Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

SIMULASI PERSILANGAN MONOHIBRIDA

Kelompok 6

Disusun oleh :

1. Ainun Hidayah (4401417010)


2. Puspita Diana Arumawati (4401417033)
3. Radif Nur Rahmatulloh Ahmad (4401417051)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SEMARANG
2019
A. Tanggal Praktikum : 3 September 2019.

B. Tujuan Praktikum
1. Membuktikan adanya prinsip segresi secara bebas.
2. Membuktikan perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrida,
yaitu perbandingan genotip 1 : 2 : 1 dan perbandingan genotip 3 : 1.
3. Dapat menggunakan uji Chi-Square (khi-kuadrat) dalam analisis genetika
Mendel.

C. Landasan Teori
Monohibrid crosses are crosses between two individuals with different
behaviors and traits. These monohibrid crosses produce a ratio of 1: 2: 1 and 3: 1.
Monohibrid crosses can be divided into 2, namely dominant monohibrid views and
intermediate crosses.Monohibrid crosses represent crosses involving one different
trait between two individuals. Crossing between normal and curved produces normal
f1. The dominant law in monohibrid crosses is to use crossing two homozygous
males and females homozygous with contracted pairs, F1 properties, such traits are
called dominant traits (Schwarzbach, 2014).
Mendel melakukan persilangan monohibrid atau persilangan satu sifat beda,
dengan tujuan mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua kepada generasi berikutnya.
Persilangan ini untuk membuktikan hukum Mendel I yang menyatakan bahwa
pasangan alel pada proses pembentukkan sel gamet dapat memisah secara bebas.
Hukum Mendel I disebut juga dengan hukum segregasi/pemisahan. Dalam
melakukan persilangan monohibrid tersebut Mendel menggunakan tanaman ercis
sebagai bahan penelitiannya karena mempunyai tujuh sifat beda yang mencolok,
memiliki bunga sempurna, mudah disilangkan, memiliki umur yang pendek serta
keturunan yang dihasilkan dalam jumlah banyak. Persilangan monohibrid yang
menghasilkan keturunan dengan perbandingan F2, yaitu 1 : 2 : 1 merupakan bukti
berlakunya hukum Mendel I yang di kenal dengan nama Hukum Pemisahan Gen
yang sealel (Tosida, 2011).
Bila individu genotipe BB atau bb dikawinkan sesamanya, maka tetap
mengalami pemisahan atau mengalami Hukum Mendel I. Hanya saja hasil pemisahan
adalah gamet yang sama yakni B dan B atau b dan b. Demikian juga individu
heterozigot akan mengalami pemisahan menjadi B dan b. Jadi semua individu dengan
genotip homozigot atau heterozigot sama-sama akan mengalami pemisahan sesuai
hukum Mendel I (Nusantari, 2013).
Hukum pemisahan dan hukum pilihan bebas merupakan hukum yang
dirumuskan oleh G. J. Mendel pada tahun 1865. Secara garis besar, hukum
pemisahan Mendel menjelaskan terkait keberadaan sepasang faktor yang
mengendalikan setiap karakter akan memisah pada waktu pembentukan gamet. Pada
hukum pilihan bebas, Mendel menjelaskan bahwafaktor-faktor yang menentukan
karakter-karakter yang berbeda diwariskan secara bebas satu sama lain. Istilah faktor
yang dijelaskan oleh Mendel tersebut di kemudian hari di kenal dengan istilah gen.
(Fauzi, 2016).
Kenyataan adanya ciri yang menang terhadap yang lainnya, J.G.
Mendel menyimpulkan bahwa pada individu-individu (atau pada ciri-ciri heterozigot,
satu alela dominan sedangkan yang lainnya resesif). Kenyataannya bahwa ciri-ciri
induk muncul kembali pada turunan tanaman ercis yang tumbuh dari biji heterozigot.
Mendel menyimpulkan bahwa kedua faktor untuk kedua ciri tidak bergabung (tidak
bercampur) dalam cara apapun kedua faktor itu tetap berdiri sendiri selama hidupnya
individu dan memisah pada waktu pembentukan gamet-gamet.Dalam hubungan ini
separuh gamet membawahi satu faktor, sedangkan separuhnya yang lain membawahi
faktor lainnya. Kesimpulan terakhir inilah yang di kenal dengan hukum pemisahan
Mendel atau Hukum I Mendel (Firdauzi,2014).
Pada percobaan simulasi persilangan monohibrid ini dilakukan uji Chi-Square
untuk mengetahui kebenaran atau validitas dari data yang diperoleh. Chi-square
disebut juga dengan Khi Kuadrat. Uji Chi-square adalah salah satu jenis uji
komparatif non parametris yang dilakukan pada dua variabel, dimana skala data
kedua variabel adalah nominal. Apabila dari 2 variabel, ada 1 variabel dengan skala
nominal maka dilakukan uji Chi-square dengan merujuk bahwa harus digunakan uji
pada derajat yang terendah. Uji Chisquare merupakan uji non parametris yang paling
banyak digunakan. Perlu diketahui syarat-syarat uji ini adalah frekuensi responden
atau sampel yang digunakan besar (Negara, 2018).

