari pada pihak ekstern.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 3


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Namun demikian dari pengalaman ternyata pihak ekstern dapat melakukan audit
intern sebaik auditor intern

2. “Independent appraisal function” dirubah menjadi “independent, objective


assurance and consulting activity”. Jadi auditor intern tadinya mempunyai fungsi
sebagai penilai yang independen kemudian berubah menjadi aktivitas pengujian
yang memberikan keandalan yang independen, obyektif dan aktivitas konsultasi.

3. “Examine and evaluate its activities as a service to the organization” dirubah


menjadi “designed to add value and improve an organization’s operations”. Jadi
yang tadinya merupakan jasa layanan kepada organisasi sekarang berubah
menjadi pemberian nilai tambah dan memperbaiki operasi organisasi dalam
rangka mencapai tujuannya.

4. Dalam definisi lama disebutkan “membantu para anggota organisasi untuk


menyelesaikan tanggung jawabnya secara efektif” sedangkan pada definisi baru
disebutkan “membantu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.
Jadi dalam paradigma baru tujuannya lebih luas yakni menyangkut tujuan
organisasi bukan orang per orang dalam organisasi.

5. Pada definisi lama tujuan utamanya menyangkut keefektifan pengendalian


(effective control) sedangkan pada definisi baru selain keefektifan pengendalian
juga ditambahkan keefektifan pengelolaan risiko (risk management) dan proses
pengelolaan yang jujur, bersih, dan baik (governance process) sehingga di
dalamnya termasuk mengidentifikasi risiko, penaksiran risiko, bagaimana
mengelola risiko dan termasuk juga mendeteksi dan mencegah kecurangan.

Setiap kegiatan, termasuk kegiatan audit intern, muncul sebagai akibat dari desakan
kebutuhan. Sebagaimana sudah dimaklumi, setiap badan usaha pada umumnya akan
berusaha sebaik-baiknya mencapai tujuannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, semua
kegiatan perlu dikendalikan dengan baik. Alat pengendali yang dimaksud adalah suatu
sistem yang menyeluruh yang disebut sistem pengendalian manajemen, di mana audit
intern merupakan salah satu unsur penting dari padanya.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 4


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB III
TUJUAN AUDIT INTERN
Telah disebutkan di muka bahwa tujuan audit intern dirancang untuk memberikan nilai
tambah dan melakukan perbaikan operasi organisasi. Hal tersebut membantu organisasi
dalam mencapai tujuannya dengan pendekatan yang sistematis dan disiplin untuk
mengevaluasi dan melakukan perbaikan atas keefektivan manajemen risiko,
pengendalian dan proses yang jujur, bersih dan baik dengan cara melakukan pengujian
yang memberikan tingkat keandalan terhadap kegiatan-kegiatan organisasi dan aktivitas
pemberian konsultasi kepada manajemen organisasi yang memerlukannya. Tujuan ini
mempunyai jangkauan yang luas dan perlu dijabarkan lebih lanjut.

Pada dasarnya audit intern diarahkan untuk membantu seluruh anggota pimpinan agar
mereka dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya dalam mencapai tujuan organisasi
secara hemat, efisien dan efektif. Bantuan ini dilakukan oleh auditor intern dengan cara
menyampaikan kepada para anggota pimpinan berbagai analisis, penilaian, kesimpulan,
dan rekomendasi mengenai kegiatan yang diaudit dan konsultasi yang dilakukannya.

Untuk mencapai tujuan yang luas tersebut, auditor intern melaksanakan kegiatan-
kegiatan sebagai berikut:
• Menilai ketepatan dan kecukupan pengendalian manajemen termasuk
pengendalian manajemen pengolahan data elektronik (PDE)
• Mengidentikasi dan mengukur risiko
• Menentukan tingkat ketaatan terhadap kebijakan, rencana, prosedur, peraturan dan
perundang-undangan
• Memastikan pertanggungjawaban dan perlindungan terhadap aktiva
• Menentukan tingkat keadalan data
• Menilai penggunaan sumber daya secara ekonomis dan effisien serta pencapaian
tujuan organisasi
• Mencegah dan mendeteksi kecurangan
• Memberikan jasa konsultasi.

A. MENILAI KETEPATAN DAN KECUKUPAN PENGENDALIAN


MANAJEMEN TERMASUK PENGENDALIAN MANAJEMEN
PENGOLAHAN DATA ELEKTRONIK

Masalah penilaian mengenai ketepatan dan kecukupan pengendalian manajemen


merupakan masalah yang sangat penting bagi auditor intern, karena auditor intern telah
diikat oleh standar professional yang dikeluarkan oleh IIA yang mewajibkannya untuk
melakukan evaluasi atas pengendalian manajemen. Evaluasi atas pengendalian
manajemen dilakukan dalam rangka menilai lemah kuatnya suatu pengendalian
manajemen yang telah ditetapkan berupa sistem dan prosedur serta kebijakan kebijakan
yang ditetapkan serta menilai apakah pengendalian yang telah ditetapkan tersebut
dilaksanakan oleh pihak pihak yang seharusnya melaksanakan, termasuk pengendalian
manajemen pada PDE. Akhir-akhir ini sudah hampir semua organisasi mengolah data
dengan menggunakan komputer sehingga tidak dapat dihindarkan lagi oleh para auditor
intern untuk menambah pengetahuan yang berhubungan dengan PDE sebagaimana

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 5


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

disyaratkan oleh standar profesi agar setiap auditor intern menambah pengetahuan yang
berhubungan dengan kegiatan yang akan diauditnya.

B. MENGIDENTIFIKASI DAN MENGUKUR RISIKO

Sejak makin komplek dan majunya dunia usaha maka dalam audit, pengandalan pada
pengendalian manajemen dirasakan perlu ditambah dengan pengandalan pada
pengukuran risiko. Pengukuran risiko pada financial audit telah diperkenalkan melalui
SAS No 47 tahun 1983 yang membagi risiko dalam 4 bagian yaitu:

 Risiko bawaan, adalah risiko yang melekat pada kegiatan atau organisasi yang
bersangkutan
 Risiko pengendalian, adalah risiko yang ada walaupun pengendalian manajemen
berjalan baik
 Risiko deteksi, adalah risiko tidak dapat terdeteksinya salah saji material yang ada
 Risiko audit yang dapat diterima, yakni penetapan risiko oleh auditor untuk
menerima risiko yang mungkin ada dari pekerjaan auditnya.

Dalam standar professional untuk auditor intern yang dikeluarkan oleh IIA tahun 1999,
pada seksi perencanaan audit juga dijumpai mengenai keharusan menelaah risiko dalam
perencanaan audit dan dalam pelaksanaan audit, sehingga dengan demikian auditor
internal pun sudah harus melakukan pengukuran dan pengidentifikasian risiko dalam
pelaksanaan auditnya. Tujuan utama dari pengukuran dan pengidentifikasian risiko
tersebut adalah untuk memfokuskan audit pada aktivitas atau bagian aktivitas yang
punya risiko atau berisiko tinggi. Pengukuran dan pengidentifikasian risiko ini dilakukan
juga pada proses pembuatan perencanaan kegiatan audit jangka pendek (tahunan) dan
jangka panjang (3 tahunan atau lebih).

C. MENENTUKAN TINGKAT KETAATAN TERHADAP


KEBIJAKAN, RENCANA, PROSEDUR, PERATURAN DAN
PERUNDANG-UNDANGAN

Kegiatan audit intern yang paling mendasar adalah memastikan tingkat ketaatan
terhadap kebijakan, rencana, prosedur, peraturan dan perundang-undangan yang telah
ditetapkan.

Ketaatan menyangkut dua hal yang berhubungan erat, yaitu:


 Sifat dan ruang lingkup ketentuan yang harus ditaati
 Derajat ketaatan yang dapat dilaksanakan.

Pengetahuan yang mendalam mengenai kebijakan, rencana, prosedur, peraturan dan


perundang-undangan yang telah ditetapkan harus dibarengi pula dengan pengamatan
yang seksama terhadap pelaksanaannya untuk memastikan tingkat ketaatan terhadap
kebijakan, rencana dan prosedur tersebut.

D. MEMASTIKAN PERTANGGUNGJAWABAN DAN


PERLINDUNGAN TERHADAP AKTIVA

Kegiatan audit intern lainnya adalah memastikan bahwa aktiva perusahaan telah
dipertanggungjawabkan dengan benar dan dilindungi secara memadai dari berbagai

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 6


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

macam kemungkinan kerugian. Kegiatan ini sangat berhubungan dengan masalah


ketaatan karena perlindungan aktiva bisa terjamin dengan sendirinya apabila terdapat
ketaatan terhadap kebijakan dan prosedur. Akan tetapi, di sini perhatian lebih diarahkan
secara khusus untuk menghindari terjadinya kerugian dengan jalan memberikan
berbagai macam perlindungan terhadap aktiva perusahaan. Salah satu aspek khusus
dari perlindungan aktiva adalah usaha penemuan dan pencegahan terjadinya
kecurangan.

E. MENENTUKAN TINGKAT KEANDALAN DATA

Data atau dalam kata lain informasi, dapat berupa data keuangan, data operasi atau data
pelaksanaan pekerjaan yang disiapkan manajemen dengan berbagai cara untuk
mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasikan dan membuat laporan. Dari data atau
informasi yang telah disiapkan sedemikian rupa sehingga menjadi data yang andal dapat
menjadi tumpuan orang-orang tertentu dalam mengambil keputusan-keputusan penting.
Apa yang akan terjadi seandainya data atau informasi tersebut mengandung
penyimpangan yang material sehingga orang-orang yang menyandarkan keputusannya
kepada data tersebut menjadi tersesat dan salah?.

Auditor intern bertanggung jawab untuk melakukan audit agar data yang disiapkan
manajemen melalui sistem informasi adalah data yang dapat dipercaya, cermat dan
bebas dari penyimpangan yang material, termasuk juga bahwa data tersebut lengkap,
berguna dan tepat waktu serta telah disimpan di tempat yang aman dan dilakukan
pemeliharaan.

F. MENILAI PENGGUNAAN SUMBER DAYA SECARA EKONOMIS


DAN EFISIEN SERTA PENCAPAIAN TUJUAN ORGANISASI

Keekonomisan, efisiensi dan efektivitas (3E) merupakan sasaran yang hendak dicapai
oleh para pimpinan dalam mengelola aktivitas bagiannya, dengan kata lain hal tersebut
merupakan tanggung jawab manajemen dalam mengelola sumber daya dan untuk
mencapai tujuan organisasi. Tujuan organisasi biasanya ditetapkan dalam visi dan misi
serta rencana strategi untuk mencapainya dan selanjutnya dijabarkan dalam program
dan rencana pelaksanaan serta tolok ukur atau indikator kinerja yang akan digunakan
untuk mengukur keberhasilannya. Auditor intern perlu menilai apakah pelaksanaan
ketiga E tersebut telah sesuai dengan kriterianya.

G. MENCEGAH DAN MENDETEKSI KECURANGAN

Auditor intern saat ini telah diminta untuk mengevaluasi suatu proses yang jujur, bersih
dan baik, untuk itu maka auditor intern dalam melakukan auditnya perlu waspada tentang
adanya kecurangan dalam proses kegiatan yang diauditnya. Tabel indikator kecurangan
perlu diisi jika dilihat ada perilaku orang yang mendekati indikator kecurangan dan
menyelidiki lebih lanjut apakah indikator ke arah adanya kecurangan yang dilakukan
menjadi lebih besar. Jika memang demikian maka perlu diusulkan untuk dilakukan audit
investigasi oleh tim yang kompeten untuk melakukannya. Perbaikan sistem dan prosedur
juga perlu diarahkan untuk mencegah terjadinya kecurangan sebagai tanggung jawab
auditor intern.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 7


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

H. MEMBERIKAN JASA KONSULTASI

Para auditor intern adalah orang-orang pilihan, dan jika ditambah dengan beberapa
tahun pengalaman para auditor intern melakukan audit pada berbagai bagian dalam
organisasi, membuat para auditor intern mempunyai pengetahuan yang utuh dan
menyeluruh dari organisasi di mana dia bekerja. Dengan demikian maka para pemimpin
bagian dapat mengharapkan bantuan kepada unit auditor intern untuk dapat ikut serta
memberikan pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dalam memimpin aktivitas
bagiannya berupa konsultasi manajemen.

Karena fungsi ini masih baru maka para auditor intern perlu mempersiapkan diri dan
memberikan sosialisasi mengenai fungsi baru yang dapat diberikan oleh auditor intern
kepada seluruh jajaran pimpinan pada organisasi di mana ia bekerja dan selanjutnya
menetapkan seorang auditor intern senior yang akan dibantu oleh beberapa auditor
intern senior yang lain sebagai satu grup yang akan menangani masalah konsultasi
manajemen tersebut.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 8


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB IV
RUANG LINGKUP
AUDIT INTERN

Ruang lingkup audit intern secara menyeluruh dapat meliputi:


 Audit keuangan dan ketaatan
 Audit kehematan dan efisiensi
 Audit hasil program atau audit efektivitas

A. AUDIT KEUANGAN DAN KETAATAN

Audit ini mencakup audit terhadap kegiatan keuangan dan ketaatan pada
peraturan/ketentuan yang berlaku. Aspek keuangan dan ketaatan pada
peraturan/ketentuan yang berlaku pada umumnya banyak mendapat perhatian di dalam
audit. Tujuannya adalah untuk menentukan, apakah:
1. Objek audit telah melaksanakan pengendalian yang cukup terhadap penerimaan
(hasil) dan pengeluaran (biaya dan beban) atau terhadap harta dan hutang
2. Objek audit telah melaksanakan pencatatan yang memadai atas semua transaksi
yang dilakukan
3. Laporan keuangan memuat data yang teliti, lengkap, dapat dipercaya, dan
bermanfaat serta disajikan secara layak
4. Objek audit telah mentaati peraturan/ketentuan yang berlaku.

B. AUDIT KEHEMATAN DAN EFISIENSI

Audit kehematan dan efisiensi adalah audit mengenai apakah sumber dana dan sumber
daya badan usaha telah dimanfaatkan secara hemat dan efisien. Seorang auditor intern
perlu memperhatikan masalah kehematan dan efisiensi kegiatan.

Contoh indikasi dari tidak adanya kehematan dan keefisienan adalah:


1. Duplikasi kegiatan dalam mencapai tujuan organisasi
2. Hasil pelaksanaan pekerjaan yang berada di bawah standar minimum
3. Pengangguran tersembunyi karena adanya kelebihan pegawai
4. Penggunaan harta atau peralatan milik badan usaha secara tidak layak
5. Prosedur-prosedur yang tidak efektif yang meninggikan beban operasi tanpa
diimbangi oleh peningkatan kualitas jasa atau bertambahnya hasil produksi.
C. AUDIT HASIL PROGRAM ATAU AUDIT EFEKTIVITAS

Audit hasil program adalah audit terhadap pencapaian hasil program atau
manfaat-manfaat yang diinginkan. Audit hasil program hendaknya mendapatkan

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 9


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

perhatian yang sama besarnya dengan audit keuangan, ketaatan dan kehematan dalam
audit yang dilakukan oleh para auditor intern.

Indikasi mengenai tidak adanya efektivitas dalam pencapaian program adalah sebagai
berikut:
1. Ketidaklayakan program sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan yang
diinginkan
2. Biaya program tidak sepadan dengan manfaat yang diperoleh
3. Hasil yang dicapai tidak sesuai dengan program yang diinginkan.

Lingkup pekerjaan audit intern dalam standar professional auditor intern yang
dikeluarkan IIA dirumuskan secara singkat sebagai pengujian dan evaluasi terhadap
kecukupan dan keefektivan pengendalian manajemen dan kualitas pertanggung jawaban
manajemen. Di dalam lingkup tersebut terdiri dari:
1. Keandalan informasi
2. Kesesuaian dengan kebijakan, rencana, prosedur, peraturan dan perundang-
undangan
3. Perlindungan terhadap harta
4. Penggunaan sumber daya secara ekonomis dan effisien
5. Pencapaian tujuan.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 10


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB V
FUNGSI, WEWENANG DAN
TANGGUNG JAWAB SERTA
KEBEBASAN AUDITOR INTERN

A. FUNGSI, WEWENANG, DAN TANGGUNG JAWAB

Fungsi auditor intern hendaknya ditetapkan secara tertulis dan dirumuskan secara jelas.
Uraian mengenai fungsi audit intern harus secara formal ditetapkan oleh pimpinan.
ldealnya yang menetapkan adalah pimpinan tertinggi organisasi atau setidak-tidaknya
seorang pejabat tinggi yang cukup berwenang. Selanjutnya pernyataan mengenai fungsi
auditor intern tersebut perlu diinformasikan kepada seluruh jajaran pimpinan.

Seperti halnya dengan fungsi auditor intern, wewenang dan tanggung jawab auditor
intern dalam suatu organisasi juga harus ditetapkan secara jelas oleh pimpinan.
Wewenang tersebut harus memberikan keleluasaan bagi auditor intern untuk melakukan
audit terhadap catatan-catatan, harta milik, operasi/aktivitas yang sedang berjalan dan
para pegawai badan usaha.

Tanggung jawab auditor intern adalah untuk memberikan rekomendasi atau saran-saran
kepada pimpinan serta mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan
audit dan tujuan organisasi secara keseluruhan dengan hasil yang terbaik.

B. KEBEBASAN

Kebebasan atau independensi merupakan hal yang esensial bagi efektivitas audit intern.
Kebebasan ini terutama diperoleh melalui status organisatoris dari fungsi auditor intern
ditambah dengan dukungan pimpinan terhadapnya yang merupakan faktor penentu bagi
jangkauan, nilai, dan keberhasilan auditor intern.

Oleh karena itu kepala unit audit intern sebaiknya bertanggung jawab kepada seorang
pejabat yang memiliki wewenang yang cukup, jika memungkinkan diusahakan berada di
bawah Dewan Komisaris dan berhubungan dengan Komite Audit. Ini dimaksudkan untuk
menjamin jangkauan audit yang memadai, pertimbangan yang layak, serta tindak lanjut
yang efektif terhadap temuan-temuan audit dan rekomendasi-rekomendasi yang
diajukan auditor intern.
Objektivitas juga esensial bagi auditor intern, dan oleh karena itu, auditor intern tidak
boleh terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diauditnya. Kebebasan yang dimiliki auditor
intern adalah kebebasan relatif, karena kebebasan secara absolut adalah tidak mungkin.
Kebebasan secara absolut berarti bebas dari segala ketergantungan, termasuk

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 11


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

kebebasan dalam hal keuangan. Selama bagian audit intern merupakan bagian dari
badan usaha dan untuk kehidupannya tergantung dari badan usaha tersebut, maka ia
harus melepaskan sebagian dari kebebasannya. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk
melindungi auditor agar tidak terpaksa melakukan kompromi mengenai tujuan auditnya.
Kebebasan bukan sekedar semboyan atau slogan saja, melainkan memang diperlukan
agar unit organisasi audit dapat hidup dan berfungsi.

Audit intern adalah kegiatan profesional yang tujuannya untuk memberikan pendapat
secara profesional. Oleh karena itu, dibutuhkan integritas dan objektivitas yang tinggi,
serta pribadi yang tidak mudah dipengaruhi. Hal ini tidak akan tercapai tanpa adanya
kebebasan. Oleh karena itu penting sekali adanya ketentuan yang mengatur hal ihwal
mengenai objektivitas dan usaha untuk menghindarkan auditor dari ketergantungan pada
orang-orang yang kegiatannya diaudit.

Rincian wewenang dan tanggung jawab auditor harus dibuat secara seksama, mencakup
semua wewenang yang diperlukannya, dan tidak mencantumkan tanggung jawab yang
tidak akan dapat dipikulnya.

Selanjutnya, seorang auditor intern seharusnya tidak membatasi auditnya hanya pada
persoalan-persoalan akuntansi dan keuangan saja melainkan meliputi semua aktivitas
organisasi. Auditor intern yang cakap akan mampu melakukan penilaian terhadap
pengendalian manajemen yang ada pada setiap kegiatan organisasi atau perusahaan.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 12


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB VI
KAGIATAN AUDIT INTERN
Kegiatan audit intern dapat meliputi berbagai bidang kegiatan yang ada di dalam
perusahaan. Oleh karena luasnya jangkauan audit yang dapat dilakukan, maka unit audit
intern suatu badan usaha biasanya menetapkan urutan prioritas kegiatan yang akan
diaudit pada suatu jangka waktu tertentu berdasarkan hasil pengidentifikasian dan
pengukuran risiko.

Audit yang dilakukan dapat merupakan audit atas kegiatan suatu bagian tertentu dari
perusahaan (divisi, bagian, urusan) atau suatu fungsi (pemasaran, produksi,
perlengkapan). Selain itu dapat juga berupa audit terhadap suatu program atau proyek
tertentu yang merupakan bagian dari kegiatan perusahaan. Namun, apapun kegiatan
yang diaudit, hasil auditnya haruslah memenuhi kebutuhan pimpinan akan
informasi-informasi penting yang objektif.

Walaupun sangat ideal, apabila dalam jangka waktu tertentu (misalnya tiga atau lima
tahun) semua kegiatan dapat dijangkau oleh auditor intern, namun pada akhirnya
pimpinan sendirilah yang harus menetapkan bidang-bidang yang menjadi prioritas di
dalam audit untuk periode tertentu. Dalam hal ini, konsultasi atau pembicaraan yang
mendalam antara pimpinan perusahaan dengan kepala bagian audit intern akan dapat
memberikan manfaat yang besar bagi penetapan kegiatan unit audit intern ini.

Kegiatan audit kadang-kadang tidak terbatas pada hal-hal yang sudah dijadualkan. Pada
suatu saat pimpinan perusahaan mungkin menghendaki agar unit audit intern melakukan
audit terhadap kasus penyimpangan atau penggelapan. Demikian pula dalam situasi lain,
auditor intern mungkin diminta untuk menilai suatu kegiatan baru yang mendadak perlu
diselenggarakan.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 13


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 14


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB VII
NORMA AUDIT
A. PENGERTIAN NORMA AUDIT

Norma audit adalah patokan, kaidah atau ukuran yang telah ditetapkan oleh pihak
berwenang yang harus diikuti dalarn rangka melaksanakan fungsi audit agar dicapai
mutu pelaksanaan audit dan mutu laporan audit yang dikehendaki. Norma dalam
hubungannya dengan audit meliputi pertimbangan mengenai kualitas profesional seperti
keahlian, integritas dan objektivitas, persyaratan-persyaratan pelaksanaan audit dan
pelaporan, serta tindak lanjut atas temuan-temuan audit.

Norma audit yang saat ini ada dan masih berlaku karena belum dicabut atau diganti
dengan yang baru, diuraikan dalam huruf C di bawah ini, namun dengan perkembangan
yang terjadi pada dunia usaha maka para auditor intern dapat mengacu dan mencoba
menerapkan norma audit intern yang dibuat oleh IIA yang penyusunannya dilakukan
relatif lebih baru yaitu tahun 1999 yang penyusunanya dilakukan oleh para profesional di
bidang audit intern. Pemanfaatan norma tersebut adalah sepanjang sesuai dengan
kondisi di negara kita dan sepanjang belum adanya norma audit intern yang baru. Tujuan
hal di atas adalah agar para auditor intern kita tidak ketinggalan dengan kemajuan
auditor intern di dunia internasional, globalisasi dan kemajuan dunia usaha pada
umumnya. Ringkasan dari norma terdebut diuraikan pada huruf D di bawah ini.

B. TUJUAN NORMA AUDIT

Norma audit bertujuan untuk menjamin mutu pelaksanaan audit dan laporan audit serta
keseragaman pendapat mengenai bagaimana sebaiknya laporan audit disajikan agar
bermanfaat bagi pemakainya.

C. NORMA AUDIT SATUAN PENGAWASAN INTERN BUMN/BUMD

Norma Audit Satuan Pengawasan Intern BUMN/BUMD terdiri dari:


1. Norma Umum Audit
2. Norma Pelaksanaan Audit
3. Norma Pelaporan Audit
4. Norma Tindak Lanjut

1. Norma Umum Audit


a. Ruang lingkup audit lengkap terhadap objek yang diaudit, mencakup:
1) Audit atas keuangan dan ketaatan pada peraturan perundang-undangan.
2) Penilaian tentang efisiensi dan kehematan dalam penggunaan sarana yang
tersedia.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 15


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

3) Penilaian tentang efektivitas atau manfaat yang direncanakan dari suatu


kegiatan atau program.
Pejabat yang berwenang menetapkan tugas audit harus mempertimbangkan
kebutuhan pemakai hasil audit dalam menentukan ruang lingkup dari suatu audit
tertentu. Pertimbangan ini harus pula secara khusus memperhatikan fungsi pokok
Satuan Pengawasan Intern, yaitu menilai dan memberikan saran terhadap
pengendalian manajemen yang ada.
b. Status organisasi dari Satuan Pengawasan Intern haruslah sedemikian rupa
sehingga memungkinkan dilaksanakannya tanggung jawab audit.
c. Dalam segala hal yang berhubungan dengan tugas audit, Satuan Pengawasan
Intern dan para auditornya baik secara individu maupun kolektif harus bertindak
dengan penuh integritas dan objektivitas.
d. Auditor atau para auditor yang ditugaskan untuk melaksanakan audit, secara
individu atau setidak-tidaknya secara kolektif, harus mempunyai keahlian yang
diperlukan dalam bidang tugasnya.
e. Dalam melaksanakan audit dan menyusun laporan, auditor wajib menggunakan
keahliannya dengan cermat.
f. Kepala Satuan Pengawasan Intern beserta para auditornya wajib berusaha
secara terus menerus agar organisasi Satuan Pengawasan Intern dapat
berfungsi sebagaimana mestinya.

2. Norma Pelaksanaan Audit


a. Pekerjaan audit harus direncanakan sebaik-baiknya
b. Para pelaksana audit harus diawasi dan dibimbing dengan sebaik-baiknya
c. Ketaatan pada peraturan perundang-undangan harus ditelaah dan dinilai
secukupnya
d. Sistem pengendalian manajemen harus dikaji dan dinilai secukupnya untuk
menentukan sampai seberapa jauh sistem itu dapat diandalkan kemampuannya
untuk menjamin kebenaran dan ketelitian informasi, ketaatan pada peraturan
perundang-undangan dan untuk mendorong pelaksanaan operasi yang efisien
dan efektif
e. Para auditor harus waspada terhadap situasi atau transaksi yang dapat
menunjukkan kemungkinan adanya penyimpangan dan penyalahgunaan
wewenang serta tindakan yang tidak sah
f. Harus diperoleh bukti yang cukup, kompeten, dan relevan sebagai landasan yang
layak untuk menyusun pertimbangan, kesimpulan serta saran tindak lanjut audit
g. Kertas Kerja Audit yang merupakan sarana tertulis dari pekerjaan audit yang
dilakukan harus dibuat oleh auditor.

3. Norma Pelaporan Audit


a. Auditor intern harus melaporkan hasil auditnya sesuai dengan penugasan yang
ditetapkan
b. Laporan audit harus dibuat secara tertulis dan disampaikan kepada pejabat yang
berwenang tepat pada waktunya agar bermanfaat
c. Tiap laporan audit harus memuat ruang lingkup dan tujuan audit, disusun dengan
baik, menyajikan informasi yang layak serta pernyataan bahwa audit telah
dilaksanakan sesuai dengan Norma Audit Satuan Pengawasan Intern
d. Setiap laporan audit harus:
1). Memuat temuan dan kesimpulan audit secara objektif serta saran tindak yang
konstruktif
2). Lebih mengutamakan usaha perbaikan atau penyempurnaan dari pada kritik

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 16


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

3). Mengungkapkan hal-hal yang masih merupakan masalah yang belum dapat
diselesaikan sampai berakhimya audit, bila ada
4). Mengemukakan pengakuan atas suatu prestasi atau suatu tindakan
perbaikan yang telah dilaksanakan, terutama bila perbaikan itu dapat
diterapkan di bagian lain
5). Mengemukakan penjelasan pejabat objek yang diaudit mengenai hasil audit.

4. Norma Tindak Lanjut


Auditor intern harus mengikuti tindak lanjut atas temuan audit yang dilaporkan untuk
memastikan bahwa tindakan yang tepat telah diambil dan dilaksanakan.

D. RINGKASAN STANDAR PROFESIONAL AUDITOR INTERN


YANG DIKELUARKAN OLEH IIA

INDEPENDENSI:
AUDITOR INTERN HARUS BEBAS DAN TERPISAH DARI AKTIVITAS YANG
DIAUDITNYA.

1. Status organisasi dari auditor intern harus memberikan kebebasan untuk memenuhi
tanggung jawab audit yang dibebankan kepadanya
2. Auditor intern dalam melaksanakan tugasnya harus obyektif.

KEMAMPUAN PROFESIONAL:
AUDITOR INTERN HARUS MEMPERGUNAKAN KEAHLIAN DAN KETELITIAN
DALAM MENJALANKAN PROFESINYA.

Bagian Auditor Intern


1. Kepegawaian; unit auditor intern harus menjamin keahlian teknis dan latar belakang
pendidikan yang memadai bagi para auditornya
2. Pengetahuan dan kecakapan; unit auditor intern harus memperoleh para auditor
yang mempunyai pengetahuan, kecakapan dan berbagai disiplin ilmu yang
dibutuhkan untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
3. Supervisi; unit auditor intern harus melakukan supervisi kepada para auditor yang
melakukan tugas audit

Auditor Intern
1. Ketaatan dengan standar profesi; para auditor internal harus mematuhi standar audit
yang berlaku
2. Pengetahuan dan kecakapan; para auditor intern harus memiliki atau mendapatkan
pengetahuan, kecakapan dan disiplin ilmu yang penting dalam melaksanakan audit.
3. Hubungan antar manusia dan komunikasi; auditor intern harus mampu menghadapi
orang lain dan mampu berkomunikasi secara efektif.
4. Pendidikan berkelanjutan; para auditor intern harus selalu mengembangkan diri
melalui pendidikan berkelanjutan.
5. Ketelitian profesional; ketelitian profesional harus dilaksanakan dalam setiap
penugasan yang dilakukan.

LINGKUP PEKERJAAN AUDITOR INTERN HARUS MELIPUTI PENGUJIAN DAN


EVALUASI TERHADAP KECUKUPAN DAN EFEKTIVITAS SISTEM PENGENDALIAN
MANAJEMEN SERTA KUALITAS PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB YANG
DIBERIKAN.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 17


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

1. Keandalan informasi; auditor intern harus mengaudit keandalan informasi keuangan


dan operasi serta cara-cara yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur,
mengklasifikasikan dan melaporkannya.
2. Kesesuaian dengan kebijakan, rencana, prosedur, peraturan dan undang-undang;
auditor intern harus mengaudit sistem yang telah ditetapkan untuk meyakinkan
apakah sistem tersebut telah sesuai dengan kebijakan, rencana, prosedur, peraturan
dan undang-undang dan harus menentukan apakah organisasi telah mematuhi hal
hal tersebut di atas.
3. Perlindungan terhadap harta; auditor intern harus mengaudit alat atau cara yang
dipergunakan untuk melindungi harta dan jika perlu lakukan audit fisik mengenai
keberadaan harta tersebut.
4. Penggunaan sumber daya secara ekonomis dan efisien; auditor intern harus menilai
keekonomisan dan keefisienan penggunaan sumber daya.
5. Pencapaian tujuan; auditor intern harus menilai pekerjaan, operasi, dan program
untuk menentukan apakah hasil hasil yang dicapai telah sesuai dengan tujuan dan
sasaran semula serta apakah telah dilaksanakan secara tepat dan sesuai rencana.

KEGIATAN PELAKSANAAN AUDIT HARUS MELIPUTI PERENCANAAN AUDIT,


PENGUJIAN DAN PENGEVALUASIAN INFORMASI, PEMBERITAHUAN HASIL DAN
MENINDAKLANJUTINYA.

1. Perencanaan audit; auditor intern harus membuat perencanaan untuk setiap


penugasan audit yang dilakukannya.
2. Pengujian dan pengevaluasian informasi; auditor intern harus mengumpulkan,
menganalisis, menginterpretasikan dan membuktikan kebenaran informasi untuk
mendukung hasil audit.
3. Penyampaian hasil audit; auditor intern harus membuat laporan atas hasil audit yang
dilakukannya dan disampaikan kepada pejabat yang tepat.
4. Tindak lanjut hasil audit; auditor intern harus memonitor apakah atas temuan dan
rekomendasi yang diperoleh telah dilakukan tindak lanjut yang tepat.

MANAJEMEN BAGIAN AUDITOR INTERN HARUS DIKELOLA SECARA BAIK DAN


TEPAT

1. Tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab; pimpinan auditor intern harus memiliki
pernyataan tujuan, kewenangan dan tanggung jawab.
2. Perencanaan; pimpinan auditor intern harus menetapkan rencana bagi pelaksanaan
tanggung jawab bagiannya.
3. Kebijakan dan prosedur; pimpinan auditor intern harus membuat berbagai
kebijaksanaan dan prosedur secara tertulis yang akan dipergunakan sebagai
pedoman oleh staf auditor intern.
4. Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM); pimpinan auditor intern harus
menetapkan program untuk menyeleksi dan mengembangkan SDM pada bagiannya.
5. Auditor ekstern; pimpinan auditor intern harus mengkoordinasikan tugas-tugas
auditor intern dengan auditor ekstern.
6. Pengendalian mutu; pimpinan auditor intern harus menetapkan dan mengembangkan
mutu atau jaminan kualitas untuk mengevaluasi berbagai kegiatan bagian auditor
intern.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 18


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 19


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 20


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB VIII
TAHAP-TAHAP KEGIATAN
DAN PENYUSUNAN
LAPORAN HASIL AUDIT
Kegiatan audit menurut standar profesional di atas terdiri dari empat tahap yaitu:
1. Tahap Perencanaan Audit
2. Tahap Pengujian dan Evaluasi
3. Tahap Penyampaian Hasil Audit
4. Tahap Tindak Lanjut

Brink’s dalam bukunya Modern Internal Auditing mengembangkan tahap audit dalam
delapan tahap dan memasukkan sedapat mungkin tahap tindak lanjut pada tahap
membangun temuan, simpulan dan rekomendasi sehingga dalam tahap laporan telah
termasuk tahap tindak lanjut yang telah dilakukan oleh manajemen atas rekomendasi
auditor intern. Hal senada juga ditulis oleh Rob Reider dalam bukunya Operational
Review Maximum Results at Efficient Costs dengan memasukan tahap tindak lanjut pada
tahap membangun temuan dan menurutnya 50% saja dari temuan ditindaklanjuti oleh
manajemen berarti audit intern telah sukses.

Delapan tahap audit operasional menurut Brink’s adalah sebagai berikut:


1. Tahap memahami risiko pengendalian
2. Tahap survey pendahuluan
3. Tahap membangun rencana audit rinci
4. Tahap melakukan pelaksanaan audit
5. Tahap mengevaluasi hasil audit
6. Tahap membangun temuan audit, simpulan dan rekomendasi
7. Tahap penyelesaian audit
8. Tahap pelaporan.

A. TAHAP MEMAHAMI RISIKO PENGENDALIAN DAN RISIKO


LAINNYA

Auditor intern harus mengevaluasi risiko-risiko dari kegiatan yang akan diaudit.
Pengevaluasian risiko seperti yang dilakukan oleh auditor ekstern dalam audit keuangan
dapat juga dilakukan untuk kepentingan auditor intern.

Dalam hal ini risiko dibagi empat yaitu:

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 21


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

1. Risiko Bawaan/melekat.
Risiko yang sudah ada pada aktivitas, operasi atau bagian sebelum ada
pengendalian manajemen.
2. Risiko Pengendalian.
Risiko yang mungkin ada yang tidak dapat ditemukan oleh adanya sistem
pengendalian manajemen.
3. Risiko Deteksi.
Risiko tidak terdeteksinya suatu salah saji material yang ada. Besar sample yang
ditetapkan berbanding terbalik dengan besar risiko deteksi.
4. Risiko Audit yang Dapat Diterima.
Kesediaan auditor menerima risiko dari audit yang dilakukannya biasanya ditetapkan
rendah supaya diperoleh risiko yang lebih rendah, dengan demikian akan ditetapkan
risiko deteksi yang lebih rendah pula dan besar sample yang lebih tinggi .

Rumus model risikonya adalah sebagai berikut:

Risiko deteksi = Risiko yang dapat diterima


Risiko bawaan x risiko pengendalian.
Contoh:
1. Risiko yang dapat diterima= 0,05, risiko bawaan= 0,30, dan risiko pengendalian=
0,90
Risiko deteksi= 0,05 / (0,30 x 0,90) = 0,18

2. Risiko yang dapat diterima= 0,20, risiko bawaan= 0,30, dan risiko pengendalian=
0,90
Risiko deteksi= 0,20 / (0,30 x 0,90) = 0,74

Dari contoh di atas dapat diperoleh risiko deteksi yang relatif rendah pada kondisi 1 dan
risiko yang relatif tinggi pada kondisi ke 2. Jadi kalau auditor menetapkan risiko yang
dapat diterima tinggi maka akan menghasilkan besar sample audit yang lebih rendah.
Agar lebih hati-hati maka ukuran risiko yang dapat diterima sebaiknya rendah.

Pengukuran risiko dapat dipergunakan sehubungan dengan rencana audit tahunan


maupun rencana audit jangka panjang. Dalam penetapan aktivitas, bagian atau cabang
yang akan diaudit, bagian auditor intern harus memperhitungkan risiko dalam
penetapannya.

Cara penetapan risiko dapat diukur dengan membuat daftar aktivitas, bagian atau
cabang secara keseluruhan yang merupakan obyek yang harus diaudit (audit universe)
kemudian tetapkan faktor risiko yang akan diberi nilai/score. Hasil kumulatif nilai risiko
dari faktor risiko dari masing-masing aktivitas, bagian atau cabang tersebut akan
memberikan gambaran rangking risiko. Rangking risiko tersebut dipergunakan sebagai
salah satu penentu dalam penyusunan perencanaan audit tahunan ataupun
perencanaan audit jangka panjang.

Beberapa faktor risiko yang harus dipertimbangkan dalam memilih bidang-bidang atau
aktivitas yang akan diuji, adalah:
1. Suasana yang berhubungan dengan etika dan tekanan yang dihadapi manajemen
dalam usaha mencapai tujuan tujuan
2. Kompetensi, kecukupan, dan integritas para pegawai
3. Ukuran asset, likuiditas atau volume transaksi
4. Kondisi finansial dan ekonomi

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 22


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

5. Kondisi yang kompetitif


6. Kerumitan atau mudah berubahnya kegiatan
7. Dampak dari konsumen, rekanan, atau perubahan kebijakan pemerintah
8. Tingkat komputerisasi sistem informasi
9. Penyebaran operasi secara geografis
10. Kecukupan dan keefektivan pengendalian manajemen
11. Berbagai perubahan organisasi, operasi, teknologi atau ekonomi
12. Judgements dari manajemen dan estimasi akuntansi
13. Dukungan terhadap temuan hasil audit dan tidak lanjut yang dilaksanakan
14. Tanggal dan hasil audit terdahulu.

Cara mengukur risiko berdasarkan faktor risiko tersebut dapat digunakan juga pada
perencanaan audit oleh tim audit dalam rangka memenuhi standar profesional, yaitu
untuk menetapkan bagian mana dari aktivitas, bagian atau cabang yang memerlukan
penekanan audit yang tinggi, sedang atau rendah sesuai dengan tingkat risiko yang
berhasil diukur.

B. TAHAP SURVEY PENDAHULUAN

Tahap survey pendahuluan adalah tahap di mana tim audit perlu memahami aktivitas
operasional yang akan diaudit.

Pemahaman tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut:


1. Mendefinisikan tujuan menyeluruh dari review yang akan dilakukan.
Tujuan menyeluruh ini dapat ditetapkan oleh pimpinan unit auditor intern atau auditor
senior setelah mendapat masukan dari pengukuran risiko.
2. Melakukan diskusi dengan pegawai lain yang dapat memberikan informasi, yaitu staf
manajer atau pegawai kunci di luar area yang akan direview.
3. Mengumpulkan semua data yang berhubungan, misalnya Kertas Kerja Audit dan
laporan tahun lalu, gambaran organisasi dan bahan lainnya yang ada hubungannya
dengan audit.
4. Memberitahukan rencana review pada lokasi yang akan direview.
5. Melakukan diskusi dengan manajer yang bertanggung jawab atas area yang akan
direview.
6. Melakukan diskusi dengan pegawai pegawai kunci di lokasi.
7. Melakukan pengamatan atas area operasi yang akan direview (walk through.)
8. Melakukan review atas kebijakan dan prosedur.

C. TAHAP MEMBANGUN RENCANA AUDIT RINCI

Dalam tahap ini dilakukan penyusunan program audit berdasarkan pada pengukuran
risiko dan survey pendahuluan yang telah dilakukan serta program audit tahun
sebelumnya yang akan menjadi petunjuk bagi para auditor dalam melakukan auditnya.

Program audit berisi langkah-langkah audit yang harus dilakukan berupa prosedur-
prosedur audit termasuk penetapan besarnya ukuran sample yang akan diuji.

D. TAHAP MELAKUKAN PELAKSANAAN AUDIT

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 23


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Tahap ini adalah tahap para auditor melaksanakan verifikasi sesuai dengan petunjuk
pada audit program. Pelaksanaan verifikasi dilakukan dengan berbagai cara seperti
tanya jawab, pengamatan, surat konfirmasi, penelusuran, pengujian, pemanfaatan daftar
periksa dan lain-lain. Tujuannya adalah mengumpulkan bukti-bukti audit yang
berkualitas.

E. TAHAP MENGEVALUASI HASIL AUDIT

Dalam tahap ini bukti-bukti yang telah dikumpulkan dilakukan analisa-analisa. Kadang-
kadang analisa-analisa ini merupakan bagian dari proses verifikasi. Hasil dari analisa-
analisa informasi tersebut adalah berupa ringkasan temuan pendahuluan.

F. TAHAP MEMBANGUN TEMUAN, SIMPULAN DAN


REKOMENDASI

Dalam tahap ini dilakukan kegiatan untuk mematangkan temuan yang diperoleh, menarik
kesimpulan dan membuat rekomendasi yang dapat dibangun melalui 3 pertanyaan
berikut:

 Seberapa bagus hasil audit yang telah dicapai?


 Mengapa hasilnya seperti ini?
 Apa yang dapat dilakukan agar lebih baik?
Selanjutnya temuan tersebut dipastikan akan terdiri dari atribut-atribut:
1. Kondisi
2. Kriteria
3. Sebab
4. Akibat
5. Rekomendasi.

Jika dalam suatu temuan tidak ditemui salah satu atribut di atas maka temuan tersebut
turun derajatnya menjadi temuan minor atau hal-hal yang perlu mendapat perhatian
dengan hasil temuan berupa saran.

Temuan yang dapat diteruskan kepada pihak-pihak yang berwenang sebaiknya


memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Cukup berarti atau berguna untuk disampaikan kepada pihak yang berkepentingan.
b. Didasarkan pada fakta-fakta dan bukti-bukti yang tepat.
c. Dikembangkan secara objektit.
d. Didasarkan pada hasil audit yang cukup untuk mendukung setiap simpulan yang
diambil.
e. Meyakinkan.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengembangkan temuan


a. Pertimbangan harus ditekankan pada situasi dan kondisi pada saat kejadian, bukan
pada saat audit dilakukan.
b. Harus dipertimbangkan sifat, kerumitan, besarnya jumlah serta nilai uang yang
dilibatkan dalam kegiatan atau bagian yang sedang diaudit.
c. Perlu menganalisis temuan-temuan secara jujur dan kritis untuk menghindarkan
pengungkapan yang tidak logis.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 24


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

d. Kegiatan pengembangan temuan harus cukup teliti sehingga bisa dijadikan dasar
bagi kesimpulan dan rekomendasi secara jelas dan tepat.
e. Kewenangan organisatoris perlu dikemukakan dalam laporan, dan bila terdapat
penyimpangan terhadap ketentuan/peraturan yang berlaku, maka hal ini harus
diungkapkan.
f. Auditor tidak boleh bersikap "apriori" terhadap keputusan yang diambil oleh para
pejabat objek yang diaudit yang tidak sesuai dengan pendapatnya.
g. Kegiatan pengembangan temuan harus cukup luas, sehingga para auditor dapat
meyakinkan dengan jelas dasar kesimpulan dan rekomendasinya.

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN TEMUAN


Proses pengembangan temuan (temuan negatif) mencakup langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Identifikasikan kekurangan/kelemahan yang ada.
b. Identifikasikan batas-batas kewenangan dan tanggung jawab dalam organisasi
dihubungkan dengan kegiatan-kegiatan yang terlibat.
c. Tentukan sebab-sebab kekurangan atau kelemahan.
d. Tentukan apakah kelemahan itu merupakan kasus yang berdiri sendiri atau tersebar
luas.
e. Tentukan pengaruh atau arti penting kekurangan itu.
f. Usahakan untuk memperoleh komentar pejabat atau pihak-pihak yang
berkepentingan yang mungkin akan mengalami langsung akibat negatif dari
pelaporan temuan tersebut.

REKOMENDASI
Temuan negatif yang telah diungkapkan perlu segera diikuti dengan pengajuan suatu
rekomendasi yang ditujukan kepada pejabat yang berwenang mengadakan tindakan
koreksi atas kelemahan/penyimpangan yang terjadi, atau mencegah terulangnya
kelemahan/penyimpangan tersebut.

