Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem imun merupakan mekanisme pertahanan tubuh sebagai
perlindungan dari bahaya berbagai bahan dalam lingkungan yang dianggap
asing bagi tubuh seperti bakteri, virus, jamur, parasit dan protozoa (Abbas et
al., 2015; Baratawidjaja & Rengganis, 2009; Benjamini et al., 2000). Ketika
daya tahan tubuh lemah maka agen infektif akan dengan mudah menembus
pertahanan tubuh dan menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, upaya
meningkatkan sistem imun menjadi penting untuk dilakukan, salah satunya
adalah dengan menggunakan imunomodulator khususnya yang bersifat
imunostimulan. Imunomodulator merupakan bahan atau agen yang dapat
berinteraksi dengan sistem imun dan meyebabkan peningkatan atau penurunan
aspek spesifik respon imun.

1.2 Rumusan masalah


1. Apa yang di maksud sistem imunologi?
2. Apa saja macam sistem imunologi?
3. Bagaimana anaomi dan fisiologi sistem imunologi?
4. Bagaimana patofisiologi penyakit SLE?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang di maksud sistem imunologi?
2. Untuk mengetahui apa saja macam sistem imunologi?
3. Untuk mengetahui bagaimana anaomi dan fisiologi sistem imunologi?
4. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi penyakit SLE?

1.4 Manfaat
Manfaat disusun makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mahasiswa
a. Menambah pengetahuan tentang pengkajian keperawatan

1
b. Mengembangkan kreatifitas dan bakat penulis
c. Menilai sejauh mana penulis memahami teori yang sudah di dapat
tentang pengkajian proses keperawatan
2. Untuk institusi Stikes Hafshawaty Zainul Hasan Genggong
a. Makalah ini dapat menjadi audit internal kualitas pengajar
b. Sebagai tambahan informasi dan bahan kepustakaan dalam pemberian
materi tentang biokimia anatomi fisiologi sistem imun dan
patofisiologi penyakit SLE dan rematik
3. Untuk pembaca dapat mengetahui, memahami dan menguasai pengkajian
pada proses keperawatan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi imunologi
Sistem imun merupakan mekanisme pertahanan tubuh sebagai
perlindungan dari bahaya berbagai bahan dalam lingkungan yang dianggap
asing bagi tubuh seperti bakteri, virus, jamur, parasit dan protozoa (Abbas
et al., 2015; Baratawidjaja & Rengganis, 2009; Benjamini et al., 2000).
Ketika daya tahan tubuh lemah maka agen infektif akan dengan mudah
menembus pertahanan tubuh dan menyebabkan penyakit.
Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun,
dimana antibodi abnormal berlebihan diproduksi oleh Sistem kekebalan
tubuh pasien disfungsional menyalah artikan sel-sel tubuh untuk musuh,
secara langsung atau tidak langsung menyerang organ dan jaringan yang
menyebabkan peradangan kronis. Semua organ dan jaringan mungkin
terkena SLE, biasanya kulit, persendian dan ginjal. Pada kasus yang serius,
gagal ginjal akut dapat terjadi. Jika ada kerusakan pada sistem saraf pusat,
bisa mengakibatkan penyakit jiwa, epilepsi atau stroke. Sebagian besar
pasien SLE adalah wanita berusia antara 15 dan 30 tahun. Pasien pria
hanya memperhitungkan sepersepuluh dari jumlah total. SLE tidak
menular atau turun-temurun. Kadang-kadang, wanita hamil dengan SLE
dapat melepaskan antibodi pada janin melalui plasenta. Dalam kasus
tersebut, bayi mungkin menunjukkan gejala yang mirip dengan ruam kulit
lupus, yang akan hilang setelah beberapa saat dalam banyak kasus.
Sejumlah kecil bayi mungkin menderita blok jantung kongenital, yang
menyebabkan denyut jantung lambat. Namun ini tidak berakibat fatal dan
pengobatan tidak perlu dilakukan. Hanya dalam kasus yang sangat jarang
terjadi, bayi mengembangkan blok jantung yang serius.
Sistem imun adalah suatu sistem pertahanan tubuh yang komplek
yang memberikan perlindungan terhadap adanya infasi zat asing ke dalam
tubuh

