Anda di halaman 1dari 80

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN


KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA PASIEN
SPINA BIFIDA DI RUANG BEDAH ANAK LANTAI III
UTARA RSUP FATMAWATI

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

DEWANTI
0806456991

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI KEPERAWATAN
DEPOK
JULI 2013
UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN


KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA PASIEN
SPINA BIFIDA DI RUANG BEDAH ANAK LANTAI III
UTARA RSUP FATMAWATI

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners

DEWANTI
0806456991

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI KEPERAWATAN
DEPOK
JULI 2013
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya ilmiah akhir ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Dewanti, S. Kep

NPM : 0806456991

Tanda Tangan

( ~ )

Tanggal : 12 Juli 2012

11
HALAMANPENGESAHAN

Karya ilmiah akhir ini diajukan oleh :


Nama : Dewanti, S. Kep
NPM : 0806456991
Program Studi : Profesi Ilmu Keperawatan
Judul Karya ilmiah akhir : Analisis Praktik Klinik Keperawatan
Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada
Pasien Spina Bifida di Ruang Bedah Anak
Lantai III Utara RSUP Fatmawati

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners
pada Program Profesi Bmu Keperawatan, Fakultas Bmu Keperawatan,
Universitas Indonesia

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Siti Chodidjah, S.Kp., M.N (~


Penguji I : Dessie Wanda, S.Kp., M.N ( Al\~ )

Penguji II : Happy Hayati, S.Kp., M.Kep. Sp.Kep.An


~ )

Ditetapkan di : Depok
Tanggal : 12 Juli 2012

111
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir ini dengan baik.
Dengan mengucap rasa syukur alhamdulillah akhirnya penulis dapat
menyelesaikan karya ilmiah akhir yang berjudul “Analisis Praktik Klinik
Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida di
Ruang Bedah Anak Lantai III Utara RSUP Fatmawati.”
Karya ilmiah akhir ini merupakan salah satu syarat untuk mengikuti tahapan
proses karya ilmiah akhir untuk mencapai gelar Ners Keperawatan di Universitas
Indonesia. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, penyelesaian karya ilmiah akhir ini tidak akan mudah. Oleh karena itu,
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Siti Chodidjah, S.Kp., M.N, selaku pembimbing karya ilmiah akhir yang
telah membimbing, meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk
mengarahkan penulis hingga selesainya karya ilmiah akhir ini;
2. Ibu Kuntarti, S.Kp., M.Biomed, selaku Koordinator dan Ketua Program Studi
Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang
memberi motivasi dan mendoakan hingga terselesaikannya perjalanan profesi
ini;
3. Ibu Ns. Yuminah S.Kep, selaku Kepala Ruangan IRNA A Teratai Lantai III
RSUP Fatmawati yang telah membimbing dan memotivasi pelaksanaan
praktik KKMP di ruangan;
4. Ibuku (Darningsih) dan Ayahku (Poerwanto) serta adikku (Rini Permatasari),
yang selalu memberi dukungan, materi, dan doa yang berlimpah selama
penyusunan karya ilmiah akhir ini;
5. Sahabat-sahabatku BEDUK (Harumi, Tiara, Sintha, Kiki, Imam, Asrovi,
Dimas, Ardimas, Iqbal, Aul, Pyong, Bayu, Dian, Farhan) yang Subhanallah
memberikan doa dan tanpa lelah mengingatkan penulis untuk menyelesaikan
karya ilmiah akhir ini tepat pada waktunya;
6. Laskar Pembinaan FARIS 14 (Yudhi, Azul, Halimah, Ayu, Rizki, Bima,
Niroh, Hafsahah, Wendi, Adlan, Nida, Yulia, Dimas, Izzuddiin, Harumi,

iv
Haura, Vina, Dita, Fathanah, Islamia) dan BPH FARIS 14 (Reza, Fitri,
Fahmi, Nimas, Normand, Fandi, Annisa) yang mengajarkan tentang arti
keseimbangan dalam organisasi dan akademis, yang begitu banyak
mendoakan dan memberi dukungan selama penyusunan karya ilmiah akhir
ini;
7. Laskar Bunga dan Syi’ra yang tidak henti-hentinya mendoakan dan
menyemangati ketika penulis menyusun karya ilmiah akhir ini;
8. Seluruh BPH BEM FIK UI 2011 EKSPRESIF yang senantiasa mengirimkan
doa dan limpahan semangat yang luar biasa;
9. Teman-teman satu bimbingan karya ilmiah akhir Ade Kurniah, Titis Tolada,
Aditya Wijayanti, Hafidzah Fitriyah, yang sama-sama berjuang mulai dari
bimbingan, penyusunan proposal hingga sidang serta terselesaikannya karya
ilmiah akhir ini;
10. Angkatan 2008 FIK UI yang PEDULI, yang selalu menjadi insipirasi dan
penyemangat dalam melakukan segala aktivitas perkuliahan dari awal hingga
saat ini.

Penulis menyadari begitu banyak rintangan yang menyertai dalam pembuatan


karya ilmiah akhir ini karena keterbatasan penulis sebagai manusia, penulis yakin
kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Oleh karena itu, penulis mohon maaf
apabila dalam pembuatan karya ilmiah ini terdapat kesalahan dan kekurangan.
Kritik dan saran yang membangun selalu penulis harapkan dalam penyempurnaan
penulisan karya ilmiah akhir selanjutnya. Penulis mengharapkan semoga karya
ilmiah akhir ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan pembaca
pada umumnya.

Depok, 12 Juli 2012

Penulis

v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama : Dewanti, S. Kep


NPM : 0806456991
Program Studi : Profesi Ilmu Keperawatan
Fakultas : Ilmu Keperawatan
Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty
Free Right) atas karya ilmiah saya yang beIjudul :
Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Pada Pasien Spina Bifida di Ruang Bedah Anak Lantai III Utara RSVP
Fatmawati beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas
Royalti Noneksklusif IllI Universitas Indonesia berhak menYImpan,
mengalihmedial formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database);
merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan
nama saya sebagai penulis/ pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya bunt dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok

Pada Tanggal : 12 Juli 2012

Yang menyatakan

(Dewanti, S. Kep)

: ~ : VI
ABSTRAK

Nama : Dewanti, S. Kep


Program Studi : Ilmu Keperawatan
Judul : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida di Ruang Bedah Anak
Lantai III Utara RSUP Fatmawati

Spina bifida merupakan salah satu penyakit kongenital pada anak berupa kegagalan
penutupan tulang belakang. Salah satu tindakan dalam mengatasi spina bifida adalah
pembedahan. Masalah utama yang muncul pada anak dengan pembedahan adalah nyeri
akut. Karya ilmiah akhir ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan keperawatan
pada anak spina bifida dengan menerapkan teknik guided imagery dalam mengatasi nyeri
paska pembedahan. Penerapan teknik guided imagery yang telah dilakukan pada anak
post op rekonstruksi meningokel (spina bifida) selama 4 hari diperoleh hasil penurunan
skala nyeri dari 7 menjadi 1. Pemberian teknik guded imagery pada anak dengan spina
bifida menjadi upaya untuk menghilangkan atau menurunkan skala nyeri yang diderita
oleh anak pasca pembedahan rekonstruksi meningokel.

Kata kunci : anak, guided imagery, nyeri, spina bifida


46 + x halaman : 0 tabel
Daftar Pustaka : 32 (2000-2013)

ABSTRACT

Name : Dewanti, S. Kep


Study Program : Nursing Science
Title : Analysis of Urban Health Nursing Clinic Practice in Children with
Spina Bifida in Surgery Room North 3 Fatmawati Hospital

Spina bifida is one of the congenital diseases in children in the form of failure of closure
of the spine. One of the interventions in dealing with spina bifida is surgery. Acute pain
often becomes a major problem on the children after surgery. The aim of this paper was
to describe nursing care in children with spina bifida by applying guided imagery
technique to decrease pain after surgery. Implementation of guided imagery technique
that have been conducted in children after meningocele reconstruction surgery for 4 days
showed the reduction of pain scale from 7 to 1. Giving guided imagery technique for
children with spina bifida should be addressed to eliminate or decrease pain scale
suffered by the children with spina bifida after meningocele reconstruction surgery.

Keywords : children, guided imagery, pain, spina bifida


x + 46 pages : 0 table
Bibliography : 32 (2000-2013)

vii Universitas Indonesia


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA
ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS .......................................... vi
ABSTRAK ..................................................................................................... vii
DAFTAR ISI .................................................................................................. viii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... x

1. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 4
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................. 5
1.3.1 Tujuan Umum............................................................................. 5
1.3.2 Tujuan Khusus ............................................................................ 5
1.4 Manfaat Penulisan ................................................................................ 6
1.4.1 Manfaat Bagi Masyarakat ........................................................... 6
1.4.2 Manfaat Bagi Perawat ................................................................. 6
1.4.3 Manfaat Bagi Penidikan .............................................................. 6

2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 7


2.1 Spina Bifida .......................................................................................... 7
2.1.1 Pengertian Spina Bifida ............................................................. 7
2.1.2 Penyebab Spina Bifida ............................................................... 7
2.1.3 Klasifikasi Spina Bifida ............................................................. 8
2.1.4 Manifestasi Klinik Spina Bifida ................................................. 9
2.1.5 Patofisiologi Spina Bifida .......................................................... 9
2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik Spina Bifida ........................................ 10
2.1.7 Penatalaksanaan Spina Bifida..................................................... 10
2.2 Nyeri .................................................................................................... 11
2.2.1 Pengertian Nyeri ........................................................................ 11
2.2.2 Klasifikasi Nyeri........................................................... ............... 11
2.2.3 Mekanisme Nyeri ...................................................................... 13
2.2.4 Teori Pengontrolan Nyeri ........................................................... 14
2.2.5 Efek Nyeri ................................................................................. 15
2.2.6 Penatalaksanaan Nyeri ............................................................... 15
2.2.7 Skala Penilaian Nyeri ................................................................. 17
2.3 Konsep Perkembangan Sakit dan Nyeri pada Anak .............................. 20
2.4 Konsep Guided Imagery ...................................................................... 21
2.5 Konsep Nyeri Paska Operasi ................................................................ 27

3. TINJAUAN KASUS .................................................................................. 29


3.1 Pengkajian ............................................................................................ 29
3.2 Analisis Data ........................................................................................ 31
viii Universitas Indonesia
3.3 Implementasi dan Evaluasi Tindakan Keperawatan............................... 32

4. ANALISIS SITUASI ................................................................................. 34


4.1 Profil Lahan Praktik.............................................................................. 34
4.2 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep terkait KKMP dan
Konsep Kasus terkait .............................................................................. 35
4.3 Analisis Intervensi dengan Konsep Aplikasi ........................................ 38
4.4 Alternatif Pemecahan Masalah.............................................................. 41

5. PENUTUP ................................................................................................. 42
5.1 Simpulan .............................................................................................. 42
5.2 Saran .................................................................................................... 42

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 44

ix Universitas Indonesia
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 – Asuhan Keperawatan Anak T dengan Spina Bifida

Lampiran 2 – WOC Spina Bifida

x Universitas Indonesia
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berkembangnya zaman berbanding lurus dengan perkembangan diberbagai
sektor. Seperti di kota-kota besar saat ini, limbah dari hasil industri, asap
kendaraan, dan bangunan menambah polusi air dan udara dan menambah
keributan (suara bising). Iklim dan tanah yang gundul akan menambah
bencana alam. Di samping itu, iklim dan tanah yang gundul juga menambah
polusi air dan udara yang memiliki dampak berkepanjangan bagi kesehatan
manusia.

Polusi udara yang disebabkan oleh lalu lintas, industri hingga debu
berdampak buruk pada kesehatan. Pada kehamilan akan meningkatkan risiko
berat lahir bayi rendah. Ada dua jenis polusi kendaraan bermotor yang
berdampak pada pertumbuhan janin, yaitu partikel hitam dan nitrogen
dioksida. Dua jenis polusi itu bisa masuk paru-paru dan mengganggu fungsi
organ tersebut. Hasil studi di Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam
Jurnal Epidemiologi dan Kesehatan Komunitas sebagaimana dikutip situs
BBC menyebutkan, tingginya paparan polusi dari asap kendaraan bermotor
pada ibu pada awal dan akhir kehamilan bisa menyebabkan janin tidak
tumbuh baik sehingga bayi lahir dengan berat badan rendah. Hal ini juga
dapat menyebabkan bayi lahir dengan kelainan kongenital (Judarwanto,
2013).

Kelainan kongenital merupakan suatu kelainan pada struktur, fungsi maupun


metabolisme tubuh yang ditemukan pada bayi ketika dilahirkan. Sekitar 2-3
% bayi baru lahir memiliki kelainan kongenital yang berat (American
Pediatric Surgical Nurses Association, 2008). Di Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo (I975-1979), secara klinis ditemukan angka kejadian
kelainan kongenital sebanyak 225 bayi diantara 19.832 kelahiran hidup atau
sebesar 11,6I per 1000 kelahiran hidup, sedangkan di Rumah Sakit Dr.

1 Universitas Indonesia
2

Pirngadi, Medan (1977-1980) sebesar 48 bayi (0,33%) di antara 14.504


kelahiran bayi dan di Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada (1974-1979)
sebesar 164 dari 4625 kelahiran bayi. Di Ruang Perinatologi RSAB ”Harapan
kita” Jakarta dari tahun 1994 – 2005 kelainan bawaan terdapat pada 2,55%
dari seluruh bayi yang lahir (Effendi, 2006 dalam Neonatologi IDAI 2008)
.
Kelainan kongenital dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor
lingkungan atau keduanya. Spina bifida merupakan salah satu kasus kelainan
kongenital yang sering terjadi pada bayi yang baru lahir di Indonesia setelah
ensefalus dan anensefali. Penyakit spina bifida atau sering dikenal dengan
sumbing tulang belakang adalah salah satu penyakit yang banyak terjadi pada
bayi (Hockenberry & Wilson, 2009). Sebanyak 65% bayi baru lahir terkena
spina bifida. Angka kejadiannya adalah 3 diantara 1000 kelahiran (Betz &
Sowden, 2002). Sementara itu fakta lain mengatakan 4,5% dari 10.000 bayi
yang lahir di Belanda menderita penyakit ini atau sekitar 100 bayi setiap
tahunnya (Dewi, 2010). Sedangkan di RSUP Fatmawati selama 3 bulan
terakhir (Maret-Mei 2013) terdapat 9 dari 100 anak mengalami spina bifida.

Spina bifida adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra) yang terjadi
karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal
terbentuk secara utuh (Smeltzer & Bare, 2002). Menurut Wong (2009) spina
bifida merupakan penutupan salah satu kolumna vertebralis tanpa tingkatan
protusi jaringan melalui celah tulang. Penyakit ini menyerang melalui
medulla spinalis dimana ada suatu celah pada tulang belakang (vertebra). Hal
ini terjadi karena ada satu atau beberapa bagian dari vertebara gagal menutup
atau gagal terbentuk secara utuh dan dapat menyebabkan cacat berat pada
bayi,ditambah lagi penyebab utama dari penyakit ini masih belum jelas. Hal
ini jelas akan menyebabkan gangguan pada sistem saraf karena medula
spinalis termasuk sistem saraf pusat yang tentunya memiliki peranan yang
sangat penting dalam sistem saraf manusia. Jika medulla spinalis mengalami
gangguan, sistem-sistem lain yang diatur oleh medulla spinalis pasti juga
akan terpengaruh dan akan mengalami gangguan pula. Hal ini akan semakin
Universitas Indonesia
3

memperburuk kerja organ dalam tubuh manusia, apalagi pada bayi yang
sistem tubuhnya belum berfungsi secara maksimal.

Penyebab spesifik dari spina bifida tidak diketahui, tetapi menurut beberapa
sumber menyebutkan bahwa spina bifida muncul akibat dari faktor genetik
(keturunan) dan kekurangan asam folat pada masa kehamilan. Berdasarkan
hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2010, masalah kekurangan
konsumsi energi protein terjadi pada semua kelompok umur di Indonesia.
Konsumsi energi ibu hamil yang berada di perkotaan 41,9 persen sedangkan
di desa 48 persen dan konsumsi protein ibu hamil di kota dan desa tidak jauh
beda yakni 49,5 persen. Hal ini menunjukan masih rendahnya konsumsi
nutrisi yang optimal untuk ibu hamil. Asam folat berfungsi untuk
metabolisme normal makanan menjadi energi, pematangan sel darah merah,
sintesis DNA, pertumbuhan sel dan pembentukan heme. Tubuh
memerlukannya untuk pembentukan sel baru. Apabila asupan asam folat
tidak adekuat dapat menyebabkan bayi lahir prematur atau cacat, termasuk
cacat sistem saraf (otak) atau cacat tabung saraf (Neural Tube Deffect).

Kelainan kongenital yang diderita bayi baru lahir akan sangat berpengaruh
terhadap kelangsungan hidup bayi tersebut, maka memerlukan tindakan
pembedahan. Melakukan tindakan pembedahan pada anak, khususnya bayi
memerlukan pengetahuan khusus tentang patofisiologi dan pelayanan
keperawatan bayi, kemampuan untuk mengenali dan merespon komplikasi,
dan menawarkan perawatan pendukung kepada keluarga. Perawatan terhadap
pembedahan pada anak atau bayi antara lain stabilisasi kardiovaskular,
termoregulasi, manajemen cairan dan elektrolit, pemberian obat, perawatan
luka, dan nutrisi pendukung (American Pediatric Surgical Nurses
Association, 2008).

Permasalahan yang muncul pada anak yang dilakukan pembedahan adalah


gangguan rasa nyaman berupa nyeri pada bagian paska operasi. Terdapat
berbagai tindakan yang dapat dilakukan seorang perawat untuk mengurangi
Universitas Indonesia
4

nyeri yang diderita anak baik sebelum maupun setelah proses pembedahan.
Tindakan tersebut mencakup tindakan nonfarmakologi dan tindakan
farmakologi (Wong, 2009). Tindakan nonfarmakologi antara lain
membangun hubungan terapeutik perawat dan pasien, relaksasi, imajinasi
terbimbing (Wong, 2009). Sedangkan tindakan farmakologi yang digunakan
untuk mengurangi nyeri yaitu memberikan analgetik, anestesi lokal atau
regional, dan analgesia epidural (Potter & Perry, 2006).

Melihat gejala yang tampak pada anak paska pembedahan seperti menangis
dan mengeluh nyeri pada daerah pembedahan membuat anak merasa tidak
nyaman dan membuat orang tua menjadi cemas. Oleh karena itu perawat
perlu melakukan intervensi untuk meningkatkan kenyamanan anak. Perawat
dapat menerapkan konsep atraumatic care berupa guided imagery untuk
mengurangi nyeri yang diderita oleh anak paska pembedahan. Dalam hal ini
penulis melakukan aplikasi dari tesis yang dibuat oleh Mariyam (2011)
berjudul “Pengaruh Guided Imagery Terhadap Tingkat Nyeri Anak Usia 7-
13 Tahun Saat Dilakukan Pemasangan Infus di RSUD Kota Semarang”.
Tesis ini menerapkan konsep guided imagery pada anak yang dilakukan
pemasangan infus dan didapatkan hasil bahwa guided imagery berpengaruh
terhadap pengurangan rasa nyeri saat dilakukan pemasangan infus sebesar
60% dibandingkan anak yang tidak dilakukan guided imagery. Penulis
tertarik menggunakan aplikasi ini pada anak yang paska pembedahan yang
mengalami nyeri sehingga anak dapat merasa nyaman. Selain karna mudah
diterapkan dan sesuai dengan usia klien kelolaan, teknik ini tidak memerlukan
biaya dalam penerapannya, serta berdampak positif dalam menurunkan skala
nyeri pada anak.

