Anda di halaman 1dari 22

BAB IV

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ASRAMA


MAHASISWA

A. KONSEP UMUM
Penerapan jenis hunian yang akan diterapkan didalam desain nantinya akan berupa
jenis hunian asrama atau dormitory. Oleh karena itu, pola aktivitas pada asrama juga harus
disesuaikan dengan penghuni yang akan menempati asrama tersebut sehingga pada akhirnya
dapt menimbulkan pada kenyamanan pada penghuni asrama. Selain itu, penerapan konsep
pada akhirnya akan bermuara kepada konsep passive design.

Gambar 4.1.
Pola hubungan antar konsep

B. KONSEP PASSIVE DESIGN


Penerapan prinsip-prinsip dari passive design pada bangunan ini terletak pada 3 hal yaitu:
- Passive Cooling
- Daylighting
- Thermal Mass
Penerapan passive cooling dikarenakan kondisi ciuaca dan iklim disesuaikan dengan
kondisi wilayah kota yogyakarta yang berada pada iklim tropis sehingga diperlukan adanya

72
pendinginan pasif melalui bentukan bangunan serta orientasi bangunan yang disesuaikan
dengan arah matahari, penggunaan selubung bangunan yang dapat menghalangi panas cahaya
matahari langsung masuk kedalam bangunan serta penggunaan pendinginan alami pada
taman dan juga kolam.
Sedangkan penerapan Daylighting pada bangunan dilakukan dengan bukaan-bukaan
lebar serta penggunaan atap transparan yang dapat memasukkan cahaya kedalam bangunan
secara maksimal.
Penerapan Thermal Mass ini berkaitan dengan passive cooling dilakukan dengan
penerapan jenis material pada selubung bangunan yang dimaskudkan agar dapat
mendinginkan bangunan serta warna pada bangunan juga dapat memengaruhi penyerapan
panas pada bangunan
Adapun penerapan konsep passive design pada bangunan asrama mahasiswa UGM adalah
sebagai berikut:

1. Orientasi dan Bentuk


Orientasi atau arah bangunan tentunya harus disesuaikan dengan arah matahari agar
cahaya matahari tidak langsung menghadap kepada ruang-ruang kamar asrama. Oleh
karena itu, orientasi arah kamar bangunan harus mengarah kepada arah utara dan selatan
mata angin. Orientasi arah bangunan asrama mahasiswa UGM terhadap matahari
diilustrasikan dalam gambar berikut ini.

Gambar 4.2.
Orientasi arah bangunan terhadap sinar matahari
(Sumber: https://greenzains.wordpress.com/2011/10/21/aplikasi-perancangan-bioklimatik-
melalui-software-ecotect/)

73
Sedangkan bentuk dari bangunan asrama ini didesain dengan bentuk formal yaitu
bangunan persegi yang memanjang. Hal ini dikarenakan bentukan ini merupakan
bentukan yang paling efisien terhadap penggunaan lahan.

2. Selubung Bangunan
Penggunaan material yang berfungsi sebagai selubung bangunan dilakukan dengan
perbandingan sebagai berikut :

- BETON
Kelebihan :
a. Dapat dengan mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi.
b. Mampu memikul beban yang berat.
c. Tahan terhadap temperatur yang tinggi
d. Biaya perawatan yang rendah.
e. Tahan terhadap pengkaratan/pembusukan oleh kondisi alam.

Kekurangan :
a. Bentuk yang telah dibuat sulit untuk diubah.
b. Lemah terhadap Kuat tarik.
c. Mempunyai bobot yang Berat.
d. Daya pantul suara yang besar
e. Pelaksanaan pekerjaan membutuhkan ketelitian yang tinggi.

- BAJA
Kelebihan :
-Kuat tarik tinggi.
-Tidak dimakan rayap
-Hampir tidak memiliki perbedaan nilai muai dan susut
-Bisa di daur ulang
-Dibanding Stainless Steel lebih murah
-Dibanding beton lebih lentur dan lebih ringan
-Dibanding alumunium lebih kuat

Kekurangan :
-Bisa berkarat.

74
-Lemah terhadap gaya tekan.
-Tidak fleksibel seperti kayu yang dapat dipotong dan dibentuk berbagai profile

- KAYU
Kelebihan :
-Bahan Alami yang dapat diperbaharui
-Kuat tarik yang tinggi
-Dapat dibuat dengan berbagai macam desain dan warna.
-Memberi efek hangat.
-Bahan penyekat yang baik pada perubahan suhu di luar rumah.
-Dapat meredam suara.

