Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM DESAIN TEKSTIL I

DEKOMPOSISI ANYAMAN SATIN

Disusun oleh
Nama : Nida Alya Nasywa
NPM : 18020058
Grup : 2K3
Dosen : Siti Rohmah, A.T., M.T. /
Desti M., S.ST.

POLITEKNIK STT TEKSTIL


BANDUNG
2019
I. MAKSUD DAN TUJUAN
1.1.Maksud
Maksud dilakukannya praktikum ini adalah agar praktikan dapat
mengidentifikasi jenis anyaman kain yaitu anyaman satin..
1.2.Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah sebagai berikut.
 Memiliki kemampuan mengenali ciri-ciri dan karakteristik anyaman
satin.
 Pengetahuan menentukan arah lusi dan pakan.
 Memiliki pengetahuan menghitung tetal benang dalam kain.
 Pengetahuan menghitung nomor benang.
 Pengetahuan menghitung mengkeret benang.
 Menghitung berat kain per/m2.
 Pengetahuan menentukan nomor sisir.
 Pengetahuan menggambar anyaman kain contoh uji.
 Memiliki kemampuan menghitung berat kain per/m2.

II. TEORI DASAR


Dekomposisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan proses
perubahan menjadi benda yang lebih sederhana atausecara umum proses
dekomposisi kain bermaksud dan bertujuan untuk mengetahui jenis anyaman yang
dipakai atau digunakan pada suatu jenis kain (kain contoh uji). Sehingga makna
dari menganalisis kain tenun atau biasa disebut dengan “dekomposisi”, adalah
suatu cara menganalisis kain contoh, sehingga dari hasil analisis tersebut dapat
diperoleh data – data yang dapat digunakan untuk membuat kembali kain yang
sesuai dengan contoh yang dianalisis.

2.1.Pengertian Anyaman Dasar Kain Satin


Nama lain biasanya disebut sateen, istilah umum untuk kain katun dengan
anyaman satin 5 gun atau 8 gun disebut satin pakan.
Satinet istilah yang dipakai untuk kain imitasi sutera misalnya dari bahan katun
yang dimerser. Satin istilah yang umum dipakai pada kain-kain satin yang dibuat
dari sutera filamen atau benang sintetis filamen. Satinettes, dibuat dari benang lusi
kapas dan benang pakan wol. Satijn de chine, dibuat dari benang sutera alam
dengan tetal sedang, belakangan dibuat juga dari benang rayon.

2.2.Ciri-ciri dan Karakteristik Anyaman Satin


 Anyaman satin tidak menonjolkan garis miring pada permukaannya
dengan efek lusi yang menyebar rata dan tidak bersinggungan seperti
halnya pada anyaman keeper, dibuat dengan menggunakan tetal benang
yang tinggi sehingga mempunyai permukaan kain yang rata, padat dan
mengkilat.
 Anyaman satin dibagi kedalam 2 jenis, yaitu satin teratur yang dibuat
dengan memenuhi aturan angka loncat (v) dengan gun minimal 5 gun dan
anyaman satin yang tidak memenuhi aturan angka loncat yaitu satin tidak
teratur atau biasa disebut satin.

Angka loncat (v) pada anyaman satin:


a. Angka loncat harus lebih besar dari 1 (v>1).
b. Angka loncat tidak sama ddengan jumlah benang lusi/pakan dalam 1
rapot dikurangi 1.
c. Angka loncat tidak sama dengan bilangan pembagi pesekutuan terhadap
bilangan yang menunjukkan jumlah benang lusi/pakan dalam 1 rapot
anyaman atau angka loncat dan jumlah benang dalam 1 rapot tidak boleh
terbagi oleh suatu angka yang sama
d. Anyaman satin yang tidak memenuhi aturan-aturan angka loncat diaatas
disebut anyaman satin tidak teratur atau biasa disebut satinetta yaitu amyaman
satin 4 gun dan anyaman satin 6 gun

Jenis anyaman satin :


a. Anyaman satin teratur, anyaman satin yang besarnya angka loncat
memenuhi ketentuan diatas a sampai dengan dpada permukaan kain
dengan anyaman satin teratur akan terbentuk garis-garis miring seperti
pada anyaman keper, tetapi garis tersebutkurang jelas. Sudut yang
terbentuk pada masing-masing satin berlawanan besarnya, tergantung dari
besarnya angka loncat dan tetal benangnya.

