Anda di halaman 1dari 96

Sel epidermis bawah daun Rhoeo discolor dimasukkn ke dalam larutan seri sukrosa 0,14 ;

0,16; 0,18; 0,20; 0,22; 0,24 M. Hal ini untuk mengetahui berapa potensial osmosis daun tersebut.

Berdasarkan hasil praktikum yang telah kami lakukan terlihat pada mikroskop, pada sayatan
pertama sel daun Rhoeo discolor dengan jumlah sel normalnya adalah 96 yang dimasukkan
kedalam larutan sukrosa 0,14 M terdapat 35 sel berplasmolosis dan 61 sel tidak berplasmolisis,
Sedangkan sel daun Rhoeo discolor yang kedua dengan jumlah sel normalnya adalah 32 yang
dimasukkan kedalam larutan sukrosa 0.16 M sel yang mengalami plasmolisis adalah 31 dan
yang tidak mengalami plasmolisis ada 1 sel. Hal ini menyatakan bahwa keadaan dimana
setengah sel dari jumlah seluruh sel yang dimasukkan ke dalam larutan sukrosa menunjukkan
tanda-tanda plasmolisis. Peristiwa ini terkenal dengan istilah Osmosis. Osmosis merupakan
peristiwa perpindahan air dari daerah yang konsentrasi airnya tinggi ke daerah yang konsentrasi
airnya rendah melalui membran semipermeabel.

Plasmolisis terjadi jika sel ditempatkan dalam larutan dengan konsentrasi tinggi atau
hipertonis terhadap sel, maka air akan keluar dari vakuola sehingga membran sitoplasma akan
mengkerut dan terlepas dari dinding sel. Pada praktikum ini digunakan larutan sukrosa sebagai
larutan hipertonis terhadap sel dengan berbagai konsentrasi yaitu0,14 M, 0,16 M, 0,18 M, 0,20
M, 0,22 M, 0,24 M dan 0,26 M. Tujuan digunakan berbagai konsentrasi yaitu supaya dapat
mengetahui hubungan antara tingkat plasmolisis dengan konsentrasi larutan sukrosanya.
Sedangkan tujuan digunakannya epidermis bawah daun Rhoe discolor yang memiliki warna
ungu, dimaksudkan untuk mempermudah proses pengamatan.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,14 M (kel.1) 0 100 Perbesaran 100x
0,14 M (kel.8) 53,33 46,67 Perbesaran 100x

Pada percobaan kelompok 1 dan 8 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa
0,14 M. Percobaan kelompok 1 tidak menunjukkan adanya plasmolisis, sedangkan kelompok 2
dengan konsentrasi yang sama terjadi plasmolisis sebesar 53,33 %. Hal ini dimungkinkan karena
adanya beberapa kesalahan dalam praktikum diantaranya kurang telitinya praktikan dalam
mengamati perubahan di mikroskop, kurang lamanya waktu perendaman daun Rhoe discolor,
sehingga tidak terjadi plasmolisis.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,16 M (kel.2) 3,53 96,47 Perbesaran 100x
Pada percobaan kelompok 2 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,16
M. Dari semua sel yang diamati yaitu sebanyak 85 sel, yang terplasmolisis ada 3 sel, sehingga
terjadi plasmolysis sebesar 3,53%.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,18 M (kel.3) 0 100 Perbesaran 150x
Pada percobaan kelompok 3 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,18
M. Dari semua sel yang diamati yaitu sebanyak 53 sel, tidak ada yang terplasmolisis. Sebenarnya
terjadi perubahan warna yaitu sedikit memudar pada 33 sel, namun hal tersebut belum
dikategorikan terjadi plasmolysis, karena warna hanya memudar. Sehingga tidak terjadi
plasmolysis.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,20 M (kel.4) 26,67 73,33 Perbesaran 100x
Pada percobaan kelompok 4 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,20
M. Dari semua sel yang diamati yaitu sebanyak 30 sel, yang terplasmolisis ada 8 sel, sehingga
terjadi plasmolysis sebesar 26,67%.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,22 M (kel.5) 0 100 Perbesaran 150x
Pada percobaan kelompok 5 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,22
M. Dari semua sel yang diamati yaitu sebanyak 20 sel, tidak ada yang terplasmolisis.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,24 M (kel.6) 83,3 16,7 Perbesaran 100x
Pada percobaan kelompok 6 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,24
M. Dari semua sel yang diamati yaitu sebanyak 6 sel, yang terplasmolisis ada 5 sel, sehingga
terjadi plasmolysis sebesar 83,3%.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,26 M (kel.7) 34,29 65,71 Perbesaran 100x
Pada percobaan kelompok 7 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,26
M. Dari semua sel yang diamati, yang terplasmolisis sebesar 34,29%.

120

100

80

60 Terplasmolisis
Tak Terplasmolisis
40

20

0
0,14 M 0,14 M 0,16 M 0,18 M 0,20 M 0,22 M 0,24 M 0,26 M
(Kel.1) (Kel.8) (kel.2) (Kel.3) (Kel.4) (Kel.5) (Kel.6) (Kel.7)

Berikut Grafik persentase sel epidermis daun Rhoe discolor terplasmolisis dan tak
terplasmolisis pada ke tujuh macam konsentrasi larutan sukrosa yang berbeda. Dilihat dari grafik
diketahui hasilnya berupa garis naik-turun, bukan garis lurus. Seharusnya terdapat hubungan
antara banyaknya konsentrasi dengan terjadinya plasmolysis. Menurut teori semakin tinggi
konsentrasi di luar sel maka sel yang terplasmolisis akan bertambah banyak. Hal ini terjadi
karena pada saat sel ditempatkan pada larutan hipertonis, maka air keluar dari vakuola sehingga
membran sitoplasma akan mengkerut begitu juga sitoplasma, dan secara otomatis akan
menciutkan ukuran vakuola. Sehingga pigmen antosianin di dalam vakuola tidak terlalu jelas
terlihat. Saat sitoplasma mengkerut, klorplas yang tersebar di dalam sitoplasma akan merapat
sehingga bisa terlihat lebih jelas. Jadi seharusnya pada grafik sel yang terplasmolisis dihasilkan
data berupa garis lurus yang naik dari kiri ke kanan, menujukkan bahwa sel yang terplasmolisis
semakin banyak pada konsentrasi yang semakin meningkat. Sedangkan pada grafik sel yang tak
terplasmolisis dihasilkan data berupa garis lurus yang turun dari kiri ke kanan menujukkan
bahwa sel yang tak terplasmolisis semakin sedikit pada konsentrasi yang semakin meningkat.

Sel epidermis bawah daun Rhoeo discolor dimasukkn ke dalam larutan seri sukrosa 0,14 ;
0,16; 0,18; 0,20; 0,22; 0,24 M. Hal ini untuk mengetahui berapa potensial osmosis daun tersebut.
Dapat dikatakan juga bahwa potensial osmosis mampu menggambarkan tentang perbandingan
pelarut dan zat terlarutnya. Semakin besar potensial air tersebut, maka peristiwa osmosis akan
mudah terjadi. Cairan sukrosa memiliki potensial osmosis yang lebih rendah dibandingkan
dengan air murni. Sedangkan, Incipient Plasmolisis adalah suatu keadaan dimana setengah sel
dari jumlah seluruh sel yang dimasukkan ke dalam larutan sukrosa menunjukkan tanda-tanda
plasmolisis. Keadaan volume vakuola dapat untuk menahan protoplasma agar tetap menempel
pada dinding sel sehingga kehilangan sedikit air saja akan berakibat lepasnya protoplasma dari
dinding sel. Peristiwa plasmolisis seperti ini disebut plasmolisis insipien. Plasmolisis insipien
terjadi pada jaringan yang separuh jumlahnya selnya mengalami plasmolisis. Hal ini terjadi
karena tekanan di dalam sel = 0. potensial osmotik larutan penyebab plasmolisis insipien setara
dengan potensial osmotik di dalam sel setelah keseimbangan dengan larutan tercapai (Salisbury
and Ross, 1992).

Berdasarkan hasil praktikum yang telah kami lakukan terlihat pada mikroskop, pada sayatan
pertama sel daun Rhoeo discolor yang dimasukan kedalam larutan sukrosa 0,14 M terdapat 3 sel
berplasmolosis dan 15 sel tidak berplasmolisis, sedangkan sel daun Rhoeo discolor yang dimasu
kan kedalam larutan sukrosa 0.16 M sel yang mengalami plasmolisis adalah 6 dan yang
tidak mengalami plasmolosis ada 13 sel. Hal ini menyatakan bahwa keadaan dimana setengah sel
dari jumlah seluruh sel yang dimasukkan ke dalam larutan sukrosa menunjukkan tanda-tanda
plasmolisis. Peristiwa ini terkenal dengan istilah Osmosis. Osmosis merupakan peristiwa
perpindahan air dari daerah yang konsentrasi airnya tinggi ke daerah yang konsentrasi airnya
rendah melalui membran semipermeabel. Membran semipermeabel yaitu membran yang hanya
mengizinkan lalunya air dan menghambat lalunya zat terlarut. Osmosis sangat ditentukan oleh
potensial kimia air atau potensial air yang menggambarkan kemampuan molekul air untuk
melakukan difusi.Osmosis pada hakekatnya adalah suatu proses difusi. Secara sederhana dapat
dikatakan bahwa osmosis adalah difusi air melaui selaput yang permeabel secara differensial dari
suatu tempat berkonsentrasi tinggi ke tempat berkonsentrasi rendah.

Plasmolisis terjadi jika sel ditempatkan dalam larutan dengan konsentrasi tinggi atau
hipertonis terhadap sel, maka air akan keluar dari vakuola sehingga membran sitoplasma akan
mengkerut dan terlepas dari dinding sel. Pada praktikum ini digunakan larutan sukrosa sebagai
larutan hipertonis terhadap sel dengan berbagai konsentrasi yaitu0,14 M, 0,16 M, 0,18 M, 0,20
M, 0,22 M, 0,24 M dan 0,26 M. Tujuan digunakan berbagai konsentrasi yaitu supaya dapat
mengetahui hubungan antara tingkat plasmolisis dengan konsentrasi larutan sukrosanya.
Sedangkan tujuan digunakannya epidermis bawah daun Rhoe discolor yang memiliki warna
ungu, dimaksudkan untuk mempermudah proses pengamatan.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,14 M (kel.1) 0 100 Perbesaran 100x
0,14 M (kel.8) 53,33 46,67 Perbesaran 100x

Pada percobaan kelompok 1 dan 8 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa
0,14 M. Percobaan kelompok 1 tidak menunjukkan adanya plasmolisis, sedangkan kelompok 2
dengan konsentrasi yang sama terjadi plasmolisis sebesar 53,33 %. Hal ini dimungkinkan karena
adanya beberapa kesalahan dalam praktikum diantaranya kurang telitinya praktikan dalam
mengamati perubahan di mikroskop, kurang lamanya waktu perendaman daun Rhoe discolor,
sehingga tidak terjadi plasmolisis.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,16 M (kel.2) 3,53 96,47 Perbesaran 100x
Pada percobaan kelompok 2 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,16
M. Dari semua sel yang diamati yaitu sebanyak 85 sel, yang terplasmolisis ada 3 sel, sehingga
terjadi plasmolysis sebesar 3,53%.
Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.
Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,18 M (kel.3) 0 100 Perbesaran 150x
Pada percobaan kelompok 3 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,18
M. Dari semua sel yang diamati yaitu sebanyak 53 sel, tidak ada yang terplasmolisis. Sebenarnya
terjadi perubahan warna yaitu sedikit memudar pada 33 sel, namun hal tersebut belum
dikategorikan terjadi plasmolysis, karena warna hanya memudar. Sehingga tidak terjadi
plasmolysis.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,20 M (kel.4) 26,67 73,33 Perbesaran 100x
Pada percobaan kelompok 4 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,20
M. Dari semua sel yang diamati yaitu sebanyak 30 sel, yang terplasmolisis ada 8 sel, sehingga
terjadi plasmolysis sebesar 26,67%.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,22 M (kel.5) 0 100 Perbesaran 150x
Pada percobaan kelompok 5 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,22
M. Dari semua sel yang diamati yaitu sebanyak 20 sel, tidak ada yang terplasmolisis.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,24 M (kel.6) 83,3 16,7 Perbesaran 100x
Pada percobaan kelompok 6 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,24
M. Dari semua sel yang diamati yaitu sebanyak 6 sel, yang terplasmolisis ada 5 sel, sehingga
terjadi plasmolysis sebesar 83,3%.

Perlakuan Keadaan sel dalam satu bidang pandang Ket.


Sukrosa Terplasmolsis (%) Tak Terplasmolisis (%)
0,26 M (kel.7) 34,29 65,71 Perbesaran 100x
Pada percobaan kelompok 7 yaitu menetesi daun Rhoe discolor dengan larutan sukrosa 0,26
M. Dari semua sel yang diamati, yang terplasmolisis sebesar 34,29%.

120

100

80

60 Terplasmolisis
Tak Terplasmolisis
40

20

0
0,14 M 0,14 M 0,16 M 0,18 M 0,20 M 0,22 M 0,24 M 0,26 M
(Kel.1) (Kel.8) (kel.2) (Kel.3) (Kel.4) (Kel.5) (Kel.6) (Kel.7)

Berikut Grafik persentase sel epidermis daun Rhoe discolor terplasmolisis dan tak
terplasmolisis pada ke tujuh macam konsentrasi larutan sukrosa yang berbeda. Dilihat dari grafik
diketahui hasilnya berupa garis naik-turun, bukan garis lurus. Seharusnya terdapat hubungan
antara banyaknya konsentrasi dengan terjadinya plasmolysis. Menurut teori semakin tinggi
konsentrasi di luar sel maka sel yang terplasmolisis akan bertambah banyak. Hal ini terjadi
karena pada saat sel ditempatkan pada larutan hipertonis, maka air keluar dari vakuola sehingga
membran sitoplasma akan mengkerut begitu juga sitoplasma, dan secara otomatis akan
menciutkan ukuran vakuola. Sehingga pigmen antosianin di dalam vakuola tidak terlalu jelas
terlihat. Saat sitoplasma mengkerut, klorplas yang tersebar di dalam sitoplasma akan merapat
sehingga bisa terlihat lebih jelas. Jadi seharusnya pada grafik sel yang terplasmolisis dihasilkan
data berupa garis lurus yang naik dari kiri ke kanan, menujukkan bahwa sel yang terplasmolisis
semakin banyak pada konsentrasi yang semakin meningkat. Sedangkan pada grafik sel yang tak
terplasmolisis dihasilkan data berupa garis lurus yang turun dari kiri ke kanan menujukkan
bahwa sel yang tak terplasmolisis semakin sedikit pada konsentrasi yang semakin meningkat.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fisiologi tumbuhan adalah ilmu tentang proses-proses faal/fungsi fisiologis tumbuhan. Ada banyak
pembahasan dalam fisiologi tumbuhan, salah satu diantaranya adalah potensial ari jaringan tumbuhan.
Air merupakan salah satu zat yang sangat penting bagi reaksi biosfer yang terjadi di atmosfer, termasuk
reaksi internal dalam jaringan tumbuhan. Air pada jaringan tumbuhan memiliki potensial.

Proses difusi dan osmosis sangat erat kaitannya dengan pengukurna potensial air jaringan tumbuhan.
difusi merupakan perpindahan zat terlarut, dari konsentrasi yang lebih tinggi menuju ke konsentrasi
yang lebih rendah. Osmosis merupakan difusi air melalui membran semipermeabel. Mekanisme difusi
osmosis berguna dalam transpor zat dan osmoregulasi, dalam hal ini kesetimbangan zat-zat
(konsentrasi) di dalam sel dan di luar sel. Pada mekanisme osmosis, terjadi perbedaan konsentrasi
garam-garaman pada dua ruang, ini adalah mekanisme sel mempertahankan keseimbangan garam-
garaman tersebut, dengan jalan melewatkan/melalui air, menuju ke ruang yang memiliki konsentrasi
garam-garaman yang lebih banyak, karena garam-garaman tersbut tidak mampu melalui membran sel
yang semi permeabel. Hanya air dan ion garam-garaman tertentu yang dapat melalui membran sel.

Tumbuhan akan berkembang secara normal dan tumbuh subur serta aktif apabila sel-selnya
dipenuhi dengan air, berhubung air berfungsi sebagai medium berbagai reaksi kimiawi sel. Suatu ketika
apabila waktu perkembangannya, tumbuhan kekurangan suplai air, maka kandungan air dalam
tumbuhan menurun dan laju perkembangannya yang ditentukan oleh laju semua fungsi-fungsi yang juga
menurun. Jika keadaan kekeringan ini berlangsung lama, maka dapat mematikan tumbuhan.

Oleh karena difusi dan osmosis merupakan pokok bahasan yang sangat mendasar dan penting dalam
fisiologi tumbuhan, sehingga maka perlu diadakan praktikum khusus mengenai difusi dan osmosis,
utamanya mengenai potensial osmotik cairan sel jaringan tumbuhan unit 2 praktikum fisiologi
tumbuhan.

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk mengukur nilai potensial osmotik cairan sel.

C. Manfaat Praktikum

Manfaat dari praktikum ini diantaranya menambah keterampilan prkatikum mahasiswa dan wawasan
mahasiswa, khususnya mengenai cara menentukan potensial osmotik cairan sel, khususnya sel
tumbuhan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Air penting bagi tumbuhan. Air berperan dalam pelaksanaan reaksi biokimia. Air dapat membrikan
tekanan hidrolik pada sel sehingga menimbulkan turgor pada sel-sel tumbuhan, memberikan sokongan
dan kekuatan pada jaringan-jaringan tumbuhan yang tidak memiliki sokongan struktur. Struktur
tumbuhan yang penting dalam perlalulalangan zat adalah dinding sel dan membran sel. Pada membran
sel terjadi peristiwa osmosis (Sasmitamihardja, 1996).

Kelangsungan hidup sel tumbuhan bergantung pada kemampuannya untuk menyeimbangkan


pengambilan dan pengeluaran air . pengambila atau pengeluaran netto air oleh suatu sel terjadi melalui
osmosis, yaitu traspor passif air melewati suatu membran. Dalam hal ini membran sel tumbuhan
(Campbell, 2004).

Komponen-komponen potensial air tumbuhan terutama terdiri dari potensial osmotik (PO) dan
potensial turgor (tekanan, PT). oleh karena potensial osmotik cairan sel, air murni cenderung memasuki
sel, sedangkan potensial turgor di dalam sel mengakibatkan kecenderungan yang berlawanan, yaitu air
meninggalkan sel (Ismail, 2011).

Untuk mengatur PO saja, maka PT harus nol. Potensial turgor sama dengan nol terjadi pada keadaan
sel mengalami plasmlisis. Plasmolisis merupakan persitiwa lepasnya protoplasma dari dinding sel karena
keluarnya sebagian air dari vakuola. Keadaan dimana volume vakuola tepat cukup untuk menahan
menempelnya protplasma pada dinding sel, sehingga kehilangan air sedikit saja berakibat lepasnya
prtoplasma dari dinding sel, disebut plasmolisis insipien. Plasmolisis insipien dapat dikenali apabila
dalam suatu larutan eksternal (missal sukrosa) dijumpai sekumpulan sel yang 50% berplasmolisis dan
50% lagi tidak berplasmolisis. Keadaan rata-rata ini disebut sebagai plasmolisis insipien. Digunakan nilai
rata-rata karena PO sel-sel tersebut tidak sama atau bervariasi. Pada keadaan plasmolisis insipien, sel
berada dalam keadaan tanpa tekanan; PO larutan eksternal memiliki nilai sama dengan O cairan sel,
maka disebut isotonik terhadap cairan sel (Ismail, 2011).

Dengan menghitung nilai PO dari larutan sukrosa yang isotonik dengan cairan sel, maka nilai PO
cairan sel dapat diketahui. Nilai potensial cairan sel dari sel-sel tumbuhan biasanya berkisar antara -10
bar - -20 bar (Ismail, 2011).
Proses osmosis sangat berperan dalam proses pengangkutan tumbuhan. Memungkinkan terjadinya
penyerapan air dan ion-ion dari dalam tanah yang nanti akan diedarkan keseluruh bagian
tumbuhan.Terjadinya pengangkutan itu akan menyababkan tekanan turgor sel,sehingga mampu
membesar dan mempunyai bentuk tertentu. Osmosis juga memungkinkan terjadinya membuka dan
menutupnya stomata.

Pada titik kesetimbangan, nilai mutlak potensial osmotik (yang negatif) setara dengan tekanan
nyata (yang positif) di osmometer sempurna, maka potensial osmotik larutan dapat diukur secara
langsung. Pengukuran besaran ini banyak dilakukan, khusunya pada abad ke-19 oleh Wilhem FP Pfeffer
(1877). Ia membuat gambaran yang hampir sempurna, tegar, dan semi-permiabel, dengan cara yang
merendam sebuah mangkuk berpori yang terbuat dari tanah liat dalam kalium ferosianida dan
kemudian dalam kupro sulfat, yang akan mengendapkan tembaga ferosinida pada porinya (Salisbury,
1992).

Sistem yang menggambarkan tingkah laku air dan pergerakan air dala tanah dan tubuh tumbuhan
didasarkan atas suatu hubungan energi potensial. Air mempunyai kapasitas untuk melakukan kerja,
yaitu akan bergerak dari daerah dengan energi potensial tinggi ke daerah energi potensial rendah.
Energi potensial dalam sistem cairan dinyatakan dengan cara membandingkannya dengan energi
potensial air murni. Karena air di dalam tumbuhan dan tanah biasanya secara kimia tidak murni,
disebabkan oleh adanya bahan terlarut dan secara fisik dibatasi oleh berbagai gaya, seperti gaya tarik
menarik yang berlawanan, gravitasi, dan tekanan, maka energi potensialnya lebih kecil daripada energi
potensial air murni. Dalam tumbuhan dan dalam tanah, energi potensial air itu disebut potensi air,
dilambangkan dengan huruf Yunani psi dan dinyatakan sebagai gaya per satuan luas (Gardiner, 1991).

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

Prosedur Kerja

Menyiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan.

Mengambil 9 buah cawan petri, kemudian mengisi tiap-tiap cawan petri dengan larutan sukrosa dengan
konsentrasi yang berbeda, mulai dari aquadest, sukrosa 0,28 M hingga sukrosa 0,14 M.

Masing-masing cawan petri diberi label dari kertas temple, berdasarkan larutan sukrosa di dalamnya
(M).

Mengambil beberapa potong jaringan epidermis bagian abaksial daun Rhoeo discolor, lalu memasukkan
masing-masing potongan tipis daun Rhoeo discolor ke dalam cawak petri dengan jarak waktu + 5 menit
antara cawan petri satu dengan cawan petri lainnya.
Membiarkan selama 30 menit, lalu mengambil potongan tersebut dengan pinset, meletakkannya ke atas
objek glass, kemudian menutupnya dengan deck glass. Mengamati preparat di bawah lensa objektif
mikroskop cahaya.

Mencatat jumlah sel yang terplasmolisis pada tabel pengamatan laporan sementara.

Menentukan pada larutan sukrosa mana terdapat sel-sel yag 50% dari sel-selnya mengalami plasmolisis.

Menentukan nilai PO cairan sel dengan menggunakan rumus :

Ψs= (-22,4 MT)/273 bar

Dimana : Ψs = potensial osmotik

M = konsentrasi larutan sukrosa di mana sel berada keadaan plasmolisis insipien

T = suhu absolut (suhu ruang oC + 273)

-22,4 = nilai PO larutan sukrosa 1,0 M pada suhu ruang

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Rumus:

% Sel yang terplasmolisis= (Jumlah sel yang terplasmolisis)/(Jumlah sel)×100%

Aquadest

% Sel yang terplasmolisis = 0/30×100% =0 %

Larutan Sukrosa 0,28 M

% Sel yang terplasmolisis = 27/30×100% =90%

Larutan Sukrosa 0,26 M

% Sel yang terplasmolisis = 21/30×100% =70%

Larutan Sukrosa 0,24 M


% Sel yang terplasmolisis = 18/30×100% =60%

Larutan Sukrosa 0,22 M

% Sel yang terplasmolisis = 13/30×100% =43,3%

Larutan Sukrosa 0,20 M

% Sel yang terplasmolisis = 10/30×100% =33,3%

Larutan Sukrosa 0,18 M

% Sel yang terplasmolisis = 7/30×100% =23,3%

Larutan Sukrosa 0,16 M

% Sel yang terplasmolisis = 7/30×100% =23,3%

Larutan Sukrosa 0,14 M

% Sel yang terplasmolisis = 6/30×100% =20%

C. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan, masing-masing jaringan (kumpulan sel epidermis) mengalami plasmolisis
pada masing-masing larutan sukrosa dengan jumlah sel yang terplasmolisis berbeda-beda. Pada larutan
akuadest, sel epidermis sama sekali tidak mengalami plasmolisis. Peristiwa terlepasnya membran
plasma dari dinding sel karena terjadinya eksoosmosis (sel ditempatkan dalam larutan yang hipertonik).

Berdasarkan hasil pengamatan persentase sel yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,28 M adalah 90
%. Persentase sel yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,26 M adalah 70 %. Persentase sel yang
terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,24 M adalah 60 %. Persentase sel yang terplasmolisis pada larutan
sukrosa 0,22 M adalah 43,3 %. Persentase sel yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,20 M adalah
33,3 %. Persentase sel yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,18 M adalah 23,3 %. Persentase sel
yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,16 M adalah 23,3 %. Persentase sel yang terplasmolisis pada
larutan sukrosa 0,14 M adalah 20 %. Dilihat dari data yang diperoleh persentase sel yang terplasmolisis
paling tinggi adalah pada larutan sukrosa 0,28 M.

Jaringan atau sel-sel pada tumbuhan dapat dikatakan berplasmolisis apabila konsentrasi larutan diluar
sel lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi didalam sel, karena air berdifusi melalui membran sel
menuju ke lingkungan yang hipertonik (konsentrasi garam-garamannya tinggi). Apabila konsentrasi
larutan tinggi, berarti potensial osmotik juga tinggi. Sehingga semakin banyak jumlah sel yang
terplasmolisis. Rhoeo discolor ke dalam larutan sukrosa 0,28 M – 0,14 M maka sel-selnya akan
kehilangan rigiditas (kekakuan)nya. Hal ini disebabkan potensial air dalam sel Rhoeo discolor tersebut
lebih tinggi dibanding dengan potensial air pada larutan garam sehingga air dari dalam sel akan keluar ke
dalam larutan tersebut. Diamati dengan mikroskop maka vakuola sel-sel tersebut tidak tampak dan
sitoplasma akan mengkerut dan membran sel akan terlepas dari dindingnya. Peristiwa lepasnya plasma
sel dari dinding sel ini disebut plasmolisis.

