Anda di halaman 1dari 17

Tugas Kimia Medisinal

PENDAHULUAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN


KIMIA MEDISINAL

Disusun Oleh :

KELOMPOK I
EKA PRATIWI (H031 17 1022)
LA ODE EBET (H031 17 1027)
TAUFIK HIDAYAT (H031 17 1306)
MUH. ALFLIADHI (H0311 17 1316)

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat

dan rahmat-Nya, sehingga penyusunan makalah dengan judul “Pendahuluan dan

sejarah perkembangan kimia medisinal” dapat berjalan lancar dan diselesaikan dalam

waktu yang telah ditentukan.

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mempelajari dan memahami

mengenai pendahuluan dan sejarah perkembangan kimia medisinal tersebut. Makalah

ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun

tidak langsung. Kami mengucapkan banyak terima kasih sebesar-besarnya kepada

Tuhan Yang Maha Esa, Tim Dosen Kimia Medisinal serta keluarga dan teman-teman

yang telah memberikan dorongan dan motivasi.

Penulis menyadari bahwa penyusunannya masih jauh dari sempurna. Untuk

itu, kritik dan saran yang membangun dalam perbaikan karya tulis ini sangat kami

harapkan. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi

pembaca.

Makassar, 26 September 2019

Penulis,

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................................. i

Daftar Isi....................................................................................................................... ii

BAB I : PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang....................................................................................... 2

1.2Rumusan Masalah .................................................................................. 3

1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................... 3

BAB II : PEMBAHASAN .......................................................................................... 4

2.1 Sejarah Kimia Medisinal ....................................................................... 4

2.2 Kimia Medisinal Konvensional ............................................................. 6

2.3 Batasan dan Ruang Lingkup Kimia Medisinal ...................................... 7

BAB III : PEMBAHASAN .......................................................................................... 9

BAB IV : PENUTUP……………………………………………………………..…14

4.1 Kesimpulan .......................................................................................... 14

Daftar Pustaka ............................................................................................................ 15

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak tahun 1945 ilmu kimia, fisika dan kedokteran berkembang pesat dan

hal ini menguntungkan sekali bagi penelitian sistematis obat baru. Beribu-ribu zat

sintetis telah ditentukan rata-rata 500 zat setahunnya, yang mengakibatkan

perkembangan revolusioner dibidang farmakoterapi. Kebanyakan obat kuno

ditinggalkan dan diganti dengan obat-obat mutakhir. Akan tetapi, begitu banyak

diantaranya tidak lama masa hidupnya, karena segera terdesak oleh obat yang lebih

baru dan lebih baik khasiatnya. Namun menurut taksiran lebih kurang 80% dari

semua obat yang kini digunakan secara klinis merupakan penemuan dari 3 dasawarsa

terakhir (Foye dkk., 1995).

Dalam arti luas, obat adalah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi

proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya.

Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya agar dapat menggunakan

obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar

mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengobati berbagai gejala penyakit.Dahulu

farmakologi mencakup pengetahuan tentang sejarah, sumber, sifat kimia dan fisik,

komposisi, efek fisiologi dan biokimia, mekanisme kerja, absorbsi, distribusi,

biotransformasi, eksresi dan penggunaan obat..Farmakologi atau ilmu khasiat obat

adalah ilmu yang mempelajari pengetahuan obat dengan seluruh aspeknya, baik sifat

kimiawi maupun fisikanya(Foye dkk., 1995). Maka dari itu disusunlah makalah ini

untuk menjelaskan bagaimana ruang lingkup dari kimia medisinal dan juga sejarah

perkembangan dari kimia medisinal.

4
1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada makalah ini adalah:

1. Bagaimana sejarah terbentuknya kimia medisinal?

2. Bagaimana perkembangan kimia medisinal hingga masa sekarang?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Mengetahui dan memahami sejarah kimia medisinal.