D. Metode
- Alat dan Bahan
Kancing genetika dua macam warna masing-masing berjumlah 50
- Cara Kerja
1. Kancing genetika dua warna diambil masing-masing 50 dan ditentukan
simbol-simbol gen dan sifat yang diwakili oleh setiap warna kancing.
2. Kancing genetika (misal warna merah) sebanyak 50 buah dipisah menjadi
dua bagian, masing-masing terdiri dari 25 buah sebagai gamet betina dan
25 buah sebagai gamet jantan. Demikian pula 50 kancing warna yang lain
(misal kancing putih) dibagi menjadi dua, 25 sebagai gamet jantan dan 25
sebagai gamet betina.
3. Dua puluh lima kancing merah + 25 kancing putih sebagai gamet jantan
dimasukkan kedalam suatu kantong, demikian pula untuk sisanya
dimasukkan dalm kantong yang lain, sebagai gamet betina.
4. Kancing genetika secara acak satu diambil dari kantong pertama dan 1
kancing dari kantong kedua dipertemukan dan ditabulasi.
5. Menggunakan cara yang sama dilakukan terus sampai kancing-kancing
yang berfungsi sebagai gen habis.
6. Perbandingan yang diperoleh dihitung, baik perbandingan genotip maupun
fenotipnya.
7. Hasil perbandingan yang diperoleh kemudian diuji dengan Khi-kuadrat.
E. Hasil dan Pembahasan
 Hasil
 Data Kelompok
KombinasiKancing Fenotip Tally Frekuensi
(Kombinasi Gen)
Kuning – Kuning Manis IIIII IIIII II 12
IIIII IIIII III 13
Jumlah = 25
Kuning – Putih Manis IIIII IIIIIIIIIIIIIIIIIIII 25
IIIII IIIIIIIIIIIIIIIIIIII 25
Jumlah = 50
Putih - Putih Masam IIIII IIIII III 13
IIIII IIIII II 12
Jumlah = 25

 Data Kelas
Kelompok Homozigotdominan Homozigot Homozigotresesif
1 30 42 28
2 22 55 23
3 27 46 27
4 25 50 25
5 25 50 25
6 25 50 25
7 22 56 22
8 28 44 28
Jumlah 204 393 203

Perbandingan fh 200 400 200


Uji X2
 Data Kelompok Perbandingan Genotipe
( 𝐟𝟎 − 𝐟𝐡 )
Genotipe f0 fh I f0 -fh I ( f0 -fh )
𝐟𝐡
MM 25 25 0 0 Tidak terdefinisi
Mm 50 50 0 0 Tidak terdefinisi
Mm 25 25 0 0 Tidak terdefinisi