3
2.2 Macam-mcam sistem imunologi
Sistem imun terdiri dari 2 macam yaitu
1. Sistem imun spesifik
Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal
benda asing. Benda asing yang pertama kali muncul dikenal oleh sistem
imun spesifik sehingga terjadi sensitiasi sel-sel imun tersebut. Bila sel
imun tersebut berpapasan kembali dengan benda asing yang sama, maka
benda asing yang terakhir ini akan dikenal lebih cepat, kemudian akan
dihancurkan olehnya.
Oleh karena sistem tersebut hanya mengahancurkan benda asing
yang sudah dikenal sebelumnya, maka sistem itu disebut spesifik. Sistem
imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing
yang berbahaya,tetapi umumnya terjalin kerjasama yang baik antara
antibodi, komplemen, fagosit dan antara sel T makrofag. System imun
spesifik diperlukan untuk melawan antigen dari imunitas non spesifik.
Antigen merupakan substansi berupa protein dan polisakarida yang
mampu merangsang munculnya sistem kekebalan tubuh (antibodi).
Mikrobia yang sering menginfeksi tubuh juga mempunyai antigen. Selain
itu, antigen ini juga dapat berasal dari sel asing atau sel kanker.Tubuh kita
seringkali dapat membentuk sistem imun (kekebalan) dengan sendirinya.
Setelah mempunyai kekebalan, tubuh akan kebal terhadap penyakit
tersebut walaupun tubuh telah terinfeksi beberapa kali. Sebagai contoh
campak atau cacar air, penyakit ini biasanya hanya menjangkiti manusia
sekali dalam seumur hidupnya. Hal ini karena tubuh telah membentuk
kekebalan primer. Kekebalan primer diperoleh dari B limfosit dan T
limfosit.
Sistem imun ini dibagi menjadi 2 yaitu
a. Sistem imun spesifik humoral
Sistem imun spesifik humoral yang berperan dalam sistem imun
humoral adalah limfosit B atau sel B. Sel B tersebut berasal dari sel
asal multi poten. Bila sel B di rangsang oleh benda asing, maka sel
tersebut akan berproliferasi dan berkembang mejadi sel plasma

4
yang dapat membentuk zat anti atau antibody. Antibodi yang di
lepas dapat di temukan di dalam serum. Fungi utama anti body ini
ialah untuk pertahanan terhadap unfeksi virus, bakteri (ekstra
seluler), dan dapat menetralkan toksinnya
b. Sistem imun spesifik seluler
Yang berperan dalam sistem imu spesifik seluler adalah limfosit T
atau sel T. Sel tersebut juga berasal dari sel asal yang sama dari sel
B, faktor timus yang di sbeut timusin yang dapat di temukan dalam
peradaran darah sebagai hormon asli dan dapat memberikan
pengaruhnya terhadap diferensiasi sel T di perifer. Berbeda dengan
sel B, sel T terdiri atas beberapa sel subset yang mempunyai fungsi
berlainan. Fungsi utama sel imun spesifik adalah untuk pertahanan
terhadap bakteri yang hidup intra seluler. Virus, jamur, parasit, dan
keganasan
2. Sistem imun non spesifik
Imunitas nonspesifik berupa komponen normal tubuh yang
merupakan pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan berbagai
mikroba dan dapat memberikan respon langsung. Selalu ditemukan pada
individu sehat dan siap mencegah bahan asing masuk tubuh dan dengan
cepat menyingkirkannya. Disebut nonspesifik karena tidak menunjukan
spesifitas terhadap bahan asing dan mampu melindungi tubuh terhadap
banyak patogen
Sistem imun nonspesifik terdiri dari:
a. Pertahanan fisik/mekanik
Kulit, selaput lendir, silia saluran pernapasan merupakan barier fisik
yang sulit untuk ditembus oleh sebagian besar zat yang dapat
menginfeksi tubuh.Keratinosit dan lapisan epidermis kulit sehat dan
epitel mukosa yang utuh tidak dapat ditembus kebanyakan mikroba.
b. Pertahanan biokimia
Bahan yang di sekresi mukosa saluran nafas, kelenjar sebaseus kulit,
sel kulit, telinga, spermin dalam semen. Mengandung bahan yang
berperan dalam pertahanan tubuh secara biokimiawi. Asam HCL

