Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN KASUS SEPSIS

Disusun Oleh :

1. ARIS EKA WIJAYANTININGRUM (201501002)


2. PAMELA NANDA AGUSTIN (201501005)
3. WAHYU SUHARTINI (201501014)
4. YULINDA AYUNINGTIKA (201501033)
5. DWI RINDAYU FARISTA (201501036)
6. UTARI DWI Z.A.Y (201501038)
7. DWI ANGGITA SARI (201501045)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA SEHAT PPNI
MOJOKERTO
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan

rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil

menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya yang berjudul "Laporan

Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Kasus Sepsis ."

Makalah ini berisikan tentang pengertian sepsis, etiologi, manifestasti

klinis, komplikasi, penatalaksanaan, pencegahan dan asuhan keperawatan pada

pasien sepsis. Diharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi tenaga

kesehatan, khususnya dalam pasien dengan kasus sepsi. Kami menyadari bahwa

makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran

dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi

kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terimakasih banyak kepada semua pihak

yang telah berperan serta dalam proses penyusunan makalah ini dari awal

hingga akhir. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang

membacanya.

Mojokerto, 27 Februari 2019

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...........................................................................................i
KATA PENGANTAR..........................................................................................ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Bealakang............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................2
1.3 Tujuan ...........................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi..........................................................................................................3
2.2 Etiologi..........................................................................................................3
2.3 Patofisiologi..................................................................................................5
2.4 Komplikasi....................................................................................................6
2.5 Pemeriksaan Penunjang................................................................................6
2.6 Pencegahan....................................................................................................8
2.7 Konsep Asuhan Keperawatan.......................................................................8
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian.....................................................................................................12
3.2 Analisa Data..................................................................................................20
3.2 Diagnosa Keperawatan..................................................................................21
3.2 Intervensi.......................................................................................................21
BAB IV PENUTUP
4.2 Kesimpulan...................................................................................................23
4.2 Saran..............................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................24

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sepsis didefinisikan sebagai respons tubuh terhadap penyakit infeksi

ditandai dengan disfungsi organ yang mengancam nyawa dan merupakan masalah

kesehatan di dunia saat ini. Sepsis dimasukkan kedalam kategori penyakit darurat

karena ada gangguan dalam pemasukkan oksigen dan nutrisi ke jaringan sehingga

dibutuhkan penanganan kegawat daruratan segera. Hal tersebut yang menjadikan

sepsis sebagai penyebab tersering perawatan pasien di unit perawatan intensif

(ICU). Di Amerika insidensi sepsis berkisar 66-132 per seratus ribu populasi.

Sepsis berat hampir 25% dirawat di ruangan ICU, umunya diakibatkan karena

usia lanjut, imunocompomise, dan penyakit berat yang mendasarinya. Sepsis

merupakan penyebab kematian kedua di ICU pada non-coronary disease.

Sepsis dapat mengenai berbagai kelompok usia. Pada dewasa, sepsis

umunya terdapat pada orang yang mengalami imunocompomise, yang disebabkan

karena adanya penyakit kronik maupun infeksi lainnya. Mortalitas sepsis di

negara yang sudah berkembang menurun hingga 9%, namun tingkat mortalitas

pada negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia, masih tinggi yaitu 50-

70% dan apabila berlanjut pada syok sepsis dan disfungsi organ multiple angka

kematiannya dapat mencapai 80%

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari sepsis ?

3. Apa etiologi dari sepsis ?

4. Bagaimana manifestasi klinis dari sepsis ?

5. Apa saja komplikasi dari sepsis ?

7. Bagaimana penatalaksanaan dan pencegahan dari sepsis ?

8. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien sepsis ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahaui konsep dan asuhan keperawatan pada pasien dengan

kasus sepsis.

1.3.2 Tujuan khusus

1. Untuk mengetahui definisi dari sepsis ?

2. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi dari sepsis ?

3. Untuk mengetahui etiologi dari sepsis ?

4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari sepsis ?

5. Untuk mengetahui apa saja komplikasi dari sepsis ?

7. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan dan pencegahan dari sepsis ?

8. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien sepsis ?