Kekurangan :
-Mudah menyerap air.
-Mudah mengalami kembang-susut
-Kurang tahan terhadap pengaruh cuaca.
-Rentan terhadap rayap.

- ALUMINIUM
Kelebihan :
-Mempunyai bobot yang ringan.
-Kuat tarik tinggi.
-Minim perawatan.
-Tahan terhadap karat.

Kekurangan :
-Mudah tergores.
-Lemah terhadap benturan.
-Kurang fleksibel dalam hal desain.
Dari penjabaran material diats maka dapat diambil alternatif penggunaan selubung
bangunan berupa kayu atau alumunium atau beton.

Desain dari sun shading ini juga memerhatikan shadow angel dalam mendesain
selubung bangunan.

75
Gambar 4.3.
Sudut HSA dan VSA pada bangunan
Sumber: La Roche, 2011

3. Daylighting
Pencahayaan disiang hari sangat dperlukan mengingat bahwa perlunya mengurangi
penggunaan energi listrik pada siang hari. Adapun pencahayaan alami yang diterapkan pada
bangunan adalah sebagai berikut:
- Atap Transparan
Penggunaan atap transparan dimaksudkan agar bangunan tetap menerima cahaya
alami dari matahari dan mengurangi panas langsung dari cahaya matahari itu sendiri.

Gambar 4.4.
Atap Transparan
(Sumber: http://www.tensinet.com/database/viewProject/4524.html diakses pada tanggal 28
Februari 2017)

76
- Bukaan lebar
Bukaan pada asrama mahasiswa diperlukan agar cahaya bisa masuk ke dalam
bangunan itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan adanya bukaan lebar pada bangunan
itu sendiri. Adapun bukaan terletak pada sisi timur dan barat bangunan sehingga cahaya
yang masuk kedalam bangunan bisa optimal.

Gambar 4.5.
Bukaan lebar pada bangunan asrama

Tentunya dengan penerapan selubung bangunan agar dapat mengurangi terpaan cahaya
matahari secara langsung dan juga agar panas tidak langsung masuk kedalam bangunan.
Kedalaman ruang asrama mahasiswa dapat ditentukan dengan berdasar pada layout ruang
asrama mahasiwa dan juga sejauh mana efektifitas daylight ada di dalam asrama mahasiwa.
Kedalam ruang efektif terhadap daylight hanya 1,5 kali tinggi jendela. Jendela direncanakan
setinggi 2.6 m, sehingga kedalam ruang efektifnya adalah 4,5 m.

Gambar 4.6.
Efektifitas ruang terhadap daylight
(sumber : Kwok, Alison. 2007. Green Studio Handbook. London, hal 64)

77
4. Lansekap
Penerapan lansekap pada bangunan diterapkan berdasrkan aturan yang tertulis
didalam RIPK UGM dimana KDB diarahkan sebesar 40% dari luas lahan pemanfaatan.
Didalam ruang terbuka hijau itu sendiri nantinya terdapat pohon-pohonya yang mengelilingi
bangunan yang juga berfungsi sebagai sun shading bagi bangunan asrama.

Gambar 4.7.
Penerapan pohon sebagai sun shading
(Sumber: https://ayukomalasaridewi.wordpress.com/category/uncategorized/ diakses pada
tanggal 28 Februari 2017)

5. Natural Ventilation
Prinsip dasar dari pemasangan ventilasi rumah adalah bagaimana membuat udara
mudah bergerak dari dan ke dalam rumah. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah udara
mengalir dari tempat bertemperatur rendah (dingin) ke tempat bertemperatur tinggi (panas).
Dapat kita asumsikan bahwa kita memerlukan udara dingin di luar rumah sehingga udara
mengalir ke dalam rumah yang bertemperatur cukup tinggi atau panas
Pada dasarnya bukaan lebar pada sisi barat dan timur bangunan asrama berguna
sebagai cross ventilation sehingga udara tetap bergerak dan mengalir. Namun, dengan adanya
atap trasnparan maka dapat dipastikan panas matahari masuk melalui sisi timur dan barat
pada bangunan

78
Gambar 4.8.
Pengaruh kolam air untuk mendinginkan aliran udara
(Sumber: https://erywijaya.wordpress.com/2010/06/28/mendinginkan-bangunan-secara-
natural / diakses pada tanggal 28 Februari 2017)

6. Material dan Warna Fasad Bangunan


Material yang digunakan pada bangunan asrama mahasiwa UGM didasarkan pada
kualitas karakteristik termal material.
Material yang digunakan pada dinding bangunan asrama mahasiswa UGM
disesuaikan dengan jenis dinding asrama yaitu dinding penuh dan kombinasi dinding dan
bukaan. Seperti contoh misalnya adalah batu bata rooster yang dapat digunakan sebagai
sirkulasi udara dan juga bisa dikombinasikan dengan tanaman rambat sebagai shading
sehingga material ini merupakan material yang sesuai untuk bangunan asrama mahasiswa.