5
dalam cairan lambung, Lisozim dan fosfolipase yang terdapat pada
air mata dan saliva mampu melisiskan lapisan peptidoglikan dinding
bakteri. Asam lemak yang dilepaskan oleh kulit mempunyai efek
denaturasi terhadap protein membran sel sehingga dapat mencegah
infeksi yang dapat terjadi melalui kulit. Asam hidroklorida dalam
lambung, enzim proteolitik, antibodi dan empedu dalam usus halus
membantu menciptakan lingkungan yang dapat mencegah infeksi
oleh mikroba.
c. Pertahanan homural
Berbagai bahan dalam sirkulasi berperan pada pertahanan tubuh
secara humoral, bahan-bahan tersebut adalah:
1) Konplemen
Komplemen mengaktifkan vagosit dan membantu destruktif
bakteri dan parasit karena :
 Komplemen dapat menghancurkan sel mebran bakteri
 Merupakan faktor kematoktik yang mengarahkan magrofak
ke tempat bakteri
 Kompenen komplemen lain yang mengendap pada
permukaan bakteri memudahkan makrofak untuk mengenal
dan memvagositosis (opsonisasi).
2) Interferon
Adalah suatu glikoprotein yang dihasilakn oleh berbagai sel
manusia yang mengandung nukleus dan di lepaskan sebagai
respon terhadap infeksi virus. Interveron mempunyai sifat
antivirus denga jalan menginduksi sel sekitar, sel yang
terinveksi virus sehingga menjadi resisten terhadap virus. Di
smaping itu, interveron juga dapat mengaktifkan natural killer
sel (sel NK). Sel yang di infeksi virus atau menjadi ganas akan
menunjukan perubahan pada permuakaannya. Perubahan
tersebut akan di kenal oleh sel NK yang kemudian
membunuhnya. Dengan demikian penyebaran virus dapat di
cegah.

6
d. Pertahnan seluler
Vagosit atau makrofag dan sel NK berperan dalam sistem imun non
spesifik seluler. Meskipun berbagai sel dalam tubuh dapat melakukan
vogositosis tetapi sel utama ynag berperan adalah sel mononutklear
(monosit dan magrofag). Penghancuran kuman terjadi dalam
beberapa tingkat yaitu;
1) Kemotaksis, menagkap, memakan, membunuh, dan mencerna.
Kemotaksis adalah gerakan vagosit ketempat infeksis sebagai
respon terhadap berbagai faktor seperti produk bakteri dan faktor
biokimiawi yang diepas pada aktivitas komplemen
2) Antibodi seperti pada halnya dengan komplemen dapat
meningkatkan vagosistosis. Antigen yang diikan antibody akan
lebih mudah dikenal oleh vagosit untuk kemudian dihancurkan.
Makrofag merupakan salah satu jenis sel yang berperan
dalam fagositosis pathogen ataupun substansi asing (antigen) yang
masuk kedalam tubuh organisme. Makrofag berasal dari
hemopoietic stem cell di dalam sumsum tulang, akan mengalami
proliferasi dan akan dilepaskan ke dalam darah sesudah mengalami
fase monoblast, fase promonosit, limfosit dan makrofag. Di dalam
peredaran darah, monosit mempunyai fase hidup 1-2 hari.
Kemudian akan bermigrasi ke dalam jaringan selanjutnya
membentuk makrofag (Bloom & Fawcett, 1975, Roitt, dkk, 1998,
Efendi, 2003). Makrofag dapat melakukan replikasi secara lokal di
bawah kontrol faktor pertumbuhan spesifik yang disebut “colony
stimulating factor” (CSF), sedangkan monosit dalam sirkulasinya
tidak semuanya berdiferensiasi menjadi makrofag (Roitt, 1998).
Makrofag mempunyai waktu hidup yang panjang, dapat bertahan
hidup beberapa bulan sampai beberapa tahun tergantung
lingkungannnya. Jadi nama yang paling cocok untuk sistem ini
adalah Sistem Fagosit Mononuklear atau lebih sederhana sistem
makrofag.