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Sepsis ialah sindrom yang di karakteristikan karena gejala-gejala klinis

& gejala-gejala-gejala-gejala infeksi yang parah yang bisa berkembang ke

arah septisemia & syok septik. (Doenges,2000)


Sepsis adalah suatu keadaan ketika mikroorganisme menginvasi tubuh

dan menyebabkan respon inflamasi sitemik. Respon yang ditimbulkan sering

menyebabkan penurunan perfusi organ dan disfungsi organ. Jika disertai

dengan hipotensi maka dinamakan Syok sepsis. ( Linda D.U, 2006)


Sepsis adalah mikrooganisme patogen atau toksinnya didalam darah.

(Dorland, 2010).
2.2 Etiologi
Sepsis biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri (meskipun sepsis

dapat disebabkan oleh virus, atau semakin sering, disebabkan oleh jamur).

Mikroorganisme kausal yang paling sering ditemukan pada orang dewasa

adalah Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus

pneumonia. Spesies Enterococcus, Klebsiella, dan Pseudomonas juga sering

ditemukan. Umumnya, sepsis merupakan suatu interaksi yang kompleks

antara efek toksik langsung dari mikroorganisme penyebab infeksi dan

gangguan respons inflamasi normal dari host terhadap infeksi. Kultur darah

positif pada 20-40% kasus sepsis dan pada 40-70% kasus syok septik. Dari

kasus-kasus dengan kultur darah yang positif, terdapat hingga 70% isolat

yang ditumbuhi oleh satu spesies bakteri gram positif atau gram negatif saja;

sisanya ditumbuhi fungus atau mikroorganisme campuran lainnya. Kultur lain

seperti sputum, urin, cairan serebrospinal, atau cairan pleura dapat

3
mengungkapkan etiologi spesifik, tetapi daerah infeksi lokal yang memicu

proses tersebut mungkin tidak dapat diakses oleh kultur.


Insidensi sepsis yang lebih tinggi disebabkan oleh bertambah tuanya

populasi dunia, pasien-pasien yang menderita penyakit kronis dapat bertahan

hidup lebih lama, terdapat frekuensi sepsis yang relatif tinggi di antara

pasien-pasien AIDS, terapi medis (misalnya dengan glukokortikoid atau

antibiotika), prosedur invasif (misalnya pemasangan kateter), dan ventilasi

mekanis.
Sepsis dapat dipicu oleh infeksi di bagian manapun dari tubuh. Daerah

infeksi yang paling sering menyebabkan sepsis adalah paru-paru, saluran

kemih, perut, dan panggul. Jenis infeksi yang sering dihubungkan dengan

sepsis yaitu:
1. Infeksi paru-paru (pneumonia)
2. Flu (influenza)
3. Appendiksitis
4. Infeksi lapisan saluran pencernaan (peritonitis)
5. Infeksi kandung kemih, uretra, atau ginjal (infeksi traktus urinarius)
6. Infeksi kulit, seperti selulitis, sering disebabkan ketika infus atau kateter

telah dimasukkan ke dalam tubuh melalui kulit

7. Infeksi pasca operasi


Infeksi sistem saraf, seperti meningitis atau encephalitis. Sekitar pada satu

dari lima kasus, infeksi dan sumber sepsis tidak dapat terdeteksi.
2.3 Patofisiologi

Perubahan fungsi
miokardium Infeksi Kuman

Bakteri Gram (-): saluran Bakteri Gram (+): infeksi kulit,


empedu, saluran gastrointestinal saluran respirasi, luka terbuka
seperti terbakar

Disfungsi dan kerusakan endotel


dan disfusi organ multipel

4
Sepsis

Perubahan ambilan Terhambatnya fungsi Terganggunya sistem


penyerapan O2 terganggu mitokondria pencernaan

Kontraksi jantung
menurun Suplai O2 terganggu Kerja sel menurun Nafsu makan menurun

Curah jantung
menurun
Sesak Penurunan respon MK: Ketidak
imun seimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh
Suplai O2 menurun
MK: Ketidak efektifan
2.4 Manifestasi Klinis MK: Resiko infeksi
bersihanmenggigil,
1. Umum : Demam, jalan nafaslelah, malaise dan gelisah
2. Saluran cerna : distensi abdomen ,anoreksia , muntah dan diare.
3. Saluran nafasan : apsnea ,dipsnea, sianosis .
MK: Ketidak
4. System kardiovaskuler : pucat,hipotensi bradikardi.
efektifan perfusi
5. Hematologi : ikterus, pucat.
jaringan perifer

