Anda di halaman 1dari 65

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Transisi demografi juga menyebabkan perubahan transisi epidemiologi

karena pemerintah berhasil menekan angka penyakit infeksi, namun di sisi lain

penyakit yang berkaitan dengan faktor penuaanpun meningkat, seiring dengan

semakin banyaknya proporsi warga lansia di Indonesia. Penyakit yang berkaitan

dengan faktor penuaan sering disebut penyakit degeneratif, di antaranya

Osteoarthritis, yang selanjutnya akan disingkat OA (Noor, 2013).

Osteoarthritis adalah tipe dari arthritis yang disebabkan oleh kerusakan

atau penguraian dan akhirnya kehilangan tulang muda (cartilage) dari satu atau

lebih sendi-sendi. Cartilage adalah senyawa protein yang melayani sebagai

"bantal" antara tulang-tulang dari sendi-sendi. OA juga dikenal sebagai

degenerative arthritis. Diantara lebih dari 100 tipe-tipe yang berbeda dari

kondisi-kondisi arthritis, OA adalah yang paling umum, mempengaruhi lebih

dari 20 juta orang-orang di Amerika. OA terjadi lebih sering ketika kita menua.

Sebelum umur 45 tahun, OA terjadi lebih sering pada pria-pria. Setelah umur

55 tahun, ia terjadi lebih sering pada wanita-wanita. Di seluruh dunia, OA

diperkirakan menjadi penyebab utama keempat kecacatan. OA terjadi pada

lebih dari 27 juta penduduk Amerika. Di Inggris dan Wales sekitar 1,3 hingga

1,75 juta orang menderita simptom OA. Di Amerika, 1 dari 7 penduduk

menderita Osteoarthritis. Dimana, Badan Kesehatan Dunia (WHO), penduduk

yang mengalami OA tercatat 8,1% dari penduduk total. Pravelansi mencapai

5% pada usia <40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada usia 61

1
2

tahun. Prevalensi OA pada laki-laki sebelum usia 50 tahun lebih tinggi

dibandingkan perempuan, tetapi setelah usia lebih dari 50 tahun prevalensi

perempuan lebih tinggi menderita OA dibandingkan laki-laki. Perbedaan

tersebut menjadi semakin berkurang setelah menginjak usia 80 tahun. Hal

tersebut diperkirakan karena pada masa usia 50 – 80 tahun wanita mengalami

pengurangan hormon estrogen yang signifikan (Noor, 2013) (Noor, 2013).

Pasien OA biasanya mengeluh nyeri pada waktu melakukan aktivitas

atau jika ada pembebanan pada sendi yang terkena. Pada derajat yang lebih

berat, nyeri dapat dirasakan terus menerus sehingga sangat mengganggu

mobilitas pasien. Diperkirakan 1 sampai 2 juta orang usia lanjut di Indonesia

menderita cacat karena OA. Oleh karena itu tantangan terhadap dampak OA

akan semakin besar karena semakin banyaknya populasi yang berusia tua

(Kambayana, 2011).

Faktor risiko lain adalah riwayat keluarga dengan OA, berat badan

berlebih. Di masa lalu gemuk merupakan suatu kebanggaan dan merupakan

kriteria untuk mengukur kesuburan dan kemakmuran suatu kehidupan, sehingga

pada saat itu banyak orang berusaha menjadi gemuk dan mempertahankannya

sesuai dengan status sosialnya. Sekitar tahun 1970an beberapa penelitian

epidemiologik melaporkan bahwa peningkatan berat badan yang berlebihan /

obesitas selalu berhubungan dengan risiko tinggi kesakitan dan kematian,

sehingga merupakan masalah besar bagi kesehatan masyarakat (Agus,2008).

Jumlah penderita obesitas di Indonesia pun terus bertambah dari tahun

ke tahun. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada

kelompok umur dewasa sebanyak 14,76 % dan berat badan lebih sebesar

2
3

11,48%. Dengan demikian prevalensi kelompok dewasa kelebihan berat badan

sebesar 26,23. Kecenderungan prevalensi obesitas penduduk laki-laki dewasa

pada tahun 2013 sebanyak 19,7 persen, lebih tinggi dari tahun 2007 (13,9%)

dan tahun 2010 (7,8%). Pada obesitas perempuan dewasa (>18 tahun) 32,9

persen, naik 18,1 persen dari tahun 2007 (13,9%) dan 17,5 persen dari tahun

2010 (15,5%) (Kemenkes RI, 2014).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa salah satu permasalahan yang

sering dialami penderita obesitas adalah osteoartritis lutut. Aini (2009) dari hasil

uji Odds ratio menemukan hasil responden dengan Indeks Massa Tubuh (IMT)

normal (OR = 1,5) memiliki risiko 1,5 kali lebih besar untuk menderita

osteoarthritis lutut dibandingkan dengan responden dengan IMT kurang,

responden dengan IMT lebih (OR = 4,9) memiliki risiko 4,9 kali lebih besar

untuk menderita osteoartritis lutut dibandingkan responden dengan IMT

normal. Berdasarkan perhitungan statistik, ternyata didapatkan hubungan yang

bermakna antara obesitas dengan osteoartritis lutut pada lansia di Kelurahan

Puncangsawit Kecamatan Jebres Surakarta. Hasil penelitian yang sama oleh

Pratiwi (2008) menemukan ada hubungan IMT dengan hubungan OA lutut dan

orang dengan IMT ≥ 25 memiliki resiko 4.5 kali menderita OA dibandingkan

dengan IMT < 25 (norma/kurus).

Lau (2000) dalam Rustono (2008) menyimpulkan bahwa semakin berat

tubuh akan meningkatkan risiko menderita OA lutut usia lanjut. Obesitas pada

usia 36 – 37 tahun merupakan faktor risiko menderita OA lutut usia lanjut pada

usia tua (70 tahun atau lebih). Kehilangan 5 kg berat badan akan mengurangi

risiko OA lutut usia lanjut secara simtomatik pada wanita sebesar 50%.

3
4

Demikian juga peningkatan risiko mengalami OA lutut usia lanjut yang

progresif tampak pada orang-orang yang kelebihan berat badan dengan penyakit

pada bagian tubuh tertentu. Sebaliknya Rustono (2008) menyimpulkan tidak

ada korelasi antara status gizi / obesitas dengan OA lutut pada lansia.

Sebagian besar penderita osteoartritis selalu mengalami obesitas hal ini

diakibatkan karena keadaan obesitas dapat meningkatkan tekanan pada tulang

sehingga tulang rawan yang terdapat di persendian-persendian yang menopang

berat badan seperti sendi lutut, sendi panggul atau sendi tulang belakang bisa

makin cepat aus (Setyohadi, 2009).

Meskipun belum ada data yang pasti mengenai prevalensi OA di

Sulawesi Selatan dan Kabupaten Luwu, tetapi menurut laporan Penyakit Tidak

Menular (PTM) Puskesmas Ponrang kabupaten Luwu dari laporan kasus yang

melakukan kunjungan pada bulan Juli tahun 2018 sebanyak 34 kasus

(Puskesmas Ponrang kabupaten Luwu, Juli 2018).

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “hubungan jenis kelamin dan obsesitas dengan kejadian

osteoartritis lutut pada lansia di wilayah kerja puskesmas Ponrang kabupaten

Luwu tahun 2018”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan

masalah penelitian ini adalah “ apakah jenis kelamin dan obsesitas berhubungan

dengan kejadian osteoartritis lutut pada lansia di wilayah kerja puskesmas

Ponrang kabupaten Luwu?”

4
5

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan jenis kelamin dan obsesitas dengan kejadian

osteoartritis lutut pada lansia di wilayah kerja puskesmas Ponrang

kabupaten Luwu.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui hubungan jenis kelamin dengan kejadian osteoartritis lutut

pada lansia di wilayah kerja puskesmas Ponrang kabupaten Luwu.

b. Mengetahui hubungan obsesitas dengan kejadian osteoartritis lutut pada

lansia di wilayah kerja puskesmas Ponrang kabupaten Luwu.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas

Hasil penelitian dapat memberikan informasi dan bahan pertimbangan

dalam penanganan penyakit OA pada lansia melalui pengendalian berat

badan.

2. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan

Penelitian ini dapat menjadi referensi untuk meningkatkan

pengetahuan tentang faktor resiko penyakit OA pada lansia.

3. Bagi Masyarakat

Penelitian ini dapat memberikan informasi faktor resiko terjadinya

OA dan cara pencegahannya.

5
6

4. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk

mengembangkan kajian ilmiah tentang penyakit OA pada lansia.

E. Keaslian Penelitian

Sepengetahuan penulis beberapa penelitian tentang OA pernah dilakukan

diantaranya Hidayat ( 2008 ) dengan judul stres oksidatif sebagai faktor- risiko

kerusakan tulang rawan sendi osteoartritik, dengan metode eksperimental

laboratories dengan hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang

bermakna antara derajat instabilitas dengan terjadinya peroksidasi lemak dan

peningkatan iNOS. Aini (2009) dengan judul penelitian hubungan obesitas

dengan Osteoarthritis pada lansia di Kelurahan Puncangsawit Kecamatan

Jebres Surakarta, penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross

sectional, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hampir semua lansia dengan

IMT berlebih (obesitas) menderita Osteoarthritis lutut. Didapatkan X² hitung

(9,62) lebih besar dari X² tabel (5,991) dengan taraf signifikansi α 0,05 dan

derajat bebas (db) 2. Dan dari uji Odds ratio didapatkan hasil responden dengan

IMT normal (OR = 1,5) memiliki risiko 1,5 kali lebih besar untuk menderita

Osteoarthritis lutut dibandingkan dengan responden dengan IMT kurang, dan

responden dengan IMT lebih (OR = 4,9) memiliki risiko 4,9 kali lebih besar

untuk menderita Osteoarthritis lutut dibandingkan responden dengan IMT

normal.

Kemudian Maharani (2007) dengan judul faktor-faktor risiko Osteoarthritis

lutut, jenis penelitian observasional dengan rancangan studi kasus kontrol (case

- control study), hasil penelitiannya menunjukkan faktor yang terbukti sebagai

6
7

faktor risiko OA lutut adalah obesitas berat (Indeks MassaTubuh>27) dengan

nilai p = 0,046; OR adjusted = 2,51; 95% CI = 1,22 – 5,26, riwayat trauma lutut

(nilai p = 0,033; OR adjusted = 2,90; 95% CI = 1,09 – 7,75), kebiasaan aktivitas

fisik berat (nilai p = 0,006; OR adjusted = 2,25; 95% CI = 1,09 – 6,67) dan

kebiasaan kerja dengan beban >17,5 kg (nilai p = 0,008; OR adjusted = 2,19;

95% CI = 1,05 – 6,65).

Sehingga penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Maharani

(2007) dengan perbedaan pada lokasi penelitian.