7
Berbeda dengan neutrofil makrofag lebih serba guna dapat
mensintesa dan mensekresi secara aktif enzim baru, membuat
granula lebih banyak, dapat melakukan mitosis dan membelah diri
pada kondisi tertentu (Abbas, dkk, 1994, Roitt, dkk., 1998).
Makrofag merupakan sel yang unik dan luar biasa bila dilihat dari
kemampuannya merespon sistem imunitas alami dan adaptif.
Sel Natural Killer atau sel NK yaitu suatu limfosit
sitotoksik yang merupakan komponen utama dari sistem imun.
Berdasarkan morfologi, sel NK merupakan sebuah populasi
limfosit yang heterogen yang disebut dengan limfosit granular
besar (LGB) yang memiliki kemampuan untuk melisiskan sel
target yang tidak memiliki MHC kelas-1 dan tanpa memerlukan
adanya paparan dengan antigen sebelumnya. Hal ini juga
berpartisipasi pada sistem pertahanan imun host dalam melawan
infeksi, dan aktivitas anti tumor. Secara umum, sel NK
bertanggung jawab terhadap penolakan sel-sel tumor ataupun sel-
sel yang terinfeksi oleh mikroba.

2.3 Anatomi dan fisiologi imunologi


Sistem imunitas manusia berhubungan erat dengan sistem lifatik, karen
itu organ –organ yang berperan disini adalah organ-organ sistemik
limfatik. Dibagi menjadi dua yaitu;
1. Timus
Suatu jaringan limfatik yang terletak di sepanjang trakea di rongga
dada bagian atas. Fungsinya memproses limfosit muda menjadi T
limfosit

8
2. Sumsum tulang

Sumsum tulang menempati bagian dalam tulang spons dan


bagian tengah rongga tulang panjang. Sumsum merupakan 4%

9
sampai 5% berat badan total, sehingga merupakan yang paling
besar dalam tubuh. Sumsum bisa berwarna merah dan kuning.
Sumsum merah merupakan tempat produksi sel darah merah aktif
dan merupakan organ hematopoetik (penghasil darah) utama.
Sedang sumsum kuning, tersusun terutama oleh lemak dan tidak
aktif dalam produksi elemen darah. Selama masa kanak – kanan,
sebagian besar sumsum berwarna merah. Sesuai dengan
pertambahan usia, sebagian besar sumsum tulang panjang
mengalami perubahan menjadi sumsum kuning, namun masih
mempertahankan potensi untuk kembali berubah menjadi jaringan
hematopoetik apabila diperlukan. Sumsum merah pada orang
dewasa terbatas terutama pada rusuk, kolumna vertebralis, dan
tulang pipih lainnya.
Sumsum sangat banyak mengandung pembuluh darah dan
tersusun atas jaringan ikat yang mengandung sel bebas. Sel paling
primitif dalam populasi sel bebas ini adalah sel sistem yang
merupakan prekursor dari dua garis keturunan sel yang berbeda.
Garis keturunan mieloid meliputi eritrosit, berbagai jenis lekosit,
dan trombosit. Garis keturunan limfoid berdiferensiasi menjadi
limfosit.
a. Eritrosit
Sel darah merah normal terbentuk cakram bikonkaf,
konvigurasi mirip dengan bola lunak yang di pijat antara dua
jari. Diameternya sekitar 8 µm, namun sangat fleksibel
sehingga mampu melewati kapiler yang diameternya 4 µm.
Volume sel darah merah sekiar 90 m³. Membran sel darah
merah sangat tipis sehingga gas seperti karbon diogsida dapat
dengan mudah ber difusi melaluinya
Pigmen pembawa oksigen hemoglobin merupakan protein
yang berat molekulnya 64.000. molekul ini tersusun empat sub
unit, masing-masing mengandung bagian heme yang terikat
pada rantai globin. Besi berada pada bagian heme molikul ini.