2. Mengetahui dan memahami perkembangan kimia medisinal sampai masa

sekarang.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Kimia Medisinal


Kimia medisinal sudah dipraktekkan sejak beribu tahun yang lalu. Manusia

selalu berusaha mencari pengobatan saat sakit dengan memanfaatkan berbagai

tanaman herba, buah, akar, dan kulit. Berbagai catatan menunjukkan efek terapi

berbagai tanaman ditemukan di Cina, India, Amerika Selatan, dan sekitar Lautan

Tengah (Mediterania). Dua obat pertama ditemukan 5100 tahun yang lalu dalam

buku tentang tanaman Pen Ts’ao yang ditulis raja Cina Shen NungCh’ang Shan

(Dichroa febrifuga), akarnya mengandung alkaloid, saat ini digunakan untuk terapi

malaria dan demamMa Huang (Ephedra sinica)- mengandung ephedrine, digunakan

untuk stimulan jantung, pereda batuk dan asma. Sekarang digunakan para atlit karena

secara cepat mengubah lemak menjadi energi dan meningkatkan kekuatan serabut

otot (Foye dkk., 1995).

Opium padaAbad III SM, Theophrastus menyebutkan penggunaannyasebagai

analgesik Abad X. Rhazes (Persia) menggunakan pil opium untuk terapi batuk,

gangguan mental, dan nyeri yangmengandung morfin (analgetik poten), codein

(pereda batuk). Daun koka dikunyah oleh pembawa surat (pelari) dan pencari erak

suku Inca di pegunungan Andes sebagai stimulan dan efek euphoriayang

mengandung kokain (anestesi). Akar Rauwolfia serpentina digunakan oleh

masyarakat Hindu kuno untuk terapi hipertensi dan insomnia yangmengandung

reserpin (obat antipertensi) Colchicum autumnaleAlexander Tralles pada abad 6

merekomendasikan untuk mengatasi nyeri sendi. Pada abad 11, Avicenna digunakan

untuk terapi gout Benyamin Franklin mendengar dan membawa ke Amerikayang

6
mengandung colchicine (alkaloid yang saat ini digunakan untuk terapi gout). Kulit

kayu kina penduduk asli Amerika Selatan untuk demam(Ahyar, 2017).

Sejarah awal penemuan penisilin ditemukan oleh Alexander flemming.

Antibiotik potensial dari jamannya dan juga aman namun seiring perjalanan waktu

muncul beberapa kasus alergi penisilin maka dicari antibiotik pengganti.Morfin

sebagai analgetik kuat sangat potensial memblok rasa nyeri secara terpusat tetapi

menimbulkan ketergantungan. Tragedi Pearl Harbour, menyiratkan pengguna

barbiturat sebagai anestetik umum (Foye dkk., 1995).

Heroin berasal dari kata Heroic karena pada tahun 1898 merupakan analgetik

yang menolong pasien. Kemoterapi modern, Paul Ehrlich (1854-1915) menorehkan

sejarah bahwa senyawa kimia tertentu memiliki toksisitas selektif terhadap kuman

tertentu. Teori Lock and Key, Emil Fischer memberikan penjelasan rasional

mengenai mekanisme kerja obat. Riset lanjutan oleh peneliti lainnya kemudian

adalah antibiotika dan sulfonamida (Foye dkk., 1995).

Pada tahun 1876, seorang ahli farmakologi asal Belanda, Buchheim, menulis

bahwa misi dari farmakoloogi adalah untuk menetapkan zat aktif (alami) dalam obat,

dan menemukan sifat-sifat kimia yang bertanggungjawab terhadap aktivitasnya serta

membuat senyawa sintetik yang lebih efektif. Untuk mempelajari perubahan obat

yang berada dalam organisme, para ahli kimia dan farmasi melakukan serangkaian

isolasi dan identifikasi kandungan kimia tanaman nabati dengan latar belakang

pembuatan tradisional. Mereka juga melakukan sintesis dari senyawa yang

mempunyai kemiripan rumus struktur dari beberapa prototipe senyawa yang

mempunyai aktivitas terapeutik yang potensial. Secara bertahap hal ini membuka

jalan penemuan baru dengan memilih senyawa organik sintetis, yang mempunyai

7
atau tidak mepunyai hubungan khasiat dengan obat yang terdapat di alam.Senyawa

sintesis lebih sering digunakan secara medis bila dibandingkan dengan senyawa

bahan alam mungkin karena metabolit dari tanaman yang diperoleh secara alami

tidak dimaksudkan kedalam senyawa yang bernilai terapeutik dalam sistem

kehidupan hewan dan manusia (Siswandono, 2004).