7
8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Osteoarthritis

1. Defenisi

Osteoarthritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak. Penyakit

ini bersifat kronik, berjalan progresif lambat, tidak meradang, dan ditandai

oleh adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan

tulang baru pada permukaan persendian (Kambayana, 2011).

Osteoarthritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif dengan

etiologi dan patogenesis yang belum jelas serta mengenai populasi luas.

Osteoarthritis merupakan gangguan yang disebabkan oleh multifaktorial

antara lain usia, mekanik, genetik, humoral dan faktor kebudayaan.

Osteoarthritis merupakan suatu penyakit dengan perkembangan slow

progressive, ditandai adanya perubahan metabolik, biokimia, struktur rawan

sendi serta jaringan sekitarnya, sehingga menyebabkan gangguan fungsi

sendi.Kelainan utama pada OA adalah kerusakan rawan sendi yang dapat

diikuti dengan penebalan tulang subkondral, pertumbuhan osteofit,

kerusakan ligamen dan peradangan ringan pada sinovium, sehingga sendi

yang bersangkutan membentuk efusi (Setiyohadi,2009).

Osteoarthritis diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu OA

primer dan OA sekunder. Osteoarthritis primer disebut idiopatik,

disebabkan faktor genetik, yaitu adanya abnormalitas kolagen sehingga

mudah rusak. Sedangkan OA sekunder adalah OA yang didasari kelainan

endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, mikro dan makro trauma,

8
9

imobilitas yang terlalu lama serta faktor risiko lainnya, seperti obesitas dan

sebagainya.

Ahli rematologi mengklasifikasikan status fungsional pasien rematik

sebagai berikut:

a. Kelas I: benar-benar mampu melakukan kegiatan biasa hidup sehari-hari

b. Kelas II: mampu melakukan perawatan diri sendiri biasa dan kegiatan

kerja tapi terbatas pada kegiatan di luar pekerjaan (misalnya olahraga

bermain, pekerjaan rumah tangga)

c. Kelas III: mampu melakukan kegiatan mandiri perawatan biasa tapi

terbatas pada pekerjaan dan kegiatan lain

d. Kelas IV: terbatas dalam kemampuan untuk melakukan perawatan diri

biasa, pekerjaan, dan kegiatan lainnya (Kambayana, 2011).

Keterbatasan fungsi fisik yang biasanya terjadi pada penderita

penyakit rematik adalah pada hal-hal seperti berjalan 1 atau 2 kilometer,

menaik 1 atau 2 tangga, membuka penutup botol yang belum dibuka,

membersihkan rumah, bekerja di kebun, mengangkat barang-barang yang

berat, mencuci rambut, berdiri dari suatu kerusi yang tegak lurus, turun dari

tempat tidur, mengangkat segelas air yang terisi penuh, mengeringkan

badan selepas mandi dan lain-lain lagi (Kambayana, 2011).

2. Epidemiologi

OA merupakan penyakit dengan prevalensi yang tertinggi dalam

kelompok masyarakat kita dan penyebab kedua tersering dalam

ketidakmampuan pada orang tua di negara-negara barat. Prevalensi OA

meningkat dengan usia karena kondisi yang tidak reversible. Pada usia

9
10

kurang dari 45 tahun, laki-laki lebih rentan kena penyakit ini jika

dibandingkan dengan wanita, tetapi wanita lebih rentan kena OA pada usia

lebih dari 55 tahun. Pada dekad seterusnya, didapati kasus OA akan semakin

meningkat akibat daripada peningkatan orang usia lanjut, obesitas, dan

kurangnya kebiasaan berolahraga (Hamijoyo,2014).

3. Patogenesis Osteoarthritis

Terjadinya OA tidak lepas dari banyak persendian yang ada di dalam

tubuh manusia. Sebanyak 230 sendi menghubungkan 206 tulang yang

memungkinkan terjadinya gesekan. Untuk melindungi tulang dari gesekan,

di dalam tubuh ada tulang rawan. Namun karena berbagai faktor risiko yang

ada, maka terjadi erosi pada tulang rawan dan berkurangnya cairan pada

sendi. Tulang rawan sendiri berfungsi untuk meredam getar antar tulang.

Tulang rawan terdiri atas jaringan lunak kolagen yang berfungsi untuk

menguatkan sendi, proteoglikan yang membuat jaringan tersebut elastis dan

air (70% bagian) yang menjadi bantalan, pelumas dan pemberi nutrisi

(Hamijoyo,2014).

Kondrosit adalah sel yang tugasnya membentuk proteoglikan dan

kolagen pada rawan sendi. Osteoarthritis terjadi akibat kondrosit gagal

mensintesis matriks yang berkualitas dan memelihara keseimbangan antara

degradasi dan sintesis matriks ekstraseluler, termasuk produksi kolagen tipe

I, III, VI dan X yang berlebihan dan sintesis proteoglikan yang pendek. Hal

tersebut menyebabkan terjadi perubahan pada diameter dan orientasi dari

serat kolagen yang mengubah biomekanik dari tulang rawan, sehingga

tulang rawan sendi kehilangan sifat kompresibilitasnya yang unik. Selain

10
11

kondrosit, sinoviosit juga berperan pada patogenesis OA, terutama setelah

terjadi sinovitis, yang menyebabkan nyeri dan perasaan tidak nyaman.

Sinoviosit yang mengalami peradangan akan menghasilkan Matrix

Metalloproteinases (MMPs) dan berbagai sitokin yang akan dilepaskan ke

dalam rongga sendi dan merusak matriks rawan sendi serta mengaktifkan

kondrosit. Pada akhirnya tulang subkondral juga akan ikut berperan, dimana

osteoblas akan terangsang dan menghasilkan enzim proteolitik. Agrekanase

merupakan enzim yang akan memecah proteoglikan di dalam matriks rawan

sendi yang disebut agrekan. Ada dua tipe agrekanase yaitu agrekanase 1

(ADAMTs-4) dan agrekanase 2 (ADAMTs-11). MMPs diproduksi oleh

kondrosit, kemudian diaktifkan melalui kaskade yang melibatkan proteinase

serin (aktivator plasminogen, plamsinogen, plasmin), radikal bebas dan

beberapa MMPs tipe membran. Kaskade enzimatik ini dikontrol oleh

berbagai inhibitor, termasuk TIMPs dan inhibitor aktifator plasminogen.

Enzim lain yang turut berperan merusak kolagen tipe II dan proteoglikan

adalah katepsin, yang bekerja pada pH rendah, termasuk proteinase aspartat

(katepsin D) dan proteinase sistein (katepsin B, H, K, L dan S) yang

disimpam di dalam lisosom kondrosit. Hialuronidase tidak terdapat di dalam

rawan sendi, tetapi glikosidase lain turut berperan merusak proteoglikan.

Adanya proses degenerasi ini menyebabkan kondrosit sebagai sel

yang membentuk proteoglikan dan kalangan pada rawan sendi, menjadi

meningkat tajam. Tetapi substansi ini dihancurkan dengan kecepatan yang

lebih tinggi. Sehingga pembentukan tidak mengimbangi kebutuhan,

sejumlah kecil kartilago tipe I menggantikan tipe II yang normal, sehingga

11
12

terjadi perubahan pada diameter dan orientasi serat kolagen yang mengubah

biomekanika dari kartilago. Rawan seni ini kemudian kehilangan sifat

kompresibilitasnya yang unik, perubahan-perubahan dalam fungsi

kondrosit, menimbulkan perubahan pada kompetensi rawan sendi yang

mengarah pada perkembangan osteoarthritis (Sylvia & Lorraine, 2005).

4. Gejala dan Tanda Klinik Osteoarthritis

Pada umumnya, gambaran klinis Osteoarthritis berupa nyeri sendi,

terutama bila sendi bergerak atau menanggung beban, yang akan berkurang

bila penderita beristirahat. Nyeri dapat timbul akibat beberapa hal, termasuk

dari periostenum yang tidak terlindungi lagi, mikrofaktur subkondral, iritasi

ujung-ujung saraf di dalam sinovium oleh osteofit, spasme otot

periartikular, penurunan aliran darah di dalam tulang dan peningkatan

tekanan intraoseus dan sinovitis yang diikuti pelepasan prostaglandin,

leukotrien dan berbagai sitokin. Selain nyeri, dapat pula terjadi kekakuan

sendi setelah sendi tidak digerakkan beberapa lama (gel phenomenon),

tetapi kekakuan ini akan hilang setelah sendi digerakkan. Jika terjadi

kekakuan pada pagi hari, biasanya hanya berlangsung selama beberapa

menit, tidak lebih dari 30 menit (Sylvia & Lorraine ,2005).

Gambaran lainnya adalah keterbatasan dalam bergerak, nyeri tekan

lokal, pembesaran tulang di sekitar sendi, efusi sendi dan krepitasi.

Keterbatasan gerak biasanya berhubungan dengan pembentukan osteofit,

permukaan sendi yang tidak rata akibat kehilangan rawan sendi yang berat

atau spasme dan kontraktur otot periartikular. Nyeri pada pergerakan dapat

timbul akibat iritasi kapsul sendi, periostitis dan spasme otot periartikular.

12
13

Beberapa penderita mengeluh nyeri dan kaku pada udara dingin dan atau

pada waktu hujan. Hal ini mungkin berhubungan dengan perubahan tekanan

intra artikular sesuai dengan perubahan tekanan atmosfir. Beberapa gejala

spesifik yang dapat timbul antara lain adalah keluhan instabilitas pada

penderita OA lutut pada waktu naik turun tangga, nyeri pada daerah lipat

paha yang menjalar ke paha depan pada penderita OA koksa atau gangguan

menggunakan tangan pada penderita OA tangan (Sylvia & Lorraine ,2005).

5. Diagnosis

Diagnosis OA biasanya berdasarkan tanda-tanda klinis dan radiogafi.

Diagnosis dapat ditegakan berdasarkan gejala penyakit dan dengan

melakukan pemeriksaan tambahan , yaitu :

a. Rontgen Tulang

Dengan rontgen kita dapat mengetahui dengan jelas kerusakan atau

perubahan-perubahan yang terjadi pada tulang rawan atau tulang yang

diindikasikan mengalami Osteoarthritis.

b. MRI ( Magnetic Resonance Imaging )

Kita dapat melihat kelainan-kelainan yang terjadi pada tulang rawan

atau tulang yang diindikasikan mengalami Osteoarthritis. Pemeriksaan

ini lebih baik dibanding dengan rontgen.

c. Aspirasi sendi ( arthrocentesis )

Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara mengambil sedikit cairan

yang ada dalam sendi untuk diperiksa di laboratorium untuk memeriksa

apakah terjadi kelainan pada sendi (Sylvia & Lorraine, 2005)

13
14

Menurut Merdikoputro dalam Maharani (2007) untuk mendiagnosis

penyakit Osteoarthritis dapat juga menggunkan kriteria Altman, yakni bila

ada seorang penderita hanya ditemukan nyeri sendi maka untuk

mendiagnosis Osteoarthritis harus ditambah 3 kriteria dari 5 kriteria :

a. Usia lebih dari 50 tahun

b. kaku sendi kurang dari 30 menit

c. Nyeri tekan pada sendi

d. Pembesaran tulang

e. Pada perabaan sendi lutut tidak panas.