 Data Kelas Perbandingan Genotipe


( 𝐟𝟎 − 𝐟𝐡 )
Genotipe f0 fh I f0 -fh I ( f0 -fh )
𝐟𝐡
Homozigot 204 200 4 16 0,08
dominan
Heterozigot 393 400 7 49 0,1225
Homozigot resesif 203 200 3 9 0,045

 Data Kelompok PerbandinganFenotipe


Fenotipe f0 fh I f0 -fh I ( f0 -fh ) ( 𝐟𝟎 − 𝐟𝐡 )
𝐟𝐡
Dominan 75 75 0 0 Tidak terdefinisi
Resesif 25 25 0 0 Tidak terdefinisi

 Data Kelas Perbandingan Fenotipe


( 𝐟𝟎 − 𝐟𝐡 )
Fenotipe f0 fh I f0 -fh I ( f0 -fh )
𝐟𝐡

Dominan 597 600 3 9 0,015

Resesif 203 200 3 9 0,045


Analisis Data :
 Data Kelompok
P = 0,5
 Genotipe
Df = n – 1
=3–1
=2
X2 tabel = 5,99
X2 hitung = 0
X2 hitung < X2 tabel maka H0 diterima.
(Tidak ada perbedaan antara praktikum dan teori).
 Fenotipe
Df = n – 1
=2–1
=1
X2 tabel = 3,84
X2 hitung = 0
X2 hitung < X2 tabel maka H0 diterima.
(Tidak ada perbedaan antara praktikum dan teori).

 Data Kelas
P = 0,05
 Genotipe
Df =n–1
=3–1
=2
X² tabel = 5, 99
X² hitung = 0,2475
X² hitung < X² tabel maka H0diterima.
(Tidak ada perbedaan antara praktikum dan teori).
 Fenotipe
Df =n–1
=2–1
=1
X² tabel = 3, 84
X² hitung = 0,06
X² hitung < X² tabel, maka H0 diterima.
(Tidak ada perbedaan antara praktikum dan teori).