1.2 Rumusan Masalah


Padatnya populasi penduduk di Indonesia menimbulkan berbagai polusi yang
mengancam kesehatan manusia tanpa terkecuali seorang ibu yang sedang
mengandung. Dampak polusi tersebut dapat mempengaruhi janin dalam
kandungan sehingga dapat terjadi kelainan kongenital pada saat bayi lahir.
Universitas Indonesia
5

Salah satu masalah kongenital yang terjadi adalah spina bifida. Sebanyak
65% bayi baru lahir terkena spina bifida. Di RSUP Fatmawati 9 orang dari
100 orang selama 3 bulan terakhir menderita spina bifida. Penyebab spina
bifida antara lain karena kekurangan asam folat selama kehamilan.
Pembedahan merupakan salah satu cara untuk mengangkat meningokel pada
tubuh anak. Hal ini dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman paska
pembedahan berupa sensasi nyeri. Untuk itu perlu dilakukan penanganan
nyeri yang sesuai pada anak dengan menerapkan konsep atraumatic care
berupa guided imagery. Diharapkan dengan pengaplikasian konsep tersebut
dapat menyelesaikan masalah pemenuhan kebutuhan rasa nyaman berupa
nyeri pada anak paska pembedahan.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh guided imagery pada
anak dengan gangguan pemenuhan kebutuhan rasa nyaman paska
pembedahan.

1.3.2 Tujuan Khusus


a) Mahasiswa mampu mengidentifikasikan masalah gangguan rasa nyaman
pada anak paska pembedahan.
b) Mahasiswa mampu membuat perencanaan asuhan keperawatan yang
tepat pada anak paska pembedahan.
c) Mahasiswa mampu mengaplikasikan guided imagery dalam mengurangi
gangguan rasa nyaman pada anak paska pembedahan.
d) Mahasiswa mampu menganalisis keefektifan guided imagery dalam
mengurangi gangguan rasa nyaman pada anak spina bifida paska
pembedahan.

Universitas Indonesia
6

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Bagi Masyarakat
Karya ilmiah ini dapat menambah pengetahuan keluarga pasien tentang
spina bifida dan dapat menerapkan konsep guided imagery dalam
melakukan perawatan kepada anak paska pembedahan dengan masalah
gangguan pemenuhan rasa nyaman.
1.4.2 Manfaat Bagi Perawat
Karya ilmiah ini bermanfaat dalam memberikan asuhan keperawatan yang
tepat untuk menangani masalah gangguan pemenuhan rasa nyaman pada
anak paska pembedahan.
1.4.3 Manfaat Bagi Pendidikan
Karya ilmiah ini berguna sebagai bahan pengajaran dan pengembangan ilmu
yang dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan terkait konsep guided
imagery yang dapat digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan pada
anak dengan gangguan pemenuhan rasa nyaman.

Universitas Indonesia
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Landasan teori pada bab ini akan menguraikan beberapa konsep yang mendasari
pengaplikasian teori pada kasus yang diangkat. Adapun uraian konsep dan teori
dalam landasan teori mencakup tentang uraian penyakit spina bifida, konsep
nyeri, konsep perkembangan nyeri pada anak, konsep guided imagery, dan konsep
nyeri paska operasi.

2.1 Spina Bifida


2.1.1 Pengertian Spina Bifida
Spina bifida adalah defek pada penutupan kolumna vertebralis dengan atau
tanpa tingkatan protusi jaringan melalui celah tulang (Hockenberry &
Wilson, 2009). Spina bifida (sumbing tulang belakang) adalah suatu celah
pada tulang belakang (vertebra) yang terjadi karena bagian dari satu atau
beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh (Smeltzer
& Bare, 2002).

2.1.2 Penyebab Spina Bifida


Penyebab spesifik dari spina bifida tidak diketahui, tetapi menurut beberapa
sumber menyebutkan bahwa spina bifida muncul akibat dari faktor genetik
(keturunan), kekurangan asam folat, dan ibu dengan epilepsi yang menderita
panas tinggi dalam kehamilannya mengkonsumsi obat-obat asam volproic,
anti konvulsan, klomifen. Biasanya penutupan tabung saraf terjadi pada
minggu ke empat masa embrio. Namun jika sesuatu yang mengganggu dan
tabung gagal untuk menutup dengan baik, cacat tabung saraf akan terjadi.
Diperkirakan bahwa hampir 50 % defek tabung saraf dapat dicegah jika
wanita yang bersangkutan meminum vitamin-vitamin prakonsepsi termasuk
asam folat (Betz dan Sowden, 2002).

7 Universitas Indonesia
8

2.1.3 Klasifikasi Spina Bifida


Spina bifida memiliki beberapa klasifikasi antara lain (Wong, Hockenberry-
Eaton, Wilson, Winkelstein, & Schwartz, 2009):
2.1.3.1 Spina Bifida Okulta
Kegagalan penyatuan arkus vertebralis posterior tanpa menyertai herniasi
medulla spinalis atau meninges, tidak dapat dilihat secara eksternal,
kadang merupakan penemuan sinar-X kebetulan yang tidak bermakna.
Spina bifida okulta lebih sering terjadi di lumbasakral (L5 dan S1). Cara
melihat adanya spina jenis ini adalah dengan melihat manifestasi kutaseus
yang berhubungan atau adanya gangguan neuromuskuler. Ciri-cirinya
terdapat nervus kapiler dan seberkas rambut atau lipoma supervisial. Spina
bifida okulta merupakan spina bifida yang paling ringan.

2.1.3.2 Spina Bifida Kistik


Defek yang dapat dilihat berupa penonjolan mirip kantong. Kulit diatas
pembengkakan biasanya tipis, tekanan pada kantong menyebabkan
fontanella menonjol. Spina Bifida Kistik dapat terjadi pada dua keadaan :
a) Meningokel
Penonjolan yang terdiri dari meninges dan sebuah kantong berisi cairan
serebrospinal (CSS). Penonjolan ini tertutup kulit biasa. Tidak ada
kelainan neurologik dan anak tidak mengalami paralise dan mampu
untuk mengembangkan kontrol kandung kemih dan usus. Terdapat
kemungkinan terjadinya infeksi bila kandung tersebut robek dan
kelainan ini adalah masalah kosmetik sehingga harus dioperasi.
b) Mielomeningokel
Mielomeningokel merupakan jenis spina bifida yang paling berat.
Mielomeningokel ditandai dengan protrusi hernia dan kista meninges
seperti kantong cairan spinal dengan sarafnya keluar melalui defek
tulang pada kolumna vertebralis.

Universitas Indonesia
9

2.1.4 Manifestasi Klinik Spina Bifida


Tanda dan gejala spina bifida bervariasi tergantung kepada beratnya
kerusakan pada korda spinalis dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak
memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sedangkan yang lainnya
mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis
maupun nakar saraf yang terkena. Gejalanya dapat berupa penonjolan
seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir,
kantung tidak tembus cahaya jika disinari, kelumpuhan atau kelemahan
pada pinggul, tungkai atau kaki, penurunan sensasi, inkontinensia urin
maupun inkontinansia alvi, korda spinalis yang terkena rentan terhadap
infeksi (meningitis), adanya seberkas rambut pada daerah sakral (panggul
bagian belakang), dan lekukan pada daerah sakrum.

2.1.5 Patofisiologi Spina Bifida


Spina bifida disebabkan oleh kegagalan dari tabung saraf untuk menutup
selama bulan pertama embrio pembangunan (sering sebelum ibu tahu dia
hamil). Biasanya penutupan tabung saraf terjadi pada sekitar 28 hari setelah
pembuahan. Namun, jika sesuatu yang mengganggu dan tabung gagal untuk
menutup dengan baik, cacat tabung saraf akan terjadi. Obat seperti beberapa
Antikonvulsan, diabetes, setelah seorang kerabat dengan spina bifida,
obesitas, dan peningkatan suhu tubuh dari demam atau sumber-sumber
eksternal seperti bak air panas dan selimut listrik dapat meningkatkan
kemungkinan seorang wanita akan mengandung bayi dengan spina bifida.
Namun, sebagian besar wanita yang melahirkan bayi dengan spina bifida
tidak punya faktor risiko tersebut, sehingga meskipun banyak penelitian,
masih belum diketahui apa yang menyebabkan mayoritas kasus. Beragam
spina bifida prevalensi dalam populasi manusia yang berbeda dan bukti luas
dari strain tikus dengan spina bifida menunjukkan dasar genetik untuk
kondisi. Seperti manusia lainnya penyakit seperti kanker, hipertensi dan
aterosklerosis (penyakit arteri koroner), spina bifida kemungkinan hasil dari
interaksi dari beberapa gen dan faktor lingkungan. Penelitian telah
menunjukkan bahwa kekurangan asam folat (folat) adalah faktor dalam
Universitas Indonesia
10

patogenesis cacat tabung saraf, termasuk spina bifida (Smeltzer & Bare,
2002).

2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik Spina Bifida


Pemeriksaan diagnosis spina bifida ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil
pemeriksaan fisik. Pada trimester pertama wanita hamil menjalani
pemeriksaan darah yang disebut Triple Screen. Tes ini merupakan tes
penyaringan untuk spina bifida, sindroma down dan kelainan bawaan
lainnya. 85 % wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida akan
memiliki kadar serum alfa feytoprotein yang tinggi. Tes ini memiliki angka
positif palsu yang tinggi, karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan
pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat diagnosis. Dilakukan USG yang
biasanya dapat menemukan adanya spina bifida. Perlu juga dilakukan
amniosentesis (analisa cairan ketuban) (Smeltzer & Bare, 2002).

Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan rontgen tulang belakang untuk


menentukan luas dan lokasi kelainan, USG tulang belakang bisa
menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis maupun vertebra, CT-
Scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan lokasi
dan luasnya kelainan (Smeltzer & Bare, 2002).

2.1.7 Penatalaksanaan Spina Bifida


Pembedahan mielomeningokel dilakukan pada periode neonatal untuk
mencegah ruptur. Perbaikan dengan pembedahan pada lesi spinal dan pirau
CSS pada bayi hidrosefalus dilakukan pada saat kelahiran. Pencangkokan
pada kulit diperlukan bila lesinya besar. Pembedahan dilakukan untuk
menutup lubang yang terbentuk dan untuk mengobati hidrosefalus. Kelainan
ginjal dan kandung kemih serta kelainan bentuk fisik yang sering menyertai
spina bifida. Terapi fisik dilakukan agar pergerakan sendi tetap terjaga dan
untuk memperkuat fungsi otot. Untuk mengobati atau mencegah meningitis,
infeksi saluran kemih dan infeksi lainnya diberikan antibiotik. Sedangkan
untuk mengatasi gejala muskuloskeletal (otot dan kerangka tubuh) perlu
Universitas Indonesia
11

campur tangan dari ortopedi (bedah tulang) maupun terapi fisik. Kelainan
saraf lainnya diobati sesuai dengan jenis dan luasnya gangguan fungsi yang
terjadi (Wong, Hockenberry-Eaton, Wilson, Winkelstein, & Schwartz,
2009).

2.2 Nyeri
2.2.1 Pengertian Nyeri
Nyeri bersifat subjektif, tidak ada dua individu yang mengalami nyeri yang
sama dan respon setiap individu pun berbeda-beda. Nyeri dapat merupakan
faktor utama yang menghambat kemampuan dan keinginan individu untuk
pulih dari suatu penyakit (Potter & Perry, 2006). Karena persepsi nyeri
sangat subjektif, individu yang bisa mengungkapkan nyerinya hanyalah
yang mengalaminya (Strong, Unruh, Wright, & Baxter, 2002; Black &
Hawks, 2009).

Nyeri adalah suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional yang tidak
menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang bersifat aktual
atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian di mana terjadi
kerusakan (International Assosiation for Study of Pain (IASP), 2007).
Menurut Kozier, et al. (2004), nyeri adalah sensasi yang tidak
menyenangkan dan sangat individual dan tidak dapat diungkapkan kepada
orang lain. Nyeri juga didefinisikan sebagai pengalaman sensori dan
emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang
aktual dan potensial (Smeltzer & Bare, 2002). Menurut Black dan Hawks
(2009) nyeri merupakan perasaan yang tidak menyenangkan dan disebabkan
oleh stimulus spesifik mekanis, kimia, elektrik pada ujung-ujung saraf serta
tidak dapat diserahterimakan kepada orang lain.

2.2.2 Klasifikasi Nyeri


Nyeri merupakan sensasi bagi tubuh ketika mengalami sesuatu. Nyeri
menimbulkan respon seperti ketidaknyamanan, distress, dan penderitaan
pada individu yang mengalaminya (Potter & Perry, 2006; Black & Hawks,
Universitas Indonesia
12

2009; Kozier, Erb, Berman, Snyder, 2010). Nyeri dapat dibedakan menjadi
nyeri akut dan nyeri kronik, keduanya mempunyai mekanisme fisiologis
yang berbeda sehingga memerlukan tindakan yang berbeda (Helms &
Barone, 2008).
2.2.2.1 Nyeri akut
Nyeri akut didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung beberapa detik
hingga enam bulan (Smeltzer & Bare, 2002). Nyeri akut memberikan
peringatan bahwa penyakit atau cedera telah terjadi. Rasa sakit biasanya
terbatas pada daerah yang terkena. Nyeri akut merangsang sistem saraf
simpatik sehingga menghasilkan respon gejala yang meliputi peningkatan
frekuensi jantung dan pernapasan, berkeringat, pupil melebar, gelisah, dan
khawatir. Jenis nyeri akut meliputi somatik, viseral, dan nyeri alih
(referred). Nyeri somatik adalah nyeri dangkal yang berasal dari kulit atau
jaringan subkutan. Nyeri viseral berasal dari organ internal dan lapisan
dari rongga tubuh, sedangkan referred pain adalah nyeri yang dirasakan di
daerah yang jauh dari tempat stimulus (Helms & Barone, 2008).

Karakteristik nyeri akut meliputi pendeskripsian nyeri, perilaku sangat


berhati-hati, memusatkan diri, fokus perhatian rendah (menarik diri dari
hubungan sosial), perilaku mengerang, menangis, raut wajah kesakitan,
perubahan tonus otot, respon otonom (diaforesis, perubahan tekanan darah
dan nadi, dilatasi pupil, penurunan atau peningkatan frekuensi pernafasan
(Black & Hawks, 2009).

2.2.2.2 Nyeri kronik


Nyeri kronis sering didefenisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama
enam bulan atau lebih (Smeltzer & Bare, 2002). Nyeri kronik diartikan
sebagai nyeri yang menetap melebihi proses yang terjadi akibat
penyakitnya atau melebihi waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan,
biasanya 1 atau 6 bulan setelah onset, dengan kesulitan ditemukannya
patologi yang dapat menjelaskan tentang adanya nyeri atau tentang
mengapa nyeri tersebut masih dirasakan setelah proses penyembuhan
Universitas Indonesia
13

selesai. Nyeri kronik berlangsung lama, intensitas bervariasi, dan biasanya


berlangsung lebih dari enam bulan (Perry & Potter, 2006). Klien yang
mengalami nyeri kronik seringkali mengalami periode remisi (gejala
hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat).
Sifat nyeri kronik yang tidak dapat diprediksi ini membuat klien frustasi
dan seringkali mengarah menjadi depresi psikologis (Perry & Potter,
2006). Anak-anak yang mengalami nyeri kronik atau berulang, sering kali
membentuk strategi koping perilaku yang efektif, seperti meremas tangan,
berbicara, menghitung, santai atau berfikir tentang kejadian-kejadian yang
menyenangkan (Hockenberry & Wilson, 2009).

2.2.3 Mekanisme Nyeri


Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima
rangsangan nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah
ujung saraf bebas dalam kulit yang berseppn hanya terhadap stimulus kuat
yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut nosireseptor, secara
anatomis reseptor nyeri ada yang bermielin dan ada yang tidak dari saraf
perifer (Smeltzer & Bare, 2002; Rospond, 2008).

Nosiseptor atau reseptor nyeri merupakan saraf yang berespon terhadap


stimulus nyeri yang berasal dari stimulus biologis, elektrik, thermal,
mekanik, dan kimiawi. Nosiseptor ditemukan di sepanjang seluruh jaringan
kecuali otak. Persepsi nyeri terjadi jika stimulus ini ditransmisikan ke
medulla spinalis dan kemudian diteruskan ke area pusat otak. Impuls nyeri
berjalan ke bagian dorsal tulang belakang, dimana impuls tersebut
melakukan sinaps dengan neuron di area dorsal pada substansi gelatinosa
dan kemudian naik ke otak. Sensasi dasar nyeri terjadi di thalamus, dan
berlanjut ke sistem limbik dan korteks serebri, dimana nyeri diterima dan
diinterpretasikan (Helms & Barone, 2008).

Ada 2 (dua) tipe serabut saraf yang terlibat dalam transmisi nyeri. Serabut
delta A yang besar menghasilkan nyeri yang didefinisikan dengan tajam,
Universitas Indonesia
14

disebut “fast pain” atau “first pain”, yang secara khusus distimulus oleh
luka potong, getaran listrik, atau karena pukulan fisik. Transmisi di
sepanjang serabut A berlangsung sangat cepat dimana reflek tubuh
dapatberespon dengan lebih cepat dari stimulus nyerinya, menghasilkan
reaksi berupa penarikan bagian tubuh yang terkena stimulus sebelum
seseorang merasa nyeri. Setelah nyeri pertama ini, serabut saraf C yang
lebih kecil mengirimkan luka bakar atau sensasi rasa sakit, disebut sebagai
“second pain”. Serabut C mentransmisikan nyeri lebih lambat daripada
serabut A karena serabut C lebih kecil dan tidak memiliki selubung myelin.
Serabut C merupakan satu-satunya serabut yang menghasilkan nyeri
menetap atau konstan (Helms & Barone, 2008).

Berdasarkan teori gate control, stimulasi pada serabut saraf


mentransmisikan stimulus yang tidak menyakitkan dapat memblok impuls
nyeri di pintu dorsal. Sebagai contoh, jika reseptor sentuhan (A beta fibers)
distimulasi, mereka mendominasi dan menutup pintu. Kemampuannya
untuk memblok impuls nyeri merupakan alasan seseorang cenderung
menarik sesegera mungkin dan mengirimkan pesan ke kaki ketika dia
menginjak benda tajam. Sentuhan dapat memblok transmisi dan durasi
impuls nyeri. Hal ini memiliki implikasi untuk penggunaaan sentuhan dan
masase untuk pasien yang mengalami nyeri (Helms & Barone, 2008).