6. Penatalaksanaan Osteoarthritis

Tujuan dari penatalaksanaan pasien yang mengalami OA adalah

untuk edukasi pasien, pengendalian rasa sakit, memperbaiki fungsi sendi

yang terserang dan menghambat penyakit supaya tidak menjadi lebih parah.

Penatalaksanaan OA terdiri dari terapi non obat (edukasi, penurunan berat

badan, terapi fisik dan terapi kerja), terapi obat, terapi lokal dan tindakan

bedah.

Sasaran dari penatalaksanaan berfokus pada pengobaan gejala-

gejala karena tidak ada pengobatan yang tersedia untuk menghentikan

proses penyakit degeneratif sendi. Penalaksanaan Osteoarthritis haruslah

bersifat multifokal dan individual, tujuan dari penatalaksanaan adalah untuk

mencegah atau menahan kerusakan yang lebih lanjut pada sendi tersebut

dan untuk mengatasi nyeri serta kaku sendi guna mempertahankan mobilitas

(Sylvia & Lorraine ,2005) .

14
15

a. Pengobatan Fisik

1) Isitirahat

Mengistirahatkan sendi yang meradang akut dengan

memasang bidai biasanya efektif.

2) Latihan Fisioterapi

Adapun fungsi dari fisioterapi ini yakni untuk menghilangkan

nyeri dan mempertahankan kekuatan otot, daya tahan, dan rentang

gerak. Untuk menghindari kesalahan dalam pergerakan dan

menghindari kekambuhan maka latihan yang dilakukan adalah

sebagai berikut :

a). Aktivitas aerobik, misalnya jalan kaki, jongging melompat,

bersepeda baik yang stasioner maupun yang jalan, senam, dan

berenang. Latihan fisik berupa jalan kaki sangat bermanfaat untuk

menjaga jantung dan peredaran darah.

b). Lakukan gerakan kepala ke samping dan ke depan. Jangan

lakukan gerakan memutar leher atau melengkung leher ke

belakang. Ulangi gerakan sebanyak 8 – 16 kali.

c). Kelenturan dapat dilatih dengan memperbanyak aktivitas fisik

dalam kehidupan sehari-hari. Latihan ini penting untuk

memperbaiki dan memelihara daerah gerakan dan untuk melatih

perimbangan serta koordinasi.

d). Latihan menggunakan beban yang bertujuan untuk memperkuat

otot dan tulang. Harus diperhatikan beban yang digunakan, yaitu

dengan mempertimbangkan umur, jenis kelamin, bentuk dan tipe

15
16

tubuh, kebiasaan berolahraga, dan berat beban itu sendiri,

misalnya gerakan yang dapat anda lakukan dengan mengangkat 5

kg beban. Tahap ini harus dimulai dengan 40% dari berat beban

tersebut, yaitu 2 kg. ketika melakukan latihan fisik dengan beban

perlu diperhatikan hal-hal berikut :

(1) Naikkan beban berlahan-lahan, jangan lebih dari 5-10% pada

setiap kali kenaikkan beban.

(2) Hindari cedera dengan melakukan gerakan perlahan-lahan

bertahap lakukan 10 kali ulangan.

(3) Lakukan 3 kali/minggu atau 2 kali/minggu.

(4) Bagi mereka yang menderita tekanan darah tinggi, jantung

atau masalah pada perdarahan darah sebaiknya tidak

menggunakan beban waktu jalan.

(5) Bagi mereka kyang memiliki masalah pada leher, punggung,

atau lengan jangan menggunakan beban.

(6) Lakukan pengulangan (rutin) sehingga lama-lama beban itu

terasa semakin ringan (Joewono, 2006).

3) Kompres dingin atau hangat

Pemakaian kompres es atau hangat pada sendi yang sakit dapat

menghilangkan nyeri untuk sementara, (Joewono, 2006).

4) Melindungi Sendi

Dengan menghindari pemakaian sendi dalam satu posisi untuk

waktu yang lama, dan pemakaian sendi yang paling kuat untuk suatu

gerakan tertentu, (Joewono, 2006).

16
17

b. Terapi Farmakologi

Pemakaian obat-obatan dirancang untuk mengontrol nyeri pada

sendi dan untuk mengendalikan timbulnya sinovitis. Obat-obat anagetik

yang dapat digunakan adalah ; asetaminofen, aspirin dan ibuprofen yang

biasanya cukup untuk menghilangkan nyeri. Aspirin atau astaminofen,

650 mg tiap 4 – 6 jam bila perlu dapat diberikan pada pasien-pasien

dengan nyeri ringan atau intermiten. Jika nyeri tidak dapat diatasi dengan

salisilat atau asetaminofen, maka OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-

Steroid) perlu diberikan dalam dosis separuh, (Sylvia & Lorraine ,2005).

Obat-obat antireumatik yang dapat mengubah penyakit tidak

dipakai untuk mengobati Osteoarthritis, sebab penyakit ini bukanlah

penyakit sistemik. Kortikosteroid oral biasanya merupakan kontra

indikasi. Obat-obat ini biasanya tidak efektif dalam memperbaiki gejala-

gejala yang timbul dan potensi toksiknya membuat pemakaian obat-obat

ini mengandung resiko, (Sylvia & Lorraine ,2005).

c. Pembedahan

Penatalaksanaan Osteoarthritis dengan cara operasi dirancang

untuk memperbaiki jaringan penyokong yang rusak, atau untuk

menggantikan seluruh sendi yang biasa disebut dengan Bedah artroskopi.

Bentuk operasi lain yang dipakai untuk mengatasi Osteoarthritis adalah

osteotomi angulasi. Hal ini dipakai untuk mengobati Osteoarthritis lutut

yang hanya mempengaruhi satu kompartemen saja. Nyeri sendi dapat

dihilangkan dengan memperbaiki defornitas varus atau valgus dengan

cara menyambungkan satu bagian rawan sendi yang sehat dengan rawan

17
18

sendi lain yang juga masih sehat. Fusi tulang-tulang pada sendi mungkin

diperlukan untuk menghilangkan nyeri pada kasus-kasus Osteoarthritis

yang berat (Sylvia & Lorraine ,2005).

7. Strategi Penatalaksanaan

a. Pendidikan Pasien. Pasien dengan berbagai tipe atritis perlu diberitahu

bahwa meskipun artritis yang dideritanya tidak dapat disembuhkan,

namun dapat dikontrol dalam hal mengatasi nyeri dan mempertahankan

gaya hidup yang lazim. Mitos-mitos tentang penyakit dan

pengobatannya perlu dihilangkan guna meminimalkan ketakutan-

ketakutan yang tidak perlu dan harapan yang salah akan kesembuhan.

Penjelasan mengenai rasional masing-masing terapi yang melibatkan

keluarga pasien dan memperhatikan keprihatinan pasien akan biaya dan

kenyamanan, akan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap

pengobatan (Joewono, 2006)

b. Dukungan Psikososial. Dukungan dan keprihatinan dokter sangat

penting dalam membantu pasien mengatasi reaksi emosional terhadap

penyakit. Keluarga perlu memahami defisit fungsional yang dialami

penderita agar dapat membantunya bila diperlukan tanpa menyebabkan

penderita menjadi tergantung. Oleh karena penatalaksanaan kebutuhan

psikososial pasien secara invidividual sangat kompleks, maka dokter

perlu merujuk pasien kepada pekerja sosial, penyuluh, kelompok-

kelompok terapi, badan kemasyarakatan, atau psikiater untuk membantu

mengatasi masalah-masalah finansial dan emosional (Joewono, 2006).

18
19

c. Bimbingan Gizi. Penurunan berat badan dapat dianjurkan pada pasien

obesitas dengan artitis pada sendi-sendi penyangga berat. Adapun

kebutuhan nutrisi pada lansia menurut (Joewono, 2006):

1). Ikan laut sumber asam lemak omega 3. makanlah sekurang-

kurangnya 3 kali dalam seminggu untuk mengatasi peradangan.

2). Sayuran hijau dan kuning sebagai sumber karoten, vitamin C, dan

antioksidan lainnya yang dapat mengurangi kerusakan sel. Contoh

wortel, brokoli, tomat, mentimun, dan bayam. Dianjurkan untuk

mengkonsumsinya paling sedikit dua kali sehari untuk mengurangi

peradangan.

3). Jeruk dan buah segar lainnya setiap hari sebagai sumber flavonoid,

yaitu subtansi yang dapat meningkatkan efek antioksidan,

sedangkan kandungan vitamin C-nya mempunyai efek anti

peradangan.

4). Kacang-kacangan, gandum, susu,jenis tiram-tiraman sebagai

sumber seng (Zn). Merupakan mineral esensial untuk membangun

sistem kekebalan yang baik dikonsumsi setiap hari.

5). Jahe mempunyai efek anti peradangan. Konsumsilah 1-2 potong

atau dengan menambahkan sebanyak 5 g jahe dalam masakan setiap

2 atau 3 hari.

6). Makanan tinggi serat dan rendah kalori untuk membantu mengontrol

berat badan. Sedangkan makanan yang harus dikurangi yaitu

minyak sayur dan daging berlemak yang dapat meningkatkan gejala

peradangan.

19
20

7). Minum minimum 8 gelas sehari.

Tindak lanjut pasien. Suatu sistem untuk menilai respons penderita

terhadap pengobatan atau status tanpa pengobatan perlu ditetapkan,

demikian juga kekerapan penilaian berkala.

8. Pencegahan

Belum ditemukan cara yang efektif, tetapi usaha pencegahan

Osteoarthritis pada umumnya adalah membiasakan diri agar hidup sehat

dan menghindari segala sesuatu yang dapat menjadi pencetus serangan

penyakit ini .

Menurut Joewono, (2006), untuk mencegah terjadinya

Osteoarthritis hal – hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Pertahankan berat badan yang proporsional, hasil penelitian menunjukan

kenaikkan berat badan sebanyak 5 kg dari normalnya dapat

meningkatkan resiko terjadinya Osteoarthritis pada lutut hingga 36%.

b. Biasakan postur tubuh dalam kondisi yang baik.

c. Angkat dan bawa barang-barang yang berat dengan cara aman.

d. Konsumsi makanan yang kaya vitamin C yang dapat memperhambat

pengikisan tulang rawan pada persendihan dan makanan yang kaya

kalsium untuk membangun tulang.

e. Minimalkan kegiatan yang dapat menimbulkan cidera sendi, misalnya

dengan menggunakan sepatu yang nyaman dan memilih alas kaki yang

sesuai dengan aktivitas yang dilakukan.

f. Olahraga secara rutin.