Menurut Ismail (2011), osmosis terjadi karena pengeluaraan air dari konsentrasi larutan yang
potensialnya tinggi (PA tinggi) ke tempat yang memiliki konsentrasi yang lebih rendah (PA) rendah. Nilai
potensial air dari dalam sel dan nilainya disekitar sel akan mempengaruhi difusi air dari dan kedalam sel
tumbuhan. Dalam sel tumbuhan ada tiga faktor yang menentukan nilai potensial airnya yaitu matriks sel
larutan dalam vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Hal ini menyebabkan potensial air dalam sel
tumbuhan dapat dibagi menjadi tiga komponen yaitu potensial matriks, potensial osmotik dan potensial
tekanan

Pada beberapa hasil pengamatan ada yang tidak sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa dengan
adanya pertambahan konsentrasi maka sel yang terplasmolisis juga semakin banyak, akan tetapi dari
data yang di dapatkan pada hasil pengamatan banyak yang tida sesuai .Hal ini bisa terjadi karena
kesalahan pada saat mengiris daun Rhoeo discolor yaitu tidak terlalu tipis atau masih agak tebal. Faktor
lain adalah ketika melakukan pengamatan di bawah mikroskop yaitu kesalahan dalam menjumlah sel-sel
yang terplasmolisis/tidak terplasmolisis dalam area yang dihitung/diamati, serta terjadi kerancuan
dalam menentukan area sel yang akan diamati.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan.

Sel-sel tumbuhan akan mengalami plasmolisis (air dalam sel keluar, sehingga membran tidak melekat
lagi pada dinding sel) jika ditempatkan dalam larutan hipertonik. Pada keadaan isotonik, sel akan turgid
(normal).

B. Saran

Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam melakukan praktikum agar hasil yang di peroleh sesuai dengan
tujuan yang diharapkan dan meningkatkan kerjasama antara sesama anggota kelompok.

Sebaiknya kakak asisten membimbing sepenuh hati, dengan memberikan penjalasan-penjelas yang
berhubungan dengan kegiatan praktikum, menjelaskan langkah-langkah praktikum yang salah sehingga
perlu diperbaiki, guna memperoleh data praktikum sesuai yang diinginkan.

Sebaiknya laboran memperbarui alat-alat praktikum, misalnya mikroskop atau alat bedah, serta
menambah alat-alat praktikum lainnya, guna kelancaran kegiatan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A, Jane B Reece, dan Lawrence G Mitchel. 2004. Biologi Edisi ke 5 jilid II. Penerbit
Erlangga, Jakarta.

Gardiner. Franklin P, dkk. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia UI
Press.

Ismail dan Abdul Muis. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA
UNM Makassar.

Salisbury, Frank B. dan Clean W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB.

Sasmitamihardja, Dardjat, dan Arbayah Siregar. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Jurusan Biologi ITB, Bandung.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kelangsungan hidup sel tumbuhan bergantung pada kemampuannya untuk menyeimbangkan


pengambilan dan pengeluaran air. Pengambilan atau pengeluaran netto air oleh suatu sel terjadi
melalui osmosis, yaitu transpor pasif air melewati membran semipermeabel.
Potensial osmotic suatu larutan lebih menyatakan status larutan yang dinyatakan dalam satuan
konsentrasi, satuan tekanan atau satuan energi. Potensial osmotic air murni memiliki nilai = 0,
sehingga jika digunakan satuan tekanan maka nilainya menjadi 0 atm atau 0 bar. Potensial osmotik
cairan sel dapat diukur dengan mudah bila nilai potensial tekanan cairan sel sama dengan nol, yaitu
pada saat sel mengalami plasmolisis. Pada proses plasmolisis dikenal istilah plasmolisis insipien
yaitu kondisi dimana protoplasma hampir terlepas dari dinding sel. Volume sel yang mengalami
plasmolisis sama dengan palsmolisis yang mengalami plasmolisis insipien. Plasmolisis insipien
dapat ditentukan dengan melihat jumlah sel yang terplasmolisis dari populasi sel yang teramati.
Suatu jaringan dalam keadaan plasmolisis insipien bila 50% dari populasi sel yang teramati
mengalami plasmolisis.
Untuk menentukan dan mengetahui potensil osmotik cairan sel dalam jaringan tumbuhan
berdasarkan plasmometode cardacov maka dilakukanlah pengamatan tentang potensial osmotik
cairan sel.

1.2 Tujuan praktikum


Tujuan praktikum ini yaitu untuk menentukan potensil osmotik cairan sel dalam jaringan tumbuhan
berdasarkan metode chardakov.

BAB II
BAHAN DAN METODE

2.1 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tabung reaksi, rak tabung reaksi, karter, penggaris,
label. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu, kentang, metilen blue dengan konsentrasi 0,1 ; 0,2;
0,3.

2.2 Cara Kerja


1. Menyiapkan dua set tabung reaksi, dan setiap set terdiri dari 3 tabung dan menandai secara
berurutan sebagai berikut : 0,1; 0,2; 0,3.
2. Memasukkan kedalam tabung reaksi larutan metilen blue dengan konsentrasi yang tertera
pada tabung.
3. Membuat irisan kentang dengan panjang 5 cm dan tebal serta lebar 0,5 cm. Dan segera
meletakkannya pada tempat tertutup untuk menghindari penguapan. Merendam 3 potongan kentang
tersebut dalam masing-masing larutan metilen blue. Dan hanya satu set yang digunakan untuk
merendam potongan kentang sebagai experiment dan 1 set lainnya sebagai control.
4. Melakukan perendaman selama 20 menit. Setelah 20 menit kemudian membandingkan
intensitas warna antara tabung reaksi experiment dan control.
5. Menentukan larutan isotonik berdasarkan intensitas warna tersebut.
6. Menghitung potensial osmotik cairan sel umbi kentang dengan menggunakan rumus

BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan


Tabel Pengamatan sel epidermis umbi bawang

Jumlah Sel Dalam %


Konsentrasi (M)
Berplasmolisis Tidak Berplasmolisis
0,14 M 20 % 80 %
0,16 M 25 % 75 %
0,18 M 35 % 65 %
0,20 M 48 % 52 %
0,22 M 65 % 35 %
0,24 M 70 % 30 %
0,26 M 95 % 5%

Konsentrasi saat terjadi plasmolisis insipen : 0,20 M


Perhitungan Potensial Osmosis :

3.2 Pembahasan
Nilai potensial air di dalam sel dan nilainya di sekitar sel akan mempengaruhi difusi air dari dan ke
dalam sel tumbuhan. Dalam sel tumbuhan ada tiga faktor yang menetukan nilai potensial airnya,
yaitu matriks sel, larutan dalam vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Hal ini menyebabkan
potensial air dalam sel tumbuhan dapat dibagi menjadi 3 komponen yaitu potensial matriks,
potensial osmotik dan potensial tekanan (Wilkins, 1992).
Sel tumbuhan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sel epidermis umbi bawang, sedangkan
konsentrasi larutan sukrosa yang digunakan adalah 0,14 M; 0,16 M; 0,18 M; 0,20 M; 0,22 M; 0,24 M
dan 0,26 M. Larutan yang di dalamnya terdapat sekumpulan sel dimana 50% berplasmolisis dan
50% tidak berplasmolisis disebut plasmolisis insipien. Plasmolisis ini terjadi apabila sel berada
dalam keadaan tanpa tekanan. Nilai potensial osmosis sel dapat diketahui dengan menghitung nilai
potensial osmosis larutan sukrosa yang isotonik terhadap cairan sel. Berdasarkan hasil praktikum,
plasmolisis insipien terjadi pada konsentrasi 0,20 M dengan potensial osmosis -4,48 X bar. Potensial
air murni pada tekanan atmosfer dan suhu yang sama dengan larutan tersebut sama dengan nol,
maka potensial air suatu larutan air pada tekanan atmosfer bernilai negatif (Salisbury dan Ross,
1992).
Osmosis pada hakekatnya adalah suatu proses difusi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa
osmosis adalah difusi air melaui selaput yang permeabel secara differensial dari suatu tempat
berkonsentrasi tinggi ke tempat berkonsentrasi rendah. Tekanan yang terjadi karena difusi molekul
air disebut tekanan osmosis. Makin besar terjadinya osmosis maka makin besar pula tekanan
osmosisnya. Proses osmosis akan berhenti jika kecepatan desakan keluar air seimbang dengan
masuknya air yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi (Kimball, 1983).
Jika sel dimasukan ke dalam larutan gula, maka arah gerak air neto ditentukan oleh perbedaan nilai
potensial air larutan dengan nilainya didalam sel. Jika potensial larutan lebih tinggi, air akan
bergerak dari luar ke dalam sel, bila potensial larutan lebih rendah maka yang terjadi sebaliknya,
artinya sel akan kehilangan air. Apabila kehilangan air itu cukup besar, maka ada kemungkinan
bahwa volum sel akan menurun demikian besarnya sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan
yang dibentuk oleh dinding sel. Membran dan sitoplasma akan terlepas dari dinding sel, keadaan ini
dinamakan plasmolisis (Tjitrosomo, 1987).
Membran protoplasma dan sifat permeabel deferensiasinya dapat diketahui dari proses plasmolisis.
Permeabilitas dinding sel terhadap larutan gula diperlihatkan oleh sel-sel yang terplasmolisis.
Apabila ruang bening diantara dinding dengan protoplas diisi udara, maka dibawah mikroskop akan
tampak di tepi gelembung yang berwarna kebiru-biruan. Jika isinya air murni maka sel tidak akan
mengalami plasmolisis. Molekul gula dapat berdifusi melalui benang-benang protoplasme yang
menembus lubang-lubang kecil pada dinding sel. Benang-benang tersebut dikenal dengan sebutan
plasmolema, dimana diameternya lebih besar daripada molekul tertentu sehingga molekul gula
dapat masuk dengan mudah (Salisbury, 1995).
Komponen potensial air pada tumbuhan terdiri atas potennsial osmosis (solut) dan potensial turgor
(tekanan). Dengan adanya potensial osmosis cairan sel, air murni cenderung memasuki sel.
Sebaliknya potensial turgor di dalam sel mengakibatkan air meninggalkan sel. Pengaturan potensial
osmosis dapat dilakukan jika potensial turgornya sama dengan nol yang terjadi saat sel mengalami
plasmolisis. Nilai potensial osmotik dalam tumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
tekanan, suhu, adanya partikel-partikel bahan terlarut yang larut di dalamnya, matrik sel, larutan
dalam vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Nilai potensial osmotik akan meningkat jika
tekanan yang diberikan juga semakin besar. Suhu berpengaruh terhadap potensial osmotik yaitu
semakin tinggi suhunya maka nilai potensial osmotiknya semakin turun (semakin negatif) dan
konsentrasi partikel-partikel terlarut semakin tinggi maka nilai potensial osmotiknya semakin rendah
(Meyer and Anderson, 1952).
Keadaan volume vakuola dapat untuk menahan protoplsma agar tetap menempel pada dinding sel
sehingga kehilangan sedikit air saja akan berakibat lepasnya protoplasma dari dinding sel. Peristiwa
plasmolisis seperti ini disebut plasmolisis insipien. Plasmolisis insipien terjadi pada jaringan yang
separuh jumlahnya selnya mengalami plasmolisis. Hal ini terjadi karena tekanan di dalam sel = 0.
potensial osmotik larutan penyebab plasmolisis insipien setara dengan potensial osmotik di dalam
sel setelah keseimbangan dengan larutan tercapai (Salisbury dan Ross, 1992).

Adanya potensial osmosis cairan sel air murni cenderung untuk memasuki sel, sedangkan potensial
turgor yang berada di dalam sel mengakibatkan air untuk cenderung meninggalkan sel. Saat
pengaturan potensial osmosis maka potensial turgor harus sama dengan 0. Agar potensial turgor
sama dengan 0 maka haruslah terjadi plasmolisis. Plasmolisis adalah suatu proses lepasnya
protoplasma dari dinding sel yang diakibatkan keluarnya sebagian air dari vakuola (Salisbury and
Ross, 1992).
Karakteristik permeasi air pada membran osmosis balik telah dipelajari dengan menggunakan
membran komposit modul modul sopitral wound dan larutan klorida dalam air dalam larutan umpan
(Winduwati, 2000).

BAB IV
KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :


1. Larutan yang di dalamnya terdapat sekumpulan sel dimana 50% berplasmolisis dan 50% tidak
berplasmolisis disebut plasmolisis insipien.
2. Plasmolisis insipien terjadi pada konsentrasi 0,20 M
3. Potensial osmotik pada konsentrasi 0,20 M sebesar -4,48 X bar.
4. Sel tumbuhan yang dimasukan dalam larutan sukrosa akan mengalami plasmolisis, dan semakin
tinggi konsentrasi larutan maka semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis.
5. Faktor yang menetukan nilai potensial air, yaitu matriks sel, larutan dalam vakuola dan tekanan
hidrostatik dalam isi sel.

DAFTAR PUSTAKA

Http://munadryaslam.blogspot.com/2011/01/potensial-osmotik-cairan-sel.html.
Kimball, J. W. 1983. Biologi. Jakarta : Erlangga.

Meyer, B.S and Anderson, D.B. 1952. Plant Physiology. New York : D Van Nostrand Company Inc.

Salisbury, F. B. & Ross, C. W. 1992. Plant Physiology. California : Wadswovth Publishing co.

Tim dosen. 2010. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Bandar Lampung.

Tjitrosomo.1987. Botani Umum 2. Penerbit Angkasa, Bandung.

Wilkins, M. B. 1992. Fisiologi Tanaman. Jakarta : Bumi Angkasa.

Winduwati S, Dkk. 2000. Karakteristik Osmosis Balik Membran Spiral Wound. Pusat Pengembangan
Pengelolaan Limbah Radio Aktif.

Latar Belakang
Dalam mempelajari fisiologi tumbuhan, maka dasar utama dari keseluruhannya adalah
memahami struktur dan fungsi sel. Salah satu organel sel adalah membran sel yang
bersifat semipermeabel, yang berarti molekul air dapat menembus membran tersebut.
Peristiwa tersebut dinamaka osmosis.

Osmosis terjadi bila sel terdapat perbedan konsentrasi pelarut antara di luar dan di
dalam sel. Pada sel tumbuhan akan terjadi plasmolisis jika konsentrasi pelarut lebih
besar daripada di dalam sel, sehingga membran sel akan terlepas dari dinding sel.

Adanya plasmolisis sel tumbuhan dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi yang
dimiliki oleh cairan sel dan dapat digunakan untuk menghitung tekanan osmosis sel.

Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel Rhoe
discolor yang terplasmolisis?
2. Berapakah konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50 % dari jumlah
sel Rhoe discolor mengalami plsmolisis?
3. Berapakah tekanan osmosis sel cairan sel Rhoe discolor dengan metoda
plasmolisis ?

Tinjauan Pustaka
Untuk materi tinjauan pustaka bisa dilihat di postingan: Osmosis Pada Sel Tumbuhan
Metode Praktikum

A. Jenis Praktikum
Praktikum yang dilakukan bersifat eksperimental, karena dilakukan di dalam
laboratorium dan membuktikan rumusan masalah.

B. Variabel Penelitian
1. Variabel kontrol : waktu, jenis tanaman, jenis larutan
2. Variabel manipulasi : konsentrasi sukrosa
3. Variabel respon : jumlah sel yang terplasmolisis

C. Alat dan Bahan


1. Daun Rhoe discolor
2. Larutan sukrosa dengan urutan molaritas antara lain: 0.28 M; 0.26 M; 0.24 M;
0.22 M; 0.20 M; 0.18 M; 0.16 M dan 0.14 M.
3. Mikroskop
4. Kaca obyek dan kaca penutup
5. Silet
6. Pipet
D. Cara Kerja

1. Siapkan larutan sukrosa sesuai dengan konsentrasi yang akan digunakan.


2. Siapkan delapan cawan petri yang masing-masing telah diisi dengam 5 mL
larutan sukrosa dengan masing-masing konsentrasi.
3. Ambil daun Rhoe discolor dan sayatlah lapisan epidemis yang berwarna dengan
silet.
4. Rendam sayatan epidermis Rhoe discolor di dalam cawan petri yang telah diberi
larutan sukrosa dengan masing-masing konsentrasi tertentu.
5. Ambil sayatan periksa dengan menggunakan mikroskop setelah 30 menit.
6. Hitung jumlah sel dalam lapang pandang mikroskop (perbesaran 10 x 45) dan
hitung juga sel yang mengalami plasmolisis.
7. Hitung prosentase sel terplasmolisis terhadap jumlah sel total.

Hasil
1. Tabel Pengaruh Konsentrasi Larutan Sukrosa Terhadap Prosentase Sel
Terplasmolisis
No Konsentrasi Jumlah Sel Jumlah Sel Yang Prosentase sel yang terplasmolisis (%)
Sukrosa (M) Seluruhnya Ter Plasmolisis

1 0.28 5 3 3/5 x 100 %= 60 %


2 0.26 9 5 5/9 x 100 %= 55,5 %
3 0.24 5 2 2/5 x 100 %= 40 %
4 0.22 7 2 2/7 x 100 %= 28,57 %
5 0.20 8 2 2/8 x 100 %= 25 %
6 0.18 7 1 1/7 x 100 %= 14,29 %
7 0.16 8 1 1/8 x 100 %= 12,5 %
8 0.14 9 1 1/9 x 100 %= 11,11 %

2. Grafik Pengaruh Konsentrasi Larutan Sukrosa Terhadap Prosentase Sel


Terplasmolisis.

Analisis
Dari data diatas diperoleh peningkatan prosentase sel yang terplasmolisis seiring
dengan meningkatnya jumlah konsentrasi. Semakin besar konsentrasi (0,28 M), maka
prosentase sel yang terplasmolisis adalah 60%, dan sebaliknya semakin rendah
konsentrasi (0,14 M), maka prosentase sel yang terplasmolisis adalah 11,11%.
Sedangkan konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% sel Rhoe discolor
terplasmolisis dari jumlah sel seluruhnya adalah 0,254 M. Untuk tekanan osmosis
cairan sel pada Rhoeo discolor dapat dihitung:

M = nilai konsentrasi yang menyebabkan 50% sel Rhoe discolor terplasmolisis dari
jumlah sel seluruhnya
T = suhu mutlak (273 0K + 27 °C) = 300
Pembahasan
Sel epidermis daun Rhoe discolor mengalami proses plasmolisis ketika konsentrasi
pelarut di luar sel lebih rendah dibandingkan di dalam sel epidermis Rhoe
discolor. Sebagai akibatnya air terdapat di dalam sel akan keluar dari sel. Selanjutnya
sel mengalami proses dehidrasi dan terjadi pelepasan membran sel dari dinding sel
yang disebut dengan plasmolisis.

Dengan meningkatnya jumlah konsentrasi sukrosa, maka peristiwa plasmolisis akan


semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena potensial air yang berbanding lurus
dengan potensial osmotik. Dengan demikian plasmolisis akan terjadi jika pelarut
didalam sel lebih tinggi dibandingkan diluar sel. Beberapa fakor yang mempengaruhi
kecepatan plasmolisis adalah perbedaan konsentrasi dan suhu.

Simpulan

1. Semakin tinggi konsentrasi larutan sukrosa maka semakin banyak sel


epidermis Rhoe discolor yang terplasmolisis.
2. Konsentrasi yang menyebabkan 50% sel Rhoe discolor terplasmolisis dari jumlah
sel seluruhnya adalah 0,254 M.
3. Tekanan osmosis cairan sel epidermis Rhoe discolor sebesar 3,2 atm

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Tumbuhan merupakan makluk hidup multisekuler. Sel tumbuhan terdiri atas
dinding sel, inti sel dan organel-organel yang ada di dalamnya. Selain itu
pada sel tumbuhan terdapat sitoplasma yang dibungkus oleh membrane plasma
yang merupakan membrane dwilapis yang mampu mengatur secara selektif aliran
cairan dari lingkungan suatu suatu sel ke dalam sel dan sebaliknya. Apabila
suatu sel tumbuhan diletakkan di dalam suatu larutan yang konsentrasinya
lebih tinggi daripada di dalam sel, maka air akan meninggalkan sel sehingga
volum isi sel berkurang. Karena dinding sel bersifat permeable maka ruang
antara membrane dan dinding sel akan diisi larutan dari luar. Peristiwa ini
berlangsung sampai konsentrasi di dalam dan di luar sel sama besar.
Akibat peristiwa tersebut, maka protoplasma yang kehilangan air akan
menyusut volumenya dan akhirnya akan terlepas dari dinding sel. Peristiwa
tersebut dinaman dengan plasmolisis. Plasmolisis adalah kondisi dimana suatu
sel tumbuhan diletakkan dalam larutan sukrosa yang terkonsentrasi
9hipertonik) akibat cairan yan ada di dalam sel keluar dari sel sehingga
tekanan sel akan terus berkembang sampai di suatu titik dimana membrane
terlepas dari dinding sel.
Dalam proses osmosis terdapat beberapa komponen penting yakni potensiar
air (PA), potensial osmotic (PO) dan potensial tekanan (PT). untuk mengetahui
nilai potensial osmotic cairan sel, salah satunya dapat digunakan dengan
metode menentukan pada konsentrasi berapa jumlah sel yang mengalami
plasmolisis.
Dari gambaran di atas, maka untuk mengetahui berapa besar konsentrasi
larutan dapat menyebabkan sebagian sel dari jumlah sel yang terplasmoksis.
Oleh karena itu, dilakukan percobaan secara eksperimental pada sel tumbuhan.
Percobaan ini berjudul plasmolisis.
B. Maksud dan Tujuan Percobaan
Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami peristiwa plasmolisis sel tumbuhan
Tujuan Percobaan
Menentukan peristiwa Plasmolisis pada dau Rhoeo discoar berdasarkan
pengaruh larutan glukosa dari berbagai konsentrasi.
C. Prinsip Percobaan
Penentuan peristiwa plasmoksis sel daun Rhoeo discolor dengan
melakukan perendaman potongan epidermis bahwa daun ke dalam glukosa di
berbagai konsentrasi yaitu 0,28 M, 0,26 M, 0,24 M, 0,22 M, 0,20 M, 0,18 M,
0,16 M selama 30 menit kemudian diamati di bawah mikroskop dan ditentukan
jumlah presentase sel yang mengalami plasmolisis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum
Plasmolisis adalah peristiwa terlepasnya protoplasma dari dinding sel
karena sel berada dalam larutan hipertonik. Plasmosis dapat memberikan
gambaran untuk menentukan besarnya nilai osmosis sebuah sel. Jika sel
tumbuhan ditempatkan dalam larutan yang hipertonik terhadap cairan selnya ,
maka air akan keluar dari sel tersebut sehingga plasma akan menyusut. Bila
hal ini berlangsung terus menerus, maka plasma akan terlepas dari dinding sel
disebut plasmolisis. Jika sel tumbuhan, misalnya sel spirogyra diletakkan
dalam larutan yang dipertonik terhadap sitosol sel tersebut, maka air yang
berada dalam vakuola menembus ke luar sel. Akibatnya protoplasma mengkerut
dan terlepas dari dinding sel. Terlepasnya protoplasma dari dinding sel
disebut plasmolisis. (Anonim, 2009:3).
Jika sebatang tanaman air tawar atau darat diletakkan ke dalam air laut
sel – selnya dengan cepat kehilangan turgornya dan tanaman tersebut menjadi
layu. Hal ini disebabkan karena air laut itu hipertonik terhadap sitoplasma.
Dengan dengan demikian air berdifusi dari sitoplsama ke air laut sehingga
sel – sel itu mengkerut. Keadaan ini disebut Plasmolisis. (Kimball,1994).
Apabila konsentrasi larutan dalam sel tinggi, air akan masuk sel dan
terjadi endosmosis. Hal ini meneyebabkan tekanan osmosis sel mnenjadi tinggi.
Keadaaan yang demikian dapat memecahkan sel (lisis). Jadi lisis adalah
hancurnya sel karena rusaknya atau robeknya membrane plasma. Sebaliknya,
apabila konsetrasi larutan di luar sel lebih tinggi , air dalam sel akan
keluar dan terjadi eksosmosis. Eksosmosis pada hewan akan menyebabkan
pengerutan sel yang disebut krenasi dan pada tumbuhan akan menyebabkan
terlepasnya embran dari dinding sel yang disebut plasmolisis. (Anonim,
2000:4)
Plasmolisis adalah peritstiwa mengkerutnya sitoplasma dan lepasnya
membrane pellasma dari dinsing sel tumbuhan jika sel dimasukkan ke dalam
larutan hipertonik (larutan garam lebih dari 1%). (Buana dkk, 2011:5)
Plasmolisis merupakan proses yang secara nyata menunjukkan bahwa pada
sel, sebagai unit terkecil kehidupan, terjaid sirkulasi keluar masuk suatu
zat. Adanya sirkulasi ini menjelaskan bahwa sel dinamis denga lingkungannya.
Jika memerlukan materi dari luar maka sel harus mengambil materi itu dengan
segala cara, misalnya dengnan mengatur tekanan agar terjadi perbedan tekanan
sehinggga materi dari luar bias masuk. (Buana dkk, 2011:5)
Plasmolisis merupakan dampak dari peritiwa osmosis. Jika sel tumbuhan
dileteakkan pada larutan hipertonik. Sel tumbuhan akan kehilangan air dan
tekanan turgor, yang menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan kondisi
sel seperti ini disebut layu. Kehilangan air lebih banyak lagi meenyebabkan
terjadinya plasmolisis, dimana tekanan harus berkurang sampai di suatu titik
dimana sitoplasma mengerut dan menjauhi dinding sel, sehingga dapat terjadi
cytorhysis – contohnya dinding sel. (Buana dkk, 2011:5)
Tidak ada mekanisme di dalam sel tumbuhan untuk mencegah kehilangan air
secara berlebihan juga mendapatkan air secara berlebihan, tetapi plamolisis
dapat dibalikkan jika sel diletakkan di larutan hipotonik ( Buana dkk,
2011:5)
Plasmolisis biasanya terjadi pada kondisi yang ekstrim, dan jarang terjadi
di alam. Biasanya terjadi secara sengaja di laboratorium dengan meletakkan
sel pada larutan bersalnitas tinggi ataupun larutan gula untuk menyebabkan
eksosmosis (Buana dkk, 20011:5)
Terdapat banyak teori mengenai membrane plasma yang dikemukakkan oleh
para ahli tetapi pada dasarnya ada dua kelompok teori tentan susunan suatu
membrane plasma yaitu :
- Leafleat theory yang menyatakan bahwa membrane plasma tersusun atas lapisan –
lapisan.
- Teori globular yang menyatakan bahwa membrane plasma tersusun sebab bola –
bola yang terderet. (Juwono & Zulfa, 2000:21)
Membran plasma adalah selaput pembungkus dan pembatas suatu sel dengan
organel lainnya. Membrane plasma memiliki sifat selektif permeable dan
dinamis, antara lain adanya pertumbuhan membrane plasma, fragmentasi,
difrensiasi, perbaikan dari perusakan dan perubahan struktur tiga dimensinya.
Pada organism multisel, sel – sel tersusun sedemikian rupa menjadi rakitan
yang bekerja sama yang disebut jaringan sel – sel dalam sautu jaringan
umumnya berhubungan satu sama lain mellaui jalinan yang rumit terdapat
pengaturan sel dalam membrane plasma (Adtya,2007:51).
Difusi
Difusi merupakan suatu proses lewatnya bahan – bahan tertentu lewat suatu
membrane sebab akibat konsentrasi yang berbeda – beda. Apabila membrane
plasma ini bersifat semi permeable maka hanya bahan – bahan tertentu saja
yang dapat melewatinya dengan cara difusi. Difusi melewati membrane plasma
ini pada umumnya bersifat khas karena membtutuhkan bantuan enzim tertentu,
sehingga membrane sel disebut bersift “enzyme controlled permeable” (Juwono &
zulfa, 2000:24).
Seeperti yang di dijelaskan, difusi sering terjadi akibat adanya perbedaan
konsentrasi bahan di satu titik dengna titik lain (ketika zat warna tadi
mulai melarut, air di dekat Kristal berwarna sangat pekat, tapi pada jarak
tertentu tak ada warna). Perbedaan konsentrasi sangat lazim terjadi, terutama
dalam sel yang hidup dan dalam organism pada umumnya. Contohnya, ketika
senyawa organisk tertentu dalam sitosol masuk ke dalam sel dan
dimetabolismekan oleh mitokondria, maka konsentrasi di dekat mitokondri
dipertahankan lebih rendah daripada konsentrasinya dideekat kloroplas yang
berfotosintesis di dalam sel yang sama.
Difusi (perpindahan neto partikel atau bola) terjadi akibat gradient
konsetrasi. Konsentrasi adalaah banyaknya bahan atau jumlah partikel
persatuan volume. Gradient terjadi bila suatu parameter, misalnya
konsentrasi, berubah secara bertahap dari satu volume ruang ke volume ruang
lain (Salisbur,1995:32).
Osmosis
Osmosis ialah lewatnya zat pelarut melalui membrane plasma sebagai akibat
perbedaan tekanan osmosis. Dalam hal ini zat pelarut akan melewati satu
membrane dari larutan yang berdkadar rendah ke dalam larutan yang berkadar
tinggi sehingga tercapai suatu kesetimbangan. (Juwono danZaulfa, 2000:25).
Transport Makromolekul dan pertikel
Membrane sel mempunyai sifat – sifat untuk yang dinamis tercermin pada
kejadian – kejadi timbulnya invaginasi atau peliputan membrane pada proses
fi\otosintesis, pinositna seksositosis.
Mekanisme pengangkutan makromolekul dan partikel melalui “eksositosis apabila
berlangsung pelepasan dari sel dan melalui endositosis, apabila kemasukan ke
dalam sel. Dasar mekanisme kedua jenis pengankutan ini sama hanya berbeda
dalam urutan tahap-tahapannya yang berlangsung berlawanan. Berdasarkan sifat
dan ukuran bahan yang ditelan oleh sel, cara transportasi molekul dan
partikel dibedakan menjadi “pinositosis (meminum) apabila tertelan merupakan
larutan dengan melalui pembentukan gelembung – geelembung kecil dan
fogestosis (makan) apabiala yang ditelan adalah makromolekul atau partikel
melalui pembentukan gelembung – gelembung lebih besar (Subowo, 1995:62-63).
B. Uraian Bahan
1. Daun Rhoeo discolor (Gembong Tjitrosoepono, 2010:225:7)
Regnum : Plantae
Divis : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Class : Mono cotyledoneae
Subclass : -
Ordo : Bromeleales
Family : Brome
Genus : Rhoeo
Spesies : Rhoeo discolor
Kegunaan : Sebagai sampel
2. Glukosa (Dirjen POM, 1979:268)
Nama Resmi : GLUCOSUM
Nama Lain : Glukosa
Rumus Molekul : C6 H12 O6 H2 O
Berat Molekul : 198,17
rian : Hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau butiran putih , tidak
berbau, rasa manis.
rutan : mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air, agak sakar
dalam etanol (95%) P mendidih sukar larut.
mpanan : dalam wadah tertutup baik
naan : untuk penguji sampel
3. Aquades (Dirjen POM, 1979:96)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air Suling
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18,02
rian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai
rasa.
impanan : dalam wadah tertutup baik
naan : melarutkan glukosa.
C. Prosedur Kerja (Jamilah, 2012:10)
1. Siapkan satu seri larutan glukosa dingin dengan konsentrasi sebagai berikut :
0,28 m, 0,26 m, 0,24 m, 0,22 m, 0,20 m, 0,18 m, 0,16 m, 0,14 m, masing –
masing sebanyak 10 ml di dalam cawan petri.
2. Dengan menggunakan pisau silet dan pinset, ambil beberapa potong jaringan
epidermis bagian bawah daun rhoeo discolor, lalu masukkan masing – masing ke
dalam tabung reaksi dengan jarak waktu + 5 menit antara tabung satu dengan
tabung berikutnya.
3. Biarkan selama 30 menit , lalu ambil potongan jaringan tersebut, letakkan di
atas gelas preparat bersama tetes larutan perendam, amati di bawah mikroskop.
4. Catatlah pada larutan konsentrasi berapa plasmolisis mulai terjadi dan catat
berapa jumlah sel yang terplasmolisis setiap larutan.
5. Tentukan larutan mana yang 5% sel – selnya mengalami plasmolisis.
BAB III
METODE KERJA
A. Alat dan Bahan
Alat – alat yang digunakan dalam praktikum Plasmolisis adalah mikroskop,
object dan deg glass, silet, pinset dan pipet tetes, dan stopwatch.
Adapun bahan – bahan yang digunakan adalah daun Rhoeo discolor, air dan
larutan glukosa dengan konsentrasi 0,28 m, 0,26 m, 0,24 m, 0,22 m, 0,20 m,
0,18 m, 0,16 m, 0,14 m.
B. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Diambil lapisan epidermis daun Rhoeo discolor yang ungu (bagian bawah daun)
dengan silet.
3. Diletakkan di atas objek gelas lalu ditutup dengan deg glas.
4. Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 kali.
5. Diambil gambar pengamatan dan dihitung jumlah selnya.
6. Disiapkan larutan glukosa konsentrasi 0,28 m, 0,26 m, 0,24 m, 0,22 m, 0,20 m,
0,18 m, 0,16 m.
7. Diambil irisan epidermis daun rhoea discoler yang telah diamati sebelumnya
dari objek gelas dengan pinset.
8. Direndam irisan tersebut di dalam larutan glukosa selama 30 menit.
9. Setelah 30 menit, diambil insane daun yang direndam lalu diletakkan pada
objek dan ditutup dengan deg glass
10. Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 kali.
11. Diambil gambar pengamatan dan dihitung jumlah sel yang tidak terplosmolisis.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