Rekomendasi harus disusun sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi manajemen


dalam usaha perbaikan kondisi-kondisi yang ada. Rekomendasi harus memuat suatu
pernyataan yang jelas tentang tujuan yang hendak dicapainya serta alasan /pendapat
auditor bahwa koreksi perlu dilakukan. Informasi demikian diperlukan agar pihak yang
berkepentingan yakin akan kegunaannya.

G. TAHAP PENYELESAIAN AUDIT

Dalam tahap ini dilakukan komunikasi hasil audit dengan manajemen untuk menentukan
apakah hasil audit dapat ditindak lanjuti, dan jika dapat maka tindak lanjut sebaiknya
diusahakan dilakukan sebelum auditor meninggalkan pekerjaan lapangan. Dengan
demikian maka dalam laporan audit yang akan diisusun telah termasuk tindak lanjut hasil
audit.

H. TAHAP PELAPORAN

Dalam tahap ini auditor intern menyusun laporan yang akan disampaikan pada pihak
yang berkepentingan, yaitu manajemen di atasnya dan manajemen lain yang
berkepentingan, Dewan Komisaris dan Komite Audit.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 25


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

CIRI-CIRI LAPORAN HASIL AUDIT

Pada umumnya, suatu audit dinilai berdasarkan mutu laporannya. Demi menjaga standar
keahlian yang tinggi dan guna memenuhi tujuan-tujuan pelaporan yang efektif, maka
pelaporan hasil audit harus disusun dengan memperhatikan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Arti penting
Hal-hal yang perlu dimasukkan dalam laporan, harus cukup penting agar dapat
membenarkan tindakan auditor untuk melaporkannya dan guna menjamin adanya
perhatian dari pihak yang dikirimi laporan.

b. Kegunaan dan ketepatan waktu


Laporan harus disusun sesuai dengan minat serta kebutuhan pihak penerima
laporan. Ketepatan waktu merupakan hal yang penting. Suatu laporan yang
dipersiapkan dengan seksama akan berkurang nilainya apabila terlambat diterima
karena informasi yang dilaporkan di dalamnya tidak lagi sepenuhnya dapat
dipergunakan dalam pengambilan keputusan yang diperlukan.

c Ketepatan dan kecukupan dukungan


Semua prosedur penyiapan, pembahasan dan pengolahan laporan harus diterapkan
dengan tujuan untuk menghasilkan laporan yang tidak mengandung
kekeliruan-kekeliruan, baik dari segi fakta, logika atau penalaran.
Semua informasi dalam laporan, berupa fakta, temuan-temuan serta kesimpulan,
harus didukung oleh bukti-bukti yang cukup dan objektif dalam Kertas Kerja Audit.
Hal ini apabila perlu dapat dipergunakan untuk mendemonstrasikan atau
membuktikan ketepatan dan kelayakan mengenai hal-hal yang dilaporkan. Pendapat
dan kesimpulan harus dikemukakan dengan jelas dalam laporan, serta harus
didasarkan atas kegiatan audit yang memadai.

d. Sifat meyakinkan
Informasi yang disajikan dalam laporan harus mencukupi agar pembaca laporan
merasa yakin akan pentingnya temuan-temuan audit, kelayakan kesimpulan audit,
serta perlunya mereka menanggapi rekomendasi yang diajukan oleh auditor. Temuan
audit harus disajikan dengan cara meyakinkan. Kesimpulan serta rekomendasi harus
dirumuskan secara logis dari fakta yang dikemukakan.

e. Objektivitas dan perspektif


Setiap laporan harus menyiapkan temuan-temuan secara objektif, tanpa prasangka,
serta harus menyertakan informasi yang mencukupi mengenai pokok persoalan yang
dipermasalahkan, sehingga pembaca laporan memperoleh objektivitas dan perspektif
yang tepat.

f. Kejelasan dan kesederhanaan


Agar dapat melaksanakan fungsi komunikasi secara efektif, laporan harus disajikan
sejelas dan sesederhana mungkin. Ungkapan yang berbunga-bunga dan gaya
bahasa yang dibuat-buat harus dihindari. Pengaturan yang tepat dari bahan laporan,
serta ketelitian pengungkapan fakta, baik dalam analisis maupun dalam menarik
kesimpulan, merupakan hal yang mutlak perlu demi kejelasan laporan.

g. Keringkasan
Walaupun terdapat keleluasaan yang cukup besar dalam menentukan kebijaksanaan
mengenai isi laporan, namun auditor perlu selalu ingat bahwa laporan yang lengkap
tetapi ringkas lebih besar kemungkinannya akan diperhatikan. Oleh karena itu,

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 26


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

laporan hendaknya tidak lebih panjang dari pada yang diperlukan. Laporan tidak
boleh dibebani terlalu banyak rincian yang tidak secara jelas berhubungan dengan
pesan yang hendak disampaikan.

h. Kelengkapan
Walaupun laporan harus ringkas, namun perlu diingat bahwa keringkasan yang tidak
informatif bukanlah merupakan suatu hal yang baik. Laporan harus mengandung
informasi yang cukup, guna mendorong pengertian yang memadai mengenai hal-hal
yang dilaporkan, serta untuk memberikan penyajian yang meyakinkan namun wajar,
dengan perspektif yang tepat. Untuk mencapai maksud ini, perlu disertakan informasi
mengenai latar belakang yang mencukupi, serta memberikan pengakuan yang
selayaknya terhadap pandangan baik dari pihak objek audit maupun pihak lainnya
yang berkepentingan.

i. Nada yang konstruldif


Sejalan dengan tujuan dasar audit yaitu meningkatkan mutu pelaksanaan kegiatan
perusahaan, maka nada laporan harus diatur sedemikian rupa sehingga
membangkitkan reaksi positif terhadap temuan dan rekomendasi yang dikemukakan.
Judul, bagian, dan teks laporan harus disusun dalam bentuk konstruktif. Walaupun
seringkali perlu dilancarkan kritik terhadap pelaksanaan kegiatan guna menunjukkan
perlunya diadakan perbaikan tertentu dalam manajemen, namun tekanan dalam
laporan harus diletakkan pada perbaikan yang diperlukan, dan bukan pada kritik.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 27


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB IX
PENGENDALIAN
MANAJEMEN

A. ARTI PENGENDALIAN MANAJEMEN

Pengendalian manajemen menurut Commitee of Sponsoring Organizations of the


Treadway Commission (COSO) tahun 1992 adalah suatu proses yang dilakukan oleh
manusia (dewan direksi, manajemen dan pegawai) yang dirancang untuk memberikan
suatu keyakinan yang masuk akal/ memadai untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai
berikut:

 Keandalan informasi
 Ketaatan pada peraturan yang berlaku
 Effisiensi dan efektifitas operasi

Definisi ini adalah merupakan kesepakatan dari berbagai macam organisasi seperti
American Institute of Certified Public Accountants (AICPA), American Accounting
Association (AAA), The Institute of Internal Auditors (IIA), Institute of Management
Accountants (IMA) dan Financial Executives Institute (FEI). Berdasarkan keikutsertaan
IIA maka definisi tersebut berlaku juga untuk para auditor intern.

B. UNSUR-UNSUR PENGENDALIAN MANAJEMEN

Unsur-unsur pengendalian manajemen dibagi dalam lima unsur sebagai berikut:


1. Lingkungan pengendalian.
2. Penaksiran risiko
3. Aktivitas pengendalian
4. Informasi dan komunikasi
5. Pemantauan.

Unsur yang pertama merupakan unsur yang jadi pondasi bagi unsur lainnya, karena itu
dalam penetapan risiko pengendalian jika dijumpai ada kelemahan pada unsur
lingkungan pengendalian tanpa melihat unsur yang lainnya, risiko harus ditetapkan
tinggi. Walaupun demikian untuk mengukur risiko secara keseluruhan maka unsur yang
lainnya tetap harus diukur.

C. LANGKAH-LANGKAH PENGENDALIAN MANAJEMEN

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 28


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Teknik-teknik yang dipakai untuk menerapkan pengendalian manajemen terhadap


kegiatan-kegiatan dan sumber-sumber daya pada sebuah badan usaha berbeda-beda
antara badan usaha yang satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor
ukuran, sifat, kerumitan serta penyebaran geografis dari masing-masing kegiatan badan
usaha yang bersangkutan. Walau demikian, pada dasarnya setiap sistem pengendalian
yang efektif memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Penentuan norma-norma, sasaran-sasaran atau tujuan-tujuan
2. Pengecekan terhadap pelaksanaan
3. Penilaian terhadap hasil-hasil yang dicapai
4. Pengambilan tindakan-tindakan korektif bila diperlukan

Efektivitas langkah-langkah tersebut tergantung dari kecakapan dan sikap para pejabat
dan pegawai yang langsung menangani tugas dan bertanggung jawab atas
hasil-hasilnya. Proses manajemen sebagai keseluruhan mencakup semua tingkat
pengendalian dalam suatu organisasi dan efektivitasnya merupakan hasil gabungan dari
kegiatan-kegiatan segenap pejabat dan pegawai.

D. KOMITMEN TERHADAP PENTINGNYA PENERAPAN


SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

Komitmen terhadap pentingnya sistem pengendalian manajemen dapat dilihat dari


beberapa hal, yaitu:
1. Dalam standar profesional auditor intern disebutkan mengenai keharusan menguji
sistem pengendalian manajemen.
2. Dalam Surat Keputusan Menteri BUMN No. 117 tanggal 1 Agustus 2002 disebutkan
pada pasal 22 bahwa Direksi BUMN harus menetapkan suatu Sistem Pengendalian
Internal yang efektif untuk mengamankan investasi dan asset BUMN.
3. Surat Keputusan Ketua Bapepam No. 41 tanggal 22 Desember 2003
mengharuskan emiten atau perusahaan publik wajib memiliki Komite Audit
selambat-lambatnya per tanggal 31 Desember 2004.

Sebagaimana diketahui salah satu tugas Komite Audit adalah menegakkan sistem
pengendalian manajemen.

E. EVALUASI TERHADAP SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

Dalam pelaksanaan audit atas setiap kegiatan atau bagian, auditor intern harus
melakukan evaluasi terhadap pengendalian manajemen yang berlaku mengenai
kecukupan dan efektivitasnya.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 29


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 30


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB X
PROGRAM AUDIT
Program Audit adalah uraian yang sistematis dari langkah-langkah audit untuk mencapai
tujuan audit. Program audit yang baik sangat penting bagi berhasilnya suatu audit. Di
samping sebagai petunjuk mengenai langkah audit yang harus dilaksanakan, program
audit juga merupakan alat pengendali bagi pimpinan dalam monitor pelaksanaan
kegiatan audit.
Susunan program audit dapat mencakup empat bagian pokok yaitu:
1. Pendahuluan
2. Pernyataan tujuan
3. Instruksi khusus
4. Langkah-langkah kerja.

Walaupun pemuatan keempat bagian pokok ini merupakan hal yang terbaik, namun
dalam praktek program audit tersebut biasanya memuat pernyataan tujuan dan langkah-
langkah kerja saja.

1. PENDAHULUAN
Bagian pendahuluan merupakan bagian yang menyajikan informasi singkat mengenai
latar belakang dari objek atau kegiatan yang diaudit. Bagian ini mempunyai manfaat
tersendiri, yaitu membimbing dan mengarahkan perhatian auditor untuk lebih memahami
langkah-langkah audit yang harus dilakukan.

2. PERNYATAAN TUJUAN
Pernyataan tujuan mempunyai kedudukan yang sangat penting karena tujuan ini
memberi arti bagi setiap langkah yang dilakukan. Tujuan audit harus dirumuskan dengan
jelas, sehingga memberikan bimbingan ke arah mana kegiatan audit harus dilakukan,
dan perbaikan apa yang bisa diharapkan sebagai hasil dari pelaksanaan kegiatan audit.

3. INSTRUKSI KHUSUS
Instruksi khusus merupakan bagian di mana pembuat program audit mencantumkan
hal-hal tertentu yang secara khusus perlu mendapat perhatian auditor, misalnya kegiatan
tertentu yang perlu mendapat tekanan dalam audit.

4. LANGKAH-LANGKAH KERJA
Apabila bagian pendahuluan, pernyataan tujuan, dan instruksi khusus bisa dipandang
sebagai pengarahan, maka langkah-langkah kerja merupakan instruksi mengenai
tindakan-tindakan nyata yang perlu dilaksanakan dalam audit. Langkah-langkah kerja
harus disusun secara sistematis dan terarah kepada tujuan audit.
Bagian auditor intern perlu membuat program audit umum untuk bagian ataupun aktivitas
yang ada di tempat kerjanya. Program audit umum ini akan jadi pegangan dan alat bagi
para auditor dalam melaksanakan tugasnya. Para auditor tidak ditutup inisiatif untuk
menambah ataupun mengurangi prosedur audit umum tersebut selama audit
berlangsung.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 31


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 32


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB XI
KERTAS KERJA AUDIT

A. ARTI KERTAS KERJA AUDIT

Kertas Kerja Audit adalah catatan-catatan yang dibuat dan data yang dikumpulkan
auditor secara sistematis dalam melaksanakan tugas-tugas audit.

Kertas Kerja Audit harus mencerminkan:


1. Prosedur audit yang ditempuh auditor
2. Pengujian-pengujian yang dilakukan auditor
3. Informasi yang diperoleh auditor
4. Kesimpulan-kesimpulan hasil audit.

B. MANFAAT KERTAS KERJA AUDIT

Manfaat umum dari Kertas Kerja Audit adalah untuk mendokumentasikan bahwa
pekerjaan audit yang memadai telah dikerjakan sesuai dengan standar profesi auditor
intern.

Manfaat lain dari Kertas Kerja Audit adalah untuk:


1. Dasar perencanaan audit.
2. Catatan pekerjaan audit yang telah dilaksanakan.
3. Penggunaan selama audit, misalnya flow chart yang telah dibuat dapat dipergunakan
untuk petunjuk pekerjaan selanjutnya.
4. Penjelasan untuk situasi khusus yang menarik.
5. Mendukung kesimpulan hasil audit khusus.
6. Sumber referensi.
7. Penilaian staff.
8. Koordinasi audit.

C. PERSYARATAN KERTAS KERJA AUDIT

IIA memberikan arahan untuk menyusun Kertas Kerja Audit melalui Statement of Internal
Auditing Standard (SIAS) No. 6 tahun 1995 sebagai berikut:

Standar untuk substansi audit:


1. Berkaitan dengan tujuan audit.
2. Memadatkan rincian.
3. Penyajian yang jelas.
4. Cermat dan teliti.
5. Aksi terhadap pos terbuka, setelah audit selesai harus tidak ada lagi pos yang masih
terbuka.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 33


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Standar format:
1. Harus mempunyai judul.
2. Pengorganisasian format, seperti judul yang layak, spasi, dan ukuran yang memadai.
3. Rapi dan mudah dibaca.
4. Diindex silang.

Kertas Kerja Audit yang dikumpulkan perlu ditata agar pemanfaatannya dapat maksimal,
untuk itu Kertas Kerja Audit perlu dikelompokkan.
Pengelompokan Kertas Kerja Audit terdiri dari:
1. File permanen.
2. File administratif.
3. File prosedur audit.
4. File khusus hasil dari audit berbantuan komputer.
5. File untuk data yang besar/banyak, misalnya kuesioner hasil survey.
6. Laporan audit dan permasalahan tindak lanjut.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 34


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB XII
PETUNJUK MEMBUAT
PROGRAM AUDIT
Seperti telah disebutkan dalam Bab X, susunan Program Audit mencakup empat bagian
yaitu Pendahuluan, Persyaratan Tujuan, Instruksi Khusus, dan Langkah-langkah Kerja.

Berikut ini akan diuraikan secara lebih terinci cara merumuskan Pernyataan Tujuan dan
Langkah-langkah Kerja. Bagian mengenai Pendahuluan dan Instruksi Khusus, karena
jarang dipergunakan tidak dicakup dalam pembahasan ini.

A. TUJUAN AUDIT

Tujuan audit dapat memuat satu atau beberapa tujuan tergantung keperluannya.
Mengingat tujuan audit pada akhirnya adalah memberikan rekomendasi dan saran-saran
perbaikan, sedangkan rekomendasi dan saran-saran perbaikan tersebut mencakup
ruang lingkup berupa ketaatan pada ketentuan atau peraturan yang berlaku, efisiensi
dan kehematan dalam penggunaan sarana dan efektivitas dalam pencapaian tujuan,
maka dalam rumusan mengenai tujuan audit hendaknya ruang lingkup tersebut dapat
tercermin.

Sebagai contoh, marilah kita lihat kalimat yang merupakan tujuan audit berikut ini:

"Untuk memastikan dipatuhinya peraturan perusahaan mengenai biaya perjalanan


dinas".

Pada contoh di atas dapat kita lihat bahwa rangkaian kalimatnya mencerminkan ketaatan
pada ketentuan yang berlaku. Hal semacam ini juga serupa dalam merumuskan tujuan
audit dengan ruang lingkup kehematan, efisiensi maupun efektivitas. Perlu diperhatikan
bahwa pembuatan satu atau beberapa kalimat untuk menyatakan tujuan audit tidak
harus menggunakan kata-kata yang persis sama dengan kata-kata dalam ruang lingkup
audit. Yang penting adalah bahwa maknanya sama.
Beberapa contoh lainnya adalah sebagai berikut:
"Untuk menilai apakah kegiatan produksi barang X dilakukan dengan efisien".
"Untuk mengetahui apakah pelayanan kepada langganan telah dilakukan dengan memuaskan".
"Untuk mendeteksi kemungkinan adanya penggunaan biaya umum secara tidak layak”.

B. LANGKAH-LANGKAH KERJA

Langkah-langkah kerja atau seringkali disebut sebagai langkah-langkah audit, yang


terdiri dari satu atau beberapa kalimat, merupakan perintah untuk melakukan audit
tertentu sesuai dengan tujuan audit. Pada umumnya langkah-langkah audit ini disusun
berurutan dengan masing-masing satu nomor untuk setiap langkah. Urutan tersebut
harus disesuaikan dengan urutan tujuan audit dan kegiatan yang diaudit sehingga dapat
dihasilkan rangkaian instruksi yang sistematis.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 35


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Setiap langkah kerja biasanya diawali dengan perkataan berupa perintah seperti "teliti",
"amati", "cocokkan", "perhatikan", "telusuri" dan lain-lain. Kata-kata tersebut merupakan
kata-kata yang mencerminkan teknik atau prosedur audit tertentu. Di samping itu, karena
prosedur audit pada hakekatnya bertujuan untuk mendapatkan bukti mengenai kondisi,
kriteria, sebab, akibat, dan rekomendasi maka setiap langkah kerja harus pula
mencerminkan upaya untuk mencapai tujuan tersebut.

Contoh:

 Mintakan bagan struktur organisasi resmi dari bagian yang diaudit.


 Cocokkan struktur organisasi tersebut dengan organisasi yang sebenarnya berlaku
pada bagian itu.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 36


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

LATIHAN

LATIHAN 1

Dalam Norma Pelaksanaan Audit butir b dinyatakan “para pelaksana audit harus diawasi
dan dibimbing dengan sebaik-baiknya”

Bagaimana cara atasan di instansi tempat Saudara bekerja:


a. Mengawasi bawahan
b. Membimbing bawahan

Diskusikan !

Prosedur diskusi hendaknya sebagai berikut:


 Berikan kesempatan pada peserta menuliskan cara-cara yang dilakukan
 Seorang peserta menuliskan cara-cara yang dilakukan di tempatnya bekerja dan
menuliskan di whiteboard
 Peserta lain diminta mengomentari dan menambahan serta menuliskan
tambahannya di whiteboard
 Begitu seterusnya sampai tidak ada komentar lagi dan akhirnya penatar
menyimpulkan dan kalau perlu menambah

LATIHAN 2

PT ABC membuat kebijakan mengenai penerimaan kas sebagai berikut:

Penerimaan kas suatu hari sampai dengan penerimaan jam 4 sore dikumpulkan dan
akan disetorkan ke bank pada jam 5 sore. Penyetoran tersebut dapat diproses bank
walaupun jam resmi telah tutup jam 3 sore karena PT ABC sudah berhubungan baik dan
telah menjadi nasabah bank tersebut lebih dari 5 tahun. Penerimaan yang diperoleh di
atas jam 4 sore akan disetor pagi pada hari kerja berikutnya jam 9.

Kamar kasir dikunci sehingga yang tidakberkepentingan tidak dapat masuk. Tempat
penyimpanan uang disimpan pada peti besi tahan api yang ditanam di lantai sehingga
tidak dapat diangkat. Kombinasi kunci peti besi hanya diketahui oleh Kepala Bagian
Keuangan dan Kasir. Setiap akan mengambil dan menyimpan uang dari/ke peti besi
harus dilakukan berdua dengan kepala bagian keuangan yang mempunyai kunci peti
besi yang kedua. Catatan dibuat oleh kasir dengan rapi dan saldonya dicocokan setiap
akan pulang kerja dan disahkan oleh Kepala Bagian. Satpam berjaga secara bergiliran
selama 24 jam.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 37


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Suatu hari ketika auditor intern sedang melakukan audit pada Bagian Keuangan terjadi
kehilangan uang sebesar Rp100.000.000,00 dari peti besi kasir karena diambil oleh
seorang pencuri. Sore hari ketika pulang uang yang tersimpan adalah Rp101.000.000,00
dan pagi harinya ketika peti besi dibuka uang yang ada tinggal Rp1.000.000,00.

Dari pemeriksaan polisi tidak dijumpai keterlibatan satpam dan sejumlah karyawan yang
hari tersebut lembur.

Diskusikan apakah kejadian tersebut merupakan suatu temuan seperti yang dikehendaki
oleh standar profesi yang mempunyai 5 atribut?.

Peserta dibuat kelompok dan masing-masing kelompok menuliskan hasil diskusinya.

BUKU 1 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 38


MODUL DIKLAT
AUDIT OPERASIONAL

BUKU 2 AUDIT TERHADAP KEGIATAN PEMBELIAN

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan


Jl. RC Veteran Raya No. 555A
Pesanggrahan – Bintaro
Jakarta Selatan 12330
Tlp. (021) 7373680
Fax. (021) 7373681
e-mail: forum_ppak@yahoo.com
DAFTAR ISI
Halaman

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


BAB II GAMBARAN UMUM KEGIATAN PEMBELIAN ....................................... 2
BAB III SIKLUS PEMBELIAN DAN PENGENDALIANNYA ................................. 7
BAB IV PROGRAM KERJA AUDIT KEGIATAN PEMBELIAN ........................... 16
LATIHAN ............................................................................................................. 21
PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB I
PENDAHULUAN

Salah satu kegiatan pokok perusahaan adalah kegiatan pengadaan barang dan jasa-jasa
yang akan dipasarkan kembali baik dalam bentuk aslinya, maupun diproses lebih lanjut
untuk menciptakan produk-produk dan jasa-jasa yang siap untuk dijual. Usaha
pengadaan ini pada umumnya dilaksanakan melalui kegiatan pembelian. Jadi kegiatan
pembelian merupakan bagian utama dari fungsi pengadaan. Pengadaan ini bisa
mencakup bahan baku, bahan pembantu, barang setengah jadi, suku cadang, dan
sebagainya.

Kegiatan pembelian merupakan kegiatan perusahaan yang penting karena kegiatan ini
melibatkan pengerahan sumber dana dalam jumlah yang besar. Bahkan seringkali
merupakan komponen terbesar dari biaya yang harus dikeluarkan perusahaan dalam
menghasilkan produk-produk dan jasa-jasa yang akan dipasarkan.

Aktivitas pembelian juga mempunyai hubungan yang erat dengan aktivitas manajemen
lainnya. Apa yang dibeli secara langsung menyangkut aktivitas produksi, sedangkan
besarnya volume pembelian menyangkut masalah investasi dana. Aktivitas pembelian
juga menyangkut aktivitas pendukungnya seperti penerimaan barang, pergudangan, dan
akuntansi. Berdasarkan hal-hal tersebut maka dapat dimengerti mengapa manajemen
sangat menaruh perhatian terhadap aktivitas pembelian yang dilaksanakan di dalam
perusahaannya. Oleh karena itu pula maka pihak audit intern umumnya
mempertimbangkan audit terhadap kegiatan pembelian, sebagai salah satu dari bidang
audit yang perlu diprioritaskan.

Pada buku kedua ini akan dikemukakan hal-hal yang menyangkut pelaksanaan audit
terhadap kegiatan pembelian dengan tekanan kepada pembahasan program auditnya.
Namun untuk dapat memahaminya dengan baik, dipandang perlu untuk lebih dahulu
menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan masalah pengelolaan dari aktivitas
pembelian secara umum.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 1


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB II
GAMBARAN UMUM
KEGIATAN PEMBELIAN

Dalam kegiatan pembelian ada tiga masalah pokok yang perlu dipertimbangkan dengan
seksama, yaitu masalah yang menyangkut:

(1) Penentuan saat pemesanan,


(2) Penentuan jumlah yang harus dipesan,
(3) Penentuan rekanan.

Penentuan saat pemesanan perlu mempertimbangkan beberapa hal, antara lain jumlah
barang yang terdapat dalam persediaan, rata-rata tingkat pemakaian barang dan waktu
yang diperlukan untuk pemesanannya. Tanpa memperhatikan ketiga hal tersebut, maka
saat pemesanan mungkin dilakukan terlampau dini atau mungkin terlambat. Pemesanan
yang terlampau dini perlu dihindarkan karena dapat mengakibatkan gangguan yang
serius terhadap arus kas perusahaan.

Dana perusahaan yang umumnya sangat terbatas akan terpaksa dipakai untuk
melakukan pembelian-pembelian yang sebenarnya dapat ditangguhkan, sementara
keperluan lain yang sebenarnya lebih mendesak terpaksa ditunda. Sebagai akibatnya,
perusahaan mungkin harus mencari sumber pembiayaan melalui pinjaman jangka
pendek dengan tingkat bunga yang tingi.

Pemesanan yang terlambat dilakukan akan menyebabkan barang dagangan/produk jadi


atau jasa terlambat diserahkan kepada pelanggan yang pada gilirannya dapat
menyebabkan pelanggan lain lari ke perusahaan saingan.

Jumlah barang yang dipesan perlu ditentukan dengan seksama agar tidak terlalu banyak
atau terlalu sedikit. Pemesanan yang melebihi kebutuhan normal dapat mengakibatkan
kerugian tidak perlu terjadi. Contoh kerugian akibat barang dibeli secara berlebihan
antara lain sewa gudang tambahan, kerusakan barang karena terlampau lama disimpan
dan meningkatnya biaya gudang. Penentuan jumlah barang yang harus dipesan dapat
ditetapkan dengan berbagai cara, sebagaimana dijelaskan dalam bab berikutnya.

Demikian pula halnya dengan penentuan rekanan, perlu dilakukan secara hati-hati.
Dalam penentuan rekanan perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain: harga
penawaran berikut syarat pembayarannya, kualitas barang, bonafiditas langganan,
lokasi, dan saat penyerahan yang dijanjikan. Rekanan yang dipilih haruslah merupakan
rekanan yang dipertimbangkan akan dapat memenuhi kewajibannya dengan baik,
dengan harga penawaran termurah tetapi kualitas barangnya sesuai dengan yang
diinginkan.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 2


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Kegiatan pembelian melibatkan berbagai masalah yang bila tidak ditangani secara
terencana dapat menimbulkan berbagai persoalan yang serius. Berikut ini akan
dikemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan secara khusus dalam mengelola
kegiatan pembelian.

A. STATUS ORGANISASI

Kedudukan Bagian Pembelian dalam perusahaan akan tergantung kepada jenis usaha,
besarnya perusahaan dan kebijakan pimpinan perusahaan. Pada perusahaan dagang
dan perusahaan industri tertentu di mana banyak dilakukan pembelian barang dagangan
atau bahan baku dan suku cadang, maka Bagian Pembelian pada umumnya
memperoleh kedudukan yang cukup tinggi dalam organisasi perusahaan. Pada
perusahaan yang relatif kecil, fungsi pembelian mungkin hanya dilaksanakan oleh suatu
seksi yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Bagian Perbekalan. Sedangkan
dalam perusahaan besar, kegiatan pembelian mungkin dilakukan oleh suatu divisi yang
bertanggung jawab langsung kepada seorang Direktur atau Manajer Pembelian.

Kedudukan Bagian Pembelian juga dipengaruhi oleh kebijakan pimpinan perusahaan,


dalam arti bagaimana pimpinan perusahaan memandang fungsi ini. Apabila fungsi
pembelian dianggap sangat penting karena menentukan kehidupan dan kemajuan
perusahaan, maka biasanya fungsi pembelian mendapat tempat yang penting pula di
dalam organisasi.

B. SENTRALISASI DAN DESENTRALISASI


KEGIATAN PEMBELIAN

Perusahaan-perusahaan besar yang mempunyai beberapa unit operasi seringkali


mempunyai kebijakan pembelian terpusat (sentralisasi). Hanya ada satu Bagian
Pembelian yang bertugas menangani semua pembelian untuk keperluan perusahaan.
Sementara perusahaan lainnya menetapkan bahwa semua unit operasinya dapat
melaksanakan pembelian sendiri untuk barang-barang yang dibutuhkannya atau
mempunyai Bagian Pembelian sendiri. Penetapan apakah pembelian akan
disentralisasikan atau didesentralisasikan harus diputuskan dengan memperhatikan
keuntungan maupun kerugiannya.

Berikut akan diuraikan beberapa keuntungan yang biasanya diperoleh dari kebijakan
pembelian yang disentralisasikan, yaitu:
1. Dapat mengurangi duplikasi kegiatan yang timbul pada desentralisasi.
2. Riset dan tenaga ahli dapat disediakan secara efisien.
3. Pesanan dari berbagai unit organisasi dapat digabungkan sehingga dapat
memperoleh harga yang lebih murah.
4. Dapat lebih mudah mengikuti perkernbangan pasar.
5. Dapat diterapkan kebijakan tunggal dalam bidang pembelian sehingga memudahkan
pengendaliannya.
Adapun kerugian dari sistem sentralisasi adalah
1. Petugas pembelian dianggap sulit untuk menjadi ahli (spesialis) mengenai semua
barang yang harus dibeli, lebih-lebih barang tersebut banyak jenisnya.
2. Bagian Pembelian sering kurang memperhatikan kepentingan unit organisasi yang
dilayaninya.
Misalnya, petugas pembelian mungkin tidak mempersoalkan adanya sedikit
perbedaan pada kualitas dan spesifikasi dari barang yang diminta dengan yang

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 3


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

dipesan. Akan tetapi bagi unit organisasi yang meminta barang, perbedaan tersebut
meski hanya sedikit sekali, bisa berakibat serius.
3. Sistem sentralisasi dapat menimbulkan kesulitan bagi perusahaan tertentu yang
memiliki sejumlah unit operasi yang berlokasi di berbagai tempat yang saling
bejauhan dan berbeda kegiatannya.

C. KEWENANGAN PEMBELIAN

Masalah lainnya yang juga perlu diperhatikan secara khusus, menyangkut masalah
penetapan kewenangan dari Bagian Pembelian. Kewenangan Bagian Pembelian perlu
ditetapkan secara jelas khususnya kewenangan yang menyangkut jenis pembelian apa
yang harus dilakukan melalui bagian ini. Seperti diketahui, tidak semua kebutuhan
perusahaan harus dipenuhi melalui Bagian Pembelian tetapi ada sebagian yang
diserahkan kepada bagian yang dipandang lebih cocok. Contoh: pemasangan iklan atau
reklame umumnya diserahkan penanganannya kepada bagian promosi.

Dalam penetapan kewenangan Bagian Pembelian, persoalan pokok yang harus


dipertimbangkan adalah apakah Bagian Pembelian mempunyai kemampuan untuk
menanganinya secara profesional. Meskipun ketetapan resmi sudah cukup jelas, tetapi
dalam pelaksanaannya bisa terjadi penyimpangan dalam berbagai bentuk. Salah satu
bentuk penyimpangan yang sering terjadi adalah praktek di mana bagian yang
membutuhkan barang ternyata melakukan sendiri usaha-usaha pencarian rekanan yang
dapat memasok barang yang dibutuhkannya. Kemudian bagian yang membutuhkan
barang datang ke Bagian Pembelian untuk sekedar memenuhi formalitas, dan Bagian
Pembelian menangani pembelian barang dimaksud secara tergesa-gesa dan juga
sekedar formalitas belaka.

Bentuk penyimpangan lainnya yang sifatnya lebih umum adalah praktek-praktek


menghindari prosedur pembelian melalui Bagian Pembelian yaitu dengan melakukan
pembelian melalui kas kecil atau dana operasional lainnya. Dana kas kecil sebenarnya
diadakan untuk maksud yang relatif terbatas, yaitu hanya untuk membiayai pengeluaran
yang relatif kecil. Jika dana kas kecil digunakan untuk pengadaan barang/jasa yang
seharusnya dibeli melalui prosedur pembelian reguler, maka hal tersebut akan
mengakibatkan lepasnya pengendalian terhadap pembelian.

Praktek demikian akan dapat mengakibatkan hilangnya keuntungan yang seharusnya


dapat diperoleh dari suatu pembelian yang terpadu, misalnya potongan tunai (cash
discount) yaitu potongan yang diperoleh bila pembayaran dilakukan dalam periode
pemberian potongan atau potongan dagang (trade discount) yaitu potongan yang
diberikan penjual karena pembelian dalam partai besar.

Untuk mencegah praktek-praktek tersebut di atas diperlukan ketentuan yang jelas yang
tertuang dalam prosedur atau sistem pembelian dan dikomunikasikan kepada semua
bagian dalam perusahaan.
D. PEMBELIAN-PEMBELIAN DARURAT
Pembelian darurat terkadang tidak dapat dihindarkan, misalnya karena kebutuhan yang
tidak diperhitungkan sebelumnya, karena kerusakan mendadak pada peralatan tertentu
dan sebab-sebab lainnya. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai memberikan peluang
terhadap usaha-usaha untuk mendaruratkan suatu pembelian yang sebenarnya tidak
mendesak. Peluang mendaruratkan pembelian tersebut bisa dilakukan misalnya dengan
menunda-nunda pengajuan pembelian sehingga karena sudah terdesak waktu maka
Bagian Pembelian terpaksa melakukan kompromi untuk dapat melakukan pembelian

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 4


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

sebaik mungkin dalam kendala waktu yang ada. Praktek demikian akan lebih merugikan
perusahaan bila diikuti dengan komitmen-komitmen pembelian yang dibuat tanpa
perundingan harga. Penjual diminta mengirimkan lebih dahulu barangnya dan kemudian
baru mengajukan harganya.
Menyadari bahwa pembelian-pembelian darurat seringkali tidak dapat dihindarkan, maka
perlu dibuat ketentuan yang menetapkan siapa pejabat yang harus memberikan
persetujuan pembeliannya, berapa volume kebutuhan yang diperbolehkan serta langkah-
langkah pengendalian lainnya yang diperlukan untuk menghilangkan hal-hal yang dapat
menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

E. PEMBELIAN UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI DENGAN


MENGGUNAKAN FASILITAS PERUSAHAAN
Usaha pembelian untuk kepentingan pribadi dengan menggunakan fasilitas perusahaan
sering dilakukan oleh para pegawai dan pejabat perusahaan. Kalau hanya menyangkut
satu dua orang pegawai saja, praktek demikian mungkin tidak akan terlalu merugikan
perusahaan. Oleh karena itu peluang terhadap usaha menggunakan fasilitas perusahaan
harus tegas-tegas dilarang. Alasan untuk membenarkan praktek demikian, misalnya
dengan mengharuskan para pegawai yang menerima pelayanan membayar sejumlah
uang untuk penggantian ongkos kerja bukanlah penyelesaian yang baik sebab tetap
membutuhkan administrasi pengiriman barang dan pembayaran yang cukup rumit.
Tambahan beban pekerjaan tersebut akan mempengaruhi konsentrasi petugas
pembelian dan pada akhirnya berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan tugasnya.

F. KEMAMPUAN ANALISIS DALAM PEMBELIAN


Efektivitas pembelian antara lain akan banyak ditentukan oleh apa yang disebut dengan
"keahlian dagang” yang sangat tergantung kepada kemampuan analisis petugas-petugas
pada Bagian Pembelian. Kemampuan analisis merupakan kombinasi dari keuletan dan
daya imajinasi untuk mencari fakta dan menghubungkan fakta-fakta tersebut dengan
situasi-situasi yang spesifik.
Untuk pembelian barang tertentu, petugas pembelian harus mengetahui bagaimana
proses pembuatannya dan masalah-masalah operasional yang mempengaruhi
penyelesaian dan pengiriman barangnya. Selain itu petugas pembelian juga perlu
mengetahui bagaimana barang tersebut akan digunakan dan masalah-masalah apa
yang dapat timbul dalam penggunaan barang tersebut. Singkatnya, Bagian Pembelian
harus menggunakan semua pengetahuannya agar dapat melaksanakan fungsinya
dengan sebaik-baiknya dan memberikan keuntungan maksimal bagi kepentingan
perusahaan.
G. GODAAN REKANAN

Suatu masalah yang menyangkut pelaksanaan pembelian dan cukup sulit untuk
mengatasinya adalah banyaknya godaan yang dilancarkan oleh rekanan-rekanan
terhadap petugas-petugas Bagian Pembelian. Para rekanan akan berusaha dengan
sekuat tenaga untuk mempengaruhi petugas-petugas Bagian Pembelian agar dapat
memperoleh keistimewaan. Hal ini wajar mengingat persaingan yang ketat. Berbagai
"desakan" mereka lancarkan kepada para pejabat/pegawai Bagian Pembelian dan
umumnya ini dilakukan melalui jalur persahabatan, jamuan dan hiburan, pemberian
hadiah-hadiah, sampai usaha-usaha yang jelas-jelas bersifat penyuapan. Di sini terkait
sebuah masalah yang pelik yaitu menentukan batasan bagi suatu pemberian, mana yang
bisa dikatakan layak dan mana yang tidak layak. Misalnya saja sebagai contoh adalah

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 5


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

pemberian dalam bentuk bingkisan lebaran. Lebih-lebih lagi realita menunjukkan bahwa
batasan antara yang benar dan salah, cenderung menjadi kabur.
Perusahaan-perusahaan besar yang dikelola dengan baik menyadari bahaya ini dan
berusaha untuk menangkalnya dengan mengeluarkan larangan untuk menerima semua
bentuk "pemberian" dan mengumumkan ketentuan tersebut, baik kepada seluruh
petugas Bagian Pembelian maupun kepada rekanan-rekanan perusahaan. Di sini perlu
ditekankan pentingnya supervisi dan review yang terus menerus untuk mencegah
timbulnya favouritisme terhadap rekanan-rekanan tertentu yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 6


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB III
SIKLUS PEMBELIAN
DAN PENGENDALIANNYA

Kegiatan pembelian dapat dipandang sebagai suatu siklus yang meliputi sejumlah
langkah tertentu. Langkah-langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

 Penentuan Kebutuhan.
Barang yang akan dibeli harus ditentukan lebih dahulu. Kegiatan penentuan
kebutuhan meliputi identifikasi barang dan spesifikasinya, kuantitasnya, syarat-syarat
pengiriman dan informasi lainnya.
 Otorisasi Pembelian.
Sebagai langkah kedua, harus ada otorisasi untuk melakukan pembelian. Pembelian
baru dapat dilaksanakan bila ada persetujuan dari pejabat yang berwenang.

 Pelaksanaan Pembelian.
Selanjutnya Bagian Pembelian akan mencari rekanan yang dipercaya dapat
memenuhi kebutuhan perusahaan atas dasar yang paling menguntungkan. Pemilihan
atau seleksi rekanan akhirnya akan membawa keputusan mengenai pembelian
definitifnya. Pelaksanaan tender merupakan salah satu cara pemilihan rekanan. Cara
lainnya dapat dilakukan dengan meminta rekanan-rekanan potensial untuk
mengajukan penawaran (request for quotation).

 Tindak Lanjut.
Harus ada tindak lanjut tertentu dari petugas pembelian untuk menjamin agar
pengiriman barang oleh rekanan dilaksanakan sesuai keputusan.

 Penerimaan Barang/Penyelesaian Pengiriman.


Pengiriman-pengiriman rekanan harus dipantau untuk melihat kesesuaiannya dengan
perjanjian, atau bila tidak, tuntutan ganti rugi apa yang harus diajukan.

 Penyelesaian Keuangan.
Penyelesaian keuangan dengan rekanan harus dilakukan atas dasar yang layak.
Ketentuan perundang-undangan bahkan mengharuskan adanya jaminan atau
garansi dari pihak rekanan.

Selanjutnya, berikut ini akan dijelaskan kegiatan-kegiatan pengendalian yang


dilaksanakan dalam setiap tahapan pembelian di atas.

A. PENENTUAN KEBUTUHAN

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 7


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Aspek-aspek pengendalian dalam penentuan kebutuhan pada dasarnya diperlukan untuk


menjawab pertanyaan apakah penentuan kebutuhan dibuat atas dasar yang layak dan
dikomunikasikan secara tepat kepada Bagian Pembelian.

Penentuan kebutuhan dapat didasarkan kepada:


1. Jadual Produksi
Jadual produksi yang berisi lampiran dari barang-barang berikut segala
spesifikasinya yang diterima dari bagian produksi dapat digunakan oleh Bagian
Pembelian sebagai dasar penentuan barang-barang apa yang harus dibeli serta
jadual pembeliannya. Cara ini dikenal dengan metode Material Requirement Planning
(MRP)

2. Suatu Sistem Persediaan Minimum/Maksimum.


Dalam beberapa perusahaan dikembangkan suatu cara untuk memungkinkan kepala
gudang mengajukan permintaan pembelian kepada Bagian Pembelian. Jika
persediaan suatu barang sudah mencapai titik minimumnya, kepala gudang segera
mengajukan permintaan pembelian untuk barang tersebut. Jumlah kuantitas
pembelian yang diminta adalah selisih antara kuantitas maksimum dengan kuantitas
barang dalam persediaan. Jumlah minimum dan maksimum ini tercantum pada kartu
barang. Dengan cara ini, kuantitas barang di gudang dapat dikendalikan sehingga
tidak akan terjadi kekurangan atau kelebihan barang dan sekaligus berarti pula
adanya dasar yang layak di dalam pelaksanaan pembelian.
Sistem di atas merupakan pendekatan dari sistem Economic Order Quantity (EOQ)
yaitu metode yang melakukan perhitungan untuk mengoptimalkan jumlah yang
dipesan sehingga dapat menekan biaya pemesanan, biaya pengangkutan dan biaya
kehabisan persediaan serta untuk melakukan pemesanan diperhitungkan pada suatu
titik pemesanan (reorder point) dengan mempertimbangkan waktu pengiriman barang
dari pemasok dan tingkat persediaan yang harus ada sampai barang yang dipesan
datang.

3. Sistem Just in Time (JIT)


Dalam sistem ini, pembelian dilakukan jika barang tersebut benar-benar dibutuhkan,
sehingga dalam sistem ini diupayakan tidak ada persediaan barang jadi. Dengan
demikian begitu barang selesai diproduksi maka barang jadi tersebut langsung
dikirim ke tempat pembeli. Perbedaan sistem MRP dan sistem JIT adalah terletak
pada pemenuhan penjadualan. Pada sistem MRP penjadualan dilakukan untuk
rencana produksi sehingga akan ada persediaan di gudang sedangkan pada sistem
JIT penjadualan dilakukan untuk memenuhi permintaan pelanggan/konsumen
sehingga memungkinkan tidak terdapatnya persediaan barang jadi, karena begitu
barang jadi dapat langsung dikirim ke pemesan.

4. Proyek-proyek Perusahaan
Proyek-proyek perusahaan, baik proyek investasi modal maupun proyek yang
bersifat operasional, menimbulkan berbagai kebutuhan yang perlu dilaksanakan
pembeliannya.

5. Rencana Kebutuhan Operasional lainnya


Dalam setiap situasi dapat timbul sejumlah persoalan yang berbeda yang harus
dipertimbangkan hingga taraf tertentu tergantung pada pentingnya persoalan
tersebut.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 8


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Pertama-tama persoalan yang menyangkut validitas atau keabsahan dari kebutuhan


yang mendasari suatu pembelian. Persoalan ini meliputi pengkajian mengenai untuk
apa barang-barang tertentu diperlukan dan kelayakan cara menjabarkan kebutuhan
tersebut. Sebagai contoh, pembelian dimaksudkan untuk persediaan dan didasarkan
pada sistem minimum/maksimum.
Kedua, yang mungkin menjadi persoalan adalah apakah sistem yang telah dirancang
telah dilaksanakan secara efisien.
Yang terakhir, persoalan mengenai apakah kebutuhan yang telah ditentukan secara
layak tersebut, diteruskan kepada Bagian Pembelian melalui formulir permintaan
pembelian yang disetujui oleh pejabat yang berwenang, atau dalam dokumen
lainnya.

TANGGUNG JAWAB PENENTUAN KEBUTUHAN

Pada umumnya Bagian Pembelian tidak mempunyai kewenangan untuk menentukan


barang apa yang perlu dibeli. Penentuan kebutuhan dilakukan oleh pejabat-pejabat lain
dalam perusahaan. Pada perusahaan pabrik, penentuan kebutuhan dilakukan oleh
bagian pengendalian produksi berdasarkan catatan persediaan dan analisa kebutuhan
produksi yang dijadualkan. Meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa Bagian Pembelian
hanya bersifat pasif, dalam arti baru melakukan pembelian apabila ada permintaan untuk
itu.