20
21

B. Faktor Risiko Osteoarthritis

Secara garis besar, terdapat dua pembagian faktor risiko OA lutut yaitu

faktor predisposisi dan faktor biomekanis. Faktor predisposisi merupakan

faktor yang memudahkan seseorang untuk terserang OA lutut. Sedangkan

faktor biomekanik lebih cenderung kepada faktor mekanis / gerak tubuh yang

memberikan beban atau tekanan pada sendi lutut sebagai alat gerak tubuh,

sehingga meningkatkan risiko terhadinya OA lutut (Hamijoyo,2014).

1. Faktor Predisposisi

a. Faktor Demografi

1) Usia

Proses penuaan dianggap sebagai penyebab peningkatan

kelemahan di sekitar sendi, penurunan kelenturan sendi, kalsifikasi

tulang rawan dan menurunkan fungsi kondrosit, yang semuanya

mendukung terjadinya OA. Studi Framingham menunjukkan bahwa

27% orang berusia 63 – 70 tahun memiliki bukti radiografik

menderita OA lutut, yang meningkat mencapai 40% pada usia 80

tahun atau lebih. Studi lain membuktikan bahwa risiko seseorang

mengalami gejala timbulnya OA lutut adalah mulai usia 50 tahun.

Studi mengenai kelenturan pada OA telah menemukan bahwa terjadi

penurunan kelenturan pada pasien usia tua dengan OA lutut

(Hamijoyo,2014).

2) Jenis kelamin

Prevalensi OA pada laki-laki sebelum usia 50 tahun lebih

tinggi dibandingkan perempuan, tetapi setelah usia lebih dari 50

21
22

tahun prevalensi perempuan lebih tinggi menderita OA

dibandingkan laki-laki. Perbedaan tersebut menjadi semakin

berkurang setelah menginjak usia 80 tahun. Hal tersebut

diperkirakan karena pada masa usia 50 – 80 tahun wanita mengalami

pengurangan hormon estrogen yang signifikan.

Ras / Etnis Prevalensi OA lutut pada penderita di negara Eropa

dan Amerika tidak berbeda, sedangkan suatu penelitian

membuktikan bahwa ras Afrika – Amerika memiliki risiko

menderita OA lutut 2 kali lebih besar dibandingkan ras Kaukasia.

Penduduk Asia juga memiliki risiko menderita OA lutut lebih tinggi

dibandingkan Kaukasia. Suatu studi lain menyimpulkan bahwa

populasi kulit berwarna lebih banyak terserang OA dibandingkan

kulit putih (Setyohadi,2009).

3) Faktor Genetik

Faktor genetik diduga juga berperan pada kejadian OA lutut,

hal tersebut berhubungan dengan abnormalitas kode genetik untuk

sintesis kolagen yang bersifat diturunkan (Hamijoyo,2014).

b. Faktor Gaya Hidup

1) Kebiasaan Merokok

Banyak penelitian telah membuktikan bahwa ada hubungan

positif antara merokok dengan OA lutut. Merokok meningkatkan

kandungan racun dalam darah dan mematikan jaringan akibat

kekurangan oksigen, yang memungkinkan terjadinya kerusakan

22
23

tulang rawan. Hubungan antara merokok dengan hilangnya tulang

rawan pada OA lutut dapat dijelaskan sebagai berikut :

a) Merokok dapat merusak sel dan menghambat proliferasi sel

tulang rawan sendi.

b) Merokok dapat meningkatkan tekanan oksidan yang

mempengaruhi hilangnya tulang rawan.

c) Merokok dapat meningkatkan kandungan karbon monoksida

dalam darah, menyebabkan jaringan kekurangan oksigen dan

dapat menghambat pembentukan tulang rawan. Di sisi lain,

terdapat penelitian yang menyimpulkan bahwa merokok

memiliki efek protektif terhadap kejadian OA lutut. Hal tersebut

diperoleh setelah mengendalikan variabel perancu yang

potensial seperti berat badan.

2) Konsumsi Vitamin D

Orang yang tidak biasa mengkonsumsi makanan yang

mengandung vitamin D memiliki peningkatan risiko 3 kali lipat

menderita OA lutut (Hamijoyo,2014)

c. Faktor Metabolik

1) Obesitas

Obesitas merupakan faktor risiko terkuat yang dapat

dimodifikasi. Selama berjalan, setengah berat badan bertumpu pada

sendi lutut. Peningkatan berat badan akan melipatgandakan beban

sendi lutut saat berjalan. Studi di Chingford menunjukkan bahwa

untuk setiap peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebesar 2 unit

23
24

(kira-kira 5 kg berat badan), rasio odds untuk menderita OA lutut

secara radiografik meningkat sebesar 1,36 poin. Penelitian tersebut

menyimpulkan bahwa semakin berat tubuh akan meningkatkan

risiko menderita OA lutut. Kehilangan 5 kg berat badan akan

mengurangi risiko OA lutut secara simtomatik pada wanita sebesar

50%. Demikian juga peningkatan risiko mengalami OA lutut yang

progresif tampak pada orang-orang yang kelebihan berat badan

dengan penyakit pada bagian tubuh tertentu (Hamijoyo,2014).

Untuk mengukur dan menentukan tingkat obesitas metode

yang selalu digunakan adalah dengan menentukan indeks masa

tubuh dengan rumus :

Berat Badan ( Kg )
IMT =
Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m)

Seseorang dikatakan kurus apabila nilai IMT < 17,0 – 18,4,

dikatakan normal apabila nilai IMT 18,5 – 25,0, dan dikatakan

obesitas atau gemuk apabila nilai IMT 25,1 – 27,0 atau > 27,0

2) Osteoporosis

Hubungan antara OA lutut dan osteoporosis mendukung teori

bahwa gerakan mekanis yang abnormal tulang akan mempercepat

kerusakan tulang rawan sendi. Suatu studi menunjukkan bahwa

terdapat kasus OA lutut tinggi pada penderita osteoporosis

(Hamijoyo,2014).

24
25

d. Penyakit Lain

OA lutut terbukti berhubungan dengan diabetes mellitus,

hipertensi dan hiperurikemi, dengan catatan pasien tidak mengalami

obesitas.

1) Histerektomi

Prevalensi OA lutut pada wanita yang mengalami

pengangkatan rahim lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak

mengalami pengangkatan rahim. Hal ini diduga berkaitan dengan

pengurangan produksi hormon estrogen setelah dilakukan

pengangkatan rahim (Hamijoyo,2014).

2) Menisektomi

Osteoarthritis lutut dapat terjadi pada 89% pasien yang telah

menjalani menisektomi. Menisektomi merupakan operasi yang

dilakukan di daerah lutut dan telah diidentifikasi sebagai faktor

risiko penting bagi OA lutut. Hal tersebut dimungkinkan karena

beberapa hal berikut ini :

a) Hilangnya jaringan meniskus akibat menisektomi membuat

tekanan berlebih pada tulang rawan sendi sehingga memicu

timbulnya OA lutut.

b) Bagi pasien yang mengalami menisektomi, degenerasi meniskal

dan robekan mungkin menjadi lebih luas dan perubahan pada

tulang rawan sendi akan lebih besar daripada mereka yang tidak

melakukan menisektomi.

25
26

2. Faktor Biomekanis

a. Riwayat Trauma Lutut

Trauma lutut yang akut termasuk robekan pada ligamentum

krusiatum dan meniskus merupakan faktor risiko timbulnya OA lutut.

Studi Framingham menemukan bahwa orang dengan riwayat trauma

lutut memiliki risiko 5 – 6 kali lipat lebih tinggi untuk menderita OA

lutut. Hal tersebut biasanya terjadi pada kelompok usia yang lebih muda

serta dapat menyebabkan kecacatan yang lama dan pengangguran

(Setyohadi,2009).

b. Kelainan Anatomis

Faktor risiko timbulnya OA lutut antara lain kelainan lokal pada

sendi lutut seperti genu varum, genu valgus, Legg – Calve –Perthes

disease dan displasia asetabulum. Kelemahan otot kuadrisep dan laksiti

ligamentum pada sendi lutut termasuk kelainan lokal yang juga menjadi

faktor risiko OA lutut (Setyohadi,2009).

c. Pekerjaan

Osteoarthritis banyak ditemukan pada pekerja fisik berat,

terutama yang banyak menggunakan kekuatan yang bertumpu pada

lutut. Prevalensi lebih tinggi menderita OA lutut ditemukan pada kuli

pelabuhan, petani dan penambang dibandingkan pada pekerja yang tidak

banyak menggunakan kekuatan lutut seperti pekerja administrasi.

Terdapat hubungan signifikan antara pekerjaan yang menggunakan

kekuatan lutut dan kejadian OA lutut (Setyohadi,2009).

26
27

d. Aktivitas fisik

Aktivitas fisik berat seperti berdiri lama (2 jam atau lebih setiap

hari), berjalan jarak jauh (2 jam atau lebih setiap hari), mengangkat

barang berat (10 kg – 50 kg selama 10 kali atau lebih setiap minggu),

mendorong objek yang berat (10 kg – 50 kg selama 10 kali atau lebih

setiap minggu), naik turun tangga setiap hari merupakan faktor risiko

OA lutut (Setyohadi,2009).

e. Kebiasaan olah raga

Atlit olah raga benturan keras dan membebani lutut seperti

sepak bola, lari maraton dan kung fu memiliki risiko meningkat untuk

menderita OA lutut. Kelemahan otot kuadrisep primer merupakan faktor

risiko bagi terjadinya OA dengan proses menurunkan stabilitas sendi

dan mengurangi shock yang menyerap materi otot. Tetapi, di sisi lain

seseorang yang memiliki aktivitas minim sehari-hari juga berisiko

mengalami OA lutut. Ketika seseorang tidak melakukan gerakan, aliran

cairan sendi akan berkurang dan berakibat aliran makanan yang masuk

ke sendi juga berkurang. Hal tersebut akan mengakibatkan proses

degeneratif menjadi berlebihan.

27
28

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep

Kerangka teori menggambarkan variabel-variabel bebas yang

mempengaruhi kejadian OA lutut, yang terdiri dari faktor predisposisi dan

faktor presipitasi biomekanis. Kedua faktor tersebut berpengaruh terhadap

terjadinya OA lutut baik secara langsung maupun tidak langsung melalui

mekanisme biokimia tubuh. Faktor predisposisi terdiri dari faktor demografi

(usia, jenis kelamin, ras / etnis), faktor genetik, faktor gaya hidup (kebiasaan

merokok, asupan vitamin D) dan metabolik (obesitas, osteoporosis, diabetes

mellitus, hipertensi, hiperurikemi, histerektomi). Sedangkan faktor presipitasi

biomekanis terdiri dari trauma lutut, menisektomi, kelainan anatomis,

pekerjaan, aktivitas fisik dan kebiasaan olah raga.