A. Tabel Pengamatan

NO SEBELUM DIRENDAM SETELAH DIRENDAM KONSENTRASI


1. [0,28 M]
Keterangan
1. Dinding sel
2. Stomata
3. Sitoplasma
2. [0,26 M]
Keterangan :
1. Dinding Sel
2. Stomata
(Warna dan
bentuk tidak
jelas setelah
direndam))

3. [0,24 M]
Keterangan :
1. Dinding Sel
2.Cairan
Sitoplasma
perendaman)

4. [0,22 M]
Keterangan :
1. Dinding sel
2. Stomata
3. Sitoplasma
5. (0,20 m)
2. Dinding sel
3. Sitoplasma
4. Stomata
(memudar
sebelah
perendaman)
6. (0,18 m)
Keterangan :
1. Dinding Sel
2. Stomata
(Pada gambar
terlihat
transparan)
7. (0,16 M)
Keterangan :
1. Dinding Sel
2. Stomata
2. Sitoplasma
8. LITERATUR
Gambar
disamping
merupakan
literature,
sebelum
direndam
glukosa dan
setelahnya
terlihat
sebagian sel
yang
terplesmolisis.

2. Perhitungan

JUMLAH SEL JUMLAH SEL % KADAR SEL


[ ]
KESELURUHAN TERPLASMOLISIS TERPLASMOLISIS

0,28 M 179 179 100%

0,26 M 95 73 76,89 %

0,24 M 153 101 66 %

0,22 M 107 81 75,7 %

0,20 M 264 167 63,25%

0,18 M 137 137 100%

0,16 M 207 121 58,95%

BAB V
PEMBAHASAN

Jika sel tumbuhan diletakkan dalam larutan garam terkonsentrasi


(hipertonik) , sel tumbuhan akan kehilangan air dan juga tekanan terger,
sehingga menyebabkan terjadinya proses plasmolisis, tekanan terus berkembang
sampai di suatu titik dimana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel,
menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membrane. Ada beberapa
mekanisme didalam sel tumbuhan untuk mencegah kehilangan air secara
berlebihan, tetapi plasmolisis dapat dibalikkan jika sel diletakkan di
larutan hipertonik. Dimana plasmolisis adalah proses pengkerutan protoplasma
dan diikuti dengan penarikan sitoplasma dari dinding sel karena gerakan air
keluar sel yang disebabkan oleh osmosis.
Adapun cara kerja dari percobaan plasmolisis sel adalah menyiapkan alat
dan bahan yang akan digunakan, mengiris setipis mungkin sampel, yaitu daun
Rhoeo discolor dengan menggunakan silet lalu diletakkan di atas objek glass
dan ditutup dengan deg glass, setelah itu mengamatinya di bawah mikroskop
kemudian foto hasil pengamatannya setelah itu menyiapkan larutan glukosa
dengan konsentrasi yang berbeda yaitu : 0,16 m, 0,18 m, 0,20 m, 0,22 m, 0,24
m, 0,26 m dan 0,28 m. lalu mengambil irisan daun rhoeo discolor tadi yang
telah diamati sebelumnya dari objek glass dengan menggunakan pinset, kemudian
rendam daun itu pada masing – masing larutan dengan konsentrasi yang berbeda
beda. Perendaman membutuhkan waktu selama 30 menit. Lihat perubahan yang
terjadi selama perendaman. Setelah 30 menit ambil kembali sayatan daun rhoeo
discolor kemudian diletakkan lagi ke obyek gelas dan ditutup dengan deg
glass, lalu diamati kembali di bawah mikroskop, lalu melihat perubahan yang
terjadi dengan mengamati sel yang mana yang plasmolisis dan mengamati berapa
sisa sel yang tidak terplasmolisis pada masing – masing konsentrasi larutan.
Serta menentukan larutan mana yang 50% sel – selnya mengalami plasmolisis,
dengan membandingkan sampel sebelum direndam dan setelah direndam.
Mengenai waktu yang digunakan untuk merendam daun Rheo discolor adalah
selama 30 menit dengan tujuan agar plasmolisis sel diamati kembali dan
dibandingkan sel sebelum dan sesudah direndam dilarutan glukosa yang
berkonsentrasi tinggi dan dapat diperkirakan bahwa dalam waktu 30 menit, sel
sudah terplasmolisis untuk mencapai keadaan setimbangnya.
Dalam percobaan plasmolisis digunakan epidermis bawah daun Rhoe discolor
memiliki pigmen berwarna ungu (antosiatun), hal ini dimasukkan untuk
mempermudah proses pengamatan. Selain itu, juga digunakan larutan glukosa
berbagai konsentrasi yang berperan sebagai larutan hipertenis terhadap sel.
Sebelum direndam pada larutan glukosa , sel – sel yang berwarna ungu
terlihat lebih banyak dan jelas dibandingkan kloroplas yang pada saat normal,
pigmen antosianin berada pada vakuola tumbuhan yang cukup besar, sedangkan
kloroplas cenderung tersebar mengambang pada sitoplasma.
Setelah direndam selama 30 menit terjadilah keadaan yang sangat bertolak
dengan keadaan yang sebelumnya. Sel – sel berwarna ungu terlihat lebih
sedikit dan kloroplas jelas terlihat. Hal ini terjadi Karen apada saat sel
dan rhoeo discolor ditempatkan pada larutan yang hipertonis terhadapnya, maka
air keluar dari vakuela sehingga membrane sitoplasma akan mengkerut.
Sebagaimana teori yang merupakan pengertian dari plasmolisis, sehingga pigmen
antosianium di dalam vakuola tidak terlalu jelas dilihat. Saat sitoplasma
mengkerut, kloroplas yang tersebar di dalam sitoplasma akan merapat sehingga
bisa terlihat lebih jelas.
Dari percobaan plasmolisis sel rhoea discolor didapatkan hasil sebagai
berikut pada konsentrasi 0,28 m jumlah sel yang keseluruh adalah 179
sedangkan jumlah sel yang terplasmolisis adalah 179, pada konsentrasi 0,26 m
jumlah sel yang keseluruhan adalah 95, sedangkan jumlah sel yang
terplasmolisis adalah 73 sel. Pada konsentrasi 0,24 m jumlah sel yang
keseluruhan adalah 153 sedangkan jumlah sel yang terplasmolisis adalah 81
sel. Pada larutan dengan konsentrasi 0,20 m jumlah sel yang keseluruhan
adalah 24 sedang yang terplasmolisis 167 pada konsentrasi 0,18 m jumlah zat
yang keseluruhan adalah 137 pada konsentrasi 0,16 m jumlah sel yang
terplasmolisis adalah 207 sedangkan yang tidak terplasmolisis adalah 121.
Pada pengamatan hasil menurut literature, “semakin rendah konsentrasi
suatu bahan dari lingkungan lainnya, semakin mudah sel itu berplasmolisis,
dalam percobaan didapatkan pembuktian bahwa sel daun rhoea discolor sebelum
direndam ungu dan air dalam sel itu bergabung dengan larutan glukosa,
sehingga air di dalam sel itu habis sehingga menyebabkan sel berkerut dan
terlihat pada mikroskop kerutan sel yang tidak berwarna lagi. Jika
dibandingkan dengan literature yang ada, didapatkan hasil tidak sesuai dengan
literature, seharusnya larutan dengan konsentrasi rendah akan memiliki persen
sel yang terplasmolisis lebih rendah (kecil) dan larutan dengan konsentrasi
rendah akam memiliki persentase yang terplasmolisis rendah (kecil) dan
larutan dengan konsentrasi besar, begitupun dengan sebaliknya. Hasil
pengamatan kami pada konsentrasi 0,18 m tidak menunjukkan adanya kesesuaian
dengan hal ini.
Hubungan konsentrasi dengan plasmolisis. Sel yang berada pada keadaan
lingkungan hipertonik yaitu konsentrasi tinggi menjadi semakin tinggi yaitu
konsentrasi suatu bahan semakin banyak sel yang terplasmolisis karena
konsentrasi di dalam sel daun rhoeo discolor lebih rendah dari lingkungan
larutan glukosa yang konsentrasinya lebih tinggi, air dalam sel terosmosis
keluar sel dan hanya tinggal bagian – bagian dari pengamatan yang ada pada
sampel.
Adapun alas an perlakuan dari percobaan yaitu daun rhoea discolor diiris
sedikit tebal agar pada perendaman pada glukosa tidak mudah terplasmolisis.
Rhoeo discolor diamati sebelum krendaman supaya dapat dijadikan pembanding
sel saat sudah perendaman. Irisan rhoeo discolor direndam selama 30 menit,
supaya proses plasmolisis sel berlangsung dengan maksimal, kemudian diamati
kembali agar dapat membedakannya dengan sampel sebelum direndam pada
percobaan, dan rhoeo discolor digunakan karena kandungan pigmennya relative
tinggi dan jelas hingga ke dalam struktur selnya, juga karena mempunyai
kepadatan yang tinggi.
Salah satu hal yang perlu diketahui dari membrane sel setelah percobaan
dilakukan adalah bahwa membrane sel bersifat semi permeable. Dimana kita
ketahui bahwa selektif permeable adalah substansi – subtstansi tidak dapat
melintasi membrane plasma secara sembarangan. Membrane sel tersusun dari
lipid bilayer dan protein transfer yang berperan dalam transportasi sel.
Lipid bilayer membentuk benteng yang kokoh untuk mencegah molekul – molekul
hidrofilik masuk. Lipid bilayer yang bersifat hidrobik menghalangi transport
ini dengan molekul polar yang bersifat hidrofilik. Molekul sangat kecil yang
polar tetapi tidak bermuatan juga dapat lewat melalui membrane dengan cepat.
Contohnya air dan etanel. Lipid bilayer tidak sangat permeable terhadap
molekul pilar tak bermuatan yang lebih besar seperti glukosa dan gula lain.
Itulah sebabnya mengapa pada percobaan hanya air (H 2O) yang keluar dari sel,
sedangkan molekul glukosa yang seharusnya berdifusi ke dalam sel tidak
termasuk ke dalam sel.
Adapun hubungan percobaan ini dengan farmasi adalah penentuan konsentrasi
obat yang harus dibuat dimana untuk mengetahui berapa konsentrasi obatnya
terlebih dahulu harus mengetahui konsentrasi darah dalam tubuh, kemudian
apabila konsentrasi dari luar dalam hal ini konsentrasi obat yang akan masuk
lebih tinggi (hipertonik) dan dimasukkan ke dalam tubuh yang konsentrasinya
rendah (hipotonik) maka akan terjadi krenasi (pengkerutan sel). Selain itu,
percobaan ini juga digunakan dalam proses formulasi untuk menghitung berapa
tekanan osmotiknya.
Dari percobaan yang dilakukan, ada beberapa factor yang mempengaruhi
maksimalnya suatu pengamatan sel. Factor kesalahannya yaitu pada saat
mengurus daun Rheo discolor haruslah agak tebal karena di dalam glukkosa
berkonsentrasi tertentu nantinya tidak berlangsung osmosis, prosesnya
bertahap, kemudian pada saat penyimpanan sampel di atas objek glass, sampel
tidak boleh berlipat, jika hal itu terjadi, diratakan dengan pinset. Pada
pengambilan sampel tidak boleh dijatuhkan karena sampel akan bercampur dengan
zat lain.
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa perendaman
epidermis bawah daun Rhoeo discolor paling banyak mengalami plasmolisis
adalah 0,28 m dengan jumlah yang terplasmolisis dengan jumlah sel yang
terplasmolisis adalah 179 sel.
B. Saran
1. Laboratorium
Menyediakan genset khusus di dalam laboratorium karena pemadaman listrik dari
PLN mengganggu kenyamanan dalam praktikum serta menghanbat kerja praktikan
2. Asisten
Bimbingan dalam praktikum dipertahankan kak.

DAFTAR PUSTAKA

Buana, eqi, dkk.2011. Struktur dan inti sel Rhoeo discolor saat normal dan
Plasmolisis.Regina:Bogor.
Dirjen POM, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III.Depkes RI : Jakarta.
Juwono dan Zulfa, Ahmad.2000. BIOLOGI SEL. Penerbit Buku Kedokteran EGC:
Jakarta.
Salisbury Frank B & Ress Cleen W, 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Institut
Teknologi Bandung: Bandung
Tjitosoepomo,Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta.Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta.
Anonim. 2009. Praktikum III Plasmolisis. FKIP UHLAM: Banjarmasin.
1 Halaman Judul LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR II
POTENSIAL AIR PADA SEL TUMBUHAN Disusun oleh : 1. Erlin Aprilia Wahyu
Marliyani Endah Setyorini Sopa Saniah Lutfi Rahmawati Nurhadi Imamah Kelas: IPA
A 2013 Kelompok V PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI
YOGYAKARTA

2 A. Tujuan 1. Menemukan fakta tentang gejala plasmolisis 2. Menunjukkan faktor


penyebab plasmolisis 3. Menunjukkan hubungan antara plasmolisis dengan status
potensial osmotik antara cairan selnya dengan larutan di lingkungannya B. Latar
Belakang Tumbuhan membutuhkan air, gas-gas, dan ion-ion yang diambil dari
lingkungan. Ion tersedia dalam tanah, maka penyerapan harus dalam bentuk terlarut
dalam air tanah. Gas O2 banyak diserap melalui daun, sedangkan O2 banyak diserap
melalui daun, sedangkan O2 banyak diserap melalui akar dan lentisel. Masuknya gas-
gas, air, dan ion-ion, air, dan serta zat-zat harus menembus dinding dan membran sel
yang selektif permiabel dinding sel tebal, cukup banyak terdapat pori atau ruang-
ruang dan mudah dilaluilarutan tanah, dan gas,gas, sehingga tidak menimbulkan
masalah penyerapan. Sebaliknya, membran sel yang lipoprotein, hanya memiliki pori
yang lembut dan bermuatan, sehingga tidak semua zat dapat melewatinya. Semua
proses fisiologi di dalam jaringan tumbuhan tidak akan terjadi tanpa adanya air yang
berperan penting dalam proses tersebut. Selama pertumbuhan tanaman, air memiliki
peranan penting sebagai pelarut bahan-bahan organik, yaitu bahan-bahan utama yang
digunakan dalam proses fotosintesis dimana gas CO2 diserap melalui daun sedangkan
gas O2 diserap melaluii lentisel dan akar. O2 yang diserap oleh akar berasal dari air
tanah yang mengandung O2. Jadi, jika tanaman mengalami stress air, maka proses
pertumbuhan dan perkembangannya terganggu. Air dapat masuk ke dalam tubuh
tumbuhan dengan cara difusi. Difusi terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi,
yaitu konsentrasi di dalam sel tumbuhan lebih rendah dibanding sel yang berada di
bagian luar tubuh tumbuhan. Untuk masuk ke dalam tubuh tumbuhan, ion air, maupun
gas harus menembus dinding sel dan membran sel yang bersifat selektif permeabel.
Permeabilitas membran yang paling rendah adalah permeabilitas terhadap ion-ion.
Tumbuhan mempunyai membran plasma yang jika dimasukkan ke dalam larutan yang
berkonsentrasi tinggi akan mengalami plasmolisis. Peristiwa ini terjadi dari jaringan
yang ditempatkan pada larutan yang hipertonis atau memiliki potensial osmotik yang
tinggi. Terkait dengan penyerapan zat-zat tersebut perlu diketahui fakta dan faktor hal
yang menyebabkan tumbuhan dapat melangsungkan kehidupannya melalui transport
zat-zat dan mineral 2

3 C. Dasar Teori Tumbuhan membutuhkan air, gas-gas, dan ion-ion yang diambil
dilingkungannya. Ion tersedia dalam tanah, maka penyerapannya harus dalam bentuk
terlarut dalam air tanah,. Masuknya gas-gas, air, dan ion, zat-zat tersebut harus
menembus dinding sel dan membran sel yang selektif permeabel (Asri Widowati dan
Ekosari, 2013:26). Dalam fisiologi tanaman besarnya potensial air adalah energi bebas
per unit volume air, dengan menganggap potensial air murni adalah sama dengan nol
pada kondisi standar. Karena energi per unit volume mempunyai dimensi sama
dengan tekanan, potensial air tanah dan tanaman dinyatakan dalam unit tekanan, baik
dalam Bar atau Pascal (Pa), dimana 1 bar = 10 5 Pa. Kebanyakan sel yang terlibat
dalam hubungan air tanaman adalah sel masak dengan sebagian besar dari air dalam
sel dikandung dalam vakuola pusat. Lapisan tipis sitoplasma, bersama-sama dengan
gabungan plasmalemma dan tonoplas dapat dilihat sebagai suatu membran semi
permeabel yang komplek serta sebagai pemisah antara isi vakuola dari medium
eksternal (B. Sringandono, 1991:143). Keseluruhan proses kimiawi suatu organisme
disebut metabolisme. Metabolisme adalah suatu sifat baru dari kehidupan yang
muncul dari interaksi spesifik antara molekulmolekul di dalam lingkungan sel yang
teratur dengan baik. Secara keseluruhan, metabolisme dikaitkan dengan pengaturan
sumber daya materi dan energi dari sel itu (Campbell, 2000 : 90). Selain itu,
metabolisme pada prganisme multiselluler juga mencakup mengenai penyerapan air
dan senyawa-senyawa organik dari dalam tanah serta pengangkutan nutrien ke tempat
sintesis. Pada tumbuhan maupun hewan, pengangkutan zat hara serta pertukaran zat
dan hasil metabolisme cukup dari sel ke sel dengan menembus membran plasma dan
berlangsung baik secara aktif maupun secara pasif. Air memiliki peranan penting
dalam hal ini, yakni sebagai penunjang utama kehidupan. Sel tumbuhan dapat
mengalami kehilangan air yang besar jika potensial air di luar sel lebih rendah
dibandingkan dengan potensial air di dalam sel. 1. Potensial air Potensial air dapat
dinyatakan sebagai ukuran energi yang tersedia dalam air untuk bereaksi atau bergera.
Acuan untuk potensial air adalah energi potensial. Sedangkan kapasitas untuk
melaksanakan kerja adalah ketika air bergerak dari potensial yang lebih tinggi ke
daerah yang memiliki potensial yang lebih rendah. Dalam hal ini penting untuk
mempertahankan suhu konstan selama pengukuran, karena potensial air bertambah
seiring dengan bertambahnya suhu. Potensial air akan lebih 3

4 rendah daripada air murni oleh terlarutnya bahan dan gaya oleh ikatan air ke
permukaan oleh kekuatan matriks. Potensial air kemudian dilambangkan dengan huruf
Yunani psi (Ψ). Potensial air terdiri atas potensial osmosis (solut) dan potensial turgor
(tekanan). Penggunaan tekanan, dapat meningkatkan potensial air, sedangkan
penambahan solut akan mengurangi potensial air. Karena adanya pengaruh diantara
penggunaan tekanan dan penambahan solut, maka secara matematis dapat dituliskan
sebagai berikut. Ψ = Ψp + Ψs dimana Ψ = potensial air Ψp = potensial tekanan
(pressure) Ψs = potensial zat terlarut (solut) dengan catatan bahwa potensial air murni
pada tekanan atmosfer adalah 0 Mpa (mega pascal). Untuk tujuan pembandingan,
potensi air dari air murni pada suatu wadah yang terbuka ke atmosfer didefinisikan
sebagai nol Mega Pascal (ψ = 0 MPa). Penambahan zat terlarut akan menurunkan
potensial air. Karena ψ distandarkan sebagai nol MPa untuk air murni, setiap larutan
yang berada pada tekanan atmosfer akan memiliki potensial air yang negative sebagai
akibat dari kehadiran zat tersebut. Misalnya, suatu larutan dari zat terlarut dengan
konsentrasi 0,1 M akan memiliki potensial air sebesar 0,23 MPa. Jika larutan ini
dipisahkan dari air murni oleh membrane yang selektif permeable, air akan bergerak
akibat osmosis ke dalam larutan, dari daerah dengan ψ yang lebih tinggi (0 MPa) ke
wilayah dengan ψ lebih rendah (-0,23 MPa). 4