Bagian Pembelian, dengan pengalaman maupun posisinya, seharusnya untuk


kasus-kasus tertentu dapat bertindak aktif dalam memprakarsai suatu pembelian. Hal ini
dimungkinkan karena Bagian Pembelian secara terus-menerus melakukan pemantauan
pasar, keadaan para penjual dan perkembangan atau kecenderungan yang ada pada
pasokan barang yang merupakan informasi penting untuk pelaksanaan pembelian yang
efektif dan efisien.

PROSEDUR PENENTUAN KEBUTUHAN

Setelah barang-barang yang dibutuhkan ditentukan, selanjutnya adalah menuangkannya


ke dalam suatu dokumen yang sesuai. Biasanya digunakan formulir daftar permintaan
barang atau formulir pemberitahuan lainnya. Di dalam formulir ini diuraikan nama barang
dan spesifikasinya dengan jelas, persetujuan yang diperlukan dan informasi lainnya.

B. OTORISASI PEMBELIAN

Seringkali terjadi kondisi di mana penentuan kebutuhan sekaligus merupakan otorisasi


untuk melakukan pembelian. Namun ternyata tidak selalu demikian karena dalam
otorisasi pembelian terlibat sejumlah pertimbangan yang bukan menjadi tanggung jawab
dari pihak yang menentukan kebutuhan, melainkan tanggung jawab dari Bagian
Pembelian.
Pertimbangan-pertimbangan yang dimaksud di atas antara lain didasarkan faktor-faktor
sebagai berikut:

1. Apakah barang yang dibutuhkan tersebut tersedia di perusahaan?


Bagian Pembelian umumnya mengetahui ada tidaknya barang-barang yang
dibutuhkan tersebut pada gudang-gudang perusahaan. Pertanyaan demikian harus
selalu dijawab sebelum Bagian Pembelian menyetujui suatu pembelian.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 9


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

2. Apakah barang-barang dimaksud lebih baik dibuat sendiri atau harus dibeli?
Pertanyaan ini biasanya timbul untuk barang-barang yang pengadaannya semakin
sulit dan/atau volume kebutuhan dan/atau harganya yang terus meningkat. Dorongan
untuk melakukan penyelidikan mengenai perlunya membuat atau membeli bisa
berasal dari berbagai pihak, namun tidak akan terlepas dari sumbangan pemikiran
Bagian Pembelian.

3. Apakah pembelian bisa dilakukan?


Keadaan yang harus diperhitungkan adalah kemungkinan barang yang dibutuhkan
tidak dapat dibeli di pasaran atau mungkin yang ada harus dimodifikasi lebih dahulu.
Kemungkinan-kemungkinan seperti ini akan mempengaruhi pemilihan cara
pengadaan yang akan ditempuh.

4. Apakah anggarannya mengijinkan?


Pertanyaan ini diperlukan untuk mencegah dilakukannya suatu pembelian yang
anggarannya tidak tersedia, baik karena anggarannya sudah habis atau mungkin
karena sebelumnya tidak termasuk yang direncanakan. Jika ternyata pembelian ini
tidak tersedia anggarannya, maka pelaksanaan pembeliannya baru dapat dilakukan
setelah memperoleh persetujuan anggarannya. Untuk hal ini, Bagian Pembelian
harus mengkonsultasikannya dengan Bagian Anggaran.

5. Apakah konsekuensi-konsekuensi keuangannya?


Oleh karena suatu pembelian akan mengakibatkan timbulnya kewajiban keuangan,
maka persoalan yang harus diperhitungkan adalah apakah pembelian tersebut masih
dalam batas kemampuan keuangan perusahaan. Dalam hal tertentu, mungkin
diperlukan penundaan atau pengurangan pada kuantitas barang yang akan dibeli.

PROSEDUR OTORISASI PEMBELIAN


Otorisasi suatu pembelian bisa diberikan langsung pada daftar permintaan barang atau
dalam formulir terpisah. Yang penting adalah bahwa persetujuan diberikan oleh pejabat
yang berwenang dan Bagian Pembelian telah menginformasikan semua persoalan yang
terkait dalam pelaksanaan pembelian kepada pejabat tersebut.

C. PELAKSANAAN PEMBELIAN

Inti dari aktivitas pembelian adalah mendapatkan rekanan dan membuat persetujuan
akhir untuk pembelian yang akan dilaksanakan. Dalam memilih rekanan harus
sekurang-kurangnya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1. Luasnya usaha pencarian rekanan
Usaha pencarian rekanan potensial yang dapat memasok barang-barang yang
dibutuhkan harus dilakukan secara cukup luas dan mencakup baik yang sudah
pernah menjadi rekanan perusahaan maupun yang belum pernah.

2. Luasnya kontak langganan dengan rekanan


Dalam penentuan rekanan sebaiknya Bagian Pembelian mempunyai pengetahuan
yang cukup mengenai fasilitas-fasilitas yang dimiliki rekanan serta kemampuan
operasionalnya. Hal ini perlu dilakukan agar tidak menimbulkan kesulitan di kemudian
hari. Pengetahuan mengenai keadaan dan kemampuan rekanan sering kali tidak

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 10


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

cukup hanya dari data yang disampaikan oleh rekanan tetapi harus berdasarkan hasil
pengamatan lapangan.

3. Keandalan masing-masing rekanan


Informasi mengenai prestasi, reputasi, dan kemampuan keuangan calon-calon
rekanan harus diteliti sebelum diputuskan pemenangnya. Penelitian ini berlaku baik
untuk mereka yang sudah atau belum pernah menjadi rekanan perusahaan.

4. Penawaran yang diajukan rekanan


Penawaran yang diajukan oleh calon-calon rekanan perlu diteliti baik mengenai
harga, persyaratan-persyaratan, biaya-biaya pengiriman, beban-beban peralatan,
persediaan yang dimiliki, dukungan layanan purna jual, kegiatan pengembangan
produknya, dan lain sebagainya.

5. Kesesuaian dengan kebijakan perusahaan atau pemerintah


Misalnya:
 Kebijakan untuk memberikan dukungan kepada pengusaha kecil.
 Risiko-risiko pengungkapan rahasia perusahaan kepada saingan.
 Menghindarkan ketergantungan dalam sumber-sumber pengadaan
 dan lain-lain.

MENGUSAHAKAN PENAWARAN BERSAING

Dalam hal memungkinkan, Bagian Pembelian harus memanfaatkan kesempatan-


kesempatan pasar melalui penawaran bersaing. Namun perlu disadari, kecenderungan
munculnya persaingan yang tidak sehat justru dapat merugikan perusahaan. Hal ini bisa
terjadi pada suatu keadaan di mana pembeli (Bagian Pembelian) menekan harga
sampai kepada tingkat yang tidak wajar dengan risiko bahwa ia akan memperoleh
barang yang berkualitas rendah. Perusahaan yang berpengalaman akan lebih
mementingkan kepentingan jangka panjangnya, yaitu dengan mengusahakan
diperolehnya rekanan yang benar-benar bonafid.

Yang harus diusahakan melalui mekanisme penawaran bersaing adalah terjadinya


persaingan yang sehat di antara para rekanan (penjual). Bagaimanapun juga, sejauh
dapat dilaksanakan, permintaan penawaran bersaing harus menjadi prosedur standar.
Pengecualian dapat diberikan hanya untuk situasi khusus di mana tidak ada sumber lain
atau keadaan darurat di mana Bagian Pembelian tidak mempunyai cukup waktu untuk
memperoleh penawaran bersaing. Namun situasi demikian harus diminimalisasi melalui
perencanaan yang matang dan usaha pencarian sumber-sumber alternatif.

Andaikata penawaran bersaing memang tidak mungkin dilakukan, maka Bagian


Pembelian harus bisa menjelaskan sebab-sebabnya, dan kalau mungkin, memberikan
jalan keluarnya agar praktek ini tidak akan terulang lagi. Mekanisme penawaran bersaing
memang harus dilaksanakan dengan dilandasi oleh itikad baik, dalam arti agar ada dasar
yang cukup dalam pengambilan keputusan mengenai pemilihan rekanan.

Selain itu, harus pula dicegah kemungkinan praktek penawaran bersaing yang dilakukan
sekedar memenuhi formalitas karena rekanan yang akan ditunjuk sudah ditetapkan lebih
dahulu. Praktek demikian bisa dilakukan dalam berbagai cara. Misalnya kepada rekanan
yang akan ditunjuk, diminta untuk mengajukan penawaran lebih dari satu dengan
menggunakan kop surat dan stempel perusahaan lain. Untuk mengatasi hal ini, perlu

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 11


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

adanya review atasan secara terus-menerus, khususnya jika ada rekanan yang berulang
kali terpilih untuk memasok barang yang dibutuhkan perusahaan.

KONTRAK PEMBELIAN DENGAN HARGA YANG DITETAPKAN BERDASARKAN


HASIL PERUNDINGAN (NEGOSIASI).

Meskipun mekanisme penawaran bersaing harus selalu diusahakan, namun situasi yang
dihadapi bisa berlainan di mana pemilihan rekanan ditentukan dengan cara lain. Sebagai
contoh adalah situasi tertentu di mana terdapat seorang rekanan yang memiliki
kecakapan dan pengalaman yang sangat menonjol atau memiliki paten untuk suatu
produk tertentu. Contoh lainnya adalah kondisi di mana perusahaan tidak mempunyai
kebebasan dalam menentukan rekanan, seperti adanya praktek penunjukan langsung
pada pekerjaan-pekerjaan instansi Pemerintah. Dalam situasi seperti tersebut,
penjual/rekanan biasanya telah mempunyai patokan harga yang pasti untuk produk yang
dijualnya.

Namun demikian, perusahaan harus mengusahakan negosiasi dalam penetapan harga.


Untuk keperluan tersebut, perusahaan dalam hal ini Bagian Pembelian bekerjasama
dengan bagian lain yang kompeten, harus membuat taksiran-taksiran biaya yang
dikeluarkan untuk memproduksi barang yang dibutuhkan ditambah dengan suatu faktor
laba yang wajar bagi rekanan/penjual. Untuk penyusunan taksiran-taksiran biaya
tersebut seringkali perlu melakukan penelitian lapangan. Dalam negosiasi penetapan
harga ini, keterlibatan Bagian Keuangan seringkali dibutuhkan untuk membantu Bagian
Pembelian.

PROSEDUR PELAKSANAAN PEMBELIAN

Prosedur pelaksanaan pembelian umumnya mencakup tahapan sebagai berikut:


1 . Pemberian otorisasi untuk melaksanakan pembelian kepada seorang pejabat atau
pegawai Bagian Pembelian sesuai dengan volume pembelian serta jenis barangnya.
Pada perusahaan tertentu, untuk setiap petugas pembelian telah ditentukan
spesialisasinya. Luas spesialisasi yang dibutuhkan sangat tergantung pada luas
kegiatan pembelian yang dilaksanakan perusahaan.
2. Petugas Bagian Pembelian mempelajari catatan-catatan mengenai rekanan yang
terdapat pada arsip Bagian Pembelian sesuai dengan jenis barang yang akan dibeli.
3. Petugas Bagian Pembelian mengadakan konsultasi dengan atasannya dan dengan
pihak pemakai barang untuk mendapatkan informasi mengenai masalah-masalah
yang mungkin akan dihadapi dalam pelaksanaan pembelian tersebut.
4. Petugas Bagian Pembelian membuat dan mengirimkan permintaan penawaran
kepada rekanan-rekanan potensial dengan menggunakan formulir standar.
5. Menerima penawaran-penawaran dari rekanan-rekanan, mengikhtisarkannya dalam
formulir standar dan menentukan rekanan yang direkomendasikan untuk dipilih.
Biasanya penawaran terendah yang akan dipilih sebagai pemenang, namun hal ini
tidak mutlak.
6. Rekomendasi petugas Bagian Pembelian mengenai rekanan yang terpilih diajukan
kepada atasannya untuk direview.
7. Pemberian persetujuan tertulis dari pejabat yang berwenang atas rekanan yang
dipilih.
8. Pembuatan Surat Pesanan Pembelian dan mengirimkannya kepada rekanan yang
terpilih. Surat pesanan yang dikirimkan kepada rekanan bisa berikut tembusannya,
dan tembusan ini harus dikirimkan kembali sebagai pemberitahuan telah diterimanya
surat pesanan oleh rekanan.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 12


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Surat Pesanan Pembelian umumnya adalah formulir pranomor, yaitu formulir yang telah
dinomori pada waktu pencetakannya. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan
pengendalian terhadap penggunaan yang tidak semestinya maupun untuk tujuan
menjamin kelengkapan pembukuannya.

Formulir (surat) pesanan pembelian umumnya juga dibuat dengan beberapa tembusan
karena informasi mengenai pesanan pembelian ini akan dikomunikasikan kepada
bagian-bagian lain yang membutuhkan, seperti pihak pemakai, bagian penerimaan, dan
bagian akuntansi (administrasi pembelian dan administrasi hutang dagang). Penggunaan
tembusan menghindarkan penulisan kembali, sehingga bisa hemat waktu dan terhindar
dari kesalahan-kesalahan dalam penulisan kembali.

Dalam surat pesanan pembelian juga dicantumkan syarat-syarat pembelian, dan jika
ada, modifikasi-modifikasi yang diperkenankan.

Meskipun biaya-biaya transportasi dapat menjadi kewajiban dari pembeli atau penjual,
namun untuk penentuan mengenai cara transportasinya merupakan hak prerogatif
pembeli. Persyaratan ini juga termasuk dalam bagian persyaratan yang harus
dicantumkan dalam Surat Pesanan Pembelian.

Pada saat ini, untuk pemesanan pembelian telah terdapat sistem data elektronik yang
disebut dengan Electronic Data Interchange (EDI). Dalam sistem ini penyedia/penjual
(Trading Partner) juga harus memakai aplikasi yang sama. Hubungan antara keduanya
dapat dilakukan melalui hubungan jaringan transmisi yang disebut Value Added Network
(VAN) atau melalui internet. Formulir-formulir yang digunakan sama dengan yang
digunakan pada pada formulir tradisional seperti formulir permintaan pembelian dan
faktur, hanya saja dalam sistem ini pengolahan dan pelaksanaannya melalui komputer
sehingga dapat dihemat biaya pemakaian kertas dan biaya pengiriman kertas. Selain itu
jeda waktu pemesanan dapat dipersingkat.

D. TINDAK LANJUT

Persoalan lain yang perlu mendapatkan perhatian dari Bagian Pembelian adalah bahwa
Bagian Pembelian mempunyai tanggung jawab untuk mengusahakan agar pengiriman
barang dilaksanakan oleh rekanan sesuai dengan jadual waktu yang ditentukan. Untuk
itu Bagian Pembelian harus senantiasa mengingatkan rekanan akan jadual waktu
pengiriman dan untuk pembelian tertentu seringkali petugas Bagian Pembelian harus
mengunjungi rekanan untuk melihat perkembangan pelaksanaan pekerjaannya.

Mungkin pula seorang atau beberapa orang pegawai perusahaan harus diikutsertakan
dalam pelaksanaan pekerjaan, baik sebagai penasehat ataupun sebagai pengawas.
Untuk pembelian yang pelaksanaan pengiriman barangnya bertahap, petugas Bagian
Pembelian harus memantau pelaksanaan pengiriman-pengiriman oleh rekanan. Apabila
ada keterlambatan-keterlambatan maka Bagian Pembelian segera dapat mengetahuinya
sehingga dapat segera pula dicarikan jalan keluarnya. Singkatnya, Bagian Pembelian
harus bertindak aktif dalam mengikuti pesanan pembelian yang dilakukannya dengan
tujuan agar perusahaan benar-benar dapat memperoleh barang-barang yang berkualitas
prima.

PROSEDUR TINDAK LANJUT


Luasnya prosedur tindak lanjut yang diperlukan bervariasi sesuai dengan jenis pembelian
dan panjangnya periode dari jadual pengiriman atau penyerahannya. Bagian Pembelian

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 13


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

perlu membuat catatan untuk dapat memantau tanggal-tanggal pelaksanaan pengiriman.


Setiap petugas pembelian bertanggung jawab untuk memantau kemajuan
pesanan-pesanan pembelian yang ditanganinya. Setiap petugas wajib menyampaikan
laporan tertulis secara berkala mengenai kemajuan pesanannya kepada atasan
langsungnya. Dengan demikian Bagian Pembelian mempunyai informasi yang lengkap
mengenai kemajuan dari semua pesanan pembelian yang ditangani bagian ini.

E. PENERIMAAN BARANG

Praktek pengendalian yang baik menghendaki adanya aktivitas penerimaan barang yang
independen sehingga ada jaminan bahwa semua barang yang diserahkan oleh rekanan
telah diperiksa kebenaran kuantitas, spesifikasi, dan kualitasnya. Untuk tujuan
independensi, dalam tembusan surat pesanan pembelian yang dikirim ke bagian
penerimaan barang, untuk kolom kuantitas, spesifikasi dan kualitasnya diblok hitam
sehingga tidak dapat dibaca oleh bagian penerimaan barang.

Pada perusahaan besar, terdapat bagian penerimaan barang yang bebas dari pengaruh
Bagian Pembelian. Pada perusahaan lainnya mungkin tidak merupakan bagian tetapi
dalam bentuk komite atau panitia penerimaan barang. Anggotanya umumnya terdiri dari
wakil-wakil bagian yang membutuhkan barang dan wakil dari Bagian Pembelian sendiri.
Bagian penerimaan atau panitia ini harus melakukan pemeriksaan secara seksama atas
barang yang dikirim oleh rekanan dan dibandingkan dengan surat pesanan
pembeliannya.

Untuk pembelian tertentu mungkin memerlukan pengujian di laboratorium. Hasil


pemeriksaan harus menyatakan apakah barang dapat diterima atau harus ditolak.
Termasuk di dalamnya kemungkinan perlunya klaim, baik terhadap rekanan atau kepada
pihak pengangkut barang.

ASPEK-ASPEK PROSEDURAL

Perlu ditekankan bahwa secara organisatoris aktivitas penerimaan barang harus bebas
dari Bagian Pembelian. Hasil pemeriksaan yang dilakukan (biasanya dituangkan dalam
Laporan Penerimaan Barang) harus diteruskan kepada bagian akuntansi (Administrasi
Hutang Dagang), termasuk jika ada klaim yang harus diajukan. Dalam hal barang yang
datang tidak dapat diterima, maka barang-barang tersebut harus ditahan dan tidak boleh
dimasukkan ke gudang. Dengan demikian terdapat jaminan bahwa barang yang masuk
ke gudang (atau yang langsung diserahterimakan kepada pemakai) dan yang dibuatkan
bukti penerimaan barang adalah barang yang sudah diperiksa. Pemberitahuan kepada
pihak rekanan dilaksanakan oleh Bagian Pembelian.

F. PENYELESAIAN KEUANGAN

Penyelesaian keuangan dilaksanakan oleh bagian hutang dagang bekerjasama dengan


Bagian Keuangan. Pada kedua bagian tersebut dilakukan pemeriksaan antara bukti
pesanan pembelian dengan berita acara pemeriksaan barang. Berdasarkan hasil
pengujian atas bukti-bukti tersebut kemudian dibuatkan formulir persetujuan
pembayarannya. Mengenai prosedur penyelesaian keuangan akan dibahas secara
cukup mendalam pada pembahasan mengenai audit keuangan (Buku V). Yang perlu
menjadi perhatian adalah kecepatan penyampaian dokumen-dokumen sehubungan

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 14


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

dengan pembelian ini, sehingga pelaksanaan pembayaran kepada rekanan dapat


dilakukan tepat waktu untuk dapat memanfaatkan diskon-diskon pembelian.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 15


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB IV
PROGRAM KERJA AUDIT
KEGIATAN PEMBELIAN

Berikut ini diberikan secara berturut-turut contoh program audit untuk kegiatan
pembelian, yang meliputi tahapan-tahapan:
• Penentuan Kebutuhan.
• Otorisasi Pembelian.
• Pelaksanaan Pembelian.
• Tindak Lanjut.
• Penyelesaian Pengiriman.
• Penyelesaian Keuangan.

A. PENENTUAN KEBUTUHAN

1. Tujuan Audit
a. Untuk menilai kelengkapan dan keandalan rencana kebutuhan barang/jasa.
b. Untuk memastikan apakah rencana kebutuhan barang/jasa sesuai dengan tujuan
yaitu menunjang kegiatan-kegiatan perusahaan secara menyeluruh.
c. Untuk mengetahui apakah rencana kebutuhan tersebut disahkan oleh pejabat
yang berwenang.
2. Langkah-langkah Kerja
a. Peroleh pedoman/ketentuan mengenai penyusunan kebutuhan barang/jasa.
b. Mintakan rencana kebutuhan barang/jasa yang dirinci menurut bagian-bagian
dalam perusahaan, jenis, spesifikasi, volume dan jadual kegiatan/produksi.
c. Teliti apakah rencana kebutuhan tersebut:
1) Mencakup semua bagian dalam perusahaan.
2) Memuat jenis, spesifikasi, volume dan jadual kegiatan/produksi secara jelas.
3) Disetujui oleh pejabat yang berwenang.
4) Didukung dengan anggaran pembiayaannya.
d. Mintakan realisasi pembelian dalam 3 (tiga) tahun terakhir.
e. Buat daftar perbandingan antara rencana kebutuhan dengan realisasi
pembelian selama 3 (tiga) tahun terakhir, dan
1) Identifikasikan kebutuhan bagian-bagian yang menunjukkan kenaikan
(penurunan) berarti.
2) Minta penjelasan mengenai dasar penyusunan kebutuhan pada
bagian-bagian yang menunjukkan kenaikan (penurunan) berarti tersebut.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 16


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

f. Mintakan rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang dari


perusahaan.
g. Analisis apakah rencana kebutuhan sesuai dengan tujuan perusahaan jangka
pendek, menengah, dan jangka panjang.
h. Teliti spesifikasi teknis dari barang yang dibutuhkan, apakah:
1) Sesuai dengan standar yang ada.
2) Cukup mudah memperoleh suku cadangnya.
3) Terjamin layanan purna jualnya.
4) Mengarah ke produk merek tertentu yang sebetulnya tidak memenuhi syarat.
i. Pastikan bahwa timbulnya kebutuhan telah sesuai dengan metode dan prosedur
yang berlaku

B. OTORISASI PEMBELIAN

1. Tujuan Audit.
a. Untuk menilai kelayakan prosedur otorisasi pembelian.
b. Menguji tingkat ketaatan terhadap prosedur yang telah ditetapkan.

2. Langkah-langkah Kerja.
a. Review prosedur otorisasi pembelian, dengan perhatian khusus pada:
1) Siapakah yang mengajukan permintaan pembelian.
2) Persetujuan apakah yang diperlukan untuk jenis-jenis barang tertentu.
3) Formulir apakah yang digunakan.
4) Persetujuan tambahan apakah yang diperlukan apabila biaya yang
sebenamya diperlukan untuk pembelian itu melebihi taksiran sebelumnya.
5) Ketentuan apakah yang harus dipenuhi untuk mengubah spesifikasi atau
kuantitas yang telah ditetapkan sebelumnya.
b. Berdasarkan pengujian yang dilakukan terhadap pelaksanaan yang sebenamya,
periksa dan lakukan penilaian mengenai:
1) Tingkat ketaatan terhadap prosedur yang telah ditetapkan. Jika terdapat
penyimpangan yang berarti selidiki apakah yang menjadi penyebabnya.
2) Apakah prosedur yang berlaku cukup memadai.
3) Apabila terdapat otorisasi yang tidak lazim, apakah hal itu dipermasalahkan
dan didiskusikan.

C. PELAKSANAAN PEMBELIAN

1. Tujuan Audit
a. Untuk memastikan ditaatinya kebijakan dan prosedur pelaksanaan pembelian
yang ditetapkan baik intern perusahaan maupun peraturan pada umumnya.
b. Untuk memastikan adanya perlindungan terhadap kepentingan perusahaan.
c. Untuk menilai apakah telah dilakukan usaha untuk meningkatkan efisiensi
kegiatan pembelian.

2. Langkah-langkah Kerja
a. Lakukan secara sample pengujian terhadap transaksi pembelian untuk
memastikan ketaatan terhadap kebijakan dan prosedur pelaksanaan pembelian
yang telah ditetapkan, baik tentang pelelangan umum, pelelangan terbatas,
penunjukkan langsung, maupun pengadaan langsung.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 17


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

b. Teliti kebenaran formal dan material dari Surat Perintah Kerja (SPK) atau Surat
Perjanjian/Kontrak.
c. Perhatikan apakah telah dilakukan tindakan memprioritaskan penggunaan
produksi dalam negeri dan memprioritaskan perusahaan golongan ekonomi
lemah dengan memperhatikan syarat-syarat bonafiditas.
d. Teliti apakah telah dilakukan penggunaan Daftar Rekanan Mampu.
e. Teliti kelayakan waktu yang dipergunakan pada berbagai tahap kegiatan
pembelian.
f. Perhatikan apakah terdapat bukti adanya perlindungan yang maksimum terhadap
kepentingan perusahaan.
g. Perhatikan apakah terdapat bukti adanya kerja sama yang baik dalam kelompok
pembelian.
h. Amati kemungkinan adanya pesanan-pesanan mendesak/darurat.
i. Amati kemungkinan adanya pesanan-pesanan tertentu yang tidak diotorisasikan
oleh pejabat yang berwenang.
j. Amati kemungkinan adanya peluang untuk menggabungkan pembelian-
pembelian yang tadinya dilakukan secara terpisah.
k. Lakukan pengujian terhadap efektivitas pencatatan dan prosedur-prosedur yang
berhubungan dengan kegiatan pembelian.
I. Perhatikan kemungkinan adanya rekanan favourit.
m. Pastikan bahwa formulir standar untuk permintaan pembelian digunakan untuk
semua pesanan yang memakai formulir.
o. Pastikan bahwa formulir standar untuk permintaan pembelian telah diisi dengan
persyaratan dan kondisi yang layak sesuai dengan kebijakan yang berlaku.

Langkah Kerja khusus jika pelaksanaan pembelian dilakukan lewat Electronic Data
Interchange (EDI)

1. Tujuan audit:
a. Apakah aplikasi EDI telah punya prosedur pengendalian aplikasi yang
seharusnya ada pada aplikasi bisnis.
b. Apakah semua transaksi EDI telah dicatat dan dinilai secara layak oleh
aplikasinya.
c. Apakah semua transaksi EDI telah diotorisasi.
d. Apakah semua transaksi EDI telah didukung oleh perjanjian dengan pihak yang
berhubungan (Trading Partner).

2. Langkah kerja.
a. Review pengendalian aplikasi termasuk mekanisme penyeimbangan internal,
mekanisme laporan kekeliruan dan jejak audit yang jelas.
b. Pastikan bahwa aplikasi yang digunakan mempunyai pengendalian transaksi
yang hanya mengizinkan dan memproses transaksi yang ada otorisasinya.
c. Review prosedur aplikasi dan (Value Added Network) VAN untuk memberikan
transaksi yang diakui. Lakukan pengujian transaksi untuk penelitian prosesnya.
d. Pastikan keberadaan passwords untuk transaksi EDI dan passwords tersebut
disimpan dalam bahasa sandi.
e. Pastikan bahwa tingkatan akses dan wewenang untuk semua transaksi telah
didefinisikan dengan benar dan semua aktivitas sistem EDI dicatat secara
otomatis.
f. Pastikan bahwa laporan dikirim hanya pada orang yang berkenaan mengenai
koreksi kesalahan dan tujuan rekonsiliasi.
g. Pastikan bahwa terdapat pengendalian total otomatis oleh fungsi EDI pada file
hasil akhir.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 18


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

h. Review prosedur set up langganan EDI, termasuk persyaratan perjanjian dengan


trading partner.

D. TINDAK LANJUT

1. Tujuan Audit.
Untuk mengetahui apakah terdapat langkah-langkah untuk memastikan agar
produk-produk yang dipesan benar-benar dikerjakan sesuai dengan persetujuan
pesanan pembelian.

2. Langkah-langkah Kerja
a. Mintakan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan tanggal penerimaan
serta spesifikasi barang-barang yang dipesan.
b. Lakukan penilaian terhadap cara-cara petugas pembelian memantau pesanan
pembelian.
c. Teliti apakah dilakukan langkah-langkah untuk memastikan dipenuhinya pesanan
seperti mengunjungi dan mengamati pengerjaan barang-barang yang dipesan
serta mengadakan kontak reguler dengan para penjual.

E. PENERIMAAN BARANG

1. Tujuan Audit
a. Untuk memastikan apakah petugas atau bagian yang menerima barang secara
organisatoris bebas dari petugas atau Bagian Pembelian.
b. Untuk memastikan apakah petugas yang bertanggung jawab dalam penerimaan
barang telah melaksanakan kewajibannya dengan memeriksa barang-barang
yang diterima sesuai prosedur yang ditentukan.

2. Langkah-langkah Kerja
a. Teliti apakah terdapat pemisahan fungsi antara petugas atau bagian yang
menerima barang dengan petugas atau bagian yang melakukan pembelian.
b. Teliti apakah administrasi dan prosedur bagian penerimaan barang mendukung
terlaksananya pemeriksaan yang memadai terhadap penerimaan barang.
c. Lakukan pengujian terhadap sebagian barang-barang yang diterima untuk
mengetahui apakah barang-barang tersebut telah diperiksa dan apakah hasil
pemeriksaannya terbukti efektif.
d. Perhatikan apakah terdapat klaim dan bila ada telusuri bagaimana klaim itu
ditetapkan.

F. PENYELESAIAN KEUANGAN

1. Tujuan Audit
a. Untuk mengetahui apakah telah dilakukan langkah-langkah pengendalian yang
perlu sebelum pembayaran dilakukan oleh Bagian Keuangan.
b. Untuk mengetahui apakah terjalin kerjasama yang baik antara Bagian Pembelian
dengan Bagian Keuangan.

2. Langkah-langkah Kerja

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 19


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

a. Teliti apakah dilakukan pencocokan antara bukti pesanan pembelian yang asli
dengan data penerimaan barang.
b. Teliti mengenai potongan-potongan atau penyesuaian-penyesuaian yang
diberikan apakah telah memenuhi prosedur yang ditetapkan dan jumlahnya
sesuai.
c. Lakukan pengamatan apakah Bagian Keuangan juga diikutsertakan selama
negosiasi-negosiasi mengenai penyesuaian-penyesuaian, mengenai potongan
dan lain-lain.
d. Lakukan pengamatan apakah terdapat kesesuaian data antara Bagian Pembelian
dengan Bagian Keuangan, khusus yang menyangkut masalah pembelian.

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 20


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

LATIHAN

LATIHAN 1

Berikut ini kondisi-kondisi yang ada pada sebuah perusahaan :


a. Bagian Pembelian bertugas menerima barang.
b. Bagian Gudang menerima barang yang dibeli dari pemasok.
c. Pembelian barang tidak dilakukan dengan tender.
d. Prosedur pembelian PT ABC sebagai berikut:
 Pertama kali bagian yang memerlukan barang mengajukan permohonan
pembelian pada Bagian Pembelian.
 Bagian Pembelian mengirimkan surat permintaan.
 Penawaran harga kepada beberapa pemasok.
 Surat penawaran dari pemasok langsung dibuka pada saat surat diterima dan
dicatat dalam Daftar Penawaran Pemasok oleh Bagian Pembelian. Daftar
Penawaran Pemasok tersebut terdiri dari lajur-lajur nomor, nama pemasok,
alamat, spesifikasi, barang, harga penawaran.
 Bagian Pembelian bersama dengan Bagian Keuangan, Bagian Anggaran dan
Bagian Audit melakukan rapat untuk menetapkan pemenangnya.

Diskusikan kelemahan-kelemahan yang terjadi!

LATIHAN 2

Auditor intern PT XYZ telah melakukan audit atas kegiatan pembelian. Temuan hasil
auditnya diberi judul « Sistem dan Prosedur Pembelian Mengandung Beberapa
Kelemahan ».

Butir- butir temuannya adalah sebagai berikut:

1. Order pembelian sebagian besar dibuat setelah pembelian dilakukan oleh bagian
gudang.
2. Pembelian rata-rata tidak dilakukan penawaran, formulir sehubungan dengan itu yaitu
formulir perbandingan harga tidak pernah digunakan.
3. Pembelian untuk barang barang tertentu yang hampir rutin dilakukan selalu dibeli dari
pemasok yang sama
4. Penyebab terjadinya hal di atas diidentifikasi karena staf Bagian Pembelian hanya
satu orang yang merangkap sebagai tenaga administrasi dan tenaga pembelian.

5. Rekomendasi:

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 21


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

a. Dilakukan penambahan staf di Bagian Pembelian untuk menangani administrasi


sehingga terdapat pemisahan tugas agar terjadi mekanisme pengendalian di
Bagian Pembelian.
b. Permintaan penawaran agar dilakukan dan didokumentasikan pada formulir
perbandingan harga baru diputuskan untuk dilakukan pembelian.
c. Order pembelian agar disetujui oleh Manajer pembelian dan Wakil Direktur
d. Pembelian dari pemasok yang sama agar dihindari dan dicari pemasok lain agar
ketergantungan kepada pemasok tertentu dapat dihidari.

Pertanyaan:
1. Apakah Saudara setuju dengan uraian butir temuan dan penyebab yang dibuat oleh
tim auditor intern tersebut?
2. Apakah Saudara setuju dengan rekomendasi yang diberikan?
3. Jika tidak setuju seharusnya bagaimana menurut Saudara?
4. Kemungkinan kecurangan apa yang dapat dilakukan oleh staf pembelian dalam
kondisi tersebut?

Buatlah kelompok, diskusikan di kelompok, presentasikan, diskusikan hasil presentasi


kelompok, dan tetapkan pilihan terbaik yang dapat diberikan berdasarkan data yang ada!

BUKU 2 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 22


MODUL DIKLAT
AUDIT OPERASIONAL

BUKU 3 AUDIT TERHADAP KEGIATAN JASA

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan


Jl. RC Veteran Raya No. 555A
Pesanggrahan – Bintaro
Jakarta Selatan 12330
Tlp. (021) 7373680
Fax. (021) 7373681
e-mail: forum_ppak@yahoo.com
Buku 3-2

AUDIT BIDANG DANA


DAN JASA DALAM NEGRI
DAFTAR ISI
Halaman

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


BAB II PROSEDUR AUDIT BIDANG DANA DAN JASA DALAM NEGRI ........... 3
EVALUASI INTERNAL CONTROL ......................................................... 3
PROSEDUR AUDIT DANA PERBANKAN .............................................. 5
AUDIT PROSEDUR JASA-JASA PERBANKAN DALAM NEGRI............ 8
LATIHAN ............................................................................................................. 14
PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB I
PENDAHULUAN
Kegiatan Dana dan Jasa Dalam Negeri yang biasa dilakukan oleh perbankan di
Indonesia biasanya meliputi:
- Dana, terdiri dari Giro, Deposito berjangka, Tabungan/Tabanas/Taska,
Sertifikat Bank, berbagai macam, saving deposit.
- Jasa Dalam Negri Transfer/wesel, Inskaso (Collection), Clearing, Traveler’s
Cheque, Jual Beli Surat Berharga, Safe Deposit Box,
Pergudangan, Payment point, payroll, dan lain-lain.
- Kegiatan penaksiran/tellerisasi

Kegiatan Dana dan Jasa dalam Negeri merupakan kegiatan awal yang pokok dari
suatu bank. Dalam kegiatan ini juga mengandung resiko yang tinggi rawan terhadap
berbagai kegiatan manipulasi karena transaksi yang terjadi menyangkut alat
pembayaran yang tinggi likuiditasnya dan tinggi frekuensi turn over-nya. Oleh karena
itu Bank Auditor dituntut ketelitian yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya.
Adapun tujuan dari audit bidang dana bank adalah:
1. Untuk menilai system Internal Control yang ada apa telah baik
2. Untuk memastikan aspek legalitas telah terpenuhi
3. Untuk memastikan ditaatinya prosedur yang telah ditetapkan dan prosedur yang
ada cukup efisien
4. Untuk memastikan besarnya volume dana
5. Untuk memastikan kebenaran perincian saldo masing-masing jenis deposan.
6. Untuk memonitor apakah komposisi dana yang ada telah tepat.
7. Untuk mengendalikan apakah biaya dana telah diperoleh dengan cara yang paling
ekonomis, baik ditinjau dari:
- Volume dana yang dikumpulkan
- Biaya pengumpulan dana.
- Biaya dana/ interest Expenses/deviden.
- Komposisi dana.

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 1


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

8. Untuk memastikan kebenaran dan pembebanan perhitungan biaya dana.


9. Untuk memastikan kebenaran pembayaran kembali dana kepada para
deposan.
10. Hutang yang dijamin dengan kekayaan perusahaan apakah penggunaannya
dapat dipertanggung jawabkan.
11. Untuk menilai apakah alokasi dana yang ada telah memberikan return yang
terbaik.

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 2


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB II
PROSEDUR AUDIT BIDANG DANA
DAN JASA DALAM NEGERI
A. EVALUASI INTERNAL CONTROL (EIC)
Sebelum melaksanakan audit bidang ini terlebih dahulu perlu diadakan penilaian
internal control dengan menggunakan internal control Questionaire seperti pada
pelajaran Dasar-dasar Audit buku 3 tentang Sistem Pengendalian Intern.
Daftar pertanyaan internal control ini digunakan untuk suatu bank/cabang ukuran
kecil dimana antara kegiatan giro, deposito, jasa dan lain-lain tidak dipisahkan
secara tegas (secara otonom).
Apabila bank/cabang tersebut cukup besar dan masing-masing sub kegiatan yang
ada telah berdiri secara otonom dan juga telah dipakai unit-costing tersendiri,
maka evaluasi Internal Control tersebut dapat dilakukan lebih terperinci ke masing-
masing unit kegiatan.

INTERNAL CONTROL QUESTIONAIRE


BIDANG DAN JASA DALAM NEGERI
Periode ……. s/d………….
NO PERTANYAAN YA/TIDAK
1. Apakah terdapat pembagian kerja fungsionil yang tegas antara
kasir, front office, teller, administrasi kas?
2. Apakah ada gradasi wewenang otorisasi pembayaran?
3. Apakah ada tingkat-tingkat gradasi wewenang/otorisasi
penandatanganan tanda terima setoran?
4. Apakah posisi uang tunai yang dikuasai kasir setiap hari
dicocokan dengan administrasi kas?
5. Apakah uang tunai yang dikuasai kasir selalu diadakan kas
opname setiap hari?
6. Apakah stock formulir-formulir berharga selalu diadakan stock
opname secara periodik?
7. Apakah kode-kode rahasia selalu disimpan/dikuasai oleh
pejabat yang ditunjuk untuk itu?

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 3


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

8. Apakah kartu-kartu spesimen tanda tangan nasabah telah:


a. Diadministrasikan dengan baik
b. Dilegalisir oleh pejabat yang berwenang untuk itu
c. Dikuasai oleh pejabat yang berwenang untuk itu
9. Apakah passwords untuk terminal-terminal dijaga
kerahasiaannya?
10. Apakah transaksi-transaksi yang menggunakan kode rahasia
selalu ditest terlebih dahulu sebelum diproses lebih lanjut?
11. Apakah terdapat pembagian tugas untuk menyimpan kunci-
kunci khasanah/strongroom?
12. Apakah bilyet baki/confirmation letter yang dikirim kepada para
pemegang rekening dijawab lebih dari 90%?
13. Apakah jumlah pegawainya mencukupi?
14. Apakah kualitas pegawai sesuai dengan tanggung jawabnya?
15 Apakah baki-baki rekening nasabah yang dikelola bagian
opersionil dicocokan tiap hari dengan bagian Accounting?
16. Apakah bank tersebut mempunyai/dilengkapi:
- Strong room/ruang khasanah
- Tempat arsip tahap api
- Bulgar alarm Signal
17. Apakah Validating Stamp Teller compatible dengan teller
machine?
18. Apakah out put, front office teller dicocokan tiap hari dengan out
put, back office operator baik secara manual/audit trought the
computer?
19. Apakah saldo uang tunai yang dikuasai teller tiap hari selalu
dibandingan dengan saldo menurut out put yang bersangkutan
(saldo kemarin ditambah mutasi kredit debet)?
20. Apakah masing-masing terminal telah dapat memprodusir
exeption report?
21. Apakah exception report selalu diselesaikan?
22. Apakah tidak terjadi over liquidity dana?
23. Apakah tidak terjadi under liquidity dana?
24. Apakah terdapat gradasi wewenang dari Customer
Service/Branch Manager untuk:
- Penetapan tarif interest Rate dana/tariff jasa-jasa bank

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 4


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

- Wewenang dalam pemberian overdraft


- Penanda tanganan bilyet deposito/tabungan
- Penetapan krus valuta asing
25. Apakah kelayakan sarana otomasi telah memadai :
- Back Up System/Dissaster Recovery program
- Sarana Otomasi kliring
- Mesin ATM
- Sarana komunikasi fax, Teller, Swift, telpon.
26. Dalam penggunaan nomor-nomor urut transaksi-transaksi yang
dilakukan tidak terdapat nomor-nomor loncat?
27. Dalam penggunaan nomor-nomor urut transaksi, tidak terdapat
nomor urut yang kembar?
28. Apakah tidak sering terjadi cross clearing?
29. Apakah tidak sering terjadi overdraft?
30. Apakah asuransi untuk CIT dan CICB telah ditutup?

Rekapitulasi jawaban YA = ………… % Jawaban TIDAK = ………… %


Penilaian Sistem Internal Control:
Jawaban Ya 95% s/d 100% = baik
Jawaban Ya 86% s/d 94% = cukup
Jawaban Ya 63% s/d 85% = sedang
Jawaban Ya dibawah 63% = kurang
Kesimpulan Internal Control : Baik/sedang/cukup/kurang.
Disusun di ……………………................., tanggal ……………………………………

(…………………………….. )
Bank Auditor

B. PROSEDUR AUDIT DANA PERBANKAN


Sumber-sumber Dana Perbankan bermacam-macam tetapi ada beberapa yang
penting yaitu: Giro/Demand Deposit, Deposito berjangka/time Deposit,
Tabungan/saving Deposit dan lain-lain bentuk setoran jaminan.

B.1. Prosedur Audit Giro/Demand Deposit

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 5


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

1. Adakah penelitian terhadap status yuridis nasabah apakah telah cakap


menurut hukum?
2. Teiliti kelengkapan penyampaian data-data nasabah yang bersangkutan
apakah telah memadai?
- Copy-copy akta pendirian
- Photo copy izin-izin usaha
3. Apakah pengisian formulir aplikasi/permohonan menjadi nasabah telah diisi
lengkap?
4. Apakah perjanjian pembukuan rekening giro antara bank dan nasabah
telah lengkap ditandatangani masing-masing pihak?
5. Apakah kartu spesimen tanda tangan penarik telah jelas dan telah
dilegalisir oleh pejabat bank? dan dikuasai oleh pejabat yang berwenang.
6. Apakah pemberian Chek/Giro bilyet telah dilakukan dengan tertib?
- Hanya diberikan kepada nasabah berhak
- Resi chek/giro bilyet telah diadministrasikan dengan baik
- Nomor rekening yang tertera pada chek/giro bilyet tersebut telah sesuai
dengan nomor rekeningnya?
7. Apakah setiap overdraft pada rekening Giro telah dibebankan bunganya
dan dapat diselesaikan dengan baik oleh nasabah?
8. Apakah perhitungan jasa/giro telah dilakukan dengan benar?
9. Apakah saldo pada Rekening Koran telah dicocokkan dengan buku besar
controlling accountnya?
10. Apakah setiap penarikan check selalu diteliti:
o Daluwarsa check
o Kelengkapan penanda tangan
o Check tidak cacat
o Tulisan dan angka-angka sama
11. Apakah otorisasi pembayaran check telah sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang ada pada bank bersangkutan?
12. Apakah map-map pembuka rekening giro telah disimpan secara aman dan
tertib?
13. Apakah biaya-biaya yang ada sehubungan dengan pemeliharaan rekening
giro tersebut telah dibebankan ke rekening nasabah yang bersangkutan?
14. Apakah penyimpanan kartu-kartu Rekening Koran, kartu-kartu spesimen
telah aman dan dikuasai oleh petugas yang berwenang untuk itu?
15. Apakah nasabah sering melakukan cross clearing dan apakah dapat
diselesaikan dengan baik?

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 6


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

16. Apakah nasabah yang sering melanggar ketentuan check/giro bilyet


kosong telah dikenakan sangsi sebagaimana mestinya?
17. Apakah pengiriman saldo giro bilyet (confirmation letter) tertib dijawab oleh
nasabah, berapa persen yang mengembalikan ke bank?
18. Apakah setiap penarikan/pembayaran dan setiap setoran telah dibukukan
dengan segera pada saat itu juga?
19. Apakah untuk rekening-rekening nasabah yang ditutup/diskors, check dan
giro yang belum terpakai diadministrasikan dengan baik?