2.4 Komplikasi
1. Meningitis
2. Hipoglikemi
3. Aasidosis
4. Gagal ginjal
5. Disfungsi miokard
6. Perdarahan intra cranial
7. Icterus
8. Gagal hati
9. Disfungsi system saraf pusat
10. Kematian
11. Sindrom distress pernapasan dewasa (ARDS)
2.5 Pemeriksaan Penunjang

5
1. Pengobatan terbaru syok sepsis mencakup mengidentifikasi dan

mengeliminasi penyebab infeksi yaitu dengan cara pemeriksaan-

pemeriksaan yang antara lain:


2. Kultur (luka, sputum, urin, darah) yaitu untuk mengidentifikasi organisme

penyebab sepsis. Sensitifitas menentukan pilihan obat yang paling

efektif.
3. SDP : Ht Mungkin meningkat pada status hipovolemik karena

hemokonsentrasi. Leucopenia(penurunan SDB) terjadi sebalumnya,

diikuti oleh pengulangan leukositosis (1500-30000)d4engan peningkatan

pita (berpindah kekiri) yang mengindikasikan produksi SDP tak matur

dalam jumlah besar.


4. Elektrolit serum: Berbagai ketidakseimbangan mungkin terjadi dan

menyebabkan asidosis, perpindahan cairan dan perubahan fungsi ginjal.


5. Trombosit : penurunan kadar dapat terjadi karena agegrasi trombosit .
6. PT/PTT : mungkin memanjang mengindikasikan koagulopati yang

diasosiasikan dengan hati/sirkulasi toksin/ status syok.


7. Laktat serum : Meningkat dalam asidosis metabolik, disfungsi hati, syok .
8. Glukosa Serum : hiperglikenmio yang terjadi menunjukkan

glikoneogenesis dan glikonolisis di dalam hati sebagai respon dari puasa/

perubahan seluler dalam metabolisme .


9. BUN/Kreatinin : peningkatan kadar diasosiasikan dengan dehidrasi,

ketidakseimbangan atau kegagalan ginjal, dan disfungsi atau kegagalan

hati.
10. GDA : Alkalosis respiratosi dan hipoksemia dapat terjadi sebelumnya.

Dalam tahap lanjut hipoksemia, asidosis respiratorik dan asidosis

metabolik terjadi karena kegagalan mekanisme kompensasi .


11. EKG : dapat menunjukkan segmen ST dan gelombang T dan distritmia

menyerupai infarkmiokard

6
2.6 Pencegahan

1. Hindarkan trauma pada permukaan mukosa yang biasanya dihuni bakteri

Gram-negatif.
2. Berikan semprotan ( spray) polimiksin pada faring posterior untuk

mencegah pneumonia Gram– negatif ,nasokomial.


3. Lingkungan yang protektif pasien beresiko kurang berhasil

karena sebagian besar infeksi berasal dari dalam ( endogen )


2.7 Konsep Asuhan Keperawatan

1.PENGKAJIAN

a. Identitas Klien

1. Riwayat Penyakit

a) Keluhan utama

b) Riwayat penyakit sekarang

c) Riwayat penyakit dahulu

d) Riwayat penyakit keluarga


b. Pemeriksaan menggunakan pendekatan ABCDE.
a) Airway
 Yakinkan kepatenan jalan napas
 Berikan alat bantu napas jika perlu
 Jika terjadi penurunan fungsi pernafasan segera kontak ahli

anastesi dan bawa segera mungkin ke ICU


b) Breathing
 Kaji jumlah pernapasan lebih dari 24 kali per menit merupakan

gejala yang signifikan


 Kaji saturasi oksigen
 Periksa gas darah arteri untuk mengkaji status oksigenasi dan

kemungkinan asidosis
 Berikan 100% oksigen melalui non re-breath mask.
 Auskultasi dada, untuk mengetahui adanya infeksi di dada
 Periksa foto thorak