5 Gambar 1. Efek Umum (atas) dan Osmosis pada tingkat molekul Sumber: Campbell
etal Berlawanan dengan hubungan terbalik yang terdapat antara ψ dengan konsentrasi
zat terlarut, potensial air berbanding lurus dengan tekanan, peningkatan tekanan akan
menaikkan ψ (Neil A. Campbell, 2003 : 321). 2. Penyerapan Zat Oleh Tumbuhan
Penyerapan zat pada tumbuhan diserap dalam bentuk ion-ion dari garam-garam
terlarut di dalam air. Penyerapan air dan zat-zat terlarut di dalam air dilakukan oleh
bagian tubuh tumbuhan yang langsung bersentuhan dengan air. Pada tumbuhan darat,
sebagian besar air dan zat hara diserap dari tanah melalui akarnya (Suyitno, 2008 : 1).
Tumbuhan melakukan penyerapan untuk menyebarkan hasil-hasil metabolisme,
utamanya hasil fotosintesis dan transport energi ke seluruh tubuh tumbuhan. Hasil
transport ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman,
sehingga dapat membantu untuk menyuplai setiap aktivitas metabolisme tumbuhan.
Proses penyerapan pada tumbuhan terjadi karena adanya proses berikut. a. Difusi
Proses difusi berlangsung dari daerah yang memiliki konsentrasi partikel tinggi ke
daerah yang konsentrasinya rendah. Difusi memiliki peran penting dalam sel-sel
tumbuhan yang hidup. Air masuk ke dalam akar, bergerak dari sel ke sel dan
meninggalkan tubuh dalam 5
6 bentuk uap, semua melalui proses difusi. Gas-gas seperti O 2 dan CO 2, unsur-unsur
dan bahan makanan juga masuk ke dalam sel atau diantara sel-sel dengan jalan difusi.
Difusi berlangsung karena adanya perbedaan konsentrasi. Selain perbedaan
konsentrasi, perbedaan sifat juga dapat menyebabkan difusi (Sasmitamihardja, 1990
:22). Gambar 2. Proses Terjadinya Difusi Sumber: Ketika bercampur menjadi larutan
yang homogen, pada proses difusi terjadi pencampuran antara dua molekul yang beda
konsentrasi. Campuran larutan tersebut akan menyebar ke segala arah sampai
mencapai konsentrasi yang sama. Penyebaran tersebut ditimbulkan oleh suatu gaya
yang identik dengan energi kinetis. Dengan adanya gaya kinetis tersebut, maka
sumber gerakan molekul-molekul ada pada tempat dimana larutan tersebut memiliki
konsentrasi pekat. Sehungga gerakan difusi akan menuju ke tempat yang kekurangan
molekul atau berkonsentrasi rendah. Difusi merupakan proses spontan, karena difusi
itu menurunkan energi bebas. Apabila suatu substansi lebih tinggi konsentrasinya
pada satu sisi membran daripada sisi yang lain, substansi tersebut akan cenderung
berdifusi melintasi membran menuruni gradien konsentrasinya (Campbell, 2000 :
148). Berikut adalah proses terjadinya difusi. 6

7 Gambar 3. Difusi Zat Terlarut Melintasi Membran Sumber: Pada gambar diatas
setiap molekul berwarna bergerak ke sana sini secara acak, namun ada perpindahan
neto molekul-molekul pewarna melintasi membran ke sisi yang awalnya berisi air
murni. Molekul pewarna akan terus menyebar melintasi membran sampai kedua
larutan memiliki konsentrasi larutan yang sama. Setelah itu tercapai, keseimbangan
dinamik akan berlangsung, dengan molekul pewarna yang sama banyak akan bergerak
melintasi membran dalam dua arah setiap detik. Zat apapun yang berdifusi menuruni
gradien konsentrasi, wilayah gradasi penurunan densitas Zat kimia (Neil A. Campbell,
dkk. 2008:142). Banyak lalulintas membran sel melalui difusi. Ketika zat lebih
terkonsentrasi pada satu sisi membran daripada sisi satunya, ada kecenderungan zat
itu berdifusi melintasi membran menuruni gradien konsentrasinya. Difusi zat
melintasi membran biologis disebut transpor pasif karena sel tidak harus
mengeluarkan energi. Gradien konsentrasi mempresentasikan energi potensial dan
menggerakkan difusi (Neil A. Campbell, dkk. 2008:143). b. Osmosis Kelangsungan
hidup sel tumbuhan bergantung pada kemampuannya untuk menyeimbangkan
pengambilan dan pengeluaran air. Pengambilan atau pengeluaran netto air oleh suatu
sel terjadi melalui osmosis, yaitu transport pasif air melewati suatu membrane. Dalam
kasus sel hewan air akan bergerak akibat osmosis dari arah hipotonik ke hipertonik.
Akan tetapi dalam kasus sel tumbuhan, kehadiran dinding sel menjadi faktor kedua
yang 7

8 mempengaruhi tekanan fisik osmosis. Pengaruh gabungan dari kedua faktor ini
(konsentrasi zat terlarut dan tekanan) disebut potensial air, disingkat dengan huruf
Yunani psi (ψ). Komponen potensial dalam potensial air mengacu pada energy
potensial, yaitu kapasitas untuk melaksanakan kerja ketika air bergerak dari daerah
dengan ψ yang lebih tinggi ke daerah dengan ψ yang lebih rendaah. Keadaan ini
adalah suatu kasus khusus mengenai kecenderungan umum pada system untuk
berubah secara spontan menuju pada keadaan energy-bebas-terendah (Neil A.
Campbell, 2003 : 320). Para ahli biologi tumbuhan mengukur ψ dalam satuan tekanan
yang disebut MPa (Mega Pascal). 1 Mpa sama dengan sekitar 10 tekanan atmosfer.
Osmosis merupakan peristiwa perpindahan air dari daerah yang konsentrasi airnya
tinggi ke daerah yang konsentrasi airnya rendah melalui membran semipermeabel.
Membran semipermeabel yaitu membran yang hanya mengijinkan masuknya air dan
menghambat lalunya zat terlarut (Sasmitamihardjo, 1990 : 24). Osmosis memiliki
tujuan untuk melarutkan zat terlarut sampai terjadi equilibrum pada kedua larutan.
Kecepatan osmosis bergantung pada konsentrasi solut di dalam larutan, suhu larutan,
muatan titik solut, dan perbedaan tekanan osmotik (Asmadi, 2008 : 53). Tekanan
osmotik adalah tekanan maksimum yang dapat terjadi akibat proses osmosis dalam
larutan. Tekanan osmotik bukan merupakan tekanan sesungguhnya, akan tetapi
tekanan yang dapat terjadi bila keadaan ideal. Tekanan osmotik ini bergantung pada
konsentrasi larutan. Larutan yang konsentrasi zat terlarutnya lebih tinggi
dibandingkan dengan larutan di dalam sel dikatakan sebagai larutan hipertonis.
Sedangkan jika larutan yang terdapat di luar sel, konsentrasi zat terlarutnya lebih
rendah daripada di dalam sel, sehingga disebut sebagai larutan hipotonis. Untuk
larutan yang konsentrasinya sama dengan larutan di dalam sel disebut larutan isotonis.
Pada larutan hipertonis, sel tumbuhan akan kehilangan tekanan turgor dan mengalami
plasmolisis. Sedangkan pada sel hewan akan menyebabkan krenasi sehingga sel akan
mengkerut. Pada larutan hipotonis, sel tumbuhan akan mengembang dan mengalami
peningkatan tekanan turgor sehingga sel menjadi keras. Sedangkan pada sel hewan,
sel akan mengembang dan pecah. Pada larutan isotonis, sel tumbuhan dan sel hewan
memiliki bentuk yang normal. 8

9 Gambar 4. Proses Terjadinya Osmosis Sumber: c. Plasmolisis Plasmolisis


merupakan suatu fenomena pada sel berdinding dimana sitoplasma mengkerut dan
membran plasma tertarik mengikuti airnya ke lingkungan hipertonik (Niel A
Campbell, 2002: 20). Pada plasmolisis, protoplas menyusut pada semua dinding
kecuali pada tempat terdapatnya plasmodesmata. Salah satu fenomena akibat
dehidrasi sel adalah terjadinya plasmolisis (Sri Mulyani E.S, 2006: 49). Sel tumbuhan
dapat mengalami kehilangan air. Jika sel kehilangan air dalam jumlah yang cukup
besar, maka kemungkinannya volume sel juga menurun sehingga tidak dapat mengisi
seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Artinya membran dan sitoplasma
akan terlepas dari dinding sel. Peristiwa ini disebut dengan plasmolisis. Sel yang
sudah terplasmolisis dapat disehatkan kembali dengan memasukkannya ke dalam air
murni. Plasmolisis menyebabkan jaringan yang ditempatkan pada larutan yang
hipertonis (konsentrasi air di dalam sel lebih tinggi daripada konsentrasi air di larutan
sebelah luar sel), akan terdorong untuk berdifusi keluar dari sel menembus membran
kemudian keluar. Keadaan ini menyebabkan sel kehilangan turgornya, vakuola
mengkerut, dan membran sel terpisah dari dinding sel. Pada larutan hipotonis dan
isotonis, sel jaringan tidak akan mengalami plasmolisis. 9

10 Gambar 2. Plasmolisis pada Sel Tumbuhan Sumber: Dalam keadaan tertentu, sel
masih mampu kembali ke keadaan semula apabila jaringan dikembalikan ke air murni.
Peristiwa ini dikenal dengan gejala deplasmolisis. Plasmolisis merupakan proses yang
secara nyata menunjukkan bahwa pada sel, sebagai unit terkecil kehidupan, terjadi
sirkulasi keluar masuk suatu zat. Adanya sirkulasi ini menjelaskan bahwa sel dinamis
dengan lingkungannya. Jika memerlukan materi dari dari luar maka sel harus
mengambil materi tersebut dengan segala cara, misalnya dengan mengatur tekanan
agar terjadi perbedaan tekanan sehingga materi dari luar dapat masuk. Jika sel
tumbuhan diletakkan pada larutan hipertonik, sel tumbuhan akan kehilangan air dan
tekanan turgor yang menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan keadaan
sel seperti ini disebut layu. Kehilangan air lebih banyak lagi menyebabkan terjadinya
plasmolisis. Tekanan terus berkurang sampai disuatu titik dimana sitoplasma
mengerut dan menjahui dinding sel sehingga dapat terjadi cytorrhysis runtuhnya
dinding sel. Tidaka ada mekansme didalam sel tumbuhan untuk mencegah kehilangan
air secra berlebihan, juga mendapatkan air secara berlebihan, tetapi plasmolisis dapat
dibalikkan dilarutan hipertonik. Plasmolisis biasanya terjadi pada kondisi yang
ekstrim dan jarang terjadi di alam. Metode plasmolisis dapat digunakan sebagai salah
satu metode penaksiran nilai potensial osmotik jaringan. Sebagai perkiraan terdekat,
potensial osmotik jaringan ditaksir ekuivalen dengan potensial osmotik suatu larutan
yang telah menimbulkan plasmolisis sebesar 50% yang disebut Incipient plasmolysis
(Asri Widowati dan Ekosari, 2013: 28). 10

11 D. Alat dan Bahan 1. Kegiatan potensial air pada sel tumbuhan Alat a. Petridish (3
buah) b. Tabung reaksi (3 buah) c. Rak tabung reaksi (1 buah) d. Pipet (2 buah) e.
Pisau bedah (1 buah) Bahan a. Pisang yang masak b. Larutan sukrosa 1M dan 0,5 M c.
Air suling (larutan sukrosa 0,0 M) d. Metilen biru pewarna 2. Kegiatan plasmolisis
Alat a. Mikroskop b. Gelas benda dan penutup c. Botol vial d. Pipet tetes e. Silet
Bahan a. Daun Rhoe discolor b. Larutan sukrosa 11

12 E. Langkah Kerja 1. Kegiatan Potensial Air Pada Sel Tumbuhan a. Osmosis


Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan Mengisi setiap petridish dengan larutan
sukrosa 5 ml Menambahkan 3 tetes biru metilen noda pada setiap gelas/cawan petri
untuk mewarnai larutan Memasukkan 4 buah irisan pisang yang sebelumnya telah
ditimbang, untuk setiap gelas/petridish Mendiamkan selama 20 menit dan mengamati
gerak dari zat warna tersebut Menimbang potongan pisang setelah perendaman
Mencatat hasil dan membandingkannya saat massa pertama hingga massa terakhir
setelah prendaman b. Difusi Mengambil sukrosa 0,5 M dan 1 M untuk setiap tes
tabung dengan sukrosa 10ml Mengambil biru metilen noda dengan pipet Memasukkan
pipet di tengah tabung reaksi serta menjatuhkannya ke setetes pewarna Mengamati
pergerakan dari zat warna, apakah bergerak ke atas atau ke bawah Mencatat data hasil
pengamatan 12

13 c. Kegiatan Plasmolisis Menyiapkan 4 botol vial yang berisi larutan sukrosa 0,14
M, 0, 18 M, 0,22 M, dan 0,26M masing-masing sebanyak 5 ml membuat beberapa
sayatan epidermis permukaan bawah daun Rhoe discolor Meletakkan sayatan pada
gelas benda dan menetesinya dengan sedikit air kemudian menutup dengan kaca
penutupnya Mengamati preparat dibawah mikroskop dengan perbesaran kecil
kemudian dengan perbesaran yang semakin besar Menghitung jumlah sel yang penuh
dengan warna ungu (anthocian yang terdapat pada bidang pengamatan memberikan
tetesan larutan gula ke tepi gelas penutupnya kemudian mengamati terjadinya
perubahan sel beranthocian tadi terus menerus selama 2 menit menghitung jumlah sel
yang mengalami perubahan warna anthocian ungu, bahkan menjadi transparan
(terplasmolisis Menuangkan data dalam bentuk tabel dan membuat grafik hubungan
antara konsentrasi larutan sukrosa dengan plasmolisis yan terjadi F. Data Hasil
Pengamatan 1. Kegiatan Potensial Air pada Tumbuhan a. Proses Difusi No Proses
Sukrosa 0,0 M Sukrosa 0,5 M Sukrosa 1 M 1. Kecepatan turun Penyebaran Kebawah
kebawah kemudian ke segala arah kemudian menyebar menyebar (lama) 13

14 Keterangan : +++ = paling cepat ++ = sedang + = lambat b. Proses Osmosis No


Konsentrasi Massa Pisang Sebelum Massa Pisang Jenis Sukrosa Direndam Sesudah
Direndam Pisang 1. 1 M 5,57 gram 5,57 gram A 2. 0,5 M 9,30 gram 10,95 gram B 3.
0,0 M 5,57 gram 6,70 gram C 2. Kegiatan Plasmolisis No Perlakuan Hasil
Pengamatan Keterangan 1. Sukrosa 0,14 M Sebelum Perbesaran 10x10 Sel yang
berwarna ungu tua = 30 14

15 Sesudah Perbesaran 10x10 Sel-sel berantosianin = Sukrosa 0,18 M Sebelum


Perbesaran 10x10 Sel yang berwarna ungu= 75 15

16 Sesudah Perbesaran 10x10 Waktu terjadi perubahan sel-sel berantosianin= Sukrosa


0,22 M Sebelum Perbesaran 10x10 Sel yang berwarna ungu tua = 8 16

17 Sesudah Perbesaran 10x10 Waktu terjadi perubahan sel-sel berantosianin= 5 4.


Sukrosa 0,26 M Sebelum Perbesaran 10x10 Sel yang berwarna ungu tua = 30 17

18 Sesudah Perbesaran 10x10 Waktu terjadi perubahan sel-sel berantosianin = 15 G.


Analisis Data 1. Larutan Sukrosa 0,14 M Diketahui : Jumlah sel sebelum ditetesi = 30
Jumlah sel setelah ditetesi = 10 Ditanya : Presentase sel yang terplasmolisis dan yang
tidak terplasmolisis Penyelesaian : Presentase sel yang terplasmolisis = Presentase sel
yang tidak terplasmolisis = 100% - presentase sel yang terplasmolisis = 100% -
66,67% = 33,33% 2. Larutan Sukrosa 0,18 M Diketahui : Jumlah sel sebelum ditetesi
= 75 Jumlah sel setelah ditetesi = 15 Ditanya : Presentase sel yang terplasmolisis dan
yang tidak terplasmolisis 18
19 Penyelesaian : Presentase sel yang terplasmolisis = Presentase sel yang tidak
terplasmolisis = 100% - presentase sel yang terplasmolisis = 100% - 80% = 20% 3.
Larutan Sukrosa 0,22 M Diketahui : Jumlah sel sebelum ditetesi = 8 Jumlah sel
setelah ditetesi = 5 Ditanya : Presentase sel yang terplasmolisis dan yang tidak
terplasmolisis Penyelesaian : Presentase sel yang terplasmolisis = Presentase sel yang
tidak terplasmolisis = 100% - presentase sel yang terplasmolisis = 100% - 37,5% =
62,5% 4. Larutan Sukrosa 0,26 M Diketahui : Jumlah sel sebelum ditetesi = 30
Jumlah sel setelah ditetesi = 15 Ditanya : Presentase sel yang terplasmolisis dan yang
tidak terplasmolisis Penyelesaian : Presentase sel yang terplasmolisis = Presentase sel
yang tidak terplasmolisis = 100% - presentase sel yang terplasmolisis = 100% - 50% =
50% 19

20 Berdasarkan analisis data diatas, dapat dibuat tabel persentase sel epidermis daun
yang terplasmolisis, yaitu sebagai berikut: No. Perlakuan Keadaan sel dalam satu
bidang pudy Waktu mulai Sukrosa Terplasmolisis Tak Terplasmolisis terplasmolisis
1. 0,14 M 66,67 % 33,33 % 316 sekon 2. 0,18 M 80,00 % 20,00 % 469 sekon 3. 0,22
M 37,50 % 62,50 % 300 sekon 4. 0,26 M 50,00 % 50,00 % 70 sekon Dibawah ini
merupakan grafik hubungan antara konsentrasi larutan dengan sel yang terplasmolisis,
yaitu sebagai berikut: 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 0,14 M
0,18 M 0,22 M 0,26 M Series 1 Berdasarkan data hasil perhitungan terhadap
persentase sel epidermis daun terplasmolisis, besarnya nilai osmosis cairan sel setelah
terjadi plasmolisis kurang lebih 50% adalah sebesar -700 atm. Nilai taksiran keadaan
sel terplasmolisis yang mendekati 50% adalah tepat 50 % yang terjadi pada
konsentrasi larutan 0,26 M. Berikut ini merupakan tabel potensial osmotik (PO)
beberapa molaritas larutan sukrosa pada suhu 20 C menuru A Ursprung dan G. Bhum:
Molaritas PO PO Molaritas (Atm) (Atm) 0,01-0,30 0,16-4,20 0,02-0,50 0,17-4,50
0,03-0,80 0,18-4,50 0,04-1,10 0,19-4,70 0,05-1,30 0,20-5,00 0,06-1,60 0,21-5,30 20
21 0,07-1,90 0,22-5,60 0,08-2,10 0,23-5,90 0,09-2,40 0,24-6,40 0,10-2,60 0,25-6,70
0,11-2,90 0,26-7,00 0,12-3,20 0,27-7,30 0,13-3,40 0,28-7,50 0,14-3,70 0,29-7,80
0,15-4,00 0,30-8,10 H. Pembahasan Dalam percobaan yang berjudul Potensial Air
pada Sel Tumbuhan yang telah dilakukan pada hari Kamis, tanggal 6 Maret 2014
pukul WIB di Laboratorium Biologi Dasar FMIPA UNY, memiliki tujuan agar setelah
melakukan percobaan mahasiswa dapat menemukan fakta tentang gejala difusi,
osmosis, dan plasmolisis, menunjukkan factor penyebab difusi, osmosis, dan
plasmolisis, serta menunjukkan hubungan antara plasmolisis dengan status potensial
osmotic antara cairan selnya dengan larutan di lingkungannya. Pada percobaan ini,
terdapat 2 jenis kegiatan percobaan, yaitu kegiatan osmosis dan difusi yang terangkum
menjadi satu di kegiatan 1, sedangkan pada kegiatan 2, mempelajari tentang peristiwa
plasmolisis. Berikut adalah penjelasan hasil percobaan yang telah dilakukan: Kegiatan
1 1. Osmosis Dalam percobaan ini, alat yang digunakan adalah cawan petri, pipet
tetes, pisau, penggaris, dan timbangan. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan
adalah pisang yang masak, larutan sukrosa 0,5 M dan 1 M, air suling, dan metilen
blue. Langkah pertama pada percobaan ini adalah mengiso cawan petri dengan larutan
5 ml dengan konsentrasi 1 M pada cawan A, 5 ml sukrosa 0,5 M pada cawan B, dan
5ml pada cawan C. setelah itu, memotong pisang menjadi 6 bagian dan membaginya
menjadi 3 bagian, sehingga nantinya untuk setiap cawan petri terdapat 2 potongan
pisang. Kemudian, praktikan menimbang masing-masing potongan pisang sebagai
data massa pertama (massa sebelum). Setelah itu, praktikan memasukkan pisang ke
dalam cawan petri dan mendiamkannya selama 20 menit. Setelah 20 menit, pisang
ditimbang kembali sebagai massa kedua (massa sesudah). 21

22 Berdasarkan data hasil percobaan, pada pisang A, yaitu dengan perlakuan sukrisa 1
M, massa sebelum sebesar 5,57 gram dan massa sesudah didiamkan selama 20 menit
sebanyak 5,57 gram. Pada pisang B, yaitu dengan perlakuan sukrosa 0,5 M, massa
sebelum sebesar 9,3 gram, massa sesudah didiamkan selama 20 menit sebesar 10,95
gram. Pada pisang C, yaitu dengan sukrosa 0,0 M, massa sebelum sebesar 5,57 gram,
massa sesudah didiamkan selama 20 menit sebesar 6,7 gram. Berdasarkan hal-hal
tersebut, untuk membandingkan konsentrasi 1 dengan yang lain, seharusnya ada
variable kontrol yaitu massa sebelum diberi perlakuan dari masing-masing konsentrasi
dari sukrosa dengan andanya variable yang dikontrol akan mempermudah untuk
membandingkannya. Jika dibandingkan antara sukrosa dengan konsentrasi 0,0 M dan
sukrosa dengan konsentrasi 0,5 M, dimana padaa konsentrasi 0,0 M, lingkungan
sukrosa bersifat lebih hipertonis, maka air akan masuk ke dalam pisang. Sehingga
menyebabkan massa akan bertambah. Dimana berdasarkan literatur osmosis akan
terjadi dari lingkungan hipertonis ke lingkungan hipotonis. Perbandingan antara
penggunaan konsentrasi 0,0 M dan 0,5 M terhadap massa adalah jika menggunakan
konsentrasi 0,0 M bertambahnya massa lebih sedikit daripada menggunakan
perlakuan konsentrasi 0,5 M. Karena semakin pekat larutan, air sebagai pelarut yang
dikandung hanya sedikit. Hal serupa jika dibandingkan antara sukrosa dengan
konsentrasi 0,5 M dan 1 M. Dimana pada sukrosa 0,5 M akan terkandung pelarut yang
lebih besar dari 1 M, sehingga jika pisang diletakkan pada lingkungan hipotonis, maka
air dari pisang akan keluar untuk mengembangkan konsentrasi, dimana dalam hal ini,
lingkungan hipotonis terdapat pada konsentrasi 1 M. Adanya sel yang menyerap air
dari luar, dinding sel akan mengalami kenaikan tekanan, yang disebut tekanan turgor.
Tekanan ini menyebabkan adanya ketegangan yang timbul antara dinding sel dengan
isi sel yng menyerap air. Ketika pisang direndam dan diletakkan ke dalam sukrosa
dengan konsentrasi 0,0 M, air akan masuk ke dalam pisang, dimana sebelumnya
pisang mengandung. Sehingga setelah air keluar masuk, keadaan sel memiliki
kandungan air yang berlebih. Hal ini akan menyebabkan volume bertambah.
Kelebihan volume itu mempunyai gaya tekan ke segala arah dan tekanannya disebut
tekanan osmotik. Tekanan osmosis sendiri adalah nama lain dari nilai osmosis. Pada
saat volume pada pisang bertambah, suatu waktu volume tersebut tidak dapat berubah,
sehingga mencapai keseimbangan. Dalam keadaan seimbang, sukrosa dan air tetap
memiliki nilai osmosis. 22

23 2. Difusi Dalam percobaan ini, adapun bahan yang digunakan adalah larutan
sukrosa, air suling, dan metilen blue. Sedangkan alat yang digunakan adalah tabung
reaksi dan pipet tetes. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memasukkan
sukrosa 0,0 M (air suling) pada tabung reaksi A, sukrosa 0,5 M ke dalam tabung
reaksi B, dan sukrosa 1 M ke dalam tabung reaksi C, masing-masing 5 ml.
Selanjutnya, praktikan mengambil metilen blue dengan pipet tetes dan
memasukkannya pada tabung reaksi. Kemudian praktikan mengamati pergerakan
metilen blue pada masing-masing tabung reaksi dengan adanya variasi konsentrasi
larutan sukrosa. Seharusnya, dalam meneteskan metilen blue ke dalam tabung reaksi
dilakukan secara bersamaan. Tetapi, karena adanya keterbatasan jumlah pipet tetes,
praktikan melakukannya secara bergantian, dalam waktu yang cukup cepat. Hal ini
akan mempengaruhi pengamatan terhadap pergerakan metilen blue di masing-masing
tabung reaksi. Untuk mengamati pergerakan metilen blue dapat digunakan parameter
kecepatan turun dari metilen blue pada masing-masing tabung reaksi, serta bentuk
penyebaran metilen blue saat dimasukkan ke dalam larutan sukrosa di masing-masing
tabung dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Berdasarkan data hasil percobaan,
kecepatan turun metilen blue paling cepat terjadi pada sukrosa dengan konsentrasi 0
M, yang artinya jenis larutan yang digunakan adalah air suling. Setelah itu, kecepatan
metilen blue selanjutnya adalah pada tabung B dengan sukrosa 0,5 M. Sedangkan
kecepatan turun metilen blue yang paling lama adalah pada sukrosa 1 M. Hal ini
dikarenakan saat metilen blue dimasukkan ke dalam air suling, untuk mencampur
konsentrasi agar seimbang, antara air suling dan metilen blue langsung saling
mencampur satu sama lain, sehingga akan mengalami proses penyatuan konsentrasi
yang berbeda dibutuhkan waktu yang cepat untuk saling meniadakan beda kadar
diantara keduanya. Berdasarkan literatur, gejala difusi merupakan usaha untuk
meniadakan beda kadar antara dua larutan yang berbatasan tanpa adanya dinding
pemisah. Selain itu, proses difusi dapat diartikan sebagai pencampuran dua molekul
yang berbeda konsentrasi, yaitu konsentrasi tinggi ke rendah. Jika dibandingkan
dengan sukrosa 0,0 M dan sukrosa 0,5 M maupun sukrosa 1 M, sukrosa dengan
konsentrasi 0,5 M kecepatan turunnya akan lebih cepat jika disbanding dengan
sukrosa konsentrasi 1 M. Disaat konsentrasi tinggi, metilen blue akan tertahan di
tengah-tengah larutan. Sedangkan sukrosa 0,5 M yang konsentrasinya rendah metilen
blue akan cepat turun untuk mencapai keadaan yang seimbang, artinya dengan
konsentrasi sama. 23