2.2 Kimia Medisinal Konvensional

Kimia farmasi sangat berkaitan dengan bidang farmakologi dan kimia

organikdisamping ilmu lain seperti biologi, mikrobiologi, biokimia dan farmasetika.

Ilmu farmakologi mempelajari pengetahuan seluruh aspek mengenai obat seperti

sifat kimiawi dan fisikanya, farmakokinetik (absorpsi, distribusi, metabolisme, dan

ekskresi obat), serta farmakodinamik terutama interaksi obat dengan reseptor, cara

dan mekanisme kerja obat. Kaitan kimia farmasi dengan ilmu kimia organik

dikarenakan sebagian besar senyawa yang berkhasiat sebagai obat merupakan

senyawa organik atau senyawa yang mengandung atom karbon C seperti golongan

antibakteri (alkohol, asam karboksilat dll), dan golongan antibiotik (penisilin,

tetrasiklin, dll). Ilmu kimia farmasi dalam bidang kedokteran berguna untuk

membantu penyembuhan pasien yang mengidap penyakit, cara interaksi obat

terhadap penyakit yang menggunakan obat-obatan yang dibuat berdasarkan riset

terhadap proses dan reaksi kimia bahan yang berkhasiat. Metode analisis obat yang

diuraikan merupakan metode konvensional yang dapat dilakukan di laboratorium

sederhana dengan alat-alat yang sederhana pula. Secara umum pengertian analisis

kualitatif dan kuantitatif adalah(Siswandono, 2004):

1. Analisis kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen,

spesies,dan senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel. Dengan kata lain,

8
analisiskualitatif berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu

analit yangdituju dalam suatu sampel.

2. Analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah (kadar) dari suatu

elemenatau spesies yang ada di dalam sampel. Dalam bidang farmasi terutama

pada industrifarmasi, analisis kimia digunakan secara rutin untuk menentukan

suatu bahan bakuyang akan digunakan, produk setengah jadi dan produk jadi.

Hasilnya dibandingkandengan spesifikasi yang ditetapkan.

2.3 Batasan dan Ruang Lingkup Kimia Medisinal

Batasan kimia medisinal menurut Burger (1970) adalah Ilmu pengetahuan

yang merupakan cabang dari ilmu kimia dan biologi dan digunakan untuk memahami

dan menjelaskan mekanisme kerja obat. Sebagai dasar adalah mencoba menetapkan

hubungan struktur kimia dan aktivitas biologis obat, serta menghubungkan perilaku

biodinamik melalui sifat-sifat fisik dan kereaktifan kimia senyawa obat. Kimia

medisinal melibatkan isolasi, karakterisasi dan sintesis senyawa-senyawa yang

digunakan dalam bidang kedokteran untuk mencegah dan mengobati penyakit serta

memelihara kesehatan (Istyastono dkk., 2003).

Batasan kimia medisinal menurut The International Union An Apply Of Pure

Chemistry (IUPAC) adalah ilmu pengetahuan yang memplejari penemuan,

pengembangan identifikasi dan interpretasi cara kerja senyawa biologis aktif obat

pada tingkat molekul. Kimia medisinal juga melibatkan studi identifikasi dan sintesis

produk metabolisme obat dan senyawa yang berhubungan dengan obat tersebut.

Ruang lingkup bidang kimia medisinal menurut burger 1980 adalah (Ahyar, 2017):

1. Isolasi dan identifikasi senyawa aktif dalam tanaman yang secara empirik telah

digunakan untuk pengobatan.

9
2. Sintesis struktur analog dari bentuk dasar senyawa yang mempunyai aktivitas

pengobatan potensial.