2.2.4 Teori Pengontrolan Nyeri


Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965 dalam Morrison &
Bennett, 2009) menyatakan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat
oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Menurut teori
ini saraf perifer membawa nyeri ke spinal cord dan inputnya dimodifikasi
pada tingkat spinal cord sebelum ditransmisikan ke otak. Sensasi nyeri akan
dirasakan apabila impuls atau rangsangan nyeri dari sumber nyeri berhasil
dihantarkan oleh serabut saraf ke pusat nyeri di sistem saraf pusat (otak)
melalui gerebang nyeri (pain gate). Gerebang nyeri dapat ditutup dengan
cara mengaktifkan serabut saraf alfabeta melalui rangsangan raba, tekanan,
Universitas Indonesia
15

sentuhan, atau getaran pada sumber nyeri, sehingga impuls nyeri tidak
diteruskan ke medula spinalis dan juga ke otak. Akhirnya seseorang tidak
merasakan sensasi nyeri. Saat gerebang nyeri terbuka, rangsangan nyeri
dapat dihantarkan ke otak sehingga timbul rasa nyeri (Kozier, 2000).

2.2.5 Efek Nyeri


Efek nyeri yang dialami setiap individu hampir sama pada orang dewasa
maupun pada anak-anak, efek tersebut antara lain:
2.2.5.1 Efek Fisologis
Respon fisologis yang mengindikasikan nyeri antara lain adalah kulit
kemerahan, peningkatan keringat, tekanan darah, nadi, dan pernafasan,
gelisah, dan dilatasi pupil. Jika nyeri menetap, tubuh mulai beradaptasi dan
respons tersebut akan menurun dan stabil (Hockenberry & Wilson, 2009;
Potter & Perry, 2006; Smeltzer & Bare, 2003).

2.2.5.2 Efek Perilaku


Perubahan perilaku yang muncul pada pasien yang mengalami nyeri
dikenal dengan perilaku nyeri. Perubahan perilaku merupakan indikator
umum nyeri dan sangat bermanfaat dalam mengkaji nyeri pada anak-anak
nonverbal. Anak biasanya akan menangis, mengerutkan dahi, menggigit
bibir, gelisah, immobilisasi, mengalami ketegangan otot, melakukan
gerakan melindungi bagian tubuh sampai dengan menghindari
percakapkan, menghindari kontak sosial dan hanya berfokus pada aktivitas
penghilang nyeri (Hockenberry & Wilson, 2009; Potter & Perry, 2006;
Smeltzer & Bare, 2009).

2.2.6 Penatalaksanaan Nyeri


Penatalaksanaan nyeri dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu
farmakologi dan nonfarmakologi (Hockenberry & Wilson, 2009).
2.2.6.1 Penatalaksanaan Non Farmakologi
Beberapa penelitian menyebutkan teknik non farmakologi yang dapat
digunakan pada anak untuk mengurangi nyeri antara lain distraksi,
Universitas Indonesia
16

relaksasi, guided imagery, dan stimulasi kutaneus memberikan strategi


koping yang dapat membantu mengurangi persepsi nyeri, membuat nyeri
lebih dapat ditoleransi, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan
efektivitas analgesik (American Pain Society, 2003; Gimbler-Berglund et
al, 2008; William & Zempsky, 2008). Teknik-teknik ini juga dapat
menurunkan persepsi ancaman nyeri, memberikan istirahat dan tidur
(Huether & Leo, 2002; Gimbler-Berglund, Lyon, & Mackway, 2005).
Strategi nonfarmakologi bersifat aman, tidak invasif, dan tidak mahal serta
sebagian besar merupakan fungsi keperawatan yang mandiri.

Penelitian dengan beberapa strategi yang sesuai dengan usia anak,


intensitas nyeri, minat, dan kemampuan anak diperlukan untuk
menentukan pendekatan yang paling efektif (Hockenberry & Wilson,
2009). Pedoman Agency for Health Care Policy and Research (AHCPR)
(1992) menjelaskan bahwa penatalaksanaan nyeri akut dengan
menggunakan intervensi nonfarmakologi sesuai untuk klien dengan
kriteria sebagai berikut: klien merasa bahwa intervensi tersebut menarik,
klien mengekspresikan kecemasan atau ketakutan, klien memperoleh
manfaat dari upaya mengurangi terapi obat, klien memiliki kemungkinan
untuk mengembangkan koping dengan interval nyeri paskaoperasi yang
lama, dan untuk klien yang masih merasakan nyeri setelah menggunakan
terapi farmakologi (Perry & Potter, 2005).

2.2.6.2 Penatalaksanaan Farmakologi


Penggunaan metode farmakologi untuk mengendalikan nyeri
membutuhkan perhatian terhadap enam benar yaitu benar obat, benar
dosis, benar jalur, benar waktu, benar pasien, dan benar
pendokumentasian. Selain itu observasi terhadap efek samping obat
merupakan tindakan keperawatan yang sangat penting (Hockenberry &
Wilson, 2009). Nonopioid mencakup asetaminofen dan obat antiinflamasi
nonsteroid sesuai untuk mengatasi nyeri ringan sampai sedang. Opioid

Universitas Indonesia
17

diperlukan untuk mengatasi nyeri sedang sampai berat (Hockenberry &


Wilson, 2009).

2.2.7 Skala Penilaian Nyeri


Skala (alat) penilaian nyeri merupakan tindakan pelaporan nyeri yang
bersifat kuantitatif (Hockenberry & Wilson, 2009). Untuk mendapatkan
penilaian intensitas nyeri yang paling valid dan dapat dipercaya maka skala
yang dipilih disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan kesukaan anak
(Hokenberry & Wilson, 2009). Beberapa skala penilaian nyeri untuk anak-
anak antara lain:
2.2.7.1 Wong-Baker FACES Pain Rating Scale
Wong-Baker FACES Pain Rating Scale atau biasa disebut skala wajah,
terdiri atas enam wajah kartun yang memiliki rentang dari wajah
tersenyum untuk “tidak ada nyeri” sampai wajah terurai air mata untuk
“nyeri yang paling berat”. Skala ini dapat digunakan untuk anak-anak
yang berusia minimal 3 tahun atau lebih. Kelebihan dari skala wajah ini
yaitu anak dapat menunjukkan sendiri rasa nyeri yang baru saja
dialaminya sesuai dengan gambar yang telah ada dan skala wajah ini
direkomendasikan untuk anak-anak. Skala wajah memberikan tiga skala
dalam satu angka yakni ekspresi wajah, angka, dan kata-kata. Penggunaan
kata-kata singkat dianjurkan (Hockenberry & Wilson, 2009).

Sumber: Wong, D. L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., &
Schwartz, P. (2001). Wong’s essentials of pediatric nursing (7th ed.). St. Louis: Mosby,
Inc.

2.2.7.2 Oucher
Oucher merupakan skala pengukuran nyeri yang terdiri atas dua skala
yang terpisah. Terdiri atas enam foto wajah anak yang menggambarkan
“tidak nyeri” sampai “nyeri terberat yang pernah kamu rasakan”. Sebuah

Universitas Indonesia
18

skala numerik dengan nilai 0-100 pada sisi sebelah kiri untuk anak yang
lebih besar dan skala fotografik enam gambar untuk anak yang lebih kecil.
Foto wajah seorang anak (dengan peningkatan rasa tidak nyaman)
dirancang sebagai petunjuk untuk memberi anak-anak pengertian sehingga
dapat memahami makna dan tingkat keparahan nyeri. Skala Oucher
dianjurkan digunakan untuk anak-anak usia 3-13 tahun (Hockenberry &
Wilson, 2009).

2.2.7.3 Pocer Chip Toolt


Pocer chip toolt merupakan skala pengukuran nyeri yang menggunakan
empat kepingan poker yang diletakkan secara horizontal di depan anak.
Skala ini dapat digunakan untuk anak- anak minimal 4 tahun. Pengukuran
skala ini dengan menjelaskan kegunaan keping-keping nyeri. Kemudian
anak diminta untuk mengambil keping tersebut yang mengindikasikan
bahwa semakin banyak keping yang diambil, maka nyeri semakin berat.
(Hockenberry & Wilson, 2009).

2.2.7.4 Word Graphic Rating Scale


Skala Word Graphic Rating Scale menggunakan kata-kata deskriptif
(dapat bervariasi pada skala yang lain) untuk menunjukkan intensitas nyeri
yang bervariasi. Pengunaan skala ini dengan menjelaskan pada anak
bahwa ini adalah sebuah garis yang menerangkan seberapa nyeri yang
dialami. Perawat menyelusuri garis tersebut sambil menanyakan apakah
tidak ada sakit ke arah sakit yang paling sedikit dan seterusnya, kemudian
anak diminta menandai lokasi pada skala tersebut. Skala ini dianjurkan
untuk digunakan pada anak-anak usia 4-17 tahun (Hockenberry & Wilson,
2009).

Tidak Sedikit Nyeri Nyeri Nyeri


Nyeri Nyeri Sedang Berat Hebat

Sumber: Wong, D. L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., &
Schwartz, P. (2001). Wong’s essentials of pediatric nursing (7th ed.). St. Louis: Mosby,
Inc.
Universitas Indonesia
19

2.2.7.5 Skala Numerik (Numerical Rating Scale)


Skala numerik merupakan skala yang menggunakan garis di bagian
tengahnya, pembagian di sepanjang garis tersebut ditandai dengan unit
dari 0 sampai 5 atau 10 (banyaknya nomor bervariasi). Skala ini dapat
digunakan secara horizontal atau vertikal. Skala ini dianjurkan untuk
digunalan pada anak yang berusia minimal 5 tahun, selama mereka dapat
menghitung dan memiliki beberapa konsep angka dan nilai-nilai dalam
kaitannya dengan angka yang lain (Hockenberry & Wilson, 2009).
Tidak Nyeri Nyeri Hebat

0 1 2 3 4 5

2.2.7.6 Visual Analog Scale (VAS)


Visual Analog Scale (VAS) didefinisikan sebagai garis vertikal atau
horisontal yang dibuat sampai dengan panjang tertentu seperti 10 cm dan
ditambatkan oleh hal-hal yang mewakili fenomena subyektif yang ekstrem
misalnya nyeri yang diukur. Penggunaan skala ini dapat dilakukan dengan
meminta anak menempatkan sebuah tanda pada garis yang paling
menggambarkan jumlah nyeri yang dialami. Dengan penggaris sentimeter,
ukur dari ujung “tanpa nyeri” sampai ke tanda tersebut dan catat hasil
pengukuran ini sebagai skor nyeri (Hokenberry & Wilson, 2009).

Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi


keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukur tingkat nyeri yang lebih
sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari
pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (McGuire, 1984 dalam
Perry & Potter, 2006). VAS dianjurkan untuk anak-anak yang berusia
minimal 4 ½ tahun, lebih baik setidaknya pada usia 7 tahun (Hockenberry
& Wilson, 2009). Namun perlu diantisipasi bahwa anak akan kesulitan
dalam mengidentifikasi titik mana pada garis yang mewakili nyeri anak
(Grove & Luffy, 2003).
Universitas Indonesia
20

Skala VAS sangat sensitif terhadap perubahan tingkat nyeri yang dialami
oleh pasien, yang dapat membuat skala VAS sulit untuk digunakan.
Meskipun skala ini umumnya cepat dan mudah digunakan, sekitar 20%
pasien tidak dapat dikaji atau menemukan kebingungan (Wood, 2004,
dalam McLafferty & Farley, 2008).

th
Sumber: (Potter, P.A., & Perry, A.G. (2006). Fundamental of nursing, (6 ed), USA:
Mosby Company).

2.2.7.7 Alat Mewarnai


Skala ini dilakukan dengan memberikan krayon atau spidol pada anak
untuk menggambar skala sendiri yang menggunakan gambar tubuh (Eland
& Banner, 1999 dalam Hockenberry & Wilson, 2009). Penggunaan skala
ini dengan menyediakan delapan krayon kemudian anak diminta
mengambil warna krayon yang sesuai dengan kondisi yang dialaminya
saat iniSkala ini dapat digunakan untuk anak-anak usia minimal 4 tahun,
mereka yang mengetahui tentang warna, tidak buta warna dan mampu
menggunakan skala jika sedang nyeri (Hockenberry & Wilson, 2009).

2.3 Konsep Perkembangan Sakit dan Nyeri pada Anak


Nyeri adalah apa pun yang dikatakan oleh orang yang mengalaminya, ada
pada saat orang tersebut mengatakan bahwa itu terjadi (McCaffery & Pasero,
2010). Takut akan cidera tubuh dan nyeri sering terjadi diantara anak-anak.
Dalam merawat anak, perawat harus menghormati kekhawatiran anak
terhadap cidera tubuh dan reaksi terhadap nyeri sesuai dengan periode
perkembangannya (Hockenberry & Wilson, 2009). Berikut ini perkembangan
sakit dan nyeri pada berbagai usia:
Universitas Indonesia
21

2.3.1 Anak usia 2-7 tahun (Pemikiran Pra Operasional)


Konsep nyeri pada usia 2-7 tahun berhubungan dengan nyeri terutama
sebagai pengalaman fisik dan konkret, anak berfikir tentang hilangnya nyeri
secara ajaib, anak dapat menganggap nyeri sebagai hukuman akibat
kesalahan dan cenderung menganggap seseorang yang bertanggung jawab
untuk nyeri yang dialaminya dan dapat menyerang orang tersebut.

2.3.2 Anak usia 7-10 tahun (Pemikiran Operasional Konkret)


Konsep nyeri pada anak usia 7 sampai 10 tahun lebih berhubungan dengan
nyeri secara fisik (misalnya sakit kepala, sakit perut). Pada usia ini anak
mampu menerima nyeri psikologis (misal kematian seseorang), anak takut
terhadap cidera tubuh dan kerusakan tubuh serta kematian. Anak dapat
menganggap nyeri sebagai hukuman suatu kesalahan.

2.2.3 Anak usia 13 tahun dan 13 tahun ke atas (Pemikiran Operasional Formal)
Konsep nyeri pada usia ini anak mampu memberi alasan terhadap nyeri
(misal jatuh dan terbentur). Pada usia ini anak mampu menerima beberapa
nyeri psikologis, memiliki pengalaman hidup yang terbatas untuk
melakukan koping terhadap nyeri seperti yang dilakukan orang dewasa yang
memiliki pemahaman nyeri yang matang. Anak takut kehilangan kendali
ketika mengalami nyeri.

2.4 Konsep Guided Imagery


2.4.1 Pengertian Guided Imagery
Imagery merupakan pembentukan representasi mental dari suatu objek,
tempat, peristiwa, atau situasi yang dirasakan melalui indra (Snyder, 2006).
Saat berimajinasi individu dapat membayangkan melihat sesuatu,
mendengar, merasakan, mencium, dan atau menyentuh sesuatu (Snyder,
2006). Istilah guide imagery merujuk pada berbagai teknik termasuk
visualisasi sederhana, saran yang menggunakan imaginasi langsung,
metafora dan bercerita, eksplorasi fantasi dan bermain “game”, penafsiran
mimpi, gambar, dan imajinasi yang aktif dimana unsur-unsur
Universitas Indonesia
22

ketidaksadaran dihadirkan untuk ditampilkan sebagai gambaran yang dapat


berkomunikasi dengan pikiran sadar (Academic for Guide Imagery, 2010).
Kamus Meeriam-Webster (2001) mendefinisikan guided imagery sebagai
salah satu dari berbagai teknik (sebagai rangkaian kata-kata sugesti) yang
digunakan untuk menuntun orang lain atau diri sendiri dalam
membayangkan sensasi dan terutama dalam memvisualisasikan gambar
dalam pikiran untuk membawa respon fisik yang diinginkan (sebagai
pengurang stres, kecemasan, dan sakit).

Hart (2008) mendefinisikan guided imagery sebagai sebuah teknik yang


memanfaatkan cerita atau narasi untuk mempengaruhi pikiran, sering
dikombinasi dengan latar belakang musik. Guided imagery adalah teknik
untuk mengarahkan individu untuk fokus dan berkhayal atau berimajinasi
(Naparstek, 2008 dalam Hart, 2008), sedangkan Rank (2011) menyatakan
guided imagery merupakan teknik perilaku kognitif dimana seseorang
dipandu untuk membayangkan kondisi yang santai atau tentang pengalaman
yang menyenangkan. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan
bahwa guided imagery merupakan teknik untuk menuntun individu dalam
membayangkan sensasi apa yang dilihat, dirasakan, didengar, dicium, dan
disentuh tentang kondisi yang santai atau pengalaman yang menyenangkan
untuk membawa respon yang diinginkan (sebagai pengurang stres,
kecemasan, dan nyeri) yang sering dikombinasi dengan latar belakang
musik.

2.4.2 Manfaat Guided Imagery


Guided imagery merupakan salah satu jenis teknik relaksasi sehingga
manfaat dari teknik ini pada umumnya sama dengan manfaat dari teknik
relaksasi yang lain. Para ahli dalam bidang teknik guided imagery
berpendapat bahwa imajinasi merupakan penyembuh yang efektif yang
dapat mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan dan membantu tubuh
mengurangi berbagai macam penyakit seperti depresi, alergi, dan asma.

Universitas Indonesia
23

Menurut Snyder (2006), guided imagery telah menjadi terapi standar untuk
mengurangi kecemasan dan memberikan relaksasi pada orang dewasa atau
anak-anak, dapat juga untuk mengurangi nyeri kronis, tindakan prosedural
yang menimbulkan nyeri, susah tidur, mencegah reaksi alergi, dan
menurunkan tekanan darah (Snyder, 2006). Guided imagery dapat
membangkitkan perubahan neurohormonal dalam tubuh yang menyerupai
perubahan yang terjadi ketika sebuah peristiwa yang sebenarnya terjadi
(Hart, 2008). Hal ini bertujuan untuk membangkitkan keadaan relaksasi
psikologis dan fisiologis untuk meningkatkan perubahan yang
menyembuhkan ke seluruh tubuh (Jacobson, 2006).

Guided imagery dapat berfungsi sebagai pengalih perhatian dari stimulus


yang menyakitkan dengan demikian dapat mengurangi respon nyeri
(Jacobson, 2006). Olness dan Kohen (1996) menyatakan bahwa manfaat
penggunaan imagery sebagai pereda nyeri adalah mengurangi kecemasan,
meningkatkan penguasaan dan harapan, meningkatkan kerjasama serta
mengurangi kecemasan keluarga dan petugas kesehatan (Olness & Kohen,
1996 dalam Genders, 2006).

2.4.3 Jenis Guided imagery


Guided imagery ada 4 jenis yaitu pleasant imagery (imajinasi
menyenangkan misalnya membayangkan tempat yang tenang),
physiologically focused imagery (imajinasi fokus fisiologis misalnya
berfokus pada fungsi fisiologis yang membutuhkan penyembuhan), mental
rehearsal (latihan mental misalnya membayangkan tugas tertentu sebelum
kejadian), dan receptive imagery (scanning tubuh untuk penyembuhan
langsung) (Hart, 2008).

2.4.4 Proses Guide Imagery


Telah disebutkan bahwa guided imagery merupakan salah satu strategi
nonfarmakologi penatalaksanaan nyeri untuk anak (Hockenberry & Wilson,
2009). Namun guided imagery tidak selalu sesuai untuk semua anak-anak.
Universitas Indonesia
24

Kemampuan kognitif anak harus dipertimbangkan sebelum dilakukan


guided imagery. Anak-anak perlu mencapai tahap Piaget pra operasional
(umur 2-7 tahun) untuk mendapatkan keuntungan dari guided imagery
sebagai terapi penatalaksanaan nyeri (Whitaker & McArthut, 1998 dalam
Hart, 2008).