7
c) Circulation

 Kaji denyut jantung, >100 kali per menit merupakan tanda

signifikan
 Monitoring tekanan darah, tekanan darah<>
 Periksa waktu pengisian kapiler
 Pasang infuse dengan menggunakan canul yang besar
 Berikan cairan koloid-gelofusin atau haemaccel
 Pasang kateter
 Lakukan pemeriksaan darah lengkap
 Siapkan untuk pemeriksaan kultur
 Catat temperature, kemungkinan pasien pyreksia atau

temperature kurang dari 36°C


 Siapan pemeriksaan urin dan sputum
 Berikan antibiotic spectrum luas sesuai kebijakan setempat.

d) Disability

Bingung merupakan salah satu tanda pertama pada pasien

sepsis padahal sebelumnya tidak ada masalah (sehat dan baik). Kaji

tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU.

e) Exposure

Jika sumber infeksi tidak diketahui, cari adanya cidera, luka

dan tempat suntikan dan tempat sumber infeksi lainnya.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Gangguan pola pernapasan yang berhubungan dengan apnea


Intervensi kperawatan :
1. Kaji perubahan pernapasan meiputi takipnea, pernapasan cuping

hidung, gunting, sianosis, ronki kasar, periode apnea yang lbih dari

10 detik.

8
2. Pantau denyut jantung secara elektronik untuk mngetahui

takikardia atau bradikardia dan perubahan tekanan darah.


3. Sediakan oksigen lembap dan hangat dengan kadar T1O2 yang

rendah untuk menjaga pengeuaran energi dan panas.


4. Sediakan alat bantu pernapasan atau ventilasi mekanik.
5. Isap lendir atau bersihkan jalan napas secara hati-hati.
6. Amati gas darah yang ada atau pantau tingkat analisis gas darah

sesuai kebutuhan.
b. Potensi terhadap infeksi (progresi dari sepsis ke syok sepsis)

sehubungan dengan perkembangan infeksi opportunistik.


1. Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi
2. Cuci tangan sebelum atau sesudah aktifitas walaupun mnggunakan

sarung tangan
3. Batasi pnggunaan alat/prosedur invasif jika memungkinkan.
4. Gunakan teknik steril
5. Monitor suhu/peningkatan suhu secara teratur
6. Amati adanya menggigil
7. Pantau TTV klien
8. Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian antibiotic
c. Resiko tinggi terjadinya perubahan suhu : hyprthermi/hypothermi

sehubungan dengan peningkatan tingkat metabolisme tubuh.

Vasokontriksi/vasodilatasi pembuluh darah.


1. Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan

menggigil/diaforeses
2. Panatau suhu lingkungan/ pengaturan suhu lingkungan
3. Beri kompres (dingin, hangat) bila terjadi peningkatan/penurunan

suhu
4. Catat peningkatan/penurunan suhu tubuh
5. Kolaborasi dengan team medis dalam pemeriksaan laboratiorium

(leukosit meningkat)

BAB III

TINJAUAN KASUS

9
Ny S adalah pasien rujukan dari puskesmas Medika Indah dengan

P3A3H0, dengan post SC dan enklamsia. Keluarga pasien mengatakan bahwa

pasien terus kejang-kejang dan menggigil, tekanan darah tinggi, suhu naik turun

sehingga pasien dirujuk ke RSUP Mataram oleh dokter dan mendapatkan

perawatan di ruang melati, pasein tampak pucat, terpasang ventilator 3 Lt/menit

tersambung dengan kanul trakeal, tampak pada kanul trakeal ada sumbatan secret,

tampak ada luka dekubitus, tampak pada luka basa dengan secret yang keluar.

Pasien tampak lemah dengan tanda-tanda vital TD : 130/90 mmHg, Nadi :

107x/menit, Suhu : 380c, RR : 17x/menit, GCS : E :3, V:1, M:3

3.1 Pengkajian

1) Identitas pasien:

Nama : Ny S
Umur : 39 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Alamat : Ds Jabon –Mojokerto
Tgl MRS : 01-03-2019
Tgl Pengkajian : 01-03-2019
Diagnosa Medis : Sepsis
2) Identitas Penaggung Jawab
Nama : Tn H
Umur : 36 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Ds Jabon –Mojokerto
Hubungan dengan pasien : Suami