3. Mencari struktur induk baru dengan cara sintesis senyawa organik, dengan

ataupun tanpa berhubungan dengan zat aktif alamiah.

4. Menghubuyngkan struktur kimia obat dengan mekanisme kerjanya.

5. Mengembangkan rancangan obat.

6. Mengembangkan hubungan struktur kimia dan aktivitas biologis melalui sifat

fisikokimia dengan bantuan analisis statistik.

Berdasarkan sumbernya obat digolongkan 3 jenis, yaitu(Ahyar, 2017):

1. Obat alamiah, obat yang terdapat di alam yaitu pada tanaman contohnya Quinina

dan Atropina. Pada hewan minyak ikan dan hormon serta mineral seperti belerang

dan kalium bromida.

2. Obat semi sintetik, obat hasil sintesis yang bahan dasarnya berasal dari bahan obat

yang terdapat di alam. Contohnya morfin disintesis menjadi kodein, dan diosgenin

disintesis menjadi progesteron.

3. Obat sintetik, obat yang bahan dasarnya tidak berkhasiat, setelah disintesis akan

didapatkan senyawa dengan khaisat farmakologis tertentu, contohnya obat opbat

golongan analgetik anti pireutika (paracetamol) dan antihistamin (CTM).

10
BAB III

PEMBAHASAN

Perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat, didapatkan bahwa struktur

kimia obat ternyatra dapat menjelasakan sifat sifat obat dan terlihat bahwa unit unit

struktur atau gugus-gugus molekul obat berkaitan dengan aktivitas biologisnya.

Untuk mencarihubungan antara struktur kimia dan aktivitas biologis dapat dilakukan

terutama dengan menghubungkan gugus fungsional tertentu dengan respon biologis.

Hal ini kadang-kadang mengalami kegagalan karena terbukti bahwa dengan unit

struktur kimia yang sama belum tentu menunjukkan aktivitas biologis yang sama,

sebaliknya aktivitas biologis yang sama sering diperlihatkan oleh senyawa-senyawa

dengan strukttur kimia yang berbeda. Contoh senyawa dengan gugus fungsional

sama dan mempunyai aktivitas biologis sama:

1. Turunan Fenol, contohnya fenol, trenol, eugenol, dan timol mengandung gugus

fungsi hidroksifenol dan berkhasiat sebagai antiseptik

2. Turunan sulfonamida, contohnya sulfanilamid, sulfaguanidin dan sulfametoksasol

mengandung gugus fungsi sulfonamida dan berkhasisat sebagai antibakteri.

Turunan senyawa dengan gugus fungsi yang sama dapat memberikan respon

biologis yang sama karena bekerja pada reseptor yang sama atau mempengaruhi

proses biokimia yang sama pula. Turunan senyawa dengan struktur kimia yang

berbeda dapat memberikan respon biologis yang sama oleh karena aktivitas turunan

tersebut tidak bergantung pada struktur kimia yang spesifik, tetapi tidak bergantung

pada sifat fisiko kimia seperti kelarutan dan aktivitas termokimia senyawa obat.

Senyawa dengan unit struktur kimia yang sama tetapi dapat memberikan aktivitas

bilogis bermacam-macam oleh karena unit struktur tersebut dengan sedikit

11
perubahan struktur, ternyata dapat bereaksi dengan reseptor yang berbeda sehingga

menimbulkan respond farmakologis yang berbeda pula seperti pada contoh obat

turunan sulfonamid. Keragaman aktivitas biologis senyawa organik baik yang

mempunyai hubungan struktur maupun tidak, ternyata sangat dipengaruhi oleh sifat-

sifat fisikokimia. Sifat-sifat tersebut ditentukan oleh jumlah,jenis dan susunan atom

dalam senyawa kimia obat.