Menurut Hart (2008), jika seseorang membayangkan suatu hal negatif atau
menakutkan dapat meningkatkan rasa sakit atau kecemasan maka hal
tersebut dapat dinetralkan dengan pikiran positif atau menenangkan. Pikiran
dapat dilatih untuk berfokus pada imajinasi penyembuhan. Jika imajinasi
menakutkan atau negatif memiliki kemampuan untuk meningkatkan rasa
sakit dan gejala lain yang tidak diinginkan, maka imajinasi positif atau
menenangkan dapat mengurangi gejala sakit (Hart, 2008)

Mekanisme atau cara kerja guided imagery belum diketahui secara pasti
tetapi teori menyatakan bahwa relaksasi dan imajinasi positif melemahkan
psikoneuroimmunologi yang mempengaruhi respon stres. Respon stres
dipicu ketika situasi atau peristiwa (nyata atau tidak) mengancam fisik atau
kesejahteraan emosional atau tuntunan dari sebuah situasi melebihi
kemampuan seseorang, sehingga dengan imajinasi diharapkan dapat
merubah situasi stres dari respon negatif yaitu ketakutan dan kecemasan
menjadi gambaran positif yaitu penyembuhan dan kesejahteraan (Dossey,
1995 dalam Snyder, 2006). Respon emosional terhadap situasi, memicu
sistem limbik dan perubahan sinyal fisiologis pada sistem saraf perifer dan
otonom yang mengakibatkan melawan stres (Snyder, 2006).

Mekanisme imajinasi positif dapat melemahkan psikoneuroimmunologi


yang mempengaruhi respon stres, hal ini berkaitan dengan teori Gate
Control yang menyatakan bahwa “hanya satu impuls yang dapat berjalan
sampai sumsum tulang belakang ke otak pada satu waktu “ dan “ jika ini
terisi dengan pikiran lain maka sensasi rasa sakit tidak dapat dikirim ke otak
oleh karena itu rasa sakit berkurang”. Guided imagery juga dapat
Universitas Indonesia
25

melepaskan endorphin yang melemahkan respon rasa sakit dan dapat


mengurangi rasa sakit atau meningkatkan ambang nyeri (Hart, 2008).

2.2.5 Pelaksanaan Guided Imagery


Menurut Snyder (2006) teknik guided imagery secara umum antara lain:
2.2.5.1 Membuat individu dalam keadaan santai yaitu dengan cara:
1) Mengatur posisi yang nyaman (duduk atau berbaring).
2) Silangkan kaki, tutup mata atau fokus pada suatu titik atau suatu
benda di dalam ruangan.
3) Fokus pada pernapasan otot perut, menarik napas dalam dan pelan,
napas berikutnya biarkan sedikit lebih dalam dan lama dan tetap fokus
pada pernapasan dan tetapkan pikiran bahwa tubuh semakin santai dan
lebih santai.
4) Rasakan tubuh menjadi lebih berat dan hangat dari ujung kepala sampai
ujung kaki.
5) Jika pikiran tidak fokus, ulangi kembali pernapasan dalam dan pelan.

2.2.5.2 Sugesti khusus untuk imajinasi yaitu:


1) Pikirkan bahwa seolah-olah pergi ke suatu tempat yang menyenangkan
dan merasa senang ditempat tersebut
2) Sebutkan apa yang bisa dilihat, dengar, cium, dan apa yang dirasakan
3) Ambil napas panjang beberapa kali dan nikmati berada ditempat
tersebut
4) Sekarang, bayangkan diri anda seperti yang anda inginkan (uraikan
sesuai tujuan yang akan dicapai/ diinginkan)

2.2.5.3 Beri kesimpulan dan perkuat hasil praktek yaitu:


1) Mengingat bahwa anda dapat kembali ke tempat ini, perasaan ini,
cara ini kapan saja anda menginginkan
2) Anda bisa seperti ini lagi dengan berfokus pada pernapasan anda, santai,
dan membayangkan diri anda berada pada tempat yang anda senangi

Universitas Indonesia
26

2.2.5.4 Kembali ke keadaan semula yaitu:


1) Ketika anda telah siap kembali ke ruang dimana anda berada
2) Anda merasa segar dan siap untuk melanjutkan kegiatan anda
3) Anda dapat membuka mata anda dan dan ceritakan pengalaman anda
ketika anda telah siap (Snyder, 2006).

Asmadi (2008) juga menjelaskan tentang teknik dalam melakukan guided


imagery yaitu mengatur posisi yang nyaman pada klien, dengan suara yang
lembut minta klien untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan atau
pengalaman yang membantu penggunaan semua indera, minta klien untuk
tetap berfokus pada bayangan yang menyenangkan sambil merelaksasikan
tubuhnya. Teknik pelaksanaan guided imagery pada anak perlu
dimodiifikasi sesuai dengan tahap pekembangan anak, kognitif, dan
pilihan anak. Waktu yang digunakan untuk pelaksanaan guided imagery
pada orang dewasa dan remaja biasanya 10-30 menit, sementara
kebanyakan anak-anak mentoleransi waktunya hanya 10-15 menit (Snyder,
2006). Anak tidak suka menutup mata mereka saat berimajinasi (Snyder,
2008).

Guided imagery dapat disampaikan oleh seorang praktisi/ pemandu, video


atau rekaman audio. Rekaman audio dalam guided imagery berisi panduan
imajinasi atau membayangkan hal-hal yang menyenangkan bagi anak
terkait dengan tempat yang menyenangkan misalnya pantai, aktifitas yang
menyenangkan bagi anak misalnya makan ice cream. Melalui rekaman
audio tersebut anak dipandu relaksasi menarik nafas dalam dan pelan
(Snyder, 2006). Relaksasi membuat pikiran lebih terbuka untuk menerima
informasi baru yang diberikan (Benson, 1993 dalam Snyder, 2006). Untuk
selanjutnya anak dipandu untuk membayangkan hal yang paling
menyenangkan dan membayangkan tiap detail hal yang bisa dirasakan
oleh semua indera. Anak dipandu untuk membayangkan apa yang dapat
dilihat, dirasakan, dibau, dipegang atau disentuh. Rekaman audio ini dapat
dimodifikasi dengan latar belakang musik relaksasi (Snyder, 2006).
Universitas Indonesia
27

Bersamaan dengan anak dilakukan imajinasi terbimbing ini, prosedur


pemasangan infus dilakukan.

2.5 Konsep Nyeri Paska Operasi


Operasi (elektif atau kedaruratan) pada umumnya merupakan peristiwa
kompleks yang menegangkan (Smeltzer & Bare, 2002). Pembedahan atau
operasi adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif
dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani
(Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Pembukaan bagian tubuh ini umumnya
menggunakan sayatan. Setelah bagian yang ditangani ditampilkan, dilakukan
tindakan perbaikan yang di akhiri dengan penutupan dan penjahitan luka.
Toxonomi Comitte of The International Assocation mendefinisikan nyeri post
operasi sebagai sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosi
yang berhubungan dengan kerusakan jaringan potensial atau nyata atau
menggambarkan terminologi suatu kerusakan (Alexander, 1987). Nyeri post
operasi akan meningkatkan stres post operasi dan memiliki pengaruh negatif
pada penyembuhan nyeri. Kontrol nyeri sangat penting sesudah pembedahan,
nyeri yang dibebaskan dapat mengurangi kecemasan, bernafas lebih mudah
dan dalam, dapat mentoleransi mobilisasi yang cepat. Pengkajian nyeri dan
kesesuaian analgesik harus digunakan untuk memastikan bahwa nyeri pasien
post operasi dapat dibebaskan (Weist et all, 1983; Torrance & Serginson,
1997).

Nyeri post operasi merupakan nyeri akut yang terjadi setelah intervensi bedah
yang memiliki awitan yang cepat. Ketika suatu jaringan mengalami cedera
atau kerusakan mengakibatkan dilepaskanya bahan-bahan yang dapat
menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin, histamine, ion kalium,
bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang mengakibatkan adanya respon
nyeri (Potter & Perry, 2006). Nyeri juga dapat disebabkan oleh stimulus
mekanik seperti pembengkakan jaringan yang menekan pada reseptor nyeri.
Pada umumnya pasien postoperasi merasakan nyeri yang sangat hebat akibat
dari tindakan operasi yang merusak jaringan dan saraf sekitar, oleh karena
Universitas Indonesia
28

kerusakan saraf-saraf itu, maka ujung-ujung saraf menyampaikan stimulusnya


ke sistem saraf pusat, dan timbulah persepsi nyeri (Sjamsuhidajat & Jong,
2005).

Universitas Indonesia
BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian
Tanggal 15 Mei 2013 pukul 10.15 Anak T berusia 16 tahun diantar orang tua
ke poli bedah syaraf datang dengan keluhan bila BAK dan BAB tidak terasa.
Tampak benjolan di daerah tulang ekor dengan lebar 8 cm dan ketebalan
kurang lebih 10 cm. Anak T merasa terganggu dengan benjolan yang tumbuh
sejak ia lahir. Terlebih lagi penyakitnya menyebabkan ketidakmampuannya
menahan BAB dan BAK. Anak T merupakan anak pertama dari 4 bersaudara.
Ibu Anak T mengatakan selama kehamilan tidak teratur mengkonsumsi
vitamin yang diberikan dari puskesmas karena mual. Ibu Anak T juga
mengatakan tidak suka makan sayur dan saat mengandung nafsu makannya
kurang sehingga mudah sakit. Anak T lahir secara spontan di bidan dengan
berat lahir 3500 gram dan langsung menangis. Ibu Anak T mengatakan
benjolan yang ada di bagian belakang anaknya sudah ada sejak lahir. Karena
ketidaktahuannya, ia membiarkan hingga saat ini.

Setelah dua hari dirawat untuk persiapan operasi pada tanggal 17 Mei 2013
Anak T menjalani proses pembedahan. Setelah operasi Anak T dirawat di
HCU selama 3 hari. Kemudian pada tanggal 20 Mei 2013 An.A kembali ke
ruang perawatan bedah. Keluhan yang mucul setelah operasi hari ke 3 antara
lain Anak T mengatakan nyeri seperti tertusuk- tusuk, nyeri terasa di sekitar
luka operasi. Skala 7 dari 10 (Visual Analog Scale), nyeri semakin kuat
terutama jika melakukan pergerakan. Tampak balutan luka pada daerah
sakrum, pus (-), bau (-), kemerahan (-), bengkak (-), panas (-), penurunan
fungsi (-), jahitan menyatu dengan baik, dan balutan paten, terpasang DC dan
drain sejak Anak T dioperasi tanggal 17 Mei 2013. Keluarga mengatakan
Anak T tidak bisa tidur karena menahan sakit. Anak T tampak menjaga area
luka. Wajah Anak T meringis menahan sakit saat diajak berbicara. Tampak
Anak T gelisah. Keluar keringat mengucur. Anak T dalam posisi miring

29 Universitas Indonesia
30

kanan. Anak T mengatakan pegal dengan posisi miring karena biasa


berbaring.

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik tanggal 20 Mei 2013 pukul 17.15


didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, GCS 15
(E4M6V5). TB 145,5 cm , BB 47 kg. Mata tampak simetris, isokhor +/+.
Tidak ada sumbatan pada hidung An.T. Mukosa bibir lembab, tidak ada lesi.
Telinga simetris, tidak ada cairan di liang telinga, tidak ada nyeri, tidak
berdenging, tidak ada lebam di daerah telinga dan belakang telinga. Tidak ada
kaku kuduk, tidak ada perbesaran kelenjar getah bening. Dada tampak
simetris, tidak ada lesi. Bunyi jantung S1 dan S2 +/+/, tidak ada murmur ,
tidak ada gallop. Pada auskultasi dada terdengar suara vesikuler +/+, tidak
ada ronchi, tidak ada wheezing. Bising usus baik . Tidak ada nyeri tekan pada
ulu hati. Abdomen teraba supel. Pada daerah sakrum terdapat luka jahitan
sepanjang 15 cm. Pada ekstrimitas tidak ada udema, akral hangat, CRT <2
detik. Kulit teraba lembab, tidak kering, elastis, turgor kulit baik. Terpasang
kateter dan drain. Tanda-tanda vital : TD 110/80 mmHg; Suhu 36,8o C ; Nadi
100 x/menit ; RR 24 kali/ menit.

Anak T mendapat terapi diit makan lunak 1000 kalori, makan cair 6x250 cc.
Terapi cairan NaCl 0,9 % 500 cc, Ikaneuron 1 ampul, dan Tramadol 100 mg/
24 jam. Obat-obatan yang diberikan berupa Ceftriaxone 2x1 gr, Gentamicin
2x80 mg, Dexametason 3x5 mg, Ranitidin 2x50 mg, dan Ketorolac 2 x 10
mg.

Hasil laboratorium tanggal 17 Mei 2013 pukul 19.34: Hemoglobin 11,4 g/dL
(N:12,8-16,8 g/dL), Hematokrit 34% (N: 33%- 45%), Leukosit 11.700/ul (N:
4.500-13.000/ul), Trombosit 209.000/ul (N: 150.000-440.000/ul), Eritrosit
3,87 juta/ul (N: 3,8-5,2 juta/ul).
Hemostasis: APTT 29 detik (N: 27,4-39,3 detik), PT 12,9 detik (N: 12,7-16,1
detik). Kimia Klinik: SGOT 21 U/I (N:0-34 U/I), SGPT 7 U/I (N: 0-40 U/I),
Albumin 4,6 g/dl (N: 3,4-4,8 g/dl), Ureum 30 mg/dl (N: 0-48 mg/dl),

Universitas Indonesia
31

Kreatinin 0,6 mg/dl (0.0-0.9 mg/dl), GDS 100 mg/dl (70-140 mg/dl), Natrium
144 mmol/l (135-147 mmol/l), Kalium 3,91 mmol/l (3.1-5,1 mmol/l), Klorida
110 mmol/l (N: 95-108 mmol/l).

Hasil pemeriksaan radiologi berupa foto toraks dihasilkan cor dan pulmo
dalam batas normal (mediastinum superior tak melebar, ukuran dan bentuk
jantung normal, CTR <50%, aorta baik, pulmo kedua hilus tak menebal,
kedua sinus dan diafragma baik, tulang-tulang costae dan soft tissue baik).

Hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik klien di diagnosa spina


bifida lumbal 5 dan sacrum, tethered cord lumbal 5, sacralisasi lumbal 5
dengan unstable lumbal. Sehingga dilakukan rekonstruksi meningokel,
laminectomi, dan stabilisasi dengan pedicle screw.

3.2 Analisa Data


Berdasarkan data hasil pengkajian diperoleh tiga masalah utama yang muncul
pada Anak T dengan post op rekonstruksi meningokel. Masalah pertama
adalah nyeri akut diperoleh dari Anak T yang mengatakan nyeri berskala 7,
muncul setiap saat, bertambah nyeri apabila digerakkan, nyeri seperti
tertusuk- tusuk, nyeri terasa di sekitar luka operasi. Anak T tampak gelisah,
meringis saat melakukan miring kanan kiri atau saat melakukan perpindahan
posisi. Anak T juga tampak menjaga area lukanya. Saat dilakukan
pengukuran TTV: TD 110/80 mmHg; Suhu 36,8o C ; Nadi 100 x/menit ; RR
24 kali/ menit.

Masalah kedua adalah risiko infeksi diperoleh dari Anak T yang mengatakan
setiap hari luka dibersihkan, mengatakan nyeri saat luka dibersihkan,
mengatakan tidak ada rembesan pada balutan luka. Risiko infeksi dapat
terjadi pada Anak T dengan post op rekonstruksi meningokel hari ke 3. Saat
ini suhu tubuh Anak T 36.8o C, tampak balutan luka pada daerah sakrum, pus
(-), bau (-), kemerahan (-), bengkak (-), panas (-), penurunan fungsi (-),
jahitan menyatu dengan baik, dan balutan paten, terpasang DC dan drain

Universitas Indonesia
32

sejak Anak T dioperasi tanggal 17 Mei 2013. Selain itu dari hasil
laboratorium diperoleh: hemoglobin 11,4 g/dL (N:12,8-16,8 g/dL), leukosit
11,7 ribu/ul (N: 4.5 – 13.0 ribu/ul).

Masalah ketiga adalah hambatan mobilitas fisik yang diperoleh dari Anak T
yang mengatakan nyeri jika melakukan pergerakkan, klien mengatakan pegal
dengan posisi miring karena biasa berbaring. Anak T tampak menjaga area
luka operasi, tampak balutan luka pada daerah sakrum post op rekonstruksi
meningokel hari ke 3, tampak miring kiri kanan dan tengkurap di tempat
tidur, segala kebutuhannya dipenuhi oleh keluarga dan perawat.

3.3 Implementasi dan Evaluasi Tindakan Keperawatan


Setelah dilakukan pengkajian dan analisa data diperoleh tiga masalah utama
yang perlu dilakukan intervensi keperawatan pada Anak T (mulai tanggal 20
Mei 2013 - 24 Mei 2013). Untuk mengatasi nyeri akutnya, perawat
melakukan pengkajian skala nyeri pada Anak T, mengukur tanda- tanda vital,
mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, mengajarkan guided imagery, serta
memberikan ketorolac 2x10 mg sehari. Tidak lupa perawat melibatkan
keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan
pada klien dan keluarga. Hasil yang diperoleh dari tindakan yang dilakukan
antara lain Anak T mengatakan nyeri berkurang dari skala 7 ke 1 (Visual
Analog Scale). Anak T mengatakan selalu melakukan nafas dalam dan
membayangkan hal-hal yang menyenangkan ketika nyeri datang. Anak T
terlihat lebih rileks dan tersenyum, TTV: TD 120/80 mmHg; Suhu 36,4o C ;
Nadi 88 x/menit ; RR 18 kali/ menit, diaforesis (-), tampak meringis menahan
sakit saat dilakukan perawatan luka pertama kali, namun hal itu semakin
berkurang dari tanggal 20 Mei 2013 hingga 24 Mei 2013 . Keluarga tampak
mendampingi Anak T dan memotivasi Anak T saat nyeri.

Intervensi yang dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya infeksi, perawat


melakukan beberapa tindakan antara lain: melakukan pengukuran TTV setiap
8 jam, melakukan tindakan aseptik sebelum dan sesudah kontak dengan Anak

Universitas Indonesia
33

T, mengganti balutan luka setiap hari, mengobservasi tanda-tanda infeksi,


melibatkan orang tua atau keluarga dalam setiap tindakan, serta memberikan
terapi antibiotik ceftriaxone 2x1 gr sehari. Hasil yang diperoleh dari tindakan
tersebut Anak T mengatakan sering mengusap-usap daerah sekitar balutan
tanpa cuci tangan, TTV: TD 120/80 mmHg; suhu 36,4o C ; nadi 80 x/menit ;
RR 20 kali/ menit, perawat selalu menerapkan tindakan aseptik sebelum dan
sesudah kontak dengan pasien, kondisi luka membaik dari hari ke hari
ditandai dengan tidak adanya pus, granulasi baik, jahitan bagus, tidak ada
rembes, pemberian antibiotik sesuai jadwal. Keluarga memberikan motivasi
dan mendampingi saat dilakukan pembersihan luka.