2) Keluhan utama

10
Keluarga klien mengatakan pasien kejang-kejang dan menggigil

3) Riwayat Kesehatan Sekarang

Rujukan dari puskesmas Medika Indah dengan P3A3H0, dengan post SC

dan enklamsia. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien terus kejang-kejang

dan menggigil, tekanan darah tinggi, suhu naik turun sehingga pasien dirujuk

ke RSUP Mataram oleh dokter dan mendapatkan perawatan di ruang melati,

pasein tampak pucat, terpasang ventilator 3 Lt/menit tersambung dengan kanul

trakeal, tampak pada kanul trakeal ada sumbatan secret, tampak ada luka

dekubitus, tampak pada luka basa dengan secret yang keluar.

4) Riwayat Kesehatan Dahulu

Pasien mempunyai riwayat SC dua tahun yang lalu, dan penyakit yang

diderita sekarang tidak pernah dialami sebelumnya

5) Riwayat Kesehatan Keluarga

Keluarga pasien mengatakan keluarganya tidak pernah mengalami

penyakit seperti yang diderita pasien sekarang.

6) Riwayat Bio-Psiko-Sosial-Spiritual

1. Riwayat Biologis
a. Pola pernafasan
- Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien bias bernafas dengan

baik tanpa ada hambatan

11
- Saat sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien mengalami gangguan

dalam pernafasan atau pasien agak sesak disertai batuk berdahak dengan

penumpukan secret
b. Pola nutrisi
- Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien bias makan 3x sehari

dengan pola makan nasi, lauk, lengkap dengan sayuran dengan porsi yang

disediakan dengan habis, nafsu makan baik, banyak minum 6-7 gelas per

hari
- Saat sakit : Keluarga pasien mengatakan tidak mendapatkan nasi dan lauk

melainkan hanya minum susu saja setiap 4 jam sekali

c. Pola eliminasi
- Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien BAB 1x sehari pada

pagi hari tanpa ada gangguan, dengan konsistensinya lunak, warna dan bau

khas feses, BAK lancer dengan frekuensi 4-5x sehari dengan warna dan

bau khas urin


- Saat sakit : Keluarga pasien mengatakan klien BAB melalui pampers dan

tampak pasein BAK melalui selang kateter


d. Pola istirahat-tidur
- Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien istirahat dengan baik,

tidur siang sekitar 2-3 jam dan .tidur malam 7-8 jam
- Saat sakit : Keluarga pasien mengatakan istirahat-tidur terganggu karena

terkadang batuk dan sesak nya kambuh. Frekuensi 2-3 jam per hari
e. Pola aktivitas
- Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien tidak mengalami

gangguan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari


- Saat sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien mengalami gangguan

dalam beraktivitas, pasien tampak lemah dan sebagian aktivitas pasien

dibantu oleh keluarga


f. Personal Hygiene

12
- Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien bias mandi 2-3 kali

sehari dengan menggunakan sabun, keramas 1-2 kali seminggu,

menggosok gigi sebelum mandi dan mengganti pakaian setiap selesai

mandi atau dalam keadaan kotor


- Saat sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien mandi hanya di seka saja

oleh perawat.
2. Riwayat Psikologis
- Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan tidak pernah cemas terhadap

kondisi pasien
- Saat sakit : Keluarga pasien mengatakan cemas terhadap kondisi pasien

dan tampak bertanya kepada dokter atau perawat tentang kondisi pasien
3. Riwayat Sosial
- Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien selalu berinteraksi

dengan masyarakat dan keluarganya


- Saat sakit : Keluarga pasien mengatakan selama sakit pasien tidak pernah

berkomunikasi dengan orang disekitar


4. Riwayat Spiritual
- Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien melaksanakan ibadah

sholat 5 waktu seperti biasa


- Saat sakit : Keluarga pasien mengatakan dalam melaksanakan ibadah

sehari-hari pasien dibimbing oleh suami


5. Pemeriksaan fisik :
1. Keadaan umum : Pasien tampak lemah
2. Kesadarn : Apatis, GCS : E : 3, V : 1, M : 3
3. TTV : TD : 130/90 mmHg, N : 107x/menit, S : 380c, RR : 17x /menit
4. Pemeriksaan Head to Toes