Hubungan antar variabel dalam kerangka teori juga dapat diketahui.

Tampak bahwa usia akan mempengaruhi pekerjaan, aktivitas fisik dan

kebiasaan olah raga seseorang. Sedangkan pekerjaan, aktivitas fisik dan

kebiasaan olah raga akan mempengaruhi obesitas dan riwayat trauma lutut.

Riwayat trauma lutut akan mempengaruhi menisektomi. Metabolik

dipengaruhi oleh faktor genetik, gaya hidup, demografi dan faktor biomekanis.

Jenis kelamin akan mempengaruhi histerektomi. Semua variabel tersebut

dapat mempengaruhi kejadian OA lutut baik secara langsung maupun melalui

interaksi antar variabel terlebih dahulu.

28
29

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka kerangka konsep penelitian

ini adalah :

Jenis kelamin

Obesitas

Trauma lutut

Penggunaan sendi
berlebihan
Osteoartritis
Usia

Gaya hidup

Genetik

Penyakit lain yang dapat


mengganggu fungsi dan
struktur normal pada
tulang rawan

Gambar 3.1 Kerangka konsep Penelitian


Keterangan :

: Variabel independen yang diteliti

: Variabel independen yang tidak diteliti

: Variabel dependen

29
30

B. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Ha : Jenis kelamin merupakan faktor resiko kejadian penyakit

Osteoarthritis pada lansia di wilayah puskemas Ponrang

Kabupaten Luwu.

2. Ha : Obesitas merupakan faktor resiko kejadian penyakit Osteoarthritis

pada lansia di wilayah puskemas Ponrang Kabupaten Luwu

30
31

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan

menggunakan pendekatan case control study. Adapun rancangan penelitian

digambarkan pada bagan dibawah ini :

Faktor risiko ( + )
Retrospektif Penderita
( Kasus ) Osteoarthritis
Faktor risiko ( - )
Populasi
Matching : Umur (Sampel)

Faktor risiko ( + )
Retrospektif Bukan
( Kontrol ) Penderita
Faktor risiko ( - ) Osteoarthritis

B. Populasi, Sampel dan Sampling

1. Populasi

a. Populasi Kasus

Seluruh lansia yang di diagnosis mengalami osteoartitis dan

tercacat dalam register/kartu pasien di Puskesmas Ponrang Kabupaten

Luwu pada bulan Juli 2018 sebanyak 34 lansia.

b. Populasi Kontrol

Seluruh lansia tercacat dalam register/kartu pasien dan bukan

penderita osteoartitis dan di Puskesmas Ponrang Kabupaten Luwu pada

bulan Juli 2018 sebanyak 138 lansia.

31
32

2. Sampel dan Sampling

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,

2008). Sampel dalam penelitian ini dibagi dua yaitu kasus dan kontrol,

untuk lebih jelasnya dapat diuraikan dibawah ini.

a. Sampel Kasus

Kasus merupakan populasi kasus yang terpilih untuk menjadi

subjek penelitian sesuai dengan kriteria inklusi dan eklusi.

Kriteria inklusi kasus :

1) Lansia yang berumur 60-70 tahun yang berdomisili di wilayah kerja

Ponrang Kabupaten Luwu

2) Penderita osteoarthritis yang memenuhi gejala klinik dan tercacat

dalam diagnosis pada kartu pasien di Ponrang Kabupaten Luwu.

3) Bersedia menjadi responden

Kriteria Ekslusi

1) Lansia penderita osteoarthritis yang berumur < 60 tahun atau >70

tahun

2) Mengalami gangguan memori atau masalah kesehatan yang tidak

memungkinkan memberikan informasi dengan baik.

b. Sampel Kontrol

Sampel kontrol merupakan lansia yang berobat di Puskesmas

Ponrang Kabupaten Luwu dengan umur yang sesuai kasus, tidak

menderita osteoarthritis berdasarkan diagnosis pada kartu pasien di

Puskesmas Ponrang Kabupaten Luwu pada bulan Juli 2018.

32
33

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non random

sampling (purposive sampling) yaitu teknik pengambilan sampel sesuai

dengan kemampuan dan tujuan peneliti. Berdasarkan kriteria inklusi

sampel kasus maka jumlah populasi kasus yang memenuhi kriteria

sebanyak 34 lansia penderita osteoarthritis. Penelitian ini menggunakan

sampel untuk kasus dan kontrol dengan perbandingan 1 : 1

(Arikunto,2008), sehingga jumlah sampel kasus dan kontrol masing-

masing 34 sehingga jumlah sampel keseluruhan 68 orang.

C. Variabel Penelitian

Variabel mengandung pengertian atau ciri yang dimiliki oleh anggota-

anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok

yang lain (Arikunto, 2008). Variabel penelitian ini adalah:

1. Variabel independen yaitu jenis kelamin dan obseitas.

2. Variabel dependen adalah Osteoarthritis.

D. Defenisi Opersional

Rumuskan batasan operasional tiap-tiap variabel sebagai berikut :

Variabel Defenisi Kategori Cara Mengukur Skala


Osteoarthritis adalah lansia yang Hasil Status kesehatan Nominal
yang di diagnosis diagnosis pasien di
dokter menderita dokter puskesmas
Osteoarthritis atau menderita Ponrang
memperlihatkan Osteoarthritis Kabupaten Luwu
gambaran klinis Wawancara dan
Osteoarthritis pemeriksaan fisik
berupa nyeri sendi,
terutama bila sendi
bergerak atau
menanggung
beban, yang akan
berkurang bila
penderita
beristirahat.

33
34

Jenis kelamin Jenis kelamin 2. Laki-laki Observasi saat Nominal


responden 3. Perempuan wawancara
Obesitas Peningkatan berat 1. Berat bila - Tinggi badan Nominal
badan melebihi IMT: 25,1 – diukur dengan
batas kebutuhan 27,0 atau > meteran, berat
skeletal dan fisik 27,0 badan
sebagai akibat menggunakan
akumulasi lemak : bila berat timbangan.
berlebihan dalam badan klien - Dalam
tubuh > 20% dari wawancara,
berat badan ditanyakan sejak
normal kapan
2. Ringan: bila Responden
IMT: ≤ 25,0 memiliki BB /TB
seperti hasil
Pengukuran yang
dilakukan saat
penelitian

E. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian

Lokasi penelitian adalah wilayah kerja puskesmas Ponrang kabupaten

Luwu.

2. Lingkup Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada minggu I-II September 2018.

F. Instrumen Penelitian

Alat pengumpulan data penelitian ini adalah kuesioner yang memuat

variabel-variabel penelitian. Dalam penelitian ini proses data primer diperoleh

langsung melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan responden

menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan dan pemeriksaan fisik

langsung berupa pengukuran tinggi badan dan berat badan. Data sekunder

diperoleh dari data catatan medis puskesmas Ponrang kabupaten Luwu, buku,

jurnal, laporan, makalah dan referensi lain yang memiliki hubungan dengan

topik penelitian.

34
35

G. Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui dua tahapan yaitu :

1. Tahap persiapan

Kegiatan pertama adalah pengurusan administrasi ijin penelitian ke

pihak terkait dimulai dengan izin Ketua STIKES Kurnia Jaya Persada

Palopo kemudian kemudian Badan Pelayanan Perizinan dan Penanaman

Modal (BP3M) Kabupaten Luwu dan kepala Puskesmas Ponrang

Kabupaten Luwu.

2. Tahap pelaksanaan

Peneliti melakukan seleksi responden dengan berpedoman pada

kriteria kasus dan control yang sudah ditentukan. Setelah mendapatkan

responden yang dikehendaki maka langkah selanjutnya adalah meminta

persetujuan dari responden penelitian (baik pasien maupun keluarga)

dengan memberikan surat persetujuan menjadi responden (informed

consent). Proses pengumpulan membutuhkan 20-30 menit dengan

melakukan wawancara dan pengukuran tinggi badan dan berat badan.

H. Pengolahan dan Analisa Data

1. Pengolahan data

a. Seleksi. Proses ini dilakukan setelah data terkumpul dan dilakukan

dengan memeriksa kelengkapan data, memeriksa kesinambungan data,

dan memeriksa keseragaman data.

b. Editing. Berfungsi untuk meneliti kembali apakah isian lembar

kuesioner sudah lengkap. Editing dilakukan ditempat pengumpulan data

sehingga apabila ada kekurangan dapat segera dilengkapi.

35
36

c. Coding. Suatu usaha mengklasifikasikan jawaban-jawaban / hasil-hasil

yang dilakukan dengan jalan menandai masing-masing jawaban dengan

kode berupa angka, kemudian dimasukkan dalam lembaran tabel kerja

kemudian pengklasifikasian dan pemberian kode pada data.

d. Entry. Memasukkan data yang telah dilakukan koding dengan bantuan

program komputer.

e. Tabulating. Kegiatan memasukkan data-data hasil penelitian ke dalam

tabel-tabel sesuai dengan kriteria.

2. Analisis data

a. Univariat

Analisis ini digunakan untuk mengetahui distribusi dan proporsi

variabel independen (faktor jenin kelamin, obesitas,) dengan variabel

dependen (kejadian Osteoarthritis).

b. Bivariat

Analisis ini untuk mengetahui hubungan variabel independen (jenis

kelamin, obesitas) terhadap variabel dependen (kejadian Osteoarthritis)

melalui Uji Statistik Chi-Square jika memenuhi syarat, jika tidak

digunakan uji alternatifnya. Untuk melihat kemaknaan perhitungan

statistik antara variabel bebas dan variabel terikat digunakan tingkat

kepercayaan 95%. Jika nilai p yang didapat lebih kecil dari 0,05 maka

hipotesis nol ditolak yang berarti antara dua variabel (bebas dan terikat)

yang diteliti mempunyai hubungan yang bermakna.

36
37

Untuk melihat kemungkinan peristiwa terjadi dibanding peristiwa

tersebut tidak dengan menggunakan uji statistik Odd Ratio (OR) . Hasil

interpretasi nilai OR adalah sebagai berikut :

1) Jika OR lebih dari 1 dan 95% CI tidak mencakup nilai 1,

menunjukkan bahwa variabel yang diteliti merupakan faktor risiko.

2) Jika OR lebih dari 1 dan 95% CI mencakup nilai 1, menunjukkan

bahwa variabel yang diteliti bukan merupakan faktor risiko.

3) Jika OR kurang dari 1, menunjukkan bahwa variabel yang diteliti

merupakan faktor protektif.

I. Etika Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip etik

meliputi:

1. Informed Consent

Selanjutnya sebelum informed consent ditanda tangani oleh semua

partisipan, peneliti menjelaskan : tujuan riset, manfaatnya bagi subjek, sifat

partisipasi (suka rela), kerahasiaan data, apa yang terjadi selama penelitian

berlangsung. Prinsip ini tertuang dalam informed consent yaitu persetujuan

untuk berpartisipasi sebagai subjek penelitian setelah mendapatkan

penjelasan yang lengkap dan terbuka dari peneliti tentang keseluruhan

pelaksanaan penelitian.