Gambar 4.9.
Perbandingan karakteristik material
(Sumber : Prasasto Satwiko. 2004. Fisika Bangunan 1)

79
Sedangkan warna yang digunakan untuk mengurangi panas pada bangunan asrma
mahasiswa adalah warna putih. Seperti yang terdapat pada gambar diatas bahwa warna putih
memiliki nilai absorbansi yang rendah dan dapat memantulkan panas sebesar 90-80%.

7. Rangkuman Konsep Passive Design


Adapun konsep passive design dapat dirangkum didalam tabel berikut ini:

Tabel 4.1.
Konsep Passive Design
Asrama Mahasiswa UGM

Bangunan berjejer utara dan selatan serta


Orientasi dan Bentuk
memanjang dari timur ke barat dengan bukaan

Sun Shading dengan kisi-kisi alumunium di


Selubung Bangunan
masing-masing kamar

Bukaan pada sisi timur dan barat bangunan


Day-Lighting
serta sky lighting

Terdapat taman disisi luar bangunan beserta


Lansekap
pohon-pohon sebagai sun shading

Natural Bukaan pada sisi timur dan barat bangunan


sebagai cross ventilation serta kolam yang
Ventilation berfungsi mengalirkan udara keatas.

Material disesuaikan dengan karakteristik


termal material serta dikombinasiakn antara
Material dan Warna bukaan dan dinding penuh.
Bangunan Warna Menggunakan warna putih dikarenakan
warna putih dapat memantulkan panas sebesar
80-90%

80
C. KONSEP PROGRAMATIS

1. Kebutuhan Unit
Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan terhadap asrama-asrama mahasiswa
UGM yang telah dibangun, didalam satu kamar asrama dapat enampung 2 mahasiswa dengan
jumlah kamar berkisar antara 200-300 kamar dengan jumlah kamar 25-30 kamar disetiap
lantainya. Oleh karena jenis bangunan yang dibangun asrama, maka efisiensi dan efektifitas
terhadap kegiatan mahasiswa perlu diutamakan sehingga kebutuhan lantai hanya perlu
mencapai 4 lantai.

2. Kebutuhan dan Program Ruang


Program ruang pada asrama didasarkan pada kebutuhan kegiatan serta dibagi
berdasrkan zona-zona privat dan semi publik-publik. Ruang-ruang yang terdapat pada
zona privat adalah ruang-ruang yang bersifat untuk memenuhi kegiatan utama didalam
asrama mahasiswa seperti kamar tidur, ruang duduk, ruang makan dan dapur. Sedangkan
zona semi publik-publik terdiri dari ruang administrasi, ruang service, ruang penunjang
dan perpustakaan.
Dengan total luas site adalah 6669,75 m2 atau 75x88,93m maka KDB yang diperlukan
untuk bangunan adalah sebesar 60% atau 4001,85m2. Sedangkan untuk ukuran kamar
yang diperlukan untuk 2 penghuni adalah sebesar 6x4m atau 24m2.
Berdasarkan hasil survey yang telah sayan lakukan terhadap asrama-asrama
mahasiswa UGM yang meliputi asrama mahasiswa UGM ratnaningsih dan darmaputera,
Kebutuhan asrama mahasiswa UGM kluster Sosio-Humanoira terdiri dari:
- Ruang Mahasiswa terdiri dari: kamar asrama dan kamar mandi dalam, kamar
mandi luar dan toilet, dapur asrama,
- Ruang Kantor terdiri dari: kantor sumber daya manusia, kantor administrasi,
informasi, keamanan, toliet, ruang tunggu
- Ruang Servis terdiri dari: ruang generator, control panel, gudang dan ruang staff
- Ruang Penunjang

