Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Caring saat ini merupakan issue penting di dalam keperawatan. Caring

adalah sentral untuk keperawatan, menjelaskan tentang kepedulian yang

didasarkan pada seperangkat nilai-nilai kemanusiaan yang universal (kebaikan,

kepedulian, dan cita diri dan orang lain). Caring digambarkan sebagai cita-cita

moral keperawatan, melibatkan keinginan, dan niat untuk peduli serta tindakan

peduli. Tindakan peduli meliputi komunikasi, hal positif (misal membantu pasien

dan keluarga pasien), dukungan, atau intervensi fisik oleh perawat (Kozier,

2010). Morrison & Burnard (2009) mengatakan bahwa perilaku caring dapat

meningkatkan derajat kesehatan ataupun semangat pasien dalam menjalani

pengobatannya. Caring tidak mutlak bersifat menyembuhkan tapi caring

bermanfaat dalam peningkatan citra diri pasien karena pasien mendapatkan

kepedulian, perhatian dan kasih sayang, dengan demikian maka psikologis pasien

tidak akan terganggu.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Abdul (2013) menunjukkan

bahwa perilaku caring perawat mempunyai hubungan dengan tingkat kepuasan

pasien. Pernyataan ini didukung teori yang dikemukan oleh Potter (2009), bahwa

sikap perawat yang berhubungan dengan caring adalah kehadiran, sentuhan kasih

sayang dan selalu mendengarkan klien. Sentuhan caring suatu bentuk komunikasi

non verbal yang dapat mempengaruhi kenyamanan klien, meningkatkan harga

diri klien, memperbaiki orientasi tentang kenyataan. Semakin baik perilaku

caring perawat dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan, pasien atau

1
2

keluarga semakin senang dalam menerima pelayanan, berarti hubungan

terapeutik perawat-klien semakin terbina. Kehadiran, kontak mata, bahasa tubuh,

nada suara, sikap mau mendengarkan serta memiliki sikap positif dan

bersemangat yang dilakukan perawat kepada klien akan membentuk suasana

keterbukaan dan saling mengerti, serta perlakuan yang ramah dan cekatan ketika

melaksanakan prosedur keperawatan akan memberikan rasa aman pada klien.

Perawatan yang efektif hanya mungkin dilakukan oleh seorang perawat yang

menaruh minat terhadap orang lain, tanpa menghiraukan umur, jenis kelamin,

latar belakang dan status sosial ekonomi (Potter, 2009).

Mc Ewen (2012), mengatakan para pasien dan keluarga menginginkan

perawat yang melayani memiliki sikap baik, murah senyum, sabar, mampu

berbahasa yang mudah dipahami, bertutur kata lembut, sentuhan, memberikan

harapan, berada disampingnya, berkemampuan untuk memberikan rasa empati

serta berkeinginan menolong yang tulus dan mampu menghargai klien dan

pendapatnya. Mereka mengharapkan perawat memiliki pengetahuan yang

memadai tentang kondisi penyakitnya, sehingga perawat mampu mengatasi setiap

keluhan yang dialami oleh klien.

Harapan pasien dan keluarga pasien supaya para perawat caring dalam

memberikan setiap pelayanan belum bisa dijalankan secara maksimal. Hal

tersebut dibuktikan dari beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa

perilaku caring perawat masih kurang. Berdasarkan salah satu artikel penelitian

yang dilakukan oleh Darwin (2014) ditemukan bahwa masih banyak perawat

dengan perilaku caring yang kurang baik yang mempengaruhi sikap professional

perawat. Sukesi (2013), juga menemukan bahwa sebanyak 29 dari 52 perawat

atau sebesar 55,8% perawat kurang caring dalam memberikan pelayanan kepada
3

pasien. Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Hafsiah (2012)

tentang hubungan perilaku caring dengan tingkat kepuasan pasien di RSUD

Pariaman, didapatkan banyak perawat kurang caring terhadap pasien, lebih dari

setengah klien (57,1%) tidak puas terhadap perilaku caring perawat.

Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku caring perawat adalah

beban kerja. Akibat negatif dari meningkatnya beban kerja adalah kemungkinan

timbul emosi perawat yang tidak sesuai yang diharapkan pasien. Beban kerja

yang berlebihan ini sangat berpengaruh terhadap produktifitas tenaga kesehatan

dan tentu saja berpengaruh terhadap produktifitas perawat. Perawat merasakan

bahwa jumlah perawat yang ada tidak sebanding dengan jumlah pekerjaan yang

harus diselesaikan. Kondisi ini dapat memicu munculnya stres kerja, karena

semua pasien yang berkunjung secara tidak langsung menuntut mendapatkan

pelayanan yang efektif dan efisien, sehingga permasalahan yang dihadapi pasien

segera terselesaikan (Munandar, 2010).

Hasil penelitian Syabana (2011) di RSUD Ambarawa didapatkan terdapat

hubungan antara beban kerja pada perawat terhadap pemenuhan kebutuhan

spiritual pada pasien preoperasi dimana hasil beban kerja ringan sebanyak 33,3%

dan beban kerja berat sebanyak 30,7%. Hasil penelitian tersebut menunjukkan

bahwa beban kerja perawat di RSUD Ambarawa termasuk tinggi. Penelitian

serupa juga dilakukan oleh Haryanti (2013) tentang hubungan antara beban kerja

dengan stres kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Kabupaten

Semarang, hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja perawat sebagian

besar adalah tinggi yaitu sebanyak 27 responden (93,1%) dan yang rendah pada 2

responden (6,0%).
4

Kusmiati (2011), menyatakan bahwa yang mempengaruhi beban kerja

perawat adalah kondisi pasien yang selalu berubah, jumlah rata-rata jam

perawatan yang di butuhkan untuk memberikan pelayanan langsung pada pasien,

serta banyaknya tugas tambahan yang harus dikerjakan oleh seorang perawat

sehingga dapat menganggu penampilan kerja dari perawat tersebut. Disamping

tugas tambahan, beban kerja seorang perawat juga sangat dipengaruhi oleh waktu

kerjanya. Apabila waktu kerja yang harus ditanggung oleh perawat melebihi dari

kapasitasnya, seperti banyaknya waktu lembur, akan berdampak buruk bagi

produktifitas perawat tersebut (Syaer, 2010). Pernyataan tersebut sesuai dengan

kondisi selama ini di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo. Oleh

karena itu berdasarkan hasil jurnal penelitian serta studi pustaka terkait, ada

kecenderungan bahwa beban kerja juga mempengaruhi perilaku caring perawat

Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo selama ini.

Hasil wawancara dengan 4 perawat di Ruang Rawat Inap mengatakan

mereka tahu tentang caring dan sebenarnya mampu melakukan, akan tetapi

mereka seringkali tidak melakukan perilaku caring karena beban kerja di ruangan

yang cukup berat. Secara lebih rinci beban kerja perawat Ruang Rawat Inap

Rumah Sakit Mega Buana Palopo diantaranya meliputi: perawat melakukan

observasi klien secara ketat selama jam kerja, banyaknya pekerjaan yang harus

dilakukan demi keselamatan pasien, harapan pimpinan rumah sakit terhadap

pelayanan yang berkualitas, tuntutan keluarga untuk keselamatan klien, tugas

pemberian obat-obatan yang diberikan secara intensif, dan lain sebagainya.

Berdasarkan data serta fenomena diatas, peneliti merasa tertarik untuk

melakukan penelitian tentang hubungan beban kerja perawat pelaksana dengan

perilaku caring perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo.
5

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini: Apakah ada hubungan beban kerja perawat pelaksana dengan

perilaku caring perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui hubungan beban kerja perawat pelaksana dengan perilaku

caring perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo.

2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi beban kerja perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap

Rumah Sakit Mega Buana Palopo.

b. Mengidentifikasi perilaku caring perawat di Ruang Rawat Inap Rumah

Sakit Mega Buana Palopo.

c. Menganalisis hubungan beban kerja perawat pelaksana dengan perilaku

caring perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti

Melalui penelitian ini peneliti dapat mengembangan wawasan berpikir

yang dilandasi dengan konsep ilmiah dan sumber informasi bagi peneliti lain

yang berkenaan dengan penelitian ini.

2. Bagi institusi

Hasil penelitian merupakan salah satu sumber informasi yang dapat

dijadikan sebagai bahan bacaan bagi institusi perguruan tinggi khususnya di

Stikes Kurnia Jaya Persada Palopo.


6

3. Bagi rumah sakit

Dapat digunakan sebagai tambahan informasi dan bahan pertimbangan

dalam pengambilan kebijakan terutama mengenai peningkatan kualitas

pelayanan kesehatan tentang caring perawat.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian ini merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh: Penelitian

Angelina (2015) yang berjudul Hubungan Beban Kerja Perawat dengan Caring

Perawat di Instalasi Gawat Darurat Medik Prof. DR. R. D. Kandou Manado.

Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Sampel 30 responden.

Teknik analisa data dilakukan dengan analisis univariat dan bivariat

menggunakan uji chi square pada program computer. Hasil penelitian diperoleh

nilai ρ= 0.025 yang menunjukan bahwa nilai ρ lebih kecil dari nilai α =0,05.

Kesimpulan penelitian ini yaitu terdapat hubungan beban kerja perawat dengan

caring perawat. Hal yang membedakan penelitian ini dari penelitian sebelumnya

adalah lokasi dan waktu penelitian.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Pelayanan Keperawatan

Pelayanan keperawatan adalah upaya untuk membantu individu baik yang

sakit maupun yang sehat, dari lahir hingga meninggal dalam bentuk pengetahuan,

kemauan, dan kemampuan yang dimiliki. Sehingga individu tersebut dapat

melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dan optimal (Yulihastin, 2009).