2. Anonimity

Untuk menjamin kerahasiaan subjek penelitia tidak mencamtumkan

nama mereka (Anonimity). Data akan disimpan dengan nama kode khusus.

37
38

Nama subjek hanya diketahui oleh peneliti atau masing-masing subjek bila

mereka menginginkannya.

3. Confidentiality

Kepada subjek juga disampaikan bahwa segala informasi yang

diberikan akan dijamin kerahasiaannya (Confidentiality) hanya akan

diketahui oleh kelompok tertentu saja informasi tersebut akan peneliti

sajikan, utamanya dilaporkan pada hasil riset. Setelah mereka setuju untuk

berpartisipasi dalam riset ini, semua partisipan diberitahu bahwa mereka

tetap dapat saja mengundurkan diri dari penelitian kapan pun mereka

menghendaki. Responden juga diberi tahu jika selama proses pengumpulan

data menyebabkan ketidaknyamanan emosional atau stres, meraka dapat

langsung menghentikan saat itu juga. Tujuan penelitian harus etik, dalam

arti hak responden dan yang lainnya harus dilindungi (Nursalam, 2009).

38
39

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puksesmas Ponrang

Kabupaten Luwu yang merupakan puskesmas rawat inap. Wilayah kerja

puskesmas Ponrang dengan luas wilayah kerja 12,66 km2, dengan jumlah

penduduk 13.448 jiwa. Jumlah penduduk usia ≥ 65 tahun di kecamatan

Ponrang sebanyak 2.287 jiwa atau 16.2 % jiwa dari populasi lansia.

2. Analisi Univariat

Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 10 September s/d 22

September 2018. Jumlah sampel penelitian sebanyak 64 responden terdiri

dari kelompok kasus yaitu lanjut usia dengan osteoartris dan kelompok

kontrol yaitu lanjut usia bukan penderita osteoartritis masing-masing

sebanyak 32 responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa 64 responden

sebaran tertinggi berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki sebesar 67 %

(n=43), berdesarkan pengelompokkan umur sebaran tertinggi yaitu usia

>70 tahun sebanyak 30 % (n= 20) dan terendah pada usia 65-69 tahun yaitu

11 % (n=7). Sebagian besar responden tidak sekolah sebanyak 27 % (n=42)

dan terendah adalah SMA hanya 8 % (n=5), berdasarkan pekerjaan sebaran

tertinggi adalah petani yaitu 41 % (n=26) dan terendah adalah swasta dan

wiraswasta masing-masing 9 % (n=6).

39
40

Gambaran karakteristik responden pada kelompok kasus dan kontrol

dijelaskan pada tabel 5.1.

Tabel 5.1
Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi di
Wilayah Kerja Puskesmas Ponrang Kabupaten Luwu
Tahun 2018
Status
Karakteristik Kasus Kontrol Total
n % n % N %
Jenis kelamin:
Laki-laki 24 75 19 59 43 67
Perempuan 8 25 13 41 21 33
Umur :
60-64 tahun 8 25 11 34 19 30
65-69 tahun 6 19 1 3 7 11
70-74 tahun 7 22 11 34 18 28
>70 tahun 11 34 9 28 20 31
Pendidikan :
Tidak sekolah 15 47 12 38 27 42
SD 8 25 9 28 17 27
SMP 6 19 9 28 15 23
SMA 3 9 2 6 5 8
Pekerjaan :
Petani 15 47 11 34 26 41
Swasta 2 6 4 13 6 9
PNS/pensiunan 6 19 3 9 9 14
Wiraswasta 1 3 5 16 6 9
IRT 8 25 9 28 17 27
Sumber : data primer, 2018

3. Analisa Bivariat

a. Jenis kelamin dengan kejadian Osteoartritis (OA)

Tabel 5.2
Distribusi Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Penyakit
Osteoartritis (OA) di Wilayah Kerja Puskesmas Ponrang
Kabupaten Luwu Tahun 2018
Kejadian Penyakit
Jenis kelamin Osteoartritis (OA) Jumlah
Kasus Kontrol OR CI
n % n % n % Upper
Laki-laki 24 55.8 19 44.2 43 67.2 limit =
2.053 5.965
Perempuan 8 38.1 13 61.9 21 32.8
Lower
limit =
Jumlah 32 100 32 100 64 100
0.706
Sumber : data primer, 2018

40
41

Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan bahwa dari 64 responden,

pada kelompok kasus yang menderita Osteoartritis (OA) sebagian besar

adalah lansia laki-laki yaitu 55.8 % (n=24) lebih banyak dibandingkan

kelompok kontrol yang tidak menderita Osteoartritis (OA) yaitu 44.2 %

(n=19). Sedangkan responden perempuan pada kelompok kasus

sebanyak 38.1 % (n=8) lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok

kontrol yaitu 61.9 % (n=13). Perbedaan ini tidak bermakna secara

statistik dimana diperoleh nilai lower limit 0,706 dan upper limit 5,965

pada tingkat kepercayaan 95 % yang menunjukkan bahwa nilai lower

limit mencakup 1 dan nilai upper limit tidak mencakup 1, maka risiko

yang ditimbulkan dikatakan tidak bermakna.

b. Obesitas dengan kejadian Osteoartritis (OA)

Tabel 5.3
Distribusi Hubungan Obesitas dengan Kejadian Penyakit
Osteoartritis (OA) di Wilayah Kerja Puskesmas Ponrang
Kabupaten Luwu Tahun 2018

Kejadian Penyakit
Obesitas Osteoartritis (OA) Jumlah
Kasus Kontrol OR CI
n % n % n % Upper
Berat 17 65.4 9 34.6 26 40.6 limit =
2.896 8.172
Ringan 15 39.5 23 60.5 38 59.4
Lower
limit =
Jumlah 32 100 32 100 64 100
1.072
Sumber : data primer, 2018

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 64 orang

responden, pada kelompok kasus yang menderita Osteoartritis (OA)

lebih banyak adalah lansia yang mengalami obesitas yaitu 65.4%

(n=17) dari pada kelompok kontrol hanya 34.6 % (n=9), sedangkan

41
42

responden yang tidak mengalami obesitas pada kelompok kasus

sebanyak 39.5 % (n=15) lebih sedikit dibandingkan kelompok kontrol

yaitu 60.5 % (n=23). Perbedaan ini bermaksa secara statistic dimana

nilai lower limit 1,072 dan upper limit 8,172 pada tingkat kepercayaan

95 % yang menunjukkan bahwa antara nilai lower limit dan upper limit

tidak mencakup 1, maka risiko yang ditimbulkan dikatakan bermakna.

Nilai Odds Ratio = 2.896. Hal ini berarti bahwa kondisi obesitas

berisiko 2.896 kali terkena penyakit Osteoartritis (OA) dibandingkan

dengan yang tidak obesitas.

B. Pembahasan

1. Jenis kelamin dengan kejadian Osteoartritis (OA)

Perkembangan osteoartritis dipengaruhi oleh jenis kelamin dan lebih

dominan pada perempuan. Dari hasil penelitian Michael A. Carter

menunjukkan bahwa osteoartritis 10 kali lebih sering ditemukan pada

perempuan dibandingkan dengan laki-laki (Sylvia A. Price, 2005). Hal ini

juga sesuai dengan hasil penelitian di University of Michigan menyebutkan

otot lutut pada perempuan tidak berkontraksi seperti pria saat dibebani,

akibatnya sendi lutut perempuan lebih rentan cedera.

Hormon seks dan faktor-faktor hormon lain juga sangat berkaitan

dengan perkembangan osteoartritis. Hubungan antara estrogen dan

pembentukan tulang dan prevalensi osteoartritis pada perempuan

menunjukkan bahwa hormon memainkan peranan aktif dalam

perkembangan dan progresivitas penyakit ini (Sylvia A. Price, 2005).

42
43

Hasil penelitian menemukan jenis kelamin tidak bermakna secara

statistik terhadap kejadian Osteoartritis (OA) pada lansia, dimana nilai OR

= 2,053 dan 95% = CI 0,706 - 5,965).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Maharani (2007) yang

menemukan jenis kelamin tidak terbukti sebagai faktor risiko Osteoartritis

(OA) lutut. Hasil ini bertentangan dengan hasil penelitian L. Sharma dkk

(2004) yang menyatakan bahwa wanita terbukti memiliki risiko lebih tinggi

menderita OA lutut dibandingkan pria.

Perbedaan dengan beberapa penelitian sebelumnya, menurut peneliti

disebabkan karena responden laki-laki lebih banyak menggunakan sendi

secara berlebihan hal ini dihubungkan dengan pekerjaan yang sebagian

besar adalah petani yang umumnya melakukan aktivitas yang banyak

membebani sendi lutut secara rutin setiap hari seperti berdiri lama dan

berjalan, merupakan faktor risiko OA lutut. Hal ini berkaitan dengan

tekanan pada sendi lutut saat seseorang melakukan aktivitas fisik berat

tersebut.

Jenis kelamin dalam analisis tidak terbukti sebagai faktor risiko OA

kemungkinan disebabkan variabel jenis kelamin laki-laki dipengaruhi oleh

variabel lain yang lebih kuat sebagai faktor risiko OA .Variabel lain yang

lebih kuat tersebut adalah obesitas berat. Dari hasil penelitian menunjukkan

sebagian besar responden laki-laki mengalami obesitas berat dibandingkan

dengan perempuan. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa bukan jenis

kelamin yang berisiko menderita OA, tetapi obesitas beratlah yang lebih

kuat sebagai faktor risiko OA .

43
44

2. Obesitas dengan kejadian penyakit Osteoartritis (OA)

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari

penimbunan lemak tubuh yang berlebihan, setiap orang memerlukan

sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi sebagai penyekat panas dan

beberapa fungsi lainnya. Sebagian besar penderita osteoartritis selalu

mengalami obesitas hal ini diakibatkan karena keadaan obesitas dapat

meningkatkan tekanan pada tulang sehingga tulang rawan yang terdapat di

persendian-persendian yang menopang berat badan seperti sendi lutut, sendi

panggul atau sendi tulang belakang bisa makin cepat aus Sylvia A. Price,

2005).

Hasil penelitian menemukan bahwa obesitas berat merupakan faktor

risiko kejadian OA lutut, dengan nilai OR = 2.896 dan 95% = CI 1,072 -

8,172, yang berarti bahwa orang yang menderita obesitas berat akan

berisiko terserang OA sebesar 2.896 kali lipat dibandingkan orang yang

tidak menderita obesitas berat.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Maharani (2007) yang

menemukan menunjukkan bahwa obesitas berat merupakan faktor risiko

kejadian OA lutut, dengan nilai p = 0,046; OR adjusted = 2,51 dan 95% =

CI 1,22 – 5,26. Demikian halnya dengan penelitian Aini (2009) juga

menemukan hubungan signifikan antara obesitas dengan Osteoarthritis

pada lansia di Kelurahan Puncangsawit Kecamatan Jebres Surakarta dengan

nilai OR = 4,9.