B.2. Prosedur Audit Deposito Berjangka/Time Deposit


1. Apakah prosedur penerbitan Deposito Berjangka telah sesuai dengan
ketentuan yang berlaku bagi bank yang bersangkutan dan apakah benar-
benar telah ada disetoran tunai/pemindah bukuan?
2. Apakah penandatanganan bilyet Deposito Berjangka telah dilakukan oleh
pejabat-pejabat yang berwenang untuk itu?
3. Apakah spesimen tanda tangan deposant telah dilegalisir oleh pejabat yang
berwenang dan disimpan dengan aman dan tertib?
4. Apakah penghitungan suku bunga dan pembebanan/pembayarannya telah
dilakukan dengan benar?
5. Apakah penerbitan deposito tersebut telah dicatat dalam buku-buku
pembantu yang disiapkan untuk maksud tersebut secara tertib?
6. Apakah berkas-berkas penbukuan rekening deposito disimpan dalam map-
map dan diarsipkan secara tertib dan aman?
7. Apakah stock bilyet deposito yang belum digunakan telah diadministrasikan
dengan tertib dan aman?
8. Apakah pencairan kembali nilai pokok dari bilyet deposito telah dilakukan
sesuai dengan prosedur yang berlaku pada bank tersebut?
9. Apakah bilyet deposito yang dicairkan tersebut telah diperforasi Paid,
sehingga tidak dapat dipergunakan kembali.
10. Terhadap bilyet-bilyet deposito yang hilang apakah telah diambil
pengamanan-pengamanan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku
pada bank yang bersangkutan.
11. Apakah untuk mengadministrasikan deposito tersebut dibuatkan kartu-
kartu deposito dan apakah telah diisi dengan benar/diadministrasikan
secara lengkap.
12. Apakah perincian deposito yang diterbitkan jumlahnya telah sama dengan
buku besar yang disusun oleh bagian accounting.

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 7


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

B.3. Prosedur Audit Tabungan (Saving Deposit)


1. Apakah prosedur pembukuan rekening tabungan telah sesuai dengan
ketentuan yang berlaku pada bank yang bersangkutan?
2. Apakah spesimen tanda tangan dan identitas pribadi telah dilegalisir oleh
petugas yang berwenang untuk itu?
3. Apakah penarikan/penyetoran tabungan telah sesuai dengan sistem dan
prosedur yang berlaku?
4. Apakah setiap mutasi debet/mutasi kredit telah dipostingkan pada
rekening tabungan yang bersangkutan pada saat itu juga?
5. Apakah Password, Pin Penabung dikelola secara baik dan aman?
6. Apakah Sheet/Out Put tabungan cocok dengan daftar mutasi yang ada
yang didukung oleh warkat penyetoran/penarikan?
7. Apakah perhitungan dan pembebanan bunga telah benar?
8. Apakah pemberian kupon hadiah penabung telah diberikan secara adil?
9. Apakah undian hadiah tabungan telah dilaksanakan secara fair?
10. Apakah hadiah tabungan telah diberikan kepada penabung yang berhak?
11. Apakah bilyet saldo tabungan (Confirmation Letter) dikrim ke penabung
dan dikembalikan ke bank oleh penabung?
12. Apakah saldo buku besar tabungan jumlahnya cocok dengan rincian
rekening tabungan?

C. AUDIT PROSEDUR JASA-JASA PERBANKAN DALAM NEGERI


Ada beberapa bentuk jasa yang dipasarkan oleh perbankan di dalam negri antara
lain: Transfer/Pengiriman uang, Wesel, Travelers Check, Safe Deposit Box,
Kliring, Inkaso/Collection dan jual beli surat-surat berharga. Kegiatan-kegiatan jasa
ini biasanya beroperasi dengan kecepatan yang tinggi dan frekuensi yang besar
pula, sehingga cukup rawan bila salah bayar, salah buku dan lain-lain. Oleh
karena itu dalam pemeriksaan oleh Bank Auditor harus dilakukan dengan tingkat
ketelitian yang tinggi pula.

C.1. Audit Prosedur Transfer/Wesel


1. Apakah prosedur transfer/wesel telah dilakukan sesuai dengan prosedur
yang berlaku pada bank yang bersangkutan.
2. Apakah transfer/wesel tersebut dananya telah efektif diterima oleh bank
pengirim?

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 8


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

3. Apakah nama/alamat/nomor rekening dan nama yang dituju telah jelas?


4. Apakah kode rahasia/nomor urut pada dokumen transfer/wesel telah
digunakan secara benar?
5. Apakah penyimpanan dan pemakaian daftar kode rahasia/nomor urut
tersebut telah dilakukan dengan aman dan tertib?
6. Apakah biaya yang timbul sehubungan dengan perintah pengiriman
taransfer/wesel tersebut (kalau ada) telah diperhitungkan dan dibebankan
dengan benar?
7. Apakah pelaksanaan amanat transfer tersebut dilakukan sesuai dengan
permintaan dari nasabah? Kalau Telegraphyc transfer yang dilakukan
sesuai dengan telex/telegram, dan seterusnya?
8. Apakah penandatanganan dari warkat transfer/wesel tersebut telah
dilakukan oleh pejabat yang berwenang untuk itu?
9. Teliti apakah amanat dari warkat transfer masuk telah diteruskan kepada
pihak yang seharusnya?
10. Teliti apakah terdapat nomor transfer/wesel yang meloncat atau kembar
untuk menghindarkan adanya pembayaran transfer dua kali, transfer yang
tidak sampai dan lain-lain?
11. Apakah amanat transfer yang belum diambil/dibayarkan dalam jangka
waktu lama telah diadakan pengadministrasian dan pengamanan yang
memadai?
12. Sedangkan khusus untuk wesel selidikilah apakah ketentuan-ketentuan
penerbitan wesel telah sesuai dengan kertentuan yang berlaku.
13. Teliti apakah atas transfer masuk/wesel masuk nomor-nomor rahasianya
telah ditest kembali.
14. Apakah stock blanko wesel yang belum terpakai diadministrasikan dengan
tertib dan aman?
15. Apakah wesel yang dilaporkan hilang telah dilakukan pengamanan yang
memadai? Begitu juga untuk wesel yang dibatalkan?
16. Apakah perincian dari transfer/wesel yang out standing telah dicocokan
dengan buku besar yang disusun oleh bagian Accounting?

C.2. Audit Prosedur Untuk Inkaso/Colloction (Non-Online System)

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 9


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

1. Teliti apakah pelaksanaan aplikasi inkaso telah dilakukan sesuai dengan


prosedur yang berlaku pada bank yang bersangkutan?
2. Teliti apakah warkat-warkat yang akan diinkasokan telah dibubuhi inkaso
agar tidak dapat diambil secara tunai?
3. Apakah pengiriman warkat telah dilakukan secara aman dan tertib/tercatat
serta dilaksanakan dengan segera, hari itu juga?
4. Apakah biaya yang timbul (kalau ada) telah diperhitungkan dan
dibebankan dengan benar?
5. Apakah penerusan hasil inkaso telah dibukukan/dibayarkan sesuai dengan
amanat yang diberikan oleh nasabah?
6. apakah warkat yang ditolak inkasonya telah dikembalikan kepada nasabah
dengan segera?
7. Apakah adminisatrasi/pencatatan dalam rekening administratif inkaso
telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada pada bank
bersangkutan?

C.3. Audit Prosedur Treveller Check (T/C) Dalam Negeri


1. Apakah prosedur penjualan T/C tersebut telah dilakukan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku pada bank yang bersangkutan, baik untuk para
agen/maupun untuk bank itu sendiri.
2. Apakah dalam penjualan T/C tersebut dananya telah diterima efektif pada
bank penerbit?
3. Apakah T/C yang dijual tersebut telah ditandatangani terlebih dahulu pada
kolom spesimen tanda tangan yang tersedia pada bilyet T/C tersebut?
4. Apakah pengawasan T/C yang hilang telah dilakukan secara memadai?
5. Apakah prosedur pembelian kembali/pencairan T/C telah dilakukan sesuai
dengan prosedur yang berlaku pada bank yang bersangkutan tersebut?

C.4. Audit Prosedur Kegiatan Kasir


1. Adakah pengamatan physik apakah ruangan kasir telah di lengkapi
dengan alarm burgler dan adakah percobaan alat itu berfungsi atau tidak?
2. Apakah pemegang kunci pintu khazanah dan nomor kombinasinya
dikuasai lebih dari satu orang pejabat teras bank tersebut?
3. Apakah duplikat kunci pintu khazanah dan nomor kombinasinya disimpan
pada bank lain yang terdekat dengan bank yang bersangkutan?
4. Teliti apakah saldo uang tunai yang dikuasai oleh kasir selalu cocok
dengan uang tunai yang dikuasainya pada sore hari kerja sebelumnya?

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 10


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

5. Apakah kas opname pada pagi hari/sore hari dikerjakan oleh pejabat yang
tidak berhubungan langsung dengan tugas perkasiran sehari-hari.
6. Apakah saldo uang tunai yang dikuasai oleh kasir telah cocok dengan
uang tunai yang tersedia pada saat kas opname dan telah cocok dengan
controlling account yang disusun oleh bagian accounting/cash register dan
lain-lain.
7. Apakah asuransi untuk Cash In Transit dan Cash In Chasier Box telah
dilaksanakan dengan jumlah nilai penutupan yang memadai?
8. Adakan testing apakah peralatan untuk memeriksa dokumen palsu dan
alat-alat penghitung uang tunai berjalan dengan lancar dan berfungsi
dengan baik?

C.5. Prosedur Audit Untuk Kliring


1. Adakan rechecking apakah setiap warkat yang akan dikliringkan telah
dibubuhi Stempel Kliring untuk menjaga agar jangan sampai warkat itu
diambil tunai oleh pihak lain.
2. Apakah nota/bukti penyetoran warkat yang akan dikliringkan telah
ditandatangani dan diadminstrasikan sesuai dengan ketentuan-ketentuan
yang berlaku pada bank yang bersangkutan.
3. Apakah jumlah warkat dan jumlah nominal dari warkat yang akan
dikliringkan telah cocok dengan daftar kliring/rekapitulasi yang akan
diserahkan kepada lembaga kliring.
4. Apakah nomor kode kelompok peserta kliring dari bank yang bersangkutan
telah dicantumkan.
5. Begitu juga jumlah warkat dan jumlah nominal dari warkat yang diterima
telah cocok dengan rekapitulasi penerimaan kliring.
6. Teliti apakah terdapat setoran warkat kliring yang sebetulnya ditolak tetapi
rekening nasabah tetap dikredit dan sebaliknya apakah tidak ada warkat
kliring masuk yang dananya tidak cukup namun tidak dilakukan penolakan?

C.6. Prosedur Audit Untuk Teller


Dalam system tellerisasi yang diterapkan untuk melayani para nasabahnya,
maka para teller biasanya dilengkapi dengan sarana computer, sehingga
fungsi administrasi yang harusnya terpisah dari fungsi teller sebagai kasir
dilaksanakan oleh perangkat computer yang ada. Hingga dengan demikian
sebelum Bank Auditor melaksanakan kegiatan auditnya, maka terlebih dahulu

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 11


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

perlu melakukan evaluasi Internal Control di bidang tellerisasi yang dapat


dipelajari pada seperti tersebut Questionaire di bawah.

Prosedur Audit Teller.


1. Adakan Kas opname dari masing-masing valuta yang dikuasai teller/head
teller apakah saldonya telah sama dengan saldo yang dicatat pada buku
besar/general ledger kas.
2. pastikan bahwa setiap setoran yang diterima teller telah dibukukan segera,
check validating printer.
3. Pastikan bahwa setiap pembayaran yang dilakukan oleh teller sesuai
dengan kewenangannya, check exception report.
4. Adakan review apakah overnight deposit pada teller jumlahnya wajar, tidak
melebihi ataupun lebih kecil dibandingkan standing order-nya.
5. Periksa asuransi atas cash in chasier box dan cash in transit apa masih
valid.
6. Adakan observasi apakah sarana kerja untuk teller tersedia dan berfungsi
dengan baik misalnya, lampu ultraviolet, currency validator, dollar tester, uv
hand magnifier perforator paid, mesin penghitung uang, validating machine
yang compatible dengan computer, alarm system dan lain-lain.
7. Apakah kunci-kunci pintu khasanah pengelolaannya telah dilakukan prinsip
joint custodianship.

C.7. Prosedur Audit Atm


Adakan penelitian apakah :
1. Proses terminal balancing yaitu penelitian jumlah-jumlah transaksi dan
jumlah uang yang ada pada terminal ATM telah cocok.
2. Adakan Mid Point Cash Adjusmen yaitu proses penyesuaian jumlah uang
tunai yang ada pada catridge telah cocok.
3. Adakah jumlah Cut Over yaitu proses penetapan batas waktu di dalam
memisahkan transaksi ATM baik yang menyangkut terminal Cut Over,
Institution Cut Over maupun Logical Network Cut Over.
4. Adakan Review proses extract yaitu proses transmit data diterminal ke
computer untuk mengupdate rekening (giro) dan proses verifikasi
hubungan antar kantor apakah telah cocok.
5. Adakan penelitian proses refresh yaitu proses update status non aktif
menjadi aktif, yaitu proses Close to Open apakah dilakukan dengan benar.

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 12


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

6. Teliti Usage Accumulation Total (jumlah penarikan yang telah dilakukan


oleh pemilik kartu) telah benar.
7. Apakah jumlah Withdrawl Limit telah benar jumlahnya yaitu sama dengan
Total Found dikurangi Available Found.
8. Adakan rekonsiliasi ATM yaitu pencocokan data transaksi dengan phisik
uang tunai telah cocok.
9. Adakan penelitian apakah pemenuhan syarat-syarat umum pembukaan
rekening ATM telah terpenuhi.
10. Proses pemberian PIN (Personal Identification Number)/Pasword apakah
telah dilaksanakan dengan aman dan hanya diberikan pada yang berhak.
11. Adakan pengecekan apakah proses penerbitan maupun penggantian kartu
ATM telah mengikuti prosedur yang ada. Perhatikan pula:
- Proses Embosing apakah telah sesuai dengan data nasabah.
- Proses Encoding apakah telah sesuai dengan data nasabah
12. Apakah status Cardholder Authirization File yaitu arsip pemeggang kartu
ATM telah lengkap.
13. Adakan Recheck Reset Usage Accumulation yaitu proses penilaian jumlah
transaksi artinya pemegang kartu dapat menarik limitnya kembali.
14. Adakan pengamatan terhadap pengamanan kartu ATM yang ditahan (tidak
Valid lagi) mekanismenya telah benar:
- Salah PIN lebih 3 kali
- Bila kartu telah habis waktu
- Bila Rek CAF ditutup.
- Bila kartunya dinyatakan hilang.
15. Apakah penetapan overnight limit/cash standar telah memadai jumlahnya.
16. Adakan penelitian apakah pengguna administration card/kartu untuk
mengoperasi kan ATM telah dilaksanakan sesuai prosedur yang ada.

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 13


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Latihan Soal 1
Study Kasus Bidang Dalam Negri
“A” Seorang nasabah giro BANK JATIM Cabang Gresik membuka Rekening tanggal
12 Januari 19A . Untuk melengkapi syarat-syarat pembukaan Rekening Giro tersebut
“A” telah menyerahkan foto copy.
1. Akte pendirian PT A (dimana A tercantum sebagai direktur utama) In Opricting.
2. izin-izin Usaha Perdagangan.
3. Kartu Penduduk
4. Referensi pembukaan rekening
Nasabah juga telah menandatangani :
- Formulir permohonan Pembukaan Rekening Giro
- Formulir perjanjian Pembukaan Rekening Giro
- Kartu specimen/tanda tangan.
- Dan lain-lain

Syarat-syarat normalitas telah dilengkapi sebagai mana mestinya. Setelah nasabah


menyetorkan uang tunai Rp.50 juta maka yang bersangkutan mendapatkan buku cek
25 lembar bilyet Giro 25 lembar.

Sejak penyetoran tersebut telah terjadi mutasi penyetoran 10 kali dengan total
Rp.21.500.000,- (total) dan penarikan 22 kali dengan nilai total Rp.71.000.000,-
selama periode 6 bulan pertama. Dan kepada nasabah juga telah diberikan buku
cheque/bilyet Giro masing-masing berisi 25 lembar. Pada tanggal 15 juli 1985
nasabah menyetor check PT. XYZ untuk keuntungan rekeningnya. (seperti diketahui
PT. XYZ pada BANK JATIM merupakan nasabah utama yang mempunyai 12
rekening dengan mutasi rekening + Rp 120 Milyard/1 tahun dengan rata-rata mutasi
125 s/d 150. (Setoran/penarikan) tiap hari saldo rata-rata Rp. 2 s/d 5 milyard.

Cheque PT XYZ yang disetorkan ke Rek. PT “A” bernilai Rp.175.000.000,- dan pada
hari itu juga ditarik lewat clearing seluruhnya.
Pada Akhir setiap bulan BANK JATIM menyampaikan Rekening Korannya kepada
setiap nasabahnya antara lain juga kepada PT XYZ. Dan ternyata PT. XYZ
menyampaikan protes bahkan yang bersangkutan tidak pernah mengeluarkan
Cheque untuk pembayaran kepada PT A sebesar Rp.175.000.000,- . atas protes ini
BANK JATIM memeriksa arsip Cheque yang bersangkutan ke labolatorium criminal
dan dapat disimpulkan :

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 14


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

- Cheque asli dikeluarkan oleh BANK JATIM yang bersangkutan.


- Ada tanda-tanda perubahan pada huruf-huruf/angka-angka yang dikerjakan
sangat rapi dan professional.
- Tanda tangan sulit dibedakan asli/tidaknya
- Stempel persis sama.

Setelah mendapatkan kesimpulan di atas, kemudian oleh BANK JATIM diturunkan


petugasnya ke alamat PT. A diperoleh keterangan bahwa A menempati alamat GD.
Atas dasar kontrak 3 bulan (menurut perjanjian 12 bulan tapi baru dibayar dimuka 3
bulan saja).

Tugas:
Saudara ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan pada kasus di atas, selidiki
kemungkinan-kemungkinan modus operasi yang digunakan oleh A dalam
tindak manipulasi di atas.

Latihan Soal 2
Pembuatan Over View Flow Chart
Sistem Prosedur pembelian Deposito Berjangka di suatu bank yang saudara periksa
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Para nasabah yang ingin membeli Deposito Berjangka pada bank tersebut
diminta untuk mengisi FAD (Formulir Aplikasi Deposito) dalam 4 rangkap,
formulir ini dapat diperoleh pada Desk Information. Setelah FAD diisi sesuai
dengan keinginan nasabah yang bersangkutan diminta pula untuk
menandatangani formulir tersebut.
2. Setlah FAD diisi lengkap dan setelah direcheck ulang petugas Desk Information,
kemudian nasabah menyerahkan FAD tersebut dilampiri dengan CHEQUE/BG
atau uang tunai ke kasir. Setelah dananya efektif diterima (dalam hal setoran
tunai) maka kasir menandatangani FAD tersebut dan menyerahkan kembali ke
nasabah lembar terakhir, sebagai bukti penerimaan tunai untuk penukaran
engan bilyet Deposito yang asli.
3. Setelah itu kasir menahan (menyimpan) 1 lembar FAD yaitu lembar ke 3 sebagai
bahan administrasi kasir itu sendiri. Selanjutnya kasir menyerahkan FAD ke
Kepala Bagian Dana (setelah terlebih dahulu menerima tanda

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 15


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

penyerahan/penerimaan Kepala Bagian Dana pada FAD lembar 3 yang


diarsipkan oleh kasir). FAD lembar 3 tersebut kemudian dicatat dalam Buku
Debet Kas kasir.
4. Kepala Bagian Dana me-rechek sekali lagi tentang kejelasan identitas nasabah
suku bunga deposito, jangka waktu, jumlah nilai nominalnya dan lain-lain apakah
sudah sesuai dengan ketentuan yang ada. Dan sebagai tanda persetujuannya
Kepala Bagian Dana membubuhkan tanda tangannya sebagai
persetujuan/otorisasi penerbitan bilyet deposito yang bersangkutan.
5. FAD lembar 1 dan 3 diserahkan kepada bagian treasury yang menyimpan
formulir-formulir surat berharga, 1 lembar FAD yaitu lembar ke 2 ditahan oleh
bagian treasury sebagai bukti penyerahan Fomulir Bilyet Deposito (FBD) yang
masih kosong rangkap 5.
6. FAD & FBD diserahkan kembali ke bagian dana untuk kemudian oleh seksi
deposito FBD tersebut diisi nama nasabah, tanggal penerbitan, nilai nominal,
jangka waktu suku bunga, jatuh waktu dan lain-lain sesuai dengan FAD.
7. Oleh Bagian Dana dalam hal ini oleh Seksi Deposito juga dibuat kartu
pengawasan deposito yang dipakai sebagai alat kontrol Pembayaran Bunga
Deposito setiap bulan dan control pembayaran kembali nominal deposito yang
bersangkutan pada saat jatuh tempo.
8. Kepala seksi deposito mengadakan recheck pengisian FBD dan KPD dan kalau
sudah setuju langsung diparaf.
9. FBD tersebut terdiri dari 5 yang digunakan untuk :
 Lembar 1 untuk nasabah asli
 Lembar 2 untuk arsip Seksi Deposito
 Lembar 3 untuk jurnal deposito dan diteruskan ke bagian Accounting.
 Lembar 4 untuk laporan ke Kantor Pusatnya
 Lembar 5 untuk arsip cadangan yang disimpan oleh bagian sekertariat untuk
tujuan Back-up system.
10. Kembali ke butir 8, setelah kepala seksi Deposito membutuhkan paraf untuk
FBD dan paraf pada kartu deposito pengawasan, maka FAD/KPD/FBD
diteruskan kepada kepala bagian dana menandatangani KPD dan
membubuhkan paraf pada FBD.
11. FAD/KPD/FBD kemudian diserahkan kepada Deputy Manajer untuk
ditandatangani sebagai bukti/tanda pengesahan bahwa FBD telah valid dan
dapat diserahkan kepada nasabah yang berhak.
12. Sewaktu-waktu nasabah akan mengambil Bilyet Deposito Asli ia harus dapat
kembali menyerahkan FAD lembar 4 untuk ditukar dengan FBD asli, di samping

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 16


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

itu juga ia harus menandatangani pula KPD sebagai bukti yang bersangkutan
telah menerima FBD yang asli tersebut.
13. Lembar 2 FBD oleh bagian dana dipakai untuk dasar penyusunan perincian
neraca mengenai deposito yang Outstanding.
14. Lembar 3 FBD yang berisi jurnal deposito selanjutnya dipakai untuk
penyusunan buku besar deposito yang Outstanding.
15. Pada setiap tanggal tertentu setiap bulan nasabah dapat menerima bunga
deposito dengan menunjukkan bilyet yang asli
16. Pada waktu pelunasan Nominal Deposito nasabah juga harus dapat
menyerahkan kembali Bilyet yang asli.

Pertanyaan :
1. Buatlah overview flow chart pembelian atau penerbitan deposito pada bank
tersebut di atas.
2. Dimana control point yang dapat saudara pakai pada titik tolak pemeriksaan.
3. Tunjukkanlah kelemahan-kelemahan system prosedur di atas serta bagaimana
saran-saran perbaikan yang dapat saudara sampaikan.

BUKU 3.2 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 17


Buku 3.3

AUDIT BIDANG
PERKREDITAN
DAFTAR ISI
Halaman

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


BAB II PROSEDUR AUDIT BIDANG PERKREDITAN ....................................... 3
KEBIJAKAN PERKREDITAN BANK ....................................................... 3
EVALUASI INTERNAL KONTROL ......................................................... 7
PROSEDUR AUDIT KREDIT INVESTASI ............................................ 10
PROSEDUR AUDIT EXPLOATASI UMUM .......................................... 16
PROSEDUR AUDIT KREDIT USAHA KECIL ....................................... 18
PROSEDUR AUDIT UNTUK ASURANSI KREDIT ............................... 20
PROSEDUR AUDIT UNTUK BNK GARANSI ....................................... 20

LATIHAN ............................................................................................................. 21
PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB I
PENDAHULUAN
Bidang perkreditan di Indonesia sampai saat ini masih merupakan bidang kegiatan
perbankan yang mempunyai proposi assets/pendapatan bunga yang besar
dibandingkan dengan berbagai kegiatan lainnya. Sudah sepantasnya apabila Bank
Auditor memberikan perhatian yang besar dalam melaksanakan kegiatanya. Salah
satu tujuan dari audit bidang perkreditan yaitu, mengurangi terjadinya
kegagalan/debitur macet yang merupakan pukulan berat bagi bank yang
bersangkutan. Berbagai sebab kegagalan perkreditan tersebut selain diakibatkan
faktor-faktor extern/makro ekonomis, juga diakibatkan faktor-faktor intern bank itu
sendiri. Oleh karena itu dalam melaksanakan auditnya, auditor juga harus
memusatkan perhatiannya pada sebab-sebab terjadinya kegagalan/kemacetan kredit
yang mungkin terjadi menimpa bank yang bersangkutan.

A. Sebab-Sebab Kegagalan Perkreditan


1. Adanya self dealing:
Yaitu, adanya Vested Interest (kepentingan pribadi) dari para eksekutif bank
dalam memutuskan kreditnya sehingga tidak obyektif lagi dan melanggar
prinsip-prinsip perkreditan yang sehat, self dealing ini erat hubungannya
dengan masalah mental yang kurang baik dari pejabat bank

2. Tidak terdapatnya kebijaksanaan-kebijaksanaan kredit yang sehat (Non


Existence of Sound lending Policies)
Yaitu, ketidakadaan perencanaan kredit maupun ketidakadaan pedoman
dalam pelaksanaan kebijaksanaan perkreditan yang sehat serta tidak adanya
pedoman atau dasar/tehnik yang realistik dalam pemutusan pemberian kredit
kepada para nasabahnya

3. Incomplete Credit Information


Yaitu, jeleknya manajemen information system, baik dari lingkungan bank itu
sendiri maupun informasi-informasi yang menyangkut kegiatan usaha nasabah

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 1


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

yang bersangkutan. Akan mengakibatkan analisa pemutusan kredit didasarkan


informasi-informasi yang tidak lengkap hingga mengakibatkan keputusan yang
salah.

4. Failure to Obtain or Enforce liquidation agreement


Yaitu, ketidakmampuan untuk memperoleh atau mengambil tindakan likuidasi
sesuai isi perjanjian kredit yang disebabkan mungkin posisi yuridis bank yang
tidak menguntungkan tidak lengkapnya dokumen-dokumen yang menyangkut
legalitas nasabah dan seterusnya.

5. Technical Incompetency
Yaitu, kurang kemampuan tehnis para pejabat kredit dalam menganalisa
permohonan kredit hingga menghasilkan keputusan-keputusan yang salah,
begitu juga kurangnya kemampuan tehnis para pengelola kredit hingga
mengakibatkan kegagalan dalam pengelolaan kredit.

6. Poor Selection of Risk


Yaitu, ketidakmampuan eksekutif kredit dari bank yang bersangkutan dalam
melakukan seleksi resiko dalam pemberian kredit pada para nasabahnya.

7. Overfinancing Underfinancing
Yaitu, ketidakmampuan pengelola kredit dalam memberikan kredit dalam
jumlah sesuai dengan kebutuhan, baik ditinjau dari jumlahnya maupun ditinjau
dari timingnya, mungkin pemberian kredit selalu terlalu lambat ataupun juga
terlalu cepat.

8. Lack of Supervising
Yaitu banyaknya pinjaman yang cukup sehat pada saat kredit diberikan tetapi
karena tidak adanya pengawasan yang efektif, maka kredit-kredit tersebut
menjurus ke arah kredit macet dan lain-lain.

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 2


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB II
AUDIT POSEDUR
BIDANG PERKREDITAN
A. KEBIJAKSANAAN PERKREDITAN BANK
Di dalam upaya menekan atau menghindarkan secara dini kegagalan dalam
pemberian kredit, maka oleh Bank Indonesia pada tanggal 31 maret 1995 telah
mengeluarkan SE No 277/UPDB yang menetapkan setiap umum untuk
penyusunan dan pelaksanaan kebijaksanaan perkreditan bank, ada 6 (enam) hal
yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kebijaksanaan Perkreditan Bank
(KPB) tersebut yaitu:
1. Prinsip kehati-hatian dalam perkreditan.
Untuk menghindarkan kegagalan dalam pemberian kredit maka dalam
pemberian kredit tersebut setiap bank wajib memiliki pokok-pokok peraturan
mengenai tatacara pemberian kredit yang sehat, pokok-pokok pengaturan
pemberian kredit kepada pihak yang terkait dengan bank dan debitur besar
tertentu, kredit yang mengandung resiko yang tinggi serta kredit yang perlu
dihindari, untuk memantau kualitas kredit yang diberikan tersebut, bank juga
diharuskan melakukan penilaian kolektabilitas kredit sesuai dengan ketentuan
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Sudah tentu untuk dapat melaksanakan
prinsip kehati-hatian dengan baik maka semua pejabat bank yang terkait
dengan perkereditan termasuk anggota dewan komisaris dan direksi harus
melaksanakan kemampuan professionalnya di bidang perkerditan secara jujur
objektif, cermat dan seksama.

2. Organisasi dan manajemen perkreditan


Untuk lebih mendukung pemberian kredit yang sehat dan telah mengandung
unsur pengendalian intern mulai tahap awal proses kegiatan perkreditan maka
setiap bank juga wajib memiliki komitmen Kebijaksanaan Perkreditan (Credit
Policy Committe) dan Kredit Komite Kebijaksanaan kredit ini mempunyai tugas
membantu Direksi Bank dalam merumuskan kebijaksanaan, mengawasi
pelaksanaan kebijaksanaan, memantau perkembangan dan kondisi port folio
perkreditan serta memberikan saran-saran langkah perbankan. Sedangkan
komite Kredit mempunyai komite Operasional yang membantu Direksi dan
mengevaluasi dan atau memutuskan permohonan kredit untuk jumlah dan jenis

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 3


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

kredit yang ditetapkan oleh direksi, di samping itu juga harus melakukan
koordinasi dengan assets dan liabilities Committe dalam aspek pendanaan
kredit.

3. Kebijaksanaan persetujuan kredit


Persetujuan pemberian kredit merupakan langkah yang kritis dalam proses
perkreditan oleh karena itu bank diwajibkan mempunyai kebijaksanaan
persetujuan kredit yang sekurang-kurangnya mencakup Konsep Hubungan
Total Pemohon Kredit (Total Credit Relationship Concept), penetapan batas
wewenang kredit, tanggung jawab pejabat pemutus kredit, proses persetujuan
kredit, perjanjian kredit dan proses persetujuan pencairan kredit.

4. Dokumentasi dan administrasi kredit


Agar dapat melaksanakan kegiatan perkreditan dengan baik maka bank wajib
memiliki dokumentasi kredit yang baik, mengingat dokumentasi kredit salah
satu aspek penting yang dapat menjamin pengembalian kredit, Oleh karena itu
bank harus menetapkan jenis-jenis dokumen yang diperlukan sesuai degan
jenis kredit yang diberikan, serta harus memastikan keabsahan dan legalitas
setiap dokumen kredit yang diterbitkan oleh bank maupun yang diterima dari
nasabah. Selanjutnya dokumen kredit tersebut harus disimpan dengan aman
dan tertib. Tata cara pengunaan atau pengambilan dokumen kredit dari tempat
penyimpanan harus mengandung unsur pengamanan ganda. Di samping itu
bank juga wajib melaksanakan administrasi perkreditan yang baik mengingat
administrasi kredit sangat diperlukan dalam rangka penilaiaan perkembangan
dan kualitas kredit, pengawasan kredit, perlindungan kepentingan bank,
bahkan memastikan untuk penyusunan kebijaksaan perkreditan bank dan
laporan kepada Bank Indonesia Penatausahaan kredit tersebut tanpa
pengecualian harus dicatat dan dibukukan secara benar, lengkap dan akurat.

5. Pengawasan kredit
Mengingat perkreditan merupakan salah satu kegiatan usaha bank yang
mengandung kerawanan yang dapat merugikan bank yang pada gilirannya
dapat berakibat pada kepentingan masyarakat penyimpanan jasa dan
pengguna jasa perbankan, maka setiap bank wajib menerapakan dan
melaksanakan fungsi pengawasan kredit yang menyeluruh. Cakupan fungsi
pengawasan kredit sekurang-kurangnya meliputi:

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 4


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

 Apakah pemberian kredit telah dilaksanakan sesuai dengan KPB, prosedur


pemberian kredit dan ketentuan bank yang berlaku.
 Pemantauan perkembangan kegiatan debitur dan memberikan peringatan
dini mengenai penurunan kualitas kredit audit yang diperkirakan
mengandung resiko bagi bank.
 Apakah penilaian kolektabiltas kredit telah sesuai dengan ketentuan yang di
tetapkan oleh Bank Indonesia.
 Pembinaan dan pengarahan agar debitur dapat memenuhi kewajiban
terhadap bank.
 Pemantauan dan pengawasan secara khusus kebenaran pemberian kredit
kepada pihak terkait dengan bank dan debitur-debitur besar tertentu apakah
telah sesuai dengan KPB.
 Pemantauan pelaksanaan pengadministrasian dokumentasi kredit.
 Pemantauan kecukupan jumlah penyisihan cadangan aktiva produktif.

Untuk maksud di atas sudah tentu setiap bank harus memiliki struktur
pengendalian intern yang memadai dalam perkreditan yang mampu menjamin
bahwa dalam pelaksanaan perkreditan dapat dicegah terjadinya penyalahgunaan
wewenang oleh bebagai pihak bank yang dapat merugikan bank dan terjadinya
praktik pemberian yang tidak sehat.

6. Penyelesaian kredit bermasalah


Di dalam proses perkreditan bank akan selalu dihadapkan pada resiko timbulnya
kredit bermasalah yang selalu harus diwaspadai dan sedapat mungkin dapat
dicegah. Dalam upaya untuk meningkatkan pengawasan secara dini terhadap
kredit-kredit yang akan atau diduga akan merugikan bank, maka bank wajib
melakukan pengawasan secara khusus dan secara berkala wajib melakukan
evaluasi terhadap daftar kredit dalam pengawasan khusus tersebut serta hasil
penyelesaiannya. Apabila jumlah seluruh kredit dan kolektibilitasnya tergolong
diragukan dan macet mencapai 75% atau kriteria lain yang akan ditetapkan oleh
Bank Indonesia maka bank wajib untuk:
o melaporkan kredit bermasalah ke bank Indonesia
o membentuk satuan kerja penyelesaian kredit bermasalah
o menyusun program penyesuaian kredit bermasalah
o melaksanakan program penyesuaian kredit bermasalah
o melakukan evaluasi efektivitas program penyesuaian kredit bermasalah.

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 5


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Jadi kalau diteliti lebih mendalam sebab-sebab kegagalan kredit di atas terlihat
terutama disebabkan karena lemahnya Internal control. Oleh karena itu audit ini Bank
Auditor perlu memberikan perhatian yang besar pada Internal control bidang
perkreditan apakah telah memadai atau belum.

Di samping hal-hal di atas audit bidang kredit sesuai dengan sifat kegiatan
perkreditan yang dinamis. Maka para bank auditor juga dituntut pengetahuan yang
luas di bidang management, accounting, hukum, marketing, maupun berbagai
pengetahuan yang bersifat tehnis. Hal ini sangat membantu para Auditor dalam
membuat berbagai evaluasi atas Credit Worthiness kredit-kredit yang diberikan.
Sedangkan ruang lingkup (obyek) audit bidang kredit ini secara lengkap akan
meliputi:
- Credit Worthiness of Loan
- Legal effectiveness of Documentation
- Adequacy Security for Loan
- General Administration & Operation of Loan

Selanjutnya untuk mempermudah dalam melaksanakan audit maka dalam


pembahasan di sini, juga akan diperhatikan jenis-jenis kredit satu sama lainnya baik
secara tehnis maupun secara formalitas terdapat perbedaan-perbedaan cukup
berarti, hingga prosedur audit di sini akan mengevaluasi masing-masing jenis kredit
tersebut ditinjau dari dari 4 hal di atas, sedangkan jenis-jenis kredit itu sendiri secara
garis besar akan dibedakan sifatnya yaitu:
 Non Cash Loan, seperti Bank Garansi, Import Facility dan seterusnya
 Cash Loan – Untuk Kerdit Insvestasi
- Untuk Kredit Modal Kerja
Dari pembagian di atas akan diperinci lebih lanjut lagi, selain audit bidang perkreditan
itu sendiri yang menyangkut hubungan dengan nasabah, juga akan dibahas hal-hal
yang menyangkut intern management perkreditan dari bank yang bersangkutan.

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 6


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

B. EVALUASI INTERNAL CONTROL


Sebagai langkah pertama dalam melaksanakan audit Bidang Kredit perlulah
terlebih dahulu diadakan evaluasi Internal Control Perkreditan sebagai berikut.

BANK ……………………………… CABANG : …………………………


EVALUASI INTERNAL CONTROL
BIDANG PERKREDITAN
PERIODE PEMERIKSAAN : …………………………………… s/d ……………………

YA/
NO PERTANYAAN
TIDAK
1. Adakan penelitian apakah pada bank yang bersangkutan
telah memiliki pedoman/manual of operation di bidang
perkreditan.
2. Apakah manual of operation yang ada telah dapat dipakai
secara memadai dibandingkan dengan volume kredit,
jumlah nasabah debitur yang dikelolanya?
3. Apakah pejabat kredit mempunyai pengetahuan/kecakapan
yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-
masing?
4. Apakah telah terdapat pembagian/wewenang untuk
pemutusan pemberian kredit dari seorang pejabat?
5. Apakah antara kredit analisa (Loan Officer) dan Account
Officer diadakan pembagian kerja yang tegas?
6. Apakah dalam bank yang bersangkutan telah tersedia
cukup peralatan-peralatan yang diperlukan untuk
menyimpan dokumen-dokumen perkreditan secara aman
dan tertib?
7. Apakah dalam bank yang bersangkutan tidak terdapat
broker-broke/calo-calo untuk mengurus permohonan kredit?
8. Apakah dalam bank yang bersangkutan diadakan mutasi
pegawai/pejabat secara teratur
9. Apakah dalam bank yang bersangkutan mempunyai
lawyer/penasehat hukum yang bonafide/tinggi reputasinya?
10 Apakah dalam bank yang bersangkutan mempunyai
langganan notaris/public Accountant/Consultant yang
bonafide dan mempunyai reputasi yang tinggi?
11 Dalam memberikan kredit apakah bank yang
bersangkutan secara aktif melalui project identifikator
untuk memilih nasabah yang bonafide?
12 Dalam memberikan kredit apakah bank yang

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 7


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

YA/
NO PERTANYAAN
TIDAK
bersangkutan mengadakan disentralisasi sektor
ekonomi?
13 Apakah dalam melakukan penilaian barang jaminan
dilakukan oleh perusahaan appraisal (khususnya proyek
yang besar)?
14 Apakah dalam bank yang bersangkutan menerima laporan
keuangan posisi stock, laporan kegiatan usahanya dari
nasabah secara teratur minimum 1 bulan satu kali?
15 Apakah laporan keuangan dari para debitur yang besar
selalu diaudit public accountant?
16 Apakah dalam penyusunan Term of Reference dalam
penunjukan konsultan bank ikut aktif di dalamnya?
17 Apakah inspeksi on the spot ke tempat usaha para debitur
dilakukan secara teratur dan terencana?
18 Dalam penetapan suku bunga kredit apakah terdapat
diversifikasi bunga menurut resiko atas kredit yang
diberikannya?
19 Apakah oleh bank/cabang pemberi kredit secara
tetib/periodik diadakan penilaian kolektibilitas para
debiturnya?
20 Apakah tingkat kolektibilitas nasabah debiturnya di atas
95%?
21 Apakah dalam bank yang bersangkutan tidak terdapat
suatu group nasabah yang memperoleh berbagai kredit
dalam jumlah yang relative besar?
22 Apakah atas kredit yang diberikan selalu dicover/ditutupi
dengan jaminan kebendaan yang memadai?
23 Apakah setiap jaminan kredit ditutup asuransinya dengan
bankers clause?
24 Apakah dalam bank yang bersangkutan mengusahakan
bank to bank information atas calon-calon nasabah
debiturnya?
25 Apakah rekening Koran debitur nasabah selalu di kirim ke
nasabah secara teratur sehingga memungkinkan untuk
dilakukan rekonsiliasi secara teratur pula oleh
nasabahnya?
26 Apakah semua kredit yang diberikan selalu dibuatkan
ikatan perjanjian kredit yang lengkap?
27 Apakah semua dokumen-dokumen asli, sertifikat-sertifikat
barang jaminan dan lain-lain telah disimpan dalam strong-
room yang tahan api?
28 Apakah system pengarsipan dari bermacam-macam
dokumen yang menyangkut perkreditan telah diarsipkan
secara sistematis?

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 8


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

YA/
NO PERTANYAAN
TIDAK
29 Apakah waktu yang diperlukan untuk menghitung bunga
dan pembuatan nota debetnya tidak lebih dari 3 hari
setelah saat berakhirnya periode perhitungan bunga yang
bersangkutan?
30 Apakah setiap perjanjian kredit yang akan jatuh tempo
telah diproses penyelesaiannya/perpanjangannya sehingga
tidak ditemui adanya overdue?
31 Apakah bank telah mempunyai batasan wewenang
pemberian kredit?
32 Apakah C.PC.KK, telah melakukan tugasnya dengan baik
sesuai dengan KPB?
33 Apakah setiap tahun telah disusun anggaran kredit yang
disetujui Dewan Komisaris.

Rekapitulasi: jumlah Ya = ……………… Jumlah Tidak = ………………….


Jumlah Ya 26 s/d 30 = Baik
Jumlah Ya 21 s/d 25 = Cukup
Jumlah Ya 15 s/d 20 = Sedang
Jumlah Ya 1 s/d 14 = Kurang

………………….., Tanggal ………………

___________________
Bank Auditor

C. PROSEDUR AUDIT KREDIT INSVESTASI


C.1. Penilaian Credit Worthness (Untuk Nasabah Secara Individual)
1. Adakan evaluasi apakah betul bahwa pembiayaan kredit dikeluarkan untuk
membiayai proyek-proyek insvestasi rehabilitas dan seterusnya.
2. Apakah atas permohonanNya tersebut telah disusun fasibility study
consultant yang ?
3. Apakah kesimpulan konsultan tersebut menyatakan bahwa proyek yang
akan diajukan kredit tersebut feasible dan bankable?
4. Teliti apakah untuk proyek tersebut juga ditetapkan ketentuan self
financing apakah self financing tersebut memadai?
5. Apakah self financing yang dikeluarkan oleh pihak nasabah memang
benar-benar rill, tidak berasal dari hutang lain?

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 9


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

6. Apakah selama pembangunan proyek tersebut tidak terjadi over run cost,
dan apabila terjadi teliti lebih detail dari mana sumber over run cost
tersebut?
7. Teliti apakah proyek tersebut hanya dibiayai oleh bank yang bersangkutan
ataukah ada sumber-sumber pembiayaan lain yang secara informal dari
pihak ke tiga?
8. Teliti dari laporan perkembangan proyek (progress report) apakah terjadi
kemunduran/perpanjangan waktu penyelsaian proyek.
9. Apabila terjadi kemunduran dalam penyelesaian proyek apakah
mempunyai pengaruh yang berarti terhadap grace-periode dan rencana
angsuran kredit yang bersangkutan
10. Adakan inspeksi on the spot apakah betul-betul feasibility study tersebut
(khususnya mengenai proyek yang akan di biayai) telah sesuai dengan
realisasi physik?
11. Adakan evaluasi di manakah letak critical point proyek tersebut?
12. Apakah antara bidang yang kritis (critical point) dengan bidang-bidang
kegiatan yang lain telah terdapat keseimbangan yang proporsionil (aspek
pemasaran, aspek finansiil, aspek manajement, aspek bahan baku, aspek
tehnis dan lain-lain)
13. Adakan evaluasi untuk masing-masing aspek/bidang kegiatan apakah
terdapat hal-hal yang realitanya tidak sesuai dengan apa yang
direncanakan (diasumsikan) pada feasibility study?
14. apabila ada penyimpangan pada butir 13, tindakan-tindakan pengamanan
apa/corrective action apa yang telah dilakukan oleh Debitur maupun oleh
bank yang bersangkutan?
15. Susunlah analisa laporan keuangan dan teliti apakah posisinya cukup
sehat dan susunlah pula analisa komperatif untuk mengetahui
perkembangannya. Posisi finansill yang perlu dilihat antara lain:
o Current ratio : Current assets : Current Liabilities
o Acid test Ratio = (Current Assets-Inventories) : Current Liabilities (untuk
mengukur tingkat likuiditas)
o Turn over of raw material = Cost of raw material used : average raw
material.
o Turn over of inventories = Cost of goo sold: average inventories
o Trun over of receivable = Sales: average receivable.
o Turn over assets = Sales: Assets (untuk mengatur effectivitas
manajement nasabah)

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 10


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

o Net profit margin = laba setelah pajak : penjualan


o Return on Total assets = laba setelah Pajak : penjualan
o Return on Net Worth = Laba setelah Pajak : Modal Sendiri
o Break event point apakah di bawah volume usaha yang dicapai (untuk
mengukur tingkat profitabilitas usaha nasabah)
o Debt to assets ratio = Total hutang : Total aktiva
o Debt to fixed assets ratio = Total Hutang : Total fixed assets
o Debt to equity ratio = Total hutang : modal sendiri dan seterusnya
(untuk mengukur kemampuan sovabilitas nasabah)
o Apakah ratio-ratio tersebut di atas/di bawah standar yang normal?
16. Apakah volume kegiatan usaha yang dicapai oleh nasabah di atas design
Capacitynya, atau minimal telah mencapai di atas tingkat Break Event
Pointnya?
17. Apabila memungkinkan bandingkan pula market share dari product yang
dihasilkan oleh nasabah dengan product industri sejenis.
18. Untuk proyek-proyek yang mungkin mendapatkan bantuan likuiditas dari
Bank Indonesia, apakah likuiditas tersebut telah diterima?
19. Apakah bunga yang dipungut dari nasabah lebih besar dari cost of found
/cost of money dari bank yang bersangkutan.
20. Apabila intrest margin tersebut bila dihitung present valuenya sebesar rate
of inflation yang diperkirakan dan apakah akan menunjukan hasil yang
positif?
21. Apabila perusahaan nasabah merupakan suatu group (holding company)
teliti pula financial position/ratio-ratio keuangannya apakah juga cukup
sehat.
22. Buatlah evaluasi dari Sources And Uses of Fund nasabah saudara,
apakah terdapat penggunaan kredit untuk perusahaan-perusahaan lain
dari groupnya yang tidak dicover dengan perjanjian kredit.