Sedangkan pelayanan keperawatan professional dilaksanakan di berbagai tatanan

pelayanan kesehatan, menjangkau seluruh golongan dan lapisan masyarakat yang

memerlukan, baik di tatanan pelayanan kesehatan di masyarakat, maupun di

tatanan pelayanan rumah sakit (Kusnanto, 2009).

Pelayanan keperawatan dikembangkan bersifat berjenjang mulai dari

keperawatan dasar sampai dengan keperawatan yang bersifat rumit atau

spesialistik bahkan subspesialistik, disertai dengan sistem rujukan keperawatan

sebagai bagian dari rujukan kesehatan yang efektif dan efisien. Pelayanan/ asuhan

keperawatan yang bersifat spesialistik, baik keperawatan klinik maupun

keperawatan komunitas antara lain adalah keperawatan anak, keperawatan

maternitas, keperawatan medical bedah, keperawatan jiwa, keperawatan gawat

darurat, keperawatan keluarga, keperawatan gerontik, dan keperawatan

komunitas. Secara bersamaan dikembangkan kemampuan pengelolaan

keperawatan professional dengan kepemimpinan professional keperawatan,

sehingga memungkinkan keperawatan berkembang sesuai dengan kaidah-kaidah

keperawatan sebagai profesi (Kusnanto, 2009).

7
8

Asuhan keperawatan professional merupakan kegiatan melaksanakan

asuhan keperawatan kepada klien berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan,

bersifat “humane”, dengan pendekatan holistik, mencakup bio-psiko-sosial-

kultural-spiritual, serta dengan orientasi kebutuhan objektif klien, dalam bentuk

praktik keperawatan ilmiah. Asuhan keperawatan professional dilaksanakan oleh

perawat professional (professional nurse) kepada klien sebagai individu,

keluarga, komunitas, atau masyarakat, karena tidak tahu, kurang kemampuan,

tidak atau kurang kemauan, dan atau tidak/kurang berpengetahuan untuk

memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri (Priharjo, 2008).

B. Tinjauan Umum tentang Beban Kerja

1. Pengertian

Beban kerja telah didefinisikan sebagai satu set permintaan tugas,

sebagai usaha, dan sebagai kegiatan atau prestasi. Tuntutan tugas (beban

tugas) adalah tujuan yang ingin dicapai: waktu yang diizinkan untuk

melakukan tugas, dan tingkat kinerja yang tugas yang harus diselesaikan.

Faktor yang mempengaruhi usaha yang dikeluarkan adalah informasi dan

peralatan yang disediakan lingkungan tugas. Beban kerja yang tinggi dapat

mempengaruhi kinerja seseorang diantaranya dalam hal prescribing error

serta dispensing error. Meskipun juga ada beberapa faktor lain yang

mempengaruhi, seperti kurangnya pengetahuan dan informasi, kesehatan

mental dan fisik, komunikasi tidak berjalan lancar, pengawasan yang kurang,

sistem kerja dan sarana tidak mendukung, kurangnya pelatihan, serta jumlah

petugas yang kurang memadai (Gawron, 2008).


9

Menurut Undang-undang Kesehatan dalam Efendy (2009), mengatakan

bahwa kesehatan kerja dapat terwujud jika terjadi penyerasian antara

kapasitas, lingkungan, dan beban kerja agar setiap pekerja dapat bekerja

secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di

sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas yang optimal.

Menurut Wilson (2009), beban kerja berhubungan dengan jumlah waktu

yang dimiliki dengan jumlah kerja yang harus dilakukan. Untuk itu

perencanaan waktu yang baik akan meringankan beban kerja. Sedangkan

menurut Hardjana (2011) mengatakan bahwa seseorang yang kelebihan beban

kerja, cenderung merasa terbebani, tertekan, mudah lelah dan mudah tersulut

konflik dengan orang lain.

2. Dimensi beban kerja

Menurut Munandar (2010), mengklasifikasikan beban kerja kedalam

faktor-faktor intrinsik dalam pekerjaan sebagai berikut :

a. Tuntutan Fisik

Kondisi kerja tertentu dapat menghasilkan prestasi kerja yang

optimal disamping dampaknya terhadap kinerja pegawai, kondisi fisik

berdampak pula terhadap kesehatan mental seorang tenaga kerja. Kondisi

fisik pekerja mempunyai pengaruh terhadap kondisi faal dan psikologi

seseorang. Dalam hal ini bahwa kondisi kesehatan pegawai harus tetap

dalam keadaan sehat saat melakukan pekerjaan, selain istirahat yang

cukup juga dengan dukungan sarana tempat kerja yang nyaman dan

memadai.
10

b. Tuntutan tugas

Kerja shif/ kerja malam sering kali menyebabkan kelelahan bagi

para pegawai akibat dari beban kerja yang berlebihan. Beban kerja

berlebihan dan beban kerja terlalu sedikit dapat berpengaruh terhadap

kinerja pegawai. Beban kerja dapat dibedakan menjadi dua katagori yaitu:

1) Beban kerja terlalu banyak/ sedikit “Kuantitatif” yang timbul akibat

dari tugas-tugas yang terlalu banyak/ sedikit diberikan kepada tenaga

kerja untuk diselesaikan dalam waktu tertentu.

2) Beban kerja berlebihan/ terlalu sedikit Kualitatif yaitu jika orang

merasa tidak mampu untuk melaksanakan suatu tugas atau

melaksanakan tugas tidak menggunakan keterampilan dan atau

potensi dari tenaga kerja.

Beban kerja terlalu sedikit dapat menyebabkan kurang adanya

rangsangan akan mengarah kesemangat dan motivasi yang rendah untuk

kerja, karena pegawai akan merasa bahwa dia tidak maju-maju dan

merasa tidak berdaya untuk memperlihatkan bakat dan keterampilannya

(Munandar, 2010).

Sedangkan menurut Tarwaka (2011) kategori dimensi ukuran beban

kerja yang dihubungkan dengan performasi, yaitu:

1) Beban waktu (time load) menunjukan jumlah waktu yang tersedia

dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring tugas atau kerja.

2) Beban usaha mental (mental effort load) yaitu berarti banyaknya

usaha mental dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

3) Beban tekanan psikologis (psychological stress load) yang

menunjukan tingkat resiko pekerjaan, kebingungan, dan frustasi.


11

3. Komponen Beban Kerja Perawat

Menurut Gillies (1994) komponen beban kerja terdiri dari jumlah

pasien yang datang per hari, jumlah pasien dengan setiap diagnose

pengobatan dan perawatan, tingkat penyakit yang berbeda dari setiap pasien,

intensitas keperawatan yang dibutuhkan oleh setiap pasien, rata-rata lama

tinggal pasien, dan ukuran rata-rata waktu yang digunakan untuk setiap

keperawatan langsung dan tidak langsung yang diberikan kepada pasien.

4. Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja

Beban kerja perawat dapat dikaitkan dengan produktivitas perawat,

dimana produktivitas perawat dapat diukur dengan menghitung jumlah jam

kerja perawat per pasien per hari. Pengukuran produktivitas menurut Ilyas

(2011), dapat dilakukan dengan work sampling. Dimana produktivitas dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya oleh karakteristik individu

(usia, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja, dan status pernikahan) .

5. Kegiatan Perawat

Semua kegiatan perawat terlihat penting meskipun adakalanya kegiatan

itu tidak perlu dilakukan. Kegiatan rutin yang dilakukan oleh perawat adalah

mengukur tanda-tanda vital, memandikan pasien, mengganti alas tempat

tidur, mengganti baju pasien, dan kegiatan lain yang merupakan kegiatan

dasar perawat. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan berdasarkan jadwal

bukan berdasarkan kebutuhan pasien. Beberapa kegiatan yang sebenarnya

tidak perlu dilakukan:

a. Jika pasien sudah dalam keadaan mandiri dan berjalan tanpa bantuan atau

tidak harus berbaring di tempat tidur maka kegiatan mengganti alas

tempat tidur tidak perlu dilakukan setiap hari. Jika kondisi pasien
12

incontinent dan diaphoretic maka perlu mengganti alas tempat tidur

sesering mungkin. Tidak semua pasien memerlukan untuk mandi setiap

hari. Contohnya pasien berusia lanjut yang mempunyai kulit rapuh.

b. Terlalu banyak untuk melakukan kegiatan administrasi tidak dianjurkan,

apalagi untuk mencatat hal yang sama di dua tempat. Hal ini dapat

membuang waktu perawat. Kegiatan administrasi yang di tunjukkan oleh

computer sangat dianjurkan.

c. Sosialisasi dengan teman sejawat merupakan aspek penting dalam

memelihara hubungan antar teman. Tapi perlu banyak bersosialisasi akan

menurunkan produktifitas kerja. Jadi sebaiknya pada saat bersosialisasi

dianjurkan untuk membahas issue-isue dalam pekerjaan.

Menurut Ilyas (2011), Gillies dan Hasil Lokakarya Persatuan Perawat

Indonesia (PPNI) komponen yang digunakan untuk menghitung kebutuhan

perawat rawat inap dengan metode formula adalah BOR, sensus harian,

produktivitas, jumlah tempat tidur, jam kerja, jumlah hari libur dan jumlah

jam perawatan/24 jam. Factor lain yang juga harus diperhatikan untuk

menghitung jumlah kebutuhan tenaga perawat adalah kegiatan keperawatan.