 Pembahasan
Genetika adalah cabang ilmu biologi yang mengacu pada studi tentang gen
(Brown dalam Corebima, 2009). Zubaidah menyebutkan dalam Sumampouw, 2011
hampir atau tidak satupun ilmu biologi yang dapat berkembang tanpa konsep
genetika. Gen merupakan unit terkecil dari genetik yang terdapat didalam
kromosom. Gen mengontrol pembuatan polipeptida (protein) tertentu. Satu gen
mengontrol pembuatan satu macam polipeptida. Polipeptida digunakan sebagai
penyusun sel (sebagai protein struktural), ada pula polipeptida yang difungsikan
menjadi enzim (sebagai protein fungsional). Dengan demikian gen mengontrol baik
struktur maupun fungsi metabolisme sel. Dengan kata lain, gen mengendalikan sifat-
sifat makhluk hidup.Gen didefinisikan sebagai interval sepanjang molekul-molekul
DNA. Sebagian besar gen membawa informasi yang dibutuhkan dalam membuat
protein (Murti, 2009).
Hukum I Mendel merupakan hukum segregasi atau hukum pemisahan alel-
alel dari suatu gen yang berpasangan. Pada pembentukkan sel kelamin (gamet),
pasangan-pasangan alel memisah secara bebas. Hukum ini berlaku untuk persilangan
dengan satu sifat beda (monohibrid). Persilangan monohibrid merupakan suatu
persilangan dengan menggunakan varietas-varietas induk dengan hanya memiliki satu
beda sifat. Pada sepasang alel yang berbeda, salah satunya akan bersifat dominan dan
yang lain bersifat resesif. Percobaan persilangan tersebut dilakukan bertujuan untuk
mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua terhadap keturunannya (Campbell, 2004).
Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis dengan
memperhatikan satu sifat beda. Generasi tetua atau induk dinamakan dengan P1
(parental pertama), kemudian hasil persilangannya dinamakan dengan hibrid dan
diberi label sebagai generasi F1 (filial pertama). Kemudian apabila sesama F1
disilangkan lagi maka dinamakan dengan parental ke dua (P2) dan hasil dari
persilangan P2 dinamakan dengan F2 (filial ke dua). Persilangan antara rambutan
yang berbuah manis dengan rambutan yang berbuah masam, persilangan antara ayam
berbulu putih dengan ayam berbulu hitam, manusia berkulit putih dengan manusia
berkulit hitam, dan suami yang bertubuh tinggi dengan istri yang bertubuh rendah.
Persilangan antara sesamanya dapat digambarkan dalam bentuk diagram. Diagram
tersebut dikenal sebagai diagram Punnett.
Genotip adalah satu set alel yang menentukan ekspresi karakteristik atau sifat
tertentu (fenotipe). Genotipe merupakan susunan genetik organisme dan biasanya
disebut dengan sifat-sifat tertentu yang mereka gambarkan. Genotip ada dalam bentuk
data genetik seperti DNA atau RNA. Genotip mengacu pada seluruh himpunan gen
dalam sel, organisme, atau individu. Sebuah gen dengan karakter atau sifat tertentu
mungkin ada dalam dua bentuk alel, salah satunya adalah dominan (misalnya B) dan
yang lainnya adalah resesif (misalnya b).
Karakter fenotipe adalah suatu karakteristik (baik struktural, biokimiawi,
fisiologis, dan perilaku) yang dapat diamati dari suatu organisme yang diatur oleh
genotipe dan lingkungan serta interaksi keduanya (Nilahayati,2015). Fenotip