10
Kemampuan khusus bagian heme adalah kemampuannya
mengikat oksigen secara longgar dan reversibel. Ketika
hemoglobin berikatan dengan oksigen, dinamakan
oksihemoglobin. Oksihemoglobin berwarna merah lebih terang
dibanding hemoglobin yang tidak mengandung oksigen
(hemoglobin teroduksi), maka darah arteri berwarna lebih
terang dari pada darah fena. Darah keseluruhan mengandung 15
g hemogglobin per 100 ml darah, atau 30 µmhemoglobin per
seribu eritrosit.

b. leukosit
Lekosit dalam dua kategori, granulosit dan sel mononuklear
(angranulosit). Dalam darah normal, jumlah total leukosit
adalah 5.000-10.000 sel per mm3. Sekitar 60% diantaranya
adalah granulosit dan 40% sel mononuklear. Lekosit dengan
mudah dapat dibedakan dari eretrosit dengan adanya inti,
ukurannya yang besar dan perbedaan kemampuan mengikat
warna Granulosit.
Fungsi lekosit adalah melindungi tubuh terhadap invasi
bakteri atau benda asing lainnya. Fungsi utama netrofilik PMN
adalah memakan benda asing (fagositosis) netrofil tiba di
tempat dalam waktu satu jam setelah awitan reaksi peradangan
dan memulai fagositosis, namun relatif berumur pendek.
Fungsi limfosit terutama menghasilakan subsstansi yang
membantu penyerangan benda asing. Sekelompok limfosit

11
(limfosit T) membunuh sel secara langsung atau menghasilkan
berbagai limfokin, suatu substansi yang memperkuat aktivitas
sel fagositik. Kelompok limfosit lainnya (limfosit B)
menghasilkan antibodi, suatu melekul protein yang akan
menghancurkan benda asing dengan berbagai mekanisme.

c. trombosit
Trombosit merupakan partikel kecil, berdiameter 2 sampai
4 µm, yang terdapat dalam sirkulasi plasma darah. Karena
dapat mengalami disintegrasi cepat dan mudah, jumlahnya
selalu berubah antara 150.000. dan 450.000 per mm3 darah,
tergantung jumlah yang dihasilkan, bagaimana digunakan, dan
kecepatan kerusakan. Dibentuk oleh pragmentasi sel raksasa
sumsum tulang, yang disebut megakariosit. Produksi trombosit
diatur oleh trombo protein. Trombosit berperan penting dalam
mengontrolperdarahan.

d. pembekuan darah
Pembekuan darah adalah proses dimana komponen cairan
darah ditransformasi menjadi material semisolid yang
dinamakan bekuan darah. Bekuan darah tersusun terutama oleh
sel-sel darah yang terperangkap dalam jaring-jaring fibrin.
Fibrin dibentuk oleh protein dalam plasma melalui urutan