Menurut Marquis (2012) kegiatan keperawatan dibagi atas :

a. Kegiatan keperawatan langsung adalah kegiatan keperawatan yang

langsung berpusat pada pasien dan yang berhubungan dengan pasien

secara fisik dan psikologis. Menentukan jumlah waktu yang tepat dan

dibutuhkan untuk kegiatan keperawatan langsung sulit dilakukan karena

keadaan setiap pasien berbeda-beda tergantung dari diagnose

penyakitnya. Pasien dengan diagnose penyakit yang sama tetapi berbeda

usia membutuhkan perawatan yang berbeda pula. Penggunaan waktu


13

yang digunakan untuk keperawatan langsung adalah 35 % dari total

kegiatan perawat dan biasanya tidak lebih dari 50 %.

b. Kegiatan keperawatan tidak langsung adalah kegiatan yang tidak

dilakukan langsung kepada pasien tetapi untuk persiapan, melengkapi,

dan menunjang kegiatan keperawatan langsung atau yang bersifat

administratif. Pada umumnya kebutuhan keperawatan tidak langsung

untuk setiap kategori pasien di setiap unit rawat inap membutuhkan waktu

yang hamper sama. Dari sudut Arthur Andersen menemukan bahwa untuk

kegiatan administrasi ini membutuhkan waktu sebesar 20 % dari total

kegiatan perawat.

c. Kegiatan penyuluhan kesehatan adalah kegiatan yang menekankan

seluruh tenaga perawat untuk menginformasikan kepada psien dan

keluarganya mengenai kebutuhan-kebutuhan keperawatan yang dapat

mendukung kesembuhan pasien. Waktu yang diperlukan untuk kegiatan

komunikasi ke pasien rata-rata 14,5 menit per pasien per hari.

6. Pengukuran Beban Kerja

Perhitungan beban kerja sama dengan menghitung sumber-sumber

keperawatan yang digunakan dalam jumlah waktu dan tingkatan dari staf

keperawatan yang terlibat dalam pelayanan yang berbeda setiap pasien dan

kondisi ( O’Brien AJ et al, 2002, dalam Wiskow 2004). Sedangkan menurut

Ilyas ( 2004), untuk menghitung beban kerja perawat dapat dilakukan dengan

tehnik seperti : work sampling, time and motion study, dan daily log. Menurut

Huber (2000), beban kerja dihitung dengan cara work sampling, time and

motion study, acuity estimation or patient classification system. Untuk


14

menghitung beban kerja digunakan tehnik work sampling, time study and task

frequency, continuous sampling & self reporting.

a. Work Sampling

Work sampling digunakan untuk untuk mengobservasi aktivitas kerja

dengan interval waktu tertentu atau secara random. Pada metode ini yang

menjadi fokus pengamatan adalah apa yang dilakukan responden pada waktu

tertentu dan apa kegiatannya. Kegunaan utama dari work sampling, yaitu :

1) Activity and Delay Sampling

Mengukur proporsi kegiatan aktifitas dan tidak melakukan aktifitas

seorang pegawai.

2) Performance Sampling

Mengukur waktu yang digunakan untuk bekerja dan waktu yang tidak

digunakan untuk bekerja seorang pegawai berdasarkan uraian tugasnya

dan dapat sekaligus untuk mengukur produktifitasnya.

3) Work Measurement

Menetapkan standar waktu dari suatu kegiatan.

Tujuan work sampling meliputi identifikasi tugas dan elemen tugas

perawat, mengetahui waktu dan lamanya kegiatan serta jumlah kegiatan yang

dilakukan. Ilyas (2011) mengemukakan dengan cara work sampling akan

didapatkan informasi yang tepat mengenai kegiatan dan banyaknya

pengamatan kegiatan dari mulai datang sampai dengan responden pulang.

Hal-hal yang dapat diamati dengan work sampling Ilyas (2011):

1) Aktivitas apa yang sedang dilakukan pegawai pada waktu jam kerja

2) Apakah aktivitas pegawai berkaitan dengan fungsi dan tugasnya pada

waktu jam kerja


15

3) Proporsi waktu kerja yang digunakan untuk kegiatan produktif atau tidak

produktif

4) Pola beban kerja pegawai dikaitkan dengan waktu, jadwal jam kerja

Prosedur Work Sampling sebagi berikut :

1) Menentukan jenis pegawai yang akan diteliti

2) Memilih sampel sebagai subjek yang akan diteliti, dapat dengan simple

random sampling

3) Membuat formulir daftar kegiatan pegawai yang diklasifikasikan,

dikombinasikan dan disesuaikan dengan tujuan

4) Melatih pengamat mengenai cara pengamatan kerja dengan menggunakan

work sampling, pengamat sebaiknya memiliki latar belakang yang sejenis

dengan subjek yang akan diamati untuk memudahkan pelatihan dan

pelaksanaan pengamatan. Setiap pengamat yang mengamati 5-8 orang

pegawai.

5) Pengamat kegiatan pekerja dilakukan dengan interval waktu tiap 2-15

menit, tergantung karakteristik pekerjaan. Semakin tinggi tingkat

kesibukan pekerja yang diamati, semakin pendek waktu pengamatan.

Semakin pendek jarak waktu pengamatan, semakin banyak sampel

pengamatan yang diamati oleh pengamat sehingga akurasi pengamatan

menjadi lebih akurat. Pengamatan dilakukan selama jam operasional. Bila

jenis tenaga yang akan diteliti berfungsi 24 jam maka pengamata

dilaksanakan sepanjang hari. Jumlah pengamatan dapat dihitung sebagai

berikut : Bila yang diamati 5 orang perawat setiap shift, interval

pengamatan setiap 5 menit selama 24 jam (3 shift) dalam 6 hari, maka


16

jumlah pengamatan adalah sebagai berikut : 5 perawat x 60 (mnt)/5 (mnt)

x 24 (jam) x 6 (hari kerja) = 8640 sampel pengamatan. ( Ilyas, 2011).

Kelebihan metode work sampling :

1) Pengamatan tidak perlu mengamati pekerjaan terus-menerus, sehingga

secara teknis mudah dikerjakan dan bagi pegawai yang menjadi objek

merasa tidak diamati.

2) Pengamat dapat mengamati beberapa orang pegawai sekaligus

3) Tidak diperlukan pengamat profesional yang terlatih karena yang diamati

hanya jenis kegiatannya.

4) Pengamatan dapat dihentikan kapan saja tanpa berdampak buruk

terhadap hasil penelitian.

5) Lebih menyenangkan bagi pengamat dibandingkan dengan metode time

motion study. Pengamat jarang merasa bosan dan kelelahan.

6) Tidak diperlukan stop watch

Kelemahan metode work sampling :

1) Tidak memberikan informasi yang lengkap dan terperinci detail kegiatan

tenaga yang diamati

2) Data yang didapat bisa terjadi bias karena pegawai tahu akan diamati.

C. Tinjauan Umum tentang Caring

1. Pengertian

Caring adalah suatu tindakan yang dilakukan dalam memberikan

dukungan kepada individu secara utuh. Tindakan dalam bentuk perilaku

caring seharusnya diajarkan pada manusia sejak lahir, masa perkembangan,


17

masa pertumbuhan, masa pertahanan sampai dengan meninggal. Caring

adalah esensi dari keperawatan yang membedakan dengan profesi yang lain

dan mendominasi serta mempersatukan tindakan – tindakan keperawatan,

menurut (Watson, 2014).

Caring adalah memberikan perhatian atau penghargaan kepada seorang

manusia, caring juga dapat diartikan memberikan bantuan kepada individu

atau sebagai advokasi pada individu yang tidak mampu memenuhi kebutuhan

dasarnya (Nursalam, 2008).

Watson (2014), perilaku caring ini akan tergambar dalam hubungan dan

transaksi yang dilakukan oleh perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan

terhadap pasien yang menerima asuhan keperawatan tersebut, yang bertujuan

untuk melindungi harkat dan martabat pasien sebagai manusia. Perilaku

caring ini tidak hanya berfokus pada aktivitas yang dilakukan perawat saat

melaksanakan fungsi keperawatannya saja, namun lebih jauh pada sebuah

proses interpersonal esensial yang memberikan rasa damai ikhlas, dan tulus

pada individu yang membutuhkan baik dalam kondisi sakit, maupun sehat.

Beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa caring adalah

manifestasi dari perhatian kepada orang lain, berpusat pada orang,

menghormati harga diri dan kemanusiaan, komitmen untuk mencegah

terjadinya status yang memburuk, memberi perhatian, dan konsen,

menghormati kepada orang lain dan kehidupan manusia, cinta dan ikatan,

otoritas dan keberadaan, selalu bersama, empati, pengetahuan, penghargaan

dan menyenangkan.

2. Elemen caring
18

Watson (2014), yang terkenal dengan buku The Philosophy and Science

of caring, menjelaskan tentang 10 elemen karatif caring yang merupakan

manifestasi dari karakter perawat yang mempunyai spirit caring, yaitu:

bertindak berdasarkan sistem nilai yang altruistik dan manusiawi,

menanamkan keyakinan dan harapan, menanamkan kepekaan terhadap diri

sendiri dan kepada orang lain, menumbuhkan rasa saling membantu dan

saling percaya, meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan dan emosi

baik positif maupun negative, mampu penyelesaian masalah secara ilmiah,

mampu meningkatkan proses pembelajaran interpersonal, sehingga klien

mampu mandiri dalam kesehatannya (selfcare), mampu menciptakan

lingkungan fisik, mental, sosial, dan spiritual yang bersifat supportif,

protektif, dan korektif, mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan

penuh penghargaan dalam rangka mempertahankan keutuhan dan martabat

manusia dan menghargai kekuatan-kekuatan yang ada dalam kehidupan.