Adapun perkembangan kimia medisinal dimulai pada saat:

1. Dari Tahun 300 BC sampai 1860 AD.

Para filosof zaman dulu dan para muridnya menjadi orang pertama sebagai

ilmuwan dalam bidang pengobatan, tetapi dalam kehidupan ilmu pengetahuan

percobaan-percobaannya, pengamatannya dan interpretasinya harus disesuaikan

dengan teori pendidikan agar peneliti dapat menemukan gambaran yang murni dan

tidak atas dasar ketakhayulan sehingga tidak terjadi salah pengertian tentang

fenomena alam dan tanpa praduga yang berlebihan tentang nilai terapeutik. Pada saat

ini banyak perkembangan kimia medisinal diantaranya penemuan “Chiang Shang”di

Cina (2735 BC), penggunaan “squill” untuk tokinum jantung dan sebuah prekusor

dari pengobatan dengan digitalis.Di India menghidangkan anggur kepada tamunya

diberi bius dengan Datura Stramonium sehingga bila orang tersebut akan dirampok

tidak akan melawan (Jatika dkk., 2009).

Gambar 1. Orang-Orang Zaman Dulu Menggunakan Opium Seabgai Rokok

12
Sirup buah poppy disebut-sebut sebagai suatu analgetika oleh Theophratus.

Seorang ahli kimia Swiss Philipus Paracelsus (1493-1541) meramu laudanum suatu

larutan opium pekat yang telah dibersihkan.Perkembangan mikroskopis pembedahan

anatomi, dan ilmu fisika, secara bersama mendorong dengan kuat untuk mengetahui

sirkulasi darah, pernapasan, dan sekresi yang ternyata merupakan fenomena yang

mekanismenya melibatkan reaksi biokimia yang dikendalikan oleh kekuatan yang tak

terukur. Hal ini memerlukan kelahiran ilmu kimia organik yang telah terkonsep dari

kekuatan aneh yang menggolongkan produk-produk nabati dalam hal yang sama

seperti kimia organik.Pembakuan dari kemurnian dan potensi dibukukan dalam

pompendia material medika yang menyebabkan acuan kerja, Farmakope-Farmakope,

edisi yang pertama di Florence (1498), Nuremberg (1535), Augsburg (1564), London

(1618), dan Bassel (1561). Obat baru menunjukkan penampilan dan sifat fisiologis

yang menonjol dan dari aktivitasnya mulai nampak jelas (Jatika dkk., 2009).

Gambar 2. Warga Bolivia Mengunyah Daun Coca Sebagai Stimulant.

2. Riset obat-obatan pada abad terakhir

Studi tentang kemoterapi anti protozoa mengalami perkembangan, sekitar

1890, dan anti malaria sintetik yang pertama, berkembang bersama obat hipnotik,

anti-inflamasi, adrenergik, kholonergik, hormon dan obat lain.Penggunaan metode-

metode canggih seperti analisis spektroskopi untuk elusidasi rumus struktur senyawa,

13
pemakaian senyawa bertanda isotop, analisis secara otomatis, dan pemisahan

menggunakan kromatografi dan cara partisi lainnya, membuka jalan untuk

mempelajari bahan kimia dalam jumlah sangat kecil.S.C.F Hahnemann (1775-1843),

penemu hemopati (mengobati penyakit dengan sedikit cara pemberian obat) percaya

bahwa obat harus berlawanan dengan penyakit, dan hanya gejala-gejalanya dapat

diobati, bukan penyebabnya.

Gambar 3. Spektroskopi Sebagai Alat Untuk Elusidasi

Paul Erlich (1854-1915) seorang dokter Jerman dan ahli immunologi yang

beralih menjadi ahli kimia, merupakan eksponen nyata pertama dari penelitian obat

yang kita ketahui sekarang. Dia mendefinisikan beberapa sarana intelektual dari ilmu

kimia medisinal, misalnya dengan ada dan terlihatnya fungsi reseptor untuk senyawa

obat dan metabolitnya. Molekul obat dikelompokkan berdasarkan gugus

farmakofornya, suatu istilah dipinjam dari kromofor dari zat warna. Zat warna

menarik Ehrlich, karena dalam sifat zat warna (pewarna) merupakan suatu alat

analisis yang baik di dalam pelajaran biologi, dan zat warna itu dapat menghasilkan

pewarnaan secara selektif untuk beberapa sel, tapi tidak untuk sel yang

lain.Penelitian selanjutnya membuktikan bahwa metabolit arsfenamin adalah bentuk

aktif obat, hal ini membuka peluang untuk mempelajari metabolisme senyawa obat

secara detail dan komperehensif.