12
reaksi yang kompleks. Berbagai faktor terlibat dalam tahap-
tahap reaksi pembentukan fibrin. Faktor pembekuan darah, dan
jalur ekstrinksik dan intrinksik pembentukan fibrin
diperlihatkan secara diagramatis.
Apabila jaringan mengalami cedera, jalur ekstrinksik akan
diaktivasi dengan pelepasan substansi yang dinamakan
tromboplastin. Sesuai urutan reaksi, protrombin mengalami
konversi menjadi thrombin, yang pada gilirannya mengkatalisir
fibrinogen menjadi fibrin. Kalsium (faktor IV) merupakan
kofaktor yang diperlukan dalam berbagai reaksi ini.

e. plasma darah
Apabila elemen seluler diambil darah, bagian cairan yang
tersisa dianamakan plasma darah. Plasma darah mengandung
ion, protein dan zat lain. Apabila plasma dibiarkan membeku ,
sisa cairan yang tertinggal dinamakan serum. Serum
mempunyai kandungan yang sama dengan plasma, kecuali
kandungan fibrinogen dan beberapa faktor pembekuan.
Protein plasma tersusun terutama oleh albumin dan
globulin. Globulin tersusun atas fraksi alfa, beta dan gama yang
dapat dilihat dengan uji laboratorium yang dinamakan
elektroforesis protein. Masing-masing kelompok disusun oleh
protein tertentu.
Gama globin yang tersusun terutama oleh natibodi. Protein
ini dihasilkan oleh limfosit dan sel plasma. Protein plasma
penting dalam fraksi alfa dan beta adalah globulin traspor dan
faktor pembekuan yang dibentuk dihati. Globulin tranport

13
membawa berbagai zat dalam bentuk terikat sepanjang
sirkulasi. Misalnya tiroid terikat globulin transport membawa
tiroksin dan transferin membawa besi. Faktor pembekuan,
termasuk fibrinogen, tatap dalam keadaan tidak aktif dalam
plasma darah sampai diaktifasi pada reaksi tahap-tahap
pembekuan

3. Tonsil

Jaringan limfatik yang terdiri dari kumpulan-kumpulan limfosit.


Fungsi; memproduksi lymphatic dan antibodi yang kemudian akan
masuk ke dalam cairan lymph.
Tonsil terletak pada;
Dinding dalam nosopharynx (tonsila pharingea) fosa tonsilaris di
samping belkang liah (tonsil palatina) dibawah lidah (tonsila liqualis)
Tonsil bukan merupakan kelenjer karena tidak memiliki pembuluh
lymph afferent, oleh sebab itu tonsil tidak menyaring cairan lympha
14
4. Nodus limpa

Adalah titik disepanjang pembuluh limfa yang memiliki ruang


sinus) yang mengandung limfosit dan makrofag.
Nodus limfa berfungsi sebagai;
Penyaring mikroorganisme dalam limfe ketika cairan tersebut
melewati nodus. Jadi bila jaringan terinfeksi, nodus limfatik bisa
menjadi bengkak mereda. Apabila infeksinya berat, organisme
penyebab infeksi akan menyebabkan peradangan akut dan distribusi
sehingga terbentuklah abses didalam nodus sehingga terbentuklah
abses didalam nodus tersebut. Apabila bakteri tidak berhasil dirusak
oleh nodus, bakteri tersebut dapat masuk ke dalam aliran limfe dan
menginfeksi sirkulasi sistemik dan menimbulkan septikemia.
1) Memproduksi limfosit baru untuk aliran darah. Sel-sel didalam
nodus bermultiplikasi secara konstan dan sel-sel yang baru
terbentuk akan dibawa oleh cairan limfe
2) Nodus dapat memproduksi beberapa antibodi dan antitoksi untuk
mencegah infeksi