Secara ringkas 10 elemen karatif caring adalah sebagai berikut

(Watson, 2014):

a. Pembentukan sistem nilai humansitic dan altruistic

Watson mengemukakan bahwa asuhan keperawatan didasarkan

pada nilai-nilai kemanusiaan (humansitic) dan perilaku mementingkan

kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi (altruistic). Hal ini

dapat dikembangkan melalui pemahaman nilai yang ada pada diri

seseorang, keyakinan, interaksi dan kultur serta pengalan pribadi. Semua

ini dirasa perlu untuk mematangkan pribadi perawat agar dapat bersikap

altruisitic terhadap orang lain.

b. Menanamkan keyakinan dan harapan (faith-hope)


19

Pemahaman ini diperlukan untuk proses karatif. Selain menekankan

pentingnya obat-obatan untuk kuratif, perawat juga perlu memberi tahu

individu alternatif pengobatan lain yang tersedia (misalnya meditasi,

relaksasi, atau kekuatan penyembuhan oleh diri sendiri atau secara

spiritual).

Dengan mengembangkan hubungan perawat-klien yang efektif,

perawat memfatilitasi perasaan optimis, harapan dan rasa percaya. Untuk

mengembangkan hubungan saling percaya, perawat perlu memberikan

informasi dengan jujur dan memperlihatkan sikap empati dengan apa

yang dirasakan pasien.

c. Mengembangkan kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain

Seorang perawat dituntut untuk mampu meningkatkan kepekaan

terhadap diri sendiri dan orang lain serta bersikap lebih otentik. Perawat

juga perlu memahami bahwa pikiran dan emosi seseorang merupakan

jendela jiwanya. Pengakuan perasaan untuk aktualisasi diri melalui

penerimaan diri baik pasien maupun perawat. Seorang perawat yang

memiliki kepekaan (sensitifitas) dalam perasaannya, maka ia akan lebih

mampu ikhlas, apa adanya dan peka terhadap kebutuhan orang lain .

perawat yang mampu sensitif dengan perasaannya, maka ia akan mampu

bersikap wajar pada orang lain.

d. Mengembangkan hubungan saling percaya dan saling membantu

(helping-trust)

Mengembangkan hubungan saling percaya dan saling membantu

antara perawat dan pasien merupakan hal yang sangat penting dalam
20

transpersonal caring. Hubungan saling percaya dilakukan dengan

mendukung dan menerima ekspresi perasaan positif maupun negatif.

Ciri hubungan ini mencakup 4 (empat) hal yaitu kecocokan

(congruence), empati, hangat yang tidak posesif dan komunikasi efektif.

Congruence mencakup jujur, sesuai kenyatan dan tulus. Empati adalah

kemampuan mengalami dan memahami persepsi dan perasaan orang

laindan tidak mengkomunikasikan perasaan tersebut. Hangat yang tidak

posesif ditampilkan dengan berbicara dengan volume sedang, relaks,

sikap tubuh terbuka dan ekspresi wajah yang sesuai dengan komunikasi

orang lain. Komunikasi efektif terdiri dari komponen respon kognitif,

afektif dan perilaku. Pasien mengharapkan perilaku caring yang holistik

sehingga pasien puas dengan pelayanan keperawatan.

e. Mendukung dan menerima ungkapan perasaan yang positif dan negatif

Perawat perlu mempunyai pemahaman intelektual dan emosional

terhadap perbedaan perasaan baik positif maupun negatif. Tujuan dari

sikap ini adalah menciptakan hubungan perawat-pasien yang terbuka,

saling menghargai perasaan dan pengalaman perawat dan pasien. Perilaku

caring perawat yang mencerminkan faktor karatif ini yaitu memberikan

kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan keluhan dan

perasaannya.

f. Menggunakan metode yang sistematis dalam pemecahan masalah

Perawat menggunakan proses keperawatan untuk memecahkan

masalah yang berhubungan pelayanan keperawatan, dan mengambil

keputusan secara sistematis. Proses keperawatan merupakan pendekatan

yang digunakan dalam memecahkan masalah secara sistematis dan


21

terorganisir, sehingga dapat menghilangkan pandangan lama bahwa

perawat adalah asisten dokter.

Metode mental spiritual dan kepercayaan sosiokultural individu.

Sedangkan lingkungan eksternal mencakup kenyamanan, privasi,

keamanan, kebersihan, dan keindahan lingkungan sekitar. Perawat perlu

mengenali lingkungan internal dan eksternal pasien yang kemungkinan

mempengaruhi kondisi penyakit pasien.

g. Meningkatkan pembelajaran dan pengajaran dalam hubungan

interpersonal

Faktor ini merupakan konsep penting dalam keperawatan yang akan

membedakan caring dengan curing. Dengan pembelajaran dan pengajaran

memungkinkan pasien memperoleh pengetahuan dan bertanggung jawab

terhadap kondisi sehat-sakitnya. Melalui proses pembelajaran ini

diharapkan pasien dapat melakukan perawatan mandiri, menentukan

kebutuhan diri dan mendorong pertumbuhan diri pasien.

Pasien menggambarkan perawat yang mampu memberikan proses

belajar bagi pasien adalah perawat yang mampu memberikan informasi

tentang medikasi atau pemberian obat pasien dan penjelasan tentang

prosedur yang akan dilakukan kepada pasien, menjelaskan apa yang akan

dialami pasien dan selalu menginformasikan kepada pasien tentang

kondisi penyakitnya.

h. Menciptakan lingkungan yang suportif, protektif, perbaikan mental, fisik,

sosial budaya dan spiritual.

Perawat perlu mengenali pengaruh lingkungan internal dan

eksternal pasien terhadap kondisi sehat-sakit pasien. Konsep yang


22

berhubungan dengan lingkungan internal antara lain kesehatan mental

spiritual dan kepercayaan sosiokultural individu.

Sedangkan lingkungan eksternal mencakup kenyamanan, privasi,

keamanan, kebersihan dan keindahan lingkungan sekitar. Perawat perlu

mengenali lingkungan internal dan eksternal pasien yang kemungkinan

mempengaruhi kondisi penyakit pasien.

i. Membantu memberi bimbingan dalam memenuhi kebutuhan dasar

manusia yang dibutuhkan pasien.

Perawat perlu mengenali kebutuhan biofisikal, psikofisikal,

psikososial dan interpersonal diri perawat dan pasien. Pasien harus puas

terhadap kebutuhan terendah sebelum mencapai kebutuhan yang lebih

tinggi.

Kebutuhan biofisikal yang terendah antara lain makan, eliminasi

dan ventilasi. kebutuhan psikofisikal yang terendah antara lain aktifitas

dan seksualitas. Kebutuhan psikososial tertinggi antara lain pencapaian

dan afiliasi. Aktualisasi diri merupakan kebutuhan intra-interpersonal

tertinggi.

j. Menghargai kekuatan eksistensial-phenomenologikal.

Perawat perlu menghargai adanya kekuatan eksistensial dan

fenomenologikal yang diyakini pasien. Fenomenologi digambarkan

sebagai suatu data situasi yang dapat membantu individu memahami

fenomena. Psikologi eksistensial adalah ilmu eksistensi manusia yang

dijelaskan menggunakan pendekatan fenomenologikal. Inti dari faktor ini

adalah menghargai pengalaman yang merangsang pemikiran untuk

memfasilitasi pemahaman yang lebih baik bagi diri sendiri dan orang lain.
23

Menghargai kekuatan eksistensial-pertumbuhan diri dan kematangan jiwa

pasien.

Kesepuluh faktor yang telah diuraikan sebelumnya tersebut menjadi

tindakan unik dari perawat, yang disebut sebagai ”the art and science of

caring”. Caring adalah sentral praktek keperawatan karena perilaku caring

ini memuat elemen moralitas, etika, legalitas, penghargaan dan perlindungan

terhadap pasien. Bila spirit caring ini benar-benar dijadikan landasan praktek

keperawatan, maka hubungan antara pemberi dan penerima layanan akan

berjalan secara harmonis dan bermanfaat untuk kedua belah pihak. Elemen –

elemen caring harus diimplementasikan oleh semua perawat sebagai unsure

pembeda pelayanan keperawatan dibandingkan dengan profesi kesehatan

yang lain.

3. Nilai humanis dalam caring

Dwidiyanti (2008), nilai humanis meyakini kebaikan dan nilai – nilai

manusia sebagai suatu komitmen dalam bekerja untuk kemanusiaan. Perilaku

yang manusiawi adalah empati, simpati, terharu dan menghargai kehidupan.

Dalam keperawatan, humanisme merupakan suatu sikap dan pendekatan yang

memperlakukan pasien sebagai manusia yang mempunyai kebutuhan lebih

dari sekedar nomor tempat tidur atau seseorang berpenyakit tertentu. Perawat

yang menggunakan pendekatan humanistik dalam prakteknya

memperhitungkan semua yang diketahuinya tentang pasien yang meliputi

pikiran, perasaan, nilai–nilai, pengalaman, kesukaan, perilaku, dan bahasa

tubuh.

Pendekatan humanistik ini adalah aspek keperawatan tradisional dari

caring, yang diwujudnyatakan dalam pengertian dan tindakan. Pengertian


24

membutuhkan kemampuan mendengarkan orang lain secara aktif dan arif

serta menerima perasaan – perasaan orang lain. Prasyarat bertindak adalah

mampu bereaksi terhadap kebutuhan orang lain dengan keikhlasan,

kehangatan untuk meningkatkan kesejahteraan yang optimal.

Untuk memahami bagaimana perawatan mendekati dengan cara

humanistik, diperlukan kesadaran diri yang membuat perawat menerima

perbedaan dan keunikan klien. Kesadaran diri dapat ditingkatkan melalui tiga

cara yaitu :

a. Mempelajari diri sendiri yaitu proses eksplorasi diri sendiri, tentang

pikiran, perasaan, perilaku, termasuk pengalaman yang menyenangkan,

hubungan interpersonal dan kebutuhan pribadi.

b. Belajar dari orang lain. Kesediaan dan keterbukaan menerima umpan

balik orang lain akan meningkatkan pengetahuan tentang diri sendiri.

c. Membuka diri. Keterbukaan merupakan salah satu kepribadian yang

sehat, untuk ini harus ada teman intim yang dapat dipercaya, tempat

menceritakan hal yang rahasia.