14
3. Perkembangan obat pada era modern.

Gagasan bahwa zat pewarna kemungkinan berguna untuk melawan infeksi

bakteri, bertahan selama 20 tahun dan mencapai puncaknya sampai ditemukan secara

selektif zat warna merah potensial sebagai antibakteri. Senyawa ini memberi

pelajaran tentang biokimia medisinal dalam beberapa hal. Pertama senyawa ini telah

disintesis selama 29 tahun sebelum ditemukan aktivitas antibakteri. Hal ini

mengundang perhatian untuk memanfaatkan interpretasi secara dini dari kemampuan

aktivitas biologis dari senyawa yang telah diketahui berdasarkan pada hubungan

metabolit biokimia senyawa analog sterik, dan senyawa-senyawa yang mempunyai

kerapatan elektron terlokalisasi yang sangat menarik dalam tipe struktur kimianya.

Kedua, pengamatan terhadap sulfonamida ternyata bersifat antagonis

terhadap p-aminobenzoat. Penelitian ini melahirkan suatu pengertian dari aksi

biokimia dari berbagai macam obat, misalnya obat melakukan antagonisme

kompetitif atau non kompetitif kepada substrat biokimia terutama yang ikut berperan

dalam proses biosintetis. Hal ini telah memberi kemungkinan pada ide rancangan

obat yang berdasarkan pada struktur dari substrat yang diketahui, seperti asam

amino, karbohidrat, hormon, nukleotida, vitamin, biokatalis yang lain, amina

biogenik, dan modulator lain dari neurotransmiter.

Gambar 4. Data Rerata Konsumsi Obat Penduduk Indonesia Era Modern

15
`BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.1.1 Sejarah Terbentuknya Kimia Medisinal

Kimia medisinal sudah dipraktekkan sejak beribu tahun yang laludengan

berbagai pengaplikasiannya dimulai dengan obat tradisionaldan sampai sekarang

dalam wujud obat modern.

4.1.2 Perkembangan Kimia Medisinal Sampai Sekarang

Perkembangan kimia medisinal dimulai pada Tahun 300 BC sampai 1860

AD, lalu berkembang menuju masa riset obat-obatan pada abad terakhir, dan sampai

sekarang perkembangan obat pada era modern sampai saat ini.

4.2 Saran

Penulis menyarankann agar beberapa hal terkait aspek data empiris dapat

dimasukkan dalam makalah ini, selain itu beberapa sumber jurnal yang lebih banyak

diharapkan dapat dimasukkan dalam makalah ini.

16
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, A., 2017, Kimia Medisinal Pendekatan Biokimia Pada Biotransformasi


Obat, Buku Ajar, Makassar, UH Press.

Foye WO, Lembe TL, and Williams DA, (eds), 1995. Principles of Medicinal
Chemistry, 4th ed., Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia.

Ganellin CR, 2001. Past approaches to discovering new drugs as medicines, in FD


King (ed), Medicinal Chemistry: Principles and Practice. The Royal Society
of Chemistry, Cambridge, p.189-205.

Istyastono, E., P., Martono, S., Pranowo, H., D., dan Ikmal, T., 2003. Analisis
Hubungan Kuantitatif Struktur-Aktivitas Kurkumin dan Turunannya Sebagai
Inhibitor GST Berdasarkan Perhitungan Kimia Komputasi, Indonesian
Journal of Chemistry, 3 (3): 179-186

Jatika, A., Ngadiwiyana, dan Ismiyarto, 2009. Sintesis Metilisoeugenol dari


Metileugenol Menggunakan Katalis KOH dalam Etanol, Jurnal Kimia Sains
dan Aplikasi, 12 (3):76-80.

Siswandono, 2004. Peranan Kimia Medisinal Dalam Penemuan Obat Baru, Pidato
Guru Besar, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya.

17