Obesitas merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Selama

berjalan, setengah berat badan bertumpu pada sendi lutut. Peningkatan berat

44
45

badan akan melipatgandakan beban sendi lutut saat berjalan. Studi di

Chingford menunjukkan bahwa untuk setiap peningkatan Indeks Massa

Tubuh (IMT) sebesar 2 unit (kira-kira 5 kg berat badan), odds rasio untuk

menderita OA lutut secara radiografik meningkat sebesar 1,36 poin.20

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa semakin berat tubuh akan

meningkatkan risiko menderita OA lutut.

Kehilangan 5 kg berat badan akan mengurangi risiko OA lutut

secara simtomatik pada wanita sebesar 50%. Demikian juga peningkatan

risiko mengalami OA lutut yang progresif tampak pada orang-orang yang

kelebihan berat badan. Banyaknya penderita OA lutut akibat obesitas juga

dipengaruhi karena banyak responden wanita yang sewaktu muda

mengikuti program KB yang mereka anggap dapat menyebabkan

kegemukan dan sulit untuk menurunkan berat badan. Sedangkan jika tidak

mengikuti KB, mereka takut akan memiliki banyak anak. Hal tersebut

ditambah dengan kurangnya pengetahuan responden bahwa obesitas dapat

meningkatkan risiko OA lutut (Maharani, 2007).

C. Keterbatasan Penelitian

Beberapa keterbatasan yang dapat diidentifikasi dari penelitian ini antara

lain :

1. Bias Mengingat Kembali (Recall Bias)

Disain penelitian ini adalah case-control yang bersifat retrospektif,

sehingga memungkinkan terjadinya bias mengingat kembali. Responden

digali status keterpaparan terhadap OA lutut, dimana paparan tersebut sudah

berlangsung sejak lama.

45
46

2. Bias Pewawancara

Bias ini terjadi karena pewawancara mengetahui status responden,

apakah ia termasuk ke dalam kelompok kasus atau kontrol. Hal tersebut

dapat mempengaruhi objektivitas pewawancara dalam interpretasi jawaban

responden mengenai paparan faktor risiko.

D. Implikasi Penelitian Untuk Keperawatan

Implikasi hasil penelitian ini dalam praktik keperawatan khususnya

perawat komunitas adalah melakukan penyuluhan kesehatan kepada kelompok

yang beresiko mengalami Osteoartritis (OA) sehingga faktor resiko yang dapat

dimodifikasi yaitu obsesitas, penggunaan sendi berlebih dapat dicegah sedini

mungkin.

46
47

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan

beberapa hal sebagai berikut :

1. Jenis kelamin tidak terbukti sebagai faktor resiko kejadian Osteoarthritis

pada lansia dimana dimana nilai OR = 2,053 dan 95% = CI 0,706 - 5,965).

2. Obsesitas terbukti sebagai faktor resiko kejadian Osteoarthritis pada lansia

dengan nilai OR = 2.896 dan 95% = CI 1,072 - 8,172, yang berarti orang

yang menderita obesitas berat akan berisiko terserang OA sebesar 2.896

kali lipat dibandingkan orang yang tidak menderita obesitas berat.

B. Saran

1. Bagi Puskesmas

Diharapkan petugas kesehatan puskesmas khususnya perawat untuk

meningkatkan penyuluhan kesehatan khususnya pada kelompok masyarakat

yang beresiko mengalami Osteoartritis (OA) sehingga dapat menurunkan

resiko yang yang dapat dimodifikasi seperti obesitas.

2. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan

Untuk mengembangkan proses pembelajaran berbsis bukti dengan

pendekatan kasus dan aplikasi hasil-hasil riset sehingga mahasiswa dapat

memahami konsep teori disertai bukti empiris seperti pada kasus

Osteoartritis (OA).

47
48

3. Bagi Masyarakat

Untuk pencegahan Osteoartritis dengan menjaga berat badan ideal

supaya tidak mengalami obesitas misalnya cara rutin berolah raga maupun

melakukan diet yang seimbang, menghindari aktivitas penggunan sendi

secara berlebihan misalnya mengangkan beban yang berat, berdiri dalam

waktu yang lama misalnya lebih 2 jam dan melakukan istirahat yang cukup

selama periode aktivitas yang berat.

4. Peneliti

Kiranya dapat mengembangkan variabel yang belum diteliti dengan

melibatkan kelompok sampel yang lebih besar dan homogen.

48
49

DAFTAR PUSTAKA

Agus,(2008), Pengukuran BMI sebagai Indikator Obesitas dalam Hubungan


dengan Osteoartritis. http://agussuseno.blogspot.com/. (Diakses pada 9
Agustus 2018)
Aini (2009), Hubungan Obesitas Dengan Osteoartritis Lutut Pada Lansia Di
Kelurahan Puncangsawit Kecamatan Jebres Surakarta, http:///www.arc.
org.uk/ about_arth/astats.htm, 1 Agustus 2018.
Arikunto, (2010)., Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek, Jakarta: Rineka
Cipta
Hamijoyo,(2014)., Reumatologi Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RS Hasan Sadikin
Bandung/ Jawa Barat reumatologi.or.id/reuarttail?id=23, 1 Agustus 2018,
10:21:40
Hidayat ( 2008) stres oksidatif sebagai faktor- risiko kerusakan tulang rawan sendi
osteoartritik from:ejournal.undip.ac.id/index.php/mkm/article/ download/
5387/ 4783; Diakses 4 Agustus 2018
Kambayana, (2011), Osteoartritis, Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah
Denpasar, reumatologi.or.id/reuarttail?id=23, 1 Agustus 2018, 10:21:40
Kementerian Kesehatan RI, 2014, Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013, Jakarta:
Kemenkes RI
Komisi Nasional Lanjut Usia (2010), Profil Penduduk Nasional Lanjut Usia,
Jakarta. Online. http:///www.arc.org. uk/about_arth/astats.htm, 3Agustus 2018,
10:21:40
Komisi Nasional Lanjut Usia (2010), Profil Penduduk Nasional Lanjut Usia,
Jakarta. Online. http:///www.arc.org. uk/about_arth/astats.htm, 17 Agustus
2018, 10:21:40
Laniyati Hamijoyo (2014) Reumatologi ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/view
File/5815/4377 Diakses pada 9 Agustus 2018)
Maharani (2009) Faktor-Faktor Risiko Osteoarthritis Lutut.
eprints.uns.ac.id/8368/1/144851308201011141.pdf (Diakses pada 9 Agustus
2018)
Noor Aini Sri Wahyuningsih (2009) Hubungan Obesitas dengan Osteoarthritis
pada Lansia di Kelurahan Puncangsawit Kecamatan Jebres Surakarta
eprints.uns.ac.id/8368/1/144851308201011141.pdf (Diakses pada 9 Agustus
2018)
Nursalam, (2009), Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian. Salemba
Medika: Jakarta

49
50

Price, Sylvia A., Wilson Lorraine M. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis


Prosesproses Penyakit. Jakarta: EGC
Rustono (2008), Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Osteoarteritis
Lutut Pada Lansia Di RSU Jepara
Setiyohadi Bambang. Osteoarthritis Selayang Pandang. Dalam Temu Ilmiah
Reumatologi 2013. Jakarta, 19 – 21 September 2013, dari http://www.google.
com, (Diakses pada 9 Agustus 2018)

50
51

Lampiran 1
INFORMED CONSENT

HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN OBSESITAS DENGAN KEJADIAN


OSTEOARTRITIS LUTUT PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS PONRANG KABUPATEN LUWU TAHUN 2018

Saya Husnainil (Nim. 01.2016.081) adalah mahasiswa Program S 1 Keperawatan


STIKES KURNIA JAYA PERSADA PALOPO, bermaksud melakukan penelitian sebagai
salah satu syarat dalam menyelesaikan tugas akhir pendidikan.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor resiko Osteoarthritis pada lansia
berdasarkan jenis kelamin dan obesitas di wilayah kerja puskesmas Puskesmas Ponrang
Kabupaten Luwu. Saya mengharapkan partisipasi Bapak / Ibu / untuk memberikan
tanggapan / jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Saya akan menjamin kerahasiaan
pendapat dan identitas saudara.
Jika Bapak / Ibu bersedia menjadi peserta penelitian, silahkan menandatangani kolom
dibawah ini dan mengisi kuesioner yang tersedia.

Tanda Tangan : ……...……..


Tanggal :…….……….

No. Responden : …….………

51
52

KUISIONER

HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN OBSESITAS DENGAN KEJADIAN


OSTEOARTRITIS LUTUT PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS PONRANG KABUPATEN LUWU TAHUN 2018

Petunjuk Pengisian Kuisioner


a. Bacalah baik-baik setiap item pertanyaan dan alternatif jawaban yang tersedia
b. Berikan tanda silang ( x ) pada setiap pilihan yang dianggap benar
c. Isilah dengan jawaban yang dianggap benar pada tempat yang telah disediakan.

Tanggal pengisian lengkap kuesioner/No.Responden : .................../………………

Persetujuan
Persetujuan telah dibacakan dengan jelas pada responden : 1. Ya 2. Tidak
Persetujuan telah diperoleh secara tertulis responden : 1. Ya 2. Tidak

A. Informasi Demografi
1. Umur :  1.60-64 tahun  2. 65-69 tahun  3. 70-74 tahun  4. > 75 tahun
2. Jenis kelamin (catat sesuai pengamatan) : 1. Laki-laki  2. Perempuan
3. Pendidikan : 1. Tidak sekolah 2.  SD  4. SLTP 5. SLTA  6. Sarjana
4. Riwayat Pekerjaan : 1. Tani 2. Pegawai swasta  3. PNS/pensiunan
 4. Wiraswasta 5. IRT

B. Obesitas
1. Berat Badan : ………………………
2. Tinggi Badan : ……………………….

Untuk mengukur dan menentukan tingkat obesitas metode yang selalu


digunakan adalah dengan menentukan indeks masa tubuh dengan rumus :
Berat Badan ( Kg )
IMT =
Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m)
Berat bila IMT: 25,1 – 27,0 atau > 27,0 : bila berat badan klien > 20% dari berat
badan normal. Ringan: bila IMT: ≤ 25,0

52
53

SKRIPSI

HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN OBSESITAS DENGAN


KEJADIAN OSTEOARTRITIS LUTUT PADA LANSIA DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS PONRANG
KABUPATEN LUWU
TAHUN 2018

OLEH :

HUSNAINIL
NIM. 01.2016.081

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KURNIA JAYA PERSADA PALOPO
2018

53
54

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Robbil Alamin, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas

segala nikmat petunjuk dan bimbingan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi dengan judul “Hubungan Jenis Kelamin Dan Obsesitas Dengan Kejadian

Osteoartritis Lutut Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Ponrang Kabupaten

Luwu Tahun 2018” sebagai salah satu persyaratan akademik dalam menyelesaikan

pendidikan di program studi (S1) Keperawatan di STIKES Kurnia Jaya Persada

Palopo.