81
Tabel 4.2.
Program Ruang Mahasiswa
Program Ruang Asrama Mahasiswa
Ruang Mahasiswa
Jenis Ruang Kapasitas Standar Sumber Jumlah Luasan Luasan Total
@
Kamar 2 orang 6mx4m Time 400 24 m2 9600 m2
Tidur + per kamar Saver
Toilet
Kamar 1 orang 1,5 m x 2 Time 2 3 m2 6 m2
Mandi dan m per Saver
Toilet kamar
Ruang 10 orang 2 m2 per Neufert 1 20 m2 20 m2
Belajar orang
Dapur 2 orang 20% Neufert 1 4,8 m2 4,8 m2
ruang
makan
Total 9630.8 m2
Sirkulasi 20% 1926,16 m2
Total Keseluruhan 11556.96 m2

Tabel 4.3.
Program Ruang Administrasi
Program Ruang Asrama Mahasiswa
Ruang Administrasi
Jenis Ruang Kapasitas Standar Sumber Jumlah Luasan Luasan
@ Total
Kantor Administrasi - 15 m2 per orang 1 15 m2 15 m2
Kantor Sumber Daya
- 15 m2 per orang 1 15 m2 15 m2
Manusia
Ruang Tuggu 5 orang 9 m2 per orang Asumsi 1 45 m2 45 m2
Ruang Informasi 1 orang 9 m2 per orang Asumsi 1 9 m2 9 m2
Kamar Mandi dan 1 orang 1,5 m x 2 m per Time 2 6 m2 6 m2
Toilet kamar Saver

82
Total 75 m2
Sirkulasi 20% 15 m2
Total Keseluruhan 90 m2

Tabel 4.4.
Program Ruang Service
Program Ruang Asrama Mahasiswa
Ruang Service
Jenis Ruang Kapasitas Standar Sumber Jumlah Luasan Luasan
@ Total
Ruang Generator 25 – 30 m2 Time Saver 1 30 m2 30 m2
Ruang Kontrol
25 – 30 m2 Time Saver 1 25 m2 25 m2
Panel
Gudang 25 – 30 m2 Time Saver 1 25 m2 25 m2
Ruang Staff 25 – 30 m2 Asumsi 1 30 m2 30 m2
Laundry 70 m2 Asumsi 1 70 m2 70 m2
Total 180 m2
Sirkulasi 20% 72 m2
Total Keseluruhan 252 m2

Tabel 4.5.
Program Ruang Penunjang
Program Ruang Asrama Mahasiswa
Ruang Penunjang
Jenis Kapasitas Standar Sumber Jumlah Luasan Luasan Total
Ruang @
Musholla Asumsi 1 128 m2 128 m2
Kantin 30 orang 1,2 m2 per orang Neufert 1 36 m2 72 m2
Area
1 m2 per orang Asumsi 1 150 m2 150 m2
Serbaguna
Ruang
20 orang 2 m2 per orang Neufert 1 40m2 40 m2
Belajar

83
Total 350 m2
Sirkulasi 20% 70 m2
Total Keseluruhan 420 m2

D. ZONASI, PENCAPAIAN DAN SIRKULASI DALAM BANGUNAN

1. Zonasi
Penerapan zonasi berfungsi untuk memisahkan fungsi dan akses terhadap masing-masing
pengguna sesuai aktifitas dan keperluan. Adapun Zonasi yang dapat digambarkan dilokasi
site adalah sebagai berikut:

a. Zonasi Wilayah

Zona
Akademik Zona Zona
Ibadah Permuki-
UGM
man Zona
Akademik
Lokasi
site
UNY

Gambar 4.10.
Zonasi Wilayah disekitar site

Pada zonasi ini pembagian wilayah didasarkan kepada wilayah-wilayah yang


diperuntukkan untuk fungsi-fungsi tertentu seperti masjid, kampus UGM dan UNY
serta permukiman yang berada di sekitar site.

b. Zonasi Lokasi Site

84
Zona
Semi Private dan
Private
Zona
Semi-Publik

Gambar 4.11.
Zonasi pada site

Pada zonasi ini pembagian wilayah didasarkan kepada fungsi-fungsi ruang yang
akan dibangun didalam site. Pada dasarnya daerah ruang terbuka hijau merupakan
wilayah asrama mahasiswa yang tidak semua orang bisa dengan mudah mengkases atau
menggunakannya oleh karena itu penerapan zonasi dimulai kepada zonasi semi-publik.

c. Zonasi dalam Bangunan

Gambar 4.12.
Zonasi Vertikal Bangunan

Zonasi ruang yang terdapat pada bangunan asrama mahasiswa terdiri dari 2 zonasi
ruang yaitu semi private dan private. Zonasi ini dibagi secara vertikal berdasarkan pada
fungsi-fungsi dan ruang di masing-masing lantai bangunan.
Pada gambar diatas, zona privat terdiri dari kamar-kamar penghuni serta koridor-
koridor ruang zona ini berada pada lantai 2 hingga lantai 4 pada bangunan. Sedangkan

85
zona semi private terdiri dari kantor serta lobby dan ruang belajar umum. Zona ini
terletak pada dan lantai 1 pada bangunan asrama.