C.2. Penelitian Legal Effectiveness Of Documentation


1. Teliti akte pendirian dan akte perubahan nasabah apakah memungkinkan
untuk memperoleh kredit atau apakah status yuridis perusahaan nasabah
memenuhi syarat untuk memperoleh kredit Insvestasi?
2. Teliti apakah izin usaha dari instansi yang berwenang telah lengkap dan
masih valid?
3. Teliti apakah calon (nasabah) telah memenuhi syarat sebagai subyek
hukum? (perhatikan status yuridisnya)

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 11


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

4. Teliti wewenang dan tanggung jawab pengurus perusahaan nasabah,


apakah yang bersangkutan telah bertindak sesuai dengan kapasitasnya
yang sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya seperti yang
tercantum dalam akte pendiriannya?
5. Apakah nasabah (perseroan maupun para pengurusnya) tidak termasuk
dalam daftar Black List yang dikeluarkan Bank Indonesia?
6. Adakan penelitian dari data pribadi para pengurus apakah telah memenuhi
syarat untuk mendapatkan kredit insvestasi (Bukti kewarganegaraan, surat
ganti nama, curriculum vitae) dan seterusnya.
7. Pelajari apakah nasabah memperoleh juga rekomendasi Letter of
Awareness of Comfort dan lain-lain dari perusahaan lain yang ?
8. Apakah nasabah telah memiliki nomor pokok wajib pajak yang masih
berlaku dan yang bersangkutan telah menyelesaikan segala kewajiban
Fiskalnya?
- Apakah Dokumen asli yang penting di atas secara physic telah dikuasai
oleh bank?
9. Adakan review/rechecking apakah nasabah telah menandatangani
perjanjian kredit secara lengkap antara lain meliputi:
- Perjanjian pokok atas kredit itu sendiri
- Perjanjian Cessie piutang
- Perjanjian Brogtocht/jaminan pribadi
- Perjanjian mengenai gadai barang bergerak dan effek serta surat
berharga lainnya
- Perjanjian pemasangan hipotik atau hak tanggungan atas benda-benda
tetap
- Surat aksep
- Surat persetujuan dari Komisaris/Dewan Komisaris atau rapat
pemegang saham kepada direksi perusahaan nasabah untuk
melakukan penanda tanganan perjanjian diatas apabila status
yuridisnya berupa perseroan terbatas/comanditer/
10. Apakah sertifikat barang jaminan/akte pendirian/perjanjian kredit dan
lampiran-lampirannya dan lain-lain, secara materil dan formil telah
memenuhi persyaratan yuridis?

C.3. Adequacy Of Security For Loan


1. Teliti daftar barang jaminan (kebendaan) yang diserahkan oleh nasabah
dan pisah-pisahkan dalam kelompok:

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 12


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

- resalevalue konstan/semakin tinggi – tanah, emas dan lain-lain


- resalevalue menurun pelan-pelan: Bangunan-bangunan/gedung
- resalevalue menurun drastis : mesin-mesin, alat-alat transportasi
2. Bandingkan estimasi resale value tersebut dengan posisi hutang nasabah
apakah memadai?
3. Apakah nasabah juga menyerahkan jaminan lainnya: Letter of guaranty
dari perusahaan lain yang bonafide, Bank guaranty dan lain-lain
4. Adakan jaminan lain yang sifatnya dukungan moril seperti Letter of
awareness, Letter of comfort dan lain-lain apakah isi surat-surat ini ada
nilai materilnya?
5. Apabila barang jaminan nasabah cukup komplek apakah bank yang
bersangkutan, telah meminta appraisal report dari asset nasabahnya?
6. Teliti pula apakah barang-barang jaminan kebendaan yang diserahkan
tersebut milik nasabah yang bersangkutan, dan apabila bukan apakah
telah dilengkapi dengan surat kuasa yang memadai menurut ketentuan-
ketentuan yang berlaku?
7. Adakan rechecking apakah bukti-bukti asli ari dokumen
pemilikan/sertifikat barang-barang yang dijaminkan tersebut telah
dikuasai selengkapnya oleh bank?
8. Adakan rechecking apakah penyimpanannya telah dilakukan dengan
tertib dan aman?
9. Apakah semua barang-barang jaminan tersebut telah melakukan
pengikatan yang sesuai dengan sifat dan bentuk dari barang-barang
tersebut?
10. Adakan rechecking Apakah jenis/spesipikasi detail dari barang-barang
yang diikat tersebut telah sesuai antara akte pengikatan yang
bersangkutan dengan realisasi dokumen-dokumen kepemilikan dari
barang jaminan yang bersangkutan?
11. Apakah barang-barang yang diikat sebelumnya telah dilakukan isnpeksi
on the spot/evaluasi/dinilai oleh appraisal company?
12. Bagaimanakah pengusanaan barang-barang jaminan tersebut apakah
ada pihak bank pada pihak nasabah atau pada pihak ketiga lainya?
13. Adakan rechecking apakah atas jaminan-jaminan kebendaan tersebut
telah ditutup assuransinnya dengan jumlah yang pantas?
14. Apakah polis assurance tersebut membuat banker clause?
15. Adakan observasi apakah perusahaan assurance tersebut cukup
bonafide?

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 13


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

16. Adakan rechecking apakah polis-polis assurance tersebut telah dikuasai


oleh bank dengan lengkap?
17. Apakah premi assurance atas polis-polis tersebut telah dibayar dengan
lunas?

C.4. General Administrasion And Operation Of Loan


1. Adakan Review apakah Prosedur/tatacara pemberian kredit telah sesuai
dengan ketentuan yang berlaku pada bank yang bersangkutan?
2. Apakah proses pengajuan kredit dilakukan oleh pihak nasabah yang
bersangkutan atau melalui pihak ketiga lainnya?
3. Apakah dalam pemutusan kredit telah didasarkan pada prinsip-prinsip
perkreditan yang sehat?
4. Apakah Plafond kredit yang diberikan tidak melebihi plafond/wewenang
pemutusan kredit dari eksekutif bank yang bersangkutan?
5. Apakah penarikan kredit dari rekening debitur yang dibuka untuk
keperluan tersebut dilakukan setelah syarat-syarat pemberian kredit
dipenuhi oleh nasabah?
6. Apakah penarikan kredit tersebut dilakukan sesuai dengan jadawal
penarikan kredit yang telah ditetapkan dalam pemutusan kredit?
7. Apakah perhitungan dan pembebanan (pembayaran) provisi kredit
/commitment credit/ bea materai kredit maupun biaya administrasi lainnya
kalau ada telah dilakukan dengan benar?
8. Apakah perhitungan dan pembebanan (pembayaran) bunga kredit telah
dilaksanakan dengan benar?
9. Apakah pelaksanaan perhitungan dan pembayaran angsuran kredit telah
dilaksanakan dengan benar?
10. Apakah atas terjadi overdue pembayaran angsuran maupun biaya telah
dikenakan compound-intrest?
11. Apakah kartu-kartu debitur/spread sheet telah diisi secar lengkap dan up
to date?
12. Apakah nasabah telah menyampaikan laporan kegiatan usahanya seperti
tersebut di bawah secara lengkap dan teratur?
- Neraca periode terakhir
- Lampiran Perhitungan Laba/Rugi periode terakhir
- Laporan perkembangan pembangunan proyek (apabila memang
belum selesai)
- Laporan volume usaha

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 14


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

- Laporan posisi stock bahan baku, barang setengah jadi dan barang
jadi secara lengkap (karena telah diikat secara fiducier eigendom
overdracht).
- Laporan Piutang – karena telah diikat dengan cessie Piutang.
- Dan lain-lain.
13. Apakah bank yang bersangkutan memelihara bank to bank information
dan clipping para debiturnya secara teratur?
14. Apakah angka-angka dalam rekening koran debitur selalu diperiksa
kebenarannya dengan controlling accountnya yang diciptakan oleh bank
yang bersangkutan?
15. Setiap pada perubahan data/tambahan data yang menyangkut nasabah
apakah telah diarsipkan dengan baik oleh librarian?
16. Apakah bank yang bersangkutan telah membuat evaluasi tingkat
kollektibility dari nasabahnya dengan benar?
17. Apakah inspeksi on the spot telah dilakukan sesuai dengan rencana yang
ditetapkan untuk itu?
18. Apakah kolektibilitas kredit telah disusun sesuai dengan ketentuan bank
Indonesia?
19. Apakah pembentukan cadangan aktiva produktif telah mencukupi?
20. Apakah laporan-laporan perkreditan yang wajib disusun oleh Bank telah
disampaikan ke Bank Indonesia?
21. Untuk nasabah besar apakah telah disusun Coustomers Profitibility
Analysisnya?
22. Apakah telah disusun Credit Risk Ratio yang bermanfaat untuk
perencanaan maupun untuk princing?
23. Apakah tingkat korelasi Cross Selling antara pemberian kredit dengan
pemasaran jasa-jasa Bank yang lain bersifat positif > 70%?

D. PROSEDUR AUDIT KREDIT EXPLOATASI UMUM


Bentuk kredit exploatasi lebih banyak variasinya, oleh karena itu prosedur audit
yang akan diuraikan di sini hanya untuk hal-hal yang bersifat umum saja. Di
samping itu secara umum, juga hampir sama dengan cara-cara Audit Kredit
Investasi khususnya dalam penilaian aspek yuridis, barang jaminan, administrasi
perkreditan. Sedangkan untuk penilaian credit worthiness terdapat perbedaan yang
materiil antara lain sebagai berikut :

D.1. Penilaian Credit Worthiness Kredit Exploatasi

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 15


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

1. Teliti apakah jenis pembiayaan dengan kredit exploatasi ini tidak digunakan
untuk proyek-proyek investasi / penanaman modal?
2. Apakah nasabah debitur yang bersangkutan juga telah memperoleh kredit
investasi ataupun kredit-kredit lainnya?
3. Adakan rechecking apakah besarnya kredit yang diberikan tidak terjadi
overfinance?
4. Teliti apakah jangka waktu kredit exploatasi ini telah layak/memungkinkan
nasabah dapat mengembalikan kreditnya dari laba yang disisihkan atau
dari pendapatan/revenuse) yang diterimanya?
5. Susunlah analisa laporan Keuangan dan teliti apakah posisinya cukup
sehat?
Financial ratio yang penting perlu dievaluasi yaitu :
a) Current ratio
b) Accid test ratio
c) Turn period of raw material, Inventories
d) Average collection period of receivable
e) Break Event Point
f) Debt to Asset Ratio
g) Debt to fixed Asset Ratio
h) Debt to Equity Ratio
6. Perhatian berbagai ketentuan yang menyangkut perhitungan maksimum
kredit apakah telah benar ?
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :
a) Besarnya kebutuhan pemenuhan biaya-biaya usaha yang akan
dikeluarkan dalam suatu periode.
b) Besarnya (lamanya) turn over periode dari modal kerja.
c) Net working capital yang telah tersedia
(Khusus untuk Kredit Ekspor)
d) Credit export preshipment financing untuk barang ekspor :
Maximum kredit = 85% x rencana volume ekspor rata-rata per bulan
x harga pengadaan x turn over.
Harga pengadaan: Biaya produksi (variable + fixed cost) di luar biaya
pajak dan perkiraan laba.
Turn Over : 1 s/d 3 bulan
e) Credit export preshipment financing untuk barang ekspor yang akan
diprodusir:

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 16


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Maximum kredit = 85% x rencana volume ekspor rata-rata per bulan


x harga pengadaan x turn over.
f) Credit Export Post Shipment financing :
Maximum kredit = 100% x nilai wesel yang penarikannya
didasarkan atas irrevocable L/C.
Maximum Kredit = 100% x nilai yang ditanggung PT. Askrindo
(untuk ekspor yang dilaksanakan tanpa
irrevocable L/C).
g) Dalam kredit ekspor ini juga perlu diperhatikan bantuan kredit likwiditas
yang diterima dari Bank Indonesia sebesar = 60% x 85% PEB.
7. Susunlah cash flow atau estimation cash flow dari perusahaan nasabah
yang bersangkutan. Apakah terlihat kemampuan melunasi kreditnya dari
sumber-sumber dana yang akan diterimanya?
8. Dari perhitungan pada butir 6 dan butir 7 di atas apakah jumlah kredit yang
diterimanya memang memadai, atau dengan kata lain volume usahanya
masih sebanding dengan kredit yang diperoleh?
9. Perhatikan mutasi rekening nasabah yang bersangkutan apakah mutasi
rekening tersebut sebanding dengan turn over dari modal kerjanya?
10. Adakan penelitian apakah kewajiban-kewajiban yang harus dibayar oleh
nasabah sehubungan dengan kredit yang diperolehnya seperti bunga,
premi-premi assuransi dan lain-lain, selalu dapat diselesaikan tepat
waktunya?
11. Adakan penelitian dan konfirmasi melalui bank to Bank Information,
apakah nasabah merupakan suatu group usaha (holding company), kalau
ya, bagaimana kwalitas financial position dari group tersebut apakah cukup
sehat?
12. Apakah tarif bunga kredit yang ditetapkan untuk nasabah telah sesuai
dengan resiko usahanya?
13. Adakan trasir untuk memperkuat bukti-bukti kebutuhan modal kerja
terutama untuk proyek-proyek yang sifatnya einmalig transaction (satu kali
transaksi). Bukti-bukti yang diperlukan yaitu, surat-surat kontrak jual-beli,
L/C ekspor kontrak-kontrak pemborongan dan lain-lain.

E. PROSEDUR AUDIT UNTUK KREDIT USAHA KECIL


Di dalam prosedur audit untuk Kredit Usaha Kecil secara prinsipiil sama dengan
audit dan prosedur untuk kredit Investasi dan kredit Exploatasi, Cuma
perbedaannya terletak pada skala kreditnya yang relative kecil-kecil. Di samping itu

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 17


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

juga ada beberapa perbedaan yang khusus hanya berlaku pada Kredit Usaha Kecil
saja. Jadi untuk audit creditworthiness, administrasi kredit dan loan operation dapat
diperkembangkan Audit Questionaire pada kredit investasi di muka.

Selanjutnya sebelum mengadakan audit lebih lanjut mengenai aspek-aspek


perkreditannya, baiklah diteliti terlebih dahulu syarat-syarat Pribumisiasi yang
berlaku dengan aduit questionaire sebagai berikut:
1. Apakah status yuridis usaha nasabah telah memenuhi syarat-syarat/ketentuan
pribumisiasi yang berlaku? (perhatikan komposisi modal dan komposisi
kepengurusannya).
2. Apakah kekayaan nasabah di luar + rumah dan tanah yang ditempati telah
memenuhi ketentuan yang berlaku untuk itu? (perhatikan untuk usaha
pemborong konstruksi, perdagangan dan jasa, dan untuk industri).
3. Adakan penelitian apakah nasabah tidak termasuk dalam:
- Daftar black list debitur macet Bank Indonesia
- Nasabah bukan anggota ABRI yang berpangkat letnan dua (2) ke atas.
- Nasabah bukan pegawai Negeri yang berpangkat IVA ke atas.
4. Sebelum kredit direalisir apakah bank/cabang yang bersangkutan telah
menerima droping likwiditas dari Bank Indonesia sesuai dengan ketentuan yang
berlaku untuk masing-masing jenis kredit/sektor ekonomi yang bersangkutan?
5. Apakah masing-masing droping likwiditas jumlah telah sesuai dengan
ketentuan yang berlaku?
6. Teliti apakah jangka waktu kreditnya sendiri dibanding dengan jangka waktu
likwiditas dari Bank Indonesia apakah telah sebanding?
7. Apakah syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk memperoleh likwiditas
tersebut telah dipenuhi oleh Bank/Cabang yang bersangkutan.
8. Apakah angsuran likwiditas tersebut telah dihitung dan di administrasikan
dengan benar?
9. Adakan penelitian apakah terjadi penarikan kredit likwiditas KMKP melebihi
75% dari seluruh plafond yang disetujui Bank Indonesia setempat?
10. Adakan penelitian apakah likwiditas yang lebih kecil dari 75% kali plafondnya,
telah diajukan tambahan ke Bank Indonesoia?
11. Apakah suku bunga kredit yang dipungut dari nasabah telah dihitung dan
dibebankan dengan benar, sesuai dengan ketentuan suku bunga yang berlaku
untuk jenis dan sektor usahanya?
12. Apakah provisi, committment fee, bea meterai kredit telah dihitung dan
diadministrasikan dengan benar sesuai ketentuan yang berlaku?

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 18


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

13. Apakah besarnya (nilai) barang jaminan yang harus dikuasai bank telah sesuai
dengan ketentuan yang ada?
(Khusus untuk KMK Kepres No. 29/84).
14. Teliti apakah pemakaian kredit ini telah digunakan untuk kontrak-kontrak yang
sumber dananya dari APBN/APBD/BUMN?
15. Apakah klasula pembayaran kontrak yang diterima pemborong disalurkan
melalui bank telah ditegaskan dalam perjanjian kredit yang dibuat dengan
nasabah?
16. Apakah kuasa dari nasabah untuk menerima langsung hasil pembayaran
kontrak tersebut telah disetujui pula oleh pimpinan proyek yang bersangkutan?
17. Apakah plafond kredit yang diberikan kepada nasabah telah sesuai dengan
ketentuan yang ada?
18. Apakah nasabah telah menyediakan self financing minimal 10%?

F. PROSEDUR AUDIT UNTUK ASURANSI KREDIT


1. Apakah setiap kredit yang diputuskan oleh bank yang bersangkutan telah
dibuatkan daftar deklarasi penutupan asuransi kepada PT. Askrindo?
2. Apakah daftar deklarasi tersebut telah dilampiri dengan data-data yang
ditentukan oleh PT. Askrindo ?
3. Adakan penelitian apakah terdapat kredit-kredit yang belum ditutup asuransinya?
4. Apakah nota-nota penutupan pertanggungan asuransi kredit dari PT. Askrindo
telah diterima oleh bank yang bersangkutan?
5. Apakah pada setiap triwulan takwin, bank yang bersangkutan telah melaporkan
semua nasabahnya kepada PT. Askrindo?
6. Adakan penelitian apakah terdapat nasabah yang telah jatuh tempo kreditnya
lebih dari 3 bulan tetapi belum diajukan tuntutan ganti rugi kepada PT. Askrindo?
7. Adakan penelitian apakah terdapat nasabah-nasabah yang telah jatuh tempo
lebih 12 bulan tetapi surat tuntutan ganti rugi (STGR)nya belum diajukan ke PT.
Askrindo?
8. Adakan penelitian apakah tidak terdapat STGR yang lebih 6 bulan tetapi belum
mendapat persetujuan dari PT. Askrindo?
9. Teliti apakah data-data/syarat-syarat yang diperlukan untuk pengajuan STGR
telah lengkap?
10. Apakah hasil penggantian kerugian yang diterima dari PT. Askrindo telah benar?
11.Teliti apakah pembayaran premi asuransi kepada PT. Askrindo telah
dilaksanakan secara tertib?

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 19


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

12. Apakah setiap ada perubahan kondisi debitur/perubahan syarat-syarat kredit


telah dilaporkan kepada PT. Askrindo?

G. PROSEDUR AUDIT UNTUK BANK GARANSI


Pada dasarnya prosedur audit untuk Bank Garansi khususnya dalam hal setoran di
bawah 100%, prosedur auditnya menyerupai prosedur audit pada kredit ekploatasi.
Sebab Bank Garansi itu sendiri merupakan fasilitas kredit yang berbentuk non
cash, jadi apabila pihak nasabah gagal dalam memenuhi kewajibannya kepada
pihak ke tiga maka bank akan menyelesaikan pembayaran kepada pihak ke tiga
dengan apa yang diperjanjikan dalam Bank Garansi tersebut. Oleh karena itu
untuk mudahnya dalam pembahasan prosedur audit pada Bank Garansi di
samping harus ditempuh prosedur audit seperti tersebut pada kredit exploatasi di
muka masih perlu lagi dilengkapi prosedur audit yang khusus untuk Bank Garansi
itu sendiri sebagai berikut:
1. Teliti apakah syarat-syarat khusus untuk masing-amasing jenis Bank Garansi
telah dipenuhi? (Perhatikanlah ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk Bank
Garansi penangguhan bea masuk, Bank Garansi untuk Pita Cukai, Bank
Garansi untuk advance payment, Bank Garansi untuk Agency/dealership dan
lain-lain).
2. Adakan penelitian apakah obyek Bank Garansi tersebut tidak melanggar
ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia? Antara lain :
- Apakah Bank Garansi tersebut tidak diberikan untuk menjamin kredit atau
dana yang diterima dari bank/lembaga keuangan bukan bank.
- Apakah Bank Garansi tersebut tidak diberikan dalam bentuk valas
(kecuali untuk kepentingan kontraktor Dalam Negri yang ikut tender di
Luar Negri.
- Apakah Bank Garansi tersebut tidak diberikan untuk jaminan atas
pemberian persetujuan yang berupa tanda tangan pada surat-surat
berharga seperti promes, wesel, check, giro-giro dan lain-lain yang dapat
menimbulkan bank avalis.
- Apakah Bank Garansi tersebut tidak diberikan dalam bentuk uang rupiah
kepada nasabah bukan penduduk/non resident?

3. Apakah nasabah telah memenuhi kewajiban penyediaan setoran jaminan ini


telah diblokir?
4. Apakah provisi, biaya administrasi telah diperhitungkan dan dipungut serta
dibukukan dengan benar?

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 20


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

5. Sebelum Bank Garansi diterbitkan apakah nasabah telah menandatangani


perjanjian-perjanjian untuk penerbitan Bank Garansi tersebut?
6. Apakah jaminan kebendaan atas Bank Garansi yang diterbitkan tersebut telah
diadakan pengikatan secara yuridis sempurna?
7. Apakah sertifikat-sertifikat pemilikan dari barang-barang jaminan tersebut telah
dikuasai oleh bank yang bersangkutan?
8. Apakah ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang formalitas dan materiil
dari Bank Garansi itu sendiri telah dipenuhi? (Perhatikanlah hal-hal sebagai
berikut: Nama, Alamat si penerima Bank Garansi telah sesuai dengan
permohonan nasabah yang bersangkutan, jangka waktu Bank Garansi,
maksimum Bank Garansi, pihak-pihak yang dijamin oleh Bank Garansi telah
benar dan seterusnya.
9. Apakah penerbitan, penerusan, penyerahan Bank Garansi telah dilakukan oleh
bank yang bersangkutan secara aman?
10. Dalam hal Bank Garansi tersebut menjadi efektif apakah pengajuan claim tidak
melebihi batas waktu yang tertera dalam Bank Garansi yang bersangkutan?
11. Sebelum claim dicairkan apakah Bank Garansi asli telah di kuasai oleh bank
yang bersangkutan?
12. Apakah sebelum claim dicairkan setoran jaminan yang ada telah dicairkan pula
untuk mengurangi baki debet nasabah yang bersangkutan?
13. Apakah status Bank Garansi tersebut telah dirubah menjadi bentuk kredit dan
apakah nasabah telah menandatangani perjanjian kredit maupun lampiran-
lampirannya?
14. Apakah administrasi perobahan status Bank Garansi menjadi kredit tersebut
telah dilakukan dengan benar?

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 21


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

LATIHAN SOAL 1:
CASE STUDY PERKREDITAN
PT. Limbang Limbung nasabah Sdr. Cabang Surabaya yang bergerak di bidang
Industri Makanan Ternak mengajukan kredit Investasi sebesar Rp.350.000.000,- untuk
perluasan pabriknya.
Susunan pengurus dan Pembagian sahamnya terdiri dari :
- Direktur Utama : Tn. Djojo Dikolo 5% saham
- Direktur I : Nn. Ira Singadimeja 5%
- Direktur II : Tn. Tupai Per Angin-Angin 5%
- Komisaris : Tn. Lhoe Gie Lee 85%
Neraca per 30 Juni 19A dapat dilihat sebagai berikut :
AKTIVA PASIV
- Kas & Bank …………... 3.250,- - Hutang Dagang ………..... 25.000,-
- Persediaan ………….. 15.490,- - Hutang pada supplier mesin
- Piutang ……….……….. 4.775,- ……………………...… 85.000,-
- Gedung Pabrik …..... 105.671,- - Modal dasar.……………. 190.000,-
- Mesin-mesin ….….... 115.000,-
- Tanah ………………... 15.435,-
- Kendaraan …………..... 3.475,-
- Lain-lain ……………... 36.904,-
Jumlah ………………….. 300.000,- Jumlah …...………………. 300.000,-
Note : Modal Dalam portepel Rp.187.250,-

Di samping kredit investasi nasabah juga mengajukan kredit eksploitasi sebesar


Rp.100.000.000,- Untuk melaksanakan maksud tersebut PT. Limbang Limbung telah
menyerahkan Feasibility Study dari Biro Konsultan “SOKH TAHOE”.
Izin-izin usaha yang dimiliki atara lain Hinder Ordonatie, Surat Izin Lokasi Industri dari
Walikota, Surat Izin Perdagangan.
Dari hasil inspeksi ke Proyek nasabah diketemukan bahwa sebagian besar mesin-
mesin tersebut seharga Rp.115.000.000,- telah datang ex Pabrik Beras “Raja lele”
yang macet dibeli dari supplier mesin PT. KOEBUTO dari lelang BUPN kemudian
dijual dengan kredit kepada PT. Limbang Limbung tersebut.
Tanah pabrik berupa sewa beli dari PT. Surabaya Industrial Estate Rungkut selama 5
tahun seluas 2.000 m2 atau @ Rp.7.717,50/m2. Karena pandainya Biro Konsultan
“SOKH TAHOE” dalam menyusun feasibility study dan karena pandainya Nn. Ira

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 22


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Singadimeja mengadakan approach kepada analisis Kredit, hingga ia terkecoh dan


segera meneruskan analisanya ke Kepala Cabang.

Pertanyaan :
Syarat-syarat apakah yang seharusnya masih harus dilengkapi oleh PT. limbang
Limbung?

LATIHAN SOAL 2
CASE STUDY PERKREDITAN
PT. XYZ mengajukan permohonan kredit Modal Kerja untuk Industri di bidang
pertextilan sebesar Rp.750.000.000,- Semua aspek-aspek perkreditan telah dianalisa
dan memberikan hasil yang positif, sehingga permohonan kredit a.n nasabah tersebut
dapat disetujui. Untuk keperluan kredit yang diperolehnya tersebut nasabah
menyerahkan barang-barang sebagai berikut :
a. Sebidang Tanah Hak Guna Bangunan yang akan berakhir tahun 2000 di Jalan
Galunggung No. 256 Menteng Jakarta, luas 1.562 m2 di atas tanah tersebut
terletak sebuah Bangunan Mewah yang baru saja dibangun oleh pemIliknya
dengan nilai Rp.450.000.000,-
Tanah Hak Guna Bangunan tersebut milik Tn. Amir Direktur Produksi PT. XYZ.
Harga pasaran tanah di Menteng Jakarta adalah Rp.200.000,-/m2. Namun
demikian bangunan yang di atas tanah Tn. Amir tersebut adalah milik Tuan Tjoei
Lan Tong yang menempati tanah tersebut atas dasar VB (Verguning Bewijs) atas
keputusan Kantor Urusan Perumahan sampai dengan tahun 1990, yang
diperolehnya dari Tn. Ahmad Rp.156.200.000,-
b. Sebuah mobil Volvo 264 tahun 1981 atas nama Tn. Makmur Direktur Utama
PT.XYZ, mobil tersebut dibeli tahun 1981 akhir harga On the road
Rp.27.500.000,- namun demikian Saudara sebagai analis kredit sewaktu
menanyakan ke Toko Mobil “Mewah” di Jalan Pecenongan, harga pasaran Volvo
264 tahun 1981 hanya sebesar Rp.11.500.000,- waktu Saudara tanyakan
alasannya katanya merk tersebut adalah kartu mati.
c. Tanah dan Bangunan Pabrik yang terletak di daerah Penguasa Otorita Pluit.
Tanah seluas 15.000 m2 adalah tanah sewa dari Badan Penguasa Otorita Pluit
untuk jangka waktu 20 tahun.
Untuk memperoleh Hak Sewa tersebut PT.XYZ telah mengeluarkan biaya
Rp.300.000.000,- Saat ini telah berjalan 15 tahun dan telah sesuai
keterangannya setelah jangka waktu 20 tahun tersebut pabrik harus dibongkar

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 23


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

karena dianggap akan menimbulkan pencemaran terhadap Lingkungan


Perumahan Mewah disekitarnya. Bangunan Pabrik terdiri dari banguan
Berkerangka baja dan beratap seng telah ditaksir oleh Perusahaan Asuransi
RAMAYANA bernilai Rp.250.000.000,-.
d. Mesin-mesin textile yang ada terdiri dari 27 unit yang baru dibeli pada akhir tahun
1980, dan mulai operasi awal tahun 1981. Nilai keseluruhannya termasuk biaya
instalasi dan percoban Rp.540.000.000,- Technical useful life diperkirakan 20
tahun namun Economical useful life hanya 5 tahun saja.

Pertanyaan:
Jaminan-jaminan mana yang dapat diterima sebagai jaminan kredit dan apa syarat-
syarat yang harus dipenuhi serta beberapa nilai masing-masing jaminan tersebut?

Pertanyaan:
1. Untuk jaminan seperti yang tercantum pada butir a ditas:
a. Dapat diterima sebagai jaminan kredit sepenuhnya seharga Rp.762.400.000,-
b. Dapat diterima hanya seharga nilai tanahnya saja Rp.200.000 x 1562 =
Rp.312.400.000,-
c. Dapat diterima dari harga pasar dari tanah saja.
d. Dapat diterima dengan nilai Rp.918.600.000,-
2. Untuk jaminan yang tercantum pada butir b di atas :
a. Dapat diterima sebagai jaminan dengan nilai Rp.27.500.000,-
b. Dapat diterima sebagai jaminan dengan nilai Rp.11.500.000,-
c. Dapat diterima sebagai jaminan dengan nilai yang lebih rendah dari harga
pasarnya.
d. Dapat diterima sebagai jaminan dengan nilai buku yang terakhir
3. untuk jaminan seperti yang tercantum pada butir a diperlukan dokumen-
dokumen:
a. Sertifikat tanah sudah mencukupi untuk dokumen jaminan
b. Sertifikat tanah ditambah V/B dari K.U.P
c. Sertifikat tanah ditambah V/B dari K.U.P ditambah surat izin/persetujuan untuk
jaminan kredit dari Tn. Tjoei lan Tong
d. Sertifikat tanah yang telah dihipotikkan
4. untuk jaminan tanah dan bangunan di Pluit seperti pada butir c, nilai jaminan
yang diakui:
a. Rp.550.000.000,- c. Rp.250.000.000,-
Rp.300.000.000,- d. Di bawah Rp.250.000.000,-
5. untuk jaminan-jamian seperti pada butir d, nilai yang dapat diterima sebagai
jaminan:

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 24


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

a. Rp.540.000.000,-

b. Rp.540.000.00,- -/-5 /20 (Rp.540.000.000,-) = Rp.405.000.000,-


c. Nilai asuransi dari mesin-mesin Rp.300.000.000,-
d. Seharga besi tua dari mesin yang bersangkutan
6. untuk keperluan jaminan kredit, dari barang-barang yang akan diserahkan
ternyata:
a. sudah mencukupi
b. perlu ditambah minimal Rp.100.000.000,- lagi
c. perlu ditambah Rp.250.000.000,- lagi
d. perlu ditambah minimal Rp.100.000.000,- lagi

LATIHAN SOAL 3
PEMERIKSAAN KREDIT

I. Data Umum
Nama Nasabah : PT R.R
Lokasi : Di Kalimantan
Jenis Kredit : Insvestasi
Bidang Usaha : Penebangan Kayu dan Pengergajian Kayu
(logging & Sawnmill)
Kegiatan Usaha : Sedang mempersiapkan pendirian Pabrik Playwood
Sebagai realisasi keputusan 3 Mentri
II. Permasalahan yang ada:
a. Untuk usahanya di bidang logging dan sawnmill Nasabah memperoleh Kredit
investasi pada tahun 1975 untuk jangka waktu 5 tahun. Usaha berjalan lancer dan
dapat memenuhi kewajiban terhadap Bank dengan baik, tidak terjadi tunggak-
tunggakan.
Untuk keperluan Jaminan Perkreditan yang diterima dari Bank tersebut terdiri:
- 10 unit Froklift
- 20 unit triler & Head Trailler
- Mesin-mesin Pengrajin Kayu
- Jembatan-jembatan
- Train-rail (ril kereta api)
- Dan lain-lain
Peralatan-peralatan tersebut dibeli dari Luar Negri (Ex Import) dalam faktur-fakturnya
dinyatakan dalam US $
b. Dalam rangka pembangunan pabrik Playword di atas Nasabah mengajukan
tambahan Insvestasi baru dengan jumlah biaya yang cukup besar, dan sehubungan
dengan hal ini sudah tentu pula dibutuhkan barang jaminan yang besar pula.

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 25


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

c. Pada tangga 15 November 1978 telah dilaksanakan kebijakan Moneter yaitu


berupa devaluasi nilai Rupiah dari US$ = Rp 425, - menjadi US$ 1 = Rp 625,-
d. Nilai Mesin dan Peralatan-peralatan besar mempunyai Techical Useful
life/Economical Userful life yang sangat pendek diperkirakan hanya mampu
beroperasi + 5 tahun saja. Dengan demikian pada akhirnya Peralatan-peralatan
tersebut hanya akan bernilai sebagai Besi Tua.
e. Untuk memenuhi kebutuhan jaminan yang cukup besar tadi pada point b Nasabah
menjamin kembali mesin-mesin dan peralatan-peralatan besar yang dimilikinya
dengan menggunakan kurs baru sebesar US$ 1 = Rp 645,- Hal ini berarti
peralatan-peralatan yang dijamin dengan book value + 40% dinilai kembali
(evaluasi) + 150% dari nilai Invoice atau + 150/40% = 375% dari Nilai Buku yang
ada.

Pertanyaan:
Resiko apa yang dihadapi Bank?

LATIHAN SOAL 4
CASE STUDY PERKREDITAN

PEMERIKSAAN KREDIT

I. Data
Nama Nasabah : N.V.F./Perusahaan Keluarga
Bentuk Badan Usaha : Perseroan Terbatas
Bidang Usaha : Percetakan
Jenis Kredit yang Di-
Peroleh : Kredit Eksploitasi
Max Kredit : Rp.20.000.000,-
T/Bunga : Rp.17.000.000,-
Jangka waktu : Telah lama Jatuh Tempo
Susunan Pengurus : 1 orang Direktur Utama
1 orang Direktur Produksi
1 orang Ketua Dewan Komisaris
1 orang Komisaris
Keadaan Usaha : Tidak lancar sejak Direktur Utama yang juga bertindak
sebagai Penandatangan Akad Perjanjian Kredit
meninggal.

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 26


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

: Terjadi perpecahan di antara para pengurus yang lain.


: Terakhir Usaha dipimpin oleh Ketua Dewan Komisaris
dalam tahap likuidasi perusahaan.
Jaminan Kredit : Tanah dan Bangunan/Gedung Percetakan beserta
mesin-mesin cetak – nilai + Rp. 45.000.000,- walaupun
nilai riil (resale value) secara normal jauh lebih besar.
Tanah merupakan Hak Sewa Kotamadya, Gedung dan
Mesin-mesin lengkap bukti pemilikannya IMB, Invoice
dan lain-lain dikuasai bank dan diikat secara Fiduciair.
Barang-barang tersebut atas nama N.V.F.
II. Permasalahan yang ada :
a. Pada waktu analisia Kredit oleh Analis Cabang yang bersangkutan tidak
dimintakan surat izin/persetujuan dari Komisaris-komisaris perusahaan
tersebut secara lengkap yaitu hanya: “Izin untuk mendapatkan kredit saja”,
pada hal di dalam Akte Pendirian Perusahaan dinyatakan antara lain bahwa
untuk:
a) Mengajukan Kredit kepada bank dan seterusnya
b) Menjaminkan kekayaan Perseroan kepada Pihak ke Tiga dan seterusnya
c) Mengikat Perseroan sebagai penjamin hutang-hutang yang dibuat oleh
Pengurus dan seterusnya.
Direksi harus memperoleh Persetujuan Tertulis oleh Dewan Komisaris dan
seterusnya.

Pertanyaan :
Risiko apa yang dihadapi bank?

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 27


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

LATIHAN SOAL 5
CASE STUDY PERKREDITAN

PEMERIKSAAN PERKREDITAN

A. Data Umum
Nama Nasabah : PT. B. S.
Bidang Usaha : Perkebunan
Kredit yang Diperoleh : Kredit Eksploitasi sebagai Bridging Credit untuk
menunggu Kredit Investasi yang diajukan ke Bank
Indonesia.
Besarnya Kredit : Rp. 50.000.000,-
Penggunaan Kredit : Untuk persiapan pembuatan Bedeng-bedeng dan
Lahan Perkebunan cengkeh di Jember + 250 ha.
Jaminan : Tanah HGU di Jember di mana lokasi barang jaminan
tersebut berada di puncak gunung dan merupakan
sebagai tanah HGU Milik Nasabah yang luasnya
+3.000ha.
Kegiatan Nasabah yang
Telah Dilaksanakan : Kebun cengkeh tersebut merupakan pengalihan dari
kebun kopi yang sudah tua-tua dan tidak produktif oleh
karena Nasabah merencanakan untuk mengganti jenis
tanaman dari kopi ke cengkeh secara bertahap. Kredit
Rp.50 juta tersebut telah digunakan dengan baik untuk
penebangan//pembokaran tanaman kopi, pembuatan
lubang-lubang untuk persiapan penanaman cengkeh
dalam persiapan lahan perkebunan tersebut.
Kredit Rp.50 juta tersebut merupakan sebagai dari
jumlah kredit yang diajukan oleh nasabah kepada
bank. Nasabah masih mempunyai sumber-sumber
penghasilan lainnya dari tanaman kopi (sudah tua)
produksinya sangat kecil hanya untuk pasaran lokal
saja.

B. Masalah yang Timbul


a. Ternyata Kredit Investasi yang diajukan ke Bank Indonesia tersebut
ditolak/tidak dapat disetujui.

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 28


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

b. Nasabah mengalami kesulitan dalam pengembalian Kredit Eksploitasi tersebut


karena uangnya telah tertanam untuk pengolahan lahan.
c. Nasabah protes karena telah dirugikan bank sehubungan dengan rencananya
mengalami kegagalan.
d. Bank mengalami kesulitan melikuidasikan jaminan karena lokasinya tidak
menguntungkan.

Pertanyaan:
Risiko apa yang dihadapi bank?

LATIHAN SOAL 6
CASE STUDY PERKREDITAN

PEMERIKSAAN KREDIT
Cak Dikin seorang pengrajin dari Jombang yang memprodusir mesin pompa air untuk
rumah tangga cap “BELUT SAWAH” mempunyai cita-cita untuk menyaingi pompa air
“DRAGON” yang sudah dikenal itu. Guna merealisasi cita-citanya tersebut ia
membuka stand di Surabaya Fair selama 45 hari.
Mesin-mesin pompa yang dipromosikan pada Surabaya Fair tersebut sebagian
besar adalah hasil produksi para pengrajin di kampung yang sama-sama
menggunakan trade bank “BELUT SAWAH”. Mesin-mesin pompa tersebut ia beli
dengan total biaya Rp.5.000,-/biji, termasuk di antaranya biaya pengadaan 5%,
ongkos kirim 3%, pengepakan 2%, dan lain-lain biaya sampai barang-barang tersebut
siap sedia di standnya pada Surabaya Fair. Agar stocknya tidak berkelebihan tetapi
juga untuk menjaga jangan sampai kehabisan stock agar dapat melayani para
pembeli dengan baik maka diputuskan pengadaan mesin-mesin pompa tersebut
dibagi 2 tahap, tahap ke-1 untuk 25 hari dan tahap ke-2 untuk 20 hari untuk menjaga
hubungan baik dengan para supplier yang sebagian besar tetangganya yang note
bene adalah para ipar dan mertuanya sendiri maka Cak Dikin selalu membayarnya
tunai semua mesin-mesin pompa yang diserahkan padanya.
Biaya sewa stand di Surabaya Fair komplit sebesar Rp.200.000,-/hari, biaya-
biaya ini antara lain termasuk sewa gudang @ Rp.3.594,-/tiap pompa, biaya listrik,
asuransi administrasi, keamanan serta untuk honor pramuniaga yang disewanya dari
group peragawati “TATIK SUDARSIM MODEL & AGENCY” dari Sidoarjo. Biaya
penyelenggaraan stand ini oleh Panitia Surabaya Fair harus dibayar di muka setiap 10
hari. Karena ia yakin bahwa pompa air cap “BELUT SAWAH” tersebut mempunyai
kwalitet yang tinggi, harga murah dan cocok untuk kondisi lingkungan masyarakat di

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 29


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Pamekasan, Pasuruhan, Pandaan, Tuban, Tulungagung, maupun daerah lainnya.


Maka dari sudut pemasaran yang mantap ini ia targetkan laba kotor exclusive Bunga
Bank dan Pajak-pajak sebesar 25% dari harga jual perdana sebesar Rp.9.000,-/biji.
Untuk pembiayaan rencananya tersebut Cak Dikin telah memperoleh kredit
Eenmalig (dengan 1 kali penarikan) dari cabang saudara di tangerang
Rp.15.000.000,- jangka Waktu 60 hari, suku bunga kredit 1,125% / bulan jaminan
yang telah diserahkan 6 lembar deposito atas nama Cak Dikin sendiri ,istrinya, anak-
anaknya 4 orang masing-masing Rp.2.500.000,- untuk 24 bulan ,bunga 18%.

Pertanyaan dari data di atas:


Tunjukkanlah letak –letak kesalahan yang telah dilakukan oleh Kepala Bagian
Kredit Bank tersebut,terutama untuk hal-hal tersebut:
a. Dalam penetapan jangka waktu kredit yang setepat-tepatnya menurut Saudara
adalah:
1. 60 hari 3. 25 hari
2. 45 hari 4. 30 hari
b. Dalam penetapan jumlah kredit yang diberikan setepat-tepatnya menurut Saudara
adalah :
1. Rp.15.000.000,- 3. Rp.10.000.000,-
2. Rp.12.500.000.- 4. Rp.7.750.000,-
c. Target penjualan minimal yang harus dicapai oleh Cak Dikin :
1. 115 unit/hari 3. 452 unit/hari
2. 200 unit /hari 4. 300 unit/hari
d. penetapan waktu mengadakan pesanan stock pompa dari supplier yang paling
ekonomis penurut saudara:
1. Yaitu setiap 10 hari sebesar 1.200 unit/satu kali pesan
2. Yaitu setiap 20 hari sebesar 2.400 unit/satu kali pesan
3. Yaitu setiap 25 hari sebesar 3.000 unit/satu kali pesan
4. Yaitu sekaligus untuk kebutuhan 45 hari.
e. Jaminan dengan Nilai:
1. Mencukupi nilainya (di atas 150%)
2. Kurang dari 150% tetapi di atas 120%
3. Di atas 100% tetapi kurang dari 119%
4. Kurang dari 100%

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 30


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

AUDIT CHECK LIST :……………………………….


BIDANG :……………………………….
INSTITUTION :……………………………….
PERIODE PEMERIKSAAN :……………………………….

TOTAL
NO. REKG. DEBITUR
REF Y/T REF Y/T REF Y/T REF Y/T Y T
B. AUDIT
PROCEDURES –
LOAN
A. LOAN
APPLICATION
1. Adakan revaluasi
atas hasil penelitian
loan officers
terhadap potential
customer, apakah
memang feasibel.
2. Adakah penelitian
apakah
kelengkapan
informasi yang
dikumpulkan telah
memadai, periksa:
a. Loan application
b. Credit information
from other financial
institution
c. Financial report
d. Project
proposal/feasibility
study
3. Apak setiap loan
application telah
dicatat dalam register?
4. Adakah review
terhadap hal tersebut
di bawah apakah
feasible
a. Hasil analisa
financial status
b. Hasil evaluasi
viabiliti of customer
business
c. Hasil evaluasi
security
d. Hasil evaluasi
atas standing of the
customer yang ada
pada other financial
institutions
e. Hasil
rekomendasi
aplikasi kredit

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 31


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

5. Apakah setiap
keputusan kredit
hasilnya telah
segera diberikan
kepada borrower,
mengenai:
a. The principal
amount
b. The currency
c. The interest rate
d. Method of
disbursement
e. The maturity date
f. Method repayment
g. Security offered and
bazis of valuation
6. Apakah setiap
pemberian kredit telah
ditanda tangani “loan
agreements” yang
dipersiapkan solicitor
antara custemer dan
executif.
7. Pastikan apakah
setiap pemberian
kredit dilakukan
setelah jaminan
diterima.
8. Apakah setiap
pemberian kredit telah
terjamin penyediaan
dananya oleh treasury
department?
9. Apakah dana yang
ada telah diterima
sesuai dengan
specified date of
remittance?
10. Perhatikan
ketentuan-ketentuan
khusus yang ada
untuk beberapa jenis
kredit yang lain,
apakah telah
memenuhi syarat?
a. Untuk offshore
loan
application

1) Perhatikan
“parent
companys
instructions”
telah
diintiminasikan
oleh
executive.