4. Hubungan perawat dengan klien.

Potter dan Perry (2009) mengatakan bahwa isi pesan dan sikap

penyampaian pesan dipengaruhi oleh perkembangan, persepsi, nilai, latar

belakang, budaya, emosi, pengetahuan, peran, dan tatanan interaksi. Ada

beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berinteraksi dengan pasien yaitu:

a. Perkembangan, lingkungan yang diciptakan oleh orang tua mempengaruhi

kemampuan anak untuk berkomunikasi. Perawat menggunakan teknis

khusus ketika berkomunikasi pada anak sesuai dengan perkembangannya.


25

b. Persepsi adalah pandangan personal terhadap suatu kejadian. Persepsi

dibentuk oleh harapan dan pengalaman. Apabila terjadi perbedaan

persepsi akan menghambat komunikasi.

c. Nilai, nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku sehingga penting

bagi perawat untuk menyadari nilai seseorang.

d. Latar belakang sosial budaya, budaya mempengaruhi cara bertindak dan

komunikasi dalam pemberian pelayanan keperawatan.

e. Emosi, emosi adalah perasaan subyektif tentang suatu peristiwa. Cara

seseorang berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain dipengaruhi

oleh keadaan emosinya.

f. Pengetahuan, hubungan sulit terjalin jika orang yang bersangkutan

memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda. Dengan pengkajian, perawat

dapat menjalin hubungan terapeutik dengan pasien sesuai dengan tingkat

pengetahuannya.

g. Peran, perawat perlu menyadari perannya saat berhubungan dengan klien

ketika memberikan asuhan keperawatan.

h. Tatanan interaksi, interaksi antara perawat dengan klien akan lebih efektif

jika dilakukan dilingkungan yang menunjang. Perawat perlu memilih

tatanan yang memadai ketika berinteraksi dengan klien.

5. Kode etik keperawatan dalam caring

Kode etik Keperawatan Indonesia (Priharjo, 2008), tanggung jawab

perawat terhadap individu, keluarga, dan masyarakat, perawatan dalam

melaksanakan pengabdian senantiasa berpedoman pada tanggung jawab yang

pangkal tolaknya bersumber pada adanya kebutuhan perawatan individu,

keluarga, dan masyarakat. Tanggung jawab perawat terhadap tugas, perawat


26

senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai

kejujuran profesional dan menerapkan pengetahuan serta keterampilan

perawatan sesuai dengan kebutuhan individu atau klien, keluarga dan

masyarakat.

Tanggung Jawab utama perawat adalah meningkatkan kesehatan,

mencegah timbulnya penyakit, memelihara kesehatan, dan mengurangi

penderitaan. Oleh karena itu perawat harus meyakini bahwa:

a. Kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan diberbagai tempat adalah

sama.

b. Pelaksana praktek keperawatan dititikberatkan pada penghargaan

terhadap kehidupan yang bermartabat dan menjunjung tinggi hak asasi

manusia.

c. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan atau keperawatan kepada

individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, perawat mengikutsertakan

kelompok dan instansi terkait.

6. Pengukuran caring

Perilaku caring diukur menggunakan lembar kuesioner terdiri dari 20

pernyataan. Terdiri dari pernyataan favorable yaitu nomer

2,3,4,5,7,10,11,12,14,16 dan 18 dengan alternatif jawaban selalu (nilai 4),

kadang-kadang (nilai 3), jarang (nilai 2), tidak pernah (nilai 1) serta

pernyataan unfavorabel yaitu nomer 1,6,8,9,13,15,17,19 dan 20 dengan

alternatif jawaban selalu (nilai 1), kadang-kadang (nilai 2), jarang (nilai 3),

tidak pernah (nilai 4). Total rentang nilai antara 28-112, dikategorikan baik

jika nilai ≥ mean/ median kurang baik jika nilai < mean/ median.
27

D. Hubungan Beban Kerja dengan Perilaku Caring Perawat

Beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan atau aktifitas yang dilakukan

oleh seorang perawat selama bertugas di suatu unit pelayanan keperawatan dan

perawat berhak untuk mendapatkan waktu istirahat selama satu jam didalam

waktu kerja. Tetapi kenyatannya banyak waktu digunakan bukan untuk kegiatan

produktif, yaitu melakukan tindakan keperawatan langsung dan tidak langsung

tetapi lebih kepada kegiatan yang bukan merupakan tugas dan fungsi

keperawatan. Sedangkan caring adalah tindakan yang bertujuan memberikan

asuhan fisik dan memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan

keselamatan pasien. Sikap caring sangat diperlukan dalam pemberian asuhan

keperawatan kepada pasien. Caring harus dipertahankan dan semakin

dikembangkan supaya dapat menjadi contoh bagi perawat-perawat dalam

meningkatkan mutu pelayanan. Meningkatnya beban kerja dari perawat namun

karena adanya tuntutan dari pihak rumah sakit yang mengharuskan perawat

rumah sakit untuk selalu memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang

berkualitas, dan supervise dari kepala ruangan membuat perawat terus

meningkatkan mutu pelayanan keperawatan khususnya caring perawat kepada

pasien.
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Untuk mengetahui variabel yang akan diteliti, yaitu hubungan beban kerja

perawat pelaksana dengan perilaku caring perawat akan digambarkan dalam

kerangka penelitian sebagai berikut:

Beban kerja perawat Perilaku caring


pelaksana perawat

Skema Kerangka Konsep

Keterangan:

: Variabel Independen

: Variabel Dependen

B. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Ha: ada hubungan beban kerja perawat pelaksana dengan perilaku caring

perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo.

2. Ho: ada hubungan beban kerja perawat pelaksana dengan perilaku caring

perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo.

28
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah metode yang digunakan peneliti untuk melakukan

suatu penelitian yang memberikan arah terhadap jalannya penelitian (Dharma,

2011). Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yang

bersifat cross sectional yang bertujuan untuk mengungkapkan korelasi antara

variabal bebas dan terikat, artinya variabel bebas dan terikat pada obyek

penelitian diukur atau dikumpulkan secara simultan (dalam waktu yang

bersamaan). Desain penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan

beban kerja perawat pelaksana dengan perilaku caring perawat di Ruang Rawat

Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo.

B. Populasi, Sampel dan Sampling

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam suatu

penelitian (Saryono, 2013). Populasi dalam penelitian ini adalah semua

perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo sebanyak 30

orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti (Hidayat, 2009).

Sampel dalam penelitian ini yaitu perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit

Mega Buana Palopo sebanyak 30 orang.

29
30

3. Sampling

Sampling adalah suatu cara yang ditetapkan peneliti untuk menentukan

atau memilih sejumlah sampel dari populasinya (Dharma, 2011). Pada

penelitian ini sampel diambil menggunakan total sampling yakni jumlah

sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi yang ada.

C. Variabel Penelitian

Variabel yang terlibat dalam penelitian ini ada dua, yaitu :

1. Variabel independen (bebas)

Variabel independen adalah variabel yang nilainya menentukan variabel

lain. Variabel independen dalam penelitian ini adalah beban kerja perawat.

2. Variabel dependen (terikat)

Variabel dependen adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh

variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku

caring perawat.

D. Defenisi Operasional

Tabel 4.1 Defenisi operasional hubungan beban kerja perawat pelaksana dengan
perilaku caring perawat.

Variabel Definisi operasional Alat ukur Hasil ukur Skala


ukur
Beban kerja Jumlah waktu yang Observasi 1. Ringan : 190- Nominal
digunakan perawat 671
pelaksana dalam 2. Optimal : 672-
melaksanakan 1153
asuhan keperawatan 3. Berat :1154-
pada klien, 1635
mencakup kegiatan
produktif (kegiatan
keperawatan
langsung, kegiatan
keperawatan tidak
langsung) dan
31

kegiatan non
produktif (kegiatan
non keperawatan/
pribadi) dalam 24
jam (3 shift) .
Perilaku Perilaku perawat Kuisioner 1. Caring: Nominal
caring ketika memberikan skor yang
asuhan keperawatan diperoleh
kepada pasien. > 75 %.
2. Tidak Caring:
skor yang
diperoleh
≤ 75 %.

E. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mega

Buana Palopo.

2. Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada minggu I-III September 2018.

F. Instrumen Penelitian

Untuk memperoleh informasi dari responden peneliti menggunakan alat

pengumpul data berupa kuisioner yang terdiri dari 3 bagian yaitu: data demografi

responden, beban kerja dan perilaku caring. Pada bagian pertama terdiri dari

data demografi perawat yang meliputi umur, jenis kelamin dan pendidikan.

Bagian kedua berupa ceklist beban kerja dengan menggunakan Teknik observasi

dilakukan untuk mendapatkan data primer. Teknik yang digunakan adalah teknik

work sampling. Observasi dilakukan oleh peneliti dengan perbandingan observan

dengan yang diobservasi adalah 1:2. Alat yang digunakan adalah formulir work

sampling yang berisi waktu pengamatan, kegiatan tenaga perawat yang terdiri

dari kegiatan keperawatan langsung, kegiatan keperawatan tidak langsung,


32

kegiatan pribadi, dan kegiatan non produktif, jam serta alat tulis untuk

membantu dalam pencatatan kegiatan keperawatan. Pengamatan dilakukan untuk

3 shift pelayanan selama 6 hari kerja.