Rapot terkecil pada anyaman satin teratur ialaha satin 5 gun, dan
anyamansatin ini paling seringdigunakan, terutama pada kain-kain damast,
kain lapis (voering stotten), dan lain-lain, baik dalam katun, wol, ulas,
maupun sutera dan rayon. Beberapa kain dalam satin 5 gun, misalnya
· Satinet, untuk kain lapis maupun meubelstoffen
· Satija de chine, untuk kain lapis
· Pnillette, jenis kain satin ringan
· Satija tips, kain satin yang tembus cahaya (doorzichtige) dll.

A B
C D

Keterangan gambar :
a : anyaman satin pakan 5 gun, dengan angka loncat (v) = 2
b : anyaman satin pakan 5 gun, dengan angka loncat (v) = 3
c : anyaman satin lusi 5 gun, dengan angka loncat (v) = 3
d : anyaman satin lusi 5 gun, dengan angka loncat (v) = 2

b. Anyaman satin tak teratur


Anyaman satin tidak teratur yang terpenting ialah satin 4 gun dan satin6
gun, Hal iini disebabkan keduanya tidak mempunyai angka loncat yang
memnuhi syarat seperti tercantum pada nomor 3.
Pada anyaman ini letaknyatitik-titik silang tidak termasuk atau tidak rapi
karena angka loncat yang disgunakan lebih dan satu angka

Hal ini menguntungkan pada kain-kain yang tidak diperlukan garis-garis


miring padapermukaan kain. Karena itu satin tak teratur kadang-kadang
diterapkan (digunakan) pda sati 8, 10, 12 gun, dll, satin mana mestinya
termasuk golongan satin teratur

Pada semua anyaman satin (teratur / tidak teratur), hanya mungkin


digunakan benang berwarna secara efisien hanya pada benang-benang
yang nampak pada permukaan kain misalnya satin lusi, penggunaan
benang berwarna hanya efisien pada benang lusi saja. Jika pada satin
(efek) lusi digunakan benang pakan berwarna, ,maka warna tsb hanya
akan merupakan bintik-bintik kecil yang tersebar pada permukaan kulit,
dimana keadaan demikian jarang dikehendaki.
III. ALAT DAN BAHAN
 Loop / Kaca pembesar
 Jarum layar
 Penggaris
 Gunting
 Timbangan digital
 Kain sampel

IV. CARA KERJA


1. Siapkan kain contoh uji yang kemudian digunting menjadi berukuran 10 cm x
10 cm ataupun 20 cm x 20 cm.
2. Menentukan arah lusi dan pakan pada kain uji (arah lusi diberi tanda panah),
dimana lusi dicari dengan merasakan benang yang kaku dan keras karena telah
diberi kanji. Dapat juga dengan melihatnya ke arah cahaya. Yang terlihat lurus-
lurus (dan ada bagian-bagian yang tebal) adalah benang lusi.
3. Menghitung tetal lusi dan tetal pakan
Dengan menggunakan lope:
- Ratakan kain tanpa tegangan pada meja pemeriksa.
- Dengan kaca pembesar (lope) dibantu dengan jarum, hitung jumlah lusi
atau pakan setiap 1 inch.
- Pengujian dilakukan paling sedikit di 3 tempat yang berbeda secara
merata.
- Hitung rata-rata tetal lusi dan tetal pakan.
Dengan Cara Urai atau Cara Tiras
- Gunting kain dengan ukuran 2 x 2 cm, lalu tiras hingga 1x 1 cm tepat lurus
benang.
- Hitung jumlah masing-masing benang lusi dan benang pakan.
- Ulangi langkah diatas paling sedikit lima kali pada tempat yang berbeda.
- Hitung rata-rata tetal lusi dan tetal pakan.
4. Menimbang kain contoh uji dengan ukuran 10 x 10 cm ataupun 20 cm x 20
cm, kemudian catat beratnya.
5. Mengambil benang lusi dan juga pakan dari berbagai sisi pada kain contoh uji
tersebut sebanyak 5 (lima) helai – 5 (lima) helai, sehingga total benang yang
diperolehnya sebanyak 10 helai lusi dan 10 helai pakan, kemudian ditimbang.
6. Mengukur panjang benang lusi helai demi helai lalu rata-ratakan (diluruskan),
lalu mencatat panjang dari masing-masing benang tersebut. Demikian pula
untuk benang pakannya, lalu nilai yang telah diperoleh dari 10 (sepuluh)
benang tersebut dirata-ratakan. Nilai tersebut digunakan untuk menghitung
mengkeret lusi dan pakan.
7. Menghitung nomor benang lusi dan pakan dari masing-masing dari data yang
sudah diperoleh.
8. Melalukan perhitungan terhadap berat lusi dan pakan untuk memperoleh
selisih berat
V. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
5.1.Data Pengamatan
- Berat contoh kain uji (10x10) cm : 0,9823gram
- Berat 20 helai lusi : 0,0112 gram
- Berat 20 helai pakan : 0,0212 gram