Intervensi yang dilakukan untuk mengatasi masalah hambatan mobilitas fisik


adalah melakukan ROM aktif asistif setiap hari, memberikan pendidikan
kesehatan pada Anak T dan keluarga untuk meminimalkan pergerakan
dengan memposisikan tengkurap atau miring selama 2 jam sekali, dan selalu
melibatkan anggota keluarga dalam melakukan tindakan. Hasil yang
diperoleh dari intervensi tersebut adalah Anak T mengatakan kebutuhan
sehari-hari dipenuhi oleh keluarga, tetapi saat ini sudah mampu melakukan
aktivitas mandiri dengan perlahan. Anak T tampak melakukan latihan ROM
setiap hari, klien tampak memenuhi kebutuhan dengan bertahap dari dibantu
hingga sekarang mampu melakukan sendiri, klien latihan berjalan keliling
ruangan. Keluarga membantu klien dalam melatih berjalan.

Universitas Indonesia
BAB 4
ANALISIS SITUASI

Bab ini menguraikan profil lahan praktik tempat penulis mengambil kasus yang
dibahas pada karya ilmiah ini, analisis masalah keperawatan dengan konsep
terkait KKMP dan konsep kasus terkait. Selain itu dibahas pula analisis salah satu
intervensi dengan konsep dan penelitian terkait serta alternatif pemecahan yang
dapat dilakukan.

4.1 Profil Lahan Praktik


RS Fatmawati didirikan oleh Ibu Fatmawati Soekarno pada tahun 1954.
Awalnya RS Fatmawati dikhususkan untuk penderita TBC anak dan
rehabilitasinya. Seiring berjalannya waktu RSUP Fatmawati dijadikan salah
satu rumah sakit pemerintah yang menyandang sebagai rumah sakit
pendidikan. RSUP Fatmawati terletak di Jalan RS Fatmawati, Cilandak,
Jakarta Selatan. RSUP Fatmawati terdiri dari beberapa gedung perawatan dan
fasilitas penunjang kesehatan lainnya seperti gedung radiologi, gedung
pengambilan darah, gedung hemodialisa, dan lain sebagainya. Mahasiswa
KKMP Peminatan Anak menjalani praktik di ruang bedah anak IRNA A
Lantai III Utara.

Teratai lantai III utara merupakan salah satu ruang perawatan anak umum dan
bedah yang ada di RSUP Fatmawati. Ruang bedah anak IRNA A Lantai III
Utara terdiri dari 12 kamar dengan kapasits tempat tidur sebanyak 45 tempat
tidur. Ke 12 kamar tersebut terbagi atas: 1 kamar bedah prima, 3 kamar kelas
I, 2 kamar kelas II, 1 kamar khusus isolasi infeksi, 1 kamar khusus luka
bakar, dan 4 kamar kelas III.

Berdasarkan catatan kepegawaian di ruang anak lantai III utara diperoleh data
bahwa pegawai di ruang ini terdiri dari perawat, pekarya, dan Cleaning
Service. Jumlah tenaga perawat di rungan sebanyak 23 orang yang terdiri dari
7 orang S1 keperawatan, 14 orang DIII keperawatan, 2 orang SPK, dan 2

34 Universitas Indonesia
35

orang pekarya SLTA. Ruangan di lantai III Utara dikepalai oleh seorang
kepala ruangan yaitu Ibu Ns. Yuminah S.Kep, dibantu wakil kepala ruangan
Ibu Fenty Sahara, AMK, dan dua orang PN yaitu PN 1 Ibu Yanti, AMK dan
Bapak Ns. Dedi Lisman, S.Kep, serta dilengkapi 17 orang perawat pelaksana.

Ruang bedah anak IRNA A Lantai III Utara memiliki beberapa fasilitas
dalam pelayanan keperawatan untuk para pasien, seperti tabung oksigen
besar, tensimeter raksa, termometer, 2 buah trolley obat, 1 buah trolley ganti
balutan, perlengkapan universal precaution (handscoon) yang belum cukup
memadai, alat tenun, suction, Nebulizer, syringe Pump dan lain-lain. Namun,
ruangan tidak mempunyai EKG. Kebutuhan EKG dipenuhi dengan
meminjam EKG ke ruangan lain.

Kasus bedah yang ada di ruangan teratai lantai III Utara bervariasi, seperti
hipospadia, atresia ani, hidrosefalus, fraktur, spina bifida, palatoskiziz,tumor
abdimen, kista, dan lain sebagainya.

4.2 Analisa Masalah Keperawatan dengan Konsep Terkait KKMP dan Kasus
Terkait
Spina bifida merupakan salah satu kasus kelainan kongenital yang berada di
ruang bedah anak RSUP Fatmawati. Spina bifida adalah defek pada
penutupan kolumna vertebralis dengan atau tanpa tingkatan protusi jaringan
melalui celah tulang (Hockenberry & Wilson, 2009). Selama tiga bula
terakhir, sembilan dari seratus anak yang dirawat di ruangan menderita
penyakit ini. Usia anak yang menderita kasus ini berkisar pada bayi baru lahir
hingga usia satu tahun. Penyebab spesifik dari spina bifida tidak diketahui,
tetapi menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa spina bifida muncul
akibat dari faktor genetik (keturunan), kekurangan asam folat, dan ibu dengan
epilepsi yang menderita panas tinggi dalam kehamilannya mengkonsumsi
obat-obat asam volproic, anti konvulsan, klomifen. Kekurangan asam folat
akan menyebabkan bayi menderita spina bifida dan kecacatan lainnya. Asam
folat juga diketahui sebagai koenzim untuk produksi DNA serta

Universitas Indonesia
36

meningkatkan replikasi sel. Asam folat sangat dibutuhkan pada minggu kedua
sampai keempat pertumbuhan janin. Penelitian telah menunjukkan bahwa
kekurangan asam folat (folat) adalah faktor dalam patogenesis cacat tabung
saraf, termasuk spina bifida (Brunner & Suddart, 2002).

Pada kasus anak T yang mengalami spina bifida, Ibu Anak T mengatakan
selama hamil ia jarang mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh
dokter saat melakukan pemerikasaan kehamilan. Ibu Anak A mengatakan
mual setelah mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Ibu juga mengatakan nafsu
makannya turun. Jarang mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Ibu
Anak T juga tidak mengetahui apa itu asam folat dan dalam bentuk apa yang
harus dikonsumsi. Anak T merupakan anak pertama, sehingga Ibu Anak A
belum mengetahui banyak hal tentang kehamilan. Ibu Anak T tinggal di
perkampungan padat penduduk yang tidak jauh dari jalan raya. Ayah Anak T
seorang perokok. Sering kali Ayah Anak T merokok di dekat Ibu Anak T.
Walaupun bukan perokok aktif, Ibu Anak T yang saat itu mengandung juga
menghirup asap rokok yang dikeluarkan suaminya.

Faktor risiko terjadinya spina bifida juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Kepadatan penduduk dan polusi yang ada saat ini dapat mengancam
kesehatan tubuh manusia, tanpa terkecuali pada ibu yang sedang
mengandung. Polusi udara yang disebabkan oleh lalu lintas, industri hingga
debu selama masa kehamilan akan meningkatkan risiko berat lahir bayi
rendah. Ada dua jenis polusi kendaraan bermotor yang berdampak pada
pertumbuhan janin, yaitu partikel hitam dan nitrogen dioksida. Dua jenis
polusi itu bisa masuk paru-paru dan mengganggu fungsi organ itu. Hasil studi
di Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam Jurnal Epidemiologi dan
Kesehatan Komunitas sebagaimana dikutip situs BBC menyebutkan,
tingginya paparan polusi dari asap kendaraan bermotor pada ibu pada awal
dan akhir kehamilan bisa menyebabkan janin tidak tumbuh baik sehingga
bayi lahir dengan berat badan rendah. Hal ini dapat menyebabkan bayi lahir
dengan kelainan kongenital. Pancaran radiasi pada ibu hamil juga dapat

Universitas Indonesia
37

menimbulkan kelainan kongenital pada janin. Adanya riwayat radiasi yang


cukup besar pada orang tua dikhawatirkan akan dapat mengakibatkan mutasi
pada gen yang mungkin sekali dapat menyebabkan kelainan kongenital pada
bayi yang dilahirkannya (Judarwanto, 2013).

Faktor lingkungan lain yang mempengaruhi kesehatan janin adalah asap


rokok. Bukan hanya merokok langsung secara aktif, perokok pasif atau
terhirup asap rokok di lingkungan bagi ibu hamil bisa berdampak buruk bagi
kesehatan janin. Paparan asap rokok pada ibu hamil dengan lingkungan yang
penuh asap rokok beresiko akibatkan asma dan gangguan pernafasan pada
anak-anak. Penelitian lain menyatakan bahwa merokok merupakan penyebab
nomer satu dalam lahirnya bayi dengan kondisi buruk, seperti lahir prematur,
bayi yang lahir terlalu kecil pertumbuhan terlambat, kerusakan organ tubu
yang paling parah adalah kegagalan janin atau kematian. Jika bayi yang
terkontaminasi zat kimia rokok berhasil lahir, maka akan terjadi kelainan
dalam perkembangan tubuh dalam hal berat serta ukuran, organ tubuh seperti
paru-paru yang tidak berfungsi secara optimal serta fungsi otak yang
terbelakang.

Asap rokok ini mengandung berbagai macam bahan kimia yang berbahaya,
lebih dari sekitar empat ribu diantaranya sianida, nikotin, karbon monoksida
serta 60 buah senyawa penyebab kanker. Jika seorang ibu hamil merokok,
maka semua zat-zat kimia tersebut akan mengalir dalam darah dan sampai ke
janin. Sementara dari empat ribu bahan kimia itu tidak ada satu pun yang baik
bagi bayi, maka yang terjadi adalah bayi akan terkontaminasi zat kimia
berbahaya bahkan sebelum ia tumbuh. Nikotin serta karbon monoksida bisa
berakibat gangguan janin karena dapat mengurangi pasokan oksigen lewat tali
pusat. Nikotin berkerja seperti kolesterol yang menyebabkab penyempitan
pembuluh darah ibu hamil dan menyumbat aliran oksigen di seluruh
pembuluh darah termasuk tali pusat. Keadaan akan semakin memburuk
karena sel-sel darah merah yang membawa oksigen pada akhirnya juga bisa
membawa molekul karbon monoksida dan menyalurkannya ke janin.

Universitas Indonesia
38

Kelainan spina bifida pada Anak T tidak diketahui oleh orang tua selama
kehamilan. Orang tua baru mengetahui hal ini ketika Anak T lahir. Ibu Anak
T mengatakan tanda yang muncul berupa penonjolan pada bagian tulang
belakang dekat dengan bokong. Awalnya benjolan itu kecil namun lama
kelamaan semakin membesar. Bahkan menyebabkan Anak T hingga usia 16
tahun tidak dapat menahan BAK dan BAB. Saat ditanyakan tentang penyakit
ini pada orang tua, mereka menjawab tidak mengetahui jika dapat berdampak
pada BAB dan BAK anaknya. Anak T mengatakan malu jika sampai saat ini
masih menggunakan diapers, sehingga Anak T memberanikan diri untuk
dilakukan tindakan operasi.

4.3 Analisa Intervensi Dengan Konsep Aplikasi


Tindakan operasi rekonstruksi meningokel menimbulkan masalah utama yaitu
nyeri akut. Disamping tindakan farmakologi dengan pemberian analgetik,
terapi nonfarmakologi juga diterapkan untuk mengatasi masalah nyeri pada
Anak T. Perawat mengaplikasikan teknik relaksasi berupa guided imagery
untuk mengurangi nyeri pada Anak T. Aplikasi teknik ini diambil dari tesis
yang dibuat oleh Mariyam (2011) berjudul “Pengaruh Guided Imagery
Terhadap Tingkat Nyeri Anak Usia 7-13 Tahun Saat Dilakukan Pemasangan
Infus di RSUD Kota Semarang”. Tesis ini menerapkan konsep guided
imagery pada anak yang dilakukan pemasangan infus dan didapatkan hasil
bahwa guided imagery berpengaruh terhadap pengurangan rasa nyeri saat
dilakukan pemasangan infus sebesar 60% dibandingkan anak yang tidak
dilakukan guided imagery.

Pengaruh guided imagery juga telah dirasakan manfaatnya pada berbagai


kondisi klien dalam menurunkan nyeri. Menurut Anggarini (2012) dalam
penelitiannya yang berjudul “Penggunaan Audio Recorded Guided Imagery
Therapy Untuk Mengurangi Nyeri Abdominal Fungsional Pada Anak”
membuktikan bahwa teknik guided imagery dapat mengurangi nyeri pada
anak dengan masalah abdominal fungsional. Penelitian terkait dilakukan pula

Universitas Indonesia
39

oleh Rahayu, Nursiswati, dan Sriati (2010) dalam penelitiannya berjudul


“Pengaruh Guided Imagery Relaksasi Terhadap Nyeri Kepala Pada Pasien
Cedera Kepala Ringan”, penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh guided
imagery yang signifikan terhadap penurunan nyeri pada pasien cedera kepala
ringan walaupun pasien masih belum terbebas dari rangsang nyeri. Tetapi
penelitian ini telah membuktikan keefektifan teknik tersebut untuk
mengurangi nyeri.

Mahasiswa tertarik menerapkan guided imagery ini karena mudah untuk


diterapkan, tidak memerlukan biaya yang mahal, dan dapat melibatkan orang
tua dalam upaya penerapan teori family-centered care (FCC). Anak tentunya
akan mengalami adaptasi terhadap lingkungan rumah sakit yang baru
untuknya. Ditambah dengan kondisi pasca operasi, sehingga pelibatan orang
tua pada setiap intervensi keperawatan dapat mengurangi kecemasan pada
anak. Oleh karena itu peran orang tua dalam merawat anak dapat maksimal.
Anak juga akan merasa nyaman dan berkurang kecemasannya apabila dalam
setiap intervensi ditemani oleh orang tua.

Proses pembedahan menimbulkan stres fisik dan psikologis, baik disebabkan


oleh tindakan bedah itu sendiri maupun karena proses hospitalisasinya. Nyeri
akut yang dialami Anak T pasca rekonstruksi meningokel disebabkan oleh
perubahan neurokimia meliputi depolarisasi syaraf, pengeluaran asam amino
pada neurotrasmiter yang berlebihan, disfungsi serotonegik, dan gangguan
pada opiate endogen. Tampak luka operasi sepanjang 8 cm yang tertutup oleh
kassa di bagian belakang tubuh Anak T. Luka tersebut menyebabkan nyeri
yang mengganggu kenyamanannya. Nyeri post operasi merupakan nyeri akut
yang terjadi setelah intervensi bedah yang memiliki awitan yang cepat. Ketika
suatu jaringan mengalami cedera atau kerusakan mengakibatkan dilepaskanya
bahan-bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin,
histamine, ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang
mengakibatkan adanya respon nyeri (Potter & Perry, 2005). Pada umumnya
pasien post operasi merasakan nyeri yang sangat hebat akibat dari tindakan

Universitas Indonesia
40

operasi yang merusak jaringan dan saraf sekitar, oleh karena kerusakan saraf-
saraf itu, maka ujung-ujung saraf menyampaikan stimulusnya ke sistem saraf
pusat, dan timbulah persepsi nyeri (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).

Penerapan guided imagery pada Anak T dilakukan dengan memerintahkan


anak untuk membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Pertama anak
diminta untuk memposisikan diri senyaman mungkin, kemudian anak
diperbolehkan memejamkan matanya. Sambil menarik nafas dalam anak
disugesti dengan pikiran seolah-olah sedang melakukan hal yang
menyenangkan atau berada pada tempat yang ia sukai. Dengan
membayangkan hal yang menurutnya menyenangkan maka dapat
melemahkan psikoneuroimmunologi yang mempengaruhi respon stres. Hal
ini berkaitan dengan teori Gate Control yang menyatakan bahwa “hanya satu
impuls yang dapat berjalan sampai sumsum tulang belakang ke otak pada satu
waktu“ dan “jika ini terisi dengan pikiran lain maka sensasi rasa sakit tidak
dapat dikirim ke otak oleh karena itu rasa sakit berkurang”. Guided imagery
juga dapat melepaskan endorphin yang melemahkan respon rasa sakit dan
dapat mengurangi rasa sakit atau meningkatkan ambang nyeri (Hart, 2008).
Oleh karena itu setelah dilakukan guided imagery pada Anak T secara berkala
selama 4 hari (kurang lebih 10 menit setiap intervensi) maka nyeri berkurang
dari skala 7 menjadi 1 dengan menggunakan skala visual analogi.

Hal itu didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh Hart (2008), jika
seseorang membayangkan suatu hal negatif atau menakutkan dapat
meningkatkan rasa sakit atau kecemasan maka hal tersebut dapat dinetralkan
dengan pikiran positif atau menenangkan. Pikiran dapat dilatih untuk
berfokus pada imajinasi penyembuhan. Jika imajinasi menakutkan atau
negatif memiliki kemampuan untuk meningkatkan rasa sakit dan gejala lain
yang tidak diinginkan, maka imajinasi positif atau menenangkan dapat
mengurangi gejala sakit (Hart, 2008).

Universitas Indonesia
41

4.4 Alternatif Pemecahan Masalah


Walaupun hasil penerapan guided imagery pada pasien dengan luka operasi
meningokel berhasil menurunkan nyeri. Terdapat beberapa tantangan yang
dihadapi pada saat pelaksanaan guided imagery. Pertama, guided imagery
hanya dapat digunakan pada anak usia di atas 7 tahun dan memerlukan
ruangan yang nyaman dan tenang. Alternatif pemecahan masalah terkait
kondisi lingkungan dapat dimodifikasi dengan penggunaan terapi musik di
ruangan yang disesuaikan dengan kondisi anak. Dengan gabungan teknik
nafas dalam, guided imagery, dan musik dapat membuat tubuh lebih rileks
dan mengurangi waktu penurunan nyeri.

Kedua, terkait subjek yang memimpin, dibutuhkan suara yang lembut dan
menenangkan dalam melakukan guided imagery. Beban kerja perawat yang
begitu banyak memungkinkan tidak terlaksananya terapi ini secara berkala.
Oleh karena itu pelibatan anggota keluarga sangat dibutuhkan. Sesuai dengan
konsep family centered care yang menyatakan bahwa kolaborasi antara
tenaga kesehatan dan unit keluarga sangat penting dilakukan dalam usaha
peningkatan derakat kesehatan klien (Bowden & Greenberg, 2012). Keluarga
dapat diajarkan untuk melakukan guided imagery dan dapat menerapkannya
disaat anak mengalami nyeri.

Universitas Indonesia
BAB 5
PENUTUP

Bab ini menjelaskan kesimpulan dari pengamatan dan aplikasi tindakan


keperawatan yang berkaitan dengan upaya menjawab tujuan penulisan. Bab ini
juga memaparkan saran atau rekomendasi untuk memperbaiki karya ilmiah akhir
selanjutnya.