 Kepala
Inspeksi: Simetris, pertumbuhan rambut rata, tidak ada ketombe

dan tidak ada lesi


Palpasi : Tidak teraba benjolan dan tidak terdapat nyeri tekan
 Mata
Inspeksi : Simetris, konjungtiva pucat, pergerakan bola mata bagus
Palpasi : Tidak teraba adanya nyeri tekan
 Telinga

13
Inspeksi : Simetris, tidak ada lesi dan secret
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
 Hidung
Inspeksi : Tampak terpasang NGT dan tidak terdapat lesi
 Mulut
Inspeksi : Mukosa bibir tampak kering, gigi tampak kotor dan

lengkap, tampak keluar air liur


 Leher
Inspeksi : Tampak ada luka bekas operasi pada trakeostomi tampak

terbuka
Palpasi : Tidak ada massa, terdapat nyeri tekan
 Thorac dan Jantung
Inspeksi : Bentuk simetris, terdapat tarikan dinding dada
Palpasi : Tidak teraba adanya nyeri tekan
Auskultasi : Bunyi paru ronchi dan terdengar suara wheezing,

bunyi jantung S1 S2 tunggal


 Abdomen
Inspeksi : Tidak ada lesi atau bengkak, terlihat adanya bintik-bintik

kemerahan dan terdapat bekas luka SC


Palpasi : Tidak teraba adanya massa, terdapat nyeri tekan
 Kulit
Inspeksi : Tampak pucat, terlihat adanya bintik-bintik kemerahan
Palpasi : Turgor kulit tidak elastic dan kembali lambat 3-4 detik
 Ekstremitas atas
Inspeksi : Terpasang infus di tangan kanan, kekuatan otot lemah,

kedua tangan tampak simetrsi


Palpasi : Tidak teraba adanya massa
 Ektremitas bawah
Inspeksi : Kedua kaki tampak simetris, kekuatan otot lemah, tidak

ada odeme atau lesi


Palpasi : tidak ada nyeri tekan

7) Pemeriksaan Penunjang

14
Jenis Pemeriksaan Hasil Normal
WBC 8,69 /ul 4,0 – 11,0
NEUT 5,25% 50-70
LYMPH 2,17% 25-33
MONO 7,38% 3-8
EO 4,49% 0-1
BASO 0,88% 0-1
RBC 3,5 M/ul P : 4,0 – 5,0, L :
4,5 – 5,5
HGB 9,05 g/dl P : 11,5 – 16,5,
L : 13,0 – 16,5
HCT 51,3% P : 37,0 – 45,0.
L : 40,0 – 50,0
MCV 89,1 fI 82,0 – 92,0
MCH 25,8 Pg 27,0 – 31,0
MCHC 28,9 g/dl 32,0 – 37,0
RDW-CV 17,7% 35 – 47
PLT 372/ul 150 – 400
MPV 11,6 fl 7,2 – 11,1
PDW 20,1 fl 9,0 – 13,0
Glukosa Sewaktu 140 mg <160
SGOT/AST 30 mg/dl <40
SGPT 34 mg/dl <41
Albumin 4,4 g/dl 3,5 – 5,0
Ureum 56 mg/dl 6,26
Kreatin 4,1 mg% P : 0,6 – 1,1, L :
0,9 – 1,3

3.2 Analisa Data

No Analisa Data Etilogi Masalah


1 DS : Perubahan ambilan Ketidakefektifan
- Keluarga pasien mengatakan penyerapan O2 bersihan jalan
pasien mengalami gangguan terganggu nafas
dalam bernafas
DO :
-Tampak ada tindakan suction
Suplai O2
-Pasien tampak sulit bernafas
terganggu
-Tampak terpasang ventilator

15
dan tersambung dengan kanul
trakeal
Pemeriksaan Fisik (Thorax) Sesak
-Inspeksi : Bentuk simetris
terdapat tarikan dinding dada
-Palpasi : Terdapat nyeri tekan Ketidakefektifan
-Perkusi : Terdengan suara bersihan jalan nafas
tambahan
-Auskultasi : Bunyi ronchi dan
wheezing
-Tampak pada kanul trakeal ada
sumbatan sekret
TTV :
TD : 130/90 mmHg
N : 107x/menit
S : 380c
RR : 17x/menit