ditentukan sebagian oleh genotip individu, sebagian oleh lingkungan tempat individu
itu hidup, waktu, dan pada sejumlah sifat, interaksi antara genotip dan lingkungan.
Pengertian fenotip mencakup berbagai tingkat dalam ekspresi gen dari suatu
organisme. Pada tingkat organisme, fenotip adalah sesuatu yang dapat
dilihat/diukur/diamati, sesuatu sifat atau karakter.
Manfaat dari persilangan monohibrid adalah untuk menghasilkan sifat-sifat
yang unggul pada keturunannya. Sifat unggul yang diinginkan dapat diperoleh dari
persilangan dua indukan yang memiliki sifat unggul seperti yang diinginkan. Dalam
pertanian, persilangan monohibrid sering dimanfaatkan pada pemuliaan tanaman
untuk menghasilkan varietas tanaman yang unggul dengan produktivitas tinggi
(Abdurrahman, 2009).
Generasi F2 tanaman akan mengalami segregasi sesuai dengan hukum Mendel
sehingga akan menyebabkan keragaman. Keragaman genetik yang luas akan
mempengaruhi keberhasilan seleksi. Dengan demikian, seleksi pada populasi F2 akan
sangat efektif untuk memperoleh individu tanaman yang memiliki sifat seperti yang
diharapkan. Keberhasilan seleksi juga dipengaruhi oleh tingkat heritabilitas dari
karakter-karakter yang akan diseleksi (Jameela, 2014).
Keragaman genetik suatu populasi tergantung pada apakah populasi tersebut
merupakan generasi bersegregasi dari suatu persilangan, pada generasi ke berapa, dan
bagaimana latar belakang genetiknya (Syukur et al., 2010). Pada populasi F2 hasil
persilangan, terjadi segregasi sehingga akan menyebabkan keragaman. Keragaman
genetik populasi F2 akan menjadi luas bila kedua tetua yang digunakan memiliki sifat
yang berbeda.Hal ini sesuai pendapat Syukur bahwa karakter kualitatif seperti warna
bunga, bentuk polong, dan warna polong dikendalikan oleh gen sederhana (satu atau
dua gen) dan tidak atau sedikit sekali dipengaruhi lingkungan.
Martono (2009), menyatakan bahwa nilai heritabilitas tinggi untuk suatu
karakter yang diikuti dengan keragaan genetik luas menunjukkan bahwa karakter
tersebut penampilannya lebih ditentukan oleh faktor genetik sehingga seleksi pada
populasi ini akan efisien dan efektif karena akan memberikan harapan kemajuan
genetik yang besar.
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana gen-gen berpasangan
dalam persilangan. Persilangan ini hanya melihat satu sifat beda atau disebut
monohibrid. Kancing – kancing genetika digunakan sebagai pengganti gen. Kancing
yang digunakan ada dua warna. Pada percobaan ini kelompok kami menggunakan
kancing berwarna kuning dan putih. Kancing kuning melambangkan gen rasa manis
pada buah Mangifera indicadan kancing putih menggambarkan genrasa masam pada
buah Mangifera indica. Dimana gen buah rasa manis dominan terhadap gen buah rasa
masam. Banyaknya kancing yang digunakan ada 100 buah. 50 kancing berwarna
kuning dan 50 kancing berwarna putih. 25 kancing kuning + 25 kancing putih
melambangkan gamet jantan dan sisanya gamet betina. Gamet jantan dan betina
dipertemukan secara acak. Persilangan yang terjadi adalah sebagai berikut:
P1 ♀MM>< ♂ mm
(Manis) ↓ (Masam)
G1 M, m
F1 Mm (Manis)