15
Limpa ialah sebuah kelenjar berwarna ungu tua yang
terletak disebelah kiri abdomen didaerah hipogastrium kiri dibawah
iga sembilan, sepuluh, dan sebelas. Limpa berdekatan pada fundus
dan permukaan luarnya menyentuh diagfragma. Limpa menyentuh
ginjal kiro, kelokan kolon di kiri atas, dan ekor pankreas.
Limpa terdiri atas struktur jaringan ikat. Diantara jalinan-
jalinan itu tebentuk isi limpa atau pulpa yang terdiri atas jaringan
limfe dan sejumlah besar sel darah. Limpa dibungkus oleh kapsul
yang terdiri atas jaringan kolagen dan elastis yang terdiri dan
beberapa serabut otot halus. Serabut otot halus ini berperan
seadanya ada sangatkecil bagi limpa manusia. Dari kapsul itu
keluar tajuk-tajuk trabekulae yang masuk ke dalam jaringan limpa
dan membaginya ke dalam beberapa bagian.
Pembuluh darah limpa masuk dan keluar melalui hilum
yang berada di permukaan dalam. Pembuluh-pembuluh darah itu
menuankan isinya langsung ke dalam pulpa, sehigga darahnya
dapar bercampur dengan unsur-unsur limpa dan tidakseperti pada
organ-organ yang lain dipisah oleh pembuluh darah. Disini tidak
terdapat sistem kapiler biasa. Tetapi langsung berhubungan dengan
sel-sel limpa. Darah yang mengalir dalam limfa dikumpuklan lagi
oleh sistem sinus yang bekerja seperti vena dan yang
mengantarkannya kedalam cabang0cabang ini bersatu dan
membentuk vena limpa (vena lenalis). Vena ini membawa
darahnya masuk ke peredaran gerbang (peredaran portal) dan
diantarakan ke hati.

16
Fungsi limpa;
Sewaktu masa janin limoa membentuk sel darah merah dan
mungkin pada orang dewasa juga masih mengerjakannya bila
sumsum tulang rusak. Sel darah merah yang sudah rusak
dipisahkan dari sirkulasi. Limfa juga menghasilkan limfosit.
Diperkirakan juga limfa bertugas menghancurkan sel darah putuh
dan trombosit. Sebagai bagian dari sistema retikulo endoteleal,
limpa juga terlibat dlam perlindungan terhadap penyakit dan
menghasilkan zat-zat antibodi

2.4 Patofisiologi SLE dan Rematik


1. Patofisiologi SLE
Penyakit SLE (systemic lupus eritematosus) terjadi akibat
terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan
autoantibody yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini
ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetic, hormonal
(sebagai mana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi
selama usia reproduktif). Dan lignkungan (cahaya matahari, stress,
infeksi). Obat-obat tertentu seperti hidralzin, procainamid, isoniazid,
klorpromazin dan beberapa preparat anti konfulsan disamping
makanan seperti kecambah turut terlibat dalam penyakit SLE akibat
senyawa kimia atau obat-obatan.
Pada SLE, peningkatan produksi autoantibody diperkirakan terjadi
akibat fungsi sel T supresor yang abnormal sehingga timbul

17
penumpakan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan
menstimulasi antigen yang selanjutnya serangan anibody tambahan
dan siklus tersebut berulang kembali
Kerusakan pada organ SLE didasari pada reaksi imonologi. Reaksi
ini menimbulkan abnormualitas respon imun didalam tubuh, yaitu :
a. Sel T dan sel B menjadi otoreaktif
b. Pembentuka sitokin yang berlebihan
c. Hilangnya regulasi konrol pada sistem imun yaitu:
1. Hilangnya kemampuan membersihkan antigen dikompleks
imun maupun sitokin dalam tubuh
2. Menurunnya kemampuan mengendalikan apoptosis
3. Hilangnya toleransi imun: sel T mengenali molekul tubuh
sebagai antigen karena adanya mimikrin molekuler
Akibat proses tersebut makan terbentuk berbagai macam
antibody didalam tubuh yang disebut sebagai autoantibody.
Selanjutnya antibody yang tersebut membentuk kompleks imun.
Kompleks imun tersebut terdeposisi pada jaringan atau organ yang
akibatnya menimbulkan gejala inflamasi atau kerusakan jaringan