Bagian ketiga kuesioner perilaku caring yang menggunakan Skala Likert

dengan pilihan jawaban selalu (skor 4), sering (skor 3), kadang-kadang (skor 2)

dan tidak pernah (skor 1).

G. Prosedur Pengumpulan Data

1. Pengumpulan data

a. Data primer yaitu sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli

(tidak melalui media perantara). Peneliti mengambil data primer melalui

metode survey dan observasi.

b. Data sekunder yaitu sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara

tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak

lain). Peneliti mengambil data sekunder dari berbagai referensi buku dan

internet.

Sebelum melakukan pengumpulan data terlebih dahulu peneliti

meminta izin kepada Direktur RS Mega Buana Palopo untuk melakukan

penelitian di rumah sakit tersebut. Setelah mendapat izin, peneliti

menyebarkan instrumen data kepada perawat yang dijadikan sebagai

responden. Dimana pada saat pengisian kuisioner, peneliti menjelaskan

petunjuk pengisian data yang kurang dimengerti. Kuisioner yang telah diisi,

kemudian dikumpulkan dan dicek oleh peneliti untuk diolah dan dianalisis.

2. Pengolahan data
33

Sebelum melakukan analisis data terlebih dahulu data harus diolah

dengan tujuan mengubah data menjadi informasi. Dalam proses pengolahan

data terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh oleh peneliti, yaitu:

a. Seleksi

Seleksi yaitu upaya untuk memilih populasi yang akan dijadikan

sampel dalam penelitian. Sampel diambil untuk mewakili populasi yang

ada sehingga data dapat memberikan makna.

b. Editing

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data

yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap

pengumpulan data atau setelah data terkumpul.

c. Coding

Coding merupakan kegiatan pembagian kode numerik (angka)

terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini

sangat penting karena pengolahan dan analisa data dalam penelitian ini

menggunakan komputer.

d. Data entry

Data entry adalah kegiatan memasukkan data yang telah

dikumpulkan ke dalam master tabel, kemudian peneliti membuat

distribusi frekuensi sederhana.

H. Analisa Data

Dalam melakukan analisis, khususnya terhadap data penelitian akan

menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak
34

dianalisis. Pada penelitian ini, data yang telah terkumpul dianalisis dengan teknik

analisis univariat (satu variabel) dan bivariat (dua variabel).

1. Analisa univariat

Analisa univariat bertujuan untuk memperlihatkan atau menjelaskan

distribusi frekuensi dari variabel independen dan variabel dependen.

2. Analisa bivariat

Analisa bivariat berfungsi untuk mengetahui hubungan antara variable

depanden dengan independen. Karena jenis hipotesa ini adalah jenis

komparatif kategorik dimana variabel independen dan variabel dependen

berskala kategori, dengan prinsip tabel B x K serta terdiri dari kelompok tidak

berpasangan maka uji yang layak digunakan adalah Kruskall Wallis test.

Krusskal Wallis test menggunakan rangking dari nilai data dan tidak

menggunakan nilai tersebut untuk di analisis. Hal ini digunakan karena nilai

tersebut termasuk data kategori. Untuk melihat kemaknaan perhitungan

statistik antara variabel bebas dan variabel terikat digunakan tingkat

kepercayaan 95%. Jika nilai p yang didapat lebih kecil dari 0,05 maka

hipotesis alternatif yang diajukan diterima berarti antara dua variabel (bebas

dan terikat) yang diteliti mempunyai hubungan yang bermakna.

I. Etika Penelitian

Masalah etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam

penelitian, mengingat penelitian ini berhubungan langsung dengan manusia, segi

etika penelitian harus senantiasa diperhatikan (Hidayat, 2009), seperti:


35

1. Lembar persetujuan menjadi responden (informed consent)

Lembar persetujuan diberikan kepada subjek yang akan diteliti. Peneliti

menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan serta

dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Jika

calon responden bersedia untuk diteliti, maka mereka harus menandatangani

lembar persetujuan. Bila calon responden menolak, maka peneliti tidak boleh

memaksa dan tetap menghormati haknya.

2. Tanpa nama (anonimity)

Kerahasiaan responden harus selalu terjaga. Untuk menjaga kerahasiaan

tersebut, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, pada lembar

pengumpulan data dan pada lembar kuisioner, cukup diberikan kode

tertentu sebagai identifikasi subjek.

3. Kerahasiaan (confidentiality)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan

kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah

lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh

peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Demografi Responden di Rumah Sakit Mega Buana Palopo

Jumlah responden yang memenuhi syarat sebagai sampel penelitian

sebanyak 30 responden. Pemaparan karakteristik responden ini akan

diuraikan dalam data umum meliputi umur, jenis kelamin dan pendidikan

responden.

a. Umur

Tabel 5.1
Distribusi Responden Berdasarkan Umur
di Rumah Sakit Mega Buana Palopo
Tahun 2018
Umur f %
23-30 tahun 21 70
> 30 tahun 9 30
Total 30 100
Sumber: data primer 2018

Pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa responden yang berumur 23-30

tahun sebanyak 21 orang (70%) dan berumur > 30 tahun sebanyak 9 orang

(30%).

b. Jenis Kelamin

36
37

Tabel 5.2
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
di Rumah Sakit Mega Buana Palopo
Tahun 2018
Jenis Kelamin f %
Laki-laki 3 10
Perempuan 27 90
Total 30 100
Sumber: data primer 2018

Pada tabel 5.2 menunjukkan bahwa responden yang berjenis kelamin

laki-laki sebanyak 3 orang (10%) dan berjenis kelamin perempuan sebanyak

27 orang (90%).

c. Pendidikan

Tabel 5.3
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan
di Rumah Sakit Mega Buana Palopo
Tahun 2018
Pendidikan f %
D3 13 43,3
S.Kep.Ns 17 56,7
Total 30 100
Sumber: data primer 2018

Pada tabel 5.3 menunjukkan bahwa responden yang berpendidikan D3

Keperawatan sebanyak 13 orang (43,3%) dan berpendidikan S.Kep.Ns

sebanyak 17 orang (56,7%).

2. Variabel yang diteliti

a. Analisa Univariat
38

1) Beban kerja perawat

Tabel 5.4
Distribusi Responden Berdasarkan Beban Kerja Perawat
di Rumah Sakit Mega Buana Palopo
Tahun 2018
Beban Kerja Perawat f %
Ringan 7 23,3
Optimal 16 53,4
Berat 7 23,3
Total 30 100
Sumber: data primer 2018

Pada tabel 5.4 menunjukkan bahwa responden yang memiliki beban

kerja berat sebanyak 7 orang (23,3%), beban kerja optimal sebanyak 16

orang (53,4%) dan beban kerja ringan sebanyak 7 orang (23,3%).

2) Perilaku caring perawat

Tabel 5.5
Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Caring Perawat
di Rumah Sakit Mega Buana Palopo
Tahun 2018
Perilaku Caring Perawat f %
Caring 22 73.3
Tidak Caring 8 26.7
Total 30 100
Sumber: data primer 2018

Pada tabel 5.5 menunjukkan bahwa responden yang berperilaku

caring sebanyak 22 orang (73.3%) dan tidak caring sebanyak 8 orang

(26.7%).

b. Analisa bivariat

Tabel 5.6
Hubungan Beban Kerja Perawat Pelaksana dengan
Perilaku Caring Perawat di Ruang Rawat Inap
Rumah Sakit Mega Buana Palopo
39

Perilaku Caring Perawat


Beban Kerja Caring % Tidak % Total % p
Perawat Caring
Ringan 2 28.6 5 71.4 7 100
Optimal 14 87.5 2 12.5 16 100
0,001
Berat 6 86.7 1 26.7 7 100
Jumlah 22 73.3 8 14.3 30 100
Asymp. Sig. (95% CI): 0.017
Krusskal-Wallis (df =2) : 6.649
Sumber: data primer 2018

Pada tabel 5.6 menunjukkan bahwa responden yang memiliki

beban kerja ringan sebagian besar tidak berperilaku caring sebanyak 5

atau 71.4 %, sedangkan responden dengan beban kerja optimal sebagian

besar berperilaku caring sebanyak 14 atau 87.5 %, demikian halnya

dengan responden dengan beban kerja berat sebagian besar berperilaku

caring sebanyak 6 atau 86.7 %.

Interpretase makna uji Kruskall Wallis test dengan melihat nilai

Asymp. Sig. (95% CI) diperoleh nilai signifikansi (p) = 0,017 < 0.05, dan

nilai uji statistic Krusskal-Wallis (df 2) = 6. 649> dari nilai kritis yaitu

5.911 yang menjelaskan bahwa Ha diterima, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa ada hubungan signifikan antara beban kerja dengan

perilaku caring perawat di RSU Mega Buana Palopo.

B. Pembahasan

1. Beban Kerja Perawat


40

Hasil analisis univariat diketahui lebih banyak perawat yang mengalami

beban kerja optimal yaitu (53.4 %) dibandingkan beban kerja ringan dan

berat sejumlah (23.3 %).

Beban kerja ini termasuk dalam kategori beban kerja yang optimal

sehingga memungkinkan perawat akan melakukan kinerja dan berperilaku

caring yang lebih baik. Untuk menjalankan tugas-tugas keperawatan

memerlukan keahlian dan kompetensi yang memadai dan hal ini berkaitan

dengan karakteristik perawat.

Beban kerja yang berat (23.3 %) dialami oleh perawat tersebut berkiatan

dengan fluktuasi perawat yang dalam periode waktu tertentu sangat

meningkat dan kurangnya kegiatan pengembangan pengetahuan dan

keterampilan perawat sehingga dengan semakin kompleknya tugas-tugas

keperawatan sejalan dengan kemajuan teknologi dan penggunaan fasilitas

kerja yang serba canggih membutuhkan adaptasi tersendiri. Hal ini sesuai

dengan penjelasan kepala ruangan bahwa kegiatan yang bersifat pelatihan

teknis keperawatan masih jarang dilakukan.