No Tetal (helai/inch) Panjang (cm)


Lusi Pakan Lusi Pakan
1 104 39 10 10,2
2 103 40 10,1 10,3
3 105 43 10,1 10,1
4 106 38 10 10
5 105 39 10,2 10,1
6 10 10,2
7 10 10,1
8 10,1 10,1
9 10,1 10
10 10 10,2
11 10,1 10,1
12 10 10,3
13 10 10,2
14 10,1 10,3
15 10,2 10,1
16 10 10
17 10 10,2
18 10,1 10,1
19 10 10,3
20 10,1 10,1
∑ 523 199 201,2 203
x̄ 104,6 39,8 10,06 10,15
5.2.Perhitungan
- Berat 20 helai lusi = 0,0112 gram
Jumlah 20 helai lusi = 201,2 cm = 2,012 m
Rata-rata tetal lusi = 104,6 helai/cm
- Berat 20 helai pakan = 0,0212 gram
Jumlah 20 helai pakan = 203 cm = 2,030 m
Rata-rata tetal pakan = 39,8 helai/ cm

1. NOMOR BENANG
- Nomor benang lusi :
∑ 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 20 𝑙𝑢𝑠𝑖 1000
 Nm =  Tex =
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 20 𝑙𝑢𝑠𝑖 Nm
2,012 m 1000
= 0,0112𝑔𝑟 = 179,64

= 179,64 m/g = 5,56 tex


9000
 Ne1 = 0,59 x Nm  Td = Nm
= 0,59 x 179,64 9000
= 179,64
= 105,98
= 50,09 denier

- Nomor benang pakan :


∑ 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 20 𝑝𝑎𝑘𝑎𝑛 1000
 Nm =  Tex =
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 20 pakan Nm
2,030 1000
= 0,0212 = 95,75 Bu

= 95,75 m/g = 10,44 tex


9000
 Ne1 = 0,59 x Nm  Td = Nm
= 0,59 x 95,75 9000
= 95,75
= 56,49
= 93,99 denier

2. MENGKERET
x̄ panjang lusi−panjang kain
a. Mengkeretlusi = 𝑥 100 %
x̄ 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑢𝑠𝑖

10,6−10
= 𝑥 100 %
10,06
0,06
= x 100 % = 0,59 %
10,06

x̄ panjang pakan−panjang kain


b. Mengkeretpakan = 𝑥 100 %
x̄ 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑘𝑎𝑛

10,15−10
= 𝑥 100 %
10,15

0,15
= x 100 % = 1,47 %
10,15

c. BERAT KAIN/ M2
a. Penimbangan kain contoh uji
(100 𝑥 100 )𝑐𝑚
Berat kain = Berat kain CU x 𝑢𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 𝐶𝑈