2. Patofisiologi Rematik
Pemahaman mengenai anatomi normal dan fisiologi persendian
diartrodial atau sinovial merupakan kunci untuk memahami
patofisiologi penyakit reumatik. Fungsi persendian sinovial adalah
gerakan. Setiap sendi sinovial memiliki kisaran gerak tertentu kendari
masing-masing orang tidak mempunyai kisaran gerak yang sama pada
sendi-sendi yang dapat digerakkan.
Pada sendi sinovial yang normal, kartilago artikuler membungkus
ujung tulang pada sendi dan menghasilkan permukaan yang licin serta
ulet untuk gerakan. Membran sinovial melapisi dinding dalam kapsula
fibrosa dan meskresikan cairan ke dalam ruangan anyar-tulang. Cairan
sinovial ini berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) dan

18
pelumas yang memungkinkan sendi untuk bergerak secara bebas
dalam ayrah yang tepat.
Sendi merupakan bagian tubuh yang paling sering terkena
inflamasi dan degenerasi yang terlihat pada penyakit reumatik.
Meskipun memiliki keanekaragaman mulai dari kelainan yang terbatas
pada satu sendi hingga kelainan multisistem yang sistemik, semua
penyakit reumatik meliputi inflamasi dan degenerasi dalam derajat
tertentu yang bisa terjadi sekaligus. Inflamasi akan terlihat pada
persendian sebagai sinovitis. Pada penyakit reumatik inflamatori ,
inflamasi merupakan proses primer dan degenerasi yang terjadi
merupakan proses sekunder yang timbul akibat pembentukan pannus
(ploriferasi jaringan sinovial). Inflamasi merupakan akibat dari respons
imun.
Sebaliknya, pada penyakit reumatik degeneratif dapat terjadi
proses inflamasi yang sekunder. Sinovitis ini biasanya lebih ringan
serta menggambarkan suatu proses reaktif, dan lebih besar
kemungkinannya untuk terlihat pada penyakit yang lanjut. Sinovitis
dapat berhubungan dengan pelepasan proteoglikan tulang rawan yang
bebas dari kartilago artikuler yang mengalami degenerasi kendati
faktor-faktor imunologi dapat pula terlibat.
Pemahaman tentang proses ini dan bagaimana proses ini saling
berhubungan merupakan kunci untuk mencapai penegakan diagnosis,
penatalaksanaan penyakit dan intervensi keperawatan yang akurat bagi
penderita penyakit reumatik.

19
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sistem imun adalah suatu sistem pertahanan tubuh yang komplek yang
memberikan perlindungan terhadap adanya infasi zat asing ke dalam
tubuh. Sistem imun terbagi menjadi 2 yaitu sistem imunspesifik dan non
spesifik. Sistem imun berfungsi sebagai pelindung tubuh dari invasi
penyebab penyakit, menghancurkan dan menghilangkan mikroorganisme
atau subtansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus serta tumor) yang
masuk ke dalam tubuh.
Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun, dimana
antibodi abnormal berlebihan diproduksi oleh Sistem kekebalan tubuh
pasien disfungsional menyalah artikan sel-sel tubuh untuk musuh, secara
langsung atau tidak langsung menyerang organ dan jaringan yang
menyebabkan peradangan kronis.
3.2 Saran
Di sarankan kepada mahasiswa keperawatan dapat membaca dan memiliki
pengetahuan yang luas, serta dapat lebih mengerti tentang anatomi fisiologi sistem
imun, patofisiologi SLE dan rematik.

20
DAFTAR PUSTAKA
Suddarth’s & Brunner,. 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Vol,.
3.E/8,. Jakarta
Waugh A., Grant A. 2014. Buku Kerja Anatomi dan Fisiologi Ross and Wilson.
Edisi Bahasa indinesia 3. Churchill Livingstone;Elsevier singapore pte.ltd

21