Beban kerja mental mengindikasikan bahwa responden tersebut

mengalami beban kerja secara kualitatif yang berkaitan dengan

ketiakadequatan kemampuan perawat secara kognitif menyelesaikan tugas-

tugasnya, dalam hal ini adalah sistem pemberian tugas, komplekbilitas tugas

perawatan, ketercukupan waktu untuk penyelesaian, sistem pengendalian dan

standar asuhan keperawatan yang belum dipahami dengan baik. Hal ini sesuai

dengan pendapat Simamora, (2012) bahwa beban kerja secara kualitatif jika

orang merasa tidak mampu untuk melakukan tugasnya, atau tugas tidak

menggunakan ketrampilan atau potensi dari tenaga kerja.


41

Berdasarkan keraktertik sebagian besar berumur 23-30 tahun sebanyak

(67.7 %) merupakan kelompok perawat usia produktif dan memiliki

pendidikan yang baik adalah Ners (56,7%). Bagi seorang perawat

pengalaman klinis yang telah dilalui merupakan proses belajar empiris dalam

meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya tentang operasional

organisasi sehingga lebih mampu melakukan manajemen dalam

menyelesaikan pekerjaannya termasuk pengaturan waktu kerjanya dengan

sebaik-baiknya.

Pengalaman kerja yang lebih lama seharusnya liner dengan peningkatan

tugas-tugas yang harus diselesaikan, tetapi kenyataan yang ditemui pekerjaan

perawat masih bersifat rutinitas dan belum dilaknasakan sistem jenjang karir

yang berbasis pada kompetensi perawat. Kondisi seperti ini dapat

menimbulkan beban kerja secara kualitatif karena pengalaman empiris yang

diperoleh tidak diikuti dengan pengembangan karir.

Beban kerja perawat pelaksana merupakan jumlah kegiatan yang perawat

lakukan selama shift kerja. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar

perawat melakukan kegiatan keperawatan langsung (67.76%), kemudian

kegiatan keperawatan tidak langsung sebesar 20.93 %, kegiatan pribadi

sebesar 7.73 % dan yang paling kecil adalah kegiatan tidak produktif sebesar

3.57 %.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Wiskow (2004) yang

mengkategorikan perhitungan kegiatan keperawatan langsung 70% dari

seluruh kegiatan perawat. Kegiatan keperawatan langsung yaitu kegiatan

yang difokuskan pada pasien dan keluarga seperti melakukan pemeriksaan


42

fisik, memberikan makan dan minum, memberi pengobatan oral dan

parenteral, komunikasi kepada pasien dan keluarga, dan lain lain.

Kegiatan keperawatan tidak langsung adalah kegiatan yang tidak

langsung diberikan kepada pasien, tetapi tetap berhubungan dengan kegiatan

untuk mendukung asuhan keperawatan seperti pendokumentasian asuhan

keperawatan, kolaborasi dengan dokter, mempersiapkan alat untuk tindakan

keperawatan, dan lain-lain.

2. Perilaku Caring Perawat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat sebagian besar berperilaku

caring sebanyak 22 orang (73.3%) dibandingkan yang tidak caring sebanyak

8 orang (26.7%).

Perilaku caring perawat di RSU Mega Buana Palopo yang sebagian besar

lebih caring dapat merujuk pada jenis kelamin perawat pelaksana yang

sebagian besar berjenis kelamin perempuan (90%). Perempuan biasanya

tidak bersifat agresif, suka memelihara dan mempertahankan sifat

kelembutan, keibuan tanpa mementingkan diri sendiri dan tidak

mengharapkan balas jasa, merupakan sifat-sifat tersebut identik dengan

profesi keperawatan (Faisal Rizal, 2015).

Meskipun perawat di RSU Mega Buana Palopo jika dilahat dari usia

yang sebagian besar berumur 23-30 tahun sebanyak (67.7 %) akan tetapi

mampu melakukan aplikasi praktek caring dalam memberikan asuhan

keperawatan. Hal ini sejalan dengan pendapat Robbins (2010) menyatakan

bahwa usia produktif maka pekerja akan membawa sifat-sifat positif dalam

melaksanakan pekerjaannya lebih berkomitmen dalam menjaga kualitas

pekerjaannya.
43

Sikap dengan caring perawat tidak bisa dilepaskan satu sama lain yang

artinya bahwa perawat mempunyai sikap caring karena perawat dekat dengan

pasien sehingga terjadi hubungan personal perawat dengan pasien, sebagai

contoh yaitu cara perawat merawat pasien dibangsal, hal seperti itu

merupakan bentuk dari sikap perawat.

Berdasarkan hasil penelitian peneliti berasumsi bahwa perilaku caring

sangatlah penting untuk keperawatan. Kinerja perawat khususnya pada

perilaku caring menjadi sangat penting dalam mempengaruhi kualitas

pelayanan dan kepuasan pasien terutama di rumah sakit, dimana kualitas

pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang nantinya akan dapat

meningkatkan kepuasan pasien dan mutu pelayanan. Apabila perawat tidak

berperilaku caring kepada pasien akan sangat mungkin pasien merasa bosan

menjalani perawatan dengan anggapan perawat judes cuek atau tidak care

kepada pasien sehingga dapat berdampak kepada kepuasan dan selanjutnya

pasien akan merasa enggan memanfaatkan kembali pelayanan apabila dirinya

atau saudaranya apabila memerlukan perawatan yang sama. Pasien akan lebih

cenderung memilih rumah sakit lain yang menurut mereka lebih baik

pelayanannya dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya.

Menurut peneliti seorang perawat harus mepunyai prilaku caring karena

merupakan dasar dan landasan utama dalam melakukan perawatan dengan

adanya sikap caring perawat akan bisa lebih mengerti apa yang dirasakan

pasien, apa yang dibutuhkan oleh pasien sehingga dapat melakukan asuhan

keperawatan secara baik tanpa hambatan yang dapat membantu mempercepat

proses penyembuhan. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui juga bahwa

skore paling rendah dan yang paling sering tidak dilakukan perawat menurut
44

responden adalah perawat memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama

kepada pasien atau keluarga dan Perawat memfasilitasi pasien untuk dapat

memenuhi kebutuhan spiritual.

3. Hubungan Beban Kerja dengan Perilaku Caring Perawat

Hasil penelitian menyimuplkan bahwa ada hubungan signifikan antara

beban kerja dengan perilaku caring perawat di RSU Mega Buana Palopo (p)

= 0,017 < 0.05, dan nilai uji statistic Krusskal-Wallis (df 2) = 5.649> dari nilai

kritis yaitu 5.911.

Sehingga penelitian menjelaskan bahwa terbuktinya beban kerja

berhubungan dengan perilaku caring perawat karena pola hubungan yang

terbentuk adalah responden yang memiliki beban kerja ringan sebagian besar

tidak berperilaku caring sebanyak 71.4 %, sedangkan responden dengan

beban kerja optimal sebagian besar berperilaku caring sebanyak 87.5 %,

demikian halnya dengan responden dengan beban kerja berat sebagian besar

berperilaku caring sebanyak 6 atau 86.7 %.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Prihartini (2012), yang

menemukan ada terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja

dengan perilaku caring pada perawat di seluruh ruang rawat inap. Sehingga

dari hasil penelitian ini maka upaya yang dapat dilakukan untuk memeliharan

beban kerja yang optimal sehingga perawat tidak mengalami stress kerja dan

mampu melakukan asuhan atas dasar nilai caring adalah meningkatkan

pengetahuan dan keterampilan teknis keperawatan, optimalisasi fungsi-fungsi

manajemen dan pelatihan soft skill yang memungkinkan adanya pengaturan

kerja yang lebih baik.


45

Hasil penelitian menemukan bahwa perawat dengan beban kerja ringan

leboh tidak caring dibandingkan dengan perawat dengan beban kerja optimal

dan berat. Menurut peneliti hal ini karena caring secara umum dapat diartikan

sebagai suatu kemampuan untuk berdediksi bagi orang lain, pengawasan

dengan waspada, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau

menyayangi. Spirit caring seyogyanya harus tumbuh dari dalam diri perawat

dan berasal dari hati perawat yang terdalam. Spirit caring bukan hanya

memperlihatkan apa yang dikerjakan perawat yang bersifat tindakan fisik,

tetapi juga mencerminkan siapa dia. Oleh karenanya, setiap perawat dapat

memperlihatkan cara yang berbeda ketika memberikan asuhan kepada klien.