(100 𝑥 100 )𝑐𝑚


= 0,9823 gr x (10 𝑥 10)𝑐𝑚

= 98,23 g/m2

b. Perhitungan
- LUSI
Tetal lusi (hl/cm) = 104,6 helai/cm
𝑡𝑒𝑡𝑎𝑙 𝑙𝑢𝑠𝑖 (ℎ𝑙/𝑐𝑚) 𝑥 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑖𝑛 𝑥 𝑙𝑒𝑏𝑎𝑟 𝑘𝑎𝑖𝑛 100
Berat lusi = x (100−𝑚𝑙𝑢𝑠𝑖)
𝑁𝑚 𝑥 100

104,6 𝑥 100𝑐𝑚 𝑥 100𝑐𝑚 100


= x (100−0,59)
179,64 𝑥 100

= 58,226 x 1,006

= 58,576 gr/m2

- PAKAN
Tetal pakan (hl/cm) = 39,8 helai/cm
𝑡𝑒𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑘𝑎𝑛 (ℎ𝑙/") 𝑥 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑖𝑛 𝑥 𝑙𝑒𝑏𝑎𝑟 𝑘𝑎𝑖𝑛 100
Berat pakan = x 100−𝑚𝑝𝑘𝑛
𝑁𝑚 𝑥 100
39,8 𝑥 100𝑐𝑚 𝑥 100𝑐𝑚 100
= x (100−1,47)
95,75 𝑥 100

= 41,56 x 1,015
= 42,188gr
Berat kain = BERAT LUSI + BERAT PAKAN
= 58,576 + 42,188 = 100,764 gram
c. SELISIH BERAT (%)

𝐵𝐵−𝐵𝐾
Selisih (%) = 𝑋 100%
𝐵𝐵

𝐴−𝐵
Jika A > B, maka 𝑋 100%
𝐴

𝐵−𝐴
Jika A < B, maka 𝑋 100%
𝐵

A<B
𝐵−𝐴 100,764−98,23
𝑋 100% = x 100%
𝐵 100,764
2,534
= x 100% = 2,51 %
100,764

Gambar anyaman satin dari sampel kain

Keterangan : = lusi
= pakan

VI. DISKUSI
Pada praktikum ini dilakukan dekomposisi kain yang beranyaman
satin. Hasil persentase selisih berat yang diperoleh pada praktikum ini
adalah 2,51 %. Selisih berat kain yang diukur dengan teliti yaitu 5 %
atau kurang dari 5%. Dalam praktikum ini didapat persentase selisih
berat kurang dari 5%, dimana praktikum yang dijalankan dilakukan
dengan baik.
VII. KESIMPULAN
Dalam praktikum ini telah dilakukan dekomposisi kain contoh uji
anyaman polos. Didalam praktikum ini didapat data sebagai berikut.
1. Nomer Benang
Nomor Benang Lusi Nomer Benang Pakan
Nm = 179,64 m/gram Nm = 95,75 m/gram
Ne = 105,98 Ne = 56,49
Tex = 5,56 tex Tex = 10,44 tex
Td = 50,09 denier Td = 93,99 denier

2. Mengkeret
Mengkeret Lusi = 0,59%
Mengkeret Pakan = 1,47%

3. Berat lusi dan pakan / m2


Berat lusi/ m2 = 58,576 gram/ m2
Berat pakan/ m2 = 42,188 gram/ m2
Berat kain/ m2 (praktik) = 100,764 gram/ m2
Berat kain/ m2 (teori) = 98,23 gram/ m2

4. Selisih Berat = 2,51%

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Jurmaeri,BK.Teks.dkk.Teknik Design,Institut Teknologi


Tekstil,1974,Bandung
Nurman,Rijali. Laporan Praktikum Desain Tekstil 1,Institut Teknologi
Tekstil,2012,Bandung
http://ayyub-textile.blogspot.com/2018/02/dekomposisi-kain-anyaman-satin-i.html
https://www.ajp03.com/2015/01/mengetahui-tentang-jenis-anyaman-pada.html
Lampiran

Benang Lusi Benang Pakan

Contoh Kain