24 Parameter kedua yang digunakan adalah arah penyebaran dan kecepatan menyebar
dari metilen blue pada masing-masing sukrosa di dalam tabung reaksi. Berdasar data
hasil percobaan, metilen blue yang menyebar dengan cepat terjadi pada tabung A,
yaitu sukrosa dengan konsentrasi 0,0 M (air suling) jika dibandingkan dengan kedua
jenis sukrosa. Hal ini terjadi karena saat turun ke bawah dengan cepat akan disertai
dengan proses penyebaran ke segala arah sampai mencapai konsentrasi sama. Adapun
jika dibandingkan dengan sesama sukrosa, namun dengan konsentrasi yang berbeda,
akan memberikan proses penyebaran yang berbeda pula. Antara sukrosa 0,5 M dan 1
M, mula-mula kecepatan menyebar ke bawah terjadi pada tabung B, sedangkan pada
tabung C kecepatan untuk menyebar ke segala arah adalah lama, tetapi setelah metilen
blue turun ke bawah, sukrosa 0,5 M proses penyebaran ke segala arah berjalan lambat.
Hal ini dikarenakan, adanya energy kinetis maka sumber-sumber dari gerakan
molekul ada di tempat dimana terdapat molekul-molekul, yang berarti berkonsentrasi
tinggi (pekat), yaitu pada tabung C dengan konsentrasi 1 M. Selanjutnya, gerakan
difusi akan menuju ke tempat yang berkonsentrasi rendah, yaitu menyebar menuju ke
tempat yang kekurangan molekul. Kegiatan II Plasmolisis Pada kegiatan plasmolisis
ini,alat yang di gunakan adlah silet, mikroskop, gelas benda, gelas penutup dan pipet
tetes.sedangkan bahan yang digunakan adalah daun Rhoeo discolor dan larutan
sukrosa dengan berbagai jenis konsenttrasi yaitu 0,14, 0,18 dan 0,22.Pada percobaan
ini,praktikan menyayat bagian epidermis bawah dari daun Rhoeo discolor sebanyak 3
buah.setelah itu meletakkan sayatan di atas objek benda dan menetesinya dengan air
lalu ditutup dengan kaca penutup. Kemudian praktikan mengamati preparat dibawah
mikroskop lalu menggambar dan mencatat jumlah sel yang teramati pada bidang
pandang. Selanjutnya, praktikum mengambil larutan sukrosa dengan pipet tetes lalu
meneteskannya pada bagian pinggir dari kaca penutup, dengan mengupayakan
preparat terkena larutan sukrosa. Setelah itu praktikan mengamati keadaan sel setelah
ditetesi sukrosa dengan konsentrasi tertentu, yaitu menghitung sel yang mengalami
pemudaran warna antosianin ungu bahkan menjadi transparan. Penggunaan preparat
dari epidermis daun bagian bawah Rhocco discolor karena epidermis bawahnya
mengandung pigmen an toxianin yang menyebabkan sel berwarna ungu sehingga
mempermudah untuk melakukan pengamatan. Berdasarkan data hasil pengamatan dan
perhitungan, preparat diberi perlakuan dengan sukrosa 0,14 M. jumlah sel ungu yang
utuh berjumlah 30 sedangkan sudah ditetesi sukrosa 0,14M jumlah nya selalu ungu
yang utuh 24

25 sebanyak 10. Sehingga berdasarkan perhitungan presentase sel yang ter plasmolisis
adalah 66,67% dan yang tidak sebanyak 33,33%. Percobaan kedua, sebelum ditetesi
dengan sukrosa 0,18M, jumlah sel ungu yang utuh sebanyak 75 sedangkan jumlah sel
ungu yang utuh setelah ditetesi sukrosa sebanyak 15. Sehingga dari
perhitungan,presentase sel yang terplasmolisis sebanyak 80% dan yang tidak 20%.
Pada percobaan ketiga, sebelum ditetesi dengan sukrosa 0,22M jumlah sel ungu yang
utuh sebanyak 8, sedangkan sesudah ditetesi sel ungu yang utuh sebanyak 5. Sehingga
presentase yang terplasmolosis sebesar 37,5% dan yang tidak 62,5%. Pada percobaan
ke empat, sebelum ditetesi dengan sukrosa 0,26M jumlah sel ungu yang utuh
30,sedangkan sesudah ditetesi dengan sukrosa jumlah sel ungu yang utuh sebanyak 15
sel. Sehingga presentase yang terplasmolisis sebesar 50% dan yang tidak 50%. Dari
perhitungan tersebut dapat di buat dalam bentuk grafik berikut ini : 100% 90% 80%
70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 0,14 M 0,18 M 0,22 M 0,26 M Series 1 Dari
grafik di atas, menunjukkan bahwa dengan berbagai perlakuan akan menunjukkan
hasil yang berbeda pula. Hal ini karena adanya perbedaan respon sel-sel epidermis
daun Rhoeo discolor terhadap sukrosa yang berbeda konsentrasinya. Berdasarkan
grafik diatas, seiring bertambahnya konsentrasi tidak semua mengalami kenaikan. Hal
tersebut berbeda dengan literature, semakin pekat konsentrasi larutan sukrosa yang
digunakan untuk merendam sayatan epidermis daun Rhoeo discolor, maka semakin
banyak pula sel epidermis yang terplasmolisis. Hal ini terjadi karena adanya
perbedaan potensial osmotic di dalam sel maupun luar sel. Dimana potensial osmotic
luar sel lebih tinggi disbanding di dalam sel, maka akan menyebabkan berpindahnya
molekul air di dalam sel menuju luar sel, sehingga protoplas sel epidermis kehilangan
air yaitu dengan menyusutnya volume dan akhirnya akan terlepas dari 25

26 dinding sel. Terjadinya plasmolisis karena jika suatu sel diletakkan dalam
lingkungan yang konsentrasinya lebih tinggi daripada konsentrasi di dalam sel. Hal
tersebut dibuktikan dengan sel-sel sudah mulai terplasmolisis pada konsentrasi 0,14
M, dimana setelah ada perlakuan terdapat perbedaan antosianin pada epidermis bawah
daun Rhoeo discolor. I. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan
yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Gejala difusi: terdapat perbedaan
konsentrasi, saling meniadakan beda kadar antara dua larutan yang berbatasan tanpa
adanya dinding pemisah, terjadi pencampuran dua molekul yang berbeda konsentrasi,
yaitu dari konsentrasi tinggi ke rendah. Gejala osmosis: terjadi peristiwa bergeraknya
molekul pelarut dari konsentrasi pelarut tinggi ke konsentrasi pelarut yang rendah
melalui selaput semi permeable, molekul yang mempunyai keterlarutan tinggi
meresap lebih cepat dari molekul yang tingkat kelarutannya lebih rendah. Gejala
plasmolisis : terjadi bila jaringan ditempatkan pada laruta yang hipertonis, air di
dalam sel akan terdorong untuk berdifusi keluar sel menembus membrane, semakin
tinggi potensial osmotic lingkungan maka semakin tingggi ingkat plasmolisisnya. 2.
Faktor penyebab difusi: adanya perbedaan konsemtrasi, adanya energy kinetic, yaitu
dalam proses penyebaran, keinginan kedua larutan membentuk keseimbangan, ukuran
partikel, ketebalan membrane. Faktor penyebab osmosis: luas permukaan membrane,
ukuran molekul yang diserap, ketebalan membrane, kadar air dan materi terlarut yang
ada di dalam sel, kadar air dan materi terlarut yang ada di luar sel, luas suatu area
Factor penyebab plasmolysis, tekanan osmosis, konsentrasi suatu larutan, tekanan
turgor. 3. Jika potensial osmotic di luar sel lebih tinggi dibandingkan di dalam sel,
maka akan menyebabkan berpindahnya molekul air didalam sel menuju ke luar sel,
sehingga protoplasma sel epidermis kehilangan air yaitu dengan enyusutnya volume
(mengkerut) dan akhirnya akan terlepas dari dinding sel J. Daftar Pustaka Asmadi
Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Asri widowati, dkk
Petunjuk Praktikum Biologi Dasar II. Yogyakarta : FMIPA UNY. Callaghan C.A.O
At a glance Sistem Ginjal Edisi 2. Jakarta : Erlangga. 26

27 Campbell, Neil A Biologi Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga. Campbell, Neil A


Biologi Edisi Kedelapan. Jakarta : Erlangga. Fried, George H, dkk Schaum s Outlines
Biologi Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga. Kimbal, John W Biologi Jilid 2. Jakarta :
Erlangga. Pratigno, dkk Biologi II. Jakarta : Depdikbud. Sasmitamihardja Dasar-dasar
Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB Press K. Jawaban Pertanyaan 1. Terdapat
perbedaan respon sel-sel epidermis pada larutan sukrosa yang berbeda konsentrasinya.
2. Bentuk hubungan antara tingkat plasmolisis dengan konsentrasi larutan sukrosa
adalah sebanding. Dimana, semakin tinggi tingkat konsentrasinya, artinya semakin
pekat konsentrasi larutan sukrosa yang diberikan pada sayatan epidermis Rhoeo
discolor, maka semakin banyak pula sel epidermis yang terplasmolisis. 3. Tidak akan
terjadi perubahan apapun. Hal ini dikarenakan, antara tekanan osmotic di dalam dan di
luar sel sudah mencapai keseimbangan. 4. Mulai terjadi gejala plasmolisis pada
sayatan epidermis Rhoeo discolor yaitu pada konsentrasi 0,14 M. hal ini dikarenakan
adanya perubahan sel-sel berantosianin pada sayatan tersebut. 5. Plasmolisis terjadi
kaena adanya perbedaan konsentrasi, dimana konsentrasi di luar sel lebih tinggi
daripada konsenrasi di dalam sel. Hal ini akan menyebabkan berpindahnya molekul
dari potensial rendah ke potensial yang lebih tinggi. Artinya, molekul air berpindah
dari sel epidermis Rhoeo discolor menuju larutan sukrosa, sehingga menyebabkan
protoplas sel epidermis kehilangan air dan volumenya akan menyusut dan akhirnya
terlepas dari dinding sel. Berdasarkan nilai osmosis plasmolitikum besarnya nilai
osmosis cairan sel setelah terjadi plasmolisis kurang lebih 50% adalah sebesar -7,oo
atm. Hal ini dapat dianalisis dari data yang ada bahwa dengan plasmolisis sebesar
55,5 % yang mendekat nilai 50% terjadi pada konsentrasi larutan sukrosa 0,26 M.
Pada larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,26 M tersebut mempunyai potensial
osmotic sebesar -7,00 atm. 6. Sel atau jaringan yang sudah terplasmolisis masih dapat
kiembali normal bila dipindahkan ke lingkungan air biasa atau air murni. Air murni
tersebut diteteskan kembali ke atas sayatan daun Rhoeo discolor. Dengan meneteskan
air, maka membuat kondisi luar sel hipotonik sehingga air yang berada di luar sel
akan bergerak masuk dan dapat 27

28 menembus membrane sel, karena membrane sel akan menyerap ion maupun air
tersebut. Air yang masuk akan menyebabkan ruang sitoplasma kembali seperti semula
(terisi kembali dengan cairan), sehingga membrane sel terdesak keluar sebagai akibat
dari adanya tegangan turgor. Akhir dari peristiwa ini adalah sel kembali ke keadaan
semula. 7. Plasmolisis merupakan proses keluarnya cairan yang ada di dalam sel
menuju keluar sel dikarenakan konsentrasi di luar sel lebih tinggi disbanding
konsentrasi di dalam sel. 8. Berdasarkan peristiwa plasmolisis ini dapat digunakan
sebagai pendekatan untuk mengukur atau memperkirakan tekanan osmotic suatu
jaringan dengan cara memperkirakan tentang besarnya nilai cairan osmotic cairan sel
melalui tabel Potensial Osmotik. Saat air masuk ke dalam sel melalui membrane, air
dalam sel tersebut mendesak cairn yang ada di dalam sel keluar. Atau sering disebut
dengan adanya tekanan turgor, sedangkan pendesakan air dari luar ke dalam disebut
tekanan osmotic. Adanya tekanan osmotic dan turgor antara keduanya dapat dihitung
besarnya. Semakin tinggi tekanan turgor, maka semakin rendah tekanan osmotiknya,
sehinggga diantara keduanya mencapai keadaan setimbang. 9. Tekanan osmotic pada
tanaman xerofit lebih tinggi dari tekanan osmotic pada tanaman halofit. Namun, tidak
menutup kemungkinan bahwa tekanan osmotic pada tanaman halofit lebih tinggi
daripada tekanan osmptik pada tanaman xerofit. Keduanya dapat memiliki tekanan
osmotic sampai 50 atm. Kondisi potensial osmotic jaringan tumbuhan xerofit dan
halofit lebih tinggi daripada tanaman pada air tawar atau hidrofit. Karena pada
tumbuhan air tawar, tekanan osmotiknya tidak konstan. Saat banyak air di dalam
tanah, maka nilai osmosisnya menjadi lebih rendah. L. Tugas Pengembangan 1.
Tidak. Berdasar literature, sebagai perkiraan terdekat potensial osmotic dari jaringan
dapat ditaksir ekivalen dengan potensial osmotic suatu larutan apabila suatu larutan
tersebut telah menimbulkan plasmolisis sebesar 50%. Untuk mencari nilai taksiran
terdekat dari besarnya potensial air jaringan didasarkan pada air larutan perendam
yang dapat ditentukan jika telah mengakibatkan keadaan incipient plasmolisis.
Penentuan nilai potensial osmotic jaringan dapat menggunakan tabel Potensial
Osmotik (PO) beberapa polaritas larutan sukrosa pada suhu 20 0 C menurut
A.Urspring dan G.Blum. 2. Maksud penggunaan epidermis bagian bawah daun Rhoeo
discolor untuk percobaan plasmolisis adalah memudahkan dalam pengamatan, baik
sebelum terplasmolisis maupun 28

29 sesudah terplasmolisis. Dengan adanya warna air antosianin ungu pada bagian
bawah daun Rhoeo discolor mempermudah dalam menghitung sel-selnya. Selain itu,
akan memudahkan dalam membedakan sel yang terplasmolisis maupun yang tidak,
yaitu dengan adanya pemudaran warna antosianin ungu, bahkan keadaan sel dalam
satu bidang pandang menjadi transparan. 3. Karena potensial osmotic yang sama
(yang ditaksir) sudah menyebabkan plasmolisis 50%. Berarti potensial osmotic yang
sebenarnya harus lebih rendah dari itu. M. Lampiran Foto 1. Proses Osmosis Foto 2.
Proses Difusi 29

30 Foto 3. Proses Pemotongan Pisang Foto 4. Sukrosa 0,18 M Foto 5. Sukrosa 0,14 M
30

31 Foto 6. Sukrosa 0,26 M Foto 7. Sukrosa 0,22 M Foto 8. Sukrosa 0,18 M 31

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya pengangkutan air melalui membran sel dapat terjadi secara pasif maupun
secara aktif. Pengangkutan secara pasif terjadi jika mengikuti arah gradien konsentrasi, artinya
dari larutan yang memiliki konsentrasi tinggi menuju larutan yang memilki konsentrasi rendah.
Proses ini terjadi tanpa memerlukan energi hasil metabolisme. Sedangkan pada proses
pengangkutan secara aktif memerlukan energi hasil metabolisme seperti ATP (Adenosin Tri
Phospat) karena prosesnya terjadi melawan arah gradient konsentrasi.
Jika sebatang tanaman air tawar atau darat diletakkan ke dalam air laut sel – selnya
dengan cepat kehilangan turgornya dan tanaman tersebut menjadi layu. Hal ini disebabkan
karena air laut itu hipertonik terhadap sitoplasma. Dengan demikian air berdifusi dari sitoplsama
ke air laut sehingga sel – sel itu mengkerut. Keadaan ini disebut Plasmolisis. ( Kimball, 1994
). Plasmolisis adalah peristiwa lepasnya protoplasma dari dinding sel karena keluarnya sebagian
air dari vakuola. Keadaan volume vakuola tepat untuk menahan protoplasma agar tetap
menempel pada dinding sel, sehingga kehilangan air sedikit saja akan berakibat lepasnya
protoplasma dari dinding sel.
Tekanan osmosis cairan dapat ditentukan dengan cara mencari suatu larutan yang
mempunyai tekanan osmosis sama dengan cairan tersebut. Dalam cara ini kita dapat mengambil
patokan pada terjadinya peristiwa plasmolisis sel. Dalam keadan insipien plasmolisis tekanan
osmosis cairan sel adalah sama dengan tekanan osmosis larutan dalam massa jaringan sel
tersebut direndam. Plasmolisis dapat dilihat dibawah mikroskop sebagai suatu percobaan. (
Lakitan, 2004 ).
Untuk mengetahui lebih mendalam tentang penentuan tekanan osmosis cairan sel dengan
metoda plasmolisis, maka dilakukanlah praktikum ini yang mana bertujuan untuk mengetahui
pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis serta
menghitung tekanan osmosis cairan sel dengan metoda plasmolisis dengan menggunakan
tanaman Rhoe discolor yang jaringan epidermisnya mengandung cairan sel yang berwarna.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang
terplasmolisis?
2. Bagaimanakah cara menghitung tekanan osmosis cairan sel dengan metoda plasmolisis?

C. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah:
1. Mengetahui pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis.
2. Menghitung tekanan osmosis cairan sel dengan metoda plasmolisis.

D. Hipotesis
“Semakin tinggi kosentrasi larutan sukrosa, sel yang mengalami plasmolisis juga semakin besar
jumlahnya.”

BAB II
DASAR TEORI
A. Osmosis
Osmosis pada hakekatnya adalah suatu proses difusi. Secara sederhana dapat dikatakan
bahwa osmosis adalah difusi air melaui selaput yang permeabel secara differensial dari suatu
tempat berkonsentrasi tinggi ke tempat berkonsentrasi rendah. Tekanan yang terjadi karena difusi
molekul air disebut tekanan osmosis. Makin besar terjadinya osmosis maka makin besar pula
tekanan osmosisnya. Menurut Kimball (1983) bahwa proses osmosis akan berhenti jika
kecepatan desakan keluar air seimbang dengan masuknya air yang disebabkan oleh perbedaan
konsentrasi.
Osmosis adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang
lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh
pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran.
(dikutip dari id.wikipedia.org/wiki/osmosis)
Proses osmosis dapat mengakibatkan kerusakan sel. Air akan masuk ke dalam sel jika
konsentrasi larutan dalam sel tinggi sehingga terjadi endosmosis akibatnya sel mengalami
kehancuran karena robeknya membran plasma. Air dalam sel akan keluar jika konsentrasi larutan
di luar sel tinggi dan terjadi eksosmosis yang akan mengakibatkan terlepasnya membran dari
dinding sel.
Osmosis ditentukan oleh potensial kimia air atau potensial air, yang menggambarkan
kemampuan molekul air untuk dapat melakukan difusi. Potensial kimia zat terlarut kurang lebih
sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya. Zat terlarut yang difusi cenderung bergerak dari
daerah yang berpotensi kimia lebih tinggi menuju daerah yang lebih kecil. Potensial air adalah
sesuatu yang sama dengan potensial kimia air dalam suatu sistem, dibandingkan dengan
potensial kimia air murni pada tekanan atmosfer dan suhu yang sama. Potensial air akan negatif
apabila potensial kimia air di dalam sistem lebih rendah daripada air murni dan akan positif
apabila potensial kimia air dalam sistem lebih beasar dari air murni.
Osmosis terjadi dari larutan yang hipertonis menuju larutan yang hipotonis, asal saja
potensial air pada larutan yang hipertonis lebih besar daripada larutan hipotonis. Tekanan yang
diberikan atau yang timbul dalam sistem ini disebut potensial tekanan dan di didalam kehidupan
tumbuhan potensial tekanan dapat timbul dalam bentuk tekanan turgor. Tekanan torgor yaitu
tekanan yang terjadi di dalam sel karena adanya osmosis melewati membran sel. Bila isi sel
menyerap larutan, terjadilah tekanan turgor yang menekan membran plasma ke luar ke arah
dinding sel. Karena dinding sel tumbuhan merupakan massa yang sedikit. Nilai potensial tekanan
dapat bernilai positif, nol, atau negatif. Di dalam proses osmosis, disamping komponen potensial
air dan potensial tekanan, terdapat pula potensial osmotik. Air merupakan bahan yang sangat
penting bagi kehidupan. Air merupakan 85 – 95 % berat tumbuhan herba yang hidup di air.
Dalam sel, air diperlukan sebagai pelarut unsur hara sehingga dapat digunakan untuk
mengangkutnya; selain itu air diperlukan juga untuk berbagai reaksi biokimia misalnya proses
fotosintesis; dan air dapat menyebabkan terbentuknya enzim. Tanaman yang kekurangan air akan
menjadi layu, dan apabila tidak diberikan air secepatnya akan terjadi layu permanen yang dapat
menyebabkan kematian.
Di dalam suatu sel, potensial air memiliki dua komponen, yaitu potensial tekanan dan potensial
osmosis. Potensial tekanan dapat menambah atau mengurangi potensial air, sedangkan potensial
osmosis menujukkan setatus larutan di dalam sel tersebut. Dengan memasukkan suatu jaringan
tersubut ke dalam larutan yang telah di ketahui potensial airnya, maka potensial air jaringan
tersebut dapat diketahui. Hubungan antara nilai potensial air (PA), potensial osmotic (PO), dan
potensial tekanan (PT) dapat dinyatakan hubungan sebagai berikut:

Adanya potensial osmosis cairan sel air murni cenderung untuk memasuki sel, sedangkan
potensial turgor yang berada di dalam sel mengakibatkan air untuk cenderung meninggalkan
sel. Penentuan nilai osmotic cairan sel dapat pula dilakukan dengan metode “Chardakov”.
Penentuan nilai osmotik ini sudah sejak lama dikenal oleh V.S Chardakov yang berasal dari
Rusia. Cara ini relative lebih mudah, akurat, dan mudah diterapkan dilapangan. Perhitungan nilai
potensial osmotic cairan sel dengan metode Chardakov ini didasarkan pada perubahan
konsentrasi larutan akibat adanya penyerapan larutan oleh jaringan yang direndam atau adanya
pengeluaran cairan dari jaringan yang direndam di dalam larutan. Dalam metode Chardakov,
gerakan partikel-partikel zat terlarut dari dalam jaringan/larutan diabaikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi potensial osmotik :
1. Konsentrasi
Meningkatnya konsentrasi suatu larutan akan menurunkan nilai potensial osmotiknya.
2. Ionisasi molekul zat terlarut
Potensial osmotik sutu larutan tidak ditentukan oleh macamnya zat, tetapi ditentukan oleh jumlah
partikel yang terdapat didalam larutan tersebut, yaitu ion, molekul, dan partikel koloida.
3. Hidrasi molekul zat terlarut
Air yang berasosiasi dengan patikel zat terlarut biasanya disebut sebagai air hidrasi. Air
dapat berasosiasi dengan ion, molekul, atau partikel koloida sehingga menyebabkan larutan
menjadi lebih pekat.
4. Suhu
Potensial osmotik suatu larutan akan berkurang nilainya dengan naiknya suhu. Potensial osmotik
suatu larutan yang ideal akan sebanding dengan suhu absolutnya.
5. Imbisisi
Imbibisi adalah peristiwa penyerapan air oleh permukaan zat-zat yang hidrofilik, seperti protein,
pati, selulosa, agar-agar, gelatin, dan zat-zat lainya yang menyebabkan zat-zat tersebut
mengembang setelah menyerap air tadi. Kemampuan zat tersebut untuk menyerap air disebut
potensial matriks atau potensial imbibisan dan prosesnya disebut hidrasi atau imbibisi juga
ditentukan oleh adanya zat terlarut di dalam air. Semakin pekat larutan, semakin lambat imbibisi.
Ion-ion tertentu juga mempengarui kecepatan imbibisi.

B. Plasmolisis
Plasmolisis adalah peristiwa terlepasnya membran plasma dari dinding sel pada sel tumbuhan.
Plasmolisis terjadi jika sel tumbuhan diletakkan di larutan garam terkonsentrasi (hipertonik), sel
tumbuhan akan kehilangan air dan juga tekanan turgor, menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan
dengan sel dalam kondisi seperti ini layu. Kehilangan air lebih banyak akan menyebabkan terjadinya
plasmolisis : tekanan terus berkurang sampai di suatu titik di mana protoplasma sel terkelupas dari
dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membran. Plasmolisis hanya terjadi
pada kondisi ekstrem, dan jarang terjadi di alam. Biasanya terjadi secara sengaja di laboratorium
dengan meletakkan sel pada larutan bersalinitas tinggi atau larutan gula untuk menyebabkan
ekosmosis, seringkali menggunakan tanaman Elodea atau sel epidermal bawang yang memiliki pigmen
warna sehingga proses dapat diamati dengan jelas. Sedangkan peristiwa deplasmolisa adalah kebalikan
dari peristiwa plasmolisa. Hal ini dimungkinkan apabila sel yang telah terplasmolisa direndam kembali
ke dalam air.
Untuk mengetahui nilai potensial osmotic cairan sel salaha satunya dapat digunakna
dengan metode plasmolisis. Metode ini ditempuh dengan cara mennetukan pada konsentrasi
sukrosa berupa jumlah sel yang mengalami plasmolisis 50 %. Jika konsentrasi larutan yang
menyebabkan 50 % sel terplasmolisis diketahui, maka nilai tekanan osmosis sel dapat ditentukan
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Dengan . TO = tekanan osmotic


M = konsenttrasi larutan yang menyebabkan 50 % sel terplasmolisis
T = temperature mutlak ( 273 + toC)

Tekanan sel bernilai positif, sedangkan nilai potensial osmotic


negatif.