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan, yaitu mengetahui keefektifan
guided imagery dalam mengurangi gangguan rasa nyaman pada anak spina
bifida paska pembedahan, diperoleh hasil:
a) Anak dengan paska pembedahan mengalami gangguan rasa nyaman
berupa nyeri.
b) Terjadi penurunan nyeri dari skala 7 menjadi skala 1 (Visual Analog Scele)
pada anak paska pembedahan setelah dilakukan guided imagery selama
empat hari (kurang lebih 10 menit setiap intervensi) berturut-turut dan
dilakukan secara teratur.
c) Penurunan skala nyeri pada anak yang tidak diberikan guided imagery
lebih lama dari pada anak yang diberikan terapi guided imagery.

5.2 Saran
5.2.1 Pelayanan
Berdasarkan hasil penelitian terkait keefektifan pada pemberian guided
imagery dalam menangani nyeri, diharapkan institusi pelayanan dapat
menerapkan teknik ini sebagai terapi komplementer yang dijalankan
bersama dengan penatalaksanaan terapi farmakologi.

5.2.2 Pendidikan
Bedasarkan hasil penelitian yang menunjukkan terjadi penurunan nyeri pada
anak paska pembedahan yang diberikan guided imagery, diharapkan hasil
ini dapat menjadi pertimbangan untuk institusi pendidikan dalam

42 Universitas Indonesia
43

memberikan informasi lebih selama proses perkuliahan terkait penerapan


guided imagery dalam asuhan keperawatan.

5.2.3 Penelitian
Aplikasi guided imagery ini baru diberikan kepada seorang pasien dengan
paska pembedahan dengan usia diatas 10 tahun. Oleh karena itu, diharapkan
penerapan aplikasi guided imagery ini dapat diterapkan bukan hanya pada
kasus paska pembedahan tetapi pada kasus lainnya dengan rentang usia
berbeda. Sehingga dapat lebih meyakinkan bahwa teknik ini efektif
digunakan untuk pengurang nyeri.

Universitas Indonesia
DAFTAR PUSTAKA

Anggarini. (2012). Penggunaan audio recorded guided imagery therapy untuk


mengurangi nyeri abdominal fungsional pada anak. Tesis. Tidak
Dipublikasikan.
Asmadi. (2008). Tehnik prosedural keperawatan: Konsep dan aplikasi kebutuhan
dasar klien. Jakarta: EGC.
Berhman, E.R., Kliegman, R., & Arvin, A.M. (2000). Ilmu kesehatan anak. Vol 1.
Edisi 15. (Penerjemah: Wahab, S., dkk). Jakarta: EGC
Betz, C.L., & Sowden, L. A. (2002). Buku saku keperawatan pediatri, halaman
469. Jakarta: EGC.
Black, M. J., & Hawks, H.J. (2009). Medical surgical nursing clinical
management for positive outcomes. 8 th Edition. St Louis Missouri:
Elsevier Saunders.
Dewi, R.H. (2010). Asuhan keperawatan anak spina bifida dengan meningokel.
Juni 28, 2013. http://www.scribd.com/doc/30381861/Asuhan-
Keperawatan-Spina-Bifida-Dengan-Meningokel
Doenges, M.E., Moorhouse, M.F, & Geissler, A.C. (2000). Nursing care plans:
rd
Guidelines for planning and documenting patient care. (3 Eds.)
(Kariasa, M.I. & Sumarwati, M.N., alih bahasa). Philadelphia: Davis
Company.
Genders, N. (2006) Fundamental aspects of complementary therapies for
healthcare professionals. Chapter 7: CAM therapies in practice: art
therapy, music therapy and relaxation and imagery. Quay Books Mark
Allen Group: 85-98.
Hart, J. (2008). Guided imagery. Mary Ann Liebert, INC, 14(6), 295-299.
Helms, J.E., & Barone, C.P. (2008). Physiology and treatment of pain. Critical
care nurse, 28 (6), 38-48.
Herdman, T.H. (2012). NANDA: Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi
2012-2014. Jakarta: EGC.
Hockenberry, M.J., & Wilson, D. (2009). Wong’s essentials of pediatric nursing
8th ed. Missouri: Mosby Elsevier.

44 Universitas Indonesia
45

IASP. (2007). IASP pain terminology. Juni 28, 2013. http://www.iasp-pain.org.


Jacobson, A.F. (2006). Cognitive-behavioral interventions for IV insertion pain.
AORN JOURNAL, 84(6), 1031-1045.
Judarwanto, W. (2013). Waspadai 10 kondisi kehamilan penyebab gangguan
Janin. Juni 21, 2013. http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan
anak/2013/04/09/waspadai-10-kondisi-kehamilan-penyebab-gangguan-
janin-549318.html
Kolcaba, K., & DiMarco, M.A. (2005). Comfort theory and its application to
pediatric nursing. Pediatrc Nursing, 31(3).
Kozier, B., et al. (2004). Fundamentals of nursing 1 seventh edition. Philadelphia:
Mosby Company.
Mariyam. (2011). Pengaruh guided imagery terhadap tingkat nyeri anak usia 7-
13 tahun saat dilakukan pemasangan infus di RSUD Kota Semarang.
Tesis. Depok: Tidak dipublikasikan.
Merriam-Webster Dictionary. (2001). Merriam-Webster’s collegiate dictionary
(11th ed). Springfield, MA: Merriam-Webster.
Potter, P.A. & Perry, A.G. (2006). Clinical nursing skills & techniques (6th ed).
St.Louis: Elsevier Mosby.
Rachmad. (2013). Kelainan kongenital. Juni 28, 2013.
http://www.angelfire.com/ga/RachmatDSOG/congenital.html
Rahayu, U., Nursiswati., dan Sriati, A. (2010). Pengaruh Guided Imagery
Relaksasi Terhadap Nyeri Kepala Pada Pasien Cedera Kepala Ringan”.
Tesis. Bandung: Pustaka UNPAD.
Rank. (2011). Guided Imagery therapy. Juli 1, 2013.
http://www.minddisorders.com
nd
Sherwood, L. (2001). Human physiology: From cell to systems. (2 Eds).
(Pendit, B.U, alih bahasa). West, a Division of International Thomson
Publishing Inc.
Smeltzer, S.,C. & Bare, B.,G. (2002). Brunner & Suddarth’s textbook of medical-
surgical. (Waluyo,A. …[et al], penerjemah). Philadelphia: Lippincott-
Raven Publishers. (Sumber asli diterbitkan 1996).
Snyder, M., & Lindquist, R. (2002). Complementary/alternaive therapies in
Universitas Indonesia
46

nursing (4th ed). New York: Springer publishing company.


Sjamsuhidajat, R., & Jong., W. (2005). Buku ajar ilmu bedah, edisi 2. Jakarta:
EGC.
Tamsuri, A. (2007). Konsep penatalaksanaan nyeri. Jakarta: EGC
Wilkinson, J. M., & Ahern, N. M. (2012). Buku saku diagnosa keperawatan:
diagnosa NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.
Wong, D. L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., &
Schwartz, P. (2001). Wong’s essentials of pediatric nursing (7th ed.). St.
Louis: Mosby, Inc.
Wong, D. L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., &
Schwartz, P. (2009). Wong: Buku ajar keperawatan pediatrik, volume 2.
Jakarta: EGC.
World Health Organization. (2009). Pelayanan kesehatan anak di rumah sakit:
Pedoman bagi rumah sakit rujukan tingkat pertama di kabupaten/kota.
Jakarta: WHO Indonesia.

Universitas Indonesia
WOC SPINA BIFIDA
Jenis Spina Bifida: Kekurangan Asam folat Faktor Risiko:
Genetik
1. Spina Bifida Okulta (Defek - Lingkungan (Polusi
tidak terlihat) Udara, Radiasi, Asap
2. Spina Bifida Kistik (Defek Pengertian: Kegagalan penutupan roko)
terlihat berupa penonjolan) tulang spina (defek midline) SPINA BIFIDA Hidrosefalus
- Konsumsi obat-obatan
a. Meningokel (Menutupi (Smeltzer & Bare, 2002).
meninges dan cairan spinal)
b. Mielomeningokel (Berisi Peningkatan cairan Risiko
cairan spinal, meninges, dan Cairan spinal mengisi bagian defek serebrospinal Infeksi
nervus) Gangguan
rasa nyaman
Benjolan di vetebra (lumbal/ sakral) Operasi Terdapat luka operasi
Pemeriksaan Diagnostik:
1. MRI (Magnetic Resonance Gangguan
Imaging) Body Image Menekan sistem saraf (medulla spinalis) Nyeri Nyeri Akut
2. Ultrasuara
3. CT Scan
4. Mielografi Keterbatasan gerak
5. Triple Screen Gangguan fungsi otot Gangguan fungsi
6. Pemeriksaan Laboratorium springter otot
- Urinalisis
- Kultur Kerusakan
- BUN BAK tidak terasa Kelemahan Kelemahan Mobilitas Fisik
- Kreatinin Panggul Tungkai atau kaki
Mengompol

Tujuan: nyeri dapat berkurang atau menghilang.


Kriteria Hasil
Tujuan: gangguan citra tubuh berkurang. Tujuan: menunjukkan kemampuan mobilisasi optimal. Tujuan:Tidak terjadi infeksi. - Skala nyeri berkurang / klien mampu melaporkan pengurangan rasa
Kriteria Hasil: Kriteria Hasil: Kriteria Hasil: nyeri (skala nyeri turun menjadi sekitar 2-3, intensitas berkurang, dapat
- Mengidentifikasi kekuatan personal - Mempertahankan mobilitas optimal yang dapat - Tidak ditemukan tanda dan gejala infeksi seperti melakukan teknik relaksasi nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri )
- Menunjukan penerimaan penampilan ditoleransi. demam atau peningkatan suhu, kemerahan, - Klien tampak tenang / tidak menyeringai kesakitan
- Mengenali perubahan aktual penampilan tubuh - Melakukan pergerakan dan perpindahan secara bengkak, pus pada luka. - Klien mampu berpartisipasi dalam aktifitas dan istirahat
- Menyatakan kepuasan terhadap penampilan tubuh perlahan. - TTV dalam batas normal. - Klien mampu menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi
- Bersikap realistik mengenai hubungan antara tubuh - Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan - Pasien dan keluarga memelihara higiene
- Klien mampu beristirahat dengan nyaman.
dan lingkungan fungsi bagian tubuh yang sakit. personal dengan mencusi tangan sebelum dan
- Memelihara interaksi sosial yang dekat dan hubungan sesudah bersentuhan dengan balutan, cairan
personal Intervensi Keperawatan: tubuh klien. Intervensi Keperawatan:
- Memfasilitasi penggunaan postur dan pergerakan - Pasien dan keluarga mampu melaporkan tanda - Kaji nyeri meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
Intervensi Keperawatan: dalam melakukan aktivitas. dan gejala infeksi intensitas (0-10), dan faktor presipitasi.
- Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan - Mengatur posisi pasien secara periodik (tengkurap - Pantau TTV
nonverbal pasien terhadap tubuh pasien. atau miring selama 2 jam sekali) dan dorong untuk Intervensi Keperawatan: - Pertahahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring.
- Identifikasi mekanisme koping yang biasa digunakan. latihan nafas dalam. - Memantau TTV, perhatikan peningktan suhu. - Jelaskan prosedur sebelum memulai setiap tindakan.
- Dengarkan pasien dan keluarga secara aktif dan akui - Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM - Melakukan tindakan aseptik sebelum dan - Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah yang dialaminya.
realitas. aktif dan pasif. sesudah kontak dengan klien. - Berikan posisi nyaman.
- Beri dorongan ke pasien dan keluarga untuk - Memberikan perawatan kulit yang baik, masase - Melakukan perawatan luka aseptik. - Dorong pasien dalam menggunakan teknik manajemen nyeri, seperti
mengungkapkan perasaannya. titik yang tertekan setelah perubahan posisi. - Mengobservasi tanda-tanda infeksi. relaksasi napas dalam, imajinasi visualisasidan sentuhan terapeutik.
- Dukung mekanisme koping yang biasa dilakukan. - Kolaborasi dengan ahli terapi - Berikan antibiotik sesuai indikasi. - Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi.

Hockenberry, M.J., & Wilson, D. (2009). Wong’s essentials of pediatric nursing 8 th ed. Missouri: Mosby Elsevier.
Sumber: Smeltzer, S.,C. & Bare, B.,G. (2002). Brunner & Suddarth’s textbook of medical-surgical. (Waluyo,A. …[et al], penerjemah). Philadelphia: Lippincott-Raven Publishers. (Sumber asli diterbitkan 1996).
Wilkinson, J. M., & Ahern, N. M. (2012). Buku saku diagnosa keperawatan: diagnosa NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.
Wong, D. L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., & Schwartz, P. (2009). Wong: Buku ajar keperawatan pediatrik, volume 2. Jakarta: EGC.
Universitas Indonesia
LAPORAN PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK
PRAKTIK KEPERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT
PERKOTAAN (KKMP)

Nama Mahasiswa : Dewanti


NPM : 0806456991
Tanggal Praktik : 15-24 Mei 2013
Ruang/ RS : Teratai Lt.3 Ruang Bedah RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan

I. Identitas
A. Identitas Klien
1. Nama/Nama panggilan : An. T
2. Tempat tgl lahir/usia : Bogor, 20 Februari 1997
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. A g a m a : Islam
5. Alamat : Jl. Lebak Wangi RT 03/02 Parung, Bogor, Jawa Barat
6. Tgl masuk : 13 Mei 2013 pukul 11.00
7. Tgl pengkajian : 20 Mei 2013
8. Diagnosa medik : Spina Bifida

B. Identitas Orang tua

1. Nama Ayah/ Ibu : Bapak K/ Ibu T


2. Usia Ayah/ Ibu : 40 tahun/ 36 tahun
3. Pekerjaan ayah : Buruh
4. Pekerjaan ibu : Ibu rumah tangga
5. Alamat : Kp. Kali Putih RT 05/ 03 Citayam, Bogor, Jawa Barat
6. Agama : Islam
7. Suku bangsa : Sunda
8. Pendidikan ayah : SMA
9. Pendidikan ibu : SMP

C. Identitas Saudara Kandung


Anak T adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Anak ke dua bernama An. A, seorang
perempuan berusia 12 tahun, saat ini duduk di kelas VI SD. Anak ke tiga bernama An. K, seorang
perempuan berusia 7 tahun, saat ini duduk di kelas 1 SD. Anak terakhir bernama An. M, seorang
laki-laki berusia 1 tahun. Dari keempat anak Ibu T, hanya An. T yang mengalami kelainan sejak
lahir. Anak-anaknya yang lahir lahir dengan normal.

II. Riwayat Kesehatan


A. Riwayat Kesehatan Sekarang :
Keluhan Utama : Klien datang ke poli bedah saraf untuk melakukan pemeriksaan dengan
keluhan benjolan di tulang belakang, benjolan semakin besar sejak An.T lahir. An. T mengeluh
tidak dapat menahan BAB dam BAK hingga usia 16 tahun.
Riwayat Keluhan Utama :
Benjolan muncul sejak lahir.
Keluhan Pada Saat Pengkajian :
An.T mengeluh benjolan pada bagian belakang tubuh anaknya semakin membesar. Sampai usia
saat ini An.T tidak bisa menahan BAB dan BAK sehingga ia selalu menggunakan diapers. An. T
merasa malu karena masih mengompol dan menggunakan diapers.

Riwayat Kesehatan Keluarga


¤ Genogram

Tn. K Ib. K
40 th

An.A An. M
An.T An.I
12 th 1 th
16 th 7 th

Ket :
: Klien

: Sumber Informasi

: Tinggal serumah

IV. Riwayat Immunisasi (imunisasi lengkap)


BCG (+), DPT (+), Polio (+), Campak (+), Hepatitis (+)

V. Riwayat Tumbuh Kembang


Pertumbuhan Fisik
1. Berat badan : 40 kg
2. Tinggi badan : 148 cm

VI. Riwayat Nutrisi


A. Pemberian ASI
Sejak lahir hingga usia 1 tahun.
B. Pemberian susu formula
1. Alasan pemberian : produksi ASI yang kurang.
2. Jumlah pemberian : 3 x Sehari
3. Cara pemberian : Botol susu

VII. Riwayat Psikososial


¤ Anak tinggal bersama : orang tua di rumah
¤ Lingkungan berada di : perumahan penduduk
¤ Rumah dekat dengan : jalan raya, tempat bermain tersedia
kamar klien : tidur bersama orang tua
¤ Rumah ada tangga : tidak ada
¤ Hubungan antar anggota keluarga : baik
¤ Pengasuh anak : tidak ada

VIII. Riwayat Spiritual


¤ Support sistem dalam keluarga : ayahnya bekerja di luar kota, jarang pulang
¤ Kegiatan keagamaan : -

IX. Reaksi Hospitalisasi


A. Pengalaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
- Ibu membawa anaknya ke RS karena : ada benjolan di dekat bokong
- Apakah dokter menceritakan tentang kondisi anak : ya
- Perasaan orang tua saat ini : cemas
- Orang tua selalu berkunjung ke RS : ya
B. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap
Tidak pernah dirawat sebelumnya

X. Aktivitas sehari-hari
A. Nutrisi
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Selera makan Baik Baik

B. Cairan
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Jenis minuman Air Putih Air Putih
2. Frekuensi minum > 5 kali > 5 kali
3. Kebutuhan cairan 1000 cc 1000 cc
4. Cara pemenuhan Baik Baik
C. Eliminasi (BAB&BAK)
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Tempat pembuangan Normal Normal
2. Frekuensi (waktu) 4x/hr (BAK), 1-2x/ hr (BAB) 4x/hr (BAK), 1-2x/ hr (BAB)
3. Konsistensi Cair (BAK), Lunak (BAB) Cair (BAK), Lunak (BAB)
4. Kesulitan Tidak terasa saat BAB dan BAK Tidak terasa saat BAB dan BAK
5. Obat pencahar Tidak menggunakan Tidak menggunakan
D. Istirahat tidur
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Jam tidur
- Siang 2 jam/ hari 1 jam/ hari
- Malam 8 jam/ hari 6 jam/ hari
2. Pola tidur Normal Normal
3. Kebiasaan sebelum tidur Tidak ada Tidak Ada
4. Kesulitan tidur Tidak ada Tidak ada

E. Olah Raga
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Program olah raga - -
2. Jenis dan frekuensi
3. Kondisi setelah olah raga
F. Personal Hygiene
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Mandi
- Cara Mandi sendiri Di usap dengan handuk
- Frekuensi 2xsehari 2x/hari
- Alat mandi Sabun, sikat gigi, pasta gigi Sabun, sikat gigi, pasta gigi
2. Cuci rambut
- Frekuensi 2x/hari 2xsehari
- Cara Diusap-usap Diusap-usap
3. Gunting kuku
- Frekuensi 1 pekan sekali Tidak pernah digunting
- Cara Digunting menggunakan -
guntung kuku sendiri.
4. Gosok gigi
- Frekuensi Setiap mandi Setiap mandi
- Cara Sikat gigi Sikat gigi

G. Aktifitas/Mobilitas Fisik
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Kegiatan sehari-hari Suka bermain, aktif Suka bermain, aktif
2. Pengaturan jadwal harian Tidak ada Tidak ada
3. Penggunaan alat Bantu aktifitas Tidak Tidak
4. Kesulitan pergerakan tubuh Tidak Ya