2. Pencapaian
Pencapaian kedalam bangunan merupakan aspek penting ketika memasuki area lahan
bangunan. Terdapat tiga macam jenis pencapaian yang sering diterapkan yaitu:

- Pencapaian Frontal

Gambar 4.13.
Skema Pencapaian Frontal
(Sumber: D.K. Ching 1979)

- Pencapaian Tidak Langsung

Gambar 4.14.
Skema Pencapaian Tidak Langsung
(Sumber: D.K. Ching 1979)
- Pencapaian Spiral

Gambar 4.15.
Skema Pencapaian Spiral
(Sumber: D.K. Ching 1979)

Dari ketiga jenis pencapaian diatas, skema pencapaian frontal merupakan pencapaian
yang paling tepat untun diterapkan. Hal ini dikarenakan site tidak terlalu luas dan berbatasan
langsung dengan jalan kuningan yang berada disisi timur site.

86
Selain itu, skema pencapaian frontal juga bermaksud agar penghuni maupun
pengunjung dapat mengakses bangunan dengan mudah tanpa harus melalui sirkulasi yang
berputar-putar sehingga tidak membingungkan baik penghuni maupun pengunjung.

3. Sirkulasi dalam bangunan


Sirkulasi dalam bangunan asrama mahasiswa UGM terbagi menjadi 2 yaitu sirkulasi
vertikal dan sirkulasi horizontal.

a. Sirkulasi vertikal
Sirkulasi vertikal pada bangunan asrama terletak pada poin efektifitas dan efisiensi
sirkulasi. Pada bangunan yang masih dalam jenis mid-rise building, penggunaan
lift sebagai alat sirkulasi vertikal tidaklah efisien. Oleh karena itu, ebagai
penerapan desain pada bangunan asrama mahasiswa UGM, tangga merupakan
pilihan yang tepat.

Gambar 4.16.
Tangga
(Sumber: Data Arsitek)
b. Sirkulasi horizontal
Sirkulasi horizontal pada bangunan asrama mahasiswa UGM lebih
diaplikasikan kepada sirkulasi linear. Hal ini dikarenakan kemudahan pencapain
serta sirkulasi yang terarah didalam bangunan merupakan hal yang utama didalam
sirkulasi horizontal dalam bangunan.

87
Gambar 4.17.
Sirkulasi Linear

E. SISTEM STRUKTUR DAN UTILITAS BANGUNAN

1. Struktur Bangunan
Struktur di dalam bangunan tinggi sudah pasti menjadi hal yang perlu
dipertimbangkan sebagai pertahanan terhadap beban lateral. Hal-hal yang perlu
dipertimbangkan antara lain, strengthness, stabillity, stiffness. Bangunan tinggi memiliki
beragam sistem struktur untuk diaplikasikan, sistem struktur itu antara lain:
- bearing wall
- core and bearing wall
- cantilever slab
- flat slab
- interspasial
- suspended
- rigid frame
- rigid frame and core

Gambar 4.18.
Struktur Bangunan Tinggi
(Sumber : Wolfgang Shcueller, 1977)

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan penggunaan struktur adalah:


- Keadaan kepadatan tanah pada tapak.

88
- Ketinggian bangunan.
- Faktor ekonomi (biaya, waktu, bahan).
- Fungsi dari bangunan yang akan digunakan.
- Faktor teknis dan persyaratan bangunan, seperti kestabilan, kekokohan dan
keamanaanya.
- Bentuk bangunan yang akan dirancang.
Pada bangunan asrama mahasiswa UGM, Sistem struktur bangunan yang digunakan
adalah struktur rigid frame. Sistem ini berupa sambungan kaku balok dan kolom. Hal ini
dikarenakan struktur rigid frame bangunan asrama merupakan bangunan dengan tinggi
menengah. Sehingga struktur rigid frame sangat cukup untuk menopang bangunan. Selain
itu, struktur rigid frame memiliki sifat lentur terhadap gempa serta praktis dan sederhana.