Meningkatnya konsentrasi suatu larutan akan menurunkan nilai potensial osmotiknya. Bila
zat terlarut bukan zat terlarut dan molekulnya tidak mengikat air hidrasi, maka potensial osmotik
larutan tersebut pasti akan sebanding dengan konsentrasi molalnya.

BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Rancangan Percobaan
Hasil Pengamatan

 Diisi masing-masing 5 ml larutan sukrosa (0,28 M; 0,26


M; 0,24 M; 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M; 0,16 M dan 0,14 M
 Diberi label masing-masing cawan petri berdasarkan
konsentrasi larutan.

 Mengambil daun Rhoe discolor dan menyayat lapisan


epidermis yang berwarna dengan pisau silet
 Memasukkan sayatan-sayatan epidermis daun Rhoe
discolor pada masing-masing cawan petri yang sudah
berisi larutan sukrosa.
 Setelah 30 menit, sayatan diambil dan diperiksa dibawah
mikroskop

 Menghitung jumlah seluruh sel pada satu lapang padang,


jumlah sel yang terplasmolisis dan prosentase jumlah sel
terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya

B. Alat dan Bahan


Alat:
1. Mikroskop listrik 1 buah
2. Cawan petri 8 buah
3. Kaca benda 1 buah
4. Kaca penutup 1 buah
5. Pisau silet 1 buah
6. Gelas ukur 1 buah
Bahan:
1. Daun Rhoe discolor yang jaringan epidermisnya mengandung cairan sel yang berwarna.
2. Larutan sukrosa dengan molaritas 0,28 M; 0,26 M; 0,24 M; 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M; 0,16 M dan
0,14 M.
3. Alkohol
C. Variabel dan Definisi Operasional
Variabel Kontrol
Variabel kontrol adalah variabel yang sengaja dibuat sama kondisinya. Variabel kontrol pada
praktikum ini adalah jenis tanaman (Rhoe discolor).

Variabel Manipulasi
Variabel manipulasi adalah variabel yang sengaja dibuat tidak sama.Variabel manipulasi pada
praktikum ini adalah larutan sukrosa dengan molaritas yang berbeda-beda (0,28 M; 0,26 M; 0,24
M; 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M; 0,16 M dan 0,14 M)
Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang terjadi akibat perlakuan variabel bebas. Variabel terikat
pada praktikum ini adalah prosentase sel yang terplasmolisis.

D. Langkah Percobaan
Langkah awal adalah menyiapkan menyiapkan larutan sukrosa dengan molaritas yang
berbeda-beda (sudah disediakan laboratorium, tidak membuatnya terlebih dahulu). Kemudian
menyiapkan 8 buah cawan petri dan dibersihkan dengan alkohol, setelah itu mengisinya dengan
5 ml larutan sukrosa yang telah disediakan dan memberi label masing-masing cawan petri
berdasarkan konsentrasi larutan. Setelah itu mengambil daunRhoe discolor dan menyayat lapisan
epidermis yang berwarna dengan pisau silet. Setelah itu memasukkan sayatan-sayatan epidermis
daun tersebut pada cawan petri yang sudah berisi larutan sukrosa dengan konsentrasi tertentu dan
didiamkan selama 30 menit. Setelah 30 menit, sayatan diambil dan diperiksa di bawah
mikroskop. Setelah itu menghitung jumlah seluruh sel pada satu lapang padang, jumlah sel yang
terplasmolisis dan prosentase jumlah sel terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya dan
dimasukkan ke dalam tabel hasil pengamatan.

BAB IV
DATA DAN ANALISIS

A. DATA

Berdasarkan praktikum penentuan tekanan osmosis cairan sel yang telah kami lakukan,
diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 1. Jumlah seluruh sel, jumlah sel yang terplasmolisis dan prosentase jumlah sel yang
terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya.
Cawan Konsentrasi Jumlah Jumlah Sel Prosentase Sel
Petri Sukrosa (M) Seluruh Sel Terplasmolisis Terplasmolisis (%)
1 0,14 177 22 12,43
2 0.16 150 11 7,33
3 0,18 147 33 22,45
4 0,20 192 14 7,29
5 0,22 207 47 22,70
6 0,24 218 25 11,47
7 0,26 201 46 31,45
8 0,28 140 12 8,27

B. ANALISIS DATA
Berdasarkan praktikum penentuan tekanan osmosis cairan sel yang telah kami lakukan
didapatkan data yaitu:
Pada tabel 1. Tentang jumlah seluruh sel, jumlah sel yang terplasmolisis dan prosentase jumlah
sel yang terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya didapatkan hasil sebagai berikut: Pada
cawan petri 1 yang berisi sayatan epidermis daun Rhoea discolor dengan 5 ml konsentrasi
sukrosa 0,14 M, jumlah seluruh selnya 177, jumlah sel terplasmolisisnya 22, dan prosentase sel
terplasmolisisnya 12,43 %. Pada cawan petri 2 yang berisi sayatan epidermis daun Rhoea
discolor dengan 5 ml konsentrasi sukrosa 0,16 M, jumlah seluruh selnya 150, jumlah sel
terplasmolisisnya 11, dan prosentase sel terplasmolisisnya 7,33 %. Pada cawan petri 3 yang
berisi sayatan epidermis daun Rhoea discolor dengan 5 ml konsentrasi sukrosa 0,18 M, jumlah
seluruh selnya 147, jumlah sel terplasmolisisnya 33, dan prosentase sel terplasmolisisnya 22,45
%. Pada cawan petri 4 yang berisi sayatan epidermis daun Rhoea discolor dengan 5 ml
konsentrasi sukrosa 0,20 M, jumlah seluruh selnya 192, jumlah sel terplasmolisisnya 14, dan
prosentase sel terplasmolisisnya 7,29 %. Pada cawan petri 5 yang berisi sayatan epidermis
daun Rhoea discolor dengan 5 ml konsentrasi sukrosa 0,22 M, jumlah seluruh selnya 207,
jumlah sel terplasmolisisnya 47, dan prosentase sel terplasmolisisnya 22,70 %. Pada cawan petri
6 yang berisi sayatan epidermis daun Rhoea discolor dengan 5 ml konsentrasi sukrosa 0,24 M,
jumlah seluruh selnya 218, jumlah sel terplasmolisisnya 25, dan prosentase sel terplasmolisisnya
11,47 %. Pada cawan petri 7 yang berisi sayatan epidermis daun Rhoea discolor dengan 5 ml
konsentrasi sukrosa 0,26 M, jumlah seluruh selnya 201, jumlah sel terplasmolisisnya 46, dan
prosentase sel terplasmolisisnya 31,45 %. Pada cawan petri 8 yang berisi sayatan epidermis
daun Rhoea discolor dengan 5 ml konsentrasi sukrosa 0,28 M, jumlah seluruh selnya 140,
jumlah sel terplasmolisisnya 12, dan prosentase sel terplasmolisisnya 8,27 %.

Grafik hubungan konsentrasi larutan sukrosa dengan prosentase sel yang mengalami
plasmolisis

A. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis?
2. Berapakah konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah sel mengalami
plasmolisis?
3. Bagaimana menghitung tekanan osmosis sel cairan dengan metoda plasmolisis?
B. Tujuan Percobaan
1. Menjelaskan pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis
2. Mengidentifikasi konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah sel
mengalami plasmolisis
3. Menghitung tekanan osmosis sel cairan dengan metoda plasmolisis

C. Hipotesis
1. Semakin besar konsentrasi larutan sukrosa maka semakin banyak pula sel yang terplasmolisis
2. Konsentrasi larutan sukrosa 0, 20 M yang menyebabkan 50% jumlah sel yang terplasmolisis
3. Tekanan osmosis sel cairan dengan menggunakan rumus:
TO= 22,4. M.T
273

D. Kajian Pustaka
Difusi adalah gerakan molekul dari konsentrasi lebih tinggi ke konsentrasi yang lebih
rendah, yaitu penurunan gradien konsentrasi sampai mencapai keseimbangan dan penyebarannya
seimbang. Osmosis adalah gerakan air melintasi membran yanng permeabilitasnya berbeda
disebabkan karena perbedaan konsentrasi (Fida;2007).
Plasmolisis merupakan dampak dari peristiwa osmosis. Jika sel tumbuhan diletakkan
pada larutan hipertonik, sel tumbuhan akan kehilangan air dan tekanan turgor, yang
menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan kondisi sel seperti ini disebut layu.
Kehilangan air lebih banyak lagi menyebabkan terjadinya plasmolisis : tekanan terus berkurang
sampai di suatu titik di mana sitoplasma mengerut dan menjauhi dinding sel. Sehingga dapat
terjadi chytorisis yaitu runtuhnya dinding sel. Sitoplasma biasanya bersifat hipertonis (potensial
air tinggi), dan cairan di luar sel bersifat hipotonis (potensial air rendah), karena itulah air bisa
masuk ke dalam sel sehingga antara kedua cairan bersifat isotonus. Apabila suatu sel diletakkan
dalam suatu larutan yang hipertonus terhadap sitoplasma, maka air di dalam sel akan berdifusi ke
luar sehingga sitoplasma mengkerut dan terlepas dari dinding sel, hal ini disebut plasmolisis.
Bila sel itu kemudian dimasukkan ke dalam cairan yang hipotonus, maka air akan masuk ke
dalam sel dan sitoplasma akan kembali mengembang hal ini disebut deplasmolisis (Tim fisiologi
tumbuhan. 2009).
Membran protoplasma dan sifat permeabel deferensiasinya dapat diketahui dari proses
plasmolisis. Permeabilitas dinding sel terhadap larutan gula diperlihatkan oleh sel-sel yang
terplasmolisis. Apabila ruang bening diantara dinding dengan protoplas diisi udara, maka
dibawah mikroskop akan tampak di tepi gelembung yang berwarna kebiru-biruan. Jika isinya air
murni maka sel tidak akan mengalami plasmolisis. Molekul gula dapat berdifusi melalui benang-
benang protoplasme yang menembus lubang-lubang kecil pada dinding sel. Benang-benang
tersebut dikenal dengan sebutan plasmolema, dimana diameternya lebih besar daripada molekul
tertentu sehingga molekul gula dapat masuk dengan mudah.
Pada dasarnya pengangkutan melalui membran sel dapat terjadi secara pasif maupun
secara aktif. Pengangkutan secara pasif terjadi jika mengikuti arah gradien konsentrasi, artinya
dari larutan yang memiliki konsentrasi tinggi menuju larutan yang memiliki konsentrasi rendah.
Proses ini terjadi tanpa memerlukan energi hasil metabolisme. Sedangkan pada proses
pengangkutan secara aktif memerlukan energi hasil metabolisme seperti ATP (Adenosin Tri
Phospat) karena prosesnya terjadi melawan arah gradien konsentrasi. Proses difusi dan osmosis
merupakan contoh proses pengangkut secara pasif. Proses osmosis merupakan proses difusi yang
sifatnya khusus, yang menunjukan adanya perpndahan air melalui selaput membran yang bersifat
permeabel selektif (permeabel deferensial ). Terjadinya proses osmosis sangat ditentukan oleh
adanya perbedaan potensial kimia air atau potensial air (PA).
Didalam proses osmosis, di samping komponen potensial, komponen lain yang penting
adalah potensial osmotik dan potensial tekanan, yang pada tumbuhan timbul dalam bentuk
tekanan turgor. Hubungan antara nilai potensial air (PA), potensial osmotik(PO), dan potensial
tekanan( PT ) dapat dinyatakan dengan hubungan sebagai berikut :
PA = PO + PT
Unuk mengetahui nilai potensial osmotik cairan sel salah satunya dapat digunakan
dengan metode plasmolisis. Metode ini di tempuh dengan cara menentukan pada konsentrasi
sukrosa berapa jumlah sel yang mengalami plasmolisis 50%. Pada kondisi tersebut dianggap
konsentrasinya sama dengan konsentrasi yang dimiliki oleh cairan sel. Jika konsentrasi larutan
yang menyebabkan 50% sel terplasmolisis diketahui, maka nilai tekanan osmosis sel dapat
ditemukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
TO sel = 22,4.M.T
273
Dengan :
TO= Tekanan osmotik
M= Konsentrasi larutan yang menyebabkan 50% sel terplasmolisis
T=Temperatur mutlak (273+t0C)
Tekanan sel bernilai positif, sedangkan nilai potensial osmotik bernilai negatif.
Sehingga PO = - TO (Tim Fisiologi Tumbuhan, 2016)

E. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi : konsentrasi larutan sukrosa
2. Variabel kontrol : orientasi sayatan daun Rheo discolor , volume larutan, waktu perendaman
3. Variabel respon: sel yang terplasmolisis, TO

F. Definisi Operasional Variabel


1. Variabel manipulasi : konsentrasi larutan sukrosa dengan molaritas 0,28 M, 0,26 M, 0,24 M,
0,22 M, 0,20M, 0,18M, 0,16 M dan 0,14 M.
2. Variabel kontrol : orientasi sayatan membujur pada daun Rhoe discolor, volume larutan 5 ml,
waktu perendaman selama 30 menit.
3. Variabel respon : sel yang terplasmolisis sempurna dan yang terplasmolisis 50%

G. Alat dan Bahan


1. Daun Rhoe discolor atau umbi lapis bawang merah yang jaringan epidermisnya mengandung
cairan sel yang berwarna.
2. Larutan sukrosa dengan molaritas 0,28 M, 0,26 M, 0,24 M, 0,22 M, 0,20 M, 0,18 M,0,16 M, dan
0,14M.
3. Mikroskop
4. Kaca arloji atau cawan petri 8 buah
5. Kaca benda dan kaca penutup
6. Pisau silet
7. Gelas Beaker, 100 ml
8. Pipet

H. Rancangan Percobaan
Sayatan daun Rhoe discolor
0,14M
0,16M
0,18M
0,20M
0,22M
0,24M
0,26M
0,28M

- merendam sayatan daun Rhoe discolor pada larutan sukrosa


Rendaman sayatan + larutan sukrosa (30 menit)

- mengambil sayatan yang telah direndam


- mengamati sayatan dibawah mikroskop
- menghitung sel yang terplasmolisis
- menghitung sel keseluruhan
Hasil
I. Langkah kerja
1. Membuat larutan sukrosa dari konsentrasi yang terbesar yaitu 0,28 M, dengan cara menimbang
sebanyak 95,76 gram kristal sukrosa dan melarutkannya dalam aquades sehingga volumenya
menjadi 1 liter. Sedangkan untuk membuat konsentrasi larutan yang lebih rendah, dapat
digunakan rumus sebgai berikut:
V1M1=V2M2
Dengan : V1=volume awal, M1=konsentrasi awal
V1=volume akhir, M2= konsentrasi akhir
2. Menyiapkan 8 buah kaca arloji, isi masing-masing dengan 5 ml larutan sukrosa yang telah
disediakan dan diberi label pada masing-masing kaca arloji berdasarkan konsentrasi larutan.
3. Menyayat daun Rhoe discolor
4. Merendam sayatan-sayatan epidermis tersebut pada kaca arloji yang sudah berisi larutan sukrosa
dengan konsentrasi tertentu. Setiap konsentrasi diisi dengan jumlah sayatan yang sama. Catat
waktu mulai perendamannya.
5. Setelah 30 menit, sayatan diambil dan diperiksa dengan menggunakan mikroskop
6. Menghitung jumlah seluruh sel pada satu lapang pandang, jumlah sel yang terplasmolisis dan sel
prosentase jumlah sel terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya.

J. Rancangan Tabel Pengamatan


Tabel 1. Prosentase sel yang terplasmolisis pada konsentrasi larutan sukrosa 0,14 M, 0,16 M,
0,18 M, 0,20 M,
0,22 M, 0,24 M, No Konsentrasi  sel  sel % sel yang
0,26 M, 0,28 M larutan (M) seluruhnya terplasmolisis terplasmolisis
1 0,14 M 69 14 14 x 100% = 20,3%
69
2 0,16 M 72 10 10 x 100% = 13,9%
72
3 0,18 M 81 23 23 x 100% = 28,4%
81
4 0,20 M 40 12 12 x 100% = 30%
40
5 0,22 M 120 30 30 x 100% = 25%
120
6 0,24 M 76 18 18 x 100% = 23,7%
76
7 0,26 M 180 95 95 x 100% = 52,7%
180
8 0,28 M 158 84 84x 100% = 53,2%
Berdasarka 158
n data diatas, dapat dibuat grafik sebagai berikut:
Grafik 1. Hubungan konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis

K. Rencana Analisis Data


Berdasarkan data pada tabel, konsentrasi larutan sukrosa yang terendah yaitu pada
konsentaris 0,14 M dengan jumlah sel seluruhnya 69 dan sel yang terplasmolisis 14 serta jumlah
prosentase 50% sel yang terplasmolisis 20,3%. Sedangakan konsentrasi yang paling tinggi yaitu
pada konsentrasi 0,28 M dengan jumlah sel seluruhnya 158 dan sel yang terplasmolisis 84 serta
jumlah prosentase 50% sel yang terplasmolisis 53,2%. Adapun konsentrasi yang mempengaruhi
penurunan pada grafik yaitu pada konsentrasi 0,16 M, 0,22 M, dan 0, 24 M.
Pada konsentrasi 0,16 M menyebabkan penurunan grafik yang semula 20,3 % menjadi
13,9%. Pada konsentrasi 0,22 M yang semula prosentase sel yang terplasmolisis 30% turun
menjadi 25%. Serta pada konsentrasi 0,24 M yang semula 25% turun menjadi 23,7%. Sehingga
dengan data tersebut, jika kosentrasi larutan sukrosa lebih banyak maka cairannya akan semakin
pekat dan konsentrasi air pada sayatan daun Rhoe discolor menjadi rendah sehingga jumlah sel
yang terplasmolisis akan semakin banyak begitu juga sebaliknya.
L. Hasil Analisis Data
Berdasarkan data yang diperoleh, pada konsentrasi larutan sukrosa terhadap jumlah sel
yang terplasmolisis tidak signifikan sehingga menyebabkan grafik menjadi berpola naik turun.
Konsentrasi yang menyebabkan sel terplasmolisis paling tinggi yaitu pada konsentrasi 0,28 M
dengan prosentase 53,2% sedangkan konsentrasi yang paling rendah prosentasi sel yang
terplasmolisis yaitu pada konsentrasi 0,16 M dengan prosentase 13,9%.
Pada pengamatan kami, konsentrasi yang menyebabkan grafik menjadi naik turun yaitu
pada konsentrasi larutan sukrosa 0,16 M, 0,20 M, dan 0,24 M. Hal ini bertentangan dengan
kajian pustaka atau dasar teori yang mengatakan bahwa semakin besar konsentrasi larutan
sukrosa maka semakin banyak sel yang terplasmolisis. Adapun peristiwa plasmolisis terjadi
karena adanya prosesterlepasnya protoplasma dari dinding sel karena sel berada dalam larutan
hipertonik. Plasmolisis dapat memberikan gambaran untuk menentukan besarnya nilai osmosis
sebuah sel. Jika sel tumbuhan ditempatkan dalam larutan yang hipertonik terhadap cairan selnya
, maka air akan keluar dari sel tersebut sehingga plasma akan menyusut. Bila hal ini berlangsung
terus menerus, maka plasma akan terlepas dari dinding sel disebut plasmolisis.
Ketidaksesuaian data tersebut mungkin dikarenakan pada saat waktu perendaman sayatan
daun Rheo discolor yang terlalu lama sehingga sebagian banyak selnya yang semula berwarna
ungu menjadi berwarna putih, perbedaan waktu perendaman mulai konsentrasi yang paling
rendah sampai konsentrasi yang paling tinggi. kurang telitinya pengamat dalam menghitung
jumlah sel yang terplasmolisis dan seluruh sel dalam lapang pandang karena kurang tipisnya saat
menyayat lapisan epidermis daun Rhoe discolor, serta kelebihan/ kekurangan larutan sukrosa
saat perendaman.
Untuk mengetahui nilai potensial osmotik cairan sel salah satunya dapat digunakan
dengan metode plasmolisis. Metode ini di tempuh dengan cara menentukan pada konsentrasi
sukrosa berapa jumlah sel yang mengalami plasmolisis 50%. Pada kondisi tersebut dianggap
konsentrasinya sama dengan konsentrasi yang dimiliki oleh cairan sel. Jika konsentrasi larutan
yang menyebabkan 50% sel terplasmolisis diketahui, maka nilai tekanan osmosis sel dapat
ditemukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
TO sel = 22,4.M.T
273
Maka penyelesaiannya yaitu:
TO= 22,4.M.T
273
= 22,4.0,258.25
273
= 144,48= 0,53 atm
273

M. Kesimpulan
Berdasarkan data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Konsentrasi larutan sukrosa dapat mempengaruhi prosentase sel yang terplasmolisis karena jika
konsentrasi larutan sukrosa semakin tinggi, maka sel yang terplasmolisis akan semakin banyak
dan begitu juga sebaliknya.
2. Berdasarkan grafik, konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah sel
mengalami plasmolisis yaitu pada konsentrasi 0,258 M.
3. Untuk menghitung tekanan osmosis sel cairan dengan menggunakan rumus berikut:
TO= 22,4. M.T
273
Maka penyelesaiannya yaitu:
TO= 22,4.M.T
273
= 22,4.0,258.25
273
= 144,48= 0,53 atm
273

N. Daftar Pustaka
1. Rachmadiarti Fida,dkk.2007.BIOLOGI UMUM.Surabaya: UNESA Unipress
2. Rahayu, Yuni Sri, dkk. 2016. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan: Laboratorium Fisiologi
Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Unesa
3. Tim fisiologi tumbuhan. 2009. Penuntun Praktikum FISIOLOGI TUMBUHAN.Bandung :
Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.
4. https://www.academia.edu/8638815/LAPORAN_KEGIATAN_PRAKTIKUM_PLASMOLISIS
tanggal 25 pukul 09.30
A. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis?
2. Berapakah konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah sel mengalami
plasmolisis?
3. Bagaimana menghitung tekanan osmosis sel cairan dengan metoda plasmolisis?

B. Tujuan Percobaan
1. Menjelaskan pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis
2. Mengidentifikasi konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah sel
mengalami plasmolisis
3. Menghitung tekanan osmosis sel cairan dengan metoda plasmolisis

C. Hipotesis
1. Semakin besar konsentrasi larutan sukrosa maka semakin banyak pula sel yang terplasmolisis
2. Konsentrasi larutan sukrosa 0, 20 M yang menyebabkan 50% jumlah sel yang terplasmolisis
3. Tekanan osmosis sel cairan dengan menggunakan rumus:
TO= 22,4. M.T
273

D. Kajian Pustaka
Difusi adalah gerakan molekul dari konsentrasi lebih tinggi ke konsentrasi yang lebih
rendah, yaitu penurunan gradien konsentrasi sampai mencapai keseimbangan dan penyebarannya
seimbang. Osmosis adalah gerakan air melintasi membran yanng permeabilitasnya berbeda
disebabkan karena perbedaan konsentrasi (Fida;2007).
Plasmolisis merupakan dampak dari peristiwa osmosis. Jika sel tumbuhan diletakkan
pada larutan hipertonik, sel tumbuhan akan kehilangan air dan tekanan turgor, yang
menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan kondisi sel seperti ini disebut layu.
Kehilangan air lebih banyak lagi menyebabkan terjadinya plasmolisis : tekanan terus berkurang
sampai di suatu titik di mana sitoplasma mengerut dan menjauhi dinding sel. Sehingga dapat
terjadi chytorisis yaitu runtuhnya dinding sel. Sitoplasma biasanya bersifat hipertonis (potensial
air tinggi), dan cairan di luar sel bersifat hipotonis (potensial air rendah), karena itulah air bisa
masuk ke dalam sel sehingga antara kedua cairan bersifat isotonus. Apabila suatu sel diletakkan
dalam suatu larutan yang hipertonus terhadap sitoplasma, maka air di dalam sel akan berdifusi ke
luar sehingga sitoplasma mengkerut dan terlepas dari dinding sel, hal ini disebut plasmolisis.
Bila sel itu kemudian dimasukkan ke dalam cairan yang hipotonus, maka air akan masuk ke
dalam sel dan sitoplasma akan kembali mengembang hal ini disebut deplasmolisis (Tim fisiologi
tumbuhan. 2009).
Membran protoplasma dan sifat permeabel deferensiasinya dapat diketahui dari proses
plasmolisis. Permeabilitas dinding sel terhadap larutan gula diperlihatkan oleh sel-sel yang
terplasmolisis. Apabila ruang bening diantara dinding dengan protoplas diisi udara, maka
dibawah mikroskop akan tampak di tepi gelembung yang berwarna kebiru-biruan. Jika isinya air
murni maka sel tidak akan mengalami plasmolisis. Molekul gula dapat berdifusi melalui benang-
benang protoplasme yang menembus lubang-lubang kecil pada dinding sel. Benang-benang
tersebut dikenal dengan sebutan plasmolema, dimana diameternya lebih besar daripada molekul
tertentu sehingga molekul gula dapat masuk dengan mudah.
Pada dasarnya pengangkutan melalui membran sel dapat terjadi secara pasif maupun
secara aktif. Pengangkutan secara pasif terjadi jika mengikuti arah gradien konsentrasi, artinya
dari larutan yang memiliki konsentrasi tinggi menuju larutan yang memiliki konsentrasi rendah.
Proses ini terjadi tanpa memerlukan energi hasil metabolisme. Sedangkan pada proses
pengangkutan secara aktif memerlukan energi hasil metabolisme seperti ATP (Adenosin Tri
Phospat) karena prosesnya terjadi melawan arah gradien konsentrasi. Proses difusi dan osmosis
merupakan contoh proses pengangkut secara pasif. Proses osmosis merupakan proses difusi yang
sifatnya khusus, yang menunjukan adanya perpndahan air melalui selaput membran yang bersifat
permeabel selektif (permeabel deferensial ). Terjadinya proses osmosis sangat ditentukan oleh
adanya perbedaan potensial kimia air atau potensial air (PA).
Didalam proses osmosis, di samping komponen potensial, komponen lain yang penting
adalah potensial osmotik dan potensial tekanan, yang pada tumbuhan timbul dalam bentuk
tekanan turgor. Hubungan antara nilai potensial air (PA), potensial osmotik(PO), dan potensial
tekanan( PT ) dapat dinyatakan dengan hubungan sebagai berikut :
PA = PO + PT
Unuk mengetahui nilai potensial osmotik cairan sel salah satunya dapat digunakan
dengan metode plasmolisis. Metode ini di tempuh dengan cara menentukan pada konsentrasi
sukrosa berapa jumlah sel yang mengalami plasmolisis 50%. Pada kondisi tersebut dianggap
konsentrasinya sama dengan konsentrasi yang dimiliki oleh cairan sel. Jika konsentrasi larutan
yang menyebabkan 50% sel terplasmolisis diketahui, maka nilai tekanan osmosis sel dapat
ditemukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
TO sel = 22,4.M.T
273
Dengan :
TO= Tekanan osmotik
M= Konsentrasi larutan yang menyebabkan 50% sel terplasmolisis
T=Temperatur mutlak (273+t0C)
Tekanan sel bernilai positif, sedangkan nilai potensial osmotik bernilai negatif.
Sehingga PO = - TO (Tim Fisiologi Tumbuhan, 2016)

E. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi : konsentrasi larutan sukrosa
2. Variabel kontrol : orientasi sayatan daun Rheo discolor , volume larutan, waktu perendaman
3. Variabel respon: sel yang terplasmolisis, TO

F. Definisi Operasional Variabel


1. Variabel manipulasi : konsentrasi larutan sukrosa dengan molaritas 0,28 M, 0,26 M, 0,24 M,
0,22 M, 0,20M, 0,18M, 0,16 M dan 0,14 M.
2. Variabel kontrol : orientasi sayatan membujur pada daun Rhoe discolor, volume larutan 5 ml,
waktu perendaman selama 30 menit.
3. Variabel respon : sel yang terplasmolisis sempurna dan yang terplasmolisis 50%
G. Alat dan Bahan
1. Daun Rhoe discolor atau umbi lapis bawang merah yang jaringan epidermisnya mengandung
cairan sel yang berwarna.
2. Larutan sukrosa dengan molaritas 0,28 M, 0,26 M, 0,24 M, 0,22 M, 0,20 M, 0,18 M,0,16 M, dan
0,14M.
3. Mikroskop
4. Kaca arloji atau cawan petri 8 buah
5. Kaca benda dan kaca penutup
6. Pisau silet
7. Gelas Beaker, 100 ml
8. Pipet

H. Rancangan Percobaan
Sayatan daun Rhoe discolor
0,14M
0,16M
0,18M
0,20M
0,22M
0,24M
0,26M
0,28M

- merendam sayatan daun Rhoe discolor pada larutan sukrosa


Rendaman sayatan + larutan sukrosa (30 menit)
- mengambil sayatan yang telah direndam
- mengamati sayatan dibawah mikroskop
- menghitung sel yang terplasmolisis
- menghitung sel keseluruhan
Hasil

I. Langkah kerja
1. Membuat larutan sukrosa dari konsentrasi yang terbesar yaitu 0,28 M, dengan cara menimbang
sebanyak 95,76 gram kristal sukrosa dan melarutkannya dalam aquades sehingga volumenya
menjadi 1 liter. Sedangkan untuk membuat konsentrasi larutan yang lebih rendah, dapat
digunakan rumus sebgai berikut:
V1M1=V2M2
Dengan : V1=volume awal, M1=konsentrasi awal
V1=volume akhir, M2= konsentrasi akhir
2. Menyiapkan 8 buah kaca arloji, isi masing-masing dengan 5 ml larutan sukrosa yang telah
disediakan dan diberi label pada masing-masing kaca arloji berdasarkan konsentrasi larutan.
3. Menyayat daun Rhoe discolor
4. Merendam sayatan-sayatan epidermis tersebut pada kaca arloji yang sudah berisi larutan sukrosa
dengan konsentrasi tertentu. Setiap konsentrasi diisi dengan jumlah sayatan yang sama. Catat
waktu mulai perendamannya.
5. Setelah 30 menit, sayatan diambil dan diperiksa dengan menggunakan mikroskop
6. Menghitung jumlah seluruh sel pada satu lapang pandang, jumlah sel yang terplasmolisis dan sel
prosentase jumlah sel terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya.