H. Rekreasi
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Perasaan saat sekolah - -
2. Waktu luang Setiap saat Setiap saat
3. Perasaan setelah rekreasi Senang Senang
4. Waktu senggang klg Setiap hari Setiap hari
5. Kegiatan hari libur Tidak terjadwalkan Tidak terjadwalkan

XI. Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : compos mentis
3. Tanda – tanda vital :
a. Tekanan darah : 110/80 mmHg
b. Denyut nadi : 100 x/ menit
c. Suhu : 36,8 o C
d. Pernapasan : 24 x/ menit
4. Berat Badan : 55 kg
5. Tinggi Badan : 148 cm
6. Kepala
Inspeksi
Keadaan rambut & Hygiene kepala :
a. Warna rambut : Hitam
b. Penyebaran : Merata
c. Mudah rontok : Tidak
d. Kebersihan rambut : Bersih
Palpasi
Benjolan : ada / tidak ada : tidak ada
Nyeri tekan : ada / tidak ada : tidak ada
Tekstur rambut : kasar/halus : halus
7. Muka
Inspeksi
a. Simetris / tidak : Simetris
b. Bentuk wajah : Bulat
c. Gerakan abnormal : Tidak ada
d. Ekspresi wajah : Ceria
Palpasi
Nyeri tekan / tidak : tidak ada
8. Mata
Inspeksi
a. Pelpebra : Edema (-)
Radang (-)
b. Sclera : Ikteris (-)
c. Conjungtiva : Radang (-)
Anemis (-)
d. Pupil : Isokor
- Refleks pupil terhadap cahaya : (+)
e. Posisi mata :
Simetris / tidak : simetris
f. Gerakan bola mata : normal
g. Penutupan kelopak mata : normal
h. Keadaan bulu mata : normal
i. Penglihatan : - Kabur (-)
- Diplopia (-)
9. Hidung & Sinus
Inspeksi
a. Posisi hidung : Ditengah
b. Bentuk hidung : simetris
c. Keadaan septum : normal
d. Secret / cairan : tidak ada
10. Telinga
Inspeksi
a. Posisi telinga : normal
b. Ukuran / bentuk telinga : normal
c. Aurikel : normal
d. Lubang telinga : bersih
e. Pemakaian alat bantu : tidak
Palpasi
Nyeri tekan / tidak : tidak
11. Mulut
Inspeksi
a. Gigi
- Keadaan gigi : baik
- Karang gigi / karies : tidak ada
- Pemakaian gigi palsu : tidak
b. Gusi
Merah / radang / tidak : pink
c. Lidah
Kotor / tidak : tidak
d. Bibir
- Cianosis / pucat / tidak : tidak
- Basah / kering / pecah : lembab
- Mulut berbau / tidak : tidak
- Kemampuan bicara : normal
12. Tenggorokan
a. Warna mukosa : pink
b. Nyeri tekan : tidak ada
c. Nyeri menelan : tidak ada
13. Leher
Inspeksi
Kelenjar thyroid : tidak terjadi pembesaran
Palpasi
a. Kelenjar thyroid : tidak teraba
b. Kaku kuduk / tidak : tidak
c. Kelenjar limfe : tidak ada pembesaran
14. Thorax dan pernapasan
a. Bentuk dada : simetris
b. Irama pernafasan : teratur
c. Pengembangan di waktu bernapas : normal
d. Tipe pernapasan : spontan
Palpasi
a. Vokal fremitus : tidak ada
b. Massa / nyeri : tidak ada
Auskultasi
a. Suara nafas : Vesikuler
b. Suara tambahan : Ronchi (-) / Wheezing (-) / Rales (-)
Perkusi
Redup / pekak / hypersonor / tympani : timpani
15. Jantung
Palpasi
Pembesaran jantung : tidak ada
Auskultasi
a. BJ I : normal
b. BJ II : normal
c. BJ III : tidak terdengar
d. Bunyi jantung tambahan : murmur (-), gallop (-)
16. Abdomen : supel, tidak ada luka, tidak ada nyeri tekan,
BU(+)N
17. Genitalia dan Anus : normal
18. Ekstremitas
Ekstremitas atas
a. Motorik
- Pergerakan kanan / kiri : aktif
- Pergerakan abnormal : tidak ada
- Kekuatan otot kanan / kiri : baik
- Tonus otot kanan / kiri : baik
- Koordinasi gerak : baik
b. Refleks
- Biceps kanan / kiri : normal
- Triceps kanan / kiri : normal
c. Sensori
- Nyeri : tidak ada
- Rangsang suhu : normal

Ekstremitas bawah
a. Motorik
- Gaya berjalan : normal
- Kekuatan kanan / kiri : baik
- Tonus otot kanan / kiri : baik
b. Refleks
- KPR kanan / kiri : normal
- APR kanan / kiri : normal
- Babinsky kanan / kiri : ada
c. Sensori
- Nyeri : tidak ada
- Rangsang suhu : baik
19. Status Neurologi.
Saraf – saraf cranial
a. Nervus I (Olfactorius) : penghidu : normal
b. Nervus II (Opticus) : Penglihatan : normal
c. Nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlearis, Abducens)
- Konstriksi pupil : normal
- Gerakan kelopak mata : normal
- Pergerakan bola mata : normal
- Pergerakan mata ke bawah & dalam : normal
d. Nervus V (Trigeminus)
- Sensibilitas / sensori : normal
- Refleks dagu : normal
- Refleks cornea : normal
e. Nervus VII (Facialis)
- Gerakan mimik : normal
- Pengecapan 2 / 3 lidah bagian depan : normal
f. Nervus VIII (Acusticus)
Fungsi pendengaran : normal
g. Nervus IX dan X (Glosopharingeus dan Vagus)
- Refleks menelan : baik
- Refleks muntah : baik
h. Nervus XI (Assesorius)
- Memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan : normal
- Mengangkat bahu : normal
i. Nervus XII (Hypoglossus)
- Deviasi lidah : normal
Tanda – tanda perangsangan selaput otak
a. Kaku kuduk : tidak ada
b. Kernig Sign : normal
c. Refleks Brudzinski : normal

XI. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan (0 – 6 Tahun )


Dengan menggunakan DDST
1. Motorik kasar : Normal
2. Motorik halus : Normal
3. Bahasa : Normal
4. Personal social : baik
XII. Test Diagnostik
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan
1 Laboratorium Hemoglobin 11,4 g/dL (N:12,8-16,8 g/dL), Hematokrit 34%
Tanggal 17 Mei 2013 (N: 33%- 45%), Leukosit 11.700/ul (N: 4.500-13.000/ul),
Trombosit 209.000/ul (N: 150.000-440.000/ul), Eritrosit 3,87
juta/ul (N: 3,8-5,2 juta/ul).
Hemostasis: APTT 29 detik (N: 27,4-39,3 detik), PT 12,9
detik (N: 12,7-16,1 detik). Kimia Klinik: SGOT 21 U/I (N:0-
34 U/I), SGPT 7 U/I (N: 0-40 U/I), Albumin 4,6 g/dl (N: 3,4-
4,8 g/dl), Ureum 30 mg/dl (N: 0-48 mg/dl), Kreatinin 0,6
mg/dl (0.0-0.9 mg/dl), GDS 100 mg/dl (70-140 mg/dl),
Natrium 144 mmol/l (135-147 mmol/l), Kalium 3,91 mmol/l
(3.1-5,1 mmol/l), Klorida 110 mmol/l (N: 95-108 mmol/l).
2 Radiologi berupa foto toraks cor dan pulmo dalam batas normal (mediastinum superior
tak melebar, ukuran dan bentuk jantung normal, CTR <50%,
aorta baik, pulmo kedua hilus tak menebal, kedua sinus dan
diafragma baik, tulang-tulang costae dan soft tissue baik).

XIII. Terapi saat ini


- Terapi cairan NaCl 0,9 % 500 cc - Gentamicin 2x80 mg
- Ikaneuron 1x1 ampul - Dexametason 3x5 mg
- Tramadol 1x100 mg - Ranitidin 2x50 mg,
- Ceftriaxone 2x1 gr - Ketorolac 2 x 10 mg.
IX. Analisa Data

DATA YANG DIPEROLEH MASALAH KEPERAWATAN


DS: Nyeri Akut
Klien mengatakan nyeri skala 7 dari 10 (Visual Analog Scale),
frekuensi setiap saat, bertambah nyeri apabila digerakkan, nyeri
seperti tertusuk- tusuk, nyeri terasa di sekitar luka operasi. Anak T
mengatakan tidak bisa tidur sejak semalam.

DO:
- Anak T tampak meringis menahan sakit saat diajak berbicara.
- Diaforesis (+)
- Tampak melindungi area luka.
- Terdapat luka post op di daerah tulang belakang sepanjang 15
cm ditutup oleh kassa.
- Hasil TTV: TD 110/80 mmHg; Suhu 36,8o C ; Nadi 100 x/menit
; RR 24 kali/ menit.
- Tampak gelisah
- Wajah tampak layu

DS: Risiko Infeksi


- Klien mengatakan setiap hari luka dibersihkan
- Klien mengatakan nyeri saat dibersihkan
- Klien mengatakan tidak ada rembesan luka

DO:
- Post op rekonstruksi meningokel
- Tampak balutan luka pada daerah sarkum
- Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti pus (-), bau (-),
kemerahan (-), bengkak (-), panas (-), penurunan fungsi (-),
jahitan menyatu dengan baik, dan balutan paten.
- Terpasang DC dan drain sejak tanggal 17 Mei 2013
- Suhu tubuh klien: 36.80 C
- Hasil lab (17 Mei 2013; 19.34) hemoglobin 11,4 g/dL (N:12,8-
16,8 g/dL), leukosit : 11,7 ribu/ul (nilai normal (4.5 – 13.0
ribu/ul)
DS: Hambatan Mobilitas Fisik
- Klien mengatakan nyeri jika melakukan pergerakkan
- Klien mengatakan pegal dengan posisi miring karena biasa
berbaring

DO:
- Klien menjaga area luka agar tidak bergesek.
- Kesulitan membolak-balikan posisi.
- Tampak balutan luka pada daerah sakrum.
- Post op rekonstruksi meningokel.
- Klien tirah baring.
- Keterbatasan melakukan pergerakan sendi
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN POST OP REKONSTRUKSI MENINGOKEL
PADA ANAK T

No Diangnosa Keperawatan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional


1. Nyeri Akut Setelah dilakukan tindakan MANDIRI
keperawatan selama 4 hari, 1. Kaji nyeri meliputi lokasi, 1. Berguna untuk mengetahui keefektifan terapi.
Pada hari ke 3 post op rekonstruksi nyeri klien dapat berkurang atau karakteristik, durasi, frekuensi, Perubahan karakteristik nyeri menunjukkan
meningokel data yang diperoleh: menghilang. kualitas, intensitas (0-10), dan faktor terjadinya masalah sehingga perlu dilakukan
presipitasi. intervensi yang sesuai.
DS: Kriteria Hasil:
Klien mengatakan nyeri skala 7 dari 10 - Skala nyeri berkurang / klien 2. Pantau TTV 2. Respon autonomik meliputi perubahan
(Visual Analog Scale), frekuensi setiap mampu melaporkan tekanan darah, nadi, dan pernafasan, yang
saat, bertambah nyeri apabila digerakkan, pengurangan rasa nyeri (skala berhubungan dengan keluhan/ penghilang
nyeri seperti tertusuk- tusuk, nyeri terasa di nyeri turun menjadi sekitar 2- nyeri.
sekitar luka operasi. Anak T mengatakan 3, intensitas berkurang, dapat
tidak bisa tidur sejak semalam. melakukan teknik relaksasi 3. Tirah baring dalam posisi yang nyaman
nonfarmakologis untuk
3. Pertahahankan imobilisasi bagian memungkinkan pasien untuk menurunkan
yang sakit dengan tirah baring.
DO: mengurangi nyeri ) spasme otot, menurunkan penekanan bagian
- Anak T tampak meringis menahan - Klien tampak tenang / tidak tubuh tertentu.
sakit saat diajak berbicara. menyeringai kesakitan
- Diaforesis (+) - Klien mampu berpartisipasi 4. Jelaskan prosedur sebelum memulai 4. Memungkinkan pasien untuk siap secara
- Tampak melindungi area luka. dalam aktifitas dan istirahat setiap tindakan. mental untuk setiap aktifitas, juga
- Terdapat luka post op di daerah tulang - Klien mampu menunjukkan berpartisipasi dalam mengontrol tingkat
belakang sepanjang 15 cm ditutup oleh penggunaan ketrampilan ketidaknyamanan.
kassa. relaksasi
- Hasil TTV: TD 110/80 mmHg; Suhu - Klien mampu beristirahat 5. Dorong pasien untuk mendiskusikan 5. Membantu untuk menghilangkan ansietas
36,8o C ; Nadi 100 x/menit ; RR 24 dengan nyaman. masalah yang dialaminya. yang dapat meningkatkan nyeri.
kali/ menit.
- Tampak gelisah 6. Berikan posisi nyaman. 6. Meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan
- Wajah tampak layu ketegangan otot, meningkatkan relaksasi.

7. Dorong pasien dalam menggunakan 7. Memfokuskan kembali perhatian,

Universitas Indonesia
teknik manajemen nyeri, seperti meningkatkan rasa kontrol dan dapat
relaksasi napas dalam, imajinasi meningkatkan kempuan koping dalam
visualisasidan sentuhan terapeutik. mananjemen nyeri.

KOLABORASI
1. Kolaborasi pemberian analgesik 1. Merupakan tindakan dependent perawatan,
sesuai indikasi. dimana analgesik berfungsi untuk memblok
stimulus nyeri.
2. Risiko Infeksi Setelah dilakukan tindakan MANDIRI
keperawatan selama 4 hari, 1. Memantau TTV, perhatikan 1. Demam 38oC segera setelah pembedahan
Pada hari ke 3 post op rekonstruksi klien tidak mengalami infeksi. peningktan suhu. dapat menandakan infeksi luka atau
meningokel data yang diperoleh: pembentukan tromboflebitis.
Kriteria Hasil:
DS: 1. Tidak ditemukan tanda dan 2. Melakukan tindakan aseptik 2. Menurunkan risiko pasien terkena infeksi
- Klien mengatakan setiap hari luka gejala infeksi seperti demam sebelum dan sesudah kontak dengan sekunder. Mengontrol penyebaran infeksi.
dibersihkan atau peningkatan suhu, klien.
- Klien mengatakan nyeri saat kemerahan, bengkak, pus
dibersihkan pada luka. 3. Melakukan perawatan luka aseptik. 3. Melindungi pasien dari terkontaminasi bakteri
- Klien mengatakan tidak ada rembesan dan membantu dalam penyembuhan luka.
luka 2. TTV dalam batas normal.
4. Mengobservasi tanda-tanda infeksi. 4. Mencegah terjadinya infeksi dan sebagai
DO: 3. Pasien dan keluarga dasar melakukan intervensi.
- Post op rekonstruksi meningokel memelihara higiene personal
- Tampak balutan luka pada daerah dengan mencusi tangan KOLABORASI
sarkum sebelum dan sesudah 1. Berikan antibiotik sesuai indikasi. 1. Mencegah infeksi.
- Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi bersentuhan dengan balutan,
seperti pus (-), bau (-), kemerahan (-), cairan tubuh klien.
bengkak (-), panas (-), penurunan
fungsi (-), jahitan menyatu dengan 4. Pasien dan keluarga mampu
baik, dan balutan paten. melaporkan tanda dan gejala
- Terpasang DC dan drain sejak tanggal infeksi
17 Mei 2013
- Suhu tubuh klien: 36.80 C
- Hasil lab (17 Mei 2013; 19.34)

Universitas Indonesia
hemoglobin 11,4 g/dL (N:12,8-16,8
g/dL), leukosit : 11,7 ribu/ul (nilai
normal (4.5 – 13.0 ribu/ul)
3. Hambatan Mobilitas Fisik Setelah dilakukan intervensi MANDIRI
selama 4 hari, klien akan 1. Memfasilitasi penggunaan postur 1. Mencegah keletihan dan ketegangan atau
Pada hari ke 3 post op rekonstruksi menunjukkan kemampuan dan pergerakan dalam melakukan cedera muskuloskeletal.
meningokel data yang diperoleh: mobilisasi optimal. aktivitas.

DS: Kriteria Hasil: 2. Mengatur posisi pasien secara 2. Mencegah insiden komplikasi kulit atau
- Klien mengatakan nyeri jika Klien akan: periodik (tengkurap atau miring pernafasan.
melakukan pergerakkan 1. Mempertahankan mobilitas selama 2 jam sekali) dan dorong
- Klien mengatakan pegal dengan posisi optimal yang dapat untuk latihan nafas dalam.
miring karena biasa berbaring ditoleransi.
2. Melakukan pergerakan dan 3. Ajarkan dan dukung pasien dalam 3. Mempertahankan dan meningkatkan kekuatan
DO: perpindahan secara latihan ROM aktif dan pasif. otot.
- Klien menjaga area luka agar tidak perlahan.
bergesek. 3. Mempertahankan atau 4. Memberikan perawatan kulit yang 4. Menurunkan risiko iritasi atau kerusakan
- Kesulitan membolak-balikan posisi. meningkatkan kekuatan dan baik, masase titik yang tertekan kulit.
- Tampak balutan luka pada daerah fungsi bagian tubuh yang setelah perubahan posisi.
sakrum. sakit.
- Post op rekonstruksi meningokel. KOLABORASI
- Klien tirah baring. 1. Kolaborasi dengan ahli terapi 1. Sebagai suatu sumber untuk mengembangkan
- Keterbatasan melakukan pergerakan perencanaan dan mempertahankan mobilitas
sendi pasien.