2 DS : Terhambatnya Resiko tinggi


DO : fungsi mitokondria infeksi
-Tampak ada luka bekas operasi
SC
-Tampak ada luka bekas
Kerja sel menurun
opereasi trakeostomi
-Luka trakeostomi tampak
terbuka dengan kanul trakeal
-Suhu : 380c Penurunan respon
-Tampak pada luka basah imun
dengan sekret yang keluar
-Tampak ada luka dekubitus
Resiko tinggi
infeksi

3.3 Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan

produksi sekret
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur infasif ditandai dengan

tampak ada luka bekas operasi

3.4 Intervensi

16
No Dx Tujuan dan KH Tindakan Keperawatan
1. Mengkaji fungsi pernafasan : Auskultasi
1 Tujuan :
bunyi nafas, TTV
Setelah dilakukan tindakan
2. Memberikan posisi yang nyaman bagi
keperawatan selama 1x24 jam
pasien (Semifowler)
pasien menunjukkan fungsi
3. Memberikan pakaian longgar serta
pernafasan normal
menyerap keringat
KH :
4. Melakukan tindakan suction bila ada
- Menunjukkan pembersihan
sekresi tertahan
jalan nafas yang efektif
5. Kolaborasi dengan dokter dalam
- Menunjukkan status
pemberian cairan infuse angioplasma dan
pernafasan yang di buktikan
ventilator
oleh indikator gangguan
sebagai berikut :
a. Kemudahan bernafas
b. Pergerakan sputum keluar
dari jalan nafas
c. Suara nafas jernih
d. Irama frekuensi pernafasan
dalam rentan normal

1. Mencuci tangan sebelum dan


2 Tujuan :
sesudah melakukan tindakan
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan
keperawatan selama 1x24 jam
2. Melakukan pergantian posisi
pasien bebas dari tanda dan
sesering mungkin
gejala infeksi
3. Menggunakan teknik steril pada
KH :
waktu penggantian balutan
- - Menunjukkan kemampuan
4. Kolaborasi dengan dokter dalam
untuk mencegah timbulnya
pemberian antibiotik
infeksi
- - Jumlah leukosit dalam batas
normal
- - Menunjukkan perilaku hidup
sehat

17
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Sepsis didefinisikan sebagai respons tubuh terhadap penyakit infeksi

ditandai dengan disfungsi organ yang mengancam nyawa. Sepsis dapat

mengenai berbagai kelompok usia. Pada dewasa, sepsis umunya terdapat pada

orang yang mengalami imunocompomise, yang disebabkan karena adanya

penyakit kronik maupun infeksi lainnya

4.2 Saran

Dengan menyusun makalah ini, kami harap mampu meningkatkan

pemahaman serta menanggapi apa yang telah penulis susun untuk kemajuan

penulisan selanjutnya dan dalam bermanfaat dalam asuhan keperawatan

dalam kasus sepsis.

18
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Ediai 8.

Jakarta : EGC.
Doenges, Marilyn E.dkk. 2000. Rencana Perawatan. Jakarta : EGC.

Datta, Parul. 2007. Pediatric Nursing. JAYPEE:New Delhi

Maryunani, Anik. 2009. Asuhan Kegawatdaruratan & Penyulit Pada Neonatus.

Penerbit Buku Kesehatan: Jakarta

McMillan, Julia A. 2006. Oski’s Pediatrics Principles & Practice. Lippincott

Williams & Wilkins: USA

Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2.

Jakarta : Media Aesculapius FK UI.


Muttaqin, Arif. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dgn Gangguan Sistem

Pernapasan : Salemba

Setyohadi ,Bambang dkk.(2006), Buku ajar penyakit dalam .Jakarta . Fakultas

Kedokteran UI.

Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan. Jakarta : Info

Medika Jakarta.

Suwondo A. 2014. Kegagalan Multi organ dalam Siti.S., Alwi, I., Sudoyo.,

Marcellus, S., Bambang, S., Syam AF. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid

19
III Ed VII. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK

UI. 4099-4129

Surasmi, Asrining. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Penerbit Buku

Kedokteran EGC: Jakarta

20

Anda mungkin juga menyukai