J. Rancangan Tabel Pengamatan


Tabel 1. Prosentase sel yang terplasmolisis pada konsentrasi larutan sukrosa 0,14 M, 0,16 M,
0,18 M, 0,20 M,
0,22 M, 0,24 M, No Konsentrasi  sel  sel % sel yang
0,26 M, 0,28 M larutan (M) seluruhnya terplasmolisis terplasmolisis
1 0,14 M 69 14 14 x 100% = 20,3%
69
2 0,16 M 72 10 10 x 100% = 13,9%
72
3 0,18 M 81 23 23 x 100% = 28,4%
81
4 0,20 M 40 12 12 x 100% = 30%
40
5 0,22 M 120 30 30 x 100% = 25%
120
6 0,24 M 76 18 18 x 100% = 23,7%
76
7 0,26 M 180 95 95 x 100% = 52,7%
180
8 0,28 M 158 84 84x 100% = 53,2%
158

Berdasarkan data diatas, dapat dibuat grafik sebagai berikut:


Grafik 1. Hubungan konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis

K. Rencana Analisis Data


Berdasarkan data pada tabel, konsentrasi larutan sukrosa yang terendah yaitu pada
konsentaris 0,14 M dengan jumlah sel seluruhnya 69 dan sel yang terplasmolisis 14 serta jumlah
prosentase 50% sel yang terplasmolisis 20,3%. Sedangakan konsentrasi yang paling tinggi yaitu
pada konsentrasi 0,28 M dengan jumlah sel seluruhnya 158 dan sel yang terplasmolisis 84 serta
jumlah prosentase 50% sel yang terplasmolisis 53,2%. Adapun konsentrasi yang mempengaruhi
penurunan pada grafik yaitu pada konsentrasi 0,16 M, 0,22 M, dan 0, 24 M.
Pada konsentrasi 0,16 M menyebabkan penurunan grafik yang semula 20,3 % menjadi
13,9%. Pada konsentrasi 0,22 M yang semula prosentase sel yang terplasmolisis 30% turun
menjadi 25%. Serta pada konsentrasi 0,24 M yang semula 25% turun menjadi 23,7%. Sehingga
dengan data tersebut, jika kosentrasi larutan sukrosa lebih banyak maka cairannya akan semakin
pekat dan konsentrasi air pada sayatan daun Rhoe discolor menjadi rendah sehingga jumlah sel
yang terplasmolisis akan semakin banyak begitu juga sebaliknya.
L. Hasil Analisis Data
Berdasarkan data yang diperoleh, pada konsentrasi larutan sukrosa terhadap jumlah sel
yang terplasmolisis tidak signifikan sehingga menyebabkan grafik menjadi berpola naik turun.
Konsentrasi yang menyebabkan sel terplasmolisis paling tinggi yaitu pada konsentrasi 0,28 M
dengan prosentase 53,2% sedangkan konsentrasi yang paling rendah prosentasi sel yang
terplasmolisis yaitu pada konsentrasi 0,16 M dengan prosentase 13,9%.
Pada pengamatan kami, konsentrasi yang menyebabkan grafik menjadi naik turun yaitu
pada konsentrasi larutan sukrosa 0,16 M, 0,20 M, dan 0,24 M. Hal ini bertentangan dengan
kajian pustaka atau dasar teori yang mengatakan bahwa semakin besar konsentrasi larutan
sukrosa maka semakin banyak sel yang terplasmolisis. Adapun peristiwa plasmolisis terjadi
karena adanya prosesterlepasnya protoplasma dari dinding sel karena sel berada dalam larutan
hipertonik. Plasmolisis dapat memberikan gambaran untuk menentukan besarnya nilai osmosis
sebuah sel. Jika sel tumbuhan ditempatkan dalam larutan yang hipertonik terhadap cairan selnya
, maka air akan keluar dari sel tersebut sehingga plasma akan menyusut. Bila hal ini berlangsung
terus menerus, maka plasma akan terlepas dari dinding sel disebut plasmolisis.
Ketidaksesuaian data tersebut mungkin dikarenakan pada saat waktu perendaman sayatan
daun Rheo discolor yang terlalu lama sehingga sebagian banyak selnya yang semula berwarna
ungu menjadi berwarna putih, perbedaan waktu perendaman mulai konsentrasi yang paling
rendah sampai konsentrasi yang paling tinggi. kurang telitinya pengamat dalam menghitung
jumlah sel yang terplasmolisis dan seluruh sel dalam lapang pandang karena kurang tipisnya saat
menyayat lapisan epidermis daun Rhoe discolor, serta kelebihan/ kekurangan larutan sukrosa
saat perendaman.
Untuk mengetahui nilai potensial osmotik cairan sel salah satunya dapat digunakan
dengan metode plasmolisis. Metode ini di tempuh dengan cara menentukan pada konsentrasi
sukrosa berapa jumlah sel yang mengalami plasmolisis 50%. Pada kondisi tersebut dianggap
konsentrasinya sama dengan konsentrasi yang dimiliki oleh cairan sel. Jika konsentrasi larutan
yang menyebabkan 50% sel terplasmolisis diketahui, maka nilai tekanan osmosis sel dapat
ditemukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
TO sel = 22,4.M.T
273
Maka penyelesaiannya yaitu:
TO= 22,4.M.T
273
= 22,4.0,258.25
273
= 144,48= 0,53 atm
273

M. Kesimpulan
Berdasarkan data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Konsentrasi larutan sukrosa dapat mempengaruhi prosentase sel yang terplasmolisis karena jika
konsentrasi larutan sukrosa semakin tinggi, maka sel yang terplasmolisis akan semakin banyak
dan begitu juga sebaliknya.
2. Berdasarkan grafik, konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah sel
mengalami plasmolisis yaitu pada konsentrasi 0,258 M.
3. Untuk menghitung tekanan osmosis sel cairan dengan menggunakan rumus berikut:
TO= 22,4. M.T
273
Maka penyelesaiannya yaitu:
TO= 22,4.M.T
273
= 22,4.0,258.25
273
= 144,48= 0,53 atm
273
N. Daftar Pustaka
1. Rachmadiarti Fida,dkk.2007.BIOLOGI UMUM.Surabaya: UNESA Unipress
2. Rahayu, Yuni Sri, dkk. 2016. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan: Laboratorium Fisiologi
Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Unesa
3. Tim fisiologi tumbuhan. 2009. Penuntun Praktikum FISIOLOGI TUMBUHAN.Bandung :
Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.
4. https://www.academia.edu/8638815/LAPORAN_KEGIATAN_PRAKTIKUM_PLASMOLISIS
tanggal 25 pukul 09.30
POTENSIAL OSMOTIK PADA JARINGAN TUMBUHAN
I. JUDUL PRAKTIKUM

POTENSIAL OSMOTIK PADA JARINGAN TUMBUHAN

II. LANDASAN TEORI

Sel tumbuhan memiliki ciri fisiologi yang berbeda dengan sel hewan khususnya dengan
keberadaan dinding sel pada sel tumbuhan. Dinding sel secara umum dibedakan menjadi dinding
sel primer dan dinding sel sekunder. Perbedaan antara kedua macam dinding ini terletak pada
fleksibilitas, ketebalan, susunan mikrofibril dan pertumbuhannya (Istanti, 1999). Seluruh
aktivitas sel tumbuhan sangat tergantung dengan keberadaan dinding sel ini. Dinding sel selain
berfungsi untuk proteksi isi sel juga berperan sebagai jalan keluar masuknya air, makanan dan
garam-garam mineral ke dalam sel. Sel tumbuhan merupakan bagian terkecil dari sistem hidup
dan di dalam sistem ini sel-sel saling bergantung. Perilaku sel tidak hanya dipengaruhi oleh
keadaan sel itu sendiri tetapi juga sel-sel di sekitarnya dan tumbuhan itu sendiri serta lingkungan
luar. Berbagai macam zat seperti makanan, zat mineral, air dan gas bergerak dari sel ke sel dalam
bentuk molekul atau partikel
Lingkungan suatu sel meliputi sel-sel di sekitarnya dan lingkungan luar yang meliputi air,
tanah dan udara tempat tumbuh dan hidup tumbuhan tersebut. Sel-sel yang bersinggungan
langsung dengan lingkungan luar antara lain sel-sel yang ada di akar, batang dan daun yang
kemudian meluas ke suluruh tubuh tumbuhan melalui ruang-ruang dalam sel (Tjitrosomo, 1983:
1). Molekul atau partikel air, gas dan mineral masuk ke dalam sel tumbuhan melalui proses
difusi dan osmosis. Melalui proses-proses tersebut tumbuhan dapat memperoleh zat-zat yang
diperlukan untuk pertumbuhannya. Proses difusi berlangsung dari daerah yang memilki
konsentrasi partikel tinggi ke daerah yang konsentrasi partikelnya rendah. Difusi memiliki
peranan penting dalam sel-sel tumbuhan yang hidup.
Sel tumbuhan dapat mengalami kehilangan air, apabila potensial air di luar sel lebih
rendah daripada potensial air di dalam sel. Jika sel kehilangan air cukup besar, maka ada
kemungkinan volume isi sel akan menurun besar sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan
yang dibentuk oleh dinding sel. Artinya, membran dan sitoplasma akan terlepas dari dinding sel,
peristiwa ini disebut plasmolisis. Sel yang sudah terplasmolisis dapat disehatkan kembali dengan
memasukkannya ke dalam air murni (Tjotrosomo, 1983: 11). Potensial air daun mempengaruhi
transpirasi terutama melalui pengaruhnya terhadap membukanya stomata, tetapi juga
mempengaruhi kadar uap air dalam ruang udara daun. Pengurangan potensial air sedikit tidak
akan mempengaruhi transpirasi secara nyata, terutama apabila kadar uap air udara
tinggi.(Goldworty, 1992). Potensial osmosis menunjukkan status suatu larutan dan
menggambarkan perbandingan proporsi zat terlarut dengan pelarutnya. Makin pekat suatu
larutan akan makin rendah potensial osmosisnya. Potensial osmosis dari suatu sel dapat diukur
dengan berbagai metoda. Metoda yang digunakan adalah dengan menggunakan suatu seri larutan
yang konsentrasi dan PO nya diketahui, misalnya dengan larutan sukrosa. Metoda ini didasarkan
pada adanya peristiwa plasmolisis, yaitu dengan menentukan suatu larutan yang hanya
menyebabkan terjadinya kondisi ³incipient plasmolisis
III. TUJUAN PRAKTIKUM
 Mengukur potensial osmotik dengan cara plasmolisis pada seldaun Rhoeo discolor

IV. ALAT dan BAHAN


Alat:
a. Tabung reaksi 6buah
b. Mikroskop 1buah
c. Kaca objek dan kaca penutup 1buah
d. Silet 1buah
e. Pipet tetes 1buah
Bahan :
a. Daun Rhoeodiscolor 1lembar
b. Larutan sukrosa 0,24 M; 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M; 0,16 M; dan 0,14 M

V. Cara kerja
a. Sediakan 6 buah tabung reaksi yang bersih dan kering, kemudian isi masing-masing tabung
dengan larutan sukrosa 0,24 M; 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M; 0,16 M; dan 0,14 M
b. Buatlah 18 sayatan epidermis bagian bawah daun Rhoeodiscolor masing-masing mengandung
sekitar 25 sel
c. Masukkan sayatan epidermis tadi ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan sukrosa, masing-
masing 3 buah sayatan untuk setiap tabung reaksi
d. Biarkan selama 30 menit.
e. Letakkan ketiga sayatan di atas kaca objek yang ditambah satu tetes larutan sukrosa yang
digunakan untuk merendam sayatan tersebut.
f. Buatlah tabel persentase sel yang berplasmolisis untuk setiap konsentrasi larutan.
Ket: P = sel berplasmolisis; JS : jumlah sel yang diamati; %P = persentase sel yang
berplasmolisis.

g. Perhatikan pada konsentrasi larutan mana sebagian sel epidermis (50%) pada setiap sayatan
mengalami plasmolisis. Keadaan tersebut dinamakan dengan “Incipient Plasmolysis”. Pada
kondisi inilah nilai dari potensial osmotik jaringan tumbuhan yang diamati.
h. Tentukan potensial osmotik dari larutan sukrosa yang digunakan berdasarkan data berikut :

Larutan Potensial Osmotik (atm)


0,24 M -6,4
0,22 M -5,9
0,20 M -5,3
0,18 M -4,7
0,16 M -4,5
0,14 M -3,7
VI. HASIL
Tabel Pengamatan sel epidermis bawah daun Rhoeo discolor yang berplasmolisis
Larutan Sayatan 1 Sayatan 2 Sayatan 3
P JS %P P JS %P P JS %P
0,24 M 14 20 10% 13 20 65% 12 20 60%
0,22 M 12 20 60% 5 20 25% 9 20 45%
0,20 M 10 20 50% 10 20 50% 10 20 50%
0,18 M 8 20 40% 6 20 30% 6 20 30%
0,16 M 6 20 30% 7 20 35% 4 20 20%
0,14 M 3 20 15% 5 20 25% 3 20 15%

Ket: P = sel berplasmolisis; JS : jumlah sel yang diamati; %P = persentase sel yang
berplasmolisis.
VII. PEMBAHASAN
Sel epidermis bawah daun Rhoeo discolor dimasukkn ke dalam larutan seri sukrosa 0,14 ;
0,16; 0,18; 0,20; 0,22; 0,24 M. Hal ini untuk mengetahui berapa potensial osmosis daun tersebut
pada keadaan Incipient Plasmolis.Potensial osmosis merupakan kemampuan sel untuk mampu
melakukan peristiwa osmosis. Dapat dikatakan juga bahwa potensial osmosis mampu
menggambarkan tentang perbandingan pelarut dan zat terlarutnya. Semakin besar potensial air
tersebut, maka peristiwa osmosis akan mudah terjadi. Cairan sukrosa memiliki potensial osmosis
yang lebih rendah dibandingkan dengan air murni. Sedangkan, Incipient Plasmolisis adalah
suatu keadaan dimana setengah sel dari jumlah seluruh sel yang dimasukkan ke dalam larutan
sukrosa menunjukkan tanda-tanda plasmolisis. Keadaan volume vakuola dapat untuk menahan
protoplasma agar tetap menempel pada dinding sel sehingga kehilangan sedikit air saja akan
berakibat lepasnya protoplasma dari dinding sel. Peristiwa plasmolisis seperti ini disebut
plasmolisis insipien. Plasmolisis insipien terjadi pada jaringan yang separuh jumlahnya selnya
mengalami plasmolisis. Hal ini terjadi karena tekanan di dalam sel = 0. potensial osmotik larutan
penyebab plasmolisis insipien setara dengan potensial osmotik di dalam sel setelah
keseimbangan dengan larutan tercapai (Salisbury and Ross, 1992).
Berdasarkan hasil praktikum yang telah kami lakukan terlihat pada mikroskop, pada
sayatan pertama sel daun Rhoeo discolor yang dimasukan kedalam larutan sukrosa 0,14 M
terdapat 3 sel berplasmolosis dan 15 sel tidak berplasmolisis, sedangkan sel
daun Rhoeo discolor yang dimasukan kedalam larutan sukrosa 0.16 M sel yang mengalami
plasmolisis adalah 6 dan yang tidak mengalami plasmolosis ada 13 sel. Hal ini menyatakan
bahwa keadaan dimana setengah sel dari jumlah seluruh sel yang dimasukkan ke dalam larutan
sukrosa menunjukkan tanda-tanda plasmolisis. Peristiwa ini terkenal dengan istilah
Osmosis. Osmosis merupakan peristiwa perpindahan air dari daerah yang konsentrasi airnya
tinggi ke daerah yang konsentrasi airnya rendah melalui membran semipermeabel. Membran
semipermeabel yaitu membran yang hanya mengizinkan lalunya air dan menghambat lalunya zat
terlarut. Osmosis sangat ditentukan oleh potensial kimia air atau potensial air yang
menggambarkan kemampuan molekul air untuk melakukan difusi.Osmosis pada hakekatnya
adalah suatu proses difusi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa osmosis adalah difusi air
melaui selaput yang permeabel secara differensial dari suatu tempat berkonsentrasi tinggi ke
tempat berkonsentrasi rendah. Tekanan yang terjadi karena difusi molekul air disebut tekanan
osmosis. Makin besar terjadinya osmosis maka makin besar pula tekanan osmosisnya. Menurut
Kimball (1983) bahwa proses osmosis akan berhenti jika kecepatan desakan keluar air seimbang
dengan masuknya air yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi.
Menurut Tjitrosomo (1987), jika sel dimasukan ke dalam larutan gula, maka arah gerak
air neto ditentukan oleh perbedaan nilai potensial air larutan dengan nilainya didalam sel. Jika
potensial larutan lebih tinggi, air akan bergerak dari luar ke dalam sel, bila potensial larutan lebih
rendah maka yang terjadi sebaliknya, artinya sel akan kehilangan air. Apabila kehilangan air itu
cukup besar, maka ada kemungkinan bahwa volum sel akan menurun demikian besarnya
sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Membran dan
sitoplasma akan terlepas dari dinding sel, keadaan ini dinamakan plasmolisis. Sel daun Rhoeo
discolor yang dimasukan ke dalam larutan sukrosa mengalami plasmolisis. Semakin tinggi
konsentrasi larutan maka semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis.
Membran protoplasma dan sifat permeabel deferensiasinya dapat diketahui dari proses
plasmolisis. Permeabilitas dinding sel terhadap larutan gula diperlihatkan oleh sel-sel yang
terplasmolisis. Apabila ruang bening diantara dinding dengan protoplas diisi udara, maka
dibawah mikroskop akan tampak di tepi gelembung yang berwarna kebiru-biruan. Jika isinya air
murni maka sel tidak akan mengalami plasmolisis. Molekul gula dapat berdifusi melalui benang-
benang protoplasme yang menembus lubang-lubang kecil pada dinding sel. Benang-benang
tersebut dikenal dengan sebutan plasmolema, dimana diameternya lebih besar daripada molekul
tertentu sehingga molekul gula dapat masuk dengan mudah (Salisbury, 1995).
Komponen potensial air pada tumbuhan terdiri atas potennsial osmosis (solut) dan
potensial turgor (tekanan). Dengan adanya potensial osmosis cairan sel, air murni cenderung
memasuki sel. Sebaliknya potensial turgor di dalam sel mengakibatkan air meninggalkan sel.
Pengaturan potensial osmosis dapat dilakukan jika potensial turgornya sama dengan nol yang
terjadi saat sel mengalami plasmolisis. Nilai potensial osmotik dalam tumbuhan dipengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain : tekanan, suhu, adanya partikel-partikel bahan terlarut yang larut di
dalamnya, matrik sel, larutan dalam vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Nilai potensial
osmotik akan meningkat jika tekanan yang diberikan juga semakin besar. Suhu berpengaruh
terhadap potensial osmotik yaitu semakin tinggi suhunya maka nilai potensial osmotiknya
semakin turun (semakin negatif) dan konsentrasi partikel-partikel terlarut semakin tinggi maka
nilai potensial osmotiknya semakin rendah (Meyer and Anderson, 1952).
Larutan yang di dalamnya terdapat sekumpulan sel dimana 50% berplasmolisis dan
50% tidak berplasmolisis disebut plasmolisis insipien.Plasmolisis ini terjadi apabila sel berada
dalam keadaan tanpa tekanan. Nilai potensial osmosis sel dapat diketahui dengan menghitung
nilai potensial osmosis larutan sukrosa yang isotonik terhadap cairan sel. Berdasarkan hasil
praktikum, plasmolisis insipien terjadi pada konsentrasi 0,20 M dengan potensial osmosis -5,3
atm. Menurut Salisbury dan Ross (1992), potensial air murni pada tekanan atmosfer dan suhu
yang sama dengan larutan tersebut sama dengan nol, maka potensial air suatu larutan air pada
tekanan atmosfer bernilai negatif.
Keadaan volume vakuola dapat untuk menahan protoplsma agar tetap menempel pada
dinding sel sehingga kehilangan sedikit air saja akan berakibat lepasnya protoplasma dari
dinding sel. Peristiwa plasmolisis seperti ini disebut plasmolisis insipien. Plasmolisis insipien
terjadi pada jaringan yang separuh jumlahnya selnya mengalami plasmolisis. Hal ini terjadi
karena tekanan di dalam sel = 0. potensial osmotik larutan penyebab plasmolisis insipien setara
dengan potensial osmotik di dalam sel setelah keseimbangan dengan larutan tercapai (Salisbury
and Ross, 1992).
Adanya potensial osmosis cairan sel air murni cenderung untuk memasuki sel,
sedangkan potensial turgor yang berada di dalam sel mengakibatkan air untuk cenderung
meninggalkan sel. Saat pengaturan potensial osmosis maka potensial turgor harus sama dengan
0. Agar potensial turgor sama dengan 0 maka haruslah terjadi plasmolisis. Plasmolisis adalah
suatu proses lepasnya protoplasma dari dinding sel yang diakibatkan keluarnya sebagian air dari
vakuola (Salisbury and Ross, 1992). Menurut Winduwati (2000), karakteristik permeasi air pada
membran osmosis balik telah dipelajari dengan menggunakan membran komposit modul modul
sopitral wound dan larutan klorida dalam air dalam larutan umpan.
VIII. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum adalah potensial air pada
suatu larutan berpengaruh terhadap perpindahan cairan dalam jaringantumbuhan. Insipient
plasmolisis adalah suatu keadaan dimana setengah sel dari seluruh jumlah sel menunjukkan
tanda-tanda plasmolisis, Sel tumbuhan yang dimasukan dalam larutan sukrosa akan mengalami
plasmolisis, dan semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin banyak sel yang mengalami
plasmolisis.