2. Struktur Atap
Atap bangunan pada asrama mahasiswa UGM haruslah sesuai dengan Rencana Iduk
Pengembangan Kampus UGM. Selain itu, di dalam RTBL Bulak Sumur UGM juga
dijelaskan bahwa struktur atap yang terdapat dikawasan UGM haruslah mengikuti
struktur atap tropis. Hal ini berarti struktur atap dari bangunan di ugm merupakan struktur
atap miring.

3. Sistem Pencegah Kebakaran


Menggunakan alat pemadam kebakaran yang mudah dijangkau dan dapat dilakukan
oleh siapa saja. Peralatan yang dapat digunakan antara lain:
- Heat Detector
Suatu alat untuk mendeteksi panas seperti suhu atau temperature.
- Smoke Detector
Suatu alat untuk mendeteksi asap bila terjadi kebakaran.atau pun yang timbulkan
dari hal seperti : asap rokok, asap pembakaran kertas, sampah dan sebagainya.

Gambar 4.19.
Smoke Detector
(Sumber : Google.com)

89
- Flame Detector
Suatu alat untuk mendeteksi lidah api seperti terjadinya kebakaran.
- Sprinkler
Alat untuk memadamkan api dengan cara menyemprotkan air atau bahan
pemadam lainnya seperti gas tertentu. Radius yang dapat dijangkau adalah 25
m2/unit

Gambar 4.20.
Sprinkler
(Sumber : Google.com)

- Hidran kebakaran
Radius pelayanan adalah 30 m2/unit
- Pemadam Ringan
Alat pemadam dengan cara disemprot dan pada alat pemadam kebakaran ini
berisikan bahan kimia yang dapat digunakan mematikan api bila terjadi kebakaran
dan alat ini pun dapat dibawa.

Gambar 4.21.
Hydrant
(Sumber : Google.com)

90
4. Sistem Air Bersih
Penggunaan Sistem Air Bersih pada bangunan dibagi menjadi 2 yaitu:

- Up feed system
- Down feed system

Pada bangunan asrama mahasiswa UGM ini, sistem air bersih yang digunakan adalah
down feed system. Penggunaan down feed system ini dikarenakan air disalurkan menuju
pompa yang terletak diatas dan tidak memerlukan pompa yang mengalirkan air dari
bawah ke masing-masing ruangan sehingga penggunaan biaya listrik yang dibutuhkan
lebih hemat.

Gambar 4.22.
Down feed system
(Sumber : Google.com)
5. Sistem Air Kotor dan Air Hujan
Sumber limbah air kotor berasal dari pembuangan air lavatory, pantry, musholla dan
air hujan yang dialirkan menuju sumur resapan dan riol kota. Adapula yang dinamakan
air bekas pakai (greywater), antara lain adalah air wastafel, shower, air bekas cuci
pakaian, cuci piring, atau peralatan memasak. Untuk limbah padat dialirkan menuju
septictank, kemudian dialirkan ke sumur peresapan dan secara alamiah meresap ke dalam
tanah. Skema sistem air kotor dan air hujan dapat dilihat pada gambar dibawah.

91
Gambar 4.23.
Skema sistem air kotor dan air hujan
(Sumber : Google.com)
6. Sistem Keamanan
Sistem pengamanan bangunan yang digunakan menggunakan teknologi seperti CCTV
dan Sistem Automasi Bangunan (BAS) yang dapat mengurangi bahaya seperti kebakaran,
penyusupan, kebocoran gas dan api. Di samping itu penggunaan BAS juga dapat
mengoptimalisasi penggunaan listrik pada bangunan. CCTV digunakan untuk
memonitoring/ mengawasi keadaan dan kegiatan di lokasi yang terpasang kamera CCTV
Sistem keamanan yang akan digunakan adalah Building Automated System (BAS)
dengan adanya CCTV, fire detector alarm dan access card untuk digunakan pada ruang-
ruang tertentu dengan akses khusus.

Gambar 4.24.
Sistem keamanan pada asrama
(Sumber : Google.com)
7. Sistem Jaringan Listrik
Sistem listrik utama dari PLN yang kemudian disalurkan melalui gardu utama dan
dialirkan keruang – ruang panel listrik tiap massa bangunan kemudian baru disalurkan

92
keruang – ruang. Sumber listrik cadangan akan diperoleh dari genset yang digunakan bila
aliran listrik putus.

PL Trafo Panel
N

Bangunan
Automatic Switch

Sub Panel Panel Gense

Gambar 4.25.
Skema aliran listrik Asrama Mahasiswa UGM

93