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 32


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

2) Dalam hal
parent
company telah
memberikan
persetujuan
pemberian
kredit
tersebut,
maka adakah
pemeriksaan
selanjutnya
apakah:
- pplication
register telah di up
date
- Collateral register
telah di up date
- Periksa loan terms
and conditions apakah
telah sesuai dengan isi
instruksi dari parrent
dilaksanakan
- Apakah pengaturan
dana oleh treasury
departement telah
dilaksanakan
- Apakah settlement
officer teleah
diberitahukan dan
dananya dapat
disediakan tepat
waktu?
b. Untuk
Syndicated
loan
1). Perhatikan
kedudukan bank
yang diperiksa
sebagai managing
Bank
2). Dalam
kedudukannya
sebagai managing
bank maka
adakan evaluasi
a). Barrowers
financial forcast
apakah feasible
b). Cash flow ada
surplus
c). Income projections
apakah profitable
3). Dalam hal
diperlukan
pemeriksaan “Notes”
dan “Certificat of
Deposit” perhatikan
oleh bank telah
dikuasai Bankers
Endorsement atau
“letter of Guarantees”

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 33


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

4). Pelajari “test the


market” dan adakah
evaluasi atas laporan-
laporan dari test di
atas dan juga berbagai
reaksi yang ada
apakah feasible”.
5). Adakah penelitian
apakah “A. Mandate
Memorandum” telah
dibuat.
6). Apakah isi
“mandate
memorandum”
tersebut telah
mempunyai kekuatan
untuk pelimpahan
kekuasaan kepada
managing bank untuk
memasarkan dana
dan melaksanakan
pemberian kredit
sesuai dengan term
and conditions yang
telah disetujui?
7) Adakah penelitian
terhadap isi term and
condition di atas
terutama untuk hal-hal
sebagai berikut,
apakah telah sesuai
dengan analisa?
a) Loan principal
b) Final maturity
c) Avaibility
d) Repayment and
grace period
e) Optimal prepayment
f) Interest
g) Collateral
h) Commitment fee
i) Management fee
j) Afent Bank
k) Agency fee
8) Di samping hal-hal
tersebut di atas
pastikan apakah
managing bank telah
membuat “Syndicated
loan agreement” yang
mencakup hal-hal
sebagai berikut:
a) Borrower
b) Lead Manager
c) Participating banks
d) Loan amount

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 34


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

e) Purpose of
borrowing
f) Final maturity
g) Availibility
h) Repayment and
grace period
i) Optimal prepayment
j) Interset rate
k) reference banks
l) Commitment fee
m) Texsas and other
deduktions
10) Adakah penelitian
apakah semua
kewajiban managing
bank telah dilakukan
dengan baik?
a) Dana dari para
partisipan apakah
telah dikumpulkan
b) penarikan-penarika
oleh borrowers apakah
telah diadministrasikan
dengan baik
c) Apakah berbagai
fee telah dihitung
dengan benar dan
diadministrasikan
dengan baik? Periksa
catatan/perhitungan
untuk:
- Particifan fee
- management fee
- Agency fee
- Commitment fee
B. LOAN SECURITY
1. Adakah reevaluasi
apakah “Capital
resources or a
borrowers” telah
memadai
dibandindingkan
dengan kredit yang
telah diperoleh.
2. Didalam hal tidak
memadai apakah
pemberian kredit
tersebut telah dijamin
dengan “Loan
Security” yang
memadai.
3. Apakah kualitas dari
loan security tersebut
telah memenuhi
kreteria:
a. Stable and
certainable value
b. Controllable

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 35


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

c. Readily realisable
d. Adequate risk cover
e. Gives valid title to
the company
f. Adwquately covered
by insurance.
4, Apakah peningkatan
untuk masing-masing
jenis jaminan telah
dilaksanakan sesuai
dengan procedure
hukum yang berlaku di
negara yang
bersangkutan,
perhatikan bentuk
jaminan dan cara-cara
pengikatnya.
a. Lien – Pengikatan
dengan ……….
b. Pledge –
Pengikatan dengan
…….
c. Haypothecation –
Pengikatan dengan
d. Mortagage –
Pengikatan dengan ….
e. Assignment –
Pengikatan dengan
f. Guarentees –
Pengikatan dengan
g. Indemnity –
Pengikatan dengan
h. Land – Pengikatan
dengan
i. Building –
Pengikatan dengan
j. Investmen -
Property – Pengikatan
dengan …..
k. Ship – Peningkatan
dengan
l. Stocks and share –
Peningkatan dengan
……..
m. Goods –
Peningkatan dengan
6. Teliti apakah semua
barang-barang
jaminan telah
diadministrasikan
dengan baik,
perhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a. Apakah semua
barang jaminan yang
diikat telah sesuai
dengan ini perjanjian
kreditnya?

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 36


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

b. Apakah semua
barang jaminan telah
dicatat di dalam
collateral register?
c) untuk jaminan
berupa
stocks,share,bonds
apakah”transfer
agent”telah diberi
tahu?
d) untuk jaminan yang
berupa land,bulding
apakah “Land
registery” telah diberi
tahu?
e) di dalam hal barang
jaminan bukan milik
nasabah yang
bersangkutan apakah
pemilik barang
jaminan tersebut telah
menanda tangani
“General Pledge
Agreement”?
C. LOAN
DRAWDOOWN
1. Teliti apakah “Letter
of Term and
Condiditions” atas
persetujuan kredit
tersebut telah diterima
kembali dari nasabah
dan telah ditanda
tangani sebagai
“acknowledgement of
acceptance”?
2. Apakah tebusan
“Letter of terms and
Condition” yang telah
ditanda tangani oleh
Bank executive
tersebut telah
disampaikan kepada?
a. Solicitor untuk
pembuatan Loan
agreement
b. Accounting Section
c. Operation and
administration
departement
7) Adakah penelitian
terhadap isi term and
condition di atas
terutama untuk hal-hal
sebagai berikut,
apakah telah sesuai
dengan analisa?
a) Loan principal
b) Final maturity
c) Avaibility

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 37


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

d) Repayment and
grace period
e) Optimal prepayment
f) Interest
g) Collateral
h) Commitment fee
i) Management fee
j) Afent Bank
k) Agency fee
8) Di samping hal-hal
tersebut di atas
pastikan apakah
managing bank telah
membuat “Syndicated
loan agreement” yang
mencakup hal-hal
sebagai berikut:
a) Borrower
Dari Bank executive
atau dari lead
manager, atau dari
parent company?
7. Apakah untuk
sarana penarikan
kredit tersebut telah
dipersiapkan?
a. Loan Card
b. Confirmation Letter
to borrower
c. Memorandum to
operation and
administration
departement untuk
remittance of funds
d. Facilites Expiring
Report
e. Facilities Expiring
Report
8. Adakah review
terhadap customer file,
pelajari kembali:
a. Credit analysis
report
b. Draft letter of term &
conditions
c. letter of term &
conditions
d. Letter Loan
agreement
e. Loan Card
f. Memorandum to
Treasury
g. memorandum to
Operation &
Administration
h. Confirmation Letter

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 38


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Apakah masing-
masing dokument
tersebut satu sama
lain telah ada
kesesuaian?
D. LOAN
ADMINISTRATION
1. apakah buku-buku
pembantu administrasi
perkreditan telah
dilaksanakan dengan
baik.
Adakah evaluasi dan
penelitian terhadap:
a. Loan Application
register
b. Loan – collateral
register
c. Loan – record
d. Loan – card
e. Loan – general
ledger
2. Apakah kewajiban
penyusunan laporan-
laporan perkrditan
telah dibuat dengan
baik, periksa:
a. Commitments and
Facilities available
report
b. Collateral report by
loan
c. Facilities excecded
report by loan
d. Facilities expiring
report by customer
3. Apakah Interest on
Loan telah dihitung
dan dibukukan dengan
baik, periksa kembali:
a. Penetapan Interest
rate dari Treasury
Departement
b. Apakah Interest
tersebut telah sesuai
dengan yang
tercantum dalam loan
agreement dan term
and conditions.
c. Interest Calculation
advice apakah rate-
nya dan
perhitungannya telah
benar.

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 39


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

d. Apakah Interest
Calculation advice di
atas dan
telex/letter/debet note
telah dibuat satu
minggu sebelum due-
date.
e. Apakah telex/debit
note tersebut telah
segera dikirimkan
kepada customer dan
kepada Accounting
Departement section.
f. “Loan Interest
Accrued Rerport” yang
dibuat oleh Accounting
section telah benar.
4. Apakah “ Interest
received” telah
diadministrasikan
dengan baik:
a. Bandingkan Interest
received (payment
instruments) dengan
“Interest payment
advice” yang
dikirimkan
sebelumnya.
b)Apakah”Interest
payment” tersebut
telah dibuat
“Confimation letter-
nya?
c) Apakah”Interest
payment”diatas telah
diserahkan
ke”Settlement Section.
d) bandingkan “Loan
Interest Received
Report”yang juga
dibuat oleh Accounting
Section.
5) Teliti be3sarnya
harga yang
menunggak sampai
periode yang
bersangkutan dengan
membandingkan butir
–butir 4d diatas apa
telah sesuai.

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 40


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

6) apakah
pelaksanaan “Loan
repayment” telah
dilaksanakan dengan
tertib,adakah
penelitian apakah:
a.setiap keredit yang
akan jauh tempo telah
dibuatkan loan
repayment advice-
bandingkan dengan
“loan maturity report
Dibuatkan loan
repayment advice-
bandingkan dengan
“Loan maturity
report”/Loan maturity
list.

b. Payment
instruments telah
diserahkan kepada
setlement section
untuk penyetoran ke
rekening yang
bersangkutan.

7. Apabila terjadi
tunggakan-tunggakan
apakan telah
dibukukan kedalam
“Loan maturity
overdue report” yang
dibuat setiap minggu?

8. Apakah debitur-
debitur yang
menunggak telah
dikirimi surat
reminder?

9. Apakah usaha
untuk penyelesaian
debitur macet tersebut
telah dilakukan secara
intensip kepada
nasabah yang
bersangkutan secara
langsung ataupun
melalui “legal advice”?

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 41


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

10. Apakah debitur-


debitur tersebut telah
diadministrasikan
dengan baik, pelajari:

a. Montly doubtpul
debst prevision report.

b. Montly Bad Debts


Written off Report.
c. Montly Bad Debts
Recovered Summary

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 42


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

WORK SHEET FOR CREDIT REVIEW

RATING __________________________
Borrower : _______________________ Audit Ref: ________________________
Nature of Business ________________ Reviewed By: _____________________
Type of Loan : ____________________ Reviewed Date : ___________________
Amount : _____________________ Final Maturity : _________________________
Amount Outstanding : ___________ (as of /198 )
Porpose of Loan : _____________________________________________________
Security / Recource Arrangement : ________________________________________
Banking Relationships : _________________________________________________

CREDIT APPROVAL
Approved by : __________________ Date of Approval : __________________

CREDIT ANALYSIS
I. Structure of Borrower
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
II. Business Analysis
A. Type of Business _______________________________________________
______________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
B. Experience _____________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
C. Product Demand & Diversification ___________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
D. Industry Structure _______________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
E. Competition ____________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 43


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

F. Market Share ___________________________________________________


_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
G. Business/Industry Risk ___________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
H. Outlook _______________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
III. Management Appraisal
A. Ownership _____________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
B. Composition ____________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
C. Qualification ____________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
D. Reputation _____________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
E. Debt __________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
F. Experience _____________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
G. Strategies / Objectives ___________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
H. Other Strengths / Weeknesses _____________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
IV. Financial Analysis

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 44


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

A. Basis Of Analysis ________________________________________________


_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
B. Assets Structure ________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
C. Asset Quality ___________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
D. Profitability _____________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
E. Capital Structure ________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
F. Net Wotking Investment __________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________

G. Cash Flow _____________________________________________________


_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
H. Liquidity _______________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
I. Debt-Service Capacity/Coverage ___________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
J. Efficieny _______________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
K. Market Assasment _______________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
L. Projections _____________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 45


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

V. Repayment
A. Primary Source __________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
B. Secondary Source _______________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
VI. Strukture of Credit
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________

VII. Comments on Analysis, Etc


_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________

DOCUMENTATION
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________

SECURITY / RECOURSE ARRAGEMENT


1. Type
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
2. Value / Amount
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
3. Date of Last Valuation & Frquency of Valuation
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
4. Basis of Valuation

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 46


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
5. Valuer
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
6. Documentation of Security / Recourse Arrangement
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
7. Comments on Security / Recourse Arrangement
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________
_________________________________________________________________

…………………………….

( Auditor )

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 47


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 48


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

TOTAL
COMMITMEN INTERNAL AUDIT
NAME OF CLIENT : T: REFF :
NATURE OF BUSINESS
: PROVISION : DATE :
AUDITORS / BANK
TYPE OF LOAN : (if applicable) :

CREDITWORTHINESS (FINANCIAL LEGAL EFFECTIVESNESS OF GENERAL ADMINISTRATION


SECURITY FOR LOAN
POSITION) DOCUMENTATION AND OPERATION OF LOAN

Spread Sheets completed : Adequacy of Documents : Type : Free due :


(as per facility letter)
Accounts date last
received : Adequacy :
Date Paid :
Adequacy : Valuation basis:
Adequacy :
Date last
Responses from Originals held : checked:
Comments Management (location checked & agreed) Amount of Interest :
Verified by Shareholders
Auditors: Basis for Payment :

Responses Last payment received


from :
Responses
from Comments Management
Comments Management Comments :

Capital Repayments

Responses
Comments from

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 49


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 50


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 3.3 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 51


Buku 3.4
AUDIT BIDANG JASA
PERASURANSIAN DAN DANA
PENSIUN

(AUDIT BIDANG JASA PENERIMAAN


PREMI DAN PEMBAYARAN KLAIM)
DAFTAR ISI
Halaman

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


BAB II URAIAN KEGIATAN ............................................................................... 5
KEGIATAN PENERIMA PREMI.............................................................. 5
KEGIATAN PEMBAYARAN KLAIM ........................................................ 8
MASALAH YANG DAPAT TERJADI PADA KEGIATAN PENERIMAAN
PREMI DAN PEMBAYARAN KLAIM .................................................... 10
BAB III PENGENDALIAN KEGIATAN PENERIMAAN PREMI DAN PEMBAYARAN
KLAIM
PENGENDALIAN PENERIMAAN PREMI ............................................. 13
PENGENDALIAN KEGIATAN PEMBAYARAN KLAIM ......................... 14
BAB IV PROGRAM KERJA AUDIT
PROGRAM KERJA AUDIT PENERIMAAN PREMI .............................. 17
PROGRAM KERJA AUDIT PEMBAYARAN KLAIM .............................. 19

LATIHAN ............................................................................................................. 22
PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB I
PENDAHULUAN
AUDIT OPERASIONAL KHUSUS JASA PERASURANSIAN DAN
DANA PENSIUN

A. Umum
Sebagaimana telah dibahas pada bab pendahuluan buku I, uraian audit operasional
mencakup audit operasional terhadap kegiatan yang bersifat umum (yang biasanya
selalu ada dalam badan usaha, misalnya audit pembelian, audit pemasaran, audit
kepegawaian, dll) serta audit operasional yang bersifat khusus, yang merupakan audit
kegiatan/fungsi khusus sesuai bisnis pokok badan usaha. Dalam pembahasan bab di
atas, audit operasional yang bersifat khusus dipisahkan atas audit operasional
kelompok jasa manufaktur/produksi, audit operasional kelompok jasa perbankan, audit
operasional kelompok jasa asuransi & dana pensiun, dan kelompok lainnya. Uraian
lebih lanjut pada buku ini, membahas mengenai audit operasional kelompok jasa
asuransi dan dana pensiun.
Pada audit operasional kelompok jasa asuransi dan dana pensiun, diuraikan audit
kegiatan yang terkait dengan usaha pokoknya, meliputi:
1. Audit kegiatan penerimaan premi/iuran
2. Audit kegiatan pembayaran klaim/santunan dan pensiun
3. Audit kegiatan pengembangan investasi

Kegiatan penerimaan premi/iuran merupakan kegiatan utama dari usaha


peransuransian/dana pensiun. Hal ini setara dengan kegiatan penjualan produk, untuk
memperoleh pendapatan. Perbedaannya terletak pada alur yang terbalik antara
pendapatan dengan beban/biaya. Pada usaha manufaktur, terjadi alur beban/biaya
produksi lebih dulu sebagai suatu konsekuensi, baru kemudian terjadi
penjualan/pendapatan. Pada usaha peransuransian, terjadi penerimaan pendapatan
premi/iuran lebih dulu, baru kemungkinan terjadi konsekuensi klaim dari pembayar
premi (biaya). Pada usaha asuransi, rate dibatasi oleh peraturan pemerintah, tidak
sama dengan industri manufaktur pada umumnya. Tingkat kemungkinan pembayaran

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 1


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

klaim bukan hal yang pasti, tergantung karakter bisnis suatu badan usaha. Hal
tersebut, merupakan suatu tingkat perkiraan harga asuransi yang diolah dari
peramalan berdasarkan data masa lalu, pengaruh unsur kekuatan, kelemahan,
peluang, ancaman (SWOT) saat ini maupun yang akan datang, serta faktor kontijensi.
Meskipun demikian, terdapat juga klaim yang terkait langsung dengan premi/iuran,
misalnya pada tabungan asuransi pegawai negeri atau/dan dana pensiun, klaim
pembayaran pensiun merupakan hal yang pasti dalam hal siapa penerima pensiun,
berapa nilai dan jadwalnya.
Baik pada usaha asuransi yang pembayaran klaimnya merupakan suatu kepastian
maupun yang pembayaran klaimnya pada posisi tingkat kemungkinan, perlu adanya
pengembangan sebagian dana selisih antara penerimaan premi dengan pembayaran
klaim periodikal, dalam bentuk investasi. Nilai investasi pada surat berharga sangat
terpengaruh oleh perubahan faktor-faktor eksternal. Investasi yang berhasil sesuai
target pengembangannya, akan mampu mengatasi pembayaran klaim yang tak
terduga (kontijensi) .Oleh karena itu, perlu adanya evaluasi terhadap target maupun
tingkat pencapaiannya.
Di samping uraian di atas, terdapat beberapa perbedaan anatara asuransi umum
dengan asuransi syariah, misalnya dalam bidang premi, pengelolaan risiko dan
underwriting; namun hal tersebut tidak dibahas dalam modul ini.

B. Ruang Lingkup Pembahasan Audit Terhadap Badan Usaha


Peransuransian.

1. Badan Usaha Asuransi di Indonesia


Asuransi di Indonesia sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda, dalam
rangka mengasuransikan usahanya di bidang perkebunan dan perdagangan.
Asuransi yang ada saat itu, merupakan asuransi yang didirikan orang Belanda
atau perusahaan yang merupakan cabang dari perusahaan asuransi yang ada di
negara-negara Eropa. Di samping itu, ada pula asuransi yang didirikan oleh
pejuang Indonesia, yang memperjuangkan nasib para guru, yaitu Asuransi Jiwa
Bumi Putera, tahun 1912.
Setelah Indonesia merdeka, perusahaan asuransi asing masih beroperasi di
Indonesia, namun pada saat perjuangan pengembalian Irian Barat ke Pangkuan
Republik Indonesia sekitar tahun 1962, perusahaan asuransi Belanda dan Inggris
dinasionalisasikan.

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 2


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Sekitar tahun 2011, di Indonesia telah berdiri 60 perusahaan asuransi jiwa, 104
perusahaan asuransi kerugian, empat perusahaan reasuransi, dua perusahaan
asuransi sosial dan jamsostek serta tiga asuransi untuk PNS dan ABRI.
Ditinjau dari organisasi pengelolanya, perusahaan auransi dapat dibedakan
mejadi dua kelompok, yaitu asuransi komersial, yang dikelola oleh swasta, serta
asuransi sosial yang dimiliki oleh negara dengan badan pengelola BUMN.
Asuransi sosial umumnya hanya mencakup perlindungan dasar, yang pendirian
sekaligus pasar captive-nya ditetapkan dengan aturan perundangan. Saat ini,
asuransi sosial yang ada adalah:
a. Asuransi Kesehatan Pegawai Negeri, dilandasi Keppres Nomor 230 tahun
1968.
b. Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN), dilandasi PP No.10
tahun 1963.
c. Asuransi Sosial Tenaga Kerja (Astek), dilandasi PP No.33 tahun 1977
d. Asuransi Kecelakaan Lalu Lintas, yang menjadi korban kecelakaan alat
angkutan umum dan lalu lintas, dilandasi UU No 33 dan No 34 tahun 1964
dengan pelaksananya PT(Persero) Asuransi Kerugian Jasa Raharja.
e. Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI), yang dilandasi
PP No 67 tahun 1991.

Baik asuransi sosial maupun asuransi komersial, semua sudah berbentuk


Perseroan Terbatas maupun Persero, sehingga harus dapat mandiri dan
berkembang dengan mengelola usahanya secara efektif dan efisien. Pengeloaan
yang efektif dan efisien dapat ditempuh antara lain dengan audit kegiatan-
kegiatan operasionalnya, ketaatan pada aturan-aturan yang ada, pengujian
aturan-aturan untuk pengembangan sesuai perubahan kondisi eksternal maupun
internal.

2. Lingkup Audit Usaha Perasuransian


Audit terhadap kegiatan khusus peransuransian, umumnya disesuaikan dengan
lingkup kegiatannya, yang biasanya meliputi kegiatan penetapan tarif, kajian
aktuaria, penilaian kerugian, penetapan klaim, fungsi investasi dan kerja sama
dalam industri asuransi. Pada modul ini, pembahasan audit dibatasi pada audit
bidang premi, audit bidang pembayaran klaim dan audit investasi.
Melalui audit operasional ketiga bidang tersebut, diharapkan ditemukan alternatif
pendekatan yang dapat meningkatkan efektiftas, efisiensi dan minimasi
kemungkinan terjadinya kecurangan .

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 3


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Pada audit bidang premi, dievaluasi mengenai ketentuan yang ada tentang premi
serta kemungkinan studi tentang besaran tarif dari aktuaria, kelompok tarif, tarif
khusus, aturan pengenaan tarif, kesepakatan kerja sama pemungutan tarif/sistem
keagenan, keputusan/kebijakan internal tentang tarif dari manajemen termasuk
periode pencatatan penerimaannya, untuk dibandingkan dengan realisasi
kegiatan. Rekomendasi yang dibuat, dapat menyangkut ketidaktaatan pada
aturan, pengenaan tarif yang salah, masalah keagenan, penyimpangan
pemungutan yang menyebabkan tidak efisien dan tidak efektif, maupun temuan
tahap awal adanya kecurangan. Uraian mengenai hal tersebut, akan dibahas
pada Bab III, modul ini.
Pada audit bidang klaim, dievaluasi ketentuan eksternal/perundangan maupun
ketentuan internal/kebijakan manajemen yang mendasari nilai, waktu dan metode
pembayaran klaim/santunan pensiun, kemudian dibandingkan dengan
realisasinya, serta penelusuran penerimaan yang berhak atas pembayaran
tersebut. Uraian hal tersebut akan dibahas pada Bab IV.
Bab V dari modul ini menguraikan audit atas investasi dana di perusahaan
asuransi, dengan membandingkan aturan-aturan investasi yang dikeluarkan
manajemen maupun saran-saran dari fund manager, tingkat hasil yang
ditargetkan, kondisi–kondisi kelayakan dari segi waktu, hasil dan biaya investasi,
untuk dibandingkan dengan realisasi serta pengamatan perkembangan nilai pasar
investasi (surat berharga).
Uraian pembahasannya, mencakup masalah lingkup kegiatan, evaluasi
pengendalian intern, penyusunan audit program dan pembahasan kasus-kasus
audit.
Audit bidang operasional lainnya, misalnya audit sumberdaya manusia,
pembelian, pemasaran dan keuangan, pembahasannya dilakukan pada modul-
modul kelompok audit operasional yang bersifat umum.

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 4


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB II
URAIAN KEGIATAN
A. KEGIATAN PENERIMAAN PREMI
Premi merupakan pembayaran sejumlah uang yang dilakukan oleh fihak tertanggung
kepada penanggung untuk mengganti atas suatu kerugian, kerusakan, atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan akibat dari timbulnya perjanjian atas
pemindahan risiko dari tertanggung kepada penanggung. Sedangkan asuransi adalah
suatu perjanjian dimana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang
tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian
kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan yang mungkin dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tentu (KUHD
pasal 246). Dalam hal ini, perusahaan asuransi disebut “Penanggung”, sedangkan
yang membeli produk asuransi, disebut “Tertanggung”.
Dengan demikian, premi asuransi merupakan:
1. Imbalan jasa atas jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada tertanggung
untuk mengganti kerugian yang mungkin diderita oleh tertanggung (pada asuransi
kerigian)
2. Imbalan jasa atas jaminan perlindungan yang diberikan kepada tertanggung
dengan menyediakan sejumlah uang (benefit) terhadap risiko hari tua atau
kematian (pada asuransi jiwa).

Premi asuransi atau biaya berasuransi merupakan prasyarat adanya perjanjian


asuransi, karena tanpa adanya premi, tidak akan ada asuransi. Pada umumnya premi
asuransi dibayar dimuka, namun beberapa pola premi diberikan tenggang waktu
pembayarannya. Premi asuransi yang dibayarkan oleh tertanggung menjadi
pendapatan perusahaan asuransi, disisi lain, perusahaan asuransi berkewajiban
membayar sejumlah dana yang disebut uang pertanggungan bila tertanggung
mengalami risiko sesuai dengan kontrak asuransi. Sebaliknya bila sampai masa akhir
kontrak, tertanggung tidak mengalami risiko yang diperjanjikan, maka kontrak
asuransi berakhir dan semua hak dan kewajiban kedua fihak juga berakhir. Kecuali

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 5


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

pada asuransi kematian dwiguna, bila masa pembayaran premi berakhir dan
tertanggung belum meninggal, ia masih mendapat uang pertanggungan sesuai
perjanjian dalam polis.
Urutan kegitan penerimaan premi melipiti:
1. Penetapan Besaran Tarip Premi.
Secara umum, besaran premi ditentukan berdasarkan seleksi risiko yang
dilakukan oleh underwriter; atau setelah perusahaan melakukan seleksi risiko
atas permintaan yang diajukan oleh calon tertanggung. Beberapa sumber
perhitungan premi didasarkan atas jenis produk asuransinya, misalnya:
a. Produk pensiun, dihitung berdasarkan tabel anuitas
b. Risiko meninggal, dengan menggunakan tabel mortalitas
c. Kesehatan dengan tabel morbilitas.
d. General insurance, dengan menggunakan tabel statistik.

Meskipun demikian, dalam praktek besaran tarif premi dapat didasarkan


gabungan dari beberapa sumber perhitungan, misalnya premi asuransi jiwa sering
didasarkan sumber tabel mortalitas, penerimaan bunga dan biaya-biaya asuransi.
Penetapan besaran premi yang dipungut, biasanya dilakukan oleh konsulyan
aktuaria/aktuaris. Untuk pedoman pemungut premi, besaran permi yang dipungut
disajikan dalam tabel-tabel perhitungan premi .
2. Perhitungan Premi yang Dipungut.
Perhitungan awal premi yang akan dipungut pada badan asuransi komersial, yang
disusun oleh aktuaris dalam bentuk tabel ppremi, biasanta ditetapkan dengan
keputusan Manajemen. Tabel pembayaran premi dengan kondisi tertentu,
digunakan para agen yang terdapat dikantor cabang dalam memberikan
penjelasan manfaat jenis premi yang dipilih, sampai ditindak lanjuti tahap
penyusunan kontrak.
Pada badan asuransi sosial, perhitungan premi yang akan dipungut, ditetapkan
oleh Direksi dengan persetujuan Pemerintah, atau ditetapkan langsung oleh
Pemerintah, sebagai pedoman pemungutan premi/iuran wajib . Pedoman tersebut
digunakan oleh pejabat/fungsi pelayanan premi, sebagai dasar pemungutan
premi.
3. Penunjukan Pemungut Premi.
Pada badan usaha asuransi komersial, pemungut premi dapat dilakukan oleh
Kantor Cabang secara langsung atau melalui Agen pemasaran perorangan. Agen
pemasaran akan menerima dan menyetorkan premi ke kantor cabang, saat

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 6


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

kontrak polis proforma disetujui tertanggung/nasabah. Setelah penyetoran premi


awal, tertanggung baru menerima kontrak polis definitif.
Pada usaha asuransi sosial, penunjukan pemungut premi didasarkan atas
kebijakan kerja sama pemungutan premi atau iuran wajib, dengan instansi
pemungut yang terkait dengan pembayaran suatu hak atau kewajiban
tertanggung. Sebagai contoh, Askes, Taspen atau Asabri, menerima premi/iuran
pensiun melalui Bendaharawan/Instansi pembayar gaji, sedangkan sumbangan
wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan, yang merupakan penerimaan premi PT.
Asuransi Kerugian Jasa Raharja (Persero), memungut premi melalui/bersamaan
dengan pembayaran pajak kendaraan bermotor. Karena tertanggung dari
asuransi sosial merupakan captive market, maka jumlah tertanggung/pembayar
iuran, tergantung dari data yang digunakan oleh instansi pemungut.
4. Penjelasan Kepada Calon Tertanggung/Nasabah.
Pada asuransi komersial, agen perorangan perlu memberikan penjelasan kepada
nasabah mengenai jenis–jenis asuransi yang ditawarkan, manfaatnya, cara
pembayaran premi dan permintaan pembayaran santunan, hak-hak dan
kewajiban tertanggung termasuk persyaratan-persyaratan adminstrasi.
Pada asuransi sosial, dimana tertanggungnya biasanya bersifat kolektif, maka
penjelasan tersebut dapat disampaikan kepada tertanggung berupa surat edaran
di domisili tertanggung, atau dibuat penjelasan tertulis yang menyatu dalam bukti
pembayaran premi .
5. Pencatatan Penerimaan Premi
Pada badan asuransi komersial, penerimaan premi dapat dilakukan di Kantor
Cabang, atau langsung kepada Agen Perorangan. Pencatatan penerimaan premi
tergantung kebijakan akuntansinya, dapat dicatat di Kantor Cabang, kemudian
dilaporkan ke Kantor Pusat sesuai dengan polis yang diterbitkan, atau ditransfer
ke Kantor Pusat, secara periodikal. Ketepatan waktu pencatatan premi, salah
satunya tergantung laporan penerimaan dari Agen Perorangan.

Pada badan asuransi sosial, penerimaan premi didasarkan perjanjian kerja sama
pemungutan premi, setoran dilaksanakan secara periodikal, umumnya melalui
bank yang ditunjuk, sehingga pencatatannya didasarkan bukti transfer atau bukti
setor. Apabila instansi partner yang disepakati kerja sama hierarkhi proses
pembayarannya bertingkat, dapat terjadi pungutan premi/iuran baru dapat
diterima setorannya pada akhir bulan berjalan atau pada bulan berikutnya.
6. Pelaporan Penerimaan Premi.

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 7


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Pelaporan penerimaan premi oleh Kantor Cabang ke Kantor Pusat umumnya


dilakukan secara periodikal, baik mingguan, dekadensial (sepuluh harian) atau
bulanan.
Koreksi atas penerimaan premi, biasanya dilakukan melalui jurnal koreksi bulan
berikutnya.

B. KEGIATAN PEMBAYARAN KLAIM


Klaim merupakan pengajuan hak yang dilakukan oleh tertanggung kepada
penanggung untuk mendapatkan haknya berupa pertanggungan atas kerugian
berdasarkan perjanjian atau akad yang telah dibuat. Dengan kata lain, klaim
merupakan proses pengajuan oleh peserta untuk mendapatkan uang pertanggungan
setelah tertanggung melaksanakan seluruh kewajibannya kepada penanggung, yaitu
berupa penyelesaian pembayaran premi sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.
Bagi badan usaha asuransi, ada dua tindakan dalam menghadapi klaim, yaitu
membayar klaim atau menolak pembayaran. Apabila setelah menurut penyelidikan,
klaim yang diajukan sesuai dengan persyaratan yang berlaku di dalam polis atau
sesuai aturan yang dtetapkan (pada asuransi sosial), umunya klaim dibayar kepada
tertanggung/peserta.
Pembayaran klaim dapat dilakukan sekali saja, dikaitkan langsung dengan premi yang
dibayar, terkait kerugian dari suatu transaksi (asuransi kecelakaan penumpang);
namun dapat pula pembayaran klaim dilakukan beberapa kali, dikaitkan dengan
periode/jangka pembayaran premi.
Namun bila dalam penyelidikan perusahaan asuransi, persyaratan yang diajukan
tertanggung tidak terpenuhi, maka klaimnya dapat ditolak. Penolakan pembayaran
klaim disebabkan dua hal, yaitu:
a. Kerugian tidak terjadi
b. Polis yang bersangkutan tidak menutupi kerugian tersebut, dalam arti, kerugian
yang terjadi diluar persetujuan pertanggungan, polis sudah tidak berlaku atau
tertanggung telah menyalahi ketentuan polis yang berlaku.

Dalam menetapkan, klaim dibayar atau ditolak penilai klaim akan mengikuti prosedur
atau tahapan kegiatan pembayaran klaim, sebagai berikut.
1. Pemberitahuan Dari Tertanggung.
Pemberitahuan tertanggung kepada perusahaan asuransi, memuat kerugian yang
telah terjadi yang diderita tertanggung. Kerugian dapat dilaksanakan secara lesan
kepada Kantor Cabang pada perusahaan asuransi komersial, namun umumnya
perusahaan asuransi mewajibkan pemberitahuan tentang kerugian disampaiakan

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 8


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

secara tertulis dengan formulir yang telah ditetapkan, serta ditetapkan batas
waktu maksimal pemberitahuan, setelah terjadinya peristiwa yang menimbulkan
kerugian.

2. Penyelidikan
Penyelidikan dilakukan untuk memastikan bahwa kerugian yang terjadi memenuhi
persyaratan dan dijamin oleh polis. Jika benar, dihitung berapa kerugiannya.
Untuk memutuskan apakah kerugian dijamin oleh polis atau memenuhi
persyaratan, harus diteliti:
 Adanya fakta kerugian.
 Adanya jaminan/tercover dalam polis (nilai, lokasi, jenis peristiwa, dsb).
 Kesesuaian dengan masa berlakunya Polis
 Kesesuaian nama tertanggung dengan penanda tangan klaim.
 Lain-lain hal yang ditetapkan dalam pertanggungan
Penyelidikan dilakukan, karena dapat terjadi tertanggung sengaja mengajukan
klaim di luar persyaratan, di luar kondisi yang sebenarnya atau tindakan lainnya
yang bersifat kecurangan.

3. Bukti Kerugian/Bukti Lain yang Terkait Pembayaran


Di samping bukti-bukti yang disertakan pada saat pengajuan klaim, diperlukan
bukti lain yang dapat digunakan sebagai bukti konfirmasi dari fihak lain (misalnya
dari Kantor Kepolisian pada asuransi kerugian/kecelakaan). Pada pembayaran
kerugian/santunan yang beberapa kali, atau bahkan berkali-kali, perusahaan
asuransi memerlukan bukti kerugian, berupa bukti tambahan untuk mendasari
kelanjutan pembayaran klaim peda periodikal lanjutannya, sesuai persyaratan
pembayaran dalam periode tertentu. Sebagai contoh, tertanggung/pensiunan,
harus mengirim surat referensi dari pejabat kependudukan setempat setiap tahun.

4. Pembayaran atau Tolakan.


Apabila penyelidikan berjalan dengan baik, maka pembayaran klaim
dilaksanakan, dengan bebarapa cara, agar pembayaran benar-benar diterima
oleh yang berhak.
Untuk meningkatkan reputasi perusahaan dan meningkatkan kepuasan
pelanggan/tertanggung, umumnya perusahaan menetapkan batas terlama
pembayaran klaim, dihitung mulai saat penerimaan bukti klaim.
Sebaliknya, dari penyelidikan kantor asuransi bila tidak berjalan baik, dapat
terjadi penolakan pembayaran.

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 9


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

C. MASALAH YANG DAPAT TERJADI PADA KEGIATAN


PENERIMAAN PREMI DAN PEMBAYARAN KLAIM.

Pada kegiatan peransurasian dapat terjadi masalah-masalah yang menyebabkan


inefisiensi atau/dan inefektif. Pembahasan masalah yang dapat terjadi dari suatu
kegiatan, bermanfaat untuk meminimasi risiko yang mungkin timbul, melalui perbaikan
sistem pengendalian internal perusahaan.
1. Dari uraian mengenai kegitan dan pengendalian penerimaan premi, dapat timbul
masalah, antara lain:
a. Kesalahan saat menetapkan tarif, tidak sesuai dengan kelompok atau jenis
asuransi yang dipilih tertanggung.
b. Pemungut menggunakan tarif premi lama yang sudah daluawarsa, karena
terlambatnya penerimaan informasi dari Kantor Pusat
c. Terjadi laping dan/atau pencurian oleh pemungut terhadap penyetoran premi
yang telah dipungut.
d. Terjadi keterlambatan transfer dari kantor cabang ke Kantor Pusat, yang
berdampak pengeluaran polis kepada tertanggung terlambat (pada asuransi
komersial)
e. Terjadi keterlambatan laporan penerimaan premi yang menyulitkan proses
verifikasi atau audit.
f. Penerimaan premi dibawah target
g. Penerimaan premi tidak sesuai dengan data perkembangan jumlah
tertanggung captive market (pada asuransi sosial)
h. dan lain-lain.

2. Dari kegiatan pembayaran klaim dapat terjadi masalah-masalah, diantaranya:


a. Pengajuan klaim dari tertanggung tidak lengkap persyaratan bukti-buktinya
b. Pengajuan klaim dari tertanggung diluar perjanjian/tidak sesuai dengan periode
polis .
c. Pengajuan klaim dari tertanggung adalah kerugian palsu/terdapat unsur
kecurangan.
d. Pengajuan klaim bekerja sama dengan fihak lain yang mengeluarkan bukti
konfirmasi untuk melakukan kecurangan.
e. Pembayaran klaim tidak diterima oleh yang tertanggung
f. Pembayaran klaim fiktif.
g. Pembayaran klaim terlambat, melebihi waktu yang ditetapkan dalam kebijakan
manajemen.

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 10


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

h. Klausul kerjasama dengan provider/lembaga keuangan/bank penyalur klaim


yang dibayarkan berangsur, kurang akurat
i. Pembayaran klaim yang sifatnya berangsur/berkali-kali, tetap dibayarkan
kepada tertanggung oleh provider,meskipun yang bersangkutan telah tidak
berhak (misalnya, meninggal pada pembayaran pensiun Taspen)
j. Pembayaran klaim yang sifatnya berangsur, berturut-turut beberapa periode
tidak diambil oleh tertanggung, sehingga mengendap di prvider penyalur klaim
k. Dan lain–lain hal penyimpangan pembayaran klaim

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 11


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 12


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB III
PENGENDALIAN KEGIATAN
PENERIMAAN PREMI DAN
PEMBAYARAN KLAIM
Pengendalian (internal) kegiatan penerimaan premi dan pembayaran klaim ditujukan
agar semua kegiatan berjalan efektif dan efisien, serta bila terdapat kelemahan, dapat
diadakan koreksi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengendalian yang efektif memerlukan pengorganisasian yang baik, lingkungan
pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta
monitoring dalam bentuk pelaporan dan rekomendasi kegiatan. Pada uraian berikut,
dibahas pengendalian kegiatan yang sebaiknya ada dalam penerimaan premi dan
pembayaran klaim.
A. PENGENDALIAN PENERIMAAN PREMI
Pengendalian penerimaan premi meliputi hal-hal berikut:
1. Harus ada organisasi yang terpisah, yang mengatur perhitungan tabel premi,
fungsi Pemungut Premi (yang didasarkan perjanjian tertulis dan resmi dari
manajemen), fungsi Penerimaan premi/kasir dan fungsi akuntansi.
2. Apabila Pemungut Premi dari fihak ketiga, harus ada perjanjian tertulis yang
mempunyai kekuatan hukum.
3. Harus ada pedoman besaran premi yang dikaitkan dengan kelompok-kelompok
tertanggung maupun jenis pertanggungannya yang disahkan manajemen.
4. Harus ada formulir atau format lain yang di prenumbered untuk bukti pungut
premi.
5. Harus ada penjelasan tertulis hak-hak dan kewajiban tertanggung pada saat
pemungutan premi, baik secara terpisah atau menyatu dalam bukti pemungutan
premi.

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 13


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

6. Disamping bukti pungut premi asli yang diberikan kepada tertanggung, harus
terdapat tembusan bukti pungut premi untuk pengendalian penerimaan oleh
supervisor atau auditor internal.
7. Pemungut premi harus memahami kelompok-kelompok obyek premi/tertanggung,
sesuai dengan tarip yang berlaku untuk berbagai jenis obyek premi.
8. Pemungut premi harus memastikan bahwa penyimpanan uang hasil pungutan
premi yang belum disetor ke kasir dalam kondisi aman dari kehilangan.
9. Harus ada perencanaan penerimaan premi tahunan dan bulanan, yang disyahkan
oleh manajemen.
10. Harus ada ketetapan/kebijakan yang mengatur besarnya biaya
pemungutan/komisi kepada agen/atau instansi pemungut, secara tertulis
11. Rekapitulasi penerimaan premi dari pemungut harus terinci sesuai nama
tertanggung/jenis kelompok premi, dan disetor atau melalui transfer bank.
12. Harus terdapat manual perusahaan yang menetapkan cara-cara pemungutan,
format pelaporan premi, serta jangka maksimal penyetoran ke kasir perusahaan
atas premi yang dipungut dari tertanggung
13. Harus ada batas waktu paling lambat terhadap pelaporan bulanan atas
penerimaan premi yang telah dipungut dan yang telah disetor ke kasir.
14. Harus ada verifikasi bulanan total penerimaan premi dan komisi-biaya
pemungutan dari supervisor dan audit periodikal, maupun koreksinya bila terdapat
kesalahan penerimaan pemungutan premi.
15. Supervisor/auditor harus mengupayakan adanya informasi data pembanding
pertumbuhan pasar/perkembangan pasar potensial obyek premi/tertanggung.
16. Supervisor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya risiko-risiko dari
kegiatan yang berjalan akibat terdapat perubahan SWOT, terjadi ketidak sesuaian
realisasi, dan penyebab operasional lainnya, kemudian mengusulkan rencana
tindaskan untuk memitigasi risiko tersebut.
17. Setiap terdapat perubahan aturan, manual, tarip premi serta kegiatan lainnya,
harus terinformasikan kepada fihak-fihak yang terkait dengan kegiatan tersebut
18. Harus ada evaluasi bulanan maupun triwulanan realisasi penerimaan premi
dibandingkan dengan rencana penerimaan periodikal oleh manajer atau auditor.

B. PENGENDALIAN KEGIATAN PEMBAYARAN KLAIM


1. Harus ada fungsi yang terpisah, meliputi fungsi pengujian pemberitahuan klaim
dan bukti-bukti pendukung/persyaratannya, fungsi penyelidikan lapangan, fungsi
Pembayaran santunan-klaim/kasir dan fungsi akuntansi.