Selesainya penyusunan proposal ini adalah hasil ikhtiar penulis dan

dukungan dari berbagai pihak, sehingga melalui pengantar ini kami mengucapkan

terima kasih yang sebesar-besarnya dengan hati yang tulus kepada Bapak

Hairuddin Safaat, S.Kep.Ns. M.Kep selaku pembimbing pertama atas motivasi

dan bimbingannya dan Ibu Dwiyanti, S.Kep.Ns selaku pembimbing kedua atas

saran dan perbaikan penulisan proposal ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih

kepada :

1. Ibu Hj. Nuraeni Azis.S.Kp. M.Kes selaku ketua STIKES Kurnia Jaya Persada

Palopo.

2. Ibu Grace Tedy Tulak, S.Kep. Ns,M.Kep Ketua Program Studi S1 Keperawatan

STIKES Kurnia Jaya Persada Palopo

3. Ibu Christin, S.Kep.Ns.M.Kes, selaku penguji atas segala arahan yang

konstrukstif dalam penulisan skripsi ini.

4. Para civitas akademik Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Kurnia Jaya

Persada Palopo

54
55

5. Orang tuaku atas segala doa dan cinta kasihnya yang tulus yang tak mungkin

terbalaskan.

6. Seluruh teman-teman dan pihak lain yang telah membantu dan memberikan

saran untuk kelancaran penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan dan

kelemahan olehnya diharapkan saran dan kritikan konstruktif dari berbagai pihak.

Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang telah

diberikan.

Palopo, Agustus 2018

Penulis

55
56

LEMBAR PERSETUJUAN

HUBUNGAN OBSESITAS DENGAN KEJADIAN OSTEOARTRITIS


LUTUT PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
PONRANG KABUPATEN LUWU TAHUN 2018

Disusun Oleh:
HUSNAINIL
NIM. 01.2016.081

Skripsi ini Telah Disetujui


Tanggal 30 September 2018

Pembimbing I, Pembimbing II,

Hairuddin Safaat, S.Kep, Ns. M.Kep Dewiyanti, S.Kep.Ns.M.Kes

Mengetahui,
Ketua Program Studi S1 Keperawatan

Grace Tedy Tulak.,S.Kep.,Ns.,M.Kep


NIDN. 0920078503

56
57

DAFTAR ISI
Hal

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN .................................... ii
ABSTRAK ........................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ........................................................................................................ vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................... 4
C. Tujuan Penelitian ............................................................................................ 5
D. Manfaat Penelitian .......................................................................................... 5
E. Keaslian Penelitian ......................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 8
A. Konsep Osteoartritis ........................................................................................ 8
B. Faktor Resiko Osteoartritis ............................................................................. 21
BAB III KERANGKA KONSEP ...................................................................... 28
A. Kerangka Konsep ........................................................................................... 28
B. Hipotesis ......................................................................................................... 30
BAB IV METODE PENELITIAN ................................................................... 31
A. Desain Penelitian ............................................................................................ 31
B. Populasi, Sampel dan Sampling ..................................................................... 31
C. Variabel Penelitian ......................................................................................... 33
D. Defenisi Opersional ........................................................................................ 33
E. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................................ 34
F. Instrumen Penelitian ....................................................................................... 34
G. Prosedur Pengumpulan Data .......................................................................... 35
H. Pengolahan dan Analisa Data.......................................................................... 35
I. Etika Penelitian .............................................................................................. 37

57
58

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................. 39


A. Hasil ............................................................................................................... 39
B. Pembahasan .................................................................................................... 42
C. Keterbatasan penelitian .................................................................................. 45
D. Implikasi Penelitian Untuk Keperawatan........................................................ 46
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 47
A. Kesimpulan .................................................................................................... 47
B. Saran ............................................................................................................... 47
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 49
Lampiran

58
59

ABSTRAK
HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN OBSESITAS DENGAN KEJADIAN
OSTEOARTRITIS LUTUT PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS PONRANG KABUPATEN LUWU TAHUN 2018

Husnainil 1, Hairuddin Safaat2, Dewiyanti 3

Transisi demografi dan transisi epidemiologi, yang ditandai dengan semakin


banyak penduduk berusia lanjut (≥ 60 tahun) membawa perubahan pada trend
penyakit degeneratif termasuk osteoartritis (OA) meningkat. OA merupakan
penyakit sendi yang paling banyak ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa faktor jenis kelamin,
obesitas sebagai faktor risiko OA pada lansia di wilayah kerja puskesmas Ponrang
Kabupaten Luwu.
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan case
control study. Jumlah responden sebanyak 68 sampel, dibagi 2 kelompok yaitu 34
kasus dan 34 kontrol, dimana sampel diambil secara purposive sampling. Data
dikumpulkan dengan wawancara dengan bantuan kuesioner dan dianalisis secara
univariat dan bivariat dengan menggunakan uji statistik Chi Square dan odd Ratio
(OR).
Hasil penelitian menyimpulkan faktor jenis kelamin tidak terbukti sebagai
faktor resiko OA (p : 0.007, OR : 3.968 dan 95% = CI 1.426 - 11.040), sedangkan
faktor obesitas (p: 0.003, OR : 4.643 dan 95% = CI 1.631 - 13.216), faktor yang
terbukti sebagai faktor resiko OA.
Saran penelitian bagi puskesmas khususnya pengelola lansia untuk
meningkatkan kegiatan penyuluhan kesehatan pada kelompok masayarakat
beresiko mengalami OA tentang cara pencegahan faktor yang dapat dimodifikasi
dan bagi masyarakat untuk menjaga berat badan ideal, melakukan aktivitas dengan
prinsip mekanikan tubuh dan menghindari aktivitas penggunaan sendi dalam waktu
lama.

Kata kunci : Jenis Kelamin, Obesitas, Osteoartritis Lutut

59
60

ABSTRACT
THE RELATIONSHIP BETWEEN SEX AND OBSESSITY TYPE WITH
KNEE OSTEOARTRITIS IN ELDERLY IN THE WORKING AREA
PONRANG HEALTH CENTER OF LUWU DISTRICT, 2018
Husnainil 1, Hairuddin Safaat2, Dewiyanti 3

Demographic transition and epidemiological transition, which is


characterized by more elderly people (≥ 60 years) bringing changes to the trend of
degenerative diseases including osteoarthritis (OA) increases. OA is the most
common joint disease in the world, including in Indonesia.
His study aims to prove that gender factors, obesity as a risk factor for OA in
the elderly in the work area of Ponrang health center in Luwu Regency.
His study uses a descriptive analytic design with a case control study
approach. The number of respondents was 68 samples, divided into 2 groups,
namely 34 cases and 34 controls, where the sample was taken by purposive
sampling. Data were collected by interview with questionnaire assistance and
analyzed by univariate and bivariate using Chi Square and odd Ratio (OR) statistical
tests
The results of the study concluded that the gender factor was not proven to be
a risk factor for OA (p: 0.007, OR: 3.968 and 95% = CI 1.426 - 11.040), while the
obesity factor (p: 0.003, OR: 4.643 and 95% = CI 1.631 - 13.216) , a factor that is
proven to be a risk factor for OA.
Research suggestions for health centers, especially elderly managers to
improve health counseling activities in groups of people at risk of developing OA
on how to prevent modifiable factors and for the community to maintain ideal body
weight, carry out activities with the principles of body mechanics and avoid long-
term use of joints

Keywords: Gender, Obesity, Knee Osteoarthritis

60
61

LEMBAR PENGESAHAN

HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN OBSESITAS DENGAN KEJADIAN


OSTEOARTRITIS LUTUT PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS PONRANG KABUPATEN LUWU TAHUN 2018

Disusun Oleh:

HUSNAINIL
NIM. 01.2016.081

Telah diuji di depan Panitia Ujian Skripsi


Pada tanggal, 30 September 2018
dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Tim Penguji :

1. Hairuddin safaat.,S.Kep.,Ns.,M.Kep (…………………….)

2. Dewiyanti,S.Kep.Ns.M.Kes (…………………….)

3. Christin,S.Kep.Ns. M.Kes (…………………….)

Tim Pembimbing

Pembimbing I, Pembimbing II,

Hairuddin safaat.,S.Kep.,Ns.,M.Kep Dewiyanti,S.Kep.Ns.M.Kes

Mengetahui,
Ketua Ketua
STIKES Kurnia Jaya Persada Program Studi Keperawatan
Palopo S1 Keperawatan

Hj. Nurhaeni Azis,S.Kp.M.Kes Grace Tedy Tulak,S.Kep.Ns,M.Kep


NIDN. 0901016001 NIDN. 0920078503

61
62

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

Yang bertandatangan dibawah ini:


Nama : Husnainil
NIM : 01.2016.081
Program Studi : S1 Keperawatan STIKES Kurnia Jaya Persada Palopo

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi dengan judul : “Hubungan Jenis


Kelamin Dan Obsesitas Dengan Kejadian Osteoartritis Lutut Pada Lansia di
Wilayah Kerja Puskesmas Ponrang Kabupaten Luwu Tahun 2018”, adalah hasil
karya saya sendiri yang belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesajarnaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya tidak
terdapat atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali
yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebut dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau
keseluruhan skrisi ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas
perbuatan tersebut.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Palopo, 29 September 2018

Yang Menyatakan,

Husnainil
NIM. 01.2016.081

62
63

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif ........................................ 33

Tabel 4.2 Sebaran OR .......................................................................................... 35

Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi di Wilayah


Kerja puskesmas Ponrang Kabupaten Luwu Tahun 2018 .................. 40
Tabel 5.2 Distribusi Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Penyakit
Osteoartritis (OA) di Wilayah Kerja puskesmas Ponrang Kabupaten
Luwu Tahun 2018 ............................................................................... 40

Tabel 5.3 Distribusi Hubungan Obesitas dengan Kejadian Penyakit Osteoartritis


(OA) di Wilayah Kerja puskesmas Ponrang Kabupaten Luwu
Tahun 2018 ........................................................................................... 41

63
64

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ............................................................. 29

64
65

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Informed Concern ............................................................................. 1

Lampiran 2 Kuesioner Penelitian ......................................................................... 2

Lampiran 3. Izin Penelitian .................................................................................. 3

Lampiran 4. Master Tabel .................................................................................... 4

Lampiran 5. Output Pengolahan Data .................................................................. 5

Lampiran 6. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ................................ 6

65