F1 >< F1
P2 ♀ Mm ><♂ Mm
(Manis)↓ (Manis)
G2M, m M, m
F2 Fenotip = manis, masam
Genotip = MM, Mm,mm
Hasil yang telah kami peroleh dari percobaan persilangan Monohibrid ini
sesuai dengan teori yang ada, yaitu perbandingan fenotipe pada F2 adalah 3 : 1 dan
perbandingan genotipe 1 : 2 : 1 hal ini merupakan rekonstruksi dari Hukum Mendel I
(monohibrid) yaitu pemisahan gen secara bebas (Firdauzi, 2014).
Dari uji Chi-Square untuk genotip kami mendapatkan kesimpulan bahwa
percobaan yang dilakukan sesuai dengan Hukum I Mendel. X2 hitung yang kami
dapatkan sebesar 0 sedangkan X2 tabel dengan α 0,05 dan Df = 2 adalah 5,99. X2
hitung lebih kecil dari X2tabel maka H0 diterima. Kesimpulan yang didapat adalah
persilangan yang kami lakukan sesuai dengan hukum Mendel 1. Kami juga
melakukan uji Chi-square untuk fenotip dan kami mendapatkan kesimpulan yang
sama yaitu persilangan sesuai dengan hukum Mendel 1. Perbandingan yang kami
dapatkan sama dengan teori, yaitu perbandingan genotip 1 : 2 : 1 dan perbandingan
fenotipe 3 : 1.
Data hasil percobaan dari 8 kelompok telah dicatat dan bedasarkan data yang
ada, tidak semua kelompok mendapatkan perbandingan yang sama dengan teori, hal
ini dapat terjadi karena kancing yang sudah dimasukkan dalam kantong kurang
homogen. Akan tetapi ketika sudah diuji menggunakan uji Chi – Square, hasil yang
didapatkan sama dengan teori.
F. Kesimpulan
1. Prinsip segregasi secara bebas terbukti dengan adanya pembentukan gamet(sel
kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan
memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya.
2. Perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrid, yaitu perbandingan
genotipe 1 : 2 : 1 dan perbandingan fenotipe 3 : 1
3. Uji chi-suare dapat digunakan untuk analisis genetika Mendel secara efektif
dan efisien untuk membuktikan kebenaran dari perbandingan hasil percobaan
sehingga mampu mendapatkan hasil yang valid.
Daftar Pustaka
Abdurrahman, Deden, et al. 2009. Biologi Kelompok Pertanian. Bandung : Grafindo
MediaPratama.
Corebima, A.D. 2009. Bahan Ajar Genetika. Makalah untuk Kuliah Program S2
Malang : Pendidikan Biologi.
Fauzi, Ahmad. 2016. PEMANFATAAN Drosophila melanogaster SEBAGAI
ORGANISME MODEL DALAM MEMPELAJARI HUKUM PEWARISAN
MENDEL. Jurnal Biologi.1(1): 372-377.
Firdauzi, Nirmala Fitria. 2014. Rasio Perbandingan f1 dan f2 pada Persilangan Strain
n x b,dan Strain n x tx serta Resiproknya. Jurnal Biology Scince & Education
3(2): 197-204.
Jameela, dkk. 2014. Keragaman Genetik dan Heritabilitas Karakter Komponen
Hasil pada Populasi F2 Buncis (Phaseolus vulgaris) Hasil Persilangan
Varietas Introduksi dengan Varietas Lokal. Jurnal Produksi Tanaman.
2(4): 324 – 329.
Martono, B. 2009. Keragaman Genetik, Heritabilitas, dan Korelasi antar Karakter
Kuantitatif Nilam (Pogostemon sp.) Hasil Fusi Protoplas. Jurnal Littri.
15(1): 9-15.
Murti, R.H., T. Kumiawati dan Nasrullah. 2009. Pola pewarisan karakter buah tomat.
15(2): 140-149.
Negara, Igo Cahya. 2018. Penggunaan Uji Chi–square untuk Mengetahui
PengaruhTingkat Pendidikan dan Umur Terhadap PengetahuanPenasun
Mengenai HIV–aids di Provinsi DKI Jakarta. Jurnal Kesehatan. 1(1): 3.
Nilahayati dan Agustina, L. 2015. Evaluasi Keragaman Karakter Fenotipe
Beberapa Varietas Kedelai (Glycine max) di Daerah Aceh Utara. Jurnal
Floratek. 1(10) : 36-45.
Nusantari, Elya. 2013. Jenis Miskonsepsi Genetika yang Ditemukan pada Buku Ajar
di Sekolah Menengah Atas. Jurnal Pendidikan Sains. 1(1): 52-64.
Schwarzbach, Erik & Petr Smykal. 2014. Gregor J. Mendel – Genetics Founding
Father. Journal of Genetics.2(2): 43-51.
Sumampouw, Herry M. 2011. Keterampilan Metakognitif dan Berpikir Tingkat
Tinggi dalam Pembelajaran Genetika. Bioedukasi. 4(2): 23-39.
Syukur, M., S. Sujiprihati, R. Yunianti, K. Nida. 2010. Pendugaan Komponen
Ragam, Heritabilitas, dan Korelasi untuk Menentukan Kriteria Seleksi
Cabai (Capsicum annum L.) Populasi F5. Jurnal Hort. Indonesia. 1(3): 74-80.
Tosida, Eneng Tita. 2011. Pemodelan sistem pewarisan gen manusia berdasarkan
hukummendel dengan algoritma branch and bound. Jurnal Ekologia. 11(1):
44-52.
Lampiran
Dokumentasi Praktikum