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 14


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

2. Harus ada batas waktu daluwarsa pemberitahuan klaim sejak terjadinya kerugian
dari tertanggung.
3. Apabila disyaratkan adanya bukti-bukti pendukung dari instansi lain, harus
sah/ditandatangani yang berwewenang, masih berlaku dan diuji keasliannya
4. Harus ada pedoman tertulis cara mengadakan penyelidikan lapangan, termasuk
durasi/batas waktunya, terhitung sejak pemberitahuan klaim.
5. Penyelidik harus memahami klausul polis sesuai jenis pertanggungannya sebagai
bahan penyelidikan dilapangan
6. Harus ada formulir atau format berita acara yang di prenumbered sebagai laporan
penyelidikan lapangan, dilampiri keterangan atau konfirmasi dari pejabat daerah
atau pejabat lain terkait kasus yang terjadi
7. Pada berita acara harus jelas mengarah kepada keputusan pembayaran
sepenuhnya, pembayaran sebagian, atau menolak pembayaran klaim.
8. Bila keputusan final penyelidikan adalah menolak pengajuan klaim, maka
penyebab penolakan tersebut harus dijelaskan kepada tertanggung, dengan bukti
penerimaan keterangan dari tertanggung
9. Sebelum memerintahkan pembayaran santunan, supervisor/manajemen harus
meyakini bahwa laporan penjelidik telah memadai
10. Supervisor harus meyakini, tarip pembayaran klaim adalah tarip yang berlaku
11. Pembayaran klaim harus diterima oleh tertanggung melalui rekening bank milik
tertanggung, atau bank provider bagi penerima klaim secara berangsur
12. Sebelum transfer pembayaran klaim ke rekening tertanggung, harus ada verifikasi
kepemilikan rekening tertanggung
13. Harus ada perencanaan pembayaran klaim secara tahunan maupun triwulanan
14. Harus terdapat manual perusahaan yang menetapkan cara-cara penyelidikan,
format pelaporan penyelidikan dan pembayaran klaim, serta jangka maksimal
pembayaran klaim oleh kasir kepada tertanggung
15. Harus ada batas waktu paling lambat terhadap pelaporan bulanan rekapitulasi
pembayaran klaim secara lengkap .
16. Harus ada verifikasi bulanan terhadap total pembayaran klaim dari supervisor dan
audit periodikal, maupun koreksinya bila terdapat kesalahan pembayaran klaim.
17. Supervisor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya risiko-risiko dari
kegiatan yang berjalan akibat terdapat perubahan SWOT, terjadi ketidak sesuaian
realisasi, dan penyebab operasional lainnya, kemudian mengusulkan rencana
tindaskan untuk memitigasi risiko tersebut.
18. Setiap terdapat perubahan aturan, manual, tarip klaim serta kegiatan lainnya,
harus terinformasikan kepada fihak-fihak yang terkait dengan kegiatan tersebut

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 15


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

19. Harus ada evaluasi bulanan maupun triwulanan realisasi pembayaran klaim
dibandingkan dengan rencana penerimaan periodikal oleh manajer atau auditor.
20. Harus ada evaluasi paska pengiriman transfer melalui bank provider, bila
beberapa bulan santunan tidak diamb il oleh tertanggung.

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 16


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB IV
PROGRAM KERJA AUDIT
Program kerja audit merupakan penjabaran lebih lanjut dari audit plan. Bila pada audit
plan ditetapkan bidang-bidang yang dipilih untuk diaudit, maka pada program kerja
audit lebih difokuskan pada langkah- langkah kerja/kegiatan rinci yang direncanakan
saat melksanakan bidang yang akan diaudit yang terpilih sebelumnya. Langkah-
langkah kegiatan tersebut, sering disebut langkah-langkah audit atau prosedur audit.
Bentuk audit program dapat disusun secara matrik, ataupun naratif/uraian. Umumnya,
apapun bentuknya, audit program paling tidak dapat memberi informasi mengenai
tujuan audit dan langkah-langkah kerja/kegiatan. Hal lain yang dapat ditambahkan
(dalam bentuk kolom) antara lain; komponen kegiatan, risiko, pengendalian yang
dibutuhkan, nomor indeks KKA, jadwal(rencana-realisasi), auditor.
Sesuai dengan uraian kegiatan/tahapannya, maka contoh program audit terdiri dari:
A. Program kerja audit penerimaan premi
B. Program kerja audit pembayaran klaim

A. PROGRAM KERJA AUDIT PENERIMAAN PREMI


1. Tujuan Audit
a. Untuk menilai perhitungan premi yang dipungut sesuai dengan
pedoman/penetapan besaran premi.
b. Untuk memastikan premi yang dipungut sesuai dengan aturan dan diterima
tepat waktu, masuk ke rekening perusahaan
c. Untuk mengembangkan rekomendasi agar penerimaan premi dapat lebih
efisien dan efektif.
d. Untuk mengevaluasi risiko-risiko yang dapat terjadi dari kegiatan
penerimaan premi

2. Langkah-langkah kerja
a. Dapatkan pedoman/ketentuan perusahaan tentang penetapan besaran
premi yang terakhir/berlaku.

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 17


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

b. Mintakan pedoman tentang penetapan besarnya premi yang digunakan


dalam kegiatan pemotongan premi oleh pemungut premi
c. Teliti cara/teknik dalam pemungutan premi yang dilakukan oleh pemungut,
mintakan daftar pemungutan yang telah dilakukan.
d. Teliti jenis asuransi/kelompok tertanggung sesuai dengan tingkat-tingkat
besaran/prosentase yang berlaku
e. Bandingkan keempat dokumen diatas. Analisis kesesuaiannya. Evaluasi
risiko yang mungkin terjadi dari langkah kerja butir 2.c.
f. Teliti aturan/kesepakatan kerja sama dengan pihak 3, bila pemungutan
premi dilakukan secara kolektif, oleh personil/karyawan pada pihak 3
g. Teliti, status personil pemungut premi yang bekerja pada pihak ketiga.
h. Analisis risiko yang dapat terjadi dari butir 2.f . dan 2.g.
i. Mintakan laporan/print out pemungutan premi kolektif, harian atau bulanan.
j. Periksa kesesuaian kelompok/jenis tertanggung (misalnya golongan gaji-
pada pemungutan premi Taspen, atau jenis kendaraan pada pemungutan
SWDKLLJ- Jasa raharja).
k. Bandingkan kebenaran antara aturan dengan realisasi tarif, serta jeda
tanggal pemungutan dengan tanggal setoran ke kasir perusahaan. Evaluasi
bila terjadi laping.
l. Mintakan daftar laporan kolektif pemungutan premi bulan sebelumnya.
m. Bandingkan laporan kolektif pemungutan premi bulan lalu dengan laporan
pemungutan premi bulan berjalan.
n. Evaluasi mutasi tertanggung dari daftar kolektif kedua laporan bulanan
tersebut butir m
o. Upayakan data dari pihak ketiga yang terkait dengan mutasi tambah/kurang
dari jumlah tertanggung
p. Bandingkan data butir n. dengan data lain dari pihak ke 3 yang terkait
dengan mutasi tertanggung. Evaluasi hasilnya.
q. Analisis risiko yang dapat terjadi dari butir p. tersebut
r. Diskusikan dengan auditee masalah yang ditemukan dan kemungkinan
terjadinya risiko-risiko yang dapat merugikan perusahaan dari kegiatan
pemungutan premi
s. Dapatkan rencana penerimaan premi tahunan dan bulanan. Bandingkan dan
rekomendasikan koreksinya bila terdapat penyimpangan

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 18


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

B. PROGRAM KERJA AUDIT PEMBAYARAN KLAIM


1. Tujuan audit:
a. Unrtuk menilai kelengkapan dokumen dan persyaratan pengajuan klaim dari
tertanggung
b. Untuk memastikan pembayaran klaim sesuai dengan aturan yang ditetapkan
perusahaan, berjalan secara efektif dan efisien
c. Untuk mengevaluasi pengembangan tingkat pelayanan kepada
konsumen/tertanggung.
d. Untuk menilai risiko-risiko yang dapat terjadi dari kegiatan pembayaran
klaim yang berlaku saat ini.

2. Langkah-langkah kerja:
a. Dapatkan pedoman/ketentuan perusahaan tentang pembayaran klaim yang
terakhir/berlaku.
b. Mintakan pedoman tentang pembayaran klaim yang digunakan dalam
kegiatan pembayaran klaim oleh fungsi terkait
c. Teliti cara/teknik urutan/tahapan yang dilakukan oleh penyelidik lapangan
terhadap klaqim tertanggung, mintakan daftar penyelidikan lapangan yang
telah dilakukan selama periode audit.
d. Teliti jenis asuransi/kelompok tertanggung sesuai dengan tingkat-tingkat
besaran santunan yang diklaim oleh tertanggung
e. Bandingkan keempat dokumen diatas. Analisis kesesuaiannya. Evaluasi
risiko yang mungkin terjadi dari langkah kerja butir 2.c.
f. Dapatkan pedoman/ketentuan perusahaan tentang laporan hasil
penyelidikan lapangan terhadap klaim tertanggung yang terakhir/berlaku.
g. Teliti bukti konfirmasi dari pihak ketiga terkait status tertanggung (domisili,
keadaan kerugiannya,tanggal dan lokasi kejadian,dll) tentang validitas,
keaslian dan masa berlakunya.
h. Teliti tanggal penyelesaian penyelidikan lapangan dan tanggal laporan hasil
penyelidikan kepada supervisor/manager.
i. Teliti tanggal pembukaan rekening tertanggung untuk transfer santunan, bila
tuntutan klaim akan dibayar oleh perusahaaan asuransi. Evaluasi kebenaran
data rekening tertanggung.
j. Teliti tanggal transfer yang dilakukan oleh kasir ke rekening tertanggung.
k. Mintakan bukti asli transfer ke rekening tertanggung, untuk menghindari
bukti copy yang telah dirubah nomor rekeningnya.
l. Bandingkan kesesuaian kronologi butir i, butir j dan butir k

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 19


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

m. Uji sampling lapangan terhadap alamat tertanggung. Adakan wawancara,


pastikan bahwa transfer santunan telah diterima oleh tertanggung.
n. Pada pembayaran klaim secara berangsur/beberapa kali (misalnya pada
pembayaran pensiun), mintakan data kepada lembaga keuangan/provider
penyalur pembayaran klaim, data klaim yang tidak diambil oleh tertanggung
beberapa bulan berturut-turut.
o. Pastikan uang klaim yang tidak diambil beberapa periode berturut-turut oleh
tertanggung, diterima kembali oleh perusahaan dan diawasi pada akun
tertentu.
p. Mintakan bukti diri tertanggung dari pejabat kewilayahan domisili
tertanggung secara periodikal, sebagai bukti keberadaan tertanggung,
apabila pembayaran premi dilakukan berangsur.
q. Bila pengajuan pembayaran santunan/klaim tertanggung ditolak, pastikan
bahwa tertanggung telah menerima pnjelasan dari supervisor/manajemen
alasan-alasan penolakan tersebut.
r. Diskusikan dengan auditee masalah yang ditemukan dan kemungkinan
terjadinya risiko-risiko yang dapat merugikan perusahaan dari kegiatan
pembayaran klaim
s. Dapatkan rencana pembayaran klaim tahunan dan bulanan. Bandingkan
dan rekomendasikan koreksinya bila terdapat penyimpangan

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 20


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

SOAL LATIHAN:
1. Pada saat melaksanakan audit PT Jasa Raharja (Persero) di Cabang M (yang
menyelenggarakan asuransi sosial kerugian kecelakaan lalu lintas) anda
mendapatkan daftar laporan penerimaan premi SWDKLLAJ yang tidak sesuai
dengan tarip yang berlaku, tetapi menguntungkan perusahaan. Pada kode
kendaraan tertanggung, terdapat kode bahwa kendaraan tersebut adalah
ambulance, yang mempunyai tarip sosial SWDKLLAJ Rp 30.000,--tetapi
dikenai pungutan Rp 300.000,-sebagai mana tarip kendaraan pribadi maupun
kendaraan umum . Setelah anda telusuri, ternyata yang mengerjakan
pemungutan premi, adalah petugas dari dinas pendapatan daerah setempat,
tanpa minta konfirmasi dahulu pada karyawan PT Jasa Raharja yang stand by
di loket Jasa Raharja.
a. ditinjau dari sistem pengendalian internal, bagaimana seharusnya
mekanisme pemungutan premi, agar kesalahan tersebut tidak berulang?
b. apa rekomendasi yang anda ajukan Kepada kepala Cabang M, terhadap
kesalahan tersebut?
c. Risiko apa saja yang dapat terjadi atas kasus tersebut?
2. Pada audit yang sama di Cabang R, Anda mendapatkan data, bahwa
penyelidikan yang diadakan oleh fungsi terkait, menunjukkan bahwa
kecelakaan lalu lintas yang terjadi didaerah tersebut menyebabkan tiga orang
tewas dan dua orang luka berat.
Menurut konfirmasi dari pihak ke-3, dari kecelakaan tersebut menyebabkan
empat orang tewas dan dua luka-luka. Saat anda mewawancara petugas
penyelidikan, ternyata selisih satu orang tewas tersebut terjadi karaena pada
saat terjadi kecelakaan lalu lintas, seseorang sedang memanjat pohon kelapa,
tepat dipinggir jalan terjadinya kecelakaan. Dia terkejut dengan adanya suara
benturan kendaraan, dan jatuh dari pohon kelapa, dibawa kerumah sakit,
beberapa jam kemudian meninggal.
Sampai anda selesai mengadakan pemeriksaan di Kantor Cabang tersebut,
belum diambil keputusan pembayarana klaim, padahal batas waktu
pembayaran klaim sudah habis.
Apa saran anda terhadap kasus tersebut? Jelaskan risiko apa saja yang dapat
terjadi, bila klaim meninggal dibayarkan kepada empat tertanggung atau tiga
tertanggung?
1. Pada saat anda mengadakan audit di Kantor Cabang K, anda meragukan
laporan hasil penyelidikan, karena terdapat data pendukung pihak 3, yang

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 21


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

tidak jelas cap jabatan serta berbeda lokasi kejadiannya. Saat anda
melakukan sampling kepada salah satu tertanggung yang namanya tercantum
dalam laporan penerima klaim, ternyata dia tidak mengajukan permintaan
klaim dan tidak membuka rekening pada bank yang tercantum pada daftar
pembayaran klaim.
Langkah-langkah audit lanjutan apa yang akan anda laksanakan terhadap
kasus tersebut? Hipotesis apa saja yang akan anda siapkan terhadap hal
tersebut?

BUKU 3.4 Jasa MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 22


Buku 3.5
AUDIT BIDANG JASA
INVESTASI
DAFTAR ISI
Halaman

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


BAB II URAIAN KEGIATAN ............................................................................... 3
TRANSAKSI INVESTASI........................................................................ 3
AKUN, DOKUMEN DAN ARSIP PENTING UNTUK TRANSAKSI
INVESTASI ............................................................................................ 3
TUJUAN AUDIT INVESTASI .................................................................. 4
TUJUAN PENGUJIAN SUBSTANTIF INVESTASI.................................. 4
PRINSIP AKUNTANSI INVESTASI ........................................................ 5
BAB III PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO DAN TRANSAKSI (SIKLUS
INVESTASI) ........................................................................................... 7
BAB IV PROGRAM KERJA AUDIT ................................................................... 11

LATIHAN ............................................................................................................. 14
Buku 3.5
AUDIT BIDANG JASA
INVESTASI
DAFTAR ISI
Halaman

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


BAB II URAIAN KEGIATAN ............................................................................... 3
TRANSAKSI INVESTASI........................................................................ 3
AKUN, DOKUMEN DAN ARSIP PENTING UNTUK TRANSAKSI
INVESTASI ............................................................................................ 3
TUJUAN AUDIT INVESTASI .................................................................. 4
TUJUAN PENGUJIAN SUBSTANTIF INVESTASI.................................. 4
PRINSIP AKUNTANSI INVESTASI ........................................................ 5
BAB III PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO DAN TRANSAKSI (SIKLUS
INVESTASI) ........................................................................................... 7
BAB IV PROGRAM KERJA AUDIT ................................................................... 11

LATIHAN ............................................................................................................. 14
PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 3.6
AUDIT OPERASIONAL
PELAKSANAAN KREDIT PEGADAIAN

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 1


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 2


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Audit Operasional Bidang Khusus/


Kegiatan Pokok
• Pada perusahaan manufaktur, audit operasional
bidang produksi merupakan audit yang bermuara
kepada perhitungan harga pokok produksi, sebagai
komponen utama perhitungan laba-rugi perusahaan.
Unit operasional auditee biasanya menggunakan
titelatur bagian/direktorat produksi.
• Pada perusahaan jasa, kegiatan pokoknya terkait
dengan upaya menghasilkan jasa dan memberikan
pelayanan imbal jasa sesuai dengan karakter bisnisnya.
Unit operasionalnya umumnya menggunakan titelature
direktorat pengelolaan/teknik, atau sesuai karakter
tugasnya.

TIGA JENIS OPERASIONAL POKOK


BIDANG USAHA
• Manufaktur :
Beli bahan baku/parts + tenaga kerja + peralatan
 produk jadi + WIP  penjualan barang
• Perdagangan :
Beli produk jadi + tenaga kerja +prlt. pendukung
 penjualan barang
• Jasa
Tenaga kerja + peralatan pendukung
 penjualan jasa

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 3


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Berbagai Contoh Jenis Kegiatan


Operasional Pokok
• Kegiatan operasional pokok usaha manufaktur adalah
produksi
• Bisnis Jasa Asuransi, kegiatan operasional pokok adalah
penerimaan premi, pembayaran klaim, dan investasi.
• Pada usaha transportasi, operasional pokok pada
penyediaaan dan pemeliharaan sarana serta penjualan
tiket penumpang dan/atau barang
• Usaha Rumah Sakit, operasional pokok pada perawatan
pasien dan farmakologi
• Pada bisnis perbankan operasional pokok pada
penerimaan dana dan pemberian kredit
• Pada pegadaian kegiatan pokoknya adalah pemberian
kredit, penaksiran jaminan dan kolektibilitas

Pendekatan audit operasional pokok


non manufaktur
• Menginventarisasi sistem pengendalian internal
yang telah berjalan( Organisasi, kebijakan-
kebijakan /SOP/Manual, dll) yang terkait dengan
proses perolehan pendapatan dan beban pokok.
• Menginventarisasi target-target tujuan ( RKAP,
KPI,target sub unit, dll) secara kuantitatif dan
kualitatif per satuan waktu.
• Menyusun prosedur audit/program audit,
pekerjaan lapangan, pelaporan dan monitoring
tindak lanjut

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 4


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Lingkup dan pengorganisasian audit


operasional non manufaktur
• Lingkup bidang yang diaudit, tergantung jenis “ produk
jasa” yang dijual, termasuk pengembangan produk baru
atau varian produknya.

• Bila produk jasa yang dijual relatif banyak, lingkup audit


operasional dapat didasarkan dari organisasi/struktur SBU
yang ada (strategic Bisnis Unit/ unit profit centre) dalam
arti auditor internal didesentralisasi-dekonsentrasi
(berada di wilaya, tetapi bertanggung jawab langsung
kepada Ka SPI pusat. Bila produknya semacam dan tidak
tersebar, dipertimbangkan untuk sentralisasi auditor

• Dapat juga didasarkan dari gabungan keduanya

Jenis Pemberian Kredit


Pemberian kredit umumnya meliputi dua jenis dikaitkan
dengan barang jaminannya:
1. Kredit dengan jaminan meliputi kredit yang jaminannya
ditahan oleh pemberi kredit (gadai konvensional) dan
kredit yang jaminannya tidak ditahan oleh pemberi
kredit, tetapi cukup surat-srat yang terkait barang
jaminan (fidusia), misalnya kredit bank dan kredit
pegadaian jenis tertentu
2. Kredit tanpa jaminan yang fokus pengendalianya lebih
ke monitoring usaha dari debitur, misalnya kredit
candak kulak, kredit konsumsi/ investasi secara kolektif
melalui suatu lembaga yang dipercaya kreditur

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 5


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Jenis Pemberian Kredit


Pemberian kredit umumnya meliputi dua jenis dikaitkan
dengan barang jaminannya:
1. Kredit dengan jaminan meliputi kredit yang jaminannya
ditahan oleh pemberi kredit (gadai konvensional) dan
kredit yang jaminannya tidak ditahan oleh pemberi
kredit, tetapi cukup surat-srat yang terkait barang
jaminan (fidusia), misalnya kredit bank dan kredit
pegadaian jenis tertentu
2. Kredit tanpa jaminan yang fokus pengendalianya lebih
ke monitoring usaha dari debitur, misalnya kredit
candak kulak, kredit konsumsi/ investasi secara kolektif
melalui suatu lembaga yang dipercaya kreditur

Beberapa masalah dalam pemberian kredit

1. Pemberian kredit fiktif individual maupun kolektif.


2. Masalah penaksiran nilai jaminan.
3. Masalah penyelesaian administrasi kredit yang
lambat.
4. Masalah pengujian kelayakan usaha atas kredit
fidusia.
5. Masalah penggunaan satu jaminan untuk kredit
ganda.
6. Masalah kerusakan jaminan atas kredit fidusia.
7. Lain-lain masalah insidental.

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 6


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Beberapa Penyebab Kegagalan pada


Perkreditan
1. Adanya self dealing (vested interest pejabat lembaga
kredit dalam memutuskan pemberian kredit tanpa
dilandasi mental yang baik).
2. Non existence of sound landing policies/ tidak
lengkapnya kebijaksanaan/ pedoman kredit yang
sehat.
3. Incomplete Credit Information (SIM yang jelek baik di
lingkungan lembaga kredit maupun informasi yang
menyangkut kegiatan debitur).
4. Failure to obtain or enforce liquidation agreement,
yaitu kegagalan mengambil tindakan likuidasi atas
jaminan karena kesalahan klausul kontrak kredit.

Beberapa Penyebab Kegagalan pada


Perkreditan (lanjutan)
5. Technical Incompetency, yaitu kurangnya kemampuan
teknis para pejabat yang terkait dengan pemberian
kredit dan kolektibilitas.
6. Poor selection of risk, yaitu ketidakmampuan eksekutif
kredit melakukan seleksi risiko dalam pemberian
kredit.
7. Overfinancing/ Underfinancing, yaitu ketidakmampuan
pengelola kredit dalam memberikan jumlah maupun
timing yang tepat kepada debitur.
8. Lack of supervising, yaitu kurangnya pengawasan yang
menyebabkan kredit macet atau masalah kolektibilitas.

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 7


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Gambaran Umum Jenis Operasional Khusus


Pegadaian
PT. Pegadaian (Persero) merupakan BUMN yang memberikan
pembiayaan yang tercepat, termudah, aman, dengan memberikan
pembinaan terhadap golongan menengah ke bawah untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi, melalui pemberian kredit maupun jasa
lainnya.
Pemberian kredit meliputi jenis:
1. Investa, jaminannya saham dan obligasi, surplus 60% pinjaman s/d
50M
2. Kagum, fidusia, instansi peminjam harus ada kerjasama dengan
pegadaian
3. Kremada, fidusia, pinjaman untuk renovasi/ perumahan,
jaminannya adalah pengesahan dari pokja pemda
4. Arum, syariah, fidusia, jaminannya BPKB dan fotokopi STNK
5. Amanah, syariah, fidusia, kredit konsumsi pembelian kendaraan

Gambaran Umum Jenis Kredit Pegadaian (Lanjutan)


6. Krista, fidusia, kredit wanita wira usaha secara kelompok, tanggung
jawab renteng, jaminan alat rumah tangga, barang dagangan, sarana
produksi, usaha telah berjalan 6 bulan, domisili tetap.
7. Kreasi, fidusia, untuk KUKM, jaminan BPKB, usaha telah berjalan 1
tahun.
8. Krasida, untuk KUKM, jaminan emas dan mobil, motor, surat-surat
dan fisik jaminan ditahan.
9. KCA, jaminan emas, barang berharga, mobil, motor, fisik jaminan dan
surat-surat ditahan.
10. KTJG (kredit tunda jual gabah), untuk petani, jaminan ditahan, kredit
melalui agen.

Di samping pemberian kredit, pegadaian juga melaksanakan


perdagangan emas/ logam mulia

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 8


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Evaluasi Pengendalian Intern Pemberian Kredit


No PERTANYAAN YA/ TIDAK
1 Apakah perusahaan telah memiliki kebijakan umum di bidang
perkreditan?
2 Apakah ada kebijakan operasional khusus yang mengatur jenis-
jenis kredit yang disalurkan?
3 Apakah para pejabat kredit mempunyai pengetahuan dan
pendidikan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya?
4 Apakah telah terdapat pembagian wewenang untuk pemutusan
proses pemberian kredit dari masing-masing petugas?
5 Apakah antara penaksir jaminan dan pejabat yang memutuskan
pemberian kredit diadakan pemisahan tugas?
6 Apakah penaksir jaminan didasari pendidikan tertentu?
7 Apakah penaksir jaminan dibekali alat-alat yang diuji
keakuratannya dan kepresisiannya secara periodik?

8 Apakah perusahaan menyediakan tepat penyimpanan dokumen


perkreditan secara aman dan tertib?
9 Apakah terdapat manual yang mengatur dokumen yang harus
disimpan secara sentral dan dokumen/ kertas kerja yang dapat
disimpan masing-masing pejabat?
10 Apakah perusahaan melakukan mutasi pejabat/ pegawai secara
teratur?
11 Apakah perusahaan mempunyai penasihat hukum yang bonafide di
kantor pusat dan/atau di kantor wilayah?
12 Apakah perusahaan mempunyai langganan notaris/ akuntan publik/
konsultan yang bonafide di kantor pusat?
13 Dalam memberikan kredit apakah perusahaan aktif melakukan
project identificator untuk menguji debitur yang bonafide?
14 Dalam memberikan kredit apakah perusahaan mengadakan
desentralisasi dalam jumlah kredit serta sektor ekonomi?

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 9


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Evaluasi Pengendalian Intern Pemberian Kredit


(lanjutan)
No PERTANYAAN YA/ TIDAK
15 Apakah dalam melakukan penilaian barang jaminan yang nilainya
relatif besar dilakukan oleh perusahaan appraisal?
16 Apakah penilaian barang jaminan mesin industri yang sifatnya
fidusia dilakukan oleh tenaga ahli/ konsultan?
17 Apakah barang jaminan yang sifatnya fidusia (dipergunakan oleh
debitur, perusahan hanya menahan bukti kepemilikan) diperiksa
fisiknya secara teratur dan terencana?
18 Apakah debitur yang mendapat kredit fidusia diwajibkan membuat
laporan keuangan secara periodik?
19 Apakah perusahaan mengadakan penilaian kolektibilitas para
debitur?
20 Apakah terdapat kebijakan yang menetapkan lamanya pencairan
kredit yang disetujui maupun prosentase minimal kolektibilitas?
21 Apakah dalam penetapan suku bunga terdapat diversifikasi bunga
berdasar risiko kredit kelompok debitur?

22 Apakah tidak terdapat suatu grup debitur yang memperoleh berbagai


jenis kredit dalam jumlah yang relatif besar?
23 Apakah semua kredit yang diberikan selalu dibuatkan ikatan perjanjian
kredit yang lengkap?
24 Apakah dokumen-dokumen asli, sertifikat barang jaminnan telah
disimpan dalam strong-room yang tahan api?
25 Apakah sistem pengarsipan bermacam dokumen perkreditan telah
diarsikan secara sistematis?
26 Apakah waktu yang diperlukan untuk menghitung bunga, pembuatan
nota debit/ pelunasan tidak lebih dari satu hari setelah saat
berakhirnya periode perhitungan transaksi yang bersangkutan?
27 Apakah perusahaan mempunyai batasan wewenang pemberian kredit
secara berjenjang?
28 Apakah setiap perjanjian kredit yang akan jatuh tempo/ perpanjangan
telah diproses lebih dulu untuk menghindari overdue?

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 10


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Evaluasi Pengendalian Intern Pemberian Kredit


(lanjutan)
No PERTANYAAN YA/ TIDAK
29 Apakah perusahaan mengadakan konfirmasi fisik penerimaan kredit
ke alamat debitur?
30 Apakah setiap tahun disusun anggaran kredit yang disetujui dewan
komisaris?
31 Apakah perusahaan memiliki SOP penjualan barang jaminan?
32 Apakah terdapat SOP mengenai penjualan logam mulia?
33 Apakah terdapat target pendapatan dan biaya penjualan logam
mulia yang tercantum dalam RKAP?
34 Apakah terdapat perputaran tugas yang terencana terhadap
manajer penjualan logam mulia?
35 Apakah terdapat dual custody dalam penyimpanan barang-barang
logam mulia?
36 Apakah terdapat monitoring perubahan harga logam mulia secara
harian?
37 Apakah terdapat pengamanan tempat penjualan dan tempat
penyimpanan yang memadai?

Gambaran penilaian sistem


pengendalian internal
Rekapitulasi : jumlah Ya = ..... Jumlah Tidak.....
• Jumlah Ya 30 s/d 37 = Baik
• Jumlah Ya 23 s/d 29 = Cukup
• Jumlah Ya 16 s/d 22 = Sedang
• Jumlah Ya 1 s/d 15= Kurang
............, Tanggal.....................

Bank Auditor

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 11


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Program Kerja Audit Pemberian Kredit


• Dalam menyusun audit program, maka dibuat daftar
langkah kegiatan sekaligus untuk berbagai jenis kredit
di pegadaian yang dikelompokkan dalam kelompok
gadai konvensional (fisik jaminan dan surat-surat
ditahan) dan gadai fidusia (fisik jaminan tidak ditahan
dan suratkepemilikan ditahan).

• Gambaran dari langkah kerja/ kegiatan dari audit


program adalah sebagai berikut:

Langkah kerja audit program


No Langkah Kerja Konven Fidusia
sional
1 Teliti persyaratan administratif debitur Y Y
2 Teliti daftar barang jaminan yang diserahkan oleh debitur, Y Y
pisahkan dalam tiga kelompok:
a. Resalevalue konstan/ meningkat (emas, tanah)
b. Resalevalue menurun pelan (bangunan)
c. Resalevalue menurun drastis ( mesin, mobil)
3 Bandingkan estimasi resalevalue dari penaksir dengan jumlah Y Y
pemberian kredit.
4 Bandingkan wewenang dan aturan prosentase pemberian kredit Y Y
berdasarkan resalevalue dengan realisasi putusan pemberian
kredit
5 Bandingkan batas nilai pemberian kredit dengan otorisasi Y Y
lembaga appraisal nilai jaminan yang sifatnya kompleks
6 Bandingkan luas penyimpanan barang jaminan dengan kredit Y T
yang telah disetujui
7 Teliti apakah barang jaminan milik peminjam yang bersangkutan; Y Y
bila bukan pemilik, periksa surat kuasanya dari pemilik

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 12


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Langkah kerja audit program (lanjutan)


No Langkah Kerja Konven Fidusia
sional
8 Teliti daftar barang jaminan, perawatan barang jaminan Y T
serta biaya perawatan. Bandingkan kesesuaiannya
9 Teliti apakah biaya perawatan barang jaminan melebihi Y T
prosentase tertentu sesuai dengan anggaran
10 Adakan rechecking, bukti asli dari dokumen barang yang Y Y
dijaminkan telah dikuasai perusahaan
11 Adakan rechecking, barang jaminan tersimpan di tempatnya Y T
dengan tertib dan aman
12 Teliti barang jaminan secara inspeksi on the spot/ mendadak Y Y
untuk menilai kondisinya dan jumlahnya
13 Teliti apakah barang jaminan perusahaan telah ditutup Y Y
asuransinya dengan jumlah yang pantas
14 Adakan observasi bahwa perusahaan asuransi tersebut Y Y
cukup bonafide, polis asuransi asli ada pada perusahaan

15 Bandingkan kesesuaian akad kredit dengan uang yang y y


dibayarkan
16 Bandingkan realisasi periode pencairan kredit dengan Y Y
ketetapan yang berlaku
17 Pastikan pembayaran uang tunai dalam jumlah besar Y Y
maupun jumlah kecil diterima langsung oleh debitur
18 Uji sampling ke alamat debitur secara langsung untuk Y Y
memastikan tidak adanya debitur fiktif
19 Konfirmasikan keabsahan lembaga yang memberikan T Y
jaminan secara kolektif
20 Konfirmasikan kepada debitur yang mengalami tunggakan Y Y
lebih dari tiga kali angsuran atau debitur yang
mengadakan perpanjangan
21 Periksa penyelesaian administrasi yang terlambat Y Y
terhadap perpanjangan angsuran yang menyebabkan
overdue

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 13


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Langkah kerja audit program (lanjutan)

No Langkah Kerja Konven Fidusia


sional
22 Periksa daftar pengembalian barang jaminan, bandingkan Y Y
dengan daftar penutupan kredit
23 Periksa prosentase kolektibilitas bandingkan dengan Y Y
kewajaran dan/atau SOP yang ada
24 Teliti pengenaan bunga sesuai dengan jenis pinjaman yang Y Y
berlaku serta pembebanannya ke debitur
25 Lakukan perhitungan analisa biaya dan manfaat terhadap Y Y
pinjaman kolektif tanpa jaminan
26 Teliti kebenaran perhitungan angsuran kredit dikaitkan Y Y
dengan tingkat bunga kredit
27 Teliti kelengkapan dan pemutakhiran kartu-kartu debitur/ Y Y
spread sheet
28 Teliti laporan perkembangan usaha yang berasal dari kredit T Y
krista dan kreasi secara fisik di lokasi usaha

29 Teliti kesepakatan dan perjanjian dengan debitur mengenai Y Y


penjualan barang jaminan
30 Teliti surplus atau defisit penjualan jaminan debitur Y Y
terhadap sisa pinjamannya
31 Teliti periode dan jumlah pembayaran surplus penjualan Y Y
jaminan debitur
32 Adakan pengujian sampling di alamat debitur terhadap Y Y
penerimaan surplus penjualan jaminan
33 Periksa laporan keuangan periodikal laporan penyaluran Y Y
kredit dan pendapatan bunga, bandingkan dengan RKAP
perusahaan serta dapatkan analisis penyimpangannya

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 14


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Langkah kerja audit program


penjualan logam mulia
No Langkah Kerja
1 Periksa daftar persediaan logam mulia, bandingkan dengan fisik baik secara
dimensi maupun secara kualitas
2 Teliti catatan perubahan harga harian dari manajer unit
3 Teliti perhitungan harga jual kepada konsumen, bandingkan dengan SOP yang
ada
4 Teliti dokumen penjualan, bandingkan dengan pengeluaran barang untuk
konsumen
5 Teliti hasil peneraan periodikal untuk menguji kepresisian dan keakuratan
peralatan tera logam mulia
6 Teliti kesesuaian sertifikat keaslian (certified of origin) kualitas logam yang dijual
7 Teliti pengamanan ruangan penyimpanan dan penjualan logam mulia
8 Teliti jadwal perputaran petugas penjuala logam mulia secara periodikal,
bandingkan dengan SOP yang ada
9 Teliti penjualan kredit logam mulia, perhitungan angsuran dan bunganya
10 Periksa laporan keuangan bulanan perhitungan penjualan logam mulia,
bandingkan dengan RKAP dan dapatkan analisis penyimpangannya

BUKU 3.6 MODUL AUDIT OPERASIONAL (Jasa) HALAMAN 15


MODUL DIKLAT
AUDIT OPERASIONAL

BUKU 4 AUDIT TERHADAP KEGIATAN PEMASARAN

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan


Jl. RC Veteran Raya No. 555A
Pesanggrahan – Bintaro
Jakarta Selatan 12330
Tlp. (021) 7373680
Fax. (021) 7373681
e-mail: forum_ppak@yahoo.com
Buku 4

AUDIT BIDANG
PEMASARAN
DAFTAR ISI
Halaman

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


BAB II URAIAN KEGIATAN
PENENTUAN STARTEGI PRODUK/STRATEGI ASAR ......................... 3
PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN ............................................ 4
PROMOSI PENJUALAN......................................................................... 6
PENJUALAN DAN DISTRIBUSI ............................................................. 8
PELAYANAN KEPADA KONSUMEN ..................................................... 9
BAB III ASPEK PENGENDALIAN KEGIATAN PEMASARAN ........................... 11
PENGENDALIAN PERENCANAAN TAHUNAN ................................... 11
PENGENDALIAN PROFITABILITAS .................................................... 13
PENGENDALIAN EFISIENI .................................................................. 13
PENGENDALIAN STRATEGIS ............................................................ 14
BAB IV AUDIT FUNGSI PEMASARAN
BAB V PROGRAM AUDIT TERHADAP KEGIATAN PEMASARAN .....................
PEDOMAN YANG BERLAKU UNTUK KEGIATAN PEMASARAN ........ 17
KEGIATAN OPERASIONAL DALAM BIDANG PEMASARAN .............. 17
PENGUJIAN KHUSUS ......................................................................... 20

LATIHAN ............................................................................................................. 21
PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB I
PENDAHULUAN

Semua organisasi perusahaan memproduksi dan memasarkan barang atau jasa kepada
para pemakainya. Namun baru pada masa akhir-akhir ini disadari pentingnya fungsi
pemasaran sehingga mendapatkan perhatian yang cukup besar dari manajemen.

Pada masa lalu, manajemen produksi sangat mendominasi pemikiran perusahaan.


Perusahaan sangat menekankan mutu dari barang-barang yang diproduksi, baru
kemudian berusaha mencari para pembeli. Pada masa sekarang, kemampuan
memproduksi produk bermutu belumlah menjamin keberhasilan perusahaan. Banyak
perusahaan mulai mengamati konsep pemasaran di mana menurut konsep tersebut
perusahaan harus memakai suatu orientasi konsumen perusahaan yang luas dengan
sasaran memperoleh laba jangka panjang. Dalam hal ini tidak berarti personalia
pemasaran akan mendominasi perusahaan, tetapi seluruh bidang-bidang kegiatan harus
diarahkan pada usaha pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen. Dalam usaha
tersebut haruslah dijalin kerjasama yang serasi antara fungsi-fungsi produksi, teknik,
personalia, keuangan, pemasaran, administrasi, dan fungsi-fungsi lainnya yang
berhubungan.

Pentingnya fungsi pemasaran harus disadari benar karena hanya perusahaan yang
berhasil menjual barang/jasa yang dapat memenuhi dan memuaskan konsumen yang
dapat tetap hidup dan mencapai laba jangka panjang.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 1


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB II
URAIAN KEGIATAN

Seperti kegiatan-kegiatan yang telah kita bicarakan, fungsi pemasaran dapat dipandang
sebagai suatu siklus kegiatan bertahap. Pendekatan ini dapat diterapkan kepada
perusahaan sebagai suatu keseluruhan, atau diterapkan untuk mereview aktivitas
pemasaran dari suatu divisi, cabang, atau unit organisasi lainnya yang bertanggung
jawab atas suatu jenis produk. Tahap-tahap dari keseluruhan siklus tersebut akan
dijabarkan di bawah ini.

A. PENENTUAN STRATEGI PRODUK/STRATEGI PASAR

Dalam tahap ini yang dipersoalkan adalah bagaimana mengevaluasi kebutuhan pasar,
bagaimana menentukan usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan dengan
cara bagaimana semuanya itu akan dilaksanakan.

Titik tolak dalam keseluruhan siklus pemasaran adalah menentukan produk-produk apa
yang akan ditawarkan dan ke mana akan dipasarkan. Ini mencakup evaluasi terhadap
sumber-sumber dan kemampuan perusahaan dihadapkan dengan kebutuhan yang ada
untuk mencapai volume penjualan yang diperlukan.

Pada tingkat yang paling tinggi, pertanyaannya mungkin adalah:


"Bidang apa yang harus kita garap?".

Pada tingkat yang lebih rendah, persoalan yang ada mungkin adalah:
"Apakah kita akan bergerak dalam produk-produk dengan harga yang relatif
murah/rendah atau dalam produk-produk dengan harga yang lebih tingg?i".

Namun secara prinsip persoalannya adalah ruang lingkup atau deretan produk-produk
apa yang akan dipasarkan dan jenis konsumen mana yang akan dilayani. Setiap
pimpinan perusahaan akan mencoba untuk menentukan bagaimana sumber-sumber
perusahaan yang ada dapat digunakan untuk memanfaatkan tiap kesempatan yang ada
dengan sebaik-baiknya.

RUANG LINGKUP DARI KEMAMPUAN PEMASARAN


Setiap perusahaan perlu meneliti secara seksama mengenai kemampuannya dalam
bidang pemasaran. Yang penting di sini adalah luasnya pengalaman dan hasil-hasil yang
sudah dicapai dalam memasarkan jenis-jenis produk tertentu. Keberhasilan dalam
memantapkan posisi pasaran dalam suatu produk kosmetik misalnya, secara normal
akan memberikan landasan yang baik untuk memperkenalkan produk kosmetik lainnya.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 2


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Demikian pula, hubungan atau kontak-kontak yang dilakukan terhadap kelompok


penyalur tertentu, misalnya super market, dapat menjadi landasan yang baik untuk
memperluas macam produk yang dijual lewat penyalur yang sama.

Kemampuan dalam bidang pemasaran mempunyai beberapa dimensi yang penting yaitu:
1. Penguasaan terhadap jenis masalah yang sering dijumpai dalam pasar tertentu.
2. Kontak-kontak yang pernah dilakukan dengan perorangan atau organisasi yang
merupakan konsumen dari produk-produk yang lain.
3. Reputasi yang telah dimiliki perusahaan dalam produk-produk tertentu yang
diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memasarkan produk baru.

Pengalaman pemasaran sebelumnya dan hasil-hasil yang telah dicapai merupakan hal
yang sangat berharga bila dilihat kaitannya dengan jenis-jenis sumber yang lebih luas
yang akan diperlukan untuk menopang usaha dalam memasarkan produk tertentu. Hal
ini meliputi sumber-sumber finansial yang dapat diharapkan akan diperoleh untuk
mengembangkan produk-produk baru yang dapat menembus suatu pasar tertentu yang
sudah dikuasai oleh para pesaing. Di sini termasuk pula keuntungan yang diperoleh
berupa kemampuan-kemampuan yang mendalam dari team manajemen.
Kemampuan-kemampuan ini dapat berupa kekuatan-kekuatan yang bersifat umum atau
kemampuan-kemampuan yang lebih spesifik dalam bidang teknologi tertentu.

PERSYARATAN-PERSYARATAN PASAR

Faktor berikutnya yang juga harus dievaluasi menyangkut persyaratan-persyaratan pasar


yang ada atau produk-produk yang sedang dipertimbangkan.

Pertimbangan-pertimbangan dalam bidang ini meliputi:

1. Jumlah permintaan yang diharapkan


Jumlah permintaan yang diharapkan atas produk-produk yang diusulkan
publikasi-publikasi yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga/organisasi tertentu atau
oleh perusahaan-perusahaan saingan dapat dimanfaatkan oleh perusahaan sebagai
sumber informasi mengenai jumlah permintaan atas suatu produk tertentu. Di lain
pihak, estimasi-estimasi harus didasarkan atas faktor-faktor yang lain. Permintaan
yang ada harus diproyeksikan dengan cara yang sebaik-baiknya untuk menaksir
permintaan di masa yang akan datang. Hal ini berarti memperkirakan potensi
perkembangan pasar. Sudah tentu, bagian dari estimasi ini paling sulit karena
melibatkan pertimbangan baik mengenai apa yang diinginkan oleh para konsumen
maupun apa yang dapat mereka berikan. Hal ini mencakup pula luasnya permintaan
pasar untuk bisa menetapkan kapan produk-produk harus dilepas ke pasaran dan
kapan harus ditahan dulu.

2. Keadaan persaingan
Permintaan pasar dapat diproyeksikan untuk menetapkan pasar, tetapi masih
terdapat persoalan mengenai bagaimana porsi yang diperoleh suatu perusahaan
tertentu atas permintaan pasar tersebut. Jawaban terhadap masalah ini
membutuhkan suatu penilaian atas situasi persaingan. Berapa banyak perusahaan
yang ada? Bagaimana ukuran relatif dan kekuatan relatif dari perusahaan saingan
tersebut? Apakah iklim persaingan bersifat konservatif atau agresif?

Persoalan yang juga berkaitan adalah apakah perusahaan-perusahaan baru dapat


dengan mudah memasuki pasaran sebagai saingan tambahan. Kebutuhan akan

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 3


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

modal, keahlian teknis, dan saluran penjualan merupakan faktor-faktor yang


memainkan peranan penting untuk menentukan sulit atau mudahnya memasuki
pasaran. Akhirnya terdapat pula sejumlah permintaan dari konsumen tertentu yang
bisa dipenuhi oleh jenis produk-produk lainnya, dan sudah tentu hal inipun
mempengaruhi daya jual dari produk yang akan dipasarkan oleh perusahaan.

3. Kebutuhan waktu
Suatu persoalan penting adalah waktu yang dibutuhkan untuk menembus pasar
dengan volume yang cukup untuk memperoleh keuntungan. Dalam kebanyakan hal,
usaha menarik minat dari pihak konsumen harus memperhitungkan pula
kesetiaan-kesetiaan konsumen yang sudah dibina sebelumnya. Usaha pembinaan ini
sudah tentu memakan waktu. Dalam kasus yang lain mungkin perlu direkrut dan
dikembangkan suatu organisasi penyalur. Banyak dari operasi-operasi ini
membutuhkan waktu yang panjang.

4. Kelayakan transportasi
Dimensi geografis dari suatu pasar biasanya secara langsung mempengaruhi biaya
transportasi yang diperlukan untuk mensupply barang kepada konsumen. Dalam
beberapa perusahaan masalah transportasi mungkin relatif sederhana, namun dalam
industri semen misalnya, biaya-biaya transportasi merupakan faktor utama.

5. Kebutuhan finansial
Waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk menembus pasar-pasar yang baru,
akhimya harus dijabarkan ke dalam bentuk finansial. Uang dibutuhkan untuk
membiayai berbagai aktivitas promosi dan pengembangan yang sering meliputi
periode waktu yang panjang. Oleh karena itu, pengeluaran-pengeluaran harus
ditaksir sebelum kegiatan-kegiatan yang menguntungkan dapat diperoleh.

MENYELESAIKAN EVALUASI
Penentuan mengenai strategi produk/pasar tertentu kini ditetapkan berdasarkan
perbandingan antara kemampuan-kemampuan yang ada dengan taksiran mengenai
ruang lingkup kesempatan-kesempatan pemasaran. Ditinjau dari segi finansial hal ini
merupakan perbandingan antara biaya-biaya dan penghasilan-penghasilan yang
diproyeksikan pada suatu tingkat risiko yang dapat diterima oleh perusahaan.

B. PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN

Strategi yang luas dari produk/pasar harus dijabarkan ke dalam perencanaan dan
pengembangan produk-produk yang spesifik yang harus direalisasikan oleh perusahaan.

SIFAT DAN RUANG LINGKUP DARI USAHA PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN


PRODUK

Keseluruhan usaha perencanaan dan pengembangan produk bertolak dari riset dasar
hingga ke pengelolaan produk-produk individual. Hal ini pada semua tahap memerlukan
koordinasi dengan aktivitas-aktivitas lainnya yang berhubungan. Kita akan melihat secara
ringkas dari tahap-tahap tcrsebut.

1. Riset dasar

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 4


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Riset ini mencakup pengembangan bahan-bahan yang lebih baik yang akan
digunakan dalam proses produksi, pengembangan karakteristik-karakteristik
fungsional yang lebih baik, dan cara-cara baru dalam melaksanakan proses produksi
dengan biaya yang lebih rendah/atau dengan kualitas yang lebih baik. Bagian
perencanaan dan pengembangan produk harus menekankan agar usaha riset
diarahkan untuk meningkatkan produk-produk yang ada atau menciptakan
produk-produk yang baru.

2. Aplikasi teknologi baru terhadap produk-produk yang ada


Dengan dikembangkannya pengetahuan mengenai teknologi baru, maka jenis
kepentingan lainnya dari usaha riset adalah melaksanakan riset dengan menerapkan
pengetahuan baru tersebut terhadap produk-produk yang ada. Misalnya,
pengembangan jenis-jenis plastik yang baru segera membuka kemungkinan bahwa
sejumlah barang yang sebelumnya dibuat dengan bahan-bahan yang lebih mahal
seperti baja atau yang kurang tahan lama seperti kain, sekarang mungkin dapat
dibuat dari plastik jenis baru tersebut.

3. Meningkatkan pelayanan terhadap konsumen


Beberapa jenis pengembangan produk dilakukan dalam rangka memperluas ruang
lingkup pelayanan bagi kebutuhan konsumen. Beberapa dari pengembangan ini
kembali memerlukan dukungan usaha riset, tetapi dalam banyak kasus hal ini
terutama dapat dihasilkan oleh pemikiran imajinatif dari perencanaan produk.

4. Perubahan penampilan
Suatu jenis aplikasi yang berhubungan erat dengan daya jual produk harus
dilaksanakan dengan jalan melakukan perubahan-perubahan penampilan dari
produk, misalnya warna-warna yang baru, lapisan penutup yang baru, atau mungkin
pembungkus yang lebih menarik.

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN MENGENAI PENGATURAN WAKTU

Suatu aspek penting dari usaha perencanaan dan pengembangan produk harus
dilakukan dengan pengaturan waktu mengenai tahap-tahap dari keseluruhan kegiatan
tersebut. Sumber masalah terletak dalam fakta bahwa beberapa produk mempunyai
masa laku yang terbatas.

Siklus penerimaan pasar terhadap suatu produk biasanya diawali pada saat produk itu
diperkenalkan, permintaan bergerak perlahan-lahan pada awal tahap promosi, kemudian
naik semakin tajam seirama dengan meluasnya kelompok konsumen atas produk itu,
kemudian bergerak semakin lambat, disusul dengan periode di mana permintaan relatif
tetap atau menunjukkan grafik yang mendatar, dan akhirnya cenderung menurun
terdesak oleh produk yang lebih baru yang mulai mengalahkan produk lama.

Siklus untuk masing-masing produk sudah tentu bervariasi, namun polanya adalah
serupa. Apa yang dimaksud di sini adalah bahwa usaha perencanaan dan
pengembangan produk yang efektif akan memproyeksikan umur dari berbagai produk,
dan pada saat yang sama mengembangkan produk-produk berikutnya yang akan
mengisi kesenjangan-kesenjangan yang ada. Ini terutama penting karena perusahaan
menginginkan untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan yang berkesinambungan,
baik dari segi penjualan maupun keuntungan. Dalam membuat program tersebut, usaha
pendukung harus mempertimbangkan kebutuhan waktu yang diperlukan untuk

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 5


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

pengembangan dan pengujian produk-produk baru serta beberapa banyak


produk-produk baru yang harus dibuat.

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN ORGANISASI

Aktivitas perencanaan dan pengembangan produk, seperti aktivitas penting lainnya,


memerlukan suatu pengaturan organisasi yang memadai di dalam perusahaan. Biasanya
bagian perencanaan dan pengembangan produk ditempatkan pada tingkat organisasi
yang relatif tinggi, dan bertanggung jawab atau melapor kepada Direktur Pemasaran.
Tanggung jawab pengelolaan produk biasanya diserahkan kepada manajer produksi
yang dibebani tugas untuk menangani masing-masing produk-produk dan bertanggung
jawab untuk menggalang koordinasi fungsional antara berbagai bagian untuk
terselenggaranya pengelolaan yang efektif dari produk-produk individual tersebut.

C. PROMOSI PENJUALAN

Para calon pembeli harus diberi informasi tentang produk-produk, dan usaha promosi
harus diselenggarakan dengan semestinya untuk mendukung usaha penjualan. Usaha
promosi ini antara lain mencakup penggunaan media advertensi. Fungsi promosi
merupakan suatu fungsi yang luas juga mencakup aktivitas pemasaran iklan/reklame.
Dalam mengenali sifat dari semua aktivitas promosi, pertama-tama kita akan
membicarakan ciri-ciri umum fungsi promosi. Selanjutnya akan dibahas mengenai
masalah-masalah yang secara langsung berhubungan dengan advertensi dan jenis-jenis
lainnya dari promosi penjualan.

SIFAT DARI KEGIATAN PROMOSI

Sasaran umum dari semua kegiatan promosi adalah mendorong orang untuk membeli
produk-produk perusahaan yang bersangkutan. Sasaran ini bisa diarahkan untuk
mengusahakan penjualan dengan segera atau mungkin hanya untuk menanamkan ide
dan menarik minat masyarakat untuk nantinya lambat laun membeli produk-produk
perusahaan tersebut.

Dalam beberapa kasus hasil-hasil yang dicapai oleh usaha promosi dapat segera diukur
namun lebih sering sulit untuk mengukur dan menilainya secara teliti. Kegiatan-kegiatan
promosi diarahkan kepada manusia, yang sebagaimana kita ketahui, pendiriannya bisa
berubah atau sulit untuk diramalkan, dalam hal ini merupakan sumber kesulitan lainnya.
Mengingat hal tersebut, perlu ditekankan pentingnya imajinasi dan kreativitas dalam
mengembangkan berbagai pendekatan promosi.

PENTINGNYA KEGIATAN PROMOSI

Meskipun terdapat banyak masalah dalam mengukur efektivitas kegiatan penjualan,


namun suatu perusahaan tetap harus melaksanakan promosi penjualan. Tidak hanya
naluri pimpinan yang mendukung kebijakan untuk melakukan usaha promosi yang
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan saingan menyebabkan perusahaan juga harus
melakukan hal serupa.

Sebagai akibatnya, sejumlah besar uang harus dikeluarkan untuk advertensi dan jenis--
jenis promosi lainnya. Masalah selanjutnya bagi manajemen adalah berapa besar biaya

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 6


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

harus dikeluarkan, untuk jenis-jenis promosi apa biaya harus dikeluarkan, dan
bagaimana manajemen dapat memperoleh keyakinan bahwa perusahaan menerima nilai
maksimum atas pengeluaran-pengeluaran tersebut. Klaim-klaim dari para rekanan
jasa-jasa promosi harus dievaluasi; pengarahan-pengarahan yang layak atas usaha
promosi harus dispesifikasikan; dan usaha-usaha harus dikendalikan untuk menjamin
pengeluaran atau tingkat biaya yang memadai. Ini merupakan bagian dari misi auditor
intern untuk dengan berbagai cara yang dapat ditempuh membantu manajemen
menjawab persoalan-persoalan yang sulit ini.

PERTIMBANGAN ORGANISATORIS

Perlunya status organisasi yang memadai bagi kegiatan promosi ditentukan oleh
besarnya pengeluaran yang diperlukan dan jenis promosi yang akan dilakukan. Kegiatan
promosi terutama sekali memerlukan status organisasi yang layak agar secara langsung
dapat menafsirkan strategi produk dan pasar. Hal ini penting terutama karena kegiatan
promosi selalu berkaitan dengan hubungan-hubungan masyarakat. Dalam kebanyakan
perusahaan, pelaksana kegiatan promosi bertanggungjawab kepada pejabat senior
bidang pemasaran.

SIKLUS PENGENDALIAN PROMOSI

Berbagai jenis aktivitas promosi dapat digambarkan dalam bentuk siklus operasional
berikut titik-titik pengendaliannya. Siklus tersebut meliputi:
1. Penentuan sasaran-sasaran
2. Persetujuan anggaran
3. Penentuan pihak-pihak yang akan melaksanakan promosi
4. Penerima jasa promosi
5. Penilaian hasil.

Bagi usaha promosi, pengendalian pada setiap tahap ini perlu dinilai. Penilaian pertama
difokuskan pada kelayakan prosedur-prosedur yang ada, baik dalam pengertian sebagai
rancangan maupun penerapannya. Selanjutnya pengendalian keuangan dari
pengeluaran-pengeluaran untuk advertensi akan menjadi sangat penting apabila
sejumlah besar uang telah dikeluarkan untuk aktivitas ini. Pengendalian keuangan ini
diawali dengan memperlihatkan anggaran yang dialokasikan menurut produk, bagian
tertentu atau program-program.

Pengendalian selanjutnya meliputi:


1. Pemutakhiran status kemajuan program menurut luasnya program itu yang dapat
dibatasi berdasarkan kondisi-kondisi baru atau tingkat yang telah dicapai. Faktor-
faktor di sini mencakup pekerjaan persiapan serta komitmen dengan rekanan dan
media periklanan.
2. Tingkat kompensasi advertensi yang diperoleh melalui pemakaian yang sebenarnya:
Penempatan secara periodik, lamanya disiarkan oleh radio, televisi dan sebagainya.
3. Jumlah sebenarnya dari faktur yang harus dibayar, dan kelayakan dokumen
dokumen pendukung.
4. Memastikan bahwa faktur penjualan dari agen periklanan, konsisten dengan
persetujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 7


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

5. Meneliti kesesuaian antara pelaksanaan sebenarnya atau yang diproyeksikan


dengan anggaran yang telah ditetapkan.

Pengendalian keuangan ini dipenuhi dengan dua cara yaitu:


1. Melalui kelayakan pencatatan-pencatatan dan pengendalian-pengendalian
prosedural yang berhubungan, yang diselenggarakan dalam perusahaan oleh bagian
advertensi dan akuntansi. Dalam prakteknya akan bervariasi sejauh mana
pengendalian lewat pencatatan akan dilakukan oleh bagian yang menangani
advertensi atau oleh akuntansi. Akan tetapi, dua usaha atau tindakan yang paling
berkaitan di sini harus dilakukan secara seksama dan sistematis.
2. Melalui review lapangan terhadap kegiatan-kegiatan dari agen periklanan itu sendiri.
Hal ini sebagian bisa dilakukan oleh personil bagian advertensi, atau oleh pegawai
khusus, misalnya auditor intern.

D. PENJUALAN DAN DISTRIBUSI

Usaha penjualan dilakukan melalui jenis saluran-saluran distribusi yang biasa digunakan.
Persoalan ini juga menyangkut masalah yang berhubungan dengan berapa banyaknya
persediaan barang yang harus diadakan.

Perusahaan hanya akan memperoleh keuntungan apabila penjualan dilakukan dalam


volume yang cukup dan harga yang layak. Oleh karena itu, yang penting adalah bahwa
usaha penjualan direncanakan secara bijaksana dan dilaksanakan secara efektif. Hal ini
meliputi penentuan mengenai bagaimana produk-produk akan dijual dan melalui saluran
distribusi mana penjualan akan dilaksanakan. Setelah itu usaha-usaha pendukung dapat
dikembangkan dan dilaksanakan. Jadi, usaha penjualan merupakan fase yang paling
penting dari kegiatan pemasaran, namun perlu diingat bahwa sifat dan efektivitasnya
sebagian besar ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan pemasaran lainnya.
Pertama-tama akan kita lihat dimensi-dimensi pemasaran lainnya itu, kemudian kembali
untuk lebih memfokuskan diri kepada usaha penjualan itu sendiri.

PENENTUAN DISTRIBUSI

Suatu perusahaan biasanya mempunyai sejumlah alternatif mengenai bagaimana ia


harus memasarkan produk-produknya. Dalam menentukan jenis distribusi mana yang
akan dipilih dan dalam jumlah berapa serta dengan kombinasi yang bagaimana,
perusahaan akan mempertimbangkan hubungan manfaat dan biaya, baik dari segi waktu
maupun biaya. Lebih lanjut, penentuan-penentuan ini perlu dievaluasi kembali
berdasarkan pengalaman berikutnya yang diperoleh, dan perubahan kondisi yang terjadi.
Penilaian kembali harus pula dilakukan terhadap pemilihan perantara tertentu, ditinjau
dari kualitas jasa-jasa yang diberikan.

PERSOALAN TERSEDIANYA PERSEDIAAN

Pemilihan saluran distribusi pada saat yang sama mempunyai beberapa implikasi yang
lebih jauh. Salah satu persoalan ini menyangkut tersedianya persediaan bagi para
pelanggan. Dalam mengevaluasi persoalan ini terdapat dua jenis masalah. Yang
pertama menyangkut efisiensi dalam memenuhi kebutuhan para konsumen. Masalah
yang kedua menyangkut tingkat biaya yang harus dikeluarkan untuk menangani
tersedianya persediaan tersebut.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 8


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

PENETAPAN HARGA

Yang juga berhubungan secara langsung dengan persoalan saluran distribusi adalah
masalah penetapan harga. Dalam dimensi yang luas fungsi penetapan harga menjadi
tanggung jawab bersama bidang pemasaran dan keuangan. Bagaimanapun, di sini kita
perlu menyinggung masalah penetapan harga karena hal itu memainkan peranan yang
sangat penting dalam hubungannya dengan para perantara yang dipilih untuk
mendistribusikan produk-produk perusahaan. Para perantara ini biasanya sangat
berkepentingan dengan harga-harga yang ditetapkan untuk konsumen terakhir,
berdasarkan alasan bahwa harga-harga tersebut secara langsung mempengaruhi
volume penjualan yang dapat dihasilkan yang sekaligus mempengaruhi keuntungan
mereka sendiri. Oleh karena itu, perusahaan harus secara seksama melakukan berbagai
pertimbangan dan berusaha untuk menetapkan tingkat-tingkat harga yang layak bagi
perantara.

MELAKSANAKAN USAHA PENJUALAN SECARA EFEKTIF

Dalam situasi tertentu, usaha penjualan melibatkan penggunaan pegawai penjualan


meskipun besamya peranan dari pegawai itu akan bervariasi. Secara umum terdapat
masalah untuk mencapai sasaran-sasaran penjualan yang telah ditetapkan dengan
tingkat biaya yang serendah mungkin.

Hal-hal yang paling penting yang perlu mendapat perhatian dalam usaha penjualan
secara efektif adalah:

1. Organisasi penjualan
Salah satu keputusan yang harus ditetapkan dalam mengelola usaha penjualan
adalah yang menyangkut bagaimana usaha penjualan itu harus diorganisasikan.
Salah satu aspek dari masalah organisasi ini adalah bagaimana tingkat-tingkat
otoritas akan disusun. Alternatif-alternatif yang menyangkut tahap ini meliputi:
a. Berapa banyak tingkat otoritas harus diadakan?
b. Berapa luas tanggung jawab penjual individual terhadap lini produk tersebut?
c. Di mana para penjual secara fisik harus berlokasi?

2. Pengelolaan personil penjualan


Tanpa memperhatikan bagaimana usaha penjualan diorganisasikan masih terdapat
masalah mengenai bagaimana memaksimalkan kegiatan staf penjualan dengan
perhatian khusus mencakup:
a. Bagaimana seharusnya kualifikasi dari pegawai penjualan?
b. Jenis latihan apa yang diperlukan?
c. Bagaimana pegawai penjualan akan dikoordinasikan dan dikendalikan?
d. Berapa imbalan yang akan diberikan kepada para penjual?
e. Bagaimana cara memberikan motivasi terhadap para penjual?
l. Bagaimana usaha harus dilakukan agar nama baik perusahaan jadi lebih
terjamin?

E. PELAYANAN KEPADA KONSUMEN

Penjualan melibatkan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan kepada


konsumen. Ini diawali dengan penanganan pesanan dan pengajuan faktur, diteruskan

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 9


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

dengan pengenalan konsumen, pemberian servis kepada konsumen, dan juga


penanganan tuntutan-tuntutan dan penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan.

Tahap terakhir dalam siklus pemasaran membawa kita kepada pemakai terakhir dari
produk pemasaran. Yang kita perhatikan dalam tahap ini adalah bagaimana berbagai
kontak telah dilakukan terhadap pemakai ini. Sasarannya adalah bahwa penjualan itu
didukung dengan informasi kebutuhan pemakai secara lengkap. Dalam menetapkan
sasaran, terkandung kesadaran bahwa kelangsungan nama baik perusahaan sangat
diperlukan bagi keberhasilan perusahaan dalam memasarkan produk-produknya.

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM RANGKA PELAYANAN


KEPADA KONSUMEN
Dukungan terhadap konsumen mencakup tindakan yang bervariasi sebelum penjualan
benar-benar dilaksanakan. Tindakan ini tercampur dengan usaha promosi, dan diperluas
setelah penjualan dilakukan.

Faktor-faktor berikut ini perlu diperhatikan dalam rangka pelayanan kepada konsumen:
1. Informasi pendahuluan tentang produk-produk sebagai bahan evaluasi bagi para
calon konsumen.
2. Tersedianya persediaan.
3. Familiarisasi produk.
4. Dukungan servis.
5. Garansi dan penanganan klaim-klaim.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 10


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB III
ASPEK-ASPEK PENGENDALIAN
KEGIATAN PEMASARAN

Sebagaimana halnya dengan aktivitas-aktivitas lain, aktivitas pemasaran perlu


dikendalikan dengan baik agar dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dalam Buku I
mengenai Pengertian-pengertian Dasar sudah diuraikan bahwa suatu sistem
pengendalian yang efektif memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:
A. Penentuan norma-norma, sasaran-sasaran atau tujuan
B. Pengecekan terhadap pelaksanaan
C. Penilaian terhadap hasil-hasil yang dicapai
D. Pengambilan tindakan-tindakan perbaikan apabila perlu

Fungsi pemasaran sebagian besar melibatkan karakteristik-karakteristik yang bersifat


abstrak seperti kreativitas intuisi dan sebagainya. Adanya sifat abstrak tersebut
menyebabkan sulitnya melakukan suatu penilaian yang objektif. Karena sifatnya yang
khas, maka sistem pengendalian pemasaran juga berbeda bentuknya dengan kegiatan
lain. Di dalam pengendalian kegiatan pemasaran dipilih besaran atau variable-variable
tertentu yang dapat dikuantitatifkan sebagai alat untuk memantau keberhasilan usaha
kegiatan pemasaran yang sarat dengan faktor-faktor kualitas (non kuantitatif).

Berikut ini diuraikan sistem pengendalian pemasaran yang sering dipergunakan


manajemen, yang memungkinkan pemantauan dan pengendalian yang
berkesinambungan terhadap kegiatan pemasaran.

Pengendalian pemasaran dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu:


A. Pengendalian rencana tahunan
B. Pengendalian profitabilitas
C. Pengendalian efisiensi
D. Pengendalian strategis

A. PENGENDALIAN RENCANA TAHUNAN

Di dalam pengendalian rencana tahunan ini hasil yang dicapai dibandingkan dengan
yang direncanakan. Apabila terjadi penyimpangan, maka dilakukan analisis untuk
menentukan sebab-sebabnya dan apabila perlu diambil suatu tindakan perbaikan.

Langkah-langkah dari model pengendalian ini adalah sebagai berikut:


1. Manajemen merinci rencana tahunan ke dalam target-target bulanan atau triwulanan
2. Manajemen memantau hasil pelaksanaan pekerjaan

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 11


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

3. Manajemen menentukan sebab-sebab timbulnya suatu penyimpangan yang material


4. Manajemen mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk perbaikan.

Model pengendalian tersebut dapat dipergunakan untuk semua tingkatan manajemen,


dari tingkat manajemen paling atas sampai kepada sikap individu petugas penjualan.
Untuk mengecek pelaksanaan rencana, dapat dipergunakan alat antara lain:
1. Analisis penjualan
2. Analisis pangsa pasar
3. Analisis perbandingan biaya pemasaran terhadap penjualan
4. Analisis keuangan
5. Pemantauan sikap (attitude) pelanggan.

1. Analisis penjualan
Analisis penjualan dapat dilakukan dengan menganalisis penyimpangan (variance).
Analisis penyimpangan dapat ditetapkan untuk penjualan secara keseluruhan,
menurut jenis produk, menurut wilayah penjualan, dan sebagainya.

2. Analisis pangsa pasar


Analisis pangsa pasar diperlukan agar dapat diketahui tingkat keberhasilan relatif
perusahaan di bidang pemasaran dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan
saingan. Apabila pangsa pasar meningkat pada umumnya menunjukkan bahwa
perusahaan relatif lebih berhasil dibanding perusahaan-perusahaan saingan,
demikian pula sebaliknya. Namun demikian kesimpulan tersebut di atas belum tentu
benar karena hal-hal sebagai berikut:
a. Pengaruh-pengaruh dari luar mempengaruhi perusahaan-perusahaan secara
berbeda.
b. Asumsi bahwa "performance" suatu perusahaan harus dinilai dari performance
rata-rata seluruh perusahaan tidak selalu tepat.
c. Apabila ada suatu perusahaan baru memasuki pasar, mungkin pangsa pasar
perusahaan-perusahaan yang ada menurun.
d. Seringkali pangsa pasar suatu perusahaan sengaja diturunkan agar laba
meningkat.
e. Pangsa pasar dapat berfluktuasi karena sebab-sebab yang tidak terduga.

Analisis pangsa pasar dapat dilakukan untuk: pangsa pasar secara keseluruhan,
pangsa pasar untuk "served market", pangsa pasar relatif terhadap
saingan/saingan-saingan terkemuka.

3. Analisis perbandingan biaya pemasaran terhadap penjualan


Manajemen perlu melakukan pengendalian agar dalam usaha mencapai target
penjualan yang telah ditetapkan tidak dikeluarkan biaya yang berlebihan. Sebagai
suatu indikator untuk memantau kelayakan biaya pemasaran adalah perbandingan
(ratio) antara biaya pemasaran terhadap penjualan. Dalam penerapan analisis ini
biasanya ditetapkan batas pengendalian atas (upper control limit) dan batas
pengendalian bawah (lower control limit). Apabila indikator yang ada tadi
menunjukkan dilampauinya batas tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk
menentukan sebab-sebabnya dan diambil tindakan perbaikan yang diperlukan.

4. Analisis keuangan
Analisis keuangan dilakukan dalam kerangka keuangan secara menyeluruh untuk
menentukan di mana dan bagaimana perusahaan memperoleh laba. Dalam analisis
ini ditentukan faktor-faktor yang mempengaruhi "rate of return on net worth", di mana

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 12


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

"rate of return on net worth" dirinci menjadi dua ratio yaitu return on assets dan
financial leverage.

5. Pemantauan sikap (attitude) pelanggan


Di samping indikator-indikator yang disebutkan di muka yang bersifat finansial dan
kuantitatif, diperlukan pada indikator yang bersifat kuantitatif yang dapat
dipergunakan sebagai pernyataan diri terhadap perubahan-perubahan pangsa pasar
yang akan terjadi. Perusahaan perlu menciptakan suatu sistem untuk memantau
attitude para pelanggan, rekanan, dan pihak-pihak yang berkaitan. Dengan
melakukan pemantauan terhadap perubahan sikap pelanggan maka manajemen
dapat mengambil tindakan-tindakan yang dipandang perlu secara lebih dini untuk
menanggulangi akibat-akibat yang tidak diinginkan dari adanya perubahan sikap
tersebut. Sistem pemantauan sikap pelanggan yang utama yaitu
a. Sistem keluhan dan saran
Perusahaan berusaha memperoleh keluhan/kritik dan saran dari para
pelanggannya sebagai umpan balik. Keluhan dan saran tersebut dicatat dan
diproses untuk kemudian di mana perlu diambil tindakan perbaikan. Semakin
banyak diperoleh keluhan/saran dari para pelanggan, perusahaan memperoleh
gambaran yang semakin baik mengenai reaksi pelanggan terhadap produk dan
layanan perusahaan.
b. Panel pelanggan
Perusahaan berkomunikasi secara periodik dengan sekelompok pelanggan untuk
memperoleh informasi mengenai sikap para pelanggan tersebut.
c. Penelitian (survey) pelanggan
Secara berkala perusahaan mengadakan penelitian dengan pelanggan sebagai
responden. Pelanggan tersebut dipilih secara acak (random). Dari hasil penelitian
ini diperoleh informasi mengenai pandangan pelanggan mengenai kualitas
pekerjaan pegawai perusahaan. Apabila hasil penelitian ini dikomunikasikan
kepada para manajer baik di tingkat bawah maupun tingkat yang lebih tinggi akan
dapat memberi rangsangan bagi para pegawai perusahaan untuk meningkatkan
kualitas pekerjaan mereka atau meningkatkan motivasi untuk memberikan
layanan yang lebih baik kepada para pelanggan.

B. PENGENDALIAN PROFITABILITAS
Informasi mengenai profitabilitas berbagai produk, wilayah, kelompok pelanggan, saluran
perdagangan, dan sebagainya perlu diperoleh untuk pengambilan keputusan oleh
manajemen berkaitan dengan peningkatan, pengurangan produk atau aktivitas
pemasaran.
C. PENGENDALIAN EFISIENSI

Pengendalian efisiensi meliputi: Efisiensi tenaga penjual (sales force), periklanan,


promosi penjualan dan distribusi.

Dalam pengendalian efisiensi tenaga penjual dapat digunakan beberapa indikator


sebagai berikut:
 Rata-rata banyaknya kunjungan per petugas penjual per hari
 Lama rata-rata per kunjungan
 Pendapatan (revenue) rata-rata per kunjungan

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 13


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

 Biaya rata-rata per kunjungan


 Biaya "entertainment" per kunjungan
 Jumlah pelanggan baru per periode
 Jumlah pelanggan yang hilang per periode
 Biaya tenaga penjual dibanding total penjualan.

Analisis data-data di atas dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang bermanfaat


misalnya:

Apakah pramuniaga (salesman) terlalu sedikit melakukan kunjungan per hari?


Apakah waktu yang dipergunakan untuk setiap kunjungan terlalu lama?.

Analisis indikator-indikator tersebut di atas seringkali dapat memberikan informasi


mengenai bidang-bidang yang diperbaiki.

Efisiensi periklanan sangat sulit diukur. Namun demikian indikator-indikator berikut ini
dapat membantu dalam mengendalikan efisiensi periklanan:
 Biaya periklanan per 1.000 orang yang dicapai baik secara menyeluruh, per jenis
media dan sebagainya
 Pendapat para pelanggan mengenai isi dan efektivitas iklan
 Jumlah pertanyaan yang ditimbulkan oleh iklan.

Untuk meningkatkan efisiensi promosi penjualan, manajemen harus mempunyai catatan


mengenai biaya dan pengaruh terhadap penjualan dari setiap promosi penjualan.
Indikator berikut ini dipantau untuk pengendalian efisiensi promosi penjualan:
 Biaya display per rupiah penjualan
 Persentase kupon yang dimanfaatkan
 Banyaknya permintaan keterangan yang ditimbulkan oleh suatu pameran atau
demonstrasi.
Untuk meningkatkan efisiensi distribusi terdapat beberapa model pengendalian yang
mencakup model untuk pengendalian persediaan, lokasi pergudangan, dan modus
pengangkutan yang tidak akan dibahas di buku ini.

D. PENGENDALIAN STRATEGIS

Pemasaran sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan ekstern di mana lingkungan


tersebut sering cepat berubah. Oleh karena itu manajemen harus melakukan review
secara menyeluruh dan berkesinambungan untuk menilai apakah tujuan, kebijakan,
strategi, dan program pemasaran masih sesuai. Pengendalian strategis dapat dilakukan
dengan antara lain: review tingkat efektivitas pemasaran dan audit pemasaran
menyeluruh.

Di samping ke empat jenis pengendalian pemasaran yang telah diuraikan di muka, untuk
kegiatan pemasaran ini juga dikendalikan melalui kelima unsur pengendalian manajemen
yang berlaku untuk kegiatan kegiatan lainnya yaitu: lingkungan pengendalian, penaksiran
risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi serta monitoring.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 14


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB IV
AUDIT FUNGSI PEMASARAN

Mengaudit atau mengevaluasi fungsi pemasaran biasanya lebih sulit dibandingkan


mengaudit atau mengevaluasi fungsi-fungsi lainnya. Sebab utama kesulitan tersebut
adalah karena pemasaran sangat tergantung pada faktor-faktor ekstern yang berada di
luar pengendalian pihak manajemen pemasaran. Faktor-faktor tersebut misalnya
harga-harga produk dari perusahaan saingan, tingkat inflasi, ketentuan-ketentuan
Pemerintah dan sebagainya.

Di samping itu, pemasaran seringkali didasarkan pada pertimbangan yang melibatkan


hubungan-hubungan yang kompleks dan pengetahuan yang tidak lengkap sehingga
keputusan-keputusan yang dibuat di bidang pemasaran tersebut sering dilakukan atas
dasar intuisi, bukan atas dasar suatu analisis ilmiah.

Peranan auditor intern dalam bidang pemasaran dapat mencakup tiga tingkatan yang
berbeda.

Pada tingkatan pertama yaitu tingkatan yang paling mendasar, peranan auditor intern
adalah berkaitan dengan perlindungan dari segi keuangan (finansial). Hal ini
berhubungan dengan pertanggungjawaban mengenai penjualan produk-produk,
penerimaan kas dari penjualan tunai dan penerimaan piutang.

Pada tingkatan kedua, peranan auditor intern berkaitan dengan masalah tingkah kita
terhadap kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur pemasaran yang telah ditetapkan
serta pengaruhnya terhadap efisiensi dan efektivitas berbagai operasi dan pengendalian
ketatalaksanaan.

Pada tingkatan ketiga, yaitu tingkatan yang paling tinggi, peranan auditor intern berkaitan
dengan penentuan kebijakan-kebijakan penting menyangkut kegiatan pemasaran.

Pada saat audit yang menyeluruh, penilaian auditor dapat mencakup komponen utama
bidang pemasaran yang antara lain:
 Lingkungan pemasaran (marketing environment)
Untuk menganalisa komponen-komponen seperti pasar, pelanggan, saingan,
penyalur, dan sebagainya

 Strategi pemasaran
Menilai tujuan dan strategi pemasaran apakah sudah sesuai dengan lingkungan
tersebut di atas.
 Organisasi pemasaran.
Menilai kemampuan organisasi pemasaran dalam melaksanakan atau
mengimplementasikan strategi pemasaran yang telah ditetapkan.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 15


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

 Sistem pemasaran
Menilai kualitas sistem dalam bidang analisis, perencanaan, dan pengendalian.

 Produktivitas pemasaran
Menilai profitabilitas berbagai produk, pasar, wilayah, efektivitas biaya dan
sebagainya.

 Lain-lain
Seperti menilai promosi, publisitas, advertensi dan sebagainya.

Tingkatan audit yang dilakukan oleh auditor intern sangat tergantung pada kondisi aparat
pengawasan intern perusahaan yang bersangkutan.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 16


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

BAB V
PROGRAM AUDIT TERHADAP
KEGIATAN PEMASARAN

Tujuan umum dari audit terhadap kegiatan pemasaran adalah untuk mengidentifikasikan
aspek-aspek manajemen yang berhubungan dengan kegiatan pemasaran yang
menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan yang masih mungkin diperbaiki atau
ditingkatkan efektivitas, efisiensi, dan kehematannya.

A. PEDOMAN YANG BERLAKU UNTUK KEGIATAN PEMASARAN

1. Tujuan Audit

Untuk mengetahui berbagai kebijakan, prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk
kegiatan pemasaran.

2. Langkah-langkah Kerja

Pelajari semua pedoman yang berlaku untuk kegiatan pemasaran dengan perhatian
khusus kepada:
a. Penentuan sasaran-sasaran kegiatan pemasaran
b. Kriteria mengenai pengembangan produk
c. Prosedur pengembangan produk
d. Tanggung jawab pengelolaan produk
e. Kebijakan promosi
f Kebijakan mengenai penjualan
g. Koordinasi berbagai aktivitas pemasaran
h. Pengelolaan anggaran
i. Kebijakan yang menyangkut hubungan dengan para pelanggan
j. Kebijakan tentang riset pemasaran.

B. KEGIATAN OPERASIONAL DALAM BIDANG PEMASARAN

1. Tujuan Audit

Untuk mengenal dan memahami berbagai aspek pengelolaan dalam


kegiatan-kegiatan operasional bidang pemasaran, dan menilai kehematan, efisiensi,
dan tingkat efektivitasnya. Mengidentifikasikan kelemahan-kelemahan yang mungkin
ada dalam upaya untuk melakukan perbaikan.
2. Langkah-langkah Kerja
a. Pengembangan strategi produk/strategi pasar
1) Teliti apakah strategi produk/pasar telah dinyatakan tertulis. Bila tidak, selidiki
mengapa demikian.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 17


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

2) Teliti apakah pengelolaan pemasaran telah difokuskan layak pada penentuan


strategi produk dan pasar. Bila tidak, selidiki mengapa demikian.
3) Teliti apakah strategi produk/strategi pasar yang telah ditetapkan, luasnya
telah diidentifikasikan dan strategi tersebut tampaknya layak. Bila tidak,
tentukan dalam hal apa.
4) Teliti adakah ketentuan yang cukup memadai tentang perlunya penilaian
kembali secara periodik terhadap strategi produk/strategi pasar yang berlaku.
Selidiki usaha apakah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan proses ini.
5) Pelajari apakah ketentuan yang memadai untuk memperoleh pengetahuan
tentang pasar seperti perubahan kebutuhan konsumen, perubahan teknologi
produk, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perusahaan saingan,
kecenderungan industri dan sebagainya. Selidiki usaha apakah yang dapat
dilakukan untuk membuat agar kegiatan tersebut lebih efektif.

b. Perencanaan dan pengembangan produk


1) Teliti apakah susunan organisasi dari bagian perencanaan dan
pengembangan produk cukup memadai.
2) Teliti seberapa jauh tanggung jawab yang dibebankan kepada aktivitas
perusahaan lainnya guna memberikan masukan bagi usaha perencanaan dan
pengembangan produk.
3) Teliti bagaimana efektivitas koordinasi antara bagian perencanaan dan
pengembangan produk dengan bagian-bagian lainnya seperti bagian riset,
bagian penjualan, bagian keuangan, bagian produksi dan pelaksanaan riset
pasar, baik dalam rangka prakarsa, penyaringan dan pengembangan
produk-produk baru, maupun peningkatan produk produk lama.
4) Selidiki apakah terdapat prosedur yang memadai untuk penyajian formal
mengenai usul-usul tentang produk baru dan program menyeluruh mengenai
perencanaan dan pengembangan produk.
5) Lakukan penelitian mengenai efisiensi operasi dari program perencanaan dan
pengembangan produk, dengan tekanan kepada:
 Apakah penugasan-penugasan organisasi cukup jelas dan memadai
 Apakah aktivitas-aktivitas dijadualkan dan dikendalikan
 Apakah supervisi cukup memadai
 Apakah terdapat sistem pelaporan yang sesuai
 Apakah para pegawai cukup memenuhi syarat.

c. Pengelolaan produk
1) Pelajari apakah yang dilakukan perusahaan untuk menjamin adanya
koordinasi dan keuntungan yang maksimum dari produk-produk individual
yang dipasarkan.
2) Teliti apakah usaha pengelolaan produk dilakukan secara memadai untuk
menjamin tercapainya hasil-hasil yang diharapkan, tanpa bertentangan
dengan tanggung jawab yang dibebankan kepada unit-unit organisasi lainnya.
3) Lakukan penilaian mengenai efisiensi operasi dari kegiatan pengelolaan
produk, dengan tekanan kepada:
 Apakah penugasan-penugasan organisasi cukup jelas dan memadai
 Apakah pegawainya cukup memenuhi syarat
 Apakah terdapat suatu sistem pelaporan yang sesuai
 Apakah supervisi cukup memadai.

d. Promosi penjualan

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 18


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

1) Teliti apakah susunan organisasi kegiatan promosi cukup memadai dalam


mengkoordinasikan semua aktivitas promosi penjualan, termasuk
pemasangan iklan/reklame.
2) Teliti apakah koordinasi dengan aktivitas-aktivitas lainnya dari perusahaan
cukup memadai.
3) Teliti apakah sasaran-sasaran promosi dianalisis secukupnya, dan
dihubungkan dengan jenis-jenis promosi tertentu.
4) Pelajari apakah anggaran promosi telah dikembangkan secara seksama,
setelah disetujui, digunakan sebagai dasar pengendalian kegiatan promosi.
5) Teliti apakah pengadaan bahan-bahan untuk keperluan promosi yang
didatangkan dari luar dilaksanakan secara. efektif
6. Teliti adakah ketentuan yang layak untuk melakukan evaluasi akhir terhadap
proyek/program promosi-promosi secara individual.
7. Lakukan penilaian mengenai efisiensi kegiatan bagian promosi, dengan
tekanan kepada:
 Apakah penugasan-penugasan organisasi cukup jelas dan memadai
 Apakah pegawainya cukup memenuhi syarat
 Apakah supervisi cukup memadai
 Apakah terdapat sistem pelaporan yang sesuai.

e. Kegiatan distribusi
1) Review ruang lingkup dari rencana distribusi.
2) Dalam hal menggunakan distributor, dealer atau perantara lainnya:
 Review kelayakan ketepatan kontrak yang mencakup hak-hak kewajiban
masing-masing pihak
 Review kelayakan ketetapan-ketetapan tersebut ditinjau dari segi
pemberian pelayanan kepada program yang mendukung usaha yang
dilaksanakan oleh para perantara tersebut.
3) Lakukan penilaian mengenai pendekatan menyeluruh terhadap alternatif
penggunaan pusat-pusat distribusi milik perusahaan sendiri dengan
menggunakan perantara.

f. Kegiatan-kegiatan penjualan
1) Review dan nilai kebaikan-kebaikan relatif dari organisasi kegiatan
penjualan, mengenai:
 Tingkat-tingkat otoritas
 Luasnya spesialisasi produk
 Luasnya desentralisasi terhadap komponen-komponen organisasi lainnya
dari perusahaan dengan memperhatikan lokasi fisik dari para pegawai
bagian penjualan.
2) Teliti apakah terdapat suatu program pengembangan penjualan yang
memadai.
3) Review dan nilai efektivitas program pemberian dukungan kepada
usaha-usaha yang dilakukan oleh para perantara.
4) Review dan nilai efisiensi kegiatan dari kantor-kantor penjualan regional, serta
kesesuaiannya dengan kebijakan dan prosedur-prosedur yang telah
ditetapkan perusahaan.

g. Pelayanan kepada konsumen


1) Teliti apakah informasi yang diberikan kepada para konsumen meliputi semua
produk yang dikeluarkan oleh perusahaan.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 19


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

2) Teliti apakah para konsumen dilayani secara memadai ditinjau dari


tersedianya persediaan.
3) Teliti apakah program pelayanan terhadap para konsumen cukup memadai
untuk memungkinkan konsumen mengenali dengan baik setiap produk yang
dibelinya.
4) Review cara penanganan tuntutan ganti rugi, terutama yang menyangkut
sikap, ketelitian dan ketepatan waktu.
5) Evaluasi apakah terdapat program yang memadai mengenai pembinaan
hubungan perusahaan dengan para konsumen.

h. Kegiatan periklanan
1) Lakukan pengujian terhadap efektivitas kegiatan periklanan, termasuk audit
terhadap rencana-rencana dan laporan-laporan tentang kegiatan tersebut.
2) Lakukan pengujian terhadap faktur-faktur yang diajukan, termasuk ketelitian
angka-angkanya, kelengkapan dokumen-dokumen pendukungnya dan
otorisasi atau pengesahannya.

i. Operasi-operasi intern
1) Teliti apakah kegiatan sehari-hari tampaknya diawasi dan dikelola dengan
baik.
2) Pelajari apakah catatan-catatan dan prosedur-prosedur cukup memadai untuk
pengendalian atas pekerjaan yang dilakukan serta biaya-biaya yang
dikeluarkan.

C. PENGUJIAN KHUSUS
1. Tujuan audit

Untuk memperoleh pengetahuan praktis dalam berbagai aspek kegiatan pemasaran


guna melengkapi pengujian-pengujian yang telah dilakukan sebelumnya.

2. Langkah-langkah kerja

a. Program Promosi

Lakukan audit terinci terhadap:


1) Ruang lingkup sasaran promosi serta rencana-rencana yang mendasarinya.
2) Kegiatan sebenarnya dari program promosi tersebut.
3) Hasil-hasil yang dicapai.

b. Perencanaan dan pengembangan produk


Pilih suatu jumlah yang representatif dari kasus-kasus perencanaan dan
pengembangan produk, kemudian review dari sejak tahap awal hingga ke
berbagai tahap operasional selanjutnya.

c. Kantor-kantor penjualan di daerah

Pilih suatu jumlah yang representatif dari kantor-kantor penjualan regional (jika
ada), kemudian periksa efisiensi kegiatannya selama waktu tertentu, serta
kesesuaiannya dengan semua kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh
perusahaan.

d. Pusat-pusat distribusi

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 20


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Periksa efisiensi kegiatannya, kesesuaiannya dengan semua kebijakan dan


prosedur yang telah ditetapkan, serta kelayakan jasa-jasa yang diberikan oleh
pusat-pusat distribusi tersebut.

e. Pelayanan kepada para konsumen

Pilih suatu jumlah yang representatif dari pelanggan-pelanggan atau para


konsumen dan review secara langsung mengenai praktek pelayanan yang
diberikan.

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 21


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

LATIHAN

LATIHAN 1

Untuk meningkatkan pemasaran, pimpinan perusahaan meningkatkan iklan di TV, Radio


dan Surat Kabar dan juga biaya penelitian. Akibat dari beban pemasaran tahun ini
meningkat dari Rp 60 juta menjadi Rp 180 juta. Tetapi volume penjualan hanya
meningkat dari 100.000 menjadi 110.000 dan jumlah penjualan meningkat dari Rp 460
juta menjadi Rp 520 juta.

Diskusikan kebijakan tentang beban pemasaran tersebut!

LATIHAN 2

Sebuah toko tekstil menjual tekstil sebagai berikut:


• Pembeli datang ke counter tekstil untuk memilih dan memesan tekstil.
• Penjaga counter memotong tekstil yang dipesan dan membuat bon penjualan
rangkap 4.
• Bon lembar pertama bersama dengan barangnya dikirim ke bagian pembungkus.
• Bon lembar ke 2 dan ke 3 diserahkan pada pembeli dan lembar ke 4 untuk arsip.
• Dengan membawa lembar ke 2 dan ke 3 pembeli membayar ke kasir dan setelah
distempel lunas lembar ke 2 dikembalikan kepada pembeli dan lembar ke 3 untuk
arsip.
• Pembeli mengambil barang di bagian pembungkus.

Meskipun demikian, ternyata banyak pembeli yang telah memesan tekstil tidak
membayar dan pergi meninggalkan toko tanpa membawa tekstil yang dipesan. Akibatnya
terpaksa tekstil potongan tersebut dijual di bawah harga normal.

Perlu diketahui selain tekstil juga dijual barang lain yang sangat laku, sehingga toko
selalu padat pengunjung.

Diskusikan cara mengatasinya!

LATIHAN 3

Laporan penjualan tahun 2002 dan 2003 dari suatu perusahaan menunjukkan angka-
angka sebagai berikut: (dalam rupiah)

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 22


PUSAT PENGEMBANGAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Centre For Development of Accountancy and Finance

Tahun
Bulan
2002 2003
Januari 19.000.000,00 20.000.000,00
Februari 78.000.000,00 33.000.000,00
Maret 86.000.000,00 30.000.000,00
April 37.000.000,00 40.000.000,00
Mei 64.000.000,00 50.000.000,00
Juni 53.000.000,00 55.000.000,00
Juli 42.000.000,00 40.000.000,00
Agustus 48.000.000,00 45.000.000,00
September 51.000.000,00 50.000.000,00
Oktober 43.000.000,00 40.000.000,00
Nopember 47.000.000,00 42.000.000,00
Desember 39.000.000,00 35.000.000,00
Jumlah 627.000.000,00 480.000.000,00

Penjualan pada bulan Februari tahun 2002 sangat tinggi dikarenakan pada bulan
tersebut perusahaan ikut pameran yang diadakan di Jakarta.

Pada tahun 2004 penjualan menurun padahal perusahaan juga ikut pameran serupa
namun lokasi pameran berubah dari Glodok ke Kemayoran dan sebanyak 5 orang
tenaga penjual pindah ke perusahaan lain dan tidak dicari penggantinya.

Coba diskusikan hal hal apa saja yang mungkin menjadi penyebab turunnya
penjualan pada tahun 2004!

BUKU 4 MODUL AUDIT OPERASIONAL HALAMAN 23

Beri Nilai