Universitas Indonesia
CATATAN PERKEMBANGAN

Nama Klien : Anak T (16 Tahun)


Diagnosis Medis : Spina Bifida
Ruang Rawat : Teratai lantai III Utara RSUP Fatmawati

Tgl Diagnosis Implementasi Evaluasi SOAP Tanda


Keperawatan Tangan
21/05/2013 Nyeri Akut - Mengkaji nyeri meliputi lokasi, S:
karakteristik, durasi, frekuensi, - Klien mengatakan nyeri di bagian tulang
06.00 Pada hari ke 3 (20 Mei 2013) post kualitas, intensitas (0-10), dan belakang bawah, nyeri seperti tertusuk,
- op rekonstruksi meningokel data faktor presipitasi menggunakan muncul terutama ketika melakukan
12.00 yang diperoleh: bantuan skala visual analogi setiap pergerakan atau tergesek, kualitas tumpul,
8 jam.. skala berkurang dari 7 menjadi 4.
DS: - Memantau TTV setiap 8 jam - Klien mengatakan nyeri berkurang setelah
Klien mengatakan nyeri skala 7 - Mertahahankan imobilisasi bagian melakukan nafas dalam dan
dari 10 (Visual Analog Scale), yang sakit dengan tirah baring. membayangkan hal-hal yang
frekuensi setiap saat, bertambah - Memberikan posisi nyaman. menyenangkan ketika terasa nyeri muncul.
nyeri apabila digerakkan, nyeri - Mengajarkan teknik relaksasi O:
seperti tertusuk- tusuk, nyeri nafas dalam (pukul 09.00). - Klien terlihat lebih rileks dan tersenyum
terasa di sekitar luka operasi. - Mengajarkan teknik guided saat ditanyakan perasaannya setelah
Anak T mengatakan tidak bisa imagery (Pukul 09.00). melakukan teknik nafas dalam dan guided
tidur sejak semalam. - Kolaborasi pemberian terapi obat imagery.
ketorolac 2x10 mg (Pukul 08.00 - Hasil pengukuran TTV: TD 110/70 mmHg,
DO: dan 20.00) N 90X/menit, RR 18X/menit; Suhu 36,6oC.
- Anak T tampak meringis - Klien tampak dalam posisi tengkurap.
menahan sakit saat diajak - Klien diberikan ketorolac 10 mg pada pukul
berbicara. 08.00
- Diaforesis (+) A : Masalah nyeri teratasi sebagian
- Tampak melindungi area luka. P:
- Terdapat luka post op di - Motivasi klien untuk melakukan teknik
daerah tulang belakang relaksasi apabila terasa nyeri
sepanjang 15 cm ditutup oleh - Lanjutkan pemberian ketorolac 2x10 mg
kassa. - Pantau TTV setiap 8 jam
- Hasil TTV: TD 110/80 - Mengobservasi nyeri
mmHg; Suhu 36,8o C ; Nadi
100 x/menit ; RR 24 kali/
menit.
- Tampak gelisah
- Wajah tampak layu
21/05/2013 Risiko Infeksi - Mengukur TTV pukul 06.00 S:
- Melakukan tindakan aseptik - Klien mengatakan suka mengusap-usap
06.00 Pada hari ke 3 post op sebelum dan sesudah kontak daerah sekitar balutan tanpa cuci tangan.
- (20/05/2013) rekonstruksi dengan klien - Klien akan mencuci tangan sebelum
10.00 meningokel data yang diperoleh: - Melakukan ganti balutan luka mengusap-usap sekitar bagian luka apabila
pukul 09.00 gatal.
DS: - Mengobservasi tanda dan gejala O:
- Klien mengatakan setiap hari infeksi pukul 09.00 - Hasil pengukuran TTV pukul 06.00
luka dibersihkan - Kolaborasi pemberian antibiotik TD 110/70 mmHg, N 90X/menit, RR
- Klien mengatakan nyeri saat ceftriaxone 2x1 gr (Pukul 08.00 18X/menit; Suhu 36,6oC.
dibersihkan dan 20.00) - Perawat selalu menerapkan tindakan
- Klien mengatakan tidak ada aseptik sebelum dan sesudah kontak
rembesan luka dengan pasien.
- Kondisi luka baik, pus (-), bau (-),
DO: kemerahan (-), bengkak (-), panas (-),
- Post op rekonstruksi penurunan fungsi (-), jahitan menyatu
meningokel dengan baik, dan balutan paten.
- Tampak balutan luka pada - Pemberian antibiotik sesuai jadwal
daerah sarkum
- Tidak ditemukan tanda-tanda A: Masalah risiko infeksi tidak terjadi
infeksi seperti pus (-), bau (-), P:
kemerahan (-), bengkak (-), - Motivasi klien dan keluarga untuk
panas (-), penurunan fungsi (- tindakan aseptik sebelum dan sesudah
), jahitan menyatu dengan kontak dengan klien (menyentuh balutan
baik, dan balutan paten. luka).
- Terpasang DC dan drain sejak - Pantau tanda dan gejala infeksi
tanggal 17 Mei 2013 - Ukur TTV setiap 8 jam
- Suhu tubuh klien: 36.80 - Melakukan perawatan luka setiap hari
- Hasil lab (17 Mei 2013; 19.34) - Lanjutkan pemberian terapi
hemoglobin 11,4 g/dL
(N:12,8-16,8 g/dL), leukosit :
11,7 ribu/ul (nilai normal (4.5
– 13.0 ribu/ul)
21/05/2013 Hambatan Mobilitas Fisik - Melakukan ROM aktif asistif S:Klien mengatakan kebutuhan sehari-hari
setiap hari pada pukul 10.30 dipenuhi oleh keluarga, setelah dilakukan
Pada hari ke 3 post op - Meminimalkan pergerakan dengan masase lebih nyaman.
10.00 (20052013) rekonstruksi memposisikan tengkurap atau O:
- meningokel data yang diperoleh: miring selama 2 jam sekali - Klien tampak melakukan latihan ROM
13.00 - Memberikan perawatan kulit yang dibantu oleh perawat dan keluarga.
DS: baik, masase titik yang tertekan - Klien tampak memenuhi kebutuhan
- Klien mengatakan nyeri jika setelah perubahan posisi pada dibantu oleh keluarga.
melakukan pergerakkan pukul 11.00. - Klien masih melakukan segala aktivitas di
- Klien mengatakan pegal tempat tidur
dengan posisi miring karena - Klien dalam posisi miring kiri
biasa berbaring - Klien tampak rileks setelah dilakukan
masase, tidak ada luka tekan.
DO:
- Klien menjaga area luka agar A: Masalah gangguan mobilisasi fisik belum
tidak bergesek. teratasi
- Kesulitan membolak-balikan
posisi. P :
- Tampak balutan luka pada - Memberikan pendidikan kesehatan untuk
daerah sakrum. latihan pergerakan sedikit demi sedikit
- Post op rekonstruksi hingga kondisi tubuh kembali pulih.
meningokel. - Motivasi melakukan ROM aktif asisif
- Klien tirah baring. setiap hari
- Keterbatasan melakukan - Reposisi setiap 2 jam sekali
pergerakan sendi
Tgl Diagnosis Implementasi Evaluasi SOAP Tanda
Keperawatan Tangan
22/05/2013 Nyeri Akut - Mengobservasi nyeri meliputi S:
lokasi, karakteristik, durasi, - Klien mengatakan nyeri masih terasa di
14.00 DS : frekuensi, kualitas, intensitas (0- bagian tulang belakang bawah, nyeri seperti
- - Klien mengatakan nyeri di 10), dan faktor presipitasi tertusuk, muncul terutama ketika
20.00 bagian tulang belakang bawah, menggunakan bantuan skala visual melakukan pergerakan atau tergesek,
nyeri seperti tertusuk, muncul analogi setiap 8 jam.. kualitas tumpul, skala 3.
terutama ketika melakukan - Memantau TTV setiap 8 jam - Klien mengatakan nyeri berkurang setelah
pergerakan atau tergesek, - Mertahahankan imobilisasi bagian melakukan nafas dalam dan
kualitas tumpul, skala yang sakit dengan tirah baring. membayangkan hal-hal yang
berkurang dari 7 menjadi 4. - Memberikan posisi nyaman. menyenangkan ketika terasa nyeri muncul.
- Klien mengatakan nyeri - Motivasi dan mengevaluasi klien - Klien mengatakan lebih nyaman hari ini.
berkurang setelah melakukan dalam menggunakan teknik O:
nafas dalam dan relaksasi nafas dalam dan guided - Klien terlihat lebih rileks dan tersenyum
membayangkan hal-hal yang imagery. saat ditanyakan perasaannya setelah
menyenangkan ketika terasa - Kolaborasi pemberian terapi obat melakukan teknik nafas dalam dan guided
nyeri muncul. ketorolac 2x10 mg (Pukul 08.00 imagery.
DO : dan 20.00). - Hasil pengukuran TTV: TD 120/80 mmHg,
- Klien terlihat lebih rileks dan N 86X/menit, RR 18X/menit; Suhu 36,8oC.
tersenyum saat ditanyakan - Klien tampak dalam posisi miring kanan.
perasaannya setelah melakukan - Klien diberikan ketorolac 10 mg pada pukul
teknik nafas dalam dan guided 20.00
imagery. A : Masalah nyeri teratasi sebagian
- Hasil pengukuran TTV: TD P:
110/70 mmHg, N 90X/menit, - Motivasi klien untuk melakukan teknik
RR 18X/menit; Suhu 36,6oC. relaksasi apabila terasa nyeri
- Klien tampak dalam posisi - Lanjutkan pemberian ketorolac 2x10 mg
tengkurap. - Pantau TTV setiap 8 jam
- Klien diberikan ketorolac 10 - Mengobservasi nyeri
mg pada pukul 08.00
22/05/2013 Risiko Infeksi - Mengukur TTV pukul 20.00 S:
- Melakukan tindakan aseptik - Klien sudah menerapkan cuci tangan
14.00 DS: sebelum dan sesudah kontak sebelum mengusap-usap sekitar bagian
- - Klien mengatakan suka dengan klien. luka apabila gatal.
20.00 mengusap-usap daerah sekitar - Motivasi klien dan keluarga untuk O:
balutan tanpa cuci tangan. tindakan aseptik sebelum dan - Hasil pengukuran TTV pukul 20.00
- Klien akan mencuci tangan sesudah kontak dengan klien TD 110/80 mmHg, N 88X/menit, RR
sebelum mengusap-usap (menyentuh balutan luka). 20X/menit; Suhu 37oC.
sekitar bagian luka apabila - Mengobservasi tanda dan gejala - Perawat selalu menerapkan tindakan
gatal. infeksi pukul 14.00 aseptik sebelum dan sesudah kontak
DO: - Kolaborasi pemberian antibiotik dengan pasien.
- Hasil pengukuran TTV pukul ceftriaxone 2x1 gr (Pukul 08.00 - Kondisi luka baik, rembes (-), bau (-),
06.00 dan 20.00) kemerahan (-), bengkak (-), panas (-).
TD 110/70 mmHg, N - Pemberian antibiotik pukul 20.00
90X/menit, RR 18X/menit;
Suhu 36,6oC. A: Masalah risiko infeksi tidak terjadi
- Perawat selalu menerapkan P:
tindakan aseptik sebelum dan - Motivasi klien dan keluarga untuk
sesudah kontak dengan tindakan aseptik sebelum dan sesudah
pasien. kontak dengan klien (menyentuh balutan
- Kondisi luka baik, pus (-), luka).
bau (-), kemerahan (-), - Pantau tanda dan gejala infeksi
bengkak (-), panas (-), - Ukur TTV setiap 8 jam
penurunan fungsi (-), jahitan - Melakukan perawatan luka setiap hari
menyatu dengan baik, dan - Lanjutkan pemberian terapi
balutan paten.
- Pemberian antibiotik sesuai
jadwal

22/05/2013 Hambatan Mobilitas Fisik - Melakukan ROM aktif asistif S:Klien mengatakan setelah dilakukan masase
setiap hari pada pukul 14.30 saat mandi sore lebih nyaman.
14.00 DS:Klien mengatakan kebutuhan - Meminimalkan pergerakan dengan Klien mengatakan tangan dan kakinya lebih
- sehari-hari dipenuhi oleh memposisikan tengkurap atau enak digerakan setelah melakukan ROM.
20.00 keluarga, setelah dilakukan miring selama 2 jam sekali O:
masase lebih nyaman. - Memberikan perawatan kulit yang - Klien tampak melakukan latihan ROM
DO: baik, masase titik yang tertekan secara mandiri.
- Klien tampak melakukan setelah perubahan posisi pada - Klien tampak memenuhi kebutuhan
latihan ROM dibantu oleh pukul 16.00. dibantu oleh keluarga.
perawat dan keluarga. - Memberikan pendidikan - Klien masih melakukan segala aktivitas di
- Klien tampak memenuhi kesehatan untuk latihan tempat tidur.
kebutuhan dibantu oleh pergerakan sedikit demi sedikit - Klien dalam posisi miring kanan
keluarga. hingga kondisi tubuh kembali - Klien tampak rileks setelah dilakukan
- Klien masih melakukan pulih. masase, tidak ada luka tekan.
segala aktivitas di tempat
tidur A: Masalah gangguan mobilisasi fisik teratasi
- Klien dalam posisi miring kiri sebagian.
- Klien tampak rileks setelah
dilakukan masase, tidak ada P :
luka tekan. - Memberikan pendidikan kesehatan untuk
latihan pergerakan sedikit demi sedikit
hingga kondisi tubuh kembali pulih.
- Motivasi melakukan ROM aktif asisif
setiap hari
- Reposisi setiap 2 jam sekali
Tgl Diagnosis Implementasi Evaluasi SOAP Tanda
Keperawatan Tangan
23/05/2013- Nyeri Akut - Mengobservasi nyeri meliputi S:
24/05/2013 lokasi, karakteristik, durasi, - Klien mengatakan nyeri jarang dirasakan
DS : frekuensi, kualitas, intensitas (0- sekarang, skala 1-2.
20.00 - Klien mengatakan nyeri masih 10), dan faktor presipitasi - Klien mengatakan nyeri teratasi setelah
- terasa di bagian tulang menggunakan bantuan skala melakukan nafas dalam dan
09.00 belakang bawah, nyeri seperti visual analogi setiap 8 jam.. membayangkan hal-hal yang
tertusuk, muncul terutama - Memantau TTV setiap 8 jam menyenangkan.
ketika melakukan pergerakan - Mertahahankan imobilisasi bagian - Klien mengatakan lebih nyaman dari hari
atau tergesek, kualitas tumpul, yang sakit dengan tirah baring. ke hari.
skala 3. - Memberikan posisi nyaman. O:
- Klien mengatakan nyeri - Motivasi dan mengevaluasi klien - Klien terlihat lebih rileks dan tersenyum
berkurang setelah melakukan dalam menggunakan teknik saat ditanyakan perasaannya setelah
nafas dalam dan relaksasi nafas dalam dan guided melakukan teknik nafas dalam dan guided
membayangkan hal-hal yang imagery. imagery.
menyenangkan ketika terasa - Kolaborasi pemberian terapi obat - Hasil pengukuran TTV: TD 110/80 mmHg,
nyeri muncul. ketorolac 2x10 mg (Pukul 08.00 N 80X/menit, RR 18X/menit; Suhu 36,5oC.
- Klien mengatakan lebih dan 20.00). - Klien tampak dalam posisi miring kanan.
nyaman hari ini. - Klien diberikan ketorolac 10 mg pada
DO : pukul 20.00
- Klien terlihat lebih rileks dan A : Masalah nyeri teratasi
tersenyum saat ditanyakan P:
perasaannya setelah - Motivasi klien untuk melakukan teknik
melakukan teknik nafas dalam relaksasi apabila terasa nyeri
dan guided imagery. - Lanjutkan pemberian ketorolac 2x10 mg
- Hasil pengukuran TTV: TD - Pantau TTV setiap 8 jam
120/80 mmHg, N 86X/menit, - Mengobservasi nyeri
RR 18X/menit; Suhu 36,8oC.
- Klien tampak dalam posisi
miring kanan.
- Klien diberikan ketorolac 10
mg pada pukul 20.00
23/05/2013- Risiko Infeksi - Mengukur TTV pukul 20.00 S:
24/05/2013 - Melakukan tindakan aseptik - Klien sudah menerapkan cuci tangan
DS: sebelum dan sesudah kontak sebelum mengusap-usap sekitar bagian
20.00 - Klien sudah menerapkan cuci dengan klien. luka apabila gatal.
- tangan sebelum mengusap- - Motivasi klien dan keluarga untuk O:
09.00 usap sekitar bagian luka tindakan aseptik sebelum dan - Hasil pengukuran TTV pukul 20.00
apabila gatal. sesudah kontak dengan klien TD 110/80 mmHg, N 80X/menit, RR
DO: (menyentuh balutan luka). 18X/menit; Suhu 36,5oC.
- Hasil pengukuran TTV pukul - Mengobservasi tanda dan gejala - Perawat selalu menerapkan tindakan
20.00 infeksi pukul 14.00 aseptik sebelum dan sesudah kontak
TD 110/80 mmHg, N - Kolaborasi pemberian antibiotik dengan pasien.
88X/menit, RR 20X/menit; ceftriaxone 2x1 gr (Pukul 08.00 - Kondisi luka baik, rembes (-), bau (-),
Suhu 37oC. dan 20.00) kemerahan (-), bengkak (-), panas (-).
- Perawat selalu menerapkan - Pemberian antibiotik pukul 20.00
tindakan aseptik sebelum dan
sesudah kontak dengan A: Masalah risiko infeksi tidak terjadi
pasien. P:
- Kondisi luka baik, rembes (- - Motivasi klien dan keluarga untuk
), bau (-), kemerahan (-), tindakan aseptik sebelum dan sesudah
bengkak (-), panas (-). kontak dengan klien (menyentuh balutan
- Pemberian antibiotik pukul luka).
20.00 - Pantau tanda dan gejala infeksi
- Ukur TTV setiap 8 jam
- Melakukan perawatan luka setiap hari
- Lanjutkan pemberian terapi
23/05/2013- Hambatan Mobilitas Fisik - Melakukan ROM aktif asistif S:Klien mengatakan senang sudah bisa
24/05/2013 setiap hari pada pukul 07.00 bangun dan berjalan sedikit demi sedikit
DS:Klien mengatakan setelah - Meminimalkan pergerakan dengan dibantu nenek.
20.00 dilakukan masase saat mandi sore memposisikan tengkurap atau O:
- lebih nyaman. miring selama 2 jam sekali - Klien tampak sudah mampu berjalan
09.00 Klien mengatakan tangan dan - Memberikan perawatan kulit yang merambat tembok..
kakinya lebih enak digerakan baik, masase titik yang tertekan - Klien tampak memenuhi kebutuhan
setelah melakukan ROM. setelah perubahan posisi pada sendiri dan dipantau keluarga.
DO: pukul 06.00. - Klien sudah mampu ke kamar mandi
- Klien tampak melakukan - Memberikan pendidikan didampingi keluarga.
latihan ROM secara mandiri. kesehatan untuk latihan - Klien tampak duduk di tempat tidur
- Klien tampak memenuhi pergerakan sedikit demi sedikit - Klien tampak rileks setelah dilakukan
kebutuhan dibantu oleh hingga kondisi tubuh kembali masase, tidak ada luka tekan.
keluarga. pulih.
- Klien masih melakukan A: Masalah gangguan mobilisasi fisik teratasi
segala aktivitas di tempat
tidur. P :
- Klien dalam posisi miring - Memberikan pendidikan kesehatan untuk
kanan latihan pergerakan sedikit demi sedikit
- Klien tampak rileks setelah hingga kondisi tubuh kembali pulih.
dilakukan masase, tidak ada
luka tekan.
BIODATA PENULIS

Nama : Dewanti, S. Kep


Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 12 Juli 1990
Alamat : Jalan D.I Panjaitan Rt 015/ 02 No. 23 Cip.Besar
Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur 13410
No.Hp : 08998084598
Email : dewa.120790@gmail.com
Facebook/ Twitter : Dewa Dewanti/ @dd_dewa
Golongan Darah :B
Kewarganegaraan : Indonesia
Riwayat Pendidikan Formal
2012–2013 : Profesi Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan,
Universitas Indonesia
2008 – 2012 : S1 Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan,
Universitas Indonesia
2005– 2008 : SMA N 14 Jakarta, Jakarta Timur
2002– 2005 : SMP N 268 Jakarta, Jakarta Timur
1999– 2002 : SD N Kebon Pala 10 petang, Jakarta Timur
1996– 1999 : SD N Rawa Badak 17 pagi, Jakarta Utara