IX. DAFTAR PUSTAKA


Goldworthy, R. dan N.M. Fisher, 1992. Fisiologi Tanaman Budidya Tropik. Universitas Gadjah
Mada Press. Yogyakarta
http://sukseskimia-sukseskimia.blogspot.com/2010/04/laporan-biokimia protein.html
Wilkins, M. B. 1992. Fisiologi Tanaman. Bumi Angkasa, Jakarta.

http://ilmukimia.webs.com/apps/blog/show/3316253

BAB V
PEMBAHASAN
Dari data dan analisis diatas diperoleh bahwa dengan meletakkan sayatan lapisan
epidermis Rhoe discolor yang berwarna ungu pada larutan sukrosa yang konsentrasinya kecil
(0,14 M) maka jumlah atau prosentase sel yang mengalami plasmolisis sedikit, sedangkan
sayatan lapisan epidermis Rhoe discolor yang berwarna pada larutan sukrosa yang
konsentrasinya paling tinggi (0,28) maka jumlah atau prosentase sel yang mengalami plasmolisis
justru semakin sedikit. Ini terjadi sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan teori, bahwa
semakin besar nilai konsentrasi suatu larutan , maka semakin banyak jumlah sel yang
terplasmolisis. Namun berbeda degan data yang diperoleh .
Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena sayatan epidermis yang terlalu tipis
sehingga banyak sel yang rusak sebelum diberi perlakuan dan pada saat dilakukan penghitungan
pada satu lapang itu keseluruhan sel yang terplasmolisis dan sel yang telah rusak dari awal
terhitung yang menyebabkan tidak sesuai dengan teori .
BAB VI
PENUTUP

Berdasarkan praktikum yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh
konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis. Pengaruhnya
yakni semakin tinggi kosentrasi larutan sukrosa, sel yang mengalami plasmolisis juga semakin
besar jumlahnya. Konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% sel mengalami
plasmolisis adalah 0,26 M. Untuk menghitung tekanan osmosis cairan sel dengan metoda
plasmolisis yakni dengan cara menentukan pada konsentrasi sukrosa berupa jumlah sel yang
mengalami plasmolisis 50 %. Jika konsentrasi larutan yang menyebabkan 50 % sel terplasmolisis
diketahui, maka nilai tekanan osmosis sel dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:

Dan hasil Tekanan osmosis (TO) sel praktikum kami adalah 6,442 atm.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Osmosis. http://id.wikipedia.org/wiki/Osmosis. Diakses pada tanggal 1 Juni 2014.
Rachmadiarti, Fida, dkk. 2007. Biologi Umum. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya Press.
Rahayu, Yuni Sri, dkk. 2014. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Surabaya: Laboratorium
Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Unesa.
Sasmitahardja, Dradjat, dkk. 1997. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : Depdikbud.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015
ABSTRAK

PraktikumPenentuan Tekanan Osmosis Cairan Selbertujuan untukmengetahui pengaruh


konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis dan menghitung tekanan
osmosis cairan sel dengan metoda merendam sayatan epidermis Rhoe discolor ke dalam larutan
sukrosa dengan berbagai macam konsentrasi selama 30 menit, kemudian diambil dan diamati di
bawah mikroskop. Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan diperoleh hasil daun Rhoe
discolor yang dimasukkan pada larutan sukrosa 0,14 M, 0,18 M, 0,24 M,dan 0, 26 M, dan sel
yang terplasmolisis berturut-turut sebesar 55%, 91%, 88%, dan94%. Sedangkan daun Rhoe
discolor yang dimasukkanpada larutan sukrosa 0,16 M, 0,22 M, 0,20 M, dan 0,28 M
sel mengalami plasmolisis sebesar 100%, artinya sel terplasmolisis seluruhnya. Presentase dapat
diperoleh dengan jumlah sel terplasmolisis dibagi dengan jumlah sel seluruhnya dikali 100%
sehingga didapatkan prosentase dari sel tersebut. Berdasarkan teori,semakin tinggi konsentrasi
larutan sukrosa yang digunakan untuk merendam sayatan epidermis Rhoe discolor maka semakin
banyak pula sel epidermis yang terplasmolisis.Namun, pada praktikum ini tidak sesuai teori. Hal
ini terjadi karena praktikan dalam meletakkan daun Rhoe discolor pada kaca benda tidak
mengurutkan konsentrasi serta tidak bersamaan mengambilnya pada cawan petri sehingga ada
beberapa daun yang direndam lebih dari 30 menit.

Kata kunci :plasmolisis, Rhoe discolor

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dinding sel merupakan bagian terluar sel tumbuhan. Adanya dinding membedakan sel
tumbuhan dari sel hewan. Dinding sel telah banyak diteliti karena kepentingannya dari segi
biologi maupun komorsial. Informasi itu ditunjang oleh penelitian dari segi kimia, biokimia,
fisika, dan morfologi. Dinding sel dibentuk oleh diktiosom, dinding sel ini bersifat kaku dan
tersusun atas polisakarida. Polisakarida ini tersusun atas selulosa, hemiselulosa, dan pektin.
Dinding sel bersama-sama dengan vakuola berperan dalam turgiditas sel atau kekakuan sel.
Osmosis adalah pergerakan air dari larutan hipotonik kelarutan hipertonik melalui membran atau
pergerakan air dari larutan yang konsentrasinya rendah ke larutan yang konsentrasinya tinggi
melalui membran.Plasmolisis adalah peristiwa mengkerutnya sitoplasma dan lepasnya membran
plasma dari dinding sel tumbuhan. Plasmolisis merupakan dampak dari peristiwa osmosis.
Kehilangan air lebih banyak akan menyebabkan terjadinya plasmolisis, tekanan terus berkurang
sampai di suatu titik di mana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya
jarak antara dinding sel dan membran. Akhirnya cytorrhysis (runtuhnya seluruh dinding sel)
dapat terjadi.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis
2. Bagaimana cara menghitung tekanan osmosis cairan sel dengan metode plasmolisis

C. Tujuan
1. Mengetahui pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis.
2. Menghitung tekanan osmosis cairan sel dengan metoda plasmolisis.
BAB II
KAJIAN TEORI
Dalam tanah dan tubuh tumbuhan tingkah laku dan pergerakan air didasarkan atas suatu
hubungan energi potensial. Air mempunyai kapasitas untuk melakukan kerja, yaitu akan
bergerak dari daerah dengan energi potensial tinggi ke daerah dengan energi potensial rendah.
Energi potensial dalam sistem cairan dinyatakan dengan cara membandingkannya dengan energi
potensial air murni. Secara kimia, air dalam tumbuhan dan tanah biasanya tidak murni itu
disebabkan oleh adanya bahan terlarut dan secara fisik dibatasi oleh berbagai gaya, seperti gaya
tarik-menarik yang berlawanan, gravitasi, dan tekanan. Maka dari itu energi potensialnya lebih
kecil dari pada energi potensial air murni.
Potensial air merupakan energi yang dimiliki air untuk bergerak atau untuk mengadakan
reaksi. Dengan kata lain, potensial air merupakan tingkat kemampuan molekul-molekul air untuk
melakukan difusi. Pada potensial air, air bergerak dari potensial tinggi ke potensial rendah (dari
larutan encer ke larutan pekat, larutan encer lebih banyak mengandung air daripada larutan
pekat).
Dalam fisiologi tumbuhan, potensial kimia air atau potensial air (PA) merupakan konsep
yang sangat penting. Ralph O. Slatyer (Australia) dan Sterling A Taylor (Utah State University)
pada tahun 1960, mengusulkan bahwa potensial air digunakan sebagai dasar untuk sifat air dalam
sistem tumbuhan-tanah-udara. Potensial air merupakan sesuatu yang sama dengan potensial
kimia air dalam suatu sistem, dibandingkan dengan potensial kimia air murni pada tekanan
atmosfir dan suhu yang sama. Mereka menganggap bahwa PA air murni dinyatakan sebagai (0)
nol (merupakan konvensi) dengan satuan dapat berupa tekanan (atm, bar) atau satuan energi.
Difusi air melintasi membran semipermeabel dinamakan osmosis. Molekul air dapat berdifusi
secara bebas melintasi membran, dari larutan dengan gradien konsentrasi larutan rendah ke
larutan dengan gradien konsentrasi larutan tinggi.
Status energi bebas air adalah suatu pernyataan potensial air, suatu ukuran daya yang
menyebabkan air bergerak kedalam suatu sistem, seperti jaringan tumbuhan, jaringan tumbuhan,
tanah atau atmosfir, atau suatu bagian dari bagian lain dalam suatu sistem.
a. Difusi
Difusi adalah pergerakan molekul atau ion dari dengan daerah konsentrasi tinggi ke
daerah dengan konsentrasi rendah. Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas
(kepadatan) medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat
padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat
pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil.
Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada siang hari
terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi O2 meningkat.
Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari daun ke udara luar melalui
stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam jaringan menurun (karena digunakan untuk
fotosintesis) sehingga CO2 dari udara luar masuk melalui stomata. Penguapan air melalui
stomata (transpirasi) juga merupakan contoh proses difusi. Di alam, angin, dan aliran air
menyebarkan molekul lebih cepat di banding dengan proses difusi.
b. Osmosis
Osmosis merupakan difusi air yang melintasi membran semipermeabel dari daerah
dimana air lebih banyak ke daerah yang lebih sedikit . Osmosis sangat ditentukan oleh potensial
kimia air atau potensial air, yang menggambarkan kemampuan molekul air untuk dapat
melakukan difusi. Sejumlah besar volume air akan memiliki kelebihan energi bebas daripada
volume yang sedikit, di bawah kondisi yang sama. Energi bebas zuatu zat per unit jumlah,
terutama per berat gram molekul (energi bebas mol-1) disebut potensial kimia. Potensial kimia
zat terlarut kurang lebih sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya. Zat terlarut yang berdifusi
cenderung untuk bergerak dari daerah yang berpotensi kimia lebih tinggi menuju daerah yang
berpotensial kimia lebih kecil.
Osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Contoh proses osmosis adalah
masuknya larutan ke dalam sel-sel endodermis. Dalam tubuh organisme multiseluler, air
bergerak dari satu sel ke sel lainnya dengan bebas. Selain air, molekul-molekul yang berukuran
kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel. Molekul-molekul tersebut akan
berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Jika telah mencapai
keseimbangan konsentrasi zat di kedua sisi membran maka proses osmosis akan
berhenti.Struktur dinding sel dan membran sel berbeda. Membran memungkinkan molekul air
melintas lebih cepat daripada unsur terlarut, dinding sel primer biasanya sangat permeable
terhadap keduanya. Memang membran sel tumbuhan memungkinkan berlangsungnya osmosis,
tapi dinding sel yang tegar itulah yang menimbulkan tekanan. Sel hewan tidak mempunyai
dinding, sehingga bila timbul tekanan didalamnya, sel tersebut sering pecah, seperti yang terjadi
saat sel darah merah dimasukkan dalam air. Sel yang turgid banyak berperan dalam menegakkan
tumbuhan yang tidak berkayu.
Osmosis dapat dicegah dengan menggunakan tekanan. Oleh karena itu, ahli fisiologi
tanaman lebih suka menggunakan istilah potensial osmotik yakni tekanan yang diperlukan untuk
mencegah osmosis. Jika anda merendam bengkoang ke dalam larutan garam 10% maka sel-
selnya akan kehilangan rigiditas (kekakuannya). Hal ini disebabkan potensial air dalam sel
bengkoang tersebut lebih tinggi dibanding dengan potensial air pada larutan garam sehingga air
dari dalam sel akan keluar ke dalam larutan tersebut. Jika diamati dengan mikroskop maka
vakuola sel-sel bengkoang tersebut tidak tampak dan sitoplasma akan mengkerut dan membran
sel akan terlepas dari dindingnya. Peristiwa lepasnya plasma sel dari dinding sel ini disebut
plasmolisis.
Dalam proses osmosis terdapat beberapa komponen penting yaitu Potensial Air (PA) dan
Potensial Tekanan (PT), selain itu terdapat pula komponen lain yang juga penting yaitu Potensial
Osmotik (PO). Hubungan antara nilai Potensial Air (PA), Potensial Tekanan (PT) dan Potensial
Osmotik (PO) adalah :
PA = PO + PT
Jika konsentrasi antara lingkungan di dalam sel dan di luar sel telah mencapai keseimbangan
maka sudah tidak ada lagi potensial tekanan yang terjadi. Oleh karena itu persaman diatas
menjadi :
PA = PO
Keterangan :
PA = Potensial Air
PO = Potensial Osmotik

Faktor-faktor yang mempengaruhi potensial osmotik :


1. Konsentrasi
Meningkatnya konsentrasi suatu larutan akan menurunkan nilai potensial osmotiknya.
2. Ionisasi molekul zat terlarut
Potensial osmotik sutu larutan tidak ditentukan oleh macamnya zat, tetapi ditentukan oleh
jumlah partikel yang terdapat didalam larutan tersebut, yaitu ion, molekul, dan partikel koloida.
3. Hidrasi molekul zat terlarut
Air yang berasosiasi dengan patikel zat terlarut biasanya disebut sebagai air hidrasi.
Air dapat berasosiasi dengan ion, molekul, atau partikel koloida sehingga menyebabkan larutan
menjadi lebih pekat.
4. Suhu
Potensial osmotik suatu larutan akan berkurang nilainya dengan naiknya suhu. Potensial
osmotik suatu larutan yang ideal akan sebanding dengan suhu absolutnya.

5. Imbisisi
Imbibisi adalah peristiwa penyerapan air oleh permukaan zat-zat yang hidrofilik, seperti
protein, pati, selulosa, agar-agar, gelatin, dan zat-zat lainya yang menyebabkan zat-zat tersebut
mengembang setelah menyerap air tadi. Kemampuan zat tersebut untuk menyerap air disebut
potensial matriks atau potensial imbibisan dan prosesnya disebut hidrasi atau imbibisi juga
ditentukan oleh adanya zat terlarut di dalam air. Semakin pekat larutan, semakin lambat imbibisi.
Ion-ion tertentu juga mempengarui kecepatan imbibisi.
c. Plasmolisis
Plasmolisis adalah suatu proses lepasnya protoplasma dari dinding sel yang diakibatkan
keluarnya sebagian air dari vakuola. Jika sel dimasukan ke dalam larutan gula, maka arah gerak
air neto ditentukan oleh perbedaan nilai potensial air larutan dengan nilainya didalam sel. Jika
potensial larutan lebih tinggi, air akan bergerak dari luar ke dalam sel, bila potensial larutan lebih
rendah maka yang terjadi sebaliknya, artinya sel akan kehilangan air. Apabila kehilangan air itu
cukup besar, maka ada kemungkinan bahwa volume sel akan menurun demikian besarnya
sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Membran dan
sitoplasma akan terlepas dari dinding sel, keadaan ini dinamakan plasmolisis. Sel daun Rhoe
discolor yang dimasukan ke dalam larutan sukrosa mengalami plasmolisis. Semakin tinggi
konsentrasi larutan maka semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis.
Membran protoplasma dan sifat permeabel deferensiasinya dapat diketahui dari proses
plasmolisis. Permeabilitas dinding sel terhadap larutan gula diperlihatkan oleh sel-sel yang
terplasmolisis. Apabila ruang bening diantara dinding dengan protoplas diisi udara, maka
dibawah mikroskop akan tampak di tepi gelembung yang berwarna kebiru-biruan. Jika isinya air
murni maka sel tidak akan mengalami plasmolisis. Molekul gula dapat berdifusi melalui benang-
benang protoplasma yang menembus lubang-lubang kecil pada dinding sel. Benang-benang
tersebut dikenal dengan sebutan plasmolema, dimana diameternya lebih besar daripada molekul
tertentu sehingga molekul gula dapat masuk dengan mudah.
Keadaan volume vakuola dapat untuk menahan protoplsma agar tetap menempel pada
dinding sel sehingga kehilangan sedikit air saja akan berakibat lepasnya protoplasma dari
dinding sel. Peristiwa plasmolisis seperti ini disebut plasmolisis insipien. Plasmolisis insipien
terjadi pada jaringan yang separuh jumlahnya selnya mengalami plasmolisis. Hal ini terjadi
karena tekanan di dalam sel = 0. Potensial osmotik larutan penyebab plasmolisis insipien setara
dengan potensial osmotik di dalam sel setelah keseimbangan dengan larutan tercapai.

BAB III
METODE PERCOBAAN

A. Jenis Percobaan
Jenis percobaan yang dilakukan adalah observasi (pengamatan). Hal ini dikarenakan
praktikan melakukan proses pengamatan terhadap berbagai spesimen serta tidak menggunakan
variabel.
B. Tempat dan Waktu
Dalam penelitian ini, praktikan melakukan pengamatan di Laboratorium IPA Universitas
Negeri Surabaya pada tanggal 5Mei2015 pukul 13.00-15.00 WIB.
C. Alat dan Bahan:
a. Alat:
1. Mikroskop Listrik 1 buah
2. Cawan Petri 8 buah
3. Kaca Penutup 8 buah
4. Kaca objek 8 buah
5. Pisau Silet 2 buah
b. Bahan:
1. Daun Rhoe discolor
2. Larutan sukrosa dengan molaritas 0,28 M; 0,26 M; 0,24 M; 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M; 0,16 M;
0,14 M.
D. Langkah percobaan

1. Mengambil larutan sukrosa dengan konsentrasi masing-masing 0,28 M; 0,26 M; 0,24 M; 0,22
M; 0,20 M; 0,18 M; 0,16 M; 0,14 M.
2. Menyiapkan 8 buah cawan petri, mengisi masing-masing cawan petri dengan 5 ml larutan
sukrosa yang telah disediakan dan beri label masing-masing cawan petri berdasarkan konsentrasi
larutan.
3. Mengambil daun Rhoea discolor , kemudian disayat lapisan epidermis yang berwarna dengan
menggunakan pisau silet. Usahakan menyayat selapis sel.
4. Masukkan sayatan-sayatan epidermis tersebut kedalam cawan petri yang berisi larutan sukrosa.
5. Setelah 30 menit, sayatan diambil dan di periksa dibawah mikroskop.
6. Hitung jumlah seluruh sel pada satu lapang pandang, jumlah sel yang terplasmolisis dan
presentase jumlah sel terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya.

E. Desain percobaan
Larutan sukrosa dengan konsentrasi yang berbeda-beda diambil dengan pipet tetes sebanyak 5 ml
Setelah 30 menit berada di dalam larutan sukrosa, sayatan daun rhoea discolor diambil
Di masukkan ke cawan petri

Ditetesi aquades
Diletakkan di kaca obyek
Disayat
`
Diamati
Setelah digambar , dihitung jumlah sel yang terplasmolisis
Lembar pengamatan
Digambar
Ditutup dengan cover glass

BAB IV
DATA DAN ANALISIS
A. Data
Berikut data hasil pengamatan sel yang terplasmolisis dengan menggunakan mikroskop :
No. Gambar Perbesaran Keterangan
1 0,26 M 400x Jumlah sel seluruhnya 17
Jumlah sel yang terplasmolisis 16
Presentase jumlah sel yang
terplasmolisis terhadap jumlah sel
seluruhnya
X 100% = 94%
2 0,14 M 400x Jumlah sel seluruhnya 20
Jumlah sel yang terplasmolisis 11
Presentase jumlah sel yang
terplasmolisis terhadap jumlah sel
seluruhnya
X 100% = 55%

3 0,24 M 400x Jumlah sel seluruhnya 26


Jumlah sel yang terplasmolisis 23
Presentase jumlah sel yang
terplasmolisis terhadap jumlah sel
seluruhnya
X 100% = 88%

4. 400 x Jumlah sel seluruhnya : 15


0,16 M Jumlah sel terplasmolisis : 15
Prosentase jumlah sel
terplasmolisis terhadap jumlah sel
seluruhnya :
x 100% = 100%
5. 0,18 M 400 x Jumlah sel seluruhnya : 11
Jumlah sel terplasmolisis : 10
Prosentase jumlah sel
terplasmolisis terhadap jumlah sel
seluruhnya :
x 100% = 91 %

6. 0,22 M 400 x Jumlah sel seluruhnya : 14


Jumlah sel terplasmolisis : 14
Prosentase jumlah sel
terplasmolisis terhadap jumlah sel
seluruhnya :
x 100% = 100%

7. 400x Jumlah sel seluruhnya : 23


0,20 M Jumlah sel terplasmolisis : 23
Prosentase jumlah sel
terplasmolisis terhadap jumlah sel
seluruhnya :
x 100% = 100%
8. 400x Jumlah sel seluruhnya : 24
0,28 M Jumlah sel terplasmolisis : 24
Prosentase jumlah sel
terplasmolisis terhadap jumlah sel
seluruhnya :
x 100% = 100%

B. Analisis
Gambar 1
Dari tabel hasil pengamatan menggunakan mikroskop gambar 4 merupakan gambar irisan
membujur dari Rhoe discolor dengan perbesaran mikroskop 400 x. Pada konsentrasi larutan
sukrosa 0,26 M, sel epidermis Rhoe discolorterlihat sebanyak 17 sel, dan yang mengalami
plasmolisis sebanyak 16 sel dengan prosentase sel terplasmolisis sebesar 94 %.
Gambar 2
Dari tabel hasil pengamatan menggunakan mikroskop gambar 4 merupakan gambar irisan
membujur dari Rhoe discolor dengan perbesaran mikroskop 400 x. Pada konsentrasi larutan
sukrosa 0,14 M, sel epidermis Rhoe discolorterlihat sebanyak 20 sel, dan yang mengalami
plasmolisis sebanyak 11 sel dengan prosentase sel terplasmolisis sebesar 55 %.

Gambar 3
Dari tabel hasil pengamatan menggunakan mikroskop gambar 4 merupakan gambar irisan
membujur dari Rhoe discolor dengan perbesaran mikroskop 400 x. Pada konsentrasi larutan
sukrosa 0,24 M, sel epidermis Rhoe discolorterlihat sebanyak 26 sel, dan yang mengalami
plasmolisis sebanyak 23 sel dengan prosentase sel terplasmolisis sebesar 88 %.
Gambar 4
Dari tabel hasil pengamatan menggunakan mikroskop gambar 4 merupakan gambar irisan
membujur dari Rhoe discolor dengan perbesaran mikroskop 400 x. Pada gambar terlihat bahwa
semua sel mengalami plasmolisis setelah didiamkan pada pada larutan sukrosa 0,16 M, dimana
jumlah sel pada gambar tersebut terdapat 15 sel.
Gambar 5
Gambar 5 merupakan gambar irisan membujur dari Rhoe discolor dengan perbesaran mikroskop
400 x. Pada gambar terlihat bahwa sel yang mengalami plasmolisis 91% yaitu 10 sel
terplasmolisis dari 11 sel setelah didiamkan pada pada larutan sukrosa 0,18 M.
Gambar 6
Gambar 6 merupakan gambar irisan membujur dari Rhoe discolor dengan perbesaran mikroskop
400 x. Pada gambar terlihat bahwa semua sel mengalami plasmolisis yaitu 14 sel terplasmolisis
dari 14 sel setelah didiamkan pada pada larutan sukrosa 0,22 M. Sehingga prosentase sel yang
terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya yaitu 100%.
Gambar 7
Gambar 7 merupakan gambar irisan membujur dari Rhoe discolor dengan perbesaran mikroskop
400 x. Pada gambar terlihat bahwa semua sel mengalami plasmolisis yaitu 23 sel terplasmolisis
dari 23 sel setelah didiamkan pada pada larutan sukrosa 0,20 M. Sehingga prosentase sel yang
terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya yaitu 100%.
Gambar 8
Gambar 8 merupakan gambar irisan membujur dari Rhoe discolor dengan perbesaran mikroskop
400 x. Pada gambar terlihat bahwa semua sel mengalami plasmolisis yaitu 24 sel terplasmolisis
dari 24 sel setelah didiamkan pada pada larutan sukrosa 0,28 M. Sehingga prosentase sel yang
terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya yaitu 100%.

C. Pembahasan
Dari analisis di atasdapat diperoleh bahwa semakin pekat konsentrasi larutan sukrosa yang
digunakan untuk merendam sayatan epidermis Rhoe discolor maka semakin banyak pula sel
epidermis yang terplasmolisis. Hal tersebut dapat terjadi akibat dari perbedaan potensial air di
dalam dan di luar sel. Potensial air yang ada di dalam sel lebih besar dari pada potensial air yang
ada di luar sel. Oleh karena potensial air berbanding lurus dengan potensial osmosis, maka
potensial osmosis yang ada di dalam sel juga lebih besar dari pada potensial osmosis yang ada di
luar sel. Hal inilah yang menyebabkan berpindahnya molekul air di dalam sel menuju ke luar sel
yang dalam praktikum kali ini molekul air berpindah dari sel epidermis Rhoe discolormenuju ke
larutan sukrosa, sehingga menyebabkan protoplas sel epidermis kehilangan air, menyusut
volumenya (sel menjadi mengerut) dan akhirnya terlepas dari dinding sel, peristiwa yang terjadi
pada sel epidermis Rhoe discolor ini biasa disebut dengan Plasmolisis.
Daun Rhoe discolor yang dimasukkan pada larutan sukrosa 0,26 M sel yang mengalami
plasmolisis hanya sebesar 94% yaitu 16 sel terplasmolisis dari jumlah sel seluruhnya yaitu 17.
Pada larutan sukrosa 0,14 Msel yang mengalami plasmolisis hanya sebesar 55% yaitu 11 sel
terplasmolisis dari jumlah sel seluruhnya yaitu 20 sel. Pada larutan sukrosa 0,24 M sel yang
mengalami plasmolisis hanya sebesar 88% yaitu 23 sel terplasmolisis dari jumlah sel seluruhnya
yaitu 26 sel. pada larutan sukrosa 0,18 M, sel yang mengalami plasmolisis hanya sebesar 91%
yaitu 10 sel terplasmolisis dari jumlah sel seluruhnya yaitu 11 sel. Hal ini terjadi karena
praktikan dalam meletakkan daun Rhoe discolor pada kaca benda tidak mengurutkan konsentrasi
serta tidak bersamaan mengambilnya pada cawan petri sehingga ada beberapa daun yang
direndam lebih dari 30 menit. Namun daun Rhoe discoloryang dimasukkanpada larutan sukrosa
0,16 M, 0,22 M. 0,20 M, 0,28 M sel mengalami plasmolisis sebesar 100%, artinya sel
terplasmolisis seluruhnya. Berdasarkan teori,semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin
banyak sel yang mengalami plasmolisis. Pada gambar ada sel yang terdapat warna ungu ada
yang berwarna putih. Warna ungu merupakan protoplasma. Apabila mengalami plasmolisis,
protoplasma akan lepas dari dinding sel sehingga warna ungu tersebut akan lepas dan akhirnya
sel berwarna putih.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Semakin tinggi konsentrasi larutan sukrosa yang digunakan untuk merendam sayatan
epidermis Rhoe discolor maka semakin banyak pula sel epidermis yang terplasmolisis.
Presentase dapat diperoleh dengan jumlah sel terplasmolisis dibagi dengan jumlah sel seluruhnya
dikali 100% sehingga didapatkan prosentase dari sel tersebut.
2. Berpindahnya molekul air di dalam sel menuju ke luar sel yang dalam praktikum kali ini
molekul air berpindah dari sel epidermis Rhoe discolor menuju ke larutan sukrosa, sehingga
menyebabkan protoplas sel epidermis kehilangan air, menyusut volumenya (sel menjadi
mengerut) dan akhirnya terlepas dari dinding sel, peristiwa yang terjadi pada sel epidermis Rhoe
discolor ini biasa disebut dengan plasmolisis.

B. Saran
Adapun saran untuk praktikum“Penentuan Tekanan Osmosis Cairan Sel” yaitu sebagai berikut:
1. Seharusnya praktikan dalam meletakkan daun Rhoe discolorpada kaca benda mengurutkan
konsentrasi.
2. Lebih memperhatikan waktu,karena apabila terjadi perbedaan lama waktu perendaman dapat
menyebabkan data yang diperoleh tidak valid.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Osmosis (Online). Diakses dihttp://id.wikipedia.org/wiki/Osmosis. Diakses15 Mei
2015 pukul 14.40.
Rachmadiarti, Fida, dkk. 2007. BiologiUmum. Surabaya: UniversitasNegeri Surabaya Press.
Rahayu, Yuni Sri, dkk. 2014. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Surabaya:
Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Unesa.