Menumbuhkan perilaku caring bagi perawat memang tidak mudah, hal

ini disebabkan karena karakteristik pekerjaan perawatan yang bekerja secara

kontinu bersosialisasi dengan orang yang sama (sakit), mempunyai privasi

yang terbatas, skedul jam kerja 24 jam per hari on-call access, 7 hari per

minggu, dan menghadapi keterbatasan fasilitas kebugaran dan rekreasi,

sehingga kombinasi dari faktor-faktor tersebut membentuk perilaku dan

lingkungan kerja yang unik. Sehingga dibutuhkan upaya ekstra untuk

memahami dan menerapkan perilaku caring sebagai salah satu keunggulan

kompetitif yang sulit ditiru, karena diramu dari keunggulan keunikan

keperilakuan

Implikasi tentang beban kerja secara kuantitatif maupun kualitatif yang

dipersepsikan oleh perawat adalah dibutuhkan pengelolaan manajemen

pelayanan keperawatan dengan menerapkan metode yang tepat misalnya

metode tim sehingga mekanisme kerja lebih terarah dan tugas-tugas

diselesaikan secara tim sehingga kelemahan-kelemahan perawat dapat


46

diminimalkan, sistem penglasikasian pasien akan membuat tugas-tugas setiap

perawat lebih proporsional dan yang tak kalah pentingnya adalah

peningkatan pengetahuan dan keterampilan klinik perawat karena hal ini

menyangkut kemampuan melakukan tugas-tugas secara kualitatif yang

kompleks dan majemuk. Untuk meningkatkan kemampuan secara kuantitatif

maka hendaknya menerapkan rotasi kerja secara periodik agar tidak timbul

kebosanan bila berada di ruang rawat inap dengan kondisi yang kurang

menyenangkan dan beban kerja yang tinggi perawat hendaknya melakukan

kegiatan rekreasi hal ini disebabkan karena karakteristik pekerjaan perawatan

sehingga kombinasi dari faktor-faktor tersebut membentuk perilaku dan

lingkungan kerja yang unik. Sehingga dibutuhkan tenaga ekstra untuk

melaksanakan pelayanan keperawatan yang optimal. Karena jika beban

kerjanya melampaui kapasitasnya akan berpengaruh pada kinerja dan perilaku

caring selama melakukan asuhan keperawatan

4. Keterbatan Penelitian

Secara kesuluruhan penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan.

Pertama penggunaan metode cross-sectional study memiliki kendala

kurangnya inferensi causalitas, selain itu data longitudinal dapat

menimbulkan biasnya estimasi parameter sehingga hasilnya kurang baik.

Kedua, metode pengumpulan data beban kerja dengan metode work

sampling dan observasi. Observasi digunakan bertujuan untuk mendapartkan

informasi dengan sangat objektif, tetapi dalam pelaksanaannya banyak faktor

yang mempengaruhi objektivitas data tersebut. Salah satu cara untuk

mengontrol bias dari objektivitas pengamatan dengan menggunakan alat

bantu audio untuk merekam perilaku pada saat subjek penelitian diamati
47

sehingga setiap detail dapat dinilai dengan lebih objektif, akan tetapi karena

responden menolak menggunakan alat bantu tersebut sehingga

memungkinkan adanya bias pada saat melakukan pengamatan. Keterbatasan

lainnya adalah observasi hanya dilakukan satu kali setiap responden. Idealnya

setiap responden dilakukan beberapa kali pengamatan sehingga lebih objektif

karena dapat menghitung rata-rata dari setiap objek pengamatan. Masalah lain

dalam pengumpulan data melalui observasi adalah kesulitan mengatur jadual

shif dari setiap responden akibat keterbatasan jumlah perawat diruangan,

maka peneliti dan enumator harus mengikuti jadual shif setiap responden

sehingga waktu penelitian lebih lama dan memungkinkan peneliti dan

enumator mengalami kelelahan yang berdampak pada kurangnya ketelitian

pada saat melakukan pengamatan.

Ketiga, penggunaan metode self evaluative pada variabel OCB sehingga

subjektifitas dapat mempengaruhi responden pada saat menjawab pernyataan

penelitian. Sehigga untuk mengontrol kecendrungan subjektifitas peneliti dan

enumator menunggu sampai responden menjawab keseluruhan kuesioner.

5. Implikasi

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat berimplikasi pada

pelayanan keperawatan dimana hasil penelitian telah membuktikan secara

empiris bahwa beban kerja berhubungan dengan perilaku caring perawat,

dapat menjadi referensi bagi pimpinan rumah sakit khususnya bidang

keperawatan untuk menerapkan pengelolaan beban kerja yang lebih optimal

untuk memelihara kapabilitas perilaku karitatif caring perawat, demikian

halnya dengan proses evaluasi kinerja perawat dengan memasukkan unsur


48

penilaian caring dalam penilian kinerja perawat dalam melaksanakan standar

asuhan keperawatan.
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan hasil penelitian Hubungan

Beban Kerja Perawat Pelaksana dengan Perilaku Caring Perawat di Ruang Rawat

Inap Rumah Sakit Mega Buana Palopo, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Sebagian besar perawat di RSU Mega Buana Palopo ldengan beban kerja

optimal yaitu (53.4 %) dibandingkan beban kerja ringan dan berat sejumlah

(23.3 %).

2. Sebagian besar perawat di RSU Mega Buana Palopo berperilaku caring

sebanyak 22 orang (73.3%) dibandingkan yang tidak caring sebanyak 8

orang (26.7%)..

3. Ada hubungan signifikan antara beban kerja dengan perilaku caring perawat

di RSU Mega Buana Palopo (p) = 0,017 < 0.05, dan nilai uji statistic

Krusskal-Wallis (df 2) = 6.649> dari nilai kritis yaitu 5.911.

B. Saran
1. Perlunya dilakukan perhitungan kebutuhan perawat yang lebih ideal

berdasarkan beban kerja sehingga perawat dapat menerapkan perilaku caring

di seluruh Ruang Rawat Inap dan tetap melakukan pembinaan terhadap

ruangan yang masih memiliki perawat non caring behavior, dengan

melakukan supervisi rutin dan mendorong supaya perilaku caring menjadi

perilaku yang melekat untuk mencapai pelayanan yang prima.

49
50

2. Memberikan penghargaan/reward bagi ruangan dengan caring behavior

terbaik untuk memotivasi perawat yang bekerja pada ruangan lain di Rumah

Sakit Mega Buana Palopo.


3. Diharapkan kepada seluruh perawat pelaksana untuk tetap melakukan tuga-

tugas keprawatan baik tindakan langsung maupun tidak langsung dengan

seoptimal mungkin dengan tetap memperhatikan perilaku caring saat

melakukan asuhan keperawatan


4. Penelitian selanjutnya dikembangkan untuk melihat hubungan variabel

dependen perilaku caring dengan karakteristik perawat, gaya kepemimpinan

kepala ruangan.
51

DAFTAR PUSTAKA

Dharma, Kusuma Kelana. 2011. Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta: Trans


Info Media.

Dwidiyanti, M. 2008. Caring Kunci Sukses Perawatan Mengamalkan Ilmu.


Semarang: Hasani.

Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktek dalam


Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Hafsiah, L. 2012. Hubungan Perilaku Caring yang Dilakukan Perawat dengan


Tingkat Kepuasan Klien di Ruangan Penyakit Dalam RSUD Pariaman.
http://repository.unand.ac.id/17929/. Diunduh 16 Agustus 2018.

Hardjana, A.M. 2011. Konflik di Tempat Kerja. Yogyakarta: Kanisius.

Haryanti, Aini, F. 2013. Hubungan Antara Beban Kerja dengan Stres Kerja Perawat
di Instalasi Gawat Darurat RSUD Kabupaten Semarang. Ungaran: STIKES
Ngudi Waluyo.

Hidayat. 2009. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta:
Salemba Medika.

Kozier, Erb & Berman, Snyder. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses & Praktik. Jakarta: EGC.

Kusnanto. 2009. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta:


EGC.

Morrison, P & Burnard, P. 2009. Caring and Communicating Hubungan


Interpersonal dalam Keperawatan. Jakarta: EGC.

Munandar, M. 2010. Budgeting, Perencanaan Kerja Pengkoodinasian Kerja


Pengawasan Kerja. Yogyakarta: UGM.

Nursalam. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Potter, P. 2009. Fundamental of Nursing. Jakarta: Salemba Medika.

Priharjo, R. 2008. Konsep dan Perspektif Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta:


EGC.

Saryono. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Dalam Bidang


Kesehatan. Jakarta: Nuha Medika.
52

Sukesi, N. 2013. Upaya Peningkatan Caring Perawat terhadap Kepuasan Pasien


diruang Rawat Inap RS Permata Medika Semarang. Semarang: STIKES
Widya Husada.

Tarwaka. 2011. Keselamatan dan Kesehatan Kerja: Manajemen dan Implementasi


K3 di Tempat Kerja. Surakarta: Harapan Press.

Watson, J. 2014. Human Caring Science. Canada: Jones & Bartlett Learning, LLC.

Wilson, P. 2009. Santai di Tempat Kerja. Jakarta: Erlangga.

Yulihastin, E. 2009. Bekerja sebagai Perawat. Jakarta: Erlangga.


53

beban kerja perawat * perilaku caring Crosstabulation

perilaku caring

caring tidak caring Total

beban kerja perawat ringan Count 2 5 7

Expected Count 5.1 1.9 7.0

% within beban kerja


28.6% 71.4% 100.0%
perawat

% within perilaku caring 9.1% 62.5% 23.3%

% of Total 6.7% 16.7% 23.3%

optimal Count 14 2 16

Expected Count 11.7 4.3 16.0

% within beban kerja


87.5% 12.5% 100.0%
perawat

% within perilaku caring 63.6% 25.0% 53.3%

% of Total 46.7% 6.7% 53.3%

berat Count 6 1 7

Expected Count 5.1 1.9 7.0

% within beban kerja


85.7% 14.3% 100.0%
perawat

% within perilaku caring 27.3% 12.5% 23.3%

% of Total 20.0% 3.3% 23.3%

Total Count 22 8 30

Expected Count 22.0 8.0 30.0

% within beban kerja


73.3% 26.7% 100.0%
perawat

% within perilaku caring 100.0% 100.0% 100.0%

% of Total 73.3% 26.7% 100.0%

Kruskal-Wallis Test
54

Ranks

perilaku
caring N Mean Rank

beban kerja perawat caring 22 17.59

tidak caring 8 9.75

Total 30

Test Statisticsa,b

beban kerja
perawat

Chi-Square 6.649

df 1

Asymp. Sig. .017

a. Kruskal Wallis Test

b. Grouping Variable: perilaku


caring