Membagikancinggenetika, Memasangkankancinggenetika.
menjadigametjantandanbetina.

Permasalahan
1. Berapa perbandingan genotipe dan fenotipe yang anda peroleh?
Jawaban : Perbandingan genotipe dan fenotipe yang diperoleh yaitu:
PerbandinganGenotipe =
MM Mm mm
(Kuning – : (Kuning-Putih) : (Putih-Putih)
Kuning)
25 : 50 : 25
1 : 2 : 1

PerbandinganFenotipe
=
Manis : masam
75 : 25
3 : 1

2. Bagaimana hasil saudara dibandingkan dengan hasil kelompok lain?


Jawaban : Hasil praktikum kelompok 6 pada pengambilan pertama diperoleh
12 pasangan kancing warna Kuning-Kuning, 26 pasangan kancing warna
Kuning-Putih, dan 12 pasangan kancing warna Putih-Putih. Pada
pengambilan kedua diperoleh 13 pasangan kancing warna Kuning-Kuning, 24
pasangan kancing warna Kuning-Putih, dan 13 pasangan kancing warna
Putih-Putih. Sehingga jika ditotal kelompok 6 memperoleh 25 pasangan
kancing warna Kuning-Kuning, 50 pasangan kancing warna Kuning-Putih,
dan 25 pasangan kancing warna Putih-Putih. Hasil ini sama dengan
kelompok 4 dan 5 namun berbeda dengan kelompok yang lain.

Kelompok HomozigotDominan Heterozigot HomozigotResesif


1 30 42 28
2 22 55 23
3 27 46 27
4 25 50 25
5 25 50 25
6 75 50 25
7 22 56 22
8 28 44 28

3. Apakah hasil perbandingan yang saudara peroleh dapat di percaya


kebenarannya atau menyimpang dari yang diharapkan. Jelaskan!
Jawaban : Praktikum yang dilakukan kelompok 6 mendapatkan hasil
perbandingan genotipe 1 : 2 : 1 dan perbandingan fenotipe 3 : 1. Jika
dilakukan uji Chi-Kuadrat diperoleh X2 hitung 0 (nol), yaitu < X2 tabel, hal ini
menunjukkan H0 diterima (tidak ada perbedaan antara praktikum dan teori)
sehingga hasil perbandingan kelompok 6 dapat dipercaya dan sesuai dengan
yang di harapkan Hal ini sesuai dengan tujuan praktikum yang kedua , untuk
membuktikan perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrida, yaitu
perbandingan genotip 1 : 2 : 1 dan perbandingan genotip 3 : 1.
4. Buat diagram persilangannya!
♂MM ♀mm
P1 : X
(Manis) (masam)
G : K k
Mm
F1 :
(Manis)
♂Mm ♀Mm
P2 : X
(Manis) (Manis)
M M
G :
m m

F2 : ♂♀ M m
MM Mm
M
(Manis) (Manis)
Mm mm
m
(Manis) (masam)

5. Kesimpulan apa yang dapat anda tarik dari kegiatan ini?


Jawaban :
a. Setiap gen didalam alel akan berpisah atau bersegregasi secara bebas pada
saat pembentukan gamet.
b. Perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrida, yaitu
perbandingan genotip 1 : 2 : 1 dan perbandingan genotip 3 : 1
c. Uji Chi-Square (khi-kuadrat) dapat digunakan untuk analisis genetika
Mendel dengan cara membandingkan X2 hitung dengan X2 tabel.

Pertanyaan :
1. Jelaskan apa isi Hukum 1 Mendel!
Jawaban : Setiap gen didalam alel akan berpisah atau bersegregasi secara
bebas pada saat pembentukan gamet.
2. Apakah percobaan yang anda lakukan sesuai dengan Hukum Mendel 1?
Jelaskan!
Jawaban : Iya sesuai, setiap gen didalam alel berpisah atau bersegregasi secara
bebas pada saat pembentukan gamet hal ini dapat dibuktikan dengan hasil
perbandingan yang diperoleh yaitu perbandingan genotipe 1 : 2 : 1 dan
perbandingan fenotipe 3 : 1. Jika dilakukan uji Chi-Kuadrat diperoleh X2
hitung 0 (nol), yaitu < X2 tabel, hal ini menunjukkan H0 diterima (tidak ada
perbedaan antara praktikum dan teori).
3. Berapa derajat bebas pada Chi-kuadrat yang anda kerjakan untuk percobaan
diatas?
Jawaban : Dari percobaan diatas diperoleh X2 hitung 0 (nol), yaitu < X2 tabel,
hal ini menunjukkan H0 diterima (tidak ada perbedaan antara praktikum dan
teori).